25 C
Medan
Wednesday, April 8, 2026
Home Blog Page 4140

Pecat Perangkat Desa, Kades Sei Karang Didemo Warga

LUBUKPAKAM, SUMUTPOS.CO – Sekitar tujuh puluhan orang warga Desa Sei Karang Kecamatan Galang Kabupaten Deliserdang mengelar aksi demo dengan mendatangi Kantor Kepala Desa Sei Karang, Senin (27/7/2020) pagi.

Warga tersebut protes menyusul akibat di pecatnya sejumlah perangkat desa oleh Kepala Desa Sei Karang Muhamad Nuh secara semena-mena, karena dianggap tidak sepaham dengan kemauan Kepala desa.

Randi, seorang warga yang mengikuti aksi demo mengatakan, mereka menuntut agar Bupati Deliserdang menonaktifkan Kepala Desa Sei Karang, Muhamad Nuh karena bertindak semena-mena terhadap sejumlah perangkat desa.

“Satu-persatu perangkat desa mulai dari Bendahara, Sekdes, Kaur Pemerintahan dan Kaur Pelayanan dipecat Kades. Dikarenakan tidak sepaham terkait proyek pengelolaan dana desa yang mana Kades ingin mengelola sendiri tidak mau melibatkan perangkat desa dalam pelaksanaannya dengan alasan tidak percaya terhadap perangkat desanya dan Kepala Desa juga kerap meminta Uang Dana Desa dari Bendahara tanpa musti memakai kwitansi keperluan. Karena itu bendahara menolaknya dan dianggap tidak patuh hingga dipecat,” ucap Randi.

Puluhan warga melakukan orasi sambil mengusung poster bertuliskan pecat Kepala Desa Muhamad Nuh dan kecaman lainnya.

Aksi warga ini berjalan tertib dengan pengawalan petugas Babinkamtibmas dan Babinsa Desa Sei Karang. Usai melakukan orasi dan menyampaikan aspirasi mereka membubarkan diri namun menyebutkan akan melakukan aksi di Kantor Bupati Deliserdang terkait mendesak pencopotan jabatan Kepala Desa Sei Karang ke Kantor Bupati Deliserdang, Rabu (29/7/20) nanti .

Camat Galang, Marzuki, ketika dikonfirmasi media, Senin (27/7/20) mengatakan, seharusnya warga tidak melakukan demo dan kedepankan musyawarah.

“Seharusnya warga tidak harus mendemo Kepala Desa Sei Karang, dan kita kedepankan musyawarahlah dan lagi masalah Dana Bumdes dan Dana Desa di Sei Karang itu khan sudah sampai ke Polresta Deliserdang,” jelas Marzuki.

Terkait aksi warga ini Kepala Desa Sei Karang Muhamad Nuh belum dapat dikonfirmasi.(btr)

Wortel Sumut Kembali Tembus Pasar Ekspor

WORTEL: Pegawai Karantina Belawan sedang memeriksa kondisi wortel sebelum diekspor ke Malaysia dan berbagai negara tujuan lainnya.
WORTEL: Pegawai Karantina Belawan sedang memeriksa kondisi wortel sebelum diekspor ke Malaysia dan berbagai negara tujuan lainnya.
WORTEL: Pegawai Karantina Belawan sedang memeriksa kondisi wortel sebelum diekspor ke Malaysia dan berbagai negara tujuan lainnya.
WORTEL: Pegawai Karantina Belawan sedang memeriksa kondisi wortel sebelum diekspor ke Malaysia dan berbagai negara tujuan lainnya.

BELAWAN, SUMUTPOS.CO – Masa pembatasan akibat pandemi Covid-19 tidak menjadi penghalang bagi petani wortel di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara  (Sumut) untuk terus berproduksi.

Terbukti tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan pasar domestik, kini wortel Sumut mulai masuki pasar global. Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian mencatat sepanjang semester I/2020 wortel mulai di ekspor secara rutin ke Malaysia.

“Selain produktivitas yang tinggi, produk pertanian asal sub sektor hortikultura ini juga sehat dan aman dari hama penyakit tumbuhan sehingga memiliki daya saing di pasar ekspor, “ kata Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil melalui keterangan tertulisnya, Jumat (24/7).

Menurut Jamil, secara nasional, tahun ini ekspor wortel 30 kali ke Malaysia, Singapura dan Timor Leste dengan total 12,2 ton senilai Rp. 179 juta.

Malaysia, lanjut Jamil, masih menjadi negara pengimpor terbesar dan rutin selama semester I tahun 2020. Sudah 25 kali fasilitasi sertifikasi ekspor wortel ke Malaysia, 24 kali melalui Karantina Pertanian Belawan dan 1 kali melalui Karantina Pertanian Pekanbaru. Ekspor ke Singapura baru mencapai 300 kilogram dalam 2 kali pengiriman. Sementara Timor Leste hanya 7 ton.

Hingga saat ini ekspor wortel masih didominasi oleh Sumatera Utara dari 12,2 ton total ekspor wortel 97% nya berasal dari Sumut. 

Sejauh ini, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, merupakan salah satu sentra penghasil tanaman wortel kualitas terbaik di Indonesia. Kementan melalui direktorat teknisnya dan dinas pertanian  Sumut terus berupaya meningkatkan kualitas, perluasan pasar dan pendapatan petani dengan penggunaan benih unggul dan sarana pertanian modern.

“Pada tahun 2019 Kementerian pertanian melalui Karantina Pertanian Belawan, sudah pernah menyertifikasi ekspor wortel dengan skala kecil ke negara Jepang, dan hanya sebagai contoh. Di tahun 2020 inilah kita baru benar-benar ekspor wortel ke Malaysia dan Singapura,” ujar Hasrul, Kepala Karantina Pertanian Belawan.

Wortel merupakan jenis sayuran terpopuler kedua setelah kentang, karena mengandung vitamin A yang tinggi. Wortel termasuk tumbuhan sayur dalam famili Apiaceae, termasuk sayuran yang paling digemari banyak orang karena rasanya yang manis dan teksturnya renyah. 

Wortel memiliki banyak manfaat, Selain meningkatkan kesehatan mata, kandungan yang ada di dalam wortel juga bisa memberi banyak manfaat lain.

Sepanjang semester I 2020, kinerja ekspor dari sektor pertanian memberikan signal positif. Bahkan BPS menyebutkan untuk kinerja ekspor di bulan Juni 2020 mencapai peningkatan yang tinggi dengan angka USD 12,03 miliar. Capaian ini meningkat 15,09 persen dibandingkan Mei 2020 yang mencapai USD 10,53  miliar.

Tak bersoal dengan pandemi, demikian ajakan Menteri Pertanian (Syahrul Yasin Limpo, red) kepada insan pertanian diberbagai kesempatan.

“Kita dorong peningkatan produksi sekaligus kinerja ekspornya.

Tidak hanya volume ekspor, tapi juga jumlah eksportir dan ragam ekspornya yang juga kita pacu,” pungkas Jamil. (rel/ram)

Pengelolaan Dana Desa di Desa Orahili Sarat Korupsi, BPD Minta Hasil Audit Transparan

TERIMA: Inspektur pembantu IV Rhony Suryawan SE MAP saat menerima surat permohanan hasil audit APBDes Orahili TA 2019, dari ketua BPD Orahili Nopertina Harefa, di kantor Inspektorat Nias Utara.aditia Laoli/sumut pos.
TERIMA: Inspektur pembantu IV Rhony Suryawan SE MAP saat menerima surat permohanan hasil audit APBDes Orahili TA 2019, dari ketua BPD Orahili Nopertina Harefa, di kantor Inspektorat Nias Utara.aditia Laoli/sumut pos.
TERIMA: Inspektur pembantu IV Rhony Suryawan SE MAP saat menerima surat permohanan hasil audit APBDes Orahili TA 2019, dari ketua BPD Orahili Nopertina Harefa, di kantor Inspektorat Nias Utara.aditia Laoli/sumut pos.
TERIMA: Inspektur pembantu IV Rhony Suryawan SE MAP saat menerima surat permohanan hasil audit APBDes Orahili TA 2019, dari ketua BPD Orahili Nopertina Harefa, di kantor Inspektorat Nias Utara.aditia Laoli/sumut pos.

NIAS UTARA, SUMUTPOS.CO – Pengelolaan Dana Desa (DD) Orahili, Kecamatan Namohalu Esiwa, Kabupaten Nias Utara tahun anggaran 2019 diduga sarat korupsi. Betapa tidak, sejumlah kegiatan pembangunan fisik hingga saat ini belum dikerjakan, sementara dana yang sudah dicairkan mencapai Rp900 juta lebih.

Tidak hanya itu APBDes Orahili tahun 2019 dinilai tidak memenuhi ketentuan sebagaimana diatur pada Permendagri Nomor 20 tahun 2018 tentang pengelolaan keuangan desa, dan Peraturan Bupati Nias Utara nomor 2 tahun 2019, namun hanya bermodalkan Peraturan Kepala Desa (Perkades).

Hal itu dikemukakan ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Orahili Nopertina Harefa kepada Sumut Pos saat menyampaikan surat permohonan hasil pemeriksaan pengelolaan DD di Desa Orahili 2019 kepada Inspektur Kabupaten Nias Utara, di kantor Inspektorat Nias Utara, Kamis (23/7).

Ketua BPD Orahili menyebutkan, ada tiga jenis kegiatan fisik yang dananya bersumber dari dana desa Orahili tahun 2019, yakni : Pengaspalan jalan dari Dusun IV menuju Dusun II, pembukaan badan jalan baru dari RT 04 Dusun II menuju Muzoi Desa Dahana, Kecamatan Alasa, pembukaan badan jalan baru dari RT 06 Dusun III menuju Sungai Muzoi Desa Banua Sibohou, Kecamatan Alasa. “Sama sekali belum dikerjakan yang kami temukan dilapangan hanya bahan material berupa batu, kerikil dan aspal sebanyak 70 drum,” sebutnya.

“Maka melalui surat yang tadi kami sampaikan kami memohon kepada Inspektur Kabupaten Nias Utara, agar kiranya berkenan untuk menyampaikan kepada kami hasil pemeriksaan reguler dana desa Orahili tahun 2019. Kami dari BPD Orahili dapat mengambil langkah-langkah hukum atas pengelolaan keuangan desa tahun anggaran 2019 di desa Orahili, karena kuat dugaan pengelolaan dana desa Orahili tahun anggaran 2019 sarat dengan korupsi dikarenakan ABPDes Orahili 2019 hanya bermodalkan Peraturan Kepala Desa (Perkades),” sambungnya.

Sementara itu, Inspektur Kabupaten Nias Utara Tolonaso Gea SH mengungkapkan, audit APBDes Orahili tahun anggaran 2019 masih dalam proses pemeriksaan.

“Masih dalam proses, tim telah mengambil dokumen lapangan. Tim menemukan ada pekerjaan fisik yang belum terelisasi,” ungkapnya.

Terkait permintaan dokumen hasil pemeriksaan pengelolaan dana desa oleh BPD Orahili, Tolanaso mengatakan, hal itu tidak bisa ia penuhi sebab tidak sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) Inspektorat.

“Permintaan hasil audit secara fisik tidak bisa kami sampaikan, namun kalau secara lisan melalui pertemuan kami bisa menyampaikan kepada BPD,” pungkasnya. (adl/han)

22 Wisudawati Akbid Pemko Tebingtinggi Diwisuda

SERAHKAN: Wali Kota Tebingtinggi Umar Zunaidi Hasibuan didampingi Sekdako Muhammad Dimiyathi menyerahkan piagam kepada salah satu wisudawati Akbid Pemko Tebingtinggi.
SERAHKAN: Wali Kota Tebingtinggi Umar Zunaidi Hasibuan didampingi Sekdako Muhammad Dimiyathi menyerahkan piagam kepada salah satu wisudawati Akbid Pemko Tebingtinggi.
SERAHKAN: Wali Kota Tebingtinggi Umar Zunaidi Hasibuan didampingi Sekdako Muhammad Dimiyathi menyerahkan piagam kepada salah satu wisudawati Akbid Pemko Tebingtinggi.
SERAHKAN: Wali Kota Tebingtinggi Umar Zunaidi Hasibuan didampingi Sekdako Muhammad Dimiyathi menyerahkan piagam kepada salah satu wisudawati Akbid Pemko Tebingtinggi.

TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO – Sebanyak 22 wisudawati Akbid Pemko Tebingtinggi diwisuda, di Gedung Balai Kartini, Sabtu (25/7). Wisudawati angkatan tahun ke-20 ini merupakan angkatan terakhir, dikarenakan pengelolaannya diserahkan kepada UINSU ditingkatkan menjadi Perguruan Tinggi Kesehatan Masyarakat.

Wali Kota Tebingtinggi Umar Zunaidi Hasibuan didampingi Sekdako Muhammad Dimiyathi dan Kadinkes dr Nanang Fitra Aulia dalam sambutannya menyampaikan, angkatan ke 20 merupakan angkatan pamungkas Akbid Pemko Tebingtinggi meskipun dengan siswa yang terbatas.

“Kepada para wisudawati, diingatkan jangan buru buru membuka praktek, sebelum memenuhi segala persyaratan yang diwajibkan oleh pemerintah,” pinta Umar.

Disampaikan Umar, kelanjutan dari Akbid Tebingtinggi, pengelolaanya akan diserahkan Pemko Tebingtinggi kepada UINSU ditingkatkan menjadi Perguruan Tinggi Kesehatan Masyarakat.

“Saat ini semua prosedur pengalihannya dalam proses, dan Insya Allah dalam waktu dekat segera dibuka. Kepada para wisudawati diingatkan sebagai akademisi tentunya berfikir dan bertindak sebagai orang profesional, yang bekerja sesuai dengan keilmuannya,” jelas Umar.

Walikota menambahkan, sebagai orang yang profesional, melakukan tindakan dengan keilmuan bukan tebak-tebakan, seorang profesional bukan paranormal. Dalam melaksanakan tugas dan kewajiban jangan melanggar ketentuan hukum yang berlaku, tidak menghalalkan segala cara, hanya semata demi uang. (ian/han)

Soal Pengisian Pejabat Defenitif Pemprov Sumut, Lagi-lagi Tunggu Izin KASN

Sekdaprov Sumut R Sabrina.
Sekdaprov Sumut R Sabrina.
Sekdaprov Sumut R Sabrina.
Sekdaprov Sumut R Sabrina.

MEDAN, SUMUTPOS.Co – Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi, hingga kini belum dapat melaksanakan seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama kembali. Persoalannya, lagi-lagi belum mendapat rekomendasi atau izin dari Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) Kemen PAN-RBn

“Saat ini sedang dalam proses untuk kembali melakukan asesmen. Doakan sesegera mungkin seleksi bisa dilaksanakan untuk mengisi jabatan tersebut. Doakan kami juga agar segera mendapat figur yang tepat untuk mengisi kekosongan ini,” ungkap Sekdaprov Sumut R Sabrina.

Itu disampaikannya saat menjadi narasumber web seminar (webinar) yang diinisiasi DPD Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara (LPKAN), dengan tema ‘Mencari Pejabat Eselon II yang Profesional dalam Visi Sumut Bermartabat’, Jumat (24/7) lalu.

“Pelaksana tugas ini hampir sama dengan pejabat definitif, dan yang menjadi Plt juga dilihat sepak terjang dan kemampuannya, tidak sembarang,” sambung Sabrina.

Menurut Sabrina, pejabat eselon II harus memiliki sifat profesionalisme. Seorang profesional harus mempunyai keahlian, objektif dan memiliki semangat pengabdian. Juga harus memiliki 3 hal pokok, yakni skill (keterampilan), knowledge (pengetahuan), dan attitude (sikap).

“Sampai saat ini, kami terus mendorong agar para pejabat eselon II senantiasa mampu melahirkan kreativitas dan inovasi agar tidak ketinggalan perkembangan dalam mengambil kebijakan,” katanya.

Adapun narasumber lain dalam webinar itu, yakni Ketua Komisi A DPRD Sumut Hendro Susanto, Dekan Fisipol USU Muryanto Amin, dan Ketua DPD LPKAN Rafriandi Nasution.

Menurut Hendro, pihaknya bisa memahami adanya sejumlah OPD Pemprov Sumut yang dipimpin Plt. Bahkan hal tersebut, kata dia, sudah tepat untuk mengisi kekosongan jabatan.

“Pemprov Sumut sebenarnya tidak menginginkan rangkap jabatan, namun itulah langkah tepat yang sudah diambil untuk mengisi kekosongan,” jelasnya.

Dia juga menyampaikan, belum semua ASN satu visi dan misi dengan keinginan Gubernur dan Wakil Gubernur, serta gaya inovatif dari ASN belum terasa untuk melakukan perbaikan. Karena itu, dia mengajak agar para ASN terus dipacu lagi untuk dapat melahirkan kreativitas.

“Sebenarnya di zaman Pak Edy Rahmayadi dan Bu Sekda Sabrina ini, sedang dilakukan kegiatan untuk memacu kreativitas guna melahirkan ASN yang bermartabat,” imbuh Hendro.

Muryanto Amin menyampaikan, selain kreativitas, para ASN juga harus tanggap terhadap perkembangan teknologi, satu di antaranya dengan memanfaatkan big data analytics.

“Tidak bisa lagi kepala biro tidak mengetahui big data analytics, karena berfungsi untuk mengambil suatu keputusan. Misalkan dalam memberikan izin aplikasi online, kita harus mempertimbangkan pergerakan ekonomi yang akan terjadi, sehingga efektivitas kebijakan terasa pada masyarakat,” jelasnya.

Sedangkan Rafriandi Nasution, berharap agar pada lelang jabatan yang akan dilaksanakan perlu adanya terobosan-terobosan baru.

“Misalkan bila sudah didapati 5 besar nama, para calon mengungkapkan visi misi mereka pada acara webinar, sehingga masyarakat juga mengetahuinya,” harapnya.

Dia menambahkan, ASN harus senantiasa meningkatkan kompetensi, inovasi dan pelayanan prima untuk publik.

“Pengangkatan PNS dalam suatu jabatan dilaksanakan berdasarkan prinsip profesionalisme sesuai dengan kompetensi, prestasi kerja di jenjang pangkat yang ditetapkan untuk jabatan serta syarat objektif lainnya tanpa membedakan jenis kelamin, suku, agama, ras, atau golongan,” pungkas Rafriandi. (prn/saz)

Imbas Pandemi, Hewan Kurban Sepi Pembeli, Penjualan Sapi Diprediksi Turun 33 Persen

SUTAN SIREGAR/SUMUT POS HEWAN QURBAN_Pelaku usaha penjualan hewan kurban, memberi rumput hewan dagangannya dikawasan Polonia Medan, Minggu, Minggu (20/8). Hewan kurban yang didatangkan dari Langkat, dijual mulai dari harga Rp 11.000.000 /ekor sampai Rp 50.000.000 /ekor tergantung beratnya.
ilustrasi.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Dampak pandemi virus corona membuat daya beli masyarakat mengalami penurunan. Hal ini, juga menyebabkan penjual hewan kurban jelang Hari Raya Idul Adha 1441 Hijriah, 2020, juga mengalami penurunan 28 persen hingga 33 persen dibanding 2019 lalu.

Hal ini diungkapkan Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, di Medan, Minggu (26/7). Menurutnya, Idul Adha tahun ini menyisahkan masalah besar. Virus corona secara langsung telah mengubah tatanan sosial ekonomi masyarakat.

“Dari beberapa agen penjual hewan kurban, mendekati Idul Adha ini, mereka menyatakan, orderan untuk hewan kurban masih baru sekitar 60 persen dibanding realisasi tahun sebelumnya,” ungkap Gunawan.

Sebagai gambaran, Gunawan menjelaskan, Idul Adha jatuh pada 31 Juli 2020. Berdasarkan pengakuan seorang agen hewan kurban yang tahun lalu bisa menjual 170 ekor sapi, pada tahun ini dia baru menerima order penjualan sapinya di bawah 100 ekor.

“Padahal menurut hitungan yang kami lakukan, seharusnya jika kondisi normal saja, pesanan sapinya seharusnya sudah mencapai 140 ekor di saat-saat seperti ini (sekitar satu hingga dua pekan sebelum hari H),” jelasnya.

Dia mengungkapkan, penjualan sapi dari satu responden yang pihaknya teliti, diperkirakan akan menjual 120 ekor saat Idul Adha nanti. Jadi ada penurunan sekitar 30 persen, jika membandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya.

“Dan kabar yang tidak kalah buruk, penjualan sapi di sejumlah rumah pemotongan hewan belakangan ini juga mengalami penurunan,” beber Gunawan.

Memasuki Juli, Gunawan mengatakan, rata-rata permintaan daging sapi menyusut 14 persen secara harian. Tren konsumsi daging sapi mengalami penurunan belakangan ini. Menurutnya, hal ini jelas indikasi yang kurang begitu baik. Karena konsumen terbesar daging sapi itu adalah pedagang bakso sekitar 70 persen, sisanya rumah makan, cafe, restoran, dan rumah tangga.

“Penurunan konsumsi daging ini sangat erat kaitannya dengan masalah daya beli. Dan menurut hitungan saya, penurunan 14 persen konsumsi daging sapi secara harian itu, akan mengurangi satu orang pekerja di RPH. Dan dampak luasnya juga akan sangat terasa pada penurunan omzet hingga PHK di level pedagang bakso, rumah makan, cafe, hingga restoran,” papar Gunawan.

Gunawan menilai, hal ini adalah gejala adanya masalah di daya beli masyarakat.

“Daging merupakan komoditas yang kerap saya jadikan tolok ukur daya beli masyarakat. Karena semakin baik daya beli masyarakat. Akan semakin banyak konsumsi daging sapi atau makanan berkualitas lainnya,” imbuhnya.

“Untuk meminimalisir dampak ekonomi secara lebih luas. Saya menyarankan agar masyarakat mengkonsumsi daging sapi segar dibandingkan dengan daging beku. Karena daging sapi segar lebih banyak memberikan manfaat, seperti penyerapan tenaga kerja maupun perputaran uang yang lebih menguntungkan bagi ekonomi domestik,” pungkas Gunawan. (gus/saz)

Rumah-rumah Pinggir Rel Sei Agul, DPRD Minta PT KAI Tunda Penggusuran

ROBOHKAN: Alat berat saat merobohkan bangunan yang berdiri di kawasan pinggiran rel Jalan Stasiun Kereta Api lama, Belawan, beberapa waktu lalu.
ROBOHKAN: Alat berat saat merobohkan bangunan yang berdiri di kawasan pinggiran rel Jalan Stasiun Kereta Api lama, Belawan, beberapa waktu lalu.
ROBOHKAN: Alat berat saat merobohkan bangunan yang berdiri di kawasan pinggiran rel Jalan Stasiun Kereta Api lama, Belawan, beberapa waktu lalu.
ROBOHKAN: Alat berat saat merobohkan bangunan yang berdiri di kawasan pinggiran rel Jalan Stasiun Kereta Api lama, Belawan, beberapa waktu lalu.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – DPRD Medan meminta pihak PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) Drive I Sumut, agar mau menunda penggusuran rumah warga di pinggir rel Jalan Pengayoman, Kelurahan Sei Agul, Kecamatan Medan Barat.

DPRD Medan meminta agar pihak PT KAI dapat memberikan kelonggaran kepada warga yang hendak digusur, untuk tidak pindah dalam waktu dekatn

karena situasi pandemi corona virus disease 2019 (covid-19) yang masih berkembang secara masif hingga saat ini di Kota Medan.

“Kami berharap agar manajemen PT KAI punya hati nurani, untuk memberi tenggang waktu penggusuran kepada warga hingga Desember 2020, atau menunggu pandemi covid-19 mereda di Medan,” ungkap anggota DPRD Medan, Antonius Devolis Tumanggor, Minggu (26/7).

Politisi Nasdem itu juga mengatakan, selain mengharapkan manajemen PT KAI memberikan tenggang waktu, pihaknya juga berharap adanya biaya ganti rugi yang layak kepada warga, sebagai pengganti biaya atau uang pindah. Sebab, sebagian warga sudah sempat mendirikan bangunan yang permanen dengan biaya besar di pinggir rel.

“Tapi tiba-tiba digusur, kan warga yang digusur itu membutuhkan biaya besar lagi untuk pindah dan mencari rumah baru sebagai tempat tinggal. Wajar kalau diberi kelonggaran dan difasilitasi dengan baik,” jelas Antonius, yang merupakan Anggota Komisi IV DPRD Medan.

Untuk itu, Antonius mengaku, akan berkoordinasi dengan pimpinan Komisi IV dan pimpinan DPRD Medan, agar menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Manajemen PT KAI, dalam mencari solusi dan memfasilitasi keluhan warga.

“Kami sangat mendukung adanya pembangunan dengan pelebaran rel kereta api, tapi juga harus memperhatikan nasib warga akibat dampak pembangunan,” imbaunya.

Menurut hasil pantauan Antonius, Sabtu (25/7), sebagian besar masyarakat hanya merenovasi bangunannya agar tidak mendekati rel sepanjang 6 meter ke kiri dan ke kanan.

“Sampai sekarang dan saya keliling di seputaran Jalan Sei Agul, masyarakat hanya merenovasi atau mengeser bangunan sesuai permintaan PJKA l, yakni 6 meter kiri-kanan. Khusus Jalan Pengayoman, ada rumah sama sekali habis, dan ada yang hanya bersisa 2 meter. Untuk RDP saya usulkan supaya secepatnya dibuat lintas komisi,” katanya.

Sebelumnya, puluhan perwakilan warga yang berdomisili di Jalan Pengayoman, pinggir rel Kelurahan Sei Agul, Kecamatan Medan Barat, sempat mendatangi rumah Antonius Tumanggor, Selasa (22/7) lalu, warga mengadu kepada Antonius dan berharap dapat memfasilitasi keluhan mereka.

Diceritakannya, seorang warga bernama Demson Situmorang menyampaikan, warga resah dengan adanya surat yang mereka terima dari pihak PT KAI, yang isinya meminta seluruh warga yang tinggal di sisi jalur kereta api dari KM 1+700 sampai dengan KM 4+800 lintas Medan-Binjai, supaya segera pindah dari rumahnya masing-masing. Hal itu harus dilakukan karena akan adanya penertiban bangunan warga yang berdiri di atas tanah negara, yang merupakan lahan/lokasi untuk pekerjaan penindakan jalur kereta api.

Di dalam surat tersebut, pihak PT KAI meminta masyarakat untuk membongkar sendiri bangunannya sesuai jarak batas yang ditentukan, paling lambat 27 Juli 2020. Apabila sampai waktu yang telah ditentukan tidak dibongkar, maka akan dilakukan penertiban dan segala risiko yang ditimbulkan akibat penertiban tersebut, sepenuhnya menjadi tanggung jawab masyarakat.

Atas hal itu, warga pun meminta waktu paling lama sampai Desember 2020 untuk mencari tempat tinggal baru. Kondisi pandemi di Kota Medan dan batas waktu yang sangat terbatas, membuat warga merasa kesulitan untuk pindah dalam waktu dekat. (map/saz)

Menang Gugatan di Mahkamah Partai, PWKSU: Bukti Meilizar Berhak Duduk di DPRD Sumut

BERSAMA: Sekretris PWKSU Nurlaily diabadikan bersama Ketua Unit Usaha PWKSU Yusliana Chaniago di Sekretariat PWKSU, Jalan Denai Medan.
BERSAMA: Sekretris PWKSU Nurlaily diabadikan bersama Ketua Unit Usaha PWKSU Yusliana Chaniago di Sekretariat PWKSU, Jalan Denai Medan.
 BERSAMA: Sekretris PWKSU Nurlaily diabadikan bersama Ketua Unit Usaha PWKSU Yusliana Chaniago di Sekretariat PWKSU, Jalan Denai Medan.
BERSAMA: Sekretris PWKSU Nurlaily diabadikan bersama Ketua Unit Usaha PWKSU Yusliana Chaniago di Sekretariat PWKSU, Jalan Denai Medan.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Keputusan Mahkamah Partai Demokrat dan Pengadilan Negeri Medan, membuktikan Meilizar Latif yang berhak duduk di DPRD Sumut Periode 2019-2024 dari Partai Demokrat, untuk Dapil Sumut 1, meliputi 11 kecamatan di Kota Medan.

Hal ini disampaikan Sekretris Persaudaraan Wanita Karya Sumatera Utara (PWKSU) Nurlaily, didampingi Ketua Unit Usaha PWKSU Yusliana Chaniago, saat ditemui wartawan di Sekretariat PWKSU, Jalan Denai Medan, akhir pekan lalu.

Nurlaily yakin, semua putusan sudah sesuai hukum berkeadilan dan aturan undang-undang yang berlaku. Dia juga mengharapkan, Meilizar segera dilantik sebagai anggota DPRD Sumut Pergantian Antar Waktu (PAW), sehingga dapat bekerja dan serap aspirasi kaum perempuan.

“Bunda Meilizar itu banyak menjadi pembina maupun penasehat di beberapa pengajian maupun majelis taklim perempuan, terutama di Medan Denai dan Medan Tembung, serta beberapa kecamatan yang ada di wilayah Medan. Jadi keterwakilan perempuan di DPRD Sumut sangatlah tepat diemban Bunda Meilizar, apalagi saat ini beliau Sekretaris DPD Partai Demokrat Sumut yang jarang sekali dijabat kaum perempuan,” tutur Nurlaily.

Terkait isu miring tentang status tersangka Meilizar dalam pusaran kasus korupsi mantan Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho, menurutnya, hal itu adalah pernyataan orang-orang yang tidak paham dan tidak mengetahui informasi serta tidak mengikuti berita.

“Banyak media, baik cetak, online, maupun elektronik, yang tak memuat ataupun memberitakan, Bunda Meilizar sebagai tersangka kasus itu. Artinya Bunda Meilizar memang tak terlibat,” kata Nurlaily lagi.

“Terakhir, saya dan pengurus serta anggota PWKSU di Sumut men-support dan mendoakan agar Bunda Meilizar kembali menduduki kursi DPRD Sumut berjalan lancar serta sukses, sesuai mekanisme yang ada,” harapnya. (adz/saz)

Kapolres Nias Dilaporkan ke Kapolri

GUNUNGSITOLI, SUMUTPOS.CO – Dua organisasi kemahasiswaan yakni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Gunungsitoli-Nias dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Gunungsitoli yang tergabung dalam kelompok Cipayung secara resmi mengadukan AKBP Deni Kurniawan selaku Kapolres Nias kepada Kepala Kepolisian Republik Indonesia di Jakarta.

Laporan organisasi kemahasiswaan itu terkait pelanggaran kode etik yang diduga dilakukan oleh AKBP Deni Kurniawan, dan kasus-kasus mangkrak selama menjabat Kepala Kepolisian Resor Nias, termasuk peristiwa kebakaran sekretariat Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Gunungsitoli pada tanggal 4 Mei 2019 yang lalu.

Peristiwa kebakaran itu menghanguskan kotak dan kertas suara Pemilu 2019, namun hingga kini penyebab dan pelaku belum terungkap.

“Selain pelanggaran kode etik, kami juga melaporkan kasus-kasus mangkrak di tangan pak Deni Kurniawan selama menjabat Kapolres Nias. Laporan tersebut tertanggal 15 Juli 2020 dan diterima Mabes Polri per tanggal 23 Juli 2020,” ungkap Ketua DPC GMNI Gunungsitoli-Nias Joko Puryanto Mendrofa kepada wartawan pada konferensi pers yang digelar di Sekretariat GMNI Jalan Yossudarso Desa Ombolata Ulu, Kota Gunungsitoli, pada Jumat(24/7).

“Laporan secara tertulis kami jukan kepada Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Idham Azis, dan tembusannya ke Kompolnas, Ombudsman RI, Karo SSDM Mabes Polri dan pengurus pusat masing-masing organisasi,” sambung Joko. (adl/ram)

Paparkan Perkembangan Covid-19 saat Pertemuan Kepala Daerah se Sumut, Bupati Dairi Pakai Produk Penenun Silalahi

BINCANG: Bupati Dairi, Dr Eddy Keleng Ate Berutu (kiri) berbincang dengan Gubsu Edy Rahmayadi saat pertemuan Bupati/Walikota se Sumut membahas penanganan covid-19. Dalam kesempatan itu, Eddy memakai baju serta peci kain hasil penenun Silalahi.
BINCANG: Bupati Dairi, Dr Eddy Keleng Ate Berutu (kiri) berbincang dengan Gubsu Edy Rahmayadi saat pertemuan Bupati/Walikota se Sumut membahas penanganan covid-19. Dalam kesempatan itu, Eddy memakai baju serta peci kain hasil penenun Silalahi.
BINCANG: Bupati Dairi, Dr Eddy Keleng Ate Berutu (kiri) berbincang dengan Gubsu Edy Rahmayadi saat pertemuan Bupati/Walikota se Sumut membahas penanganan covid-19. Dalam kesempatan itu, Eddy memakai baju serta peci kain hasil penenun Silalahi.
BINCANG: Bupati Dairi, Dr Eddy Keleng Ate Berutu (kiri) berbincang dengan Gubsu Edy Rahmayadi saat pertemuan Bupati/Walikota se Sumut membahas penanganan covid-19. Dalam kesempatan itu, Eddy memakai baju serta peci kain hasil penenun Silalahi.

DAIRI, SUMUTPOS.CO – Memenuhi undangan Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi untuk evaluasi penanggulangan covid-19 yang dilakukan Gugus Tugas Percepatan Penanganan covid-19 di masing-masing kabupaten/kota. Buoati Dairi, Dr Eddy Keleng Ate Berutu terlihat bangga menggunakan pakaian / baju serta peci kain hasil penenun dari Silalahi Kecamatan Silahisabungan.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Dairi, Rahmatsyah Munthe, mengatakan dalam pertemuan Gubsu, Edy Rahmayadi meminta Bupati Eddy KA Berutu yang juga Ketua GTPP Covid-19 Dairi untuk memaparkan penanganan Covid-19 di daerahnya.

“Dalam pertemuan tersebut, Bupati mengatakan sejak awal penyebaran Covid-19, Pemkab Dairi langsung intens melakukan koordinasi dengan Pemerintah Pusat dan Provinsi. Bahkan, persiapan pembentukan GTPP juga termasuk cepat,” ujarnya.

Hal tersebut dapat dilihat, di mana pada 16 Maret 2020 sudah terbentuk berdasarkan SK No.227/443.05/III/2020 dan SK No.227/43.05/III/tentang pembentukan GTPP covid-19 Kabupaten Dairi. Sejak dibentuk, tim langsung bergerak bersama Forkompinda serta memberdayakan lapisan masyarakat melakukan pencegahan penyebaran serta memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

“Pencegahan yang kita lakukan berupa penyemprotan desinfektan, mendirikan pos pemeriksaan di area pintu masuk perbatasan Kabupaten Dairi, mendirikan rumah singgah, mendirikan pos desa dan kecamatan, membuat berbagai sosialisasi komunikasi publik berupa penerapan protokol kesehatan di berbagai tempat-tempat publik dan banyak hal lainnya,” ucap Eddy.

Eddy juga menyampaikan pemaparan terhadap dampak ekonomi yang terjadi akibat pandemi corona berupa penurunan daya beli masyarakat, penurunan harga komoditi pertanian, kenaikan harga sembako dan hasil industri berupa minyak goreng dan gula pasir. Berkurangnya mata pencaharian masyarakat khususnya sektor transportasi dan pariwisata.

“Sementara untuk aksi penanggulangan telah kita lakukan diantaranya, operasi pasar sembako, penyiapan tenaga kerja berbasis masyarakat dan pemberian stimulus pengembangan tanaman pangan dan stimulus UMKM. Pembebasan pajak bagi pelaku bisnis dan UMKM.” Jelas Eddy. 

Pelaksanaan program jaring pengaman sosial yakni bantuan sosial tunai (BST) dari Kementerian Sosial  (Kemensos), BST APBD Dairi, Bansos Sembako dari Provinsi Sumut serta bantuan langsung tunai ( BLT) Dana Desa.

Eddy menegaskan, untuk percepatan penanganan Covid-19, GTPP Dairi memgedepankan transparansi dan keterbukaan informasi publik. Dimana, berbagai informasi telah disampaikan kepada masyarakat setiap harinya melalui media sosial. Baik itu perkembangan pasien yang positif maupun yang sudah sembuh.

“Termasuk media sosial yang dapat dijangkau oleh masyarakat Dairi diantaranya Facebook, Youtube, Instagram dan tabloid sehingga informasi yang didapat oleh publik utuh dan terhindar dari hoax, “ jelas Eddy. 

GTPP covid-19 Dairi juga memanfaatkan teknologi dalam penanganan Covid-19 yang ada di Kabupaten Dairi diantaranya aplikasi pendataan pengunjung, aplikasi bantuan sembako. 

Bupati Eddy mengatakan, saat ini sedang mengkaji penerapan adaptasi kebiasaan baru dan penerapan digitalisasi agar bisa segera dilakukan dalam waktu dekat ini penerapan transaksi non tunai, BPHTB Online Host to host, pasar daring BRI dan QR Code Indonesia Standart (QRIS).

Sementara itu, Gubsu Edy Rahmayadi dalam kesempatan itu menyampaikan banyak hal penting kepada Bupati/Wali Kota terkait penanganan Covid-19. Edi menegaskan, pandemi Corona telah berdampak terhadap bidang sosial dan ekonomi.

“Untuk dampak ekonomi, yakni tingginya angka inflasi, sementara dampak sosial diprrdiksi tingkat kemiskinan akan naik akibat Covid-19. Dibutuhkan strategi dan langkah yang harus kita lakukan di masing-masing daerah oleh GTPP covid-19,” ujar Gubsu. 

Termasuk langkah strategis yang harus disiapkan dari bulan Juli hingga September mendatang, berupa persiapan adaptasi kebiasaan baru, refocusing, dan realisasi belanja semester. 

“Dan hal paling penting yang perlu diatur adalah proses belajar tatap muka di sekolah dan pesantren,” ujar Edy Rahmayadi. (rud/ram)