Home Blog Page 15718

Berkat Mahadi

Persita vs PSMS

MEDAN-Striker muda PSMS, Mahadi Rais mulai menunjukkan kapasitasnya sebagai penyerang tajam. Berkat karya Mahadi di Stadion Benteng Tangerang kemarin sore, PSMS terhindari dari kekalahan melawan tuan rumah Persita dengan skor akhir 1-1.

PSMS lebih dulu ketinggalan di menit 30 lewat penalti Agus Salim. Penalti itu diberikan wasit Hadi Suroso sebab Agus Salim diganjal oleh Vagner Luis di kotak penalti. Dengan mudah Agus Salim memperdaya Andi Setiawan di bawah mistar gawang PSMS. Skor 1-0 bertahan hingga turun minum.

Usai gol itu, PSMS sempat kewalahan membuka pertahanan lawan. Suplai bola dari lini kedua tak berjalan mulus. Terlebih Persita sukses mematikan pergerakan Affan Lubis yang sebagai kreator serangan. Pun Gaston Castano sukses dikawal ketat sehingga tak sekalipun kekasih artis Julia Peres itu membahayakan gawang lawan.

Beruntung Mahadi berhasil menjawab kebutuhan akan seorang striker. Mahadi mulai menampakkan ketajamannya. Dipercaya turun sebagai pengganti, Mahadi sukses menjawabnya dengan gol di menit 64 yang menjadikan PSMS terhindar dari kekalahan dan sukses mencuri satu angka. Gol itu bermula dari umpan silang Faisal Azmi dari sisi kanan ke kotak penalti lawan. Umpan itu rupanya membuat kiper Persita, Tema Mursada panik. Tema memutuskan keluar gawang hendak menangkap bola, sayang dia gagal dan malah bertabrakan dengan Luis Edmundo. Sementara bola mengalir ke arah Almiro Valadares yang berdiri bebas dan mengheading bola ke arah kemelut tadi. Nah, saat itulah Mahadi datang dan mencocor bola meski sempat dihadang Luis Edmundo. Gol, skor 1-1 menjadi pelipur lara dari tur perdana PSMS awal putaran kedua ini.

“Saya sangat senang dengan gol tersebut. Ini akan saya hadiahkan kepada keluarga dan fans PSMS di mana pun berada,” kata Mahadi usai laga. “Yang terpenting, saya bisa menjawab kepercayaan pelatih selama ini,” lanjutnya.
Sementara itu, arsitek PSMS mengaku puas dengan hasil seri ini. “Hasil ini  membuat skuad makin semangat dan percaya diri menatap laga selanjutnya,” kata Suharto.  Sebaliknya bagi Persita, hasil ini jadi kerugian besar karena mereka harus turun satu peringkat. (ful)

Murid SD pun Turun ke Jalan

Ratusan warga Jalan Tanguk Bongkar, Perumnas Mandala, Kecamatan Medan Denai, Senin (28/2) pagi 09.00 WIB melakukan aksi blokir jalan. Aksi ini tak lain terkait penggusuran ternak babi. Sayangnya, aksi ini malah diikuti anak-anak kecil berseragam Sekolah Dasar (SD) yang sejatinya berada di sekolah.

Menurut warga, mereka tidak ingin ternak mereka digusur oleh Pemko Medan. Pasalnya, selama ini mereka bergantung pada ternak tersebut. Salah seorang warga, J Simangunsong (45), mengatakan, Pemko Medan dinilai sangat tidak berprikemanusian jika tetap menggusur usaha mereka. “Kami tidak setuju digusur karena relokasi yang diberikan oleh Pemko Medan tidak jelas dan jauh. Kalau mengenai uang transportasi untuk biaya memindahkan ternak kami tidak tahu-menahu,” katanya.

WR Manihuruk (52), orang tua yang dipercayakan oleh warga sekitar kepada wartawan mengatakan, sejatinya Pemko Medan telah memberikan 3 solusi. Sayangnya, tambah Manihuruk, tiga pilihan tersebut tidak sesuai dengan yang mereka inginkan. “Uang transport yang diberikan oleh Pemko Medan tidak kami terima karena kami tidak ingin memindahkan hewan ternak kami karena lokasinya tidak sesuai. Kami mintakan kepada Pemko Medan untuk memperhatikan ulang lokasinya,” tegasnya.

Sementara itu, Jernih Ruth Efelin Sihite (10), seorang pelajar SD yang ikut aksi tersebut menuturkan, dia sangat tidak setuju dengan penggusuran yang dilakukan oleh pejabat negara ini.
“Kan kami bisa sekolah dan bisa makan karena orangtua kami yang ternak babi. Jadi, kalau digusur, bagaimana hidup kami,” ucap bocah SD tersebut. (jon)

 

Melawan Tirani Lokal

Ansor Harahap

Usia muda tidak bisa dijadikan alasan untuk memberikan kontribusi pada perubahan di tengah-tengah masyarakat. Keteguhan sikap menjaga prinsip menjadi tameng arah perjuangan yang dilakoninya.

Hal itu tampaknya yang ingin ditunjukkan mahasiswa ekstensi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Univesitas Sumatera Utara (USU) Ansor Harahap (27) ini lewat buku berjudul “Melawan Tirani Lokal”. Meskipun mengacu pada daerah kelahirannya tanpa metode ilmiah  dan hanya mengandalkan dokumentasi dari fakta dan kenyataan yang ada, buku ini layak mendapat apresiasi positif. Pasalnya banyaknya tokoh pergerakan yang lupa melakukannya.

“Begitulah, banyak yang terlewat ketika kita sibuk dengan perjuangan. Jadi, saya berpikir untuk mengabadikan apa yang telah saya lakukan, baik dalam tulisan di media massa maupun tindakan nyata. Saya berharap, buku tersebut mampu menjadi saksi sejarah dalam perjuangan menuju Sumatera Utara yang lebih baik,” buka Ansor.
Tanpa berusaha membanggakan diri, Ansor menjelaskan kalau buku yang dia terbitkan tersebut tak lain dari tabungannya sendiri. “Selain itu ada juga yang simpati hingga menyumbangkan dananya. Yang jelas, kita akan terus berjuang,” tambahnya.

Dalam buku pertamanya ini dengan lantang dirinya menyuarakan bagaimana gagalnya pemerintah daerah; kabupaten/kota menjalankan demokrasi pada otonomi daerah. Termasuk kegagalan Pemkab Padang Lawas dalam mensejahterakan masyarakatnya setelah pemekaran 2007 silam.

Ansor juga melihat hubungan yang kuat dengan kegagalan sebahagian besar pemerintah kabupaten/kota dalam menjalankan peran dan fungsinya mensejahterakan masyarakat. Dimana kekuasaan yang beralih ke tingkat lokal melalui otonomi daerah justru menyuburkan korupsi, tirani, dan kolusi. Tanpa ada keinginan untuk perbaikan melalui the right man in the right place sehingga kesejahteraan masyarakat, kesejahteraan ekonomi, pendidikan, juga kesehatan dapat diwujudkan.

Bagaimana money politik sebagai dampak kegagalan memahami otonomi daerah menghiasi pesta demokrasi di tengah-tengah masyarakat. Sehingga lelang jabatan, rekrutman Pegawai Negeri Sipil (PNS), eksplorasi sumber daya alam, dan rekayasa proyek menjadi jalan untuk mengembalikan biaya yang dikeluarkan oleh sang pemenang. “Kondisi di Padang Lawas saya lihat juga terjadi di hampir semua kabupaten/kota di negara ini. Hanya beberapa seperti Kabupaten Jembrana, Kabupaten Solok, Kota Solo, Kabupaten Gorontalo, dan kalau di Sumut sendiri Kabupaten Serdang Bedagai yang terbilang sukses memahami otonomi daerah tadi,” tegas Ansor, Minggu (27/2) lalu.

Sebagai buku pertamanya, “Melawan Tirani Lokal” mendapat sambutan positif dari banyak pihak. Prof dr Usman Pelly, Antropolog dan Guru Besar Universitas Negeri Medan melihat buku setebal 211 halaman ini sebagai cermin otonomi setengah hati. Begitu juga Prof dr Nur Ahmad Fadhil Lubis, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumut yang menyebut sebagai satu figur gerakan mahasiswa kontemporer di daerah ini. Wakil Ketua DPRD Sumut dan Sekretaris PDI-P Sumut H M Affan bahkan menangkap semangat pergerakan yang tinggi untuk kebangkitan daerah yang bisa jadi referensi melihat potret buram kedaerahan dan intrik-intrik dalam kehidupan berkebangsaan yang makin redup.

Semua itu sebenarnya tak lepas dari masa kecil yang dilalui. Lahir dari keluarga petani di Desa Siundol Jae, Kecamatan Sosopan Padang Lawas, 2 Maret 1984 silam Ansor kecil tak mau menyerah mewujudkan keinginannya untuk maju. Lewat jalur Panduan Minat dan Prestasi (PMP) yang didapat dari SMA Negeri 1 Subulusalam, putra pasangan Ahmad Sahri Harahap dan Farida Hapni Hasibuan ini melanjutkan pendidikan di program diploma tiga Bahasa Inggris Fakultas Sastra USU 2003 lalu.

Di sini lah pilihan itu dibuat ketika memilih Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai wadah mengasah keintelektualannya yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan di berbagai media kampus dan surat kabar Kota Medan. Tidak sebatas perkembangan organisasi tempatnya bernaung, tulisan Ansor kerap mewarnai wacana kebangsaan dan kerakyatan khususnya di level lokal. “Tidak harus pembahasan yang berat. Di sekitar kita juga banyak hal yang bisa diangkat dalam rangka membangun opini membangun. Untuk USU sendiri bagaimana jurusan banyak yang terabaikan. Padahal jurusan seperti Etnomusikologi, Sosiologi, dan Antropologi ini memiliki peran penting dalam perkembangan pendidikan kita. Begitu juga kenaikan uang SPP yang tidak diikuti dengan pengadaan fasilitas yang layak. Tak heran kalau USU hanya tinggal nama besar belaka,” tuturnya.

Ansor tidak cuma tampil dalam tulisan tapi langsung dalam pergerakan mahasiswa. Seperti 2007 saat memimpin Gerakan Mahasiswa Padang Lawas (Gema Padang Lawas) menginap di DPRD Sumut untuk pemekaran Padang Lawas. Begitu juga saat menghentikan 300 truk milik salah satu perusahaan yang diindikasi merugikan masyarakat 2010 lalu. “Masyarakat Padang Lawas butuh prasarana pemerintahan dan peraturan daerah (Perda) yang sampai sekarang tidak jelas,” bebernya. (jul)

Salut Pada Soe Hok Gie

Perjalanan yang begitu berat berhasil dilalui bukan tanpa pegangan. Terhadap hal itu Ansor Harahap mengaku terinspirasi pada tokoh pergerakan mahasiswa Soe Hok Gie pada 1960-an silam.

“Di mata saya tidak ada tokoh di Indonesia ini yang lebih baik dari Soe Hok Gie dalam mempertahankan idealismenya. Yang saya lakukan sekarang bahkan masih jauh dari menyerupai. Tapi jujur saja, saya kagum pada Soe Hok Gie,” aku Ansor .

Sekilas memang kehidupan Ansor tidak jauh beda dari kisah Soe Hok Gie yang tidak mau mengalah terhadap tekanan yang dialami semasa kecil hingga berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri yang sama-sama terkenal. Begitu juga dalam pergerakannya Ansor dikenal sulit diajak kompromi dengan oposisinya. “Banyak tawaran yang datang. Baik dari pihak Pemkab Padang Lawas atau perusahaan-perusahaan yang menjadi objek kritikan saya. Namun tawaran tidak masuk dalam pilihan saya karena kita fokus pada kesejahteraan masyarakat. Dengan tidak membuka ruang untuk satu transaksional mudah-mudahan semua itu bisa diatasi,” tegasnya.

Demikian juga kekecewaan yang dialami Soe Hok Gie dengan sikap teman seangkatannya yang di era demonstrasi 1960-an yang lupa dengan visi dan misi perjuangan selepas mereka lulus, Ansor tetap menjaga perjuangannya.
Ketekunan dan ketulusan dalam perjuangan itu pula membuat Ansor selalu mendapat sambutan positif dari siapa pun yang ditemui. Walau pun hal itu tak pernah dilihat sebagai kelebihan. “Saya tidak pernah berpikir ke sana. Hanya saya selalu berusaha memberikan yang terbaik terhadap setiap kepercayaan yang diberikan. Begitu juga dalam berjuang ini setulus mungkin. Istilah gaulnya tidak neko-neko,” ucap Ansor merendah.

Satu yang pasti, dengan wawasan dan karya nyata yang sudah diperlihatkannya, di lingkungannya Ansor tetap merupakan pribadi yang santun.  (jul)

 

Partai Keras

CHELSEA vs MAN. UNITED

LONDON-English Premier League tengah pekan ini akan menghadirkan dua tim raksasa yang dalam dua dekade terakhir terlibat persaingan untuk menjadi yang terbaik di tanah Inggris.

Ya, dini hari nanti (28/2) Chelsea akan menjamu Manchester United di Stadion Stamford Bridge. Beruntung bagi Carlo Ancelotti, tactician Chelsea, karena laga ini berlangsung setelah anak asuhnya meraih poin sempurna atas FC Kopenhagen di ajang Liga Champions. Ini merupakan kemenangan pertama setelah pada tiga pertandingan sebelumnya hanya menuai hasil dua kali bermain imbang dan sekali kalah.

Karena hal tersebut Don Carletto (panggilan akrab Carlo Ancelotti) pun kian optimis menghadapai The Red Devils. “Tim ini mulai menemukan bentuk permainan terbaik. Saya harap kemenangan atas Kopenhagen menambah motivasi anak-anak saat menghadapi United,” bilang Fergie.

Selain hal tersebut di atas, tidak konsistennya penampilan The Red Devils juga semakin memicu optimisme Carletto. Terlebih setelah calon lawannya itu harus tampil habis-habisan saat mengalahkan tim kacangan Crawley Town pada Piala FA serta ditahan imbang Marseille pada leg I babak 16 besar Liga Champions.

“Posisi mereka yang kini berada di puncak klasemen Premier League seakan membuat mereka tertekan. Ini harus kami manfaatkan,” bilang Carletto.

Lantas, apa yang menjadi modal Carletto untuk membungkam tim yang diajang Community Shield bulan Agustus lalu, mampu mempermalukan mereka dengan skor 1-3?

“Saya rasa Fernando (Torres, Red) akan menjadi kartu truf  kami saat menghadapi mereka. Apalagi dia (Torres, Red) selalu mencetak gol bila diturunkan menghadapi United,” bilang Carletto.

Sungguh aneh jika Carletto menjagokan pemain berjuluk El Nino itu. Pasalnya, Torres yang sudah bermain sebanyak tiga kali untuk Chelsea belum mampu mencetak satu gol pun bagi klub barunya itu. Ironisnya Nicolas Anelka yang awalnya sempat akan dijadikan alat barter untuk mendatangkan Torres ke Stamford Bridge justru tampil impresif pada tiga laga terakhir.

“Tak diragukan lagi jika mereka (Anelka dan Torres, Red) adal;ah tandem ideal bagi tim ini. Saya selalu percaya dengan kemampuan mereka,” bilang Carletto.

Di tempat terpisah, bek Manchester United yang juga menjabat sebagai kapten tim kedua, Nemandja Vidic mengaku tak gentar dengan nama besar Fernando Torres. Secara tegas Vidic mengatakan bakal mengunci pergerakan Torres.
“Kadang orang-orang terlalu berlebihan. Benar jika saya sempat berselisih dengannya (Torres, Red), ketika dia masih memperkuat Liverpool. Tapi ini semata cerita tentang olah raga bukan dendam pribadi,” bilang Vidic.
“Jadi, saya akan buktikan bahwa di antara kami tidak terjadi apa-apa. Saya akan melakukan semua hal untuk membantu tim meraih kemenangan, bukan untuk memojokkan dia (Torres, Red),” tambah Vidic lagi.
Sementara itu Sir Alex Ferguson, tactician Manchester United melihat jika laga menghadapi Chelsea merupakan pertandingan besar yang harus dimenangkan.

Karenanya, pelatih berkebangsaan Skotlandia itu tak berani berjudi dengan menurunkan banyak pemain muda. Sederet pemain senior pun dipersiapkan pelatih gaek ini, termasuk Ryan Giggs yang dua hari lalu, saat timnya menghadapi Wigan terpaksa diistirahatkan.

“Saya harap Ryan pulih dari cedera dan ikut dengan kami ke London. Pertandingan menghadapi Chelsea selalu menjadi pertandingan besar,” bilang Fergie.
“Dulu kami selalu mempunyai rekor bagus di sana, tetapi catatan kami selama tujuh tahun terakhir buruk. Ini yang harus diakhiri,” pungkas Fergie. (jun)

Ngaku Polisi Minta Uang Tebusan

K Saragih (51), warga Jalan Tanjung Morawa Gang Dame, Senin (28/2) siang 13.00 WIB mendatangi Mapolresta Medan. Dia mengaku ditelepon seorang pria yang mengaku bernama Aiptu H, petugas Sat Narkoba Polda Sumut yang meminta uang tebusan anaknya yang disebut-sebut tertangkap karena menggunakan narkoba.

Sesampainya di Mapolresta Medan, K Saragih menanyakan kebenaran kabar itu ke petugas piket Sat Reskrim Polresta Medan, Senin (28/2) siang. Karena tak ada kepastian, akhirnya K Saragih menghubungi nomor Aiptu H yang mengaku dari Sat Narkoba Polda Sumut tersebut.

Setelah tersambung, K Saragih menyuruh seorang petugas piket untuk menerima telepon tersebut dan ternyata pria yang mengaku petugas Sat Narkoba Polda Sumut itu tak menjawab dan mematikan ponselnya.

Diceritakan K Saragih yang kala itu didampingin istrinya, pria yang mengaku Aiptu H tersebut meminta uang karena anak mereka ditahan terkait kasus narkoba. “Anak bapak kami pegang karena menggunakan narkoba. Jangan sekali-kali matikan handphone Bapak. Kalau Bapak ingin anak bapak aman, serahkan saja uang karena dua teman anak Bapak sudah menyerahkan uang kepada kami,” kata K Saragih menirukan ucapan pria yang mengaku petugas tersebut.

Setelah oknum yang mengaku petugas tersebut meneleponnya, tak lama berselang, seorang pria yang mengaku Fahmi Saragih (19), anak K Saragih menelepon mereka. “Umi, kami dijebak dan dituduh pakai narkoba,” kata K Saragih menirukan ucapan lelaki yang mengaku Fahmi itu. Disebutkannya, ketika itu Fahmi menghubungi mereka lewat telepon rumah atau telepon umum.

Setelah mendengarkan penuturan K Saragih, petugas piket Polresta Medan menyuruh K Saragih mencek dan menelpon anaknya Fahmi Saragih. Ternyata, Fahmi Saragih saat itu berada di kampusnya bersama teman-temannya. (jon)

Hanas Siap Dipanggil Kejari

MEDAN- Pengusutan kasus dugaan korupsi di Bagian Humas Pemerintah Kota (Pemko) Medan tahun anggaran 2010 terus bergulir. Sejauh ini sudah beberapa staf humas yang dipanggil Kejari Medan untuk dimintai keterangan terkaitn
dugaan korupsi senilai Rp2,049 M tersebut. Sementara mantan Kabag Humas, Hanas Hasibuan yang kini menjabat sebagai Kadispora Medan mengaku belum dipanggil Kejari.

“Sampai saat ini, saya belum menerima surat pemanggilan dari Kejari,” katanya kepada wartawan koran ini, Senin (28/2). Hanas menegaskan, jika Kejari Medan melayangkan surat panggilan terhadap dirinya, maka dia akan memenuhi panggilan tersebut. Menurutnya, pemanggilan dan pemberian keterangan nantinya atas dirinya di Kejari Medan akan menjernihkan masalah, bahwa tidak ada penyelewengan yang dilakukan saat dirinya menjabat sebagai Kabag Humas Pemko Medan.

“Sebagai warga negara yang baik, saya akan memenuhi panggilan Kejari demi lancarnya proses hukum. Dan ini juga demi meng-clear-kan masalah yang sebenarnya,” tegasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kejari Medan mengusut dugaan korupsi di Bagian Humas Pemko Medan. Anggaran yang diduga diselewengkan antara lain, anggaran penyediaan bahan-bahan bacaan dan perundang-undangan sebesar Rp910 juta, anggaran penyediaan bacaan buku kliping dari surat kabar, majalah dan tabloid sebesar Rp100 juta (dinaikkan menjadi Rp135 juta pada Perubahan APBD 2010). Kemudian anggaran penerbitan buku petunjuk telepon sebesar Rp104.280.000. Lalu anggaran peliputan penyelenggaraan kegiatan kepala daerah pada hari kerja dan hari libur sebesar Rp350 juta dan jumlahnya naik menjadi Rp450 juta pada PABPD 2010. (ari)

Dewan Pengawas Tirtanadi Dipertanyakan

MEDAN-Gedung DPRD Sumut ‘diserbu’ ratusan massa yang tergabung dalam Persatuan Pemuda Pembangunan Republik Indonesia (PPP-RI), kemarin (28/2). Dalam orasinya, pengunjuk rasa meminta DPRD Sumut memeriksa legalitas dewan pengawas PDAM Tirtanadi Sumut karena diduga bertentangan dengan Permendagri No 2 tahun 2007.

Juga membatalkan proses penjaringan fit and proper test calon Direksi PDAM Tirtanadi Sumut yang diproses oknum anggota dewan pengawas PDAM Tirtanadi Sumut karena diduga penjaringan tersebut dilakukan oknum tanpa kriteria yang transparan serta sarat KKN. Dan mengungkap pemborosan keuangan PDAM Tirtanadi Sumut oleh oknum dewan pengawas. “Kami minta DPRD Sumut menyahuti permintaan kami,” kata Agus S, koordinator aksi.

Hasbullah Hadi, Ketua Komisi A DPRD Sumut di hadapan pengunjuk rasa mengatakan, fungsi anggota dewan yakni bertugas mengawasi pemerintahan berjanji akan mempelajari dugaan penyelewengan tersebut.
Sementara Joni Muliadi, Kepala Bidang Publikasi dan Komunikasi PDAM Tirtanadi mengatakan, badan pengawas dibentuk Gubsu sesuai SK No.118.44/607/KPTS/2010 tanggal 21 Oktober 2010.(*/ade)

Polisi Sidik Kasus Penembakan Ashley Cole

KASUS penembakan tidak sengaja Ashley Cole kepada karyawan magang Chelsea berbuntut panjang. Kasus yang sedianya berakhir damai itu terancam bergulir ke ranah hukum. Gara-gara diekspose media Inggris, Kepolisian Surrey bakal menyelidiki insiden di Cobham pada 20 Februari lalu itu.

“Kami dapat mengonfirmasikan bahwa tidak ada laporan tentang kasus penembakan di Cobham dalam satu dua pekan terakhir. Kami pun baru mengetahuinya dari pemberitaan media,” ungkap juru bicara Kepolisian Surrey seperti dilansir Daily Telegraph kemarin (28/2).

“Dalam beberapa hari ke depan, kami akan meminta keterangan beberapa orang di Chelsea untuk mengetahui apakah telah terjadi tindak pidana sehingga bisa diproses lebih lanjut,” tambahnya.
Insiden penembakan berawal dari keisengan Cole membawa senapan angin kaliber 22 ke markas latihan Chelsea di Cobham. Senapan yang biasanya digunakan untuk berburu itu dibuat sebagai alat bercanda oleh Cole seusai latihan. Tiba-tiba, senapan itu meletus dan mengarah ke Tom Cowan, 21, karyawan magang di Cobham yang berdiri dua meter di dekat Cole.

Cowan beruntung karena peluru tidak sampai menembus dadanya. Tapi, luka mahasiswa ilmu keolahragaan Universitas Lougborough masih belum sembuh sampai sekarang. Cole mengatakan apabila dia tidak menyangka ada peluru di dalam senapannya.

“Cole tidak sengaja mencelakai Cowan, tapi ulahnya tetap saja memalukan dan menyedihkan,” tulis Telegraph dua hari lalu (27/2).

Di sisi lain, sampai kemarin, Chelsea tidak memberikan keterangan resmi menanggapi rencana polisi menyelidiki kasus Cole. Namun, beberapa sumber di pengurus Chelsea mengatakan apabila mereka bakal bersikap kooperatif kepada aparat berwajib.

Yang sudah pasti, Chelsea telah merubah sikapnya kepada Cole. Jika sebelumnya hanya memberikan teguran, manajemen klub asal London Barat itu telah menjatuhkan sanksi denda kepada Cole.
Denda kepada bek kiri berusia 30 tahun itu cukup besar, yakni 250 ribu pounds atau sekitar Rp3,5 miliar. Ada yang menyebut denda itu digunakan sebagai biaya perawatan medis untuk Cowan. (dns/jpnn)

Mantan Kapolsekta Medan Kota jadi Tersangka

Senin (28/2) siang. Dijelaskan Agus, penetapan tersangka terhadap AKP Darwin Ginting berdasarkan pemeriksaan terhadap anggotanya yang melakukan eksekusi tembak terhadap Zainal dengan kesaksian tiga orang personil dari Polsek Medan Kota.

“Setelah berkas penyidikan selesai, secepatnya kita ajukan ke Kejatisu. Untuk hasil selanjutnya kita serahkan saja ke Kejaksaan untuk diteliti,” ucap Agus lagi.

Lebih lanjut Agus mengatakan, AKP Darwin Ginting dijerat dengan Pasal 351 jo 55 KUHPidana dengan ancaman minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara.

Sebelumnya, Dit Reskrim Poldasu juga telah melakukan penyidikan terhadap personil Polsek Medan Kota yang menembak Zainal juga sudah ditetapkan sebagai tersangka. “Sedangkan untuk anggotanya Brigadir A yang berkasnya sudah kita ajukan ke Kejatisu masih P19. Kita terus berkordinasi dengan Kejatisu untuk melengkapi berkasnya,” bebernya.

Tim kuasa hukum Zainal dari LBH Medan memberikan acungan jempol buat Dit Reskrim Poldasu yang telah menetapkan mantan Kapolsekta Medan Kota sebagai tersangka. Mereka juga berterima kasih atas penyidikan yang dilakukan Direskrim Polda Sumut. Dimana, pihaknya, berharap sekali agar aktor intelektual di belakang kasus tersebut diusut secara tuntas. (mag-1)

Termotivasi Kemenangan Sociedad

BARCELONA-Tak ada yang menyangka jika Espanyol akan bersaing di papan atas La Liga Primera musim ini. Tim yang kini dibesut Mauriccio Pochettino itu nangkring di tempat kelima dengan poin 40, atau tertinggal tujuh angka dari Villareal yang menempati peringkat keempat.

“Kami semakin dekat dengan zona Liga Champions. Kami akan terus berusaha hingga bisa meraihnya. Akan membanggakan bila musim depan kami berkompetisi dengan tim-tim elit Eropa,” bilang  Pochettino.
Ambisi yang diusung Pochettino ini pun sejalan dengan keinginan seluruh pemain. Bahkan saking besarnya ambisi untuk masuk ke zona Champions, para pemain menjadikan seluruh pertandingan tersisa layaknya partai final.
“Pada pertandingan terakhir kami mampu mengalahkan Real Sociedad dengan skor yang telak (4-1). Ini membangkitkan motivasi kami untuk terus menjaga peluang. Dan kami yakin peluang itu akan mampu kami raih,” tegas Luis Garcia, gelandang Espanyol.

Menurut Garcia, besarnya ambisi Espanyol untuk menyalip raihan poin yang dikumpulkan Villareal tak jarang membuatnya sulit tidur. “Fans berharap kami mampu melakukannya. Ini membuat kami terbebani. Tapi kami bangga karena itu berarti fans percaya dengan kamampuan yang kami miliki,” bilang Garcia lagi.
Terkait strategi permainan yang diterapkan Pochettino, Garcia mengatakan bahwa sejauh ini dia dan rekan-rekanya merasa cocok dengan pola yang diterapkan sang entrenador.

“Dia pelatih yang hebat. Tanpa dia, mungkin kami tak bisa meraih level permainan setinggi ini,” puji Garcia.
Sayangnya, ketika ambisi sedang membubung, di saat itu pula Luis Garcia bakal kehilangan tandem di lini tengah Espanyol, saat tim itu menjamu Mallorca dini hari nanti.

Ya, saat mengalahkan Real Sociedad kemarin gelandang Javi Marquez mengalami keseleo pergelangan kaki, sehingga bisa dipastikan dirinya bakal absen.

“Kami sepenuhnya percaya kepada tim medis. Jika tim medis mengatakan dia (Marquez, Red) bisa diturunkan, maka dia akan kami turunkan, mengingat sangat besarnya kontribusi dia untuk tim selama ini. Tapi jika tim medis melarangnya bermain, dengan berat hati dia terpaksa duduk di tribun,” bilang Pochettino. (jun)