26 C
Medan
Saturday, April 11, 2026
Home Blog Page 15119

Ditipu Makelar, Negara Rugi Rp8,5 Miliar

Dugaan Korupsi Merpati Airlines

JAKARTA- Kejaksaan Agung (Kejagung) perlahan mulai menemukan indikasi korupsi di PT Merpati Nusantara Airlines. Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (JAM Pidsus) Jasman Panjaitan mengatakan, ada unsur kerugian negara hingga USD 1 juta atau sekitar Rp8,5 miliar.

“Sudah jelas ada kerugian negara USD 1 Juta. Tapi untuk adanya tindak pidana atau belum, kami belum tahu karena harus mencari unsur perbuatan melawan hukum,” kata Jasman di gedung Kejagung kemarin (8/7).

Dia menuturkan, pada 2007 Merpati menyewa dua pesawat MA-60 dari perusahaan makelar pesawat terbang asal Amerika Serikat. Dua pesawat tersebut disewa untuk dijajal dulu sebelum akhirnya benar-benar dibeli dengan ongkos sewa masing-masing pesawat sebesar USD 500 ribu. Namun, setelah duit dibayarkan, broker pesawat itu tidak pernah menyerahkan burung besi yang dijanjikan.

“Duit sudah dibayarkan, tapi pesawat tak pernah didatangkan,” katanya. Jasman menambahkan, saat ini pihaknya masih menyelidiki bagaimana praktik wanprestasi broker pesawat itu bisa terjadi. Karena itu, mereka menyelidik proses penyewaan dua pesawat itu.

Mulai dari tender, persetujuan, pihak-pihak yang bertanggungjawab, hingga pencairan dana sewa. Kejagung saat ini juga memprioritaskan supaya duit USD 1 juta itu bisa kembali ke kas negara.
Wakil Jaksa Agung Darmono juga mengakui, ada indikasi ketidakhati-hatian dari direksi Merpati hingga bisa kecolongan duit Rp8,5 miliar. “Kami akan terus periksa pihak-pihak yang berkaitan. Bisa saja ada arah ke sana, tapi kami belum tahu karena pemeriksaan masih terus berjalan,” katanya.

Seperti diketahui, Kejagung mulai serius menangani dugaan korupsi di Merpati setelah salah satu pesawat MA-60 jatuh di Papua yang menewaskan seluruh penumpangnya. Jajaran JAM Pidsus fokus menyelidiki penyewaan terlebih dahulu, baru kemudian pengadaan pesawat. Audit sedang dilakukan BPKP untuk menelusuri kerugian negara dalam pengadaan pesawat.(aga/nw/jpnn)

Polda Sumut Selidiki Pernyataan Wali Kota Siantar

MEDAN- Pernyataan Walikota Pematang Siantar, Hulman Sitorus yang mengaku sebagai penjudi, menarik perhatian Polda Sumut. Pernyataan itu akhirnya dijadikan catatan dan bahan penyelidikan terkait kasus perjudian dilakukan staf  khusus Wali Kota tersebut. Hal itu dikemukakan Kasubbid Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PID) Humas Polda Sumut, AKBP Nainggolan kepada wartawan, Jumat (8/7) di Mapolda Sumut.

“Semua itu perlu pembuktian. Polisi tidak bisa menjadikan seseorang sebagai tersangka tindak pidana tanpa adanya alat bukti. Kendati demikian, pernyataan tersebut akan dijadikan catatan dan bahan penyelidikan. Sebab, polisi tidak pernah memandang bulu dalam menegakkan hukum. Siapapun dia, tidak terkecuali, kalau memang terbukti melanggar tindak pidana, pasti kita sikat,” tegas Nainggolan
Terkait kinerja Polresta Pematang Siantar yang tidak tebang pilih dalam pemberantasan segala tindak pidana, terutama perjudian mendapat dukungan Kapolda Sumut Irjen Pol Drs Wisjnu Amat Sastro.
“Kita dukung, kita sangat mendukung upaya pemberantasan praktik judi yang dilakukan Kapolresta Pematang Siantar. Judi merupakan skala prioritas, tidak bisa main-main,” tegas Nainggolan menirukan pernyataan Kapolda Sumut.

Dijelaskannya, sampai saat ini, staf ahli Walikota Pematang Siantar, Eliakim bersama anggota DPRD Pematang Siantar dan tersangka judi lainnya, telah ditahan dalam sel. Penahanan anggota DPRD Siantar tersebut, tidak perlu meminta izin kepada pihak terkait, karena tertangkap tangan sedang berjudi. “Untuk apa minta izin, itukan sudah jelas, karena tersangkanya tertangkap tangan sedang berjudi. Salah dia lah,” tukas Nainggolan.

Menurut Nainggolan, Kapolda sangat mendukung kinerja Kapolresta Pematang Siantar dalam memberantas praktik judi.(ari)

Mobil Box Dimaling, Rp268 Juta Raib

TEBING TINGGI- Mobil box BK 9602 BI milik PT Suryamas Perkasa yang diparkir di Hotel Safari, Jalan Gatot Subroto, Kota Tebing Tinggi, dibawa kabur kawanan maling, Jumat (8/7) sekira pukul 04.30 WIB.

Mobil perusahaan rokok itu, ditemukan di kawasan persawahan, Jalan AMD, Kelurahan Bulian, Kecamatan Bajenis, Kota Tebing Tinggi, dengan kondisi kosong. Mobil itu pertama kali ditemukan Efendi (41) warga Bulian. Atas temuan itu, Efendi mengadukannya ke Mapolres Tebing Tinggi. “Pagi itu sekitar pukul 04.30 WIB, ku lihat ada mobil box di pinggir jalan dekat persawahan, saya kira pemilik mobil dirampok. Makanya saya lapor ke Polres,” jelas Efendi.

Mendapat imformasi warga, anggota Mapolres Tebing Tinggi turun kelokasi kejadian. Setelah diperiksa, isi dalam mobil box telah habis dan di bangku supir, hanya terdapat kartu nama, bon faktur penjualan, STNK dan surat penting lainnya.

Saat mobil box hendak diamankan ke Mapolres Tebing Tinggi, Budi Prakoso, supir mobil datang. Saat diperiksa di Mapolres Tebing, Budi mengatakan, akibat kejadiaan itu, pihak PT Suryamas Perkasa, menderita kerugian Rp268 juta, atas hilangnya 150 kardus rokok dan uang kontan hasil penjualan Rp37 juta.

“Semuanya habis dicuri pelaku (maling), hanya dua sepatu kerja, kertas karton dan surat-surat kendaraan yang tidak diambil pencuri itu,” kesal Budi.
Waka Polres Tebing Tinggi Kompol Safwan Khayat, ketika dikonfirmasi mengatakan, sejauh ini pihaknya masih memintai keterangan supir. “Ini murni pencurian  dan pelakunya masih diburu,” kata Safwan.(mag-3)

Tak Mau Berdamai, Ucok Ditikam

LUBUK PAKAM- Yurhiansyah Nasutioon alias Ucok Tonjol (35), warga Jalan Mesjid II, Perumahan Surya Harmoni, Desa Sekip, Lubuk Pakam, mengalami luka tusuk dibagian lengan kanannya akibat ditikam IR (27), warga Gang Ampera, Desa Sekip, Lubuk Pakam, Kamis (7/7) pukul 14.00 WIB, di halaman Dinas Koperasi dan UKM Deli Serdang.

Menurut korban ketika dikonfirmasi, Jumat (8/6) , mengatakan, peristiwa itu terjadi saat dia mendengar suara keributan di kantor Dinas Cipta Karya dan Pertambangan Deli Serdang. Lantas korban mendatangi lokasi memastikan keributan dimaksud. Belum sempat melihat keributan tadi, dia didatangi IR dan memukulnya. Atas kejadian itu, pelaku meminta korban untuk berdamai, tapi korban menolaknya, hingga terjadi penikaman.

“Masak mau berdamai main paksa. Ya saya tidak mau, tapi IR langsung menusuk saya dengan sebilah pisau,” terang Ucok, . (btr)

Jika Terpilih, Biasanya Sesuai Peraturan

Polemik Usulan Terus Berlanjut Jelang Sekdaprovsu Didefenitifkan

Polemik yang terjadi pada permasalahan Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara (Sekdaprovsu) yang hingga saat ini belum kunjung defenitif terus saja menarik perhatian berbagai kalangan. Baik pengamat politik hingga pejabat-pejabat di pemerintahan. Pasalnya, sangat banyak pekerjaan yang harus dikerjakan oleh Sekda defenitif.

Pengamat politik sekaligus pemerintahan Sumut Ridwan Rangkuti menjelaskan, siapa pun yang diajukan dan yang mengajukan, menurutnya sudah melalui jalur yang benar dan orang-orang yang diajukan tentunya memiliki standar yang sesuai dengan kebutuhan pemerintahan di Sumut.

Ridwan juga mengungkapkan, sebelumnya Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri Djohermansyah Djohan juga sudah mengutarakan, Tim Penilai Akhir (TPA) telah menyeleksi tiga calon dari Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho, yakni Kepala Inspektorat Sumut Nurdin Lubis, Kepala Badan Pendidikan dan Latihan Mangasing Mungkur dan Kepala Badan Promosi Investasi Salman Ginting. “Mereka sudah menjalani fit and proper test pada 28 Juni lalu, sekarang sudah dilanjuti di TPA. Kalau TPA setuju dan sudah berkoordinasi dengan BIN, Kepres keluar, baru ada Sekda Provsu yang defenitif,” terangnya.

Menurut Ridwan, apa yang dilakukan Plt Gubsu sudah sesuai dengan mekanisme. “Plt Gubsu sejatinya tak memiliki kewenangan mengajukan kembali tiga nama. Namun, saat itu memang ada celah yang dapat dimanfaatkan dalam menyampaikan usulan ketiga nama itu. Tentunya dengan berkonsultasi terlebih dulu dengan Kemendagri apabila memang sangat urgen. Dan, itu memang dilakukannya,” tuturnya.

Saat ditanya siapa yang lebih berkompeten menjabat Sekdaprovsu, Ridwan menjabarkan beberapa pendapat. “Kalau dijabarkan melalui pengalaman jabatan saya akan memilih Nurdin Lubis, karena sebelumnya dia juga pernah menjabat Sekda di Labuhan batu. Selain itu dia juga sempat menjadi Sekwan di DPRD Sumut dan menjadi anggota Inspektorat Sumut,” paparnya.

Namun, sambungnya, yang menjadi sedikit kendala adalah masalah umur. Karena menurut Ridwan, Nurdin sudah dekat dengan masa pensiun. “Tapi, jika memang terpilih, biasanya atau sesuai peraturan, penundaan masa pensiun bisa dilakukan selama dua tahun lagi,” katanya.

Sementara itu, Ketua Fraksi PKS DPRD Sumut Hidayatullah berpendapat lain. Menurutnya, ketiga calon yang diusulkan Plt Gubsu sebagai Sekda Provsu sama-sama memiliki kemampuan dan kompetensi yang sama baiknya. “Kalau ditanya siapa yang dijagokan, itu tak bisa saya jawab. Biar TPA yang nantinya mencarikan hasil dan memberikan jawabannya kepada kita. Kita tinggal tunggu saja. Kita hanya berharap itu bisa secepatnya dilakukan, agar stabilitas pemerintahan di Sumut ini bisa berjalan seperti biasa,” terangnya.

Sedangkan Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumut Budiman Nadapdap berpendapat lain. Menurutnya, Plt Gubsu tak punya etika karena menimpali tiga nama usulan Sekda Provsu dari Syamsul Arivin yang statusnya pada saat itu masih sebagai atasannya. “Dan yang paling saya soroti adalah, apa sebenarnya motivasi Plt Gubsu melakukan hal itu? Apa dia tak menghargai Syamsul?” tegasnya.

Saat ditanya siapa yang paling layak untuk menjabat Sekda Provsu dari masing-masing usulan yang diajukan Syamsul maupun Gatot, Budiman tak mau menjawab. “Saya tak mau menyikapi siapa yang lebih berkompeten secara personal. Tapi saya lebih mengkritisi apa yang sudah dilakukannya itu,” ujarnya lagi.

Sebelumnya, Gubsu nonaktif Syamsul Arifin telah mengirimkan tiga nama, yakni Kepala Dispenda Sumut Sjafaruddin, Kepala Disdik Sumut Syaiful Syafri dan Kepala Dinas Perkebunan Sumut yang saat itu menjabat sebagai Bupati Madina Aspan Sofian Batubara. (saz)

Dian AP Harahap Usung Budaya

MEDAN-Tidak cuma mempertahankan gelar Juara I Overall yang diraih di serie I Langkat North Sumatera Rally Championship 2011, Dian AP Harahap juga mempromosikan nuansa tradisi yaitu Batak.

Hal itu dengan memasang corak ulos (kain tradisional khas Batak) di bahagian depan mobil Mitsubishi Lancer Evolution VIII andalan di Grup N-4. Hal itu pun sudah dilakukan saat turun di Dawean Sprint Rally 2010 lalu.

Ketika itu pengagum pereli Citroën World Rally Team Sebastian Loeb ini keluar sebagai Juara I. Meninggalkan pembalap nasional Suban Aksa dan Rifat Sungkar. “Rencana untuk turun di Kejurnas Makasar yang dibatalkan itu,” kenangnya.

Dian AP Harahap sendiri mengawali karir di otomotif pada 2004 saat turun di kelas N-16 dengan mobil Toyota Corolla dan meraih juara III. Di 2006, bontot dari dua bersaudara ini turun di grup GR 2 dengan Toyota Corolla sebelum merambah Grup N-4 di tahun berikutnya.

Eksistensi itu pun diikuti dengan prinsip memberikan yang terbaik di setiap penampilannya. Terlebih dengan dukungan yang ada. “Belum tahu juga sampai kapan. Yang pasti saya akan berikan yang terbaik. Kita juga selalu terbuka untuk sponsor,” beber alumnus Komunikasi Universitas Sains Malaysia (USM) ini. (jul)

Siapkan Strategi

Medan Rally North Sumatera Championship 2011

MEDAN-Pembalap Net Motorsport Sriwijaya Rally Team Dian AP Harahap harus kerja-keras untuk ‘Medan Rally North Sumatera Championship 2011’ yang dilaksanakan 15-17 Juli ini. Hal itu mutlak dilakukan untuk mempertahankan gelar Juara I overall di Serie I-Langkat.

“Pastinya lebih sulit mempertahankan dibanding merebut gelar. Untuk itu perlu strategi yang matang disamping persiapan fisik. Mengingat peserta lain yang memiliki pengalaman lebih dari saya. Mau tidak mau saya harus tetap fight,” yakin Dian AP didampingi navigator Edwin Nasution dan Manager Tim Sofian Siregar yang ditemui di Barspeed, Kamis (7/7).

Hal itu siap diwujudkan dari persiapan yang digelar. Untuk prepare mobil Mitsubishi Lancer Evo VIII di Grup N-4 nanti, Net Motorsport Sriwijaya Rally Team menggandeng Barspeed dan tim mekanik milik pembalap nasional Rizal Sungkar, RFT. Ditambah lagi, turbo yang dipesan sudah dalam perjalanan. Dengan demikian empat Special Stages (SS) di Rambung Sialang yang berkarakter high speed dapat dilalui dengan baik. “Tapi saya akan control power mobil karena track high speed kadang menjebak,” ancang Dian.

Hal itu pun dibenarkan sang navigator Edwin Nasution. Dengan beberapa perubahan di sirkuit Cemara Abadi, strategi yang mapan sangat menentukan keberhasilan keduanya. Apalagi keberadaan Ijeck dan Dodi yang sarat pengalaman menjadikan lomba sebagai persaingan strategi. “Ijeck dan Dodi punya pengalaman lebih banyak. Jadi kita harus punya persiapan yang lebih baik dan itu baru bisa dilakukan saat shakedown nanti,” tambahnya.

Manager Net Motorsport Sriwijaya Rally Team Sofian Siregar optimis Dian AP Harahap/Edwin Nasution memperoleh point di serie II nanti. Meskipun hal itu diakui tidak mudah mengingat pengalaman di serie I Langkat. “Dari serie Langkat, kelihatan kalau kemampuan di grup N-4 berimbang dengan saling menimpa posisi di antara peserta. Namun semua itu akan membuat persaingan semakin seru di Medan Rally nanti,” tutur Sofian. (jul)

Maria Kristin tak Terbendung

SEMARANG— Peraih medali perunggu Olimpiade Beijing 2008, Maria Kristin Yulianti, melangkah ke babak perempat final kejuaraan bulu tangkis Russian White Nights International Challange di Gatchin, Rusia. Mantan pemain pelatnas ini menang 21-7, 21-8 atas pemain Ukraina, Natalya Voytsekh, untuk bertemu pemain Eslandia, Ragna Ingolfsdottir.

Mantan Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PB PBSI, Lius Pongoh, di sela-sela Sirkuit Nasional Bulu Tangkis Regional III di Semarang, Jumat (8/7), mengatakan, kalau melihat teknik, seharusnya Maria bisa mengalahkan Ragna.

“Saya tidak tahu persis kekuatan Ragna, tetapi seharusnya Maria bisa menang lawan dia,” kata juara Indonesia Open 1984 (saat di final mengalahkan Liem Swie King) tersebut.

Hasil positif juga diraih rekan setim Maria Kristin di PB Djarum Kudus, Fransiska Ratnasari. Unggulan keempat ini tanpa kesulitan melangkah ke babak perempat final setelah mengalahkan Elena Prus, juga dari Ukraina, dengan 21-9, 21-19, dalam waktu 32 menit.

Pada babak perempat final, Nana–sapaan Fransiska–bakal menghadapi unggulan keenam Kristina Ludikova dari Ceko. Pada babak kedua, Kristina berhasil menyingkirkan tunggal putri tuan rumah, Olga Golovanova, dengan 21-9, 19-21, 21-13 dalam waktu 45 menit. (net/jpnn)

PABBSI Sumut Siapkan Empat Atlet

MEDAN-Pengurus provinsi (Pengprov) Persatuan Angkat Berat, Besi dan Binaraga Seluruh Indonesia (PABBSI) Sumatara Utara menyiapkan empat atletnya untuk berlaga di Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) yang berlangsung di Riau pada September 2011 nanti.

Keempat atlet yang dipersiapkan PABBSI Sumut pada POPNAS nanti terdiri dari dua atlet putra dan dua atlet putri. Kedua atlet putra yang dimaksud adalah Ilham Taufik dan Fajar Maulana. Sedangkan dua atlet putrinya Dini M Siregar dan Desy Lestari Putri.

Menurut penuturan Kabidbinpres Pengda PABBSI Sumut Raden Mas Asnawi kepada Sumut Pos, Jumat (8/7) bahwa atlet yang akan berlaga di POPNAS tersebut saat ini digembleng setiap hari Senin hingga Sabtu mulai Pukul 15.00 WIB hingga 18.00 WIB di Gedung PABBSI Sumut Jalan Helvetia Medan.

“Seluruh atlet berlatih di bawah bimbungan Ahmad Sayuti. Kami berharap melalui polesannya Sumut mampu berbicara banyak di tingkat nasional,” kata Asnawi.
Dilanjutkannya, bahwa para atlet yang akan dikirim mengikuti Popnas nanti telah menjalani hasil seleksi yang ketat karenanya kami meyakini jika  mereka benar-benar memiliki kemampuan yang bagus.

Mengenai target yang dicangkan pihaknya pada Popnas nanti, Asnawi mengatakan bahwa pihaknya tak ingin memasang target yang muluk-muluk.
“Kami tak ingin para atlet menjadi tertekan dengan target yang diemban. Kami ingin mereka tampil lepas pada Popnas nanti,” bilangnya. (omi)

Tumbuh Kembang di Jalan

Drs Boyke Turangan MAP

Pendidikan di mata Drs Boyke Turangan MAP menjadi begitu penting. Tidak hanya untuk diri sendiri, juga untuk tanggung jawab yang diamanatkan kepadanya. Kondisi keuangan yang mengganggu pun tak menghentikan keinginan tersebut.

Lahir sebagai anak III dari V bersaudara, Boyke sudah harus hidup di jalanan sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Kerasnya kehidupan di seputaran Pajak Petisah Kota Medan bahkan menjadi makanan sehari-hari sepeninggalan orangtua laki-laki. Angkat kelewang yang berakhir di ruang pemeriksaan petugas kepolisian hanyalah konsekuensi dari usaha untuk bertahan hidup.
Begitu pun, Boyke muda tidak larut dengan kelamnya kehidupan jalanan. Rasa ingin tahu yang dimiliki coba tetap diwujudkan dengan belajar.

Seperti mempelajari berbagai ilmu beladiri untuk memuaskan hobi adu-pukul. Tidak hanya beladiri modern, juga versi tradisional dengan berbagai misteri yang ada.
“Hidup nekat mati muda menjadi prinsip saya waktu itu yang suka berkelahi. Tapi, kerasnya hidup yang saya jalani itu membuat saya mampu bersikap sesuai situasi yang ada. Organisasi juga butuh peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM). Makanya saya sangat menyarankan kawan-kawan untuk meningkatkan SDM melalui dunia pendidikan,” buka Boyke yang ditemui di Jalan Baut Pasar XI Marelan, Jumat (1/7) lalu.

Salah satunya saat kondisi keuangan keluarga yang membuat pendidikannya di Sastra Indonesia Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Sumatera Utara (USU) tersendat-sendat.
Di semester tiga dirinya vakum selama lima tahun sebelum kembali aktif. Dari kerasnya kehidupan tadi pula sebuah jalan terbuka untuk  menamatkan pendidikannya. Meskipun harus memakan waktu 10 tahun lamanya.

Pengalaman di organisasi yang selama ini diperoleh pun semakin lengkap dengan wawasan baru dari dunia akademik. Modal untuk melakukan perubahan di salah satu organisasi kepemudaan yang dipimpinnya kala itu. Melawan tradisi senioritas yang masih begitu kuat dalam menangani lahan parkir di seputaran Majestik. Apa yang dulunya menjadi hak mutlak senior dibagi dengan kawan-kawan di organisasi. Dengan sistem kekeluargaan dirinya merangkul seluruh pengurus untuk bekerja sama membesarkan organisasi.

“Tidak harus dengan cara-cara yang berkesan mewah. Saya suka ngajak kawan-kawan kumpul di ladang daerah Telung Kenas. Semacam arisan gitu lah. Gitu juga dengan kawan-kawan diranting kami bagi-bagi buku tulis kepada masyarakat. Apa yang bisa langsung dirasakan oleh masyarakat,” tuturnya.

Dengan memiliki pendidikan yang cukup akan membuka wawasan untuk menghadapi satu kondisi yang sulit. Hal itu yang dialami ayah empat anak ini saat dipercaya memimpin Gerakan Anti Narkotika (Granat) Kota Medan sejak 1989 silam.
Dengan hubungan baik dengan berbagai pihak, organisasi yang tanpa subsidi tadi pun mampu melaksanakan berbagai kegiatan.

Dirinya pun melihat dua kegagalan saat mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Utara dari PDIP sebagai motivasi untuk memperbaiki kekurangan yang ada. Untuk tetap optimis adanya perubahan di tengah-tengah masyarakat.
“Kalau semua dilaksanakan sesuai aturan kita pasti dapat manfaat. Masyarakat sekarang lebih pintar dan lebih kritis,” tegasnya. (jul)