Home Blog Page 14739

Jangan Sekalipun Melupakan Sejarah

MPW PP Gelar Peringatan dan Renungan Suci Hari Kesaktian Pancasila

“Pemuda Pancasila bukan untuk gagah-gagahan. Pemuda Pancasila ada untuk merangkul masyarakat membawa bangsa ini menjadi lebih baik ke depan.”

Itu adalah kutipan pidato Ketua Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila Sumatera Utara (MPW PP Sumut) Anuar Shah pada Peringatan dan Renungan Suci Hari Kesaktian Pancasila di Tugu Ampera Kampung Kolam Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang, Minggu (1/10) dini hari lalu.

Di bawah sinar bulan dan cahaya bintang-bintang, ratusan kader PP dari 10 Majelis Pimpinan Cabang (MPC) se-Sumut dan 33 Pimpinan Anak Cabang (PAC) se Kota Medan tumpah memenuhi lapangan Tugu Ampera. Mereka hanya berbekal perlengkapan upacara yang sederhana. Tepat pukul 24.00 WIB upacara peringatan dimulai dipimpin Anuar Shah yang bertindak selaku inspektur upacara.

Pembacaan Naskah Tugu Ampera yang dilakukan dalam penerangan api obor menambah khusyuk upacara peringatan terhadap dua kader terbaik PP, Mohammad Jacop dan Drs Adlin Prawiranegara yang gugur saat melakukan penumpasan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Kampung Kolam basis PKI di Sumut kala itu, tepatnya 24 Oktober 1965 silam.

Kegiatan pun dilanjutkan dengan penaburan bunga di Tugu Ampera. Tugu yang dibangun untuk mengenang Mohammad Jacop dan Drs Adlin Prawiranegara yang diduga menjadi korban kekejaman PKI. Di sana terdapat tulisan yang berbunyi.

“Tugu Pahlawan Ampera, Pada Tanggal 25 Oktober 1965, Dalam Penumpasan G 30 S/PKI, gugur di tempat/parit ini dua orang anggota Pemuda Pancasila: M Jacop (PP) dan Drs Adlin Prawiranegara (PP/HMI). Pengorbananmu Tetap Kami Kenang Dengan Hayati. Pergilah Engkau Dengan Se-Tenang-Tenangnya. Kami Teruskan Perjuanganmu. Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa Yang Menghargai Pahlawannya. Tertanda DPW PP Sumut Ketua Dewan Pertimbangan Zainuddin Jaffar, Ketua Dewan Pembina Drs Tagor Lubis, Ketua M Y Effendi Nasution dan Sekretaris Amran YS, Kampung Kolam”.
Penaburan bunga diawali oleh Anuar Shah yang diikuti senior atau Pini Sepuh PP Sumut. Di antaranya H Buyung Bahid Ritonga dan H Yan Paruhum Lubis yang dikenal dengan Ucok Majestik. Turut hadir pula undangan dari Muspika diwakili Darwin Zein dan Ridwan S, perwakilan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), dan perwakilan Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI/Polri (FKPPI).

Seperti yang disampaikan Anuar Shah, Peringatan dan Renungan Suci di Tugu Ampera merupakan agenda tahunan MPW PP Sumut. Kegiatan itu sendiri merupakan ketiga kalinya untuk menanamkan semangat nasionalis di tengah-tengah kader PP.

“Kegiatan ini akan kita gelar setiap tahunnya agar setiap kader Pemuda Pancasila sadar dan mengerti peranannya dalam melanjutkan perjuangan para pahlawan yang telah gugur. Baik pahlawan proklamasi, pahlawan revolusi, khususnya Pahlawan Tugu Ampera yang merupakan putra terbaik Pemuda Pancasila Sumut. Seperti ucapan founding father kita, Ir Soekarno. Jangan sekalipun melupakan sejarah yang dikenal dengan Jas Merah,” tegasnya.
Upacara Peringatan dan Renungan Suci Hari Kesaktian Pancasila oleh MPW PP Sumut ini diramaikan dengan jagung rebus dan ubi rambat rebus yang membawa nuansa masa lalu. Seluruh peserta kegiatan kemudian membelah sunyinya malam menuju Kantor MPW PP Sumut Jalan Thamrin Medan untuk bersantap bersama. (*)

Rumah Warga akan Diratakan

Pembangunan Fly Over Jamin Ginting

MEDAN- Wali Kota Medan Rahudman Harahap memerintahkan kepada Dinas Bina Marga untuk meratakan rumah warga di lahan yang sudah diganti rugi. Hal tersebut dilakukan agar pembangunan jembatan layang (fly over) Simpang Pos segera direalisasikan, sehingga dapat mengurangi kemacetan yang terjadi di kawasan Padangbulan.

“Sebagai langkah awal, Dinas Bina Marga harus segera meratakan rumah warga yang telah diganti rugi. Saya minta perataan rumah itu dilakukan minggu depan, saya akan turun langsung,” kata Rahudman Harahap dalam rapat koordinasi teknis pembersihan lahan fly over Jamin Ginting serta persiapan pembangunan konstruksi di Balai Kota, Selasa (4/10).

Dijelaskannya, jika pembangunan fly over Jamin Ginting sudah dimulai, akan diteruskan dengan pembangunan under pass Titi Kuning. Sedangkan untuk lahan warga yang belum menerima ganti rugi, Rahudman meminta kepada camat dan lurah setempat segera mensosialisasikannya. Namun, jika warga menolak ganti rugi yang diberikan, solusinya.
Pemko Medan akan melakukan konsinyasi (memberikan uang ke pengadilan). Artinya, pengadilan yang akan membayar ganti rugi kepada warga tersebut.

“Saya tidak mau hanya gara-gara beberapa orang, pembangunan fly over yang digunakan untuk kepentingan masyarakat banyak menjadi terkendala. Untuk itu, bagi warga yang menolak ganti rugi, kita titipkan uang ganti ruginya ke pengadilan. Untuk itu, mulai besok (hari ini, Red), camat dan lurah harus mensosialisasikan rencana ini kepada warganya,” cetusnya.

Kadis Tata Ruang dan Tata Bangunan (TRTB) Kota Medan, Sampurno Pohan menjelaskan, dalam proyek pembangunan fly over Simpang Pos sebanyak 130 persil atau rumah warga yang harus dibebaskan. Dari 130 persil itu, sebanyak 98 persil sudah dibebaskan atau diberi ganti rugi. “Yang belum diganti rugi tinggal 32 persil lagi. Kendalanya, ahli waris tidak menerima dengan nilai ganti rugi yang diberikan. Di samping itu, ada beberapa warga yang surat tanahnya masih diagunkan ke bank,” papar Sampurno.

Dari 98 persil lahan yang telah dibebaskan itu, lanjut Sampurno, 70 persen pemilik lahan telah membongkar sendiri bangunan rumahnya. Untuk itu, sambil menunggu proses ganti rugi terhadap 32 persil lahan lagi, Dinas TRTB berharap pembangunan proyek jembatan fly over bisa dimulai dengan membangun drainase (parit) di atas lahan yang sudah diganti rugi tersebut.

“Kalau  proyek pembangunan fly over baru dimulai sampai proses pembebasan tanah selesai seluruhnya, sampai kapan bisa dimulai. Untuk itu, saya mengusulkan agar lahan warga yang sudah diganti rugi bisa diratakan dan dibuat paritnya,” saran Syampurno.

Sementara itu, utusan dari Otoritas Bandara yang turut hadir dalam rapat tersebut sangat berharap agar pembangunan fly over Simpang Pos tidak mengganggu jalannya penerbangan di Bandara Polonia Medan. Sebab, lokasi yang akan dibangun untuk jembatan layang itu termauk dalam runnaway 05 yang digunakan untuk take off dan landing pesawat.
Sekda Kota Medan, Syaiful Bahri menambahkan kalau pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN) Medan untuk memotong sertifikat tanah milik warga yang telah diganti rugi. Hal itu, penting dilakukan sebagai bukti ganti ruginya telah diberikan. “Dengan pemotongan sertifikat itu, bisa terlihat dengan jelas ukuran tanah warga sudah berkurang sesuai ganti rugi yang telah diberikan,” bebernya. (adl)

Diikuti 200 Mobil dan 500 Sepeda Motor

Sumut Pos Fun Rally Wisata Kembali Digelar

MEDAN- Sukses dengan Fun Rally Wisata 2010, Sumut Pos kembali menggelar Fun Rally Wisata 2011 yang dilaksanakan Minggu (23/10) mendatang. Kali ini, Sumut Pos Fun Rally Wisata akan dimeriahkan dengan keikutsertaan pengendara sepeda motor yang diperkirakan akan mencapai 500 peserta.

“Fun Rally Wisata IV ini akan mengikut sertakan sepeda motor dari berbagai merek dan tipe yang diperkirakan berjumlah 500 peserta. Sedangkan rutenya masih tetap seperti tahun lalu. Kita tetap mengambil start di Lapangan Merdeka Medan, kemudian mengelilingi Kota Medan. Lalu menuju lokasi wisata Pura Bali di Pegajahan, Sergai dan lanjut ke Theme Park (Pantai Cermin),” ungkap Ketua Panitia Darwin Purba, Selasa (4/10).

Menurut Darwin, pelaksanaan acara ini dalam rangka memeriahkan HUT ke-10 Sumut Pos sekaligus menggairahkan sektor pariwisata Sumatera Utara, memupuk kesadaran dalam tertib lalulintas di Sumatera Utara dan lebih mendekatkan Sumut Pos dengan pembacanya.

Dia juga mengungkapkan, kegiatan ini terlaksana berkat kerjasama Sumut Pos dengan Ikatan Motor Indonesia (IMI) dan Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai. “Panitia hanya menargetkan 200 peserta untuk mobil dan 500 peserta untuk sepeda motor. Tahun lalu sepeda motor hanya dari satu merk dan sifatnya eksebisi, namun kali ini kita akan ikutkan sepeda motor dari semua merk, sehingga kegiatan ini benar-benar menjadi ajang kebersamaan untuk semua kalangan pecinta dan pembaca Sumut Pos,” paparnya.

Disebutkan, biaya pendaftaran untuk mobil Rp300.000 dan untuk sepeda motor Rp75.000 dan Rp 50.000 per orang untuk tambahan. Biaya itu sudah termasuk, kaos sebagai peserta, biaya masuk Time Park dan konsumsi.

Pendaftaran dibuka mulai 10 hingga 21 Oktober 2011. Peserta bisa mendaftar langsung ke Graha Pena Jalan Sisingamangaraja Medan Amplas Medan, Radio Dangdut Indonesia 96,7 FM, Jalan Sei Bahorok No 74-76 Medan, Radio Sonya 106,6 FM, Jalan Petuala No 38 Medan, I Radio 98,3 FM Jalan Mataram No 3 Medan, Smart FM dan General Revetisi dilasanakan Sabtu (22/10) di Graha Pena Medan pukul 14.00 WIB.

“Penyerahan kaos dan nomor peserta serta buku panduan dilaksanakan saat registrasi ulang sekaligus general revetisi,” pungkasnya.(mag-9)

DPRDSU Desak Hasan Basri Diganti

Terkait KelasGelap Sekolah Negeri di Medan

MEDAN- Munculnya masalah dalam Penerimaan Siswa Baru (PSB) 2011 di beberapa sekolah negeri di Medan, memunculkan desakan agar Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Medan Hasan Basri dicopot dari jabatannya. Desakan pencopotan itu, dikemukakan Richard Eddy M Lingga, anggota Komisi E DPRD Sumut kepada Sumut Pos, Selasa (4/10).

“Dalam konteks hukum, ketika ada kesalahan selalu ada sanksinya. Dalam hal ini, sebaiknya Wali Kota Medan mengambil sikap untuk memberi sanksi kepada kadisnya. Karena dalam masalah ini, tidak bisa dipungkiri kadisnya lah yang harus bertanggungjawab. Sebaiknya, Wali Kota Medan mengevaluasi kepala SKPD nya, bila perlu dicopot dan digantikan dengan orang-orang yang kredibel mengurusi masalah pendidikan,” tegas anggota DPRD Sumut dari Fraksi Golkar tersebut.

Lebih lanjut dikatakannya, pencopotan itu dilakukan, agar untuk ke depannya hal-hal seperti itu tidak terjadi lagi.
Karena, secara otomatis munculnya persoalan ini akan memberikan citra buruk dalam dunia pendidikan, terlebih lagi pendidikan di Kota Medan.

“Kalau dipertahankan, bukan tidak mungkin hal-hal seperti ini bisa terjadi lagi. Kita atau siapa pun pasti tidak ingin kasus ini terjadi lagi di tahun depan dan tahun-tahun selanjutnya,” tandasnya lagi.

Sementara itu, anggota Komisi E DPRD Sumut lainnya Ahmad Hosen Hutagalung kepada Sumut Pos juga menuturkan, sesuai rekomendasi Komisi E DPRD Sumut, sebaiknya pihak-pihak yang berkaitan, terutama Pemerintah Kota Medan dan Pemerintah Provinsi Sumut (Pemprovsu) terlebih lagi Dinas Pendidikan (Disdik) di dua tingkatan itu, untuk bisa mengungkap dan mengusut tuntas kasus tersebut.

“Kita tahu lah siapa yang memainkan atau aktor di belakang layarnya. Sesuai rekomendasi, kita minta Pemko Medan dan Pemprovsu untuk mengusut tuntas kasus ini,” pungkas anggota DPRD Sumut dari Fraksi PPP tersebut.(ari)

Geng Motor tak Berdiri Sendiri

Eksistensi geng motor telah begitu meresahkan akhir-akhir ini, karena sudah mengancam keselamatan jiwa orang yang tidak tahu apa-apa. Bahkan, belakangan mereka secara brutal merusak pos polisi, menggasak barang dan menyerang orang.

Berikut petikan wawancara wartawan Harian Sumut Pos Ari Sisworo dengan Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Farid Wajdi.

Apa sebenarnya geng motor menurut Anda?
Geng motor itu merupakan kumpulan anak-anak muda yang kebanyakan remaja tanggung. Secara individu setiap anggota geng motor ini adalah anak yang polos dan terlihat biasa-biasa saja. Sehari-hari mereka adalah pelajar yang tidak terlihat nakal, apalagi brutal. Namun jika sudah berkumpul dalam kelompoknya, perilaku mereka dipengaruhi ideologi kelompok. Musuh mereka adalah geng motor yang lain.

Siapa yang menjadi sasaran dari geng motor itu?
Sasaran mereka dalam berhuru-hara malam adalah mencari anggota geng motor lainnya, namun karena tidak bertemu, masyarakatlah yang jadi sasarannya.

Apa yang melandasi banyaknya remaja ikut terjun menjadi anggota geng motor?
Mengurai masalah geng motor harus dimulai dari orangtua. Orangtua mungkin tidak mengawasi anak-anaknya, anaknya bergaul dengan siapa saja, ikut siapa saja, keluar kemana saja. Orangtua mereka (yang rata-rata dari golongan ekonomi menengah ke bawah) habis waktunya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Apakah pada kenyataannya, geng motor ini menjadi pilihan para remaja?
Ya, geng motor saat ini seolah telah menjadi pilihan yang menarik, karena hobi konvoi dengan motor tersalurkan. Apalagi, sepeda motor sangat mudah diperoleh saat ini dengan cicilan yang ringan. Rata-rata orangtua mereka memiliki sepeda motor, dan dengan itu mereka menyalurkan aksinya untuk berkonvoi keliling kota.

Perlu digali lebih dalam, apakah mereka itu adalah korban dari kesalahan didik orangtua, kurang kontrol orangtua terhadap pergaulan anak, himpitan ekonomi, kontrol pemerintah yang memble, lapangan kerja yang makin sulit, kepentingan sejumlah oknum penegak hukum, dan mudahnya akses mendapatkan narkoba atau minuman keras. Begitu pula menyangkut dampak berita kekerasan, korupsi, gonjang ganjing politik, sangat mungkin memberi kontribusi signifikan dalam memengaruhi psikologi anak-anak.

Apakah ada potensi lain atas maraknya geng motor tersebut?
Potensi lain, makin sempitnya ruang terbuka untuk bermain telah mematikan kreativitas anak-anak muda. Taman bermain anak makin langka, ruang kosong makin sempit, dan lain-lainnya. Kalaupun tersedia arena permainan modern, masih sulit diakses warga secara komprehensif. Semua masalah itu tentu bakal memengaruhi perilaku dan persepsi anak.

Semua faktor itu sangat mudah mempengaruhi stabilitas jiwa anak muda yang sedang bingung akan jati dirinya. Menyelesaikan masalah geng motor tidak dapat berdiri sendiri. Geng motor adalah fenomena sosial perkotaan dan merupakan dampak ketimpangan pembangunan.

Karena itu, pendekatan hukum pidana belaka takkan pernah menuntaskan soal geng motor. Coba mengurai geng motor atas dasar hanya pendekatan represif justru akan membuat penegak hukum lelah sendiri. Tindakan hukum pidana adalah langkah terakhir (ultimum remedium), sehingga perlu langkah bersama untuk menyelesaikan masalah geng motor ini.

Apa solusi untuk mengatasi itu?
Kebijakan pembangunan agar lebih ramah anak juga bagian dari solusi masalah sosial itu. Kesadaran bersama melalui pelibatan orang tua, tokoh agama, psikolog, sekolah-guru, merupakan pendekatan preventif-persuasif, dan itu jauh lebih efektif. Karena itu, sepanjang masalah sosial lain belum teratasi, maka persoalan geng motor akan tetap menjadi masalah serius.(*)

Peta Digital Mulai Dikerjakan

MEDAN- Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Medan, Syaiful Bahri akan memimpin Tim Perluasan Kota Medan yang dicetuskan Wali Kota Medan Rahudman Harahap.

Tim ini bertugas melakukan pendataan dan pemetaan luas wilayah Kota Medan dan sejumlah titik wilayah Deli Serdang yang akan dimasukkan dalam rencana perluasan kota yang rencananya akan dimulai tahun depan.

“Sekda yang memimpin tim itu, kan bisa dibantu para Asisten dan Kepala Bappeda. Harusnya perluasan ini diselesaikan, namun harus dilihat dengan konteks untuk memberikan pelayanan. Bukan kepentingan ekonomi atau yang lain. Ini yang menjadi dasar pemikirannya, karena kita juga perlu melakukan pemerataan pembangunan,” ujar Syaiful kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa (4/10).

Selain itu, lanjut Syaiful, Pemko Medan juga sedang mempersiapkan peta digital teknologi Geografic Information System (GIS) dengan metode tiga dimensi. Dimana, PT Jasa Konsputra Utama asal Bandung sebagai pemenang tender telah melakukan pengerjaan awal untuk membuat LIDAR dengan photo langsung dari udara di wilayah administrasi Kota Medan.

“Tim dari Bandung, sudah dua minggu ini membahas peta digital ini. Setelah pelaksanaannya nanti mungkin ada kerjasama dengan pihak akademisi yang lebih paham tentang teknis penerapan peta digital ini, karena itu kan teknologi tinggi dengan akurasi 1:1000 dengan 3 dimensi,” katanya.

Dijelaskanya, peta digital dapat menjadi sumber informasi untuk seluruh jajaran SKPD Pemko Medan termasuk dalam hal perencanaan pembangunan yang lebih akurat. Seluruh wilayah Kota Medan akan lebih akurat dan jelas terlihat dari peta digital ini, karena baru Kota Medan dan DKI Jakarta yang menerapkan teknologi ini di Indonesia.

“Untuk perluasan Kota Medan atau penetuan administrasi baru Kota Medan, itu juga dapat dimanfaatkan dari peta digital ini. Seluruhnya dapat terlihat dengan jelas, hingga satu wilayah per kelurahan di Kota Medan, karena akurasinya sangat besar. Ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan,” ucapnya.

Dikatakannya, mengenai perluasan Kota Medan itu tidak hanya peran serta dari Pemko Medan sendiri namun harus ada kemauan dari Pemprovsu dan Pemerintah Pusat juga. Untuk menempuh perluasan itu, semuanya tergantung pada dua lembaga pemerintah itu yang dapat melihatnya, kalau Pemko Medan sendiri selalu siap.

Di tempat terpisah, Kepala Bappeda Kota Medan Zulkarnain mengaku, peta digital sedang dikerjakan tahap awal berupa pembuatan basis data geospasial Kota Medan, photo langsung dengan teknologi LIDAR. Hasil itu nantinya dapat terlihat jelas luas lahan, gedung hingga kontur tanah.

“LIDAR bisa mengukur dari ketinggian bangunan sampai ke permukaan tanah dengan akurat. Selanjutnya, pembuatan peta garis hingga peta tiga dimensi. Tiga dimensi ini dapat mengukur lebih luas benda dan bangunan dengan akurat. Peta garis juga bisa dimanfaatkan untuk penyusunan masterplan drainase, jalan, GIS sarana kesehatan, GIS sarana pendidikan hingga GIS kelurahan lebih akurat dan jelas,” jelasnya.

Dari tahap awal, lanjutnya, sampai output (hasil) keseluruhan peta digital berjalan selama tiga bulan oleh pihak ketiga pelaksana proyek. Akademisi ITB sendiri menjadi narasumber Bappeda Kota Medan dalam mengelola peta digital ini untuk lintas SKPD dibantu SDM ahli tanah dan bangunan Bappeda Medan.

“Master plan selama ini tidak terlalu akurat, tapi dengan teknologi ini, seluruhnya akan lebih akurat. Teknologi ini juga bisa melihat konstruksi tanah di Medan, termasuk dalam menyusun master plan dan sistem jaringan jalan, aset dan drainase hingga mendeteksi penyebab kemacetan hingga terjadinya genangan air di Medan saat musim hujan. Yang pasti, semuanya untuk ketersediaan peta dasar tunggal Kota Medan yang lebih akurat,” terangnya.(adl)

Niat Menjebak Malah Terjebak

Maksud hati hendak menjebak bandar sabu-sabu di kawasan Helvetia, namun malah dia yang terjebak dan ditangkap polisi. Ini dialami Sopian (35), warga Kampung Kubur, Medan Baru, yang mengaku sebagai kaki tangan (kibus) Direktorat Reserse Narkoba Poldasu Sumut, Senin (3/10) dini hari pukul 01.00 WIB.

Menurut Sopian, malam itu dia diminta personel Dit Narkoba Poldasu untuk menjebak bandar sabu di kawasan Helvetia. Pasalnya, selama ini Dit Narkoba Poldasu kesulitan untuk memberantas peredaran narkoba di kawasan itu.
“Malam itu kami mau menangkap pengedar sabu-sabu, tapi tiba-tiba polisi datang dan menangkap aku. Makanya aku langsung membuang uang Rp600 ribu yang ku pegang, jadi barang bukti 3 gram itu bukan barang ku. Aku hanya ingin membeli sabu-sabu sama bandar yang berhasil melarikan diri itu,” bebernya.

Namun, saat ditanya siapa nama bandar yang memeiliki sabu-sabu itu, Sopian mengatakan, pemiliknya adalah Amran yang kini masih buron. “Aku hanya membeli dan barang itu milik Amran. Dia tidak berhasil ditangkap karena sudah lari,” jelasnya lagi.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Helvetia AKP Zulkifli Harahap mengatakan, tertangkapnya Sopian berdasarkan informasi dari masyarakat yang mengatakan ada sesorang yang sedang melakukan transaksi narkoba.

Zulkipli menjelaskan dari hasil penangkapan tersebut pihaknya menyita barang bukti sabu-sabu seberat 3 gram dan uang sebesar Rp600 ribu. “Dia bukan mau membeli sabu, bagaimana dia mau membeli sabu-sabu 3 gram, uangnya saja tidak cukup. Tapi dugaan, dia lah yang memiliki sabu-sabu itu,” ucapnya.

Mengenai pengakuan Sofian bahwa dia adalah kibus Poldasu, Zulkifli mengaku tidak tahu. “Kita tidak tau kalau dia kibus Poldasu, karena sampai saat ini pihak Poldasu belum ada yang memberitau. Yang jelas, pelaku kita tangkap dan akan kita proses,” terangnya. (ris)

SPBU Dibobol, Rp48 Juta Raib

MEDAN- Kawanan pencuri membobol Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 14202149 di Jalan AH Nasution Medan, Senin (3/10). Akibatnya, Hektor P Surbakti (29), warga Jalan Jamin Ginting, Padang Bulan Medan, pengelola SPBU tersebut mengalami kerugian sekitar 48 juta.

Pencurian itu pertama kali diketahui Nova Peranginangin (26), karyawan Pembukuan SPBU. Saat itu, wanita yang tinggal di Jalan Jamin Ginting, Desa Pertampilan Dusun II, Pancur Batu itu mengecek pendapatan SPBU tersebut.  Namun saat hendak mengambil uang, ternyata tempat penyimpan uang tersebut telah rusak. Setelah diperiksa, uang Rp48 juta hasil penjualan minyak raib. Dengan wajah panik, Nova langsung melaporkan kejadian itu ke Hektor.

Panasaran dengan laporan anak buahnya, Hektor langsung mengecek lemari uang guna memastikan laporan karyawannya itu. Setelah dipastikan, Hektor malaporkan aksi pencurian tersebut ke Mapolsekta Delitua. Sementara Kapolsek Delitua, Kompol SP Sinulingga Sik saat dikonfirmasi membenarkan aksi pencurian tersebut. “Kita masih melakukan penyelidikan,” ujarnya. (mag-7)

Kirim Sabu ke Penjara, IRT Ditangkap

MEDAN- Ernawati (24), warga Jalan Merpati, Medan Sunggal, ditangkap personel Polsekta Patumbak karena diduga sengaja ingin mengirimkan sabu-sabu kepada suaminya Hermansyah alias Man (29) yang berada di ruang tahanan Mapoldasu. Sebelum menangkap Ernawati yang sehari-hari sebagai ibu rumah tangga ini, polisi terlebih dahulu menangkap Suprianto alias Aseng (20), selaku kurir sabu-sabu tersebut, persis di depan pintu gerbang Mapolda Sumut, Minggu (2/10) kemarin.

Kanit Reskrim Polsekta Patumbak AKP Parulian Samosir men jelaskan, kronologis tertangkapnya kedua orang tersebut berawal ketika Suprianto alias Aseng hendak mengantar sabu ke Suherman di tahanan Mapolda Sumut atas suruhan Ernawati.

“Gerak-geriknya agak aneh, dari pandangan matanya saat bawa sepeda motor, seperti orang ketakutan, lihat kiri lihat kanan, kita curiga dan kita jegat. Saat digeledah, dia mau lari. Tapi berhasil ditangkap dan saat kita geledah  kita temukan sabu seberat 0,5 gram,” kata Parulian Samosir kepada wartawan, Selasa (4/10).

Dikatakannya, karena ketakutan, Aseng pun mengatakan kalau sabu-sabu tersebut dari Ernawati yang suaminya ditangkap petugas Narkoba Poldasu dua minggu lalu. “Dari keterangan Aseng, kita lakukan pengembangan,” ujar Samosir.(mag-5)

Gindo Kembali Jalani Pemeriksaan

MEDAN- Mantan Kadis Bina Marga Medan Gindo Maraganti Hasibun kembali diperiksa petugas Tipikor Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Sumut, Selasa (4/10). Pemeriksaan ini terkait kasus dugaan korupsi pengadaan alat berat senilai Rp2 miliar tahun anggaran 2009.

Dalam pemeriksaan di gedung Ditreskrimsus itu, Gindo datang bersama pengacaranya. Di ruang pemeriksaan, Gindo terlihat duduk dengan tenang dan sekali-sekali menjawab apa yang ditanya juru periksa. Hingga pukul 16.00 WIB, Gindo masih menjalani pemeriksaan.

Namun, informasi yang berkembang di Polda Sumut, walau sudah bersetatus tersangka, nasib Gindo berbeda dengan empat orang yang terkait kasus yang sama. Hingga kini Gindo belum ditahan, sedangkan keempat mantan anak buahnya yakni Ir Sudirman (Kuasa Pengguna Anggaran), Edy Zalman Syahputra ST MT (Ketua Panitia Lelang), Sangkot Siregar (Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan) dan Yursin Helmi Nasurtion (Sekretaris Panitia Lelang) telah ditahan.

“Ini pemeriksa lanjutan setelah ditetapkan sebagai tersangka. Sebelumnya dalam kasus ini telah ditahan 4 orang,” terang petugas yang ditemui Sumut Pos di gedung Ditreskrimsus Polda Sumut. Saat ditanya alasan tidak dilakukannya penahanan terhadap Gindo, petugas tersebut enggan berkomentar. “Tanya saja sama pimpinan,” ujar petugas tersebut.(mag-5)