31 C
Medan
Sunday, April 12, 2026
Home Blog Page 15423

Kapal Indonesia Bidik 4 Heli Malaysia

Indonesia-Malaysia Memanas Lagi

BELAWAN- Ketegangan di perbatasan perairan Indonesia-Malaysia terulang kembali. Pemicunya, penangkapan dua kapal nelayan Malaysia yang menangkap ikan di perairan Indonesia, Kamis (7/4) lalu. Penangkapan dua kapal nelayan Malaysia itu terjadi pada 25 mil laut dari perbatasan Malaysia-Indonesia dan 45 mil laut barat daya Penang.
Drama menegangkan terjadi antara aparat penjaga laut Indonesia dan Malaysia setelah kapal nelayan yang diduga mencuri ikan di perairan Indonesia digiring petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ke perairan Belawan.

Tak lama kemudian, empat helikopter Angkatan Laut Kerajaan Malaysia dan Badan Penegakan Maritim Malaysia (APMM) menggunakan pengeras suara. Mereka  mengintruksikan otoritas Indonesia untuk  melepaskan perahu-perahu itu karena mereka masih berada di perairan Malaysia, namun perintah itu diabaikan

Dalam berita yang dilansir The Star edisi Minggu (10/4), petugas Indonesia mengarahkan senjata ke arah helicopter Malaysia. Petugas negara jiran itu mengklaim ‘menahan diri’ alhasil hal yang tidak diinginkan bisa dihindari.
“Aparat Indonesia dari atas perahu mengarahkan senjatanya ke heli-heli ketika mereka (heli-heli, red) berusaha mencegah mereka (aparat Indonesia) melewati perbatasan,” tulis Kementerian Pertahanan (Kemhan) Malaysia dalam statemennya.

Otoritas Malaysia tidak melakukan tindakan lebih lanjut terhadap perahu aparat Indonesia untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Perahu nelayan Malaysia itu dibawa melintasi perbatasan sekitar pukul 15.50.
Menteri Perikanan dan Kelautan Fadel Muhammad mengatakan, “Petugas DKP telah menjalankan tugasnya menegakkan kedaulatan negara. Nelayan Malaysia itu ditangkap karena memasuki wilayah perairan Indonesia secara ilegal walaupun telah diberikan peringatan oleh Petugas KKP. “Karena melanggar perbatasan tentu saja harus diamankan,” singkat dia.

Fadel membantah aparatnya tak mengarahkan senjata ke helikopter Malaysia. Dia mengatakan helikopter itu justru mengejar petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) saat menangkap kapal nelayan Malaysia yang memasuki perairan Indonesia. “Kita justru dikejar oleh mereka. Kita punya laporan dari Dirjen Pengawasan,” kata Fadel.

Sebelumnya, dua kapal berbendera Malaysia  KF 5325 GT. 75,80 yang dinahkodai Mr KLA dan KF 5195 GT. 63,80 yang dinakhodai Mr NHOI ditangkap kapal pengawas HIU 001 bersama 45 orang anak buah kapal (ABK) berkewarganegaraan Thailand.

Penangkapan dua kapal yang diduga melakukan illegal fsihing di perairan Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia Perairan Zona Ekonaomi Ekskutif Indonesia (ZEEI) Selat Malaka.

Kepala Stasiun Direktorat Jenderal Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Mukhtar penangkapan dua kapal illegal fishing Malaysia itu karena menangkap ikan di perairan Indonesia 7 April 2011, tanpa dilengkapi surat izin atau dokumen resmi seperti surat Izin usaha perikanan (SIUP) dan surat izin penangkapan ikan (SIPI) dari pemerintah RI.

Serta, penggunaan alat tangkap yang digunakan trawl melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf (b) Jo pasal 92 Jo pasal 93 ayat (2) Jo pasal 86 ayat (1) UU No. 45 Tahun 2009 tentang perubahan atas UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. “Karena mereka tidak bisa menunjukkan dokumen resmi izin menangkap ikan di perairan Indonesia makanya kita amankan,” kata Mukhtar.

Sementara itu, aparat Malaysia dikabarkan melakukan aksi balas dendam terhadap nelayan Indonesia di George Town, Penang. Kantro berita Malaysia, Bernama melaporkan bahwa aparat APMM telah menahan 4 nelayan Indonesia di dekat Pulau Kendi, Sabtu pagi. Keempatnya berusia antara 16 dan 19 tahun, ditangkap sekitar pukul 3 dinihari.

“Pengecekan menunjukkan perahu itu berasal dari Belawan dan tidak ada satu pun dari mereka memiliki dokumen perjalanan yang valid,” ujar Komandan Penegakan Maritim Penang, Robert Teh Geok Chuan.
Dia menuturkan, keempatnya ditahan berdasar UU Perikanan karena memasuki perairan Malaysia untuk menangkap ikan secara ilegal. Mereka juga dijerat dengan UU Imigrasi karena tidak memiliki identitas valid dan surat perjalanan.(ril/zul/smg/jpnn)

Siap Kasar Demi Target

Pengakuan Debt Collector di Medan

MEDAN-Persoalan hukum karena perbuatan brutal debt collector atau penagih utang, tidak hanya terjadi di Jakarta. Di Medan pun hal yang sama terjadi  (Baca: Mengaku tak Utang, tetap Ditagih).  Penasaran dengan tindak tanduk mereka, Sumut Pos menelusuri kiprah para penagih utang tersebut.

Satu yang berhasil ditemui adalah H (45) warga Jalan Prof HM Yamin SH. H merupakan satu di antara debt collector di Medan yang jasanya pernah digunakan City Bank, Danamon, BCA dan lainnya. “Sekarang saya memilih jalan sendiri, kalau dibutuhkan perusahaan atau orang untuk menagih, saya baru jalan,” beber ayah tiga anak ini.
Pria yang sudah 20 tahun terjun sebagai debt collector ini mengaku tidak masuk dalam struktur karyawan ataupun organisasi di bank-bank tersebut. Jasa debt collector dibentuk dari sebuah perusahaan jasa lalu bekerja sama dengan bank yang ada di Indonesia. “Sistem kerjanya, pihak bank memberikan job kepada perusahaan penjual jasa debt collector dengan perjanjian 25 persen. Kasarnya, dari total tagihan kami mendapat 17 persen sedangkan perusahaan jasa mendapat 8 persen jika kami berhasil menagih,” beber pria bertubuh atletis ini.

Ketika ditanya nama perusahaan jasa tempatnya bekerja dulu, H enggan menyebutkan dengan alasan situasi debt collector sekarang yang sedang hangat-hangatnya diperdebatkan. “Kalau tidak dalam kondisi sekarang ini, saya mau menceritakan tapi keadaannya sekarang berbeda,” kilahnya.

Selama menjalankan tugas berbagai cara dilakukan. Mulai bertindak halus hingga kasar. “Kalau cara halus gak bisa terpaksa kasar. Kalau tidak seperti itu, kami tidak akan mencapai target karena perusahaan menekan memberi target kepada kami,” bebernya.

Lalu, H menceritakan pengalamannya saat menagih utang nasabah salah satu bank di Medan. “Namanya tidak usah kita ungkap ya, sebut saja si A. Dia itu punya utang hampir Rp1 miliar, cicilan kredit macet dan kami mendapat tugas untuk menagihnya. Saya dan dua rekan kesulitan mencarinya karena alamat rumahnya sudah pindah,” kenangnya.

Dengan kondisi seperti itu H dkk terpaksa mencari informasi. Beruntung mereka mendapat kabar bahwa si A itu bersembunyi di Belawan. “Kami langsung membawanya kembali ke Medan dan kami menyekapnya di suatu ruangan. Di ruangan itu kami menginterogasi. Maaf cakap, berbagai cara kami lakukan agar ia bisa membayar utangnya,” katanya.

Namun itu dulu, sekarang Hasril memilih jalan sendiri sebagai debt collector dengan risiko yang tidak terlalu besar. “Terus terang, risiko seperti itu besar sekali. Sekarang ini tidak bisa dilakukan seperti itu lagi karena masyarakat sudah tahu banyak tentang hukum. Kalau kita tidak pintar, kita bisa diadukan kasus penculikan dan penganiayaan,” tuturnya.

Saat ini, H menjadikan pekerjaan debt collector hanya untuk kerja sampingan. Ia kini lebih banyak terjun ke bisnis jual beli sepeda motor. “Kalau ada sepeda motor mau ditarik dari showroom biasanya saya ambil job itu. Lumayan, Rp600 ribu per sepeda motornya,” akunya.

T (25), debt collector lain yang berhasil ditemui mengaku pekerjaan itu sangat rumit. Pasalnya, kalau tak mencapai target, honor dipotong. “Kalau masih magang paling dikasih honor Rp900 ribu. Selain dipotong kalau tak mencapai target, kadang uang makan pun dipotong,” aku T yang aktif sebagai penagih utang sejak 2008 lalu.

Kini T telah mapan bekerja di sebuah perusahaan yang tidak berhubungan dengan hal itu. “Pokoknya kita kayak marketing-marketing itulah. Makanya, saya keluar dan hanya tahan bertugas selama setahun saja,” tambahnya.
Apakah pernah melakukan tindak kekerasan saat melakukan penagihan? “Wah, kita tak pernah, paling keras kita cuma memberikan peringatan saja,” tambah T.

Ketika ditanya soal peringatan yang dimaksud, T hanya tersenyum. “Ya, begitulah,” kekehnya.
Lain hal dengan S (48) warga Medan Johor. Menurutnya untuk menjadi debt collector bisa dilakukan siapa saja.”Saya saja pernah menjadi debt collector, padahal saya bekerja di pemerintahan,” akunya.

Hanya saja cara yang dilakukan S berbeda dengan debt collector pada umumnya. Ayah tiga anak lebih lebih mengedapankan pendekatan secara persuasif ataupun kekeluargaan saat penagihan utang. “Tidak perlu keras-keras saat melakukan penagihan cukup kita lakukan pendekatan secara kekeluargaan, jika yang ditagih ngotot hukum kan ada, karena negara kita kan negara hukum,” katanya.

Sukri biasa mendapat job dari kerabatnya untuk menegih utang. Ia tidak berlindung di satu perusahaan.”Emang sih saya pernah ditawari perusahaan untuk menjalin kerja sama dalam hal penagihan utang, tapi saya tolak karena mereka harus ada target. Bagusan sendiri, sekalian menolong orang susah,” ujarnya.

Soal penagih utang yang marak belakangan ini memang mengarah ke kartu kredit. Karena itu, Sumut Pos pun mencoba mencari tahu, kenapa orang tertarik menjadi pengguna kartu tersebut. Faktor yang menjadi pengikat ternyata tak hanya soal uang yang bisa dikredit. Namun, kadang terletak pada siapa yang menawarkan kartu itu. Widani, salah satu Sales Promotion Boy kartu kredit yang sejak beberapa bulan lalu sudah bekerja untuk mendapatkan nasabah kartu kredit pun ditemui.

Menurut Widani, menguasai dan memahami produk yang dijual menjadi salah satu modal untuk mendapatkan nasabah. Bukan hanya itu, pintar bicara dengan memuji para calon juga merupakan suatu standar yang harus dimiliki. “Karena kita harus bisa membujuk calon nasabah,” ujar Widani.

Untuk pendapatan, gaji pokok biasanya sekitar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta. Dan akan mendapatkan lebih bila mendapatkan nasabah. Dan nasabah tersebut tergantung nilai kartu kredit yang ditawarkan. Semakin besar nilai limitnya, semakin besar pula bonus yang didapat.

Noor, Sales Promotion Girls di salah satu bank juga menyatakan hal senada. “Dapat nasabah yang daftar saja sudah lumayan kok,” ujar Noor yang memiliki rambut panjang ini.

Salah satu yang harus diperhatikan adalah cara mendekati calon nasabah. “Jangan sampai calon nasabah tersebut ketakutan dengan kita,” tegasnya. (azw/mag9)

Kesempatan Menjadi Bintang Film

Road to Famous

Ingin menjadi bintang film? Kesempatan itu segera terbuka bagi warga Medan. Talen-talen muda diundang mengikuti Bintang Film dan Bintang Suara bertajuk Road To Famous.

Audisi yang bertujuan mendukung produksi film layar lebar yang diprakarsai EBM FilmCorps bekerjasama dengan komunitas Pekerja Film Sumatera Utara tersebut, akan memilih 24 kandidat kategori bintang film dan 15 kandidat kategori bintang suara.

Creative Director dari EBM FilmCorps Ade Asmorodjoyo kepada Sumut Pos Minggu (10/4), mengungkapkan, proses audisi telah dan akan digelar di beberapa kota. Audisi di Kota Pematangsiantar sudah dilakukan di Wisma Gandaula di Jalan Melanton Siregar No 125, Sabtu (9/4). Dari Siantar, Audisi akan bergerak ke Padangsidimpuan, kemudian berturut-turur ke Tarutung, Rantauprapat, Kisaran, Lubuk Pakam, Binjai dan berakhir di Medan pada 5 Mei 2011. “Kita berharap masyarakat Sumatera Utara dapat mendukung kegiatan audisi positif ini,” ungkap Ade Asmorodjoyo.
Setelah audisi selesai, proses akan dilanjutkan dengan tahapan pembuatan pra produksi film yang judulnya masih dirahasiakan, 15 Mei 2011. Kemudian tahapan yang paling ditunggu-tunggu oleh para pemenang audisi adalah syuting film, dijadwalkan pada 28 Mei 2011 mendatang.

Lokasi-lokasi yang akan dipakai untuk syuting kesemuanya berada di Sumatera Utara. Sekitar 45 persen berlokasi di Medan, 50 persen di Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) dan sisanya mengambil lokasi di Kabupaten Simalungun.

Ade Asmorodjoyo mengapresiasi tingginya animo masyarakat Sumatera Utara, khususnya di Pematangsiantar dalam mengikuti audisi Road To Famous. Proses audisi yang diikuti 300 peserta yang sebelumnya mendaftar di Radio BOSS FM  itu berlangsung hingga Minggu (10/4) dini hari kemarin. Pesertanya bukan hanya kalangan pelajar dan mahasiswa, para ibu rumah tangga juga turut serta meramaikan audisi. Para kandidat yang lolos pada audisi tahap pertama di Pematangsiantar, akan diumumkan Selasa, 12 April 2011 di harian Sumut Pos.
Ade Asmorodjoyo berharap, trend positif di Siantar ini diharapkan berimbas pada kota-kota lain yang menjadi tempat audisi nantinya.

Medan Pusat Film
Kegiatan audisi ini juga mendapat dukungan dari Wali Kota Medan Rahudman Harahap. Melalui Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Medan Busral Manan,  Pemko Medan menyatakan, even tersebut akan memberi dampak positif bagi Sumut dan Medan khususnya, terutama dalam menggali potensi-potensi masyarakat khususnya di bidang perfilman. “Dunia film ini merupakan media eksplorasi diri, menunjukkan perkembangan kebudayaan dan hal positif lainnya. Dan patut digarisbawahi, Medan juga memiliki talenta-talenta muda yang berkualitas dalam bidang kesenian, khususnya seni peran. Maka dari itu, kami selaku bagian dari Pemerintah Kota Medan menyambut baik kegiatan itu dan mendukung sepenuhnya ketika audisinya di Medan,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, Busral berharap Medan menjadi salah satu pusat perfilman setelah. Dan begitu pula dengan daerah-daerah lainnya. ”Bukan tidak mungkin nantinya Medan menjelma menjadi pusat produksi film setelah Jakarta,” tambahnya. (ari)

Curi Dompet Kosong, Prajurit TNI AD Tewas Dimassa Warga Padangbulan

MEDAN-Seorang prajurit TNI AD, Kopral Satu TNI Surya Darma Nasution (29) tertangkap tangan melakukan pencurian di kamar kost di Jalan Pembangunan Gang Masjid, Kecamatan Selayang, Minggu (10/4) pagi pukul 05.30 WIB.

Massa sekitar 70-an orang yang umumnya anak mahasiswa dari berbagai fakultas di sejumlah universitas di Medan itu marah. Mereka menduga, Surya terkait sejumlah aksi pencurian yang kerap terjadi di sekitar kost-kostan di daerah yang dikenal dengan wilayah Kampung Susuk itu. Tanpa ampun, Surya dipukul dan ditendang. Bahkan ada yang memukul dengan balok dan batu.

Polisi yang datang setelah dihubungi pihak kepling setempat, membawa prajurit yang sekarat itu ke Rumah Sakit Bhayangkara. Diperkirakan, Surya meninggal di perjalanan. Jenazahnya kemudian disemayamkan di Rumkit Putri Hijau.

Empat saksi  dibawa Polisi ke Mapolsek Medan Sunggal, termasuk penghuni  kamar kost Abdul Yakup Harahap (22) dan Rizky Harahap (19).

Kopral Satu TNI Surya Darma Nasution diduga melakukan pencurian di kamar kost No 2A di Jl Pembangunan, Gg Mesjid, Kel PB Selayang II, Medan Selayang. Kamar itu ditempati milik dua pria bersaudara Abdul Yakup Harahap (22) dan Rizky Harahap (19). Saat kejadian, keduanya baru saja pulang Salat Subuh di Masjid Nurul Hidayah di sekitar Jalan Pembangunan.

Saat keduanya merebahkan tubuh, Abdul mendengar suara pintu dibuka. Aksi itu sungguh mulus dilakukan oleh prajurit ini. Engsel kunci pintu sangat mudah dibuka karena pintu yang berwarna coklat itu sudah usang. Penasaran, dengan mata setengah terpejam Abdul sesosok pria masuk ke kamar dan memegang dompetnya yang tak berisi.

Merasa kamar kostnya disatroni maling, Abdul dan Rizki berinisiatif langsung mengunci dan menyekap pria tersebut untuk ditanyai. “Dari pengakuannya, dia seorang oknum tentara yang tinggal di Asrama Yonif 126 Kisaran, Kabupaten Asahan,” ujar Surya yang sudah tidak percaya dengan orang yang tak dikenal itu.

Tidak percaya dengan pengakuan pria tak dikenal itu, Abdul dan saudaranya membangunkan seluruh penghuni kost dan bersama-sama menginterogasi pria itu. “Dia mengaku mau mencari kawannya bernama Dedi. Setahuku tidak ada yang namanya Dedi, karena sudah tiga tahun di sini tak ada yang namanya Dedi,” ucap Abdul lagi.

Karena geram dan tidak menemukan solusi, seluruh penghuni kost yang merasa oknum tersebut berniat jahat menjadi emosi. Tanpa dikomando, mereka langsung menghajarnya.

“Kekesalan warga, belakangan ini sudah terjadi enam kali pencurian laptop dan HP milik penghuni kost di sini,” tambah Abdul.

Walau telah minta ampun, massa yang semakin makin ramai dan beringas terus mengahajarnya. Apalagi saat dilakukan pemeriksaan isi dompetnya, terdapat identitas KTA (Kartu Tanda Anggota, Red) oknum tentara bernama Surya Darma Nasution dengan pangkat kopral satu.

Mengetahui hal tersebut, masa yang memegang balok dan beberapa batu malah ikut menghantam wajah Surya hingga ia pingsan. Dalam kondisi bersimbah darah tak berdaya, massa membiarkan Surya tergeletak di halaman.
“Tidak berapa lama, kepolisian yang telah dihubungi Kepling setempat datang dan mengevakuasinya ke Rumah Sakit Bhayangkara,” ujar Rizki yang terengah-engah.

Menurut informasi, Surya yang sudah kritis tewas dalam perjalanan menuju RS Bhayangkara. “Karena berasal dari kesatuan tentara, dia dibawa ke Rumkit Putri Hijau (untuk disemayamkan),” kata Rizki lagi.

Ditempat terpisah, Fatimah dan Wiwid, penghuni kost putri yang berada di seberang kost Abdul dan Rizki mengaku pernah melihat Surya masuk ke tempat kost mereka, sekitar dua minggu lalu. “Saat ditanya dia mengatakan mencari Putri. Padahal tak ada penghuni kost bernama Putri, kemudian dia pergi dengan santai dari sini, “ kata Mahsisiwi USU tersebut.

Dari informasi yang diperoleh, Kotu Surya tinggal di asrama di kawasan Mariendal. Wartawan koran ini pun datang ke asrama tersebut. Sejumlah warga yang tinggal di asrama itu tak ada yang bersedia memberi keterangan. Namun menurut seorang pemilik kedai, tak ada Surya Darma Nasution yang tinggal di asrama tersebut.

Sedangkan PJS Kapendam I/BB, Mayor Fatimah saat dikonfirmasi  melalui via telepon mengatakan Kopral Satu TNI Surya Darma Nasution sudah empat bulan pindah dari kesatuan Yonif 126 Kisaran. “Sekarang dia di Kesdam. Tapi kita belum tahu di Kesdam mananya, di Rumkit itu juga Kesdam,” ungkap Fatimah.

Komandan Korem 022/PT Kolonel Inf , melalui Kepala Penerangan Korem 022/PT, Mayor CAJ Prinaldi, menegaskan kabar kalau Kopral Satu TNI Surya Darma Nasution tidak lagi bertugas di Batalyon 126/KC, Kisaran.
“Memang benar, dulunya, dia (Koptu Surya Darma,red) adalah personil di Yonif 126/KC. Namun, sekarang tidak lagi. Dia sudah pindah tugas ke Kesdam,” ujar Prinaldi.

Hal senada disampaikan Komandan Batalyon Infanteri 126/KC, Letkol Inf Eppy Gustiawan SIP. Danyon, yang dikonfirmasi melalui Pasiintel Lettu Inf Setiawan Hadi Nugroho membenarkan, Koptu Surya Darma pernah berdinas di batalyon yang bermarkas di Bunut, Kisaran tersebut. Namun, masa tugasnya di kesatuan itu, terbilng singkat, karena tidak sampai hitungan tahun.

Desember 2010 silam, Koptu Sury Darma yang berlatar belakang kesehatan itu pindah tugas ke Kesehatan Kodam 1/BB (Kesdam) di Medan. Bahkan, saat bertugas di Batalyon 126/KC pun, Koptu Surya Darma berstatus personel DP (Diperbantukan). “Di sini (Yonif 126/KC, Red) dia berstatus DP, bukan pasukan organik. Dia diperbantukan ke Batalyon ini, dari Kesdam,” ujar perwira ini dengan ramah.(ing/smg/adl)

Kualitas Cetak Buruk, Langsung Dihancurkan

Melongok Ketatnya Pengamanan Percetakan Soal UN di Percetakan Balai Pustaka

Setiap tahun, masalah kebocoran soal Ujian Nasional (UN) selalu menjadi isu utama yang mengotori niat pemerintah mewujudkan penyelenggaraan UN yang bersih. Untuk bersih betul, memang sulit, karena banyak celah yang bisa dimainkan oknum nakal. Bagaimana sebenarnya proses pencetakan soal UN tahun ini?

Nicha-JPNN, Jakarta

Mendiknas M Nuh melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke percetakan soal UN di Percetakan Balai Pustaka, Jakarta, Sabtu (9/4). Berdasarkan informasi yang digali JPNN, sejumlah karyawan sebenarnya sudah mencium agenda sidak Nuh. Hanya saja, dari tindak-tanduk para petugas, tampak mereka sedikit panik.

Pada saat memasuki pintu gedung percetakan, semua rombongan Nuh diperiksa satu persatu dan harus meletakkan segala barang bawaannya dan mengganti sepatu dengan sendal jepit khusus. Petugas pemeriksa di depan pintu ruang percetakan juga tak segan-segan memeriksa sang menteri beserta beberapa staf kemdiknas lainnya.

Saking ketatnya, beberapa awak media yang ikut dalam rombongan Nuh tidak semuanya diperkenankan masuk. Terutama untuk para fotografer dan kameramen. Mereka harus menuju balkon di lantai atas, dan hanya bisa mengambil gambar melalui layar CCTV dan juga jendela kaca yang tertutup rapat.

Bagi beberapa reporter yang diperkenankan masuk ke ruangan percetakan pun juga harus meletakkan barang-barang bawaannya yang dimasukkan ke depan plastik yang sudah disediakan.

Barang-barang bawaan yang dimaksud adalah tas, memo, pulpen, kamera pocket, handphone, dan lainnya. “Maaf, kami terpaksa melakukan ini karena sudah prosedur. Kalian diperbolehkan masuk hanya bawa badan saja,” seru seorang petugas keamanan.

Sesampainya di dalam ruangan, Nuh yang mengenakan kemeja batik berwarna cokelat tua tersebut nampak serius melihat setiap sudut di dalam ruangan percetakan. Lalu, ia nampak terkejut ketika melihat banyaknya tumpukan soal-soal UN yang dihancurkan oleh mesin menghancur kertas. “Kenapa ini dihancurkan?” sergah Nuh.
Petugas pengawas percetakan, Aris Pandong lantas memberikan penjelasan. Dikatakan, tumpukan kertas soal tersebut adalah soal-soal yang salah cetak, kualitas warnanya buruk dan juga kertas soal yang berlebih. “Kita ketika mencetak soal ini, kualitas warnanya harus disetel terlebih dahulu sampai kita mendapatkan hasil cetak dengan kualitas warna yang bagus. Nah, yang tidak bagus kita langsung hancurkan dengan mesin khusus,” jelas Aris.
Nuh semakin penasaran dan ingin melihat di mana tempat penghancuran kertas tersebut. Lantas, Nuh dan juga beberapa staf Kemdiknas serta beberapa reporter diajak masuk ke dalam ruang penghancuran kertas tersebut. Di dalam ruang penghancuran kertas itu tak berbeda seperti layaknya ruang sampah, namun bedanya jenis sampahnya hanya sampah kertas berwarna putih.

Suasana ruang penghancuran kertas itu pun dikelilingi kabut debu kertas yang sangat tebal. Sehingga, beberapa rombongan dari kami tak tahan untuk segera keluar dari ruangan tersebut, karena membuat napas sesak. Ya, seharusnya kami memang menggunakan masker khusus. Akan tetapi pada saat itu, kami langsung masuk dan tidak menggunakan masker karena kita tidak menyangka jika di dalam ruangan sampah kertas itu begitu buruk.

Soal UN yang dibagi ke dalam lima tipe soal tersebut, dipisahkan masing-masing empat lembar. Sehingga, jika semua soal tersebut digabungkan berjumlah 20 lembar soal yang dimasukkan ke dalam plastik khusus dan kemudian dimasukkan kembali ke dalam amplop cokelat  bersegel. “Plastik yang gunakan adalah plastik khusus. Plastik ini sulit disobek. Sehingga, kalau ada yang berusaha untuk membongkar plastiknya pasti akan terlihat tandanya,” jelas Aris.
Lalu, untuk pintu ruang penyimpanan soal yang sudah dicetak, juga nampak dikunci dengan gembok yang dibalut dengan plester atau solasi. Bagi siapa yang ingin masuk ke ruangan tersebut, harus tanda tangan dan mengunci serta meyolasi kembali gembok tersebut. Menariknya, bahkan soal yang salah cetak dan lembar soal yang berlebih, segera dihancurkan yang kemudian masuk dalam alat peleburan.

Selepas keluar dari ruang penghancuran kertas atau naskah UN, Nuh kembali berkeliling ruangan percetakan sembari memperhatikan beberapa karyawan yang sibuk memasukkan soal-soal UN yang sudah jadi ke dalam plastik dan amplop bersegel. “Kira-kira kapan ini semua mulai didistribusikan?,” tanya Nuh kepada pengawas. Salah seorang pengawas menjawab bahwa soal UN akan sampai di rayon pada H-1 sebelum pelaksanaan UN berlangsung. “Namun, untuk wilayah di Kepulauan Seribu, kami akan mulai mengirim pada H-2 karena jaraknya yang jauh,” tukasnya.
Proses pencetakan soal ujian nasional (UN) untuk jenjang pendidikan sekolah menengah atas (SMA) dan sederajat telah selesai. Untuk saat ini sudah memasuki fase pengemasan atau packaging. “Sekarang sudah selesai dan sudah memasuki fase packaging. Sedangkan untuk soal UN jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) masih belum selesai. Lagi pula pelaksanaannya kan seminggu setelah pelaksanaan UN SMA,” terang Nuh.

Nuh juga sempat berceletuk kepada awak media yang ada di dalam ruangan percetakan tersebut. “Sekarang fasenya kan packaging. Mengapa saya berani mengajak kalian ke percetakan sekarang? Karena proses pencetakan soal sudah selesai. Kalau dalam proses pencetakan kita berkunjung ke sini itu menjadi bagian yang harus diwaspadai,” jelasnya.
Mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) juga menegaskan, pihaknya akan selalu mengawal di saat proses pendistribusian soal UN dari percetakan hingga ke rayon. Selain itu, dirinya juga mengimbau agar masyarakat jangnlah berpikiran negatif bahwa titik rawan kebocoran diartikan sebagai titik yang pasti terjadi kebocoran soal UN.
“Rawan itu bukan berarti pasti bocor. Tetapi, rawan itu memang berpotensi untuk terjadi kebocoran. Tapi saya selalu bilang sama kawan-kawan justru dari potensi-potensi itulah yang harus kita cermati. Kan titiknya kan percetakan, distribusi, rayon. Selain itu, kalau katanya ada Kepsek yang ditekan oleh Kadisdiknya, saya kira bukan jamannya,” paparnya.

Sebelum mengakhiri sidak, kepada wartawan Nuh mengimbau kepada seluruh orang tua siswa atau peserta UN untuk tidak mudah tergoda dengan adanya tawaran bocoran soal UN.

“Masyarakat khususnya orang tua harus yakin bahwa jangan sampai terjebak pada spekulasi-spekulasi yang menyatakan soal ujian itu bocor. Bahkan, saya juga  menerima sms yang berbunyi “Pak ini ada tawaran soal. Kalau jawaban benar 25 persen, harganya sekian juta, kalau benar 50 persen sekian juta”,” ungkap Nuh. (*)

Curang, Nilai Unas Dihapus

JAKARTA- Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) tidak bosan-bosan untuk mengajak siswa, guru, dan pejabat terkait untuk jujur dalam pelaksanaan Ujian Nasional (Unas). Meskipun kecurangan sulit dideteksi, Kemendiknas tetap yakin ancaman sanksi bisa membuat semua yang terkait lebih jujur. Ancaman sanksi tahun ini, nilai siswa yang curang akan dihapus.

Ancaman tersebut disampaikan langsung Mendiknas Mohamad Nuh. Dia menjelaskan, tahun ini pihaknya memiliki sistem baru untuk mendeteksi kecurangan pengerjaan unas. Setiap lembar jawaban siswa memiliki kode rahasia. Kode tersebut, hanya diketahui oleh kemendiknas, percetakan, dan pengawas.

Dengan kode rahasia tersebut, pelaksana Unas bisa mengetahui langsung siapa-siapa siswa yang melakukan kecurangan. “Semua harus mengikuti tema Unas tahun ini, prestasi yes, jujur harus,” tandasnya.
Selain mewanti-wanti siswa supaya mengerjakan soal dengan jujur, Kemendiknas juga masih mencium potensi sekolahan yang mendongkrak nilai unas siswanya. Tujuannya satu, yaitu untuk mencapai angka kelulusan 100 persen.

Untuk kasus ini, Nuh mengatakan, pihak sekolah yang curang akan mendapatkan sanksi administratif. Yaitu, Kemendiknas tidak menerima nilai ujian sekolah. Seperti diketahui, ketentuan kelulusan diambil dari dua aspek. Pertama, dari nilai ujian nasional sebesar 60 persen, dan kedua dari nilai ujian sekolah sebesar 40 persen. “Jika sekolah nakal, peresentase ujian sekolah kami hapus. Jadi murni kelulusan dari nilau unas saja,” tegas mantan rektor ITS tersebut. Jika nilai ujian sekolah yang diambil berdasarkan rapor dihapus, otomatis siswa berharap penuh pada hasil unas.

Sementara untuk wali murid yang akan menjalani unas, Nuh mengatakan jangan mudah terpengaruh isu jual beli bocoran naskah soal. Dia mengatakan, selama ini banyak sekali modus yang digunakan penipu untuk mencari duit menjelang detik-detik akhir pelaksanaan Unas. Nuh mencontohkan, ada penipu yang mengatakan jika lembar soal yang dijualnya 50 persen persis seperti naskah unas. Harga yang dipatok bisa sampai Rp 1 juta.

Ada juga yang memasang iming-iming jika naskah soal itu akurasinya adalah 75 persen bahkan seratus persen. “Semua itu bohong. Kalau dipercaya, risikonya besar,” sebut Nuh. Risiko muncul karena siswa bisa jadi ogah belajar karena merasa sudah memegang duplikat lembar soal Unas. Padahal, lembar duplikat tersebut bohongan.
Pintu kebocoran naskah Unas lainnya diduga muncul dari lembaga bimbingan belajar. Untuk menarik peminat, biasanya lembaga bimbingan belajar melobi percetakan untuk mendapatkan soal. Untuk kasus ini, Nuh mengatakan tahun ini tidak akan terjadi.(wan/pnn)

Lian Ditemukan di Puncak

JAKARTA- Pegawai Kementerian Perhubungan Lian Febriani yang hilang sejak Kamis (7/4) lalu sudah ditemukan. Lian ditemukan di sebuah masjid di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat.

“Sudah (ditemukan), informasi yang saya dapat ditemukan di salah satu masjid di daerah Puncak, Bogor,” kata Kepala Puskom Publik Kementerian Perhubungan Bambang S Ervan, Minggu (10/4).

Menurut Bambang, kabar soal keberadaan Lian diterimanya sejak pukul 08.00 WIB. Ada warga yang melihat Lian pada dinihari dan langsung melapor ke petugas kepolisian setempat.

“Sekarang sudah di rumah bersama keluarga,” ucap Bambang.
Sementara itu, saat ditemukan kondisi psikologis ibu satu anak tersebut jadi linglung. Dia tak mengenal lagi keluarganya.

“Kondisinya kayak orang linglung tidak mengenal diri sendiri dan tak mengenal orang lain,” kata Bambang S Ervan.
Menurut Bambang, tak ada lagi orang yang dikenalnya. Termasuk sang suami tercinta yang mendampingi Lian selama ini. Meski begitu, Bambang belum bisa menceritakan kondisi terakhir Lian. Saat ini, kondisi kesehatannya sedang diperiksa. “Tadi sepengetahuan saya dibawa sama keluarga untuk diperiksa kesehatan,” imbuhnya.

Lian Febriani, adalah PNS di Bagian Tata Usaha, Direktorat Bandar Udara, Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan yang hilang sejak Kamis  (7/4) lalu. Sebelum hilang, Lian dan teman sekantornya sempat makan siang di kantin kantornya.(net/jpnn)

Vettel Paling Cool

Taklukkan Tantangan Grand Prix Boros Ban

SEPANG-Hujan tidak sempat mengguyur, hanya sempat mengancam, berlangsungnya Grand Prix Malaysia kemarin (10/4). Tapi bagi para pembalap, balapan mungkin berlangsung lebih simple kalau hujan benar-benar turun.
Di atas lintasan kering, para pembalap justru harus bekerja keras ngebut sambil menghemat ban, menyelesaikan lomba 56 putaran tanpa kesalahan.

Pada akhirnya, pembalap paling “dingin” meraih kemenangan. Sebastian Vettel, andalan Red Bull-Renault, berhasil merebut victory keduanya dari dua lomba pertama 2011.

Mengawali lomba dari pole position, Vettel tampil nyaris tanpa kesalahan. Dia melakukan tiga pit stopn
tanpa banyak drama, dan mampu tenang meski mobilnya mengalami masalah KERS (kinetic energy recovery system). Sistem “turbo boost elektrik” pada mobil RB7-nya itu sempat nyala-mati di tengah lomba.

Untung, para pembalap di belakangnya pada tampil belepotan. Sehingga Vettel tidak perlu khawatir berjuang keras membendung serangan lawan.

“Saya kira dia (Vettel, Red) adalah pembalap paling cool (dingin, tenang, Red) hari ini (kemarin, Red). Dia begitu tenang di dalam mobil, dia mampu mengontrol lomba dengan baik, merawat ban, dan melakukan segala hal yang harus dia lakukan,” puji Christian Horner, manajer Red Bull.

Horner menambahkan, Vettel tidak seperti pembalap yang baru berusia 23 tahun. “Dia seperti begitu berpengalaman,” tambahnya.

Tentu saja Vettel senang mengakhiri GP Malaysia di puncak podium. Namun dia tidak ingin merayakan terlalu lama. Sebab, lomba berikutnya, di Tiongkok, langsung diselenggarakan dalam hitungan hari (15-17 April ini).
“Dua kemenangan dari dua lomba. Perfect. Tidak bisa lebih baik dari ini. Tapi jalan masih panjang. Masih banyak poin yang harus diamankan. Jadi kami harus tetap membumi,” ucapnya usai lomba kemarin.

Vettel juga mengaku beruntung sistem KERS-nya tidak mati saat start, seperti yang dialami rekannya, Mark Webber. “Kalau start tanpa KERS, posisi saya pasti akan berbeda,” ungkapnya.

Kemarin, pembalap yang semestinya merepotkan Vettel, Lewis Hamilton, tampil cukup mengecewakan. Saat start dia kehilangan satu posisi, lalu sebagai tim McLaren-Mercedes kurang jitu dalam hal strategi, memaksa Hamilton masuk terlalu dini.

Akibatnya, sepanjang lomba, setiap kali melakukan stop untuk ganti ban, Hamilton selalu terlalu dini. Buntutnya, ban Hamilton selalu “habis” duluan bila dibandingkan dengan pesaing.

Di akhir lomba, setelah pit stop ketiga yang seharusnya jadi servis terakhir, Hamilton harus melahap putaran sisa terlalu banyak. Karena ban yang sudah tak sanggup dipaksa, dia pun kerepotan menjaga posisi. Dia bahkan sempat bersenggolan dengan Fernando Alonso (Ferrari), dan terpaksa melakukan pit stop keempat ketika bannya benar-benar sudah tak sanggup mencapai garis finis.

Sudah jatuh tertimpa tangga, Hamilton kena penalti 20 detik (bersama Alonso) setelah lomba dan melorot dari urutan tujuh ke delapan.

Rekannya di McLaren, Jenson Button, akhirnya finis kedua. Pembalap yang dikenal “halus” dalam mengemudi ini tidak butuh stop tambahan.

Di belakang mereka, Nick Heidfeld tampil memukau. Start di posisi keenam, bintang Lotus Renault GP itu langsung melonjak ke urutan dua di putaran pertama. Setelah itu konsisten bertahan dan sukses naik podium.
Di awal lomba itu, Heidfeld mengaku sempat khawatir. Sebab, tetesan hujan sempat turun. “Saya juga bilang ke tim kalau ban mulai habis. Tapi mereka meminta saya untuk terus bertahan di lintasan. Mereka tak ingin saya melakukan pit stop ekstra,” ungkapnya.

Bagi Renault, ini hasil memuaskan. Di Australia bulan lalu, mereka juga merasakan podium. Vitaly Petrov finis di urutan ketiga.

Meski gagal mencuri kemenangan dari Red Bull, pihak McLaren tetap optimistis. Kecepatan mereka tidaklah terpaut jauh dengan Red Bull. Kalau tidak membuat kesalahan, mereka seharusnya mampu “mengganggu” lagi di GP Tiongkok.

“Saya tak sabar ke Tiongkok. Kami sangat bersemangat dan semoga kami bisa menantang Red Bull lagi,” tandas Jenson Button. (*)

Bintang Porno Ngaku Kirimkan Videonya ke Arifinto

JAKARTA- Sindiran atas ulah anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera Arifinto yang kedapatan menonton video porno saat paripurna, juga datang dari mancanegara. Seorang bintang porno kelahiran Norwegia, Vicky Vette, mengaku senang Arifinto telah membuka kiriman konten porno yang dia kirimkan.

Demikian pengakuan Vicky, dalam akun twitternya Minggu (10/4).  Awal mulanya, Vicky men-tweet ucapan selamat pagi, khusus kepada followers di Indonesia. Setelah itu, Vicky men-tweet pesan spesial kepada Arifinto bahwa dirinya lah yang mengirimkan konten porno itu.

“Aku sangat senang Mr Arifinto menerima email ku. Kukirimi dia foto terbaik milikku,” kata Vicky dalam akun twitternya. Meski begitu, terdapat keganjilan atas pesan spesial Vicky kepada Arifinto. Dalam sidang paripurna, yang dilihat oleh Arifinto bukanlah foto, melainkan video. Namun, tetap saja tweet dari Vicky itu mengundang reaksi dari para followersnya yang berjumlah ratusan ribu. Vicky yang juga memiliki perhatian khusus di kasus video porno vokalis Peterpan Ariel, menjelaskan bahwa ada seorang politisi Indonesia yang terjepret kamera jurnalis, tengah menonton video porno.  Sementara itu Dewan Syariah PKS dan Badak Kehormatan Dewan akan memanggil Arifinto, Senin (11/4), demi mengklarifikasi perbuatannya.

“Dewan Syariah selama ini menangani etik dan syar’i yang akan memanggil yang bersangkutan,” kata Abdul Hakim, Sekretaris Fraksi PKS di Jakarta, kemarin (9/4).

Dewan Syariah PKS yang diketuai Surahman Hidayat, kata Hakim, adalah lembaga internal PKS yang berhak untuk mengklarifikasi dugaan pelanggaran kode etik seperti yang dilakukan Arif. Keputusan dari Dewan Syariah itu nantinya yang jadi pertimbangan Fraksi untuk menindaklanjuti nasib anggota Komisi V itu.

“Nanti akan dilihat seberapa jauh yang bersangkutan melakukan kesalahan. Sanksi akan diberikan sesuai tingkat kesalahan,” tandasnya.

Tidak hanya internal PKS, Badan Kehormatan DPR RI juga tidak tinggal diam atas tindakan yang dilakukan Arif. Wakil Ketua BK Nudirman Munir menyatakan, bukti atas tindakan Arif yang menonton video porno melalui komputer tablet sudah kuat. Sesuai aturan kode etik baru, tanpa perlu aduan, BK bisa memproses dugaan pelanggaran kode etik itu. “Saya akan segera komunikasikan dengan anggota Badan Kehormatan lain,” kata Nudirman.

Menurut politisi Partai Golongan Karya itu, Arif diduga melanggar pasal 3 peraturan DPR tentang kode etik. Pasal tersebut pada intinya berbunyi, setiap anggota dewan harus menghindari perilaku tidak pantas yang dapat merendahkan citra dan kehormatan lembaga DPR. Apa yang dilakukan Arif tersebut bisa merusak citra kelembagaan DPR RI.(bay/jpnn)
(bay)

Izin Pemeriksaan Kepala Daerah Tertahan

JAKARTA- Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD mempertanyakan komitmen Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pemberantasan korupsi. Hal itu terkait dengan belum ditandatanganinya 61 izin pemeriksaan bagi kepala daerah yang sudah menjadi tersangka korupsi.

Mahfud menyindir, Presiden SBY hanya gesit menangani kasus korupsi yang dilakukan pejabat negara ketika baru menjabat, yakni pada 2004. Kala itu, waktu yang dibutuhkan untuk mengeluarkan izin pemeriksaan bagi pejabat paling lama dua Minggu. Tetapi, belakangan semangat presiden dalam pemberantasan korupsi mulai mengendur.

Buktinya, izin pemeriksaan kepala daerah mengendap sejak 2005 dan terus menumpuk hingga jumlahnya saat ini mencapai 61. Kepala daerah yang surat izin pemeriksaannya belum ditandatangani presiden, antara lain, Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek dan Gubernur Kalimantan Selatan Rudi Arifin.  Awang menjadi tersangka tindak pidana korupsi divestasi saham Pemda Kutai Timur, sedangkan Rudi menjadi tersangka dugaan korupsi pembebasan tanah eks pabrik kertas .(dri/ttg/jpnn)