28 C
Medan
Wednesday, April 8, 2026
Home Blog Page 14527

Banjir Masih Rendam 12 Provinsi Thailand

Bangkok- Banjir terburuk dalam 50 tahun yang melanda Thailand kini mulai surut. Bahkan, sebagian wilayah Bangkok mulai kering. Tapi bagian selatan dan timur masih terendam banjir.
Banjir di Provinsi Ayutthaya di utara Bangkok mulai surut dan lebih dari 33.000 buruh kembali bekerja di 25 pabrik. “Situasi di Provinsi Ayutthaya perlahan membaik, khususnya banjir telah menjauhi sejumlah kawasan industri,” kata Dirjen Departemen Perlindungan dan Kesejahteraan Buruh Arthit Ismo, Rabu (9/11).

“Setidaknya ada 25 pabrik yang dibuka lagi dan 33.892 buruh bisa kembali bekerja. Pabrik-pabrik di Provinsi Ayutthaya sudah memberitahu kantor Arthit, mereka akan segera kembali mempekerjakan 280.000 buruh,” tambah Arthit.

Sementara di Bangkok, banjir berdampak terhadap 6.474 bisnis, dengan 109.602 orang kehilangan pekerjaan atau sementara menganggur. Arthit bersyukur banjir telah surut di 32 provinsi, dan kini tinggal 12 provinsi terendam.
Thailand terdiri dari 77 provinsi, sebanyak 60 provinsi dihantam banjir. Sebanyak 20.526 bisnis dihajar banjir dan menyebabkan 819.147 orang di provinsi-provinsi Thailand Tengah menderita. Perwakilan ILO bertemu dengan Arthit membahas bantuan bagi buruh korban banjir. ILO ingin membantu usaha-usaha kecil agar tetap bekerja.Menteri Tenaga Kerja Padermchai Sasomsap kemarin menyatakan, kabinet Yingluck telah menyetujui dua skema bantuan. Pertama, pemerintah membayar 2.000 baht (R 600 ribu; 1 baht = Rp300) per bulan untuk buruh yang pabriknya benar-benar terendam banjir, selama tiga bulan. Pemerintah harus menyediakan dana 600 juta baht untuk membayar 100.000 buruh.

Kedua, pemerintah menyediakan program pelatihan kepada para pekerja yang terputus kontraknya karena banjir. Sebanyak 15.000 buruh akan memperoleh pelatihan selama 10 hari dan mereka akan mendapat insentif 120 baht sehari selama pelatihan.

Ini sudah membutuhkan dana 61 juta baht. Kalau minat orang mengikuti pelatihan atau jumlah pekerja yang pabriiknya tutup ternyata lebih besar, ya pemerintah harus mencari tambahan dana. Pemerintah Thailand juga membantu para pekerja migran asing di provinsi Samut Sakhon yang mudah sekali terancam banjir karena aliran air bah dari Bangkok ke laut mesti lewat pro­vinsi apes ini.(net/jpnn)

Andalkan Botok Lorjuk dan Sambal Keluak

Lila Ummami, dari Usaha Rantangan ke Juara Lomba Masak Nasional
Lila Umami menang karena keteguhannya untuk tak memakai vetsin dan hanya menggunakan bahan-bahan segar.

AGUNG PUTU I, Jakarta
M. IQBAL, Probolinggo

ISYARAT itu sebenarnya sudah disampaikan oleh chef terkenal William Wongso. “Ibu siap lho ya ke luar negeri,” kata William setelah mencicipi masakan hasil olahan perempuan 49 tahun itu pada lomba masakan dan minuman daerah tingkat nasional di Nusa Dua, Bali, awal November lalu.

Tetapi, Lila yang mewakili Jawa Timur di event yang dihelat sebagai rangkaian ASEAN Fair untuk pembukaan KTT ASEAN +3 (Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok) tersebut, rupanya, tak memahami isyarat tersebut. Karena itu, dia tetap saja tak percaya diri begitu tiba waktu pengumuman pemenang.

Lila tak berani berharap muluk. Bagi dia, menjadi juara harapan saja sudah luar biasa. Maklum, sebagai pengusaha katering kelas rumahan, di lomba tersebut dia harus berhadapan dengan wakil 18 provinsi yang rata-rata berasal dari rumah makan besar atau hotel mewah.

Namun, hingga juara harapan selesai dibacakan oleh William, nama Lila Catering sama sekali tak ada. Begitu juga setelah peraih peringkat pertama dan kedua diumumkan. Lila pun gelisah.
Tinggal peraih peringkat pertama yang belum disebutkan. Lila sudah kehilangan harapan. Namun, apa yang sama sekali tak
terbayangkan oleh perempuan yang memulai usaha katering pada 1987 itu terjadi: Lila Catering terpilih sebagai juara pertama.

“Saya seperti setengah sadar. Kaki langsung nggreweli (gemetar, Red),” kata perempuan yang kini berdomisili di Desa Kedung Dalem, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, tersebut. “Semua juri juga kaget kalau yang menang ternyata katering rumahan,” imbuh Lila yang berhak atas hadiah uang pembinaan Rp 10 juta dari Kementerian Perdagangan plus piagam atas prestasinya itu.
Keberhasilan di Bali tersebut memang benar-benar datang dari bawah, dari sebuah kerja keras yang dimulai 23 tahun silam. Pemicunya pun sangat sederhana, yang jamak dihadapi ibu rumah tangga di mana saja: keinginan menambah uang belanja plus dana pendidikan anak.

Maklum, suami Lila ketika itu, Rudi Alfanani, hanya bekerja sebagai tenaga lepas di Pabrik Gula (PG) Pajarakan. Gajinya kala itu tidak cukup untuk kebutuhan keluarga. Berbekal keahlian memasak, Lila mulai berjualan nasi dengan berkeliling di kampung asalnya, Desa Sukokerto, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo.

Sambil berjualan, Lila mulai bertanya kepada sejumlah tetangga tentang jumlah uang yang mereka habiskan untuk memasak per hari. Bermula dari survei sederhana itu, Lila menawarkan jasa rantangan.
Gayung bersambut. Ada lima ibu rumah tangga yang menggunakan jasa Lila memasak nasi untuk kebutuhan setiap hari. Dari tiap-tiap rumah tangga itu, Lila menerima Rp 3 ribu sehari untuk biaya masak. Uang itulah yang dia kelola agar bisa mencukupi kebutuhan sekaligus keluarganya bisa nunut makan gratis.

Usahanya terus berkembang hingga memiliki tiga warung. Namun, dia tak sanggup mengurusi warung sekaligus usaha rantangan. Akhirnya, warung ditutup serta dia berfokus menyuplai makanan untuk kalangan keluarga dan kantoran.

Jalan hidup Lila penuh gejolak. Pada 2003, dia berpisah dengan suaminya, Rudi Alfanani. Saat keluar dari rumah, dua buah hati hasil pernikahannya hendak ikut dengannya. Namun, Lila menolak. Lila meminta agar dua putrinya itu tinggal bersama sang mantan suami sampai dirinya sukses. “Saya keluar dari rumah nggowo awak tok (tidak membawa apa-apa, Red),” ungkap dia.

Lila kemudian memulai usaha katering pada 2005. Dia menyuplai makanan untuk instansi-instansi di Probolinggo. Sebagian besar pesta pernikahan dia garap. Lila harus bekerja ekstrakeras. Pernah salah seorang sopirnya terlambat datang. Akhirnya, mau tidak mau dia menyopiri sendiri truk yang mengangkut perlengkapan prasmanan.

Lila juga menjalankan usahanya dengan etika bisnis yang ketat. Dia tidak mau mengambil untung terlalu besar. Yang penting, untung tipis, tetapi berkelanjutan. “Kalau acaranya sudah sukses, baru boleh dibayar. Alhamdulillah, tidak ada yang nakalan. Semuanya beres, bahkan semakin banyak yang order,” katanya.

Pada 2009, Lila akhirnya menikah untuk kali kedua dengan Joko Wiyono. Pernikahan tersebut seperti melengkapi hidupnya. Joko yang beranak satu itu merupakan seniman Probolinggo yang memahami seni dekorasi. Lila mengurusi masakan, Joko menangani dekorasi.

“Saya bersyukur atas semua itu. Saya orang ndeso, cuma bisa masak dari kukusan sama botok, kok ya bisa menang,” ucap Lila, yang ketika ditemui akhir pekan lalu didampingi Kasi Pelayanan Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Probolinggo Andjar Noermala.

Di Bali, Lila mengandalkan masakan dari hasil laut khas Probolinggo. Yaitu, botok lorjuk, peyek kupang, urap-urap kupang, sate komo, dan botok mutiara bromo. Untuk masakan pendukung, Lila menyajikan opor ikan hiu, bebek goreng, rujak kebalan, sambal pencit, dan sambal keluak. Sedangkan untuk minuman, Lila membuat pokak, sinom, dan bongko menthuk.

Dari semua masakan itu, sambal keluak benar-benar membuat kaget William. “Saya bilang ke Pak William Wongso, caranya gampang. Cabai rawit dibakar, kemudian diulek dengan kluwek (keluak), dikasih garam, sudah,” ucap dia. “Itu dimakan dengan bebek goreng buat dicocol,” imbuhnya.

Selain William, juri lain terdiri atas Bondan Winarno, Vindex Tengker, Hein von Holsen (Australia), dan Henet de Neefe (Belanda). Mereka mendasarkan penilaian atas tiga segi. Salah satunya, otentisitas atau masakan dan minuman yang disajikan adalah produk unggulan daerah. Dua segi lain adalah cita rasa dan cara penyajian makanan. Otentisitas dan cita rasa memiliki persentase penilaian 40 persen masing-masing. Sedangkan bobot cara penyajian sebesar 20 persen saja.

“Sebelum berangkat ke Nusa Dua, sudah ada geladi bersih. Mencicipi masakan yang akan dilombakan di panti PKK,” kata Andjar, mengawali cerita.
Selain persiapan yang matang itu, Lila menuturkan bahwa rahasia menjadi juara sebenarnya cukup sederhana. Selama meniti karir di dunia kuliner, dia sangat antivetsin. Kalau ingin masakan gurih, harus rela menggerus rempah-rempah untuk menajamkan rasa.

Itulah kenapa, begitu masakannya dicecap lidah para juri, rasa yang keluar adalah rasa asli. Di antara beberapa peserta lain, ada yang menggunakan jalan pintas dengan membubuhkan vetsin pada masakan. Namun, lidah para juri tidak bisa ditipu. “Ini yang kami cari, rasanya maknyus,” kata Lila, menirukan Bondan saat merasakan masakannya.

Rahasia lain kemenangan Lila adalah bahan-bahan yang segar. Dia tidak mau saat hari H penilaian, semua masakan hanya dihangatkan karena dimasak pada hari sebelumnya. Semua bahan-bahan masakan dibawa langsung dari Probolinggo. Mulai udang untuk bumbu-bumbu, rempah-rempah, hingga ikan hiu yang akan dijadikan opor.

Karena ngotot memasak pada hari H, Lila harus bekerja ekstrakeras. Tepat setelah salat Subuh, duta kuliner Probolinggo tersebut mengajak lima orang kru yang dibawa dari kampung halaman mulai memasak. Semua proses memasak itu rampung pada pukul 10.00. Selain memaksimalkan rasa, mereka harus mengatur dekorasi kuliner.

Untuk bisa sampai di Bali, Lila memulainya dengan mengikuti lomba memasak se-eks Karesidenan Probolinggo. Dia meraih peringkat ketiga. Lalu, bersama peraih peringkat pertama dan kedua, dia berlomba di tingkat Jawa Timur dan menang sehingga berhak mewakili provinsi ke level nasional.

Kini Lila tinggal menikmati buah dari kerja kerasnya. Selain usaha katering yang terus menggurita, dia memiliki sejumlah properti. Antara lain, tujuh unit rumah yang dia kontrakkan dan beberapa rumah kos. Dia berharap, masa tuanya bisa dihabiskan dengan berkumpul bersama keluarga dalam kebebasan finansial.

Dengan mantan suaminya pun, Lila sangat baik. Bahkan, dia ikut mengurusi ayah dari dua anaknya itu. Kadang sang mantan suami ikut membantu mengantarkan katering. “Saya harus tetap ngopeni. Dia juga bagian hidup saya,” katanya. (*)

 

Asa Palestina Jadi Anggota PBB Pupus

NEW YORK- Asa Palestina menjadi anggota penuh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pupus. Komite Inti Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) gagal mencapai kebulatan suara atau konsensus saat membahas, apakah Palestina harus diterima sebagai anggota penuh PBB atau tidak.

Informasi yang diperoleh dari draf laporan, ini menjadi sinyal terbaru runtuhnya harapan Palestina atas tawarannya kepada PBB. Badan dunia tersebut tidak dapat membuat rekomendasi bulat kepada Dewan Keamanan, seperti yang dilaporkan dalam draf milik komite yang mengurusi keanggotaan baru PBB dan diedarkan ke seluruh 15 anggota DK pada Selasa (8/11) lalu.

Draf empat halaman itu tampaknya mengkonfirmasi kabar bahwa upaya Palestina menjadi anggota penuh badan dunia itu telah dimanipulasi untuk gagal melalui kebuntuan yang tak terselesaikan di DK.
Utusan negara-negara Barat telah menyebutkan Palestina tidak akan memiliki kesempatan mewujudkan keinginannya dengan sumpah AS yang akan menggunakan hak vetonya jika DK melakukan pemungutan suara.
Meskipun keputusan keanggotaan sebuah negara yang melamar menjadi anggota PBB berada di tangan Majelis Umum yang beranggotakan 193 negara, tetap saja negara pemohon membutuhkan persetujuan DK sebelum bisa dilanjutkan ke majelis.

Palestina melalui Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, mendaftarkan proposalnya ke PBB di New York pada 23 September lalu. Menteri Luar Negeri Palestina, Riad Malki mengakui, negaranya tidak mendapatkan cukup dukungan untuk pengakuan negara Palestina di DK PBB. “Sekarang sudah jelas, dengan usaha perlawanan dan intervensi AS, kami tidak akan mendapatkan sembilan suara (DK PBB) ini,” sesalnya.

Untuk dapat disetujui sebagai anggota PBB, negara pemohon memerlukan persetujuan 15 anggota DK PBB. Dengan syarat, tidak satu pun dari lima negara anggota tetap menggunakan hak vetonya. Jika DK PBB mengeluarkan rekomendasinya, maka proses akan berlanjut untuk mencari dukungan dua pertiga dari 193 negara pemilik suara di Majelis Umum PBB untuk persetujuan akhir.

Pejabat Palestina sendiri melihat upaya negosiasi dengan Israel telah gagal mendekatkan mereka untuk menjadikan Tepi Barat, Yerusalem Timur dan Jalur Gaza dalam satu wilayah negara merdeka. Karena itu mereka merasa harus melakukan pendekatan yang berbeda.(net/jpnn)

Audy Dilamar Fans

Sampai kini, Audy masih betah menjombo. Saking terlalu lama hidup sendiri, ia sering mendapatkan perhatian berlebih dari fansnya. “Gue pernah dilamar sama fan gara-gara gue ngejomblo, hahaha,” candanya.

Pelantun Lama-Lama Aku Bosan ini mengaku memang sering dapat perhatian istimewa dari fans yang kebanyakan lelaki. Meski agak risih, namun dia merasa senang diperhatikan banyak orang
“Banyak yang sering telepon ke manajemen gue, nanya lagi ngapain, hari ini ada acara apa, manggung dimana, yah segudang perhatian buat gue lah. Awalnya gue risih,lama-lama jadi biasa,” ujar bekas pacar drummer Tyo Nugros ini.

Penyanyi bernama asli Paula Allodya Item ini tidak mempermasalahkan perhatian fans yang besar padanya. “Selama masih bisa ditolerir dan wajar-wajar aja, nggak masalah sih. Cuma kalau yang sampai ngelamar itu, gue sempat kaget juga dengernya,” tuturnya.

Audy lantas mengaku khawatir dengan fenomena gonta-ganti pacar atau kawin-cerai di kalangan selebritis. Makanya Audy jadi selektif dalam menentukan pasangan.

“Kalau dibilang picky (pemilih) ya, gue memang begitu, gue kan perempuan, gue mau yang terbaik, nggak mau ada kegagalan nantinya,” tegasnya.

“Orang tua ingin lihat anaknya dapat terbaik. Kalau dari orang tua memang pernah ada pertanyaan. Tapi gue bukan pemaksa hati, kalau ada yang ngajak nikah, ayo aja karena sudah umur segini. Kalau menikah kita harus saling mencintai, bukan urusan umur saja,” jelasnya.(INS/rm)

 

Lupakan Kamboja, Jajal Singapura

Timnas U-23

JAKARTA-Indonesia tak boleh terlena. Kemenangan 6-0 atas Kamboja pada laga perdana wajib dilupakan. Menang atas Singapura siang ini menjadi incaran. Ya, Indonesia akan memainkan laga keduanya dalam lanjutan pertandingan grup A kontra Singapura, Rabu (9/11) di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Hal ini menjadi konsentrasi Rahmad Darmawan saat memimpin latihan Timnas U-23 yang diturunkan untuk SEA Games. Meski begitu, wajah ceria masih tampak di wajah Egi Melgiansyah dkk pascakemenangan atas Kamboja 6-0. Semua pemain mengikuti instruksi yang diberikan oleh Rahmad. Setelah melakukan latihan passing, beberapa pemain dibagi menjadi dua kelompok untuk menjalani pertandingan namun hanya menggunakan seperempat lapangan saja.
“Kondisi anak-anak baik. Alhamdulillah tidak ada pemain yang cedera. Kita bersyukur bisa menang di laga awal sehingga moral para pemain dalam kondisi bagus,” kata Rahmad usai memimpin latihan di GOR Soemantri Brojonegoro, Selasa (8/11) sore.

“Kita tidak boleh terlena. Lawan berat sudah menunggu. Kemenangan atas Kamboja harus dilupakan dan fokus kepada Singapura. Permainan Singapura lebih bagus dari Kamboja. Mereka memiliki organisasi pertahanan yang bagus. Fokus latihan hari ini memberikan latihan tanding kepada pemain yang tidak turun bermain kemarin. Pemain yang turun bermain hanya melakukan fisikal kompleks,” lanjutnya.

Ketika disinggung mengenai waktu bermain di siang hari atau tepatnya pukul 14.00 WIB, Rahmad mengaku sama sekali tidak merasa diuntungkan. “Tidak ada yang diuntungkan. Kami dan Singapura sama-sama main jam 14.00 WIB. Namun, kami akan melakukan adaptasi cuaca dengan melakukan latihan pada pukul 13.00,” urainya.
Pembukaan Sea Games Dijanjikan Keren Jika Timnas Indonesia sedang mendapat banyak pujian, sorotan terhadap persiapan Sea Games di Palembang malah mengemuka. Meski demikian, Menpora Andi Malarangeng memastikan Indonesia siap menggelar ajang akbar olahraga tersebut. Bahkan untuk pembukaan yang tinggal menghitung hari, dijanjikan akan spektakuler dan memuaskan semua pihak.

‘’Insyallah untuk pembukaan kita sudah siap. Presiden juga akan meninjau langsung gladi bersihnya, satu malam sebelumnya. Pembukaan sudah dipersiapkan dengan baik dan keren,’’ kata Andi pada wartawan di Jakarta, Selasa (8/11).

Selain akan menampilkan tarian kolosal bertemakan budaya Indonesia, malam pembukaan akan dimeriahkan dengan pesta kembang api, penataan seni dan penuh warna yang ditampilkan dengan multimedia.
Hingga saat ini, panitia terus melakukan persiapan akhir menjelang pembukaan Sea Games tanggal 11 November mendatang. Atlet dan ofisial dari negara peserta, puncaknya akan berlangsung mulai tanggal 9 November.
Sementara Menteri Perhubungan, EE Mangindaan memastikan arus lalu lintas khususnya penerbangan selama penyelenggaraan Sea Games tidak ada masalah. Untuk antisipasi melonjaknya pengguna, disediakan ekstra flight Jakarta-Palembang-Jakarta.

‘’Garuda Indonesia harus siap. Kita siapkan pesawat sesuai kebutuhan yang kapan saja standby. Kita juga antisipasi agar bisa melayani semua penerbangan tanpa ada gangguan,’’ kata Mangindaan.(bbs/afz/jpnn)

Mafia Tanah Hilangkan Nurani

Keputusan MA dan Peraturan Pemerintah pun tak Dihargai

MEDAN-Sengketa tanah Sari Rejo di Kecamatan Medan Polonia Medan, melibatkan banyak pihak. Baik itu TNI AU, Pemerintah Kota (Pemko) Medan, Badan Pertanahan Nasional (BPN) Medan dan Sumut. Selain pihak tersebut, tentunya melibatkan masyarakat Sari Rejo dan pihak pengembang Central Business District (CBD) Polonia.

Sayangnya, nasib warga Sari Rejo tak seindah peruntungan Benny Basri, pengusaha properti yang membidani CBD Polonia. Ya, ini terkait dengan mudahnya pihak pengembang CBD mendapatkan sertifikat, sementara masyarakat Sari Rejo yang telah puluhan tahun sejak 1948 hingga saat ini tidak kunjung mendapat sertifikat diinginkan.

Tak pelak sinyalemen adanya permainan mafia tanah merebak. “Keterlibatan mafia tanah, saya tidak berandai-andai dengan kepentingan seseorang untuk memiliki tanah tersebut. Hal itu tidak bisa dipungkiri, pasti ketahuan dengan bukti prosedurnya atas hak akan diketahui keterlibatan mafia tanah yang menghilangkan nurani,” kata Sekretaris Komisi A DPRD Medan, Burhanuddin Sitepu di gedung Dewan, Selasa (8/11).

Dikatakannya, lahan Kelurahan Sari Rejo seluas 591,30 Ha dan yang sudah bersertifikat dengan luas 302,78 Ha dikelola oleh pihak pengembang yang memperoleh peralihan hak dari TNI AU. “Tanah warga yang luasnya 260 Ha harus diberikan kepastian haknya. Karena peralihan hak memperoleh tanah Sari Rejo tidak terlepas dari BPN, jadi untuk perjelas status tanah Sari Rejo hanya BPN yang lebih tahu. Tolong, tuntutan masyarakat diberikan agar masyarakat bisa hidup damai dan sejahtera,” ujarnya.

Selain itu, DPRD Medan ini juga berharap banyak kepada TNI AU yang sampai saat ini belum menunjukkan sikap. “Sangat berharap kepada TNI AU untuk menyikapi permasalahan tanah sari Rejo yang sampai saat ini belum bersertifikat,” cetusnya.

Untuk itu, lanjut Burhanuddin, status tanah yang terus menjadi sengketa sejatinya sudah ada landasan hukumnya. Namun, kenapa itu tidak menjadi dasar? “Sudah ada keputusan MA dan PP, mau keputusan apa lagi yang harus dihargai,” ungkap Burhanuddin.

Ungkapan lebih pedas dicetuskan pihak Lumbung Informasi Rakyat (Lira) Kota Medan. Melalui Asisten III Lira Kota Medan Hasler Marbun, lembaga swadaya masyarakat ini mengatakan pasti ada mafia tanah dibelakang kasus tanah Sari Rejo. “Saya menilai adanya mafia tanah yang ingin mencoba merebut lahan tersebut. Kenapa pemerintah sepertinya enggan untuk menyelesaikan sengketa lahan itu?  Padahal, masyarakat menginginkan lahan itu bukan untuk dijadikan lahan komersil, tetapi lahan tempat berdirinya rumah-rumah yang dijadikan tempat tinggal mereka,” ujar Hasler Marbun di Gedung Graha Lira Jalan Bakti Medan, Selasa (8/11).

“Kita patut mencurigai adanya kongkalikong antara aparat yang terlibat dalam perkara tersebut dengan CBD,” sambungnya.

Pihak Pemko Medan yang sejatinya memiliki peran penting kini ditunggu kerjanya. Melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Medan, Syaiful Bahri, Pemko meminta warga untuk bersabar. “Pak Wali sudah mencari solusi untuk memperjuangkan hak warga Sari Rejo. Dikarenakan tanah Sari Rejo merupakan aset negara dan akan diberikan untuk kepentingan masyarakat, harus melalui tahapan dengan melakukan rapat untuk mengambil kebijakan,” jelas Syaiful.
Lalu, bagaimana dengan perbedaan nasib antara warga dan CBD Polonia soal sertifikat tanah? “Tanah warga itu ruislag (tukar guling), sedangkan CBD Polonia pengalihan hak,” jawab Syaiful Bahri.

Menyikapi perbedaan nasib itu, anggota DPRD Sumut Hasbullah Hadiyang dikonfirmasi Sumut Pos di sela-sela Paripurna Pengesahan Perubahan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (P-APBD) 2011 serta pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Pencemaran Udara, Selasa (8/11) menyatakan, semestinya Pemerintah dalam hal ini Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) dan Pemko Medan, lebih mengedepankan kepentingan masyarakat. “Pemerintah dalam hal ini Pemprovsu, Pemko Medan, BPN, dan termasuk juga angkatan udara harusnya lebih mengedepankan kepentingan masyarakat,” tegasnya.

Sambung anggota DPRD Sumut dari Fraksi Demokrat ini, dalam sengketa tanah ini pada prinsipnya Komisi A DPRD Sumut telah mempertanyakannya ke kementerian keuangan. Termasuk terkait mudahnya pengembang memperoleh sertifikat sementara masyarakat terkesan tidak dipedulikan.

Hasbullah juga menyatakan, keputusan Mahkamah Agung (MA) merupakan keputusan yang telah berkekuatan hukum, yang sepatutnya menjadi rujukan bagi pemerintah untuk merealisasikan keinginan masyarakat Sari Rejo. “Kita kembali kepada keputusan hukum lah. Jadi, BPN jangan seenaknya mengeluarkan sertifikat kepada pengembang. Itu saja,” tukasnya.

Sedangkan itu, Ketua Komisi A DPRD Sumut Isma Fadly Ardhya Pulungan kepada Sumut Pos juga menyatakan hal yang sama. Dan dalam kasus ini, Isma menyatakan, tinggal menunggu keputusan dari pihak Kemenkeu atas pertanyaan-pertanyaan Komisi A yang melakukan kunjungan ke Kemenkeu beberapa waktu lalu.

“Kita mempertanyakan semua hal yang berkaitan dengan masalah Sari Rejo, termasuk mudahnya pengembang mendapatkan sertifikat dibandingkan masyarakat. Kita tunggu itu,” tegasnya. (adl/rud/ari)

Djamin Ginting Diusul jadi Pahlawan Nasional

BERASTAGI-Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah memberikan 7 gelar pahlawan nasional baru. Pemberian gelar dilaksanakan secara simbolis ketujuh ahli waris, di Istana Negara, Jakarta kemarin siang, Selasa (8/11).

Nah, dari daftar yang ada tidak ada tokoh dari Sumatera Utara (Sumut) yang terpilih tahun ini. Padahal, Sumut memiliki tokoh yang bisa diusulkan untuk menjadi pahlawan nasional. Satu diantaranya adalah Letjend Djamin Ginting.
Harapan ini diusung berbagai elemen masyarakat Karo dengan gelaran Seminar Nasional Ephos Kepahlawanan Letjend Djamin Ginting yang akan berlangsung, Kamis (10/11) di Convention Hall Sibayak International Hotel Berastagi. Djamin Ginting dinilai telah memenuhi kriteria yang ada di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. Pemberian tanda gelar pahlawan nasional bagi Djamin Ginting nantinya juga diyakini bakal memberi dampak dalam pengangkatan nilai nilai sejarah dari seorang lelaki berbudaya, tentara, politisi, dan diplomat asal Desa Suka, Tanah Karo, di bumi Indonesia.

“Ini merupakan langkah awal yang diyakini akan mendorong gerakan pemberian anugerah gelar pahlawan nasional bagi Djamin Ginting. Kita sangat berharap dalam kegiatan seminar itu penggalian akan sosok kepahlawanan Djamin Ginting dapat menjadi kekayaan sejarah dan intelektual yang berguna,” ujar Marianus Ginting Suka selaku Ketua Panitia didampingi Budianto Tarigan (Streeing Committee dan Tim Perumus) serta Sekretaris Eddy Suranta Surbakti dalam temu pers di pelataran Tugu Letjend Djamin Ginting, Taman Mejuah-juah, Berastagi, Selasa (8/11).

Tidak hanya mengelaborasi materi soal sosok Djamin Ginting dari pandangan para pembicara seperti DR M AS Hikam MA APU, Prof DR Payung Bangun MA, Prof Usman Pelly MA PhD, MC Muham (Ketua LVRI Karo), Jidan Ginting (Tokoh Masyarakat Desa Suka) dan H KP Malik Tarigan, seminar nasional ini juga akan dimanfaatkan untuk mengakumulasi ragam referensi dan dinamika yang timbul akan sepak terjang dan laku Djamin Ginting semasa pengabdiannya.
Ya, Djamin Ginting yang lahir di Desa Suka (86 km dari Kota Medan), Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo pada 12 Januari 1921 selain dikenal sebagai tentara juga dikenal sebagai politisi. Dia merupakan Anggota DPR (1968–1972), Ketua Sekretariat Bersama Golongan Karya (1968–1972). Kelihaiannya selaku militer dan politisi lantas membawa Djamin Ginting berkarir di dunia diplomat dengan duduk sebagai Ketua Diskusi Luar Negeri (1968-1972) dan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia di Kanada (1972-1974). Di ibukota Kanada, Ottawa, inilah Djamin Ginting meninggal dunia dan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Aneka pengabdian itulah yang kemudian membuat ayah dari Riemenda Djamin Ginting ini meraih sekumpulan bintang jasa dari mulai Bintang Gerilya hingga pengakuan asal dunia luar berupa Bintang Mahaputra Utama dari Mesir. Sehingga di mata tim perumus yang diwakili Budianto Tarigan, sosok lelaki yang juga mengecap pendidikan Fakultas Hukum dan Sosial Politik Universitas Sumatera Utara sekaligus salah satu pendiri Universitas Sumatera Utara itu adalah pejuang yang komplet.

“Gelar Tanda Pahlawan Nasional bagi Djamin Ginting yang sedang kita secara bersama usung adalah teramat penting demi penegakan jati diri kita sebagai suku (Karo) yang sedari dulu tercatat sebagai pendukung utama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Setelah Kiras Bangun Garamata, kini saatnya pemuda di Karo kembali harus berjuang, ini demi penanaman nilai nilai sejarah dan perjuangan kita di tengah-tengah kehidupan nasional Bangsa Indonesia,” urai Budianto Tarigan. (pms)

Gatot: Saya Berkomentar untuk Tidak Berkomentar

Terkait Serapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemprovsu

MEDAN-Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sumatera (Gubsu) Gatot Pujo Nugroho akhirnya buka suara terkait kabar yang beredar belakangan ini. Lucunya, suara yang dikeluarkan Gatot sekadar mengulang apa yang telah diucapkan.
Beberapa waktu belakangan ini Gatot memang terus diberitakan terkait kinerja beberapa bawahannya di Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) yang diduga korupsi dan soal serapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).  Pun, soal mutasi yang dilakukan Gatot. Yang terbaru, pencabutan dukungan sembilan partai dari sebelas partai pengusung Syamsul Arifin-Gatot Pujo Nugroho (Syampurno).

Nah, terkait penilaian miring oleh sembilan partai pengusung – yang sehari sebelumnya secara terbuka mengatakan kalau Gatot seperti kacang lupa kulitnya – mantan Ketua DPW PKS  itu mengatakan selalu ingat terhadap semua partai pengusung. “Saya berkomentar, untuk tidak berkomentar. Barangkali dari Ibu Sekjen Mendagri juga sudah berkomentar. Oya, kami eling (ingat, Red) terus. Jadi artinya, apa yang disampaikan Ibu Sekjen mengenai koalisi Syampurno pada waktu itu, komentar saya adalah seperti apa yang telah dikatakan oleh Ibu Sekjen,” jelas Gatot saat dikonfirmasi Sumut Pos sebelum dia memasuki ruang Ketua DPRD Sumut Saleh Bangun.

Soal penilaian ‘miring’ terhadap Gatot disuarakan juga oleh Sekretaris Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DPRD Sumut, Ahmad Hosen Hutagalung. Dikatakannya kepada Sumut Pos di sela-sela Paripurna DPRD Sumut, Selasa (8/11), Gatot memang tidak mampu mensinkronkan kepemimpinannya dengan partai-partai pengusung Syampurno. “Dari Pelaksana Gubsu itu, supaya sinkron dengan pimpinan partai pengusung. Syampurno ini belum berakhir. Karena prinsipnya, bukan hanya sampai pelantikkan saja, melainkan hingga akhir pemerintahan Syampurno,” tegasnya.
Dikatakannya, seharusnya Plt Gubsu harus melibatkan kesembilan partai pengusung Syampurno. “Harusnya dilibatkan sembilan partai pendukung ini agar dapat kita membesarkan Sumatera Utara,” bebernya.

Hosen juga sempat membandingkan antara Syamsul Arifin dengan Gatot. Dikatakannya, Syamsul lebih baik dalam sisi membangun komunikasi politik dengan legislatif. “Secara personal bagus. Secara kelembagaan dan kepartaian ini yang perlu disempurnakan oleh Plt Gubsu,” ungkapnya.

Soal Paripurna DPRD Sumut kemarin, dikabarkan ada delapan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di jajaran Pemprovsu, serapan anggarannya masih di bawah rata-rata dari total serapan belanja APBD Sumut 2011 sebesar 59,36 persen.

Hal itu dikemukakan Kepala Bagian (Kabag) Perbendaharaan Biro Keuangan Pemprov Sumut Ilyas kepada wartawan. “Serapan belanja APBD 2011 saat ini 59,36 persen dari pagu Rp4,6 triliun,” terang Ilyas.

Sementara untuk serapan terbesar ada di Dinas Pehubungan (Dishub) yaitu 97,47 persen dari total anggaran Rp47 miliar. Namun besarnya serapan tersebut diperkirakan karena diperuntukkan untuk anggaran belanja pegawai. Sedangkan anggaran program selama 2011 sedikit.

Ilyas menjelaskan serapan yang diperoleh saat ini belum bisa dibilang rendah. Sebab tren serapan anggaran di tiga tahun terakhir hanya meningkat tajam di akhir tahun yaitu pada November sampai Desember.

Dia mengungkapkan untuk periode akhir November, serapan belanja APBD 2009 57,96 persen dan di APBD 2010 sebesar 61,22 persen. Berarti, pada 2011 ini dalam posisi yang sama yaitu akhir November diperkirakan masih bisa melebihi serapan dua tahun sebelumnya. “Tren anggarannya memang melonjak 30 persen di November ke Desember selama 3 tahun terakhir,” katanya.

Pengamat politik dari Universitas Sumatera Utara (USU) Ahmad Taufan Damanik mengatakan Plt Gubsu wajib melakukan evaluasi segera. Baik mengevaluasi program yang selama ini dinilai rendah serapannya dan evaluasi terhadap kinerja dinas terkait.

Evaluasi kinerja tentu menurutnya mengarah pada mutasi pegawai. Hal itu diperlukan untuk mengembalikan kewibawaan Plt Gubsu di mata pegawai dan kepala dinasnya. Sebab selama ini Plt Gubsu terlihat kurang dihormati dan tidak dipatuhi oleh bawahannya. Banyak persoalan yang sudah diingatkan berkali-kali namun tetap masih tidak ada perkembangan perbaikan kinerja. “Contoh kecil saja soal kebersihan walaupun sudah diingatkan sejak awal tapi tetap saja Gatot marah-marah karena tidak ada pegawainya yang patuh. Begitu juga mungkin soal program dan kinerja tentu masih banyak yang kurang peduli,” tegasnya.

Taufan menilai pegawai di lingkungan Pemprov Sumut masih belum menganggap Plt Gubsu sebagai pimpinan mereka. Karena dianggap kewenangannya belum 100%. Sehingga tidak akan mungkin digeser atau dimutasi begitu saja.
Karena itu menurutnya sebelum dilakukan mutasi, Gatot wajib melakukan pendekatan lobi politik ke seluruh parpol dan DPRD Sumut. Agar kebijakannya tidak lagi mendapat tentangan dan menyita waktunya untuk mengklarifikasi permasalahan tersebut.

“Kalau DPRD Sumut sudah bersinergi tentu Mendagri juga tidak punya celah untuk meributi apa yang dilakukan Gatot. Karena itu penting baginya (Plt Gubsu) untuk melakukan pendekatan politik,” kata Taufan.(ari)

No. Dinas Serapan APBD 2011
1. Dispora Sumut 30,67 persen Rp67 miliar
2. Dinas Bina Marga 44,67 persen Rp812 miliar
3. Dinas Pendapatan 48,90 persen Rp240 miliar
4. Dinas Perkebunan 53,93 persen Rp64 miliar
5. BPPTSP (Izin Terpadu) 57,58 persen Rp21 miliar
6. Badan Diklat 57,43 persen Rp32 miliar
7. Sekretariat DPRD 50,32 persen Rp213 miliar
8. BPBD Sumut 54 persen Rp16 miliar

Delapan Dinas Serapan Terendah (per 7 November 2011)

Data: Rapat Paripurna DPRD Sumut

Kepulangan Jamaah Haji Bisa Terlambat Dua Jam

MEDAN-Jamaah haji yang tergabung dalam Debarkasi Medan, kemungkinan akan terlambat tiba di Bandara Polonia Medan. Diperkirakan keterlambatan bisa mencapai dua jam. Setidaknya hal ini diungkapkan Sekretaris Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarakasi Medan Abd Rahman Harahap.

“Pada tahun-tahun sebelumnya jadwaln pemulangan haji selalu terlambat. Biasanya jadwal tiba pukul 23.00 WIB, kenyataannya bisa terlambat satu hingga dua jam. Jadi kita harap pihak keluarga memakluminya. Tapi, ini akan terus kita koordinasikan dengan pihak PPIH Saudi untuk mengetahui perkembangan pemulangan jamaah haji. Tentunya kita harap, jam pemulangan tepat waktu dan tidak seperti tahun-tahun sebelumnya,” kata Abd Rahman Harahap, Selasa (8/11).

Terkait dengan itu, Humas Badan Pengelola Asrama Haji (BPAH) Debarkasi Medan, Sazli Nasution mengaku untuk penyambutan jamaah haji kloter 01 ini, pihaknya sudah melakukan penyambutan khusus dan mengadakan rapat evaluasi yang dibuka oleh Kakanwil Kemenagsu, Abd Rahim, dan dipimpin oleh Sekretaris PPIH Debarakasi Medan Abd Rahman Harahap.

Dalam rapat tersebut, sesuai kebijakan khusus PPIH Debarkasi Medan, paspor jamaah haji akan dikembalikan pada jamaah setelah menjalani pemeriksaan oleh petugas imingrasi. Selain itu, kondisi kesehatan jamaah akan diperiksa dengan melakukan tes suhu tubuh untuk mengantisipasi kemungkinan penyakit menular. Sebanyak 32 petugas medis serta 5 unit ambulans juga telah disiagakan. “Jika kondisi jamaah ada yang parah, akan langsung kita rujuk ke RS Haji Medan. Untuk jamaah yang wafat di tanah suci, diharapkan keluarganya tiba di Asrama Haji Debarkasi Medan untuk mengambil koper serta mengurus asuransi dari Bringin Life Syariah,” jelas Sazli.

Para haji, lanjutnya, akan diberikan sebanyak 5 liter air zam-zam. Hal ini sebagai bentuk perhatian atas kembalinya jamaah di tanah air setelah sekian lama melaksanakan ibadah haji. “Bagi keluarga yang berasal dari luar Medan telah disiapkan beberapa bus untuk mengangkut jamaah. Yang terpenting, kita harapkan yang terbaik bagi pemulangan jamaah haji ini,” ungkapnya.

Mengenai situasi di tanah suci, saat ini, lanjut Sazli, Kloter 01 Debarkasi Medan sudah melaksanakan pelemparan jumrah dan telah meninggalkan Mina. Pada Kamis (10/11) jamaah haji akan bergerak menuju Jeddah. Terkait cuaca di tanah suci, pada siang hari dapat mencapai panas 34 derajat celcius. Sedangkan malam, cuaca sangat dingin hingga para jamaah harus menggunakan baju penghangat.

Makan Lauk Basi, Ratusan Jamaah Diare

Wakil Ketua Tim Pengawas Haji DPR, yang juga Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Radityo Gambiro, menginformasikan bahwa pada pukul 01.45 dini hari waktu Arab Saudi, lebih dari 100 orang jamaah di Mina atau Maktab 71 terkena diare.
“Setelah tim kesehatan turun tangan, diindikasikan diare jamaah akibat makanan. Nasi panas yang berlendir dan lauk yang sudah basi,” kata Radityo, kemarin.

Dia menegaskan, tim Kesehatan dan Komisi VIII dan  IX DPR RI yang sedang melakukan pengawasan, langsung menuju lokasi Maktab 71. Ketika Tim tiba di lokasi, sekejap tampak sampah yang menumpuk dan berserakan, kotor dan jorok, menyebarkan bau tak sedap di sekitar tenda Maktab 71.

“WC yang terbatas membuat Jamaah yang diare semakin panik,” ungkapnya.

Namun, lanjut dia, berkat kesigapan Tim Kesehatan, akhirnya situasi mulai terkendali. “Sampai jam enam pagi ini, 10 orang jamaah masih dirawat secara intensif di Posko Pengobatan Haji Indonesia di Mina,” katanya.
Melihat kondisi yang buruk seperti itu, Tim Pengawas DPR RI segera memanggil Panitia Penyelenggara Haji dan Penanggungjawab Maktab 71.

“Masalah kebersihan dan makanan basi banyak menimbulkan masalah bagi jamaah haji Indonesia yang sedang mabid di Mina,” ujarnya. (mag-11/boy/jpnn)

Hibur Para Veteran

Maudy Koesnaedy

Berangkat dari kepedulian terhadap para veteran Republik Indonesia, Maudy Koesnaedi mencetuskan ide membuat pertunjukan seni. Bersama Iwet Ramadhan mereka akan menyuguhkan teater dan tari yang dibalut dengan musik
keroncong.

Acara yang diberi judul Kabaret Keroncong itu akan digelar pada 17 November sebanyak dua kali, pukul 16.00 dan 20.00. “Pertunjukan pertama diperuntukkan para eyang,” demikian Maudy menyebut para veteran.

Maudy dan Iwet menceritakan, ide membuat pertunjukan tersebut tebersit ketika tahun lalu mereka mengadakan bakti sosial dengan para veteran. Iwet bilang ketika itu mereka mengundang pukul 10.00. “Undangannya pukul 10 pagi, tapi pukul 7 pagi mereka sudah pada datang. Saya sampai bingung. Lho, kok sudah pada datang semua,” cerita Iwet Selasa (8/11) di Grand Indonesia, Jakarta Pusat.

Salah seorang veteran pun memberi tahu Maudy dan Iwet bahwa sebenarnya para veteran dan janda veteran sangat senang jika diajak mengikuti acara maupun jalan-jalan. Akhirnya mereka membuat kabaret itu. Keroncong dipilih karena itulah musik yang dulu sering didengarkan para veteran tersebut.

“Teman mereka waktu sedang perang kan keroncong. Lagi di markas biasanya yang didengarkan keroncong. Kenapa kita tidak memberikan apa yang mereka suka,” jelas Maudy. Berbekal dua pertunjukan seni sebelumnya, Maudy pun kembali bertindak sebagai produser.

Bagi Maudy, seni pertunjukan merupakan episode baru dalam hidupnya. Sudah tiga kali ini dia menjadi produser. “Prosesnya ternyata menyenangkan meski harus jungkir balik, stres pula. Saya sulit membagi waktu karena masih berkarir di tempat lain dan jadi ibu juga. Tapi, balik lagi passion saya memang seni pertunjukan. Dan itu yang saya tekuni tiga tahun terakhir. Banyak yang saya pelajari dari situ,” bebernya.

Kali ini, karena dipersembahkan untuk para veteran, pertunjukan sengaja dikemas dengan durasi 1,5 jam. Tidak terlalu lama dan tidak terlalu cepat. “Kalau terlalu lama, nanti eyangnya kasihan. Makanya, pertunjukan yang pertama itu buat para eyang,” jelasnya. Kabaret Keroncong yang akan digelar di Gedung Kesenian Jakarta tersebut didukung para seniman seperti Oleg Sanchabakhtiar, Lukman Sardi, Ratna Listy, Ary Kirana, Eki Dance Company, serta kelompok komedi Mbok Sahita dari Solo. (jan/c3/ayi/jpnn)