Home Blog Page 15328

Alfred Riedle Belum Gajian Dua Bulan

Karut marut di PSSI berimbas pada persiapan timnas. Baik timnas junior maupun senior. Pada 23 dan 28 Juli timnas
senior dijadwalkan berlaga di putaran II kualifikasi Piala Dunia 2014 zona Asia. Lawan yang akan dihadapi adalah Turkmenistan. Piala 16-24 Juli timnas junior akan berlaga di ajang Piala AFF U-23 dan para November turun di kancah SEA Games.

Menyongsong even-even  krusial tersebut berhembus kabar tidak sedap dari timnas. Dimana pelatih Alfred Riedl ternyata belum digaji dalam dua bulan terakhir. Tak hanya itu, staf Badan Tim Nasional  (BTN) juga belum gajian dalam tiga bulan terakhir.

“Begitulah kondisinya. Situasi persepakbolaan kita saat ini membuat semuanya jadi kacau,” kata salah satu pengurus PSSI yang mewanti-wanti namanya tidak mau dikorankan.

Menurutnya, jika kondisi ini tidak segera teratasi bisa saja Alfred Riedl melaporkannya kepada FIFA.
“Kalau Riedl tidak bisa menerima kita khawatir dia akan melapor ke FIFA. Itu memang hak dia. Riedl pelatih profesional,” lanjutnya. Kontrak Alfred Riedl baru tuntas pertengahan tahun depan. Tiap bulannya pelatih asal Austria itu digaji sekitar Rp 175 juta.

Dikonfirmasi mengenai  kabar tersebut, deputy bidang teknik BTN Iman Arif tidak bersedia berkomentar. Iman hanya mengatakan jika sampai saat ini Alfred Riedl yang sudah tiba di Jakarta sejak empat hari lalu tetap berkomitmen dengan kontraknya.

“Kami sudah melakukan pembicaraan dengan coach Alfred. Semua program yang kita rancang sejauh ini belum ada yang berubah,” kata Iman. Menurut mantan ketua BTN ini, keputusan dari FIFA dan hasil kongres PSSI akan sangat menentukan  nasib timnas.

“Mudah-mudahan saja polemic yang terjadi sekarang  ini segera selesai dan kita bisa menata kembali persepakbolaan Indonesia,” beber Iman.

Menyongsong SEA Games dan agenda – agenda lainnya, timnas butuh dana besar. Untuk rencana pemusatan latihan sekitar dua bulan ke Austria yang dijadwalkan mulai awal September timnas butuh anggaran sekitar Rp 1,7 miliar dalam sebulan.

Belum lagi untuk pemutusatan latihan menjelang Piala AFF U-23 dan untuk timnas senior yang akan berlaga di Kualifikasi Paia Dunia 2014.

“Dalam kondisi saat ini BTN bingung juga mau mengajukan dana kemana. Ke PSSI kita tahu kondisinya seperti apa. Ke kemenpora, sekarang situasinya juga lagi memanas. Kita hanya bisa menunggu kondisi  ini cepat selesai,” papar Iman Arif. (ali/jpnn)

Kabut Hitam di Mata Merah

Cerpen :  Budiah Sari Siregar

Merah, entah kenapa hatiku selalu terenyuh tiap kali mendengar namanya. Terlebih-lebih jika melihat wajahnya.

Pipinya yang tak pernah lepas dari blush on justru membuatku semakin kasihan padanya. Aku tak tahu apa sebabnya,
padahal ia termasuk anak yang jarang terlihat murung di kampus. Merah, aku pertama kali melihatnya saat kami sama-sama menjadi mahasiswa baru di kampusku. Waktu itu hari pertama PAMB (pembekalan akademik mahasiswa baru) setengah tahun yang lalu.

Aku datang dengan wajah pucat karena takut dimarahi senior, sebab aku terlambat lima belas menit. Terpengaruh oleh acara televisi dan omongan orang seputar PAMB atau lebih dikenal dengan istilah ospek yang akrab denga kekerasan membuatku panas dingin.
Sesampainya di kampus aku diinterogasi kakak senior dan sebagai hukumannya seharian aku harus berdiri di depan bersama para senior. Tak separah yang dibicarakan orang, pikirku.
Lima belas menit kemudian Merah datang dengan santainya. Mengenakan pencil pants berwarna coklat dengan atasan shirt dress berwarna senada membuat semua mata tertuju padanya.

Aku yang berdiri di depan sempat mendengar bisik-bisik para senior laki-laki yang mengagumi kecantikannya. Alhasil banyak senior laki-laki yang sok sibuk menginterogasinya padahal sebenarnya cuma pengen kenal dengannya. Sedangkan aku yang sejak lima belas menit tadi berdiri di situ tak digubris.

Nasib dah… untung Merah termasuk pribadi yang ramah, meski ia dikerubuti senior-senior keren ia tak langsung menyombongkan diri, melainkan menyapaku dan mengajakku berkenalan. Dan jadilah seharian itu kami bersama karena sama-sama terlambat.
Itulah awal perkenalanku dengan Merah, cewek pujaan di kampus kami. Meski aku tahu tak ada yang sempurna di dunia ini, namun bila disuruh menilai Merah mungkin aku akan menjawab kalau ia adalah cewek paling sempurna di dunia, selain ibuku tentunya.

Sebab ia tak hanya cantik, tetapi juga baik hati, ramah dan punya otak yang encer. Ditambah lagi ia berasal dari keluarga berada. Lengkaplah sudah. Tak seperti aku, cewek dengan tinggi badan hanya 155cm dan berat badan 45 kg, berkulit hitam dan berhidung pesek membuatku jauh dari kata “cewek idaman”, untunglah ada Edo yang tulus mencintaiku.

“Ah kau ini bisa saja! Justru kaulah yang lebih sempurna dibanding aku,” begitu selalu jawabannya sambil tertawa  jika aku mengatakan kalau menurutku dia sempurna sebagai seorang cewek.

Merah selalu dikerubuti cowok-cowok keren di kampus, baik itu mahasiswa baru seperti kami atau yang lebih senior. Tak hanya cowok satu jurusan saja, tetapi juga satu fakultas bahkan satu kampus sepertinya mengenal dan mendambakannya.

Hal ini membuat aku yang lumayan dekat dengannya terkena imbasnya. Banyak cowok-cowok keren yang ramah kepadaku. Maklumlah mereka ingin mendapatkan informasi tentang Merah dariku. Hhh…ada-ada saja, tapi tak apalah! Setidaknya aku jadi punya banyak kenalan cowok keren di kampus ini.
Sayangnya, sudah satu semester aku menjadi sahabatnya dan menjalani hari-hari di kampus bersama, belum ada satupun cowok yang ia terima. Aku juga tak pernah melihatnya jalan dengan cowok. Hal ini membuatku bertanya-tanya. Pria seperti apa yang menjadi tipenya? Benarkah tak ada di antara sekian banyak cowok yang mengejarnya.

“Si Aldo itu anak pak Gubernur lho Rah, eman kamu gak pengen punya pacar anak orang nomor satu di kota kita? Atau si Ozy… anak itu aku liat lumayan smart en enak di ajak ngobrol. Aku yakin deh klo kalian crita bakalan nyambung.

Mmm..gimana kalau si Fandy saja, dia kan atlit, atau si Iraz yang…”
“Aduh udah deh San, ngapain sih mikirin mereka. Mending juga baca buku,” Merah yang memang sedang membaca buku menanggapi ocehanku dengan cuek.

“Sebenarnya kamu tuh nyari cowok yang gimana sih Rah?” akhirnya terlontar juga pertanyaan itu. Merah hanya mengalihkan pandangannya padaku sejenak dan kemudian melanjutkan membaca.

“Rah!” merah menarik nafas dan menutup bukunya. Menatap ke arahku, kemudian berkata, “Aku hanya mencari seseorang yang dapat melengkapi dan memahami apa yang tak dapat kuberi. Seseorang yang bisa membuat hidupku sempurna, itu saja.”
“Jawabanmu membingungkan. Memangnya mereka kurang apa”
“Tak ada yang kurang dari mereka, hanya saja aku merasa belum menemukan orang seperti yang kusebut tadi”

Kutatap matanya. Mata yang sampai sekarang belum kumengerti, seperti apa sebenarnya si empunya mata itu. Meski sudah satu semester menjadi sahabatnya, aku merasa belum benar-benar mengenalnya. Merah terlalu misteri bagiku. Di balik senyum manisnya dan gelak tawanya aku selalu merasakan sorot kelabu dari matanya. Ah… munggkin aku terlalu banyak membaca novel-novel picisan hingga pikirankupun terpengaruhi seperti ini.

***
Hampir sebulan sudah kulalui hari tanpa canda tawa merah. Merah memutuskan melanjutkan kuliahnya di Thailand, tempat orang tuanya kini tinggal. Sampai aku mengantarnya di Bandara belum kudapatkan jawaban dari sorot mata kelabu Merah. Sorot mata yang seakan digantungi kabut hitam nan kelam.

“Doakan aku menemukan kesempurnaanku di sana ya San,” merah berkata sambil memelukku. Ah… Merah! Di sini pun kamu sudah sempurna menurutku. Ucapku, dalam hati.

Lamunanku tentang Merah buyar kala sebuah benda mengenai kepalaku. “Kamu nonton atau melamun sih!! Di ajak ngobrol kok diem aja,” Rina adikku ngomel. Kuambil bantal yang ia gunakan untuk melempar kepalaku, hendak kugunakan untuk tidur.

“Eh San liat deh, itu orang mirip banget sama temen kamu yang sering datang ke rumah kita. Siapa namanya Merah ya?”

“Aduh Rin, udah deh gak usah ganggu. Aku mau tidur nih.”
“San, jangan-jangan dia memang temen kamu. Merah Weinen, waria asal Indonesia. Gila! Cantik-cantik gitu ternyata dia waria ya?!” Rina berguman. Aku tersentak mendengar ucapannya. Langsung mataku terbelalak melihat televisi yang sedang menayangkan program  bertema “jalan-jalan” itu.

Kulihat presenter acara tersebut sedang mewawancarai seorang transeksual atau di Indonesia lebih sering disebut waria.
“Ok, Merah Weinen, waria asal Indonesia. Bagaimana perasaan kamu menjadi salah satu pemain kabaret transeksual di sini.”

“Yang pasti saya merasa menjadi manusia sempurna.”
Manusia sempurna! Aku hampir tak percaya mendengar ucapan itu. Merah Weinen sahabatku yang cantik jelita itu ternyata seorang pria transeksual. Jadi ini yang membuatnya merasa tak sempurna.

Ah… Merah Weinen, seorang kawan yang sorot matanya selalu digantungi kabut hitam. Hari ini tak kulihat lagi kabut itu di matanya.

Medan, 27 Desember’09

Dibuai Mimpi, Berbuah Gaya

Ramadhan Batubara

Berbicara soal keluarga seperti tak ada habisnya. Seperti debu di kursi, meski sudah dibersihkan, tetap saja akan menempel lagi. Ya, dia terus hadir tanpa permisi dan tanpa diminta.

Memang begitulah, kehidupan berkeluarga, meski sudah dikatakan menjadi satu oleh penghulu, tetap saja terdiri dari dua kepala kan? Dua kepala ini pun ternyata dilatarbelakangi oleh sekian banyak kepala lainnya; baik dari pihak orangtua, saudara sekakek, dan sebagainya. Bisa bayangkan bagaimana untuk memenej itu semua?

Ah, sudahlah, keluarga tetap saja keluarga meski apa yang terjadi. Pun ketika belum lama ini istri saya membawa kabar yang membuat dahi saya berkerut. Dia katakan dia baru saja mendaftar untuk bergabung dengan tetangga dalam program jula-jula. Fiuh!

“Nanti kan Bang, kalau kita narik, kita bisa beli kulkas dua pintu,” katanya dengan semangat.Terus terang saya habis kata begitu mendengar kalimatnya tadi. Entahlah, seumur hidup saya memang kurang setuju dengan jula-jula, arisan, atau apapun istilahnya. Pasalnya, saya merasa hal itu tak lebih sekadar mimpi.

Istilahnya, uang belum di tangan, tapi pikiran sudah melayang. Kasarnya, uang belum juga dapat, tapi rencana untuk membeli sekian barang langsung didengungkan. Akhirnya, hari-hari pun terbuai mimpi. Ujung-ujungnya, mereka yang bermain jula-jula lebih berani mengutang. Ya, bukankah dia punya uang yang sedang berputar. Dengan mengatakan akan narik jula-jula dua bulan lagi, sang pemberi utang kan langsung percaya.

Dan, pikiran saya ini langsung terbukti. Selang seminggu, istri saya memberikan kalimat yang membuat saya melotot.”Begini Bang, kan dua bulan lagi kita narik jula-jula. Nah, kita ngutang ke Mak Diur dulu ya. Ada kulkas dua pintu yang murah di toko sana…,” begitu katanya.

Bah! Saya jadi teringat cerita usang, tentang dua orang yang sedang mengkhayal mendapatkan uang banyak. Mereka pun  membagi dua uang tersebut. Orang pertama langsung membeli ladang sedangkan orang kedua membeli kambing. Eh, setelah itu dua orang itu marah berkelahi. Orang pertama menuduh kambing orang kedua telah merusak ladangnya. Akh, bukankah uang, ladang, dan kambing itu masih sebatas khayalan?
“Bang, nanti kalau sudah narik, langsung kita bayar utang ke Mak Diur. Boleh ya, Bang,” sambung istri saya lagi.

Sudahlah, terlalu repot kalau mengikuti kemauan istri. Langsung saja saya katakan untuk membatalkan pikirannya itu sebelum menjadi kronis. Dia pergi ke kamar, bersungut. Saya tak peduli. Ini soal prinsip.

Setelah kepergiannya itu saya berpikir, ada apa dengan jula-jula. Maksud saya, bukan masalah setuju atau tidak setuju, tapi lebih mengarah pada efeknya. Bagaimana mungkin istri saya yang pintar itu bisa gelap mata dengan uang yang belum juga diterimanya?

Seperti janji, ya, seperti janji. Coba bayangkan ketika seorang bocah dijanjikan akan dibelikan permen oleh orangtuanya. Nah, sang bocah akan pamer pada rekan-rekannya. Dia katakan kalau sebentar lagi akan dibelikan permen oleh orangtuanya. Dan, dia pun membusungkan dada. Bangga. Kenyataannya, permen itu belum juga terpegang. Ah, kasihan.

Tapi, bukankah istri saya bukan diberi janji muluk, tapi janji pasti karena sejatinya itu uang dia sendiri? Benar juga, tapi yakinkah uang itu akan utuh? Beberapa hari yang lalu seorang kawan dengan muka malas mendatangi saya.

Dia ingin meminjam uang untuk bayar kontrakan. Pengakuannya, uang itu sebenarnya sudah ada. Dia narik jula-jula. Sayangnya, jatah dia itu harus dipindah dulu dan digantikan bulan depan. Pasalnya, ada peserta jula-jula yang lain sedang kemalangan. Fiuh!

Kasus istri saya ini mirip juga dengan janji perusahaan kepada pegawainya. Seorang pegawai tentunya akan sangat berharap pada bonus yang dijanjikan pimpinan. Tentunya sang pegawai percaya dengan janji itu. Ayolah, ini pimpinan yang bicara; orang yang memang patut dipercayai. Tapi, haruskah sang pegawai membusungkan dada ketika dana itu belum juga diterima? Kalau tidak diterima juga bagaimana, apakah tidak berpengaruh pada kinerja?
Kembali ke soal jula-jula, yang akan diterima istri saya dua bulan ke depan. “Ya, sudah kalau tak boleh, tapi bulanannya Abang yang bayar!” teriak istri saya dari kamar.

Waduh, ini rumus dari mana? Bukankah dia ikut jula-jula tanpa permisi, kenapa pembayarannya malah didiskusikan. Sumpah, ini adalah sesuatu yang lucu. Pertanyaan saya lontarkan langsung padanya. Saya katakan, kalau saya izinkan dia mengutang untuk membeli kulkas, apakah iuran jula-jula saya juga yang bayar?

Dia tidak menjawab. Dia keluar kamar sambil tersenyum. “Jadi boleh aku ngutang ke Mak Diur?” godanya. Langsung saja saya masuk kamar, bersungut. Entahlah, jika seperti ini terus gaya hidup berkeluarga, bukankah lebih baik saya tidur. Ya, semoga saja saya bermimpi dan menjadi orang kaya yang tak harus terlena dengan mimpi, janji, dan tentu saja jula-jula agar bisa bergaya. Payah! (*)

27 Mei 2011

Syamsul Kena Serangan Jantung

Dirawat di RS Jantung Harapan Kita

JAKARTA-Gubernur Sumut nonaktif, Syamsul Arifin, dirawat di Rumah Sakit (RS) Jantung Harapan Kita, Jakarta Barat. Serangan jantung mendadak pada Jumat (27/5) siang, memaksa Syamsul harus mendapat perawatan intensif di rumah sakit terbesar khusus jantung itu. Hingga tadi malam, kondisi Syamsul masih dalam pantauan tim dokter dibawah kendali dr Sunarya Soerianata SpJP. Belum ada kesimpulan apakah perlu dilakukan tindakan medis berupa operasi atau tidak.

Dengan demikian, dipastikan sidang perkara dugaan korupsi APBD Langkat di pengadilan tipikor pada pagi hari ini, Senin (30/5), dengan agenda pemeriksaan Syamsul sebagai terdakwa, bakal ditunda.

Syamsul dirawat di kamar VIP 1355 lantai III RS Jantung Harapan Kita. Saat wartawan Sumut Pos  hendak mengunjungi ke kamar tersebut, petugas jaga RS melarang, dengan alasan sudah malam dan jam besuk sudah habis. Alasan lain, lantaran di depan kamar tempat Syamsul dirawat, sudah ada puluhan pembesuk dari pihak keluarga sehingga tempat sudah sesak. “Lagian percuma Pak, para keluarga juga tertentu saja yang boleh masuk karena beliau (Syamsul, Red) sedang tidur, tidak boleh diganggu,” terang seorang petugas.

Berdasar keterangan petugas pula, Syamsul masuk ke RS pada Jumat malam pukul 22.00 WIB. Anggota tim kuasa hukum Syamsul, Abdul Hakim Siagian, yang secara kebetulan bertemu Sumut Pos di RS tadi malam, menjelaskan bahwa Syamsul pada Jumat siang muntah-muntah di rutan Salemba. Hasil pemeriksaan dokter di rutan, ada gambaran bahwa Syamsul terkena serangan Jantung.

Lantas, mantan bupati Langkat itu dilarikan ke RS terdekat, yakni RS MH Thamrin, yang jaraknya sekitar 1,5 km dari rutan. Lantaran diperlukan alat pacu jantung dan dengan pertimbangan agar lebih fokus penanganannya, pihak RS Thamrin merekomendasikan Syamsul dirawat ke RS Jantung Harapan Kita.

Berdasarkan pengamatan Sumut Pos, kesehatan Syamsul sudah kelihatan bermasalah saat persidangan Senin (23/5) lalu. Bahkan, saat di ruang sidang, Syamsul sempat meminum obat. Hal itu diketahui Ketua Majelis Hakim, Tjokorda Rae Suamba. “Jaga kesehatan ya. Tadi saya melihat anda minum obat. Jaga kesehatan, karena agenda sidang minggu depan pemeriksaan terdakwa,” kata Tjokorda saat itu, sesaat sebelum menutup sidang.

Bahkan, sebelum Tjokorda mengetuk palu, anggota tim kuasa hukum Syamsul sempat mempertanyakan, apakah izin untuk berobat yang diajukan pekan sebelumnya sudah keluar atau belum. Tjokorda langsung menjawab ‘sudah’. Izin itu, rencananya dipergunakan Syamsul untuk melakukan cek kesehatan pada Sabtu (28/5). Namun, pada Jumat, kesehatan Syamsul sudah drop.

Abdul Hakim Siagian mengatakan, kedatangannya ke RS sekaligus untuk minta surat keterangan dari dokter yang menangani kliennya itu. Surat itu akan disampaikan ke hakim di persidangan hari ini.  “Sudah ada surat keterangan dari dokter,” ujarnya. Bagaimana persisnya surat keterangan dokter itu, Abdul Hakim belum mau menyebutkan dan baru akan disampaikan kepada wartawan pagi ini. “Saya juga belum buka,” kilahnya.

Dia mengatakan, dengan kondisi seperti sekarang ini, maka keinginan Syamsul agar proses persidangan bisa cepat selesai, menjadi terhalang. Dijelaskan, keinginan Syamsul agar proses persidangan cepat kelar, begitu kuat. Ini antara lain dibuktikan dengan tidak mengajukan eksepsi atas dakwaan JPU. Bahkan, juga tidak mengajukan saksi-saksi yang meringankan, kecuali saksi ahli yang sudah didengar keterangannya pada sidang Senin (23/5) lalu.

Abdul Hakim menjelaskan, mengenai kapan Syamsul akan siap lagi mengikuti persidangan, sepenuhnya menunggu rekomendasi dari dokter. “Kalau dokter sudah memutuskan sehat, ya jalan lagi sidangnya. Karena beliau sendiri inginnya cepat. Jadi, ini bukan karena pertimbangan subyektif dari tim kuasa hukum atau dari Pak Syamsul, tapi pertimbangan obyektif dari tim medis,” jelasnya.

Rudy Alfonso, yang juga kuasa hukum Syamsul, juga menjelaskan bahwa pada hari ini, pihaknya akan menyampaikan surat keterangan dokter ke hakim pengadilan tipikor. “Sudah pasti Pak Syamsul tidak bisa hadir karena dirawat di rumah sakit,” terangnya.

Pantauan Sumut Pos, sejumlah kerabat dekat Syamsul, yang wajah-wajahnya tidak asing lantaran kerap terlihat mengikuti persidangan Syamsul di pengadilan tipikor, keluar-masuk kamar 1355. Salah satunya adik Syamsul, yakni Syah Afandin alias Ondin.

Menurut Abdul Hakim, pada Minggu (29/5) kemarin, yang sudah datang ke RS antara lain Ketua PPP Sumut Fadli, Sultan Langkat, sejumlah tokoh Delisedang, juga dari Majelis Adat Budaya Melayu.

Menurut pihak keluarga di Medan, Syamsul Arifin memang memiliki sejarah penyakit jantung. Hanya saja, sebelum-sebelumnya tidak begitu berat. Nah, mungkin sejak berada di rutan, penyakit jantungnya memburuk. “Kalau yang banyak orang tahu, yang parah waktu itu adalah penyakit prostatnya,” bebernya pihak keluarga yang minta namanya tidak dibeber.

Kondisi memburuknya Syamsul Arifin tersebut diperkirakan sejak dua pekan lalu. Hal itu ditandai dari mulai menurunnya berat badan Syamsul Arifin. “Dua pekan lalu sudah nampak lemah. Badannya pun sudah mulai kurus, nggak terlalu gemuk seperti dulu,” kisahnya.(sam/ari)

Pembentukan Pansus Harga Mati

Dugaan Mega Korupsi Amri Tambunan-Zainuddin Mars

LUBUK PAKAM-Pembentukan panitia khusus (Pansus) investigasi dugaan mega korupsi pada APBD Deli Serdang oleh Bupati Amri Tambunan dan wakilnya Zainuddin Mars, terus bergulir. Ketua Komisi A DPRD Deli Serdang Benhur Silitongga menegaskan, pembentukan pansus menjadi harga mati bagi komisi yang membidangi masalah hukum itu.
“Permintaan para demontrasi agar dibentuk pansus harus segera direspon. Itu harga mati,” ungkapnya, kemarin (29/5).

Hari ini, Senin (30/5), komisi A bersama komisi Cn akan mendatangi pimpinan DPRD untuk melaporkan hasil pertemuan dengan para demonstran, Kamis (26/5) silam. Kemudian meminta pimpinan DPRD agar membentuk Pansus invesigasi dugaan korupsi APBD Deli Serdang.

Andai pimpinan dewan menolak rekomendasi yang mereka bawa, Benhur dan rekan-rekannya berjanji akan melakukan lobi-lobi politik. Bagaimana bila tetap ditolak? “Yah, pimpinan siap-siap menghadapi para demontran kembali. Soalnya bila ada penolakan pasti ada reaksi dari demontran,” bilang Benhur.

Pembentukan pansus investigasi ini diharapkan membuka semua dugaan korupsi Amri Tambunan- Zainuddin Mars menjadi terang benderang. “Jangan ditutupi. Kalau salah, nyatakan salah. Kalau benar, bilang benar. Jangan digantung-gantung, akhirnya begini. Setiap hari ada demonstrasi. Apa DPRD ini cleaning service,” ketusnya.
Terpisah, kodinator aksi Barisan Rakyat Anti Korupsi Ekosuprayanto menyatakan, pihaknya akan terus mengawal pembentukan pansus investigasi dugaan korupsi APBD Deli Serdang. “Kami akan terus memantau pembentukan, sampai (memantau, Red) kinerja pansusnya,” tegas Ekosuprayanto.

Barisan Rakyat Anti Korupsi menuding Wakil Bupati Deli Serdang Zainuddin Mars melakukan korupsi, menggunakan Rp1 miliar dari anggaran belanja Dinas Infokom Deli Serdang TA APBD 2008 untuk Pilkada Bupati dan Wakil Bupati. Sedangkan Amri didugaan melakukan mark-up di 7 SKPD dengan cara menambahkan anggaran dari jumlah yang tercantum dalam anggaran APBD yang sudah disahkan oleh DPRD Deli Serdang.

Selanjutnya, dugaan korupsi di Dinas PU Rp81 miliar, dugaan korupsi dilakukan Ir Marapintah Harahap (mantan Kadis Kimbagwil) Rp10 miliar dari dana GDSM yang kasusnya merupakan titipan KPK yang sampai sekarang masih mengendap di Poldasu.

Dugaan korupsi Bupati Deliserdang Rp883 miliar, hasil temuan BPK-RI Ta 2006-2009 yang telah disampaikan oleh panitia Akuntablitas Publik (PAP). Kemudian pemberian suap dari Disdipora Deliserdang yang terindikasi korupsi Rp93 miliar.

Selain itu, juga dipertanyakan status Dr Masduhq Siregar (kadis kesehatan) terduga korupsi pengadaan obat pelayanan kesehatan dasar TA 2006 senilai Rp3 miliar yang kasusnya dipetieskan oleh Kejatisu.(btr)

Lagi, Tabrakan Amankan Vettel

MONACO-Sebastian Vettel kembali meraih kemenangan di musim Formula 1 2011. Kali ini di Grand Prix Monaco, kemarin (29/5). Berarti, bintang muda Red Bull-Renault itu telah memenangi lima dari enam lomba tahun ini. Alhasil, dia pun terus memperkokoh posisi di puncak klasemen pembalap.

Berkat kemenangan kemarin, Vettel sudah memiliki 143 poin. Itu lebih dari 50 poin lebih banyak dari pesaing terdekatnya. Karena satu kemenangan bernilai 25 poin, bisa dibilang-hanya setelah enam lomba-Vettel sudah “menabung” dua balapan.

Maksudnya, andai Vettel absen di dua lomba ke depan, dia tetap aman di puncak klasemen pembalap!
Di Grand Prix Monaco sendiri, Vettel bukan hanya menunjukkan kehebatan. Dia juga seolah punya keberuntungan khusus. Meski mengawali lomba dari posisi terdepan, dia sempat tertinggal jauh di belakang Jenson Button (McLaren-Mercedes) setelah ronde pertama pit stop di kisaran putaran 17 (dari total 78 lap).

Dia kembali di depan di tengah lomba, ketika terjadi tabrakan antara Lewis Hamilton (McLaren) dengan Felipe Massa (Ferrari). Saat itu, safety car turun ke lintasan untuk memberi waktu petugas membersihkan lintasan. Tepat sebelumnya, Button masuk pit, mengganti ban untuk kali kedua.

Di atas kertas, seharusnya Button bisa memimpin lagi di akhir lomba, ketika Vettel juga menjalani pit stop kedua. Namun, pembalap Jerman yang baru berusia 23 tahun itu menunjukkan kehebatan luar biasa, terus memaksakan mobilnya melaju hingga mendekati akhir lomba.

Tidak tanggung-tanggung, Vettel memakai ban soft-nya hingga total 56 putaran, mencoba menyelesaikan lomba hanya dengan satu stop. Ketika itu, Fernando Alonso (Ferrari) dan Button sudah menempel, siap menerkam bila ban Vettel benar-benar habis.

Lagi-lagi, tabrakan mengamankan posisi Vettel. Pada putaran ke-69, Adrian Sutil (Force India-Mercedes) menyenggol dinding pengaman, mengakibatkan rentetan tabrakan di belakangnya. Jaime Alguersuari (Toro Rosso-Ferrari) menabrak Lewis Hamilton, lalu bersama Vitaly Petrov (Lotus Renault GP) menghantam keras dinding pengaman.

Safety car turun lagi ke lintasan. Petrov harus diamankan pakai ambulans, untung tidak ada cedera signifikan.
Karena lintasan butuh waktu untuk dibersihkan, pengawas lomba pun memutuskan untuk mengibarkan bendera merah. Lomba dihentikan pada putaran 72, untuk dilanjutkan ketika kondisi kembali siap.
Mobil-mobil pun kembali berderetan di garis start-finish. Semua boleh mengganti ban, melakukan perbaikan, sebelum restart.

Beruntunglah Vettel, karena ban barunya (super soft) di akhir lomba membuatnya tidak lagi terancam oleh serangan Alonso dan Button. Dia pun meraih kemenangan pertamanya di jalanan Monaco.

Usai lomba, Vettel mengakui keberuntungan itu. Tanpa safety car, dia merasa tak mungkin bisa mengalahkan Button. Vettel menambahkan, keputusan untuk memaksakan ban soft hingga 56 datang darinya. Bukan dari tim. “Kami mengambil risiko. Kami ingin menang, dan kami mendapatkannya. Saya senang, ini kebanggaan luar biasa. Ini merupakan salah satu lomba terbaik tahun ini, tentu senang bisa memenanginya,” tuturnya.

Di belakangnya, Alonso dan Button menyesali adanya safety car di momen yang menguntungkan Vettel. Kata Alonso, andai tidak ada bendera merah di akhir lomba, dia siap melakukan apa saja untuk menyalip Vettel. Dan dia yakin bisa melakukan itu.

“Saya yakin pada delapan atau sembilan lap terakhir, ban Red Bull sudah sangat belepotan. Khususnya di bagian akhir lintasan. (Kalau itu terjadi), saya nothing to lose. Saya tidak memimpin klasemen. Saya akan mencoba meraih kemenangan. Kalau harus tabrakan, maka tabrakanlah,” tandasnya.

Di lomba kemarin, beberapa pembalap yang gambling hanya satu kali stop mendapatan hasil baik. Antara lain Kamui Kobayashi, pembalap Sauber-Ferrari yang finis di urutan kelima.

Yang apes adalah Pastor Maldonado, rookie Williams-Cosworth itu di ambang poin pertamanya di F1. Sayang, dia juga jadi korban “sundulan” Lewis Hamilton di putaran-putaran akhir lomba. Untung Williams masih dapat dua poin, berkat Rubens Barrichello di urutan sembilan. Itu adalah poin perdana Williams musim ini. (aza/jpnn)

Disdikjar Simalungun Salahgunakan Rp52 M

Diadukan Dua Kepala Sekolah, Bendahara Ditahan

MEDAN-Amanat undang-undang dasar 1945 dan kebijakan pemerintah memberi porsi anggaran 20 persen atau lebih lebih untuk dunia pendidikan ternyata banyak menimbulkan masalah korupsi. Sejumlah dinas pendidikan di banyak daerah disorot karena dugaan penyalahgunaan angaran.

Kini giliran  Dinas Pendidikan dan Pengajaran (Disdikjar) Kabupaten Simalungun yang menjadi incaran penegak hukum. Saat ini Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Diteskrimsus) Polda Sumut menyelidiki dugaan tindak pidana penyalahgunaan Dana Alokasi Khusus  (DAK) tahun anggaran 2009 senilai Rp52 miliar di Dikjar Pemkab Simalungun. Penyidik Dit Reskrimsus masih mengumpulkan sejumlah bukti-bukti sebagai dasar awal penyelidikan.

“Kasus ini kita tangani berdasarkan pemberitaan di surat kabar dan hasil monitor tim di lapangan,” ujar Direktur Reskrimsus Polda Sumut Kombes Pol Sadono Budi Nugroho melalui Kasat Tipikor AKBP Verdy Kalele, Minggu (29/5)
Penyelewengan dana miliaran itu terjadi di proyek rehabilitasi 308 sekolah dasar (SD). “Prosesnya masih lidik. Kita masih lakukan pengumpulan bukti,” ucap Verdy.

Untuk rehabilitasi 308 SD tersebut, Disdikjar Pemkab Simalungun mendapat kucuran dana Rp46 miliar dari Departemen Pendidikan RI. Sedangkan Rp6 miliar sisanya, disediakan Pemkab Simalungun sebagai dana penyerta. “Itu sudah diatur dalam undang-undang, Pemkab yang menerima DAK harus menyediakan dana penyerta,” jelas Verdy.

Sebelumnya, kasus ini ditanggani Polres Simalungun semasa dipimpin AKBP Marzuki. Saat itu, petugas Tipikor Sat Reskrim Polres Simalungun menangkap dan menetapkan Bendahara Disdikjar Pemkab Simalungun berinisial LTPH (40) sebagai tersangka. Bendahara Disdikjar ini diduga melakukan penggelapan pembayaran pesanan dan pemasangan material rehab bangunan DAK tahun 2009 sebesar Rp4,3 miliar. Total kerugian dari dua kasus ini mencapai Rp7,3 miliar.

Penangkapan terhadap tersangka dilakukan setelah penyidik Sat Reskrim Polres Simalungun melakukan pemeriksaan lebih kurang 132 kepala sekolah SD se-Kabupaten Simalungun sejak September 2010 hingga Februari 2011.
Tersangka diadukan Misdianto mewakili rekanan pengerjaan bangunan fisik ratusan Sekolah Dasar (SD) se Kabupaten Simalungun dengan nomor LP/489/IX/2010/SU/Simal pada 1 September 2010 dan kemudian di lanjutkan pengaduan kedua oleh Simbur Siallagan dengan nomor LP/542/X/2010/SU/Simal tertanggal 18 Oktober 2010.
Dalam pengaduan tersebut, Misdianto mewakili 8 perusahaan rekanan, masing-masing UD Tetap Jaya, CV Karya Mandiri Sejahtera, UD Jaya Sejahtera, PT Cipta Alam Segar Inter, PT Cipta Karya bangun Nusa, CV Kurnia Putra Mulia serta CV Agis dan CV Genis Mandiri selaku penyuplai material rehab bangunan.

Kepala sekolah yang mengelola dana tersebut kemudian mengajukan permohonan kepada Misdianto, Simbur Siallagan, dan Kardius, untuk pengadaan baja ringan, atap, profil dan gipsum yang nilainya mencapai Rp22,111 miliar. Sesuai perjanjian, biaya pembelian dan pemasangan bahan tersebut diberikan langsung oleh LTPH sesuai kemajuan pekerjaan. Namun, meskipun pekerjaan sudah selesai dan tahun anggaran sudah berlalu, oknum bendahara tersebut belum menuntaskan pembayaran secara keseluruhan.

Tersangka diadukan telah melakukan penggelapan sisa uang pembayaran untuk rehab fisik 308 SDN se Kabupaten Simalungun sebesar Rp4.381.389.509, dari jumlah keseluruhan sebesar Rp22.111.677.009. Padahal semua pengerjaan DAK untuk tahun 2009 yang dikerjakan secara swakelola sudah rampung dan tersangka sudah mengutip uang pembayaran dari sebahagian besar sekolah yang direhab.

Jumlah yang belum dilunasi kepada rekanan Misdianto sebesar Rp2,739 miliar, Simbur Siallagan diwakili Haris Anggara sebesar Rp665 juta, dan Kardius sebesar Rp976,8 juta. Total kerugian pengusaha yang diduga digelapkan tersangka mencapaiRp4,381 miliar lebih.

Petugas Sat Reskrim juga sudah menyita barang bukti yang menguatkan dua laporan pengaduan serta penetapan LTPH menjadi tersangka. Adapun barang bukti yang disita, 132 Lembar permohonan pengeluaran barang, 132 Rencana Anggaran Bangunan (RAB), 132 buku rekening sekolah, 396 tanda Terima  Uang dari Kepala sekolah kepada Lamhot, 8 tanda terima uang dari Lamhot kepada Misdianto, 4 tanda terima uang dari Lamhot kepada haris Anggara, 132 lembar Berita Acara Pekerjaan dan 1 berkas daftar nama penerima DAK tahun 2009.
Tersangka dijerat dengan Pasal 372 Yo 374KUHP, yaitu penggelapan dalam jabatan dengan ancaman di atas lima tahun penjara.(adl)

Kunjungi Museum, Gunting Jala dan Nonton Konser Shakira

Pesta Skuad Barcelona setelah Juara Liga Champions 2010-2011

Begitu wasit Viktor Kassai asal Hungaria meniup peluit panjang, Barca tidak hanya resmi mengukuhkan diri sebagai jawara Eropa. Sejak itu pula, pemain Barca melakoni rangkaian agenda pesta juara. Apa saja ?
LAGU Champions League dari Royal Philharmonic Orchestra mengiringi selebrasi pemain Barca di lapangan Stadion Wembley. Setiap pemain berebut untuk mencium dan mengangkat tinggi-tinggi piala Liga Champions sembari berlari keliling lapangan dan diabadikan jepretan kamera oleh para fotografer.

Tapi, perkecualian untuk defender Gerard Pique. Bukannya ikut berlari keliling atau berpose bersama piala berjuluk The Big Ear itu. Bek Barcelona ini justru menuju ke salah satu gawang. Setelah tiba di gawang, tiba-tiba dia mengeluarkan gunting yang kelihatannya sudah dipersiapkan.

Apa yang dilakukannya? Ternyata, Pique dengan tekun memotong jala gawang. Tidak hanya sebagian, melainkan seluruhnya. Aksinya mendapat perhatian dari rekan setim seperti Dani Alves dan Sergio Busquets. Keduanya lalu membantu Pique.

Setelah beres, Pique dengan tertawa bergabung dengan rekan setimnya yang lain sembari menyelimuti badannya dengan jala gawang. Pique, sepertinya, menganggap jala gawang sebagai salah satu memorabilia lainn
yang berharga dari sukses Barca meraih gelar keempat di Liga Champions.

“OK. Dia (Pique) sudah memotong dan mendapatkannya. Sekarang, entah bagaimana dia akan memasukkan jala itu dalam kopernya,” komentar sebuah blog di New York Times.

Yang pasti, selang beberapa jam kemudian, tidak ada lagi jala gawang dalam tubuh Pique saat rombongan Barca mengunjungi Museum Sejarah Alam London. Siapa yang menyangka, pesta dirayakan bersama kerangka dinosaurus, patung Charles Darwin, dan Pohon Sequoia berusia 1.300 tahun.

Barca disebut merogoh kocek 30 ribu pounds (Rp423 juta) sebagai biaya booking museum yang pernah digunakan sebagai tempat premiere sekuel film Harry Potter enam tahun lalu itu. Acara pun berlangsung sampai pukul tiga dini hari.

Kabarnya, manajemen Barca merancang acara ke museum untuk menghindari pemain agar tidak mengikuti tren pesta pesepak bola Inggris yang kerap dihabiskan di kelab malam. “Agenda ke museum sifatnya privat sehingga kami melarang media melakukan peliputan dan hanya mendapat rilis,” ungkap Toni Freixa, sekretaris Barca, di situs resmi klub.

Semua pemain Barca, sepertinya, tidak terlalu ambil pusing merayakan pesta juara Liga Champions di museum. Toh, itu hanya di London karena perayaan pesta sesungguhnya menanti di rumah mereka, Nou Camp. Setelah meninggalkan London pukul 12 siang kemarin waktu setempat (29/5), rombongan Barca mendarat di Bandara Barcelona pukul setengah empat sore. Dari sana, mereka akan diarak keliling kota hingga berlabuh di Nou Camp.
Ternyata, pesta di Nou Camp bukan penghabisan. Perayaan pemain Barca berlanjut dengan acara nonton konser penyanyi cantik dan seksi Kolombia, Shakira, di Estadi Olimpic Lluis Companys. Stadion ini merupakan bekas kandang klub sekota Barca, Espanyol.

Tentu saja pemain Barca yang paling antusias adalah Pique yang notabene kekasih Shakira sejak Januari lalu. Pique kemungkinan juga tidak akan melewatkan empat tur konser Shakira lainnya di Spanyol. Di antaranya di Valencia (30/5), Almeria (1/6), Madrid (3/6), dan terakhir di Bilbao (4/6).

“Juara ! Hidup Barca ! Sekarang bersiap untuk pesta besar-besaran,” tulis Shakira di akun Twitter-nya. (dns/bas/jpnn)

Luna Maya Jadi Sutradara

Sukses di berbagai bidang di dunia entertainment, sebagai pemain film, sinetron, penyanyi, maupun MC, belum memberikan kepuasan kepada aktris cantik Luna Maya. Buktinya, ada satu bidang lagi yang ditekuni kekasih Ariel Peterpan tersebut di dunia entertainment dalam waktu dekat ini, yaitu sutradara film.

Ditemui saat memberikan workshop untuk sineas muda di Balairung Ballroom Gedung Telkom Ketintang pada Sabtu (28/5), Luna mengungkapkan keseriusannya bekerja di balik layar. “Sungguh, pekerjaan sebagai sutradara itu sangat mengasyikkan sekaligus menantang,” kata Luna.

Menurut dara kelahiran 26 Agustus 1983 itu, kecintaannya pada profesi sutradara terjadi dua tahun lalu. Ketika itu, dia dipercaya untuk membesut film pendek karyanya sendiri yang berjudul Suci and The City pada ajang LA Lights Indie Movie. “Dari sana, muncul rasa ketagihan membuat film,” ujarnya.

Luna menyatakan, menjadi sutradara lebih susah daripada pekerjaannya selama ini yang lebih banyak berkutat di depan kamera. Sutradara, menurut dia, harus bisa menyatukan berbagai karakter orang yang tergabung dalam filmnya, pemain sampai kru.

“Sebab, dalam sebuah film, sutradara adalah otaknya. Dialah yang menentukan mau alur cerita film itu,” jelas mantan host acara musik Dahsyat tersebut.

Untuk proyek pertamanya dua tahun lalu, Luna mengungkapkan hanya bermodal nekat. Dia itu tidak mau mendapat bantuan dari siapa pun saat itu. Dia tidak mengambil keputusan tersebut karena merasa sombong atau sok pintar. Dia hanya ingin melihat kemampuannya dalam menghasilkan film.

“Saya anggap itu sebagai pelajaran berharga. Jadi, saya siap menerima risiko apa pun. Jelek atau bagus film tersebut, saya yang bertanggung jawab,” jelas pelantun Suara Kuberharap itu dengan mantap.

Film besutannya kala itu mendapat banyak pujian dari kritikus film. Perempuan yang memulai karir dari dunia model tersebut mulai serius belajar menjadi sutradara. Tidak tanggung-tanggung, dia belajar langsung ke salah seorang sutradara kawakan negeri ini, Garin Nugroho.

“Mas Garin adalah orang dan guru yang tepat untuk aku jadikan panutan. Aku belajar proses syuting sampai cara menghayati profesi tersebut lewat dia,” jelasnya.

Meski menjadi sutradara, Luna tidak mau membuat film yang bercerita tentang perjalanan hidup pribadinya. Dia lebih suka membuat film yang memiliki impact ke masyarakat. “Salah satu caranya, memberikan film yang realistis, bukan yang hanya menjual kekayaan atau keseksian,” jelas mantan ikon sabun kecantikan itu.

Menurut Luna, hal tersebut cukup penting. Sebab, film tidak hanya berfungsi sebagai alat tontonan, melainkan harus memberikan nilai pada masyarakat. “Terserah dinilai baik atau buruk, yang penting, masyarakat harus memberikan nilai. Sebab, masyarakat kita sudah pintar” jelasnya.

Menurut peraih nominasi Panasonic Gobel Awards 2010 untuk kategori presenter musik variety show terfavorit tersebut, membuat film adalah sesuatu yang merdeka. “Jadi, kalau ada yang ngomong bahwa orang menjadi rusak gara-gara film atau sebaliknya, itu tidak benar. Sebab, semua bergantung pada pribadi masing-masing,” paparnya. “Kita harus belajar mengoreksi diri. Jangan sedikit-sedikit menyalahkan film jika terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan,” imbuhnya. (nji/c12/dos/jpnn)

Ratusan Warga Madina Bakar Tambang Emas

Satu Warga Tertembak Polisi

MADINA-Lima ratusan warga Hutagodang Muda, Kecamatan Siabu, Madina, mengamuk, Minggu (29/5) kemarin. Mereka membakar camp dan logistik PT Sorikmas Mining (SM) di Tor Sihayo,  10 kilometer dari pemukiman. Seorang warga terkapar ditembak.

Kemarahan warga dipicu sikap manajemen perusahaan tambang emas itu yang tidak memenuhi tuntutan warga yang berdomisili di sekitar lokasi pertambangan.

Massa berangkat dari rumah masing-masing pukul 07.00 WIB. Lalu, berjalan kaki ke lokasi dan tiba sekitar pukul 11.30 WIB.

Di lokasi, massa sempat mendapat perlawanan dari polisi yang berjaga. Untuk meredakan emosi warga, polisi meletuskan senjata api ke udara. Massa justru semakin beringas dan berteriak, “Bakar…, bakar…, bakar…!”. Polisi pun kembali meletuskan senjata api. Apes, warga bernama Solatiyah (20) terkena peluru nyasar.
Warga semakin panas dan memaksa menerobos pertahanan polisi. Kalah jumlah, polisi pasrah melihat massa mengamuk dan membakar camp.

“Kami sudah sering mengajukan permohonan kepada perusahaan tapi tak pernah direspon,” sebut Syafran (30), seorang warga.

Menurutnya, aksi tersebut kesepakatan bersama warga yang jengah dibohongi  perusahaan. “Isi tuntutan hanya minta masyarakat diberikan subsidi, yakni setiap rumah tangga diberi lahan 2 hektar. Lalu, pelajar dari SD, SMP, hingga SMA sederajat diberi beasiswa,” bebernya.

Syafran menambahkan, sejauh ini pihak perusahaan sering menyarankan agar masyarakat mengantarkan proposal tetapi tak pernah terealisasi. “Dalam beberapa bulan terakhir, warga beberapa kali mengajukan permohonan permintaan tetapi tak pernah terelasisasi, makanya warga mengamuk,” pungkas warga.

Pihak PT SM yang dikonfirmasi melalui Humas Operasional, Erik, mengesalkan tindakan kriminal warga. Sebab, persoalan tuntutan warga telah disampaikan kepada pimpinan PT SM di Jakarta. “Pihak perusahaan bukan tak mau membantu dan menyikapi tuntutan warga. PT SM memiliki social responsibility kepada masyarakat sekitar sesuai mekanisme dan aturan pemerintah dan perundang-undangan. Untuk realisasinya tak semudah yang diperkirakan masyarakat dan butuh proses,” sebutnya.

Pj Bupati Madina Aspan Sopian Batubara yang dikonfirmasi lewat telepon selulernya mengimbau masyarakat jangan lagi main hakim sendiri. “Saya berharap seluruh masyarakat terutama tokoh-tokoh agama agar membantu menjaga kondusifitas. Jangan terpancing dan terprovokasi oleh oknum-onum yang ingin memperkeruh situasi. Jangan sampai korban bertambah. Mari kita berpikir positif,” pinta bupati.

Kapolres Madina AKBP Ahmad Fauzi Dalimunte SIK yang dikonfirmasi lewat telepon selulernya terkait persoalan tersebut, mengaku belum mengetahui titik persoalan secara detail. “Saya belum tahu titik persoalan, begitu juga dengan penembakan. Saya sedang menuju Panyabungan dari Jakarta,”ujar kapolres.

Direktur RSUD Panyabungan drg Ismail Lubis yang dikonfirmasi melalui telepon selularnya terkait pasien korban peluru nyasar, membenarkan ada pasien dengan luka tembak masuk ke RSUD. (wan/ann/smg)