26 C
Medan
Friday, April 17, 2026
Home Blog Page 4258

New Normal, Asian Agri Adopsi Teknologi

Bernard Reido, Director Sustainability & Stakeholder Relations Asian Agri, bicara mengenai program Keberlanjutan Asian Agri.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Penerapan protokol kesehatan  untuk mencegah penyebaran COVID-19 menjadi fokus Asian Agri, agar keberlangsungan operasional di perkebunan dan pabrik sawit tetap terjaga. Bernard Riedo, Director Sustainability & Stakeholder Relations Asian Agri menegaskan hal ini, saat membahas tentang pengelolaan sawit berkelanjutan di tengah pandemic COVID-19 bersama para jurnalis dalam silaturahim virtual, Kamis (11/6/2020).
Hadir pada kesempatan tersebut, Ekonom Indonesia, Dr. Fadhil Hasan, yang  mengulas dampak pandemi terhadap komoditas sawit Indonesia. 

“Sebelum terjadi penyebaran Covid-19,  produksi miyak sawit diperkirakan mengalami pertumbuhan yang melambat.  Setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan hal ini yaitu, pertama, dampak dari El-Nino 2019 yang menyebabkan menurunnya kualitas buah.  Buah tidak cepat matang dan beratnya juga menurun. Kedua, terkait dengan harga yang rendah pada hampir sepanjang tahun 2019 yang menyebabkan kesulitan keuangan terutama para petani,” katanya.


Fadhil menjelaskan, kesulitan keuangan yang dialami petani dan sejumlah perusahaan sawit juga menyebabkan mereka mengurangi pemupukan. Secara umum, diperkirakan pemakaian pupuk berkurang sebesar 30-40%, dan dalam kondisi kekeringan juga menyebabkan pemupukan tidak efektif, yang akhirnya mengakibatkan produktivitas menurun.
Dinamika dalam industri kelapa sawit juga terjadi akibat sejumlah negara mengeluarkan kebijakan yang menyebabkan beberapa aspek ekonomi, sosial dan kehidupan mengalami perlambatan. 

Secara nasional, Fadhil menguraikan bahwa ekspor CPO Januari –April 2020 mengalami penurunan 12% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, nilai ekspor meningkat 9%.  Sementara, konsumsi CPO dalam negeri  periode Januari-April 2020 menunjukkan peningkatan 6% dibanding periode yang sama tahun 2019.
Optimisme pelaku usaha di bidang kelapa sawit menjadi kunci bagi upaya meningkatkan kinerja industri yang juga menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia ini.

Seiring dengan penerapan kenormalan baru (new normal),  Asian Agri yang beroperasi di Provinsi Sumatera Utara, Riau dan Jambi ini  tetap melanjutkan komitmen keberlanjutannya.
“Kami beroperasi, baik perkebunan dan pabrik CPO, dengan menerapkan protokol kesehatan sesuai kebijakan Pemerintah dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dalam memasuki kenormalan baru,” kata Bernard.


Keberlanjutan  mencakup aspek lingkungan, masyarakat dan perusahaan tanpa mengorbankan para pemangku kepentingan.  Bernard mengatakan, “Pencapaian program keberlanjutan Asian Agri tahun 2019, di antaranya:  100% sertifikasi ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil); 100% petani plasma mitra Asian Agri mempertahankan sertifikasi RSPO (Roundtable Sustainable Palm Oil) dan  ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil).  Di tahun 2019, 2 KUD/Asosiasi Petani Swadaya di Jambi memperoleh sertifikat RSPO, sehingga saat ini terdapat 4 KUD/Asosiasi Petani Swadaya mitra kami yang tersertifikasi RSPO  seluas lebih dari 2.000 hektar; dan Asian Agri  mencapai 100% traceability atau ketertelusuran. Kami bekerja sama dengan lembaga independen untuk memutakhirkan  sistem ketertelusuran tersebut.”
Bernard menambahkan bahwa di akhir tahun 2019, Asian Agri juga melampaui target pencapaian program Komitmen Kemitraan  “One to One” atau Kemitraan Satu Banding Satu yang  mewujudkan pengelolaan kebun kelapa sawit petani mitra yang luasnya sama dengan kebun inti milik perusahaan.

“Jumlah luas lahan inti perusahaan 100.000 hektar dan hingga akhir 2019 tercatat luas lahan petani mitra Asian Agri baik plasma dan swadaya mencapai lebih dari 101.000 hektar.”
Penerapan kenormalan baru juga  mendesak masyarakat dan perusahaan untuk beradaptasi dengan pola kegiatan yang mengacu pada protokol kesehatan sekaligus mengadopsi ketersediaan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari. 
“Asian Agri melaksanakan remote audit atau pemeriksaan jarak jauh  untuk internal dan eksternal, rapat koordinasi menggunakan  aplikasi zoom meeting,  menggunakan teknologi IT untuk memantau dan melakukan verifikasi data dan laporan, serta yang tak kalah penting saat ini adalah bersama perusahaan seperti Apical, kami menjajaki pasar baru/potensial untuk produk bersertifikat yang baru, misalnya di kawasan Asia.  Saat ini kami memiliki sertifikasi RSPO, ISCC, GMP+ dan ISPO. Ini  menjadi nilai tambah  ketika menjajaki peluang kerja sama dengan  pasar potensial, “ ujar Bernard. (Rel)

Antusias Warga Medan Rendah, 3 Hari, 800 Orang Ikut Rapid Test di RS USU

SERAHKAN: Anggota DPR RI Sofyan Tan (dua kanan) bersama Dirut RS USU, Dr dr Syah Mirsya Warli SpU(K) saat serah terima satu unit alat PCR dari Kemendikbud, Kamis (11/6).
SERAHKAN: Anggota DPR RI Sofyan Tan (dua kanan) bersama Dirut RS USU, Dr dr Syah Mirsya Warli SpU(K) saat serah terima satu unit alat PCR dari Kemendikbud, Kamis (11/6).
SERAHKAN: Anggota DPR RI Sofyan Tan (dua kanan) bersama Dirut RS USU, Dr dr Syah Mirsya Warli SpU(K)  saat serah terima satu unit alat PCR dari Kemendikbud, Kamis (11/6).
SERAHKAN: Anggota DPR RI Sofyan Tan (dua kanan) bersama Dirut RS USU, Dr dr Syah Mirsya Warli SpU(K) saat serah terima satu unit alat PCR dari Kemendikbud, Kamis (11/6).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Antusiasme warga Kota Medan masih rendah mengikuti rapid test Covid-19 secara massal yang digelar di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara (RS USU), sejak Selasa (9/6) lalu. Hingga hari ketiga, Kamis (11/6), tercatat masih 800 warga Medan yang mengikuti pemeriksaan tes cepat tersebut.

Humas RS USU M Zeinizen mengakui, antusiasme masyarakat Medan masih rendah. Sebab, melihat angka dan pemetaan, seharusnya jumlah peserta rapid test secara gratis ini lebih dari 1.000 orang. “Jumlah orang yang rapid test sejak hari pertama sampai Kamis mencapai 800-an,” ujarnya, Kamis (11/6).

Zein mengimbau, warga Medan untuk ikut rapid test massal hari ini. Sebab, Jumat (12/6) ini merupakan hari terakhir digelar hingga pukul 12.00 WIB. “Kita akan evaluasi, apakah nantinya digelar kembali atau bagaimana,” ucapnya.

Disinggung berapa banyak warga Medan yang reaktif dari hasil tes cepat Covid-19 tersebut, Zein enggan membeberkan. Alasannya, hal itu direksi yang berhak menyampaikan dari kegiatan yang merupakan bagian dari pengabdian masyarakat USU.

Dikatakannya, sebetulnya banyak warga yang ingin mengikuti rapid test. Akan tetapi, mereka pulang setelah mendengar hasil tes pihak RS USU tidak mengeluarkan surat. “RS USU tidak mengeluarkan surat keterangan bebas Covid-19. Pemeriksaan ini merupakan salah satu bentuk partisipasi USU dalam penanganan Covid-19, agar dapat mengetahui apakah seseorang terindikasi atau tidak. Semoga bisa membantu seluruh masyarakat yang memerlukan kepastian tersebut,” tandasnya.

Dapat Bantuan Alat PCR

Sementara itu, RS USU mendapat bantuan satu unit alat Polymerase Chain Reaction (PCR) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Bantuan alat tersebut, diserahkan melalui dr Sofyan Tan selaku Anggota Komisi X DPR RI.

Menurut Sofyan Tan, penyerahan bantuan satu alat PCR ini sebagai langkah percepatan dalam mendeteksi warga yang terindikasi kasus Covid-19 khususnya di Sumut. “Ini adalah kesempatan yang saya miliki sebagai anggota DPR untuk memberikan bantuan sekaligus turut serta membangun RS USU menjadi lebih baik lagi ke depannya,” ujar Sofyan Tan.

Dikatakan dia, 1 unit PCR ini menjadi bagian bantuan yang dibeli dari Kemendikbud sebanyak 5 unit. Karenanya, bantuan ini menjadikan RS USU sebagai satu-satunya rumah sakit pendidikan di luar Jawa yang mendapatkannya. Ia berharap, agar bantuan alat PCR ini dapat mempermudah dan mempercepatproses pemeriksaan yang dilakukan tim medis. “Jika sebelumnya dengan alat PCR yang dimiliki RS USU, sampel yang diperiksa sebanyak lebih kurang 300-an per hari dengan tambahan ini bisa menjadi 500 sampel,” tuturnya.

Dirut RS USU, Dr dr Syah Mirsya Warli SpU(K) menyambut baik bantuan yang diberikan tersebut. Adanya bantuan ini, tentu dapat membantu rumah sakit untuk segera mengeluarkan hasil pemeriksaan dengan cepat. “Bantuna ini jelas menambah cakupan Rumah Sakit USU untuk bisa lebih cepat mengeluarkan hasil swab, sehingga waktu tunggunya tidak begitu panjang,” ungkapnya.

Disampaikan Syah, sampel yang begitu banyak dengan alat PCR yang terbatas pastinya memerlukan waktu. Namun, adanya alat bantuan dari Kemendikbud, optimis dapat mengeluarkan paling tidak 400 hasil per hari. “Problem saat ini dengan alat PCR yang ada, tapi jumlah sampel yang sedemikian banyak. Kami tidak bisa mengejar waktunya itu cukup baik, walaupun sekarang kita bisa keluarkan waktu dua hari. Tapi, kalau dengan tambahan ini kita harapkan bisa dalam 400 hasil per hari,” tuturnya.

Ia menambahkan, dengan adanya bantuan alat PCR ini maka total ada tiga unit yang siap dioperasionalkan untuk pemeriksaan swab. “Kita ada alat PCR sudah lama, tapi selama ini tidak dapat berjalan karena reagensia Covid-19 yang susah didapat. Sekarang, ketersediaan reagensia sangat dibantu oleh pemerintah pusat dan gugus tugas daerah atau Dinas Kesehatan Provinsi Sumut. Kita harap tidak ada lagi keterlangkaan reagensia, sehingga tidak ada lagi penumpukan sampel,” pungkasnya. (ris)

Suka Berkerumun & Ceroboh Pakai Masker, Penyebab Angka Covid-19 Naik Terus

CEK SUHU TUBUH: Gubsu Edy Rahmayasi dicek suhu tubuhnya ketika hendak meninjau pasien penderita tumor ganas di RS Khusus Bedah Accuplast, Jalan Sei Bahbolon, Medan, Kamis (11/6) sore.
CEK SUHU TUBUH: Gubsu Edy Rahmayasi dicek suhu tubuhnya ketika hendak meninjau pasien penderita tumor ganas di RS Khusus Bedah Accuplast, Jalan Sei Bahbolon, Medan, Kamis (11/6) sore.
CEK SUHU TUBUH: Gubsu Edy Rahmayasi dicek suhu tubuhnya ketika hendak meninjau pasien penderita tumor ganas di RS Khusus Bedah Accuplast, Jalan Sei Bahbolon, Medan, Kamis (11/6) sore.
CEK SUHU TUBUH: Gubsu Edy Rahmayasi dicek suhu tubuhnya ketika hendak meninjau pasien penderita tumor ganas di RS Khusus Bedah Accuplast, Jalan Sei Bahbolon, Medan, Kamis (11/6) sore.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Angka kasus baru positif Covid-19 yang melonjak selama sepekan terakhir, diklaim karena tes uji spesimen yang masif. Tapi selain itu, harus diakui pula bahwa masih banyak masyarakat yang tak disiplin mematuhi protokol kesehatan. Salah satunya, tetap senang berkerumun dan ceroboh dalam memakai masker.

JURU Bicara Pemerintah untuk Covid-19, Achmad Yurianto mengatakan, dari hasil positif yang didapatkan, rata-rata spesimennya dikirim berdasarkan kontak tracing dari kasus positif yang gencar dilakukan oleh Dinas Kesehatan. Namun kendalanya adalah, sulitnya menemukan siapa saja kontak positif dengan pasien, karena rata-rata masyarakat gemar berada di kerumunan.

“Karena dari kontak tracing yang ada kami sering tak bisa menelusurinya. Karena kasus positif yang ditemukan, sebelumnya sering berada di kerumunan. Di pasar, di tempat-tempat ramai. Sehingga memungkinkan proses penularan dan sulitnya menjaga jarak,” kata Yuri dalam konferensi pers, Kamis (11/6).

Yuri mengatakan, penularan juga terjadi karena masyarakat tak disiplin dalam memakai masker yang benar. Masker semestinya dipakai menutup atas hidung, mulut, hingga ke bawah dagu untuk mencegah droplet. “Penggunaan masker yang tak benar juga berkontribusi pada penularan. Hanya tutup hidung atau mulutn

kemudian hanya menutup dagunya. Ini juga menjadi keprihatinan,” jelasnya.

Selain itu, kata dia, keprihatinan juga terjadi pada kasus yang diderita oleh anak dan balita. Apalagi jika mereka tertular oleh orang dewasa dengan mobilitas yang tinggi di luar rumah. “Kita butuh lingkungan yang aman agar tak tertular. Agar aman di tengah keluarga dibutuhkan komitmen yang disiplin,” tegasnya.

Yuri juga mengungkapkan, jumlah kasus positif pada Kamis (11/6), sebanyak 979 kasus baru. Jumlah ini lebih menurun dari dua hari sebelumnya yang sempat mencapai rekor tertinggi. Dengan penambahan itu, total pasien positif Covid-19 saat ini sebanyak 35.295 orang.

Menurutnya, dari semua kasus positif, ternyata didominasi oleh Orang Tanpa Gejala (OTG). Banyak pasien terbukti positif tetapi tidak merasa dirinya sakit atau tanpa gejala. “Dari spesimen yang kami terima, lebih banyak dari hasil kontak tracing. Dan sebagian besar dari kontak tracing adalah tanpa gejala. Atau gejala minimal yang dipersepsikan tak mengalami sakit,” katanya.

Maka, mereka harus diisolasi mandiri. Jika tidak, akan menjadi sumber penularan di masyarakat.

“Kasus-kasus tanpa gejala terbukti positif dari pemeriksaan PCR atau TCM. Maka harus dilaksanakan isolasi mandiri yang ketat. Jika tidak, ini akan jadi penularan,” tandasnya.

Sedangkan, untuk 5 provinsi terbanyak pertambahan Covi-19 di antaranya Jawa Timur dengan 297 kasus positif dengan 112 pasien sembuh. Sulawesi Selatan bertambah 141 kasus positif, tak ada pasien sembuh. Serta DKI Jakarta dengan 128 kasus positif dan 144 sembuh.

Lalu ada Kalimantan Selatan dengan 69 kasus positif dan 36 pasien sembuh. Terakhir, Sumatera Utara dengan 45 kasus positif dan 25 pasien sembuh. “Ada 18 provinsi melaporkan kasus di bawah 10. Dan 9 provinsi kasus nol,” katanya.

Saat ini, sudah 16.702 spesimen harian yang diperiksa. Sedangkan total spesimen yang diperiísa yakni 463.620 spesimen. Jumlah pasien sembuh pun terus bertambah. Yakni bertambah 507 pasien sembuh perh hari ini. Sehingga sehingga menjadi 12.636 pasien sembuh. Dan yang meninggal bertambah 41 jiwa. sSehingga total angka meninggal menjadi 2.000 kasus kematian. Ada 424 kabupaten kota terdampak. Dengan Orang Dalam Pemantauan (ODP) sebanyak 43.414 orang. Dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 14.052 orang.

Dampak Positif dan Negatif New Normal

Sebagai langkah adaptasi dengan kondisi pandemi Covid-19, penerapan transisi new normal atau kebiasaan baru, mau tidak mau harus dilakukan. Menurut Psikiatri Fakultas Kedokteran USU (FK USU), Dr dr Elmeida Effendy MKed KJ SpKJ(K), dengan kondisi new normal ini, terdapat dampak positif dan negatif pada masyarakat.

Dampak positifnya, bila melihat dinamika perubahan di lapangan secara cepat akan pembuatan kebijakan yang biasanya lama menjadi cepat karena menggunakan online meeting, sehingga anggaran perjalanan dinas lebih hemat. “Masyarakat harus membiasakan diri berperilaku hidup bersih. Harus dimulai dari diri sendiri dan berupaya menularkannya pada orang lain. Harus rajin cuci tangan dengan sabun dan air, makan-makanan bergizi, olahraga teratur, istirahat yang cukup dan lainnya. Kemudian, mempersiapkan segala bentuk protokol kesehatan menuju new normal ini dengan menerapkan waktu kerja yang fleksibel dan penyesuaian jam kerja,” kata Elmeida yang juga Ketua Departemen Psikiatri FK USU, Kamis (11/6).

Tak hanya itu, ujar dia, dalam pencegahan penyebaran virus corona ini juga akan membudaya perilaku hidup bersih sehat, diantaranya cek suhu tubuh, menggunakan masker, jaga jarak, mengurangi kontak fisik, menghindari pertemuan dengan jumlah orang yang banyak. “Bagi masyarakat yang berusia di atas 45 tahun akan melanjutkan bekerja dari rumah, atau bagi yang memiliki kondisi medis tertentu akan membatasi jumlah hari kerja,” ungkapnya.

Untuk kegiatan akademik, sambung Elmeida, dilangsungkan secara daring, menggunakan media informasi untuk menyampaikan standar pelayanan baru. Artinya, menggunakan media komunikasi daring sebagai wadah konsultasi maupun pengaduan memasang pesan-pesan kesehatan terkait penanganan dan pencegahan Covid-19.

“Di lingkungan kerja akan terbiasa untuk memastikan ketersediaan masker, tisu, tempat sampah tertutup. Tersedianya sarana cuci tangan menggunakan air dan sabun atau hand sanitizer di berbagai lokasi strategis. Adanya pembatasan orang yang menggunakan lift atau escalator,” tuturnya.

Lebih dari itu, ia mengarakan, juga tidak saling berjabat tangan. Bahkan, perubahan lainnya juga masyarakat akan membawa peralatan makan dan ibadah sendiri. Bahkan, membersihkan meja kerja dengan disinfektan, menggunakan siku untuk membuka pintu dan menekan tombol lift. “Untuk dampak negatifnya, bila kita tergesa-gesa dalam pemberlakuan new normal ini maka akan sangat berdampak buruk pada sektor kesehatan dan ekonomi. Dalam sektor kesehatan kasus positif Covid-19 ini akan melonjak,” ucap Elmeida.

Diutarakannya, gelombang kedua Covid-19 kemungkina akan timbul meski yang pertama pun belum reda. Hal itu lantaran rakyat semakin tidak percaya dengan pemerintah. Oleh karenanya, perlu masa transisi menuju new normal ini. “Sebagai contoh, program studi psikiatri FK USU untuk pertama kalinya melakukan pemberian tanda keahlian dokter spesialis kedokteran jiwa secara online. Ini merupakan yang pertama di program studi pendidikan spesialis FK USU dan semoga dapat diikuti oleh program studi lainnya. Sebab yang dilantik dan tamu hanya bertemu secara online, namun tidak mengurangi kebahagiaan karena bisa dinikmati secara live dari berbagai penjuru kota bahkan dunia,” pungkasnya.(jpg/ris)

Positif Covid-19 di Sumut Tambah 45 Orang

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Jubir Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Sumut dr Aris Yudhariansyah menyampaikan, sampai saat ini kasus positif Covid-19 masih terus meningkat. Berdasarkan perkembangan terkini data yang dirangkum hingga Kamis (11/6) sore, peningkatan angka kasusnya melalui hasil pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) dalam 24 jam mencapai hingga 45 orang. “Hari ini (kemarin, red) penambahan angka positif Covid-19 kembali meningkat tajam, dari sebelumnya 635 kini menjadi 680 orang,” ungkapnya.

Selain angka positif yang meningkat, kata Aris, jumlah pasien yang meninggal juga mengalami kenaikan. Sebelumnya, tercatat hanya 54 orang kini naik menjadi 57 orang. “Syukurnya angka pasien yang sembuh juga meningkat sebanyak 12 orang dari sebelumnya 192 menjadi 204 orang,” bebernya.

Sementara, sambung Aris, penurunan terjadi pada angka Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang dirawat dari sebelumnya 143 menjadi 142 orang. Sedangkan angka Orang Dalam Pemantauan (ODP) juga kembali mengalami peningkatan dari 412 menjadi 413 orang. “Kota Medan menjadi jumlah kasus tertinggi, dengan pasien positif Covid-19 462 orang, PDP 89 orang, meninggal 35 orang dan sembuh 136 orang. Tertinggi kedua adalah Kabupaten Deli Serdang positif Covid-19 92 orang, PDP 19 orang, pasien sembuh 26 orang dan meninggal 11 orang,” paparnya.

Aris mengimbau agar masyarakat jangan lengah terhadap pandemi Covid-19 yang masih berlangsung ini dan terus meningkatkan imunitasnya. Selain itu, diminta agar mewaspadai Orang Tanpa Gejala (OTG) yang keberadaannya ada di sekitar. “Dalam menghadapi fase new normal ini kita jangan menyikapinya secara eforia, melainkan tetap menjalankan protokol kesehatan sesuai yang dianjurkan,” tukasnya.(*)

Diisukan Tersangka KPK, Haji Buyung Terkejut

LABURA, SUMUTPOS.CO – Bupati Labuhanbatu Utara Kharuddin Syah Sitorus terkejut mendengar kabar dirinya ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia menyerahkan semua peristiwa itu kepada ketentuan Allah SWT.

“Saya terkejut,” katanya kepada wartawan di Cafe Labas, di perbatasan Asahan-Labura, Kamis (11/6) dini hari.

Dia mengaku, pertama kali mendapat kabar dirinya diisukan menjadi tersangka saat dalam perjalanan menuju Medan untuk melayat adik mertuanya yang meninggal dunia, Rabu (10/6). Padahal di pagi hari hingga menjelang sore, dia masih memantau pembagian bantuan langsung tunai (BLT) di Kampung Mesjid, Kecamatan Kualuhhilir.

Adanya kabar itu pun membuat teleponnya nyaris tak berhenti berdering karena banyak orang ingin mengetahui kebenarannya. Bahkan, Gubernur Edy Rahmayadi dan Wagub Musa Rajekshah juga menelepon untuk menanyakan.

Saat di Medan, lebih kurang 10 doktor dari berbagai disiplin ilmu pun bertanya padanya. “Ada 10 doktor dan profesor yang datang saat saya minum di Suffi Cafe di Medan. Saya saja heran,” kata Bupati Labura yang akrab disapa Haji Buyung ini.

Selain itu, tidak sedikit Tuan Guru Batak (TGB) dan Mursyid yang menghubungi. Dia bahkan menunjukkan isi pesan singkat tersebut. “Ini SMS dari tuan guru yang bertanya sama aku (sambil menunjukkan ke wartawan),” kata pria yang mendapat gelar Khadimul Masyaikh dari TGB Dr Ahmad Sabban Rajagukguk.

Kepala daerah yang dikenal bicara ceplas ceplos itu mengaku mengambil hikmah atas peristiwa tersebut. “Ternyata sangat banyak orang yang peduli sama aku. Bukan hanya dari Sumut, dari Jawa juga banyak yang menelepon,” ucap mantan Ketua DPW Partai Bintang Reformasi (PBR) Sumut itu.

Dari peristiwa itu, Haji Bujung mengaku mengambil hal positifnya. “Saya berpikir positif dan menyerahkan semuanya kepada Allah,” pungkas mantan anggota DPRD Sumut tersebut.

Terpisah, Gubernur Sumatra Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi, mengaku telah ditemui Bupati Labura, Kharuddin Syah Sitorus di Medan, Rabu (10/6). Pertemuan itu menyulutkan perhatian public, karena saat yang bersamaan berhembus isu yang menyebutkan politikus Partai Golkar tersebut telah ditetapkan tersangka oleh KPK. Lalu, apakah pertemuan keduanya membahas isu status tersangka tersebut? “Wah nggak, nggak ada dia tersangkut KPK,” ujar Edy menjawab wartawan, usai meninjau pasien penderita tumor ganas di RS Khusus Bedah Accuplast, Jalan Sei Bahbolon, Medan, Kamis (11/6) sore.

Edy mengatakan, Bupati Labura datang menemui dirinya dalam rangka silaturahmi, karena saat ini masih dalam suasana Bulan Syawal. “Dia belum jumpa sama saya untuk silaturahmi, halal bihalal. Jadi dia datang,” sebut Edy.

Di pertemuan itu, sebut Edy lagi, sama sekali tidak membahas soal isu KPK yang dikaitkan dengan Bupati Labura itu. “Iya hanya itu, tak ada cerita itu. Apa memang ada tersangka?,” tanya Edy kepada wartawan.

Dijelaskan para awak media, Tim Penyidik KPK masih dalam tahap pemeriksaan saksi-saksi terkait kasus di Kabupaten Labura dan pengumpulan alat bukti. “Oh ndaklah, nggak. Pemeriksaan kan harus izin gubernur,” sebut Edy, sembari menjawab wartawan lagi, bahwa hingga sejauh ini belum ada menerima surat pemeriksaan terhadap Bupati Labura dari KPK.(bbs)

Dzulmi Eldin Divonis 6 Tahun Penjara

SIDANG VIRTUAL: Wali Kota Medan nonaktif Dzulmi Eldin (kiri di layar monitor), menjalani sidang putusan secara virtual, Kamis (11/6).
SIDANG VIRTUAL: Wali Kota Medan nonaktif Dzulmi Eldin (kiri di layar monitor), menjalani sidang putusan secara virtual, Kamis (11/6).
SIDANG VIRTUAL: Wali Kota Medan nonaktif Dzulmi Eldin (kiri di layar monitor), menjalani sidang putusan secara virtual, Kamis (11/6).
SIDANG VIRTUAL: Wali Kota Medan nonaktif Dzulmi Eldin (kiri di layar monitor), menjalani sidang putusan secara virtual, Kamis (11/6).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Wali Kota Medan nonaktif, Dzulmi Eldin divonis selama 6 tahun penjara dan denda sebesar Rp500 juta subsider 4 bulan kurungan, oleh Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Pengadilan Negeri Medan, Kamis (11/6). Tak cuma itu, Majelis Hakim juga mencabut hak politik Eldin selama 4 tahun.

Majelis hakim yang diketuai Abdul Azis, menyatakan Dzulmi Eldin terbukti bersalah menerima hadiah atau atau janji berupa uang sebesar Rp2,1 miliar dari sejumlah kepala dinas di lingkungan Pemko Medan. Perbuatan tersebut, melanggar Pasal 12 huruf a UU ndang RI No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

sebagaimana telah diubah dengan UU RI No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHPidana jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.

“Mengadili, menyatakan terdakwa Dzulmi Eldin S terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama. Menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa selama 6 tahun,” ucap Abdul Azis dalam sidang yang digelar secara virtual, di Ruang Cakra 2 Pengadilan Tipikor Medan, Kamis (11/6).

Tak hanya kurungan badan, Eldin juga dibebankan membayar denda sebesar Rp500 juta subsider 4 bulan kurungan. “Selain itu, terdakwa juga diberikan hukuman tambahan berupa pencabutan hak politik selama 4 tahun seusai menjalani hukuman pokok,” tegas hakim.

Mejelis hakim berpendapat, hal yang memberatkan perbuatan terdakwa selaku kepala daerah tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas korupsi. “Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa belum pernah dihukum dan bersikap sopan,” katanya.

Putusan ini lebih ringan dari tuntutan jaksa KPK yang pada sidang sebelumnya, menuntut Eldin selama 7 tahun penjara, denda Rp500 juta dan subsider 6 bulan, serta penambahan pencabutan hak politik selama 5 tahun. Atas vonis yang dijatuhkan, jaksa KPK menyatakan pikir-pikir.

Sementara kuasa hukum Eldin, Junaidi Matondang mengaku masih akan mempelajari isi putusan hakim. Menurutnya, ada hal yang fiktif disampaikan majelis hakim tersebut. “Ada yang fiktif di fakta persidangan ini. Pertama, kita tak tahu dari mana hakim mengatakan Samsul Fitri memberikan uang kepada terdakwa di ruang kerja. Samsul dalam persidangan mengatakan, memberikannya di Jepang, pagi sebelum kembali ke Indonesia dan jumlahnya sudah sisa dari Rp200 juta,” ujarnya.

Junadi mengatakan, di dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP), keterangan Samsul berbeda. Sebab itu, ia mensinyalir fakta-fakta yang disampaikan hakim hanya copy paste. “Dalam BAP lain lagi keterangannya, tapi itu diterima. Karena fakta itu hanya copy paste yang diarahkan, beda dengan fakta sebenarnya di sidang, maka pertimbangan hukumnya jadi gelap, mengada-ada jadinya,” sebutnya.

“Contohnya, hanya satu saksi, Samsul yang nuduh terdakwa yang merintah, sementara yang lain, Aidil dan Andika itu dengar dari Samsul. Kepala dinas dengar dari Samsul, tapi di sini dikatakan Aidil dan Andika mengatakan ada perintah dari Pak Wali,” sambungnya.

Dalam posisi ini, Matondang menegaskan, pihaknya tetap pada pendirian awal yakni tidak ada bukti dalam perkara tersebut. “Kami tetap, tak ada bukti dalam perkara ini. Belum lagi saksi Samsul itu keterangannya berbeda. Dikatakannya, dia melapor kepada terdakwa tentang tagihan dari travel di Toko Karpet Samad, itu dipersidangan. Dalam tuntutan penuntut umum juga tercatat di situ. Tapi di BAP, dia katakan di ruang kerja, keterangan seperti ini, tak bisa, berbeda, kok bisa diterima,” ungkapnya.

Diakhir, Matondang mengatakan, jika ia menyerahkan semua keputusan kepada Dzulmi Eldin, apakah menerima atau mengajukan banding terhadap vonis hakim itu.

Gubsu Edy Ingatkan Kepala Daerah Lain

Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi, kembali ingatkan kepala daerah di Sumut untuk tidak melakukan pelanggaran hukum selama diberi amanah menjabat. Hal ini disampaikannya ketika diminta tanggapan atas vonis enam tahun pengadilan terhadap Wali Kota Medan nonaktif, Dzulmi Eldin, kemarin.

Baginya, kesejahteraan rakyat adalah yang utama harus dilakukan oleh kepala daerah. Sebab, rakyat telah memberi mandat atas jabatan yang diemban. “Bupati lain sudah saya sampaikan jangan terulang terus ini. Kita harus mensejahterakan rakyat,” katanya menjawab wartawan di Jalan Sei Bahbolon, Medan, Kamis (11/6).

Edy juga prihatin mendengar vonis 6 tahun penjara dan pencabutan hak politik terhadap suami Rita Maharani tersebut. Menurutnya, lebih baik Eldin dihukum di dunia daripada di akhirat. Jika di akhirat yang menghukum, kata dia, pasti akan lebih parah untuk dijalani. “Lebih baik dihukum di dunia dari pada akhirat yang menghukumnya,” kata mantan Pangkostrad dan Pangdam I/BB tersebut.

Meski demikian, ia tidak mau ikut campur terkait penetapan Dzulmi Eldin sebagai terdakwa dalam kasus penerima suap oleh KPK. Ia berdoa agar mantan wakil wali kota dan sekda Kota Medan itu, tegar dan kuat. “Soal vonis Eldin, saya tidak ikut campur itu. Semoga dia kuat,” ujarnya. (man/prn)

Jual 5 Kg Ganja ke Polisi, Dua Terdakwa Diadili

Ilustrasi
Ilustrasi

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sukendro dan Andi Saputra didudukan sebagai terdakwa dalam sidang yang berlangsung virtual di ruang Cakra 3 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Kamis (12/6). Kedua terdakwa warga Delitua ini diadili, karena menjual 5 kg ganja kepada polisi.

Mengutip dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) Sabrina, tanggal 26 November 2019, terdakwa Andi Saputra datang ke tempat terdakwa Sukendro bekerja sembari membawa satu tas yang berisi 5 bungkus daun ganja. Terdakwa Andi lalu mengajak terdakwa Sukendro mengendarai sepeda motor menuju sebuah warung.

Terdakwa Sukendro yang belum mengetahui isi tas tersebut, lantas bertanya kepada terdakwa Andi. Sukendro diimingi akan diberikan upah Rp1 juta. Kemudian, terdakwa Andi meninggalkan terdakwa Sukendro di warung tersebut mengendarai sepeda motor.

Tak berapalama kemudian, terdakwa Andi kembali ke warung kemudian membawa terdakwa Sukendro pergi bergegas menuju Jalan Stasiun Desa Suka Makmur Kecamatan Delitua, tepatnya di Kuburan Cina. Begitu sampai dilokasi, ternyata petugas Ditres Narkoba Poldasu yang menyamar sebagai pembeli langsung melakukan penangkapan.

Dari terdakwa disita 1 tas berisi 5 bungkus ganja dengan berat 5.103 gram. Kemudian kedua terdakwa dibawa ke kantor Direktorat Reserse Narkoba Poldasu.

Perbuatan terdakwa sebagimana diatur dan diancam Pidana Pasal 114 (2), 111 (2) Jo Pasal 132 (1) UU RI No 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

Usai pembacaan dakwaan, majelis hakim yang diketuai Jarihat Simarmata menunda sidang hingga pekan depan dengan agenda saksi. (man)

Manajer PSMS Dilaporkan ke Polisi

Adep Prabudi
Adep Prabudi
Adep Prabudi
Adep Prabudi

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Manajer PSMS, MS dilaporkan ke Polrestabes Medan, terkait dugaan penimpuan proyek di Dinas Kelautan dan Perikanan Sumut, Rabu (10/6).

Sebagai pelapor DPW Badan Peneliti Independen Kekayaan Penyelenggara Negara dan Pengawas Anggaran (BPI KPNPA) RI Sumatera Utara sebagai perwakilan dari Adep Prabudi dan Budi Satria. Keduanya mengklaim telah ditipu oleh MS.

“Kita malaporkan MS atas dugaan penipuan. Kita berharap polisi segera memperoses laporan ini,” ujar Ketua DPW BPI KPNPA RI Sumut Jhonson Situmorang SH didampingi Sekjen Drs Parulian di Medan, kemarin.

Dijelaskan, kasus dugaan penipuan ini terjadi pada tahun 2018 lalu. Saat itu, MS membujuk Adep Prabudi dan Budi Satria untuk menjadi donatur PSMS U-16 di Liga 1, dengan iming-iming akan mendapatkan proyek di Dinas Kelautan dan Perikanan Sumut.

“Adep Prabudi dan Budi Satria kemudian memberikan dana yang tidak sedikit ke manajemen PSMS. Kiprah PSMS U-16 kemudian terhenti di babak delapan besar,” ungkapnya.

Namun hingga kini apa yang dijanjikan MS tersebut tidak teralisasi. Proyek yang diberikan tidak ada.

Kondisi ini membuat kedua korban merasa ditipu.

“Kedua korban juga sudah berusaha meminta penjelasan kepeda MS, tapi malah dicuekki. Hingga kini proyek yang dijanjikan tidak terealisasi. Kedua korban merasa ditipu,” tagasnya.

Karena tidak ada itikad baik, korban didampingi DPW BPI KPNPA Sumut melaporkan MS ke Polrestabes Medan, Rabu (10/6). Laporan itu tertuang dalam Nomor 1420/K/VI/YAN:2.5/2020/SPKT Restabes Medan tertanggal 10 Juni.

“Kita berharap agar laporan tersebut segera diproses. Kita juga akan mengungkit kasus lainnya di PSMS,” tegasnya. (dek)

Polisi Bekuk Penikam Danto Hingga Tewas

DITANGKAP: Tersangka Renol Sembiring (paling tengah) diapit petugas.
DITANGKAP: Tersangka Renol Sembiring (paling tengah) diapit petugas.
DITANGKAP: Tersangka Renol Sembiring (paling tengah) diapit petugas.
DITANGKAP: Tersangka Renol Sembiring (paling tengah) diapit petugas.

KARO, SUMUTPOS.CO – Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Tanah Karo meringkus Renol Sembiring Colia alias Mansur (35), tersangka penganiayaan berat terhadap Danto Tarigan (38) yang mengakibatkan korban tewas.

Kasat Reskrim Polres Tanah Karo AKP Sastrawan Tarigan mengungkapkan, Renol warga Desa Seberaya, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo, dibekuk dari lokasi persembunyiannya di sebuah satu hotel di kawasan Jalan Jamin Ginting, Medan, Selasa (9/6).

“Tersangka ditangkap (kasus) tindak penganiayaan yang mengakibatkan (korban) luka berat sehingga korban meninggal dunia,” ujar AKP Sastrawan Tarigan, Rabu (10/6). Kasus penganiayaan terhadap Danto Tarigan, penduduk Desa Bukit, Kecamatan Dolat Rayat, terjadi di kedai kopi di desa Desa Bukit, pada Minggu (10/5) lalu sekitar pukul 20.30 WIB.

“Tersangka menikam korban di belakang punggung, membuat korban terkapar di lokasi,” kata Sastrawan. Mendapati luka tikaman itu, sebut AKP Sastrawan, dua orang warga, melarikan korban ke Puskesmas Pembantu Desa Bukit. Selanjutnya korban menjalani perawatan di RSU Mitra Sejati, Kota Medan.

“Korban dirawat selama tiga hari di RSU Mitra Sejati Medan, memutuskan menjalani berobat jalan. Namun, Kamis (28/5) korban meninggal dunia,” kata Sastrawan. Setelah berhasil menangkap Renol di tempat persembunyiannya. Tim Reskrim Polres Tanah Karo membawa tersangka ke rumahnya, melakukan penggeledahan.

Dari rumah tersangka, kata Sastrawan, disita barang bukti sebilah pisau serta baju dan celana yang digunakan tersangka saat melakukan penganiayaan terhadap korban. (deo)

Gagal Menangkap DPO, Personel Polisi juga Dibacok

DIRAWAT: Aipda Daely menjalani perawatan di RS. Bhayangkara Medan.
DIRAWAT: Aipda Daely menjalani perawatan di RS. Bhayangkara Medan.
DIRAWAT: Aipda Daely  menjalani perawatan di RS. Bhayangkara Medan.
DIRAWAT: Aipda Daely menjalani perawatan di RS. Bhayangkara Medan.

BELAWAN, SUMUTPOS.CO – Aipda Daely mengalami luka serius pada bagian kepala dan menjalani perawatan di RS Bhayangkara Medan, setelah mengalami pembacokan yang dilakukan Erwim tersangka kasus perampokan yang menjadi daftar pencariam orang (DPO) di Lorong Supir, Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Rabu (10/6) pukul 21.00 WIB.

Aipda Daely bertugas Sat Reskrim Polres Pelabuhan Belawan. Informasi menyebutkan, malam itu Unit Pidum Reskrim Polres Pelabuhan Belawan dibawah pimpinan Ipda Herikson berjumlah 6 orang mau menangkap Erwim yang menjadi target. Petugas saling berpencar untuk menangkap tersangka.

Tersangka terlibat dalam sejumlah kasus perampokan berhasil diamankan Aipda Daely sedang berada di lokasi. Penangkapan itu membuat teman tersangka mencoba menghalangi penangkapan dengan membawa senjata tajam langsung membacok Daely.

Para pemuda itu membacok kepala Daely bertubi-tubi, sehinga Erwin yang sempat diamankan berhasil kabur bersama teman-temannnya. Petugas lainnya tidak jauh dari lokasi melakukan pertolongan terhadap Daely, kemudian berusaha mengejar Erwin dan temannya yang berhasil kabur, namun gagal ditangkap.

Selanjutnya, tim dari Sat Reskrim langsung membawa Daely ke RS Marta Friska, Beberapa jam kemudian, Daely diboyong ke Rumah Sakit Bhayangkara. Hingga kini, petugas masih melakukan pengejaran terhadap Erwin dan beberapa temannya yang telah melukai personel Polres Pelabuhan Belawan.

Kapolres Pelabuhan Belawan AKBP MR Dayan saat dikonfirmasi wartawan menyebutkan bahwa Aipda Daely mengalami luka bacok pada bagian kepala, bahu dan Lengan sebelah kanan. “Saat ini korban dirujuk ke RS. Bhayangkara Medan untuk mendapatkan perawatan medis lebih lanjut,” katanya. (fac)