Home Blog Page 15286

Fokus Urus Usaha, Masih Ikuti PSMS dari Media

Benny Tomasoa

Pasca mundur dari jabatan Asisten Manajer PSMS, Benny Tomasoa kini disibukkan aktivitas utamanya sebagai pengusaha.

Namun begitu, kecintaan terhadap sepak bola dan PSMS khususnya, membuat Benny tak pernah melewatkan pemberitaan akan dunia sepak bola dari media massa.

“Mana mungkin saya bisa tutup mata sama sekali dari kabar tentang  PSMS. Meski saya tidak lagi berkecimpung di PSMS secara langsung, tapi saya tetap mengikuti perkembangannya dari media massa. Termasuk dari Harian Sumut Pos,” kata Benny kemarin.

Di samping itu, Benny juga tetap mengikuti jalannya kongres PSSI. Sebab keputusan hasil kongres nanti akan berkaitan dengan kompetisi sepak bola nasional. Dan kompetisi berkaitan dengan nasib PSMS itu sendiri. Kalau sampai gagal, maka kemungkinan besar PSSI akan dibanned oleh FIFA. Dan kalau PSSI dihukum, maka kompetisi tidak bisa berjalan. Dan tamatlah nasib sepak bola nasional sementara waktu.

“Makanya, semua urusan bola masih saya ikuti. Semoga saja kongres berhasil dan FIFA tidak jadi jatuhi hukuman buat PSSI. Kasian klub-klub yang berkompetisi,” sambungnya.

Kesibukan Benny saat ini adalah mengurusi dua usahanya, PT Yedija Jaya Pratama dan PT gracia Pratama Internasional. Usaha tersebut bergerak di bidang fumigasi dan survey untuk kebutuhan ekspor-impor. Di samping itu ada juga usaha bidang pest control dan termite control dan suplier. “Usaha saya memang sedang butuh perhatian. Selama saya vakum dari PSMS, saya memang lebih fokus mengurus usaha saja,”  pungkasnya. (ful)

Sempat Ditawari Rp300 Juta

PSMS sempat ditawari bantuan dana untuk mengarungi kompetisi Divisi Utama 2010/2011 lalu oleh Nurdin Halid senilai Rp300 juta. Bantuan itu ditawarkan ketika kompetisi memasuki putaran kedua.

Ada indikasi bantuan itu awalnya untuk merekrut dukungan bagi masing-masing klub agar mendukung Nurdin tetap duduk di PSSI. Namun janji itu tak sempat diterima PSMS, karena kondisi PSSI lebih dulu kacau dan Nurdin pun memutuskan mundur.

“Memang PSMS sempat ditawari bantuan dari orang Nurdin. Saat itu kita ditawari Rp300 juta untuk putaran kedua. Tapi itu hanya janji dan tak pernah kita terima karena akhirnya Nurdin pun mundur,” terang mantan Asisten Manajer PSMS, Benny Tomasoa kemarin.

Dengan demikian, PSMS pun hanya mengandalkan kucuran dana dari APBD Kota Medan untuk mengarungi kompetisi. Namun ada juga pemasukan dari sponsor yang jumlahnya dirahasiakan pengurus.

Kondisi serupa juga dialami Persires Rengat, yang berada satu grup dengan PSMS di wilayah I Divisi Utama. Persires bahkan ditawari Rp600 juta. Tapi Persires ditawari bantuan oleh PT Liga Indonesia.

Tim yang bermarkas di stadion Narasinga, Rengat, Pekanbaru tersebut mengungkapkan, jika PT LI pernah menjanjikan bantuan dana sebesar Rp600 juta bagi tim yang tampil di Divisi Utama musim kompetisi 2010/2011.
“Sampai kompetisi berakhir, janji tersebut tidak kunjung terealisasi,” terang Ketua Umum sekaligus manager Persires, Zulfahmi Adrian. Karena janji yang tidak mampu dipenuhi oleh PT LI tersebut, Persires pun mengaku sangat kecewa. (ful/jpnn)

Mencuri untuk Foya-foya

Tak punya uang untuk berfoya-foya bersama teman di pemandian alam Sembahe, Rahmadsyah (36), warga Jalan Krakatau, Kelurahan Belawan Bahari, Medan Belawan, nekat mencuri uang milik H Muhammad Nasir Said (50), warga Jalann Young Panah Hijau, Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Labuhan. Aksi ini terbongkar Jumat (3/6), ketika abangnya curiga, Rahmad memiliki uang yang cukup banyak.

Setelah diinterogasi abangnya, Rahmad mengaku, uang tersebut dicurinya dari rumah H Muhammad Nasir Said yang akrab disapa Pak Haji. Mendengar pengakuan itu, abangnya melaporkan kejadian itu kepada Pak Haji. Tak senang, Pak Haji pun melaporkan Rahmad ke polisi.

Menurut Rahmad, aksi itu dilakukannya dengan cara memanjat tembok pagar rumah dan naik ke atas genteng. Selanjutnya dia masuk ke rumah melalui langit-langit dan memecahkan asbes kamar korban. Setelah masuk ke kamar, dia mengambil celengan Pak Haji dan memecahkannya. Semua isi celengan tersebut disikatnya dan dia pergi lewat pintu depan.

Berbekal uang curian tersebut, dia pergi tamasya bersama teman-temannya ke pemandian alam Sembahe. Di sana dia berfoya-foya dengan uang yang dicurinya dari celengan Pak Haji tersebut.

Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Belawan, AKP Hamam membenarkan penangkapan tersebut. Dia mengatakan, saat ini tersangka masih dalam pemeriksaan. (mag-11)

Wali Kota tak Sensitif

Keberadaan mobil dinas terbaru Wali Kota Medan terus menuai kontroversi. Banyak pihak yang menyayangkan sikap orang nomor satu di Kota Medan itu. Bahkan, kinerja anggota DPRD Medan patut dipertanyakan, karena begitu mudah mengesahkan anggaran-anggaran, terutama belanja rutin pegawai.

Hal ini disampaikan analis politik asal Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Rafdinal S Sos kepada wartawan Sumut Pos Ari Sisworo, Minggu (5/6). Berikut petikan wawancaranya.

Apa pendapat Anda dengan keberadaan mobil dinas baru Wali Kota Medan?
Dalam hal ini memang sangat disesalkan sikap Wali Kota Medan. Ini menandakan Wali Kota Medan tidak memiliki sense of sensitifity atau sensitifitas. Karena dari kenyataan yang ada, banyak persoalan yang lebih penting dan harus dijadikan prioritas ketimbang membeli mobil dinas baru dengan harga yang fantastis.

Menurut Anda, apa yang lebih penting?
Saat ini tidak bisa dibantah banyak persoalan terkait pelayanan publik yang tidak maksimal. Masih banyak warga Medan yang tidak mendapatkan pelayanan kesehatan, pelayanan pendidikan serta pelayanan lainnya secara memadai. Harusnya ini yang dijadikan prioritas. Apakah dengan keberadaan mobil dinas itu, wali kota bisa lebih bekerja maksimal. Harusnya sebelum dibeli, dipikirkan terlebih dahulu dibutuhkan untuk apa, ketersediannya dari mana dan sebagainya. Karena mobilitas seorang kepala daerah tidak diukur dari kepemilikan mobil dinas baru. Lagian, Medan ini bukan area yang berliku-liku seperti pegunungan dan sebagainya sehingga membutuhkan mobil dinas baru berjenis Jeep.

Apa dampaknya bagi warga Medan khususnya?
Saat kampanye dulu, Wali Kota Medan saat ini menunjukkan sosok yang merakyat. Namun setelah terpilih, terkesan wali kota menunjukkan sikap gagah-gagahan. Menunjukkan sikap yang tidak down to earth atau merakyat. Keberhasilan seorang kepala daerah itu tidak ditunjukkan dari keberadaan mobil dinas yang baru, yang banyak dengan harga menjulang dan sebagainya. Keberhasilan seorang kepala daerah itu karena kinerjanya memakmurkan rakyatnya. Apakah ada jaminan, dengan adanya mobil dinas baru ini kinerja Wali Kota Medan meningkat. Apa relevansinya mobil baru dengan kinerja? Kalau memang bagus, pakai mobil biasa saja pun bisa juga. Yang dikhawatirkan malah, dengan adanya mobil dinas baru ini membuat Wali Kota Medan menjadi lebih arogan. Rakyatnya yang selama ini tidak sungkan untuk bertanya dan bertegur sapa, jadinya lebih takut. Apa ini yang dinginkan? Kepala daerah ditakuti, bukan dihormati.

Bagaimana dengan fungsi pengawasan DPRD Medan?
Untuk anggota DPRD Medan juga harus dipertanyakan, keberadaan fungsi pengawasan yang dimiliki. Dewan juga jangan terlalu mudah untuk mengesahkan anggaran, yang peruntukkannya bagi belanja rutin pegawai dan segala macamnya. Yang terpenting adalah lebih diutamakan belanja-belanja pembangunan.(*)

Tak Hasilkan PAD, Putus Saja Kontrak

Ketua DPRD Soal Merdeka Walk

MEDAN- Desakan agar Pemko Medan memutus kontrak kerja dengan PT Orange Indonesia Mandiri (OIM) selaku pengelola Merdeka Walk semakin deras. Kali ini, desakan itu datang dari Ketua DPRD Kota Medan Amiruddin dan Sekretaris Eksekutif Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Sumut Elefenda Ananda.
“Setahu saya ada tunggakan dari pihak pengelola Merdeka Walk kepada Pemko Medan terkait retribusinya. Saya pikir, ini harus segera diselesaikan.

Dan Pemko Medan harus tegas. Kalau memang tidak menguntungkan bagi pemko, khususnya penarikan Pendapatan Asli Daerah (PAD), sebaiknya kontraknya diputus saja,” tegas Ketua DPRD Medan Amiruddin ketika dikonfirmasi wartawan Sumut Pos, Minggu (5/6).

Dalam persoalan ini, Amiruddin meminta, agar segala sesuatunya disesuaikan dengan aturan yang ada. Terutama mengenai adanya dua klausul kontrak yang berbeda, dimana klausul pertama retribusinya dikutip Dinas Pertamanan dan kedua oleh Bagian Umum Pemko Medan. “Kita meminta persoalan ini dikembalikan pada aturannya, sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) yang mengaturnya,” tambahnya.

Sementara Sekretaris Eksekutif Fitra Sumut Elfenda Ananda menyesalkan dualisme aturan yang ada. Dengan kondisi seperti itu, sudah sepatutnya Wali Kota Medan Rahudman Harahap mengambil sikap sesegera mungkin. Karena kalau tidak disikapi secepatnya, akan timbul asumsi-asumsi negatif.

“Disesalkan pembangunan Merdeka Walk itu, karena lokasinya adalah tempat bersejarah. Kemudian, ternyata kontribusinya juga tidak signifikan. Sangat disayangkan lagi, kenapa Pemko Medan tidak serius dan tegas dalam hal ini. Jangan-jangan ada sesuatu. Tapi kita berharap ini tidak ada,” ungkapnya.

Maka dari itu, Elfenda menyarankan, agar kontrak yang telah ada untuk segera dievaluasi. Kalau tidak bisa lagi diperbaiki, maka kontrak yang ada tidak perlu diperpanjang lagi alias diputus saja. “Kalau kontribusinya tidak ada, sebaiknya tidak bisa diperpanjang lagi,” tukas Elfenda.

Terkait pengambilan kebijakan, sambung Elfenda, Wali Kota Medan Rahudman Harahap memiliki kewenangan penuh. Walaupun pada mulanya yang mengambil kebijakan kerjasama tersebut adalah wali kota terdahulu. “Meskipun MoU nya dibuat antara pengusaha dan wali kota terdahulu, wali kota sekarang bisa mengambil sikap dalam melakukan evaluasi selama itu benar-benar tidak menguntungkan atau merugikan. Kalau wali kota sekarang tidak berani mengambil kebijakan, apa wali kota sekarang tidak punya nyali?,” tegasnya.(ari)

Bongkar Bangunan Nanyang

Rekomendasi Komisi D DPRD Kota Medan

MEDAN- Tidak ada kata lain selain dibongkar. Itulah rekomendasi Komisi D DPRD Medan terhadap keberadaan bangunan Nanyang Internasinal School di Kelurahan Darat, Kecamatan Medan Baru.

Rekomendasi itu bukan tanpa dasar. Menurut Ketua Komisi D DPRD Medan Parlaungan Simangunsong, ada beberapa hal yang melandasi keluarnya rekomendasi itu, antara lain, Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) pembangunan Nanyang Internasional School tidak sesuai dengan gambar yang seharusnya.

“Ada yang tidak sesuai antara IMB dan gambar bangunannya. Selain itu, seharusnya pembangunannya yang berdekatan dengan rumah warga, mesti ada jaraknya sekitar satu setengah meter. Tapi nyatanya, spasi atau jaraknya tidak sesuai,” ungkap Parlaungan Simangunsong kepada wartawan Sumut Pos, Minggu (5/6).

Selain itu, sambung Parlaungan, persoalan banjir dan kemacetan yang terjadi dan sangat meresahkan warga juga menjadi sorotan. Maka dari itu, DPRD Medan juga mempertanyakan masalah Analisis Dampak Lingkungan Lalulintas (Amdal Lalin).

“Komisi D akan mengagendakan kembali, melakukan kunjungan ke sekolah itu bersama tim dari Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan (TRTB). Nah, untuk rekomendasi rapat Komisi D yang digelar Senin (30/5) lalu, Komisi D merekomendasikan agar Nanyang Internasional School dibongkar,” tegasnya.

Terkait bangunan tersebut, Ketua Fraksi PKS DPRD Medan Salman Al Farisi menyatakan, khusus untuk masalah kemacetan, pihak yayasan Nanyang Internasional School harus bertanggungjawab sepenuhnya.
“Mengenai kemacetan, yayasan harus bertanggungjawab agar aktivitas lalulintas di kawasan tersebut tidak terganggu. Caranya, menyediakan lahan parkir. Kalau tidak ada, harus dibongkar,” tandasnya.
Lebih lanjut Salman juga menuturkan, dalam hal ini Pemerintah Kota (Pemko) Medan juga harus tegas. Khususnya untuk melakukan peninjauan ulang terhadap SIMB yang telah dikeluarkan.

“Kalau IMB nya tidak sesuai prosedur, harus ditinjau ulang. Kenapa kalau memang sudah ada masalah, IMB nya malah dikeluarkan. Ini harus dipertanyakan ke Pemko Medan,” tukasnya lagi.
Sementara itu, sebelumnya, seorang warga setempat Ryan Kacaribu menyatakan, warga akan berkunjung ke Fraksi PKS DPRD Medan pada Rabu (8/6), untuk membahas mengenai hal ini.(ari)

Wahana Edutainment Bagi Balita

Dunia Presinutri di Plaza Medan Fair

Ribuan balita didampingi orangtuanya menikmati sederetan permainan edukatif yang dipersembahkan SGM Eksplor dan SGM Aktif dari PT Sari Husada di Atrium Plaza Medan Fair, Sabtu (4/6) dan
Minggu (5/6).

Selain wahana edutainment, kegiatan itu juga mengetengahkan pengetahuan mengenai nutrisi yang presis (presinutri) dan juga stimulus yang tepat untuk memaksimalkan prestasi di setiap proses kembang anak.

Ass Manager Consumer Proximity PT Sari Husada, Andhika Soendoro mengatakan, Kota Medan merupakan kota kedua, setelah Jakarta dalam penyelenggaraan acara ini. Diungkapkannya, setiap membeli susu SGM Explor dan Aktif, ibu dan anak dapat memasuki wilayah penyelenggaraan acara ini. Dan setiap anak dapat menikmati fasilitas yang disediakan seperti permainan Flying Fox, Puzzle, dan lainnya. “Kita menyediakan wahana edutainment (edukasi dan entertaiment), jadi anak dapat bermain dan belajar sekalian,” sebut Andhika. Untuk para ibu, SGM juga akan memberikan pengetahuan mengenai tumbuh kembang anak, karena setiap anak memiliki perbedaan, jadi dibutuhkan nutrisi yang tepat untuk setiap anak. Dan SGM memenuhi hal tersebut dengan menghadirkan psikolog anakn
Novita Tantry dan ahli nutrisi PT Sari Husada.

Novita mengatakan, prestasi setiap anak itu berbeda tahapannya sesuai tumbuh kembang anak. Contohnya, prestasi anak usia dua tahun mungkin sesederhana prestasi yang dilakukannya seperti mengancing baju sendiri, atau anak pada usia 5 tahun prestasinya saat ini sudah bisa melakukan sosialisasi diri pada sekitarnya.

Dan dalam talk show ini, Mira Lesmana yang merupakan Brand Ambassador yang juga mengkonsumsi susu ini ketika balita, menghibur dan berbagi pengalaman terkait perkembangan dan merawat serta menjaga anak balita.
Dunia Presinutrisi ini juga mengadakan berbagai perlombaan untuk anak, mulai dari lomba mewarnai, lomba tari, stage performance, dan lomba foto. “Awalnya kita sosialisasi ke sekolah-sekolah untuk memberikan tahukan kepada sekolah dan anak akan adanya acara ini,” lanjut Andhika.

Selain dapat bermain dan belajar, dalam Dunia Presinutrisi ini setiap pembelian susu SGM varian bebas ukuran 600 dan 900 gr mendapatkan potongan harga mulai dari Rp2 ribu hingga Rp4 ribu.(mag-9/mag-7)

Warga Sari Rejo Didatangi Intel Poldasu

MEDAN- Masyarakat Sari Rejo didatangi dua orang yang mengaku personel Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu) pada Rabu (1/6), lalu. Kehadiran dua oknum polisi yang diketahui dari Direktorat Intelkam Poldasu Unit I Subdit III Poldasu tersebut, bernama Asrin Peranginangin dan J Damanik.

Kehadiran dua personel Poldasu tersebut diterima Lurah Sari Rejo Syahri Sholin di Kantor Lurah Sari Rejo Jalan Sejati, serta hadir pula Ketua Forum Masyarakat Sari Rejo (Formas) Riwayat Pakpahan dan beberapa anggotanya, antara lain Usman Jauhari, Ustad Sobirin, Mahyudin dan Oscar Sinaga dalam rangka mempertanyakan perkembangan penyelesaian sengketa Tanah Sari Rejo.

Selain itu, kedua personel polisi tersebut juga mempertanyakan kepada Formas, apakah benar akan menggelar aksi besar-besaran yang akan dilakukan di Bandara Polonia serta beberapa lokasi lainnya.
Bukan hanya itu, kedua personel polisi tersebut juga mempertanyakan kepada masyarakat Sari Rejo, apakah selama ini mengalami intimidasi dari pihak-pihak tertentu.

“Petugas dari Poldasu itu menanyakan, rencana demonstrasi kepada kami. Jadi saya jelaskan, Formas akan menggelar roadshow ke beberapa instansi yakni, BPN Medan dan Sumut, DPRD Medan serta Wali Kota Medan. Kalau dari roadshow ini tidak ada penyelesaian, maka mau tidak mau aksi demo akan digelar,” jelas Ketua Formas Riwayat Pakpahan kepada wartawan Sumut Pos, Minggu (5/6).

Lebih lanjut Riwayat juga menuturkan, kehadiran dua personel Poldasu tersebut, masyarakat Sari Rejo juga meminta agar ada bantuan dari Poldasu atau Kapoldasu dalam upaya penyelesaian masalah ini. “Kami juga minta, kalau bisa ada bantuan dari Kapoldasu agar masalah ini bisa dibantu dan segera terselesaikan,” cetusnya.
Sementara itu, Kabid Humas Poldasu AKBP Raden Heru Prakoso saat dikonfirmasi terkait kedatangan dua personel Poldasu, mengaku belum mengetahuinya. “Saya belum dapat laporannya, coba tanya Dir Intel. Apakah mengenai rencana demo (Formas, Red), kalau itu saya kurang tahu. Coba hubungi Dir Intel saja,” katanya. Wartawan koran ini kemudian menghubungi Dir Intelkam Poldasu, Kombes Pol Jannes Sinurat, namun baik telepon atau SMS hingga tadi malam tidak dibalas. (ari/adl)

Gara-gara Minyak Babi, Warung BPK Terbakar

MEDAN- Warung Babi Panggang Karo (BPK) Teselonika di Jalan Jamin Ginting, Kecamatan Medan Tuntungan, tepatnya di simpang selayang hampir ludes dilalap sijago merah, Minggu (5/6) sore pukul 15.30 WIB. Beruntung, enam unit mobil pemadam kebakaran milik Pemko Medan dibantu kepolisian Polsek Delitua berhasil memadamkan api yang sudah membakar sebahagian dapur dan cerobong asap pemanggangan.

Keterangan yang diperoleh, api yang diketahui berasal dari minyak babi yang sudah panas menguap sehingga menimbulkan percikan api yang akhirnya membakar benda yang mudah terbakar dari cerobong asap hingga api membesar di dapur belakang warung tersebut.

“Minyak babi itu kan panas, kalau semakin banyak diletak saat babi dipanggang bisa menimbulkan api dan akibat itulah makanya terbakar,” kata seorang karyawan BPK Tesalonika yang sibuk menyelamatkan peralatan yang berada di dapur.
Akibatnya, warung BPK yang sudah berdiri selama 10 tahun tersebut mengalami kerugian sekitar puluhan juta rupiah, sedangkan untuk ke-30 karyawannya tidak bekerja untuk sementara waktu.

Pemilik BPK Tesalonika, Hendrik Sembiring terlihat sangat stres atas kejadian yang menimpanya. “Jangan ditanya dululah Bang, stres aku. Mengertilah Bang keadaanku,” ujarnya di sela-sela seluruh karyawannya memanjatkan doa saat api telah berhasil dipadamkan.

Kanit Reskrim Polsek Delitua, AKP Semion Sembiring yang berada di lokasi kejadian menuturkan, api berasal dari panggangan. “Karena kebanyakan diletak minyak babi makanya mengeluarkan percikan api yang langsung menyambar benda yang mudah terbakar. Sampai saat ini, polisian masih melakukan olah TKP,” beber Semion.(adl)

Sinerjikan Potensi Alumni dan Sekolah

MEDAN- Setelah 20 tahun berpisah, sekitar 100-an Alumni SMA Joshua angkatan 1991 berkumpul di halaman SMA Joshua, Jalan Kolonel GB Josua Medan, beberapa waktu lalu. Tak hanya alumni, guru dan mantan guru yang pernah mengajar mereka juga ikut diundang.

“Pokoknya hari ini kami bernostalgia dengan sesama teman SMA dan guru yang mengajar kami dulu,” ungkap Syaiful Nasution, Ketua Panitia bersama Fanda Wirliana, Bendahara dan Anshari Nasution, Wakil Ketua di sela-sela acara.
Ide menggelar reuni ini, berawal dari komunikasi lewat facebook. Dengan teknologi komunikasi dunia maya inilah antara alumni yang satu dengan yang bisa saling kontak lagi. “Ya, di facebook, kami saling tukar nomor telepon. Hingga akhirnya tercetus ide berkumpul  di rumah Fanda untuk membuat acara reuni,” ungkap Syaiful.

Dia menjelaskan, berkat kerja keras panitia, akhirnya reuni dapat terwujud. “Soal sifat tidak jauh berbeda sejak SMA 20 tahun, dengan saat sekarang ini. Cuman yang membedakannya, sekarang rata-rata alumni yang datang sudah membawa anak dan istri, kalau dulu belum,” ungkap Syaiful sambil tertawa kecil.

Namun, mereka bangga dengan acara ini, apalagi Marapimpin Harahap, Kepala SMA Josua Medan mengharapkan bantuan alumni untuk memajukan sekolah itu kelak. Hal ini tentunya disambut baik oleh Syaiful. Dia bilang seluruh alumni khususnya angkatan 91 akan mendukung program sekolah dalam memajukan sekolah tersebut. Apalagi hal ini akan berdampak pada peningkatan kwalitas adik kelas mereka nantinya. “Kami bersama pihak sekolah akan membangun sekolah ini ke depan,”katanya.(dra)