WARGA DI LOKASI: Warga berada di lokasi lahan PTPN II di Kelurahan Tunggorono, Kecamatan Binjai Timur, Kota Binjai, beberapa waktu lalu.
BINJAI, SUMUTPOS.CO – Dua kelompok terlibat bentrok di lahan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) II, Kelurahan Tunggurono, Binjai Timur, belum lama ini. Akibatnya, satu orang berinisial S (43), mengalami luka bacok di bagian kepala.
WARGA DI LOKASI: Warga berada di lokasi lahan PTPN II di Kelurahan Tunggorono, Kecamatan Binjai Timur, Kota Binjai, beberapa waktu lalu.
“Kita sudah menerima laporan terkait dengan kejadian semalam,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Binjai, AKP Yayang Rizki Pratama, kemarin (15/9).
Informasi dihimpun, korban dan teman-teman mulanya membuat tapal batas yang diduga menggarap tanah negara di Kelurahan Tunggurono, Binjai Timur. Tiba-tiba, korban didatangi oleh kelompok lain dengan menggunakan sebo atau penutup wajah saat tengah bekerja.
Rombongan orang tak dikenal, membawa senjata tajam, panah hingga bom molotov. Situasi berubah mencekam.
Kelompok yang tengah buat batas tanah mereka, pun meninggalkan pekerjaan buat tapal. Saat berusaha lari, korban diduga dibacok pada bagian kepalanya oleh salah satu orang dari kelompok bersajam.
Beruntung, nyawa korban masih dapat tertolong dan sempat dilarikan ke Rumah Sakit Bangkatan Binjai. Korban mendapat sembilan jahitan di bagian kepala. Bersama Kuasa hukumnya, korban kemudian membuat laporan ke Polres Binjai.
“Kita belum bisa periksa saksi untuk dimintai keterangan, karena masih dalam perawatan,” tandas Kasat Reskrim. (ted/azw)
IKUT: WBP Lapas Binjai saat mengikuti kompetensi bidang pengelasan, kemarin.
BINJAI, SUMUTPOS.CO – Sebanyak 20 napi atau warga binaan pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Binjai mendapat pembinaan kemandirian berupa pelatihan keterampilan yang bersertifikat di bidang pengelasan. “Lembaga Sertifikasi Profesi Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja Medan yang melakukan ujian kompetensi kepada 20 peserta WBP, yang digelar pada 15 September 2021 sampai 16 September 2021,” kata Kepala Seksi Kegiatan Kerja, Raymon Andika Girsang, Kamis (16/9).
IKUT: WBP Lapas Binjai saat mengikuti kompetensi bidang pengelasan, kemarin.
Peserta yang mengikuti pelatihan keterampilan ini sudah diseleksi berdasarkan minat dan bakatnya selama 24 hari, sejak 16 Agustus 2021 hingga 13 September 2021. Dalam proses seleksi, kata Kasi, mereka menerima pembekalan materi dan praktek industri las dari Instruktur BBPLK Medan.
“Setelah itu, setiap peserta diuji selama dua hari untuk menunjukan kemampuan dan keterampilan bidang las industri. Sehingga, jika memenuhi syarat akan dinyatakan lulus dan mendapat sertifikat BNSP,” beber Raymon.
Raymon menjelaskan, pihaknya sudah melakukan serah terima blanko sertifikat kompetensi kegiatan hasil uji kompetrnsi skema perakitan meubel yang dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi BBPLK Medan. “Sertifikat BNSP ini akan diberikan ketika peserta selesai menjalani masa pidana. Sertifikat BNSP memiliki peranan penting bagi peserta pelatihan untuk mengembangkan kompetensi yang dimilikannya,” kata dia.
“Manfaat sertifikasi BNSP sebagai wujud pengakuan yang dapat meningkatkan kreadibilitas sebuah profesi, sehingga warga binaan menjadi percaya diri dalam membangun jalur karirnya kelak nanti. Sertifikat tersebut berlaku sampai 3 tahun setelah tanggal dikeluarkan. Pelatihan ini diharapkan dapat menjadi bekal warga binaan di masa yang mendatang untuk melanjuti penghidupannya saat sudah kembali ke masyarakat,” pungkasnya. (ted/azw)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – PROVINSI Sumatera Utara (Sumut) masih bebas dari zona merah (risiko tinggi) penyebaran Covid-19. Bahkan, saat ini zona oranye (risiko sedang) juga terus berkurang. Meski begitu, belum ada kabupaten/kota di Sumut yang masuk zona hijau (tidak ada kasus).
Berdasarkan data hasil pembobotan skor dan zonasi risiko daerah seluruh Indonesia yang disampaikan pada website https://covid19.go.id/peta-risiko per 12 September 2021, tercatat ada 5 kabupaten/kota yang masuk zona oranye yaitu Tebing Tinggi, Serdang Bedagai, Batu Bara, Medan, dan Labuhanbaru Utara. Selebihnya, sebanyak 28 daerah merupakan zona kuning.
Jumlah daerah di Sumut yang masuk zona oranye tersebut pada pekan ini, menurun drastis dibanding minggun
sebelumnya yang mencapai 11 daerah. Peta zonasi risiko daerah tersebut, dihitung berdasarkan indikator-indikator kesehatan masyarakat dengan menggunakan skoring dan pembobotan. Indikator yang digunakan adalah epidemiologi, yaitu penurunan jumlah kasus positif, suspek dan sebagainya.
Kemudian, indikator surveilans kesehatan masyarakat, seperti jumlah pemeriksaan sampel diagnosis meningkat selama 2 minggu terakhir. Selanjutnya, indikator pelayanan kesehatan, yakni jumlah tempat tidur di ruang isolasi rumah sakit rujukan mampu menampung sampai dengan lebih dari 20% jumlah pasien positif Covid-19 yang dirawat.
Sekretaris Dinas Kesehatan Sumut dr Aris Yudhariansyah mengatakan, perkembangan kasus Covid-19 di kabupaten/kota yang terus menurun, salah satunya karena kedisiplinan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan (prokes). “Masyarakat mulai sadar dan disiplin pentingnya prokes dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Mulai dari menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan pakai sabun dan hindari kerumunan, semakin melekat dalam setiap aktivitas sehari-hari,” ujarnya, Kamis (16/9).
Selain itu, menurut Aris, menurunnya kasus Covid-19 di Sumut juga dipengaruhi oleh pembatasan aktivitas kegiatan masyarakat. Kemudian, juga 3T (Testing, Tracing, Treatment) yang terus gencar dilakukan. “Di sisi lain, vaksinasi Covid-19 juga terus masif dilakukan. Mudah-mudahan dengan berbagai upaya yang dilakukan tersebut dan dukungan masyarakat yang sadar prokes, maka kasus Covid-19 akan turun,” tandasnya.
Transparansi Data
Sementara, pengamat politik dan pemerintahan Dadang Darmawan menilai, data yang akurat sangat diperlukan dalam percepatan penanganan pandemi Covid-19 di Sumatera Utara. Karenanya sinergitas antara pemerintah dengan media massa penting untuk ditingkatkan, terkhusus soal data-data yang dibutuhkan dalam penanganan covid.
“Kuncinya adalah kemauan. Mau gak pemerintah membuka data ini seluas-luasnya kepada publik melalui media massa. Sebab, dengan data akurat bisa membuat penanganan (pandemi) lebih baik,” kata Dadang Darmawan saat menjadi pembicara di Coffee Morning Dinas Kominfo Sumut bertajuk ‘Pengelolaan Arus Informasi dan Komunikasi di Masa Pandemi Covid-19, di Hotel Santika Dyandra Medan, Kamis (16/9).
Amburadulnya data penanganan Covid-19 di Sumut, menurutnya, kembali terungkap tatkala Gubsu Edy baru-baru ini ada menyebut kesalahan input data oleh sejumlah kabupaten dan kota. Pernyataan Gubsu itu, lantas ditanggapi Wali Kota Medan, Bobby Nasution. “Saya kira dengan Edy Rahmayadi mantan Pangkostrad, dan Bobby Nasution dengan statusnya menantu Presiden Jokowi, hal semacam itu tidak perlu terjadi. Tentunya kedua tokoh ini punya kapasitas untuk menyelesaikan permasalahan. Sekali lagi, soal data ini poinnya adalah kemauan pemerintah, soal good will,” ujarnya.
Narasumber lain, Cory Novrica Sinaga mengatakan, jika media massa atau wartawan kesulitan dalam mendapatkan sumber valid untuk berita, diperlukan improvisasi maupun angle lain sehingga tetap mampu menghadirkan informasi menarik bagi masyarakat. “Dengan demikian, melalui pemberitaan yang kawan-kawan itu dapat berefek besar untuk membantu kesulitan yang dialami masyarakat kita saat ini. Saya setuju bahwa harus ada keterbukaan dari sumber berita terkait data-data publik, yang memang diperlukan oleh media,” ujar akademisi yang berlatarbelakang seorang wartawan radio tersebut.
Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sumut, Mutia Atiqah, juga sependapat soal keterbukaan informasi publik ini, terlebih dalam penanganan pandemi Covid-19. “Saya pikir berita-berita tentang covid ini perlu diangkat dari sisi lain. Sebab masyarakat sudah jenuh dengan angka-angka lonjakan kasus, soal kematian setiap hari. Tapi dengan adanya angle lain yang diberitakan, itu akan menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat,” ujarnya. (ris/prn)
UJIAN: Para guru honorer mengikuti ujian seleksi PPPK Guru di SMK Negeri 10 Medan, beberapa hari lalu.dewi s lubis/sumut pos.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Tes seleksi guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) secara nasional sudah dihelat sejak Senin (13/9), hingga Kamis (16/9). Hasilnya, hanya segelintir guru honorer di Kota Medan yang berhasil mencapainya nilai passing grade (ambang batas) yang ditetapkan pemerintah.
UJIAN: Para guru honorer mengikuti ujian seleksi PPPK Guru di SMK Negeri 10 Medan, beberapa hari lalu.dewi s lubis/sumut pos.
Ketua Forum Honorer Indonesia (FHI) Kota Medan Fahrul Lubis mengatakan, dirinya banyak mendapat pengaduan dari guru honorer yang mengikuti seleksi PPPK di Kota Medan, kalau passing grade yang ditetapkan terlalu tinggi. “Ini terbukti, setelah 4 hari ujian bahkan sampai sore ini (kemarin), guru-guru honorer banyak mengadu perihal soal ujian yang sangat susah dan passing grade yang terlalu tinggi,” kata Fahrul Lubis kepada Sumut Pos, Kamis (16/9).
Untuk itu, lanjut Fahrul, para guru honorer di Kota Medan meminta agar pemerintah menurunkan passing grade yang mereka nilai sangat memberatkan para guru honorer. “Nilai passing grade PPPK melebihi ujian CPNS. Mereka baru bisa lulus dengan nilai minimal 500. Sementara beberapa hari ini saya mendapat laporan, yang mengikuti ujian kebanyakan mendapat nilai di bawah 400, bahkan paling tinggi 420. FHI Kota Medan berharap, pemerintah segera merubah aturan passing drade yang terlalu tinggi, kita minta agar segera diturunkan passing gradenya,” pinta Fahrul.
Menurutnya, para guru honorer telah berjuang demi sebuah nasib yang lebih baik, yakni menuju sebuah kesempatan menjadi seorang guru dengan status bernama PPPK. Namun sejak hari pertama hingga hari keempat, banyak guru honorer yang mengaku sangat kecewa karena nilai yang mereka peroleh tak mencapai passing grade meskipun telah mendapatkan afirmasi dari pemerintah.
Atas dasar itu, FHI Kota Medan menilai, jika pemerintah tidak segera menurunkan passing grade, maka pihaknya tidak yakin target pemerintah merekrut 1 juta guru PPPK di Indonesia dan 1.200 guru PPPK di Kota Medan tahun ini tidak akan tercapai. “Ada dua kali kesempatan lagi, tahap 2 dan tahap 3 untuk mengikuti tes bagi yang belum lulus passing grade pada tahap 1. Saya pesimis target 1 juta guru di Indonesia dan 1.200 guru di Medan bisa terpenuhi tahun ini. Karena hasil tes kompetensi teknis jauh di bawah rata-rata. Semoga saja, kegalauan saya ini salah,” ujarnya.
Dikatakan Fahrul, pengabdian para guru honorer tidak dihargai sebagai salah satu afirmasi oleh pemerintah. Padahal selama ini, di saat pemerintah kekurangan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, guru honorerlah yang menjadi garda terdepan untuk mengisi kelas ‘kosong’ dan ikut serta dalam mencerdaskan anak bangsa. “Habis manis sepah dibuang, begitulah kira-kira pepatah yang tepat menggambarkan nasib mereka para guru honorer. Artinya, setelah mencapai sebuah tujuan, pemerintah melupakan orang atau siapa saja yang telah membantu untuk mencapai tujuan tersebut,” katanya.
Sebenarnya, terang Fahrul, para guru berharap menjadi PNS, tetapi tujuan mereka terberangus oleh aturan yang menyatakan usia pelamar PNS dibatasi maksimal 35 tahun. Mereka hanya diberikan kesempatan untuk menjadi PPPK, namun dinilai memiliki berbagai syarat yang cukup merumitkan bahkan tidak berkeadilan. “Tahun ini merupakan puncak harapan mereka, karena usia telah mendekati masa pensiun. Harapan merubah status dan merubah kesejahteraan sirna ketika melihat nilai yang diperoleh jauh dari passing grade yang ditentukan. Hari ini mereka tetap mengajar di kelas ‘kosong’ itu. Bekerja seperti biasa dengan niat yang tulus untuk mencerdaskan anak bangsa. Sepatunya tetap di semir menandakan mereka selalu optimis meskipun keadaan dan aturan tidak berpihak kepadanya. Tetap ikhlas mengajar, meskipun gajinya sangat kecil,” terangnya.
Kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Makarim, FHI Kota Medan berharap agar pemerintah kembali memperhitungkan jumlah kebutuhan guru di Indonesia, terkhusus di Kota Medan. “Mas Menteri, pemerintah membutuhkan 1 juta guru, tapi baru 60 persen yang masuk formasi. Seandainya lulus semua pun, maka pemerintah masih kekurangan 40 persen, data tersebut belum ditambah yang memasuki masa pensiun di Tahun 2021. Seandainya banyak yang tidak lulus, siapakah yang akan mengisi kelas ‘kosong’ itu. Pasti tetap honorer itu kan, yang tidak dihargai masa pengabdiannya. Yang menua dimakan pengabdian sembari berharap ada keajaiban,” tuturnya.
FHI Kota Medan kembali bermohon, agar pemerintah segera menurunkan Passing Grade (Nilai Ambang Batas) pada seleksi PPPK Guru di tahun ini. “Jangan tabu dengan Penurunan Passing Grade, karena Pemerintah pernah mengeluarkan Permenpan RB Nomor 61 Tahun 2018 Tentang Optimalisasi Pemenuhan Kebutuhan/Formasi Pegawai Negeri Sipil Dalam Seleksi CPNS Tahun 2018. Besar harapan kami para honorer, adanya Kebijakan dari Pemerintah untuk mengeluarkan aturan Penurunan Passing Grade Demi Rasa Keadilan,” pungkasnya. (map)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Riachad Sihombing dan Chandra Priono Naibaho menghadirkan Mimiyanti sebagai saksi dalam perkara dugaan penggelapan harta warisan orangtua miliaran rupiah dengan terdakwa David Putranegoro alias Lim Kwek Liong di Ruang Cakra 6 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Kamis (16/9).
Saksi Mimiyanti memberikan kesaksian, dalam kasus dugaan penggelapan harta warisan, Kamis (16/9).
Dalam keterangannya, Mimiyanti sebagai salah satu ahli waris mengaku tidak setuju mengenai adanya Akta Perjanjian Kesepakatan Nomor : 8 tanggal 21 Juli 2008, yang menurutnya menjadi akar permasalahan dalam perkara ini.
Kata dia, saat Akta Perjanjian Kesepakatan itu dibuat, dia tidak mengetahuinya secara persis. Yang dia tahu tandatangan di akta itu untuk pembagian uang dan deviden (pembagian laba perusahaan). Namun belakangan dia tahu malah di salahgunakan oleh terdakwa hingga akhirnya dilaporkan ke polisi.
“Kami tidak terima karena dibuat untuk 30 tahun,” ucapnya, di hadapan Hakim Ketua, Dominggus Silaban.
Sementara itu mengenai kunci brankas, Mimiyanti mengungkapkan awalnya dia memegang kunci brankas yang menyimpan 21 sertifikat. Namun, saat dirinya hendak ke Jakarta, kunci brankas diminta oleh terdakwa David.
“Aku dipercayai ayah megang kunci brankas. Waktu ke Jakarta, kunci diminta David (terdakwa). Terus enggak dikasihnya lagi saat aku kembali ke Medan,” jelasnya.
Sampai saat ini, saksi tidak mengetahui di mana letak sertifikat tersebut berada. “Gak tau semua (sertifikat) karena bukan saya yang pegang,” ucapnya.
Terpisah, Longser Sihombing selaku kuasa hukum Jong Nam Liong (korban) mengatakan, pernyataan saksi Mimiyanti sangat jelas bahwasannya akta nomor 08 itu palsu dan sewaktu tandatangan juga diberikan satu lembar. “Hal itu sesuai dengan laporan dari korban/pelapor,” ujarnya.
Dia berharap, agar majelis hakim dan JPU dapat fokus pada materi dakwaan serta tidak berkembang yang tidak sesuai dengan dakwaan. “Kami berharap majelis hakim dapat berlaku adil,” harap Longser.
Dalam dakwaan JPU Chandra Priono Naibaho, pengusaha minuman Vigour tersebut adalah anak dari mendiang Jong Tjin Boen. Jong Tjin Boen memiliki dua orang istri. Istri pertama adalah mendiang Lim Lian Kau dan istri kedua adalah mendiang Choe Jie Jeng.
Dari Lim Lian Kau, Jong Tjin Boen punya sembilan anak dan Lim Kwek Liong adalah anak ketujuh. Sementara dari Choe Jie Jeng, Jong Tjin Boen punya tiga anak. Pada tanggal 30 Juni 2008 sampai 5 September 2008, Jong Tjing Boen berada di Singapura dalam rangka pengobatan. Pada 5 September 2008, Jong Tjin Boen meninggal dunia di Rumah Sakit Mount Elisabeth Singapura.
Saat Jong Tjin Boen sedang menjalani pengobatan, terdakwa Lim Kwek Liong mendatangi Kantor Notaris Fujiyanto Ngariawan (berkas terpisah) untuk membuat Akta Perjanjian Kesepakatan. Tujuannya, agar terdakwa dan Lim Soen Liong alias Edy (berkas terpisah) dapat menguasai seluruh harta Jong Tjin Bun.
Harta yang dimaksud yakni Sertifikat Hak Milik (SHM) dan Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB), baik harta bergerak maupun tidak bergerak milik Jong Tjin Boen yang disimpan di dalam brankas rumah Jalan Juanda III Nomor 30-C Medan tanpa sepengetahuan dari saksi korban dan ahli waris.
Selanjutnya, terdakwa menyuruh Fujiyanto membuat isi yang tercantum dari Akta Perjanjian Kesepakatan Nomor: 8 tanggal 21 Juli 2008, sesuai dengan apa yang dikonsep dan sekaligus menyerahkan fotocopy kartu identitas masing-masing pihak yang tercantum. Lalu, terdakwa dan Lim Soen Liong serta Fujiyanto sepakat menyatakan bahwa Akta Perjanjian Kesepakatan tersebut telah dibuat pada Juni 2008 di rumah Jong Tjin Boen.
Pada waktu itu, Jong Tjin Boen masih hidup dan berada di Medan agar seolah-olah akta tersebut benar dibuatnya. Padahal di waktu tersebut, Jong Tjin Boen sudah berada di Singapura untuk menjalani pengobatan. Isi dari Akta Perjanjian Kesepakatan adalah tidak benar adanya karena bukan dibuat oleh yang bersangkutan (Jong Tjin Boen).
Pada September 2008 setelah Jong Tjin Boen meninggal, terdakwa dan Lim Soen Liong secara bergantian pernah meminta saksi korban serta ahli waris untuk membubuhkan tandatangan dan sidik ibu jari pada surat yang telah dipersiapkan.
Sebahagian isinya diketahui oleh saksi korban adalah menyangkut pembagian deviden perusahaan, harta kepemilikan tanah, harta bergerak dan harta tidak bergerak yang mana SHM atau HGB disimpan dalam brankas milik Jong Tjin Boen. Pada Desember 2010, terdakwa meminta kunci brankas milik Jong Tjin Boen kepada Mimiyanti.
Setelah itu, terdakwa dan Lim Soen Liong menguasai harta serta mengambil alih kekuasan untuk membagi deviden usaha Vigour kepada seluruh ahli waris dan menjual harta peninggalan Jong Tjing Boen secara sepihak tanpa adanya persetujuan atau izin dari saksi korban maupun ahli waris.
Isi dari Akta Perjanjian tersebut menjadikan terdakwa sebagai pengendali atau yang dipercayakan untuk menyimpan maupun untuk melakukan jual beli dari bagian harta peninggalan milik Jong Tjin Boen.
Saat Akta Perjanjian tersebut dibuat, saksi korban dan Jong Tjin Boen serta ahli waris tidak pernah menerima salinan sehingga tidak pernah mengetahui isinya. Akibat perbuatan terdakwa bersama Lim Soen Liong dan Fujiyanto, membuat saksi korban dan ahli waris Jong Tjin Boen mengalami kerugian. Karena saksi korban dan ahli waris tidak dapat menerima hak-hak yang seharusnya diterima.
Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 266 ayat (1) jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana. (man)
Merespon Bahaya Cyberbullying, Kemenkominfo dan GNLD Siberkreasi Libatkan Figur Publik dalam Kampanye Cerdas Bermedia Sosial
JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia melalui Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi meluncurkan rangkaian acara untuk mempromosikan penggunaan positif media sosial. Acara-acara ini melibatkan deretan pakar dan selebriti, seperti Marshanda, Nicholas Saputra, Cinta Laura, Ashilla Sikado, dan Benyamin Adhisurya.
Merespon Bahaya Cyberbullying, Kemenkominfo dan GNLD Siberkreasi Libatkan Figur Publik dalam Kampanye Cerdas Bermedia Sosial
Merespon Bahaya Cyberbullying, Kemenkominfo dan GNLD Siberkreasi Libatkan Figur Publik dalam Kampanye Cerdas Bermedia Sosial Sebagai bagian dari kampanye #MakinCakapDigital, program ini dirancang untuk mempromosikan nilai positif media sosial, sekaligus menginspirasi kebaikan lewat media sosial. Rangkaian acara tersebut berlangsung pada 10 September 2021.
Setengah dari penduduk Indonesia dilaporkan mengalami intimidasi dan pelecehan secara online
Menurut Digital Civility Index, di tahun 2020, Indonesia menempati urutan terakhir di antara negara-negara lain di Asia Tenggara dalam tata karma berkomunikasi online. Survei tersebut mengidentifikasi tiga risiko terbesar yang dihadapi Indonesia di ranah digital: hoax, ujaran kebencian, dan diskriminasi. Lebih dari 47% warga Indonesia yang disurvei mengaku pernah terlibat dalam kekerasan online, dan 19% di antaranya mengaku menjadi sasaran kekerasan. Seberapa berbahayakah cyberbullying? Efek dari pelecehan online pada individu mungkin tidak terlihat di awal, tetapi dampaknya dapat dirasakan dalam waktu yang cukup lama. Hal ini berpengaruh pada peningkatan tingkat depresi, penurunan tingkat pendidikan, peningkatan ketergantungan alkohol dan narkoba, hingga potensi bunuh diri.
“Media sosial sering dikaitkan dengan berbagai hal negatif, mulai dari masalah kesehatan mental hingga penipuan. Oleh karena itu, kami mengadakan rangkaian webinar dan program pendidikan yang mencakup tiga hal penting: kesehatan mental, literasi digital di kalangan siswa, dan bagaimana media sosial telah menghasilkan gerakan positif,” ujar Anita Wahid, Wakil Ketua Umum Siberkreasi.
Tiga pilar program literasi media sosial Siberkreasi
Pilar pertama mengangkat isu kesehatan mental melalui sesi webinar, “Sehat di Media Digital.” Selebriti Indonesia, Marshanda – yang menjadi sasaran cyberbullying saat remaja – dan Dr. Sandersan Onie, peneliti Kesehatan mental dalam pencegahan bunuh diri, diundang untuk berbicara di webinar tersebut. Dengan berbagi pengalaman masing-masing, mereka menunjukkan bagaimana cara bertanggung jawab dalam menyaring dan menyerap informasi yang didapat dari media sosial untuk menjaga kesehatan mental. Di hari yang sama, dua selebriti lainnya Nicholas Saputra dan Cinta Laura, juga berbicara dalam sesi webinar “Mahasiswa Makin Cakap Digital” dengan mengangkat pilar kedua: literasi digital di kalangan pelajar. Mereka berbagi beberapa tips dan praktik terbaik literasi digital untuk menjadi agen perubahan yang efektif di Indonesia. Webinar tersebut dihadiri oleh lebih dari 2000 siswa pada tanggal 10 September 2021.
Rangkaian acara ini juga bermitra dengan platform media sosial populer TikTok untuk menyelenggarakan webinar “Bincang Literasi Digital: Ciptakan Kebaikan di Platform Digital” dengan pembicara utama seperti psikolog Saskhya Aulia Prima, selebriti Dennis Adhiswara, bersama dengan Content Creator TikTok terkenal Ashilla Sikado dan Benyamin Adisurya. Untuk memulai perubahan yang positif di kalangan pengguna media sosial di Indonesia, webinar ini menjelaskan bagaimana cara berbuat kebaikan di platform digital melalui komentar positif yang menginspirasi gerakan positif. Akses webinar Siberkreasi lainnya melalui http://info.literasidigital.id dan follow @siberkreasi di media sosial untuk event-event selanjutnya. (rel/sih)
SAPA
Presiden Joko Widodo menyapa warga yang mengikuti vaksinasi massal door to door di Desa Emplasmen Kualanamu, Kecamatan Beringin, Deliserdang. Kamis (16/9).
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kesenjangan capaian vaksinasi Covid-19 antara satu daerah dengan daerah lain di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) cukup mencolok. Karenanya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Edy Rahmayadi bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sumut, terus mendorong percepatan vaksinasi. Jokowi meminta, stok vaksin harus segera dihabiskan agar tidak berlama-lama di gudang penyimpanan.
SAPA: Presiden Joko Widodo menyapa warga yang mengikuti vaksinasi massal door to door di Desa Emplasmen Kualanamu, Kecamatan Beringin, Deliserdang. Kamis (16/9).
“Kita berpacu dengan waktu. Jangan sampai ada stok di daerah. Vaksin datang, suntikan ke masyarakat. Habis, minta ke gubernur. Sekarang stok vaksin kita ada, walau di awal kita sempat kesulitan mendapat vaksin karena negara yang membuat mengutamakan masyarakatnya lebih dulu,” kata Jokowi saat memberikan pengarahan kepada Forkopimda se-Sumut di Aula Tengku Rizal Nurdin, Rumah Dinas Gubernur, Jalan Jenderal Sudirman Medan, Kamis (16/9).
Jokowi mengungkapkan, jarak capaian vaksinasi antar kabupaten/kota di Sumut masih terlihat sangat jauh. Berdasarkan data yang ia terima, ada kabupaten di Sumut yang capaian vaksinasinya sudah 82 persen, namun dan ada juga kabupaten yang capaiannya masih 7 persen. Atas dasar itu, ia meminta Gubsu Edy Rahmayadi, Pangdam I/BB Mayjen TNI T Hasanuddin, dan Kapolda Sumut Irjen Pol RZ Panca Putra Simanjuntak untuk mengejar target vaksinasi dari daerah yang capaiannya masih kecil tersebut.
“Hati-hati ya. Gap (jarak) vaksinasi di Sumut masih tinggi. Pangdam dan Kapolda harus kejar capaian ini. Walaupun tak sama dengan yang tinggi tadi. Paling tidak hampir sama persentasenya. Tak ada gunanya vaksinasi daerah kita tinggi, tapi daerah sebelah kanan dan kiri kita masih rendah,” ujar Jokowi.
Berdasarkan data, terungkap capaian vaksinasi dosis satu untuk umum masih 26 persen. Sementara untuk lansia 24,5 persen. Di kabupaten/kota, Pakpak Bharat merupakan daerah pencapaian vaksinasi tertinggi dengan persentase 82 persen, disusul Samosir 77 persen dan Humbahas 74 persen. Kota Medan berada diperingkat keenam dengan capaian 45 persen.
Untuk kabupaten/kota di Sumut, capaian vaksinasi terendah adalah Nias Selatan dengan persentase 7,7 persen. Kemudian di atasnya Nias Utara 8,3 persen dan Langkat 11,2 persen. “Jadi katakanlah Siantar ada di 14 persen vaksinasinya. Tapi daerah di kanan dan kirinya masih rendah, maka tak ada gunanya. Tak perlu rebutan vaksin. Karena di sini yang dibutuhkan gotong-royong dalam mengendalikan Covid-19 ini,” kata Jokowi.
Bukan cuma itu, saat melakukan kunjungan ke setiap daerah, Jokowi mengakui yang selalu dikeluhkan adalah vaksinasi. Ia mengatakan, dalam waktu tujuh bulan ini yakni periode Januari sampai Juli, Indonesia sudah dapat 68 juta stok vaksin. “Artinya vaksinnya ada, saya minta agar setiap daerah segera menghabiskan stok vaksin. Jangan ada bupati/wali kota yang menyetok banyak. Habiskan vaksin itu,” pintanya.
Di Sumut sendiri, kabupaten/kota yang masih banyak stok vaksinnya yakni Serdang Bedagai, Deliserdang, Nias dan Medan. “Angka kematian Sumut juga 2,6 persen. Di bawah nasional memang. Tapi jangan senang dulu. Karena masih ada kabupaten/kota yang tinggi,” sebutnya.
Intinya, kata Jokowi, dalam mengendalikan pandemi ini adalah dibutuhkan manajemen lapangan yang baik. “Semua harus bisa membaca lapangan dengan baik untuk mengendalikan ini,” katanya.
Pada sisi ekonomi, Sumut juga harus hati-hati. Jangan sampai angka Covid-19 naik lagi lalu berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Atas dasar itu Jokowi kembali mengingatkan agar serapan APBD setiap daerah dipercepat. Saat ini serapan APBD Sumut juga sudah mencapai 55 persen. Sementara masih ada juga serapan APBD kabupaten/kota di Sumut yang masih kecil.
Presiden juga mengingatkan kembali agar pemimpin-pemimpin yang ada di Sumut perlu meningkatkan manajemen lapangan. Jokowi ingin pemimpin daerah aktif melihat langsung kondisi kondisi di lapangan seperti ketersediaan oksigen, obat-obatan, kasus per hari, BOR dan lainnya terkait penanganan Covid-19. “Kita tidak bisa bekerja normal, dua tahun terakhir ini bukan kondisi yang biasa. Manajemen lapangan itu kunci pengendalian penyebaran covid-19. Hati-hati, jangan lengah, kalau lengah kasus kita bisa kembali melonjak,” kata Jokowi
Sebelumnya, Gubsu Edy Rahmayadi melaporkan tren penurunan kasus Covid-19 di Sumut kepada Presiden Jokowi. Penurunan kasus ini dibarengi peningkatan kesembuhan dan tracing. Kasus positif aktif Sumut berkurang signifikan dalam satu bulan terakhir, setelah sempat menyentuh angka 28.392 di tanggal 15 Agustus 2021. Per tanggal 16 September 2021 kasus aktif di Sumut berada di angka 4.139. Begitu juga dengan tingkat kesembuhan yang mencapai 93,3 persen dari sebelumnya 62,8 persen.
Bila dibandingkan dengan awal Agustus tepatnya 6 Agustus, kasus harian di Sumut turun secara signifikan. Pada 6 Agustus, kasus harian Covid-19 di Sumut menyentuh angka 2.045 kasus dan hingga 16 September turun menjadi 252 kasus. “Satu bulan terakhir menunjukkan perkembangan yang semakin baik walaupun masih membutuhkan upaya bersama agar segera terkendali,” kata Edy.
Selain itu, kondisi Bed Occupancy Rate (BOR) di Sumut juga membaik, turun dari 67 persen menjadi 17 persen dalam satu bulan terakhir. Yang lebih membanggakan tracing di Sumut mencapai 1 banding 14,9, tertinggi di Indonesia berdasarkan asessmen Kemenkes tanggal 9 September 2021.
Walau begitu, Edy berharap membaiknya kondisi Sumut tidak membuat masyarakat lengah dalam menjalankan prokes dan terus memperkuat test, tracing treatment. Dengan cara tersebut menurutnya kasus Covid-19 di Sumut bisa terus terkendali. “Kita tentu tidak boleh lengah seperti yang dikatakan Pak Presiden, butuh konsistensi dan kedisiplinan di sini agar kita bisa mengendalikan Covid-19,” sebut Edy.
Vaksinasi Door to Door
Sebelumnya, Presiden Jokowi meninjau pelaksanaan vaksinasi massal door-to-door (dari pintu ke pintu) di Dusun Amal Bhakti, Desa Emplasmen Kualanamu, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deliserdang. “Hari ini kita lakukan vaksinasi dari pintu ke pintu untuk masyarakat, untuk memastikan distribusi dan percepatan vaksin berjalan di seluruh provinsi, kabupaten/kota, di Tanah Air kita,” kata Jokowi.
Pelaksanaan vaksinasi door to door tersebut, merupakan bentuk pelayanan kepada masyarakat untuk mengajak warga ikut vaksinasi, dengan harapan langkah ini akan mempercepat vaksinasi. “Kita ingin menyisir agar seluruh masyarakat mendapatkan vaksin dan kita segera bisa terhindar dari penyebaran Covid-19,” sebut Jokowi.
Vaksinasi dari rumah ke rumah ini juga, akan sangat memudahkan masyarakat untuk mengakses vaksin. Karena tingginya antusiasme warga untuk mendapatkan vaksin, sehingga pemerintah turun ke dusun-dusun. “Ini juga akan memberikan perlindungan kepada masyarakat, sehingga nantinya masyarakat segera bisa beraktivitas, secara normal,” tambahnya.
Faktor kunci, lanjut Presiden, adalah protokol kesehatan (Prokes) serta vaksinasi. Karena itu, dirinya mengajak masyarakat untuk terus taat, serta bisa segera menerima vaksin. “Saya sangat menghargai antusias masyarakat di Deliserdang ini yang ikut vaksinasi door to door. Kita harapkan akan mempercepat dan memperbanyak persentase vaksinasi yang ada di provinsi Sumatera Utara,” pungkasnya.
Sementara, Gubsu Edy Rahmayadi menyampaikan, kunjungan Presiden ke Deliserdang bentuk dukungan penuh Pemerintah Pusat kepada daerah dalam mempercepat upaya vaksinasi kepada masyarakat. Selama ini, secara bertahap Pemprov Sumut bersama unsur Forkopimda terus menggelar vaksinasi massal. “Dengan perhatian ini, kita harapkan vaksinasi Covid-19 yang sudah berjalan, bisa semakin banyak jumlahnya, sesuai target setidaknya 70 persen dari jumlah penduduk,” ujar Edy.
Menurutnya, peninjauan tersebut juga bisa menjadi motivasi bagi seluruh masyarakat agar mendukung penuh program vaksinasi Covid-19 oleh pemerintah dalam menangani pandemi. Dengan begitu, angka penularan dapat terus ditekan serta melahirkan kekebalan kelompok atau herd immunity. “Mari sama-sama kita doakan Sumatera Utara, Indonesia keluar dari kondisi pandemi Covid-19,” pungkas Edy.
Ketua Komisi A DPRD Sumut, Hendro Susanto mengapresiasi kunjungan kerja Presiden Joko Widodo ke Sumut. Selain penanganan Covid-19, diharapkan pemulihan ekonomi Sumut ikut membaik dengan kehadiran presiden. “Seharusnya kunjungan presiden ke Sumut minimal tiga hari, sehingga Pak Jokowi bisa melihat kondisi masyarakat dan beberapa daerah di Sumut yang perlu perhatian serius dalam pembangunan,” kata Hendro kepada wartawan, Kamis (16/9).
Apalagi para pelaku UMKM yang terkena dampak atas kebijakan PPKM sejak Juli kemarin, kata dia, sangat mendambakan perhatian presiden. Pihaknya berharap agenda RI 1 yakni terkait vaksin, hendaknya disertai perhatian serius pada ketersediaan dosis vaksin di Sumut.
Soalnya, pada Mei lalu Gubsu meminta 2 juta dosis vaksin, belum signifikan sesuai kiriman dari Kemenkes. “Artinya, masyarakat masih mengantre jika ada lembaga atau institusi yang mengadakan vaksin. Seperti beberapa bulan lalu yang berakibat memunculkan kerumunan massa,” ungkapnya.
Karenanya Hendro mengatakan, presiden harus bisa memenuhi permintaan vaksin untuk masyarakat Sumut yang berjumlah sekitar 14,8 juta jiwa.(prn)
BERBINCANG: Wali Kota Medan Bobby Nasution berbincang dengan seorang pelajar di SMP Negeri 23 Medan yang akan divaksin, Kamis (16/9).
MEDAN, SUMUTPOS.CO – REALISASI vaksinasi Covid-19 untuk pelajar di Kota Medan masih sangat rendah. Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan Kota Medan, dari 105 ribu pelajar berusia 12 hingga 17 tahun, masih 4 ribu pelajar atau 3,8 persen yang sudah divaksin.
BERBINCANG: Wali Kota Medan Bobby Nasution berbincang dengan seorang pelajar di SMP Negeri 23 Medan yang akan divaksin, Kamis (16/9).
Karenanya, Wali Kota Medan Muhammad Bobby Afif Nasution menginstruksikan agar vaksinasi pelajar ini digenjot agar pembelajaran tatap muka (PTM) dapat dilaksanakan ketika PPKM di Kota Medan sudah turun level.
“Ada sebanyak 105 ribu pelajar yang harus divaksin, tapi baru 4 ribu yang sudah divaksin. Vaksinasi untuk anak-anak kita ini harus dimasifkan, karena mudah-mudahan kita berdoa, kita upayakan Medan bisa turun level. Supaya, kalau turun level bisa sekolah tatap muka,” kata Bobby saat meninjau vaksinasi pelajar di SMP Negeri 23 Jalan Swadaya, Medan Denai, Kamis (16/9).
Dikatakan Bobby, untuk melaksanakan PTM di Kota Medan, capaian vaksinasi menjadi salah satu poin penting dalam rangka melindungi kesehatan pelajar di Kota Medan. “Sebelum ini juga sudah kita lakukan persiapan tatap muka. Kita lihat fasilitasnya sudah memadai. Hanya saja tidak cukup dari fasilitas, namun keterlindungan diri anak-anak kita juga harus kita pastikan melalui kegiatan vaksinasi,” ujarnya.
Menurut Bobby, saat ini ancaman yang dihadapi para pelajar dalam mengikuti pembelajaran tatap muka, tidak hanya ada di dalam lingkungan sekolah, tapi juga ketika mereka berada di luar sekolah. “Karena Covid-19 bukan hanya kita takutkan di sekolahnya, tetapi saat keluar gerbang sekolah yang lebih berbahaya, karena sudah lepas tanggungjawab dari gurunya. Misalnya di angkot, nongkrong-nongkrong di luar sekolah. Nah, ini harus bisa kita pastikan melalui vaksinasi yang bisa menjaga diri mereka dari Covid-19,” katanya.
Saat ini, terang Bobby, stok vaksin di Kota Medan tinggal 80.000 dari 103 ribu dosis yang ada. Sebab dalam dua hari terakhir, sebanyak 20.000 dosis sudah terpakai, baik untuk vaksinasi pelajar, maupun yang tersebar di Puskesmas dan juga rumah tahanan (Rutan). Sedangkan kemarin, ada 3.000 vaksin yang disuntikkan untuk pelajar di tiga titik sekolah, yakni SMP Negeri 23, SMP Negeri 1, dan SMP Negeri 38 Medan.
“Ini terus kita suntikkan lagi, hari ini saja anak-anak kita yang kita suntikkan ada 3.000 orang di tiga sekolah. Ini terus kita masifkan di beberapa titik selain di sekolah, di rutan juga ada kita salurkan, di rutan itu ada 1000an yang kita suntikkan,” pungkasnya.
Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Medan Afif Abdillah, mengaku mendorong proses vaksinasi Covid-19 di Kota Medan. Pasalnya, vaksinasi Covid-19 kepada pelajar merupakan salah satu cara yang paling efektif dalam menekan angka penyebaran Covid-19 saat PTM diberlakukan.
Namun begitu, Afif mengaku sangat menyayangkan sikap Disdik Kota Medan yang tidak mempersiapkan formulasi dan teknis untuk digelarnya PTM di Kota Medan seperti halnya yang pernah disampaikan Wakil Wali Kota Medan, Aulia Rachman. Afif mengaku, pihaknya di Komisi II sudah berulang kali mengingatkan Dinas Pendidikan Kota Medan agar menyiapkan formulasi tepat dalam menghadapi PTM yang tinggal menunggu waktu. Namun permintaan tersebut sampai dengan hari ini belum juga dituangkan Dinas Pendidikan ke dalam sebuah rumusan yang dapat menjadi acuan sekolah-sekolah dalam melaksanakan PTM.
“Sebelum PPKM diberlakukan, kita sudah mendorong Dinas Pendidikan mempersiapkan formulasinya, baik berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan maupun mempersiapkan sarana dan prasarananya. Jangan sampai PTM sudah diperbolehkan, malah Dinas Pendidikan yang belum siap,” kata Afif.
Ketua Fraksi Partai Nasdem DPRD Kota Medan ini menyebutkan, Kota Medan sudah layak turun status dari level 4 ke 3 jika diukur dari jumlah masyarakat yang terkonfirmasi positif, kesembuhan, dan meninggal akibat Covid. Pun begitu, Afif mengingatkan Dinas Pendidikan Kota Medan agar tidak terlena dengan perkembangan penyebaran Virus Corona yang mulai melambat dan segera mempersiapkan segala sesuatunya sampai dengan benar-benar ada lampu ijo untuk pelaksanaan PTM. “Harusnya kita sudah buat persiapan sebelum dibuka (PTM), sehingga ketika benar-benar sudah boleh dibuka, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya kita minta untuk dilaksanakan PTM,” katanya.
Disebutkan Afif, Dinas Pendidikan Medan jangan hanya menunggu regulasi dari Kementerian Pendidikan menyangkut PTM, harus dilihat dulu persiapan sarana dan prasarananya di sekolah-sekolah. Katanya, contoh pelaksanaan PTM tidak cukup di satu sekolah saja yang menjadi barometernya. Akan tetapi, harus ada di setiap kecamatan dan jika berhasil harus langsung diterapkan untuk semua kecamatan.
“Ini harus cepat dilaksanakan. Kalaupun Kota Medan sudah turun di Level 3, masyarakat sudah banyak yang mengeluhkan kondisi belajar secara online dan efek domino lainnnya yang ditimbulkan,” sebutnya.
Tidak hanya mendorong Disdik Medan membuat formulasi tentang bagaimana pelaksanaan PTM, Komisi II DPRD Medan pun sudah menyarankan dinas terkait agar mempersiapkan langkah antisipatif jika terjadi hal terburuk menimpa siswa di sekolah. Ia pun mencontohkan, setiap sekolah harus menyediakan tabung oksigen di Unit Kesehatan Sekolah (UKS), petugas hingga rumah sakit rujukan yang terdekat dengan sekolah itu sendiri.
Di satu sisi, lanjut Afif, Pemko Medan harus melindungi siswa. Di sisi lain, masyarakat sudah tidak sabar dengan sistem belajar daring. Untuk itu, Pemko Medan diminta untuk melihat dari dua sisi.
“Kalau memang masyarakat ingin melaksakan PTM seperti yang dilakukan beberapa sekolah tanpa izin Disdik Medan pada saat ini, itu sebenarnya tanda masyarakat ingin PTM itu dibuka. Jadi yang kita lakukan adalah, bagaimana agar PTM dijalankan secepat-cepatnya dan petunjuk pelaksanaan ataupun sarana dan prasarananya itu siap. Tidak bisa ditunda lagi masalah ini,” pungkasnya. (map)
DIRELOKASI: Suasana di Merdeka Walk beberapa waktu lalu. Mulai tahun depan, Merdeka Walk bakal direlokasi.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Komunikasi dan koordinasi antara Pemko dan DPRD Medan ternyata tak lancar. Buktinya, DPRD Medan tak tahu-menahu soal rencana Pemko Medan akan mengosongkan lahan Lapangan Merdeka yang akan dikembalikan ke fungsi awal, yakni sebagai cagar budaya dan ruang terbuka hijau.
DIRELOKASI: Suasana di Merdeka Walk beberapa waktu lalu. Mulai tahun depan, Merdeka Walk bakal direlokasi.
Ketua Panitia Khusus (Pansus) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DPRD Kota Medan, Dedy Aksyari Nasution ST mengaku belum mendengar informasi terkait rencana tersebut, terutama soal rencana waktu pengosongannya. “Kalau rencana mau dikosongkan, itu kita pernah dengar, tapi kapan dikosongkan dan sudah bagaimana rencana perkembangannya, itu kita di DPRD Medan belum ada dapat informasinya lagi. Baru inilah saya tahu, setelah baca koran Sumut Pos tadi pagi,” kata Dedy, Kamis (16/9).
Menurut Dedy, rencana pemindahan Merdeka Walk ke Gedung Warenhuis memang menjadi salah satu alternatif relokasi yang sangat masuk akal, namun Dedy mengaku belum mengetahui bahwa akan ada rencana pembangunan ruang bawah tanah atau basement di Lapangan Merdeka. “Baru ini saya tahu kalau mau dibuat basement di Lapangan Merdeka. Ya bagus juga kalau memang ditata dan bisa dimaksimalkan pemanfaatannya, baik untuk parkir, relokasi pedagang buku, bahkan sampai ke Merdeka Walk, walaupun Warenhuis masih lebih masuk akal kalau untuk Merdeka Walk,” ujarnya.
Namun begitu, kata Dedy, Pemko Medan memang harus memastikan terlebih dahulu, kemana Merdeka Walk dan bangunan lainnya yang ada di Lapangan Merdeka direlokasi, apabila lapangan bersejarah di Kota Medan tersebut harus di kosongkan.
“Khususnya Merdeka Walk, pastikan dulu mereka setuju untuk direlokasi. Gak bisa asal kita kosongkan begitu saja, karena masih ada ikatan kontrak antara Pemko Medan dengan Merdeka Walk sampai 2025. Artinya, 4 tahun lagi. Kita mau, iklim investasi di Kota Medan tetap sehat,” katanya.
Dedy mengakui, pihaknya di Pansus RTRW Kota Medan memang telah memasukkan Lapangan Merdeka Kota Medan ke dalam kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Tak cuma itu, Anggota Komisi IV DPRD Medan ini juga mendukung penetapan Lapangan Merdeka sebagai kawasan cagar budaya di Kota Medan. “Sejarah Lapangan Merdeka itu sangat panjang, bahkan tidak terpisahkan dari Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Kita mendukung Lapangan Merdeka sebagai cagar budaya dan dipadu dengan fungsinya sebagai kawasan RTH. Ya kita tunggu jugalah OPD terkait untuk menjelaskan perihal pengosongan Lapangan Merdeka sebagai bagian dari penataan kawasan Kesawan,” pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, keberadaan Merdeka Walk yang telah ada di Lapangan Merdeka Kota Medan sejak 14 April 2005 tidak akan terlihat lagi di tahun 2022. Pasalnya, Pemko Medan telah bertekad untuk mengembalikan fungsi Lapangan Merdeka Kota Medan kepada fungsi awalnya sebagai lapangan murni.
Hal ini ditegaskan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Medan, Benny Iskandar ST MT kepada Sumut Pos, Rabu (15/9) lalu. Benny menuturkan, pengembalian fungsi Lapangan Merdeka Kota Medan kepada fungsi awalnya sebagai lapangan murni di tahun 2022 mendatang adalah salah satu bentuk keseriusan Pemko Medan untuk menata kawasan Kota Lama Kesawan. Sebab nantinya, kawasan Kesawan, Lapangan Merdeka, dan Stasiun Besar Kereta Api Kota Medan akan dibuat terhubung satu sama lain atau terintegrasi. (map)
istimewa/sumutpos
UMKM: Pemilik Ikan Asin Medan, Tanoto Frans adalah UMKM reseller yang memberdayakan puluhan nelayan Medan. Kini, lebih dari 85% penjualan usahanya berasal dari Tokopedia.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Menurut sebuah riset terbaru, Tokopedia menjadi e-commerce paling populer di kalangan UMKM. Hal ini, dikarenakan Tokopedia dinilai memberikan frekuensi transaksi tersering, memiliki kualitas fitur terbaik yang mudah dioperasikan oleh penjual hingga memberikan omzet penjualan terbesar bagi para UMKM.
istimewa/sumutpos
UMKM: Pemilik Ikan Asin Medan, Tanoto Frans adalah UMKM reseller yang memberdayakan puluhan nelayan Medan. Kini, lebih dari 85% penjualan usahanya berasal dari Tokopedia.
Hal tersebut, di oleh AVP of Product Tokopedia, Puput Hidayat dalam keterangan tertulis, Kamis (16/9). Selain itu, para UMKM menilai Tokopedia unggul dalam memberikan manfaat, antara lain membuka akses terhadap pasar nasional, memberi dukungan terhadap produk atau UMKM lokal dan memberikan pendampingan serta edukasi kepada penjual.
Di sisi lain, data internal Tokopedia mencatat kini ada lebih dari 11 juta penjual di platform-nya dan hampir 100% UMKM. “UMKM lokal di Tokopedia terdiri dari maker (produsen) maupun reseller. Mereka sama-sama berkontribusi pada perekonomian digital,” jelas Puput.
Ia menambahkan bahwa UMKM yang punya kanal digital dinilai lebih tangguh menghadapi pandemi. Mereka berhasil mempertahankan bisnis sekaligus menjaga ketersediaan lapangan pekerjaan lewat pemanfaatan platform teknologi. Songket PaSH dan Ikan Asin Medan adalah contohnya.
Produsen Songket PaSH, Kiagus Adit dari Palembang, menyatakan, “Meski penjualan sempat menurun hingga 60% di awal pandemi, pemanfaatan platform Tokopedia membuat penjualan kami kembali stabil. Omzet kami kini bisa mencapai puluhan juta rupiah setiap bulan.”
Adit pun memberikan tips untuk UMKM khususnya maker dalam berjualan, “Pertama, cari tahu produk yang paling laku, lalu lakukan analisis kompetitor untuk menentukan harga jual. Setelah itu ciptakan brand awareness, salah satunya dengan beriklan lewat fitur yang tersedia, misal TopAds, atau pasang harga lebih murah. Kecepatan dalam merespon chat pelanggan juga menjadi kunci.”
Pemilik Ikan Asin Medan, Tanoto Frans, UMKM reseller yang memberdayakan puluhan nelayan Medan, mengungkapkan, “Lebih dari 85% penjualan kami berasal dari Tokopedia. Omzet bulanan kami kini mencapai ratusan juta rupiah,” ungkap Frans.
Frans juga membagikan tips jualan sebagai UMKM reseller, “Harus teliti memilih supplier yang tepat agar kualitas produk selalu terjamin karena supplier tersebut akan menjadi mitra jangka panjang penjual. Kita juga harus memahami kebutuhan masyarakat dan tidak berhenti berinovasi.” Tokopedia di sisi lain aktif memberikan pendampingan serta materi edukasi bagi UMKM lokal. Contohnya lewat Pusat Edukasi Seller, Sekolah Kilat Seller hingga media sosial. Juga lewat berbagai panggung yang membantu UMKM menjangkau lebih banyak masyarakat, seperti Bangga Buatan Indonesia, TokoMart, Kumpulan Toko Pilihan (KTP) dan masih banyak lagi.
Berbagai inisiatif tersebut turut mendongkrak kategori Kesehatan dan Perawatan Diri, Fesyen, Kecantikan, Ibu dan Anak serta Fesyen Anak dan Otomotif menjadi beberapa kategori dengan peningkatan transaksi paling pesat di Tokopedia selama kuartal II/2021.(gus/ram)