Home Blog Page 14724

Bersyukur Punya Suami Pengertian

Bekerja bagi ibu satu anak ini bagai sebuah hobi yang dijalani dengan senang hati. Meski menyita waktu dan telah menikah, tapi dirinya tetap melakoni pekerjaannya di Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara dengan senang hati.

Dengan alasan sangat mencintai pekerjaannya yang telah dilakoninya selama 20 tahun (1991) serta alasan membantu suami dalam memenuhi kebutuhan keluarga, membuat Hafsyah Aprilia  tetap mengabdikan diri di BPS  sebagai Kepala Seksi Statistik Niaga dan Jasa BPS Sumut.

Ibunda dari Jihan (12) ini menyadari, sebagai ibu rumah tangga yang memiliki pekerjaan, tentu punya keterbatasan waktu untuk keluarga. Untungnya, karena telah membuat kesepakatan dengan sang suami sebelum menikah, membuatnya tetap semangat bekerja. “Syukurnya saya diberi suami yang pengertian dan bekerja di bidang yang sama, jadi tanpa saya beri tahu, suami juga sudah paham dengan kesibukan saya,” ujarnya kepada wartawan koran ini bercerita.

Baginya, pekerjaan menjadi salah satu hal terpenting. Sebab, dirinya memulai karier dari bawah hingga akhirnya mendapatkan jabatan sebagai Kepala Seksi Statistik Niaga dan Jasa BPS Sumut. Walaupun begitu, dirinya tetap ingin berkarya untuk mendapatkan kesempatan lebih di BPS, salah satu usaha yang ditempuhnya adalah menempuh pendidikan S2 jurusan ekonomi.

“Pekerjaan membuat saya dapat berkarya, jadi selama saya masih mampu, saya akan tetap bekerja,” ujar wanita kelahiran Medan 9 April 1971 ini.
Memiliki suami Alzen Zaini yang juga bekerja di BPS SU, membuat Hafsyah sangat bersyukur. Karena pengertian dan rasa peduli sang suami yang tinggi membuatnya nyaman. Bahkan figur seorang ayah juga bisa didapatkannya dari sang suami. “Saya sudah menjadi anak yatim sejak usia 7 tahun, dan suami saya melengkapi hidup saya dengan memberikan figur seorang ayah,” ujarnya.

Pengertian sang suami bukan hanya dalam kehidupan berumah tangga, tetapi pengertian yang lebih juga ditunjukkan sang suami saat dirinya berada dalam tekanan karena pekerjaan. “Misalnya dalam sensus, saya harus keluar kota. Suami membarikan izin untuk pergi. Jadi urusan rumah dan anak jadi tanggung jawabnya,” ujarnya.
Kebebasan yang diberikan suami inilah yang memberikan dirinya kekuatan untuk menyelesaikan segala hal dalam pekerjaannya. Karena itu, Hafsyah selalu menjaga kelakuannya untuk menjaga diri dan keluarganya. “Wanita sangat rentan dengan segala hal, jadi kalau tidak mau dianggap jelek, jaga diri, kelakuan, omongan dan lainnya. Jangan sampai karena kita, keluarga yang menanggungnya,” ujarnya.

Memiliki putri yang sudah memasuki usia remaja, tentu membutuhkan perhatian lebih. Karena itu, dia sebisa mungkin membagi waktu luang untuk selalu berada di dekat putrinya, Jihan. “Kalau di rumah, saya dan anak sering bermain game, walau saya tidak tahu permainannya. Tapi yang penting saya harus mampu mendampingi anak,” ujarnya.
Baginya, menemani sang anak melakukan kegiatan yang disenanginya akan menambah kedekatannya dengan sang anak. Terkadang, dirinya juga menjadi pendengar yang baik si anak. “Untuk usia anak saya, saat ini lagi senang-senangya ngomong, jadi saya alih fungsikan tugas saya sebagai pendengar dan seorang ibu. Yang penting bagi saya, pertemuan dengan putri saya berkualitas.” tambah Hafsyah.

Meski tak dipungkiri, terkadang dirinya juga mendapat protes dari sang anak karena kesibukan yang dimilikinya. “Beberapa kali anak saya sering negur saya yang selalu sibuk. Sayapun mencoba memberikan pengertian. Syukur sekali anak saya patuh, bisa diberikan masukan yang baik,” ujarnya.
Katanya, menjadi seorang ibu dan wanita karir bukan hal mudah karena harus ada konsekuensinya.  Karena itu, Hafsyah  berupaya untuk menjadi ibu dan wanita karir yang baik. (juli rahmadhani rambe)

Pentingnya Make-up untuk Perempuan Berkarir

Penampilan luar, bagaimana pun, tetap menjadi fokus perhatian bahkan sorotan. Siapa pun suka melihat keindahan bukan? Keindahan fisik juga didukung oleh make-up yang mempercantik bahkan mengoreksi wajah Anda. Karenanya, make-up menjadi penting bagi Anda yang sedang meretas dan merintis karir.

Make-up untuk pekerja pemula, mau pun perempuan berkarir di berbagai tingkatan level tak harus berlebihan. Cukup dengan mengaplikasikan tata rias wajah dasar, dengan penggunaan sejumlah perlengkapan kosmetik sederhana.
“Prinsipnya, make-up untuk perempuan berkarir adalah untuk menciptakan penampilan natural, berbeda serta lebih segar,” tutur Debby T Wibisana, Marketing Manager Caring Colours Martha Tilaar saat bincang-bincang kecantikan dalam kegiatan Caring Colours Ngabuburit, di Pisa Cafe Menteng, Jakarta.

Debby, diamini model Sigi Wimala dan Fitri Darwis, menyatakan make-up dan karir memiliki keterkaitan yang erat, bahkan saling bergantung. Tak berlebihan jika dikatakan, make-up turut menunjang kesuksesan dalam karir, baik bagi pemula mau pun perempuan bekerja yang sedang merintis karir-nya.

“Saat wawancara kerja, saya sebagai orang yang merekrut karyawan, akan lebih merasa tertarik dengan perempuan yang mengaplikasikan make-up. Tak perlu berlebihan, cukup sederhana saja, natural, namun membuat penampilan berbeda. Penampilan luar, bagaimana pun, menjadi penilaian awal. Setidaknya, dengan make-up calon karyawan tersebut terlihat lebih segar. Begitu pun saat presentasi pekerjaan. Make-up menunjang penampilan dan kepercayaan diri saat presentasi,” tutur Debby kepada Kompas Female.

Make-up dasar

Debby menyebutkan sejumlah kosmetik dasar untuk perempuan dalam berkarir. “Bedak, lipstik, blush on menjadi perlengkapan make up dasar yang biasanya dimiliki perempuan bekerja. Selain itu, make up untuk perempuan berkarir semakin lengkap dengan eyeshadow, maskara, eyeliner,” jelasnya.
Dengan mengaplikasikan kosmetik dasar tadi, penampilan perempuan bekerja akan terlihat segar dan berbeda. Make-up bisa menjadi salah satu cara perempuan untuk membantu dirinya sendiri dalam meningkatkan kepercayaan diri.

Bagaimana dengan Anda, apakah make-up menjadi penting untuk menunjang penampilan, dan karir Anda? (net/jpnn)

Pisau Dalam Mata

Cerpen: Riki Utomi

Saya selalu bergidik ketika berada di dekatnya. Untuk itu saya selalu berusaha menghidarinya. Dimanapun, saya lebih cenderung untuk mawas diri. Sebuah hal yang mungkin tidak dirasakan orang lain, tetapi entah mengapa saya begitu merasakan. Ada suatu getaran hati yang membuat dada berguncang hebat. Terus menerus jantung berdebar sehingga kepala —tak jarang— ikut menjadi pening. Ah, ini tentu saja sebuah hal yang runyam apabila saya hadapi. Untuk itu, saya berusaha sekuat mungkin
untuk tidak berada didekatnya.

api, tahukah kau? Dia padahal sahabat saya yang sangat saya senangi. Sudah begitu lama saya menjadi bagian dari dirinya. Saya selalu meniru apa saja yang diperbuatnya. Baik kelakuannya, seperti kemarin dia memeragakan seperti apa sebaiknya bertindak saat kita sedang terjebak. Juga suatu kali dia menunjukkan pada saya sebuah baret merah pamannya yang menjadi anggota satuan Kopassus. Saya hanya ingin menirunya. Meniru semua dari apa yang diperagakannya kepada saya.
Tapi untuk kali ini, entah mengapa, saya tidak merasa bagian dari dirinya. Ada hal-hal lain yang menyentak batin saya. Membuat saya tidak tenang. Pikiran saya menjadi semrawut. Barangkali hal itu terjadi ketika saya pernah mendengarnya berkata bahwa di dalam matanya tersimpan sebuah pisau. Saya tidak tahu persis pisau jenis apakah itu. Pisau cukurkah, pisau masakkah, pisau lipatkah, bayonetkah, saya tidak tahu persis. Yang pasti dari perkataannya itu membuat saya lama-lama berusaha untuk menghidarinya.
Seperti yang saya duga, dia dapat membaca gerak-gerik saya. Dia juga hampir menuding saya dengan mengatakan bahwa saya telah membenci dirinya. Hal itu cepat-cepat saya tepis. Saya berkata dengan nada harap bahwa saya tidak bermaksud begitu. Dia menunjukkan sikap awas dan mulai tampak curiga sekali. Saya berusaha untuk tetap tenang, meskipun saya tak yakin betul untuk bisa tenang.
“Kau mulai dingin akhir-akhir ini…” dia bertanya datar.
“Saya tidak apa-apa,” jawab saya sambil berusaha tenang.
“Ada sesuatu hal kah?”
“Maksudmu?”
“Mungkin ada masalah?”
“Tidak…”
Dia mengangguk tak puas. Saya perhatikan wajahnya yang keruh. Tiba-tiba saya merasa bersalah. Mengapa saya menunjukkan sikap tidak bersahabat akhir-akhir ini kepadanya. Tentu —setidaknya— hatinya merasakan tidak enak pada saya.
Tapi ada sesuatu hal yang membuat relung hati saya tetap berkata lain. Seperti sesuatu yang bersifat kokoh untuk tidak dapat digubriskan. Hati saya, mungkin juga saya merasakan begitu, tidak pernah bohong. Entahlah. Saya hanya berusaha untuk dapat yakin dengan hati sendiri. Pisau itu…
***
Ya. Pisau. Hanya sebuah pisau yang menjadi beban dari dalam benak saya. Saya juga tidak mengerti mengapa benda kecil tajam itu begitu menghanyut pikiran saya. Benda itu seperti meneror saya. Bahkan saat tidur sekalipun, dia seolah selalu membuntuti diri saya.
Seperti sebuah kamera intai yang terselip tanpa kita ketahui. Diam-diam menguntit kita dan membidik dengan tepat ke jantung. Saya akan terbayang dengan pikiran dahsyat bahwa semua itu —tanpa saya katakan seolah-olah sekalipun— akan tiba menyerang saya. Pisau itu, yang pernah dikatakannya kemarin, menjadi sesuatu yang tertinggal lekat di kepala saya.
Di rumah, di sekolah, di rumah makan, di kedai, di pasar, dan di manapun saya berada tiba-tiba saya merasa aneh, saya akan ketakutan memandang pisau meski hanya pisau lipat yang kecil sekalipun. Seolah pisau itu segera menyerang saya dengan melukai nadi dan urat…
Saya memejam mata. Halusinasi itu begitu kuat. Membuat jiwa saya tidak stabil dan goyang. Lama-lama saya akan merasa mual dan saya tidak ingin untuk memuntahkan isi perut karena saya bukan sedang dalam perjalanan di laut. Saya akan berusaha. Dan hari ini, di mana saya tak dapat mengelak bertemu dengannya karena saya dan dia adalah satu profesi sebagai guru di sebuah sekolah.
Saya lihat sepintas dia berjalan di koridor ruang Tata Usaha. Barangkali dia selesai mengajar dan ada sedikit urusan hingga berbelok ke ruang itu. Biasanya dia pasti langsung masuk majelis. Seorang guru perempuan masuk sambil membawa apel dan pisau di tangan.
Saya melihat, dan dalam sekejap saya langsung menutup mata. Dan saya tiba-tiba dikejutkan olehnya, mungkin sebelumnya tanpa saya tahu dia telah juga memandang saya dengan heran.
“Mengapa Bapak kelihatan takut?” tanyanya dengan raut heran setengah mati.
Saya hanya menunduk dan menggeleng.
“Bapak sakit?”
Saya tetap menggeleng tanpa bersuara. Guru perempuan itu menghela nafas. Dia seperti putus asa melihat saya. Saya biarkan dia berlalu. Tapi dia kembali lagi dengan membawa sebuah apel dan menaruhnya ke meja saya. Oh, tak lupa dia meletakkan sebuah pisau di meja saya juga. Mungkin dia menawarkan pisau yang dipegangnya itu untuk saya segera mengupasnya. Lalu dia kembali menghilang.
Sepi. Kipas angin berputar lamban. Dalam majelis hanya saya seorang. Waktu untuk mengajar di kelas masih lama lagi. Saya manarik nafas sambil mencoba mengendurkan pikiran saya. Tapi celaka. Setiap saya melihat pisau itu, pikiran saya mendadak kacau dan pusing kembali menyerang. Sekelebat pikiran saya amburadul dan menyebar tak tentu arah. Saya pijit kuat-kuat kening dengan berusaha memoleskan minyak angin.
Pisau… pisau itu… sebuah pisau yang dapat sesegera mungkin akan membawa hasrat saya untuk menusuk sebuah ketidakadilan yang semena-mena. Pisau yang dapat menusuk ketidakadilan pada suatu hal yang rancu dan tak dapat diterima oleh sebuah keadilan yang semestinya.
“Bapak sakit?” tanya kawan saya itu. Saya terkejut hebat. Ternyata dia telah selesai dari ruang Tata Usaha.
“Ah… tidak….” jawab saya gelagapan. Saya memandangnya dengan senyum. Tapi saya merasakan sebuah senyum yang sangat terpaksa.
“Wajah Bapak terlihat pucat. Sebaiknya istirahat di ruang UKS, perlu saya antarkan?” tanyanya menawarkan diri.
Saya menggeleng sambil memandang pisau itu.
***
Saya ingin mengambil pisau itu. Pisau yang ada tersimpan dalam matanya… jerit hati saya. Saya tidak mengerti dengan perasaan ini. Mungkinkah perasaan ini muncul karena sebuah ketidakadilan? Ah… ketidakadilan. Kau tahu? Dia seorang CPNS. Seharusnya dia memenuhi tugas dengan sebaik-baiknya. Sedang saya, hanya seorang honorer biasa yang mendapatkan gaji tidak seberapa. Sikapnya selalu mencerminkan ketidakseriusan dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik. Dia lebih tepat saya katakan sebagai pembohong dalam bekerja. Dia telah membawa sesuatu yang tak lazim —sebenarnya— pada dirinya.
Selalu mengabaikan jam mengajar dan selalu berbohong dalam memberi alasan untuk datang ke sekolah. Padahal dia memiliki jam tugas yang padat. Ah, sebuah ketidakadilan untuk ukuran sebuah status kerja yang saya rasakan. Dan pisau itu… yang pernah ia katakan tersimpan dalam matanya, semakin ingin saya mengambilnya. Ingin saya meraihnya.
Malam hening. Sunyi tanpa rembulan. Kota kecamatan ini lebih layak disebut kampung meski saya tak mengerti mengapa orang-orang di sini menyebutnya kota. Sebuah ironis yang dibanggakan sendiri.
Saya tak dapat memejamkan mata. Sejenak saya ucap-ucap istighfar tapi rasa kemelut di hati tak pernah mau pergi. Barangkali setan kini telah banyak bersarang di hati dan kepala saya. Dan… saya kembali teringat pisau. Pisau dalam matanya itu. Hati saya begitu berontak, seperti saling menerjang jantung saya. Pisau dalam matanya itu… ya pisau itu…***

Telukbelitung, 15 Juli 2011

Riki Utomi, kelahiran Pekanbaru 1984. Tamat dari Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UIR. Pernah berproses menulis di FLP Riau. Menulis puisi, cerpen, dan esai di sejumlah media dan terangkum dalam beberapa antologi bersama. Bekerja sebagai guru. Tinggal di Selatpanjang.

Subangkit Minta Kepastian Persema

MALANG – Subangkit meminta kepastian dari manajemen Persema soal keinginan merekrutnya sebagai pelatih tim berjuluk Laskar Ken Arok. Mantan pelatih Persema 2009-2010 tersebut memberikan batas waktu (deadline) kepada manajemen untuk menentukan sikap apakah dia jadi menukangi Persema atau tidak.

Subangkit meminta batas waktu karena tidak ingin berlarut-larut. Apalagi, jauh-jauh hari dia sudah dihubungi manajemen Persema soal kesediaannya menjadi pelatih untuk menggantikan Timo Scheunemann yang digeser ke posisi direktur teknik.  “Saya hanya ingin mendapatkan kepastian,” ujar pelatih yang musim lalu membesut Persela Lamongan itu.

Menurut Subangkit, liga profesional level satu sudah mepet. Liga “baru” tersebut akan bergulir 8 Oktober atau paling lambat 14 Oktober. Karena itu, jika ada kepastian, dia bisa punya cukup waktu untuk menjalankan program latihan agar siap mengikuti liga profesional nanti. Namun, jika tidak segera ada kepastian melatih Persema, dia khawatir waktunya tidak cukup sehingga persiapan Persema di liga profesional tidak maksimal.
Apalagi, Subangkit mengaku mendapatkan tawaran dari sejumlah klub lain. Karena sudah telanjur menyatakan kesediaan membesut Persema, dia menolak tawaran klub-klub lain.  Tetapi, bisa saja Subangkit berubah pikiran kalau tidak segera mendapatkan kepastian dari Persema.

Hanya dua hari ke depan batas waktu yang diberikan mantan bek Timnas Indonesia era 1980-an itu. Yakni sampai Senin besok. “Saya sudah berbicara dengan manajemen Persema untuk menunggu maksimal dua hari. Jika tidak, saya akan menentukan pilihan,” tandas Subangkit kemarin.

Ketika dikonfirmasi, General Manager (GM) Persema Asmuri menyatakan sampai kemarin memang belum ada keputusan resmi mengenai pelatih baru. Sebab, keputusan itu berada di tangan CEO Persema Didied Poernawan Affandi.  “Untuk masalah  pelatih, kami masih menunggu pertemuan Pak Peni (Ketua Umum Persema Peni Suparto) dan Pak Didied,” ungkapnya.
Asmuri mengakui, belum ada pelatih resmi jelas membuat persiapan tim terganggu. Karena itu, dia berharap segera ada keputusan dari manajemen. “Kami akan segera memberi jawaban untuk Subangkit,” ucapnya. (yn/jpnn)

PSSI Usir Alfred Riedl

Pemain Hanya Silaturahmi

JAKARTA: PSSI semakin emosi melihat mantan pelatih Timnas, Alfred Riedl. Penanggung jawab tim nasional Bernhard Limbong meminta mantan pelatih timnas senior Alfred Riedl untuk segera angkat kaki dari Indonesia karena dianggap sudah mengganggu persatuan di tim Merah Putih.

Hal itu diungkapkan Limbong kepada wartawan di sekretariat PSSI di kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta. Sikap Limbong ini muncul menyusul pernyataan Riedl yang mengkritik kinerja pelatih timnas senior Wim Rijsbergen.

Riedl sebelumnya menyatakan, dirinya sudah tidak berpihak lagi kepada Rijsbergen yang mengeluarkan kata-kata tak pantas kepada pemain timnas senior di kamar ganti saat dikalahkan Bahrain 2-0 dalam pertandingan putaran tiga Pra Piala Dunia 2014 zona Asia.

“Riedl tidak berkompeten mengurusi masalah sepakbola Indonesia, karena kontraknya telah berakhir. Rekor Riedl tidak sebanding dengan Rijsbergen. Riedl cuma mampu membawa Indonesia meraih kemenangan di tim Asia Tenggara. Kemenangan yang diraih dengan permainan tidak meyakinkan,” cetus Limbong.

“Karena itu, sebaiknya Riedl jangan banyak berkelakar. Silahkan Riedl meninggalkan Indonesia. Segera tinggalkan Indonesia, dan jangan ganggu pemain Indonesia,” sambungnya.

Limbong juga akan memanggil pemain timnas senior yang kabarnya menemui Riedl. Menurut Limbong, Riedl sudah ada di Indonesia sejak 6 September lalu, atau saat Indonesia menghadapi Bahrain.
“Kan ada penolakan atas Wim. Kabarnya ada sejumlah pemain yang menemui Riedl di pusat perbelanjaan di Senayan. Para pemain yang menemui Riedl akan kami panggil. Kami akan menginvestigasi pertemuan itu,” ungkap Limbong.
Mantan Asisten Pelatih Wolfgang Pikal mengaku, pertemuan punggawa timnas Indonesia dengan mantan pelatih timnas, Alfred Riedl, hanyalah silaturahmi biasa.
“Benar, pemain bertemu dengan Alfred Riedl,” ungkap Pikal.

“Saya tidak bisa sebutkan namanya, tidak sampai tujuh orang (seperti rumor yang beredar). Pembicaraannya seperti apa, maaf saya tidak bisa mengatakan. Itu urusan mereka sendiri, silahkan tanyakan mereka,” lanjutnya.
Saat ditanya mengenai atmosfer pertemuan itu, Pikal mengungkapkan bahwa pertemuan tersebut adalah pertemuan silaturahmi antara orang-orang yang memiliki hubungan erat.

“Tidak formal, hanya teman bertemu teman, ngobrol-ngobrol, ya seperti silaturahmi,” ujar pria kelahiran Austria yang sudah lama menetap dan beristrikan orang Indonesia itu.

Insiden pelemparan petasan alias mercon dalam laga tim nasional melawan Bahrain di Stadion Gelora Bung Karno pekan lalu benar-benar membuat Polri malu. Betapa tidak, presiden SBY sampai harus meninggalkan lokasi dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2014 itu.

“Karena itu, ada antisipasi yang sudah dibuat. Misalnya nanti ada tim yang masuk ke penonton. Tugasnya khusus mengawasi potensi anarkis, bisa langsung tangkap di tempat,” ujar Kabagpenum Mabes Polri Kombes Boy Rafli Amar pada Jawa Pos (grup Sumut Pos), kemarin (10/9). Mantan Kapolres Pasuruan itu menyebut, penjuru pengamanan laga berikutnya yakni 11 Oktober tetap berada di Polda Metro Jaya. “Namun, tidak menutup kemungkinan karena ini even internasional, ada supervisi dari Mabes,” katanya.
Saat ditanya soal sanksi bagi petugas yang lalai, Boy mengaku tahapnya masih dalam penyelidikan. “Secara internal pasti ada evaluasi. Sudah berjalan,” katanya. Apa akan ada pencopotan? “Oh tidak, tidak sejauh itu,” elak mantan Kanit Negosiasi Densus 88 Polri ini.
Empat pelaku yang sebelumnya ditangkap, kini sudah dilepaskan dan hanya dilakukan pembinaan. Dari pemeriksaan, petasan diperoleh penonton dari membeli di dalam stadion.
Petasan seharga Rp 10 ribu itu ditengarai dimasukan ke dalam stadion melalui celah-celah yang tidak diawasi. (bbs/jpnn)
Padahal, petugas saat itu menjaga di setiap pintu masuk stadion.
Petasan diduga dimasukan saat suasana masih sepi, penjagaan belum terlalu ketat. “Tidak hanya petasan, ke depan kita juga akan tertibkan soal asap yang dinyalakan secara berlebihan. Itu menyesakkan nafas dan cukup menggangu,” kata Boy.
Secara terpisah, Direktur Indonesian Police Watch Neta Sanusi Pane mendesak Mabes Polri melakukan pencopotan terhadap pejabat Polda Metro Jaya yang bertanggungjawab dalam pengamanan. “Bayangkan, presiden dipermalukan di depan publik. Ingat itu ditonton internasional lho,” katanya. Menurut penulis buku Jangan Bosan Kritik Polisi itu, jika dibiarkan saja akan jadi citra buruk bagi kapolri.”Berarti jenderal Timur Pradopo diam saja melihat anak buahnya lalai yang ujungnya wibawa SBY jatuh,” katanya. (rdl/iro/net/bbs/jpnn)

Jangan Putuskan Silaturahmi

Silaturahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT. Dengan terhubungnya silaturahmi, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. Bagaimana pun besarnya umat Islam secara kuantitatif, sama sekali tidak ada artinya bila di dalamnya tidak ada persatuan dan kerja sama untuk taat kepada Allah.

Tahukah kalian tentang sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan ataupun keburukan? “Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan adalah pahala orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali silaturahmi, sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan ialah siksaan bagi orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan tali persaudaraan” (HR. Ibnu Majah).

Silaturahmi tidak sekedar bersentuhan tangan atau memohon maaf belaka. Ada sesuatu yang lebih hakiki dari itu semua, yaitu aspek mental dan keluasan hati.

Hal ini sesuai dengan asal kata dari silaturahmi itu sendiri, yaitu shilat atau washl, yang berarti menyambungkan atau menghimpun, dan ar-rahiim yang berarti kasih sayang. Makna menyambungkan menunjukkan sebuah proses aktif dari sesuatu yang asalnya tidak tersambung. Menghimpun biasanya mengandung makna sesuatu yang tercerai-berai dan berantakan, menjadi sesuatu yang bersatu dan utuh kembali. Tentang hal ini Rasulullah SAW bersabda, “Yang disebut bersilaturahmi itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahmi itu ialah menyambungkan apa yang telah putus” (HR. Bukhari).

Kalau orang lain mengunjungi kita dan kita balas mengunjunginya, ini tidak memerlukan kekuatan mental yang tinggi. Boleh jadi kita melakukannya karena merasa malu atau berhutang budi kepada orang tersebut.
Namun, bila ada orang yang tidak pernah bersilaturahmi kepada kita, lalu dengan sengaja kita mengunjunginya walau harus menempuh jarak yang jauh dan melelahkan, maka inilah yang disebut silaturahmi.

Apalagi kalau kita bersilaturahmi kepada orang yang membenci kita, seseorang yang sangat menghindari pertemuan dengan kita, lalu kita mengupayakan diri untuk bertemu dengannya. Inilah silaturahmi yang sebenarnya.
Rasulullah SAW pernah memberikan nasihat kepada para sahabat, “Hendaklah kalian mengharapkan kemuliaan dari Allah”. Para sahabat pun bertanya, “Apakah yang dimaksud itu, ya Rasulullah?” Beliau kemudian bersabda lagi, “Hendaklah kalian suka menghubungkan tali silaturahmi kepada orang yang telah memutuskannya, memberi sesuatu (hadiah) kepada orang yang tidak pernah memberi sesuatu kepada kalian, dan hendaklah kalian bersabar (jangan lekas marah) kepada orang yang menganggap kalian bodoh” (HR. Hakim).
Dalam hadis lain dikisahkan pula, “Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada shalat dan shaum?” tanya Rasulullah SAW kepada para sahabat. “Tentu saja,” jawab mereka.
Beliau kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyembungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan tali persaudaraan di antara mereka adalah amal shalih yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturahmi” (HR. Bukhari Muslim).(net/jpnn)

Tipikor Polda Siap Usut CBD

Pengemplang Pajak Rp23 M

MEDAN-Manajemen Central Bussines District (CBD) Polonia, Medan Polonia, tak kunjung melunasi tunggakan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) sebesar Rp23.623.617.697 (Rp23,6 miliar). Adapun rinciannya antara lain, PBB sebesar Rp1.941.029.497 dan BPHTB sebesar Rp21.682.588.200.
Terkait penunggakan ini, penyidik Tipikor Polda Sumut menegaskan, siap mengusut kasus ini bila ada yang melaporkan adanya dugaan penyelewengan yang terjadi di proyek CBD tersebut.

“Kalau ada yang melaporkan, bisa kita tindaklanjuti. Dan laporan itu, ke Direktur. Baru direktur yang memerintahkan saya untuk menindaklanjuti laporan tersebut,” tegas Kasat Tipikor Polda Sumut AKBP Verdy Kalele kepada Sumut Pos, Kamis (8/9).

Mengenai tunggakan PBB dan BPHTB itu, Sekda Medan Syaiful Bahri yang sempat  dikonfirmasi Sumut Pos beberapa waktu lalu menyatakan, berdasarkan perjanjian antara Pemko Medan dan CBD Polonia menyangkut Perda yang diatur dalam UU Nomor 28 tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah.

Berdasarkan Perda tersebut, penagih tunggakan adalah Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Medan.
Ada persoalan lain lagi menyangkut CBD yakni, status tanah pusat bisnis yang memiliki seribu ruko (rumah toko) itu juga tidak jelas. Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Medan, yang ditunjuk memperjelas status tanah tersebut, hanya sebatas mengimbau dan tak bisa memaksa.

Mengenai hal itu, Wali Kota Medan Rahudman Harahap mendapat sorotan tajam pada pemandangan umum DPRD Medan tentang LPJ APBD Pemko Medan 2010. Rahudman menyatakan, tanah yang dibangun oleh PT CBD Polonia sampai saat ini belum memiliki Hak Pengelola Lahan (HPL). Sementara BPHTB dapat tertagih  kalau HPL nya sudah ada.

Ambil Langkah Hukum

Sementara itu, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Medan akan mendesak Pemerintah Kota (Pemko) Medan untuk membawa kasus tunggakan menajemen CBD Polonia, Medan Polonia, ke langkah hukum agar menjadi efek jera.
“Hal itu dilakukan sebagai dampak kesadaran pengembang (CBD Polonia) agar menjadi efek jera dengan mengajukannya ke langkah hukum,” ujar Ketua Fraksi PDS Kota Medan, Landen Marbun, Rabu (7/9) siang.

Dikatakannya, keseriusan Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Medan untuk menagih karena itu merupakan bagian kewenangan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Medan. “Ini kan perlaihan dari BPN ke Dispenda untuk menagih agar bisa meminalisir kebocoran-kebocoran yang mungkin terjadi, termasuk tunggakan pajak PBB dan BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan) sebesar Rp23.623.617.697 (Rp23,6 miliar). Tunggakan itu masing-masing PBB sebesar Rp1.941.029.497 dan BPHTB sebesar Rp21.682.588.200,”ucapnya.

Landen juga heran dengan CBD Polonia yang bertaraf Internasional bisa nunggak. “Dengan begitu, para pebisnis atau pengembang di CBD Polonia jangan menggunakan metode siasat untuk menghindar dari Pajak.Kita minta kecerdasan dari Dispenda untuk menagih tunggakan pajak PBB dan BPHTB yanbg sangat besar itu,”katanya lagi.

Dengan begitu, lanjut Landen, dikarenakan proyek tersebut meerupakan proyek Properti yang sudah mapan dan sudah menjadi catatan untuk menjadi bahan pembahsan dalam R APBD 2012 di Bulan Oktober.

“Ini merupakan bahagian yang akan menjadi Warning (peringatan) ke Dispenda agar tak ada tunggakan lagi. Kalau Dispenda tak mampu menagihnya, ini membuktikan akan kekhawatiran Sumber Daya Manusia (SDM) lemah adalah benar,”cetusnya lagi.

Dijelaskannya, pusat bisnis yang memiliki 1.000 ruko (rumah toko) itu, status tanahnya juga tidak jelas sudah dilakukan semua pebisnis properti untuk menghindar dari BPHTB. “ Ini siasat dari pengembanga dengan membebankan BPHTB kepada pembeli. Semua pebisnis sudah melakukan hal seperti ini. Ini harus menjadi contoh kepada Pemerintah kita,”ungkapnya.

Menurut Landen, Pemerintah Kota Medan tidak serta merta harus memberikan seluruh izin pembangunan tersebut. Seharusnya, begitu selesai melakukan peralihan hak antara CBD dengan Pemko harus melunasi BPHTBnya dahulu.
“Hal ini membuktikan kalau semua perizinan akan berdampak. Dengan begitu, kita juga menghimbau kepada pembeli untuk membeli rumah sesuai dengan proses yang bena,r”bebernya mengakhiri. (ari/adl)

Kepala Daerah Diminta Bayar Sendiri Gaji Honorer

JAKARTA-Pemerintah tetap berkomitmen mengangkat sisa tenaga honorer menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang tercatat sudah bekerja sebelum 1 Januari 2005. Terhadap tenaga honorer yang direkrut pemerintah daerah setelah tanggal itu, pemerintah pusat menegaskan tidak akan mengurusinya.

Mendagri Gamawan Fauzi menjelaskan, sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor PP 48 Tahun 2005 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer, setelah Januari 2005 pemda dilarang merekrut tenaga honorer.

Namun, yang membuat Gamawan jengkel, faktanya masih saja di banyak daerah dilakukan rekrutmen tenaga honorer. Kata Gamawan, mereka tidak akan diangkat menjadi CPNS, dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemda, dalam hal ini kepala daearahnya.

Rekrutmen tenaga honorer yang sulit dihentikan ini ikut membebani keuangan daerah, karena harus dibayarkan honor mereka. Pusat tak mau mengeluarkan uang untuk membayar honorer yang diangkat pasca 2005.

“Karena pusat sudah melarangnya, dengan PP 48, sudah dilarang mengangkat honorer. Mungkin kepala daerahnya merasa punya uang banyak, ya bayar sendiri (tenaga honorer itu, red). Daerah yang bertanggung jawab, bukan tanggung jawab pusat, karena sudah kita larang,” cetus Gamawan Fauzi di kantornya, kemarin.

Dikatakannya, ada kalanya di suatu daerah, bupatinya sudah tidak merekrut tenaga honorer karena patuh pada aturan PP 48. Hanya saja, begitu ada bupati baru, direkrut lagi tenaga honorer. “Nah, bayar sendiri lah,” imbuhnya.
Menurut Gamawan, jika keinginan daerah yang terus-terusan merekrut honorer dituruti, yakni agar mereka diangkat jadi CPNS, maka upaya penataan pegawai tidak akan kelar. “Capek angkat-angkat terus. Bisa nggak jadi penataan pegawai itu,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, jumlah tenaga honorer naik dari 197.687 menjadi 370 ribu. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu menyebut, dalam periode pertama pemerintahannya, telah melakukan pengangkatan CPNS dari tenaga honorer mencapai lebih dari satu juta pegawai.

Sedang Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi EE. Mangindaan belum memastikan jumlah pegawai yang akan diangkat menjadi PNS. Pasalnya, masih menunggu laporan lengkap dari hasil verifikasi.
Dia mengakui, ada jumlah ratusan ribu yang didaftar dalam proses verifikasi itu. Pengangkatan juga diprioritaskan pada honorer yang tercatat sebelum 2005. “Jadi sebelum 2005 itu yang kita angkat yang memenuhi syarat. Sesudah itu tidak ada honorer lagi,” katanya.

Kabid Pengadaan dan Pembinaan BKD Provsu Kaiman Turnip menjelaskan, di unit Setda Provsu ada sedikitnya 223 tenaga honorer. “Namun, yang 223 orang ini merupakan tenaga honorer yang diangkat sebelum diterbitkannya PP No48/2005 itu. Jadi mereka masih digaji melalui APBD maupun APBN. Dan mereka juga masih bisa diusulkan untuk menjadi PNS,” katanya, kemarin (8/9).

Menurutnya, di berbagai daerah maupun SKPD tak ada lagi yang mengajukan tenaga honorer. “Namun, sebagian daerah dan SKPD masih ada yang mengangkat tenaga honorer. Tapi mereka menyebutnya bukan lagi tenaga honorer, melainkan tenaga bantu atau pun outsourching. Dan data itu ada tembusannya ke kami (BKD, Red),” terang Kaiman.
Lantas, saat wartawan menanyakan, bagaimana daerah atau SKPD menggaji tenaga bantu yang mereka angkat tersebut? Kaiman menuturkan, kebanyakan daerah dan SKPD menggaji melalui dana operasional. “Namun, secara teknisnya saya juga tak begitu paham, karena itu sudah menjadi tanggung jawab masing-masing. Di PP No 48/2005 sudah jelas ditegaskan, tak dibenarkan untuk mengangkat tenaga honorer atau sejenisnya. Jika daerah atau SKPD masih mengangkat tenaga honorer atau sejenis maka harus ditanggung sendiri. Nah, cara pembayaran gaji tentunya diterapkan oleh daerah dan SKPD masing-masing,” jelasnya.

Kembali wartawan menyatakan, jika digaji melalui dana operasional, tentunya hal tersebut masih menggunakan APBD atau pun APBN. Menjawab hal tersebut, ia menerangkan, itu menjadi tanggung jawab kepala daerah mau pun kepala SKPD masing-masing. “Nantinya akan ada audit, maka itu harus bisa dipertanggung jawabkan nanti,” ujar Kaiman lagi. (sam/saz)

Gizi Buruk Tinggi, Klinik Khusus Disiapkan

MEDAN- Untuk mewujudkan Medan bebas gizi buruk tahun 2015, Pemko Medan akan merealisasikan klinik khusus penanganan gizi buruk 2012 mendatang. Hal itu diucapkan Wali Kota Medan Rahudman Harahap, saat acara halal bihalal jajaran kesehatan di kediaman Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, Kamis (8/9) pagi.

Rahudman Harahap mengaku, klinik gizi buruk ini akan direalisasikan mengingat banyaknya kasus gizi buruk ditemui. Lebih lanjut, ditambahkan Rahudman Harahap, rencana pembangunannya pun sudah ditanda tangani dalam MoU pencanangan Kota Medan bebas gizi buruk beberapa waktu lalu.

“Seperti kasus yang sering dijumpai, adanya penderita gizi buruk yang ibunya lagi ke Malaysia, bapaknya ke Singapura. Nah, kasus seperti itulah nanti yang akan ditangani klinik khusus tersebut. Mengenai lokasinya belum tahu dimana, tapi pasti 2012 sudah direalisasikan,” katanya usai acara.

Selain itu, terang Rahudman, revitalisasi posyandu di Kota Medan juga harus sudah dilaksanakan pada 2012 mendatang, dimana hal itu untuk menjaring anak-anak yang menderita gizi buruk. “Perlu juga kerja sama antara sektor terkait seperti, Badan Ketahanan Pangan dan Dinas Pertanian untuk atasi gizi buruk,” terangnya.

Untuk kedepannya, tambah Rahudman, akan dipikirkan juga kesejahteraan tenaga kesehatan dalam rangka mempersiapkan pelayanan kesehatan yang maksimal, karena tuntutan masyarakat pasti lebih banyak kedepannya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan dr Edwin Effendi mengatakan, pada prinsipnya, klinik khusus penanganan gizi buruk itu sebagai upaya untuk memaksimalkan pengentasan gizi buruk mulai penjaringan, pemulihan hingga penanganannya. “Semuanya disesuaikan dengan keperluan, apakah nantinya memang perlu dirawat dipanti khusus atau kalau punya keluarga, bisa dibina keluarganya,” ujarnya.

Sepanjang 2011, disebutkan Edwin,  kasus gizi buruk sebanyak 108 kasus. Menurutnya, gizi buruk terjadi karena kurangnya asupan gizi, pola asuh dan faktor ekonomi yang lemah. “Penyebab utama dan terbanyak karena faktor ekonomi, sehingga kekurangan asupan gizi,”ucapnya. (jon)

Sumut Utus 47 Pelajar Ikuti OSN

MEDAN- Pemprovsu mengutus 47 pelajar pilihan mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) di Manado, Sulawesi Utara pada 11-16 September 2011 dan mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) di Gedung MPR-RI Jakarta pada 15-23 September 2011 mendatang. Ke-47 duta Sumut itu merupakan pelajar dari tingkat SD, SLB, SMALB, dan SMA.

Pelepasan ke 47 pelajar pilihan Sumut itu, langsung dilakukan Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho didampingi Kepala Disdik Sumut Syaiful Syafri dan sejumlah guru pendamping anak didik di halaman Kantor Gubsu, Kamis (8/9).
“Anak-anak ku semua adalah anak-anak pilihan Sumut yang menjadi duta daerah pada ajang OSN di Manado dan LCC di Jakarta. Karena itu, tak ada yang lebih membanggakan kami, apakah sebagai orangtua atau sebagai pemerintah, kecuali kalian semua bisa merefresentasikan Sumut adalah miniaturnya Indonesia, yang masyarakatnya hidup rukun, damai dan menjunjung tinggi keberagaman dan kekompakkan,” ujar Plt Gubsu.

Ia juga berpesan, agar para pelajar pilihan Sumut tersebut dapat mengubah stigma negatif Sumut selama ini, sebagai daerah ‘Semua Mesti Uang Tunai (Sumut)’ menjadi stigma positif, yakni ‘Semua Urusan Mesti Tuntas (Sumut).’
Plt Gubsu optimis, harapan yang disandarkan kepada 47 pelajar pilihan Sumut itu akan mampu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari di masa depan. Apalagi, dimasa pertumbuhan seperti saat ini, ke 47 pelajar tersebut telah menunjukkan prestasi luar biasa dalam bidang pendidikan. “Yakinlah, generasi seperti kalian inilah yang akan membawa bangsa dan negara ini menjadi bangsa yang besar di masa depan. Karena, dimasa Golden Age seperti saat ini, kalian justru telah menorehkan prestasi luar biasa di bidang pendidikan,” ungkap Gubsu.(saz)