27 C
Medan
Friday, January 2, 2026
Home Blog Page 15379

Persiapan Musorprov Rampung 90 Persen

MUSYAWARAH  Olahraga Provinsi (Musorprov) KONI Sumatera Utara siap untuk digelar di Hotel Emerald Garden Medan pada 6-8 Mei 2011 mendatang. Hingga kini, persiapan panitia telah mencapai 90 persen.
Demikian dikatakan Ketua Penitia Musorprov KONI Sumut Drs Chairul Azmi MPd didampingi Ketua Tim Penjaringan Prof Irianto, anggota Drs Eddi Sibarani dan Misnan Mpd, Jumat (29/4).

Menurut Chairul Azmi, pihaknya telah menyampaikan undangan kepada seluruh Pengprov cabang olahraga dan KONI kabupaten/kota. Permohonan juga telah disampaikan kepada KONI Pusat. “KONI Pusat berjanji akan datang untuk melihat Musorprov kita ini,” ungkap Chairul.

Purek II Unimed ini juga optimis Musorprov KONI Sumut ini akan berjalan dengan baik dan tidak cacat. Pasalnya, agenda empat tahunan ini akan digelar sebaik-baiknya dengan mamatuhi Anggaran Dasar Rumah Tangga (AD/RT) KONI. “Kita yakin Musprov ini akan berjalan sesuai AD/RT KONI,” ucapnya.

Chairul menjelaskan, sebelumnya Musprov KONI Sumut direncanakan digelar di Berastagi. Namun, akibat hotel di sana tidak bisa memenuhi permintaan pantia, acara ini terpaksa digelar di Medan .
“Hotel di Berastagi telah banyak diboking oleh orang lain, sehingga jumlah kamar yang diminta pantia tidak cukup, sehingga terpaksa kita gelar di Medan,” jelasnya.

Panitia bersyukur karena sudah ada Calon Ketua Umum KONI Sumut, sehingga penggelaran Musorprov KONI Sumut digelar sesuai rencana. (jun)

Pole Milik Lorenzo

ESTORIL – Pembalap Yamaha Jorge Lorenzo akan memulai balapan di posisi terdepan MotoGP Portugal di Sirkuit Estoril hari ini, Minggu (1/5) sore WIB.

Itu terjadi usai Lorenzo tampil berada di posisi terdepan dengan catatan waktu tercepat di sesi kualifikasi di Sirkuit Estoril, Sabtu (30/4) malam WIB. Sementara Marco Simoncelli ada di posisi kedua.

Dalam sesi kualifikasi, Lorenzo berhasil mencatat waktu terbaik satu menit 37,161 detik. Dia unggul 0,133 detik atas Simoncelli yang menempati peringkat kedua.

Duet Repsol Honda, Dani Pedrosa dan Casey Stoner, akan start di belakang Simoncelli. Pedrosa menempati posisi ketiga dengan catatan waktu satu menit 37,324 detik. Pembalap Spanyol itu mengungguli Stoner yang berada di belakangnya dengan waktu satu menit 37,384 detik.

Berturut-turut di belakang Stoner diisi Ben Spies yang akan memulai balapan dari posisi kelima, Andrea Dovizioso di urutan keenam, dan Colin Edwards pada urutan ketujuh.
Juara dunia tujuh kali Valentino Rossi akan memulai balapan dari posisi kesembilan. Dua pembalap lain yang melengkapi posisi sepuluh besar adalah Cal Crutchlow dan Hector Barbera yang masing-masing akan start dari posisi kedelapan dan kesepuluh. (net/jpnn)

Grizzlies Unggulan Ke-8 Paling Garang

MEMPHIS – Kejutan besar terjadi juga di ronde pertama playoff musim ini. Tim dengan rekor terbaik di wilayah barat, San Antonio Spurs, takluk di ronde pertama oleh Memphis Grizzlies. Grizzlies adalah unggulan terakhir atau kedelapan di playoff wilayah barat.

Para penggawa Grizzlies pun menciptakan sejarah bagi timnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah tim, mereka lolos ke semifinal wilayah. Meski sebelumnya sudah pernah tiga kali lolos ke playoff, tak sekali pun Grizzlies lepas dari ronde pertama. Bahkan, menang pun tak pernah hingga rekor playoff mereka sebelumnya adalah 0-12.
Rekor selalu kalah di playoff itu pecah saat Grizzlies mencuri satu laga home Spurs, yaitu di game 1. Selanjutnya, mereka tinggal mempertahankan laga di kandang sendiri untuk lolos ke semifinal wilayah.

Kepastian lolos terjadi di game 6 yang berlangsung di kandang sendiri, kemarin. Grizzlies menang 99-91. Grizzlies pun menjadi tim unggulan kedelapan yang kedua, mampu menyingkirkan unggulan teratas dalam sejarah NBA.
“Tak banyak orang tahu kami datang, tapi kami membuat kegaduhan dan membuat orang menoleh. Itu tak akan terjadi jika kami kalah di seri ini,” ujar pelatih Grizzlies Lionel Hollins pada Associated Press.

“Kami menjadi salah satu tim unggulan kedelapan yang menundukkan tim unggulan pertama,” sambungnya.
Power forward Zach Randolph tampil garang untuk mengantarkan kemenangan Grizzlies. Pemilik panggilan Zebo itu menciptakan double-double dengan 31 poin dan sebelas rebound. 17 poin dilesakkannya di kuarter keempat saat Grizzlies meraih 29 poin di kuarter itu.

“Emosinya begitu tinggi, tak hanya bagi Memphis Grizzlies, tapi juga bagi segenap kota dan para penggemar. Pencapaian yang hebat. Kami haru senang, seharusnya gembira. Tapi ini sebuah titik balik yang cepat, kami menjalani laga berikutnya Minggu waktu setempat) dan harus siap,” tutur Zebo.( ady/jpnn)

Deg-degan Sebelum Pesta di Kandang Lawan

BOGOR-Laga pamungkas di Divisi Utama kontra Persikabo kemarin sungguh dramatis bagi PSMS. Selain mesti menang, PSMS juga berharap Persita kalah atau draw kontra Persih Tembilahan yang juga dimainkan bersamaan.
Nah, di sinilah sisi dramatisnya. Sepanjang laga, pihak manajemen terus bertanya kepada handai taulan di Tembilahan terkait hasil laga itu. Begitu juga dengan awak media yang terus berkoordinasi dengan wartawan di Tembilahan.

Rupanya terjadi isu menyesatkan terkait hasil pertandingan. Ada oknum Panpel Persikabo yang menyebar isu bahwa Persih sudah unggul 4-0 di babak pertama. Sementara di saat bersamaan PSMS baru menang 2-1 dari Persikabo di babak pertama. Hal itu disinyalir akal-akalan saja agar PSMS mengendurkan serangan karena peluang lolos semakin besar.

Ternyata setelah dikonfirmasi langsung laga Persih versus Persita draw 1-1 setelah tuan rumah sempat unggul lebih dulu. Kekhawatiran kian membuncah karena laga Persih versus Persita masih berlangsung ketika laga Persikabo versus PSMS sudah berakhir. Nah, detik-detik menanti hasil itu ternyata sangat mendebarkan.

“Lho, tapi kabarnya Per sita sudah kalah besar? Wah ternyata isu saja. Syukurlah mereka hanya imbang dan kita tetap lolos,” kata Edy Syahputra, Asisten Pelatih PSMS. Namun skuad PSMS enggan mengetahui hasil di laga persih versus Persita. Begitu menang, mereka langsung berlarian dan berpesta di ruang ganti Persikabo.

Namun di saat bersamaan, PSMS juga harus menyelamatkan diri dari amuk massa yang tak senang dengan hasil tersebut. Begitu wasit Fachri Akbar meniupkan peluit tanda berakhirnya laga, suporter tuan rumah berlabel Kabo Mania menyerbu ke dalam lapangan.

Para pemain langsung berhamburan lari ke pinggir lapangan. Keberingasan pendukung tuan rumah tak berhenti. Mereka menyerbu segelintir pendukung PSMS di tribun barat. Beruntung pihak keamanan dan panpel pertandingan sigap dan mampu meredam. Meskipun begitu, pihak suporter PSMS, dan seluruh skuad tidak bisa keluar dari stadion lebih dari dua jam.

“Beruntung Panpel dan keamanan berkoordinasi dengan baik. Kalau tidak kejadian serupa seperti di Jakarta Utara bisa kembali terjadi. Kita apresiasi kinerja panpel dan pihak keamanan,” bilang Kolonel Asren Nasution, warga Medan yang turut menonton laga itu. (ful)

Kado Indah Ultah ke-61

Kemenangan 3-2 atas Persikabo kemarin menyisakan kebahagiaan dobel bagi PSMS. Selain hasil itu menentukan lolosnya tim ke babak delapan besar, PSMS juga meraih kado istimewa di usianya yang tepat ke 61 tahun (April 1950-April 2011).

“Ini kemenangan istimewa karena kita berhasil lolos ke babak delapan besar. Langkah kita selanjutnya masih berat, tapi kita sangat mensyukuri nikmat ini,” kata Suharto.

Hal senada juga disampaikan Asisten Manajer PSMS, Benny Tomasoa. Benny bilang hasil bagus ini tak lepas dari peran seluruh pihak.

Dari kubu fans lewat ketua SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong didapat komentar bahwa pihaknya sangat mengapresiasi kinerja pemain dan pelatih hingga bisa lolos ke babak delapan besar.(ful)

Saya Bangga Sebagai Wanita

Tingginya persaingan hidup saat ini, membuat para wanita harus mampu bertahan. Seiiring dengan waktu, peran ibu bagi keluarga kini semakin kompleks, bahkan ibu harus menjadi kepala keluarga.

Begitulah pendapat Lidya Fayrus, pemilik perusahaan PT Data Kreasi Indotama yang bergerak dibidang IT, kontraktor dan telekomunikasi ini. “Di era yang semakin kompetitif, semua orang dituntut untuk mampu bertahan, termasuk para ibu. Kaum ibu bahkan harus mampu bertahan demi mempertahankan perekonomian keluarga” ujar wanita berdarah Arab ini.

Menurut istri dari Andrias SS Depari ini, mayoritas perempuan di Indonesia dinilai masih bergantung secara finansial kepada pasangan. Penyebabnya adalah, karena mereka menganggap peran perempuan hanya menjadi pengikut laki-laki. “Tantangan terbesar yang saat ini harus dihadapi kaum perempuan adalah persoalan ekonomi. Karena faktor ekonomi banyak perempuan yang tidak mendapat pekerjaan layak,” ujar ibu dua anak, Leonia (4 tahun) dan Diva (3 tahun) ini.

Menurutnya, perempuan berhak mandiri, mendapatkan kesempatan untuk berprestasi. Perempuan juga harus mandiri secara ekonomi. Namun, kemandirian perempuan ini semestinya juga diimbangi dengan keharmonisan di rumah tangga.

“Memang, perempuan dan laki-laki dalam rumah tangga perlu lebih bijak menyikapi kemandirian perempuan. Bagaimanapun dalam rumah tangga, hanya diperlukan satu nahkoda. Meski bukan berarti satu pihak tunduk kepada pihak lainnya, tanpa saling membebaskan dan memberikan dukungan mengembangkan potensi diri,” kata dia.
Namun, kata dia, terkadang keinginan perempuan untuk mandiri terhalang karena pemikiran patriarki (laki-laki mendominasi perempuan dalam keputusan) sehingga suami takut tersaingi dan merasa tidak nyaman. “Memang suami sebagai nahkoda rumah tangga. Dan perempuan atau istri, jangan sampai menjadi pesaing nahkoda dalam rumah tangga. Karena rumah tangga tidak boleh memiliki dua nahkoda, jika tidak menghendaki kapal rumah tangga tergelincir,” jelasnya.

Meski istri harus berprestasi, kata dia, harus tetap menghormati peran suami. Begitupula sebagai suami, hendaknya ia mendukung prestasi istri. “Laki-laki bukan justru merasa tidak nyaman dengan prestasi pasangannya. Karena perempuan berkualitas merupakan pilar keluarga berkualitas,” kata dia.

Untungnya, wanita yang hobi Bally Dancer dan travelling ini tak terhalang untuk menjadi ibu rumah tangga yang mandiri. Suaminya selalu mendukung untuk bisa mandiri. “Syukurnya, suamiku sepenuhnya mendukung. Jadi tidak ada masalah dengan pekerjaanku,” kata dia.

Sebagai ibu rumah tangga dan menjadi pengusaha wanita, Lidya pun tak mau lupa perannya sebagai ibu rumah tangga.  “Saya tetap meluangkan waktu untuk anak, terpenting bagi saya adalah kualitas pertemuan bersama anak, bukan banyaknya pertemuan. Buat apa kalau tiap detik bersama anak tapi kita tidak memberikan kualitas terbaik,” kata dia.

Sebagai seorang wirausahawati, seorang istri, juga seorang ibu bagi kedua anaknya, dengan segala aktifitas dan kesibukan yang melelahkan, Lidya mengaku tetap bangga menjadi seorang wanita. “Saya bangga menjadi wanita. Saya juga yakin wanita Indonesia adalah wanita yang tangguh dan mandiri,” serunya.
Ia juga berpesan, bukan saatnya lagi wanita hanya diam berpangku tangan di rumah. Wanita harus berkarya,  harus membawa pengaruh positif di dalam keluarga maupun di dalam lingkungan sosial. Intinya, wanita harus mandiri! (laila azizah)

Dari Trail ke Moge

AKP Achiruddin Hasibuan

Gairah Achiruddin Hasibuan menggeber sepeda motor belum berhenti. Berpetualang dari daerah ke daerah lain di Indonesia kerap ia lakukan dengan menunggangi berbagai jenis sepeda motor. Mulai jenis motor trail hingga motor gede (moge).

“Motor trail dan moge Harley Davidson ini selalu menjadi tunggangan saya untuk mengisi hari senggang,” aku pria berpangkat Ajun Komisari Polisi (AKP) yang sekarang menjabat sebagai Kasat Narkoba Polresta Binjai kepada wartawan koran ini, kemarin.

Kegemaran Achiruddin menunggangi motor-motor keren tersebut memang teruji. Empat  motor trail plus moge Harley Davidson parkir di dalam garasi rumahnya di Jalan Guru Sinumba/Karya Dalam No 168 Kelurahan Helvetia Timur, Medan.

Harley Davidsonnya itu terbungkus plastik dengan rapi, sedangkan satu trail berukuran besar tampak kokoh terpacak di sampingnya. Tiga trail lainnya yang ukuran lebih kecil berada tidak jauh dari moge itu.
“Tiga trail yang kecil ini punya anak saya, kalau yang Harley Davidson dan trail besar itu punya saya,” kata Achiruddin menunjukkan masing-masing trail yang terpacak di dalam garasi rumahnya tersebut.

Harley Davidson tersebut diakui Achiruddin dibelinya dari temannya. Jenisnya, Harley Davidson Electra Glide. Sedangkan trail-trail tersebut keseluruhannya bermerek Honda CRF 230. “Harley Davidson saya ini merupakan nomor satu, masalah harga tidak usahlah dikasih tahu. Untuk apa? yang penting saya punya,” bilangnya sambil tersenyum.

Menurut mantan Kanit Jahtanras Polresta Medan ini, kegemarannya dengan motor trail dan moge tersebut dilandasi kebersamaan. Ayah tiga anak ini memiliki jiwa petualang dengan menunggangi sepeda motor bersama teman-temannya.

“Saya memiliki jiwa petualang dan berkumpul dengan teman-teman sambil mengendari sepeda motor, makanya kami sering pergi dari daerah ke daerah lain di Sumatera Utara dengan motor ini. Dalam waktu dekat ini kami dari bikers Ikatan Motor Besar Indonesia (IMBI-red) Medan, touring keliling Indonesia,” urai pria berbadan atletis ini.
Sejak kapan kegemarannya ini? “Wah sejak saya remaja dulu,” akunya.

Hanya saja, lanjut Achiruddin. sebelum mengenal moge ia lebih dulu mengenal trail. Lama kelamaan ia penasaran dengan moge lalu membeli Harley Davidson. “Untuk trail biasa saya gunakan touring dengan melintasi alam bersama teman-teman, sedangkan moge untuk konvoi di jalan bersama teman-teman,” sambungnya.
Hanya saja bakat perwira polisi ini tidak sampai mengikuti kejuaraan, seperti motor cross. Cuma sekadar melepas hobi saja. “Saya cuma melepas hobi saja, kalau anak saya nomor satu, si Arya Abdul Razaq Hasibuan malah sudah banyak meraih tropi juara dengan mengikuti kejuaraan motor cross. Meski begitu saya tidak ingin dia jadi pembalap. Saya ingin dia sekolah setinggi-tingginya,” pungkasnya sambil menunjukkan anaknya yang berusia 12 tahun itu. (azw)

Sebuah Catatan

Aku akan naik shinkansen pagi ini menuju Bandara Internasional Narita, Tokyo, menjemput Naoto yang mendarat dari Timur Tengah.

Ia  bekerja di salah satu perusahaan swasta di sana, dan aku sebagai teman terdekatnya, berkeinginan bertemu meski pembicaraan kami hanya melalui telepon saja selama dua tahun ini.
Di ruang kedatangan itu, aku melambai-lambaikan tangan pada Naoto yang memakai syal merah muda dan sweater berwarna coklat. Ia buru-buru menarik tasnya dan memelukku tiba-tiba.
“O genki desuka?”

“Baik,” aku sedikit takjub dengan kesempatan ini.  “Waseda University libur seminggu ini,  jadi aku bisa menjemputmu.”

“Aku harap gelar mastermu cepat selesai. Kau bisa mengajar di sekolah. Hmm…  Dingin sekali, sudah lama aku tidak pulang.” Setengah tertawa, Naoto menaikkan penutup kepalanya. Ia tersenyum sumringah saat kuajak naik kereta api menuju Shibuya. Naoto merindukannya, bahkan ia sudah lupa cara menaiki kereta. Ia duduk juga di sampingku dan menceritakan bagaimana perjuangannya untuk pulang dan menghindari pertikaian yang terjadi di sana. Ia ingin bertemu Edo, anak lelaki satu-satunya.

“Aku ingin ke Odaiba bersama Edo, sudah lama sekali aku tidak ke sana.”
“Bersamaku? Kita bisa lihat barang baru di sana. Selalu saja ramai.”

Naoto tertawa lagi dan memukul lenganku tiba-tiba, ia selalu sama saat empat tahun lalu aku menemukan dirinya tengah tertawa melihat pertunjukan badut di daerah Shibuya. Kereta bergerak tanpa terasa, dan saat tiba di Stasiun Shibuya, Naoto sempat mengabadikan foto kami berdua di depan patung Hachiko, patung perlambang kesetiaan. Kemudian ia menarik lenganku ke gedung Tokyo Department Store, memilih sesuatu untuk dibawakan pada anaknya.
“Di sana sedang kacau, aku tak sempat membeli apapun.”

Aku menunggu saja dan setelah selesai, kami pulang berjalan kaki menuju rumahnya yang berjarak lima petak dari rumah Bibi Gin yang aku tempati. Salju tampak turun pelan-pelan dan kami akhirnya sampai  di depan rumah.
“Mama!!” Edo berteriak girang dan memeluk mamanya erat. “Aku rindu,” Edo membawa Naoto masuk dan menemui otoosan yang bernama Tuan Nagami. Akupun menyudut ke jendela, membiarkan Naoto melepas rindu pada anak dan ayah angkatnya. Dari jendela itu, aku mengamati salju yang turun ke badan jalan. Musim dingin datang lebih cepat dari perkiraan, untung saja aku bisa cuti kuliah seminggu ini dan mengurus toko kelontong bersama bibi Gin. Dari jendela itu pula, aku menangkap ekspresi wajah Naoto yang terpantul di kaca jendela, kulitnya kini tampak kuning kecoklatan. Aku rasa ada yang bergetar di dadaku saat ia menangkap pandanganku terhadapnya.
“Bara, kemarilah!” Naoto melepas penutup kepala hingga rambutnya yang halus kehitaman itu bercahaya. Aku terkesiap dan duduk mendekat. “Aku dan Edo akan ke Jakarta bersama.”
“Apa?!! Be… narkah?” dengan keterkejutanku, aku tidak bisa menahan gelisah.

Edo merangkulku dan meraih tanganku dengan manja. “Paman Bara ikut kami saja. Mama libur panjang.” Anak berumur enam tahun itu tampak yakin dengan apa yang ia katakan, sementara ayah angkat Naoto tak bisa ikut dan memilih tinggal bersama saudaranya. Aku jadi bingung sendiri.

“Kupikir kita bisa menghabiskan waktu bersama di sini. Bibi Gin lebih membutuhkanku untuk menjaga tokonya, sayang sekali.” Rasa kecewaku kupendam dalam-dalam. Seharusnya liburan ini aku bisa bersama Naoto dan Edo, namun setidaknya Naoto tak akan kembali ke Timur Tengah dalam jangka panjang. “Sebaiknya aku pulang.”
Naoto bangkit dan mengantarku  sampai ke pintu depan.

“Dua hari esok kau bisa mengantarku ke Odaiba? Mungkin sesudah itu aku baru akan pergi.” Naoto mengatakannya sambil tersenyum. Aku terkejut dan mengangguk perlahan dengan senyum yang  tak kalah tenang.
***
Naoto berseri-seri saat mukanya yang kuning kecoklatan itu melongok keluar pintu. Salju tidak terlalu tebal dan matahari kelihatan dengan lembut. Edo menepuk lenganku, hendak naik ke pundakku seperti biasa.
“Kita naik taksi saja ke Odaiba,” ujarku dengan anggukan persetujuan mereka. Naoto pun merangkul lenganku tiba-tiba. “Senangnya kalau bisa seperti ini terus. Apa kau tak berniat mencari kekasih, Bara? Kau sudah berkorban banyak untuk Edo.”

Mendengarnya bicara seperti itu membuatku diam saja. Rasa sayangku pada Edo tak bisa kusandarkan dengan rasa kagumku pada Naoto. Aku tersenyum sekilas dan berhenti di sebuah kedai dorayaki, menawarkan kue itu pada Naoto, tapi ia hanya menggeleng saja.

“Kau kelihatan cantik.” Entah apa yang membuatku berani mengucapkan kata itu. Naoto tersipu malu dan balik memeluk kepala Edo. Edo merasa jemari mamanya panas seketika.
Kemudian kami main game sebentar lalu Edo menarikku ke toko buku dan memintaku membelikan ia buku baru bergambar. Aku benar-benar terharu saat ia memelukku dan mengatakan kalau aku membuatnya nyaman.
Esoknya pun Naoto datang bersama Edo ke rumah Bibi Gin.  Bibi senang hati dan membuat mie ramen untuk mereka. Uniknya, Edo ingin aku yang menyuapi ia agar hal itu bisa ia kenang dalam hidupnya.
“Hajimemashou. Makanlah wanita yang cantik,” puji Bibi Gin.
“Hai, so shimashou. Ini pasti enak.”

Bibi Gin bercerita banyak dengan Naoto, namun sayang, esok Naoto dan Edo akan pergi jauh, kota di mana nenek Naoto berasal, juga tempat di mana ayah biologis Edo berada. Kota yang tak pernah kujamah, Jakarta.
“Gomen nasai, pria yang baik hati. Aku berharap bisa secepatnya kembali.”
“Ya, Paman. Besok Paman mau mengantar kami?” Edo memelukku erat. Aku tak menggeleng dan berupaya tersenyum juga. Maka, dua hari ini benar-benar membuatku seperti terpesona dengan kebersamaan kami yang kupikir bisa kuwujudkan dalam kenyataan sesungguhnya.

Setelah berpikir keras malam itu, akupun tak bisa tidur tenang. Rasa kehilangan mulai membayang di hati. Apakah Edo bakal mengingatnya lagi, apakah perlindunganku padanya selama tiga tahun ini terkikis begitu saja? Akh… aku takut membayangkan kenyataan yang tengah menghampiriku.
***
Tuan Nagami memintaku mengantarkan Naoto hingga ke bandara, setelah sebelumnya ia kuantarkan ke rumah saudaranya di bagian utara, ia yang tampak menua tak sanggup berdiri lama dan Edo sedikit terisak-isak melihat kakeknya dan aku. Aku menahan gelisah saat jadwal penerbangan sebentar lagi tiba.
“Jangan lupakan Paman.” Aku kembali memeluk anak lelaki itu.
“Kami pasti kembali, kau baik sekali pada Edo.”
“Paman…”

Perasaan seperti inilah yang membuatku tak nyaman, aku tak  akan mengantar bubur ke hadapan Edo, atau mendengar dengkurnya yang selalu riang, bergulat hingga siang dan mengantung boneka di sudut rumah. Tapi Naoto meyakinkanku sekiranya bisa menggunakan telepon atau internet untuk kami memberi informasi. Tentunya hal ini lebih menyakitkan bagiku daripada harus berhadapan dengan dosen di Waseda.
Akhirnya dengan perasaaan sedih, aku kembali naik kereta ke Shibuya, dan mencoba menepis pikiranku terhadap keduanya. Aku pernah dengar tentang Jakarta,  juga tentang ayah Edo yang kini menetap di sana. Jangan-jangan mereka menemui orang itu, dan membodohiku di sini. Ini benar-benar menguasai hariku.
Hingga esok pagi, aku kembali berdiri depan rumah Edo, menatap lama-lama jalan yang menurun ke rumah Bibi Gin, menatap halaman depan yang aku dan Edo pakai untuk berolahraga pagi, juga mengakali sesuatu agar tukang bubur mau memberikan gratis pada kami berdua. Aku tertawa, kenangan itu begitu indah.
Keesokan hari aku tak mendapat dering telepon.
Tiga hari kemudian juga nihil.

Aku rindu mie ramen, rindu memeluk wangi anak lelaki itu. Email-ku sudah tak terhitung lagi. Tak ada balasan. Hening. Dengan ragu-ragu aku berangkat ke rumah saudara Naoto di utara, meminta nomor telepon di Jakarta. Tapi Tuan Nagami tak memberiku nomor telepon, hanya alamat saja. Dan aku bingung bagaimana mencari kabarnya.
Sudah sepuluh hari, tetap sepi. Aku sudah tak tahan dengan kesepian ini. Kuliahku sudah berjalan seperti biasa, namun aku ragu karena pikiranku ini terasa buntu. Aku menemui Riska, kenalanku di Universitas Waseda, seorang wanita cantik yang suka dengan fotografi dan dunia tulisan. Ia berasal dari Jakarta dan tentu tahu bagaimana keadaan di sana. Ia kaget ketika kutemui di ruangannya, sungguh tak percaya karena dulu ia pernah menolak cintaku. Dulu sekali.

Tapi itu tak membantu, aku tetap tak bisa menghubungi Naoto dan Edo. Rumah Naoto kini sudah disegel karena katanya akan dilelang oleh kontraktor. Banyak hal yang mereka sembunyikan dariku, dari orang lain sepertiku. Aku lesu saat mataku menangkap siluet rumah itu dari atas tanjakan, semuanya tampak remang. Penantianku ini terasa sia-sia. Tiga tahun yang kulalui bersama Edo membuatku benar-benar berada dalam pusaran perasaan iba.  Kini ia dan ibunya meninggalkanku, meninggalkan diriku yang bukan siapa-siapa.

Bulan berikutnya, Riska datang tiba-tiba dan mengajakku pulang bersamanya ke Jakarta, seperti mendapatkan napas yang baru, aku kembali bersemangat dan memohon cuti dari kuliahku. Rasa penasaranku akan sirna  dan aku benar-benar mengharapkan mereka berdua kembali. Riska melarangku memakai tabungan untuk biaya transportasi ke Jakarta, ia sendiri yang akan membayarnya. Semua karena doa, ucapnya singkat.
“Kau begitu mencintai mereka?” tanya Riska
“Mungkin.”
“Jika ia kembali pada suaminya di sana bagaimana?”
“Setidaknya aku bisa tahu keadaan yang sebenarnya.”
Riska mengeluarkan buku catatan dari  tasnya dan terus saja mencatat apa yang aku katakan, apa yang aku rasakan.
***
Aku terus saja mencatat. Bara benar-benar ada di sampingku memintaku membawanya ke  Jakarta, di mana ada Naoto dan Edo di sana. Aku kalut, tiba-tiba saja aku cemburu padda Naoto dan Edo, pada perhatian dan ketulusan Bara yang mereka dapatkan. Aku masih berada dalam kereta api menuju ibu kota dan sejujurnya lembaran-lembaran kertas ini membuatku gila.

Aku memang hendak pulang ke Jakarta dan Bara memintaku agar mempertemukan mereka. Kertas-kertas yang ada di pangkuanku terasa menertawakan aku. Aku berusaha merubah semuanya dan menuliskan namaku di akhir cerita. Tapi Bara hanya ingin bertemu Naoto dan Edo, hingga buku catatan itu kubanting ke dalam tas.

Entah mengapa aku jadi tak berdaya. Sepanjang perjalanan yang rasanya bisa kuubah, cinta Bara pada mereka tak bisa sirna. Baru kali ini aku menulis seuatu yang bertentangan dengan nuraniku, menulis seuatu yang tak pernah jadi nyata. Bara menguasai pikiranku pelan-pelan dan  aku panik, membuka catatan itu kembali dan pena yang ada di tanganku kupaksa agar ia bergerak dan menuliskan Bara tak akan pernah menemukan Naoto dan Edo. Jakarta begitu panas baginya dan di pangkuanku ia pun menyerah.

Lamat-lamat aku benar-benar kehilangan jati diriku, kemampuan yang diagungkan orang lain dalam menulis sebuah kisah. Nyatanya aku mengalami hal ini juga. Aku kehilangan alur cerita, kehilangan Bara yang hadir sejak beberapa minggu lalu. Aku tergugu menyaksikan kertas dalam catatan  jatuh menyudahi  petualanganku, meski aku menyadari, namaku tak pernah tertulis di cerita itu.***

Cikie Wahab, belajar menulis di Sekolah Menulis Paragraf, Pekanbaru. Cerpen dan puisinya sudah dimuat di banyak media, baik Riau, Sumatera Barat, maupun Jakarta.

Seni Fotografi Kian Digemari

Fotografi

Akhir-akhir ini kita sering melihat fotografer dadakan di Kota Medan. Mulai dari pria dan wanita. Rata-rata usia mereka masih remaja. Kamera jenis SLR pun tak lepas dari gendongan bahu mereka.

Dengan gaya sebagai fotografer pemula, mereka mengabadikan moment yang dianggap bernilai seni tinggi. Kebanyakan dari mereka mengambil moment pada malam hari di kawasan Jalan Jendral Ahmad Yani (depan merdeka walk) yang banyak berdiri bangunan-bangunan tua.

Ini tak terlepas dari trend seni fotografi yang mulai membooming di Kota Medan saat ini. Ini juga dibuktikan menjamurnya berbagai komunitas pecinta foto, seperti Sendal Jepit, Penggila Foto dan PFI (Pewarta Foto Indonesia).

Untuk Kota Medan sendiri, kegiatan seni fotografi sudah mulai digemari sejak tahun 2005 yang lalu dan baru booming pada tahun 2008. Di tahun inilah banyak muncul beberapa komunitas fotografi, walaupun hanya beranggota sedikit. “Tahun 2008 belum banyak yang minat, tetapi saat ini sudah banyak sekali yang ikut ngumpul,” ujar Dudi, Pendiri Komunitas Foto Sendal Jepit.

Menurut Dudi, awalnya mereka menyukai kegiatan fotografi karena ikut-ikutan teman. Tapi, setelah didalami, maka secara naluriah kegiatan ini akan menjadi hobi yang menyenangkan bagi mereka.
Untuk objek fotografi, kata Dudi, biasanya dapat diketahui dari hasil foto yang diambil, baik manusia, alam ataupun benda mati. “Apabila seorang fotografer telah menemukan objek favoritnya untuk foto, maka hal ini akan didalami terus hingga sampai sang fotografer menggantungkan kamera,” bilangnya.

Saddam, salah satu anggota Sendal Jepit justru tidak memiliki kamera, tapi sangat menyukai seni fotografi. “Hingga saat ini saat belum memiliki kamera. Tapi untuk memuaskan rasa haus akan fotografi, saya biasanya menyewa kamera milik teman saya,” ujarnya.

Hilmi, salah satu pecinta fotografi ini mengaku, seni fotografi ditekuninya untuk kepuasaan batin. “Kalau aku untuk kepuasan batin, tetapi kalau alasan finansial aku rasa tidak semua sependapat begitu,” ujarnya.
Menurut Hilmi, untuk mendapatkan hasil foto yang baik tergantung media kamera yang dipakai, semakin mahal kameranya, maka akan semakin bagus hasilnya. Meskipun, teknik juga merupakan alasan mendapatkan hasil foto yang bagus.

“Ini merupakan rumusan yang paling sering digunakan. Dan inilah yang menjadi alasan kenapa fotografer selalu memilih kamera dengan teknologi pendukungnya,” kata dia.

Hilmi tak menampik karena seni fotografi bisa menghasilkan uang. Caranya, dengan rajin mengikuti perlombaan foto yang digelar perusahaan nasional maupun lokal. “Lumayan lho, hadiahnya jutaan. Jadi kalau dapat hadiah, uangnya bisa dimanfaatkan untuk beli lensa kamera yang lebih canggih lagi,” tuturnya.

Kalau Reza, anggota Event Organizer di Kota Medan ini mengaku, harga kamera yang mahal tidak menjadi masalah bagi para pecinta seni fotografi. Untuk harga body kamera SLR saja pada umumnya dapat mencapai Rp3 juta. Lain lagi dengan lensa dan aksesoris pendukung kamera.

“Jadi kalau dirata-ratakan untuk 1 kamera semi profesional dapat mencapai Rp6 jutaan. Namanya juga hobi, jadi harga kamera nggak masalah,” ujarnya. (mag-9)

Dikenal Sejak Tahun 1826

Fotografi berasal dari kata Photos yang berarti cahaya, dan Graphos yang berarti menulis atau melukis. Dengan kata lain pengertian dari fotografi adalah menulis atau melukis dengan menggunakan media.

Dari pengertian inilah kegiatan fotografi menjadi sebuah kegiatan seni, dan dimasukkan dalam bidang seni lukis. Hanya saja perbedaannya terletak pada media yang digunakan.

Bila seni lukis menggunakan kanvas, cat dan lainnya sebagai media, sedangkan dalam fotografi menjadikan kamera sebagai medianya. Seperti pada umumnya seni, bila ditekuni secara mendalam akan menghasilkan karya seni yang mahal.

Fotografi mulai dikenal sejak tahun 1826 oleh Louis jacquis, dimana dia membutuhkan waktu selama 8 jam untuk menghasilkan foto.

Setelah itu dikenal kamera Obcura yang digunakan untuk menggambar kemudian memotret. Untuk Indonesia sendiri, kamera mulai dikenalkan oleh Bangsa Belanda pada tahun 1841, dimana ketika pada tahun itu, pegawai kesehatan belanda, Juriaan Munich datang untuk mengabadikan alam Indonesia.

Tetapi, perkembangan fotografi yang “asli Indonesia” terjadi pada tahun 1945. Saat itu Frans dan Alex Menur mengabadikan moment penting Indonesia, salah satunya ketika detik-detik pembacaan proklamasi. Sedangkan Menur bersaudara tersebut bekerja di kantor berita jepang.

Untuk Indonesia sendiri, fotografi berkembang sesuai dengan perkembangan politik, semakin panas politik, maka semakin panas juga perkembangan fotografi. Di Indonesia sendiri untuk saat ini belum dapat menggantungkan hidup dalam fotografi, berbeda untuk negara di Amerika dan Eropa.

Hal ini dikarenakan masyarakat Indonesia yang beluam dapat menghargai seni sebagaimana mestinya. “Ya, masyarakat kita selalu melihat siapa fotografernya, bukan melihat bagaimana hasil fotonya,” ujar Dudi, Pendiri Komunitas Foto Sendal Jepit. (mag-9)

Dia Datang, Dia yang Dikenang

Ramadhan Batubara

Ruang redaksi Majalah Pandji Pustaka, suatu hari pada 1943, kedatangan seorang muda kurus pucat dan tidak terurus kelihatannya. Matanya merah, agak liar, tetapi selalu seperti berpikir. Gerak-geriknya lambat seperti orang tak peduli. Ia datang membawa sajak-sajaknya untuk dimuat di majalah tersebut.

Saat itu, sepertinya tak akan ada yang menduga kalau lelaki muda tersebut di kemudian hari menjadi sosok yang sangat berpengaruh. Apalagi, sajak yang dia bawa yang berjudul ‘Susunan Dunia Baru’ tidak ada harganya. Sajak-sajak individualis lebih baik dimasukkan saja dalam simpanan prive (privacy) sang pengarang. Kiasan-kiasannya terlalu membarat.

Hm, cerita di atas disampaikan oleh HB Jassin, cerita yang sudah populer di kalangan pecinta sastra. Tentu ini tentang Chairil Anwar; bapak revolusi puisi Indonesia. Dari kutipan cerita di atas, ada sesuatu yang menarik perhatian saya. Yakni, perhatikan usaha yang dilakukan oleh Chairil agar sajaknya bisa dibaca orang. Ya, dia datangi kantor majalah itu tanpa malu-malu. Ada sebuah kepercayaan diri yang kental dalam sosok ini. Seakan dia tak pernah merasa takut. Padahal dia tahu, di zaman itu, sajak semacam karyanya bukanlah pilihan media atau juga khalayak. Sajak yang berharga adalah sajak yang berima, berbait, mengandung sampiran dan isi, dan sebagainya. Intinya adalah sajak lama seperti dalam sejarah Sastra Indonesia. Tentu, sajaknya tak layak muat (bagaimana dengan sikap penyair dan calon penyair di zaman sekarang?).

Pertanyaan yang muncul dari kejadian tersebut adalah mental kuat yang dimiliki Chairil sejatinya berasal darimana? Apakah karena dia masih keluarga Sutan Sjahrir, perdana menteri pertama Indonesia? Hm, tampaknya terlalu picik melihat dari sisi itu walau sebenarnya bisa saja benar. Nah, setelah berusaha mencari tahu, dari beberapa literatur terungkaplah kenapa Chairil bisa memiliki mental semacam itu.

Begini, teman dekat Chairil Anwar semasa kecil, Sjamsulridwan, pernah menulis di majalah Mimbar Indonesia, edisi Maret-April 1966. Katanya, salah satu sikap Chairil yang menonjol sejak kecil adalah sifatnya yang pantang kalah. “Keinginan, hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap menyala-nyala, dan boleh dikatakan tidak pernah diam.”

Ya, Chairil dilahirkan di sini di Medan, Sumatera Utara, pada 22 Juli 1922. Ayahnya, Toeloes, berasal dari Payakumbuh (Sumatera Barat). Dia menjadi Pamongpraja di Medan, dan pada zaman revolusi sempat menjadi bupati Indragiri, Karesidenan Riau. Sedang ibunya, Saleha, berasal dari Koto Gadang (Sumatera Barat) dan masih mempunyai pertalian keluarga dengan ayah Sutan Syahrir. Menurut Sjamsulridwan, meski cukup terpandang dan disegani masyarakat sekitarnya, kehidupan kedua orangtua Chairil senantiasa ribut. Mereka sama-sama galak, sama-sama keras hati, dan sama-sama tidak mau mengalah. Hanya dalam satu hal mereka sama: dua-duanya sangat memanjakan Chairil. Segala keinginan Chairil pasti dipenuhi termasuk mainan-mainan terbaru dan terbaik. Mereka pun selalu membenarkan sikap Chairil. Kalau ia berkelahi, ayahnya senantiasa membela.

Bahkan kalau perlu ikut berkelahi. Di luar rumah, Chairil tumbuh menjadi pemuda yang lincah dan penuh percaya diri. Di samping karena kedudukan ayahnya, otak yang tajam dan cerdas serta sifatnya yang terbuka, tidak mengenal takut atau malu-malu, membuat ia dikenal dan menjadi kesayangan banyak pihak, baik di kalangan guru maupun di antara teman-temannya.

Tampaknya latar belakang kehidupan Chairil tersebut bisa dijadikan pembentukan mentalnya. Nah, setelah sajak ‘Susunan Dunia Baru’ dianggap tak layak, apakah dia putus asa atau malah membabi buta marah pada redaksi Pandji Pustaka? Jawabnya tidak  (bagaimana dengan sikap penyair dan calon penyair di zaman sekarang?). Dia malah sering terlihat di kantor Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidoso), yang didirikan Jepang tahun 1943 di Jakarta, dan diketuai sastrawan Armijn Pane. Di kalangan seniman waktu itu, ia mulai sering disebut-sebut sebagai penyair muda yang memperkenalkan gagasan-gagasan baru di sekitar puisi. Gaya bersajak dalam puisi-puisinya yang bercorak individualistis dan membarat membedakannya dengan kecenderungan puisi-puisi yang dilahirkan generasi sebelumnya (baca: Poedjangga Baroe).
Setelah itu, siapa yang tak kenal Chairil Anwar?

Sayangnya, vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisik yang bertambah lemah akibat gaya hidupnya yang semrawut. Sebelum dia bisa menginjak usia dua puluh tujuh tahun, dia sudah kena sejumlah penyakit. Dia dikuburkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari zaman ke zaman. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.

Begitulah Chairil, terlalu banyak yang bisa diceritakan tentang sosok ini, namun saya hanya ingin mengambil semangatnya saja. Setidaknya bagi saya, meskipun bukan berproses menjadi penyair ketika di Medan, dia adalah putera kelahiran Medan. Sayangnya, kenapa peringatan Hari Chairil Anwar yang jatuh pada 28 April tak hingar-bingar di tempat dia lahir? Ah, masih terekam di otak saya ketika masih di Yogyakarta beberapa tahun lalu. Setiap April, kampus dan lembaga kebudayaan lainnya seakan berebut untuk memanfaatkan momen itu. Fiuh.

Ah sudahlah, saya hentikan saja lantun ini. Saya ingin mencerna dengan benar beberapa kalimat yang ditulis Chairil di tahun kematiannya, 1949. Sajak yang berjudul ‘Yang Terampas dan Yang Putus’: Kelam dan angin lalu mempesiang diriku//Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin//Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu//Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin//Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang//Dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang//Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku. (*)
28 April 2011