DELISERDANG, SUMUTPOS.CO – Sebanyak 12 orang ODP selesai dipantai karena tetap sehat setelah melewati masa inkubasi Covid-19 selama 14 hari. Informasi itu sesuai update data Covid-19 dari Dinas Kesehatan Deliserdang, Minggu (29/3).
“Dua belas ODP dinyatakan sehat. Jadi tidak perlu lagi dipantau,” kata Petugas Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 Deliserdang, dr Ade Budi Krista, Senin (30/3).
Sebelumnya, 31 ODP di Deliserdang selesai dipantau dan dinyatakan sehat, Sabtu (28/3).
“Total ODP di Deliserdang saat ini 59 orang. Sedangkan OTG (memiliki kontak erat dengan PDP maupun positif) sebanyak 801 orang,” kata Ade yang juga Kadis Kesehatan Deliserdang ini.
Data lainnya, dua warga Deliserdang dinyatakan positif Covid-19, dan saat ini dirawat di RSUP Adam Malik, Medan. Sedangkan untuk PDP, jumlahnya 4 orang. Riciannya, satu dirawat di RS GL Tobing, satu dirawat di RSUD Deliserdang, dan dua orang dirawat di RS Sembiring.
DAIRI, SUMUTPOS.CO – jumlah ODP Covid-19 terus bertambah. Hingga Minggu (29/3,) jumlah ODP sebanyak 130 Orang.
“Yang berstatus positif corona masih 1 orang dan saat ini sedang dirawat di RSUP H Adam Malik,” kata Juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penangangan Covid-19 Dairi, dr Edison Antoni Damanik, Senin (30/3).
Ke-130 ODP tersebut tersebar di 11 kecamatan. Mereka isolasi mandiri di rumah masing-masing, sesuai ketentuan dari Bupati. Warga berstatus ODP itu baru datang dari luar Dairi, seperti luar negeri serta dari daerah-daerah endemi corona, sehingga disarankan karantina mandiri.
“Gugus Tugas sudah mengimbau seluruh ODP agar tidak kontak dengan anggota keluarga maupun orang lain. Isolasi mandiri tidak boleh keluar rumah, tidur di kamar sendiri, tidak boleh kontak langsung dengan anggota keluarga, dan tidak boleh bersosialisasi dengan orang lain,” katanya.
Selama isolasi mandiri, warga berstatus ODP dianjurkan untuk mengonsumsi makanan bergizi, vitamin, dan rajin berjemur, untuk meningkatkan imunitas tubuh.
Adapun para pendatang ke Dairi, diakuinya, belum terdata secara menyeluruh. Untuk itu, Gugus Tugas mengimbau kepala desa dan kepala dusun agar mendata orang yang baru datang dari daerah-daerah endemi Covid-19, dan dianjurkan untuk melapor ke Puskesmas terdekat.
Terkait seorang pasien perempuan berusia 40 tahun asal Sidikalang positif Covid-19 dan diisukan sudah negatif corona setelah dirawat di RSUP HAM, menurut Edison, belum ada keterangan resmi dari Dinkes Sumut mengenai status si pasien.
“Kita berharap kondisi kesehatan pasien itu membaik. Tetapi sampai sekarang pasien masih berstatus positif Covid-19,” sebutnya.
Ditambahkan Damanik, sebagai langkah antisipasi, Pemkab Dairi telah menyiapkan 4 ruangan isolasi Covid-19 di RSUD Sidikalang. (ris/ted/btr/rud)
RSUP Haji Adam Malik: Suasana di RSUP Haji Adam Malik. RS ini memberikan diskon periksa kesehatan hingga 55 persen.
RSUP Adam Malik
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Dari 20 orang pasien positif Covid-19 di Sumatera Utara, 2 orang di antaranya merupakan tenaga kesehatan. Keduanya kini masih dirawat intensif dan diisolasi di rumah sakit berbeda.
“Ada 2 orang tenaga kesehatan. Tapi kami hanya merawat satu orang di RSUP H Adam Malik,” ujar Koordinator Penanganan Virus Corona Tim PINERE (Penyakit Infeksi New Emerging dan Re-Emerging) RSUP H Adam Malik, dr Ade Rahmaini MKed (Paru) SpP, Senin (30/3).
Ade memastikan, tenaga kesehatan positif Covid-19 yang diisolasi di RSUP H Adam Malik tertular bukan saat merawat pasien corona di rumah sakit. “Bukan tertular saat merawat pasien, tetapi dari daerah terjangkit. Sedangkan yang satu (tenaga kesehatan) lagi, biar dinas (kesehatan) yang kasih pernyataan. Karena bukan kami yang rawat,” sebutnya.
Ade mengaku, kondisi tenaga kesehatan yang diisolasi di RSUP H Adam Malik masuk kategori ringan. Harapannya, kondisi pasien tersebut terus membaik hingga akhirnya sembuh dan negatif corona. “Alhamdulillah, kondisinya masuk kategori ringan. Mohon doanya agar terus membaik kondisinya sampai sembuh,” ungkap dia.
Ia menambahkan, meski dirinya ikut merawat pasien Covid-19 positif dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP), tetap ia masih pulang ke rumah. Tentu dengan menerapkan Standar Operasinal Prosedur (SOP).
“Saya masih pulang, karena rumah sakit kami terbatas untuk memfasilitasi tak pulang. Tapi saya pakai masker selama 24 jam di rumah, dan juga family distancing pastinya. Begitu tiba di rumah sakit, saya menggunakan APD (Alat Pelindung Diri). Begitulah tanggung jawab seorang dokter dengan segala risikonya,” tandas Ade.
Terpisah, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumut, dr Aris Yudhariansyah mengatakan, pada prinsipnya bila tenaga kesehatan menderita sakit sebagai PDP, maka akan dirawat di rumah sakit rujukan yaitu RSUP H Adam Malik, Medan dan RS GL Tobing, Tanjungmorawa.
“Akan tetapi, jika yang bersangkutan masih berstatus Orang Tanpa Gejala (OTG) namun hasil pemeriksaan laboratorium positif Covid-19, ia akan diisolasi agar supaya tidak menularkan kepada keluarga, kerabat, tetangga maupun di sekitar tempat tinggalnya,” ujar Aris.
Disinggung mengenai data satu lagi tenaga kesehatan positif corona dan dirawat di rumah sakit mana, Aris belum bisa menyampaikan. Ia mengaku tak mengingat datanya. “Sebentar saya, saya cek dulu, lupa,” tukasnya.
Kasubbag Humas RSUP H Adam Malik, Medan, Rosario Dorothy Simanjuntak (Rosa) mengatakan, jumlah orang yang positif Covid-19 di RSUP H Adam Malik masih 9 orang. Rinciannya, 8 orang masih dirawat dan 1 orang meninggal dunia. “Jumlah kasus positif Covid-19 masih tetap 9 orang sejak Jumat (28/3) lalu. Dari jumlah ini, 8 masih dirawat dan 1 meninggal dunia,” kata Rosa.
Disebutkan dia, begitu juga dengan jumlah PDP yang masih dirawat belum ada penambahan. Jumlahnya sebanyak 6 orang. Sedangkan pasien negatif 12 orang. “Perlu ditegaskan lagi, bahwasanya orang dengan status PDP belum tentu positif Covid-19 karena masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium Balitbangkes di Jakarta,” pungkasnya. (ris)
KETERANGAN: Koordinator Medis dan Paramedis Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut, dr Restuti Saragih, memberi keterangan pers tentang RS GL Tobing yang memiliki standar yang baik dalam merawat PDP Covid-19 di Sumut, di Media Center Kantor Gubsu, Medan, Senin (30/3).
KETERANGAN: Koordinator Medis dan Paramedis Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut, dr Restuti Saragih, memberi keterangan pers tentang RS GL Tobing yang memiliki standar yang baik dalam merawat PDP Covid-19 di Sumut, di Media Center Kantor Gubsu, Medan, Senin (30/3).
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Ruang Isolasi Rumah Sakit GL Tobing Tanjungmorawa yang dikhususkan bagi Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19 di Sumut, dinilai sudah sesuai standar perawatan. RS milik PTPN II tersebut sudah beroperasi sejak Sabtu (28/3).
“Seluruh ruangan yang dibangun dan dialihfungsikan di RS GL Tobing merupakan ruangan isolasi bertekanan negatif, yang sudah sesuai dengan standar perawatan infeksi Covid-19,” kata Koordinator Medis dan Paramedis Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut Restuti Saragih, saat memberi keterangan pers di Media Center Kantor Gubsu, Medan, Senin (30/3)
Beberapa alat yang sudah tersedia di RS GL Tobing, seperti alat rontgen foto, ventilator (alat bantu nafas), alat USG, serta obat-obatan yang memadai. RS GL Tobing hanya diperuntukkan bagi pasien dan tenaga medis. Adapun pengamanannya akan dikawal dan dijaga aparat TNI/Polri selama 24 jam.
“Lingkungan hanya diperuntukkan untuk pasien yang dirawat, petugas medis maupun petugas pendukung yang berkepentingan,” ungkapnya.
Pasien yang dirujuk ke RS GL Tobing adalah pasien berstatus PDP dengan tingkat keparahan ringan dan sedang. Sedangkan PDP dengan keparahan berat, agar tetap dirujuk ke RSUP Adam Malik.
Untuk kesiapan tenaga medis yang akan bertanggungjawab di RS tersebut, sudah ada 106 dokter dan tenaga kesehatan yang berjaga. “Telah disiapkan 106 orang dokter dan tenaga kesehatan yang bertugas dalam jangka waktu satu minggu. Rinciannya, 58 orang tinggal untuk berjaga. Kemudian sekitar 48 orang berjaga jika ada panggilan atau dibutuhkan,” katanya.
Pihaknya menyampaikan apresiasi atas dukungan yang telah diberikan kepada Gugus Tugas dalam menghadapi bencana kemanusiaan ini. “Saya mewakili Tim Gugus Tugas mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh organisasi profesi kesehatan, baik organisasi dokter maupun organisasi tenaga kesehatan yang berada di Sumut, yang telah amat kuat berkolaborasi bersama kami. Saat ini profesi kita adalah pejuang paling depan dalam melewati masa darurat nasional ini,” pungkasnya.
Terpisah, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut, Aris Yudhariansyah mengatakan, total pihaknya telah mempersiapkan 10 lokasi evakuasi penanganan pasien Covid-19 di Sumut. Selain RS GL Tobing yang telah beroperasi, pihaknya telah menentukan RSU Sari Mutiara, RS Martha Friska 1 dan 2, RS Haji Medan, RS Siti Hajar, Wisma Atlet, Pusdiklat BPSDM Sumut, dan SPM Sampali sebagai RS rujukan dan lokasi isolasi PDP.
“Setelah logistik disalurkan, RS dan tempat isolasi lain akan segera menyusul. Satu-satu akan kita persiapkan,” katanya. (prn)
sepi: Bandara Kualanamu tampak sepi, Senin (30/3), pascamenurunnya jumlah penumpang pesawat sebagai dampak imbauan diam di rumah untuk mencegah penularan Covid-19.
batara/sumut pos
Sepi: Bandara Kualanamu tampak sepi, Senin (30/3), pascamenurunnya jumlah penumpang pesawat sebagai dampak imbauan diam di rumah untuk mencegah penularan Covid-19. batara/sumut pos
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) berdampak langsung terhadap penurunan tingkat penghunian kamar (TPK) hotel di Sumatera Utara (Sumut). Penurunan mencapai 90 persen lebih. Buntutnya, sejumlah hotel termasuk hotel berbintang 5 pun, pilih tutup dan ‘merumahkan’ sementara karyawannya.
“Pandemi Covid-19 ini, sangat dirasakan pelaku usaha hotel dan restoran di Sumut. Penghasilan turun drastis, tinggal 2-3n persen saja. Dengan kondisi ini, siapa mau nginap? Mau bikin acara (di hotel) tidak boleh,” ungkap Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumut, Denny S Wardhana, kepada Sumut Pos, Senin (30/3).
Denny menjelaskan, market hunian kamar hotel di Sumut selama ini didominasi oleh wisatawan dan perjalanan dinas. Denagn kondisi work from home untuk mencegah penyebaran virus corona, otomatis tidak ada lagi perjalanan dinas.
“Beberapa hotel ditutup sementara. Kita pilih merumahkan karyawan. Kita tidak mem-PHK ya. Kalau kondisi normal, akan kita panggil kembali,” tutur Denny.
Denny tidak merinci secara detail hotel-hotel mana saja yang tutup di Sumut, terutama di Kota Medan. Namun info beredar via WhatsApp, salahsatu hotel berbintang 5, JW Marriott Medan, menutup hotel selama dua bulan, mulai 1 April hingga 31 Maret 2020.
Hotel Karibia Medan juga diinformasikan tutup sementara. Serta hotel Garuda Plaza di Jalan SM Raja.
Denny berharap, penanganan COVID-19 dapat diselesaikan pemerintah Indonesia dalam waktu tiga bulan, seperti dilakukan China. “Mudah-mudah 3 bulan ke depan, keadaan normal kembali dan kita benar-benar memutus mata rantai penyebaran corona. Aku melihat kejadi di Cina, kejadian bulan Januari, mereka serius memutus rantai corona dan seluruh penduduk mengikuti instruksi. Maret mereka selesai. Aku bukan ahli, tapi aku lihat perkembangan di China,” jelas Denny.
Ia juga mengharapkan dari kebijakan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Daerah untuk dapat menangguhkan biaya bulanan, seperti pajak, BPJS Kesehatan, BPJS Tenaga Kerja, listrik, air dan gas.
“Dalam kondisi sekarang, diharapkan ada penangguhan pembayaran biaya rutin yang harus dikeluarkan pelaku usaha. Kalau tidak ada tamu, bagaimana bayarnya?” pungkas Denny.
BINJAI, SUMUTPOS.CO – Selain hotel, mall juga ada yang memilih tutup sementara. Yakni Binjai Supermall. Manajemen Binjai Supermall memutuskan untuk menutup sementara pusat perbelanjaan termegah di Kota Binjai tersebut, sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pemerintah memutus penyebaran Covid-19.
“Lippo Malls Indonesia menutup sementara Binjai Supermall mulai 31 Maret hingga 13 April 2020. Mall kembali dibuka tanggal 14 April,” jelas Manajer Marketing Komunikasi, Diniasih Nasution, Senin (30/3).
Dengan penutupan sementara operasional mall, dia berharap akan mengurangi mobilitas warga di Kota Binjai dan Langkat, dan memperlambat penyebaran Covid-19.
“Penutupan ini juga sejalan dengan imbauan pemerintah pusat untuk bekerja dari rumah dan menjaga jarak,” sambung dia.
Meski demikian, tenan yang menjual kebutuhan sehari-hari tetap beroperasi. Seperti supermarket, bank, apotek dan restoran tertentu yang menyediakan jasa pesan antar. “Tenan-tenan ini akan tetap beroperasi melayani masyarakat pukul 11.00 hingga 18.00 WIB pada Senin sampai Minggu. Kami yakin Indonesia dapat melewati masa sulit ini. Bersama kita bersatu lawan Covid-19,” bebernya.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Covid-19 juga berdampak pada dunia penerbangan dunia dan Indonesia. Setelah PT Angkasa Pura II (Persero) Kantor Cabang Utama Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) mengatakan akan membatasi operasional Terminal 2 dan 2 mulai 1 April sampai 29 Mei 2020, sejumlah penerbangan ikut menutup sejumlah rute.
Salahsatunya, maskapai Air Asia, yang menutup layanan penerbangan internasional di Bandara Kualanamu Deliserdang, mulai Selasa (17/3). “Sedangkan rute penerbangan domestik ditutup mulai Selasa (31/3) hingga Senin (20/4). Kami berharap keadaan kembali pulih dan layanan penerbangan kembali normal,” kata Manager Station Maskapai Air Asia perwakilan Bandara Internasional Kualanamu, Benjamin, Senin (30/3).
Sebelumnya, maskapai Air Asia melayani penerbangan internasional rute KNIA-Kualalumpur dan KNIA-Penang. Sedangkan untuk layanan penerbangan domestik, ada rute KNIA-Palembang, KNIA Jakarta, KNIA-Batam, dan KNIA-Jogja.
Senada, Duty Manager Airport Bandara Kualanamu, Luas Tambunan, membenarkan adanya penghentian sementara layanan penerbangan Air Asia, baik domestik dan internasional.
Penutupan sejumlah rute penerbangan domestik dan internasional, berdampak pada pilot dan pramugari. Beberapa maskapai terpaksa harus merumahkan karyawannya.
“Belum (ada PHK), yang sekarang ini ada beberapa maskapai yang merumahkan karena kegiatan operasinya kan menurun. Kalau dilihat banyak pesawat-pesawat parkir di airport, pesawat parkir itu pasti akan sangat tidak efektif bagi perusahaan jika (karyawan) masih harus hadir ke kantor,” ujar Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja, Minggu (29/3).
Adapun karyawan yang paling banyak di rumahkan ialah yang terlibat dalam kegiatan produksi maskapai. Mulai dari bagian mekanik pesawat, pilot, hingga pramugari.
“Kalau kegiatan operasionalnya turun, yang akan banyak berkurang aktivitasnya adalah karyawan yang berada di daerah operasional seperti pilot, engineer, pramugari dan kru yang lainnya. Itu kan kalau pesawatnya berhenti berarti mereka ikut (berhenti),” ucapnya.
Penutupan sejumlah rute penerbangan menyusul sepinya penumpang, menyebabkan bandara Kualanamu sepi. Sejumlah toko mulai tutup, dan para karyawan dirumahkan .
Selain penutupan bandara, Covid-19 juga berdampak pada pengurangan jadwal keberangkatan dan kedatangan Railink Kereta Bandara Kualanamu sebanyak 20 jadwal. (gus/btr/ted/kps)
eksekutor: Eksekutor pembunuhan hakim Jamaluddin. Hari ini, tiga terdakwa akan disidang online.
triadi wibowo/sumut pos
Eksekutor: Eksekutor pembunuhan hakim Jamaluddin. Hari ini, tiga terdakwa akan disidang online. triadi wibowo/sumut pos
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sidang perdana tiga terdakwa pembunuhan Hakim PN Medan, Jamaluddin, akan berlangsung hari ini secara online. Ketiga terdakwa masing-masing Zuraida Hanum (41), Jefri Pratama (42), dan Reza Fahlevi (29). Zuraida Hanum adalah istri korban dan sekaligus otak dari tindak pidana pembunuhan berencana tersebut.
Rencananya, sidang dimulai pukul 13.00 WIB, di ruang Cakra 3 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (31/3). Majelis Hakim yang akan menyidangkan perkara ini, yakni Erintuah Damanik sebagai hakim ketua, dan dua hakim anggota lainnya masing-masing Dahlia Panjaitan dan Imanuel Tarigan.
“Kemungkinan sidang akan online. Soalnya tadi saya berkordinasi dengan pihak rutan, katanya pihak rutan belum mau mengeluarkan narapidananya,” ujar Erintuah Damanik, Senin (30/3).
Karena itu, ketiga terdakwa tidak akan dihadirkan di PN Medan. “Ketiganya akan tetap di rutan, dan kami di sini bersama penasihat hukum dan Jaksa. Namun saya masih berharap, terdakwa dapat dihadirkan di persidangan agar tidak ada kecurigaan,” katanya.
Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara melalui Kasi Penerangan Hukum, Sumanggar, saat dikonfirmasi mengatakan, tidak ada perubahan jadwal sidang. “Tidak ada perubahan jadwal. Mau disidangkan langsung atau online, kita siap,” ujar Sumanggar.
Sebelumnya diberitakan, terdakwa Zuraida Hanum (istri korban), menyuruh selingkuhannya, Jefri Pratama, untuk membunuh korban. Lalu Jefri mengajak adik tirinya, Reza Pahlevi, ikut membantu pembunuhan dengan memberi uang Rp2 juta.
Pembunuhan dilakukan di rumah korban di Jalan Aswas Komplek Perumahan Royal Monaco Blok B No 22, Kelurahan Gedung Johor, Kecamatan Medan Johor.
Setelah korban meninggal, mayatnya dibuang di area kebun sawit milik masyarakat di Dusun II Namo Bintang Desa Suka Dame, Kecamatan Kutalimbaru, Deliserdang pada akhir November 2019 lalu. (man)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Masyarakat di Kota Medan dan di sejumlah daerah di Sumatera Utara mulai merasakan perlambatan ekonomi, pascakarantina rumah yang disarankan pemerintah Indonesia untuk menghentikan penyebaran Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19. Hampir semua sektor masyarakat tidak bergerak selama karantina mandiri di rumah, sesuai imbauan pemerintah.
“(KARANTINA) INI tentu sangat berdampak pada perekonomian masyarakat di lapisan menengah ke bawah. Juga punya pengaruh sosial terhadap pekerja informal yang tidak memiliki penghasilan bulanan, seperti pegawai atau karyawan swasta. Namun kami imbau masyarakat tidak panik, karena hal ini tetap kita pikirkan. Saat ini, Pemprovsu sedang memformulasikan kebijakan jaring pengaman sosial (JPS) untuk diterapkan,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Sumut, Hasmirizal Lubis,
Kebijakan JPS itu, menurutnya sebagai langkah cepat yang akan dilakukan Pemprov Sumut. Dan formulanya sedang dimatangkan.
“Saat ini Bapak Gubernur dan jajarannya sedang fokus menyiapkan seluruh instrumen dalam upaya antisipasi lonjakan pasien Covid-19. Seperti menyiapkan kesiapan ruang isolasi di rumah sakit-rumah sakit rujukan, tenaga medis serta segala prasarana pendukung operasional lainnya,” terangnya menjawab Sumut Pos, Senin (30/3).
Karena dikhawatirkan ketika rapid test berjalan, eskalasi pasien Covid-19 semakin meningkat jumlahnya. “Jadi upaya ini dulu yang akan kita pastikan kesiapannya,” pungkasnya.
Pihaknya pun mengajak seluruh elemen masyarakat menjadi pemutus rantai penularan virus corona, dengan melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing. Dengan pembatasan mobilisasi orang, Covid-10 tidak akan berkembang, yang berdampak pada menurunnya eskalasi wabah.
Kepala BPBD Sumut, Riadil Akhir Lubis, saat dikonfirmasi, membenarkan adanya pembahasan ke arah program jaring pengaman sosial oleh Bappeda, Dinas Sosial, dan instansi terkait lainnya.
“Sudah ada. Namun bukan domain saya menjelaskan. Bisa tanya ke Bappeda atau Dinsos ya. Karena sekarang sudah ada perubahan struktur di Gugus Tugas,” katanya.
PEDAGANG: Salah satu pedagang beras yang ada di Jalan Imam Bonjol Kota Tebingtinggi.
sopian/sumut pos
ilustrasi
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Selain Pemprovsu, Pemerintah Kota (Pemko) Medan juga sudah mengantisipasi efek perlambatan ekonomi pascakarantina rumah akibat pandemi Covid-19. Untuk itu, Pemko berencana akan membagikan 1.000 ton beras kepada masyarakat yang membutuhkan di Kota Medan.
Namun rencana itu belum dapat dieksekusi, akibat status bencana di Kota Medan masih ‘Siaga Darurat’.
“Rencananya memang mau membagikan 1.000 ton beras. Tapi ‘kan ada prosedurnya. Status kita saat ini yang hanya Siaga Darurat, nggak mengizinkan kita membaginya. Begitu aturannya. Kita harus menaikkan dulu status Kota Medan menjadi ‘Darurat Bencana’, baru bisa membagikan berasnya. Intinya, rencana harus dikaji dulu,” kata Kepala Dinas Sosial Kota Medan, Endar Lubis, kepada Sumut Pos, Senin (30/3).
Menurutnya, rencana pembagian beras itu dibahas dalam rapat internal Pemko Medan lewat video conference, yang dipimpin Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Medan, Wiriya Al Rahman, Senin (30/3).
Saat ini, kata dia, Pemko Medan sedang berupaya melakukan berbagai cara untuk membantu masyarakat terdampak imbauan agar tetap berada di rumah selama pandemi Covid-19.
“Soal pasti ataupun tidak, kami di Dinas Sosial tetap mendata masyarakat yang nantinya berhak menerima bantuan tersebut. Sebab sudah pasti tidak semua masyarakat berhak menerimanya. Saat ini sedang kami inventarisir, mulai nama hingga alamatnya,” katanya.
Jika rencana pembagian beras ini terlaksana, klasifikasi masyarakat yang berhak menerima bantuan beras akan ditentukan terlebih dahulu.
“Jadi nggak sekedar yang miskin saja, tapi juga berdasarkan wilayah. Tidak semua wilayah di Kota Medan masuk zona merah. Kemungkinan kita juga akan memetakan berdasarkan peta wilayah, dengan memprioritaskan zona merah. Sebab, semuanya harus disesuaikan dengan anggaran yang ada. Makanya harus ada yang diprioritaskan,” jelasnya.
Menurut Endar, hingga saat ini rencana yang dibahas baru sebatas pembagian beras. Bukan pembagian sembako ataupun bantuan lainnya. “Tapi kita lihat situasi nanti. Barangkali ada perkembangan,” katanya.
Senada dengan Endar, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Medan, Arjuna Sembiring, membenarkan rencana Pemko Medan untuk membeli dan membagikan 1.000 ton beras kepada masyarakat.
“Rencana itu ada, tapi masih dikaji. OPD terkait seperti Dinas Sosial yang lebih paham untuk menjelaskannya. Karena jadwal pembelian beras juga belum diputuskan. Masih akan didiskusikan dan dikaji lagi,” jawab Arjuna.
Jika pembelian beras untuk bantuan sosial kepada masyarakat terealisasi, anggaran yang dipergunakan adalah alokasi anggaran penanganan virus corona Kota Medan, yang plafonnya Rp100 miliar.
“Anggaran itu peruntukannya banyak, untuk biaya kesehatan, biaya pencegahan dan kesiapsiagaan. Kemudian biaya pasca, seperti penguburan, dan sebagainya. Belum tentu dibelanjakan semua, tergantung kebutuhan nanti. Untuk dampak sosial masih dikaji,” jelasnya.
Dari plafon Rp100 miliar untuk penanganan virus corona, Pemko Medan telah menggunakan sebagian untuk membeli cairan disinfektan dan peralatannya, untuk disemprotkan ke seluruh kecamatan di Kota Medan.
“Lalu ada penutupan ruas jalan untuk mengurangi mobilitas masyarakat, sampai kepada penertiban tempat-tempat keramaian. Semua itu sudah dilakukan,” tandasnya.
NasDem Mendukung
Ketua Fraksi NasDem DPRD Medan, Afif Abdillah, mengatakan sangat mendukung langkah Pemko Medan untuk memberikan bantuan beras kepada masyarakat Kota Medan.
“Pastinya kita mendukung. Tapi proses pendataan dan pembagiannya harus betul-betul jelas dan diawasi dengan sangat ketat. Agar bantuan untuk masyarakat jangan menjadi ‘ladang bermain’ bagi oknum-oknum yang ingin memanfaatkan kesempatan untuk memperkaya diri,” tegas Afif.
Dikatakan Afif, Dinas Sosial Kota Medan belum memiliki data akurat tentang masyarakat miskin di Kota Medan. Ketiadaan data itu menjadi bukti amburadulnya pendataan penerima BPJS PBI di Kota Medan. Di mana masih begitu banyak warga miskin yang berhak, namun tidak mendapatkannya.
“Data mereka kebanyakan cuma rakyat miskin di Medan Utara. Hanya data 4 kecamatan saja yang lengkap. Lalu bagaimana dengan 17 kecamatan lagi?. Saya fikir kali ini Dinas Sosial harus betul-betul mendata dengan benar, agar bantuan yang dimaksud sampa di tangan orang yang benar. Saat ini posisinya sudah urgent,” katanya.
Soal status yang harus ditingkatkan dari siaga darurat ke tanggap darurat atau darurat bencana, Afif sangat setuju. Kata dia, saat ini Kota Medan dan Provinsi Sumut sedang ‘berperang’ melawan Covid-19.
“Soal status yang harus ditingkatkan itu, saya justru yang mendorongnya selama ini. Peningkatan status itu sebagai bentuk keseriusan kita untuk melakukan lebih lagi,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Afif meminta kepada Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Medan, agar lebih cepat dan serius menangani Covid-19. “Jangankan seribu ton, lebih dari itu juga akan kita dukung bila memang untuk membantu rakyat. Tapi sekali lagi, Pemko Medan harus serius mengawasi proses pembagian bantuan tersebut. Kita juga mengharapkan, bukan hanya beras tapi juga pembagian sembako bagi masyarakat miskin. Tak mungkin juga mereka cuma makan nasi tanpa ada lauk,” tutupnya.
Wakil Ketua DPRD Medan, HT Bahrumsyah, mengatakan para pimpinan DPRD Medan telah melakukan rapat dengan TAPD Kota Medan pada Senin (30/3). “Salahsatunya membahas agar Pemko Medan dapat menggunakan anggaran ini dengan cara yang benar. Jangan berbenturan dengan aturan apalagi hukum. Sebab anggaran harus dipertanggungjawabkan,” tegas Bahrum.
Selain itu, pihaknya juga meminta agar gugus tugas menyiapkan secara matang apa-apa saja yang akan dilakukan dalam waktu dekat, guna mengatasi penyebaran Covid-19. “Gugus tugas harus sudah punya peta kerja yang jelas, melibatkan Dinas Kesehatan. Apa yang sudah dilakukan, uang yang terpakai, semua harus terarah. Masalah 1.000 ton beras itu nggak ada masalah. Kita dukung, bahkan lebih dari itu. Tapi dengan sistem yang jelas dan terukur,” tandasnya.