24 C
Medan
Wednesday, April 8, 2026
Home Blog Page 4141

PKS Sumut: Djarot Tak Usah Gelisah

Ketua DPW PKS Sumut, Haryanto.
Ketua DPW PKS Sumut, Haryanto.
Ketua DPW PKS Sumut, Haryanto.
Ketua DPW PKS Sumut, Haryanto.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Plt Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut, Djarot Syaiful Hidayat baru-baru ini mengeluarkan stateman yang dinilai menyinggung PKS. Dia menyebut, mantan Gubernur Sumut yang diusung PKS, Gatot Pujo Nugroho sebagai dalang dari kasus suap yang menyeret puluhan mantan anggota DPRD Sumut, termasuk mantan Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut, Japorman Saragih ke penjara.

DPW PKS Sumut hanya membalas sindiran Djarot yang juga Ketua DPP Bidang Ideologi dan Kaderisasi PDI Perjuangan, dengan sebuah pantun. “Ada batu janggut di Petisah. Dibawa untuk hadiah buat sang gajah. Abangda Djarot tidak usah gelisah. Siapa yang menang Pilkada, sudah ada di langit sana,” kata Ketua DPW PKS Sumut, H Hariyanto mengawali wawancara via seluler dengan Sumut Pos, akhir pekan lalu.

Menurut dia, pernyataan anggota DPR yang sebelumnya gagal memenangkan kontestasi Pemilihan Gubernur Sumut 2018 tersebut, adalah dalam rangka menyongsong Pilkada Medan 2020 yang telah di depan mata. “Cocoknya itu. Kan mau dekat-dekat Pilkada-nya muncul (pernyataan kontroversial, Red) dia itu,” kata Harianto tertawa.

Di samping pantun tersebut, Hariyanto hanya ingin menanggapi santai dan menyampaikan beberapa poin atas tuduhan mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut, yang membawa-bawa PKS pasca terjadi penahanan 11 eks DPRD Sumut, di mana termasuk satu diantaranya ialah, kader partai banteng moncong putih, Japorman Saragih.

“Pertama begini, kita inikan hidup di negara merdeka dan kemudian fiturnya demokrasi. Setiap orang tentu punya pendapat, setiap orang punya sikap. Jadi orang itu mau dia korupsi, mau tidak korupsi, itukan pilihan pribadi. Janganlah kita salahkan orang lain ketika sudah terjadi korupsi itu. Karenanya janganlah bawa partai-partai, janganlah bawa-bawa orang lain,” ujar anggota DPRD Sumut periode 2019-2024 tersebut.

Menurut dia, sangat tidak bijak ada pernyataan seperti Djarot tersebut yang terkesan menyudutkan pihak tertentu dalam kasus suap berjamaah selama periode Gatot yang notabene kader PKS saat memimpin Sumut. “Itu oknum ya, jadi sangat tidak bijaklah pernyataan tersebut dilontarkan. Harusnya kita introspeksi diri, jangan langsung menyalahkan orang lain. Karena korupsi ini adalah masalah kita bersama sebab dampaknya buat pribadi, keluarga, dan masyarakat jelek sekali. Cuma manusia ada khilaf dan salah, maka jadilah itukan,” katanya.

Paling penting, sambung dia, ke depan semua pihak termasuk partai politik yang merupakan lokomotif pencetakan para pemimpin daerah dan bangsa, mesti mampu meminimalisir peristiwa korupsi ini sehingga tidak terulang lagi. “Kita semua sebagai anak bangsa ini, tentu harus saling mengingatkan supaya perilaku-perilaku macam itu tidak terulang kembali. Kita ambil pelajaran dari masa-masa lalu yang sudah terjadi tersebut,” katanya.

Poin selanjutnya, sebut dia, korupsi ini bahasa kampungnya adalah ‘sogok menyogok’. Tentu ada sebab akibat kenapa hal tersebut dapat terjadi. “Kenapa gubernur sampai menyogok anggota dewan, ya tentunya ada kondisi yang memaksa dia melakukan itu. Tau sendirilah kita kalau masalah APBD, LKPJ, kayak ada tekan menekan. Jadi sebetulnya tak bisa juga kawan (Gatot) itu disalahkan dalam hal ini,” katanya.

Meski demikian, pihaknya kembali mengingatkan semua stakeholder dan elemen masyarakat atas kejadian memilukan tersebut sebab semakin mencoreng citra Sumut sebagai provinsi korup di Indonesia. “Artinya mari kita ambil pelajaran, kita tidak ingin terjadi, dan kita pun sangat percaya dengan aparat hukum. Mereka tidak tendensius, amanah, dan melakukan segala sesuatu berdasarkan kewenangan yang dimiliki. Kita tentu mendukung aparat penegak hukum membersihkan perilaku-perilaku tak terpuji tersebut, baik di legislatif ataupun eksekutif,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Djarot Saiful Hidayat sebelumnya menyebut dalang kasus korupsi itu adalah Gatot yang saat itu diusung PKS. “Kita harus ingat, dalang utama pusaran korupsi itu, mantan gubernur yang diusung oleh PKS,” katanya dalam keterangan tertulis kepada wartawan, pekan lalu.

Pada Pilkada 2013, PKS memang menjadi salah satu partai pengusung Gatot yang berpasangan dengan Tengku Erry Nuradi. Paslon ‘Ganteng’ saat itu menang mengalahkan empat paslon lain termasuk jagoan PDIP, Effendi Simbolon-Djumiran Abdi.

Djarot juga meminta kasus dugaan suap dari Gatot diusut tuntas. Dia mengatakan PDIP punya komitmen pemberantasan korupsi. “Mulai dari ASN-nya, sekretaris dewan, sekda provinsi, kepala Biro Keuangan, semuanya harus diusut tuntas pelaku tindak pidana korupsi ini,” ujarnya. (prn)

Update Kasus Covid-19 di Sumut: Sembuh 20 Orang, Positif Tambah 19 Orang

SUMUTPOS.CO – KASUS positif Covid-19 di Indonesia nyaris menyentuh angka 100 ribu kasus. Pada Minggu (26/7) kemarin, jumlah kasus positif bertambah 1.492 kasus. Sehingga totalnya menjadi 98.778 kasus positif Covid-19. Sementara di Sumatera Utara (Sumut), untuk pertama kalinya penambahan jumlah pasien sembuh lebih tinggi dari kasus baru.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut, dr Whiko Irwan D SpB, Minggu (26/7) sore menyebutkan, pasien sembuh bertambah 20 pasien, sehingga totalnya menjadi 017 orang.

Sedangkan kasus baru, hanya bertambah 19 orang, menjadi 3.390 orang. Sementara pasien yang meninggal dunia bertambah 4 orang dan totalnya kini menjadi 180 orang. Dan total pasien konfirmasi covid-19 yang dirawat sebanyak 2.313 orang.

Dan jumlah kasus suspek (dalam pengawasan) sebanyak 378 orang atau bertambah 12 orang dari Jumat kemarin. Jumlah spesimen swab yang diperiksa sebanyak 20.059 sampel. Lebih lanjut dr Whiko mengatakan, pertambahan 20 orang yang sembuh itu, berasal dari Medan 15 orang, Deli Serdang 1 orang, Tapanuli Utara 1 orang, dan Toba 2 orang, serta Serdang Bedagai 1.

Kemudian pertambahan 19 kasus baru berasal dari Medan 14 orang, Deliserdang 3 orang, Karo 1 orang dan Simalungun 1 orang. Pertambahan 4 orang yang meninggal dunia dari Medan 3 orang dan Deliserdang 1 orang.

Positif Covid-19 di Karo Tembus 50 Orang

Dalam sebulan terakhir, warga Kabupaten Karo yang positif Covid-19 terus bertambah. Terhitung sejak 30 Juni hingga 24 Juli 2020, pasien positif telah menembus angka 50 orang.

Data ini di-update dari laman resmi Facebook milik Dinas Kominfo Karo, ada sebanyak 50 orang dan 19 orang dinyatakan sembuh. Sedangkan 5 warga lainnya yang dinyatakan telah meninggal dunia berasal dari Kecamatan Kabanjahe, Tigapanah, Berastagi, Kutabuluh dan Kecamatan Munthe.

Begitupun dengan pasien dalam pengawasan (PDP) ada sebanyak 5 orang, orang tanpa gejala (OTG) tidak ditemukan. Namun hingga saat ini, masih ada 15 orang yang terpantau sebagai orang dalam pemantauan (ODP).

Selanjutnya orang sebagai pelaku perjalanan (PP) terpantau ada sebanyak 465 orang. Tentunya dari adanya laporan yang ada, pemda Karo wajib ekstra bekerja untuk memutus mata rantai penyebaran virus.

Untuk diketahui, wilayah kasus positif penyebaran Covid-19 di Karo yang menduduki peringkat teratas yakni Kecamatan Kabanjahe dan Berastagi. Di Kecamatan Kabanjahe sendiri, ada 27 orang dan 10 orang dari Kecamatan Berastagi dinyatakan positif terjangkit.

Sementara di Kecamatan Simpang Empat ada 2 orang, Tigapanah 1 orang, Merek 1 orang, Merdeka 1 orang, Dolatrayat 1 orang, Barusjahe 1 orang, Munthe 1 orang, Tiganderket 1 orang, Kutabuluh 1 orang, Laubaleng 1 orang dan Kecamatan Mardinding ada 2 orang. Melihat kondisi penambahan kasus positif Covid-19 yang terus meningkat. Pemerintah Daerah secepatnya mengambil langkah-langkah yang lebih riil. (bbs/deo)

Heboh! Jenazah Suspect Covid-19 Dikafani Masih Pakai Daster

PAKAI DASTER: Jenazah pasien suspect Covid-19 saat dimakamkan masih mengenakan daster yang viral di media sosial, Minggu (26/7).
PAKAI DASTER: Jenazah pasien suspect Covid-19 saat dimakamkan masih mengenakan daster yang viral di media sosial, Minggu (26/7).
PAKAI DASTER: Jenazah pasien suspect Covid-19 saat dimakamkan masih mengenakan daster yang viral di media sosial, Minggu (26/7).
PAKAI DASTER: Jenazah pasien suspect Covid-19 saat dimakamkan masih mengenakan daster yang viral di media sosial, Minggu (26/7).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pengguna sosial media (sosmed) tengah dihebohkan dengan foto dari seorang jenazah pasien suspect Covid-19 yang dimakamkan masih mengenakan daster.

Informasi yang berkembang menyebutkan, pasien itu dikuburkan melalui protokol Covid-19 di Pemakaman Suka Maju Jalan STM, Medan Johor, setelah dinyatakan meninggal di RS Sembiring. Namun, karena peti tidak muat, keluarga lalu membuka petinya, sehingga terlihat jenazah pasien tersebut masih menggunakan daster yang dibungkus kain kafan.

Lurah Suka Maju, Harry Agus Perdana yang dikonfirmasi membenarkan adanya peristiwa ini. Diceritakannga, awal mula pasien ini masuk ke RS Sembiring pada Kamis (23/7) karena historis penyakit jantung. Akan tetapi, pada Jumat (24/7) subuh pasien tersebut dinyatakan meninggal. “Tapi (memang) itu belum dipastikan Covid-19 atau tidak. Informasi yang kami terima dari rumah sakit, warga kita yang meninggal hasil rapid test-nya reaktif,” ungkapnya kepada wartawan, Minggu (26/7).

Karena reaktif hasil rapid test Covid-19, pihak rumah sakit lalu mengarahkan keluarga agar pemakamannya dilakukan sesuai protokol pemulasaran jenazah Covid-19. Meskipun awalnya menolak, namun belakangan keluarga menerima dengan kesepakatan penguburan dilakukan di pemakaman keluarga dan tetap dilakukan sesuai protokol Covid-19. “Waktu proses pemakaman awal tidak ada masalah, tapi info yang diterima dari keluarga bahwa petinya tidak muat. Lalu, oleh pihak keluarga petinya dibongkar, sehingga nampaklah jenazah yang masih berdaster itu,” terang Harry.

Keluarga yang mengetahui, kata Harry, beranggapan jika jenazah almarhum belum dimandikan sehingga pemakamannya tidak sesuai fardhu kifayah. Akan tetapi, sambung dia, di lapangan setelah ditanyakan, petugas RS Sembiring mengaku bahwa mereka sudaj memandikan jenazah tersebut. “Keinginan keluarga untuk memandikan jenazah pun saya tolak, dan pemakaman tetap dilanjutkan sesuai protokol Covid-19. Karena kalau dikeluarkan dari peti, kan tidak (sesuai) protokol lagi,” tukasnya.

Terpisah, Sekretaris Dinas Kesehatan Sumut dr Aris Yudhariansyah yang dikonfirmasi terkait kejadian ini mengatakan, bahwasanya berdasarkan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun 2020 tentang prosedur memandikan jenazah yang terpapar Covid-19 dapat dimandikan tanpa harus dibuka pakaiannya. Sedangkan apabila jenazah tidak bisa dimandikan, dapat digantikan dengan tayamum. “Jadi diperbolehkan, tidak ada masalah. Kan mayat (pasien Covid-19) itu tidak boleh diapa-apain kalau sudah meninggal. Siapa lagi yang berani membuka bajunya,” ujarnya.

Begitu juga, lanjut Aris, seusai fatwa tersebut, jenazah juga boleh dikafani dalam keadaan berpakaian. Hal ini dilakukan untuk menghindari penularan, karena cairan jenazah pasien Covid-19 dapat menularkan. “Kalau peti jenazah itu dibongkar, malah akan terjadi kesalahan prosedur dalam pemakaman. Makanya, ini tidak boleh,” tandasnya.

SGTPP Sumut Tepis Tudingan RS ‘Covid-kan’ Pasien

Satuan Gugus Tugas Percepatan Penanganan (SGTPP) Covid-19 Sumut menepis tudingan kabar rumah sakit (RS) rujukan Covid-19 ‘meng-covid-kan’ pasien. Dengan kata lain, salah diagnosis. Menurut Jubir SGTPP Covid-19 Sumut Mayor Kes dr Whiko Irwan, kabar tersebut tidak benar.

Kata dia, setiap rumah sakit terdapat tim penanggulangan Penyakit Infeksi Emerging yang menentukan, apakah pasien ini Covid-19 atau bukan Covid-19. “Rumah sakit rujukan Covid-19 memiliki kriteria yang jelas untuk menyatakan seseorang terpapar Covid-19. Diantaranya, batuk, demam, sesak. Ada juga dengan pemeriksaan radiologi, rontgen paru. Bahkan, pemeriksaan lain seperti rapid test, tes darah, atau sebagai standarnya adalah swab PCR,” kata Whiko kepada wartawan, Minggu (26/7)

Disebutkan Whiko, terkait pemakaman jenazah khusus Covid-19 dilakukan dengan adanya protokol kesehatan. Ada kriteria jenazah yang akan dimakamkan di pemakaman khusus Covid-19. “Jenazah penderita Covid-19 itu adalah penderita yang dengan konfirmasi positif atau Covid-19 positif. Pemakamannya melaksanakan pemulasaran jenazah,” ungkapnya.

Selain penderita konfirmasi positif, dia melanjutkan, penderita proable (pasien dalam pengawasan). Walaupun belum ada hasil swab, tapi pasien dirawat sebagai penderita suspek Covid-19. Selanjutnya, penderita yang datang ke rumah sakit dan dalam kasus suspek. Misalkan, ada kontak erat atau sebelumnya ada keluhan-keluhan maupun gejala seperti penderita Covid-19.

“Diimbau kepada masyarakat agar memperkuat komunikasi agar tidak terjadi kesalahpahaman dengan pihak rumah sakit rujukan Covid-19. Bagi pihak rumah sakit rujukan, harus memberikan keterangan yang jelas terhadap keluarga terkait keadaan pasien, dengan menjelaskan secara rinci hasil pemeriksaan,” tukasnya. (ris)

Alhamdulillah, Prof Runtung Negatif Covid-19, Setelah Isolasi Mandiri Selama 14 Hari

SEMBUH: Rektor USU, Runtung Sitepu sembuh dari Covid-19.
SEMBUH: Rektor USU, Runtung Sitepu sembuh dari Covid-19.
SEMBUH: Rektor USU, Runtung Sitepu sembuh dari Covid-19.
SEMBUH: Rektor USU, Runtung Sitepu sembuh dari Covid-19.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Setelah menjalani dua kali tes swab selama menjalani isolasi mandiri, akhirnya Rektor Universitas Sumatera Utara (USU), Prof Runtung Sitepu dinyatakan sudah negatif Covid-19. Hal tersebut disampaikan Prof Runtung Sitepu dalam keterangan tertulis melalui pesan Whatsapp diterima Sumut Pos, Minggu (25/7).

“Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT, setelah menjalani isolasi mandiri selama 14 hari sejak dinyatakan positif Covid-19, 10 Juli yang lalu. Kini, saya dinyatakan negatif hasil swab,” kata Runtung.

Dijelaskannya, hasil swab pertama pada 14 Juli 2020 dia dinyatakan negatif Covid-19. Kemudian pada tes swab kedua pada 24 Juli 2020, hasilnya juga menunjuk negatif.

“Makanya saya sudah bisa mengakhiri masa isolasi mandiri terhitung sejak Sabtu, 25 Juli 2020,” ungkapnya. Runtung juga mengungkapkan, selama ia menjalani isolasi mandiri, banyak mendapat dukungan dan semangat dari keluarga dan para rekan kerjanya. Karenanya, ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak.

“Kepada semua yang turut mendoakan dan memberi semangat, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Semoga Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuasa membalasnya dengan rezeki berlipat ganda kepada ibu, bapak, saudara dan sahabat sekalian,” ujarnya.

Diketahui, Prof Runtung Sitepu dinyatakan positif Covid-19 dengan status orang tanpa gejala. Kemudian, istri, anak, menantu, dan cucunya setelah dilakukan tes swab di Labotorium RS USU, dinyatakan negatif.

Selain Runtung, Wakil Rektor I USU, Prof Rosmayati dan suaminya, merupakan anggota Majelis Wali Amanat USU, Prof Darma Bakti juga dinyatakan positif Covid-19. Keduanya, orang tanpa gejala dan tengah menjalani perawat di RS Columbia Asia.

Karena semakin banyak dosen yang dinyatakan terpapar Covid-19, membuat aktivitas pelayanan administrasi dan operasional di Kampus USU ditutup sementara (lockdown), sejak 27 Juli hingga 2 Agustus 2020. Runtung mengatakan, penutupan operasional sementara itu, berdasarkan surat edaran disampaikan oleh Rektor USU nomor : 3969/UN5.1/R/KPM/2020.

“Menyikapi kondisi akhir-akhir ini. Dimana, semakin benyak Dosen USU yang dinyatakan positif Covid-l9. Bahkan telah ada yang meninggal dunia, maka untuk mengantisipasi demi keselamatan kita bersama,” tandas Runtung.

Kepala Kantor Humas, Promosi dan Protokoler USU Elvi Sumanti mengatakan, penutupan operasional Kampus USU tidak mengganggu penerima mahasiswa baru melalui jalur mandiri.”Tidak, kita melaksanakan tes masuk jalur mandiri pada 31 Agustus 2020. Hingga saat ini, belum ada perubahan,” kata Elvi, kemarin. Sedangkan, aktivitas perkuliahan dilakukan secara daring sejak ditemukan kasus penyebaran COVID-19 di Indonesia. Termasuk wisuda USU dilaksanakan juga digelar daring, Senin (20/7) lalu. (gus)

Akhyar Nasution Hengkang, Demokrat-PDIP Saling Sindir

SALAM KOMANDO: Akhyar Nasution salam komando dengan Ketua Bappilu DPP Partai Demokrat, Andi Arief, didampingi Wasekjend DPP Demokrat Irwan, Plt Ketua DPD Partai Demokrat Sumut Herri Zulkarnain Hutajulu, Ketua DPC Partai Demiokrat Medan Burhanuddin Siteou dan lainnya di kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta, 14 Juni 2020 lalu.
SALAM KOMANDO: Akhyar Nasution salam komando dengan Ketua Bappilu DPP Partai Demokrat, Andi Arief, didampingi Wasekjend DPP Demokrat Irwan, Plt Ketua DPD Partai Demokrat Sumut Herri Zulkarnain Hutajulu, Ketua DPC Partai Demiokrat Medan Burhanuddin Siteou dan lainnya di kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta, 14 Juni 2020 lalu.
SALAM KOMANDO: Akhyar Nasution salam komando dengan Ketua Bappilu DPP Partai Demokrat, Andi Arief, didampingi Wasekjend DPP Demokrat Irwan, Plt Ketua DPD Partai Demokrat Sumut Herri Zulkarnain Hutajulu, Ketua DPC Partai Demiokrat Medan Burhanuddin Siteou dan lainnya di kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta, 14 Juni 2020 lalu.
SALAM KOMANDO: Akhyar Nasution salam komando dengan Ketua Bappilu DPP Partai Demokrat, Andi Arief, didampingi Wasekjend DPP Demokrat Irwan, Plt Ketua DPD Partai Demokrat Sumut Herri Zulkarnain Hutajulu, Ketua DPC Partai Demiokrat Medan Burhanuddin Siteou dan lainnya di kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta, 14 Juni 2020 lalu.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sinyal kuat yang diberikan DPP PDI Perjuangan untuk mengusung Bobby Nasution di Pilkada Medan, membuat Akhyar Nasution hengkang dari partai berlambang banteng gemuk bermoncong putih itu. Akhyar pun melabuhkan pilihannya ke Partai Demokrat, yang siap mengusung dirinya di Pilkada Medan bersama PKS. Dampaknya, petinggi kedua parpol tersebut saling sindir.

KETUA Bappilu Partai Demokrat, Andi Arief menegaskan, hengkangnya eks Politisi PDI Perjuangan yang juga Plt Wali Kota Medan, Akhyar Nasution ke Partai Demokrat merupakan keinginannya sendiri. Andi menegaskan, berpindahnya Akhyar terjadi pada Juni dan resmi menjadi kader Demokrat dan sudah memiliki kartu anggota.

Dia pun menampik spekulasi berpindahnya Akhyar yang tak diketahui PDIP, karena dibajak atau ajakan dari Partai Demokrat. “Sejak Juni, karena keinginan sendiri berjuang bersama Partai Demokrat. Dan kita tidak pernah mau membajak,” kata Andi kepada wartawan, akhir pekan lalun

Kepindahan Akhyar Nasution ke partai berlambang mercy itu juga sudah disampaikan Andi melalui foto yang disertakan caption dukungan yang bersangkutan, untuk maju Pilkada Medan dari koalisi Demokrat dan PKS. “Pilkada Kota Medan 2020, sah. Koalisi Rakyat (Demokrat-PKS) menghadapi koalisi raksasa pendukung mantu Pak Presiden Jokowi,” tulis Andi Arief dalam Twitternya.

Hal senada juga dikatakan, Presiden PKS Sohibul Iman, pihaknya akan bekerjasama dengan Partai Demokrat untuk mengusung Akhyar Nasution di Pilkada Kota Medan. “Tetapi yang sudah tersampaikan adalah mereka sekarang sedang komunikasi politik untuk mengusung calon di luar sedang runding yang menguat adalah Pak Akhyar dan ini yang dikomunikasikan oleh PKS dengan Demokrat,” ujar Sohibul di kantor DPP PKS, Jakarta, Jumat (24/7) lalu.

Sohibul mengatakan, Akhyar kini sudah menjadi kader Partai Demokrat. Diketahui sebelumnya, Plt Wali Kota Medan itu merupakan Wakil Ketua DPD PDIP. “Karena Pak Akhyar sudah masuk menjadi kader Demokrat dan ini mudah-mudahan menjadi koalisi Demokrat dan PKS,” kata dia.

Sohibul bilang, kursi PKS dan Demokrat untuk mengusung Akhyar sudah mencukupi. “Kalau PKS dan Demokrat sudah cukup bisa berlayar,” ucapnya.

Menyikapi kesepakatan yang telah tercapai antara Demokrat dan PKS, Plt Ketua DPD Partai Demokrat Sumut Herri Zulkarnain berharap, PKS menunjuk Wakil Ketua DPRD Sumut, Salman Alfarisi sebagai calon Wakil Wali Kota Medan mendampingi Akhyar. “Akhyar-nya sudah final (jadi calon wali kota). Dia pengalaman, dia melanjutkan. Ya, artinya Demokrat dan PKS itu berkoalisi lah. Koalisi Kerakyatan,” kata Herri kepada wartawan, Minggu (26/7).

Herri menilai, Salman sebagai orang yang tepat mendampingi Akhyar. Sebab, sebut Herri, Salman mengetahui seluk-beluk Kota Medan. “PD berharap PKS (tunjuk) Salman Alfarisi lah, karena dia sudah pengalaman, Wakil Ketua DPRD Provinsi Sumut. Dia juga di Medan. Jadi, sudah tahu bagaimana Kota Medan ini,” terang Herri.

Djarot Sindir Akhyar

Pada kesempatan yang berbeda, Plt Ketua DPD PDIP Sumut Djarot Saiful Hidayat menanggapi berpindahnya Akhyar Nasution ke Partai Demokrat. Menurut Djarot, berpartai sama dengan bernegara, yang perlu dilandasi oleh ketaatan pada konstitusi, hukum, dan etika politik. Akhyar dituding mengambil langkah pragmatis. “Kader partai harus berdisiplin dan berpolitik itu untuk pengabdian yang lebih besar, bukan untuk berburu kekuasaan politik. Karena itulah langkah pragmatis yang dilakukan Saudara Akhyar Nasution dengan pindah ke Partai Demokrat justru ditempatkan sebagai bagian konsolidasi kader,” kata Djarot dalam keterangan tertulisnya yang diterima Sumut Pos, kemarin.

Dalam konsolidasi tersebut, lanjut Djarot, ada kader yang lolos karena memiliki kesabaran revolusioner. Namun ada yang gagal karena ambisi kekuasaan. “Yang bersangkutan (Akhyar) masuk pada kategori kedua. Partai akan memberikan sanksi disiplin karena anggota partai tidak boleh memiliki keanggotaan ganda dengan partai lain,” ujar Djarot.

Anggota Komisi II DPR RI itu mengatakan, PDIP melakukan seleksi yang ketat terhadap setiap calon kepala daerah. Menurutnya, PDIP tidak akan pernah mencalonkan orang-orang yang memiliki persoalan hukum. Djarot kemudian menyinggung soal kasus korupsi mantan Gubernur Sumut yang diusung PKS, Gatot Pujo Nugroho. “PDI Perjuangan belajar dari kasus korupsi berjemaah yang dilakukan oleh mantan Gubernur Sumut yang diusung PKS, Gatot Pujo Nugroho, yang melebar ke mana-mana. Kasus korupsi yang melibatkan mantan Wali Kota Medan Tengku Dzulmi Eldin dikhawatirkan memiliki konsekuensi hukum ke yang lain,” urai Ketua DPP PDIP Bidang Ideologi dan Kaderisasi tersebut.

Djarot menjelaskan PDIP mencatat Akhyar Nasution pernah diperiksa terkait dugaan penyelewengan anggaran Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-53 tingkat Kota Medan tahun 2020 di Jalan Ngumban Surbakti, Kelurahan Sempakata, Kecamatan Medan Selayang, sebesar Rp 4,7 miliar. Hal itu menjadi pertimbangan penting mengapa partai tidak mencalonkannya.

“Betapa bahayanya ketika MTQ saja ada dugaan disalahgunakan. Mungkin dengan bergabung ke partai tersebut, yang bersangkutan ingin mencitrakan ‘katakan tidak pada korupsi’ yang pernah menjadi slogan partai tersebut,” sindir Djarot.

Djarot Disarankan Urus Japorman

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Jansen Sitindaon merespons pernyataan Djarot Syaiful Hidayat soal penyelewengan anggaran yang diduga dilakukan oleh Plt Wali Kota Medan, Akhyar Nasution. Jansen menyatakan, Akhyar hanya pernah diperiksa sebagai saksi dalam dalam kasus penyelewengan anggaran MTQ ke-53 tingkat Kota Medan 2020 di Jalan Ngumban Surbakti, Kelurahan Sempakata, Kecamatan Medan Selayang sebesar Rp4,7 miliar.

Menurutnya, Akhyar tidak dalam posisi pengguna anggaran atau kuasa pengguna anggaran dalam penggunaan anggaran MTQ ke-53 tingkat Kota Medan 2020. “Kalau soal MTQ yang dituduhkan Djarot ke Akhyar, yang saya tahu Akhyar dipanggil sebagai saksi ya, karena dia bukan pengguna anggaran dan juga bukan kuasa pengguna anggaran karena dia hanya Plt Wali Kota saja. Jadi, jika pun itu misalnya bermasalah, Akhyar tidak ada urusan dengan anggaran itu,” kata Jansen.

Namun, dia tak mau menjelaskan lebih detail terkait posisi Akhyar dalam kasus tersebut. Jansen mempersilakan Akhyar memberikan pernyataan lengkap terkait tersebut karena menyangkut nama baiknya. Lebih jauh, Jansen mengatakan, langkah Djarot mengungkit penyelewengan anggaran yang diduga dilakukan oleh Akhyar tidak elok. Apalagi, langkah tersebut sampai membawa jargon katakan tidak pada korupsi.

Jansen pun menyarankan Djarot mengurusi mantan Ketua DPD PDIP Sumut Japorman Saragih yang sudah ditahan KPK karena tersangkut kasus suap yang menjerat mantan Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho terkait kasus suap pengesahan APBD 2013.

Sebagai Plt Ketua DPD PDIP Sumut yang menggantikan Japorman, menurutnya, Djarot seharusnya fokus saja mengurusi teman yang lagi kesusahan. “Lebih baik, saran saya, Djarot urusi saja itu Japorman Saragih yang kemarin sudah ditahan KPK. Kalau soal korupsi, rasanya itu urusan Djarot yang di depan mata. Bukan malah nyambar ke mana-mana,” ujar Jansen.

Jansen juga mengajak semua pihak untuk berpolitik dengan etika jelang penyelenggaraan Pilkada Serentak 2020 demi kebaikan demokrasi di Indonesia. Ia pun mengaku heran melihat PDIP dengan koalisi partai politiknya yang kemungkinan mengusung menantu Presiden Joko Widodo, Bobby Nasution masih takut dengan koalisi Demokrat-PKS yang akan mengusung Akhyar. “Demokrat telah memberi alternatif pilihan bagi publik di Kota Medan. Biarlah nanti masyarakat yang menentukan pilihannya. Masa koalisi yang sudah segemuk itu masih takut dengan koalisi rakyat yang hanya didukung dua partai saja,” tutur Jansen.

Sementara Wasekjen Partai Demokrat, Irwan menilai, Djarot terbawa perasaan alias baper. “Pernyataan Pak Djarot itu biasa saja bagi saya. Semacam baper saja, sebentar juga akan move on,” kata Irwan.

“Terbawa perasaan, semacam ditinggalkan kekasih. Tetapi seperti biasa seharusnya kekasih boleh pergi tetapi hati tidak boleh kemudian membenci,” sambungnya.

Dia menilai logika Djarot menyindir Akhyar berburu kekuasaan dengan bergabung ke PD di Pilkada Medan itu terbalik. Menurutnya, Akhyar justru meninggalkan kemapanan dan kekuasaan yang diraih di PDIP. “Kalau menurut saya sih logika Pak Djarot kebalik. Pak Akhyar itu bukan berburu kekuasaan tetapi meninggalkan kemapanan dan kekuasaan yang diraihnya selama ini,” tandas Irwan.

PDIP Medan Sayangkan Keputusan Akhyar

DPC PDIP Medan menyayangkan keputusan Akhyar Nasution berpindah ke Partai Demokrat. Namun begitu, kader PDIP Medan mengaku tidak ambil pusing dengan sikap politik yang dipilih Akhyar Nasution dan menilai, apa yang dilakukan Plt Wali Kota Medan itu adalah sah-sah saja. “Sebenarnya cukup kita sayangkan, tapi kembali lagi, itu pilihan politik Bang Akhyar, dan sah-sah saja,” kata Bendahara DPC PDIP Medan, Boydo HK Panjaitan kepada Sumut Pos, Minggu (26/7).

Dijelaskan Boydo, yang cukup disayangkan tersebut adalah sikap Akhyar yang memilih untuk berpindah ke Partai Demokrat guna mendapatkan dukungan sebagai calon Wali Kota Medan. Padahal, DPP PDIP sendiri belum memutuskan akan mendukung siapa di Pilkada Medan 2020. “Yang kita sayangkan ya itu, harusnya tunggu saja dulu keputusan DPP. Tapi sebagai teman, saya hargai pilihan Bang Akhyar,” jelasnya.

Terkait sikap Akhyar yang disebut belum memberikan surat pengunduran dirinya kepada pengurus partai besutan Megawati Soekarno Putri tersebut, mantan Ketua Komisi III DPRD Medan itu mengaku tidak tahu. “Bang Akhyar itu bukan pengurus DPC, dia pengurus DPD (PDIP Sumut) sebagai Wakil Ketua. Jadi kalau soal itu DPD yang lebih tahu,” tandasnya.

Sekretaris DPC PDIP Medan, Robi Barus juga mengaku sudah mengetahui kepindahan Akhyar Nasution ke Partai Demokrat. “Semua juga sudah tahu, kan foto-fotonya pakai baju partai berwarna biru itu sudah jelas, sudah banyak tersebar di media sosial. Ya itu artinya Akhyar sekarang sudah ‘biru’, Akhyar sudah tidak ‘merah’ lagi,” jawabnya.

Namun begitu, Robi mengaku PDIP tidak ambil pusing dengan keputusan yang diambil oleh Akhyar Nasution. Menurutnya, PDIP tetap akan maju dengan sikap-sikap politiknya tanpa Akhyar sekalipun. “Ya silakan saja, itu hak beliau lah, setiap orang kan bebas mengambil pilihan politiknya. Kami di DPC tetap patuh dan tegak lurus dengan perintah DPP,” pungkasnya.

PDIP Dinilai Transaksional

Akademisi UINSU, Rholand Muary menilai, keputusan PDIP yang lebih memilih Bobby Afif Nasution sebagai calon Wali Kota Medan, ketimbang Akhyar Nasution yang merupakan kader tulen partai banteng membuktikan bahwa PDIP tidak jauh berbeda dengan partai lain, yakni transaksional. Menurutnya, saat ini Akhyar Nasution memiliki posisi strategis di pemerintahan, karena menjabat Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Medan, atau petahana. “Apa yang terjadi pada Akhyar menunjukkan bahwa seorang kader tulen dan loyalitas kepada partai dan punya posisi strategis di pemerintahan belum tentu juga didukung oleh partainya sendiri,” ujarnya, ketika dimintai tanggapan, Minggu (26/7)

“Ini membuktikan, budaya politik di PDIP sangat sentralistik dan juga sangat transaksional,” sebutnya.

Rholand menyebut, selama ini publik menilai Akhyar Nasution banyak berperan penting membela partainya dari isu negatif saat kontestasi pemilu serentak 2019. Dengan keputusan PDIP yang memilih mendukung Bobby Afif Nasution yang notabene ‘anak baru’, wajar menimbulkan kekecewaan hingga pada akhirnya Akhyar Nasution memilih berpaling.

“Tentu ada kekecewaan tersendiri bagi Akhyar, apalagi selama ini, beliau menjadi kader PDIP dari bawah, dan terkesan PDIP juga yang meninggalkannya karena tidak mendukungnya dari awal karena kehadiran Bobby Nasution,” ungkapnya. (bbs/adz/map)

Camat Sibirubiru Tabur Benih Ikan di Sungai Wisata Namosuro

SAMBUTAN: Camat Sibiru biru Dhani Mulyawan saat memberikan sambutan pada memberikan arahan di acara peresmian kelompok sadar wisata di Desa Namosuro, Kecamatan Sibiru biru, Kabupaten Deliserdang, Minggu (26/7).

DELISERDANG, SUMUTPOS.CO – Camat Sibirubiru M.Dhani Mulyawan S.S,Sos,MIP meresmikan Kelompok Sadar Wisata pada peringatan Hari Sungai Nasional yang jatuh pada tanggal 26 Juli 2020 di Desa Namosuro, Kecamatan Sibirubiru, Kabupaten Deliserdang, Minggu (26/7).

Peresmian kelompok sadar wisata tersebut ditandai dengan kegiatan menabur benih ikan di Sungai Wisata Namosuro, yang juga dihadiri Kades Namosuro Baru, Zanial Ginting, Bhabinkamtibmas Desa Namosuro Aiptu Daniel Munthe, Babinsa Desa Namosuro Koptu Hanafi, Ketua POK Darwis (kelompok sadar Wisata)Eron Tarigan, Wisata Alamtaras (WARAS) dan Kepala Balai Benih.

Camat Sibiru biru sangat berterima kasih atas kepedulian dan perhatian masyarakat Desa Namosuro dengan lingkungannya. “Semoga dapat dipertahankan dan ditingkatkan, dan menjadi contoh dan memotivasi desa lainnya untuk memajukan dan melestarikan alamnya,”ujar Dhani.

Dengan menjaga keindahan dan kebersihannya, pengunjung jadi betah yang berwisata ke Sungai Namosuro baru ini datang kembali untuk berwisata,”sambungnya mengakhiri.(Ir/han)

Mengedar Sabu di Deliserdang, Warga Serdang Bedagai Ditangkap Polisi

LUBUKPAKAM, SUMUTPOS.CO – Polsek Galang Polresta Deliserdang membekuk seorang pria berinisial YH alias B (44), Jumat (24/7/2020) sekira pukul 16.30 WIB. Warga Desa Arep Kecamatan Serbajadi Kabupaten Serdang Bedagai ini diamankan di Gang Bilal Dusun II Desa Galang Suka Kecamatan Galang Kabupaten Deliserdang.

Informasi dihimpun, penangkapan YH alias B bermula saat Tekab unit Reskrim Polsek Galang Polresta Deliserdang mendapat informasi dari warga bahwa ada seorang pria yang sangat meresakan masyarakat akan transaksi narkoba di Gang Bilal Dusun II Desa Galang Suka Kecamatan Galang.

Mendapat kabar berharga itu, sejumlah personil unit Reskrim Polsek Galang Polresta Deliserdang dipimpin Kanit Reskrim Ipda Erikson David SH turun kelokasi yang disebutkan.

Tiba disana, petugas mengamankan seorang pria yang diketahui berinisial YH alias B. Penggeledahan dilakukan terhadap pria yang berambut cepak ini.

Petugas mengamankan 1 buah bungkus rokok dan 2 klip sabu dimana 1 bungkus klipnya berisi paket besar dan 1 klip berklip kecil dan 10 buah plastik klip kosong yang tidak jauh jaraknya dari sekitar tempat YH berdiri dipekarangan  rumah warga.

Guna pemeriksaan, YH alias B berikut barang bukti diamankan ke komando. Kapolsek Galang Polresta Deliserdang AKP Raymon Hutagalung saat dikonfirmasi melalui Kanit Reskrim Ipda Erikson David SH membenarkan YH alias B diamankan berikut dua bungkus sabu.

“Guna pemeriksaan selanjutnya dan pengembangan, YH alias B berikut barang bukti diserahkan ke Sat Narkoba Polresta Deliserdang,” jawabnya. (btr)

Pindah ke Demokrat, PDIP Bakal Beri Sanksi Akhyar

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Berkembangnya kabar Plt Wali Kota Medan Akhyar Nasution yang juga Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut menyeberang ke Partai Demokrat, langsung disikapi DPP PDI Perjuangan. Ketua Bidang Ideologi dan Kadersasi DPP yang juga Plt Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut, Djarot Saiful Hidayat menegaskan, partainya akan memberikan sanksi disiplin, karena anggota partai tidak boleh memiliki keanggotaan ganda.

Djarot menegaskan, berpartai sama juga seperti bernegara, dilandasi oleh ketaatan pada konstitusi, hukum, dan etika politik. Karenanya, kader partai harus berdisiplin dan berpolitik itu untuk pengabdian yang lebih besar, bukan untuk berburu kekuasaan politik.

“Karena itulah, langkah pragmatis yang dilakukan saudara Akhyar dengan pindah ke Partai Demokrat justru ditempatkan sebagai bagian konsolidasi kader. Dalam konsolidasi tersebut, ada kader yang lolos karena memiliki kesabaran revolusioner, namun ada juga yang gagal karena ambisi kekuasaan. Yang bersangkutan masuk pada ketegori kedua,” kata Djarot dalam siaran persnya yang diterima Sumut Pos, Sabtu (25/7).

Disebutnya, PDI Perjuangan melakukan seleksi yang ketat terhadap setiap calon kepala daerah. Mereka yang memiliki persoalan hukum tidak akan pernah dicalonkan partai. “PDI Perjuangan belajar dari kasus korupsi berjamaah yang dilakukan mantan Gubsu Gatot Pujo Nugroho yang melebar kemana-mana. Begitu juga kasus rasuah yang melibatkan mantan Wali Kota Medan, Tengku Dzulmi Eldon yang dikhawatirkan memiliki konsekuensi hukum ke yang lain,” sebut Djarot.

Dia juga mengungkapkan, PDI Perjuangan juga mencatat, Akhyar pernah diperiksa terkait dugaan penyelewengan anggaran MTQ ke-53 tingkat Kota Medan tahun 2020  senilai Rp4,7 miliar, dan ini menjadi pertimbangan penting mengapa DPP PDI Perjuangan tidak mencalonkan Akhyar. “Betapa bahayanya ketika MTQ saja ada dugaan disalahgunakan. Mungkin dengan bergabung ke partai tersebut (Demokrat), yang bersangkutan ingin mencitrakan ‘katakan tidak pada korupsi’ yang pernah menjadi slogan partai tersebut,” ujarnya sambil tersenyum.

Selain itu, lanjutnya, PDI Perjuangan juga memertimbangkan posisi Kota Medan sebagai salah satu sentral perekonomian di Pulau Sumatera. Pertimbangan yang komprehensif, strategik, dan obyektif sesuai harapan rakyat, menjadi landasan keputusan partai. “PDI Perjuangan juga membangun dialog dengan partai koalisi pendukung Pak Jokowi. Masuknya saudara Akhyar dengan dukungan dari Demokrat dan kemungkinan juga dari PKS, semakin menunjukkan arah kebenaran koalisi pada Pileg 2024 yang akan datang,” tandasnya. (adz)

Telkomsel Berikan Bantuan ke 5.700 Penjaga BTS di Seluruh Indonesia

  • Sebanyak 5.700 penjaga BTS Telkomsel di seluruh Indonesia  mendapatkan bantuan berupa saldo melalui top up LinkAja atau paket sembako dari Telkomsel yang diharapkan membantu memenuhi kebutuhan ekonomi mereka di tengah pandemi Covid-19.
  • Inisiatif ini merupakan bagian dari aktivitas Corporate Social Responsibility (CSR) Telkomsel yang terus memberikan manfaat dalam memenuhi kebutuhan bagi seluruh elemen bangsa.
  • Telkomsel akan terus memperkuat upaya kolaboratif lainnya bersama seluruh pemangku kepentingan, salah satunya dengan menguatkan inisiatif #DiRumahTerusMaju.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Telkomsel berkomitmen untuk terus bergerak maju menghadirkan perubahan nyata di setiap fase kehidupan bangsa, termasuk dalam menghadapi kenormalan baru yang disebabkan pandemi COVID-19. Komitmen tersebut kini diwujudkan dengan inisiatif corporate social responsibility (CSR) terbaru dalam bentuk bantuan kepada masyarakatyang selama ini sudah dipercaya menjadi penjagaBTS(Base Transmition Station)Telkomsel, yang bertanggung jawab menjaga keamanan fungsi infrastruktur BTSTelkomsel, yang merupakan salah satu alat produksi yang menunjang kelancaran operasional jaringan Telkomsel. Pemberian bantuan merupakan bentuk apresiasi Telkomsel kepada para petugas yang telah berupaya menjaga infrastruktur jaringan agar tetap menghadirkan konektivitas terdepan bagi masyarakat, walau di masa sulit sekalipun.

Direktur Network TelkomselHendri Mulya Syammengatakan, “Telkomsel berupaya mengoptimalkan seluruh aset perusahaan dan mengambil peran sebagai connectivity enabler untuk menjaga masyarakat tetap terhubung di situasi penuh tantangan saat ini. Maka dari itu, peran para penjaga BTS Telkomsel menjadi sangat krusial dalam menyediakan konektivitas yang dapat diandalkan bagi seluruh pelanggan. Kami mengucapkan terima kasih atas kerja keras seluruh petugas yang tetapberdedikasi tinggi di tengah masa sulit seperti saat ini dan terus konsisten memberikan manfaat bagi masyarakat luas.”

Inisiatif Telkomsel kepada masyarakat para penjaga BTS sendiri diberikan dalam bentuk bantuan saldo LinkAja yang memungkinkan penerima untuk memenuhi kebutuhan keseharian dengan lebih mudah secara online, sehingga memberikan manfaat lebih bagi petugas yang banyak menghabiskan waktunya di lapangan dan meminimalkan kerumunan di tempat perbelanjaan.

Selain itu, di wilayah tertentu, Telkomsel juga menyediakanpilihan untuk menyalurkan bantuan dalam bentuk paket sembako, menyesuaikan kebutuhan dari para petugas. Bantuan tersebut ditargetkan disalurkan kepada sekira 5.700 penjaga BTSTelkomsel di seluruh Indonesia. Pemberian bantuan ini sekaligus meneruskan kontribusi nyata Telkomsel yang terus menginisiasi inisiatif program CSR yang terarah sesuai kebutuhan berbagai elemen bangsa, terutama guna meringankan beban masyarakat selama pandemi COVID-19 di Indonesia.

Sebelumnya, Telkomsel telah memberikandonasi lebih dari 100.000 unit alat medis dan puluhan ribu paket sembako senilai lebih dari 40 miliar rupiah. Bantuan tersebut berupa ventilator, thermogun infrared, masker, dan alat pelindung diri (APD) seperti baju hazmat untuk Rumah Sakit Darurat (RSD) dan rumah sakit rujukan COVID-19 yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, Telkomsel juga menjalankan inisiatif CSR khusus bagi 10.000 para relawan penanganan COVID-19 termasuk tenaga medis dengan menyediakan paket data khusus berisi kuota 25GB.

“Penanganan pandemi COVID-19 membutuhkan upaya kolaboratif dari seluruh pemangku kepentingan. Maka dari itu, kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada para tenaga medis, pemerintah, organisasi, relawan, dan masyarakat luas yang terus bergandengan tangan dan memaksimalkan perannya masing-masing dalam upaya mengentaskan pandemi ini. Telkomsel pun mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus bersama-sama menjaga Indonesia dengan menguatkan sikap gotong royong. Semoga, kita semua diberikan kesehatan dan keselamatan dalam melewati situasi yang penuh tantangan ini dengan baik,” tutup Hendri.

Ke depan, Telkomsel akan terus memperkuat upaya kolaboratif bersama para pemangku kepentingan untuk berada di garis terdepan penanganan COVID-19 dan turut membantu seluruh aspek kehidupan masyarakat, di mana hal ini sejalan dengan cara Telkomsel dalam memaknai usia ke-25 tahun berkarya untuk membawa perubahan nyata di setiap fase kehidupan bangsa. Lebih lanjut, Telkomsel juga senantiasa berkomitmen untuk memaksimalkan peran sebagai perusahaan telekomunikasi digital terdepan untuk terus menghadirkan layanan terbaik serta menjamin kualitasjaringan di seluruh pelosok Indonesia.(*)

Seorang Pelejar SMP Tewas Disabet Pisau Potong Rumput

DELISERDANG, SUMUTPOS.CO – Seorang anak remaja yang duduk di SMP bernama M.Ridho (13) tewas setelah kepalannya terkena pisau pemotong rumput, Jum’at (24/7) sekira pukul 10.00 WIB.

Kejadian naas yang dialami korban itu terjadi di Dusun I Desa Naga Timbul Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deliserdang.

Informasi menyebutkan kejadian berawal saat Sudar (50) sedang memotong rumput dekat rumahnya dengan memakai mesin pemotong rumput. Saat ada beberapa anak-anak melihat Sudar sedang memotong rumput.

Namun tiba-tiba pisau pemotong yang ada di bawah alat pemotong rumput itu terlepas dan berputar mengenai seorang anak yang sedang melihat Sudar sedang memotong rumput.

M. Ridho terkena pisau pemotong rumput itu tepat di kepalanya dan pisaunya masih nyangkut di kepalanya sehingga darahpun berceceran.

” Sedang nonton tadi anak-anak itu orang babat rumput, tiba tiba lepas pisau babatnya dan mengenai Ridho, ” kata Raja warga setempat.

Masih menurut Raja, bahwa pisau itu masih melekat di kepala remaja SMP itu.

” Masih lengket , saat itu warga hendak membawa ke rumah sakit , namun sudah meninggal dan tadi habis sholat Jumat sudah dikebumikan,” tandas Raja.

Sementara itu Kanit Reskrim Polsek Tanjung Morawa Ipda. Dimas Adit Sutono membenarkan adanya kejadian tersebut.

” Ia tadi pagi kejadiannya , kami baru tau tadi , dan alm ridho da di kebumikan ” kata Dimas. (btr)