Home Blog Page 15362

Salahkan Kabiro Keuangan, Hasbullah Siap Diperiksa KPK

Dugaan Penyelewengan Rp9,7 Miliar Dana Bansos untuk USU

MEDAN-Apa kabar dugaan penyelewengan dana hibah bantuan social untuk Univertitas Sumatera Utara (USU)? Siapa yang bertanggung jawab atas dana dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provsu 2010 yang hanya dikucurkan Rp8,8 miliar dari seharusnya Rp18.5 miliar?

Soal dana sekitar Rp9,7 miliar yang tidak dicairkan,mantan Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah (Plt Sekda) Provsu kala itu, Hasiholan Silaen, langsung menyebut Kepala Biro Keuangan, M Syafii, dan Kepala Biro Binsos, Hasbullah Lubis, yang tahu hal itu.

Apa tanggapan M Syafii? Kepala Biro Keuangan Provsu itu berkilah, pencairan dana hibah Rp8,8 miliar sesuai permintaan pihak USU sendiri. “Itu sesuai permintaan pihak USU,” katanya.

Penegasan itu diucapkannya saat menghadiri jamuan makan malam Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho dengan Pengurus Wilayah Al Washliyah Sumut di Rumah di Komplek Taman Setia Budi Indah (Tasbih) Blok YY No 29 Medan, Jumat malam (22/4).

Ditanyakan berulang-ulang, M Syafii tetap menyatakan, dana sebesar itu sesuai permintaan USU. Syafii menolak disebut bagian dari konspirasi untuk memangkas pencairan dana bansos pendidikan tersebut. “Ada suratnya dari USU,” ungkapnya.

Ditanya berapa nomor surat, kapan diberikan pihak USU ke Pemprovsu ke Biro Keuangan, Syafi’I menjawab, lupa. “Lupa lah saya nomornya, kapan surat itu diberikan. Berkasnya ada di kantor,” jawabnya.

Sebelumnya, Kepala Biro Binsos Provsu Hasbullah juga menolak bertanggung jawab. “Nggak, nggak ada,” bantahnya saat yang ditemui pada acara Pengukuhan Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Methodist Indonesia di Platinum Room Raz Plaza Convention Hall Jalan Dr Mansyur Medan, Kamis (31/3).

Hasbullah juga membantah menyaksikan penyerahan uang Rp8,8 miliar dari pemprovsu ke pihak USU di Mess Pemprovsu di Jalan T Daud. “Saya Nggak di situ,” tegasnya. Namun Hasbullah tak berkutik ketika diingatkan kembali terkait keterangan Hasiholan Silaen dan PR II USU Armansyah Ginting, Hasbullah saat digelarnya Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi E DPRD Sumut dengan pihak Universitas Sumatera Utara (USU), Senin 21 Maret 2011 lalu. “Iya, saya di situ,” akunya.

Ditanya mengapa anggaran dana Rp18,5 miliar hanya diserahkan Rp8,8 miliar, Hasbullah malah menunjuk Kepala Biro Keuangan, M Syafii. “Saya hanya urusan (teknis)-nya saja. Yang soal uang dan pencairannya Kepala Biro Keuangan. Saya tidak tahu itu,” katanya.

Saat ditanya, siapakah yang menandatangani persetujuan pencairan dana tersebut, Hasbullah enggan menjawab. “Saya tidak tahu. Pecairannya kan Kepala Biro Keuangan. Coba tanya ke dia saja,” ungkapnya.
Nah, ketika ditanya apakah dirinya pernah diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dugaan-dugaan penyelewengan dana, Hasbullah kembali membantah. “Tidak. Saya tidak pernah diperiksa KPK. Tidak pernah,” tegasnya.

Hasbullah tidak takut bila nanti kasus ini diperiksa KPK. “Ya. Apa yang nantinya bakal ditanya akan saya jawab,” katanya.

Seperti telah diberitakan, USU menerima hibah bansos Rp8,8 miliar dari yang seharusnya Rp18,5 miliar yang bersumber dari APBD Provsu 2010. Hasiholan membenarkan proses pencairan dana tersebut di Mess Pemprovsu 20 Desember 2010 lalu, dihadiri Kabiro Keuangan Provsu M Syafi’i, Kabiro Bansos Hasbullah Lubis, dan pihak USU diwakili Pembantu Rektor II yakni, Armansyah Ginting.

Hasiholan menyatakan, yang bertanggung jawab dengan munculnya persoalan ini adalah Kepala Biro Keuangan dan Kepala Biro Bansos Provsu. “Iya benar. Soal angkanya, waktu itu ada Rp18,5 miliar. Sisanya katanya belum cair. Saya tanya kenapa belum cair. Kemudian, diadakanlah rapat. Waktu saya bilang, mana yang bisa dicairkan cepatlah dicairkan.  Kenapa yang lain belum cair, Purek II bilang Kabiro Keuangan dan Kabiro Binsos yang tahu. Saya yang memimpin rapat waktu itu karena waktunya memang tinggal sedikit” katanya kala itu.

Saat ditegaskan, berarti persoalan ini muncul bersumber dari dua biro yang bersangkutan yakni, Biro Binsos dan Keuangan Provsu, Hasiholan Silaen ternyata menyangkal pernyataannya sendiri.
“Ooo, saya tidak mengatakan seperti itu. Biro Binsos dan Biro Keuangan yang lebih tahu,” ungkapnya.(ari)

Dipermak Korban Sendiri

Seorang pencuri spesialis sepeda motor babak belur dihajar korbannya sendiri saat hendak membawa lari curiannya. Pencuri itupun babak belur dihajar massa, Sabtu (23/4) malam, pukul 23.00 WIB.

Nasib naas ini dialami Herdison Piliang (35), warga Padang Pariaman, yang tinggal di Jalan Brigjend Katamso, Gang Melur, Medan. Saat itu dia mengintai sepeda motor milik Apriando Manihuruk (19), warga Jalan Jamin Ginting, Pasar I yang diparkir di Indomaret Jalan Dr Mansyur Medan.

Dia pun mendekati sepeda motor tersebut dan duduk di atasnya. Ternyata, aksinya sudah dipantau oleh pemilik sepeda motor tersebut. Saat Herdison hendak menyorong sepeda motor itu ke Jalan Dr Mansyur, Apriando langsung mengejarnya dan berteriak maling.

Naas, Herdison tak sempat melarikan diri, dia tertangkap oleh Apriando yang langsung melayangkan tinjunya ke wajah lelaki asal Padang Pariaman itu.

Tidak mau jadi bulan-bulanan massa, sebagian warga pun langsung menghubungi Mapolsek Medan Sunggal untuk mengamankan pencuri sepeda motor itu.

Di Mapolsek Medan Sunggal, Herdison mengaku dirinya sudah 6 kali melakukan pencurian di kawasan Jalan Jamin Ginting, Padang Bulan Medan.

Bukan itu saja, pada akhir 2010 lalu Herdison juga pernah ditangkap Polisi dari Mapolsek Patumbak. Dia mengaku, akan menjual kreta curianya itu kepada seseorang yang disebut-sebut bernama Andi (warga NAD) seharga Rp2 juta. “Kujual Rp2 juta Bang, kalau berhasil kami jumpa di kawasan Jalan Ring Road,” ujarnya.(fit/smg)

Hanas Hasibuan Mister No Comment

MEDAN- Kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga (Kadispora) Medan Hanas Hasibuan, sudah terlihat gamang. Pasalnya, Hanas yang biasa ramah dalam menjawab pertanyaan wartawan terkait kasus dugaan korupsi yang disinyalir melibatkannya, tiba-tiba berubah menjadi mister no comment.

Seperti saat ditemui wartawan Sumut Pos di sela-sela acara gotong royong Wali Kota Medan Rahudman Harahap dengan segenap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemko Medan di pekuburan muslim Jalan Halat Medan, Minggu (24/4), dia tak mau menjawab pertanyaan wartawan koran ini.

“Kalau untuk yang itu, no comment lah ya,” katanya kepada Sumut Pos. Jawaban yang sama juga terlontar dari mulut pria yang memiliki hobi menyanyi ini, saat kembali ditanya mengenai hal tersebut oleh Sumut Pos. “Aduh, kalau untuk yang itu no commentlah,” katanya sembari meninggalkan wartawan koran ini.

Terkait hal itu, pengamat hokum asal Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Farid Wajdi mengungkapkan, pada prinsipnya penanganan kasus di Bagian Humas Pemko Medan ini sudah terlihat berlarut-larut. Tidak ada kejelasan yang signifikan dari pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Medan. Seharusnya, pihak Kejari Medan memberikan informasi yang jelas, sudah sejauh mana proses pengumpulan buktinya, sudah sejauh mana proses pemeriksaan saksi-saksi dan sebagainya.

Dengan kondisi seperti ini, secara otomatis juga membuat pelapor terus-terusan bertanya. Sementara yang terlapor dalam hal ini Hanas Hasibuan, juga akan bertanya-tanya mengenai perkembangan kasus tersebut. Itu sama artinya, menjadi siksaan bagi terlapor. Terutama dalam masalah sosiologisnya.

“Penegak hukum harus memberi informasi, sudah sejauh mana perkembangan proses ini. Kalau memang layak jadi tersangka, maka secepatnya proses ini dilanjutkan. Kalau tidak layak, secepatnya pula diselesaikan. Kalau ini berlarut-larut, ini juga akan menjadi siksaan secara sosiologis bagi terlapor,” kata Farid Wajdi.
Maka untuk itu, sambung Farid Wajdi, seharusnya pihak penegak hukum khususnya Kejari Medan memiliki konsistensi dalam penyelesaian kasus ini. “Harus konsisten, jangan ada kesan politis, jangan ada kesan kepentingan dan sebagainya. Karena ini sudah berbulan-bulan, namun tidak ada kepastian hukum. Jangan masyarakat terombang-ambing. Masyarakat saja dag-dig-dug menunggu perkembangan kasus ini, apalagi yang bersangkutan” tuturnya.(ari)

Pak Kadis Minta Setoran Wajib…

Dugaan Pungli di Dinas Kebersihan Medan

MEDAN- Indikasi adanya pungutan liar (Pungli) merebak di jajaran Dinas Kebersihan Pemerintah Kota (Pemko) Medan. Pungli tersebut dilakukan kepada para mandor kebersihan Dinas Kebersihan Kota Medan, dan diindikasikan dilakukan Kepala Dinas Kebersihan Kota Medan Pardamean Siregar.

Wartawan koran ini akhir pekan lalu ditemui beberapa mandor di Dinas Kebersihan Medan. Mereka mengadukan soal pungli tersebut. Awalnya mereka ragu menceritakan persoalan pungli yang menimpa mereka. Setelah wartawann koran ini menyakinkan bahwa identitas mereka tak disebut, barulah mereka bersedia berbicara.

“Kadis baru yang ini lain, beda sama kadis yang sebelumnya. Masak kami diminta menyetor uang bulanan kepada Pak Kadis. Seharusnya, Pak Kadis lah yang perhatian sama kami yang ada di lapangan, bukannya harus menyetor uang bulanan. Macam uang preman saja,” ujar seorang mandor dan diamini mandor lainnya.

Saat wartawan koran ini menanyakan soal ‘kebijakan’ yang nyeleneh tersebut mungkin karena ada pendapatan lain (uang masuk, Red) yang diterima para mandor, sejumlah mandor tersebut awalnya diam, tapi kemudian mereka blak-blakan. “Iya memang ada Bang. Tapi itukan uang minyak kami, ya semacam dana operasional di lapangan. Uang masuk itu katanya berasal dari pemberian sukarela pemilik rumah yang sampahnya telah diangkut. Paling Rp5 ribu sampai Rp10 ribu yang kami dapat. Kalau harus menyetor Rp150 ribu sampai Rp250 ribu, dari mana kami mencarinya,” tambah mandor yang lain.

Apakah perintah memberikan setoran itu datang langsung dari mulut Kadis Kebersihan? Para mandor tersebut mengatakan tidak. Menurut mereka, ratusan mandor yang ada di Dinas Kebersihan dikumpulkan seorang kepala bidang (Kabid) di dinas tersebut. “Pak Kabid bilang, ini perintah Pak Kadis, kami harus memberikan setoran wajib tiap bulan,” tambahnya.

Sejauh ini, lanjut mereka, belum semua mandor memberikan setoran tersebut. Namun, sudah ada puluhan mandor yang melakukannya sejak bulan lalu. “Kami-kami ini yang masih membandel sudah diancam. Kalau bulan ini tak memberikan setoran juga, bakal dicopot dari jabatan kami,” tambahnya.

Terkait dengan itu, Pardamean Siregar yang dikonfirmasi Sumut Pos membantah hal itu. Dikatakannya, kalau pun ada yang melakukan hal tersebut, itu adalah perbuatan dari oknum di Dinas Kebersihan yang menjual-jual namanya.
“Nggak ada, itu fitnah. Kalau memang ada, pasti saya sudah kaya. Dan isu bahkan laporan adanya pungutan yang katanya atas nama saya, sudah saya terima sejak pekan lalu. Tapi anehnya, sampai sekarang tidak ada yang menunjukkan batang hidungnya, siapa yang merasa dipungli,” bantahnya.

Selanjutnya, Pardamean menuturkan, jika nantinya ditemukan oknum dari Dinas Kebersihan yang melakukan itu dan bias ditemukan bukti-bukti yang menguatkan, maka dirinya tidak segan-segan untuk memberhentikan oknum tersebut.

“Kalau ada itu, akan langsung saya berhentikan detik ini juga,” tegasnya.

Pardamean menjelaskan, laporan yang diterimanya adalah besaran pungutan liar itu berbeda-beda, antara Rp150 ribu sampai Rp250 ribu. “Itu laporannya. Tapi itu tidak benar, itu fitnah,” tandasnya lagi.
Sementara itu, anggota Komisi D DPRD Medan Juliandi Siregar menjelaskan, jika memang benar adanya pungli yang dilakukan Kepala Dinas Kebersihan Kota Medan Pardamean Siregar, diharapkan para mandor kebersihan bisa memberikan laporan kepada Komisi D DPRD Medan.

Agar Komisi D DPRD Medan bisa menindaklanjuti hal itu. Baik dengan cara mengkonfrontir langsung Kepala Dinas Kebersihan serta para mandor kebersihan lainnya.

Jika nantinya terbukti hal itu benar-benar terjadi, bukan hal yang mustahil kalau nantinya Komisi D DPRD Medan bisa memasukkan rekomendasi kepada Wali Kota Medan untuk melakukan evaluasi, terlebih lagi evaluasi jabatan. Karena, pungutan liar yang dilakukan tersebut merupakan sikap dan tindakan yang fatal dan tidak bisa ditolerir. “Ini fatal. Kalau terbukti nantinya benar, maka tidak mustahil Komisi D akan membuat rekomendasi kepada wali kota untuk mengevaluasi Kepala Dinas Kebersihan Kota Medan,” tegas Juliandi.(ari)

Tip Top, Pertahankan Cita Rasa

Mengunjungi Ikon Kuliner Kota Medan (3)

Penelusuran sejarah kuliner kita masih terus berlanjut. Tujuan kali ini Restaurant Tip Top di Jalan Ahmad Yani No 92 Medan. Rumah makan yang tidak hanya melegenda di Kota Medan juga tercatat sebagai salah satu restauran tertua
di Indonesia.

Ditandai dengan canopy merah, Tip Top menawarkan tigan ruangan untuk menikmati waktu senggang. Ruang paling depan dengan konsep beranda rumah memberikan kenyamanan tersendiri. Di bahagian tengah, suasana
tempo dulu menyapa dengan berbagai ornamen yang ada. Seperti mesin kasir tempo dulu, tatanan meja kursi yang menawarkan perpaduan nuansa western, Tiongkok, juga Indonesia.

Foto-foto dari perjalanan restaurant Tip Top yang dipajang di sekeliling ruangan pun menjadi perkenalan sejarah bagi pengunjung. Hiburan berupa live music juga dapat dinikmati di ruangan ini setiap
Rabu, Sabtu, dan Minggu mulai pukul 20.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB. Dari lagu-lagu tradisional Batak, nasional, hingga irama latin. Dengan pencahayaan yang temaram sudah bisa dibayangkan bagaimana mesranya
komunikasi yang terjalin di situ.

Tip Top yang pernah menjadi salah satu restauran tujuan wisata mancanegara dari Belanda maupun Cina Taipe juga menawarkan ruangan dengan kenyamanan lebih. Berada di bagian belakang gedung ruang berkapasitas 80 orang ini dilengkapi dengan pendingin ruangan. Di ruangan ini pula kerap digelar berbagai kegiatan.

“Kita memang sengaja mempertahankan bangunan sebagaimana dulunya untuk menjaga suasana tempo dulu, dari lantai hingga corak di dinding. Jadi selain memberi pelajaran sejarah kepada pengunjung juga menjaga
romantisme pengunjung yang memiliki cerita di masa lalu. Karena dari studi yang ada, kemewahan justru beresiko menghilangkan suasana tadi,” jelas Manager Tip Top, Didrikus Kelana (40) kepada Sumut Pos, Sabtu
(23/4).

Sebagai tujuan kuliner, restaurant Tip Top pun menawarkan ragam menu yang khas, western, Tiongkok, dan Idonesia. Untuk menu western ada steak lidah yang lembut begitu juga dengan omlet, salad, bitter
bullet dan pacage. Untuk Chines food ada ayam goreng somboi, hot pad, ikan asam manis, sup sirip ikan, kepiting, juga cap cai. Adapun untuk citarasa Indonesia ada gado-gado, kari kambing, kepala ikan, rendang,
dan nasi goreng special Tip Top. Untuk menemani obrolan santai, Tip Top juga menyadiakan kopi yang cukup diminati selain aneka juice dan martabe.

Tip Top juga memiliki menu yang dapat menghantar pengunjung kembali ke masa lalu dengan mencicipi ice cream dan roti bolunya. Pasalnya, kedua menu tersebut masih menggunakan proses tradisional. Seperti roti
bolu yang masih dibakar dengan tungku kayu. Kayu yang dipilih pun tidak sembarangan yaitu menggunakan kayu Mahoni yang sengaja dikembangkan. Bukan dari ilegal logging kok. Semua itu membuat roti
bolu masih terasa sedikit kasar di mulut dan menimbulkan aroma wangi. Begitu juga dengan ice cream yang resepnya dipertahankan dari zaman kolonial. Menggunakan bahan-bahan tanpa pengawet yaitu susu murni.
Pembuatannya juga masih menggunakan peralatan lama seperti untuk pengolahan susu dan mesin pembeku. Tak heran ice cream Tip Top kerap disebut ice cream dari perang dunia II. Begitu pun kenikmatan menu-menu tadi tidak akan merobek kantong pengunjung karena ditawarkan
dengan harga yang terjangkau masyarakat awam. Karena itu belakangan ini Tip Top pun menjadi salah satu tongkrongan paforit remaja Kota
Medan.

“Untuk mempertahankan cita rasa tadi, sampai sekarang kita tetap membakar roti bakar dan menjadikan ice cream ini secara home made. Mesin yang kita gunakan untuk mengolah susu ini dari yang pertama kalinya. Untuk pembeku esnya merupakan generasi kedua. Jadi untuk sparepartnya harus kita buat sendiri dengan dibubut,” papar Kelana yang mengajak Sumut Pos menyaksikan proses dan mesin antik yang masih
digunakan Tip Top.

Tip Top dulunya merupakan restauran bernama Jangkie yang merupakan nama pendirinya pada 1929 silam di Jalan Pandu Medan. Berganti nama menjadi Tip Top setelah pindah ke Jalan Kesawan Medan 1934 dengan menu
yang semakin lengkap. Tip Top pun menjadi tongkrongan mebeer-meneer Eropa van Belanda setiap Sabtu dan Minggu. Berlanjut hingga sebelum pecahnya kerusuhan Mei 1998, setiap  Kamis diramaikan oleh turis asal
Belanda membuat Tip Top menjadi putih.

Keberadaan Tip Top pun tersebar dan menarik perhatian orang-orang penting di negara ini. Bahkan Presiden I Republik Indonesia Ir Soekarno sikabarkan sudah menginjakkan kaki di restaurant terlengkap di Indonesia ini. Begitu juga Aktivis 66 Arifin Siregar, Akbar Tanjung, hingga Almarhum Tengku Rizal Nurdin yang berpesan untuk
mempertahankan keberadaan Tip Top dengan tidak mengalihfungsikannya.(*)

Didominasi Developer

BNI Gelegar Expo

Bank Negara Indonesia (BNI) mengadakan acara untuk para nasabahnya. Selain untuk mendekatkan diri dengan nasabah, juga untuk memperkenalkan produk BNI ke masyarakat, melalui BNI expo yang diselenggarakan di Atrium Plaza Medan Fair Jalan Gatot Subroto Medan  Expo yang telah terselenggara selama tiga hari ini, akan berakhir pada 1 Mei 2011 mendatang. BNI Expo ini lebih didominasi developer perumahan. Menurut Area sales manajer BNI Medan Darual Kutni, semua yang mengikuti pameran ini adalah yang bekerja sama dengan BNI untuk KPR nya.

Ada 28 stand perumahan yang mengikuti pameran ini. Selain stand untuk perumahan, delapan stand juga disediakan untuk umum, baik untuk produk BNI, seperti kartu kredit, BNI emerald dan dalam expo ini juga para pengunjung dapat membuka rekening BNI. Juga produk umum seperti handphone, laptop hingga iphone dan juga sentral kredit usaha jasa yang bekerja sama dengan BNI.

“Untuk perkembangan kredit, selama ini terus berkembang, ini membuktikan masyarakat percaya dengan bank ini,” ujar Darul. Selain itu, acara expo ini sebelumnya digelar di Palembang, Pekanbaru, Jakarta dan sukses mencuri perhatian masyarakat.

Hal yang menarik dari BNI Expo, acara ini juga mengandung unsur hiburan. Dimana setiap harinya digelar hiburan musik, perlombaan model cilik, mewarnai dan menggambar. “Karena konsumen kita sudah berkeluarga, makanya acara hiburan juga untuk keluarga,” ucap Darul. Seperti acara pada Minggu (24/4) kemarin, untuk acara hiburan, BNI mengadakan lomba joget untuk para pengunjung, bapak dan juga untuk anak gadis. Setelah itu dilanjutkan lomba model cilik.

Pelaksana Tugas (PLt) Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) H Gatot Pujo Nugroho ST  mengajak Bank Nasional Indonesia (BNI) 46 untuk ikut serta dalam menyukseskan pembangunan di Sumut. Peran tersebut, khususnya dalam hal pembiayaan proyek-proyek infrastruktur yang sedang dan akan berlangsung di Sumut.

“Peran ini tentu sangat diharapkan, khususnya dalam perbaikan dan pembangunan jalan-jalan di Sumut. Hal ini demi memperlancar taransportasi di Sumut, sehingga akses masuk dan keluar Sumut bisa lebih mudah dan cepat dijangkau,” kata Plt Gubsu Gatot Pujo Nugoroho, dalam sambutannya saat membuka BNI Gelar Expo, di Lantai I Plaza Medan Fair Medan, Sabtu (23/4) lalu.

Gatot mengutarakan, saat ini sedang banyak program pelaksanaan infrastruktur di Sumut yang butuh percepatan segera, diantaranya pembangunan jalan akses ke Bandara Kualanamu baik itu jalan tol maupun non tol yang nantinya sangat menentukan dalam operasional bandara pengganti Bandara Polonia tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, Plt Gubsu juga mengungkapkan pentingnya peran perbankan, termasuk BNI 46 dalam hal pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Hal ini mengingat, ekonomi kerakyatan sangat penting dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan. Upaya yang dilakukan perbankan, kata Gatot, adalah dengan memberikan kredit-kredit bagi kegiatan ekonjomi kerayatan, seperti Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

“Informasi yang saya dapat sesungguhnya masih banyak pelaku UMKM yang belum terjangkau oleh pihak perbankan. Dalam artian, perbankan masih harus meningkatkan volume dan intesitas pembiayaannya bagi pelaku kegiatan ekonomi kerakyatan ini. Di sisi lain, pelaku UMKM masih merasa keseulitan untuk mengakses perbankan,” ungkap Gatot.(mag-9/ari)

Penculik Siswi Methodist 3 Ditangkap di Batam

MEDAN- Andria alias A Chek (26) pelaku penculikan terhadap Ju Pau San alias Shenny (18) berhasil ditangkap petugas Unit VC/Judi Sila Polresta Medan di Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Minggu (24/4) pagi.

Penangkapan warga Jalan Nangka Medan ini berawal dari laporan Tjin Sin, orangtua korban. Dalam laporannya, warga Jalan Bambu I, Medan Timur ini mengaku anaknya telah diculik A Chek yang tak lain adalah kernek bus sekolah Methodist III, Jalan Perintis Kemerdekaan, Medan Timur.

Menerima laporan tersebut, petugas Unit VC/Judi Sila Polresta Medan langsung melakukan penyelidikan. Hasil lidik, ternyata pelaku telah melarikan korban ke Batam. Berbekal surat penangkapan, dipimpin Panit I VC/Judi Sila Polresta Medan Iptu JW Purba SH, petugas pun langsung terbang menuju Batam. Setelah satu hari di Batam, petugas mengendus keberadaan A Chek di sebuah rumah kost-kostan Tiban Lestari, Kecasmatan Sekupang, Batam, Kepri.

Guna keamanan, petugas Polresta Medan kemudian berkordinasi dengan Polsek setempat. Akhirnya, A Chek berhasil ditangkap bersama korban yang masih ada bersamanya. Hari ini, rencananya A chek dan korban akan tiba di Medan.
Sementara Kanit VC/Judi Sila Polresta Medan AKP Hartono SH mem benarkan penangkapan yang dilakukan anggotanya. “Iya, tapi masih di Batam, rencananya hari ini sampai Medan,” tegasnya.

Diketahui, penculikan ini terjadi  Jumat (15/4) lalu. Orangtua korban merasa curiga, karena hingga sore korban tak kunjung pulang ke rumah. Selanjutnya, pada Sabtu (16/4) lalu, orangtua korban membuat laporan ke Polresta Medan. “Saya berharap polisi segera menidaklanjuti laporan ini dengan menangkap tersangka,” ujar ibu korban Tjin Sin. (ala/smg)

Sexy Bitch Hadirkan FDJ

MEDAN- Seiring dengan tingginya permintaan dari clubbers dan pencinta dunia hiburan malam untuk dihadirkannya Female DJ dari ibukota, Clasmild dengan brand mentholnya bekerjasama dengan xXx3 Club menghadirkan Djane O-Sin feat Mechan Wong di Yang Lim Plaza Medan, Sabtu (23/4) malam.

Djane O-Shin mengawali karirnya sebagai penari profesional. Bahkan, wajahnya juga sering menghiasi beberapa majalah pria dewasa. Kali ini dia tampil sebagai Female Dj untuk menghibur clubbers. Dia berkolaborasi dengan Mechan Wong yang mempunyai nama lengkap Mariska Agnes Wongkar, dara kelahiran Menado 24 tahun silam.
Dengan perawakan tinggi dibalut kulit putihnya, perempuan yang akrab disapa O-Shin ini mahir memainkan alat musik dengan alunan musik progresive membuat seluruh clubbers ‘semakin tinggi’.(adl)
Acara bertajuk Sexy Bitch ini, sengaja dikemas dengan bintang tamu dari kaum hawa, dengan tujuan untuk menambah semangat dan motivasi para Female DJ Kota oleh performance dan penampilan FDJ yang berpengalaman.

Jika selama ini masyarakat beranggapan tabu bagi wanita memasuki lokasi hiburan malam, tapi di era globalisasi saat ini, anggapan tersebut telah terbantahkan.

Lebih jauh lagi, wanita kini tak hanya sebagai pengunjung, melainkan telah memegang peran vital yakni menjadi Female DJ (DJ wanita).

“Memang, selama ini peramu musik selalu identik dan didominasi kaum Adam. Tapi belakangan, kaum yang lemah lembut itu mulai berperanserta dan ikut meramaikan dunia yang selalu berkutat di balik turntable suatu klub malam atau tempat hiburan. Tentunya ini menjadi daya tarik tersendiri bagi clubbers dengan kecantikan DJ wanita atau biasa disebut Female DJ,” ujar Tommy Suryadi, Branch Manager Clasmild didampingi Bambang Sulianto.

Tak heran, O-Shin dan Mechan Wong yang mengaransemen musik di hadapan clubbers dengan ramuan beat-beat keras dapat menghibur dan disambut antusias seluruh clubbers yang berkonsep dari dan untuk perempuan.
Dikatakan Tommy Suryadi, pihaknya berusaha merealisasikan apa yang pernah disampaikan beberapa waktu lalu, bahwa mereka akan semaksimal mungkin mewujudkan keinginan clubbers kota Medan di beberapa venue di Kota Medan.

“Kita juga ingin melebarkan sayap di dunia hiburan dan tentunya juga popularitas, Clasmild akan berusaha untuk menampilkan talent-talent dari Ibukota di beberapa venue di Medan,” ungkapnya. (adl)

Menyatunya Dua Matahari di Pangandaran

TEMPAT ini ternyata jauh lebih baik dari yang saya bayangkan. Semula saya pikir Pantai Pangandaran di Jawa Barat selatan itu hanyalah seperti pantai-pantai di Jawa lainnya: ditangani dengan selera lokal yang sangat berbau “pemda” dan pantainya begitu-begitu saja.

Ternyata perkiraan saya itu hanya benar setengahnya. Penanganannya memang masih “selera pemda”, namun jangan tanya keindahannya. Saya bisa memastikan inilah pantai terindah di Jawa. Bahkan, seandainya penanganannya, kelak, sudah tidak selera pemda lagi, saya bayangkan Pantai Pangandaran bisa dimasukkan ke kelas dunia.

Hanya inilah pantai di Indonesia yang punya dua lengkung utama. Ini mengingatkan saya akan pantai terindah di dunia: Copacabana dan Ipanema. Dua pantai yang sama-sama indah yang letaknya hanya dipisahkan oleh semenanjung kecil yang menjorok ke laut. Seperti itu juga Pangandaran.

Dua kali saya ke Copacabana di Rio de Janeiro, Brazil, itu. Pertama, saat menghadiri kongres surat kabar sedunia di dekat-dekat situ dan yang kedua ketika ikut dalam rombongan Presiden SBY ke KTT G-20 Washington DC yang diteruskan ke Meksiko, Peru, dan Brazil.

Lengkung Pantai Pangandaran mirip sekali dengan lengkung Copacabana. Bedanya, pasir di Copacabana putih, sedangkan di Pangandaran hitam. Bedanya lagi, lengkung-lengkung berikutnya di selatannya sudah mulai dikembangkan (rasanya terdapat lima lengkung pantai setelah Copacabana), sedangkan lengkung-lengkung pantai ketiga dan keempat di Pangandaran belum tersentuh manusia.

Tapi, soal tanjung yang menjorok ke laut yang memisahkan dua pantai itu sama-sama punya kelebihan. Yang di Copacabana berupa gunung, dan untuk menyatukannya dengan Ipanema dibuatlah terowongan. Semua kendaraan yang menuju Pantai Ipanema harus melewati terowongan ini.

Di Pangandaran, tanjung yang memisahkan dua pantai itu juga berupa bukit, namun tidak tinggi. Kelebihan tanjung di Pangandaran adalah wujudnya yang masih hutan alami, yang bisa memberikan pengalaman wisata tersendiri. Hutan ini sudah diamankan menjadi hutan lindung yang terjaga dengan baik.

Selasa lalu, seluruh direksi PLN mengadakan rapat di Pangandaran untuk membicarakan persiapan terakhir gerakan sehari satu juta sambungan dan menghabiskan seluruh daftar tunggu listrik di seluruh Indonesia yang sudah harus terjadi akhir Juni tahun ini juga.

Setelah subuh saya menyempatkan diri memasuki hutan lindung itu. Yakni, pada pukul 05.30, ketika bersama teman-teman PLN Pangandaran melakukan gerak jalan pagi, yang kali ini mirip dengan outbond. Melewati hutan lindung di tanjung Pangandaran ini cukup mengesankan. Di sana-sini terlihat monyet, burung, dan biawak.

Hutan di tanjung Pangandaran inilah yang memisahkan lengkung Pantai Pangandaran barat dan lengkung Pantai Pangandaran timur. Kalau di Rio de Janeiro, masing-masing lengkung ada namanya (Copacabana dan Ipanema), di Pangandaran belum bernama. Baru disebut pantai barat dan pantai timur.

Mungkin memang tidak perlu diberi nama. Dengan sebutan “barat” dan “timur” justru bisa menunjukkan kekuatan Pantai Pangandaran itu sendiri. Yakni, inilah sepasang pantai yang masing-masing punya keunggulan untuk dinikmati dalam waktu yang berbeda. Inilah sepasang pantai yang sekaligus mempertontonkan dua pemandangan menakjubkan: sun set dan sun rise.

Di waktu sore orang bisa menikmati pemandangan matahari tenggelam di pantai barat. Di pagi hari orang bisa menyaksikan matahari terbit di pantai timur. Suatu kenikmatan yang tidak bisa didapat di Rio de Janeiro karena Pantai Copacabana dan Ipanema letaknya hanya berjajar, sama-sama menghadap ke timur.

Maka, saya membayangkan sesuatu yang memang masih akan lama terwujud: kalau saja Pengandaran bisa dikembangkan seperti Rio, pesonanya akan luar biasa. Apalagi, sebagaimana juga di Rio de Janeiro, tidak jauh dari pantai ini sudah berupa pegunungan. Pantai dan gunung seperti menyatu dalam jarak yang ideal.

Memang di atas gunung sana, di Copacabana, sudah ada objek turis yang menarik. Yakni, patung Yesus yang memberkati yang terkenal itu. Tapi, itu sebenarnya hanya buatan manusia yang bisa dilakukan siapa saja. Hanya soal waktu dan uang. Tapi, tidak jauh dari Pangandaran ada objek yang juga tidak ada duanya di Indonesia: sungai yang dalamnya lebih 20 meter yang kanan-kirinya berupa tebing berhutan alami yang indah. Objek ini dinamakan Green Canyon, untuk tidak menjiplak begitu saja Grand Canyon di Amerika.

Memang, kalau orang berperahu menyusuri sungai ini sebenarnya tidak akan ingat Grand Canyon, melainkan lebih mengasosiasikannya dengan objek wisata Guilin di Tiongkok yang terkenal itu.

Dua objek utama Pangandaran itu (pantai ganda dan Green Canyon) benar-benar sudah cukup menarik untuk membuat orang bisa tinggal tiga hari sampai seminggu di Pangandaran. Apalagi, kelak, kalau lengkung pantai-pantai karang di sebelah barat Pangandaran yang masih asli itu juga dikembangkan. Apalagi, kalau di kawasan ini sekaligus dikembangkan pusat kebudayaan Sunda sebagai daya tarik malam harinya.

Lima tahun lagi, pendapatan per kapita rakyat Indonesia pasti mencapai USD 6.000. Sekarang saja sudah USD 3.200. Ketika itu terjadi, bisa dibayangkan berapa pendapatan per kapita orang Jakata dan Bandung. Saya perkirakan akan ada sekitar 5 juta orang di dua kota itu yang pendapatan per kapitanya sudah di atas USD 15.000. Orang dengan pendapatan seperti itu tidak memikirkan lagi rumah, mobil, pakaian dan makan. Pikirannya hanyalah: kalau libur mau ke mana! Inilah pasar yang harus ditangkap Pangandaran yang begitu dekat dari Jakarta. Hanya 40 menit penerbangan.

Sebaliknya, orang dengan pendapatan seperti itu sudah tidak mau lagi berkunjung ke tempat yang kumuh dan tidak bersih. Kondisi Pangandaran sekarang belum memenuhi selera mereka.

Memang hambatan untuk menaikkan kelas Pangandaran masih sangat besar. Apalagi, di era otonomi seperti sekarang. Tidak akan gampang menemukan bupati yang punya ide besar, pikiran besar, dan ambisi besar untuk membuat sejarah baru Pangandaran. Kalau yang terpilih hanya kelas bupati yang biasa-biasa saja, rasanya masih akan sangat lama mengharapkan Pangandaran menjadi idola nasional.

Bahkan, sangat mungkin, seumur hidupnya kelak Pangandaran tidak akan bisa menjadi primadona. Mengapa?

Dengan penanganan ala kadarnya sekarang ini saja daya tarik ekonominya sudah muncul. Akibatnya, hotel-hotel kecil, warung-warung kecil, dan pedagang musiman berdatangan ke sini, menempati tanah mana pun yang mereka incar. Dalam waktu lima tahun ke depan perkembangan yang tidak terencana ini akan membuat Pangandaran kian tidak menarik dan untuk membenahinya sudah sangat sulit.

Persoalan sosial sudah akan menjadi sangat sensitif dan untuk menanganinya perlu biaya tersendiri yang tidak akan terjangkau. Kalau ini yang terjadi, jangan lagi mengharapkan Pangandaran bisa menjadi bintang Nusantara, apalagi bintang dunia.

Kalau kesadaran itu sudah muncul sekarang, sebenarnya penanganannya masih manageable. Masih bisa ditemukan konsep “membangun tanpa menggusur” yang ideal. Prinsipnya, tidak boleh ada penduduk setempat yang terpinggirkan dan tidak menikmati kemajuan Pangandaran. Namun, juga tidak harus prinsip itu membuat Pangandaran tidak bisa dikembangkan. Pasti akan ditemukan konsep “membangun tanpa menggusur” yang tepat.

Masyarakat Sunda sebenarnya punya modal hebat untuk mewujudkan itu. Seorang tokoh lokal Sunda pasti bisa mewujudkan konsep itu. Saya tidak kenal orangnya, tidak tahu namanya, tapi tahu dan merasakan karya-karya hebatnya. Dia adalah pemilik jaringan restoran masakan Sunda, Bumbu Desa, yang kini berkembang pesat ke seluruh Indonesia.

Ketika saya ke geotermal Kamojang dan Darajat bulan lalu, saya menginap di resor yang bernama Kampoeng Sampireun. Saya sangat mengagumi konsep resor Kampoeng Sampireun ini. Konsep “membangun tanpa merusak” yang sempurna sekali. Selera arsitek yang merencanakan Kampoeng Sampireun ini sangat tinggi, berbasis lokal, dan bisa memperhatikan need masyarakat internasional.

Saya sangat kagum melihat hasil akhir Kampoeng Sampireun itu: bagaimana kolam alami itu bisa jadi sentrum sebuah resor yang di sekelilingnya cottages independen yang begitu menyatu dengan alam. Resor-resor supermahal di Ubud, Bali, juga sangat menarik, tapi tidak ada yang memiliki sentrum seperti yang dikonsepkan di Kampoeng Sampireun.

Intinya, penanganan Pangandaran tidak perlu diserahkan ke orang Jakarta atau orang asing. Orang Sunda memilikinya. Mulai konsep, perencanan sampai pelaksanaan. Komplet. Sudah terbukti pula. Yang diperlukan adalah sebuah keputusan dari pihak yang punya otoritas membuat keputusan.

Serahkan kepada dia soal bentuk penanganan: apakah dikembangkan dengan konsep modern atau menggunakan konsep tradisional-alami. Atau gabungan dari keduanya. Yang jelas, daratan yang menghubungkan pantai timur dan pantai barat ini tidak terlalu luas dan sudah penuh dengan perumahan penduduk. Hanya sekitar setengah kilometer.

Kalau si perencana memutuskan membuat konsep modern dengan bangunan-bangunan pencakar langit di sini, tetap harus diperhatikan sempitnya lahan itu agar hak-hak publik tidak hilang. Misalnya, semua bangunan itu nanti harus merelakan lantai dasarnya untuk plaza terbuka buat lalu lintas publik.

Namun, kalau konsepnya nanti dipilih yang tradisional, nah, saya harus menyerah: arsitek Sunda yang saya sebut tadi jangan diragukan kemampuannya! (*)

Gerak-gerik Imam Firdaus tak Ada yang Mencurigakan

Rekan-rekan Imam Firdaus menyebut keseharian Imam biasa saja. Tidak ada kegiatan mencurigakan yang dilakukan Imam selama bekerja di Global TV. “Kesehariannya normal, biasa saja. Tidak ada sesuatu mencurigakan. Dari anak-anak yang lain bilang normal-normal saja,” ujar Direktur News Global TV, Arya M Sinulingga dalam jumpa pers di Restoran Sate Khas Senayan, (23/4).

Teman-teman dekat Imam kaget bukan main saat tahu rekannya ditangkap polisi karena dugaan kasus terorisme. Alasannya, Imam tak pernah terlibat dalamn golongan Islam radikal, bahkan kesehariannya dia cenderung sekuler.
Informasi yang dihimpun, Imam sudah bekerja di Global TV sejak empat tahun lalu. Dia menjadi kamerawan di berbagai bidang, namun lebih sering terlibat dalam berita politik. Teknik pengambilan gambarnya pun dikenal baik. Imam juga memiliki bisnis kecil-kecilan,  rental kamera. Menurut salah seorang temannya, IF  memiliki empat kamera. “Biasanya dia sering menyewakan kameranya untuk keperluan pesta pernikahan,” kata dia.

Rekan-rekannya menduga, Imam tidak tahu-menahu soal peledakan bom. Kemungkinan besar, Imam dinilai polisi terlibat, gara-gara kameranya  disewa para pelaku peledakan bom untuk mengabadikan ledakan bom.
Pihak Global TV memastikan jika Imam, merupakan kamerawan studio, bukan kamerawan peliputan berita. Karena pekerjaannya di studio itu, tidak memungkinkan dia berhubungan dengan media asing.

“Jadi benar dia adalah karyawan kita. Tapi dia adalah kamerawan studio. Jadi bukan kamerawan peliputan,” ujar Arya M Sinulingga. Menurut Arya, bisa dibuktikan juga bahwa Imam sering di studio. Dengan keadaan itu, sulit bagi Imam menghubungi media asing untuk meliput aksi pengeboman secara langsung.  “Bagaimana dia mau menghubungi media luar. Pekerjaannya kan tidak memungkinkan dia ada di luar,” kata Arya.

“Kami sangat terpukul dengan kondisi seperti ini bahwa ada wartawan kami yang terlibat. Saya rasa kita semua harus waspada,” sambung Arya. Arya sadar jika media juga bisa rentan dengan terorisme. Meski demikian Global menyerahkan kasus itu pada kepolisian. “Karena media itu ternyata rentan terhadap terorisme. Kami sebagai pihak yang tunduk pada hukum yang berlaku, kita men-support polisi,” tutur dia.

Hingga kini, lanjut Arya, pihaknya masih terus berusaha untuk meminta gambar atau foto Imam dari kepolisian. Imam hingga kini tidak bisa ditemui langsung. Dengan adanya kejadian ini, Arya mengaku akan terus berhati-hati. Sebab dia tidak menyangka ada karyawannya yang terkait kasus terorisme.

“Dengan adanya kejadian ini kita semua harus betul-betul care dengan kasus ini. Karena kita semua tidak bisa menyangka bisa terkena kasus itu. Jadi kita semua harus berhati-hati. Sedangkan rekrutmen tidak ada yang luar biasa,” tutupnya.

Dewan Pers sudah mengetahui kabar penangkapan seorang juru kamera Global TV atas nama Imam Firdaus dalam kasus bom jalur pipa gas Serpong. Meski Imam adalah pekerja pers, Dewan Pers minta Mabes Polri tidak memberikan perlakuan berbeda dalam proses hukum.

“Bagi kita, orang yang tersangkut teroris bisa siapa saja. Kita tidak boleh menganggap ada keistimewaan karena itu wartawan. Apalagi seolah-olah wartawan tidak mungkin terlibat hal itu,” ujar Ketua Dewan Pers, Bagir Manan, Sabtu (23/4).

Penangkapan IF dalam kasus dugaan terorime, berada di luar lingkup tugas jurnalistik. Maka bukan kapasitas dari Dewan Pers, termasuk manajemen Global TV, untuk ikut turun tangan dalam masalah tersebut. “Jika pasti dia ikut serta, itu di luar kerja jurnalistik, jadi di luar jangkauan Dewan Pers dan juga di luar jangkauan Global TV,” papar Bagir.

Lebih lanjut mantan Ketua MA ini menyatakan, saat ini yang bisa dilakukan Dewan Pers dan menajemen Global TV adalah menunggu hasil pemeriksaan Polri. Bila ternyata Imam terbukti bukan anggota jaringan kelompok terorisme, maka polisi harus segera membebaskan Imam.
“Kalau memang dia bagian dari gerakan itu, ya kita mau apa? Kita kan sepakat dan waspada untuk melawan terorisme,” papar Bagir. (net/bbs/jpnn)