Home Blog Page 15441

Alumnus Tersebar di Dalam dan Luar Negeri

Di usia emasnya yakni  50 tahun, Akademi Maritim Indonesia, mampu memberikan berbagai kemajuan terhadap perkembangan akademinya. Selain telah memperoleh Pengakuan (Approval) dari Dirjend Perla No.DL/23/1/19.04 selama 5 (lima) tahun, AMI baru-baru ini juga telah menamatkan 70 kadet yang lansung diberikan Kementerian Perhubungan melalui Dewan Penguji Sertifikasi Kepelautan (DPKP).

“Ada 70 taruna yang baru saja lulus, yang terdiri dari 25 orang Ahli Nautika Tingkat III (ANT III) dan 45 Ahli Teknika  Tingkat III (ATT III),”  ujar Direktur AMI Yuris Danilwan Phd, saat dikonfirmasi belum lama ini.
Sementara beberapa waktu sebelumnya menurut Yuris, AMI juga menjalani telah ujian kelautan yang diikuti sebanyak 114 taruna angkatan tahun 2008, yang mana selanjutnya para taruna akan menjalani praktik kapal pada pelayaran asing dan dalam negeri.

“Sesuai program Diploma III yang diterapkan dalam pendidikan AMI Medan. Sampai bulan ini sedikitnya AMI telah menghasilkan 90 kadet untuk angkatan 2008,” ungkap Yuris.

Kini sesuai dengan semakin tingginya kebutuhan dunia terhadap perwira kelautan kelas III (Diploma III) yang mencapai angka 18.000 hingga tahun 2014 mendatang, AMI Medan memberikan kesempatan yang besar terhadap  peserta didik untuk mengikuti program  yang diterapkan. “Bayangkan saja setiap tahun dari seluruh tamatan sekolah pelayaran yang ada di Indonesia rata-rata per tahun hanya menamatkan taruna sebanyak 1800 orang, angka ini tidak sebanding dengan kebutuhan dunia yang mencapai 18000 orang. Kenyataan itu menunjukkan betapa besarnya peluang penyerapan dunia kerja di bidang pelayaran niaga,” sebutnya.

Bahkan, sejauh ini hampir seluruh tamatan AMI Medan langsung bekerja di perusahaan pelayaran swasta maupun BUMN, nasional dan internasional. (uma)

Gara-gara Emas Palsu

MEDAN-Aksi penipuan yang dilakukan Kawidasen berakhir di kantor polisi. Pria berusia 28 tahun Warga Jalan Musala, Desa Lalang, Kecamatan Sunggal itu diringkus pegawai kantor Pegadaian cabang Jalan Darusalam Medan, saat hendak menggadaikan perhiasan emas palsu, akhir pekan lalu.

Keterangan yang dihimpun, awalnya pria keturunan India tersebut ingin menggadaikan perhiasan emas ke kantor Pegadaian. Namun, saat itu petugas Pegadaian sudah menerima informasi dari beberapa kantor Pegadaian di Medan yang sudah tertipu dengan prilaku tersangka.

Usai petugas Pegadaian memeriksa perhiasan emas yang dibawa Kawidasen. Ternyata benar, emas yang dibawa tersangka itu palsu. Dimana, perhiasan itu terbuat dari besi biasa yang dilapis emas. Petugas langsung mengontak beberapa Pegadaian di Kota Medan untuk mengetahui ciri-ciri pelaku yang sebelumnya. Sama seperti informasi yang didapat, ciri-ciri pelaku sama dengan tersangka. Petugas Pegadaian pun langsung menghubungi petugas keamanan (sekuriti) yang berada di luar gedung dan langsung menahan Kawidasen. Kawidasen beserta barang bukti kemudian diboyong ke Mapolresta Medan.

Saat dilakukan pemeriksaan, tersangka mengaku aksi itu dilakukannya atas suruhan temannya Tanjung (40), warga Jalan Gatot Subroto, Simpang Barat, Kecamatan Medan Baru.”Dari pengakuannya, tersangka melakukan aksinya di 30 kantor cabang Pegadaian di kota Medan,” ujar Kasat Reskrim Polresta Medan, Kompol Fadillah Zulkarnaen.

Dikatakan, Fadillah penahanan tersangka berkat kesigapan dari pegawai kantor Pegadaian yang sudah sempat tertipu. “Itu kemarin serahan dari Pegadaian, sekarang masih kita periksa dan sedang kita kembangkan,” tegasnya.(adl)

Bisa Dihitung dengan Jari

Pemerintah Kota Medan tampaknya tak serius untuk melakukan percepatan pembangunan di Kawasan Medan Utara. Buktinya pembangunan infrastruktur pendidikan masih sangat minim.

Bukan itu saja, sampai saat ini Dinas Pendidikan Kota Medan dan Sumut belum mengarahkan agenda yang diprioritaskan khususnya didunia pendidikan di daerah Medan Utara. Kenapa? Berikut wawancara wartawan Sumut Pos, Nopan Hidayat dengan Sekretaris Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Sumut, Rudianto SSos Msi.

Apa tanggapan Anda tentang minimnya sarana pendidikan di Medan Utara?
Menurut saya dibandikan daerah yang ada di Medan, empat Kecamatan di  kawasan Medan Utara tertinggal, terutama sarana dan prasarana pendidikan. Hal tersebut, bisa dilihat dari minimnya sekolah yang ada di daerah ini. Kemudian kondisi sekolah-sekolah mulai Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Mengah Atas (SMA) sangat memprihatinkan. Tidak ada satupun sekolah favorit di kawasan Medan Utara. Jumlah SMA dan SMP misalnya, bisa dihitung dengan jari. Kalau ini dibiarkan, maka kualitas sumber daya manusia di kawasan ini akan sulit diperbaiki.

Apa Penyebabnya?
Penyebabnya tentu saja strategi dan kebijakan pembangunan yang tidak merata yang dilakukan Pemerintah Kota Medan selama ini. Pemko Medan sepertinya memprioritaskan kawasan Medan Utara untuk industri, tanpa memperhatikan bahwa kawasan ini juga adalah kantong kehidupan masyarakat yang sangat padat yang perlu dipenuhi sarana dan kebutuhan hidup lainnya sama seperti kawasan lain.

Apa dampaknya?
Akibatnya mutu pendidikan di kawasan Medan Utara menjadi rendah dibandingkan kawasan lain.

Apa yang harus dilakukan Pemko Medan?
Pemerintah Kota Medan harus membuat skala prioritas program untuk memperbaiki Kawasan Medan Utara terutama mutu pendidikan termasuk sarana pendidikannya.

Apa imbauan Anda?
Harus ada kebijakan misalnya dengan mengalokasikan anggaran pendidikan khusus untuk kawasan Medan Utara di APBD Medan. Bisa juga dengan menggalang kerjasama melalui dana CSR dari kalangan industri yg banyak terdapat di Medan Utara. Sarana utama yang harus prioritas adalah jumlah bangunan sekolah harus ditingkatkan, kualitas bangunan sekolah yg ada diperbaiki, melengkapi sarana perpustakaan, laboratorium dan sarana olahraga di sekolah-sekolah. (*)

Antisipasi Korupsi di Empat SKPD

KPK datangi Pemko Medan

MEDAN-Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemerintah Kota (Pemko) Medan, mendapat supervisi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Senin (9/5). Tujuannya untuk mengantisipasi korupsi di empat SKPD.

Usai  acara pejabat Pemko Medan di empat SKPD itu menghindar ketika hendak dikonfirmasi wartawan.
Kepala Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan (TRTB), Syampurno Pohan,  langsung meninggalkan Balai Kota Medan. “Iya, tiga hari acaranya,” jawabnya sembari meninggalkan wartawan. Sikap yang tidak jauh berbeda diperlihatkan oleh Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Kadisdukcapil) Kota Medan, Darussalam Pohan.
“Ke Inspektorat saja ya,’ jawabnya berulang-ulang kali.

Saat ditanya Sumut Pos, apakah kehadiran KPK ke Pemko Medan dikarenakan memang banyak pejabat Pemko Medan yang terjerat kasus korupsi? Kembali lagi, dengan pernyataan berulang-ulang diungkapkan Darussalam Pohan dengan mengatakan, yang bisa memberikan keterangan adalah Inspektorat Pemko Medan.
“Inspektorat saja, kan mereka yang mengundang kita,” jawabnya.

Mendengar jawaban yang ketakutan seperti itu, membuat Sumut Pos dan sejumlah wartawan lainnya gerah dan meninggalkan Darussalam Pohan.

Tak jauh berbeda dengan yang ditunjukkan Kepala Inspektorat Pemko Medan, Farid Wajedi yang ditanya mengenai kehadiran KPK. Farid Wajedi berupaya untuk menghindari kejaran wartawan.

Namun, setelah didesak akhirnya Farid Wajedi menjelaskan, proses supervisi KPK tersebut akan berlangsung selama 3 hari sejak kemarin, hingga Rabu (11/5).

“Ini tujuannya pembinaan saja, dan hasilnya tidak akan diumumkan. Dan sampelnya empat SKPD saja. Jangan karena KPK datang seolah-olah ada masalah,” kilahnya.

Beda hal nya dengan yang ditunjukkan Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu, Wiriya Al Rahman saat ditanyai sejumlah wartawan. Dan Wiriya dengan tegas menjawab pertanyaan Sumut Pos mengenai, apakah kehadiran KPK ke Pemko Medan karena banyaknya kasus korupsi di Pemko Medan, Wiriya menjawab, kehadiran KPK adalah sebuah bentuk supervisi untuk pencegahan tindakan korupsi.

“Ini progres inisiatif anti korupsi. Apa namanya, SKPD-SKPD ini kan punya program. Kita (BPPT) punya niat untuk anti korupsinya. Jadi kehadiran KPK ini untuk pencegahan tindakan korupsi sejak dini,” ungkapnya.

Sementara itu, anggota KPK yang hadir yakni, Litbang KPK, Anis Wijayanti yang didampingi Fungsionaris Litbang KPK, Lira Redata menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan antisipasi atau pencegahan tindak pidana korupsi. Dan itu terlepas dari fakta integritas pelayanan publik yang dikeluarkan oleh KPK terhadap Pemko Medan.

“Ini tahun ketiga. Akan mengadakan inisiatif anti korupsi. Tahun ini pesertanya ada 28. Jadi salah satunya adalah Pemko Medan. Hari ini adalah dalam rangka verifikasi jawaban questioner dari KPK,” bebernya.
Ditambahkannya, questioner yang diperkirakan sebanyak 60 soal tersebut terdiri dari beberapa indikator yakni, kode etik, ada pengaduan masyarakat, penyelenggara negara, pengadaan. Pokoknya ada lima indikator utama, nanti ada turunannya lagi,” tambahnya.(ari)

Mati Lampu, Dewan Malas Rapat

MEDAN- Lampu listrik di gedung DPRD Medan padam pada pukul 15.50 WIB, atau setelah setengah jam dibuka, Senin (9/5), saat mengikuti rapat paripurna rekomendasi DPRD Medan atas Rapat Gabungan Komisi-komisi dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemko Medan.

Akibatnya, anggota DPRD Medan yang hadir satu per satu meninggalkan ruang sidangn Anggota DPRD Medan lainnya Aripay Tambunan dengan berkelakar di tengah kegelapan, dengan berpura-pura mengangkat telepon selulernya dan menyatakan matinya listrik di gedung dewan terhormat tersebut, karena belum bayar rekening listrik.
“Halo Pak. Saya lagi di gedung dewan, lampunya mati. Karena belum bayar rekening, Pak!” katanya yang langsung disambut gelak tawa oleh anggota DPRD Medan lainnya.

Nah, anggota DPRD Medan Muslim Maksum di tengah kegelapan itu juga sempar berkelakar. “Nanti dibilang Bang Sabar (Sabarsyam Surya Sitepu, Red), saya pula yang mematikannya,” ujarnya.
Dan pernyataan ini langsung disambut Sabar dengan menyatakan, Muslim Maksum ini pandai menyindir. “Lim-lim (Muslim Maksum, Red), pandai kali ngekik,” jawabnya.

Perdebatan ringan antara dua anggota DPRD Medan ini, juga telah terjadi beberapa menit sebelum padamnya listrik. Saat itu, Muslim Maksum melakukan interupsi dan menyarankan, agar Sabar Sitepu yang membacakan hal-hal yang penting saja terkait hasil rekomendasi DPRD Medan mengenai Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Pemko Medan Tahun 2010.

“Interupsi ketua, sebaiknya yang dibacakan yang inti-intinya saja. Kalau dibaca semua, nanti yang bacakan kecapean. Sekedar usul ketua, terima kasih,” saran Muslim.

Ketua DPRD Medan Amiruddin tampak langsung menanggapi, namun kemudian dipatahkan oleh Sabar Sitepu dan menyatakan, dirinya tidak letih kalau hanya membacakan hasil rekomendasi tersebut secara tuntas.
“Maaf ketua, saya yang membacakan ini saja tidak merasa capek. Jadi, bisa saya lanjutkan ketua?” tanya Sabar kepada Amiruddin.

Amiruddin kemudian mempersilahkan Sabar untuk melanjutkan pembacaan hasil rekomendasi DPRD Medan tersebut. Namun, beberapa menit kemudian listrik langsung padam.
Rapat yang seharusnya dimulai pukul 14.00 WIB, namun molor dan baru dimulai pada pukul 15.20 WIB. Itu pun setelah Ketua Komisi C DPRD Medan Jumadi langsung angkat bicara, supaya rapat paripurna segera dimulai.
“Pimpinan, sekarang sudah pukul 15.20 WIB, kita sudah terlalu lama molor dari jadwal yang ditetapkan,” kata Jumadi.
Ketua DPRD Medan, Amiruddin yang memimpin sidang langsung menyahuti usulan itu dan  membuka sidang. Pantauan Sumut Pos, tercatat sebanyak 15 kursi anggota DPRD Medan melompong.

Ke-15 kursi tersebut adalah yang diduduki, Deni Ilham Panggabean, Damai Yona Nainggolan, Parlindungan Sipahutar, Irwan Sihombing, Surianda, Ainal Mardiah, Ahmad Arif, Landen Marbun, Ahmad Parlindungan Batu Bara, Bangkit Sitepu, Janlie dan baru masuk 19 menit setelah rapat dibuka, Godfried Effendi Lubis, Remon Simatupang, Ikrimah Hamidy yang terlihat baru masuk pukul 15.37 WIB, dan satu kursi kosong lainnya adalah atas nama Budiman Panjaitan.

Pantauan Sumut Pos sebelum rapat tersebut dimulai, Surianda tampak terlihat di kursinya, namun ketika rapat dimulai dan sampai Sumut Pos meninggalkan ruang rapat tersebut sekira pukul 14.10 WIB, Surianda tak terlihat lagi. Begitu pula dengan Ahmad Arif, dimana sebelum rapat dimulai dirinya tampak hadir dan bahkan sempat bertegur sapa dengan Sumut Pos. Namun anehnya, ketika rapat Ahmad Arif tak berada di tempat.

Pemandangan yang seolah lazim pada setiap rapat adalah banyaknya, anggota DPRD Medan yang hilir mudik. Tercatat ada beberapa yang keluar dari ruang sidang antara lain, Juliandi dan Jumadi keluar ruang rapat sekira pukul 15.30 WIB, sedangkan HT Bahrumsyah keluar pukul 15.36 WIB, Kuat Surbakti pukul 15.40 WIB dan Hasyim SE pukul 15.43 WIB.

Salah seorang wartawan yang tepat disamping Sumut Pos menyatakan, untuk anggota Fraksi PKS yang keluar dikarenakan menunaikan ibadah salat Ashar.

“Kalau orang PKS keluar rapat, karena salat, yang lain nggak tahu,” kata wartawan tersebut kepada Sumut Pos.
Berdasarkan rapat tersebut, terkesan semakin malasnya anggota DPRD Medan untuk mengikuti rapat. Namun berbanding terbalik ketika ada agenda kunjungan kerja (kunker) DPRD Medan. Di sisi ini, kegiatan kunjungan kerja (kunker) ke luar daerah, sangat jarang anggota Dewan yang absen. Seperti kunjungan yang akan dilaksanakan pada Selasa, 10 Mei 2011 (hari ini, Red) ke Jakarta dan Surabaya oleh Badan Musyawarah. Sekira 21 orang anggota Badan Musyawarah DPRD akan ramai-ramai berangkat.(ari)

Heboh, Tabung Racun Api Meledak

MEDAN-Warga Lingkungan VII, Kelurahan Suka Raja, Kecamatan Medan Maimon mendadak heboh. Pasalnya, di Toko Laris Jaya tempat pengisian ulang racun api di Jalan Brigjen Katamso mengeluarkan suara ledakan keras, Senin (9/5) sekitar pukul 11.00 WIB.

Akibatnya, pemilik toko berlantai III no 245, Jimy Rustam mengalami luka bakar di lengan sebelah kanannya sepanjang 10 cm. Warga di sekitar lokasi langsung melarikannya ke RS Permata Bunda untuk menjalani perawatan medis.
Keterangan yang diperoleh di lokasi, diduga tabung racun api yang sudah tidak layak pakai masih digunakan oleh Jimy dengan cara mengisi ulang.

“Tabung tersebut kami dapat dari kapal, sewaktu suamiku (Jimy Rustam, Red) mengisi ulang obat racun api tabung tersebut. Tiba-tiba saja langsung meledak,” ujar Christine, istri korban yang ditemui di lokasi.

Dijelaskan Christine, ledakan yang keras tersebut keluar dari tabung yang sudah tidak layak pakai lagi. Sehingga pecahan tabung mengenai lengan kanan Jimy. “Karena bawah tabung sudah bekarat, sehingga tidak mampu menahan muatan obat saat dilakukan pengisian ulang. Akibatnya suami saya terkena pecahan ledakan tersebut dan harus dilarikan ke RS Permata Bunda,” ucap Chiristine.

Polisi yang tiba dilokasi tidak diizinkan oleh Christine untuk melakukan pemeriksaan terhadap ledakan tabung tersebut. “Jangan masuklah, kan tidak ada korban jiwa. Kan dari tadi sudah aku jelaskan, kalau tabung racun api meledak,” cetus Christine lagi sambil menutup pintu garasi tokonya.

Untuk penyelidikan lebih lanjut, polisi membawa Christine beserta saksi lain untuk diperiksa di Polsek Medan Kota untuk diambil keterangannya. “Tempat kejadian perkara sudah kita cek, dan memeriksa beberapa saksi untuk diambil keterangannya. Sementara korban belum diambil keterangannya karena masih menjalani perawatan medis di rumah sakit,” kata kapolsek Medan Kota, Kompol Sandi Sinurat.(adl)

Kajatisu: Tidak Akan Ditutup

Dugaan Kasus Korupsi Alkes USU

MEDAN-Hasil penyelidikan dugaan korupsi alat kesehatan di Fakultas Kedokteran USU, hingga saat ini belum ada yang dijadikan tersangka oleh Kejatisu. Namun, Kejatisu membantah bahwa penyelidikan kasus itu telah dihentikan.
“Meskipun belum ada yang dijadikan tersangka oleh penyidik namun kasus itu masih bergulir dan masih dalam penyelidikan,” tegas Kasi Penkum Kejatisu, Edi Irsan Kurniawan Tarigan SH, Senin (9/5).

Tarigan juga mengakui dari beberapa pejabat dan mantan pejabat Rektorat USU yang dimintai keterangan, belum ada yang dijadikan tersangka.

“Kita akui belum ada tersangkanya. Namun kasus itu masih terus berjalan. Penyidik masih bekerja untuk mengungkap kasus tersebut,” beber Tarigan.

Tarigan juga mengatakan ada 4 pejabat USU yang diperiksa sifatnya klarifikasi. “Pemanggilan pejabat itu sifatnya klarifikasi. Meskipun belum ada pemeriksaan lanjutan. Namnun kasus itu tetap disidik hal ini sesuai komitmen kita untuk mengungkap korupsi di Sumut,” ucap Tarigan. Dikatakan Tarigan lagi apabila ada temuan yang mengarah menjadi bukti maka tidak tertutup kemungkinan pejabat tersebut akan dipanggil.

Sementara itu Kajatisu, AK Basuni M juga menegaskan bahwa untuk mengungkap kasus dugaan korupsi dirinya tidak mau gegabah. “Apalagi kasus korupsi ini melibatkan institusi pendidikan, jadi kita tidak mau memanggil orang banyak. Mengingat kita juga memakai azas praduga tidak bersalah. Jadi tidak perlu kita memanggil semua orang yang terlibat dalam perkara tersebut, namun sejauh ini saya belum mendapatkan laporan dari penyidik,” tegas Basuni.

Basuni juga berjanji selama dirinya masih menjabat sebagai Kajatisu, dirinya berjanji tidak akan menutup kasus korupsi. “Kita juga akan memberikan informasi pada masyarakat, apakah kasus itu layak diteruskan atau tidak. Kita akan transparan agar masyarakat berpikiran kita yang tidak-tidak dalam penanganan kasus korupsi,” tegas Basuni. (rud)

Tiga Rumah Ludes Terbakar

MEDAN-Tiga rumah ludes dilahap api, di Jalan Bilal Gang Jawa, Kecamatan Medan Polonia, Senin (9/5) sekitar pukul 10.00 WIB.

Keterangan yang dihimpun, api diduga berasal dari korslet listik di rumah Ponirah (38). Api dengan cepat merembet ke rumah yang ada di sampingnya. Beruntung, warga sekitar cepat menjinakkan api dengan merobohkan atap rumah Ponirah, sehingga api tidak sempat meluas ke perumahan warga yang lainnya. Namun seluruh barang-barang milik Ponirah bersama Emma (28) dan Antit (30) tidak tersisa.  Seorang Warga, Ali Hanafiah Nst (53) mengatakan, api berasal dari rumah Ponirah. Dikatakannya, rumah dempet tiga itu memang milik Ponirah, Emma dan Antit menyewa rumah milik Ponirah.

Dijelaskannya, dalam peristiwa itu sebanyak Rp18 juta uang kontan milik Emma dan Rp3juta milik Ponirah hangus.(mag-8)

Terima Kasih Sumut Pos

Gebyar Pembaca Berhadiah

Pembaca Sumut Pos sejak tahun 2001 ini mengungkapkan kegembiraannya mendapatkan hadiah yang dibagikan Sumut Pos yang diundi, Sabtu (7/5).

‘’Terima kasih Sumut Pos atas hadiah yang saya terima,’’ kata Rahman, usai menerima hadiah dari Manajer Keuangan Sumut Pos, Mariana Lubis didampingi Koordinator EO Sumut Pos, Deddi Mulia Purba dan Manajer Umum/SDM Sumut Pos, Desi Desfita Dongoran.

Rahman mengaku baru pertama kali mendapat hadiah undian sehingga dirinya tambah semangat untuk membeli Sumut Pos.

‘’Saya beli rutin secara eceran. Pagi tadi saat beli Sumut Pos, saya lihat nama saya tertera mendapatkan hadiah Gebyar Pembaca Berhadiah. Lantas saya ke Sumut Pos untuk segera mendapatkan telepon Blackberry tersebut,’’ terangnya.
Pegawai Kantor PW Al-Washliyah ini menyebut hadiah yang didapat sebagai kenang-kenangan yang berharga baginya.  Kegembiraan serupa juga dirasakan Suherman, warga Jalan Pasar V Dusun XII Tembung yang mendapat hadiah telepon flexi. Pria yang bekerja sebagai tukang pangkas ini tahu dapat hadiah ketika koran langganannya diantar loper ke rumah.

Sementara itu Debora Siringo-ringo, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (FISIP USU), warga Jalan HM Jhoni Nomor 70B Medan akan mengambil hadiah utama berupa sepeda motor Honda Beat pada Selasa (10/5) sekira pukul 10.00 WIB. (fal/eo)

Pesawat tak Layak Dipaksa Terbang

Penyebab Jatuhnya Pesawat Merpati

MA 60 Diminta Digrounded

JAKARTA-Peristiwa kecelakaan pesawat jenis MA 60 milik maskapai penerbangan Merpati Nusantara Airline yang jatuh di Teluk Kaimana, Papua Barat, Sabtu (7/5) kemarin, telah membuka bobrok pemerintah, yakni  kementerian perhubungan, terutama Dirjen Perhubungan Udara.

“Menteri Perhubungan dan Dirjen Perhubungan Udara harus bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat Merpati tersebut,” kata anggota Komisi V DPR Rendy Lamajido, Minggu (8/5).

Pihak Merpati Nusantara Airline juga disalahkan politisi PDI Perjuangan itu karena membeli pesawat buatan Xian Aircraft, Cina, yang belum memiliki lisensi dari Federal Aviation Administration (FAA) AS. Sertifikat FAA selama ini dijadikan standar pemeliharaan teknis pesawat.

Rendy menduga Dirjen Perhubungan Udara  melakukan keteledoran karena tidak mengecek dulu apakah pesawat MA 60 buatan Cina tersebut layak dioperasikan untuk rute penerbangan di Papua. Pasalnya selama ini kondisi alam dan iklim di Papua sangat berbahaya bagi penerbangan. “Untuk mobil saja, tipe Kijang tidak bisa melintas di jalan becek. Pesawat pun demikian. Saya menduga Dirjen Perhubungan Udara teledor dengan membiarkan pesawat itu beroperasi. Sebab bisa saja pesawat itu tidak bisa dioperasikan pada iklim dan kondisi alam seperti di Papua,” ujarnya.

Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla ternyata tak menolak sejak awal rencana pembelian pesawat buatan Cina itu. “Kalau ditanya sejarahnya, dulu memang penuh perdebatan. Pesawat MA 60 tak punya track record,” kata Jusuf Kalla di Semarang, kemarin.

Kalau pun pesawat jadi ihadirkan, lanjut Kalla, mekanismenya harus sewa, bukan beli. Dengan demikian, urusan maintenance dan lain-lain masih menjadi urusan sang produsen. “Kalau pada akhirnya dibeli, ya saya tidak tahu,” jelasnya.

Mantan Ketum DPP Partai Golkar ini mengaku pernah ke Beijing untuk urusan pesawat itu. Di sana, ia menyatakan produsen harus bertanggung jawab jika ada masalah dengan pesawat tersebut. Salah satu caranya, produsen diharuskan membangun pabrik dan menyiapkan teknisi dari Cina.

Kalla juga menyebutkan, pesawat MA 60 sangat tidak cocok dengan iklim Indonesia. “Indonesia kan kepulauan. Butuh pesawat yang tangguh. Makanya saya tidak setuju,” ungkap Jusuf Kalla lagi.
Pengadaan pesawat itu sempat terganjal karena ditemukan crack di bagian rudder (sayap pesawat bagian belakang). Namun pihak Xian Aircraft kemudian memperbaikinya.

Merpati memesan 15 armada dari Xian dan telah datang 13 unit. Meskipun body buatan Cina, tapi mesin tetap menggunakan buatan Kanada. Selain Indonesia dan Filipina, pesawat itu digunakan di berbagai negara dunia ketiga seperti Republik Demokratik Kongo, Republik Kongo, Myanmar, Tajikistan, Zambia, Sri Lanka, Zimbabwe, Laos, Ghana, Ekuador, dan Bolivia.

Lepas dari ada atau tidaknya lisensi FAA, seluruh pesawat itu harus di grounded. “Untuk menghindari pesawat itu mengalami kecelakaan, seluruh pesawat MA 60 milik Merpati digrounded saja. Ini persoalan nyawa manusia,” tegas Rendi.

Menurut dia, ketika pesawat Adam Air direncanakan terbang dari Jakarta menuju Makasar ternyata mendarat di Tambolaka, Nusa Tenggara Timur, pihaknya meminta seluruh pesawat boeing 737-300 di-grounded karena ada ketidakberesan navigasi jenis pesawat itu. Namun, grounded itu tidak dilakukan sampai akhirnya pesawat boeing tipe yang sama jatuh di sekitar pantai Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Sebanyak 102 penumpang tewas.

“Makanya saya minta kepada pemerintah yakni Departemen Perhubungan, dalam hal ini Dirjen Perhubungan Udara  untuk menggrounded seluruh pesawat tersebut,” tegas Rendy.
Sebab, kata dia, ada indikasi komponen pesawat tidak memenuhi syarat keselamatan. Dugaan itu diperkuat keraguan dunia penerbangan internasional terhadap uji kelayakan pesawat produk Cina tersebut.

Black box pesawat Merpati Nusantara Airlines telah ditemukan Minggu sore kemarin. Kondisi kotak hitam utuh dan ditemukan di kedalaman 12 meter, Teluk Kaimana, Papua Barat. “Ditemukan pukul 16.00 WIT di 500 meter dari landasan,” ujar Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Wachyono.

Menurut Wachyono, kondisi kotak hitam masih utuh. “Pada kedalaman 12 meter, kondisi utuh,” imbuh dia.
Kemarin, Tim SAR juga telah menemukan 3 jenazah korban pesawat. “Ada tiga jenazah yang baru ditemukan. Jadi sekarang tinggal 5 jenazah lagi yang belum ditemukan,” kata Kepala Bandara Kaimana Papua Gagarin Mulyansah kemarin petang.

Pesawat naas tersebut mengangkut 19 penumpang dan 6 orang awak. Sebelumnya, 17 jenazah telah ditemukan dan berhasil diidentifikasi. Dengan ditemukannya 3 jenazah itu, berarti sudah 20 jenazah yang ditemukan.

Ke-20 jasad korban tadi malam disemayamkan di RSUD Kaimana. “Kami berharap proses evakuasi keseluruhan korban pesawat bisa diselesaikan secepatnya, sehingga proses pengembalian jenazah kepada pihak keluarga bisa dilakukan serentak,” jelas Kepala Basarnas Pusat Nono Sampono.
Nono mengakui, proses pencaharian sedikit lambat mengingat kondisi badan pesawat hancur berkeping-keping. Cuaca buruk yang menyelimuti Kota Kaimana, Papua Barat, Sabtu siang hingga sore, mengakibatkan bangkai pesawat terseret hingga 500 meter dari bibir pantai.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Wachyono mengatakan, Polda Papua menambah personel dari Polair Polres Kaimana guna mempercepat proses pencaharian para korban pesawat naas tersebut.(dry/rmo/jpnn)