24 C
Medan
Friday, January 9, 2026
Home Blog Page 4319

Bakti Sosial Alumni SMP Negeri 3 Binjai Tahun 79, Berikan Bantuan kepada Buruh Harian Lepas

BERSAMA: Panitia Bakti Sosial Alumni SMPN 3 Binjai Tahun 1979 saat memberikan bantuan kepada teman seangkatan yang kurang mampu di Binjai, Kamis (8/10).
BERSAMA: Panitia Bakti Sosial Alumni SMPN 3 Binjai Tahun 1979 saat memberikan bantuan kepada teman seangkatan yang kurang mampu di Binjai, Kamis (8/10).
BERSAMA: Panitia Bakti Sosial Alumni SMPN 3 Binjai Tahun 1979 saat memberikan bantuan kepada teman seangkatan yang kurang mampu di Binjai, Kamis (8/10).
BERSAMA: Panitia Bakti Sosial Alumni SMPN 3 Binjai Tahun 1979 saat memberikan bantuan kepada teman seangkatan yang kurang mampu di Binjai, Kamis (8/10).

BINJAI, SUMUTPOS.CO – Alumni Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 3 Binjai Tahun 1979 memberikan bantuan berupa sembako dan uang tunai untuk teman seangkatan yang bekerja sebagai buruh harian lepas. Bakti sosial ini sebagai bentuk solidaritas alumni kepada rekan seangkatan yang terkena dampak dari Covid-19.

Penanggung jawab kegiatan bakti sosial, Sutrisno mengatakan bahwa dana bantuan ini berasal dari sumbangan para alumni SMPN 3 Binjai angkatan Tahun 1979 yang mampu. Sehingga dapat menjadi penyemangat di tengah wabah virus pendemi ini.

“Jadi, kita bersatu untuk melawan virus ini. Selain sembako, kita juga memberikan uang tunai. Kita berharap agar jangan dinilai dari berapa banyaknya tetapi rasa kepedulian kita kepada sesama,” ujarnya.

Sutrisno mengatakan adapun isi dari paket yang diberikan kepada alumni yaitu, Beras 10 Kg, Gula pasir 2 Kg, Minyak makan 2 Kg, Mie instans 20 bungkus, kecap 2 bungkus, dan uang kontan sebesar Rp100 ribu.

“Dan kita tegaskan, semua alumni tahun 1979 yang kurang mampu akan mendapatkan bantuan,” jelasnya. Sutrisno mengatakan untuk pemberian sembako ini dilakukan secara door to door atau pintu ke pintu. Hal ini sesuai dengan imbauan dari pemerintah untuk tidak mengadakan kegiatan yang membuat kehadiran orang banyak untuk mencegah penularan virus Corona.

Karena itu, panitia menyiapkan anggota yang bersedia untuk menyerahkan bantuan secara langsung kepada alumni. Dan saat penyerahanpun, panitia sudah menegaskan untuk menerapkan social distancing yaitu menjaga jarak saat penyerahan paket bantuan.

“Kita menerapkan imbauan pemerintah untuk mencegah. Karena siapapun tidak ada yang mau menjadi korban dari virus yang sedang mewabah ini,” jelasnya.

Sutrisno mengharapkan kegiatan ini tidak hanya terjadi pada Alumni angkatan 1979 saja, tetapi alumni lainnya juga bersedia untuk mengumpulkan dana dan membantu teman seangkatannya. Karena selain pengobatan dari tim medis, cara lain untuk melawan Corona ini adalah kepedulian kepada sesama.

Apalagi, saat ini ekonomi semakin sulit, sehingga cara satu-satunya untuk mengembalikan ekonomi menjadi lebih baik adalah bersedekah dengan suka rela.

“Tidak kita pungkiri, saat ini masyarakat kita menjadi rezeki hari ini untuk dihabiskan hari ini juga. Karena itu, kepedulian kita kepada sesama akan memberikan dampak yang lebih baik,” tutupnya. (rel/ram)

10 Karyawan Jalani Isolasi, Pimpinan Leasing Cabang Binjai Diduga Positif Corona

BINJAI, SUMUTPOS.CO – Seorang pimpinan salah satu perusahaan pembiayaan (leasing) yang berkantor cabang di Kota Binjai diduga positif terinfeksi virus Corona.

Informasi yang diperoleh, Badan Nasional Narkotika Provinsi Sumatera Utara mengeluarkan surat rujukan terhadap pimpinan cabang perusahaan leasing dimaksud ke Rumah Sakit Colombia Medan. BNNP Sumut mengeluarkan surat rujukan yang berisikan, bahwa warga Kelurahan Mencirim, Binjai Timur tersebut, dinyatakan sebagai positif Covid-19.

Hal itu diperkuat dengan hasil Rapid Test, dan surat rujukan yang ditandatangani oleh dr Suku Ginting.

Saat ini, pimpinan cabang leasing tersebut sudah menjalani isolasi di RS Colombia Medan. Karenanya, seluruh karyawan leasing inipun harus menjalani isolasi mandiri selama 14 hari.

Disebut-sebut, pimpinan cabang leasing ini tak jujur alias berbohong bahwasanya pernah diperiksa. Kejadian tak jujur inipun mengingatkan kembali kepada PDP asal Langkat yang menggegerkan petugas medis di Rumah Sakit Umum Daerah Djoelham.

Pun demikian, 12 petugas medis RSUD Djoelham yang sempat menjalani isolasi mandiri, kini sudah kembali bekerja. Dan, PDP asal Langkat itu sudah tutup usia.

“Ya (benar, ada yang positif),” jelas Kepala Dinas Kesehatan Binjai, dr Sugianto saat dikonfirmasi, Minggu (12/4).

Namun, Sugianto bilang, pimpinan cabang leasing ini berstatus sebagai penduduk Kota Medan. Sementara dalam surat rujukan, yang bersangkutan tertulis sebagai warga Kota Binjai.

“Pasien penduduk Medan, dan sudah dilakukan rapid test,” tulis mantan Direktur RSUD Djoelham Binjai ini melalui layanan pesan singkat WhatsApp.

Kantor perusahaan leasing yang berada di seputaran Lapangan Merdeka Kota Binjai ini juga sudah dilakukan penyemprotan sebanyak 2 kali. Pada Jumat (10/4) dan Sabtu (11/4). Meski demikian, soal positif atau tidak memang harus dilakukan pemeriksaan lainnya, yakni swab test. Direncanakan yang bersangkutan akan melewati pemeriksaan swab tes pada Senin (13/4).

Sugianto menambahkan, yang bersangkutan juga sudah tidak masuk pada beberapa hari belakangan. “Pegawainya kita isolasi mandiri selama 14 hari ke depan sesuai SOP. Dan ada yang gejala kita periksa rapid. Pegawai yang kontak langsung itu sampai saat ini ada 10 orang,” tukas Sugianto. (ted/han)

Masyarakat Mudik Bakal Dipersulit

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi mengaku, ada sejumlah pembahasan terkait bagaimana mempersulit masyarakat agar tidak mudik ke kampung halaman. Hal ini sebagai upaya pencegahan penularan pandemi Covid-19 yang sampai saat ini masih menghantui masyarakat dan belum ada kepastian kapan akan berakhir.

“Ada pembahasan mempersulit masyarakat untuk mudik, salah satu yang keluar adalah menaikkan tarif tol. Sudah kita buat perhitungan kenaikan tarif bus dan lainnya tapi belum disampaikan,” ujar Budi dalam sebuah diskusi melalui video conference di Jakarta, Minggu (12/4).

Sementara itu, terkait dengan adanya wacana untuk memindah tanggal libur panjang lebaran 2020, dia mengaku setuju. Meskipun menurutnya, saat ini dengan kondisi infrastruktur yang semakin membaik, menuju ke daerah manapun lebih mudah dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. “Jadi yang mudik gratis kita potong atau kita pindahkan, manakala pemerintah akan membagi libur tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, perpindahan libur tak jadi soal, sebab terkait dengan anggaran sudah disiapkan, meskipun menurutnya semua Kementerian dan Lembaga (KL) ada pemotongan, terkait dengan pandemi virus corona ini.

Sebelumnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan menerapkan pembatasan jumlah penumpang, baik itu transportasi darat, laut, dan udara. Hal ini guna mencegah penularan COVID-19.

Khusus pada angkutan udara, ada kebijakan lanjutan dari Kemenhub yaitu maskapai didorong mengenakan tarif batas atas (TBA) artinya akan ada kenaikan tarif sampai dua kali lipat. Kebijakan ini akan berlaku efektif pekan depan, karena ada pembatasan penumpang setiap penerbangan hanya 50% dari kapasitas.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Novie Riyanto mengatakan, selama pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), maka diterapkan pembatasan jumlah penumpang 50% dari kursi yang tersedia. Hal ini sebagai upaya dalam penerapan physical distancing.

Dalam kondisi seperti ini sudah tentu otomatis maskapai penerbangan akan mengalami kerugian. Oleh karena itu, kata dia penerapan TBA diperbolehkan. Yang kemudian peraturan ini tertuang dalam Permehub 18 tahun 2020. “Perhitungan-perhitungan terhadap TBA dalam Permenhub diperbolehkan, untuk menambah tuslah. Semua sedang kita hitung, mudah-mudahan hari ini selesai,” kata Novie.

Jangan Ambigu

Sementara, Anggota DPR Komisi V Nurhayati Monoarfa meminta agar pemerintah bisa dengan tegas melarang mudik. Menurutnya, kebijakan pemerintah soal mudik terlalu ambigu dan hanya membingungkan masyarakat. “Yang dibutuhkan adalah keputusan yang jangan ambigu dan jelas. Boleh atau tidak boleh, boleh tapi diperketat. Sehingga masyarakat bingung,” kata Nurhayati, dalam diskusi telekonferensi Instran, Minggu (12/4/2020).

Menurut Nurhayati, pemerintah sudah menganggarkan dana untuk menahan mudik, masyarakat kecil yang mayoritas melakukan mudik tiap tahun akan diberikan bantuan sosial. Dia mempertanyakan buat apa memberikan bantuan itu kalau tidak melarang mudik. “Buat apa lakukan intervensi seperti BLT dan lain-lain, kalau nggak melarang. Itu cukup buat menahan masyarakat,” ujar Nurhayati.

Belum lagi, dengan ancaman penyebaran virus Corona ke daerah. Nurhayati khawatir apabila virus terbawa pemudik dan tersebar, banyak daerah yang tidak siap. Belum lagi, di daerah banyak yang memiliki keterbatasan anggaran, hingga alat dan tenaga medis. “Banyak daerah yang belum mampu juga kan keterbatasan anggaran, alat medis juga terbatas. Tenaga medis juga nggak banyak. Malah ada satu daerah yang punya ventilator cuma satu, padahal itu dibutuhkan,” ungkap Nurhayati.

Lebih tegas, Anggota Komisi V lainnya Syarief Abdulah mengatakan, kalau perlu ada sanksi diberikan untuk yang nekat mudik. Apalagi kalau pemudik berangkat dari Jabodetabek yang merupakan zona merah Corona. “Untuk diberikan ada sanksi mudik, di luar daerah kan takutnya ada transfer dari Jabodetabek. Ini kan redzone,” ungkap Syarief pada kesempatan yang sama.

Menurut Syarief, kalau cuma imbauan hanya akan memakan waktu memberikan pengertian ke masyarakat. Sementara itu hal ini sudah mendesak. “Kalau diimbau diberi pengertian ini akan makan waktu edukasinya lama, ini mendesak kan, kemarin saja sudah banyak yang mudik,” kata Syarief.

Sementara itu, Dirjen Perhubungan Darat Budi Setiyadi mengatakan, sampai sekarang sebetulnya masih ada potensi melarang mudik. Pihaknya dan Kemenko Maritim dan Investasi, masih mau melihat perkembangan dampak virus ini. “Sampai sekarang dengan rapat Kemenko Maritim, kalau perkembangan COVID-19 semakin banyak atau dinamikanya berat sekali, bisa saja akan ada larangan mudik. Tapi sampai sekarang kami masih keputusan dibuat tidak mudik imbauan saja tidak pelarangan,” ungkap Budi dalam diskusi yang sama.

Untuk yang mudik pun menurutnya akan ada protokol transportasi yang bisa menyulitkan mudik, sehingga masyarakat enggan melakukan mudik. “Kami siapkan kalau yang mau mudik ada prosedur dan SOP, jadi meski boleh akan dipersulit,” jelas Budi. (bbs/jpc)

10 Persen Positif Covid-19 Sembuh, Sumut Belum Usulkan Pemberlakuan PSBB

KONDISI TERBARU: Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut, dr. Aris Yudhariansyah memberikan keterangan pers terkait kondisi terbaru wabah Covid-19 di Media Center Penanganan Covid-19, Medan, Jumat (27/3). data terbaru, jumlah ODP di Sumut menurun.
KONDISI TERBARU: Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut, dr. Aris Yudhariansyah memberikan keterangan pers terkait kondisi terbaru wabah Covid-19 di Media Center Penanganan Covid-19, Medan, Jumat (27/3). data terbaru, jumlah ODP di Sumut menurun.
KONDISI TERBARU: Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut, dr. Aris Yudhariansyah memberikan keterangan pers terkait kondisi terbaru wabah Covid-19 di Media Center Penanganan Covid-19, Medan, Jumat (27/3). data terbaru, jumlah ODP di Sumut menurun.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – JURU Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumatera Utara, Aris Yudhariansyah yang menyampaikan kabar baik itu dalam dalam video conference pada Minggu (12/4) sore. “Alhamdulillah, hari ini satu pasien kita terkonfirmasi sembuh,” kata Aris Yudhariansyah.

Ia menyebutkan, satu lagi pasien positif Covid-19 di Sumut sembuh. Pasien tersebut berjenis kelamin laki-laki dengan usia sekitar 63 tahun. “Pasien positif yang sembuh ini dirawat di RSU Murni Teguh Medan,” sebut Aris.

Dengan bertambahnya satu pasien sembuh ini, sambung dia, maka hingga Minggu sore jumlah pasien positif Covid-19 di Sumut menjadi 9 orang. “Adanya satu lagi pasien yang terkonfirmasi positif telah sembuh ini membuktikan.

penyakit ini dapat disembuhkan dan kita mampu dengan segala upaya-upaya akan terus dilakukan untuk meningkatkan angka kesembuhan ini. Meski demikian, tentunya dengan bantuan masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut Aris mengatakan, untuk jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 145 orang. Jumlah ini mengalami penurunan 4 orang dibandingkan data hari Sabtu (11/4) yaitu 149 orang. Penurunan juga diikuti jumlah Orang Dalam Pengawasan (ODP) yang kini berjumlah 2.603 orang. Sebelumnya, jumlah ODP mencapai 2.626 orang.

Sedangkan orang yang positif Covid-19 masih tetap 90 orang, dimana 8 orang diantaranya telah meninggal dunia. “Dari 90 pasien positif ini, 65 orang positif berdasarkan hasil pemeriksaan swab PCR (Polymerase Chain Reaction) dan 25 orang hasil rapid test,” terangnya.

Aris mengatakan, tingkat kesembuhan pasien corona di Sumut sebesar 10 persen. Tingkat kesembuhan ini berada di atas angka nasional yang saat ini 8,46 persen. “Pasien yang dinyatakan sembuh adalah yang terkonfirmasi positif. Setelah diterima (rumah sakit rujukan COVID-19), dilakukan isolasi terhadap pasien dan dilakukan perawatan medis,” imbuhnya.

Diutarakan Aris, dengan data-data tersebut menggambarkan bahwa penyebaran Covid-19 terus terjadi di Sumut karena masih adanya kasus positif yang berada di tengah-tengah masyarakat. Masih ada kelompok masyarakat yang rentan belum disiplin untuk menjaga jarak, belum disiplin untuk menggunakan masker.

“Belum lagi ancaman-ancaman masalah kesehatan yang lain, diantaranya pada musim pancaroba ini kasus demam berdarah mengancam kita semua. Oleh karena itu, mari tetap berada di rumah, putus penularan dan pastikan untuk menjaga kesehatan. Kita tidak perlu seluruhnya menjadi tenaga relawan, tapi kita memiliki peran dengan mengikuti imbauan yang telah disampaikan pemerintah,” paparnya.

Kendati begitu, lanjut Aris, Pemprov Sumut maupun Pemkab dan Pemko di Sumut belum memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam menangani pandemi wabah Covid-19. Sebab, sejauh ini belum ada yang mengajukan PSBB baik Pemprovsu dan Pemkab/Pemko di Sumut. “Hingga hari ini (kemarin, red), kabupaten/kota dan Provinsi Sumut belum ada mengajukan usulan PSBB ke Kementerian Kesehatan,” ungkap Aris.

Menurutnya, terkait pemberlakuan PSBB ini berpedoman terhadap Permenkes Nomor 9/2020. PSBB itu ditetapkan oleh Menteri Kesehatan RI, yang diputuskan berdasarkan permohonan kepala daerah baik gubernur, bupati ataupun walikota. Artinya, mengenai pemberlakukan PSBB harus disampaikan ke Pemerintah Pusat.

Dijelaskan dia, ada beberapa kriteria untuk penetapan PSBB ini. Pertama, jumlah kasus dan kematian yang meningkat. Kedua, terdapat kaitan epidemiologi kejadian di wilayah atau serupa dengan negara lain. Ketiga, pengajuan PSBB ini harus dilampirkan beberapa data-data sesuai dengan Permenkes Nomor 9/2020. “Jadi, tidak ada kaitan perbedaan data kasus antara provinsi (Sumut) dengan kabupaten/kota, sehingga belum menetapkan PSBB,” ucap sekretaris Dinas Kesehatan Sumut ini.

Aris berharap, walaupun tidak diajukan PSBB akan tetapi sosialisasi sesuai dengan protokol kesehatan yaitu social dan physical distancing bisa terus dilakukan. Dengan begitu, berharap PSBB ini tidak perlu dilakukan.

Kepala CS dan Pusat Informasi dan Pengaduan Pelanggan (PIPP) RSU Murni Teguh, Winda Aqmalia Lingga membenarkan ada satu pasien positif Covid-19 yang sembuh, bernama Setia Darma Sebayang. Pasien ini dinyatakan sembuh setelah keluar dua kali hasil pemeriksaan swab PCR dari Balitbangkes Kemenkes RI Jakarta. “Pasien itu mengalami gejala penyakit seperti demam, batuk hingga sesak napas. Namun, pasien tidak ada riwayat perjalanan keluar kota. Kuat dugaan, pasien ini tertular setelah kontak dengan orang diduga positif Covid-19,” jelas Winda.

Disebutkan Winda, pasien positif yang sembuh ini dipulangkan pada Minggu siang. Pasien asal Medan tersebut dirawat sejak 29 Maret lalu. “Walau dibolehkan pulang, pasien tetap harus karantina rumah selama 14 hari. Selain itu, tetap dipantau kondisi kesehatannya,” tandas Winda.

Olah Spesimen Swab PCR Secara Mandiri

Pemprovsu berencana mengolah spesimen pemeriksaan swab PCR secara mandiri, terkait pasien Covid-19 yang terkonfirmasi positif. Sebab, sampai sekarang masih harus terus bergantung kepada Balitbangkes Kemenkes RI dan memakan waktu cukup lama.

Koordinator Medis dan Paramedis Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumut, dr Restuti Hidayani Saragih SpPd K-PTI Finasim MHKes mengatakan, saat ini Sumut sedang berupaya mengolah spesimen untuk swab PCR tersebut secara mandiri. Rencananya, akan dibuat di salah satu rumah sakit atau sentra laboratorium yang ada di Sumut.

“Pak Gubernur Sumut Edy Rahmayadi telah menandatangani MoU dengan Universitas Andalas, yang sudah terlebih dahulu mandiri. Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama, kita dapat memangkas waktu dalam mendapatkan hasil PCR yang merupakan final diagnosis laboratorium. Dengan begitu, apakah PDP yang kita rawat itu merupakan hasil konfirmasi positif Covid-19 atau bukan,” ungkapnya.

Restuti menerangkan, hasil rapid test yang dilakukan hanyalah sebagai screening atau deteksi awal, sehingga hasil pemeriksaan tes cepat yang dilakukan bila positif maka belum dianggap sebagai diagnosis final. Untuk itu, hasil rapid test harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan PCR. “Kendala kita memang agak lamanya proses datangnya hasil swab PCR, karena masih terpusat di Balitbangkes Kemenkes RI,” ujarnya.

Status PDP, Bocah 2,5 Tahun Meninggal Dunia

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Seorang bocah berusia 2,5 tahun yang berstatus PDP Covid-19 meninggal dunia di RSUP H Adam Malik Medan, Minggu (12/4) dini hari sekira pukul 03.00 WIB. Meninggalnya bocah berjenis kelamin perempuan ini dengan status PDP, menjadi kasus pertama kalinya yang merenggut nyawa anak-anak di Sumut.

Kasubbag Humas RSUP H Adam Malik Rosario Dorothy Simanjuntak (Rosa) membenarkan adanya anak berstatus PDP yang meninggal. Kata Rosa, pasien ini masuk dan dirawat sejak Sabtu (11/4) sore sekira pukul 16.00 WIB. Namun begitu, tidak disebutkan pasien ini berasal dari daerah mana. “Minggu dini hari pasien meninggal dunia, saat ini jenazah sudah dibawa untuk langsung dikebumikan. Pasien bukan berasal dari warga Medan,” ujarnya.

Dijelaskan Rosa, pasien ini punya gejala penyakit yang mengarah ke Covid-19. Selain itu, pasien juga memiliki riwayat penyakit jantung. “Pasien tidak ada dilakukan rapid test, namun tim medis sudah mengambil swab untuk diperiksa apakah positif terpapar Covid-19 atau tidak,” cetusnya.

Hingga kini, tambah dia, jumlah PDP yang dirawat di rumah sakit milik Kemenkes ini sebanyak 10 orang PDP dan 3 orang positif Covid-19. Sedangkan jumlah PDP yang meninggal bertambah menjadi 2 orang. Sementara pasien positif meninggal tetap 3 orang, begitu juga dengan yang sembuh masih 8 orang.

10 Ribu APD dan 6 Ribu Masker Tiba di Lanud Suwondo Medan

SERAH TERIMA Sekretaris Daerah Provinsi Sumut, R Sabrina menyaksikan penyerahan bantuan APD dan Masker dari Pemerintah Pusat di Landasan Udara Soewondo, Medan, Jumat (10/4).
SERAH TERIMA: Sekretaris Daerah Provinsi Sumut, R Sabrina menyaksikan penyerahan bantuan APD dan Masker dari Pemerintah Pusat di Landasan Udara Soewondo, Medan, Jumat (10/4).
SERAH TERIMA Sekretaris Daerah Provinsi Sumut, R Sabrina menyaksikan penyerahan bantuan APD dan Masker dari Pemerintah Pusat di Landasan Udara Soewondo, Medan, Jumat (10/4).
SERAH TERIMA: Sekretaris Daerah Provinsi Sumut, R Sabrina menyaksikan penyerahan bantuan APD dan Masker dari Pemerintah Pusat di Landasan Udara Soewondo, Medan, Jumat (10/4).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pemprov Sumut kembali menerima bantuan masker dan Alat Pelindung Diri (APD) dari Pemerintah Pusat di Lanud Suwondo Medan, Jumat (10/4). Bantuan sebanyak 10.000 APD dan 6.000 masker itu diangkut menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU.

Sekretaris Daerah Provinsi Sumut (Sekdaprovsu) R Sabrina selaku Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut mengatakan, bantuan ini sangat membantu Pemprov Sumut dalam mengatasi penyebaran Covid-19. “Bantuan ini nantinya diperuntukan bagi rumah sakit (RS) rujukan di seluruh kabupaten/kota untuk perlindungan tenaga medis yang merupakan garda terdepan,” kata Sabrina, didampingi Danlanud Soewondo Kolonel Pnb Meka Yudanto, Kepala BPBD Sumut Riadil Akhir Lubis, Kadis Kesehatan Sumut Alwi Mujahit Hasibuan serta Kepala Biro Humas dan Keprotokolan Sumut Hendra Dermawan Siregar.

Sabrina yakin, bantuan lainnya dari Pemerintah Pusat akan terus digulirkan secara bertahap dalam upaya penangan wabah Covid-19 di Sumut. “Saya yakin pemerintah pusat akan memberikan bertahap bantuan dan tidak ini saja,” kata Sabrina usai menerima bantuan tersebut.

Sementara itu, Danlanud Soewondo Kolonel Pnb Meka Yudanto yang menyerahkan bantuan tersebut ke Pemprov Sumut mengatakan, TNI AU telah menyiapkan dan memanfaatkan alusista yakni pesawat Hercules sebagai armada pengangkutan kebutuhan penanganan Covid-19. “Ini sudah gelombang kedua pesawat Hercules mendarat membawa kebutuhan medis ke Sumut. Pesawat Hercules memiliki daya angkut yang cukup besar,” katanya.

Meka Yudanto mengatakan, TNI AU akan selalu siap membantu dalam penanganan wabah Covid-19 terutama membantu tenaga medis sebagai garda terdepan yang harus dilindungi dan diberikan rasa aman dalam merawat pasien Covid-19. “Kita siap memberikan bantuan terutama membantu tenaga medis, yang merupakan garda terdepan yang harus dilindungi dan diberikan rasa aman,” katanya.

Usai serah terima APD dan masker, Danlanud Soewondo Kolonel Pnb Meka Yudanto dan Sekdaprov Sumut R Sabrina melihat dari jauh penanganan isolasi TKI Indonesia sebanyak 318 orang di Lanud Suwondo. (ris/prn)

KA Bandara Kualanamu Berhenti Beroperasi, Karyawan Dirumahkan Sementara

SEPI: Stasiun Kereta Api Bandara di Kualanamu terlihat sepi. Mulai Minggu (12/4), hingga 31 Mei 2020, KA Bandara berhenti beroperasi sementara.
SEPI: Stasiun Kereta Api Bandara di Kualanamu terlihat sepi. Mulai Minggu (12/4), hingga 31 Mei 2020, KA Bandara berhenti beroperasi sementara.
SEPI: Stasiun Kereta Api Bandara di Kualanamu terlihat sepi. Mulai Minggu (12/4), hingga 31 Mei 2020, KA Bandara berhenti beroperasi sementara.
SEPI: Stasiun Kereta Api Bandara di Kualanamu terlihat sepi. Mulai Minggu (12/4), hingga 31 Mei 2020, KA Bandara berhenti beroperasi sementara.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sepinya penumpang akibat penyebaran virus corona atau Covid-19, memaksa PT Railink selaku operator Kereta Api (KA) Bandara Internasional Kualanamu, menghentikan operasional serta merumahkan sementara karyawannya. Penghentian sementara operasional KA Bandara ini berlangsung mulai Minggu (12/4) hingga 31 Mei 2020.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PT Railink, Mukti Jauhari mengungkapkan, penghentian operasional tersebut juga berlaku terhadap kereta api Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. “PT Railink akan berhenti beroperasi sementara hingga Mei 2020 dan ini akan terus dievaluasi. Hal ini sebagai antisipasi penyebaran Covid-19,” kata Mukti dalam siaran persnya yang diterima Sumut Pos, Minggu (12/4).

Dengan penghentian sementara operasional KA Bandara ini, kata Mukti, pihaknya akan mengembalikan biaya tiket 100 persen bagi calon penumpang yang sudah terlanjur melakukan pemesan tiket. “PT Railink akan terus memantau perkembangan situasi dan akan melakukan langkah antisipasi yang diperlukan untuk memulai layanan kembali KA Bandara nantinya saat situasi mulai membaik,” pungkasnya.

Penghentian sementara operasional Kereta Api Bandara Kualanamu ini juga disampaikan diakun resmi Railink di Instagram @kabandararailink. “Travelers, perlu kami sampaikan kembali bahwa PT Railink akan menghentikan sementara operasional KA Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta dan Bandara Kualanamu, Medan pada tanggal 12 April hingga 31 April 2020. Hal ini, sebagai upaya pencegahan penyebaran corona virus disease #Covid-19 di Indonesia,” tulis di akun@kabandararailink.

“Bagi penumpang KA Bandara yang telah memiliki tiket, dapat melakukan pengembalian 100 persen di lur bea pemesan, dengan melampirkan bukti tiket dan bukti transaksi ke email :info@railink.co.id,” papar di akun@kabandararailink.

Manager Station Railink Andrianto dikonfirmasi wartawan juga membenarkan, penghentian sementara operasional KA Bandara. Menurutnya, ini merupakan perintah dari pusat, bersamaan dengan penghentian operasional kereta bandara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta. “Berlaku 12 April-31 Mei 2020 kereta api bandara berhenti operasi sementara dan para pegawai dirumahkan. Kalau yang stand by itu hanya beberapa hari saja sambil mensosialisasikan pencegahan penyebaran Virus Corona Covid-19,” katanya.

Selain memaksa moda transportasi darat itu berhenti beroperasi sementara. Wabah Covid-19 juga menghentikan aktivitas pelayanan publik terutama sektor UMKM yang ada di kawasan Bandara Kualanamu Deliserdang. Dari pantauan Sumut Pos, Minggu (12/4), terlihat sejumlah kios yang menjual makanan dan resto di Bandara Kualanamu tutup. Di loket check in juga tak ada aktivitas.

Diketahui, KA Bandara Kualanamu sebelum terjadi pandemi Covid-19 setiap hari beroperasi sebanyak 50 perjalanan. PT KAI Divre I Sumut mengumumkan pengurangan frekuensi perjalanan menjadi 12 perjalanan setiap hari. Hal itu, sebagai bentuk pencegahan dan antisipasi virus penyebaran virus corona dengan mengikuti imbau dari Pemerintah indonesia. Kini, seluruh operasional dihentikan sementara. (gus/btr)

Berstatus PDP, Warga Balikpapan Meninggal di Deliserdang

MAKAMKAN: Petugas medis menggunakan APD memakamkan warga Balikpapan yang wafat di RSUD Deliserdang, Minggu (12/4).
batara/sumut pos

DELISERDANG, SUMUTPOS.CO – SEORANG pasien berstatus PDP meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Deliserdang, Minggu (12/4). Pasien berinisial MJ itu meninggal dunia setelah menjalani isolasi selama sepekan di rumah sakit milik Pemkab Deliserdang itu.

“Korban yang meninggal merupakan warga Balikpapan, Kalimantan Timur. Dia (MJ) meninggal dunia sekitar pukul 09.30 WIB,” ujar Direktur RSUD Deliserdang, dr Hanif Fahri SpKJ saat dihubungi lewat sambungan telepon.

dr Hanif menerangkan, pasien sebelum dirawat di ruangan isolasi, berkunjung ke rumah kakaknya di Desa Kotasan, Kecamatan Galang, Deliserdang. “Pada 6 April 2020, korban tiba di rumah kakaknya. Beberapa hari di sana, penyakit paru yang dideritanya kambuh sehingga dibawa ke RUSD,” terang dr Hanif.

Selanjutnya, setibanya di rumah sakit, pasien dirawat dengan ditangani dokter spesialis paru-paru. “Di hari Rabu 8 April, kondisi korban sudah mulai membaik. Namun, pada Kamis 9 April 2020, kondisi fisiknya menurun. Sehingga dilakukan pemeriksaan intensif. Hasilnya, ia mengarah kepada terjangkit virus Covid-19. Kemudian dipindahkan di ruangan isolasi penanganan Covid-19 RSUD,” sebutnya.

Hanif menuturkan, selama menjalani perawatan selama di ruangan isolasi, keadaan pasien bukannya membaik, malah semakin memburuk. “Pada hari ini (kemarin) korban dinyatakan meninggal dunia. Sesuai protokoler kesehatan, kemudian jenazah akan dikebumikan di rumah kakaknya,” tuturnya.

Kapolsek Galang, AKP Tedy Napitupulu mengatakan, jenazah korban diduga terjangkit virus Corona sudah dimakamkan. “Sekitar pukul 12.00 WIB, jenazah tiba di perkuburan muslim Dusun IV Desa Kotasan, Kecamatan Galang, dengan menggunakan mobil ambulance RSUD. Korban dikebumikan di sana lantaran sang kakak yang memintanya. Proses penguburan pun berjalan dengan aman dan tanpa dihadiri pihak keluarga,” tandasnya.

Malaysia Deportasi 547 TKI ke Sumut, Dipulangkan Bertahap ke Provinsi Asal

PENGARAHAN: Jajaran Pemprov Sumut memberi pengarahan kepada TKI sebelum dipulangkan ke daerah asal. pran/sumut pos
PENGARAHAN: Jajaran Pemprov Sumut memberi pengarahan kepada TKI sebelum dipulangkan ke daerah asal. pran/sumut pos
PENGARAHAN: Jajaran Pemprov Sumut memberi pengarahan kepada TKI sebelum dipulangkan ke daerah asal.  pran/sumut pos
PENGARAHAN: Jajaran Pemprov Sumut memberi pengarahan kepada TKI sebelum dipulangkan ke daerah asal. pran/sumut pos

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pemulangan tenaga kerja Indonesia (TKI) yang disinggahkan di Sumatera Utara, berangsur-angsur telah dipulangkan ke daerah asalnya sejak Kamis (9/4) lalu.

Hari ini (13/4), direncanakan TKI asal Jawa Timur dan Jawa Barat akan diberangkatkan ke daerah asal mereka.

“Ya, jadi ini setelah ada respon dari pihak pemprov mereka, kita akan pulangkan besok (hari ini) pukul 14.00 WIB. Itu TKI asal Jawa Barat,” kata Kepala Dinas Ketenagakerjaan Sumut, Harianto Butarbutar menjawab Sumut Pos, Minggu (12/4).

Secara keseluruhan, TKI yang belum dipulangkan ke daerah asal tersebut berjumlah sekitar 110 orang lagi. Pemprov Sumut bersama Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut, terus berkoordinasi intens dengan pemerintah asal para TKI berada. “Pastinya tak tahu, tapi ada sekitar 110 orang lagilah.

Kami menunggu berita dari pemerintah asal TKI berada. Seperti Jawa Barat, ada yang sudah membelikan tiket kepada warganya. Pemprov Jawa Tengah juga begitu. Selebihnya urusan BP3TKI, karena mayoritas mereka yang dikirim ke Sumut karena dideportasi Pemerintah Malaysia,” ungkapnya.

Pihaknya juga belum mengetahui secara detil jumlah TKI yang dideportasi tersebut dari Pemerintah Malaysia, termasuk apakah ada lagi yang bakal ditransitkan ke Sumut. “Jadi ini sekarang campur-campur mereka. Sebagian sudah dipulangkan, begitu ada jawaban dari pemprov bersangkutan. Sisa di sini kalau saya tak salah, 110 orang lagi. Untuk yang akan disinggahkan lagi, kami belum mendapat kabar. Namun TKI resmi dan tidak kena deportasi, umumnya pulang sendiri-sendiri. Inikan deportasi yang dikirim kemari,” pungkasnya.

Seperti diketahui, sejak Kamis (9/4) lalu, sebanyak 547 TKI yang dideportasi dari Malaysia mulai dipulangkan secara berangsur-angsur ke daerah asal. Pemulangan yang difasilitasi Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut bersama Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI) Medan dan TNI AU Lanud Soewondo dilaksanakan di Apron Pangkalan Udara Soewondo Medan, Sabtu (11/4).

Pemulangan dipantau dan dikoordinir langsung oleh Kepala BPBD Sumut sekaligus Wakil Sekretaris Gugus Tugas Riadil Akhir Lubis, Kadis Kesehatan Sumut, Alwi Mujahit Hasibuan, Kadis Ketenagakerjaan Sumut Harianto Butarbutar, mewakili BP3TKI, mewakili TNI AU Lanud Soewondo, Polda Sumut dan pemkab/pemko se Sumut.

“Mereka ditampung di Sumut ini bisa dibilang transit atau karantina sementara. Kita sudah cek kondisi semua TKI yang datang, semua sehat. Dari Malaysia mereka sudah diperiksa dan membawa surat tanda sehat. Masuk di Bandara Kualanamu juga dilakukan pemeriksaan lagi melalui Kantor Kesehatan Pelabuhan, begitu pula saat di karantina sementara di sini (Lanud Soewondo) melalui Dinkes Sumut,” ujar Riadil.

Adapun rincian data dari 547 TKI yang ditampung di Sumut, sebut dia, terdiri dari 144 orang masyarakat Sumut dan 403 dari 22 provinsi lain. Sebanyak 136 ditampung di Gedung Cadika Lubukpakam Kabupaten Deliserdang dan ditangani pemkab setempat. Sisanya, ditampung di Gedung Andromeda Lanud Soewondo Medan.

“Pemulangan ini juga kita koordinasikan dengan pemprov asal TKI masing-masing. Setibanya di daerah asal nanti kebijakan wilayah masing-masing, apakah akan dikarantina atau pemeriksaan kesehatan lagi. Tetapi sebenarnya saat dipulangkan dari Malaysia mereka sudah menjalani pemeriksaan kesehatan oleh Pemerintah Malaysia dan juga ketika tiba di sini. Mudah-mudahan mereka sehat-sehat,” jelasnya.

Riadil mengungkapkan, pada hari itu, masyarakat Sumut sudah dipulangkan dan dijemput oleh pemkab/pemko masing-masing. Begitu pula dengan TKI asal provinsi lain, dipulangkan dengan bus diantaranya menuju Aceh, Jambi, Riau, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat dan Bengkulu.

Sedangkan yang akan menyusul untuk dipulangkan yakni dari Jawa Timur, Jawa Barat, Kepri, NTB, NTT, Sulawesi Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Jakarta, Sulawesi Tengah, Kalimantan Barat, Banten, Kalimantan Timur dan Yogyakarta. “Jumlahnya sekitar seratusan lagi, kita harapkan rampung pada hari Selasa mendatang,” terang Riadil.

Selama dikarantina di Gedung Cadika Deliserdang dan Gedung Andromeda Lanud Soewondo Medan, sambung dia segala kebutuhan TKI diperhatikan, mulai dari jadwal makan, perlengkapan sandang dan lainnya. “Karena kita lihat ada yang datang hanya membawa baju di badan. Jadi pemulangan ini juga kita berikan bantuan pakaian, peralatan mandi, kelengkapan wanita dan anak,” ungkapnya.

Adapun protokol kesehatan yang dilaksanakan di Lanud Soewondo di antaranya para TKI akan dites dengan thermoscan (pendeteksi panas tubuh), mengisi formulir kesehatan dan pemeriksaan kesehatan. Jika ditemukan tanda-tanda demam, batuk dan sesak nafas, maka mereka akan diperlakukan sebagai PDP, untuk selanjutnya dirujuk ke RS rujukan.

Sebelumnya, Kepala Kantor Imigrasi Khusus (Kakanimsus) Kelas I Medan, Supartono mengatakan, ada 4 tahap pemulangan yang dilakukan dalam 2 hari terakhir, dimana dilakukan dalam 4 tahap pemulangan. “Kamis kemarin kita ada 2 kali pemulangan, dan Jumat juga ada 2 kali pemulangan,” katanya.

Setidaknya, terdapat 269 orang TKI yang dipulangkan pada Hari Kamis, dan terdapat 65 orang wanita TKI. “Jadi pada Kamis kemarin, kita memulangkan 269 orang TKI dari Malaysia dengan perincian, 65 TKI wanita dan 204 orang TKI laki-laki,” sebutnya.

Sementara, pada pemulangan Jumat (10/4) lalu, Supartono mengatakan, ada 244 orang dan didominasi oleh wanita. “Jumat, kita memulangkan 244 orang TKI yang dirincikan 74 orang TKI wanita dan 170 orang TKI laki-laki, dan ini kita lakukan secara dua kali dalam sehari. Maka bila ditotal, terdapat 139 TKI wanita dan 374 orang TKI pria,” sambungnya.

Ia juga menambahkan, para TKI tersebut akan dikarantina terlebih dahulu untuk memastikan keadaannya sehat dan tidak menularkan suatu penyakit. “Namun, hingga sampai saat ini belum terdapat TKI yang positif corona,” pungkasnya.

Pantauan di Bandara Internasional Kualanamu, Minggu (12/4) siang, ada sebayak 42 orang TKI dari Provinsi NTT dan NTB yang di pulangkan ke daerah asal. Mereka menumpang pesawat Batik Air transit Jakarta selanjutnya menuju provinsi masing-masing bersama penjemputan dari petugas perwakilan Pemerintah Daerah masing-masing.

Kepala BP3TKI Medan, Syahrum melalui Kasi Perlindungan dan Pemberdayaan BP3TKI Medan Moch Fuat Wahyudi didampingi Kordinator Kualanamu Suyoto dan staf Ali Imran Sinaga yang dikonfirmasi mengatakan, sebelumnya para TKI ini dideportasi dari Malaysia. “Untuk NTT dan NTB jumlahnya 42 orang, cuma ada tambahan 1 orang ke Riau,” kata Syahrum.

Menurutnya, BP3TKI dalam hal ini hanya memfasilitasi keberangkatan mereka dari KNIA, selanjutnya nanti di Jakarta disambut dan dipasilitasi intansi terkait. (prn/man/btr)

Petik Buah Alpukat di Ladang, Satu Keluarga Disambar Petir, 1 Tewas

DIBAWA ke RS: Korban disambar petir dibawa ke RSUD Doloksanggul.
DIBAWA ke RS: Korban disambar petir dibawa ke RSUD Doloksanggul.
DIBAWA ke RS: Korban disambar petir dibawa ke RSUD Doloksanggul.
DIBAWA ke RS: Korban disambar petir dibawa ke RSUD Doloksanggul.

HUMBAHAS, SUMUTPOS.CO – Seorang petani, Juliana Boru Hutagalung, Warga Dusun Lumban Situmorang, Desa Sitolu Bahal, Kecamatan Lintong Nihuta meninggal dunia akibat disambar petir saat beraktivitas di perladangan.

Peristiwa tragis itu terjadi di Dusun Sabalangit Desa Sitio II Kecamatan Lintong Nihuta Kabupaten Humbahas, Minggu (12/4).

Kematian Juliana menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan menjadi perbincangan hangat di tengah warga, termasuk group Facebook Kabar-kabari Humbang Hasundutan.

Paur Kasubbag Humas Polres Humbahas, Bripka Syawal Lolobako membenarkan peristiwa tersebut.

Adapun penyebab korban meninggal dunia karena disambar petir di perladangan. “Korban sehari-hari bertani dan korban meninggal dunia karena disambar petir,” ujar Bripka Syawal Lolobako.

Adapun kronologi kejadian bermula, pada hari Minggu tanggal 12 April 2020, sekitar pukul 14.00 WIB korban bersama suaminya, Marulitua Situmorang (40) dan anaknya, Remundo Situmorang sedang memetik buah alpukat di Desa Sitio II, Kecamatan Lintong Nihuta, Humbahas.

Saat itu cuaca mulai mendung, kemudian hujan turun.

Korban Juliana beserta suami serta anaknya berteduh di bawah pohon alpukat. Tiba-tiba petir menyambar dan mengenai ketiga orang tersebut.

Akibat sambaran petir itu, Juliana beserta suami dan anaknya terlempar.

Nahas, Juliana meninggal dunia. Tubuhnya mengalami luka bakar di bagian dada, sedangkan telinga kiri sampai keluar darah.

Selanjutnya korban dibawa ke Poskesdes Desa Sitio II Kecamatan Lintong Nihuta.

Polisi juga telah memeriksa saksi-saksi antara lain anak dan suami korban.

Kemudian petani lainnya, Berton Marbun (61), Heber Marbun (35), dan Sahat Silaban (51) yang juga merupakan warga satu desa dengan korban.

“Selanjutnya korban dibawa ke RSUD Dolok Sanggul untuk dilakukan visum,” ujar Bripka Syawal Lolobako. (trb/ila)