30 C
Medan
Monday, April 13, 2026
Home Blog Page 3865

Asahan, Nias, dan Nias Barat Masuk Zona Kuning,Gunung Sitoli Masih Zona Merah

dr Aris Yudhariansyah
dr Aris Yudhariansyah.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Risiko penyebaran Covid-19 di Provinsi Sumatera Utara mulai menurun. Dari 33 kabupaten dan kota, hanya Kota Gunung Sitoli yang masih berada di zona merah. Sedangkan 29 kabupaten/kota berada di zona oranye, dan 3 kabupaten bahkan sudah masuk ke zona kuning.

dr Aris Yudhariansyah
dr Aris Yudhariansyah.

Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Provinsi Sumut dr Aris Yudhariansyah menjelaskan, saat ini risiko penyebaran Covid-19 di wilayah Kabupaten Nias dan Nias Barat menurun. Karenanya, kedua daerah di Kepulauan Nias ini telah menyusul Kabupaten Asahan masuk ke dalam zona kuning (risiko rendah) pada zonasi pemetaan risiko Covid-19 Sumut.

“Untuk Kota Gunung Sitoli, saat ini statusnya masih tetap berada di zona merah (risiko tinggi). Sementara untuk 29 kabupaten/kota termasuk Medan, masih berada dalam zona orange,” ungkap dr Aris Yudhariansyah kepada wartawan, Selasa (24/11).

Lebih lanjut Aris memaparkan, untuk Kabupaten Nias, penambahan kasus konfirmasi tidak ditemukan, sehingga akumulasinya tetap tujuh orang. Dari jumlah ini, lima diantaranya sudah dinyatakan sembuh.

Begitu juga di Kabupaten Nias Barat, penambahan kasus konfirmasi juga tidak didapatkan, sehingga akumulasinya tetap 16 orang. Dari jumlah tersebut, 15 diantaranya sudah dinyatakan sembuh. “Dari dua daerah ini, belum ada diperoleh penderita Covid-19 yang sampai meninggal dunia,” jelasnya.

Sementara di Kabupaten Asahan, Aris mengakui, masih didapatkan ada penambahan kasus baru sebanyak dua orang, sehingga akumulasinya menjadi 236 orang. Dari jumlah itu, 189 diantaranya sudah sembuh, dan 13 lainnya meninggal dunia. “Oleh karena itu, untuk saat ini kasus Covid-19 di Asahan tercatat sebanyak 34 orang,” bebernya.

Selanjutnya, sebagai wilayah dengan zona merah, Aris menyebutkan, akumulasi kasus Covid-19 di Gunung Sitoli sudah ada sebanyak 293 orang. Dari jumlah ini, 234 diantaranya sembuh dan 11 lainnya meninggal dunia. “Penambahan kasus baru pada hari ini tidak ada ditemukan. Untuk kasus aktifnya ada 48 orang,” terangnya.

Terhadap wilayah Sumut secara menyeluruh, Aris menyampaikan, terdapat penambahan kasus baru Covid-19 sebanyak 81 orang, sehingga akumulasi kasusnya kini sudah menembus 15.069 orang. Penambahan terbanyak didapatkan dari Kota Medan, 55 orang. Kemudian, Deliserdang 9 orang, Karo 5 orang, Simalungun, Asahan dan Toba masing-masing 2 orang. Sedangkan, sisanya Tanjungbalai, Binjai, Tebingtinggi, Langkat, Sergai, dan Labura juga masing-masing 1 orang.

Diungkapkannya, untuk pasien Corona yang sembuh bertambah 77 orang. Penyumbang terbanyak berasal dari Kota Medan sebanyak 65 orang. Disusul Deliserdang 5 orang, Binjai, Sibolga, Langkat, Toba, Pakpak Bharat, Sergai dan Labusel masing-masing 1 orang. “Akumulasi angka kesembuhan saat ini mencapai 12.446 orang dari hari sebelumnya 12.369 orang,” kata Aris.

Dia melanjutkan, terkait angka meninggal dunia, bertambah 2 orang yang berasal dari Medan dan Deli Serdang. Kini, jumlah sementara 597 orang. “Hanya angka suspek yang menurun sebanyak 5 orang, dan akumulasinya menjadi 573 orang. Sedangkan jumlah spesimen yang dilakukan uji swab totalnya 181.030 sampel,” sambung Aris.

Lebih lanjut ia menyampaikan, diingatkan kembali kepada masyarakat Sumut untuk tetap mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Hal ini tak lain untuk memutus rantai penularan virus corona karena pandemi di Sumut belum berakhir. “Perilaku 3M, memakai masker, mencuci tangan pakai sabun atau hand sanitizer, serta menjaga jarak dan hindari kerumunan, selalu diterapkan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Selain itu, juga olahraga secara teratur, istirahat yang cukup, makan makanan bergizi dan konsumsi vitamin,” tukasnya.

Distribusi Vaksin Tertunda

Rencana distribusi vaksin Covid-19 ke Sumatera Utara pada bulan ini, tertunda. Pasalnya, hingga kini belum ada konfirmasi soal kepastian vaksin akan didistribusikan dalam waktu dekat oleh Kementerian Kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Sumut, Alwi Mujahit Hasibuan mengakui sampai saat ini belum adanya konfirmasi pengiriman dari pemerintah pusat tentang vaksin tersebut, membuat pihaknya hanya akan menunggu jadwal pasti. “Delay. Molor dari pusat. Kita ikut saja,” katanya menjawab wartawan, Selasa (24/11).

Ia mengungkapkan, hal ini akhirnya berdampak pada penyaluran vaksin kepada pemerintah di kabupaten/kota se Sumut turut tertunda. “Pendataan daerah penerima juga belum,” ucapnya.

Dinkes Sumut sebelumnya menyatakan, sebanyak 8,2 juta warga Sumut bakal disuntikkan vaksin virus Covid-19. Kata Alwi, para petugas medis yang akan menyuntikkan vaksin, sampai kini masih dalam tahap pelatihan. Hal itu dilakukan, agar petugas tidak salah dalam menyuntikan dan mengetahui reaksi dari vaksin ketika disuntikan kepada warga.

“Saat ini masih pelatihan petugas-petugas yang akan bertugas,” ujarnya beberapa waktu lalu seraya menyebut bahwa orang yang akan disuntik vaksin tersebut berkisar pada usia 15-59 tahun.

Ketua Satgas Pemulihan Ekonomi Nasional yang juga Menteri BUMN, Erick Thohir mengungkapkan, pemerintah sangat menjaga kerahasiaan data masyarakat yang akan divaksin Covid-19. Baik itu melalui vaksinasi program pemerintah ataupun dilakukan secara mandiri. “Pemerintah sangat mempersiapkan vaksinasi ini sebaik-baiknya. Pemerintah juga pada saat ini sesuai dengan keppres di mana Kemenkes sebagai instansi utamanya untuk melakukan penetapan vaksin tersebut,” ujarnya dalam Webinar bertajuk Kesiapan Infrastruktur Data Vaksinasi Covid-19 yang diikuti Sumut Pos, kemarin.

Sekadar menginformasikan, kata Erick, memang untuk target awal vaksinasi ini bagi usia 18-59 tahun. Begitupun menurutnya, ini baru target awal bukan berarti vaksinasi covid tidak diberikan kepada seluruh rakyat Indonesia. “Ditarget awal ini yaitu 67 persen akan coba menjadi target utamanya di mana pemerintah mengeluarkan dua tipe vaksinasi. Satu vaksinasi memang bantuan pemerintah di mana salah satunya untuk tenaga kesehatan dan semua masyarakat yang memang sangat membutuhkan apalagi sesuai dengan data-data BPJS Kesehatan (PBI), yang sudah dilakukan selama ini. Kemudian untuk yang mandiri, masyarakat yang memang mampu sehingga memang bisa berbayar sendiri dan ini merupakan kontribusi yang tidak kalah pentingnya karena memang jumlah penduduk Indonesia sangat besar tentu kelompok masyarakat yang mempunyai kemampuan lebih, ya sudah seyogyanya bisa membantu pemerintah juga dengan membayar vaksinasi sendiri,” paparnya.

Begitupun, imbuh Erick, faktor yang terpenting dalam penanganan konflik atau bencana nonalam ini yaitu penyelamatan daripada manusia. Terlebih mengingat akibat pandemi Covid-19, tingkat kematian di Indonesia masih tergolong tinggi dibanding negara lain.

“Pemerintah tentu berusaha untuk menekan keras laju pandemi ini, salah satu caranya dengan disiplin protokol Covid-19. Lalu standarisasi daripada penyembuhan itu terus dilakukan menjadi salah satu yang kita harapkan, disamping adanya nanti vaksinasi untuk Covid-19,” ujarnya.

Meskipun Ada Vaksin, 3M Tetap Wajib

Sementara, Vaksinolog Dirga Sakti Rambe menyampaikan, Indonesia telah memiliki infrastruktur yang memadai untuk proses distribusi vaksin hingga ke pelosok. “Perlu diketahui vaksin itu adalah produk biologis yang perlu disimpan dengan cara khusus, karena sensitif terhadap suhu,” ucapnya.

Dirga menilai Indonesia memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam memproduksi, mendistribusi, hingga mengimplementasikan vaksin. Sistem rantai dingin yang menjadi salah satu unsur penentu kualitas vaksin juga sudah terbangun dengan baik. “97 persen sistem rantai dingin ini berjalan dengan baik jadi tidak perlu khawatir. Mulai dari pabrik sampai yang menerima di puskesmas, misalnya di Aceh atau Papua itu semua sudah siap,” ungkapnya.

Dirga mengatakan, saat ini di Indonesia ada sekitar 440 ribu dokter umum, dokter spesialis, perawat, dan bidan. Mereka semua diyakini bisa diajak kerjasama untuk melakukan program vaksinasi.

Namun, masyarakat harus tetap bersabar mengingat saat ini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) masih menjalankan uji klinis tahap III. “Kalau vaksin sudah mendapat izin edar dari BPOM itu sudah dipastikan keamanan dan efektivitasnya,” imbuhnya.

Di sisi lain, Dirga meminta masyarakat tetap menjalankan protokol kesehatan meskipun nantinya vaksin sudah beredar luas. Sebab, langkah itu menjadi pencegah tertular Covid-19. “Upaya 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak) itu harus terus kita lakukan. Vaksin itu untuk melengkapi pertahanan tubuh kita karena perlindungannya spesifik. Semua ini kita upayakan agar pandemi ini bisa kita kendalikan,” tegas Dirga. (ris/prn/jpc)

Medan Siap Buka Sekolah Januari, Masih Tunggu Juknis Dari Kemendikbud

CUCI TANGAN: Siswa SD mencuci tangan dengan sabun di sekolahnya. Mulai Januari 2021, pemerintah mengizinkan belajar tatap muka di sekolah dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.
CUCI TANGAN: Siswa SD mencuci tangan dengan sabun di sekolahnya. Mulai Januari 2021, pemerintah mengizinkan belajar tatap muka di sekolah dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pemerintah Kota (Pemko) Medan pada prinsipnya siap melaksanakan pembelajaran tatap muka pada Januari 2021. Hanya saja, sejauh ini Pemko Medan masih menunggu petunjuk teknis lanjutan dari Kemendikbud atas kegiatan dimaksud, terutama surat keputusan bersama (SKB) 4 menteri.

CUCI TANGAN:  Siswa SD mencuci tangan dengan sabun di sekolahnya. Mulai Januari 2021, pemerintah mengizinkan belajar tatap muka di sekolah dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.
CUCI TANGAN: Siswa SD mencuci tangan dengan sabun di sekolahnya. Mulai Januari 2021, pemerintah mengizinkan belajar tatap muka di sekolah dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

MENURUT Kepala Dinas Pendidikan Medan, Adlan, beradasarkan arahan dari Mendikbud Nadiem Makarim, pembelajaran tatap muka diserahkan kepada masing-masing daerah. “Namun kita masih nunggu SKB-nya, kalau sudah ada tentu akan dibahas antara kepala daerah, kepala sekolah, dan orangtua siswa,” kata Adlan menjawab wartawan, Selasa (24/11).

Dia mengungkapkan, secara fisik, sekolah di Kota Medan sudah siap untuk melaksanakan pembelajaran secara tatap muka di sekolah. Di mana, saat ini sekolah sudah menyiapkan segala sesuatu untuk penerapan protokol kesehatan seperti menyediakan tempat cuci tangan, face shield, masker dan sebagainya. “Jadi sudah siap, tinggal nanti dibahas lagi teknis dan mental anak-anak seperti apa. Tapi, menunggu SKB 4 menterinya tiba,” pungkasnya.

Ketua Komisi II DPRD Medan Surianto, mengingatkan pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan serta aturan-aturan guna penegakan protokol kesehatan (prokes) secara ketat terkait rencana dibukanya kembali sekolah pada awal Januari 2021. Ketua Fraksi Gerindra DPRD Medan menambahkan, pemberlakuan belajar secara tatap muka tersebut juga harus melihat bagaimana kondisi dan perkembangan pandemi Covid 19 di Kota Medan. “Kalau masih zona merah, sebaiknya daringlah. Tapi kalau sudah kuning dan hijau boleh diberlakukan, tapi harus mengikuti protokol kesehatan yang ketat,” tuturnya.

Dia juga mengingatkan agar pembukaan sekolah itu harus memandang segala aspek terutama prioritas tingkatan sekolah yang dimulai dari menengah atas. “Kalau masih Taman Kanak-kanak, SD dan SMP janganlah, itukan belum bisa diatur. Tapi kalau sekolah menengah atas bisalah,” katanya.

Sementara Pjs Wali Kota Medan Arief Sudarto Trinugroho saat dimintai pendapatnya ihwal ini mengakui, Pemko Medan masih menunggu bagaimana aturan yang akan diberlakukan untuk pembukaan sekolah pada awal 2021. “Kita masih menunggu, untuk Sumut ditentukan pak gubernur, sekarang sedang dikaji. Dan nanti akan kita jabarkan lagi. Secara berjenjang, dari pemerintah pusat, provinsi dan kita jabarkan lagi di Medan, nanti kita tinjau situasinya karena berbeda antara satu daerah dengan lainnya,” katanya.

Sebelumnya, Gubsu Edy Rahmayadi mengaku baru akan membahas kegiatan belajar mengajar tatap muka pada awal Januari 2021. Edy mengaku, bakal mengumpulkan dan mendengar masukan dari berbagai pihak terkait sekolah bisa dibuka atau tidak. “Ini nanti akan kita kumpulkan. Janji saya kan di awal Januari. Kita akan ketemu tokoh-tokoh masyarakat, tokoh agama, pengajar, dokter anak kita kumpulkan. Sudah pantaskah kita sekolah tatap muka,” tandasnya.

Pusat Diminta Tetap Awasi Langsung

Kewenangan pembukaan sekolah memang diberikan sepenuhnya kepada pemerintah daerah. Namun, Koordinator Nasional Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G), Satriwan Salim meminta agar pengawasan oleh pemerintah pusat juga tetap dilakukan.

Dia mengatakan, perlu intervensi dari Kemendikbud serta Kementerian Agama (Kemenag) terkait pengawasan ini. Sebab, dikhawatirkan para kepala daerah akan memaksa membuka sekolah tanpa pertimbangan yang matang. ’’Kemendikbud dan Kemenag harus turun tangan langsung mengecek kesiapan sekolah tadi, kesiapan infrastuktur sekolah atas protokol kesehatan, kesiapan dan izin orang tua,’’ terang dia kepada JawaPos.com, Selasa (24/11).

Pihaknya juga meragukan kesiapan sekolah dalam memenuhi syarat-syarat daftar periksa protokol kesehatan yang cukup detil. Untuk menghindari abainya pihak terkait soal protokol kesehatan, maka perlu pengawasan dari pemerintah pusat. ’’Kesiapan infrastuktur dan budaya disiplin masih belum maksimal dilaksanakan. Saran-prasarana yang menunjang protokol kesehatan bersifat mutlak, tapi banyak sekolah belum menyiapkan dengan sempurna,’’ terang dia.

Walaupun pemda diberikan kewenangan untuk menentukan sekolah di wilayahnya boleh buka atau tidak, Kemendikbud, Kemenag, dan juga Kemendagri jangan lepas tangan. Kementerian tersebut masih punya tanggung jawab besar untuk mengawasi langsung secara ketat ke lapangan.

’’Harus turun langsung mengecek kesiapan sekolah dibuka kembali. Kemendikbud harus betul-betul memastikan sekolah sudah siap memenuhi sarana-prasarana penunjang protokol kesehatan, tanpa kecuali,’’ urainya. 

Gunakan Kurikulum Darurat

Menyikapi Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 menteri yang mengizinkan pembelajaran tatap muka pada Januari 2021, Manajer Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) Medan-Deliserdang, Anwar Situmorang meminta pemda memperbaiki penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sebelum membuka sekolah. Menurut dia, salah satu poin penting yang harus dievaluasi adalah penggunaan kurikulum.

Sejumlah keluhan dari orangtua dan murid menunjukkan, materi PJJ masih sering memberatkan siswa. GNI menemukan materi dan metode belajar yang membosankan serta minimnya interaksi dengan guru, menjadi alasan utama siswa tidak selalu mengikuti PJJ. Biar pun siswa memiliki handphone android dan kuota internet yang cukup, namun mereka tidak selalu tertarik ikut belajar.

“Dari 125 siswa yang memiliki HP android, hanya 29,60 persen yang setiap hari mengikuti pembelajaran. Sedangkan 70,40 persen pernah absen beberapa kali. Survey ini melibatkan 227 respoden yang berada di Kota Medan dan Kabupaten Deliserdang,” ujarnya.

Lebih lanjut Anwar mengatakan, kurikulum darurat didesain untuk mengurangi beban mengajar guru dan beban belajar siswa. Penyederhanaan kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran, memberikan guru kesempatan lebih besar kepada guru untuk fokus mengajarkan kompetensi prasyarat dan esensial. Kompetensi pra-syarat dan esensial, adalah kompetensi yang dibutuhkan agar siswa mampu belajar pada level pendidikan selanjutnya. Di tingkat sekolah dasar (SD), kompetensi ini merujuk kepada literasi, numerasi, dan karakter.

Sekalipun kurikulum darurat efektif mengurangi beban mengajar, sambung dia, namun masih banyak guru belum menggunakan kurikulum darurat. Survey Balitbang Kemdikbud yang diumumkan baru-baru ini, menunjukkan hanya 52% guru yang menerapkan kurikulum darurat. “Kurangnya sosialisasi dan tidak ada kebijakan pemda untuk mengarahkan guru, merupakan dua faktor utama yang menghambat penggunaan kurikulum darurat,” ungkapnya.

GNI sebagai organisasi yang berfokus pada pemenuhan hak anak dan pemberdayaan masyarakat, mendorong pemda untuk menggunakan kurikulum darurat. Terlebih dalam menyambut SKB 4 menteri, penggunaan kurikulum darurat akan membantu pemda menyelenggarakan pembelajaran tatap muka yang lebih efektif. “Kami berkomitmen membantu pemda di wilayah dimana kami bekerja untuk menerapkan kurikulum darurat,” tambah Anwar.

Sebagai Langkah awal mendukung pemda menerapkan kurikulum darurat, GNI akan menyelenggarakan webinar nasional bertajuk Strategi Implementasi Kurikulum Darurat di Daerah. Webinar ini menghadirkan pembicara kunci dari Pusat Assessmen dan Pembelajaran (Pusmejar) Kemendikbud, Disdikbud Kabupaten Tana Tidung (KTT), dan jurnalis media nasional.

Pusmenjar akan menjelaskan esensi kurikulum darurat. Melalui penjelasan ini pemda dan guru bisa lebih paham dalam menggunakan kurikulum darurat. Sedangkan Kabupaten Tana Tidung (KTT) dari Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), akan berbagi praktik baik penggunaan kurikulum darurat baik dari segi kebijakan dan implementasi di tingkat sekolah. KTT merupakan daerah pertama di Kaltara yang secara tegas menggunakan kurikulum darurat. Terobosan yang dilakukan KTT, membuat daerah ini dikenal inovatif dalam merespon pembelajaran di era pandemi Covid-19. Sedangkan jurnalis dari media nasional, akan mendorong peran media massa untuk mensosialisasikan penggunaan kurikulum darurat. (prn/jpc)

Terkait Video P0rno Mirip Gisel: Polisi Bakal Panggil Gisel Lagi

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Polda Metro Jaya bakal memanggil Gisel lagi terkait video porno mirip sang artis. Tak cuma itu, polisi juga siap memanggil cowok yang diduga ada di video itu.

Pemeriksaan itu merupakan pengembangan pemeriksaan kepolisian dari hasil laboratorium forensik. Meski mereka mengaku kesulitan mengidentifikasi sosok di balik video 19 detik tersebut, karena merupakan hasil rekaman ulang menggunakan telepon genggam.

“Makanya kita kalau sudah tahu forensik siapa yang ada di dalam di situ kita akan panggil juga laki-lakinya,” tutur Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus.

Namun sampai sejauh ini, polisi belum menyebut siapa sebenarnya cowok yang mirip dengan pemeran dalam video itu. Netizen langsung melakukan cocoklogi sesaat setelah video itu viral, hingga muncul beberapa nama yang terseret.

Sang manajer, yang diketahui bernama Andi Tanggawana, ramai disebut-sebut netizen. Di utas Gisel yang trending di Twitter beberapa waktu yang lalu, sosok Andi disinggung bersamaan dengan analisis tentang pria yang tak asing muncul di media sosial Gisel.

“Tapi lengan cowoknya kalau di ig tato y banyak ngabb, ini engga kan?” timpal netter lain berakun Saada.”Ini cocok banget btw ini manajernya bukan sih. Mirip manajernya jg tp kok ga ad tatto,” cetus salah satu netter di Twitter berakun Dzydeee.

Sosok lain adalah Adhietya Mukti menjawab dengan tegas tuduhan terkait video porno mirip Gisel. Ia membuat video berdurasi 7 menit, mengungkap beberapa poin terkait dirinya yang ikut terseret dalam kasus video tersebut.

“Saya di sini Adhietya Mukti, ingin mengklarifikasi video yang beredar di masyarakat, video syur artis terduga GS bersama lawan mainnya yang terduga saya sendiri,” katanya di awal video tersebut.

“Buktinya itu katanya ada tahi lalat di sebelah kanan. Nih, kalau dilihat, tahi lalat saya di sebelah kiri. Dan di sebelah kanan nggak ada tahi lalat. Nah, ini nggak di-flip. Saya punya buku bahasa Inggris anak saya. Kalau misalkan di-flip, tulisannya bakal kebalik,” ungkap Adhietya.

Sebelumnya, Gisel sudah mendatangi Polda Metro Jaya pada 17 November 2020. Saat itu, Gisel tak memberikan banyak komentar. (dtc/ram)

Google Sebut Ekonomi Internet Indonesia Tetap Tangguh

Diperkirakan Capai $44 M pada 2020

JAKARTA, SUMUTPOS.CO — Laporan e-Conomy SEA yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company mengungkap ketangguhan ekonomi digital Indonesia. Dalam laporan tahunan kelimanya, berjudul “At full velocity: Resilient and Racing Ahead”, ekonomi internet tanah air secara keseluruhan diperkirakan bernilai 44 miliar USD (GMV) pada 2020 dan diperkirakan mencapai 124 miliar USD pada 2025.

Memadukan analisis Google Trends, Temasek, dan Bain & Company serta sumber dari industri dan wawancara dengan pakar, laporan ini memerinci sektor mana saja yang menunjukkan performa terbaik dan yang paling terdampak pandemi.

E-commerce naik 54% menjadi 32 miliar USD pada 2020, dari 21 miliar USD pada 2019. Pertumbuhan momentum e-commerce di Indonesia juga tercermin dari peningkatan 5x lipat jumlah supplier lokal yang mencoba berjualan online karena pandemi.

“Laporan tahun ini menunjukkan ekonomi digital Indonesia terus bertumbuh dua digit, dipimpin oleh e-commerce dan media online,” jelas Managing Director Google Indonesia, Randy Jusuf. “Dengan adanya pandemi, sektor tertentu seperti perjalanan dan transportasi memang terhambat tetapi, seperti yang ditunjukkan laporan ini, hingga 2025 keduanya diperkirakan akan bangkit dalam jangka pendek hingga menengah.”

Pertumbuhan ekonomi internet yang mantap seperti ini juga terjadi di Asia Tenggara. Laporan menemukan bahwa ekonomi digital kawasan ini bertumbuh kian cepat akibat pandemi, mencapai 100 miliar USD pada 2020 dan akan melampaui 300 miliar USD pada 2025.

Pertumbuhan Pesat Konsumen Digital

Pada 2020, lebih dari sepertiga konsumen layanan digital di Asia Tenggara mulai menggunakan layanan online baru karena COVID-19. Di Indonesia pun, 37% konsumen digital menggunakan layanan baru karena wabah. Lebih dari setengah konsumen digital baru di tanah air (56%) berasal dari daerah non-metro dan 93% dari mereka berkata akan terus menggunakan setidaknya satu layanan digital setelah pandemi berakhir.

Di samping itu, waktu online rata-rata per hari selama pandemi untuk tujuan pribadi tercatat meningkat, dari 3,6 jam sebelum pandemi menjadi 4,7 jam selama PSBB dan kemudian 4,3 jam setelah PSBB.

Perkiraan per sektor

Laporan regional 2020 ini mencakup lima sektor: e-commerce, media online, transportasi online, perjalanan, dan layanan keuangan digital, serta menyentuh dua sektor baru: teknologi pendidikan dan kesehatan (EdTech dan HealthTech). Dalam lima tahun ke depan, laporan memperkirakan adanya pertumbuhan 21% untuk sektor e-commerce Indonesia serta 28% untuk transportasi online dan pengantaran makanan.

Media online juga menunjukkan pertumbuhan positif sejauh ini pada 2020, dengan nilai 4,4 miliar USD atau naik 24% dari 3,5 miliar USD pada 2019. Sektor ini diperkirakan akan terus bertumbuh sebesar 18% menjadi 10 miliar USD pada 2025.

Sektor perjalanan online turun 68% menjadi 3 miliar USD pada 2020, dari 10 miliar USD pada 2019, walau diperkirakan akan bertumbuh dengan CAGR 36% dan mencapai 15 miliar USD pada 2025. Pengantaran makanan dan transportasi juga turun 18% menjadi 5 miliar USD, dari 6 miliar dolar pada 2019.

“COVID-19 telah mengubah cara hidup banyak orang di Asia Tenggara, dan perkembangan sektor layanan keuangan digital, HealthTech, dan EdTech diperlukan untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di tengah masyarakat,” ujar Alessandro Cannarsi, Partner and Leader dari Southeast Asia Private Equity Practice di Bain & Company. “Indonesia tetaplah pasar ekonomi internet terbesar di Asia Tenggara dan menjadi medan persaingan utama bagi platform-platform teknologi. Oleh sebab itu, mereka sangat siap untuk menjadi pendorong utama inovasi digital di kawasan ini. Meski masih terlalu dini untuk memastikan hasilnya, kami memperkirakan pertumbuhan dan percepatan akan terus berlanjut di sektor ini dalam beberapa tahun ke depan.”

Pendanaan pun tetap solid di Indonesia, dengan dibukukannya 202 kesepakatan investasi senilai 2,8 miliar USD selama paruh pertama 2020, dibandingkan total 3,2 miliar USD dari 355 kesepakatan investasi sepanjang tahun 2019.

“Kami masih melihat potensi yang besar dari ekonomi internet Indonesia, dengan pertumbuhan yang didorong oleh besarnya jumlah pengguna internet yang sangat aktif dan bahkan semakin aktif menggunakan internet karena pandemi. Selain itu, banyaknya pengguna baru teknologi berbasis internet serta e-commerce memunculkan prospek untuk usaha-usaha baru di Indonesia, sekaligus mendorong pertumbuhan untuk usaha yang sudah ada,” imbuh Rohit Sipahimalani, Chief Investment Strategist, Temasek.

“Kami juga terus melihat adanya peluang-peluang investasi pada ekonomi internet Asia Tenggara, yang sejalan dengan tren struktural kami untuk mendorong kemajuan sosial dengan memanfaatkan teknologi. Bersama dengan swasta, pemerintah, dan masyarakat, kami berkomitmen untuk turut membangun ekonomi yang lebih berkelanjutan di Asia Tenggara.” (rel)

Sidang Kepemilikan Sabu-sabu, Oknum Polrestabes Medan Dituntut 7 Tahun Penjara

SIDANG: Andi Arvino (VC) oknum polisi terdakwa kasus sabu, menjalani sidang tuntutan, Selasa (24/11).gusman/sumut pos.
SIDANG: Andi Arvino (VC) oknum polisi terdakwa kasus sabu, menjalani sidang tuntutan, Selasa (24/11).gusman/sumut pos.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Andi Arvino (35) oknum polisi yang bertugas di Polrestabes Medan dituntut selama tujuh tahun penjara. Selain kurungan badan, terdakwa juga didenda Rp1 miliar subsider 6 bulan penjara karena dinilai terbukti memiliki sabu seberat 0,34 gram sisa konsumsi.

SIDANG: Andi Arvino (VC) oknum polisi terdakwa kasus sabu, menjalani sidang tuntutan, Selasa (24/11).gusman/sumut pos.
SIDANG: Andi Arvino (VC) oknum polisi terdakwa kasus sabu, menjalani sidang tuntutan, Selasa (24/11).gusman/sumut pos.

Dalam nota tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) M Risqi Darmawan, terdakwa dinyatakan melanggar Pasal 114 ayat 1 Undang Undang No 31 Tahun 1999 tentang Narkotika.

“Meminta kepada majelis hakim yang menyidangkan, menuntut terdakwa Andi Arvino dengan pidana selama 7 tahun denda Rp1 miliar subsider 6 bulan penjara,” tegasnya, di Ruang Cakra 6 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (24/11).

Usai membacakan tuntutan, majelis hakim yang diketuai Dominggus Silaban menunda sidang hingga pekan depan, dengan agenda pembelaan (pledoi) terdakwa.

Sementara mengutip surat dakwaan, pada 13 Februari 2020 terdakwa Andi Arvino menemui penjual sabu di Jalan Kapten Muslim Kota Medan. Setelah menerima sabu, lalu terdakwa membawanya ke Blok B RTP Polrestabes Medan untuk diberikan kepada Benget (DPO).

Lalu Benget memberikan uang sebesar Rp600 ribu sebagai upah terdakwa menjemput sabu tersebut. Setelah itu pada 14 Februari 2020 terdakwa menerima uang sebesar Rp1 juta dari saksi Wilson EM Sitorus untuk mengambil sabu di Jalan Aksara Kota Medan.

Setelah bertemu dengan penjual sabu tersebut, lalu terdakwa menerima 1 gram sabu dari penjual sabu tersebut. Selanjutnya terdakwa membawa sabu tersebut ke Blok B RTP Polrestabes Medan. Sekira pukul 21.00 Wib, terdakwa menyerahkan sabu tersebut kepada saksi Wilson, dan memberikan uang sebesar Rp500 ribu kepada terdakwa sebagai upah.

Kemudian, pada 18 Februari 2020 tiga anggota Propam Polrestabes Medan, melakukan penggeledahan dirumah terdakwa Andi Arvino. Dari penggeledahan itu, ditemukan satu buah pipet yang berisi sisa narkotika jenis sabu didalam saku sebelah kiri baju dinas PDL SUS Polri milik terdakwa.

Setelah itu saksi-saksi membawa barang bukti tersebut ke Polrestabes Medan dan setelah ditanyai terdakwa mengaku bahwa barang bukti tersebut adalah milik terdakwa. (man/azw)

Buron Kasus Korupsi, Intel Jaksa Tangkap Mantan Kepala Desa

DITANGKAP: DPO, Serpin (tengah) yang ditangkap jaksa.
DITANGKAP: DPO, Serpin (tengah) yang ditangkap jaksa.

LABUHANBATU, SUMUTPOS.CO – Tim intelijen gabungan Kejaksaan Agung, Kejaksaan Tinggi dan Kejaksaan Negeri Rantauprapat menangkap Serpin (48) pelarian daftar pencarian orang (DPO), Senin (23/11) malam. Serpin diburon dalam kasus korupsi pengelolaan Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDes) pada Desa Bulungihit, Kecamatan Marbau, Kabupaten Labuhanbatu Utara tahun anggaran 2017-2019.

DITANGKAP: DPO, Serpin (tengah) yang ditangkap jaksa.
DITANGKAP: DPO, Serpin (tengah) yang ditangkap jaksa.

Tim menangkap Sarpin (48) dari persembunyiannya di tengah perkebunan sawit di Dusun Blimbingan Desa Batang Gangsal Kabupaten Indragiri Hilir, Tembilahan, provinsi Riau yang jaraknya sekitar 5 kilometer dari jalan lintas Timur Jambi-Pekanbaru.

DPO merupakan mantan Kepala Desa Bulungihit, Kecamatan Marbau, Kabupaten Labuhanbatu Utara.

Kasi Intelijen Kejari Labuhanbatu, Syahron Hasibuan, Selasa (24/11) dalam rilis persnya mengatakan Sarpin merupakan tersangka kasus korupsi pengelolaan APBDesa pada Desa Bulungihit, Kecamatan Marbau, Kabupaten Labuhanbatu Utara tahun anggaran 2017-2019.

“DPO bersembunyi di rumah kenalannya di areal perkebunan sawit dan mengaku sudah sebulan tinggal bersama dan bekerja membantu di kebun sawit,” kata Syahron.

Lanjut Syahron, DPO mengaku melarikan diri karena menghindari panggilan sebagai tersangka Kejaksaan Negeri Labuhanbatu.

“Setelah dilakukan pengepungan tersangka langsung diamankan oleh tim dan langsung dibawa ke Pekanbaru dan rencana akan dibawa ke Kejari Labuhanbatu untuk dilakukan proses hukum lebih lanjut,” tandasnya.

Berdasarkan informasi, tersangka kabur usai ditetapkan sebagai tersangka pada Juli 2020 silam. Penetapan status Sarpin sebagai tersangka berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Kejaksaan Negeri Labuhan Batu Nomor: Print-01/L.2.18/F.2/07/2020 tanggal 14 Juli 2020. (fdh/azw)

Kerap Mangkir dalam Sidang, Hakim Minta Jaksa Cari Terdakwa Penipuan

TERDAKWA: Sulaiman Ibrahim, terdakwa kasus penipuan sewaktu masih menjalani persidangan di PN Medan, beberapa waktu lalu.gusman/sumut pos.
TERDAKWA: Sulaiman Ibrahim, terdakwa kasus penipuan sewaktu masih menjalani persidangan di PN Medan, beberapa waktu lalu.gusman/sumut pos.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Terdakwa kasus penipuan miliaran rupiah, Sulaiman Ibrahim sudah 6 minggu mangkir bersidang. Hal inipun membuat Ketua Majelis Hakim, Hendra Utama Sutardodo geram dan menegaskan pekan depan pembacaan putusan tetap dibacakan walau tanpa kehadiran terdakwa.

TERDAKWA: Sulaiman Ibrahim, terdakwa kasus penipuan sewaktu masih menjalani persidangan di PN Medan, beberapa waktu lalu.gusman/sumut pos.
TERDAKWA: Sulaiman Ibrahim, terdakwa kasus penipuan sewaktu masih menjalani persidangan di PN Medan, beberapa waktu lalu.gusman/sumut pos.

Majelis hakim juga memerintahkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Randi Tambunan untuk mencari tahu keberadaan Sulaiman. Randi mengatakan majelis hakim tampaknya sudah geram dengan ketidakhadiran Sulaiman selama 6 minggu berturut-turut menjelang pembacaan putusan.

“Iya, saya disuruh majelis hakim untuk mencari tahu keberadaan Sulaiman. Dia sakit apa dan dirawat dimana. Majelis hakim juga menyuruh saya mendatangi rumah Sulaiman untuk melihat kondisinya kalau dia memang dirawat di rumah,” kata Randi Tambunan, di PN Medan, Selasa (24/11).

Randi Tambunan menambahkan, majelis hakim juga menegaskan, apabila pekan depan Sulaiman juga tak hadir ke persidangan, maka putusan terhadap dirinya tetap dibacakan. “Hadir tak hadir Sulaiman pekan depan, putusannya tetap dibacakan bang. Gitu kata majelis hakimnya,” tutur Randi Tambunan.

Randi Tambunan menjelaskan, saat ini dirinya sedang mencari alamat rumah Sulaiman. “Karena perintah hakim, saya harus mendatangi rumah Sulaiman. Alamatnya sesuai dengan surat dakwaan itu bang,” beber Randi Tambunan.

Sebelumnya, JPU menuntut Sulaiman selama 3 tahun penjara karena dinilai terbukti melanggar Pasal 378 KUHPidana.

Untuk diketahui, sesuai jadwal, pembacaan putusan terhadap Sulaiman dibacakan majelis hakim pada hari Selasa tanggal 20 Oktober 2020. Namun dengan alasan sakit, sidang ditunda sampai 2 minggu.

Tepat pada hari Selasa tanggal 3 November 2020, sidang kembali dibuka. Lagi-lagi masih dengan alasan sakit, sidang pembacaan putusan Sulaiman kembali ditunda.

Ketua Majelis Hakim, Hendra Utama Sutardodo didampingi dua hakim anggota masing-masing Syafril Batubara dan Sri Wahyuni Batubara kembali menunda sidang hingga 2 minggu tepatnya pada hari Selasa tanggal 17 November 2020.

Namun anehnya, sidang kembali ditunda selama 2 minggu. Sulaiman kembali tidak hadir dengan alasan sakit.

Sebelumnya Syafril Batubara, salah satu hakim anggota yang juga menjabat sebagai Humas PN Medan, ketika dikonfirmasi wartawan mengatakan sidang pembacaan putusan ditunda karena Sulaiman sakit.

Ketika ditanya mengenai Standar Operasional Prosedur (SOP) apakah dibenarkan menunda sidang hingga berminggu-minggu menjelang pembacaan putusan, hakim Syafril menjawab hal itu sebenarnya tidak dibenarkan.

“Kalau SOP-nya memang sudah terlalu lama berminggu-minggu ditunda untuk putusan. Tapi kan begini, surat sakit itu ditandatangani oleh dokter yang sudah disumpah jabatan. Tetapi kalau hakim nanti merasa itu ada rekayasa tentang itulah kita bilang. Kita dapat bocoran atau apa bahwa sebenarnya dia (Sulaiman) nggak sakit atau sebenarnya nggak ada diperiksa dokter atau surat itu sebenarnya bukan dikeluarkan oleh dokter berkompeten kita akan panggil,” kata hakim Syafril.

Sementara itu, kuasa hukum saksi korban HTM Razali, Mhd Erwin SH, MHum sangat menyayangkan sikap majelis hakim yang mengadili perkara ini.

“Peradilan sehat sudah tak nampak lagi dalam perkara penipuan uang miliaran rupiah dengan terdakwa Sulaiman Ibrahim. Korban sangat kecewa dengan sikap majelis hakim. Sudah tidak benar sidang ditunda sampai 6 minggu menjelang pembacaan putusan,” tandasnya. (man/azw)

Pria Idap Gangguan Jiwa Tewas di Rumah Makan

JASAD: Rajin Ginting (50) ditemukan tewas di Rumah Makan Serit Jalan Setia Budi Ujung, Selasa (24/11).
JASAD: Rajin Ginting (50) ditemukan tewas di Rumah Makan Serit Jalan Setia Budi Ujung, Selasa (24/11).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Rajin Ginting (50), pria mengidap gangguan jiwa ditemukan tewas di depan Rumah Makan (RM) Serit Jalan Setia Budi Ujung Kelurahan Simpang Selayang Kecamatan Medan Tuntungan, Selasa (24/11), sekira pukul 12.00 WIB. Korban merupakan warga Kota Medan dan orang pertama yang menemukannya meninggal dunia, Titis (58) warga Jalan Setia Budi Ujung Gang Seroja Kelurahan Simpang Selayang Kecamatan Medan Tuntungan.

JASAD: Rajin Ginting (50) ditemukan tewas di  Rumah Makan Serit Jalan Setia Budi Ujung, Selasa (24/11).
JASAD: Rajin Ginting (50) ditemukan tewas di Rumah Makan Serit Jalan Setia Budi Ujung, Selasa (24/11).

Kapolsek Delitua AKP Zulkifli Harahap SH melalui Kanit Reskrim Iptu Martua Manik SH mengatakan, bahwa korban masih memiliki keluarganya, yakni Donal Sinulingga (40) warga Jalan Jamin Ginting Kelurahan Simpang Selayang Kecamatan Medan Tuntungan dan Serieluanta Beru Gurusinga (30) warga Jalan Setia Budi Ujung Gang Seroja Kelurahan Simpang Selayang Kecamatan Medan Tuntungan. “Kedua orang tersebut merupakan keponakan kandung dari korban,” kata Martua Manik kepada sejumlah wartawan di Medan.

Menurutnya, Unit Lantas Polsek Delitua, Bripka Rusdin Sinulingga mendapat info ada nya temuan mayat di depan RM Serit melihat korban tewas dalam kondisi telungkup. Kemudian, lanjutnya, setelah diperiksa kondisi mayat dan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.

“Menurut keterangan para saksi dan warga bahwa korban sudah lama tidur di emperan rumah warga di sekitar Simpang Selayang,” terang Martua Manik.

Dikatakannya, pihak keluarga korban bermohon agar jenazah korban tidak dilakukan otopsi karena tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.

“Setelah pihak keluarga membuat surat permohonan dan pernyataan, selanjutnya membawa jenazah korban untuk dikebumikan,” pungkasnya. (mag-1/azw)

Tanoto Foundation Target Naikkan Peringkat Pendidikan Indonesia

Berdayakan Pendidik sebagai Fasilitator

CEO Global Tanoto Foundation, Satrijo Tanudjojo, menekankan bahwa masa pandemi menjadi momentum bagi tenaga pendidik untuk mengubah paradigma dalam pembelajaran.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Peningkatan kualitas pendidikan menjadi fokus kegiatan Tanoto Foundation, organisasi filantropi yang didirikan oleh Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto. Berbagai inisiatif yang dijalankan Tanoto Foundation sejak 1981 adalah untuk menangani berbagai masalah pendidikan di Indonesia, terutama dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

“Hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 menunjukkan , skor siswa Indonesia di urutan ke-74 dari 79 negara yang disurvei dalam kemampuan matematika, sains, dan membaca. Untuk itu, Tanoto Foundation menjalankan Program PINTAR (Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran) dengan target meningkatkan peringkat global Indonesia di sektor pendidikan,” kata Belinda Tanoto, anggota Dewan Pembina Tanoto Foundation, dalam sambutannya di Tanoto Facilitator Gathering 2020 yang digelar virtual, Selasa (24/11).

Untuk mencapai target tersebut, Tanoto Foundation bermitra dengan 21 kabupaten/kota dan 10 Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) di lima provinsi, yaitu Sumatera Utara, Jambi, Riau, Jawa Tengah, dan Kalimantan Timur. Melalui program PINTAR, kemitraan ini bertujuan membangun model pembelajaran aktif dan kreatif yang sesuai dengan ekosistem pendidikan di Indonesia, sekaligus menyebarkan model tersebut ke sekolah-sekolah non-mitra.

“Untuk itu, peran fasilitator sebagai ‘penggerak’ Program PINTAR sangat penting, dan peran tersebut semakin krusial saat pendidikan mengalami tantangan dengan adanya pandemi Covid-19,” kata Belinda.

Tanoto Foundation bekerja berdasarkan tiga prinsip, yaitu fokus pada dampak, berbasis pada data, dan kemitraan. Pertama, Program PINTAR ini dirancang untuk menghasilkan dampak yang berkelanjutan bagi penerimanya. “Hingga November 2020, kami telah memberi manfaat lebih dari 17.500 guru dan dosen di 21 kabupaten atau kota di Indonesia,” lanjutnya.

Kedua, Tanoto Foundation menggunakan pendekatan berbasis data dan bukti agar Program PINTAR lebih terarah dan efektif. Misalnya, bersama Asia Philanthropy Circle dan Djarum Foundation pada tahun 2017, mereka menunjuk McKinsey & Company untuk melakukan studi tentang area-area intervensi yang paling berdampak untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

“Prinsip ketiga yaitu kemitraan karena kami menyadari, untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, kami tidak bisa bekerja sendiri. Untuk itu, kami menjalin kemitraan dengan berbagai lembaga pemerintah dan swasta, dari tingkat lokal, regional hingga internasional,” tambah Belinda Tanoto.

TFG 2020 yang digelar pada 19, 24, dan 25 November adalah penyelenggaraan yang pertama, dengan menghadirkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makariem,  Mantan CEO Jawa Pos Group Dahlan Iskan, Psikolog dan Humanitarian Alissa Wahid, Menteri Pendidikan Nasional 2009-2014 Mohammad Nuh, Ketua Dewan TIK Nasional Ilham Akbar Habibie, dan pembicara inspiratif lainnya.

Tanoto Facilitator Gathering (TFG) adalah acara tahunan untuk memberi apresiasi kepada fasilitator Program PINTAR yang terdiri dari guru, kepala sekolah, dan pengawas di daerah mitra, serta dosen di LPTK mitra Tanoto Foundation. Dalam acara tersebut, para fasilitator juga diberi pelatihan untuk mengembangkan kapasitas dalam pembelajaran, saling belajar dan membangun jejaring antar fasilitator, juga mendengarkan inspirasi dari berbagai pembicara dan pengisi acara.

TFG 2020 yang digelar pada 19, 24, dan 25 November adalah penyelenggaraan yang pertama, dengan menghadirkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makariem,  Mantan CEO Jawa Pos Group Dahlan Iskan, Psikolog dan Humanitarian Alissa Wahid, Menteri Pendidikan Nasional 2009-2014 Mohammad Nuh, Ketua Dewan TIK Nasional Ilham Akbar Habibie, dan pembicara inspiratif lainnya.

Sementara itu CEO Global Tanoto Foundation, Satrijo Tanudjojo, menekankan bahwa masa pandemi menjadi momentum bagi tenaga pendidik untuk mengubah paradigma dalam pembelajaran. Jika sebelum pandemi, guru mengajar di kelas sesuai dengan kurikulum dan murid mendengarkan dan belajar, maka dibutuhkan pendekatan berbeda agar murid bisa mengikuti pembelajaran dengan baik saat disampaikan secara daring.

“Kita kembali ke hakikat awal dari pembelajaran dengan memberikan arahan kepada murid dan murid lah yang menjadi aktor di dalam pembelajaran. Mereka akan belajar dari konten digital, dari sumber yang sudah ada Dan tugas Guru adalah untuk memandu konten apa yang perlu dipelajari tanpa membatasi wawasan yang murid bisa belajar dari konten digital itu. Dalam situasi ini, kita diajak untuk merenungi arti dan inti pendidikan, yaitu menempatkan siswa pada pusat pembelajaran. Student at the center of the learning,” kata Satrijo Tanudjojo. (rel)

Perempuan di Tengah Pandemi: Nenek Buruh Cuci & PRT Nyambi jadi Pemulung

Beragam cara perempuan-perempuan dari kelas ekonomi bawah menutupi biaya hidup sehari-hari. Ada yang menjadi pembantu rumah tangga, buruh cuci pakaian tetangga, dan sebagainya. Hantaman pandemi Covid-19 memaksa sebagian di antaranya nyambi menjadi pemulung.

Foto: Dame/Sumut Pos
BURUH CUCI: Masriani Tanjung, seorang buruh cuci, di rumah petaknya yang berukuran 3 x 3 meter, di Jalan Pasar 7 Gang Kantil 5A, Padang Bulan, Kota Medan. Nenek dua cucu ini setiap hari mencuci dan menyeterika pakaian tetangga untuk upah.

Masriani Tanjung, seorang buruh cuci, sedang sibuk menyortir pakaian kotor dari sebuah goni plastik, saat dikunjungi di rumah petaknya yang berukuran 3 x 3 meter, di Jalan Pasar 7 Gang Kantil 5A, Padang Bulan, Kota Medan, Minggu (22/11) malam lalu.

“Eh, masuklah. Ini lagi menyortir pakaian tetangga yang mau dicuci besok. Baru kami jemput tadi,” tutur nenek usia 60 tahun ini tersipu, sembari membenahi jilbabnya yang kedodoran.

Di ruangan yang terasa pengap itu, cucunya FS alias Dila, sedang tiduran di atas tilam 4 kaki bertutup sprei lusuh yang digelar di atas lantai. Anak perempuan 10 tahun itu sedang melihat-lihat hape Android–pemberian tetangga kepada abangnya, AHH alias Arif (13), murid kelas 2 SMP. Buku pelajaran terbuka di sebelahnya.

“Dila lagi belajar online,” terang Masriani yang lebih dikenal dengan sebutan Nek Arif itu, sembari menggeser-geser sejumlah barang agar ada ruang lapang.

Tak banyak tempat untuk tamu. Setelah tilam di sisi kiri kamar, kamar dipenuhi dengan sebuah meja reyot di dekat pintu, tumpukan barang-barang dan goni-goni di sisi depan dan kanan pintu. Ruang lapang tersisa sekira 1×1 meter. Di sanalah perempuan yang kerab disapa Nek Arif sedang menyortir baju kotor yang akan dicucinya demi upah.

“Di sinilah kami tidur, makan, belajar, menyetrika baju, serta menerima tamu,” ungkap nenek dua cucu itu, sembari mengembangkan senyum di wajahnya yang legam dan penuh kerut.

Saban malam, ia dan dua cucunya tidur bersempit-sempitan di ruangan itu. Cucu laki-lakinya tidur di lantai. Ia dan Dila tidur di atas tilam.

Sebenarnya ada ruangan lain di sebelah kanan kamar itu. Yakni dapur dan kamar mandi. Disebut dapur karena di sanalah ia memasak. Tetapi sebenarnya lebih cocok disebut gudang barang-barang bekas. Di sebelah ruangan berdinding seng itu, ada kamar mandi.

Di belakang ruang tidur mereka, ada ruangan seluas 1×3 meter yang mirip kamar kecil karena dikelilingi dinding tetangga. Penuh tumpukan barang juga. “Kalau cucu laki-laki saya nanti sudah lajang, ia bisa tidur di sana,” katanya dengan raut wajah yang menunjukkan ekspresi: ‘ya begitulah’.

Masriani bukan janda. Tapi juga bukan perempuan bersuami. “Saya ditinggal suami tahun 1993 lalu.  Alasan suami, mau cari anak laki-laki,” tutur ibu satu anak perempuan itu pelan. Saat ditinggal suami, putri satu-satunya masih berusia 5 tahun.

Ia mengaku tidak dicerai dan juga tidak menuntut cerai. Alasannya: “Kakek orang ini (sambil menunjuk cucunya) saat itu masih mau mengirimkan biaya untuk putrinya. Jadi buat apa cerai? Nanti malah dihentikan pula bantuannya,” katanya malu-malu.

Untuk biaya hidup, mantan guru honor tamatan PGSLTP ini menerima jasa permak pakaian. Seperti memperbaiki baju robek, memotong baju/celana, pasang kancing, bahkan menjahit jilbab sederhana. Sayang, hasilnya tidak terlalu memadai untuk menopang hidup. Paling banter dapat Rp 200 ribu -300 ribu sebulan.

Karena itu, sambil menjaga putri kecilnya, ia menerima penitipan 2-3 anak tetangga di rumah. 

Kenapa tidak mengajar lagi?

“Saat itu tak ada yang jaga anak di rumah. Lagipula waktu itu saya agak stres karena ditinggal ayah anak saya. Daripada marah-marah ke murid, lebih baik saya berhenti mengajar,” ungkapnya.

Setelah putrinya dewasa dan menikah, ia berhenti momong anak tetangga. Namun tak berapa lama, rumah tangga putrinya bermasalah. Ia bercerai dan kedua anaknya –Arif dan Dila—ditinggalkan pada Masriani. “Mau bagaimana lagi… ya sayalah yang rawat,” katanya pasrah.

Beban bertambah dengan dua cucu, sementara penghasilan ‘begitu-begitu saja’, Masriani pun putar otak. Sejak 2015 lalu, ia mulai menawarkan tenaga untuk mencuci pakaian ke beberapa tetangga. Pakaian dicuci-setrika di rumahnya. “Cuci seterika baju kotor dihargai Rp7.000 per kg. Kadang dapat 5 kg per hari. Kadang lebih, kadang kurang,” cetusnya.

Mengapa memilih jadi buruh cuci? “Jam kerjanya fleksibel. Bisa dikerjakan di rumah sembari jaga cucu,” ungkapnya seraya tersenyum manis.

Langganannya ada 3-4 keluarga. Ia menjemput sendiri baju-baju itu. Sebulan ia bisa mendapat penghasilan kurang lebih Rp 2 jutaan. Upah itu masih kotor, karena masih terpotong untuk membeli deterjen (mencuci) dan biaya listrik (menyetrika). Air diperoleh dari sumur kecil yang digali di depan kamar tidurnya.

Maret 2020, pandemi Covid-19 melanda dunia, termasuk Indonesia. Beban wanita tua ini pun makin besar. Maklum, kedua cucunya terpaksa tinggal 24 jam di rumah. Sementara dirinya tetap harus mencuci-seterika pakaian, memasak, dan pekerjaan domestik lainnya.

“Selama pandemi ini, saya mesti mendampingi cucu belajar online. Biasanya mereka ke sekolah… kini banyak di rumah. Saya jadi terhalang kerja. Hape yang bisa internet tak punya. Untung Lebaran kemarin, ada tetangga yang ngasih hape bekasnya untuk cucu saya. Itulah yang mereka pakai belajar online. Kadang saya terkantuk-kantuk mendampingi mereka belajar,” tuturnya mulai sedikit menaikkan nada suara.

Foto: Dame/Sumut Pos
MEMULUNG: Masriani Tanjung, berdiri di gang sempit di depan pintu rumah petaknya di Jalan Pasar 7 Gang Kantil 5A, Padang Bulan, Kota Medan. Barang-barang bekas yang belum disortir sebagian diletakkan di gang.

Untuk menambah penghasilan, ia memutuskan nyambi jadi pemulung.  Sambil berjalan kaki menjemput baju kotor, ia membawa goni. Di jalanan, warkop, cafe, atau kedai ia memulung barang-barang bekas yang masih dapat dijual. Besi, tembaga, botol-botol plastik, karton-karton, dan sebagainya.

Hasil memulung, ia bisa memperoleh rata-rata Rp50 ribu per minggu. Lumayan sebagai tambahan untuk membayar token listrik Rp25 ribu per minggu, membeli lauk pauk, minyak goreng, dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.

Agar pembagian waktunya efektif, ia biasa mencuci pakaian kotor mulai pukul 7 pagi hingga 11 siang. Usai menjemur pakaian, ia istirahat sembari mendampingi cucu belajar. Sore, ia pergi memulung sekaligus menjemput pakaian kotor. Kadang ia dibantu cucunya Dila.

Malam kerjakan pekerjaan domestik sembari dampingi cucu belajar, lalu tidur. Pukul 3 pagi, ia bangun lagi untuk menyeterika pakaian sampai subuh. Salat, lalu memasak untuk mereka bertiga.

Masriani mengaku, terkadang merasa kelelahan di usianya yang sudah 60 tahun. Tenaganya habis untuk memulung, menjemput cucian, mencuci, menyetrika, dan mengantar kembali cucian itu. Rasa lelah membuat emosinya kadang meledak saat cucunya melakukan kesalahan. Tak jarang terdengar teriakan-teriakan marah dari rumah mereka.

“Abis cemmana? Kadang cucu melawan saat disuruh. Sementara saya capek. Uang tak ada,” katanya tanpa terselip nada membela diri.

Selama pandemi Covid-19, Masriani mengaku belum pernah memperoleh bantuan sosial dari pemerintah. Pasalnya, KTP-nya sudah lama hilang. Tinggal fotokopinya. Itupun masa berlakunya sudah mati.

Pernah ia bertanya soal bantuan pada Lurah Medan Selayang. Ia diarahkan untuk mengurus surat pindah dari alamat rumahnya yang lama di Kelurahan Beringin. Namun setiap kali dia ke kantor lurah, petugas beralasan blangko KTP kosong. Ia disuruh ke kantor polisi mengurus KTP hilang.

Di kantor polisi, ia diminta uang administrasi Rp30 ribu. Masriani merasa berat karena baginya nilai uang itu cukup besar.

Untunglah, beberapa bulan belakangan ini, ada bantuan beras umat dari masjid tempat cucunya bersekolah. “Cucu saya Arif dianggap berprestasi di sekolah (dikelola masjid). Ia bertugas baca azan dua kali sehari. Jadi kami dapat jatah 10 kg beras per bulan,” katanya.

Setiap hari, ia menjemur beras itu karena berkutu. Begitupun, ia tetap bersyukur karena tidak perlu lagi beli beras. “Untuk lauk, kemarin baru saja ada teman yang ngasih ikan asin. Itulah lauk kami,” katanya polos.

Foto: Dame/Sumut Pos
DAPUR PLUS GUDANG: Masriani Tanjung, di dapur berdinding sekaligus gudang di sebelah kamarnya di Jalan Pasar 7 Gang Kantil 5A, Padang Bulan, Kota Medan. Nenek buruh cuci ini menyimpan sebagian barang-barang bekas di dapur ini.

Bantuan lain datang dari ‘suaminya’, yang kembali mengontak Masriani setelah sadar tidak punya anak dari istri kedua maupun istri ketiga. “Sejak beberapa waktu lalu, kakek mereka memberi jajan Rp 5.000 per hari. Trus, uang sekolah Rp 100 ribu per bulan per cucu,” kisahnya. 

Masriani sendiri tetap tidak dinafkahi. Pernah coba diminta, tapi jawab si ‘suami’: “Masih mending kukasih untuk cucumu! Atau mau kuhentikan?” ancamnya.

Masriani hanya diam tak berani melawan.

Meski hidupnya keras, keluhan Masriani sederhana saja. Sudah dua minggu terakhir ia tidak dapat mengambil isi tabungannya di BRI. Masalahnya ya KTP tadi. Padahal saban ada upah dari cuci bajunya, ia tabungkan ke BRI agar tidak hilang. Uang tabungannya di BRI ada Rp1,5 juta. “Gimanalah menarik uang saya? Bank nggak mau kasih tanpa KTP,” katanya memelas.

Tentang bantuan pemerintah, ia juga tidak ngotot. Meski tetap berharap dapat bansos jika memungkinkan. “Pernah ngadu ke Kepling, dijanjikan akan diurus. Tapi tak ada sampai sekarang,” ungkapnya.

Gaji PRT Dipotong, Nyambi Pemulung

Selain Masriani Tanjung, seorang perempuan ekonomi bawah lainnya, juga memilih nyambi jadi pemulung selama pandemi Covid-19. Mariani Nasution namanya. Usianya saat ini 42 tahun. Suaminya mencari nafkah sebagai tukang becak mesin.

“Sebelum pandemi, penghasilan suami dari menarik becak mesin bisa Rp 150 ribu per hari. Tetapi sebagian besar habis untuk membeli bensin, biaya makan di warung, bengkel, uang rokok, dan uang minum,” katanya mengawali, saat ditemui di rumah sewa milik majikannya, di Jalan Pasar 7, Gang Kantil 5 A, Padang Bulan, Kota Medan.    

Sebagai istri, ia hanya mendapat Rp20 ribu per hari untuk uang belanja. “Cobalah bayangkan… cemmana belanja rumah tangga dengan uang itu,” keluhnya muram.

Untuk membantu menutupi biaya rumah tangga, ibu 3 anak ini bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Gajinya Rp 1,2 juta per bulan. Jumlah itu untuk pekerjaan memasak, mencuci, membersihkan rumah, sekaligus menjaga anak majikan.

Namun sejak pandemi Covid-19 melanda, pendapatan suaminya menurun drastis. Dari rata-rata Rp 150 ribu per hari, turun menjadi Rp 50 ribu. Itupun kadang tidak tercapai.

“Habislah untuk biaya bensin dan biaya bengkel motornya yang sudah tua. Suami mengurangi uang belanja. Kadang dikasihnya Rp5.000 beli sayur. Tapi ia yang bertugas membeli beras. Cuma… berapalah yang bisa dibelinya? Paling 1-2 kg beras,” ucapnya makin murung.

Foto: Dame/Sumut Pos
MEMULUNG: Mariani Nasution bersama kedua putrinya, menunjukkan barang-barang hasil memulung di rumah sewa milik majikannya di Jalan Pasar 7, Padang Bulan, Kota Medan. Ia terpaksa memulung karena penghasilan suami menurun drastis sejak pandemi. Gajinya sebagai PRT juga dipotong majikan.     

Kesulitan ekonomi kerap memicu pertikaian di tengah keluarga kecil mereka. Sang suami kerap menuduh dirinya tidak menghormati suami. Sementara Mariani tak terima dicurigai suaminya soal alokasi uang. “Sejak menikah hanya ngasih uang Rp20 per hari. Turun menjadi Rp15 ribu. Belakangan malah tidak pernah lagi dikasih uang belanja. Tapi masih dicurigai. Cemmana nggak ribut?” katanya dengan wajah ketat.

Tekanan ekonomi keluarganya makin terasa berat, setelah majikannya mengurangi gajinya dari Rp 1,2 juta menjadi Rp 800 ribu, awal Oktober lalu. “Majikan bilang, gaji saya dipotong tapi saya tidak usai lagi memasak dan membersihkan rumah,” ungkapnya.

Merasa gaji PRT semakin tidak cukup, sejak pertengahan Oktober kemarin, Mariani terpaksa nyambi menjadi pemulung barang-barang bekas. Maklum, pendidikannya hanya sampai kelas 3 SD. Ia tidak punya keterampilan lain selain pekerjaan rumah tangga.

Setiap malam, usai kerja di rumah majikan, ia membawa goni dan mengajak kedua putrinya (seorang gadis remaja penyandang disabilitas dan seorang gadis kecil usia 5 tahun) berjalan kaki menelusuri jalanan di Padang Bulan. Sepanjang jalan, ketiganya memunguti barang-barang bekas yang masih bisa dijual.

Keesokan harinya, sang suami yang menyortir barang-barang itu untuk dijual kembali.

Sebagai keluarga yang rentan secara ekonomi, Mariani mengaku belum pernah mendapat bantuan sosial dari manapun, baik pemerintah maupun swasta. Pasalnya mereka belum terdaftar di kelurahan setempat. “KTP saya masih beralamat di rumah mama saya di Tembung,” katanya singkat. Sementara KTP suaminya, masih beralamat di rumah mantan istri.

Tak terlalu berharap bakal dapat perhatian dari pemerintah, hanya satu harapan Mariani.  Majikan mau mengembalikan gajinya ke angka semula, yakni Rp1,2 juta per bulan. “Berapalah hasil memulung ini? Paling banyak Rp200 ribu sebulan. Padahal udah ngos-ngosan mencari,” katanya.

Apalagi belakangan, ia melihat jumlah kaum ibu bahkan kaum bapak yang ikut memulung, makin banyak saja. “Mungkin efek pandemi. Biar hasilnya agak banyak, kami memulung makin lama. Kadang pulang jam 1 atau 2 malam. Bahkan pernah hingga jam 3 pagi,” ucapnya.

Ia bersyukur bebannya mendampingi anak belajar di rumah selama pandemi Covid-19, tidak ada. Putri sulungnya yang disabilitas tidak pernah bersekolah di Sekolah Luar Biasa karena ketiadaan biaya. Sementara putri bungsunya masih kecil. Belum masuk sekolah.

Penurunan Penghasilan Picu Ketegangan

Masriani dan Mariani hanyalah dua dari ratusan atau bahkan mungkin ribuan wanita di Indonesia –termasuk Kota Medan– yang terdampak pandemi Covid-19.  

Menurut Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), pihaknya menerima 892 pengaduan langsung hingga Mei 2020. Angka ini setara dengan 63% dari total pengaduan sepanjang 2019. Mayoritas laporan masuk pada April atau bulan kedua kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berjalan di sejumlah daerah Indonesia. Angkanya mencapai 232 laporan. Lebih banyak dari bulan sebelumnya yang 181 laporan.

Sedangkan, pada Mei sebanyak 207 laporan. Ranah kasus kekerasan paling banyak dilaporkan adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)/ranah personal (RP). Persentasenya mencapai 69% dari total kasus sepanjang Januari-Mei 2020. Disusul kekerasan di ranah komunitas (30%) dan negara (1%).      

Bentuk KDRT/RP yang paling banyak berupa kekerasan psikis, yakni 398 laporan. Lalu, jenis paling banyak adalah kekerasan terhadap istri, yakni 170 laporan. Hal ini terjadi lantaran PSBB dan penurunan tingkat ekonomi atau penghasilan memicu ketegangan dalam hubungan suami-istri meningkat.

Selain itu, selama pandemi ada 36 persen perempuan pekerja informal yang harus mengalami pengurangan waktu kerja berbayar mereka. Angka itu lebih banyak ketimbang laki-laki pekerja informal yang mengalami persoalan serupa (30 persen).

Pembatasan sosial yang diterapkan selama pandemi membuat 69 persen perempuan dan 61 persen laki-laki menghabiskan lebih banyak waktu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Akan tetapi perempuan memikul beban lebih berat karena 61 persen di antara mereka juga harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengasuh dan mendampingi anak. Sedangkan di antara para lelaki hanya 48 persen yang melakukannya.

Pandemi Covid-19 juga telah memengaruhi kesehatan mental dan emosional perempuan.

Sebanyak 57 persen perempuan menurut hasil survei mengalami peningkatan stres dan kecemasan karena menanggung lebih banyak beban dalam mengurus pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan. Mereka juga kehilangan pekerjaan dan pendapatan serta menghadapi kekerasan berbasis gender. Masalah itu hanya dihadapi oleh 48 persen laki-laki.

Maria Holtsberg, Penasihat Risiko Bidang Kemanusiaan dan Bencana di UN Women Asia dan Pasifik mengatakan, “krisis selalu memperburuk ketimpangan gender.”

Banyak tindak kekerasan terhadap perempuan akibat lemahnya tingkat ekonomi, pendidikan, ataupun kondisi psikis mereka yang terguncang akibat berbagai masalah di tengah pandemi saat ini. “Maka diperlukan langkah-langkah khusus dan konkret untuk menjaga perempuan khususnya dalam memerangi Covid-19 saat ini,” kata Holtsberg.

Untuk mencegah terjadinya KDRT, diperlukan kebijakan yang benar-benar memperhatikan kepentingan dan kondisi masyarakat, khususnya perempuan sebagai kelompok rentan. Baik dalam hal pemenuhan kebutuhan spesifik, pelayanan kesehatan jiwa, penanganan dan pendampingan bagi korban kekerasan, serta peningkatan ekonomi pemberdayaan perempuan.

Cek Ulang DTKS

Komisi II DPRD Medan mengakui bansos kepada warga miskin sering tidak tepat sasaran. Pasalnya, Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) tidak lagi valid dan tidak update.

Karena itu Komisi II DPRD Medan mendorong Dinas Sosial (Dinsos) Kota Medan agar benar-benar melakukan verifikasi data seluruh warga miskin di Kota Medan.

“Tahun 2021, seluruh warga miskin di Kota Medan harus dapat terakomodir untuk mendapatkan segala jenis bantuan sosial yang ada, baik yang bersumber dari pemerintah pusat maupun daerah,” kata Wakil Ketua Komisi II DPRD Medan, Sudari ST.

Mereka yang sebelumnya termasuk golongan warga miskin, tetapi sekarang tidak lagi miskin, agar dicoret dari DTKS. Sebaliknya, warga miskin baru agar dimasukkan agar mendapat bantuan.

Kepala Dinas Sosial Kota Medan, Endar Sutan Lubis, berjanji akan melakukan verifikasi dan validasi terhadap data warga miskin di Kota Medan. Pendataan akan dilakukan dengan metode door to door di 17 kecamatan, dengan sasaran sekitar 120.870 KK.

“Ada 14 kriteria untuk dinyatakan sebagai warga miskin. Jika telah memenuhi 9 kriteria saja, sudah layak masuk kategori warga miskin,” katanya.

Ke-14 kriteria tersebut, yakni luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 M2 per orang, jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan,  jenis dinding tempat tinggal dari bambu/rumbia/kayu berkualitas rendah/tembok tanpa diplester.

Kemudian, tidak memiliki fasilitas buang air besar/bersama-sama dengan rumah tangga lain, sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik, sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindung/sungai/air hujan,  bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak tanah, hanya mengonsumsi daging/susu/ayam dalam satu kali seminggu.

Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun. Hanya sanggup makan sebanyak satu/dua kali dalam sehari, tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/poliklinik. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah petani dengan luas lahan 500 m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan di bawah Rp 600.000 per bulan.

Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga: tidak sekolah/tidak tamat SD/tamat SD, tidak memiliki tabungan/barang yang mudah dijual dengan minimal Rp500.000, seperti sepeda motor kredit/non kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, I Gusti Ayu Bintang Darmawati Puspayoga, mengatakan isu-isu perempuan dan anak sifatnya selalu lintas sektoral. Karena itu, intervensi yang tepat sasaran dan efektif hanya dapat dilakukan debgan kerja sama berbagai pihak. Yakni pemerintah, dunia usaha, media, dan masyarakat.

Kemen PPPA sendiri terus melakukan upaya pencegahan kekerasan berbasis gender. Salahsatu solusi Kemen PPPA, yakni membangun rumah perlindungan perempuan dan anak serta membuka layanan konsultasi dan edukasi psikologi. Dengan demikian, perempuan dan anak dapat mengadukan masalah yang mereka alami di tengah merebaknya pandemi corona Covid-19.

“Setiap perempuan adalah advokat bagi dirinya sendiri dan bagi hak-hak perempuan secara umum,” katanya. (dame ambarita)