30 C
Medan
Sunday, April 12, 2026
Home Blog Page 4234

Miris, Tak Dapat JPS, Guru Honorer Non PNS Bukan Kriteria Sejahtera

Ilustrasi: Guru honorer saat demo soal upah/gaji mereka beberapa waktu lalu. Mereka bukan termasuk sejahtera, namun tidak mendapat bantuan Jaring Pengaman Sosial (JPS). istimewa/sumut pos.
Ilustrasi: Guru honorer saat demo soal upah/gaji mereka beberapa waktu lalu. Mereka bukan termasuk sejahtera, namun tidak mendapat bantuan Jaring Pengaman Sosial (JPS). istimewa/sumut pos.
Ilustrasi: Guru honorer  saat demo soal upah/gaji mereka beberapa waktu lalu. Mereka bukan termasuk sejahtera, namun tidak mendapat bantuan Jaring Pengaman Sosial (JPS).  istimewa/sumut pos.
Ilustrasi: Guru honorer saat demo soal upah/gaji mereka beberapa waktu lalu. Mereka bukan termasuk sejahtera, namun tidak mendapat bantuan Jaring Pengaman Sosial (JPS). istimewa/sumut pos.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Permasalahan penanggulangan wabah Covid-19 tak ayal telah menimbulkan polemik dalam kehidupan bangsa ini. Salah satunya adalah dalam hal penyaluran Jaring Pengaman Sosial (JPS). Bahkan, guru honorer dan non PNS yang bukan masuk kriteria sejahtera justru tidak mendapat bantuan JPS. Miris!.

Wakil Ketua Pansus Covid-19 DPRD Sumut, Ahmad Hadian Kardiadinata mengatakan, kriteria penerima JPS ini di setiap daerah diketahui tidak sama, tergantung kebijakan dari kepala daerah masing-masing.

“Dengan banyaknya masyarakat yang terdampak secara ekonomi dan munculnya orang miskin baru akibat pembatasan sosial dan terhentinya kegiatan ekonomi telah membuat bingung para pengambil kebijakan di negeri ini. Salah satunya dalam menetapkan kriteria siapa yang berhak menerima bantuan JPS khususnya yang selain bantuan pusat yang telah berjalan (PKH, BPNT dan Prakerja),” kata Ahmad Hadian Kardiadinata kepada Sumut Pos, Kamis (18/6).

Diungkapkannya, di beberapa kabupaten/kota muncul surat edaran kepala daerah terkait ini. Di antaranya, ada yang melarang para tenaga honor sekolah (TKS) yang gajinya dibayar dari pemerintah untuk menerima JPS. Akibatnya banyak guru honorer non PNS yang mengeluh dan menyebutkan ini sebagai tidak memenuhi rasa keadilan. “Sebenarnya mereka (guru honorer non PNS) ini termasuk ke dalam kelompok masyarakat yang sangat terdampak ekonomi dari wabah Covid-19 ini. Ini sungguh miris,” ujarnya.

Hadian mengatakan, memang benar bahwa mereka mendapat gaji dari pemerintah melalui APBN. Namun besarannya minim dan masih di bawah Upah Minimum Kabupaten (UMK), kecuali mereka yang sudah menerima dana sertifikasi bulanan sebesar Rp1,5 juta.

“Kalau yang ini bolehlah, penghasilan mereka dari honor bulanan ditambah dengan dana sertifikasi ini sudah mendekati UMK. Tapi bagi yang belum bersertifikat tentunya sangat jauh dari kriteria sejahtera,” katanya.

Belum lagi, lanjut dia, honor bulanan mereka itu bersumber dari dana BOS yang cairnya tiga bulan sekali. Jadi ada masa-masa mereka kosong tidak menerima upah.

“Kalau dihitung-hitung kasar saja, para guru honorer non PNS yang belum bersertifikasi ini rata-rata paling tinggi menerima honor bulanannya maksimal Rp1,5 juta saja. Itu pun setelah diakumulasikan dari honor bulanan yang hanya maksimal Rp1 juta bahkan banyak yang hanya menerima Rp 500 ribu atau kurang dari itu per bulannya,” ujar politisi PKS tersebut.

Sebab honor mereka, kata dia, ditentukan oleh banyaknya murid di sekolahnya. Untuk sekolah-sekolah favorit yang muridnya banyak mereka bisa bergaji lumayan, namun sekolah yang muridnya sedikit mereka rata-rata menerima gaji berkisar 500 ribuan saja bahkan dibawah itu.

“Sangat miris. Makanya banyak guru honorer yang pontang-panting mencari tambahan di luar jam mengajar mereka. Ada yang mengajar les privat, ojek on line, berladang dan lain sebagainya. Sehingga, konsentrasi mereka terbagi dan tidak fokus kepada aktifitas mengajar di sekolahnya,” paparnya.

Menurut dia, bagaimana kualitas pendidikan di Sumut akan baik jika guru-gurunya saja tidak sejahtera seperti itu. Padahal diharapkan pendidikan jadi ujung tombak pembentukan generasi yang lebih baik untuk melanjutkan kehidupan bangsa ini ke depan. “Jadi ibarat pepatah, jauh panggang dari api untuk merealisasikan harapan tersebut,” katanya.

Kembali kepada pokok permasalahan, lanjutnya, guru honorer non PNS dengan honor maksimal hanya Rp1 juta yang notabene di bawah UMK (Rp2,5-Rp2,7 juta), maka mereka ini termasuk kepada golongan orang miskin yang sepatutnya mendapat perhatian pemerintah.

Terkhusus dalam kondisi wabah seperti ini, mereka telah pula kehilangan mata pencaharian tambahan. Oleh karenanya para kepala daerah hendaknya bijaksana dalam menentukan kebijakan terkait bantuan JPS ini.

“Sesungguhnya sangat mudah untuk mendapatkan data siapa saja guru-guru non PNS yang terdampak. Datanya semua ada pada Dinas Pendidikan, mana guru non PNS yang sudah bersertifikasi mana yang belum, berapa honor bulanan mereka juga datanya ada di sana atau disetiap sekolah,” ungkapnya.

Diakui dia, bukan hanya guru honorer non PNS saja yang mengalami nasib seperti ini. Tapi juga termasuk para TKS di semua instansi pemerintah. Mereka menggantungkan nafkahnya melalui pekerjaannya itu, di mana mereka harus bekerja seharian di situ dan tidak bisa beraktivitas lain.

“Jadi kesimpulannya, tidak semua yang menerima honor dari pemerintah itu sudah sejahtera, masih banyak yang jauh dari kata layak. Pemerintah harus bijak dan adil dalam menyikapi hal ini. Khususnya dalam masa pandemi covid ini nasib mereka makin memprihatinkan. Maka mereka sebenarnya layak memperoleh bantuan JPS,” pungkas mantan guru non PNS tersebut. (prn/ila)

Rektor USU Bantu 300 Unit Rapid Test ke Karo

TERIma: Bupati Karo Terkelin Brahmana menerima bantuan 300 alat rapid test dari Rektor USU melalui Ketua Komisi A DPRD Karo, Inolia br Ginting.
TERIma: Bupati Karo Terkelin Brahmana menerima bantuan 300 alat rapid test dari Rektor USU melalui Ketua Komisi A DPRD Karo, Inolia br Ginting.
TERIma: Bupati Karo Terkelin Brahmana menerima bantuan 300 alat rapid test dari Rektor USU melalui Ketua Komisi A DPRD Karo, Inolia br Ginting.
TERIma: Bupati Karo Terkelin Brahmana menerima bantuan 300 alat rapid test dari Rektor USU melalui Ketua Komisi A DPRD Karo, Inolia br Ginting.

KARO, SUMUTPOS.CO – Komisi A DPRD Kabupaten Karo yang diketuai Inolia br Ginting menyerahkan bantuan dari Rektor USU berupa 300 alat Rapid Test kepada Pemkab Karo. Bantuan ini diterima langsung oleh Bupati Karo Terkelin Brahmana didampingi Wakil Bupati Karo Cory S Sebayang di Ruang Rapat Bupati Karo, Rabu (17/6).

Ketua Komisi A DPRD Karo, Inolia br Ginting menyebutkan, bantuan alat rapid test ini diberikan oleh Rektor Universitas Sumatera Utara Prof Runtung Sitepu kepada Pemkab Karo di sela-sela kunjungan kerja Komisi A DPRD Karo ke Universitas Sumatera Utara (USU), Senin (15/6) lalu.

“Pada saat kunjungan kerja Komisi A DPRD Karo ke USU, Rektor USU Prof Runtung Sitepu menyerahakan 300 unit rapid test untuk Pemkab Karo yang diberikan secara gratis melalui kami. Mudah-mudahan rapid test yang diberikan ini dapat menambah stock rapid test yang ada di Pemkab Karo sehingga berguna bagi masyarakat kita pada masa covid-19 ini,” ungkap Inolia br Ginting.

Bupati Karo Terkelin Brahmana dan Wakil Bupati Karo Cory S Sebayang juga mengucapkan terima kasih kepada Rektor USU atas perhatiannya kepada Kabupaten Karo. Bupati juga mengucapkan terima kasih kepada Komisi A DPRD Kab Karo atas kunjungan kerjanya ke USU sehingga membawa oleh-oleh berupa 300 buah alat rapid test yang sangat berguna bagi masyarakat Karo.

Adapun Komisi A DPDRD Karo yang hadir dalam kegiatan tersebut Inolia br Ginting, Onasis Sitepu, Edi Ulina Ginting, Sipken Ginting, Jani Sembiring, Dody Sinuhaji, Nora Else, Purnama Sagala dan Herty Delima Purba. Turut hadir dari pemkab Karo Asisten Pemerintahan David Tri Mei Sinulingga, Kalak BPBD Martin Sitepu, Kadis Kesehatan drg. Irna Safrina, Kepala Bappeda Ir. Nasib Sianturi, dan Kabag Humas Protokol F.Leonardo Surbakti. (deo)

Pemko Tebingtinggi Masih Berharap Sumber Dana dari Pusat

SERHAKAN: Ketua DPRD Basyaruddin Nasution menyerahkan berita acara pengesahan Perda pelaksanaan APBD TA 2019 Kota Tebingtinggi kepada Wali Kota Tebingtinggi Umar Zunaidi Hasibuan.
SERHAKAN: Ketua DPRD Basyaruddin Nasution menyerahkan berita acara pengesahan Perda pelaksanaan APBD TA 2019 Kota Tebingtinggi kepada Wali Kota Tebingtinggi Umar Zunaidi Hasibuan.
SERHAKAN: Ketua DPRD Basyaruddin Nasution menyerahkan berita acara pengesahan Perda pelaksanaan APBD TA 2019 Kota Tebingtinggi kepada Wali Kota Tebingtinggi Umar Zunaidi Hasibuan.
SERHAKAN: Ketua DPRD Basyaruddin Nasution menyerahkan berita acara pengesahan Perda pelaksanaan APBD TA 2019 Kota Tebingtinggi kepada Wali Kota Tebingtinggi Umar Zunaidi Hasibuan.

TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO – Ternyata kemampuan pendapatan asli daerah (PAD) untuk membiayai pengeluaran belanja langsung maupun tidak langsung di Pemerintah Kota (Pemko) Tebingtinggi peranannya masih sangat kecil, hanya 14,75 persen, sehingga ketergantungan terhadap sumber dana dari pemerintah atasan (pusat) masih sangat diharapkan.

“Berdasarkan kondisi tersebut, berbagai upaya untuk peningkatan dan menggali potensi objek dan subjek pajak serta retribusi daerah perlu dikembangkan dalam rangka memperbesar pendapatan asli daerah,” jelas Wali Kota Tebingtinggi Umar Zunaidi Hasibuan menyampaikan sambutan pada rapat paripurna dengan agenda Pendapat Akhir Fraksi dan persetujuan penyampaian rancangan peraturan daerah (Ranperda) tentang pelaksanaan APBD TA 2019 Kota Tebingtinggi, di ruang sidang utama DPRD Kota Tebingtinggi, Kamis (18/6).

Dalam rapat paripurna yang dipimpin Ketua DPRD Basyaruddin Nasution tersebut, seluruh fraksi di DPRD Tebingtinggi yakni Fraksi Golkar, PDIP, Nasdem, Gerindra, Nurani Kebangsaan dan Fraksi Demokrat Amanah Keadilan menyetujui rancangan peraturan daerah (ranperda) tentang pelaksanaan APBD TA 2019 Kota Tebingtinggi disahkan menjadi Peraturan Daerah (Perda).

Menurut Wali Kota Umar Zunaidi Hasibuan, selain menggiatkan pemungutan, menyempurnakan sistem dan prosedur serta memperbarui perda dibidang pendapatan yang tak sesuai dengan kondisi sekarang, hal yang perlu dilakukan adalah melakukan efesiensi belanja.

Sebelumnya, juru bicara Fraksi Nurani Kebangsaan, Kaharuddin Nasution, saat memberikan pendapat akhirnya meminta Dinas PUPR terkait retribusi pemakaian kekayaan daerah yang tidak tercapai target dikarenakan ketidakaktifan alat berat. “Dari 5 unit alat berat yang ada, hanya tiga yang disewakan sedangkan dua lagi rusak berat. Hal ini harus segera diperbaiki,” katanya.

Pada kesempatan itu, Umar Zunaidi menyampaikan terimakasih kepada pimpinan dan seluruh anggota DPRD Tebingtinggi yang telah menyetujui Ranperda tentang pelaksanaan APBD TA 2019 Kota Tebingtinggi menjadi Peraturan Daerah (Perda) untuk disampaikan ke Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. (ian)

Martuani Minta Pemkab Karo Support Desa Kandibata

DISAMBUT: Kapolda Sumut Irjen Pol Martuani Sormin dan Ketua Bhayangkari Polda Sumut Ny Risma Martuani Sormin disambut saat tuba di Kampung Tangguh, Desa Kandibata, Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo, Kamis (18/6).
DISAMBUT: Kapolda Sumut Irjen Pol Martuani Sormin dan Ketua Bhayangkari Polda Sumut Ny Risma Martuani Sormin disambut saat tuba di Kampung Tangguh, Desa Kandibata, Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo, Kamis (18/6).
DISAMBUT: Kapolda Sumut Irjen Pol Martuani Sormin dan Ketua Bhayangkari Polda Sumut Ny Risma Martuani Sormin disambut saat tuba di Kampung Tangguh, Desa Kandibata, Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo, Kamis (18/6).
DISAMBUT: Kapolda Sumut Irjen Pol Martuani Sormin dan Ketua Bhayangkari Polda Sumut Ny Risma Martuani Sormin disambut saat tuba di Kampung Tangguh, Desa Kandibata, Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo, Kamis (18/6).

KABANJAHE, SUMUTPOS.CO – Kapolda Sumut Irjen Pol Martuani Sormin meninjau Kampung Tangguh di Desa Kandibata, Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo, Kamis (18/6). Kampung Tangguh ini didirikan pertama kali di Sumut, bahkan di Indonesia dalam menangani masalah penyebaran Covid-19.

Kunjungan Kapolda Sumut ini didampingi Ketua Bhayangkari Sumut, Risma Martuani Sormin dan rombongan. Kapolda langsung disambut Bupati Tanah Karo Terkelin Brahma. Dan juga Kapolres Tanah Karo AKBP Yustinus Satyo Indriono, Ketua DPRD Tanah Karo, dan Polisi Cilik Polres Tanah Karo.

“Desa Kandibata ini merupakan Kampung Tangguh, didirikan pertama sekali di Sumut bahkan di Indonesia dalam menangani masalah penyebaran Covid-19,” kata Martuani.

Namun, ungkap Martuani, karena tidak dipublish media, dirinya sengaja datang ke sana untuk melihat keberadaan Desa Kandibata, serta meninjau langsung dan memberikan apresiasi kepada kepala desa dan masyarakat, karena berhasil menangani masalah Covid-19.

Martuani kemudian meminta agar Pemerintah Kabupaten Tanah Karo bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara turut memberikan support terhadap Kampung Tangguh. “Saya sudah berkoordinasi dengan unsur pemerintah setempat untuk mememberikan bantuan kepada masyarakat Kampung Tangguh Desa Kandibata. Sebab, anggaran dana desa telah habis digunakan untuk program pencegahan Covid-19,” ungkap Martuani.

Sementara itu, Bupati Tanah Karo Terkelin Brahman, sangat mengapresiasi kunjungan kerja Kapolda Sumut, Ketua Bhayangkari Polda Sumut dan rombongan. “Kedatangan Kapolda Sumut ini sebagai bentuk perhatian dan kepedulian terhadap seluruh masyarakat di Kabupaten Karo memberikan support dalam menghadapi pandemi Covid-19,” ujar Terkelin.

Turut hadir dalam kunjungan kerja tersebut diantaranya Dir Binmas Polda Sumut Kombes Pol Hondawan Naibaho, Dir Res Narkoba Polda Sumut Kombes Pol Robert Da Costa, Dir Reskrimsus Polda Sumut Kombes Pol Rony Samtana, Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Tatan Dirsan Atmaja, dan Dir Intelkam Polda Sumut. (mag-1)

Pj Bupati Hibahkan Tanah Pemkab kepada BPS

SERAHKAN: Pj Bupati Pakpak Bharat Asren Nasution menyerahkan dokumen tanah yang dihibahkan kepada Kepala BPS Pakpak Bharat, Ratnauli Naibaho, Kamis (18/6). Tamba Tinendung/Sumut Pos.
SERAHKAN: Pj Bupati Pakpak Bharat Asren Nasution menyerahkan dokumen tanah yang dihibahkan kepada Kepala BPS Pakpak Bharat, Ratnauli Naibaho, Kamis (18/6). Tamba Tinendung/Sumut Pos.
SERAHKAN: Pj Bupati Pakpak Bharat Asren Nasution menyerahkan dokumen tanah yang dihibahkan kepada Kepala BPS Pakpak Bharat, Ratnauli Naibaho, Kamis  (18/6). Tamba Tinendung/Sumut Pos.
SERAHKAN: Pj Bupati Pakpak Bharat Asren Nasution menyerahkan dokumen tanah yang dihibahkan kepada Kepala BPS Pakpak Bharat, Ratnauli Naibaho, Kamis (18/6). Tamba Tinendung/Sumut Pos.

PAKPAK BHARAT, SUMUTPOS.CO – Guna menunjang kinerja urusan pemerintahan di Kabupaten Pakpak Bharat, khususnya urusan statistik, Pemkab Pakpak Bharat menyerahkan aset tanah miliknya kepada Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pakpak Bharat yang nantinya pemanfaatannya sebagai dukungan penyelenggaraan tugas dan fungsi BPS.

Penandatanganan ini dilakukan langsung Pj Bupati Pakpak Bharat, Dr H Asren Nasution MA, bersama Kepala BPS, Ratnauli Naibaho SE MSi di Ruang Rapat Sindeka, Gedung Sigellem Rempu, Kompleks Perkantoran Panorama Indah Sindeka Salak, Kamis (18/6).

Pj Bupati menyatakan rasa terima kasihnya atas terlaksananya proses penandatanganan ini dan berharap kerja-kerja urusan statistik untuk menunjang pembangunan di Kabupaten ini akan semakin baik ke depannya. “Mudah-mudahan ini juga akan semakin mempererat kerjasama di Kabupaten ini sehingga cita-cita mensejahterakan masyarakat akan semakin mengalami percepatan,” katanya di hadapan Sekda, Sahat Banurea SSos MSi, beserta jajaran terkait.

Dalam kesempatan itu, Kepala BPS juga memaparkan sedikit tentang laporan pencapaian Sensus Penduduk Online 2020 di Kabupaten Pakpak Bharat yang sangat diapresiasi oleh Pj Bupati. Menurut Pj Bupati, data yang disampaikan BPS menjadi data pegangan utama untuk melanjutkan pembangunan di Kabupaten Pakpak Bharat sehingga dasar-dasar pelaksanaan pembangunan semakin kuat ke depannya. (tam)

Kisruh Pembagian BLT-DD di Kabupaten Madina, Warga Desa Huta Dame Blokir Jalinsum

BLOKIR JALAN: Warga Desa Hutapuli, Kecamatan Siabu (foto kiri) dan warga Desa Huta Dame, Kecamatan Penyabungan Utara, Kabupaten Madina.
BLOKIR JALAN: Warga Desa Hutapuli, Kecamatan Siabu (foto kiri) dan warga Desa Huta Dame, Kecamatan Penyabungan Utara, Kabupaten Madina.
BLOKIR JALAN: Warga Desa Hutapuli, Kecamatan Siabu (foto kiri) dan warga Desa Huta Dame, Kecamatan Penyabungan Utara, Kabupaten Madina.
BLOKIR JALAN: Warga Desa Hutapuli, Kecamatan Siabu dan warga Desa Huta Dame, Kecamatan Penyabungan Utara, Kabupaten Madina.

MADINA, SUMUTPOS.CO – Pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa (DD) untuk warga terdampak pandemi Covid-19 di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), berujung pemblokiran jalan lintas Sumatera (Jalinsum).

Setelah Warga Desa Hutapuli Kecamatan Siabu, Selasa (16/6) lalu memblokir Jalinsum, kali ini giliran warga Desa Huta Dame, Kecamatan Panyabungan Utara, Madina. Warga memblokir jalan dengan meletakkan sopo (pondok) dan membakarnya di tengah Jalinsum yang menyebabkan kemacetan lalu lintas, Kamis (18/6).

Berdasarkan informasi yang diperoleh, permasalahan ini diduga dipicu dari pembagian BLT-DD 2020 di Desa Huta Dame yang dilakukan kepala desa (Kades). Sesuai data yang ada, sebanyak 56 KK penerima BLT-DD 2020 sebesar Rp600.000 dan sesuai rapat warga, akhirnya dibagikan kepada 130 KK dengan jumlah BLT-DD sebesar Rp237.000.

Dan ujung dari kekecewaan tersebut, warga melakukan pemblokiran Jalinsum dan meminta agar Kades Huta Dame, Albert Sihombing berhenti dari jabatannya. Setelah aparat pemerintah dan Kepolisian melakukan dialog dengan warga, akhirnya sekira pukul 11.55 WIB, pemerintah dan kepolisian berhasil membujuk warga agar memindahkan sopo (pondok) yang berbeda di tengah Jalinsum untuk diangkat dan dipinggirkan dari jalinsum, sehingga lalulintas kembali normal.

Kapolres Madina AKBP Horas Tua Silalahi kepada wartawan membenarkan kejadian itu. “Iya kita bersama pemerintah masih melakukan upaya mediasi,” ujarnya.

Menyikapi kisruh pembagian BLT-DD ini, Ketua DPRD Madina, Erwin Efendi Lubis meminta semua elemen masyarakat bersama stakeholder untuk duduk bersama, mencari solusinya. “Demo warga Desa Hutapuli dan Huta Dame yang berujung pemblokiran Jalinsum, ini hanya sebagian kecil yang terjadi. Situasi ini pecah bukan murni masalah BLT, ini semestinya harus ada hubungaan timbal balik antara yang menuntut dan yang dituntut,” ucap Erwin.

Erwin meminta kepala desa memperlakukan masyarakat sebagaimana mestinya dan jangan buat blok antara masyarakat. Dan masyarakat juga, tuntutlah hak mu sebagai mestinya jangan kaitkan dengan kepentingan apapun. “Selanjutnya, mulai dari camat sampai pemkab juga harus objektif mengkaji, baru mengambil tindakan atas situasi yang terjadi di seluruh Kabupaten Madina yang dapat dipastikan terjadi permasalah di setiap desa,” ucapnya.

Dia melihat, permasalahan di desa ada beberapa faktor, yang pertama inspektorat tidak transparan dalam melaksanakan tugas. Apapun permasalahan di desa, inspektorat itu tidak bisa lapas tanggungjawab. “Kalau inspektroat menjalankan tugasnya sebagai mana mestinya, dan membuat laporan pengawasan yang murni, jangan laporannya ada ditemukan indikasi fiktif atau temuan lain, dibuat tidak ada inilah yang membuat situasi ini ribut seolah-olah terpeliahara,” ujarnya.

Kalau tidak ada peluang kepala desa untuk memainkan anggaran desa, masyarakatnya juga akan nyaman, kalau masyarakatnya nyaman tidak akan terjadi keributan seperti ini. “Jika ada permasalahan desa kembalikan kepada siapa yang menginvestigasi, supaya bupatipun jangan terlalu pusing memikirkan itu, semua desa ingin mendatangi bupati menyampaikan kepala desa itu tidak benar,” imbuhnya.

“Kapan lagi masyarakat ini terbenahi dan kapan lagi pemerintahan ini akan nyaman kalau terus menerus aduan itu diterima,” ucapnya.

Dan Kejadian seperti ini seharusnya tidak boleh dilakukan masyarakat menutup jalan lintas Sumatera. “Ini bukan jalan daerah, ini jalan negara. Kangan karena kepentingan mereka, orang lain dirugikan. Itu tidak boleh ditoleransi. Kalau ada yang tidak cocok antara warga dengan pemerintahannya lakukan komunikasi, kalau tidak bisa komunikasi lakukan pengaduan jangan merugikan kepentingan masyarakat luas,” pungkasnya. (mbo)

ASN Disdukcapil Langkat Patungan Bangun Musala

BATU PERTAMA: Bupati Langkat diwakili Sekdakab Indra Salahuddin meletakan batu pertama pembangunan musala di halaman Disdukcapil Langkat, Rabu (17/6). ILYAS EFFENDY/SUMUT POS.
BATU PERTAMA: Bupati Langkat diwakili Sekdakab Indra Salahuddin meletakan batu pertama pembangunan musala di halaman Disdukcapil Langkat, Rabu (17/6). ILYAS EFFENDY/SUMUT POS.
BATU PERTAMA: Bupati Langkat diwakili Sekdakab Indra Salahuddin meletakan batu pertama pembangunan musala di halaman Disdukcapil Langkat, Rabu (17/6). ILYAS EFFENDY/SUMUT POS.
BATU PERTAMA: Bupati Langkat diwakili Sekdakab Indra Salahuddin meletakan batu pertama pembangunan musala di halaman Disdukcapil Langkat, Rabu (17/6). ILYAS EFFENDY/SUMUT POS.

LANGKAT, SUMUTPOS.CO – Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Langkat patut diapresiasi. Pasalnya, mereka secara patungan membangun musala di halaman Kantor Disdukcapil, Jalan Proklamasi, Kelurahan Kwala Bingai, Kecamatan Stabat, Langkat, Rabu (17/6).

Peletakan batu pertama musala ini dilakukan Sekdakab Langkat, Dr H Indra Salahuddin mewakili Bupati Langkat Terbit Rencana PA, disaksikan Plt Kadisdukcapil H Mulyono, Inspektur H Amril, Kadis Pengajaran H Saiful Abdi, Kepala BPKAD M Iskandar, dan sejumlah pejabat Pemkab Langkat lainnya. Dalam sambutannya, Sekda Indra Salahuddin sangat mengapresiasi pembangunan musala ini. Sebab, ini sejalan dengan visi misi Bupati Langkat, mewujudkan Langkat Religius.

Indra juga mengucapkan terimakasih kepada keluarga besar Disdukcapil yang turut berpartisipasi membangun musala ini. “Semoga siap tepat waktu, kami akan senantiasa mendukung pembangunannya. Semoga musala ini nantinya memudahkan warga untuk beribadah, saat mengurus administrasi kependudukan,” harap Indra.

Sementara, Plt Kadisdukcapil Langkat, Mulyono dalam laporannya mengatakan, pembangunan musala ini membutukan dana Rp150 juta. Di mana dana tersebut diperoleh dari sumbangan keluarga besar ASN Disdukcatpil. “Ditargetkan selesai pembangunannya kurang lebih 1,5 bulan, mohon doa kelancarannya,” pungkasnya.

Acara peletakan batu pertama pembangunan musala ini diisi tausyiah dan doa syukur oleh Ustad Ardiansyah. (yas )

Warga Desa Nageri Minta Pemkab Karo Perbaiki Longsor, Bupati Tawarkan Tiga Solusi

TINJAU: Bupati dan Ketua DPRD Karo meninjau lokasi longsor di Desa Nageri, Kecamatan Juhar, Rabu (17/6). TEDDY AKBARI/SUMUT POS.
TINJAU: Bupati dan Ketua DPRD Karo meninjau lokasi longsor di Desa Nageri, Kecamatan Juhar, Rabu (17/6). TEDDY AKBARI/SUMUT POS.
TINJAU: Bupati dan Ketua DPRD Karo meninjau lokasi longsor di Desa Nageri, Kecamatan Juhar, Rabu (17/6). TEDDY AKBARI/SUMUT POS.
TINJAU: Bupati dan Ketua DPRD Karo meninjau lokasi longsor di Desa Nageri, Kecamatan Juhar, Rabu (17/6).

KARO, SUMUTPOS.CO – Bupati Karo Terkelin Brahmana merespons keluhan warga Desa Nageri, Kecamatan Juhar, soal bencana longsor di wilayah mereka. Bersama Ketua DPRD Karo, Iriani Tarigan, Kapolres Tanah Karo AKBP Yustinus Setyo, dan sejumlah pejabat Pemkab Karo, Terkelin meninjau lokasi longsor di Desa Nageri, Rabu (17/6).

“Setelah saya melihat keadaan ini, memang keadaannya sangat memprihatinkan. Namun untuk menangani longsor secara teknis, terlebih dahulu harus ada kajian teknis dari instansi terkait untuk memberi analisa penggunaan dana daerah. Setelah itu baru dilakukan langkah selanjutnya dalam penanganan penanggulangan longsor itu,” kata Terkelin.

Bupati menjelaskan, dari objek tangkapan lokasi, melihat keadaan longsor itu tingkat kesulitan perbaikannya cukup tinggi, terlebih letak lokasi longsor berada di dekat Daerah Aliran Sungai (DAS). “Tentu ini ada OPD atau dinas terkait yang lebih tahu teknisnya,” tegasnya.

Dari peninjauan langsung dan dialog dengan kepala desa, Terkelin mengungkapkan, hal pertama dilakukan antisipasi longsor susulan. “Setelah kita melihat kondisi lokasi dan berembuk dengan kepala desa, kita menawarkan tiga solusi,” katanya.

Adapun solusi pertama, antisipasi longsor susulan untuk mencegah korban jiwa, warga direlokasi dulu. Kedua, perbaikan dengan dana desa (padat karya) dengan bekerja sama dengan masyarakat desa. Ketiga, pembuatan drainase dan sumur serapan, sebagai jalur penampung air hujan guna mencegah air kembali menggerus longsor yang sudah ada.

Dikatakannya, keputusan solusi tersebut dikembalikan kepada warga Desa Nageri dan perangkat desa. “Berpulang kembali kepada warga dan perangkat desa. Namun, sifatnya belum final, masih kita tunggu apa yang disepakati warga nantinya bersama perangkat desa, yang hasilnya akan disampaikan nanti melalui camat,” ujarnya.

Sementara Kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman, Paksa Tarigan mengungkapkan, adanya dilema dalam pengganggaran penanganan longsor di kawasan pemukiman warga yang berada di DAS. “Sebab ada Permen Perkim mengatakan Pemukiman Dalam Penanganan Longsor yang berada di kawasan DAS, mengisyaratkan dalam jarak 25-30 meter dilarang membangun rumah/gedung yang berpotensi bencana longsor,” katanya.

Ketua DPRD Karo Iriani Tarigan menyatakan pada prinsip sangat mendukung penganggaran jika dapat ditampung di APBD Karo.”Dan saya selaku Ketua (DPRD Karo) akan mengawal dana perbaikan ini. Menyikapi masukan dari dinas terkait, bahwa objek longsor itu sangat sulit ditampung di APBD Karo. Sebab jika dipaksakan akan berpotensi menjadi temuan hukum. Kita berikan dulu kesempatan kepada warga dan perangkat desa untuk melakukan musyawarah mencari jalan keluarnya,” imbuh Iriani.

Warga Desa Nageri terdampak longsor, berharap adanya perbaikan dan penanganan longsor dari Pemkab Karo. “Kami warga sangat berharap ada solusi penanganan longsor didekat pemukiman kami. Ketika malam tiba warga selalu was-was, apalagi turun hujan, menambah kecemasan kami. Karena itu tolong kami, supaya secepatnya longsor itu ada solusinya,” ujar warga kepada Bupati Karo.

Kepala Desa Nageri, Tarpin Kaban mengaku pihaknya sudah pernah menawarkan kepada warga yang rumahnya terancam ambruk itu untuk direlokasi, dicarikan rumah kontrakan untuk ditempati demi keselamatannya menunggu penanganan longsor.

“Namun mereka tidak memberi kepastian. Begitu juga rencana yang telah kami persiapkan, supaya longsor itu tidak semakin melebar, rencana pembuatan drainase desa untuk membuat saluran air yang baru, supaya aliran air ketika hujan turun tidak lagi mengarah ke titik longsor sudah kami persiapkan. Termasuk RKB drainase desa sudah diusulkan dalam anggaran Dana Desa. Tapi, biaya pekerja untuk mengerjakan drainase itu tidak ditampung karena minim Dana Desa. Hanya biaya pengadaan bahan saja yang kami anggarkan, kalau pekerjaannya nanti akan memakai tenaga masyarakat tanpa dibayar,” katanya.

Tarpin Kaban berharap, dalam penanganan longsor ini perlu partisipasi dari warga desa.”Jadi, untuk penanganan longsor ini kami dari pemerintahan desa sangat mengharapkan partisipasi warga desa yang terdampak longsor untuk melaksanakan pekerjaannya. Kalau mereka tidak bersedia sebagi tenaga kerja tidak dibayar untuk mengerjakan drainase itu, tidak akan mungkin dilaksanakan. Namun demikian, kami Pemdes Nageri juga mengharapkan dinas terkait untuk membantu kami dalam hal teknis,” pungkas Tarpi. (deo)

Jalan Pasar Inpres Tanjungmorawa Memprihatinkan

memprihatinkan: Jalan Pasar Inpres Tanjungmorawa yang kondisinya memperihatinkan. bATARA/SUMUT POS.
memprihatinkan: Jalan Pasar Inpres Tanjungmorawa yang kondisinya memperihatinkan. bATARA/SUMUT POS.
memprihatinkan: Jalan Pasar Inpres Tanjungmorawa yang kondisinya memperihatinkan.  bATARA/SUMUT POS.
memprihatinkan: Jalan Pasar Inpres Tanjungmorawa yang kondisinya memperihatinkan. bATARA/SUMUT POS.

LUBUKPAKAM, SUMUTPOS.CO – Kondisi jalan Pasar Inpres Tanjungmorawa, Kecamatan Tanjungmorawa B, Deliserdang, memprihatinkan. Ketika hujan turun, jalan menuju pasar tersebut becek dan tergenang, sehingga membuat masyarakat yang bebelanja di sana tidak nyaman.

Kondisi ini diperparah dengan sejumlah pedagang kaki lima berjualan di emperan jalan. Tentu kehadiran pedagang kaki lima (PKL) di sana, semakin memperparah kondisi jalan, karena berlumpur serta tergenangi oleh air yang berasal dari limbah para pedagang di pasar itu.

Dani Putra (34), warga setempat mengatakan, keadaan Jalan Inpres yang berlumpur itu mirip kubangan kerbau, karena kurangnya perhatian Pemkab Deliserdang. “Warga terpaksa melalui jalan tersebut karena sudah kebutuhan sehari-hari berdagang dan warga yang ingin berbelanja “ katanya, Kamis (18/6).

Sementara Khairul, tokoh masyarakat Kecamatan Tanjungmorawa mengungkapkan, Bupati Deliserdang Ashari Tambunan mestinya memilih pejabat camat itu yang tahu kerja. “Jalan Pasar Inpres Tanjungmorawa itu sudah lama rusak dan dibiarkan. Pasar itukan pusat perputaran ekonomi masyarakat, mestinya jadi perhatian pemerintah. Jangan hasilnya saja yang diambil. Apalagi keberadaan pedagang kaki lima tidak ditata. Banyak yang menggelar lapak memakan badan jalan. Bupati Deliserdang Ashari Tambunan mestinya menempatkan camat yang bisa kerja,” pungkasnya .

Sementara Camat Tanjungmorawa Marianto Irawadi ketika dikonfirmasi melalui WhatsApp terkait kondisi Jalan Pasar Inpres dan banyaknya PKL berjualan, belum memberikan tanggapan. (btr)

Desa Aman Damai jadi Pilot Project, Dicanangkan sebagai Kampung Tangguh Terasa

SAMBUTAN: Wakil Bupati Langkat Syah Afandin memberikan arahan dalam acara pencanangan Desa Aman Damai Kecamatan Sirapit sebagai Kampung Tangguh Terasa, Kamis (18/6).ILYAS EFFENDY/ SUMUT POS.
SAMBUTAN: Wakil Bupati Langkat Syah Afandin memberikan arahan dalam acara pencanangan Desa Aman Damai Kecamatan Sirapit sebagai Kampung Tangguh Terasa, Kamis (18/6).ILYAS EFFENDY/ SUMUT POS.
SAMBUTAN: Wakil Bupati Langkat Syah Afandin memberikan arahan dalam acara pencanangan Desa Aman Damai Kecamatan Sirapit sebagai Kampung Tangguh Terasa, Kamis (18/6).ILYAS EFFENDY/ SUMUT POS.
SAMBUTAN: Wakil Bupati Langkat Syah Afandin memberikan arahan dalam acara pencanangan Desa Aman Damai Kecamatan Sirapit sebagai Kampung Tangguh Terasa, Kamis (18/6).ILYAS EFFENDY/ SUMUT POS.

LANGKAT, SUMUTPOS.CO – Desa Aman Damai, Kecamatan Sirapit, Kabupaten Langkat, secara resmi dicanangkan sebagai Kampung Tangguh Terasa, melawan Covid-19. Pencanangan ini dilakukan Wakil Bupati Langkat Syah Afandin didampingi Kapolres Langkat, AKBP Edy Suranta Sinulingga SIK di Aula Kantor Camat Sirapit, Kamis (18/6 ).

Menurut Syah Afandin, Desa Aman Damai ini terpilih karena kemampuan dalam menghadapi dampak Covid-19. Diantaranya, perekonomian masyarakat tidak terlalu terdampak di tengah pandemi Covid-19. “Kita berharap, semoga desa ini bisa menjadi percontohan di Langkat dan seluruh desa yang ada di Indonesia,” katanya.

Pria yang akrab disapa Ondim ini juga mengajak semua pihak untuk mendukung dan bersama-sama bekerja menyukseskan kampung tangguh tersebut.

Sementara, Kapolres Langkat AKBP Edy Suranta Sinulingga mengatakan, program Kampung Tangguh Terasa ini bukan gawean Polri sendiri. Namun ini adalah konsep yang ditawarkan Polri, sebagaimana telah dilakukan di beberapa daerah, di antaranya Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sumatera Barat. Maka pelaksanaannya, membutuhkan jejaring stekholder serta peran masyarakat sendiri dalam mewujudkan terciptanya kampung tangguh ini.

“Ini bukan acara seremonial, namun ini adalah langkah persiapan Langkat untuk menghadapi Covid-19, yang masih terus berkembang,” kata Kapolres.

Kapolres juga menambahkan, terpilihnya Desa Aman Damai ini sebagai salah satu pilot project dalam menuju masa new normal, disebabkan kemampuannnya hidup berdamai dengan Covid-19, bukan berarti menyerah, namun tetap membentengi diri dengan melaksanakan serta senantiasa menjaga kesehatan.

Camat Sirapit, Endami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan pemerintah mencanangkan Desa Aman Damai salah satu Kampung Tangguh Terasa percontohan di Kabupaten Langkat. Hadir dalam acara pencangan tersebut, Kadis Kominfo, Kadis Perindag, Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan, Kadis Sosial, Kepala BPBD, Plt. Kadis PMD, Plt. Kadis Kesehatan, Plt. Kadis Perikanan dan Kelautan, Kadis PUPR, Kabag Ops, Kasat Binmas, Kapolsek se wilayah Langkat Hulu, serta undangan lainnya. (yas)