25 C
Medan
Saturday, April 11, 2026
Home Blog Page 15008

Buang Kesan tak Nyaman

Jadikan Jalan Nibung Raya sebagai Kawasan Kuliner

Seluruh keluhan, tuntutan, dan masukan dari masyarakat diterima Wali Kota Medan Rahudman Harahap dengan lapang dada. Apalagi, jika aspirasi tersebut terkait dengan pembangunan yang menuju Medan sebagai kota metropolitan baru.

Beberapa aspirasi masyarakat yang ditampung di antaranya akses dan kualitas jalan, jembatan, drainase, ruang terbuka, tata arsip, dan pelayanan umum. Semua itu dikelola oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Dinas Bina Marga, Pertamanan, Kebersihan, dan Perhubungan.”Sudah saya terima semuanya. Memang, masih ada program-program kerja SKPD yang seharusnya sudah selesai, tetapi baru dimulai pelaksanaannya. Untuk itu, kepada Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), dan Pungguna Anggaran (PA) agar mengambil langkah nyata agar seluruh program yang telah ditampung dalam APBD dapat segera dilaksanakan,” ujar Rahudman kepada Sumut Pos, kemarin.

Rahudman menekankan kepada empat SKPD tersebut untuk meningkatkan respon seoptimal mungkin dan menindaklanjuti berbagai tuntutan masyarakat tadi. Tentunya, sesuai dengan sumber daya yang tersedia serta ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Terutama dengan Dinas Bina Marga, lanjut Rahudman, harus memiliki database jaringan jalan dan drainase yang lengkap agar nantinya dapat menyusun rencana program kerja dan anggaran yang lebih baik. Dinas Pertamanan agar menumbuhkan imej bahwa Kota Medan sebagai kota taman. Dinas Kebersihan agar melakukan koordinasi mulai tingkat SKPD, Camat, Lurah dan Kepling; hindari kesan seolah-olah sampah yang telah terkumpul oleh rumah tangga terlambat diangkut. Kemudian Dinas Perhubungan, jadikan Kota Medan yang informatif bagi semua orang, terutama informasi jalan dan arah tujuan, juga antisipasi kemacetan.

Selain itu, soal Medan sebagai kota yang plural, Rahudman pun berharap warga mampu mempertahankannya. “Kita telah banyak bersama-sama melakukan upaya nyata untuk menjaga kerukunan antarumat beragama, terutama dalam membangun kebersamaan, toleransi dan kecintaan antarkelompok masyarakat. Upaya-upaya itu selayaknya terus kita suarakan,” ucapnya.

Ditambahkannya, untuk menjadikan Kota Medan sebagai kota metropolitan baru, Rahudman Harahap sudah menyusun konsep yang akan mengubah lokasi di Jalan Nibung Raya, Kelurahan Petisah Tengah, Kecamatan Medan Petisah menjadi kawasan kuliner pada malam hari. Selain menjadikan kawasan itu ramai pada malam hari, juga untuk menghilangkan kesan yang tidak nyaman di lokasi itu selama ini. Sedangkan untuk para pengusaha show room mobil yang ada di kawasan itu harus memikirkan dan mencari tempat untuk pajangan mobilnya di pinggiran kota. “Ya, konsepnya sudah ada, tinggal dilaksanakan saja,” pungkas Rahudman. (adl)

Medan Butuh 1.500 CPNS

Formasi Penerimaan Pegawai Negeri TA 201

MEDAN- Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) saat ini masih digodok pemerintah pusat di Jakarta. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB) tengah menyusun komposisi penerimaan CPNS sesuai pengajuan dan pertimbangan lainnya.

Sekaitan dengan itu, Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pemko Medan mengusulkan 1.500 formasi ke pemerintah pusat. Pengajuan secara tertulis itu sudah dilakukan April 2011 lalu. “Berdasarkan kebutuhan, Pemko Medan mengusulkan 1.500 formasi,” ujar Amir Hamzah, Kabid Pengadaan BKD Pemko Medan, Senin (4/7) siang.

Dari pengajuan itu, formasi CPNS didominasi tenaga pendidikan dan kesehatan, kemudian tenaga teknis. ”Tenaga medis yang paling banyak diusulkan, untuk angkanya kita belum pasti,” ucapnya lagi.

Bila permintaan itu disetujui Kemenpan-RB, Pemko Medan akan langsung melaksanakan tahapan penerimaan CPNS 2011 yang jadwalnya sudah disusun. “Pemko Medan sudah melakukan persiapan awal, seperti penyusunan rencana formasi dan persiapan sarana dan prasarana,” ungkapnya lagi.

Amir mengimbau masyarakat Kota Medan untuk melakukan pendaftaran CPNS 2011 di tempat-tempat yang nantinya akan ditunjuk. “Soal tahapannya, sabar saja. Kita tunggu keputusan dari Menpan. Biasanya untuk waktu dan tempat pelaksanaan karena dikordinir dari Provinsi. Akan dilaksanakan secara serentak di Sumatra Utara,” cetusnya lagi.
Usulan kebutuhan CPNS formasi 2011 untuk Kota Medan ini tergolong fantastis, membengkak tiga kali lipat disbanding tahun sebelumnya dimana Pemko medan hanya mengusulkan 500 kursi CPNS. Usulan ini juga menjadi bagian kebutuhan CPNS se provinsi Sumut yang jumlahnya mencapai 29.198 orang dan menjadi provinsi ketuuh dengan usulan terbanyak se Indonesia. Selengkapnya lihat grafis.

Data dari Kemenpan-RB menyebutkan, dari usulan provinsi, kabupaten/kota itu, ada daerah yang pengajuannya paling banyak dan terkecil. Yang paling banyak adalah Kabupaten Tangerang mencapai 12.797 orang. Dan usulannya terkecil Provinsi Jambi yang hanya dua orang saja.

Total usulan kebutuhan pegawai di 2011 mencapai 665.518 orang. Angka yang sangat fantastis, mengingat jumlah PNS di Indonesia hanya sekitar 4 juta lebih. Itupun formasi yang kosong (karena PNS-nya pensiun, meninggal, dipecat, berhenti) setiap tahunnya hanya 150 ribu kursi. “Itu baru usulan. Angka pastinya pusat yang menentukan. Yang jelas, kuota CPNS tahun ini baik pelamar umum dan honorer kita upayakan maksimal 250 ribu orang saja,” kata Deputi SDM bidang Aparatur Kemenpan-RB Ramli Naibaho, Senin (16/5).

Terkait tingginya pengusulan CPNS ini, sejumlah pihak mengusulkan moratorium (penghentian sementara) penerimaan CPNS hingga batas waktu yang ditentukn kemudian. Diantara pihak yang setuju tersebut adalah Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) DPR RI. Hanya saja, khusus guru dan tenaga kesehatan, rekrutmennya masih diperlukan. Namun, F-PKB mendesak agar moratorium ini diikuti langkah lain, sebagai bagian dari upaya reformasi birokrasi.

“Moratorium rekrutmen CPNS itu hanya salah satu kebijakan yang semestinya diambil pemerintah dalam rangka reformasi birokrasi. Itupun harus dengan pengecualian, tidak termasuk rekrutmen guru dan tenaga kesehatan yang memang masih dibutuhkan”, kata Sekretaris FPKB DPR RI Moh Hanif Dhakiri di Gedung DPR Senayan, Jakarta, kemarin.
Reformasi birokrasi, menurut Hanif, bertujuan untuk menata-ulang birokrasi pemerintah agar lebih efektif dan efisien dalam memberikan pelayanan pada masyarakat. Untuk itu, katanya, diperlukan birokrasi yang gesit dan tangkas dalam melayani kebutuhan masyarakat.

Hanif menjelaskan, jika pemerintah serius hendak melakukan reformasi birokrasi, setidaknya ada empat langkah yang bisa diambil pemerintah. Pertama, pemberlakuan pensiun dini. Ini diperlukan untuk mendorong berlangsungnya regenerasi dalam jajaran birokrasi.

“Regenerasi birokrasi jangan sampai terhambat karena banyak perpanjangan masa tugas terlalu sering diberikan kepada birokrat senior. Kasih kesempatan buat yang muda dan berprestasi”, imbuhnya.

Kedua, moratorium rekrutmen CPNS dan tenaga honorer, kecuali untuk guru dan tenaga kesehatan. Ini penting untuk menjaga agar birokrasi tak terlampau gendut dan tak efektif. Rekrutmen guru dan tenaga kesehatan perlu dikecualikan karena banyak daerah seperti daerah-daerah tertinggal masih sangat membutuhkan.
Rekrutmen tenaga honorer, kata Hanif, juga perlu dimoratorium. Ini karena ada kecenderungan tenaga honorer dipakai sebagai instrumen kerja para birokrat dan pada gilirannya nanti akan juga menuntut untuk menjadi PNS karena memang tak jarang mereka lebih bagus kinerjanya dari birokratnya sendiri.

“Banyak laporan yang menyatakan bahwa yang bekerja itu ya tenaga honorer. Birokratnya tinggal nangani administrasinya saja. Ini kan seperti melaporkan pekerjaan orang lain”, tambah Ketua DPP PKB ini.
Terkait dengan tenaga honorer guru, Hanif mewanti-wanti agar pemerintah segera menyelesaikan CPNS sudah masuk pemberkasan. Baru setelah itu, tambahnya, perlu ditegaskan tak perlu lagi merekrut tenaga honorer. “Birokrat kan digaji untuk bekerja, bukan memerintahkan orang lain untuk bekerja,” sindirnya.

Ketiga, penerapan mekanisme reward and punishment. Hal ini, menurut Hanif, sangat penting untuk menguatkan orientasi kinerja para birokrat. Selama ini tidak cukup jelas perbedaan antara birokrat yang kinerjanya baik dengan yang tidak. “Tak heran jika PNS lalu menjadi pekerjaan sekali seumur hidup, tak peduli bagaimanapun kinerjanya. Ini yang membuat hampir semua orang ingin menjadi PNS,” terangnya.

Menurut Hanif, penerapan mekanisme reward and punishment, selain akan mendorong peningkatan kinerja birokrat, juga akan membuat iklim kompetisi kinerja di lingkungan birokrasi pemerintah makin hidup. Pada gilirannya juga akan mendorong perampingan birokrasi karena hanya yang kinerjanya baik saja yang akan bertahan.
“Kalau perlu kita bisa terapkan sistem reward and punishment seperti di lingkungan perusahaan swasta. Tujuh hari nggak masuk, misalnya, ya bisa langsung dipecat,” jelasnya.

Setelah ketiga kebijakan itu diambil, maka diperlukan satu kebijakan penting lagi, yaitu peningkatan kesejahteraan secara drastis. “Jika birokrat yang ada sudah ramping dan berorientasi kinerja semua, tinggal naikkan saja gaji mereka. Saya setuju kalau misalnya dinaikkan sampai tiga kali lipat,” imbuhnya.

Dengan demikian, kata Hanif, kinerja birokrat memperoleh sistem insentif yang baik. Hanif tidak setuju kalau perbaikan kesehatan birokrat dilakukan sebelum tiga kebijakan di atas dilakukan. Menurutnya, itu hanya akan menambah beban negara dan tidak sebanding dengan kinerja mereka yang masih jauh di atas standar.
Empat langkah di atas diyakini Hanif dapat memajukan proses reformasi birokrasi yang selama ini terkesan mandeg. Untuk itu juga diperlukan political will dari pemerintah dan DPR untuk merevisi undang-undang mengenai pokok-pokok kepegawaian negara.

“Salah satu muaranya ya undang-undang mengenai pokok-pokok kepegawaian negara. Itu harus direvisi agar reformasi birokrasi bisa berlangsung komprehensif,” katanya. (adl/sam)

CBD Polonia Tunggak Pajak Rp23,6 Miliar

MEDAN-Manajemen Central Bussines District (CBD) Polonia, Medan Polonia, menunggak pajak PBB dan BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan) sebesar Rp23.623.617.697 (Rp23,6 miliar). Tunggakan itu masing-masing PBB sebesar Rp1.941.029.497 dan BPHTB sebesar Rp21.682.588.200. Tak cuma itu, pusat bisnis yang memiliki 1.000 ruko (rumah toko) itu, status tanahnya juga tidak jelas.

Wali Kota Medan Rahudman Harahap saat ditanya wartawan koran ini mengenai tunggakan itu, Minggu (3/7), membenarkannya. Dia menyatakan, pihaknya sangat berkepentingan atas tunggakan itu karena berhubungan erat dengan peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).

“Mengenai BPHTB-nya. Kita tunggangi dahulu, kalau tidak, bagaimana kita mau dapat duit. Biar cengap-cengap dia membayarnya,” kata Rahudman sambil menirukan orang yang sedang tenggelam.

Dia mengatakan, manajemen CBD Polonia harus segera membayarnya. Kalau tidak dibayar, maka setiap bulan tunggakan akan semakin membesar. “Dengan begitu, CBD Polonia akan mengeluarkan biaya yang sangat besar. Itu kan berdasarkan NJOP (nilai jual objek pajak) nya,” tambahnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Sumut Pos, Senin (4/7), di Balai Kota Medan menyebutkan, pusat bisnis yang dibangun di eks Padang Golf Polonia itu berada di lahan yang masih dikuasai PT MMP. Lahan itu belum dipindahtangankan ke perusahaan lain. Hal ini sesuai keterangan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Medan, Muhammad Thoriq, kepada wartawan koran ini, Jumat (1/7). Dia mengatakan, sejauh ini belum ada permohonan untuk hak pengelolaan (HPL) untuk lahan tersebut.

Berdasarkan data tersebut, PBB lahan seluas 336.786 meter itu dengan Nomor Objek Pajak: 12.75.051.002.003-0002.0 tersebut, tidak dibayar selama empat tahun. Masing-masing tahun pajak 1994, 2003, 2010 dan 2011. Total tunggakan PBB-nya setelah ditambah dendanya mencapai Rp1.941.029.497.
Tak cuma itu, data yang dihimpun Sumut Pos juga menyebutkan, BPHTB CBD Polonia yang saat ini hampir rampung dibangun juga ditunggak. Tunggakannya mencapai Rp21.682.588.200. Angka tersebut didapat dari luas lahan (bumi): 336.786 meter x Rp1.274.000 (NJOP) diperoleh hasil Rp429.065.364.000. Selanjutnya luas bangunan: 4.800 meter x Rp968.000 diperoleh hasil Rp4.646.400.000. Hasil perhitungan luas bumi kemudian ditambahkan dengan hasil perhitungan luas bangunan, dan diperoleh angka BPHTB sebesar Rp433.711.764.000. Angka tersebut (Rp433.711.764.000) kemudian ditambah variabel Nilai Pajak Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NOPTK) sebesar Rp60.000.000, sesuai ketentuan. Hasil pertambahan angka itu mencapai Rp433.651.764.000.

Untuk mendapatkan total nilai BPHTB, angka Rp433.651.764.000 kemudian dikalikan variabel 5 persen. Didapatlah angka tunggakan BPHTB CBD Polonia sebesar Rp21.682.588.200. “Jadi tunggakan PBB dan tunggakan BPHTB CBD kalau dijumlahkan mencapai Rp23,6 miliar lebih. Nama saya jangan ditulis ya bang, biar Pak Wali aja yang ngomong. Uang yang ditunggak itu hak kita, tapi secara legal yang punya hak aktif melakukan penagihan adalah BPN,” ujar pejabat di Balai Kota Medan tersebut.

Di tempat terpisah, Kepala BPN Medan Muhammad Thoriq mengaku tidak bisa melakukan penagihan BPHTB. Pasalnya, manajemen CBD Polonia atau manajemen PT MMP tidak ada mengajukan permohonan HPL (hak pengelolaan) atas lahan eks Padang Golf tersebut. Saat didesak lagi, Muhammad Thoriq memastikan, tidak ada permohonan HPL atas lahan tersebut. Artinya, status tanah tempat berdirinya CBD Polonia sama sekali tak jelas. “Permohonan HPL tak ada. Untuk CBD Polonia, sama sekali belum ada HPL-nya, “ tegasnya.

Sekda Medan Syaiful Bahri menambahkan, manajemen CBD Polonia memang sama sekali belum membayar tunggakan BPHTB dan PBB. “Bila tidak segera dibayar, nanti akan semakin tinggi pembayaran pajaknya,” katanya. Dia mengatakan, tunggakan BPHTB memang tak bisa ditagih kalau tak ada HPL nya. “Bila nanti BPHTB sudah ada, CBD diharuskan membayar. Karena biaya BPHTB tidak akan turun,” ucapnya.

Pembayaran BPHTB diatur dalam UU No 20/2000 tentang BPHTB yang menyebutkan, setiap adanya penjualan atau pengalihan atas kepemilikan tanah. Maka, diwajibkan pembayaran BPHTB yang disesuaikan dengan tempat dan luasnya. Penelusuran wartawan koran ini, pihak developer menjual kepada calon pemilik hanya berdasarkan surat kuasa saja. Selanjutnya, para pembeli inilah yang nantinya dibebankan membayar BPHTB dengan sistem dari pemilik tanah awal ke pembeli rumah. Praktik inilah yang dipakai oleh PT CBD Polonia untuk menghindari pembayaran BPHTB.

Untuk mengonfirmasi persoalan tersebut, wartawan koran ini Senin pagi (4/7), meluncur ke Kantor CBD Polonia di Jalan Ade Irma Suryani, persisnya di sebelah Kantor PTPN IV. Wartawan koran ini langsung dihadang petugas sekuriti. Kepada petugas sekuriti berpakaian kemeja warna cokelat dan celana keeper warna hitam, wartawan koran ini mengutarakan maksud dan tujuan. Namun wartawan koran ini tak diperkenankan masuk, dan diminta langsung menemui pimpinan CBD Polonia di lokasi proyek di Jalan Padang Golf Polonia. “Kalau mengenai itu, langsung saja ke lapangan bang. Di kantor tidak ada orang,” katanya ketus. Padahal di halaman kantor tersebut banyak mobil terparkir. Wartawan koran ini tetap bertahan dan meminta diperbolehkan masuk atau dipertemukan dengan manajemen untuk upaya konfirmasi, namun tetap diarahkan ke lokasi proyek.

Mengikuti saran petugas sekuriti tersebut, wartawan bergegas menuju lokasi pembangunan CBD Polonia. Namun di lokasi proyek tidak ada orang yang bersedia memberikan penjelasan, semuanya mengaku pekerja. Di kantor pemasaran yang ada di lokasi, wartawan koran ini hanya bertemu dengan seorang petugas marketing. Pria yang memakai kemeja hitam tersebut, tetap tak bersedia menyebutkan nama saat didesak. Dia juga mengaku tidak tahu-menahu dengan tunggakan pajak CBD Polonia.
Dia kemudian menyarankan wartawan koran ini untuk bertanya di Kantor CBD Polonia, Jalan Ade Irma Suryani. “Ke kantor aja bang, kami nggak ngerti soal itu. Bos-bos proyek ini jarang kemari. Mereka hanya di kantor dan sekali-sekali melakukan kunjungan kalau ada keperluan,” katanya. Akhir pekan kemarin, wartawan koran ini juga bolak-balik dari lokasi proyek ke Kantor di Jalan Ade Irma Suryani. Namun tak satupun yang bersedia dikonfirmasi.
Sejak awal pembangunan CBD Polonia juga menimbulkan kisruh dan protes dari berbagai pihak, termasuk DPRD Medan, sebagaimana diberitakan koran ini sejak pertengahan hingga akhir tahun 2010. Surat Izin Mendirikan Bangunan (SIMB) yang dikeluarkan Pemko Medan saat itu diributi banyak pihak. Pasalnya, SIMB dikeluarkan sementara permohonan HPL belum dilakukan manajemen CBD, dan BPHTB belum dibayar.

Seharusnya SIMB dikeluarkan setelah status tanah jelas dan BPHTB telah dibayar. SIMB CBD Polonia saat itu dikeluarkan saat Gubsu nonaktif Syamsul Arifin menjadi penjabat Wali Kota Medan. Saat itu proses Pilkada Medan sedang berlangsung. Dengan SIMB No. 648.1/1157K tersebut, manajemen CBD Polonia kemudian melakukan pendirian bangunan.
Saat itu, Kadis Tata Ruang Tata Bangunan (TRTB) Qamarul Fatah mengatakan, SIMB tersebut hanya sebatas register. Izin secara penuh akan dikeluarkan pihaknya bila BPHTB telah dibayar. Namun hingga kini pembangunan hampir selesai, Pemko Medan tidak ada melakukan sanksi apapun. (adl)

KPK Telusuri Koneksi Nazaruddin-Ito

JAKARTA-Perkembangan kasus mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, M Nazaruddin kembali menyeret nama baru. Dia adalah Kabareskrim Polri Komjen Pol Ito Sumardi. Jenderal bintang tiga yang dua hari lagi resmi pensiun itu disebut dalam sebuah memo yang ditemukan KPK saat menggeledah kantor Nazaruddin April lalu.
Penggeledahan itu merupakan pengembangan penyidikan kasus suap Sesmenpora Di Gedung Tower Permai, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, penyidik KPK menemukan catatan M Nasir, adik M Nazaruddin. Isinya, ada pengeluaran uang USD 50 ribu kepada Ito dan USD 30 ribu kepada Kanit IV Tindak Pidana Korupsi Kombes Jacobs Alexander Timisela.

Juru Bicara KPK Johan Budi mengatakan KPK bakal menelusuri informasi tersebut. Namun, dia terkesan mengelak jika disebut dugaan itu muncul setelah pihaknya melakukan penggeledahan. Sebab, Johan seperti tidak tahu mengenai hal itu. “Kalau ada data kuat, kami pasti menindaklanjutinya,” ujarnya.
Disinggung apakah KPK bakal berani memeriksa pejabat Polri, Johan mengatakan bukan itu masalahnya. Dia menyebut semua langkah yang dilakukan KPK berdasarkan data yang kuat. Apalagi, hingga saat ini diakuinya belum ada data yang masuk ke KPK terkait dana ke Ito.

“Bukan masalah berani dan takut, kalau ada data kami bergerak,” imbuhnya. Anehnya, terkesan tidak ada kordinasi yang baik antara petinggi KPK dengan penyidiknya. Sebab, dia mengaku belum mendapat laporan dari penyidik tentang penemuan memo itu.

Namun, dia mengakui jika Ito pernah datang ke KPK bersama beberapa petinggi beberapa waktu lalu. Namun, dia menjelaskan jika hal itu tidak ada kaitan apapun karena bagian dari koordinasi antar lembaga penegak hukum. “Soal datang ke KPK kan terkait koordinasi. Bukan hal yang baru,” jelasnya.

Dia menjelaskan, pertemuan Ito dengan wakil KPK yakni Deputi Penindakan KPK Ade Rahardja murni karena kasus yang ditangani polisi. Kebetulan, kasus yang ditangani korps Bhayangkara itu berkaitan dengan KPK. Salah satunya, kasus alat kesehatan yang ternyata sedang ditangani polisi.

Apalagi, kasus alat kesehatan yang kabarnya juga melibatkan Nazaruddin itu sudah ditangani polisi. Pertemuan itu, lanjutnya, tidak lebih dari bentuk support KPK termasuk sharing data yang dimiliki KPK kepada polisi. “Ini fungsi supervisi dan tidak hanya satu kasus yang dibahas,” tegasnya.

Nazaruddin memang disebut-sebut terlibat dalam korupsi pembangunan pabrik vaksin flu burung di Departemen Kesehatan senilai Rp700 miliar. Melalui perusahaan PT Buana Ramosari Gemilang, Nazaruddin juga diduga bermain dalam proyek pengadaan alat bantu Belajar Mengajar Dokter/Dokter Spesialis pada Rumah Sakit Pendidikan dan Rumah Sakit Rujukan Badan PPSDM Rp492 miliar pada 2010 silam.

Nah, memo berisi catatan pengeluaran uang itu diduga sebagai cara Nazaruddin mengalihkan penyidikan ke polisi. Dengan begitu, KPK tidak bisa menangani lagi.

Di Mabes Polri, Kabareskrim Komjen Ito Sumardi tegas membantah informasi itu. “Saya yakinkan dan catat baik-baik. Itu semuanya fitnah. Dulu saya juga pernah disebut terima uang Gayus, kenyataannya tidak ada,” katanya.
Ito menjelaskan, kasus di Kementerian Kesehatan sedianya telah ditangani Polri sejak tahun 2010 lalu. Kasus itupun telah ia koordinasikan dengan pejabat KPK. Namun ia mengakui bahwa penyelesaian kasus itu sempat tersendat lantaran penyidik polri masih terfokus pada penyelesaian kasus mafia pajak.

“Pada saat proses penyelidikan kasus ini, ada beberapa saksi yang kebetulan juga dipanggil KPK. Lalu saya ke KPK untuk melaporkan bahwa Polri telah menangani kasus ini. Sehingga oleh pejabat KPK disampaikan, kalau begitu silahkan ditangani polri. Selama ini kita selalu koordinasi dengan KPK,” katanya.

Ito mengaku siap diperiksa oleh PPATK maupun oleh internal Mabes Polri terkait informasi itu. “Kalau ada orang menulis catatan, siapa saja bisa. Yang jelas, demi Allah saya tidak menerima apapun,” kata mantan Kapolwiltabes Surabaya ini.

Kanit IV Tipikor Bareskrim Polri Kombes Jacobus Alexander Timisela juga membantah tegas informasi itu. “Saya diawasi oleh pimpinan dan yang paling utama diawasi oleh Tuhan. Saya punya kehormatan dan keluarga, semua itu fiotnah dan tidak berdasar,” katanya.(dim/rdl/jpnn)

Awas, Jangan Malah Swasta yang Keruk Keuntungan

Nasionalisasi Inalum 2013

JAKARTA-Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) mewanti-wanti Pemprov Sumut dan 10 pemkab/pemko yang berada di sekitar Danau Toba, agar tidak mudah dirayu pihak swasta untuk mendapatkan golden share saham PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) pasca 2013. Manajer Hubungan Eksternal KPPOD Robert Endi Jaweng mengatakan, tatkala yang menyediakan dana untuk pembelian saham adalah pihak swasta, maka nantinya posisi pemda akan sangat lemah.

“Ujung-ujungnya swasta, yang murni bisnis, yang akan mengeruk keuntungan, karena posisi pemda lemah,” ujar Robert Endi Jaweng kepada Sumut Pos di Jakarta, Senin (4/7). Pria asal Flores itu menanggapi  keinginan Jenderal TNI (Purn) Luhut B Panjaitan, yang melalui perusahaannya, PT Toba Sejahtera, telah menyiapkan US$ 700 juta atau setara Rp5,95 triliun (kurs Rp8.500 per US$) untuk mengakuisisi 58,88 persen saham PT Inalum. Keinginan mengakuisisi mayoritas saham yang selama ini dikuasai NAA itu nantinya akan dilakukan bersama-sama Pemprov Sumut dan 10 kabupaten/kota yang ada di sekitar Danau Toba.

Robert juga mengingatkan pemda agar tidak percaya begitu saja dengan iming-iming pemasukan PAD yang diterima pemda. Diingatkan, problem jatah saham yang diterima pemda selama ini, seperti kasus PT Newmont di NTB, adalah tidak adanya transparansi dan akuntabilitas terkait jumlah produksi dan keuntungan perusahaan. Dengan demikian, masalah berapa sebenarnya keuntungan yang mestinya masuk pemda, tidak pernah ada jaminan kepastian.
“Jangan sampai mengatasnamakan rakyat, mengatasnamakan pemda, tapi swasta yang itu-itu saja yang memonopoli, Bakrie, Luhut,” ujar Robert tegas.

KPPOD, sebagai lembaga yang intens memantau pergerakan investasi di daerah, lanjut Robert, memang mendorong pemda untuk mendapatkan saham dalam setiap investasi yang berada di daerah itu. Ini bertujuan agar pemda punya pendapatan besar untuk proses pembangunan daerah. “Karena rata-rata secara nasional, PAD itu hanya menyumbang 20 persen APBD,” terangnya.

Namun, lanjutnya, KPPOD mendorong pemda agar menggunakan instrumen BUMD untuk terlibat dalam pengelolaan sebuah perusahaan investasi. “Karena kalau BUMD, uangnya masuk pemda. Jika lewat BUMD, ada tanggung jawab ke publik. Itu yang kita dorong. Coba lihat Newmont, katanya divestasi oleh pemerintah, tapi siapa swasta di belakangnya? Itu-itu saja. Jadi, jangan menelikung negara, menelikung pemda, tapi keuntungan masuk swasta,” terangnya mengingatkan.

Robert menilai, gampangnya pihak swasta yang punya kepentingan murni bisnis menggandeng pemda, lantaran koordinasi pemerintah pusat dengan pemda sangat buruk. Lagi-lagi, kasus divestasi saham Newmont disebutkan sebagai contoh. “Tatkala pemda merasa lemah berhadapan dengan pusat, maka swasta masuk. Berbeda jika koordinasi pusat-daerah bagus, maka swasta tak bisa masuk,” terangnya.
Namun diakui, pemda punya masalah pendanaan untuk membeli saham penyertaan. “Makanya, kalau pemda mau ikut, harus memastikan dulu dananya,” saran dia.

Ketua Fraksi PPP DPRD Sumut Fadly Nurzal meminta pihak yang berwenang dalam rencana pengambilalihan Inalum, tidak seenaknya saja melupakan Pemprovsu dan 10 kabupaten/kota di sekitar Danau Toba. “Setiap perusahaan atau institusi yang akan mengelola Inalum nantinya, harus memberikan dampak perkembangan perekonomian bagi Sumut dan 10 kabupaten/kota di sekitarnya,” tegasnya.

Terkait keinginan Luhut Panjaitan bekerja sama dengan pemprovsu dan 10 kabupaten/kota mengakuisisi saham NAA, Fadly Nurzal memberikan jawaban tegas. Dikatakanya, proses pengambilalihan Inalum nantinya jangan sampai melewati konsep perkembangan daerah. “Tinggal itu saja, persoalan ini jangan sampai melewati konsep perkembangan daerah,” tegasnya.

Ketua Fraksi Golkar DPRD Sumut Hardy Mulyono membeberkan, langkah pertama yang harus terus diperjuangkan adalah Inalum harus dikelola sepenuhnya oleh Indonesia. “Siapapun yang mengelola nantinya tidak masalah. Baik pemerintah maupun swasta. Yang terpenting adalah Inalum untuk kepentingan pembangunan di Sumut serta 10 kabupaten/kota lainnya. Karena dari perkembangan yang ada. Karena seperti yang saya baca, katanya PT Toba Sejahtera akan memberikan sumbangsihnya kepada Sumut dengan nominal relatif besar,” ungkapnya.

Sedangkan itu, Wakil Ketua DPRD Sumut Chaidir Ritonga lebih sepakat bila pemprov dan 10 kabupaten/kota yang menyediakan dana pengambilalihan saham konsorsium Jepang dimaksud.  “Saya yakin, pemprovsu dan 10 kabupaten/kota itu mampu menyediakan dana dalam rangka mengambil Inalum untuk share sahamnya,” ungkapnya.

Terkait rencana PT Toba Sejahtera, Chaidir Ritonga menyarankan untuk menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah melalui pokja pengambilalihan PT Inalum. “Tinggal tunggu, apakah pemerintah akan menyetujui atau tidak. Satu yang pasti adalah Inalum mesti diambil oleh Indonesia. Dan yang harus diperhatikan, ketika Inalum nantinya diambil Indonesia maka manajemen yang mengelola itu harus professional, akuntabel dan bertanggung jawab,” tegasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, hingga kini kelompok kerja (pokja) penyiapan pengakhiran Master Agreement yang tugasnya mempersiapkan pemutusan kontrak dengan perusahaan Jepang Nippon Asahan Alumunium (NAA), belum pernah membahas mengenai keinginan Jenderal TNI (Purn) Luhut Panjaitan untuk terlibat dalam pengelolaan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) pasca 2013. Pokja hingga saat ini masih berkutat melakukan kajian terhadap sejumlah opsi model pengelolaan Inalum pasca 2013 mendatang, termasuk siapa saja yang akan dilibatkan.
Namun, sudah ada sinyal kuat dari sejumlah petinggi di Jakarta, bahwa Pemprov dan 10 kabupaten/kota di sekitar Danau Toba, akan dilibatkan dalam pengelolaan INalum pasca 2013.

Ke-10 kabupaten/kota yang ada di sekitar danau Toba yakni Taput, Tobasa, Samosir, Humbahas, Simalungun, Karo, dan Dairi. Sedang tiga kabupaten/kota di bagian hilir Danau Toba yakni Asahan, Batubara, dan Kota Tanjung Balai. (sam/ari)

Wanita Sikat Rp40 M Duit Warga Johor

Modus Bisnis Alat Berat, Untung Besar

MEDAN-Setidaknya 30 warga Komplek Bumi Johor Sentosa Kecamatan Medan Johor ditipu seorang wanita berinisial DA (30), yang juga menetap di komplek tersebut sejak 5 tahun lalu. Tak tanggung-tanggung, DA berhail menyikat uang warga berkisar di atas Rp40 miliar lebih. Jumlah itu diperoleh DA dari puluhan “nasabah” nya, dengan jumlah bervariasi dari Rp200 juta hingga Rp7 miliar.

Modusnya, DA mengajak para “nasabah” nya untuk berinvestasi sebanyak-banyaknya, pada bisnis pengadaan alat-alat berat dengan iming-iming keuntungan yang berlipat ganda. Dan akan dicairkan pada bulan Juni 2011 ini, tepatnya tanggal 27 Juni lalu.

Salah satu korbannya adalah Juli. Dia mengaku menderita kerugian sebesar Rp800 juta.

Dirinya percaya dengan DA sebab suami DA merupakan saudara dari suaminya. Dan juga, penampilan dari DA sendiri terkesan merupakan pebisnis yang sukses.

“Saya percaya karena suami DA yaitu AH itu saudara dengan suami saya. Jadi saya pikir, tidak mungkinlah kalau dia itu penipu. Apalagi, DA mengaku bekerja di sebuah perusahaan pengadaan alat berat yang bonafit di daerah Jalan Krakatau dengan nama perusahaan T. Eh nggak tahunya, ternyata dia penipu,” ungkap Juli.

Dijelaskannya, berdasarkan sepengetahuannya terdapat dua orang yang telah menginvestasikan dananya sebesar Rp2 miliar, Rp7 miliar sebanyak 1 orang, Rp4 miliar sebanyak 1 orang, Rp2 miliar sebanyak 1 orang, dan puluhan lainnya berbeda-beda dari Rp200 juta hingga Rp1 miliar lebih.

“Pagi tadi, ada satu lagi pihak keluarga saya yang melapor bahwa dirinya juga telah ditipu sebesar Rp350 juta. Jadi mungkin, keseluruhannya tidak hanya Rp40 juta, tapi lebih lagi. Karena DA ini menjanjikan kepada semua orang itu, katanya cair bulan Juni ini setelah kembali dari Jakarta tanggal 27 Juni ini. Jadi, karena katanya seperti itu, maka semuanya ke bandara. Ternyata DA tidak balik. Setelah ditanya-tanya saat itu, banyak yang lainnya juga nunggu DA di bandara dan mengaku telah ditipu ratusan juta dan hingga miliaran,” terangnya.

Dibeberkannya, dirinya mengetahui kalau DA beserta suaminya telah pindah ke daerah Jabodetabek sekitar 14 April 2011 lalu. “Pergi ke Jakarta sekitar tanggal itu, dan baru pulang di bulan Juni. Itu pun perginya dari rumah saya yang di Setia Budi. Karena waktu itu, DA bilang dia sumpek tinggal di komplek Bumi Johor Sentosa, jadi mau tinggal di rumah saya di Setia Budi. Karena memang ada hubungan saudara, ya saya kasih saja,” bebernya.

Juli memang sempat merasa aneh dengan DA, namun keanehan itu pupus karena adanya hubungan saudara khususnya antara suaminya dengan suami Juli, ditambah lagi dengan penampilan dari DA yang elegan tersebut.
“Saya pernah minta diajak ke kantornya, tapi DA selalu beralasan. Akhirnya saya tidak pernah bisa datang ke kantornya. Salah seorang korban sudah melaporkan ini ke pihak kepolisian, tapi saya lupa di Polsek mana. Saya juga sudah kontak sama saudara saya yang polisi, dan katanya DA ini sekarang ada di kawasan Jabodetabek,” cetusnya.
Bagaimana ciri-ciri DA? Juli mengungkapkan, DA berperawakan tinggi sekitar 1,60 meter, berkulit putih, berambut pendek sekitar sebahu, memiliki tiga putra-putri, berwajah cantik, berbadan kurus berisi.

“Suaminya pengangguran, kalau DA ya itu tadi mengaku kerja di perusahaan alat berat,” paparnya.
Kasubbid Pengemban Informasi dan Dokumentasi (PID) Polda Sumut AKBP MP Nainggolan yang dikonfirmasi Sumut Pos mengenai hal itu di ruang kerjanya menyatakan, pihaknya baru bisa akan mengambil sikap dan tindakan jika ada laporan yang dibuat oleh korban.

“Kalau ada laporannya, baru polisi bisa mengambil sikap dan tindakan. Kalau tidak ada, bagaimana mau mengambil sikap dan tindakan,” terangnya.(ari)

Bisnis Buka Sekolah

Shireen – Zaskia Sungkar

Para selebriti ibu kota, tampaknya, mulai beramai-ramai melirik dunia bisnis. Tidak terkecuali dua bersaudara Shireen dan Zaskia Sungkar. Namun, bisnis yang dipilih bukan bisnis restoran atau butik seperti artis kebanyakan. Kakak beradik tersebut memilih bisnis sekolah taman kanak-kanak (TK).

“Yang lain kan buka restoran dan semacamnya. Belum banyak yang investasi sekolah. Jadi, setelah dapat pembelajaran dari Papa kita akhirnya terbuka bahwa selain bisnis, kita juga harus bersosial,” ujar Zaskia Sungkar ditemui bersama adiknya Shireen Sungkar di acara peresmian TK Khalifah di kawasan Bintaro kemarin (4/7).
Zaskia menuturkan, sejak dahulu dirinya dan Shireen sudah berencana membuka TK. Sebab, keduanya sama-sama menyukai anak kecil. Rencana tersebut pun sudah lama akan direalisasikan. Namun, rencana itu selalu tertunda karena mereka masih sibuk dengan karir masing-masing.

“Kami sama-sama sibuk, jadi diundur-undur dan baru sekarang terwujud. Padahal, pengen bukanya udah dari tiga tahun lalu,” ujar kekasih pesinetron Teuku Wisnu itu. Karena itu, mereka pun benar-benar serius dengan bisnis sekolah tersebut. Selain mengunggulkan fasilitas yang nyaman, mereka memilih guru-guru berkualitas.
“Kami memang sengaja membuat fasilitas yang kesannya hommy. Jadi, anak-anak juga betah. Kami juga nggak mau banyak-banyak murid. Satu kelas cuma 18-20 orang,” lanjut Zaskia. Mereka pun tidak sekadar mencari untung. Personel The Sister itu juga menyediakan peluang bagi anak-anak yang tidak mampu. “Kami adakan subsidi silang. Jadi, yang nggak mampu juga bisa sekolah di sini,” ujarnya.

Ketika ditanya soal biaya, keduanya sama-sama enggan menjawab jumlah nominalnya. Mereka hanya mengatakan biayanya tidak besar. Namun, jika bisnis tersebut berkembang, mereka akan membuka cabang. “Nggak besar kok. Dari kecil dulu, nanti kan bisa berkembang. Kalau bisa maju, baru kita buka lagi,”jelas Shireen.

Soal dukungan dari pasangan masing-masing terkait bisnis tersebut, keduanya menjawab, baik Teuku Wisnu maupun Irwansyah mendukung penuh. Bahkan, mereka kerap memberikan masukan.

Shireen pun sempat mengungkapkan keinginannya untuk mengadopsi anak karena dirinya sangat suka anak kecil. Hal tersebut diamini sang kekasih.

“Pinginnya dari kecil dari baby dan Wisnu juga pingin banget adopsi anak. Wisnu inginnya adopsi bayi laki. Jadi ingin banget adopsi anak kecil,” jelasnya.

Meski begitu, keinginan Shireen tersebut belum mendapat restu dari orang tua. “Belum diijinin, takut nanti nggak keurus karena aku kan sibuk,” imbuhnya. (ken/c2/any/jpnn)

Rogoh Rp4 Juta untuk Tempuh 1.600 Km

Menelusuri Jalan Tol termahal di Dunia yang Ada di Jepang (2-habis)

Meski tarifnya mahal, jalan tol di Jepang benar-benar bebas hambatan. Selain itu, jalan tol di sana juga sangat membantu penggunanya dalam mencari tujuan. Berikut lanjutan tulisan Imawan Mashuri, CEO JPMC (Jawa Pos Multimedia Corp), induk seluruh TV grup Sumut Pos, menelusuri jarak 1600 km di sela tugasnya menemui tv-tv partner di Jepang selama 9 hari.

TEROWONGAN maupun sungai-sungai dan jembatan, juga gampang dikenali di Jepang. Semua terukur, sampai luasannya. Dan terdata di GPS. Itu sebabnya membuat perluasan tidak mudah karena harus melewati prosedur mengubah data dan peraturan. Pemilik pabrik pemasok komponen alat berat komatsu, Tatebe Kanjiro di Kanazawa Selatan propinsi Ishikawa, memilih akan menghibahkan mesin-mesinnya saja ke melewati prosedur mengubah data dan peraturan.

Pemilik pabrik pemasok komponen alat berat komatsu, Tatebe Kanjiro di Kanazawa Selatan propinsi Ishikawa, memilih akan menghibahkan mesin-mesinnya saja ke Biru tua, adalah milik propinsi; agak mahal jaraknya lebih dekat, dan bertanda hijau ini yang termahal, jaraknya pendek, milik dan dikelola oleh daerah. Ketika lepas dari tol di Kochi menyeberangi pulau kecil Naruto yang terdapat kota Awaji -seperti Bali kecil yang terkenal dengan udangnya- jaraknya kirakira hanya 8 km, tarif tolnya 1800 yen, setara Rp. 180 ribu.

Ini tarif setelah kenaikan. Tol seperti ini sambung menyambung, berganti-ganti warna yang menandakan ganti wilayah, dan kalau kita tidak keluar, terus, maka lihat saja di palang pintu otomatisnya, tarifnya muncul. Kecepatan melewati tiap pintu tol adalah 20 km/jam, palang pintunya membuka otomatis, dengan kecepatan tidak sampai satu detik. Melewati pintu tol otomatis, tidak perlu membuka kaca.

Dari transponder tranducer yang terangkai dengan monitor di dalam mobil cukup untuk semuanya. Karena alat itu menunjukkan siapa pemiliknya dan berapa uangnya di bank yang disisihkan untuk bayar tol. Uang itu terdebet langsung dan otomatis terkurangkan untuk bayar tol. Enaknya “berlangganan” seperti ini, selain cepat, juga didiskon 30 persen.

Bisa juga yang langsung bayar, pengendara harus keluar ke jalur lain bertanda ETC (electronic true card). Cara ini lebih mahal 30 persen karena di sana memerlukan petugas jaga yang harus melayani. Menyetir mobil pun, di tol jepang tidak merasa lelah.

Selain jalur dan kecepatan selalu terukur dalam panduan GPS, jalannya pun terasa ikut menyetir, misalnya melepas setir untuk jarak yang lumayan panjang, mobil —yang spooring balancingnya bagus— tidak akan berbelok atau pindah jalur sendiri karena jalannya rata. Untuk tikungan pun, jalannya digarap sedemikian rupa sehingga mobil seperti bisa melaju sendiri mengikuti jalan. Hampir tidak bisa ditemui jalan menanjak atau menurun.
Mereka memilih membuat terowongan, menembus gunung dan bebukitan ketimbang memaksa jalan menanjak atau menurun. Rest areanya juga sangat memadai. Bersih, tentu saja, karena itu trade mark mereka. Klosetnya, tinggal tombol, semua menggunakan semprot otomatis dengan air hangat. Biliknya berjajar puluhan. Tersedia air minum dan teh hangat.

Restoran dan supermarket yang dibolehkan berjualan, terstandar. Beberapa di antaranya menggelar dagangan dari olahan hasil bumi setempat. Karena harus mendatangi sejumlah tempat di sejumlah kota yang berjauhan, saya berkesempatan menikmati tol yang tarifnya luar biasa mahalnya ini. Apalagi jika dibanding tarif tol Indonesia.
Saya menelusuri dari bagian tengah Jepang yaitu Osaka, terus menuju utara, agak ke barat, melewati jalur yang menghadap ke lautan pasifik, kembali ke tengah melalui jalur lain yang menghadap ke lautan baliknya yaitu Laut Jepang, terus ke selatan, menyeberang ke Pulau Shikoku, tembus ke pulau kecil Naruto, kembali ke Osaka. Total jarak yang saya tempuh dalam tujuh hari dari sembilan hari saya bertugas di jepang adalah 1997 km itu. Dari keseluruhan jarak perjalanan itu, membutuhkan 80 persen jalan tol atau sekitar 1600 km.

Kira-kira dari Surabaya menuju Jakarta lewat Selatan dan balik lagi ke Semarang melalui pantura, melewati beberapa tol negara, tol antar propinsi, serta tol daerah dan total biaya tolnya saja, 39.800 yen setara dengan Rp 4 juta. Sungguh tidak murah.

Pada awalnya masyarakat menggerutu atas kenaikan itu. Tapi pemerintah jalan terus. Penjelasan lewat semua media digencarkan. Ada count down di tv. Dan satu hari sebelum kenaikan tarif, yaitu tanggal 19 Juni, tepat hari minggu saat saya tiba di Osaka —dan memulai perjalanan ini— jalan tol sangat ramai.

Motor-motor besar di atas seribu cc ikut meramaikan bersama mobil-mobil beraneka jenis. Mereka bersama keluarga menikmati hari terakhir sebelum tarif tol naik. Rest area di bawah jembatan tol paling ramai, yaitu Setou Ohashi —yang menghubungkan Okayama di pulau Honsu dengan Kagawa di pulau Shikoku— dipadati pengunjung. Karena jembatan ini berdiri di atas selat Setou yang jaraknya 13 Km, dengan jembatan gantungnya 9,4 km dan dilatarbelakangi gunung Daisen. Mereka berfoto di sini sambil menyaksikan lalu lalang kapal-kapal berbagai ukuran.
Sesekali kereta api Sinkansen lewat. Besoknya, ketika tarif baru mulai diber lakukan, tol sepi. Tapi tiga hari kemudian tampak normal kembali. Lalu lalang mobil kembali tampak seperti biasa. Pemandangan di rest area terutama yang di bawah jembatan, hidup lagi. Di rest area jembatan Akashi Kaikyou Ohashi yang menghubungkan Awaji Shima dengan Akashi Shi di wilayah Hyogo Ken ramainya seperti di Setou Ohashi sehari sebelum tarif tol naik. Karena dari sini, dari dalam restoran royal yang lezat, tampak lekuk jembatan dan kota-kota nun di sana.

Tsuruno Keisuke, pengusaha yang banyak membantu pemagang asal Jatim bekerja di Jepang mengatakan, kenaikan tol ini memang mencekik. Tapi dia rela demi perbaikan dan kemajuan akan datang. Apalagi untuk kemanusiaan pasca bencana. Pria yang kerap ke Indonesia untuk menjembatani hubungan pengusaha antar negara ini mengaku tiap minggu mesti pergi ke Osa ka dari tempat tinggalnya di Hiroshima.

Dan pasti melewati tol sepanjang 400 km lebih sekali jalan. “Dengan fasilitas jalan dan rest area seperti ini, bolehlah. Yang penting kemudahan usaha tetap lancar,” tuturnya sambil menyeruput miso soup di royal restoran itu. Menurutnya, tol-tol di Indonesia sangat murah dan tidak kalah macetnya dengan jalan biasa. (*)

DPRD Cecar Pertamina

MEDAN-PT Pertamina diminta transparan menyikapi kelangkaan BBM bersubsidi yang berlangsung selama tiga minggu terakhir. Pertamina diminta tidak menjelma menjadi momok bagi masyarakat pengguna kendaraan di Sumatera Utara. Hal ini menjadi kesimpulan rapat dengar pendapat (RDP) Komisi B DPRD Sumut dengan PT Pertamina di Kantor DPRD Sumut.

Dimulai pukul 14.00 WIB, RDP diskor karena perwakilan Pertamina tidak mampu memberikan jawaban konkrit.
Sebelumnya, General Manager Fuel Retail Marketing (FRM) Region I Sumbagut PT Pertamina Gandhi Sriwidodo mempresentasikan permasalahan kelangkaan BBM bersubsidi yang terjadi tiga minggu terakhir.

Ia menjelaskan, kemungkinan yang menyebabkan kelangkaan BBM tersebut adalah tak lagi dipasoknya BBM kepada 14 SPBU di Sumut. Hal lain yang diungkapkannya, yakni banyaknya masyarakat yang tak berhak mendapatkan BBM bersubsidi namun turut serta menikmatinya. “Saat ini kita memang berusaha menekan tingkat over kuota,” terang Gandhi, Senin (4/7).

Karenanya, pihaknya berharap kepada pemerintah untuk anggaran tahun berikutnya BBM subsidi ini dinaikkan lagi sesuai hasil penelitian di lapangan. “Namun, menurut pengamatan kami, beberapa hari terakhir kelangkaan BBM di Sumut sudah jauh berkurang,” jelasnya.

Pertamina juga tak mau terlalu membebani masyarakat yang seharusnya memiliki hak untuk menikmati BBM subsidi ini terlalu dihimpit peraturan yang ketat. “Jadi saat ini kita memperbolehkan masyarakat mengisi maksimal dua jerigen (40 liter, Red). Namun, masyarakat yang dimaksud adalah UKM atau masyarakat yang telah mendapatkan verifikasi,” tutur Gandhi.

Pada rapat tersebut, Wakil Ketua Komisi B DPRD Sumut Guntur Manurung menjelaskan, Pertamina harus mampu menjelaskan alasan yang paling prinsipil tentang kelangkaan BBM.

Sekretaris Komisi B DPRD Sumut Syahrial Harahap menceritakaan saat berangkat dari kampungnya menuju ke Medan mendapati banyak SPBU yang menjual BBM dengan harga Rp6.500 per liter. “Kampung saya si Sawit Seberang, saat menuju ke Medan saya mendatangi SPBU dan mereka menjual BBM dengan harga Rp6.500. Sesuai pemaparan PT Pertamina, tak masuk akal jika pasokan BBM subsidi yang didistribusikan ke SPBU melebihi kuota. Jika sesuai kuoa, tentunya mereka tak akan berani menaikkan harga,” tegasnya.

Selain itu, menurut Syahrial, PT Pertamina tak melakukan pengawasan yang baik. “PT Pertamina seperti lepas tanggung jawab setelah melepas minyak,” katanya.

Ia juga menceritakan, warga Sei Lepan yang berjarak sekitar 40 km lebih dari SPBU terdekat akan semakin kesulitan mengembangkan usaha dan terkait hal ini PT Pertamina sudah bisa dianggap tak mendukung program pemerintah tentang ketahanan pangan Nasional.

Lain lagi cerita anggota Komisi B DPRD Sumut yang satu ini, Ramli, ia menceritakan, dari Sidikalang, ia mendapati 7 SPBU yang sudah sekitar 17 hari tak dipasok BBM. “SPBU kedelapan yang saya temui mengatakan, di SPBU tersebut selalu mendapatkan pasokan BBM yang cukup. Hal ini membuktikan PT Pertamina tak menjangkau daerah terpencil. Sama halnya dengan daerah Sei Lepan tadi, dengan adanya hal ini jelas PT Pertamina tak mendukung program pemerintah tentang ketahanan pangan Nasional,” katanya.

Ada juga anggota Komisi B DPRD Sumut yang berani menyatakan pasti ada indikasi penyelewengan pendistribusian pasokan minyak dari PT Pertamina ke SPBU. “Ada indikasi kelangkaan BBM ini disebabkan PT Pertamina melakukan kong-kalikong. Misalnya dari PT Pertamina didistribusikan 20 kilo liter, yang sampai ke SPBU hanya 10 kilo liter dan sisanya dijual ke industri untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Tentunya, sebelumnya ada intimidasi dari PT Pertamina terhadap SPBU agar tak meributi hal ini,” tegas Tohonan dari Fraksi PDS.

Sekira pukul 17.00 WIB, rapat ditangguhkan karena tak menemukan jawaban konkrit dari pihak PT Pertamina. Rapat diskor, dan pada rapat lanjutan diharapkan agenda RDP dapat mendatangkan BPH Migas, Hiswana Migas, perwakilan SPBU, Kadin mewakili perushaan atau industri dan PT Pertamina. (saz/mag-15)

Marinir Tembaki Pangkalan Militer, Empat tentara Tewas

SEOUL -Insiden penyerangan sebuah pangkalan militer terjadi di Korea Selatan (Korsel), Senin (4/7). Pelakunya adalah seorang marinir berusia 19 tahun dan berpangkat kopral. Tanpa diketahui awal mulanya, prajurit tersebut menembakkan senjata secara membabi buta ke arah rekan-rekannya. Lantas, setelah aksinya itu, dia berupaya bunuh diri dengan meledakkan granat tangan yang dibawanya.

Empat tentara tewas seketika dalam insiden itu. Seorang marinir lainnya terluka. Sedangkan nyawa pelaku selamat meski dia mengalami luka.

Militer Korsel masih menyelidiki latar belakang aksi kopral marinir 19 tahun itu. Pihak berwenang hanya mengidentifikasi pelaku dengan nama depan Kim.

Juru Bicara Korps Marinir Korsel, Kim Tae-Un mengungkapkan saat itu Kim melancarkan tembakan secara membabi buta di sebuah barak militer di wilayah dekat perbatasan dengan Korea Utara (Korut).  Tepatnya, barak korps marinir itu berada di Pulau Ganghwa, pulau kecil di muara Sungai Han di pantai sebelah barat dan terpisah dari Gimpo (daratan Korsel), atau berjarak sekitar 60 km barat Seoul.

Menurutnya, korban tewas adalah seorang tentara yang berpangkat sersan kepala dan tiga marinir lainnya. Selain pelaku, korban luka adalah seorang marinir berpangkat prajurit. Keduanya telah dilarikan ke rumah sakit.
™Setelah menembak dengan senapan serbu K-2 (buatan Korsel), kopral itu ditemukan terluka di tempat yang terpisah. Di lokasi itu dia melepaskan detonator granat tangan yang dibawanya sehingga meledak,” terangnya. Tak diketahui berapa kali pelaku melepaskan tembakan. Namun, Kim Tae-un menuturkan bahwa personel marinir di unit itu secara normal mengisi magazin senapan dengan 15 peluru. Sejauh ini luka yang dialami pelaku dan seorang prajurit lainnya tidak membahayakan.

“Kami harus menunggu sampai dilakukan investigasi untuk mendapat kejelasan dari kasus tersebut,”katanya. “Begitu pelaku pulih, penyelidik kami akan melanjutkan tugasnya,” tambahnya.
Seorang saksi mata dari kalangan warga setempat, Lee Yong-soo, bercerita kepada kantor berita Yonhap bahwa dia tiba-tiba mendengar suara rentetan tembakan. Selanjutnya, empat tentara yang hanya mengenakan pakaian dalam lari meninggalkan barak.

“Mereka lari sekencang mungkin untuk menghindar  ,”ujarnya.
Insiden penembakan tersebut memunculkan polemik dan pertanyaan soal standard disiplin yang diterapkan pada 650 ribu personel militer Korsel. Ada banyak laporan soal keluhan tindakan kejam dan pelecehan yang dilakukan oleh tentara Korsel yang lebih senior kepada para yuniornya. Korsel  menerapkan aturan wajib militer bagi warga sipil selama dua tahun.

Itu bukan kali pertama muncul insiden pada kalangan militer Korsel. Delapan tentara Korsel tewas dan dua yang lain luka serius pada 2005 ketika seorang personel militer melemparkan granat dan melepaskan tembakan membabi buta kepada rekan-rekannya yang sedang tidur di barak. (afp/cak/dwi/jpnn)