Home Blog Page 14736

Tertibkan Ternak Babi

085763990xxx

Pak Wali Kota Medan Yth, memelihara babi di kota apakah diizinkan sebab di Jalan Gelas Gang Mangkok diizinkan. Banyak warga yang kecewa ke kantor lurah setempat. Namun, sangat disayangkan hingga kini tak ditanggapi keluhan warga. Padahal, aroma yang disekitarnya buat perut mual dan pusing, tolong Pak Wali Kota jelaskan apakah beternak babi masih diizinkan atau tidak dan apa tindakan Pak Wali Kota? Terima kasih atas perhatiannya.

Sudah Dilakukan Pendataan

Terima kasih pertanyaannya, sesuai Peraturan Wali Kota (Perwal) Medan No 23/2009 tanggal 16 Oktober 2009 tentang larangan ternak kaki empat di Kota Medan. Sehingga di seluruh wilayah Kota Medan dilarang adanya usaha ternak kaki empat.

Bila ada usaha peternakan yang di Kota Medan diminta untuk dipindahkan sendiri. Sesuai  Surat Keputusan Wali Kota Medan No 524/1256 K Tanggal 27 September 2010 bahwa kepada masyarakat peternak babi diberikan bantuan biaya pengangkutan atau pemindahan babi keluar kota Medan sebesar Rp76 ribu per ekor untuk babi berumur di atas empat bulan dan Rp60 ribu untuk yang berumur kurang dari empat bulan.

Sekarang ini sudah dilakukan pendataan dan pembayaran di sejumlah kecamatan. Terkhusus di kawasan Medan Petisah dan Helvetia ternaknya telah dilakukan pendataan dan ada sebagian yang telah dibayarkan. Untuk itu, kami minta warga langsung memindahkan ternaknya sendiri sebelum ada upaya penertiban dari aparat Pemko Medan.

Ir H Wahid M Si, Kadistanla Kota Medan

Harus Tegas

Penertiban ternak babi di Kota Medan tampaknya mulai redup dan belum memiliki penyelesaian yang baik. Padahal, secara aturan sudah lengkap dan telah ada. Selanjutnya, di APBD juga sudah ditampung anggarannya untuk penertiban.
Untuk itu, kami meminta kepada Wali Kota Medan untuk memimpin langsung penertiban tersebut sehingga aturan bisa benar-benar berfungsi. Selanjutnya, berikan sanksi yang tegas jika masih ada yang melanggar peraturan wali kota tersebut.

Sesuai dengan laporan warga, ternak babi yang ada di sejumlah kawasan sudah sangat meresahkan. Selain aroma tak sedap, kotoran ternaknya juga masuk ke rumah warga yang berdampak kepada kesehatan. Jadi sudah sangat wajar bila Wali Kota Medan bersama satuan pengamanan bertindak lebih tegas.

Ikrimah Hamidy ST M Si
Wakil Ketua DPRD Medan

Napi Narkoba Gantung Diri

Diduga Depresi karena Terlilit Utang

MEDAN- Syamsul Bahri Nasution (36), narapidana kasus narkoba di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Tajung Gusta tewas gantung diri, Selasa (6/9) siang pukul 13.30 WIB. Pria warga Jalan Karya Dame, Kelurahan Helvetia Timur itu ditemukan tewas gantung diri di plapon Kamar A Napi VIII Rumah Tahanan Negera (Rutan) Kelas I Tanjung Gusta Medan.

Untuk pengusutan lebih lanjut, jenazah Syamsul dibawa ke RSU Bina Kasih Medan untuk diotopsi.

Kepala Rutan Klas I Tanjung Gusta Medan Thurman Hutapea mengatakan, penemuan mayat Syamsul Bahri ini berawal saat pergantian petugas jaga pagi ke malam. Setelah dilakukan pengecekkan dengan cara menghitungan jumlah napi di Kamar A Napi VIII, ternyata berkurang satu orang. Setelah dilakukan pencarian di sejumlah ruangan, ternyata Syamsul Bahri sudah tergantung di atas asbes dengan kain yang disambung-sambung yang melilit di lehernya.
“Biasanya, bila seorang tahanan yang mau melarikan diri itu pasti melalui atap ataupun terlebih dahulu menjebol asbes, makanya saya perintahkan kepada anggota untuk mengeceknya ke atas, dan ternyata korban ditemukan sudah tidak bernyawa,” ujarnya.

Menurut rekan sekamarnya, Thurman Hutapea, korban yang telah divonis 4 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Medan dalam kasus narkoba itu memiliki sifat pendiam. Bahkan beberapa hari sebelum korban meninggal, dia pernah bercerita kepada beberapa rekannya mempunyai masalah utang piutang dan masalah keluarga. “Orangnya pendiam, tidak banyak cakap. Namun ia sering cerita memiliki utang dan tidak sanggup membayarnya,” ujar Thurman.

Menurut Thurman, saat ini, Syamsul mejalani sisa hukuman penjara 2 tahun 6 bulan. Kemudian, saat disiinggung tentang adanya seorang tahanan yang mencoba melarikan diri dari atas plafon, Thurman menjelaskan, pihaknya telah berhasil menangkap kembali tahanan tersebut yang bersembunyi di atas plafon setelah menjebol asbes kamar.
“Napi JP mencoba melarikan diri dengan menjebol asbes. Sebelum berhasil melarikan diri pria yang terlibat kasus pencabulan tersebut berhasil kita tangkap kembali,” tambahnya.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsekta Medan Helvetia AKP Zulkifli Harahap membenarkan adanya tahanan yang tewas di Rutan Klas I Tanjung Gusta. Namun, pihaknya masih menyelidiki penyebab tewasnya tahanan kasus narkoba tersebut. “Masih kita lakukan penyelidikan, tapi mayatnya sudah dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi,” ujarnya. (mag-7)

Ramai-ramai Gadaikan Emas

MEDAN- Hari pertama kerja pascalibur Lebaran, Senin (5/9), transaksi pengadaian tercatat lebih tinggi dibandingkan hari biasanya. Terutama untuk barang jaminan emas, tercatat transaksi yang terjadi di Pegadaian Cabang Medan Utama mencapai Rp880,670 juta. Bahkan transaksi pada hari pertama, meningkat sekitar 30 persen hingga 40 persen dari transaksi di hari biasa.

Peningkatan transaksi di kantor Cabang Pengadaian Medan Utama yang terletak di Jalan Pegadaian Medan ini dikarenakan masyrakat yang membutuhkan dana tunai secepatnya. Mengingat selama Ramadan dan Lebaran banyak kebutuhan akan uang.

“Ini sudah biasa terjadi, sebelum lebaran atau saat Ramadan masyarakat akan ramai menebus barang gadaian terutama emas, setelah Lebaran akan digadai kembali,” ujar Humas Pegadaian Kanwil I Sumut-NAD, Lintong Panjaitann
Selain masyarakat umum yang ramai menggadai emas, mayoritas yang menggadai emas dan perhiasannya adalah para pedagang yang membutuhkan dana tunai untuk dapat dijadikan modal usaha. Mengingat selama Lebaran, barang dagangan kehabisan stok karena budaya baju baru saat Lebaran. “50 persen hingga 60 persen yang menggadai ya para pedagang, karena mereka membutuhkan modal untuk usaha,” tambah Lintong.

Selain emas, produk otomotif seperti mobil juga ada yang menggadai, tapi tidak sebanyak masyarakat yang menggadaikan emas. “Kalau otomotif tidak sebanyak emas, emas tetap menjadi pilihan masyarakat untuk investasi,” ujar Lintong. Menurutnya, selain karena mudah dibawa, emas menjadi idaman untuk investasi mengingat emas dan perhiasan selalu memiliki harga, bahkan untuk dipasaran emas dan perhiasan tidak pernah turun.
“Harga taksiran emas yang kita berikan sesuai dengan harga pasaran, emas naik jadi harga taksiran juga naik. Jadi tidak heran bila banyak yang mengadai emas saat ini,” tutup Lintong. Untuk taksiran emas pada Senin (5/9) kemarin tercatat sebesar Rp1,06 M yang di terima oleh pegadaian.

Sementara pada Selasa (6/9), harga emas di pasaran sudah mencapai Rp525 ribu per gram. Dan harga ini merupakan harga yang paling tinggi untuk belakangan ini. “Harganya sudah mencapai Rp525 ribu per gram, kemarin sempat turun sekitar sepuluh ribu rupiah, tapi sejak Senin (5/9) sudah naik lagi dan terus naik,” ujar Bapak Harahap, pedagang emas di Toko Emas Harahap Pusat Pasar.

Kenaikan harga emas juga menjadi salah satu penyumbang inflasi, bukan hanya di Sumut tetapi juga skala nasional. Bahkan kenaikan harga emas ini juga membuat sebagian pedagang emas tidak berani untuk menjual emasnya. “Kalau tidak berani jual itu wajar, mengingat harga emas yang tidak stabil. kita berdagang juga tidak mau rugi,” ucap Pak Harahap yang telah berjualan emas lebih dari 40 tahun. (mag-9)

Keberadaan Geng Motor Makin Meluas

IMI Minta Polisi Bertindak Tegas

MEDAN- Aksi brutal geng motor terus meluas ke wilayah Kota Medan, bila kemarin puluhan anggota geng motor ditahan di Polsekta Sunggal. Kini, giliran Polsekta Percut Sei Tuan yang menahan satu anggota geng motor.
Seorang anggota geng motor yang ditahan itu, Boy Samosir (19) warga Jalan Kawat III, Kelurahan Tanjung Mulia Kecamatan Medan Deli. Pemuda itu diamankan polisi seusai melakukan aksi penganiayaan terhadap Muhammad Ari Handoko warga Desa Lau Dendang Kecamatan Percut Sei Tuan.

Kepada polisi, Boy mengaku anggota geng motor Comunity Maker (Mabar – Krakatau) di bawah pimpinan A (19) warga Tanjung Mulia.  Saat itu, bersama 2O orang temannya berkeliling di kawasan Jalan Cemara, saat melintas di depan Komplek Cemara Asri ada korban bersama dengan 3 orang temannya sedang parkir.

“Kami semua disuruh ketua geng motor untuk menghajar korban tanpa ampun, karena sesuai kata ketua kami, sudah sepakat kalau ada yang melawan harus kami hajar,” ujar remaja yang seharinya mengaku bekerja sebagai tukang bengkel.

Tanpa basa-basi kelompok Maker ini langsung menghajar Muhammad Ari Handoko dengan menggunakan kepala ikat pinggang, hingga mengakibatkan korban mengalami luka-luka.

Ketika ada penganiayaan itu, kepolisian dari Polsekta Percut Sei Tuan langsung turun ke lokasi kejadian untuk menyelamatkan korban, dan mengejar anggota kelompok geng motor Maker. Alhasil, satu anggota geng motor yang tertinggal saat hendak kabur langsung dibekuk dan diboyong ke Mapolsekta Percut Sei Tuan.
Kapolsekta Percut Sei Tuan Kompol Maringan Simanjuntak didampingi Kanit Reskrim AKP Faidir Chan mengatakan tersangka anggota geng motor itu dijerat pasal 351 Junto 170 KUHPidana tentang penganiayaan dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

Menanggapi aksi geng motor di Kota Medan, pengurus daerah Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sumut berang. Karena IMI sebagai klub motor tak pernah sepakat dengan aksi geng motor yang selalu bertindak dan bergaya premanisme.
Bidang Pembinaan Klub Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sumatera Utara, Prihatin Kasiman menyampaikan keberadaan geng motor sudah melenceng dari defenisi yang pernah ada.

Secara istilah, paparnya geng motor itu sebenarnya sekumpulan remaja yang memiliki ketertarikan yang sama terhadap olahraga otomotif, bukan menjadi kelompok yang mencoba mencari perhatian lewat tindakan-tindakan negatif. Seperti pengerusakan fasilitas publik maupun tindakan yang mengganggu ketenteraman masyarakat.
“IMI Sumut tak menerima anggota geng motor yang pakai pola premanisme, karena itu bertentangan dengan visi dan misi IMI Sumut,” terangnya.

Dia meminta, kepolisian semestinya memberikan tindakan lebih tegas lagi dari pihak keamanan. Walaupun secara keseluruhan keberadaan geng motor itu juga tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Alasan adanya aksi premanisme itulah IMI menolak anggota geng motor. “Namun kalau sudah pengrusakan seperti itu merupakan tindakan pidana, harusnya ditindak keras,” ingatkannya.

Sementara itu, banyaknya anggota geng motor yang masih berusia sekolah. Kepala Dinas Pendidikan Medan, Hasan Basri menginstruksikan kepala sekolah dan komite sekolah mengawasi para siswa agar tak membentuk geng motor. “Setiap kepala sekolah harus mengawasi terbentuknya geng motor di setiap sekolah, selanjutnya berikan pendidikan karakter di setiap sekolah,” ucapnya.

Sebelumnya Wali Kota Medan, Rahudman Harahap mengimbau, bagi siswa yang terlibat harus mendapatkan sanksi tegas dari pihak sekolah. (mag-7/jul/uma)

Aksi Kriminalitas di Ramadan 2011 Menurun

MEDAN- Angka tindak kriminal sepanjang Ramadan 1432 H  mengalami penurunan bila dibandingkan tahun 2010. Tapi, warga diimbau untuk tetap berhati-hati atas aksi kriminalitas khususnya penipuan sejumlah orang yang mengaku polisi.
Berdasarkan data di Polresta Medan, sepanjang Ramadan ada 3 kasus pencurian dan kekerasan yang dilaporkan, semua kasus itu sudah dituntaskan, sedangkan pada 2010 lalu ada 6  kasus pencurian dan kekerasan.

“Dibandingkan tahun 2010 lalu, angka kriminalitas di bulan Ramadan 1432 H ini mengalami penurunan,” ungkap Kasat Reskrim Polresta Medan AKP M Yoris, Selasa (6/8).

Dia menjelaskan, tiga kasus pencurian dan kekerasan yang berhasil diungkap Reskrim Polresta Medan diantaranya, penetapan 4 tersangka dalam kasus pembunuhan Sri Wahyuni Simangunsong warga Kompleks Waikiki yang ditemukan tewas di Samosir.

Selanjutnya, kasus  penodongan serta pencurian uang Rp10 juta terhadap warga Aceh Selatan dengan tersangka  Soman Munthe dan kasus lainnya yakni tertangkapnya tersangka  otak pelaku pembunuhan seorang kakek, Khairul Ludfi (78) yang ditemukan tewas mengenaskan di dalam rumahnnya di Jalan Selamat No 81 A Kelurahan Siterojo Kecamatan Medan Amplas pada Rabu (31/8) lalu. “Kami sudah usut kasusnya dan telah mengirimkan semua berkasnya ke kejaksaan,” tambahnya. (mag-7)

Industri Sawit Tetap Tolak Bea Keluar CPO

Jakarta- Gabungan Pengusaha Kepala Sawit Indonesia (Gapki) bersama stakeholder industri minyak sawit mentah (CPO) tetap menolak kebijakan bea keluar (BK) CPO, dan meminta pemerintah untuk meninjau kembali serta merevisi kebijakan tersebut.

“Sebenarnya tidak ada perubahan signifikan dalam skema dan tarif BK sekarang dengan sebelumnya. Bahkan pada kenyataannya tarif BK sekarang sebenarnya lebih tinggi pada tingkat harga di bawah US$1100 terutama pada tingkat harga US$950-US$1100,” ujar Direktur Eksekutif Gapki Fadhil Hasan, di Jakarta, Selasa (6/9).

Menurut Fadhil, diperkirakan harga CPO dalam tahun ini dan mendatang akan berada pada kisaran tersebut US$1.000-US$1.100. Dengan demikian pernyataan pemerintah bahwa tarif BK yang berlaku sekarang lebih lebih rendah, adalah menyesatkan dan tidak sesuai dengan kenyataan.

“Pada kenyataannya petani dan produsen CPO dikenakan BK yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Hal ini semakin membuktikan bahwa BK sebenarnya adalah instrumen penerimaan negara,” tandas Fadhil.
Seperti diketahui, pada 15 Agustus 2011 lalu, Menteri Keuangan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 128/PMK 011/2011 tentang Penetapan Barang Ekspor yang dikenakan Bea Keluar (BK) sebagai perubahan atas Permenkeu No. 67/PMK.011/2010.

Dalam PMK yang baru itu batas minimum pengenaan BK untuk CPO sebesar US$750 per ton, sedangkan pada PMK yang lama adalah US$700. Demikian pula batas atas dari BK untuk CPO pada PMK yang baru ditetapkan 22,5% atau turun dari ketentuan pada PMK yang lama sebesar 25% pada tingkat harga US$1250. Untuk produk hilir refine bleach deodorize, bila semula dikenakan tarif BK sebesar maksimum 25%, sekarang maksimum 10%.
Fadhil juga mengkritik argument lain dari pemerintah yang menyatakan bahwa penerapan BK adalah untuk mendorong pengembangan industri hilir CPO, sehingga tarif BK untuk produk hilir ditetapkan lebih rendah daripada CPO.
“Pertanyaannya adalah, mengapa produk hilir masih tetap dikenakan BK? Bukankah ini justru bertentangan dengan upaya mendorong pengembangan industri hilir itu sendiri?” ujar Fadhil.
Jika pemerintah serius, menurut Fahdil, maka seharusnya produk hilir CPO tidak dikenakan BK. Bahkan pemerintah seharusnya memberikan insentif pajak maupun non-pajak untuk pengembangan industri hilir CPO. “Justru adanya perbedaan tarif BK yang cukup signifikan antara CPO dan produk turunannya hanya memberikan insentif lebih lebar bagi adanya smuggling ekspor CPO,” tandasnya.
Di samping itu tidak ada bukti sampai sekarang ini bahwa BK bermanfaat mendorong pengembangan industri pengolahan CPO di dalam negeri. Data semester I 2010 menunjukkan, ekspor produk turunan CPO secara persentase lebih rendah dibandingkan ekspor pada semester I 2011. Padahal tarif BK pada semester I 2011 lebih tinggi dari pada semester I 2010.
Dalam kesempatan terpisah, Sekretaris Umum Gapki Joko Supriyono menjelaskan, secara konsepsional dan pada kenyataannya pengenaan BK untuk CPO dan produk turunannya telah membawa dampak negatif bagi pengembangan industri CPO secara keseluruhan. Biaya ekonomi pengenaan BK jauh lebih besar dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh sehingga ekonomi dirugikan secara keseluruhan.
Menurut Joko, BK telah menambah beban dan menimbulkan high cost economy. Kenyataan menunjukkan, BK tidak berdampak mengurangi pungutan di berbagai daerah. “Justru sebaliknya BK mendorong pemerintah daerah menetapkan berbagai pungutan terhadap CPO, karena BK tidak dapat dikembalikan ke daerah maupun digunakan untuk pengembangan industri CPO secara keseluruhan,” urai Joko.
Akibatnya, lanjut Joko, daya saing industri CPO Indonesia mengalami penurunan terhadap industri CPO negara lain dan juga terhadap minyak nabati lainnya. Pangsa pasar CPO Indonesia menjadi tidak optimal dan diambil oleh negara lain. Pada saat yang sama, skema BK yang progresif justru mendorong spekulasi dan ketidakpastian dalam ekspor CPO Indonesia. (net/jpnn)
Pada gilirannya hal ini membawa dampak menjurunnya posisi tawar para eksportir CPO Indonesia dalam menetapkan harga. Padahal, meskipun Indonesia penghasil dan eksportir sawit terbesar di dunia, namun Indonesia bukan sebagai pihak penentu harga,” jelasnya.
Selain itu, kebijakan BK juga memberikan proteksi yang tidak proposional terhadap industri hilir CPO yang tidak efisien dan berdaya saing. Industri yang tidak efisien akan selalu tergantung pada proteksi atau subsidi sehingga sulit untuk berkembang.
“Di sisi lain, pengenaan BK menyebabkan harga TBS di tingkat petani lebih rendah dibandingkan jika tidak ada BK. Akibatnya petani tidak memiliki insentif untuk melakukan investasi bagi peremajaan dan pemeliharaan kebun secara optimal,” ujar Joko. (net/jpnn)

3.754 Guru Ikuti PLPG Gelombang III

MEDAN- Universitas Negeri Medan (Unimed) akan melaksanakan  Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) Gelombang III yang diikuti sebanyak 3.754 orang guru. Peserta yang mengikuti  PLPG berasal dari 16 kabupaten/kota di Sumatera Utara (Sumut).

“Pelaksanaan PLPG gelombang III untuk wilayah Sumut ini sendiri nantinya akan berlangsung pada tanggal  12 hingga 21 September 2011. Untuk pelaksanaannya, kita telah melakukan koordinasi dengan kab/kota,” ujar Ketua Divisi Diklat PSG Rayon 102 Unimed, Prof Dr Berlin Sibarani MPd, Selasa (6/9), di Unimed.

Disebutkannya, ke-16 kabupaten/kota yang masuk dalam pelaksanaan PLPG Gelombang III, diantaranya Kabupaten Padang Lawas berjumlah 25 peserta, Kota Tanjung Balai 41 peserta, Kota Tebing Tinggi 60 peserta, Kabupaten Labuhanbatu Selatan 84 peserta, Kabupaten Padang Lawas Utara 112 peserta, Kabupaten Batubara 118 peserta, Kabupaten Labuhanbatu 138 peserta, Kabupaten Toba sa 160 peserta, Kabupaten Asahan 183 peserta, Kota Binjai 205 peserta, Kabupaten Sergai 271 peserta, Kabupaten Simalungun 283 peserta, Kabupaten Langkat 369 peserta, Kabupaten Deliserdang 791 peserta dan Medan 828 peserta.

Berlin mengatakan, peserta yang akan mengikuti PLPG Gelombang III dapat melihat namanya pada website Unimed www.unimed.ac.id atau Kantor Dinas Pendidikan kab/kota setempat. Rencananya nama-nama yang akan mengikuti PLPG dimasukkan di  internet, 8 September mendatang.

Kelengkapan yang harus dibawa peserta PLPG, bilang Berlin, meliputi pas foto terbaru berwarna ukuran 3 X 4 sebanyak 2 lembar, fotocopy  KTP, SIM atau indentitas lainnya 2 rangkap, fotocopy ijazah S1 atau DIV serta ijazah S2 dan atau S3 (bagi yang memiliki) dan disahkan oleh perguruan tinggi yang mengeluarkan 1 rangkap.

Selain itu, SK pengangkatan dan SK terakhir yang disahkan oleh pejabat terkait sebanyak 1 rangkap, fotocopy SK mengajar dari Kepala Sekolah yang disahkan 1 rangkap, dan refensi data yang relevan dengan bidang keahlian masing-masing serta laptop.(uma)

Juli Menurun, Agustus Naik Nilai Ekspor Kelapa Sawit

MEDAN- Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, nilai ekspor Sumut selama bulan Juli 2011 mengalami penurunan dari US$1,047 juta menjadi US$934,49 juta. Yang berarti salah satu komoditas terpenting dari nilai ekspor Sumut, Sawit juga menurun.

Berbagai faktor yang mendukung berkurangnya ekspor sawit ini diindikasi karena kurangnya permintaan masyarakat Internasional juga hal lain. Banyak faktornya, bisa karena lebaran, musim panen Eropa atau lainnya,” ujar Kepala BPS Sumut Suharno.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP Apkasindo (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia) Medan Taswin Kiflan mengatakan, penurunan nilai ekspor sawit itu biasa terjadi, mengingat permintaan masyarakat Internasional akan sawit Indonesia.
Menurutnya, salah satu faktornya akibat di Eropa mengalami musim panen sehingga permintaan sawit terutama CPO  menurun. “Bulan ini musim panen di Eropa dan negara lainnya, jadi alternatif mereka bisa berupa minyak matahari, jagung, kedelai dan lainnya,” ujar Taswin.

Kebutuhan akan minyak goreng tidak terlalu menjadi prioritas bagi masyarakat Internasional, mengingat kebutuhan akan minyak dapat digantikan dengan berbagai minyak, seperti minyak bunga matahari, minyak dari jagung, minyak kedelai dan minyak rexini.

Selain musim panen di Eropa, lanjutnya, salah satu faktor lainnya adalah bea keluar yang diberlakukan oleh pemerintah melalui Kementerian Keuangan. Peraturan Bea Keluar ini akan berlaku mengingat harga yang berlaku di pasar, harga CPO berlaku berdasarkan harga yang ditetapkan di Rotterdamn. “Kalau harga dibawah US$600 per metrix ton, maka bea keluar o persen. Tetapi bila harga di atas US$1000 metrix ton dapat bisa mencapai 20 hingga 25 persen,” tambah Taswin.

Menurut Taswin, bea keluar ini membuat para petani kurang bergairah untuk bekerja. Sebab, bea keluar ini akan dimasukkan dalam harga pokok petani dan harga pokok pengusaha. Sehingga, tidak ada hasil yang mereka dapatkan, walau harga sawit di Internasional tinggi. “Harga sawit tinggi, harga bea keluar tinggi. Tapi kalau rendah harganya rendah pula beanya. Jadi tetap tidak ada untung,” papar Taswin.

Walau sudah membayar bea keluar kepada pemerintah, tetapi para petani tidak mendapatkan timbal balik dari hasilnya. “Tiga tahun belakang ini pemerintah telah mendapatkan 40 triliun dari bea. Tapi tak ada timbal balik untuk petani yang diberikan pemerintah,” kata Taswin.

Sementara itu, Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Medan Timbas Ginting mengatakan, penurunan nilai ekspor sawit pada Juli 2011 ini tidak memberikan dampak.  “Tidak ada masalah akan penurunan nilai ekspor. Sawit merupakan kebutuhan jadi pasti akan selalu dibutuhkan dan diminta oleh masyarakat,” kata Timbas.
Timbas juga memprediksi bahwa pada Agustus ini nilai ekspor sawit Sumut akan kembali normal karena permintaan akan sawit atau CPO akan kembali meningkat. (mag-9)

RI-Thailand Kerjasama Pendidikan Pariwisata

JAKARTA- Pusat Pendidikan Jarak Jauh Asia Tenggara atau Southeast Ministers of Education Organization regional Open Learning Centre (SEAMEO-SEAMOLEC) bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Sahid Jakarta dan Politeknik Negeri Bali (PNB) merintis kerja sama dengan institusi pendidikan tinggi di Thailand, Prince of Songkhla University Phuket Campus, Phuket Vocational College, dan Songkhla Vocational College.

Kerja sama yang akan dibangun yakni dalam bidang perhotelan dan pariwisata. Kerja sama ini upaya untuk mengembangkan daya saing pendidikan tinggi di sektor pariwisata. Program kerja sama meliputi magang, pertukaran mahasiswa, dan kursus singkat online. Pertemuan dalam rangka penjajakan kerja sama ini  dilaksanakan pada 14-18 Agustus 2011 lalu di Phuket dan Hatyai, Thailand Selatan.

Dalam jumpa pers di gedung C Kemdiknas, akhir pekan lalu, Staf Humas SEAMOLEC, Reynaldo mengatakan, Thailand dipilih karena banyak wisatawan Indonesia yang melakukan perjalanan wisata ke negeri gajah putih itu. Selain itu, beberapa institusi pendidikan di Thailand juga memiliki mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Prince of Songkhla University (PSU) akan mengirimkan 12 mahasiswanya ke STP Sahid dan PNB tahun ini. Sebaliknya, STP Sahid dan PNB akan mengirimkan masing-masing enam mahasiswanya ke PSU Phuket Campus, untuk bidang manajemen pariwisata, meliputi front office dan house keeping. Semua pembiayaan selama belajar di masing-masing partner dibebaskan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak.

Masing-masing pihak juga bertanggung jawab membuat instrumen monitoring, supervisi, dan evaluasi sesuai dengan standar masing-masing.  Sementara program kerja sama dengan Phuket Vocational College dan Songkhla Vocational College adalah di bidang food production dan food service. Detil kerja sama akan dituangkan dalam bentuk MoU.(net/jpnn)

Siapkan Lulusan Berjiwa Wirausaha

Politeknik Santo Thomas Medan   

MEDAN- Sebagai lembaga pendidikan dan pelatihan vokasi yang unggul dalam bidang teknologi dan informasi bertaraf nasional dan global, Politeknik Santo Thomas Medan  (Polithomas) terus berupaya menghasilkan lulusan berkualitas dengan standar nasional.

Untuk mewujudkan misi tersebut, sekolah yang berlokasi di Jalan Matahari Raya Nomor 84 A Helvetia Medan ini terus melakukan berbagai inovasi.

Diantaranya yakni dengan menyiapkan lulusan peserta didik yang mampu berkomunikasi dalam bahasa asing serta memahami  ilmu pengetahuan dan teknologi  serta  memiliki jiwa wirausaha.

Hal ini disampaikan Ketua Yayasan Polithomas, Ir Markus Nainggolan, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (6/9)
“Salah satu uapaya menciptakan tamatan yang berkualitas standar nasional maupun internasional, upaya yang kita lakukan pertama kali adalah meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan akuntabilitas dalam pengelolaan layanan pendidikan tinggi secara otonom terlebih dahulu,” sebutnya.

Untuk menselaraskan tujuan tersebut, berbagai sarana dan prasarana perguruan tinggi telah disiapkan sesuai standar sebuah perguruan tinggi.

Diantaranya yakni, Laboratorium Komputer & Jaringan, Laboratorium Komputer Aplikasi, Laboratorium Mikroprosessor & Mikrokontroller, Laboratorium Instrumentasi   Elektronika & Kendali, Laboratorium Elektronika Analog & Digital, Laboratorium Pengukuran & rangkaian Listrik, Laboratorium Radio dan televise, Laboratorium Programmer Logic Control (PLC), Laboratorium Energi Listrik, Casis & Kelistrikan Otomotif, Laboratorium Sporing dan  Balance Digital,Workshop/ Bengkel Elektronika, Listrik & Otomotif, serta Perpustakaan, Internet, Kantin, Lapangan Parkir, Lapangan dan Aula.

Terpenuhinya fasilitas yang sangat memadai didukung oleh dosen berpengalaman yang memiliki spesifikasi minimal S2 menjadikan Polithomas sebgai perguruan tinggi swasta yang telah berhasil menciptakan tamatan berjiwa wirausaha.
“Bahkan dari 300 tamatan kita lebih dari separuhnya memilih untuk membuka usaha sendiri dengan keahlian yang didapatnya di kampus daripada menerima tawaran dari beberapa perusahaan swasta yang telah telah memiliki kerjasama dengan perguruan tinggi Polithomas,” ungkapnya.

Alhasil Polithomas mengaku sulit memenuhi kebutuhan SDM yang diminta oleh sejumlah perusahaan rekanan.
Menurut Markus Nainggolan, selama delapan tahun berdiri, kampus yang bernaung di bawah Yayasan Teknik Santo Alberto ini telah menjalin kerja sama dengan berbagai perusahaan bersakala nasional maupun internasional.
Diantaranya yakni kerjasama dengan Yayasan Van De Venter Belanda,  ATMI Solo, Yayasan Mr. Gerrit Riphagen, Belanda, dan 10 Dunia Industri Nasional lainnya.

Lewat konstitusi Apostolik Ex Corde Ecclesiae  coba diterapkan, Politeknik Santo Thomas Medan berupaya menekankan nilai-nilai, cinta akan kebenaran, keadilan sosial, kebebasan, keterbukaan, persaudaraan dan semangat pelayanan terhadap peserta didiknya.

Sehingga para lulusan yang telah mendapatkan ilmu dari program pendidikan yang diikutinya, selain mampu mengaplikasikan di dunia kerja juga mampu mengamalkan nilai budipekerti yang ditanamkan sejak awal oleh yayasan. (uma)