31 C
Medan
Saturday, April 4, 2026
Home Blog Page 14385

Penuh Barang tapi Minim Pilihan untuk Ukuran Asia

Menemukan Keasyikan Masuk Toko Sepeda di Amerika Serikat

Lantai bawah penuh aksesori, lantai atas full sepeda dan punya lintasan uji coba. Wartawan Jawa Pos (group Sumut Pos) AZRUL ANANDA menemukan keasyikan mengunjungi toko-toko sepeda di Amerika. Berikut catatan santainya.

Bukan. Saya bukan penghobi sepeda. Dulu waktu SMP memang sekolah naik sepeda, tapi tak pernah jadi penghobi. Sejak saat itu, setelah naik motor dan bisa naik mobil, baru empat bulan terakhir rutin bersepeda. Jadi kira-kira ada jeda 20 tahun antara terakhir bersepeda di SMP dan tahun ini.

Alasan bersepeda pun bukan untuk asyik-asyikan. Melainkan untuk olahraga menurunkan berat badan. Maklum, semakin lewat di atas usia 30, semakin sulit menjaga postur dan berat badan. Mau fitness ke gym tak tertarik karena tergolong gampang bosan dan kurang “kompetitif.”

Mau jogging enggan karena lutut kanan pernah direkonstruksi (gara-gara sepak bola). Mau renang juga ogah… Karena nggak bisa (he he he…).

Pilihannya ya makin gemuk atau bersepeda….
Pilihannya lalu balik seperti ketika SMP dulu: Pakai road bike alias sepeda balap.
Ketika beli sepeda, teman saya yang jual itu bilang: “Orang sudah bisa dibilang gila sepeda kalau sudah mengeluarkan lebih dari Rp 25 juta untuk sepedanya.” Aduh!

Dasar suka penasaran, belakangan saya jadi mencoba update terus soal sepeda. Melahap semua majalah, banyak baca buku, rajin berkunjung ke toko sepeda, dan lain-lain. Sama seperti ketika masih getol-getolnya belajar soal Formula 1 dulu.

Gila sepeda” Saya masih sering beralasan: “Saya tidak hobi sepeda. Saya ini sedang asyik menyelami hobi orang bersepeda. Siapa tahu bisa inspirasi dari situ.”
He he he he…

Ketika menghadiri World Newspaper Congress di Wina, Austria, Oktober lalu, saya sempat kecewa karena tak punya waktu ke toko sepeda. Toko-toko sudah pada tutup jam 5 sore, padahal acara saya sering baru selesai lewat jam 6. Ketika di Prancis selama dua hari, juga kecewa, karena tidak sempat puas ke toko sepeda.

Satu, toko sepeda di Paris kecil-kecil. Dua, banyak yang tutup di hari Minggu. Tiga, ada yang terkenal tapi tutup di hari Senin. Nah, waktu itu saya di Paris hari Minggu dan Senin.

Ketika bersama tim basket pelajar Development Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2011 di Amerika Serikat awal bulan ini, kesempatan lain muncul. Tidak ada banyak waktu, tapi ada waktu-waktu yang bisa dicuri untuk mampir ke beberapa toko sepeda di dua kota: Seattle, negara bagian Washington, dan Portland, negara bagian Oregon.
Modal mencarinya tentu adalah online. Satu lagi lewat kenalan desainer sepatu asal Portland, yang ternyata hobi bersepeda.

Oregon memang “pusat” desain sepatu dunia. Nike markasnya di situ. Merek-merek lain, termasuk yang dari Tiongkok, punya kantor desain di situ. Termasuk merek sepatu League di Indonesia, yang punya desainer di Portland.
Ternyata, Portland juga disebut sebagai salah satu “Makkah”-nya sepeda di Amerika. Jalur sepeda di kota itu termasuk yang paling banyak, penggemar sepeda di sana juga termasuk paling banyak dan fanatis.

Meski pernah bertahun-tahun tinggal di Amerika, saya tak pernah hobi bersepeda. Jadi terus terang memang tak pernah ke toko sepeda. Paling sekali dua kali menyewa sepeda ketika sedang liburan.

Teman-teman saya yang gila sepeda bilang, toko-toko sepeda di AS sangat menyenangkan. Besar-besar. Penuh barang.
Ternyata benarrrrrrrrrr…

Di Seattle, saya sempat ke Gregg”s Cycle di Greenlake, salah satu toko terbesar di situ. Toko ini besar dan luas, dan masih punya dua cabang lain di kawasan lain kota yang sister city dengan Surabaya tersebut.
Di Amerika, tentu yang diburu merek-merek asli sono. Specialized, Trek, Cannondale, dan lain-lain. Gregg”s Cycle ini sebenarnya paling komplet soal Trek dan Specialized. Juga membawa merek Italia yang sekarang sedang populer di Indonesia: Pinarello.

Apesnya satu: Rata-rata sepeda ukuran bule.
Kalau di Indonesia, kebanyakan sepeda yang dijual (kalau road bike) ukuran antara 49 dan 52 (XS dan S). Ini untuk mereka yang tingginya di kisaran 160-an cm sampai sedikit di atas 170 cm. Saya 175 cm, masuk golongan ukuran 54 cm atau medium.

Ukuran saya saja di situ jarang. Kebanyakan size 56 (L) atau lebih besar.

Karyawan di toko itu ramah-ramah semua. Membantu mencarikan ukuran yang saya cari. Apes, ukuran kecil memang sedang susah. Kalau mau pesan bisa, tapi saya tidak punya waktu untuk pesan dan menunggu.

“Penjualan sepeda paling tinggi antara April-Mei sampai September. Saat musim semi, panas, sampai awal musim gugur. Kalau seperti sekarang ini (awal November, Red), yang ada kebanyakan sisa stok, sambil menunggu penuhnya stok barang-barang baru edisi 2012,” jelas salah satu karyawan di Gregg”.

Di Portland, ternyata jauh lebih seru. Malam sebelum ke sana, saya menyempatkan diri meneleponi toko-toko top di kota tersebut. Rata-rata ternyata tak punya ukuran yang saya cari (dan yang diminta teman-teman yang titip ke saya).
Karena tak banyak yang punya barang, saya memutuskan untuk fokus pergi ke toko yang paling direkomendasikan. Namanya River City Bicycles. Ketika anak-anak DBL Indonesia All-Star asyik belanja di Lloyd Center (mal terbesar di Oregon), saya “lari” sebentar ke River City Bicyles, yang letaknya hanya sekitar satu mil (1,6 km) dari Lloyd Center.
Saya ditemani Ainur Rohman, wartawan Jawa Pos, dan Vincent Ngai, mahasiswa Indonesia di Amerika yang mantan manager tim basket sekolah peserta DBL ketika di Surabaya.

Toko itu ternyata sangat kondang. Sering bikin even bersepeda, punya program tur bersepeda, dan punya tim balap sepeda. Didirikan Dave Guettler 15 tahun lalu, ketika budaya sepeda di Portland belum seperti sekarang.
Guettler punya prinsip: “Sebagai penghobi sepeda, saya ingin membangun toko dari sudut pandang penghobi. Saya ingin menyediakan toko yang membuat mereka bersemangat masuk ke dalamnya.”

Prinsip itu benar-benar terasa. “Toko” dua lantai itu bernuansa sangat kayu, sangat natural. Di dalamnya jadi serasa cozy.

Di lantai dasar, sebagian adalah bengkel sepeda. Sebagian lagi rak-rak sepeda yang dijual, kebanyakan merek Specialized (Amerika) atau Cervelo (merek Kanada).  Kebanyakan lantai ini adalah untuk pakaian dan aksesori. Sampai ke majalah-majalah, buku-buku, dan aneka ragam nutrisi dan suplemen.

Yang lebih seru di lantai dua. Sebagian lantai ini adalah gudang barang. Tapi area terluas berisikan sepeda yang dijual, dipajang di lantai atau menggantung di sisi dinding dan atap. Juga ada yang dipajang di tengah seperti “pulau ruangan.”
Ada alasan mengapa ditata begitu. Sebab, jalur keliling dipakai sebagai test track! Calon pembeli bisa menjajal sepedanya dengan berkeliling di situ. Pembeli juga bisa menyetel sepedanya di situ, dibantu oleh staf (mereka bilang karyawannya sampai 55 orang!).

Bagi penggemar mountain bike, di salah satu bagian lintasan dilengkapi rintangan-rintangan mini untuk menjajal suspensi dan lain-lain.

Ide lintasan uji coba di dalam ini sangat brilian. Portland berada di kawasan Pacific Northwest Amerika, yang sering hujan. Jadi tidak perlu hujan-hujan menjajal sepeda di luar!

Bagi penggila sepeda di Indonesia, beli di luar negeri memang sering disebut lebih murah. Tapi mungkin sebenarnya juga tidak. Kalau di Amerika, andai harganya kalau dihitung lebih murah, jatuhnya belum tentu demikian. Hampir semua negara bagian di AS (total ada 50) menerapkan sales tax alias pajak. Kalau di Seattle, pajaknya sampai 9,5 persen dari nilai barang.

Kalau di Eropa, pajak itu bisa dikembalikan kalau pembelinya bukan warga Eropa. Di Amerika tidak (setahu saya sih tidak).

Beli sepeda di Portland pun memberi keasyikan ekstra. Negara bagian Oregon tidak menerapkan sales tax. Jadi kalau harganya USD 5.000, ya total jenderalnya USD 5.000. Tidak ada tambahan apa-apa.

Hanya saja, soal ukuran, tetap ada tantangan beratnya. Dari ribuan sepeda yang di-stok River City Bicycle, benar-benar minim yang ukuran saya atau lebih kecil. Malahan, hanya ada dua pilihan road bike ukuran 54, kalau saya ingin membeli. Yaitu Cannondale SuperSix Evo dan Cervelo R3.

Lebih kecil dari itu, harus siap terima nasib dengan pilihan lebih minim.
Mark, salah satu karyawan yang melayani saya, memberi penjelasan mirip dengan ketika saya di Seattle. Dia bilang, ini musim yang kurang tepat kalau cari barang. Dan ukuran 54 sebenarnya bukanlah langka. “Itu termasuk ukuran paling populer. Jadi di akhir musim (tahun, Red) stoknya seringkali habis,” tandasnya.
Catatan lain: Kalau mau beli komponen, Amerika belum tentu tempatnya. Khususnya untuk produk yang juga harus diimpor oleh Amerika. Komponen Shimano misalnya, rata-rata harganya dua kali lipat di Indonesia.
Sebelum pulang, ada satu lagi yang mengesankan dari River City Bicyles di Portland. Ketika bertanya kepada seorang karyawan tentang arah jalan, dia mengaku sulit menjelaskan. Khususnya menjelaskan kepada pengemudi mobil. (*)
“Sulit menjelaskan jalan. Saya naik sepeda, tidak naik mobil,” akunya.
Ini benar-benar toko orang sepeda! (*)

Indigo Digital Music Awards 2011 Apresiasi TELKOM Group Bagi Insan & Karya Musik Digital

TELKOM Group kembali akan menggelar Indigo Award sebuah kegiatan inisiatif tahunan untuk mengapresiasi insan kreatif dan karya industri musik digital (Nada Sambung Pribadi atau Ring Back Tone dan Full Track Download) terbaik anak negeri. Tahun ini Indigo Awards berganti nama menjadi Indigo Digital Music Awards (Indigo DMA) dan diharapkan dapat terus menjadi barometer perkembangan industri musik digital serta mampu memberikan manfaat lebih bagi kemajuan industri musik tanah air.  

Direktur IT, Solution & Supply PT. Telkom Indonesia, Indra Utoyo menjelaskan kegiatan Indigo DMA 2011 merupakan bentuk apresiasi dan penghargaan TELKOM Group terhadap karya musik digital tanah air seperti Nada Sambung Pribadi atau Ring Back Tone maupun full track download. ”TELKOM Group berupaya memfasilitasi dan bekerjasama dengan mitra serta komunitas kreatif se-Indonesia untuk memilih karya musik terbaik yang dinilai disukai masyarakat dan memberi manfaat bagi kemajuan industri musik tanah air,” papar Indra Utoyo.

”Melalui Indigo DMA 2011, TELKOM Group memantapkan diri sebagai barometer musik digital dengan sarana dan fasilitas terlengkap yang dapat dimanfaatkan oleh para pelaku industri kreatif untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia akan hiburan musik dengan kualitas original,” tambah Indra Utoyo.

Indigo DMA 2011 merupakan salah satu bentuk komitmen dan penghargaan TELKOM Group untuk industri musik Indonesiasebagai bagian industri kreatif bangsa yang harus terus di support. TELKOM Group telah membangun pondasi dasar dan ekosistem industri musik digital sejak 7 tahun lalu saat pertama diluncurkannya layanan Nada Sambung Pribadi 1212.

“TELKOM Group berharap kemitraan dengan pelaku industri musik kreatif dapat terus terjalin dengan baik untuk meminimalisir terjadinya pembajakan karya seni anak bangsa sekaligus dapat turut mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Indra Utoyo.

Saat ini Indigo DMA 2011 sudah memasuki tahap penjurian dengan nominasi 16 Awards yang akan diumumkan pada tanggal 24 November 2011 dan disiarkan langsung melalui beberapa siaran televisi. Penghargaan yang akan diberikan meliputi Best Male / Female Artist, Best Band / Duo / Group, Best Indie, Best Pop / Jazz / Contemporary / Dangdut / Religious Music Artist,  Artist of The Year,  Best New Artist, Best Social Media Artist, Best Digital Video Talent, Best Digital Music Partner, Indigo’s Favorite New Artist dan  Life Time Achievement.

Metode penjurian dilaksanakan dengan konsep From Digital to Digital. From Digital yaitu para musisi terbaik dipilih Top 10 berdasarkan hasil trafik musik digital yaitu Ring Back Tone dan Full Track Download. Kemudian juri memilih Top 5 para musisi hasil nominasi tersebut. Kemudian pemenang dipilih oleh voters secara online maupun melalui Mobile Application oleh masyarakat umum.

Adapun juri Indigo DMA 2011 diwakili dari berbagai kalangan antara lain musisi, pengamat musik, komposer, media musik, radio, pakar social media dan wakil Telkom & Telkomsel. Para juri tersebut antara lain: Anang Hermansyah, Tompi, Melanie Soebono, Dewi Hughes, Lilo KLA, Nukman Luthfie, Bens Leo, Denny Sakrie, Addry ‘Oz’, Asmo ‘Baba’ Budijoyo, Andrew OPA Sumual, Judi Achmadi (Telkom) dan Ricardo Indra (Telkomsel).

Masyarakat dapat vote nominasi Indigo DMA 2011 dengan mendownload mobile application dari www.idma2011.com atau dipilih dari web pada www.idma2011.com/vote atau http://awards.plasaindigo.com. Voters akan mendapatkan hadiah Ipad, Samsung Galaxy Tab dan puluhan juta Voucher berbelanja di PlasaCom.

Mantan DPRD Tobasa Diduga Jaringan Calo CPNS Asahan

Medan-Tertangkapnya mantan anggota DPRD Tobasa, Marisi Tambunan, dimanfaatkan pihak Polisi Daerah Sumatera Utara (Poldasu) untuk membuka jaringan calo calon pegawai negeri sipil (CPNS) lebih luas lagi. Sayangnya, Marisi cenderung tidak bekerja sama, keterangannya berbelit-belit.

Suami dari anggota DPRD Tobasa ini sebelumnya ditangkap di Jakarta karena menjadi buron penipuan terhadap CPNS senilai belasan miliar rupiah. Marisi dan Delisa Situmorang (sudah ditangkap juga), bertugas mencari para calon CPNS yang menjadi korban dengan menjanjikan bisa masuk menjadi PNS di Pemko Medan, instansi-instansi di Sumut dan di beberapa provinsi lain atau nasional.

Terkait itu, pihak Poldasu menghubungkan kasus tersebut dengan kasus penipuan CPNS jaringan Alexander Tigor Pandapotan Pardede. Nama terakhir adalah PNS Dinas Perhubungan Kabupaten Asahan, yang ditangkap petugas Direskrimum Poldasu Rabu (2/11) lalu sekitar pukul 08.30 WIB.

Kasubbid PID Humas Polda Sumut AKBP MP Nainggolan  yang dikonfirmasi Sumut Pos menjelaskan, Tigor ditangkap terkait laporan korban yang mengaku dijanjikan bisa masuk PNS  dengan Nomor Laporan Polisi : LP/686, 687, 688 / IX/ 2011/SPKT I Mapolda Sumut tertanggal 20 September 2011, ketiga korban  masing-masing bernama Kasteriana Saragih, Riana Gultom dan Lasmida Saragih. Di dalam laporan itu, ketiga korban mengaku mengalami kerugian sebesar Rp570 juta.

Dalam kasus di Asahan ini, seorang pengusaha bernama Palansius Panjaitan alias Parlan telah dimasukan dalam daftar DPO Direktorat Reserse Polda Sumut.

Dicurigai, Marisi dan Parlan memiliki hubungan. Setidaknya pada pemeriksaan pertama, Kamis (10/11) sekira pukul 19.00 WIB, ketika Marisi baru tiba di gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumut, dia mengaku kenal dengan Parlan. Bahkan, Marisi mengaku sudah tak bertemu dengan Parlan selama setahun. Dan, Marisi juga sempat menanyakan di mana keberadaan si Parlan kepada petugas yang memeriksa.

Lucunya, keterangan Marisi ini langsung berubah 180 derajat pada Jumat (11/11). Marisi yang kembali ditemui Sumut Pos setelah sehabis melakukan pemeriksaan kesehatan bersama rekannya Suroso (yang ditangkap bersama Marisi) di gedung Bid Dokes Polda Sumut memberikan pernyataan yang beda. Saat dikonfirmasi kedekatannya dengan Parlan, dia berkelit. “Saya tidak kenal,” ujar Marisi.

Terkait kasus berbelit tentang calo CPNS itu, Kasubdit III Direktorat Reserse Kriminal Umum Kompol Andry Setiawan Sik mengaku kasus sedang dikembangkan. Pun, ketika ditannya ada kaitan antar jaringan Asahan dengan Marisi.
“Bentar dulu ya, masih tahap pemeriksaan, ini lagi dikembangkan,” terangnya. (mag-5)

Gatot Jangan Diam

Izin Lahan PLTA Asahan III Terkatung-katung

JAKARTA-Plt Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho diingatkan agar tidak hanya diam jika memang ada persoalan di balik masalah izin lahan kepada pihak yang akan menggarap proyek PLTA Asahan III.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Parlindungan Purba mengatakan, tidak cukup urusan ini hanya dinyatakan dalam bentuk komitmen lisan, tapi tak ada langkah konkrit tatkala ada persoalan. “Sebagai anggota DPD, saya selalu menyarankan agar PLTA Asahan III segera diselesaikan. Nah, itu yang harus segera dibicarakan,” ujar Parlindungan Purba kepada Sumut Pos di Jakarta, kemarin.

Parlindungan menyarankan agar Gatot segera menggelar pertemuan dengan pihak-pihak terkait, baik itu PLN dan PT Bajradaya Swarna Utama. Bukankah sesuai Perpres No 4 tahun 2010 dan Permen ESDM No 2 Tahun 2010, pemerintah menugaskan PLN untuk membangun PLTA Asahan III, buat apa masih melibatkan PT Bajradaya?

Menurut Parlin, dia tidak mau terlibat urusan siapa yang akan menggerjakan proyek setrum sebesar 2×87 MW ini. “Yang penting, saya minta gubernur untuk cepat mengambil keputusann
Soal kepada siapa, itulah yang perlu dibicarakan,” kata Parlin.

Ditegaskan Parlin, jika imbauan ini tidak segera ditindaklanjuti oleh Gatot, maka dirinya sebagai anggota DPD asal Sumut, akan mengambil inisiatif mempertemukan pihak-pihak terkait itu. “Saya akan pertemukan mereka. Ini demi rakyat Sumut, langkah harus cepat,” kata Parlin.

Seperti diketahui, Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho belum juga memberikan izin lahan kepada pihak PT PLN, yang sesuai Perpres No 4 tahun 2010 dan Permen ESDM No 2 Tahun 2010 mendapat tugas membangun PLTA Asahan III.

Selain itu, kendala lainnya karena adanya status lahan sesuai SK Menhut 44/2005 tentang penunjukkan kawasan hutan. Hingga kini, P2T Kabupaten Tobasa hanya mampu membebaskan lahan 16 hektare saja, padahal proyek itu membutuhkan 210 hektar lahan. Akibatnya, pengerjaan acces road terkendala.

Sebelumnya, anggota Fraksi PAN Sumut Noerya T Karim, meminta Gatot berani buka-bukaan dan berterus terang soal rekomendasi izin pengerjaan proyek PLTA Asahan III. “Gatot harus jujur, rekomendasi izinnya di tangan siapa sekarang? Ayolah, buka-bukaan saja. Ini untuk kepentingan masyarakat karena PLN serius menyelesaikan proyek Asahan III,” ujarnya.

Manajer Proyek Asahan III Robert Aprianto Purba menyayangkan sikap Plt Gubsu yang hingga saat ini belum memberikan izin. Padahal, PLN siap untuk dievaluasi Pemprovsu sebagai dasar untuk menerbitkan izin lokasi bila diperlukan.

“Pemberian izin lokasi kepada PT Bajradaya Swarna Utama yang keluar tahun 2008 sudah berakhir pada Maret 2011 lalu. Nah, sesuai Perpres No 4 tahun 2010 dan Permen ESDM No 2 Tahun 2010, pemerintah menunjuk PLN langsung untuk membangun PLTA Asahan III. Tapi sampai saat ini, Plt Gubsu Gatot belum juga memberikan izin. Kami tidak tahu apa alasannya. Padahal, PLN telah memberikan surat permohonan izin lokasi PLTA Asahan III kepada Gubsu sebanyak 17 kali, sejak tahun 2004 hingga terakhir pada 28 Maret 2011,” tegas Robert.

Bahkan, Robert menambahkan, ketika Dirut masih Dahlan Iskan, pertemuan sudah dilakukan sebanyak lima kali. “Pembahasan terakhir pada 12 September 2011. Nanti akan ada pertemuan lagi bersama Pak Wapres Budiono dan Tim UKP4 pimpinan Pak Kuntoro Mangkusubroto. Pak Nur Pamudji Direktur PLN yang baru nanti akan diundang juga, bersama Plt Gubsu. Kita harapkan nantinya Pemprovsu memberikan izin yang dibutuhkan,” imbuh Robert.

Proyek ini sendiri, jika sudah selesai akan menghasilkan enegri listrik sebesar 174 MW yang berasal dari dua turbin. Turbin pertama diprediksi akan selesai pada Oktober 2015 yang akan menghasilkan 87 MW, kemudian diikuti turbin ke dua sebesar 87 MW pada November 2015.

Energi ini akan dikirimkan ke GITET Simangkuk, yang selanjutnya dialirkan ke wilayah Sumut. Namun, dari 174 MW, 10 MW akan disisakan untuk melayani kebutuhan masyarakat sekitar lokasi proyek PLTA Asahan III dengan ketentuan tarif yang berlaku.

PLN Lelang Paket Asahan III
Sebelumnya, Robert sempat mengatakan PT PLN telah melakukan langkah-langkah pelelangan guna membangun PLTA Asahan III. Pekerjaan utama terdiri dari lima paket. Paket pertama adalah pekerjaan teknik utama untuk pembangunan terowongan, bendungan, power house, dan beberapa pekerjaan sipil lain.
“Saat ini sedang memasuki tahapan persetujuan hasil evaluasi proposas teknis dari JICA Jepang,” tutur Robert.

Kontraktor yang masuk tahapan ini adalah gabungan (join operation) antara Taisei (Jepang) dengan PT Wijaya Karya, Kajima (Jepang)-PT Waskita Karya, Shimizu (Jepang)-PT Adhi Karya, dan Hyundai (Korea)-PT Pembangunan Perumahan.

Kontak diharapkan ditandatangai pada Februari 2012 dan efektif bekerja di lapangan pada Juni 2012. Paket kedua adalah pekerjaan besi (metal work) untuk membangun pintu air bendungan dan penstock tengah memasuki tahap evaluasi proposal teknis oleh panitia lelang.
Calon kontraktor adalah Noell GmbH (Jerman) dan Andritz (Austria). Diharapkan kontrak ditantangani pada Mei 2012.

Sedangkan pekerjaan yang masih dalam tahap lelang dan persetujuan dokumen dari JICA adalah paket ketiga yakni  electromechanical works untuk pekerjaan turbin dan generator, paket keempat yakni transmission line untuk pekerjaan jaringan transmisi, dan paket kelima telemetering dan flood warning system atau pekerjaan pengkuran tanda bahaya kebakaran.
“Sayangnya, hingga kini kami belum dapat izin gubernur,” kata Robert. (sam/ila)

Denada Tuah 11-11-11

Ribuan orang memanfaatkan tanggal cantik 11-11-11 (kemarin, Red) sebagai hari pelaksanaan momen istimewa. Termasuk para pelakon dunia hiburan di Indonesia. Alasannya, tanggal tersebut mudah diingat dan jarang terulang

Ada yang menikah,Ada juga yang melangsungkan lamaran. Denada Tambunan pun mendapat tuah tanggal cantik itu. Pelantun lagu bernada rap Sambutlah ini dilamar Jerry Aurum yang berprofesi sebagai fotografer kemarin siang.

Meski masih menjalani prosesi lamaran, Denada tetap bahagia dan terharu. Apalagi saat mengingat perjalanan Denada yang cukup panjang dalam menanti pasangan hidup. Pasangan Denada dan Jerry akan melangsungkan pernikahan pada Februari tahun depan.
“Saya bersyukur karena proses hari ini lancar. Saya tidak menyangka proses ini bakal mengharu biru. Saya menangis saking bahagianya,” tutur Denada setelah lamaran di rumahnya di Pejaten, Jakarta Selatan.

Hubungan Denada dan Jerry dimulai dari sebuah perkenalan 2,5 tahun lalu. Jerry mengajak Denada menjadi model fotonya. “Sebenarnya, saya juga belum kenal dia. Tapi, saya berani mengajak dia jadi model foto di kamarnya,” tutur Jerry. “Ini orang apa, ya? Belum kenal, kok tiba-tiba ngajak foto di kamar. Ternyata, setelah berteman, kami punya banyak kesamaan dan cocok,” kata Denada.

Soal tanggal cantik, selain Denada, selebritas yang memanfaatkan momen 11-11-11 juga tidak sedikit. Kalau diurutkan, pagi diawali dengan pernikahan penyanyi Nindy dan Azka. Siang hari pesinetron Zee Zee Shahab dilamar kekasihnya, anchor Metro TV Prabu Revolusi. Denada dilamar Jerry Aurum kemarin siang. Sore, pesinetron April Jasmine dan Ustad Solmed mengikat janji. Malam giliran pesinetron Ema Waroka yang menikah di tanggal tersebut. (jan/c12/any/jpnn)

Timnas U-23 Catat Kemenangan Kedua

SEA Games XXVI secara resmi dibuka di Palembang Jumat (11/11) malam WIB. Upacara pembukaan berlangsung meriah dan spektakuler meski diwarnai hujan.

Upacara pembukaan di Gelora Sriwijaya, Jakabaring Sports City, dimulai tepat pukul 19.15 WIB. Atraksi kembang api, pengibaran bendera Merah Putih, dan lagu Indonesia Raya di awal acara menggelorakan seisi Gelora Sriwijaya.

“Saya ucapkan selamat datang dan selamat bertanding. Dengan semangat persaudaraan dan persahabatan  mari kita sukseskan SEA Games,” ungkap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya.

Acara dilanjutkan dengan serangkaian pertunjukan tari kolosal yang melibatkan sekitar 4500 penari. Mengusung tema sejarah Kerajaan Sriwijaya dan terbentuknya nusantara, pertunjukan selama satu jam ini sukses memukau ribuan penonton yang hadir.

Saat parade kontingen peserta SEA Games hendak dimulai, hujan gerimis mulai mengguyur Gelora Sriwijaya. Meski begitu, acara pembukaan tetap berlanjut. Sebagian kecil penonton yang tak kuasa menahan hujan memang meninggalkan stadion, tapi itu tak mengurangi antusiasme penonton lain yang bertahan.

Soal antusiaisme, ribuan masyarakat mulai terlihat memadati kompleks Jakabaring Sport City sejak pukul 13.00 WIB. Padahal, acara pembukaan kejuaraan multi even tersebut baru berlangsung pada pukul 19.15 waktu setempat. Ini berarti, demi menyaksikan acara pembukaan tersebut, banyak masyarakat yang harus rela menunggu selama kurang lebih enam jam.

“Saya memang sengaja datang lebih awal ke Jakabaring. Karena banyak wacana yang berkembang kalau akses masuk ke sini (Jakabaring, Red) akan ditutup total setelah salat Jumat,” kata Marwan Ali (40), yang datang langsung dari Bandung, Jawa Barat.

Tidak hanya Marwan, Jonathan Napitupulu juga mengatakan hal yang sama. Pria kelahiran Jakarta 21 tahun lalu ini tidak mau ketinggalan berebut tempat di Gelora Jakabaring. “Saya datang dari Jakarta tujuannya hanya satu, pengen saksikan langsung pembukaan Sea Games dengan mata kepala saya sendiri,” bilang mahasiswa semester akhir universitas Trisakti Jakarta itu.

Meskipun begitu, nasib kurang beruntung harus dialami Dita Aprianingsih dan kawan-kawan. Meski telah mengantongi id card buatan panitia, mereka terpaksa harus berada diluar stadion karena pintu masuk ke stadion sudah ditutup. “Kami tiba di Jakabaring sudah terlambat. Dan, semua pintu masuk sudah terkunci, jadi terpaksa kami tinggal diluar,” keluh gadis berambut lurus ini.

Namun, kekecewaan Dita tak sampai disitu. Sebab, dua layar raksasa yang disediakan oleh panitia ternyata tidak mampu memenuhi hasratnya dan kawan-kawan untuk menyaksikan acara pembukaan. Karena dua layar yang berada di sisi selatan stadion Jakabaring itu, lebih banyak menampilkan iklan produk kosmetik. “Panitia kurang begitu cermat melihat hasrat penonton yang ada diluar. Memang ada dua layar, tapi tidak maksimal, karena banyak iklannya, panitia parah,” kata dia.

Keseluruhan rangkaian acara selama sekitar 2,5 jam ini ditutup dengan lagu “United and Rising” ciptaan SBY yang dinyanyikan oleh Joy Tobing plus pesta kembang api spektakuler.
Beberapa jam sebelum pembukaan, Timnas Indonesia U-23 kembali meraih hasil sempurna.

Menghadapi Singapura di laga kedua SEA Games XXVI/2011 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) kemarin siang tim besutan Rahmad Darmawan itu mengalahkan Singapura dengan skor 2-0.
Tak hanya mengamankan tiga poin, hingga partai kedua gawang timnas U-23 yang dikawal Kurnia Meiga belum sekalipun kebobolan. Dengan kemenangan ini untuk sementara Indonesia kembali menempati posisi teratas klasemen sementara Grup A dengan poin enam.

Tampil di bawah terik matahari pukul 14.00 WIB skuad Merah Putih langsung menggebrak. Berawal dari bola kik off kerja sama Diego Michiels, Egi Melgiansyah, dan Titus Bonai berhasil dikonversi menjadi gol oleh Patrich Wanggai ketika pertandingan baru berjalan 45 detik!

Unggul cepat membuat Egi Melgiansyah dkk makin bersemangat membombardir gawang Singapura yang dikawal Mohammad Izwan Bin Mahmud. Cuaca panas akibat sengatan matahari sepertinya juga menular ke emosi pemain. Beberapa kali dalam laga kemarin pemain kedua tim terlibat ‘duel’ yang dilanjutkan saling gontok-gontokan di lapangan dan harus dilerai wasit. Bahkan dimenit ke-22 Singapura harus bermain dengan 10 pemain setelah pemain depannya Navin Neil Vanu diusir keluar lapangan setelah menerima kartu kuning kedua.

Unggul jumlah pemain timnas Merah Putih berhasil menggandakan keunggulan di menit ke-36 lewat aksi menawan Titus Bonai. Sayang, hingga laga usai tak sebiji gol lain tercipta. “Saya bersyukur dengan hasil ini walau sempat mengalami rasa seperti kurang percaya diri setelah unggul 2-0. Tapi dibantu positioning saat kehilangan bola dan tampil cukup disiplin itu membuat Singapura tidak bisa menekan,” kata Rahmad Darmawan pelatih timnas U-23 dalam press conference usai pertandingan.

Sementara itu Slobodan Pavkovic menyatakan jika kekalahan timnya lebih disebabkan oleh kesalahan individu pemain. “Kesalahan individu merusak semua persiapan dan strategi yang saya siapkan,” kata Slobodan Pavkovic.(dik/ali/jpnn)

Soal Batas, BPN dan Kecamatan Harus Tegas

MEDAN-Warga Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia meminta ketegasan dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Medan dan Kecamatan Medan Polonia menentukan batas-batas tanah warga. Selama ini, BPN dan kecamatan tidak bisa menentukan batas wilayah tanah Kelurahan Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia dengan kecamatan lain.

Selain itu, BPN dan kecamatan juga harus bisa menjelaskan kepada warga Sari Rejo untuk lahan-lahan mana saja yang sudah memiliki sertifikat untuk dijelaskan kepada warga.
“BPN dan Kecamatan harus tegas menetukan batas-batas wilayah agar tidak ngambang dengan wilayahnya sendiri. Selama ini, BPN dan Kecamatan tidak bisa menjelaskan mana saja yang menjadi batas dan lahan Kelurahan Sari Rejo yang sudah memiliki sertifikat,” kata Ketua Formas, Riwayat Pakpahan, Jumat (11/11).

Dengan begitu, lanjut Riwayat, Formas yang mewakili warga berani membuat peta untuk menentukan batas-batas Kelurahan Sari Rejo. “Bersama pihak kelurahan, Formas membuat peta Kelurahan Sari Rejo.Tak ada yang mengklaim dengan Peta tersebut. Untuk itu, diminta kecamatan harus tegas,” jelasnya sedangkan untuk lahan milik warga yang dikapling-kapling Mafia Tanah, menurut Riwayat kalau sampai saat ini tanah milik warga seluas 260 Ha – yang sampai saat ini belum diberikan sertifikat oleh BPN Kota Medan – belum ada. “Sampai saat ini warga belum terpisah untuk memberikan tanah kepada Mafia Tanah,” jelasnya.

Sementara, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Medan kembali meminta ketegasan Wali Kota Medan, Rahudman Harahap. Hal ini tak lain agar perkembangan konflik tanah di Sari Rejo, Medan Polonia, jangan jalan di tempat. “Sudah cukup lama sengketa ini terkatung-katung dimohon kepada wali kota agar memberikan kenyataan, jangan memberikan harapan saja,” ujar Ketua Komisi A DPRD Medan, Ilhamsya.

Ilhamsyah juga mengkritik rencana Wali Kota Medan yang akan bertemu Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Wakasau) tanpa melibatkan anggota dewan dan warga. Padahal, pertemuan itu terkait dengan sengketa tanah Sari Rejo. “Penandatanganan MoU di Jakarta dengan Wakasau harus melibatkan masyarakat dan Dewan, sampai saat ini masyarakat saja tak tahu isi dari MoU tersebut. Kami harap, MoU tersebut terealisasi yang sifatnya memihak kepada masyarakat,”cetusnya seraya menambahkan kata bijak ‘Lebih enak makan ubi dalam ingatan daripada makan roti dalam khayalan’.(adl)

Kloter 01 Terlambat

Porter Bandara Bikin Takut Jamaah Haji

MEDAN-Kelompok terbang (kloter) 01 Debarkasi Medan tiba di Tanah Air tidak sesuai jadwal. Pesawat dengan nomor penerbangan GA3201 yang membawa 452 jamaah haji dari Labuhanbatu dan Medan itu tiba di Bandara Polonia Medan pukul 00.35 WIB. Padahal, prediksi awal kloter 01 tiba di Polonia pukul 23.15.

Keterlambatan ini menurut Humas Panitia Pelaksana Ibadah Haji (PPIH) debarkasi Medan, Sazli Nasution, karena ada sedikit masalah di Bandara King Abdul Aziz (KAA). “Bus yang mengangkut jamaah dari waiting room ke pesawat harus antre. Lalu, barang bawaan jamaah juga terlalu banyak, hingga proses ke bagasi memakan waktu,” jelas Sazli, Jumat (11/11).

Soal kedatangan jamaah haji juga tak lepas dari masalah. Tim Pengawas Haji DPR RI, telah menginventarisir segala persoalan yang muncul pada saat pelaksanaan haji tahun ini. Salah satu di antara persoalan itu adalah ketakutan jamaah haji terhadap porter (pengangkut bagasi) di bandara-bandara tanah air.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Gondo Raditiyo Gambiro yang ikut mengawasi pelaksanaan haji di Mekkah dalam surat elektroniknya kepada JPNN, Jumat (11/11), mengatakan, rombongan jamaah haji yang mulai kembali ke tanah mengkhawatir keberadaan porter  bandara pemberangkatan haji di seluruh Indonesia, di antaranya Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, Tangerang.

Menurutnya, jamaah mengeluhkan porter bandara yang cenderung memaksa dan melakukan pemerasan dengan modus membantun
mengangkat barang bawaan para jamaah haji. “Kita mengimbau kepedulian PT Angkasa Pura terhadap kekhawatiran para jamaah haji yang akan pulang ke Indonesia. Keberadaan porter bandara cenderung merugikan para jamaah haji kita,” ujar Raditiyo.

Dia menambahkan, jamaah haji ingin ada tarif porter yang diberlaukan secara resmi. Menurut dia, hal itu diperlukan, guna  mengantisipasi hal tak diinginkan yang sering terjadi saat kepulangan jamaah haji dari Arab Saudi.

“Salah satu contoh tindakan porter yang merugikan jamaah haji, di antaranya sewenang – wenang menentukan harga tanpa proses tawar menawar.  Tanpa permisi, porter bandara langsung mengangkat barang bawaan jamaah ke parkiran mobil, selanjutnya dikenai tarif ilegal,” ujar Raditiyo.

Maka dari itulah, Komisi VIII DPR meminta PT Angkasa Pura ikut bertanggungjawab atas ketakutan para jamaah terhadap porter. “PT Angkasa Pura harus membuat tarif resmi jasa porter, sekaligus membuat posko customer service (pengaduan pelanggan) yang tanggap dan profesional,” cetusnya. (mag-11/mag-7/boy/jpnn)

Jenuh Jadi Orang Kantoran, Telurkan Puluhan Penulis Buku

Jonru Ginting, Tularkan Kemampuan Menulis Melalui Sekolah Menulis Online

Ide mendirikan sekolah menulis online ditemukan Jonru dalam situasi terdesak. Embrionya adalah website penulislepas.com yang selama enam tahun hanya menghasilkan Rp500 ribu. Kini puluhan penulis profesional telah dihasilkan.

Priyo Handoko, Jakarta

HARI merambat sore. Namun, pria berperawakan sedang dengan sebaris jenggot di dagu itu masih belum terlihat akan mengakhiri pekerjaannya. Pandangan matanya tampak fokus ke arah laptop. Tangannya asyik memainkan mouse.

Bersama seorang teman, Jonru tengah mematangkan format diskusi “Kiat Cepat Menjadi Penulis Laris” yang akan diselenggarakan pada 26 November mendatang. Kebetulan Jonru menjadi pembicara.  Dia akan dipanel dengan Arief Muhammad, penulis muda yang tengah naik daun berkat debut buku pertamanya: Poconggg Jadi Pocong. Hanya dalam setengah tahun, buku yang menyasar segmen remaja itu menjadi best seller dengan penjualan spektakuler menembus 200 ribu eksemplar.

Bagi Jonru, berbicara mengenai teknik dan seni tulis-menulis di hadapan publik bukan hal baru. Namanya sudah cukup familier, terutama di kalangan komunitas penulis. Jonru-lah pendiri website penulislepas.com yang mulai eksis awal 2001. Belakangan, melalui website itu, dia mengembangkan sekolah menulis online atau SMO.

“SMO ini layanan belajar menulis lewat internet yang pertama di Indonesia,” kata Jonru bangga. “penulislepas.com juga menjadi website penulis terbesar dengan pengunjung paling banyak,” imbuhnya.

Sudah lama Jonru tertarik dengan aktivitas penulisan. Selama menjadi mahasiswa akuntansi di Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro, Semarang, Jonru yang lulus pada 1998 itu aktif di pers kampus. Banyak tulisannya, terutama cerpen, yang dimuat di koran dan majalah. Bahkan, pada 2005, dua buku Jonru sukses beredar di pasaran. Salah satu di antaranya adalah kumpulan cerpen Cowok di Seberang Jendela yang diterbitkan Lingkar Pena Publishing House dan novel Cinta Tak Terlerai diterbitkan Mizan.

Perkenalannya dengan desain web dan grafis dimulai awal 2000 di Jakarta. Kebetulan dia diterima menjadi content editor untuk sebuah perusahaan internet service provider. Di sela-sela rutinitas kerja, Jonru “mencuri ilmu” untuk membuat web yang menarik.

“Saya pernah bermimpi punya media sendiri. Tapi, untuk media cetak modalnya kan besar sekali. Akhirnya, lewat internet, saya bikin portal sendiri. Makanya, lahirlah penulislepas.com,” ceritanya.
Lewat website, Jonru sekaligus berusaha mempromosikan bisnis pembuatan company profile. Cuma karena minim pengalaman dan belum punya portofolio yang cukup meyakinkan, bisnis yang dirintisnya itu tak berhasil meraih konsumen. Meski demikian, website penulislepas.com tetap bertahan. Salah satu di antaranya karena Jonru sendiri yang rajin mem-posting tulisannya ke web tersebut.

Sejak 2003, Jonru terpikir untuk menampung tulisan dari penulis lain. Kriterianya tak terlalu ketat. Yang penting “bisa dibaca”. Temanya juga boleh apa saja, mulai soal politik hingga tip-tip unik. Hingga beberapa tahun, Jonru sempat kebanjiran artikel. Milis yang dibuatnya juga ramai dikunjungi. “Saking larisnya, sehari bisa sampai 20 orang yang kirim tulisan,” ungkap Jonru.
Ketika blog sudah mewabah, artikel yang diterima Jonru terus menurun. “Sekitar 2010, dalam seminggu, paling dua tulisan yang masuk,” kata pria kelahiran Kabanjahe, Sumatera Utara, 7 Desember 1970, itu.

Setelah tujuh tahun bekerja sebagai content editor di dua perusahaan yang berbeda, Jonru mencapai puncak rasa jenuhnya. Sebenarnya sudah tiga tahun rasa bosan itu menghantui Jonru. Namun, sang istri, Alifia Rasyida, belum merestui Jonru berhenti bekerja sebagai “orang kantoran”. Jonru akhirnya mengalah. “Istri bilang jangan sekarang,” kenang ayah tiga anak itu.

Menginjak 2007, Jonru semakin malas bekerja. Bukan gaji yang menjadi persoalan. Jonru pada dasarnya tidak suka bekerja untuk orang lain. Selain itu, pekerjaan sebagai content editor terasa monoton. “Kebanyakan tinggal copy paste artikel yang terkait perusahaan dan memasangnya di portal. Kalaupun ada tulisan sendiri, hanya sesekali. Keterampilan menjadi tidak optimal. Tidak ada tantangan,” ceritanya.

Kinerja Jonru di perusahaan menurun drastis. Bahkan, dia sudah menerima surat peringatan dua kali. “Kalau tetap bertahan, paling September 2007 sudah di PHK. Nah, daripada di PHK, lebih baik keluar,” ujarnya, lantas tersenyum kecut. Keberanian Jonru meninggalkan pekerjaannya semakin termotivasi setelah dia mendapat tawaran dari seorang rekannya untuk menggarap proyek pembuatan website Departemen Agama.

Merasa fee yang ditawarkan terbilang lumayan besar, Jonru memutuskan keluar dari perusahaannya. Hari bersejarah itu adalah 19 Maret 2007. Tapi, malang buat Jonru. Proyek yang dijanjikan tak kunjung konkret. Sementara website penulislepas.com belum memberinya income yang signifikan.

Selama tujuh tahun berdiri baru sekali ada yang memasang iklan. Harganya pun hanya Rp500 ribu. Oleh Jonru, uang itu lantas dibagikan ke sejumlah penulis yang rutin mengirimkan tulisan ke website.
Tapi, Jonru tak mengeluh. Meski sempat bingung, dia tetap optimistis. Di tengah situasi yang terdesak dan uang tabungan menipis, Jonru mendapat ide mendirikan sekolah menulis online (SMO). Selama mengelola website penulislepas.com, kata Jonru, banyak orang mengeluh mengapa latihan penulisan kebanyakan di Jakarta. Dia lantas terpikir untuk membuat pelatihan penulisan yang bisa menjangkau semua orang.

“Sewaktu mulai dibuka pada Agustus 2007, yang daftar 35 orang. Karena masih baru dan belum tahu bakal laku, saya hanya mematok tarif Rp95 ribu per bulan untuk setiap orang,” tuturnya.
Durasi pelatihan sekaligus “pendampingan” dilakukan selama enam bulan. Kurikulum pelatihan dibuat berdasar pengalaman Jonru sendiri yang pernah mengisi sejumlah pelatihan menulis.
“Saya kirim silabusnya lewat e-mail. Kemudian, peserta pelatihan harus membuat tulisan yang dikonsultasikan kepada saya secara online,” tuturnya.

Pada 2008, buku Jonru yang berjudul Menerbitkan Buku Itu Gampang dicetak penerbit Tiga Serangkai. Seperti judul buku itu, puluhan alumnus SMO yang “berguru” kepada Jonru juga sukses menerbitkan buku. Sebut saja Ning Harmanto, pendiri PT Mahkota Dewa, yang telah menulis 18 buku mengenai herbal. “Beliau angkatan pertama SMO tahun 2007,” kata Jonru.

Ada juga Hartati Nur Wijaya, orang Indonesia yang tinggal di Yunani. Hingga sekarang, menurut Jonru, Hartati telah menerbitkan enam buku. Ada soal perkawinan antarbangsa, cara mencegah penyakit kanker, hingga cara mencegah selingkuh dan cerai. Sedangkan Syasya Azisya melahirkan buku berjudul Rich Mom, Poor Mom.

“Buku Faiz Yusuf yang berjudul Rahasia Jadi Entrepreneur Muda juga langsung best seller,” ujar Jonru yang baru saja merilis buku keempatnya, Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat.
Kerja keras dan konsistensi Jonru kini mulai membuahkan hasil. Sejak awal 2011, SMO resmi melebur ke Manajemen Oxford Course Indonesia, sebuah lembaga penyelenggara kursus bahasa Inggris pertama di Indonesia. SMO lantas berubah nama menjadi Writers Academy dan Jonru langsung dipercaya menjadi CEO.

Tapi, apa hubungan lembaga bahasa Inggris dengan pelatihan penulisan? Jonru menjelaskan, Bambang Marsono, pendiri Manajemen Oxford Course Indonesia, memang memiliki passion di bidang pendidikan. Semua usahanya bahkan bergerak di bidang itu. Ketika mendengar kiprah SMO, Bambang merasa tertarik. “Kapan lagi bisa bekerja sama dengan perusahaan besar. Maka, jadilah,” kata Jonru, lantas tertawa lepas.

Sekarang konsep website penulislepas.com telah dirombak. Kalau dulu tulisan apa saja bisa masuk, kini temanya khusus terkait penulisan saja. Konstributor tulisan juga dibatasi hanya untuk alumni SMO dan Writers Academy yang sudah menerbitkan buku. “Sebagai kompensasi, saya beri keleluasan kalau mau promosi bukunya, tidak bayar,” ujarnya.

Dengan berubah menjadi Writers Academy, fokus Jonru sekarang adalah kelas tatap muka. “Sekarang saya tidak bingung tempat lagi. Saya bisa menggunakan cabang Oxford Course se-Indonesia.”

Kelas online tetap dibuka, namun bukan lagi prioritas. Apalagi, pesaing pelatihan menulis secara online sudah semakin banyak. Di lain sisi, orang yang ingin belajar menulis secara online terus berkurang. “Banyak alumni SMO yang sekarang juga mendirikan bisnis yang sama,” kata Jonru.
Sejak SMO berubah nama menjadi Writers Academy, Jonru sudah mengadakan empat angkatan pelatihan menulis. Peminatnya lumayan banyak. Untuk kelas pemula, tarifnya Rp495 ribu. “Sementara pelatihannya masih di Jakarta. Jangka panjang se-Indonesia,” ujarnya. (*)

Benahi Terminal Amplas Dishub Ditenggat Sepekan

Polresta Medan Desak Pemko

MEDAN- Untuk menertibkan terminal liar, Kapolresta Medan Kombes Pol Tagam Sinaga mendesak Pemko Medan untuk segera memperbaiki fasilitas di Terminal Terpadu Amplas dan Pinang Baris. Pasalnya, fasilitas yang ada di terminal saat ini seperti plang rambu-rambu lalulintas, drenase, jalan di terminal yang rusak, lampu penerang dan plang jurusan trayek kondisinya cukup memperihatinkan.

Hal ini terungkap dalam pertemuan Polresta Medan dan Dishub Medan dengan 40 pengusaha angkutan umum yang digelar di Aula Bayangkari Polresta Medan, Jumat (11/11) pukul 09.00 WIBn
Dalam pertemuan itu, Kapolresta Medan Kombes Pol Tagam Sinaga mengungkapkan, pihaknya akan melakukan sosialisasi terhadap pengemudi angkutan umum dan segera melakukan penertiban terminal liar yang masih beroperasi di sejumlah ruas jalan di Medan.

“Kami akan menindak pengusaha dan pengemudi angkutan umum yang menaikkan dan menurunkan penumpang di terminal liar,” ungkap Tagam. Namun sebelum melakukan penindakkan terhadap pengusaha dan pengemudi angkutan umum tersebut, dia meminta agar seluruh fasilitas di Terminal Terpadu Amplas dan Pinang Baris segera dibenahi.

Pasalnya, minimnya fasilitas yang ada di kedua terminal tersebut membuat pengemudi angkutan umum dan penumpang enggan masuk terminal. “Keluhan pengusaha dan pengemudi kenderaan umum akan saya sampaikan kepada Wali Kota Medan. Kemudian, kepada Dinas Perhubungan untuk segera melakukan pembenaan sarana dan prasana terminal, pembenahan terminal diberi waktu selama satu minggu,” kata Tagam.

Untuk melihat realisasi pembenahan fasilitas terminal tersebut, Tagam mengaku akan melakukan peninjauan ke terminal Amplas pada Jumat (18/11) mendatang. “Saya akan melakukan peninjauan pembenaan fasilitas terminal Jumat pekan depan,” ungkapnya.

Jika fasilitas terminal sudah dibenahi, kata Tagam, tidak ada alasan lagi bagi pengusaha dan pengemudi angkutan umum untuk mencari sewa di terminal liar. “Setelah dilakukan pembenaan, saya akan langsung memimpin penindakkan tegas terhadap terminal liar, Senin (21/11) mendatang,” ungkapnya.

Tagam mengungkapkan, semua ini dilakukan karena melihat dan dengar keluhan masyarakat terhadap lalulintas yanng macet akibat terminal liar. “Hal ini kita lakukan demi kelancaran lalulintas di Kota Medan,” ujarnya.

Selain menertibkan terminal liar, Polresta Medan akan melakukan pemeriksaan terhadap izin trayek dari angkutan umum plat hitam. (mag-7)