24 C
Medan
Friday, January 2, 2026
Home Blog Page 4298

Pasien Sembuh dari Corona Tak Akan Tularkan Lagi, Jangan Kucilkan Mereka

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pasien yang sudah sembuh, tidak akan menularkan virus Corona. Karenanya, masyarakat diminta untuk tidak takut, apalagi sampai mengucilkan pasien yang sudah dinyatakan sembuh dari virus Corona ini.

TERNYATA, masih ada mantan pasien Corona yang kerap kali mendapat stigma negatif di masyarakat. Mereka masih tetap dijauhi. Menyikapi hal ini, pemerintah menegaskan bahwa mereka yang sudah sembuh dari Corona tidak akan menularkan penyakitnya lagi.

“Kami mohon kepada masyarakat untuk paham betul bahwa pasien-pasien COVID-19 yang sudah sembuh, mereka tidak akan menularkan penyakitnya lagi,” kata Yuri dalam konferensi pers yang digelar di akun YouTube BNPB, kemarinn

Yuri memastikan, setiap pasien virus Corona yang dinyatakan sembuh telah melewati protokol dan persyaratan kesehatan yang ketat. Protokol dan persyaratan tersebut yang membuat pihaknya yakin para pasien tersebut telah dinyatakan negatif dari Corona. “Tidak akan menularkan penyakitnya lagi karena persyaratan sembuh diyakinkan bahwa dia sudah negatif (virus Corona) di dalam tubuhnya,” imbuhnya.

Kemarin, pemerintah juga mengumumkan penambahan jumlah kasus positif Corona yang telah dinyatakan sembuh. Per Minggu (19/4), terdapat total 686 kasus virus Corona yang dinyatakan sembuh atau bertambah 55 orang dari hari sebelumnya. Sedangkan yang meninggal sebanyak 582 jiwa, terjadi penambahan sebanyak 47 jiwa.

Dari total kasus sembuh dan meninggal tersebut, ada pula penambahan untuk kasus positif sebanyak 327 kasus baru, sehingga tercatat pasien positif sebanyak 6.575 kasus. “Sementara 35.644 dinyatakan negatif,” jelas Yurianto.

Sementara itu, jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) sebanyak 15.646 pasien, mengalami penambahan berjumlah 2.667 pasien. Sedangkan, orang dalam pemantauan (ODP) sebanyak 178.883 orang, terjadi penambahan sebanyak 2.539 orang.

PDP Meninggal Tak Masuk Data Positif

Ahmad Yurianto juga menjelaskan, Pasien dalam Pengawasan (PDP) yang meninggal dunia, namun belum terkonfirmasi positif atau negatif Covid-19 tetap dimasukkan dalam data PDP. Pasien meninggal tersebut tidak akan masuk dalam daftar korban meninggal karena Covid-19. “Kasus PDP yang belum terkonfirmasi Covid-19 maka tidak akan kita catat sebagai jenazah Covid-19. Ini yang harus kita pahami supaya tidak semua kasus meninggal di era sekarang selalu dikonotasikan Covid-19,” imbuhnya.

Yuri menyampaikan, hingga Minggu (19/4), jumlah pasien yang meninggal akibat Covid-19 berjumlah 582 jiwa. Jumlah tersebut hanya yang terkonfirmasi positif Covid-19. “Kasus pasien yang meninggal hanya yang terkonfirmasi positif Covid-19. Kami tak pernah masukan data pasien meninggal yang masih belum terkonfirmasi,” kata Yuri.

Yuri juga menegaskan, data yang disampaikan pemerintah dapat dipertanggungjawabkan. Karena harus melaporkan pada organisasi kesehatan dunia (WHO). Oleh karena itu, Yuri menyebut pasien yang meninggal disampaikan pemerintah merupakan yang terkonfirmasi positif Covid-19. “Tak semua pasien meninggal selalu kita nyatakan positif Covid-19. Kita hanya akan laporkan kasus meninggal yang memang terkonfirmasi positif,” tegas Yuri.

Kemudian, mengenai jenazah yang dimakamkan sesuai protokol penanganan Covid-19, belum tentu bahwa jenazah tersebut benar-benar meninggal karena Covid-19. Pria yang akrab disapa Yuri itu meminta masyarakat memperhatikan hal ini. “Bahwa jenazah yang dimakamkan dengan tata laksana pada pengelolaan penyakit menular, itu belum pasti jenazah Covid-19,” ungkapnya.

“Hal yang sama juga kita lakukan apabila jenazah itu meninggal karena HIV AIDS, karena Hepatitis B, karena Ebola, karena Difteri, karena Covid-19. Semua akan mendapatkan perlakuan yang sama,” tambahnya.

Yuri mengajak masyarakat Indonesia pada umumnya untuk selalu menggunakan alat pelindung diri (APD) khususnya masker. Hal ini tidak lain untuk memutus penyebaran wabah virus korona atau Covid-19. “Pastikan kita tidak tertular dan kita tidak menulari, mari kita gunakan maskerku melindungi kamu, maskermu melindungi aku,” beber Yuri.

Oleh karena itu, Yuri pun tak henti-hentinya meminta masyarakat untuk melawan penyebaran Covid-19. Terlebih sejumlah daerah kini telah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). “Mari kita lawan Covid-19 dengan imunitas tubuh kita, tidak panik. Jaga jarak pakai masker. Gotong royong bersatu melawan Covid-19 dan tetap di rumah,” harap Yuri.

Sebelumnya, Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daen M Faqih menyatakan, jumlah kematian karena Covid-19 telah mencapai 1.000 orang. Menurutnya, jumlah tersebut merupakan gabungan antara pasien positif dan pasien dalam pengawasan (PDP). “PDP yang meninggal belum masuk dalam laporan kematian. PDP yang meninggal oleh RS dilaporkan juga sebagai kematian perawatan Covid, dimakamkan sesuai prosedur Covid. Hasil pemeriksaan belum keluar bahkan belum sempat diperiksa,” kata Ketua Umum IDI, Daeng M Faqih, kepada wartawan, Sabtu (18/4).

Daeng mengatakan, pemeriksaan terkait virus Corona di Indonesia relatif kurang cepat. Karena itu, mereka yang berstatus PDP meninggal dunia sebelum hasil pemeriksaan keluar. “Kurang cepat pemeriksaannya sehingga yang mati dalam status PDP belum keluar hasilnya malah tak sempat diperiksa. Ini pentingnya testing perlu diperluas dan dipercepat prosesnya seperti yang disampaikan Presiden,” ujar Daeng.

Pernyataan senada juga disampaikan Humas PB IDI, Halik Malik. Menurut Halik, angka kematian yang mencapai 1.000 orang itu merupakan akumulasi dari kasus positif dan PDP Corona. “Dari angka positif Covid yang meninggal dan PDP Covid yang meninggal di RS yang merawat atau barangkali ada juga yang di luar di rumah sakit tapi sudah dilaporkan sebagai PDP itu kalau ditotal-total ya memang angkanya di atas angka yang disebutkan,” ujar Halik saat dihubungi terpisah.

Halik mengatakan selama ini PDP Corona tak diumumkan resmi pemerintah. Jumlah kasus ODP dan PDP Corona baru disampaikan secara berkala setelah ada perintah dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). “Ya sejauh ini kan blm pernah diumumkan yang statusnya PDP. Sementara banyak laporan pasien dalam pengawasan COVID-19 ini belum menerima hasil lab keburu meninggal. Nah itu kalau ditotalkan dengan yang sudah disampaikan jubir pemerintah ya memang angkanya di atas itu,” ujar Halik.

Menurut Halik, data terkait Corona yang disampaikan pemerintah saat ini belum menggambarkan kondisi rill kasus Corona di Indonesia. Itu disebabkan pemeriksaan yang masih belum masif di sejumlah daerah. “Memang sejak awal IDI mendorong supaya data yang terpapar COVID siapapun yang terdampak COVID ini termausk petugas medis tenaga kesehatan dokter itu perlu diketahui seberapa jumlahnya yang tertular COVID-19 berapa yang dirawat, berapa yang wafat karena COVID,” tutur Halik. (jpc/dtc)

Percepat Tes PCR, Pemerintah Siap Tutup Perkantoran

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Gugus Tugas Covid-19 menyampaikan prediksi kasus positif virus Corona di Indonesia akan mencapai 106 ribu di Juli mendatang. Pemerintah pun langsung menyiapkan sederet langkah antisipasi.

“Langkah antisipasinya satu, konsistensi PSBB dan evaluasi implementasinya secara berkala serta mengambil kebijakan dengan cepat di lapangan jika PSBB tidak ditaati untuk memberikan opsi lain kepada pemerintah pusat dalam rangka penegakan PSBB,” kata Tenaga Ahli Utama Kepresidenan KSP Dany Amrul Ichdan, Minggu (19/4).

Pemerintah juga bakal mempercepat tes PCR demi memutus rantai penyebaran virus Corona. Pemerintah juga siap menutup kantor pemerintahan yang tak terkait dalam protokol penanganan Corona. “Mempercepat tes PCR, khususnya di daerah kuning dan merah agar dapat dilakukan mitigasi dan fase delay terhadap outbreak,” ucap Danyn

“Menutup perkantoran pemerintah dan swasta termasuk pabrikasi dan sektor jasa yang tidak ada kaitannya dalam protokol kesehatan yang dibolehkan dalam PSBB untuk dibuka,” sebutnya.

Dany menilai, penutupan sejumlah tempat yang disebutkannya tadi bisa menimbulkan efek positif. Salah satu efek itu adalah menurunnya arus lalu lintas. “Penutupan ini juga akan berdampak pada penurunan moda transportasi yang saat ini masih padat di beberapa destinasi. Ini perlu kolaborasi dengan Pemprov, Depnaker dan industri terkait,” sebut Dany.

Rencana antisipasi ini disebut Dany bisa menumbuhkan kesadaran bagi perkantoran lainnya. Sektor yang tidak dikecualikan dalam PSBB diharapkan bisa ikut melakukan penutupan sementara. “Saya berharap sektor perkantoran pemerintah bisa menjadi role model penutupan kantor untuk sementara waktu, kecuali perkantoran yang dibolehkan dalam PSBB untuk dibuka sebagai layanan publik dan pertahanan keamanan,” ucap Dany. Dia juga menyarankan ada pengetatan pintu masuk di zona hijau demi memutus rantai penyebaran virus Corona.

Sementara, Deputi Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Juri Ardiantoro berharap, prediksi kasus positif virus Corona di Indonesia akan mencapai 106 ribu saat puncak wabah di bulan Juli tidak akan terjadi. “Angka-angka itu seperti disampaikan para pakar adalah prediksi dengan penghitungan-penghitungan ilmiah atau biasa disebut ‘permodelan’. Bisa jadi benar, tapi kita berharap tidak sampai sejumlah itu,” kata Juri Ardiantoro.

Menurut Juri, Gugus Tugas adalah institusi yang dipercaya pemerintah dalam penanganan wabah virus Corona. Juri meyakini Gugus Tugas juga telah menyiapkan langkah-langkah penanganan agar kasus positif Corona di Indonesia tak semakin melonjak. “Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 kan institusi yang dibentuk dan representasi pemerintah yang dipercaya untuk melakukan penanganan, termasuk langkah-langkah kebijakan dan pelaksanaan antisipasi tersebut. Gugus Tugas menghimpun sejumlah pakar yang dikoordinatori Prof Wiku telah mendengarkan dan pasti punya langkah-langkah penanganannya,” ujarnya.

Juri mengatakan, pemerintah bersama Gugus Tugas dan seluruh kementerian/lembaga telah diperintah oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk konsisten menerapkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Menurutnya, masyarakat perlu disiplin mengikuti protokol pencegahan Corona yang telah diterapkan pemerintah. “PSBB itu intinya pembatasan-pembatasan kegiatan masyarakat harus dilakukan secara konsisten, disiplin, dan ketegasan untuk penerapannya. PSBB diyakini saat sebagai langkah yang efektif untuk mencegah penularan lebih meluas. Tentu saja pelaksanaannya terus dimonitor dan dievaluasi, sambil melihat perkembangan dari hasil penerapan kebijakan PSBB ini,” jelas Juri.

“Oleh karena itu kuncinya di pencegahan agar lebih serius dan masih, terutama kedisiplinan kita semua, masyarakat untuk mengikuti protokol-protokol pencegahan,” lanjut dia.

Sebelumnya, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito menyampaikan prediksi para ilmuwan mengenai momentum puncak wabah virus Corona di dalam negeri. Para ilmuwan memprediksi puncak itu terjadi mulai Mei hingga Juli, angka positif COVID-19 bisa mencapai 106 ribu kasus.

“Dan kami mempercayai bahwa puncak dari pandemi ini di Indonesia akan dimulai pada awal Mei dan akan terus berlangsung sekitar awal Juni,” tutur Wiku menggunakan bahasa Inggris dalam video akun YouTube resmi Sekretariat Presiden, yang diakses pada Jumat (17/4).

Dia menyebut, angka kumulatif kasus positif COVID-19 pada puncak wabah bakal mencapai 95 ribu kasus. Namun kemudian, dia juga menyebut angka yang lebih dari 95 ribu kasus diprediksi terjadi pada Juni atau Juli. “Angka kasus selama puncak secara kumulatif adalah 95 ribu kasus. Sedangkan selama Juni dan Juli, kasus terkonfirmasi secara kumulatif akan mencapai 106 ribu kasus,” tutur Wiku.(dtc)

Sumut Sudah Miliki Dua Laboratorium PCR

LABORATORIUM PCR Petugas medis menunjukkan mesin Polymerase Chain Reaction (PCR) yang tersedia di laboratorium RS USU untuk tes swab tenggorokan, beberapa hari lalu. Pemerintah bakal mempercepat tes PCR demi memutus mata rantai penyebaran virus Corona di Indonesia.
LABORATORIUM PCR Petugas medis menunjukkan mesin Polymerase Chain Reaction (PCR) yang tersedia di laboratorium RS USU untuk tes swab tenggorokan, beberapa hari lalu. Pemerintah bakal mempercepat tes PCR demi memutus mata rantai penyebaran virus Corona di Indonesia.
LABORATORIUM PCR Petugas medis menunjukkan mesin Polymerase Chain Reaction (PCR) yang tersedia di laboratorium RS USU untuk tes swab tenggorokan, beberapa hari lalu. Pemerintah bakal mempercepat tes PCR demi memutus mata rantai penyebaran virus Corona di Indonesia.
LABORATORIUM PCR Petugas medis menunjukkan mesin Polymerase Chain Reaction (PCR) yang tersedia di laboratorium RS USU untuk tes swab tenggorokan, beberapa hari lalu. Pemerintah bakal mempercepat tes PCR demi memutus mata rantai penyebaran virus Corona di Indonesia.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Penanganan Covid-19 di Sumut diharapkan dapat lebih cepat dilakukan, dengan telah dioperasikannya dua dua laboratorium Polymerase Chain Reaction (PCR) Covid-19, yaitu di RS Universitas Sumatera (USU) dan RSUP Haji Adam Malik Medan.

Pengoperasian dua laboratorium ini akan mempercepat pengujian spesimen terkait Covid-19, sehingga dapat mendorong percepatan penanganan Covid-19 di Sumut, terutama dalam upaya pemutusan mata rantai penyebaran pandemi Covid-19 di daerah ini.

Hal tersebut disampaikan Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Sumut, Aris Yudhariansyah di Media Center GTPP Covid-19, Kantor Gubernur Sumut Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 30 Medan, Sabtu (18/4). Menurut Aris, pengoperasian dua laboratorium ini merupakan bentuk keseriusan Pemprov Sumut dalam upaya penanganan dan pencegahan Covid-19.

Karena itu, kesungguhan dan peran serta masyarakat dalam upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 ini juga sangat diharapkan. “Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama untuk saling jaga. Putuskan rantai kontak langsung dengan penderita positif dengan menjaga jarak dalam berkomunikasi sosial dengan siapapun. Upayakan pada jarak lebih dari satu setengah meter hingga dua meter,” ucapnya.

Aris juga mengingatkan pada musim pancaroba di bulan bulan April- Mei yang secara statistik menunjukkan peningkatan kasus demam berdarah. Karena itu, jangan sampai ini memperburuk kondisi pandemi Covid-19. Lakukan pembersihan sarang nyamuk di rumah.

2 Lagi Pasien PDP Meninggal Dunia, 104 Positif Covid-19, 10 Meninggal, 13 Sembuh

KETERANGAN: Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut dr Wikho Irwan D SpB.
KETERANGAN: Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut dr Wikho Irwan D SpB.
KETERANGAN: Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut dr Wikho Irwan D SpB.
KETERANGAN: Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut dr Wikho Irwan D SpB.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sebanyak dua orang Pasien dalam Pengawasan (PDP) meninggal dunia mewarnai update data perkembangan penanganan covid-19 di Provinsi Sumatra Utara hingga Minggu (19/04/2020) sore. Adapun dua orang yang meninggal dunia tersebut satu di RS Columbia Asia Medan dan satu lagi di RSU Murni Teguh Medan.

Hal itu disampaikan Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut, dr Wikho Irwan D SpB, dalam konfrensi pers di Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro Medan, Minggu (19/4) sore. Dan hingga Minggu sore itu, terkonfirmasi positif Covid-19 di Sumut bertambah 1 orang, yakni menjadi 104 orang dari sebelumnya Sabtu sore 103 orang.

Dari jumlah 104 orang yang positif itu, sebanyak 81 orang dinyatakan positif berdasarkan PCR Balitbang Kemenkes (tes swab) dan 23 orang berdasarkan rapid test (tes cepat). Dan dari jumlah semua yang positif tersebut, sebanyak 81 orang di antaranya dirawat di rumah sakit. Sementara 10 orang lainnya telah meninggal dunia dan 13 orang telah sembuh.

Sedangkan jumlah PDP, berkurang 5 orang. Pada Minggu sore itu jumlahnya menjadi 139 dari sebelumnya Sabtu sore sebanyak 144 orang. Lalu jumlah Orang dalam Pemantauan (ODP) melonjak menjadi 2.509 orang. Jumlah itu menunjukkan pertambahan 250 orang dari Sabtu sore yang hanya 2.259 orang.

Menurunnya angka PDP, disebabkan salah satunya karena ada yang meninggal dunia yaitu 2 orang yang dirawat di Rumah Sakit Columbia Asia dan RSU Murni Teguh. “Jumlah PDP ini bersifat dinamis, masih terus berubah angkanya setiap waktu. Untuk sebaran PDP, terbanyak masih berada di Medan sebanyak 70 orang. Kemudian, disusul Simalungun 18 orang dan Deli Serdang 17 orang,” sebutnya.

Menurut dia, secara keseluruhan angka penderita Covid-19 di Sumut masih terus mengalami peningkatan dari hari ke hari. Meskipun, orang yang positif sempat bertahan 2 hari di angka 103 orang. Peningkatan ini tidak dipungkiri karena masih banyaknya masyarakat yang kurang menyadari dan mengabaikan penularan virus corona. Hal ini bisa dikarenakan masyarakat belum memahami bagaimana penularan yang terjadi atau tidak menyadari. “Kepada instansi, organisasi sosial hingga pelaku usaha dapat membantu pemerintah guna mensosialisasikan serta mengajak masyarakat dalam upaya pencegahan penularan Covid-19. Sosialisasi bisa dilakukan dalam bentuk spanduk, pamplet ataupun baliho,” ungkapnya.

Selain itu, mewajibkan kepada karyawan atau pegawai untuk menggunakan masker. Dan terakhir, bagi tempat-tempat layanan umum seperti bank, rumah sakit, mini market, supermarket dan sebagainya agar hanya melayani konsumen yang menggunakan masker. “Dengan begitu, bagi mereka yang menyadari penggunaan masker mau tidak mau harus menggunakannya,” sambung Whiko.

Kata dia, penggunaan masker pada masa pandemi Covid-19 ini direkomendasikan oleh WHO baik untuk orang yang sehat maupun orang yang sakit. Bagi masyarakat umum, dapat menggunakan masker terbuat dari kain dan ini sudah cukup melindungi dari virus sekitar 70 persen. “Namun demikian, tetap diiringi dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, menjaga jarak sesama antar orang minimal 2 meter, menghindari keramaian atau kerumunan serta kontak langsung. Dengan begitu, maka akan terhindar dari penularan virus yang mematikan ini,” pungkasnya.

Diduga Covid-19, Pelajar SMP Meninggal

DELISERDANG, SUMUTPOS.CO – Diduga terpapar Covid-19, seorang pelajar SMP berdomisili di Desa Bandar Klippa, Percut Sei Tuan, Deliserdang, meninggal dunia. Kapolsek Percut Sei Tuan, Kompol Aris Wibowo melalui Kasi Humas Aiptu Basarah mengatakan, pelajar yang meninggal dunia tersebut berinisial WR (16). Ia meninggal dengan status pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19.

Menurutnya, WR meninggal dunia setelah dirawat selama satu hari di RS Citra Medica, Tembung. “Awalnya pasien merasakan gejala sakit berupa demam dan diare sejak Minggu (14/4) pekan lalu. Oleh keluarga, WR dibawa berobat jalan,” ujarnya kepada wartawan di Medan, Sabtu (18/4).

Namun, karena tidak menunjukan tanda-tanda perubahan, WR kemudian dilarikan ke Puskesmas. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter di Puskesmas, WR di diagnosa sakit demam berdarah (DBD). Kemudian, ia pun dibawa ke RS Citra Medica. Namun, baru sehari dirawat, korban meninggal dunia. “Di RS Citra Medica dinyatakan oleh dokter, WR berstatus PDP Covid-19,” bebernya.

Kasus ini, terangnya, menjadi pertama kalinya seorang pelajar di Sumut meninggal dunia berstatus PDP. Jenazah WR pun telah dimakamkan di pekuburan umum Pasar 4 Desa Bandar Klippa, sesuai dengan protokol penanganan Covid-19. Meninggaldunianya WR, menjadi daftar panjang korban terpapar Covid-19. Sehingga pada Sabtu kemarin, di Sumut dinyatakan 3 orang PDP meninggal dunia. Dua pasien lainnya yang juga merupakan pasien PDP Covid-19 meninggal dunia di dua rumah sakit di Kota Medan.

Satu orang pasien berjenis kelamin perempuan yang merupakan warga Medan Johor, meninggal dunia di RS Colombia Asia Medan, pada hari yang sama, yakni Sabtu (18/4) malam.

Hal itu dikatakan Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumut dr Aris Yudhariansyah. Ia mengatakan, kedua pasien itu merupakan warga Kota Medan dan Kota Binjai. “Ini masih menunggu hasil tes swab dari Jakarta,” kata dr Aris.

Dijelaskannya, pasien ini sudah dua minggu menjalani perawatan di rumah sakit tersebut, dan memiliki riwayat perjalanan ke Jakarta. “Pasien punya riwayat dari Jakarta, dia punya penyakit pneumonia, dan meninggal karena PDP,” ujarnya.

Sementara 1 orang PDP lainnya yang meninggal dunia, yakni seorang laki-laki berusia 69 tahun asal Kota Binjai. “Meninggal di RS Elisabeth, di hari yang sama, seorang laki-laki dengan status PDP,” jelasnya.

Untuk pasien tersebut, Aris menyebutkan, hasil rapid test di awal positif namun saat dirawat keluar hasil negatif. “Sudah dilakukan tes swab tapi belum keluar hasilnya, hasil rapid test-nya positif dan negatif. Artinya waktu masuk dia positif setelah dirawat negatif,” terangnya.

Kedua pasien tersebut telah dikuburkan di pemakaman khusus pasien COVID-19 di kawasan Simalingkar B, Medan.

34 Penumpang KM Kelud Dipulangkan

DELISERDANG, SUMUTPOS.CO – Setelah menjalani karantina di mess PTPN III di Seikarang, Kecamatan Galang, Kebupaten Deliserdang sejak 14 April lalu, sebanyak 34 orang penumpang Kapal Motor (KM) Kelud dipulangkan ke daerah asal masing-masing pada Sabtu (18/4) dan Minggu (19/4). Mereka diserahkan kepada Pemkab dan Pemko masing-masing, sesuai KTP para penumpang.

Pemulangan 34 penumpang KM Kelud ini berdasarkan surat keterangan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Provindi Sumut, dr Nelly fitriani MKes, di mana seluruh penumpang yang menjalani karantina seluruhnya sehat dan normal (negatif Covid 19).

Hadir dalam kesempatan itu perwakilan BPBD Sumut Kabit Tanggap Darurat Ir Mega Hadi Kristianto MP selaku koordinator Posko Penanganan Covid 19, Camat Galang Marjuki Hasibuan SSos MAP, Danramil 18 Galang, Kapten Inf Noor Rosyid, Kapolsek Galang AKP Teddy Napitupulu SH, dr Lowelly BA Napitupulu (perwakilan Dinkes Provsu ), dr Nelly Fitriani MKes (Tim Medis pemeriksa kesehatan ,Muhammad Nur Kades Sei Karang, dan pihak Pemkab Langkat Ananruddin SE, pihak Pemko Medan Deni Putra Nasution dan Papam PTPN III Seikarang, Kapten Purn Zulkiplan.

Sebelum dipulangkan, dilakukan pemeriksaan kesehatan kembali terhadap seluruh penumpang KM Kelud itu oleh Tim Medis Dinkes Prov Sumut yang dipimpin dr Nelly Fitriani MKes. Penumpang yang dipulangkan dan dijemput pada Sabtu (18/4) malam ada sebanyak 23 orang yang terdiri dari 16 laki laki dan 7 perempuan.

Sementara sisanya, terdiri dari 11 orang laki-laki dipulangkan pada Minggu (19/4). Mereka adalah warga Kabupaten Asahan 3 orang yaitu M Wori Suryanako, Fadli dan Saiful Akbar. Dari Aceh 4 orang yaitu Salman Yasir, Tofik Hidayat, Richard Riknaldo Hutapea, dan Refan Tri Wahyu.

Deliserdang 2 orang yaitu Yogi warga Jalan Limau Manis Dusun 6 Pasar 13 KecamatanTanjungmorawa dan Andi Nova, warga perumahan PT IRA Blok B Nomor 56 Hamparan Perak.Warga Humbang Hasundutan 1 orang yaitu Dipu Banjarnahor dan dari Pematang Siantar 1 orang Samuel Agung Fajar Sahputra . “Proses pemulangan berjalan aman dan lancar,” pungkas Kapolsek Galang AKP Teddy Napitupulu. (ris/prn/mag-1/btr)

Dilema Mudik 2020, Larangan Masih Setengah Hati

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Arus mudik di tengah pandemi Covid-19 masih ramai dan diperkirakan meningkat jelang Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah. Daerah-daerah kini menanggung risiko meluasnya sebaran virus corona karena pemerintah pusat tak tegas melarang mudik.

Larangan mudik kini masih setengah hati, baru sebatas imbauan dan maklumat dari pemerintah, tak ada sanksi tegas. Bandara, pelabuhan, stasiun, terminal yang masih terbuka membuat warga bebas bepergian. Orang dari luar negeri juga masih bisa masuk.

“Kalau memang pemerintah itu serius untuk melarang orang mudik, itu harus membuat peraturan. Entah itu namanya Perpres melarang mudik. Sehingga pemda itu bisa melarang juga. Karena mudik itu bukan hanya di Jakarta,” kata pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahardian Rahardiansyah, Minggu (19/4).

Selain itu, program mengkarantina pemudik selama masa inkubasi corona sebagai orang dalam pemantauan (ODP) juga rawan gugatann

“Kalau dia dikarantina, dia bisa menggugat. Masyarakat juga bisa melaporkan itu, atas dasar apa saya dikarantina. Karena dalam UUD 45 itu Pasal 28 tentang HAM itu tidak ada larangan orang keluar masuk di negerinya sendiri.”mudik

Trubus mengatakan, jika pemerintah serius menangani Corona, maka mudik harus tegas dilarang dengan membuat payung hukum. “Dasarnya itu Keppres Nomor 11 tentang Darurat Kesehatan, Keppres Nomor 12 tentang Bencana Nasional. Harusnya itu dijadikan dasar mudik itu dilarang,” ujarnya.

Banyak daerah mulai kebanjiran pemudik terlebih setelah Jakarta memberlakukan Perbatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pemudik rata-rata pekerja sektor informal, mahasiswa, bahkan karyawan yang bisa bekerja dari rumah.

Pengamat transportasi, Djoko Setijowarno mengatakan, selagi transportasi umum belum dilarang, maka masyarakat masih bebas bepergian. “Operator transportasi umum tetap melayani masyarakat ketika tidak ada larangan dari pemerintah untuk menghentikan operasionalnya,” katanya.

Tapi, bila pemerintah melarang, maka harus dipikirkan juga keberlangsungan hidup awak angkutan dan pekerja lainnya. “Keputusan perantau yang bermukim di Jabodetabek untuk pulang ke kampung halaman dilatabelakangi oleh tidak adanya jaminan hidup di perantauan. Adalah hal yang logis, karena tuntutan biaya hidup cukup tinggi di Ibu Kota,” katanya.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Budi Setiadi mengatakan, pemerintah masih membuka peluang melarang mudik. “Ada kemungkinan larangan mudik dilakukan pemerintah. Apalagi kita ketahui libur nasional diakomodir akhir 2020 saat pergantian tahun baru,” ujarnya.

Menurut Menhub Ad Interim Luhut Binsar Pandjaitan, larangan mudik akan diputuskan tergantung keadaan. “Kalau saja peningkatan (pasien corona) ini makin banyak atau belum turun atau turunnya belum signifikan, yaa bisa saja kita bilang, ‘oke tutup saja jangan ada (mudik) dulu’.”

Kepala Korlantas Polri Irjen Istiono mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan skenario menghadapi arus mudik Lebaran. Di antaranya menyiapkan posko kesehatan bagi pemudik di tempat pemberangkatan dan jalan dengan protokol ketat. “Posko kesehatan yang konek dengan RS rujukan Covid-19 terdekat,” katanya.

Menurut Istiono, pemudik otomatis ditetapkan sebagai ODP. Mereka harus menjalani isolasi 14 hari. Istiono memperkirakan pemudik Lebaran 2020 hanya 15 persen dari jumlah musim 2019 yang mencapai 19.5 juta orang.

Mengacu pada mudik Angkutan Lebaran tahun 2019 yang dirilis Kementerian Perhubungan (Kemenhub), terjadi penurunan 2,42 persen dibanding 2018. Total penumpang yang mudik mencapai 18.343.021 ke berbagai daerah di Indonesia. Penurunan jumlah pemudik terjadi pada moda Angkutan Udara yaitu 27,37 persen atau sekira 1.327.443 dengan total Jumlah Pemudik 3.522.585. Total Pemudik Angkutan Udara Tahun 2018 sebanyak 4.850.028.

Pemudik melalui Jalur Darat naik 11,19 persen atau 418,881 pemudik dari tahun sebelumnya, 3.741.741 orang. Mereka yang melalui rute penyeberangan naik 0,43 persen atau 17.439 orang dari 2018, yakni 4.068.968 orang. Mereka yang mudik menggunakan jalur kereta api naik 6,62 persen atau 316.018 orang. Tahun sebelumnya sebanyak 4.771.325 orang. Sementara itu, pemudik yang menggunakan jalur laut naik 8,77 persen atau setara 119.811 orang. Angka tersebut naik dibandingkan tahun lalu yaitu 1.366.254 orang. (bbs)

Kejatisu Rehabilitasi Seorang Pelajar SMP Ketergantungan Sabu

Ilustrasi.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) merehabilitasi seorang pelajar SMP benisial F (14). Warga Desa Pama Kecamatan Delitua ini, direhab karena ketergantungan narkotika jenis sabu.

Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejatisu, Sumanggar Siagian mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sumatera Utara.

“Kajatisu melalui Wakajati sudah berkoordinasi dengan pihak BNN untuk melakukan pemeriksaan dan assesmen terhadap F,” kata Sumanggar, Sabtu (18/4).

Menurutnya hal tersebut dilakukan karena mendapatkan ajuan dari salah seorang warga Desa Pama Kecamatan Delitua.

“Awalnya, ada laporan masyarakat terkait adanya seorang pelajar SMP warga Desa Pama Kecamatan Delitua yang ketergantungan terhadap narkoba jenis sabu,” ujarnya.

Diketahui F sudah dua tahun belakangan ketergantungan kepada narkotika jenis sabu tersebut, dimana saat ini ia masih duduk di kelas dua sekolah menengah pertama (SMP). Menurutnya, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan, maka anak tersebut harus direhabilitasi,

“Dari hasil pemeriksaan di BNN Provsu, anak ini disarankan untuk direhabilitasi,” jelasnya.

Namun, selama masa pandemi covid-19 masih merebak, maka F melakukan rehabilitasi sendiri di rumah. “Akan tetapi karena masih dalam suasana merebaknya wabah Covid 19, disarankan untuk rehab di rumah dibawah pengawasan keluarga dan BNN,” katanya.

Menurutnya, hal tersebut semestinya menjadi salah satu perhatian penegak hukum dan pemerintah, dikarenakan F adalah putra penerus bangsa.

“Kami mewakili keluarga menyampaikan ucapan terimakasih secara khusus kepada Kajatisu Bapak Amir Yanto dan Wakajatisu Bapak Sumardi yang telah menyelamatkan adik kami dari ketergantungan terhadap obat psikotropika jenis sabu untuk direhabilitasi,” pungkasnya. (man/btr)

Pengendara Sepeda Motor Tewas Tabrak Truk Parkir

BELAWAN, SUMUTPOS.CO – Hisar (35) warga Lingkungan VI, Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Labuhan tewas setelah menabrak truk parkir di Jakan KL Yos Sudarso Km 16,5, Kelurahan Martubung, Kecamatan Medan Labuhan, akhir pekan lalu.

Informasi diperoleh menyebutkan, korban mengendarai sepeda motor Honda Karisma BK 6025 KL, bersama adiknya, Novie Briani Simbolon (18) warga Jalan Teluk Aru PJKA, Kecamatan Medan Labuhan. Novie kritis menjalani perawatan di RSU Delima.

Saat melintas keduanya dari arah Belawan menuju ke Medan. Setibanya di lokasi, mereka tidak melihat truk parkir di pinggir jalan tersebut. Sepeda motor itu menabrak belakang truk dengan hantaman kuat. Keduanya terhempas bagian belakang truk, nahas bagi Sihar. Ia tewas di tempat, sedangkan adiknya mengalami luka serius di bagian kepala menjalani perawatan di RSU Delima.

“Tadi truk itu memang sudah parkir semalaman. Bisa jadi, karena masih subuh posisi gelap, mereka (korban) tidak melihat truk itu langsung menabrak,” kata Rustam warga setempat.

Disebutkan Rustam, warga sudah berulang kali mengeluhkan truk-truk yang parkir sembarangan di Jalan KL Yos Sudarso.

Terpisah, Kanit Lantas Polsek Medan Labuhan, Iptu Lily Tavip mengatakan, pihaknya sudah menangani kasus kecelakaan tersebut.

“Sopit truk yang memarkirkan trurk itu masih kita selidiki. Korba yang tewas sudah kita visum ke RSU dr Pirngadi Medan, sedangkan satu korban lagi masih menjalani perawatan di RSU Delima,” katanya. (fac/btr)

Pasangan Pengedar Sabu di Tangkap Polisi

Sarianti - Setiawan
Sarianti - Setiawan
Sarianti - Setiawan
Sarianti – Setiawan

LUBUKPAKAM, SUMUTPOS.CO – Satuan Reserse Narkoba Polresta Deliserdang menggrebek sebuah rumah di Gang Jaya, Desa Bangun Sari Baru, Kecamatan Tanjung Morawa, Jum’at (17/4) sekira pukul 15.00 WIB. Hasil pengrebekan itu polisi berhasil menahan Sarianti (45) dan Setiawan (21).

Disebutkan, keduanya beralamat di Kampung Marjanji, Dusun 14 dan Gang Jaya warga Desa Bangun Sari Baru, Tanjung Morawa Kabupaten Deliserdang.

Kapolresta Deliserdang Kombes Pol Yemi Mandagi dikonfirmasi melalui Kasatres Narkoba, AKP M Oktavianus SE, membenarkan adanya penangkapan kedua tersangka, Minggu (19/4).

“Kita mendapat informasi dari masyarakat bahwa ada penyalahgunaan narkoba jenis sabu-sabu di sebuah bangunan kosong, di Gang Jaya Desa Bangun Sari Baru, Tanjung Morawa, sekira pukul 15.00 WIB,” kata Oktavianus.

Tim Satres Narkoba Polresta Deliserdang bergerak ke lokasi yang disebutkan untuk melakukan pengintaian. Sekira pukul 15.30 WIB, tiba menemukan seorang perempuan yang kemudian diketahui bernama Sarianti duduk di cakruk belakang rumah bersama Setiawan. Lantas keduanya diamankan dan dilakukan penggeledahan di sekitar lokasi.

Dari meja di dekat Sarianti duduk ditemukan 1 set bong, sebatang kaca pirex bekas terdapat bercak sabu sisa bakar, 2 buah mancis terpasang jarum alat bakar sabu, 1 bungkus plastik berisi pipet plastik.

Selanjutnya, kedua orang tersebut langsung diboyong ke Kantor Satres Narkoba Polresta Deliserdang untuk penyidikan dan pengembangan.“Menurut warga setempat, Sarianti ini memang pengedar narkoba di kampung itu. Tapi waktu kita amankan tidak ditemukan barang bukti lain. Tapi dia mengaku baru saja memakai narkoba,” jelas Oktavianus.

Informasi yang dihimpun, awalnya petugas mengamankan 3 orang di lokasi. Namun, satu di antaranya dinyatakan tidak terbukti terlibat. “Sariantinya sudah duduk (tersangka) itu, tapi keponakannya tidak. Karena dalam penguasaan dia (Sarianti) barang buktinya,” jelas Oktavitanus.

Warga setempat mengapresiasi kinerja Satres Narkoba Polresta Deliserdang atas penangkapan tersebut. “Kami warga Desa Bangun Sari Baru, Kecamatan Tanjung Morawa mengucapkan terima kasih atas kinerja anggota Bapak Kapolresta [Deliserdang] atas penangkapan Sarianti cs, karena kami sangat resah dengan kegiatan mereka mengedarkan narkoba,” sebut seorang warga ke akun WhatsApp Kapolresta Deliserdang. (btr)