Home Blog Page 4318

Takut Disalahgunakan, Data Peserta PBI BPJS Tak Dipublikasikan

HUMBAHAS, SUMUTPOS.CO – Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), tidak mau menginformasikan data kepesertaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, khususnya Penerima Bantuan Iuran (PBI) dengan dalih takut disalahgunakan oleh oknum tak berkepentingan.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas, Henrik Simamora didampingi Kasubag Pelayanan Linda Hutasoit kepada wartawan, belun lama ini.

Linda mengatakan, sebanyak 19.200 jiwa peserta penerima BPJS jalur Penerima Bantuan Iuran yang telah dibayarkan oleh pihak Pemkab Humbahas.

Dan data itu, kata dia, sejak tahun 2014 hingga 2019 yang dibayar oleh Pemkab Humbahas dari APBD dan bagi hasil yakni cukai.

Namun, lanjut dia, data itu tidak dapat dipublikasikan, baik ke laman website pemerintah dan media. Karena khawatir akan disalahgunakan oleh oknum-oknum yang tidak berkepentingan.

Lebih lanjut dikatakan Linda, untuk tahun 2020, Pemkab Humbahas akan menambah kuota sebanyak 300 jiwa. Hingga nantinya jumlah peserta PBI di Humbang Hasundutan tahun 2020 sebanyak 19.500 jiwa.

Sebagaimana diketahui, iuran PBI ini dibayar pemerintah bagi masyarakat tidak mampu. Linda menyebut, kategori yang tidak mampu itu, termasuk dibidang kesehatan.

Linda melanjutkan, iuran yang dibayarkan Pemkab Humbas ke BPJS senilai Rp23 ribu per orang. Dan itupun, naik menjadi Rp42 ribu diakhir tahun 2019. “ Tapi semula kita bayar Rp23 ribu,” ucapnya.

Menurut Linda, kenaikan iuran itu dikarenakan Peraturan Presiden. Namun, untuk berapa anggaran tahun 2019 lalu yang sudah terserap dampak dari kenaikan iuran itu, Lina tidak dapat menjelaskan.

“Sekaitan total anggaranya, itu keuangan (BPKPAD) yang tahu, tapi sebelumnya kita (Dinas Kesehatan) anggarkan mencapai Rp 4 miliar lebih,” katanya.

Sekaitan ditetapkan Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2020 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan, Linda mengaku kenaikan itu tidak terdampak kepada PBI.

“Kayaknya Pepres mengenai itu nggak berdampak ke PBI,” kata Linda.

Menanggapi hal itu, anggota DPRD Humbang Hasundutan, Guntur Simamora menyayangkan sikap pemerintah yang tidak mau terbuka kepada masyarakat.

Menurut dia, data kepesertaan BPJS Kesehatan khususnya PBI dinilai harus dipublikasikan agar masyarakat turut serta melakukan verifikasi. Jika tidak, dinilai pembungkaman terhadap partisipasi masyarakat.

“Ini sama saja ada dugaan KKN, jika tidak mau membuka. Apalagi inikan bantuan pemerintah kepada masyarakatnya, jadi harus tahu semua pihak,” kata Guntur.

Untuk itu, Guntur berharap kepada Bupati Dosmar Banjarnahor untuk mempublikasikan data penerima BPJS ini, agar masyarakat turut memverifikasi.(des/han)

Pengesahan Tatib DPRD Nias, 11 Anggota Dewan Tak Hadir

TATIB: Ketua DPRD Nias, Alinuru Laoli disaksikan wakil ketua DPRD Nias selaku pimpinan rapat, dan Sekretaris DPRD Nias, Tonazaro Halawa, menandatangani pengesahan Tatib DPRD Kabupaten Nias, periode 2019-2024, di ruang sidang paripurna, Gedung DPRD Kabupaten Nias, Jumat (15/5). Aditia Laoli/sumut pos
TATIB: Ketua DPRD Nias, Alinuru Laoli disaksikan wakil ketua DPRD Nias selaku pimpinan rapat, dan Sekretaris DPRD Nias, Tonazaro Halawa, menandatangani pengesahan Tatib DPRD Kabupaten Nias, periode 2019-2024, di ruang sidang paripurna, Gedung DPRD Kabupaten Nias, Jumat (15/5). Aditia Laoli/sumut pos
TATIB: Ketua DPRD Nias, Alinuru Laoli disaksikan wakil ketua DPRD Nias selaku pimpinan rapat, dan Sekretaris DPRD Nias, Tonazaro Halawa, menandatangani pengesahan Tatib DPRD Kabupaten Nias, periode 2019-2024, di ruang sidang paripurna, Gedung DPRD Kabupaten Nias, Jumat (15/5). Aditia Laoli/sumut pos
TATIB: Ketua DPRD Nias, Alinuru Laoli disaksikan wakil ketua DPRD Nias selaku pimpinan rapat, dan Sekretaris DPRD Nias, Tonazaro Halawa, menandatangani pengesahan Tatib DPRD Kabupaten Nias, periode 2019-2024, di ruang sidang paripurna, Gedung DPRD Kabupaten Nias, Jumat (15/5).
Aditia Laoli/sumut pos

NIAS, SUMUTPOS.CO – Sejumlah anggota DPRD Nias tidak hadir saat pengesahan Tata Tertib (Tatib) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Nias periode 2019-2024. Dari 25 jumlah anggota DPRD Nias, 11 orang di antaranya tidak menghadiri rapat paripurna tersebut, Jumat (15/5).

Meski demikian, rapat yang dipimpin oleh wakil ketua DPRD Nias, Ameyunus Zai tetap terlaksana serta berhasil menetapkan Tatib, sebagai pedoman bagi lembaga DPRD Kabupaten Nias, dalam melaksanakan fungsinya sampai tahun 2024 kedepan.

“Mengingat jumlah anggota dewan yang hadir telah memenuhi ketentuan yang berlaku, maka dengan memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, schors rapat paripurna saya cabut dan rapat dibuka kembali serta dinyatakan terbuka untuk umum,” ujar Ameyunus saat membuka rapat.

Sebelum pengesahan Tatib, rapat paripurna sempat diwarnai sejumlah interupsi, dikarenakan ketidakhadiran 11 anggota DPRD tersebut.

“Ini lembaga yang terhormat, jadi mari kita jaga marwah DPRD Nias ini dengan selalu disiplin, berperilaku baik, serta memberi contoh ditengah-tengah masyarakat. Mestinya kita harus mengesampingkan kepentingan peribadi, demi kepentingan masyarakat luas, sebagaimana janji-janji kita saat kampanye pada Pileg yang lalu,” ujar Yaredi Laoli, anggota DPRD Nias dari fraksi Demokrat, yang juga mantan ketua DPRD Nias periode 2015-2019.

Setelah semua anggota dewan yang hadir menyetujui pengesahan Tatib itu, pimpinan rapat menegaskan bahwa rancangan peraturan DPRD Kabupaten Nias yang telah ditetapkan bersifat final. Selanjutnya akan disampaikan kepada Pemerintah Daerah untuk diundangkan dalam lembaran daerah Kabupaten Nias untuk memiliki kekuatan hukum yang mengikat serta untuk diketahui setiap orang.

“Demikian seluruh rangkauan acara rapat paripurna yang telah selesai kita laksanakan secara bersama-sama, dan dengan memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, rapat paripurna ini saya tutup dengan resmi,” ujar pimpinan rapat seraya mengetok palu sebanyak tiga kali.

Ketua DPRD Kabupaten Nias, Alinuru Laoli, sangat menyayangkan sikap dari anggota DPRD Nias yang tidak menghadiri rapat paripurna tersebut, padahal rapat yang digelar merupakan kepentingan lembaga Legislatif itu sendiri.

“Rapat yang dilaksanakan pada saat ini adalah kepentingan bagi lembaga ini, Tatib ini mengatur tahapan-tahapan pekerjaan DPRD Nias hingga 2024 mendatang,” terangnya.

Ketua DPRD Nias mengaku belum mendapat laporan maupun informasi terkait ketidakhadiran 11 orang anggota dewan itu. Namun alinuru Laoli menegaskan, jika anggota DPRD Nias tidak hadir mengikuti rapat sebanyak 6 kali berturut-turut, bisa dilakukan Penggantian Antar Waktu (PAW).

“Sampai saat ini, saya selaku ketua DPRD Nias belum mendapat laporan maupun informasi ketidak hadiran mereka. Seharusnya kewajiban seluruh anggota DPRD menghadiri rapat,” sebutnya.

“Kalau soal sanksi, sebenarnya itu ranahnya BK, harusnya BK mengambil peran, untuk memanggil serta menanyakan apa alasan yang bersangkutan tidak mengahadiri rapat. Namun di dalam Tatib kita, bagi anggota dewan yang tidak menghadiri rapat sampai 6 kali berturut-turut bisa dilakukan PAW,” tambahnya.

Menyikapi persoalan itu, ketua DPRD Nias tetap berupaya melakukan pendekatan untuk memberi pemahaman kepada anggotanya yang tidak disiplin. Ia pun mengimbau, agar selalu menjaga kekompakan sesama anggota dewan, sehingga dengan demikian fungsi pengawasan terhadap kinerja pemerintah daerah dapat berjalan dengan baik.

“Sebelumnya saya sudah beberapakali melakukan pendekatan. Kedepan saya tetap berupaya menjalin komunikasi yang baik. Saya harap kepada rekan-rekan anggota DPRD Nias, untuk lebih mengutakan kepentingan masyarakat luas,” harapnya. (adl/han)

Kades Helvetia Diminta Tidak Arogan Terhadap BPD

TERIMA : Anggota DPRD Kabupaten Deliserdang, Wahyu Danin SE saat memberi keterangan usai menerima rombongan Panitia Pemilihan BPD Helvetia. sopian/sumut pos
TERIMA : Anggota DPRD Kabupaten Deliserdang, Wahyu Danin SE saat memberi keterangan usai menerima rombongan Panitia Pemilihan BPD Helvetia. sopian/sumut pos
TERIMA : Anggota DPRD Kabupaten Deliserdang, Wahyu Danin SE saat memberi keterangan usai menerima rombongan Panitia Pemilihan BPD Helvetia. sopian/sumut pos
TERIMA : Anggota DPRD Kabupaten Deliserdang, Wahyu Danin SE saat memberi keterangan usai menerima rombongan Panitia Pemilihan BPD Helvetia. sopian/sumut pos

LUBUKPAKAM, SUMUTPOS.CO – Anggota DPRD Kabupaten Deliserdang, Wahyu Danin SE meminta agar Kepala Desa (Kades) Helvetia Kecamatan Sunggal, Sugiarno tidak bersikap arogans terhadap Panitia Pemilihan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) terkait hasil musyawarah yang digelar bersama untuk memutuskan Tata Tertib (Tatib) pelaksanaan pemilihan BPD Helvetia.

Politisi asal Partai Amanat Nasional (PAN) dari Daerah Pemilihan 4 yang meliputi Kecamatan Sunggal, Pancurbatu dan Kutalimbaru ini menyampaikan, bahwa dinamika yang terjadi antara Kades Helvetia dengan Panitia Pemilihan BPD dapat berjalan dan diselesaikan dengan baik. Demokrasi itu harus tumbuh, semua berhak untuk membuat dan punya andil dalam membangun desa nya termasuk sebagai Anggota BPD. Kades tidak boleh menekan atau harus jadi yang ini, yang ini tidak, ga boleh.

“Saya minta agar Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Deli Serdang dan Camat Sunggal segera melakukan supervisi agar masalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Kades itu harus bisa menjadi pelopor, pengayom sebagai pamong terhadap dinamika yang terjadi di desa nya. Jangan menunjukkan arogansi kekuasaan, sebagai pejabat publik harus berjalan sesuai ketentuan,”katanya, saat menerima rombongan Panitia Pemilihan BPD Helvetia ke Gedung DPRD Deliserdang, di Lubuk Pakam, Kamis (14/5).

Danin juga menjelaskan bahwa salah satu fungsi BPD sebagaimana diamanatkan dalam Permendagri Nomor 110 Tahun 2016 tentang BPD adalah Fungsi Pegawasan Kinerja Kepala Desa. Namun fungsi dan peran ini jangan disalahgunakan, artinya BPD melakukan pengawasan terhadap perencanaan, Pelaksanaan dan Pelaporan kegiatan Pemerintah Desa (Pemdes). BPD harus menciptakan hubungan yang harmonis dengan Pemdes dan lembaga kemasyarakatan desa lainnya,” jelasnya.

Oleh karena itu, ia berharap nantinya siapapun orangnya yang terpilih sebagai anggota BPD Helvetia mereka adalah putra putri terbaik yang harus benar-benar menjadi mitra Pemdes dalam membangun desa dan BPD juga dituntut untuk bisa menjembatani koordinasi antara Pemdes dengan lembaga kemasyarakatan lainnya yang ada di desa.

Pada kesempatan itu, Ketua Panitia Pemilihan BPD Helvetia H. Syahrun didampingi anggota B Siahaan, Darmansyah dan Toni menyampaikan kondisi sebenarnya saat ini Panitia Pemilihan BPD Helvetia bingung dengan sikap arogansi Kepala Desa Helvetia yang tidak terima atas hasil musyawarah yang telah digelar bersama dalam hal penyusunan Tatib. Panitia juga sudah melakukan kordinasi ke pihak Kecamatan Sunggal dan Sekretaris Camat Sunggal menyarankan untuk konsultasi ke Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Deli Serdang. “Kades menyatakan akan membuat ulang Tatib sendiri dan menyerahkan langsung ke Camat,” ungkapnya.

Kemudian saat menemui Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Deli Serdang, Drs Citra Efendi Capah MSP mengatakan bukan hanya di Desa Helvetia saja dinamika pemilihan BPD seperti ini. Namun semua akhirnya selesai dengan aman tertib dan terkendali. Sudah saya kontak Camat Sunggal dan dijawabnya akan segera diselesaikan,” katanya. (azw)

Bantuan Sosial Tunai Disalurkan, Warga Babalan dan Sei Lepan Padati Kantor Pos Brandan

LANGKAT, SUMUTPOS.CO – Ratusan warga Kecamatan Babalan dan Sei Lepan yang terdampak pandemi Covid-19 memadati Kantor Pos Pangkalan Brandan untuk mencairkan Bantuan Sosial Tunai (BST) sebesar Rp600 ribu dari pemerintah pusat, Minggu (17/5).

Fauzi, Mukmin dan Jon yang merupakan bagian dari penerima BST saat ditemui Sumut Pos mengatakan, bahwa mereka merupakan warga yang tidak mendapatkan bantuan PKH dan BLT dari Pemerintah.

“Sedang ketentuannya bansos senilai Rp 600 ribu rupiah ini hanya untuk masa covid-19 ini, terhitung selama 3 bulan dimulai dari bulan Mei, Juni sampai Juli saja “ kata Fauzi.

Dikatakannya, dengan dikucurkannya bansos dari pemerintah pusat ini, warga yang tidak mampu sangat terbantu, apalagi sudah mendekati hari raya Idul Fitri 1441 Hijriah.”Semoga bansos dari pemerintah pusat ini terus berlanjut, agar kami yang sudah kehilangan mata pencaharian sedikit terbantu “ tambah Mukmin diamini warga lainnya.

Sementara itu, Syahbudin (74) warga Kelurahan Berandan merasa sangat kecewa dengan aparatur pemerintah yang paling bawah, yakni Kepala Lingkungan tempat mereka tinggal.

Soalnya, di usianya sudah 74 tahun, tak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. “Makanya besok kami warga Berandan Barat akan melaporkan ihwal kejadian ini kepada Polsek P.Brandan,”katanya.

Disebutkannya, di lingkungan mereka tinggal seorang pekerja anak buah kapal mendapat bansos. “Sedangkan saya tukang becak, nggak dapat. Diduga kuat ada permainan di tingkat Kepala Lingkungan” kata Syahbudin menduga.

Menyikapi keluhan warga, Kadis Sosial Hj.Rina Wahyuni Marpaung menjelaskan pendataan dan penetapan warga yang terdampak Covid-19 melalui mekanisme yang berlaku. “Semua unsur di tingkat Kelurahan dan desa telah dilibatkan, tak ada lagi yang tidak sesuai datanya,” tegas Kadis Sosial (yas/han)

Gunakan Mesin Dong Peng, Nelayan Bakar Kapal Pencari Kerang

DIBAKAR: Kondisi kapal nelayan yang dibakar warga karena menggunakan mesin Dong Peng untuk mencari kerang di laut.
DIBAKAR: Kondisi kapal nelayan yang dibakar warga karena menggunakan mesin Dong Peng untuk mencari kerang di laut.
DIBAKAR: Kondisi kapal nelayan yang dibakar warga karena menggunakan mesin Dong Peng untuk mencari kerang di laut.
DIBAKAR: Kondisi kapal nelayan yang dibakar warga karena menggunakan mesin Dong Peng untuk mencari kerang di laut.

PANTAI LABU,SUMUTPOS.CO – Nelayan warga Dusun III, Desa Rugemuk, Kecamatan Pantai Labu, membakar Kapal pencari kerang yang berlayar sekira 200 dari daratan, Sabtu (16/5) sekira pukul 08.00 WIB. Aksi pembakaran itu, dikarenakan kapal menggunakan mesin dompeng untuk mencari kerang.

Informasi dihimpun, sekira pukul 08.00 WIB, korban Bakri (40), warga Dusun 15 Desa Bagan, Percut Kecamatan Percut Seituan, Kabupaten Deliserdang, mencari kerang di areal nelayan tradisional bersama 5 unit kapal lainnya.

Melihat itu, nelayan warga Rugemuk dengan menggunakan kapal menghampiri Bakri dengan alasan meminta hasil tangkapan mereka. Saat Bakri yang merupakan nahkoda sekaligus pemilik kapal memberikan kerang kepada warga Rugemuk, tiba-tiba saja kapal mereka terbalik.

Selanjutnya, Kapal Bakri ditarik ke tepi laut kemudian dibakar oleh warga. Sekira pukul 09.30 WIB, personel Polairud di Pimpin oleh Kapos Iptu R. Lubis SH tiba di lokasi, dan mengamankan pemilik kapal beserta ABK.

Informasi yang dihimpun, kapal nelayan yang dibakar warga menggunakan mesin Dong Peng, 30 GT dengan panjang 12 meter x 2,5 meter dengan kapasitas 3-4 ton.

Hasil koordinasi dengan Kapos Polairud Pantai Labu, Iptu R Lubis SH sedang melakukan pemeriksaan terhadap korban dan para saksi. Kemudian melakukan koordinasi dengan Kades,Toga, Tomas dari kedua belah pihak untuk antisipasi aksi balas dendam, atau hal-hal yang tidak di inginkan.

Sedangkan Syahrul (38), warga Dusun 15 Desa Bagan Percut Kecamatan Percut Sei Tuan menjelaskan, permasalahan sudah terlanjur terjadi, dan telah diserahkan kepada pihak berwajib. (btr)

1.098 Tiket KA Lebaran 2020 Belum Dibatalkan, Calon Penumpang Diminta Segara Urus Pengembalian Biaya

chek-in tiket: Sejumlah calon penumpang kereta api (KA) melakukan chek-in sebelum berangkat dari Stasiun Besar Kereta Api, Jalan Stasiun Medan, beberapa waktu lalu. Mulai 14 Februari 2020, tiket KA untuk mudik Lebaran 2020 sudah bisa dipesan.
chek-in tiket: Sejumlah calon penumpang kereta api (KA) melakukan chek-in sebelum berangkat dari Stasiun Besar Kereta Api, Jalan Stasiun Medan, beberapa waktu lalu. Mulai 14 Februari 2020, tiket KA untuk mudik Lebaran 2020 sudah bisa dipesan.
chek-in tiket: Sejumlah calon penumpang kereta api (KA) melakukan chek-in sebelum berangkat dari Stasiun Besar Kereta Api, Jalan Stasiun Medan, beberapa waktu lalu. Mulai 14 Februari 2020, tiket KA untuk mudik Lebaran 2020 sudah bisa dipesan.
Ilustrasi

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sebanyak 1.098 dari 5.286 tiket kereta api (KA) yang sudah dipesan selama masa Angkutan Lebaran 2020 hingga 4 Juni 2020, belum dibatalkan para calon penumpang di Sumatera Utara. Karenanya, PT PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divre I Sumut mengimbau para calon penumpang untuk segera melakukan pembatalan tiket masa angkutan lebaran yang telah dimiliki melalui aplikasi KAI Access ataupun datang langsung ke stasiun.

“Ada 5.286 tiket KA yang terjual untuk keberangkatan 23 Maret – 4 Juni 2020. Dari jumlah itu, 4.188 sudah dibatalkan dan 1.098 tiket belum dibatalkan,” kata Plt Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divre I Sumut, Ansitus Marulitua Simangunsong, kepada wartawan, Minggu (17/5).

Ribuan tiket yang dipesan itu, untuk perjalan mudik dan arus balik dengan tujuan Medan-Rantauprapat, Medan-Tanjungbalai, dan Medan-Siantar atau sebaliknya. Dengan begitu, PT KAI akan segera melakukan pengembalian biaya pembelian tiket tersebut.

Dirincika Ansitus, tiket yang sudah dibatalkan mulai 23 Maret hingga 15 Mei 2020 sebanyak 4.188 atau sekitar 79 persen dari total keseluruhan tiket dari tanggal 23 Maret sampai dengan 4 Juni 2020 yang telah terjual. “Selama pandemi corona, PT KAI Divre I Sumut melakukan penutupan rute KA jarak menengah dan beberapa KA jarak dekat. Terlebih lagi, pemerintah pun telah memutuskan untuk melarang masyarakat untuk mudik mendekati hari Raya Idul Fitri tahun ini,” jelas Ansitus.

Karenanya, Ansitus mengimbau kepada masyarakat atau calon penumpang tersebut, untuk segera melakukan pembatalan tiket. “Untuk pembatalan tiket yang dilakukan di stasiun pengembalian bea dilakukan secara tunai pada saat itu juga. Sedangkan tenggang waktu pengembalian untuk pembatalan melalui aplikasi kai access maksimal 3 hari sejak pembatalan melalui transfer. Ketentuan tersebut berlaku untuk pembatalan mulai 30 April – 4 Juni 2020. Ketentuan itu, untuk keberangkatan KA masa Angkutan Lebaran 2020 yakni mulai 14 Mei hingga 4 Juni 2020.” tuturnya.

Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut, Ansitus mengerahkan penumpang dapat menghubungi Contact Center KAI 121 melalui telepon di 021-121, email cs@kai.id, atau media sosial KAI 121.

Dengan adanya kebijakan tersebut, Ansitus berharap dapat mempermudah masyarakat yang ingin membatalkan tiket dan sekaligus membantu masyarakat yang membutuhkan dananya kembali secara cepat. “Namun jika anda terpaksa membatalkan tiket melalui stasiun. Dimohon tetap memperhatikan protokol keselamatan untuk mencegah penyebaran dan penularan COVID-19 antara lain dengan menggunakan masker, rajin mencuci tangan dan menjaga jarak (physical distancing),” pungkasnya.(gus)

Pemko Medan Distribusikan Bantuan Dampak Covid-19 Tahap II, 27.331 Paket Sembako Sudah Disalurkan

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pemko Medan kembali menyalurkan bantuan tahap II berupa beras dan gula pasir kepada masyarakat yang terdampak Covid-19 sejak Sabtu (16/5) lalu. Berdasarkan data yang didapat Sumut Pos dari Bulog, selama dua hari yakni Sabtu (16/5) dan Minggu (17/5), sebanyak 27.331 paket sembako yang terdiri dari 20 Kg beras dan 2Kg gula pasir telah disalurkan ke 8 kecamatan di Kota Medan.

“Pemko Medan sudah memesan beras dan gula ke Bulog dengan perbandingan 10:1 antara beras dan gula, totalnya 6.000 ton beras dan 600 ton gula pasir. Hari pertama, Bulog sudah mendistribusikan 15 ribu paket untuk 4 kecamatan, yaitu Kecamatan Medan Barat, Medan Timur, Medan Deli, Medan Marelan,” ucap kepala gudang GBB Pulo Brayan Darat I, Sahala Lumban Raja kepada Sumut Pos, Minggu (17/5).

Pendistribusian di hari pertama pendistribusiannya, yakni Sabtu (16/5), kata Sahala, dilakukan di GBB Pulo Brayan Darat II di Jalan Jemadi Kota Medan. Sedangkan di hari kedua, yakni Minggu (17/5) kemarin dilakukan di GBB Pulo Brayan Darat II di Jalan Mustafa Kota Medan. “Di hari kedua ini yang akan disalurkan ada 12.331 paket dan itu sedang berlangsung sampai saat ini. Empat kecamatan yang disalurkan di hari kedua ini, yaitu Kecamatan Medan Amplas, Medan Labuhan, Medan Denai, dan Medan Johor,” ujarnya.

Kepada Sumut Pos, Kepala Bagian (Kabag) Tata Pemerintahan (Tapem) Pemko Medan, Ridho Nasution membenarkan hal tersebut. Dijelaskan Ridho, pembagian di dua hari pertama tersebut dilakukan di 8 Kecamatan dan 12 Kelurahan. Di hari pertama disalurkan ke Kelurahan Karang Berombak (Medan Barat), Pulo Brayan Bengkel Baru (Medan Timur), Tanjung Mulia dan Titi Papan (Medan Deli), serta Terjun dan Rengas Pulau (Medan Marelan). “Hari kedua ke Kelurahan Sitirejo II, Sitirejo III dan Bangun Mulia (Medan Amplas), Tangkahan (Medan Labuhan), Denai (Medan Denai) dan Kwala Bekala (Johor),” terang Ridho.

Sama dengan kriteria penerima bantuan tahap pertama, jelas Ridho, yang menerima bantuan tahap kedua adalah mereka yang terkena dampak sosial hingga mengalami kesulitan ekonomi bahkan Lost Income. Penerima bantuan tahap kedua ini juga tidak diperuntukkan bagi mereka yang terdaftar sebagai penerima PKH (program keluarga harapan) dan bantuan sembako lainnya. “Mereka penerima bantuan tahap pertama boleh kembali menerima bantuan tahap kedua. Tetapi memang yang diprioritaskan adalah mereka yang belum mendapatkan bantuan di tahap pertama yang lalu,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Medan, Endar Sutan Lubis juga menjelaskan, bantuan sembako tahap kedua dengan total 300.000 paket itu akan disalurkan kepada warga dengan kriteria miskin, tidak mampu, berpenghasilan rendah serta loss income disaat berlangsungnya pandemi Covid-19 di Kota Medan.

Berdasarkan hasil pendataan yang telah dilakukan pihak kelurahan dan kepling di wilayahnya masing-masing, sudah tercatat sebanyak 265.000 Kepla Keluarga (KK) yang akan menerima bantuan tahap kedua dari Pemko Medan tersebut. Namun menurut Endar, data tersebut bersifat dinamis. Bagi warga yang memiliki kriteria seperti yang disebutkannya tersebut namun tidak mendapatkan bantuan, masih bisa melaporkannya kepada kepling di wilayah tinggalnya masing-masing sampai tanggal 29 Mei mendatang.

Oleh sebab itu, Endar meminta kepada seluruh warga untuk melihat data nama-nama penerima bantuan dari Pemko Medan tersebut di kelurahannya masing-masing. “Kalau sesuai dengan kriteria yang ditetapkan, insya Allah warga yang bersangkutan akan mendapatkan bantuan tahap kedua dari Pemko Medan. Untuk itu kita telah menyiapkan 300.000 paket, sedangkan data yang kita miliki berdasarkan hasil pendataan dari seluruh lurah dan kepling masih sebanyak 265.000 KK. Artinya, kita masih memiliki 35.000 paket untuk membantu warga yang benar-benar layak menerima bantuan,” pungkasnya. (map)

Rapid Test Massal di Binjai, 15 Orang Reaktif

RAPID TEST: Wali Kota Binjai HM Idaham menyaksikan proses rapid test di Pajak Pagi Kebun Lada, Minggu (17/5).
RAPID TEST: Wali Kota Binjai HM Idaham menyaksikan proses rapid test di Pajak Pagi Kebun Lada, Minggu (17/5).
RAPID TEST: Wali Kota Binjai HM Idaham menyaksikan proses rapid  test di Pajak Pagi Kebun Lada, Minggu (17/5).
RAPID TEST: Wali Kota Binjai HM Idaham menyaksikan proses rapid test di Pajak Pagi Kebun Lada, Minggu (17/5).

BINJAI, SUMUTPOS.CO – Pemerintah Kota (Pemko) Binjai bersama unsur TNI-Polri melakukan razia pemakaian masker sekaligus rapid test missal selama dua hari, Sabtu (16/5) dan Minggu (17/5). Wali Kota Binjai, HM Idaham memimpin langsung rapid test massal, Minggu (17/5).

“Hari ini kita melakukan rapid test massal dalam rangka hari jadi Kota Binjai ke 148 tahun. Kegiatan ini mulai dilakukan sejak tadi (Sabtu) malam bersama unsur Forkopimda, TNI-Polri dan semua kekuatan yang ada,” kata Idaham. Petugas rapid test ini terbagi ke dalam 5 tim. Pada Sabtu (16/5) malam tim menyisir ke sejumlah kafe dan warung tuak. Sementara pada Minggu (17/5) pagi, tim melakukan rapid test dengan menyisir pembeli dan pedagang di sejumlah pusat pasar atau pajak.

“Ada sekitar 1.000 orang sampel yang kita ambil dari semua segmen. Mulai dari pedagang, sopir ojol dan paramedis. Kita melakukan ini untuk dapat melakukan seminimal mungkin penularan kepada yang tidak memiliki gejala, sehingga apabila ditemukan mereka reaktif atau positif dalam rapid tes kita, akan dilakukan isolasi dan karantina dan melakukan swab tes untuk memastikan itu,” beber Wali Kota Binjai dua periode ini.

“Ini bagian dari menjaga kota ini agar tidak terpapar dari Covid-19,” tambah dia.

Awalnya, diperoleh informasi ada dua orang yang dinyatakan reaktif. Menurut Idaham, orang yang berstatus reaktif terus mengalami penambahan. “Sudah 15 orang yang reaktif dan malam ini akan dilakukan swab oleh rumah sakit USU. Mereka juga sudah dikarantinakan di tempat kita (Gedung MTQ). Kami berharap, kota ini negatif semua,” pungkasnya.

Belasan Warga Disanksi Push Up dan Squat Jump

Sementara, Pemko Medan kembali menggelar pemantauan dan pencegahan di Jalan Ring Road Gagak Hitam Medan, Minggu (17/5) usai Salat Subuh. Ada belasan warga baik pesepeda, pengendara sepeda motor, dan pengemudi mobil serta truk terjaring tidak mengenakan masker. Sebagai hukuman untuk memberikan efek jera, warga yang terjaring itu pun dijatuhkan sanksi fisik yakni push-up dan squat jump.

Kegiatan pematauan dan pencegahan berjalan dengan lancar. Usai apel, tim gabungan yang terdiri dari unsur unsur Satpol PP Kota Medan, Dinas Perhubungan, Kodim 0201/BS, Denpom 1/5, Polrestabes Medan, Bagian Tata Pemerintahan, Bagian Humasy serta jajaran Kecamatan Medan Sunggal langsung membagi dua Jalan Ring Road baik sisi kiri maupun kanan dengan menggunakan traffic cone (kerucut lalu-lintas) guna mempermudah pemeriksaan.

Satu per satu kendaraan yang melintas pun dihentikan, mulai sepeda, sepeda motor, becak bermotor, mobil, pick-up, truck hingga mobil tangki. Jika mengenakan masker, tim langsung mempersilahkan kembali melanjutkan perjalan. Sebaliknya jika kedapatan tak mengenakan masker, tim tidak lagi melakukan sosialisasi seperti yang dilakukan dalam kegiatan pemantauan dan pencegahan sebelumnya.

Si pengemudi langsung diminta turun dari kenderaannya, kemudian diminta melakukan push-up. Sadar telah melakukan kesalahan, pengemudi pun melakukan push-up dihadapan tim gabungan. Usai push-up, si pengemudi kemudian diberi masker. “Mulai saat ini selalu gunakan masker setiap melakukan aktifitas di luar rumah. Jaga kesehatan dirimu dan orang lain agar tidak tertular virus corona,” kata salah seorang petugas.

Selain push-up, tim gabungan juga menjatuhkan hukuman squat jump bagi pengemudi yang tidak masker, termasuk terhadap seorang wanita pengendara sepeda motor. Wanita bertubuh sedikit kurus itu tampak pasrah ketika sepeda motor yang dikendarainya dihentikam tim gabungan karena tidak memakai masker. Tim kemudian memerintahkannya untuk melakukan squat jump di samping sepeda motornya.

Sementara itu ulah supir mobil tangki sempat membuat sejumlah petugas emosi. Saat diminta untuk menghentikan mobil tangkinya, sang sopir yang tidak mengenakan masker tetap menjalankan kenderaannya meski dalam laju lambat. Beberapa petugas telah berteriak untuk memintanya berhenti namun tidak diindahkan. Melihat itu salah seorang petugas polisi militer (PM) langsung menghadangnya di tengah jalan.

Barulah supir mobil tangki itu menghentikan kenderaannya. Setelah itu sang sopir pun diminta untuk turun. Sambil cengar-cengir , sang supir pun langsung minta maaf. Petugas langsung memeriksa mobil tangka, terutama bagian depan. Lantaran tidak menemukan benda-benda yang mencurigakan, petugas kemudian memerintahkan sang supir untuk push di pinggir jalan. Setelah diberi masker dan dinasehati untuk selalu mengenakan masker, barulah mobil tangka dipersilahkan berjalan kembali.

Kabag Tata Pemerintahan Setdako Medan Ridho Nasution mengatakan, selama bulan suci Ramadhan 1441 H, Pemko Medan menurunkan Tim Pemantauan dan Asmara Subuh. Biasanya tim ini bertugas untuk menertibkan para remaja yang melakukan asmara subuh dengan berkumpul di pinggir jalan, konvoi serta balap liar. Namun di tengah pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-2019), fokus penertiban kali ini lebih difokuskan terhadap warga yang tidak mengenakan masker.

“Hal ini kita lakukan untuk mendukung Perwal No.11/2020 tentang Karantina Kesehatan Dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19 di kota Medan. Salah satu isi perwal tersebut, warga wajib mengenakan masker ketika beraktifitas di luar rumah. Kita harapkan warga dapat melaksanakannya guna memutus mata rantai penyebaran virus corona di tengah-tengah masyarakat,” jelas Ridho. (ted/map)

Pemprov Terus Salurkan JPS ke Daerah

SERAHKAN: Kepala Balitbang Provsu, H Irman serahkan secara simbolis bansos dari program JPS Pemprovsu ke Pemkab Deliserdang, Sabtu (16/5). JPS berupa sembako tersebut akan terus disalurkan ke seluruh daerah di Sumut sebelum masuk waktu Lebaran.
SERAHKAN: Kepala Balitbang Provsu, H Irman serahkan secara simbolis bansos dari program JPS Pemprovsu ke Pemkab Deliserdang, Sabtu (16/5). JPS berupa sembako tersebut akan terus disalurkan ke seluruh daerah di Sumut sebelum masuk waktu Lebaran.
SERAHKAN: Kepala Balitbang Provsu, H Irman serahkan secara simbolis bansos dari program JPS Pemprovsu ke Pemkab Deliserdang, Sabtu (16/5). JPS berupa sembako tersebut akan terus disalurkan ke  seluruh daerah di Sumut sebelum masuk waktu Lebaran.
SERAHKAN: Kepala Balitbang Provsu, H Irman serahkan secara simbolis bansos dari program JPS Pemprovsu ke Pemkab Deliserdang, Sabtu (16/5). JPS berupa sembako tersebut akan terus disalurkan ke seluruh daerah di Sumut sebelum masuk waktu Lebaran.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pemprov Sumut melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 terus menyalurkan jaring pengaman sosial (JPS) ke seluruh daerah. Tujuannya, untuk membantu masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19.

Terkini pada Sabtu (16/5) kemarin, JPS hasil refocusing APBD Pemprov Sumut tersebut disalurkan ke Kabupaten Deliserdang, dengan alokasi123.021 KK senilai Rp27,6 miliar. Secara total, bantuan paket sembako sekitar Rp300 miliar tersebut akan dibagikan kepada 1.321.426 kepala keluarga (KK) yang terdampak Covid-19 di 33 kabupaten/kota se Sumut, sesuai dengan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

“Paket yang diserahkan sesuai dengan jumlah DTKS senilai kurang lebih Rp27,6 miliar,” ujar Kepala Balitbang Sumut, Irman saat menyerahkan bantuan secara simbolis kepada Pemkab Deliserdang, diwakili Kepala BPBD Deliserdang, Zainal Abidin Hutagalung di Kompleks Kantor Bupati, Lubuk Pakam. Paket sembako tersebut terdiri dari beras 10 kg, gula 2 kg, minyak goreng 2 liter, dan mi instan 20 bungkus.

Setelah Deliserdang, selanjutnya bantuan akan terus diserahkan ke seluruh kabupaten/kota lain. Pemprov Sumut menargetkan, sebelum Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah seluruh bantuan sudah berada di tangan masyarakat. Karenanya, pemprov berharap sinergi antara pemerintah kabupaten/kota, Forkopimda hingga tingkat pemerintahan paling bawah.

“Pak Gubernur sangat berharap semua bantuan ini dapat dilaksanakan sebelum Lebaran. Kemudian diharapkan juga pemkab/pemko dapat melibatkan seluruh pemangku kepentingan agar masyarakat menyadari dan merasakan keberadaan pemerintah di tengah masyarakat dalam pandemi ini. Harapan kita, bantuan ini dapat membantu meringankan beban masyarakat Sumut dalam situasi pandemi,” ujar Irman.

Bantu Organda

GTPP Covid-19 Sumut akhirnya merespons aspirasi dan keluhan para pengusaha, sopir dan pekerja angkutan darat yang tergabung di Organda Sumut, akibat dampak Covid-19. Sebanyak 3.017 paket sembako diserahkan kepada Organda Sumut yang kemudian disalurkan kepada Organda di daerah dan perusahaan transportasi darat lainnya. Dalam paket sembako tersebut juga terdapat masker dan sabun.

Penerimanya antara lain PT ALS 1.088 paket, PT Raja Perdana Inti 260 paket, PT Intra 88 paket, PT. Nirmala Cerah 112 paket, PT Makmur/PT Halmahera 141 paket, Medan Jaya Simalem 99 paket, Medan Bus 83 paket, KUPJ 37 paket, Bintang Utara Putra 30 paket, Sentosa 37 paket dan KPUM Trayek 107 paket. Kemudian paket bantuan juga disalurkan kepada DPC daerah seperti Organda Labura (13), Binjai-Langkat (54), Dairi (9), Simalungun (132), Madina (152), Sidempuan (115), Labusel (18), Palas (163), Labuhan Batu (175), personel anggota Organda (54) dan DPU Taksi Organda (59).

“Kita merespons surat dari Organda Sumut untuk menyalurkan bantuan sembako. Dalam paket tersebut ada beras 5Kg, minyak goreng 2Kg, gula 1Kg, masker 10 buah dan sabun dua batang,” kata Plh Sekretaris Dishub Sumut, Rohani Litiloli.

Bantuan kata dia bersumber dari kerjasama GTPP Covid-19 Sumut dengan PT Astra Finance dan diserahkan kepada Ketua DPD Organda Sumut Haposan Sialagan di halaman kantor Dishub Sumut, Jalan Imam Bonjol Medan, Jumat (15/5). “Ini atas kerjasama kita dengan PT. Astra Finance sehingga kita bisa membantu saudara-saudara kita sopir-sopir angkutan umum transportasi darat. Di masa pandemi seperti ini mereka tentu mengalami penurunan pendapatan karena semakin minimnya aktivitas masyarakat,” tambah Rohani.

Bantu Mahasiswa

Sebanyak 1.892 paket sembako untuk mahasiswa disalurkan gugus tugas melalui Dispora Sumut, Kamis (14/5). Sehari sebelumnya, juga telah disalurkan 853 paket sembako. Pasalnya, banyak di antara mereka yang tidak bisa pulang ke kampung halamannya karena dibatasi akses ke berbagai daerah terkait penerapan pembatasan sosial.

Bantuan tersebut diserahkan kepada enam organisasi mahasiswa yaitu GMKI Sumut, KAMMI Sumut, PMKRI Sumut, IMM Sumut, HIMMAH Sumut, PMII Sumut dan BEM Kota Medan untuk disalurkan kepada mahasiswa yang berhak mendapatkannya. Diberikan pula kepada BEM Unimed, BEM UINSU, BEM Al Hikmah, GMNI Sumut dan IPNU Sumut.

Kadispora Sumut Baharuddin Siagian yang juga merupakan Koordinator Bidang Logistik GTTP Covid-19 Sumut mengatakan, di hari ketiga akan disalurkan 1.608 paket sembako untuk mahasiswa dari luar Sumut. Di hari ketiga bantuan akan diterima BEM Polmed, Tri Guna Dharma, Penusa, Politeknik Media Kreatif, UPU, Budhi Dharma dan UNUSU.

“Kita buat dalam tiga hari. Rabu, Kamis dan Senin. Saat ini yang sudah kita bagikan ada 1.892 paket, sisanya Senin (18/5) ada 1.608 paket yang akan diberikan kepada tujuh BEM di Kota Medan untuk disalurkan kepada mahasiswa yang berhak menerimanya. Jadi, totalnya kita menyalurkan 3.500 paket di tahap ini,” terangnya.

Unimed menjadi kampus yang paling banyak menerima bantuan paket sembako dari gugus tugas dengan 493 paket, selanjutnya UINSU menerima 453 paket. Kemudian 232 paket diserahkan kepada USU, 238 Budi Dharma, 330 UMN dan 342 paket untuk mahasiswa di luar BEM dan organisasi yang tercatat. Sisanya rata-rata organisasi dan BEM mendapat 50-100 paket.

Tidak hanya itu, untuk meringankan beban ekonomi warga, tim gugus tugas mengadakan pasar murah UMKM yang menjual dan menyediakan segala macam kebutuhan pokok. Diutamakan untuk golongan menengah ke bawah. Pasar murah tersebut diadakan di beberapa titik. Pertama di Gedung Serbaguna Pancing Jalan Williem Iskandar-Pancing Medan dan kedua di Gedung Eks Bandara Polonia. Pasar murah akan dibuka selama lima hari, mulai 17 -21 Mei 2020.

Pantau Langsung

Rombongan DPRD Sumut yang dikomandoi Baskami Ginting memantau langsung posko penanganan Covid-19 di Kabupaten Madina yang menerima bansos dari Pemprovsu sebesar Rp12,2 miliar untuk dibagikan ke masyarakat. “Kita melihat langsung kesiapan Pemkab Mandailing Natal menjalankan posko penanganan Covid 19,” ujarnya didampingi Anggota DPRD Sumut dapil Sumut VII yakni Syahrul Effendi Siregar dan Parsaulian Tambunan.

Dari hasil tinjauan, lanjut dia, Pemkab Mandina telah menerima bantuan Covid-19 dari Pemprovsu dalam bentuk sembako sebesar Rp12,2 M dan akan disalurkan kepada 54.225 KK di Madina. Begitupun dalam upaya menangani corona, Pemkab Madina telah mendirikan dua posko, yaitu di Kecamatan Ranto Baek berbatasan dengan Pasaman Barat dan Posko Muara Sipongi berbatasan dengan Pasaman.

“Meski Kabupaten Mandina masih dalam zona hijau covid, tapi pemerintah setempat meminta camat-camatnya untuk terus mengingatkan masyarakatnya untuk terus menggunakan masker saat ke luar rumah,” kata Baskami. (prn)

Hidup Normal Bersama Covid-19, Pemerintah Ajak Masyarakat Ubah Sikap dan Cara Pikir

SUMUTPOS.CO – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah mengumumkan, Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) mungkin tak akan pernah hilang dari muka bumi dengan cepat dan mudah. Virus ini akan bertahan lama sehingga mendorong orang harus hidup berdamai dengan Covid-19.

Karena itu, Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto mengungkapkan, manusia kini akan hidup pada era baru yakni kehidupan normal yang baru. Situasi di mana kehidupan harus berdampingan dengan Covid-19 dan berpedoman pada protokol kesehatan.

“WHO berikan informasi kepada seluruh dunia bahwa virus ini tak akan hilang dengan mudah dan dengan cepat di muka bumi. Maka kita harus memiliki sikap dan cara pikir yang mengacu pada protokol kesehatan di hari-hari mendatang. Inilah situasi normal baru,” jelasnya.

Yurianto menambahkan, satu-satunya cara agar bisa produktif dan aman dari Covid-19 adalah dengan hidup berdampingan. Tetap mematuhi protokol kesehatan yang ketat seperti menjaga jarak aman, mencuci tangan dengan sabun, dan memakai masker. “Hidup berdampingan dengan Covid-19 bukan berarti kita menyerah, tapi harus mengubah perilaku kita, cara pandang kita,” ujarnya.

Selain itu, masyarakat diminta untuk selalu menjauhi kerumunan. Dan mulai berpikir pergi ke luar rumah sebagai pilihan terakhir. “Jangan tempatkan pilihan ke luar rumah sebagai alternatif pertama. Kalau enggak memungkinkan dan tidak benar-benar penting lebih baik di rumah saja. Menghindari tempat kerumunan orang. Ini bisa dilaksanakan, seperti dulu saat kita melatih masyarakat budaya antre,” katanya.

Budaya dengan protokol kesehatan, kata Yurianto, bukan hanya bisa mencegah Covid-19 saja, tetapi juga bisa mencegah bahaya penyakit menular lainnya. “Sebab faktor pembawa virus adalah manusia. Sebaran virus akan sangat tergantung dari kegiatan sosial manusia itu sendiri,” tutupnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi mengatakan, masyarakat harus bisa berkompromi, hidup berdampingan, dan berdamai dengan Covid-19 agar tetap produktif. “Sekali lagi, kita harus berdampingan hidup dengan Covid. Sekali lagi yang penting masyarakat produktif dan aman dari Covid,” kata Jokowi dalam pernyataan resminya di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (15/5) lalu.

Jokowi menampik jika hidup berdampingan dengan Covid-19 sama dengan menyerah melawan penyakit itu. Perlawanan terhadap Covid-19 tetap berlangsung dengan mengedepankan protokol kesehatan. Pemerintah akan mengatur agar kehidupan masyarakat berangsur-angsur dapat kembali berjalan normal. “Kehidupan kita sudah pasti berubah untuk mengatasi risiko wabah ini. Itu keniscayaan. Itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai new normal,” tuturnya.

Kehidupan yang sekarang, menurut Presiden Jokowi sudah pasti berubah untuk mengatasi risiko wabah ini, itu keniscayaan. Ia menambahkan, itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai new normal atau tatanan kehidupan baru. “Tapi kehidupan yang berbeda itu bukanlah kehidupan yang penuh pesimisme atau ketakutan. Kita kembali, kita kembalikan produktivitas kita dengan optimisme karena kita juga tetap menerapkan berbagai mekanisme pencegahan,” ujar Presiden.

Jokowi menegaskan, penyakit ini berbahaya, tapi bisa dicegah dan dihindarinya sebagaimana telah disampaikan berkali-kali yakni jaga jarak yang aman, cuci tangan setelah beraktivitas, pakai masker.  “Jadi dalam tatanan kehidupan baru nanti, memang itu yang harus kita pegang,” kata Presiden.

Dalam hal beraktivitas, menurut Presiden, semua memang harus berkompromi dengan Covid-19, bisa hidup berdampingan dengan Covid-19. “Yang kemarin saya bilang, kita harus berdamai dengan Covid-19. Karena informasi terakhir dari WHO (World Health Organization) yang saya terima bahwa meskipun kurvanya sudah agak melandai atau nanti menjadi kurang, tapi virus ini tidak akan hilang,” terang Presiden.

Artinya, Presiden menegaskan sekali lagi bahwa semua harus berdampingan hidup dengan Covid-19. “Sekali lagi, yang penting masyarakat produktif dan aman dari Covid-19,” tandasnya.

Koalisi Warga untuk LaporCovid-19 menilai, pernyataan Presiden Jokowi yang meminta masyarakat menjalani hidup new normal dan berdamai dengan Covid-19, tidak berdasar. Pemerintah dinilai mengeluarkan wacana-wacana tanpa melihat data. “Wacana pelonggaran PSBB dan berdamai dengan Covid-19 tanpa dibekali data dan bukti yang kuat. Kurva epideminya mana? Apakah kita sudah punya? “ ujar salah satu inisiator, Irma Hidayana dalam diskusi online, Minggu (17/5).

Menurut data yang dikumpulkan Lapor Covid-19 dari 24 provinsi, tren jumlah kasus Covid-19 menunjukan kenaikan. Baik angka Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP), kasus positif, maupun data pasien yang meninggal. Data ini berbeda dengan klaim-klaim pemerintah yang menyebut, kasus Covid-19 cenderung melandai.

Untuk itu, Irma menilai, PSBB seharusnya belum bisa dilonggarkan. “Keputusan transisi menuju ‘new normal’ dengan membuka kembali aktivitas ekonomi harus didasari pada indikator yang terukur dengan data-data yang bisa dipercaya secara ilmiah dan transparan,” ujar dia.

4.129 Orang Sembuh, Positif Jadi 17.514

Sementara hingga Minggu (17/5), sebanyak 218 pasien dinyatakan sembuh. Sehingga total pasien sembuh menjadi 4.129 orang. Sedangkan angka pertambahan kasus positif juga masih terus bertambah setiap hari. Sebanyak 489 orang dinyatakan positif. Sehingga totalnya saat ini menjadi 17.514 kasus positif. Semua kasus tersebar di 387 kabupaten kota.

“Ini gambaran sangat tegas bisa kita lihat kasus penambahan kasus baru masih terus terjadi. Maka kasus positif sebagai pembawa virus masih ada di tengah kita,” kata Juru Bicara Pemerintah Untuk Covid-19 Achmad Yurianto dalam konferensi pers, Minggu (17/5).

Sudah ada 187.965 spesimen yang diperiksa dengan dua metode yakni Tes Cepat Molekuler (TCM) dan real tome PCR. Sudah lebih dari 10 mesin TCM yang beroperasi memeriksa 980 spesimen. Total orang yang sudah diuji yakni sebanyak 140.473 orang.

Angka kematian bertambah 59 orang sehingga menjadi 1.148 kasus kematian. Akumulasi data Orang Dalam Pemantauan (ODP) yakni sebanyak 270.876 dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 35.800 orang.

Yurianto terus mengingatkan agar masyarakat membiasakan diri dengan budaya baru seperti mencuci tangan dan memakai masker. Sebab Orang Tanpa Gejala (OTG) tak pernah terlihat kasat mata. “Jangan menyentuh mata, hidung, dan mulut karena mempercepat proses penularan. Gunakan masker saat ke luar rumah. Budayakan mulai sekarang bisa jaga jarak fisik 1 meter dengan orang lain,” jelasnya.

Selain itu, dia kembali meminta agar masyarakat tidak mudik. Sekalipun itu dilakukan secara lokal atau mudik di dalam kota yang dekat. “Kalau bisa jadi kebiasaan baru, ini akan jadi budaya yang prositif. Bukan hanya mencegah Covid-19 tapi juga penyakit lain. Jangan bepergian, jangan mudik meskipun hanya di dalam kota,” tegasnya.

Di Sumut, Positif Tambah 16 Orang

Tren peningkatan jumlah pasien positif Covid-19 juga terjadi di Sumatera Utara. Hingga Minggu (17/5) sore, berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Sumut, jumlah pasien positif Covid-19 kini sudah mencapai 218 orang. Padahal, hari sebelumnya berjumlah 202 orang. “Positif Covid-19 mengalami peningkatan sebanyak 16 orang,” ujar Juru Bicara (Jubir) GTPP Covid-19 Sumut dr Whiko Irwan D dalam keterangan persnya melalui video streaming YouTube, Minggu (17/5).

Selain itu, lanjutnya, peningkatan juga terjadi pada angka PDP dari sebelumnya berjumlah 200 orang kini menjadi 202 orang. Kemudian, pasien yang meninggal akibat Covid-19 saat ini berjumlah 26 orang dari sebelumnya 24 orang. Selanjutnya, pasien Covid-19 yang sembuh dari 53 orang menjadi 58 orang.

“Belum menurunnya angka penderita Covid-19 di Sumut, maka diminta kepada masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan yang telah diimbau pemerintah. Termasuk, tidak melakukan perjalanan mudik,” ungkap Whiko.

Kata dia, Gugus Tugas telah mengirimkan Jaring Pengaman Sosial (JPS) untuk meringankan dampak akibat Covid-19. Total anggaran JPS Tahap I sebesar Rp 297 miliar atau sebanyak 1.321.426 kuota dengan nilai per kuota Rp 225.000. “Langkat mendapat kuota terbesar dengan nilai Rp 36 miliar lebih untuk 161.554 kuota. Selanjutnya, Medan Rp 28 miliar lebih untuk 128.870 kuota. Kemudian, Deli Serdang Rp 27 miliar lebih dengan 123.021 kuota,” pungkasnya.

Sementara, Jubir GTPP Covid-19 Sumut lainnya dr Aris Yudhariansyah menyebutkan, 5 pasien Covid-19 yang sembuh masing-masing berinisial JT dan RSS warga Medan, FA asal Deli Serdang, L warga Tebing Tinggi, dan N penduduk Simalungun. “Kelima pasien ini dirawat di RS Columbia, RSU Martha Friska Multatuli, RS Siloam, dan RSUD Simalungun,” beber Aris. Dia menambahkan, sedangkan 2 pasien yang meninggal masing-masing, berinisial ASA pada 14 Mei 2020 dan Z pada 17 Mei 2020 di RSUP Haji Adam Malik. (jpc/bbs/ris)