27 C
Medan
Sunday, January 18, 2026
Home Blog Page 4404

Presiden Joko Widodo Andalkan Jahe Merah Hindari Corona

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Presiden Joko Widodo mengungkapkan saat ini mengonsumsi jahe merah tiga kali dalam satu hari sejak wabah corona menyebar. Padahal biasanya, Jokowi mengatakan konsumsi jahe merah hanya dilakukan satu kali sehari. Yaitu, pada pagi hari demi menjaga kesehatan.

“Saya biasanya tiap hari minum itu, temulawak, jahe, sereh, kunyit, saya campur. Saya minum hanya pagi hari. Sekarang karena ada virus corona, saya minumnya pagi, siang, malam,” ujarnya di Istana Negara, Jakarta, Kamis (12/3).

Tak cuma untuk konsumsi pribadinya, Jokowi juga menyajikan minuman jahe merah ke seluruh tamu yang hadir di kantornya. Hal ini dilakukan demi menekan penularan virus corona.

“Sekarang tamu-tamu saya kalau pagi, siang, dan malam saya beri minuman itu. Bukan teh, tapi temulawak, jahe, sereh, kunyit, campur jadi satu,” jelasnya.

Jokowi menyadari kebiasaannya itu, termasuk masyarakat Indonesia yang sedang berburu rempah-rempah, membuat harganya melonjak hingga lima kali lipat belakangan ini.

Sebelumnya khasiat jahe merah juga disebutkan oleh Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto, Jahe merah tinggi akan antioksidan yang berfungsi sebagai zat pencegah radikal bebas yang menimbulkan kerusakan pada sel-sel tubuh.

Rimpang jahe mengandung 19 komponen bioaktif yang berguna bagi imun tubuh. Jahe merah merupakan tanaman asli yang ditanam oleh petani Indonesia, dan juga sudah digunakan turun temurun untuk berbagai penyakit.

Berbagai penelitian menyebutkan bahwa jahe merah memiliki fungsi sebagai antiinflamasi dan antioksidan, sehingga dapat membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh dari serangan virus maupun bakteri.

Jahe merah tersebar hampir di seluruh daerah di Indonesia, seperti di daerah Jawa, Sumatra dan Sulawesi.

Berdasarkan penelitian Dugasani pada 2010 dalam Comparative antioxidant and anti-inflammatory effects of gingerol dan shogaol,

Jahe Merah mengandung gingerol dan shogaol yang terbukti memiliki kemampuan meningkatkan kekebalan tubuh supaya tidak terserang penyakit, bakteri dan virus berbahaya termasuk virus corona.

Selain berfungsi sebagai antioksidan, tanaman rimpang bernama latin Zingiber officinale ini juga berfungsi sebagai antiemetik hingga antibakteri dan peradangan.

Kadar gingerol pada jahe merah lebih tinggi dibanding jahe gajah yang ternyata paling sering digunakan masyarakat saat ini.

Kadar gingerol yang lebih tinggi, berat per rimpang yang lebih berat, dan kandungan minyak atsiri yang lebih banyak membuat jahe merah lebih efektif buat kesehatan masyarakat dibanding jahe gajah dan juga jahe emprit.

Tips sederhana untuk mencegah virus corona adalah dengan rajin mencuci tangan dengan air dan sabun, hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut saat tangan kotor.

Hindari juga kontak langsung dengan hewan liar dan ternak, serta menggunakan masker saat aktivitas.

Namun semua itu akan percuma bila kita tidak menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh kita. Untuk itu selalu konsumsi jahe merah sebagai tambahan imun bagi tubuh kita. Pilih produk yang mengandung jahe merah.

Pilih bejo jahe merah, yang ada jahe merahnya.

DPRD Sumut Desak Pemprovsu Perbaiki Jalan Humbahas-Pakpak Bharat

TINJAU: Anggota DPRD Sumut, Franc Bernhard Tumanggor saat meninjau jalan provinsi Kabupaten Humbahas-Batugajah Sion Julu tembus Kabupaten Pakpak Bharat yang rusak sehingga belum bisa dilintasi kendaraan umum.
TINJAU: Anggota DPRD Sumut, Franc Bernhard Tumanggor saat meninjau jalan provinsi Kabupaten Humbahas-Batugajah Sion Julu tembus Kabupaten Pakpak Bharat yang rusak sehingga belum bisa dilintasi kendaraan umum.
TINJAU: Anggota DPRD Sumut, Franc Bernhard Tumanggor saat meninjau jalan provinsi Kabupaten Humbahas-Batugajah Sion Julu tembus Kabupaten Pakpak Bharat yang rusak sehingga belum bisa dilintasi kendaraan umum.
TINJAU: Anggota DPRD Sumut, Franc Bernhard Tumanggor saat meninjau jalan provinsi Kabupaten Humbahas-Batugajah Sion Julu tembus Kabupaten Pakpak Bharat yang rusak sehingga belum bisa dilintasi kendaraan umum.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara terkesan menelantarkan perbaikan jalan provinsi Kabupaten Humbahas-Batugajah Sion Julu menembus ke Kabupaten Pakpak Bharat. Akibatnya, jalan tersebut belum bisa dilintasi transfortasi umum.

Melihat kondisi itu, membuat anggota DPRD Sumut Dapil Karo, Dairi dan Pakpak Bharat, Franc Bernhard Tumanggor, kecewa terhadap penelantaran jalan rusak tersebut.

“Kami mendesak Gubernur Sumut Edy Rahmayadi Cq Dinas BMBK (Bina Marga dan Bina Konstruksi, red) Sumut untuk segera mengalokasikan anggaran perbaikannya di APBD Sumut, agar jalan penghubung antar kabupaten itu bisa segera dilintasi kendaraan roda empat,” ujar Franc Bernhard Tumanggor kepada wartawan, Kamis (12/3).

Menurut Franc, sudah 75 tahun Indonesia Merdeka, jalan provinsi jurusan Humbahas-Pakpak Bha rat masih belum layak untuk dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

Padahal, katanya, badan jalan hanya sepanjang 7 kilometer saja dari Batugajah Desa Sion Julu hingga ke Perbatasan Pakpak Bharat yang belum diaspal. Kondisi itupun berdampak terhadap masyarakat di wilayah kabupaten tersebut.

“Pemkab Pakpak Bharat sudah berulang kali mengusulkan ke Pemprov Sumut, baik melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (Musrenbang RKPD), untuk segera diperbaiki. Tapi hingga kini tidak ada realisasinya,” ungkap anggota Komisi B ini.

Menurut Franc, masyarakat sangat menginginkan agar ruas jalan ini menjadi prioritas pembangunan yang dianggarkan pada tahun mendatang, khususnya pada ruas Kabupaten Humbahas – Batu Gajah – Deleng Simpon yang kondisinya sangat tidak layak untuk dilalui.

Putra mantan Bupati Dairi MP Tumanggor ini memberi masukan, jika jalan tersebut diperbaiki dan diaspal, bukan saja membuka akses jalan antar kedua kabupaten, tapi juga akan ‘menjual’ panorama alam Pakpak Bharat yang memiliki potensi wisata yang luar biasa.

Menanggapi kondisi tersebut, Kadis BMBK Sumut, Ir Efendy Pohan yang dihubungi mengatakan, Pemprov Sumut bukan menelantarkan pembangunan jalan tembus Kabupaten Humbahas-Pakpak Bharat, tapi hanya menunggu penyelesaian proses hukum. “Status jalan itu dulu ada masalah hukum terkait putus kontrak terhadap perusahaan pemenang tender pada 2017. Jadi belum bisa kita lanjutkan pembangunannya atau pengalokasian anggarannya di APBN 2020, sehingga masih tertunda,” ujar Efendy Pohan.

Namun Efendy berjanji akan memprioritaskan pengalokasian anggaran pembangunannya di APBD 2021, karena sarana penghubung antar kabupaten ini sangat strategis untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. (mag-1/han)

Sekeluarga Disambar Petir di Desa Sitinjo, Dairi

SUTAN SIREGAR/SUMUT POS PASCA BENCANA_Seorang warga membersihkan rumahnya yang rusak berat akibat diterjang angin puting beliung di kawasan kelurahan Sidomulyo Medan, Jumat (25/8). Menurut data BPBD Kota Medan sedikitnya 52 rumah rusak akibat hujan deras yang disertai angin kencang melanda kawasan tersebut pada Kamis (24/8) malam.
ilustrasi

DAIRI, SUMUTPOS.CO – Sebanyak 6 ruko souvenir di komplek Taman Wisata Iman (TWI) Sitinjo, Dusun 2 Kutalimbaru, Desa Sitinjo Induk, Kecamatan Sitinjo, Kabupaten Dairi, rusak berat dihantam angin puting beliung. Pada waktu yang sama, sekeluarga yang sedang bertani disambar petir, satu di antaranya terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Sidikalang, Kamis (12/3) pukul 15.00 WIB.

Peristiwa dimaksud, Kamis (12/3) sekira pukul 15.00 Wib disaat daerah itu diguyur hujan lebat bercampur kilat dan dentuman petir yang cukup keras. Satu orang warga yakni Kesia Nainggolan (5) beralamat di kompleks gereja HKBP Sitinjo dikabarkan disambar petir dan terpaksa dilarikan ke RSUD Sidikalang. Akibat bencana alam itu, kerugian ditaksir ratusan juta rupiah.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Dairi, Sahala Tua Manik saat dihubungi mengatakan, bencana alam angin puting beliung tersebut diawali hujan deras yang melanda Desa Sitinjo.

Enam rumah warga milik Sahyunan Kudadiri, Pasuamin Capah, Isman Lubis, Donal Sibarani, Jekson Simangunsong dan Marolop Lumbangaol, mengalami rusak berat.

Tak hanya itu saja, sejumlah pohon juga turut tumbang hingga menutup badan jalan.”jaringan listrik banyak rusak karena pohon tumbang menimpa kabel,”kata Sahala.

Terpisah, Plt Kepala Desa Sitinjo Induk, Rudianto Kudadiri mengatakan, selain rumah warga yang menjadi korban puting beliung. Hujan deras disertai petir itu juga menimbulkan korban. Kesia Nainggolan (5), terpaksa dilarikan ke rumah sakit setelah disambar petir.

“Korban sudah mendapat perawatan,”kata Rudianto.

Ditemui wartawan di RSUD Sidikalang, orangtua Kesia Nainggolan, Halasson Robin Nainggolan menuturkan, sore itu dia bersama keluarganya berjumlah 5 orang sedang berada di sawah menjaga burung.

Namun hujan turun deras disertai petir. Karena hujan, ia dan keluarganya pun berteduh di bawah pondok.

Tak diduga, petir menyambar pondok mereka. Ia dan dua anaknya, Rahel Nainggolan dan Kesia Nainggolan terlempar dari pondok. Sementara, istrinya, Kartiani boru Sinaga dan putrinya Sinta Nainggolan tetap berada di pondok.

Nasib malang, salah satu putrinya Kesia Nainggolan sempat membiru akibat dihantam petir.

Namun dengan sigab, mereka mengubur badan Kesia ke lumpur di areal persawahan mereka. Selanjutnya, Kesia dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat peng obatan. (rud/han)

Ammar, Bayi Penderita Hidrosefalus Berharap Uluran Tangan

DIGENDONG: Ammar digendong ibunya, Wahyuni, saat dirawat di Rumah Sakit Mitra Sejati. istimewa/sumut pos
DIGENDONG: Ammar digendong ibunya, Wahyuni, saat dirawat di Rumah Sakit Mitra Sejati. istimewa/sumut pos
DIGENDONG: Ammar digendong ibunya, Wahyuni, saat dirawat di Rumah Sakit Mitra Sejati. istimewa/sumut pos
DIGENDONG: Ammar digendong ibunya, Wahyuni, saat dirawat di Rumah Sakit Mitra Sejati. istimewa/sumut pos

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Ammar, bayi berumur enam bulan masih terbaring lemah di Rumah Sakit Mitra Sejati, Jalan Jenderal Besar A H Nasution, Kecamatan Medan Johor, Medan.

Anak kedua dari pasangan Budi (27) dan Wahyuni (25) ini sudah menderita hidrosefalus sejak enam bulan dalam kandungan.

“Anak saya itu sudah menderita hidrosefalus sejak enam bulan dalam kandungan. Hal ini kami ketahui setelah istri saya melakukan check USG,” ujar Budi saat dikonfirmasi, Kamis (12/3).

Sesudah kelahiran Ammar, bayi lelaki ini pun mendapatkan perawatan secara intensif karena penyakit tersebut sudah menempel pada dirinya sejak dalam kandungan.

“Sebagai orang tua, kami tetap berikan perawatan terbaik baginya. Kita lakukan pemeriksaan ke rumah sakit. Kita sudah berulang kali lakukan pengobatan,” kata warga Jalan Perwira, Dusun VI, Desa Mekar Sari, Delitua.

Pemeriksaan pertama tepat setelah seminggu Ammar lahir.”Setelah satu minggu Ammar lahir, kita langsung bawa dia ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif. Begitulah seterusnya,” kata Budi.

Setelah kondisi Ammar membaik usai pemeriksaan di rumah sakit, orangtuanya membawa pulang Ammar.

“Ammar kita rawat di rumah setelah kita bisa pulang dari rumah sakit. Namun, kita tetap lakukan pengawasan terhadap Ammar karena kita sudah tahu bahwa ada penyakitnya. Kita tetap was-was manakala dia ada keluhan,” paparnya.

Sebagai seorang bayi, Ammar hanya bisa merengek saat dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya.”Kami sebagai orangtuanya langsung peka kalau Ammar ada sakit atau keluhan,” tambahnya.

Di umur enam bulan ini, Ammar harus mendapatkan perawatan intensif karena diduga Ammar tidak hanya berpenyakit hidrosefalus, namun juga mengidap penyakit hernia.

“Saat ini, dia sudah berumur enam bulan, dan ternyata dia juga ada penyakit lain, penyakit hernia. Ini kami tahu dari dokter,” ujar Budi.

Dengan segala beban pengobatan, Budi dan Wahyuni berharap kepada setiap orang agar dengan rela hati membantu memikul beban finansial yang sedang mereka alami.

“Kami berharap bantuan dari siapa saja donatur yang terdorong hatinya membantu kami. Kami juga sudah didaftarkan pada sebuah website yang menolong penggalangan dana demi kesembuhan anak kami, Ammar,” pungkasnya. (trb/ila)

Syukuran Ulang Tahun ke-24, PTPN IV Santuni 2.350 Anak Yatim

TUMPENG: Dirut PTPN IV Siwi Peni memberikan tumpeng kepada pegawai PTPN IV termuda, di acara syukuran HUT PTPN IV.
TUMPENG: Dirut PTPN IV Siwi Peni memberikan tumpeng kepada pegawai PTPN IV termuda, di acara syukuran HUT PTPN IV.
TUMPENG: Dirut PTPN IV Siwi Peni memberikan tumpeng kepada pegawai PTPN IV termuda, di acara syukuran HUT PTPN IV.
TUMPENG: Dirut PTPN IV Siwi Peni memberikan tumpeng kepada pegawai PTPN IV termuda, di acara syukuran HUT PTPN IV.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – PT Perkebunan Nusantara IV menggelar syukuran ulang tahunnya ke-24 secara serentak di 46 titik. Ulang tahun BUMN perkebunan ini jatuh pada Rabu, 11 Maret 2020. Syukuran ini dilaksanakan mulai dari Kantor Direksi PTPN IV hingga ke distrik, kebun dan pabrik.

Kegiatan diawali dengan upacara bendera, gerakan cuci tangan, pemotongan nasi tumpeng, sarapan pagi bersama serta kegiatan bina mental. Acara yang berlangsung di Kantor Direksi PTPN IV ini dihadiri langsung Direktur Utama PTPN IV Siwi Peni, Direktur Komersil Umar Affandi, Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum Rizal H. Damanik, Kepala Bagian, Wakil Kepala Bagian, Project Manajer, Kasubag, Staf Subag dan Karyawan serta di distrik, kebun dan pabrik dihadiri masing-masing manajer kabid, asisten dan karyawan.

Direktur Utama PTPN IV, Siwi Peni dalam keterangan persnya yang diterima tri bun-medan.com, Kamis (12/3) mengatakan, sebagai ungkapan rasa syukur atas apa yang dicapai korporasi selama ini, PTPN IV melaksanakan aksi sosial dengan menyantuni 2.350 anak yatim yang berasal dari sekitar unit usaha PTPN IV yang ada di 10 kabupaten di Provinsi Sumatera Utara.

Dalam sambutannya Siwi Peni membaca pidato Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), yang mengatakan bahwa tanggal 11 Maret 2020, genap 24 tahun Perkebunan Nusantara berperan untuk bangsa. Potensi BUMN Perkebunan ini pun masih memiliki potensi yang besar untuk ke depannya.

Dikatakan Siwi Peni, penerapan Business Process Reengineering dengan parameter Q2CS harus dapat segera dilaksanakan, meliputi quality, quantity, cost dan speed.

Selain itu, back to basic planters yang bertujuan untuk peningkatan produksi (produktivitas) hasil, dengan melakukan inspeksi lapangan berjenjang serta meminimalisasi losis selama di pengangkutan dan proses pengolahan di pabrik. “Saya berharap apa yang telah berhasil dicapai saat ini dapat terus ditingkatkan agar rencana di tahun 2020 bisa terselesaikan dengan baik demi stabilitas dan peningkatan kinerja perusahaan kita,” kata Siwi Peni.

Pada acara syukuran tersebut, PTPN IV di 46 unit usahanya secara serentak juga melakukan gerakan cuci tangan yang benar. Tujuannya untuk mengantisipasi penyebaran virus Covid-19. “Perilaku hidup bersih seperti ini hendaknya selalu dilakukan sebagai upaya pencegahan penularan virus Covid-19 dan penyakit menular lainnya,” sebut Siwi Peni.

Siwi Peni menjelaskan, terdapat enam langkah cuci tangan yang benar sesuai standar World Health Organization (WHO) dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Sebaiknya mencuci tangan dilakukan dengan sabun selama 20 detik di bawah air mengalir. Namun jika tidak ada air bisa juga membersihkan tangan dengan menggunakan gel yang memiliki kandungan 60 persen alkohol,” ujar Siwi Peni.

Acara syukuran juga diisi dengan pemotongan nasi tumpeng oleh Siwi Peni dan diserahkan kepada karyawan PTPN IV yang diwakili Ketua Umum SP-Bun Wispramono Budiman, mewakili karyawan yang tertua Eddy Tea Christian Barus dan karyawan yang termuda Hasanul Fuad Husni.

Kepala Bagian Sekretariat Perusahaan PTPN IV Riza Fahlevi Naim mengatakan, pihaknya merencanakan kegiatan sosial lain akan dilaksanakan, Jumat (20/3/2020) dengan menggelar acara kegiatan donor darah dan menyantuni anak yatim dan kaum dhuafa di Kantor Direksi PTPN IV.

Sebelumnya di pagi hari akan diadakan senam pagi bersama Yayasan Jantung Indonesia. PTPN IV juga memberikan penghargaan kepada karyawan PTPN IV (star of the month) serta melakukan peresmian pemakaian fitness centre dan tempat parkir sepeda.

“PTPN IV sendiri adalah salah satu anak perusahaan BUMN Perkebunan, yang bergerak di bidang usaha agroindustri. Berdiri sejak tahun 1996 merupakan hasil peleburan dari PTP VI, PTP VII dan PTP VIII menjadi PTPN IV,” kata Riza. (rel/ila)

Pergudangan Ilegal Banyak Berdiri di Marelan

MARELAN, SUMUTPOS.CO – Dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Detail Tata Ruang Wilayah (RDTR) Kota Medan, Kecamatan Medan Marelan masuk rencana tata ruang wilayah (RTRW) kawasan pemukiman dan perdangan.

Kenyataannya, masih banyak berdiri pergudangan secara ilegal seperti di Jalan Nipon, Danau Siombak, Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan dan Jalan Rachmadbuddin, Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, telah menyalahi.

Wakil Ketua DPRD Kota Medan, HT Bahrusmyah, mengatakan, fungsi pemerintahan dari tingkat bawah sampai ke atas tidak berjalan dengan baik melakukan pengawasan. Buktinya, bangunan gudang secara liar berdiri di Kecamatan Medan Marelan masih dilakukan pembiaran oleh camat.

Ia sangat kecewa dengan kepemimpinan camat yang tak mampu mengawasi gudang yang berdiri secara ilegal, padahal Kecamatan Medan Marelan masuk dalam kawasan pemukiman dan perdangan dalam RTRW Kota Medan.

“Jangankan izin, mendirikan industri dan pergudangan memang tidak bisa. Harusnya, pihak kecamatan jangan pura – pura tidak tahu. Saya sangat kecewa dengan camat yang menjawab tidak tahu, berarti ada kelemahan kordinasi dari sistem tingkat kepling dan kelurahan kepada camat,” tegasnya.

Dijelaskan Ketua DPD PAN Kota Medan ini, kepada pemerintah setempat khususnya camat sudah sepatutnya mengambil tindakan terhadap gudang yang berdiri di wilayanya dengan menghentikan pembangunan gudang yang sedang berlangsung untuk meneruskan ke Satpol PP Kota Medan.

“Sudah di Perda No 2 Tahun 2015 tentang RDTR Kota Medan itu sudah menyalahi. Jadi, camat harus datangi untuk menghentikan pembangunannya, bukan membiarkan. Jangan nanti ada asumsi negatif dari masyarakat,” tegas Bahrum lagi.

Camat Medan Marelan, M Yunus mengaku, pembangunan gudang di Marelan memang tidak diperbolehkan, secara kewenangan ia mengaku tidak punya hak untuk menindak gudang tersebut.

“Kita sifatnya hanya menyurati untuk menghimbau, masalah ini sudah kita laporkan ke dinas terkait,” katanya. (fac/ila)

52 Kasus Kebakaran di Medan

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Dinas Pencegah dan Pemadam Kebakaran (P2K) Kota Medan setidaknya telah menangani 52 kasus kebakaran di Kota Medan dan sekitarnya sejak awal tahun 2020.

Angka itu memang bukan jumlah yang sedikit, tapi Dinas P2K mengaku siap untuk terus membenahi diri dalam meningkatkan pelayanan dalam melakukan pemadaman kebakaran di Kota Medan.

“Sampai hari ini ada 52, ini sedang terjadi di Jalan Bajak V walaupun hanya kebakaran kecil. Tadi pagi kebakaran yang cukup besar terjadi di kawasan Star Kim, Tanjung Morawa, Deliserdang. Itu pabrik vulkanisir, tidak ada korban jiwa, kerugian sedang dihitung. Kebakaran sering terjadi, dan kita akan terus meningkatkan pelayanan kita,” ucap Kepala Dinas P2K Kota Medan, Ambon Sidauruk kepada Sumut Pos, Kamis (12/3).

Dikatakan Albon, saat ini jumlah mobil pemadam kebakaran (damkar) yang dimiliki oleh Dinas P2K Kota Medan sudah cukup mumpuni.

“Kita saat ini ada 43 unit mobil pemadam kebakaran yang kita sebar di tiap-tiap UPT dan Pos kita di Kota Medan. Jumlah itu sudah cukup bagus, itu sudah 93 persen dari ju lah yang direkomendasikan oleh kemendagri,” ujarnya.

Namun yang menjadi masalah Dinas P2K Kota Medan saat ini adalah terkait kecepatan waktu untuk merespon (Respon Time) setiap laporan peristiwa kebakaran yang ada di Kota Medan.

Dijelaskan Albon, saat ini Dinas P2K hanya memiliki 4 UPT/Pos unit damkar di Kota Medan, dan jumlah itu memang sangat sedikit atau tidak sesuai dengan luas wilayah Kota Medan yang cukup besar.

“Kota Medan ini Kota besar, sangat luas. Tapi kita hanya ada 4 UPT dan Pos di Kota Medan, yaitu di Jalan Borobudur, Amplas, KIM (Kawasan Industri Medan) dan Belawan. Jumlah itu jelas masih sangat kurang, mengingat Kota Medan punya 21 kecamatan,” katanya.

Idealnya, kata Albon, Kota Medan harus memiliki 9 UPT/Pos damkar di Kota Medan agar bisa memberikan Respon Time yang baik bagi setiap laporan peristiwa kebakaran di Kota Medan.”Itu sudah di observasi oleh Provinsi, Medan harus punya 9 UPT atau Pos Damkar,” terangnya.

Untuk itu, saat ini Pemko Medan tengah berupaya dalam membangun 5 UPT/Pos Damkar tambahan untuk Dinas P2K hingga tahun 2024 mendatang. Rencananya untuk tahap awal, tahun ini Pemko Medan akan menambah 2 UPT/Pos damkar di Kota Medan.

“Bertahap dulu, tahun 2020 ini rencananya mau dibangun di Medan Tuntungan dan Medan Tembung. Lahan yang di Tuntungan itu memang milik Pemko, kalau yang di Tembung mau dilakukan pembebasan lahan dulu. Dua lokasi ini cukup jauh untuk dijangkau oleh 4 UPT damkar kita saat ini,” tuturnya.

Selanjutnya, di tahun 2021 mendatang, Pemko Medan berencana untuk membangun 2 UPT/Pos tambahan lagi, yakni UPT di kawasan Helvetia dan 1 Pos di Universitas Sumatera Utara.

“Di Helvetia lahannya memang punya Pemko. Kalau di USU, itu nanti akan MoU dengan pihak USU. Mereka nanti yang akan menyediakan lahan dan bangunannya, sedangkan armada nya dari kita. Untuk Pos yang di USU, itu bukan hanya dipakai apabila ada kebakaran di kampus saja, tapi juga bisa digunakan untuk kebakaran di kawasan sekitar jalan Dr Mansyur, seperti daerah padang bulan hingga simpang pos, atau Tanjung Sari sampai Selayang,” paparnya.

Sedangkan 1 Pos lainnya, rencananya akan dibangun di Kawasan Jalan Bilal Kota Medan. Pembangunan itu direncanakan akan dilakukan setelah 4 UPT/Pos sebelumnya selesai dibangun, pembangunan UPT di Jalan Bilal ditargetkan paling lama pada tahun 2024.

“Tetapi tetap saja, kita terus mengimbau kepada masyarakat agar terus waspada dalam mencegah terjadinya kebakaran. Sebab, lebih dari 95 persen kebakaran yang terjadi adalah karena kelalaian manusia. Jadi bukan berarti penambahan UPT/Pos ini nantinya membuat masyarakat untuk tidak waspada, justru harus menjadi pelajaran bahwa UPT itu dibangun karena begitu banyaknya peristiwa kebakaran yang terjadi di Kota Medan,” pungkasnya.

Menanggapi hal ini, anggota Komisi IV DPRD Medan dari Fraksi Gerindra, Dedy Aksyari Nasution menyambut baik niat Pemko Medan yang ingin menambah UPT Damkar di Kota Medan.

“Bagus sekali itu, harus segera direalisasikan, jangan wacana-wacana saja. Damkar ini kan menyangkut masalah nyawa dan keselamatan, tentu ini harus menjadi salah satu yang diutamakan, sebab menyelamatkan nyawa dan keselamatan rakyat adalah tugas pemerintah,” tegasnya.

Namun begitu, lanjut Dedy, ia berharap agar Dinas P2K juga tidak hanya berfokus kepada tindakan pemadaman tetapi juga kepada tindak pencegahannya. Sebab, besarnya angka kebakaran di Kota Medan juga sebagai salah satu bentuk gagalnya fungsi pencegahan oleh Dinas P2K.

“Namanya juga Dinas Pencegah dan Pemadam Kebakaran, berarti kan ada fungsi pencegahan juga di Dinas itu. Fungsi pencegahan ini juga harus dimaksimalkan. Sebab pencegahan itu jauh lebih baik dari pada penindakan. Masyarakat harus terus diberi sosialisasi tentang pentingnya mencegah kebakaran dari lingkungan sekitar, ini pasti akan sangat berpengaruh menekan angka peristiwa kebakaran,” pungasnya. (map/ila)

Kadin Sumut Sukses Jalankan Kampung Kadin di 25 Titik Kota Medan

KAMPUNG Kadin Sumut yang diadakan di Medan Night Market jalan Adam Malik Medan.
KAMPUNG Kadin Sumut yang diadakan di Medan Night Market jalan Adam Malik Medan.
KAMPUNG Kadin Sumut yang diadakan di Medan Night Market jalan Adam Malik Medan.
KAMPUNG Kadin Sumut yang diadakan di Medan Night Market jalan Adam Malik Medan.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumut menggelar pelatihan pembuatan eco enzyme dan briket sampah organik yang diadakan di 25 titik Kota Medan.

Kegiatan ini bekerjasama dengan Yayasan Budaya Hijau Indonesia, Rumah Briket dan Kotaku (Kota Tanpa Kumuh) yang diadakan sejak September 2020.

Wakil Ketua Umum Kadin Sumut bidang Good Corporate Governance (GCG), Corporate Social Responsibility (CSR), dan Lingkungan Hidup, Martono mengatakan.

kegiatan ini dilakukan untuk mengedukasi masyarakat tentang manfaat eco enzyme dan menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan.

“Kita sudah lakukan di sebanyak 25 titik yakni pelatihan pembuatan eco enzyme dan juga diiringi dengan pelatihan pembuatan arang sehat. Tujuannya adalah mengedukasi masyarakat bahwa eco enzyme memiliki banyak sekali fungsi untuk masyarakat dan yang paling penting adalah berkontribusi untuk mengurangi jumlah sampah organik yang dihasilkan,” ujar Martono.

Antusiasme warga di tiap titik diadakannya pelatihan pembuatan eco enzyme ini, terang Martono sangat besar.

Oleh karena itu, pihaknya berharap kegiatan ini bersifat berkelanjutan sehingga masyarakat bisa mandiri dan memulai gaya hidup baru yang ramah lingkungan.

“Antusiasme kita lihat sangat besar. Makanya kita ingin di masing-masing titik ini, sifatnya berkesinambungan dan terus menerus. Jadi warga bisa dengan mandiri membuat eco enzyme di rumahnya sendiri,” tambahnya.

Dari seluruh 25 titik diadakan Kampung Kadin, terdapat tidak hanya kelurahan tetapi juga institusi pendidikan dan pemerintahan.

Martono menerangkan, sekolah-sekolah ataupun institusi pendidikan menjadi target penting bagi Kampung Kadin karena merupakan tempat belajar formal bagi SDM yang ada di Medan.

“Kita juga melakukan pelatihan ini di sekolah-sekolah, perguruan tinggi, juga di instansi-instansi pemerintah,” katanya.

Martono berharap, semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap benyaknya manfaat yang dapat diambil dari eco enzyme.

Selain itu juga dapat jumlah limbah organik yang dihasilkan.

“Semoga semakin banyak yang tahu mengenai eco enzyme ini. Perlahan-lahan kita ubah mindset dan perilaku kita dan masyarakat khususnya di Kota Medan,” katanya.

Dalam waktu dekat, Martono mengatakan, pihaknya akan mengadakan penyiraman secara serentak eco enzyme ke sungai-sungai yang ada di Kota Medan.

Hal ini dimaksudkan untuk memperbaiki kualitas air sungai yang ada di Medan.

“Hari bumi nanti kita juga akan adakan penyiraman eco enzyme ke sungai-sungai yang ada di Medan. Harapannya teman-teman bisa turut ikut andil dalam kegiatan tersebut, juga mengajak teman-teman lainnya. Sehingga pelan-pelan apa yang diinginkan dapat terwujud yakni perubahan mindset dan perilaku masyarakat,” katanya.

Senada dengan itu, Bathara Surya Yusuf, Ketua Yayasan Budaya Hijau Indonesia (YBHI) sekaligus fasilitator pelatihan eco enzyme pada program Kampung Kadin ini mengatakan bahwa dirinya berharap semakin banyak masyarakat yang mengerti mengenai apa itu eco enzyme dan apa pentingnya bagi kehidupan.

Eco enzyme, bagi Bathara merupakan cairan multifungsi yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti pengganti pembersih lantai, untuk mandi, obat kumur, bahkan dapat juga menghilangkan jerawat dan bekas luka.

Dalam isu yang tengah marak yakni wabah virus corona, eco enzyme, terang Bathara dapat memangsa penyebaran virus yang ada di udara sehingga udara dapat lebih bersih dan segar.

“Harapannya agar masyarakat semakin banyak yang teredukasi akan pentingnya cairan eco enzyme ini. Saat ini wabah virus corona tengah merebak sehingga sebagian besar masyarakat dilanda ketakutan yang berlebih, nah dengan eco enzyme disemprot ke udara dia bisa memangsa virus dan bakteri yang terkandung di dalam udara termasuk virus corona,” ujarnya.

Ketua Umum Umat Buddha Nusantara (UBN) Indonesia, Charles Tandoko mengatakan, dirinya mengikuti beberapa kali pelatihan yang diadakan di Kampung Kadin.

Namun dirinya tetap antusias untuk mengikuti kembali agar bisa semakin mengerti bagaimana cara membuat eco enzyme.

“Niatnya memant untuk belajar soalnya di sini kan diadakan pelatihan, jadi kita sekaligus membuka wawasan dan pelan-pelan bisa merubah gaya hidup menjadi lebih ramah lingkungan dan peduli terhadap isu-isu kerusakan lingkungan,” kata Charles.

Bagi Charles, kegiatan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat karena dapat memberikan sosialisasi dan penyadaran terhadap masyakarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan.

“Kegiatan ini sangat baik, bisa mengedukasi dan mensosialisasikan masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan. Karena eco enzyme ini memiliku sejuta manfaat dan berdampak sangat baik dalam pengurangan jumlah limbah organik,” pungkasnya. (trb/ila)

Polisi Temukan 416 Ekor Belangkas Tak Bertuan

DELISERDANG, SUMUTPOS.CO – Direktorat Reskrimsus Polda Sumut mengamankan 416 ekor satwa dilindungi berupa belangkas besar (sejenis kepiting) dari Dusun II Desa Bagan Serdang, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, Rabu (11/3) kemarin. Namun demikian, siapa pemilik satwa dilindungi tersebut tak diketahui lantaran tidak berhasil diamankan.

Wakil Direktur (Wadir) Reskrimsus Polda Sumut AKBP Bagus Suropratomo mengatakan, temuan ratusan satwa tak bertuan itu bermula mendapatkan informasi masyarakat berkat adanya jual beli satwa belangkas.

“Kita bergerak dan melakukan penyisiran di lokasi dan menemukan 4 kotak berisi ratusan belangkas dengan ukuran besar. Lokasi temuan itu di rawa-rawa yang merupakan daerah pemukiman warga,” ujarnya saat memberikan keterangan pers di Mapolda Sumut, Kamis (12/3).

Setelah ditemukannya hewan tersebut, pihak kepolisian langsung berkoordinasi dengan masyarakat. Namun, kata Bagus, ternyata masyarakat tidak ada yang mengetahui hewan tersebut milik siapa.

“Dengan disaksikan oleh tokoh masyarakat, kemudian personel Subdit IV memboyong hewan tersebut ke Mapolda Sumut untuk dijadikan barang bukti. Saat ini, sudah kita amankan di kantor,” ucap Bagus.

Ia mengaku, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumut. Selanjutnya, pihak BKSDA Sumut melakukan pengecekan terhadap satwa itu dan dinyatakan kalau satwa itu adalah hewan yang dilindungi.

“Kami masih melakukan penyelidikan terkait kepemilikan hewan yang dilindungi negara tersebut, kita masih mencari siapa pemiliknya. Untuk saksi, sudah 3 orang kita mintai keterangan,” katanya.

Bagus menambahkan, rencananya 416 belangkas yang masih hidup itu akan diserahkan kepada BKSDA Sumut dalam waktu dekat untuk dititipkan dan dirawat. “Nantinya diserahterimakan kepada BKSDA Sumut untuk dititip dan dirawat,” pungkasnya. (ris/ila)

Pelaku Usaha di Medan Enggan Pasang Tapping Box, KPK Minta Pemko Buat Perwal

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sejumlah pengusaha di Kota Medan enggan memasang tapping box. Hal ini membuat Koordinator Koordinasi Supervisi Pencegahan (Korsubgah) KPK wilayah Sumut, Azrill Zah merasa heran.

Padahal, kata Azrill Zah, jika setiap unit usaha di Kota Medan dipasang tapping box, maka otomatis pendapatan daerah akan meningkat. “Saya heran dengan keengganan para pengusaha memasang tapping box dikarenakan berbagai alasan yang sulit diterima. Seperti masalah teknologi, sumber daya manusia dan lainnya,” ujarnya, Kamis (12/3).

Azrill bilang, jika unit usaha menggunakan alat tersebut, para pengusaha tidak dapat memanipulasi data pajak karena semua transaksi real terekam dan tersambung langsung oleh dinas serta Pemerintahan Kota ( Pemko) Medan.

“Tapping box adalah kerja sama antara KPK, Bank Sumut dan Pemko Medan. Tapping box merupakan alat monitoring transaksi usaha secara online yang dipasang di mesin kasir, untuk menghitung setiap transaksi yang terjadi di tempat usaha. Namun di Kota Medan ini banyak pelaku usaha hotel maupun kuliner yang menolak dengan alasan gaptek lah, sudah tua, mengaku terbiasa pakai alat manual dan lainnya,” katanya.

Ia mengatakan, tidak selayaknya para pengusaha tersebut menolak. Sebab pajak tersebut merupakan uang masyarakat, yang dititipkan di tempat tersebut. Alasan para pengusaha sulit ia diterima. Sebab, zaman sekarang segalanya sudah online.

“Kita mendorong untuk di Medan dan sekitarnya ada sampai 1.000 alat. Dan Bank Sumut sudah menyiapkan sekitar 1.400 untuk di seluruh Sumut. Jadi diharapkan pajak daerah itu bisa langsung masuk ke rekening kas daerah. jadi enggak bisa ada permainan lagi,” katanya.

Korupsi uang pajak yang kerap dilakukan para pengusaha katanya akan tertutup melalui alat ini, sebab ada monitoring dan pemberitahuan apabila pelaku usaha berupaya melakukan kecurangan.

“Misalnya ada satu restoran yang seharusnya pajaknya sejuta dinego jadi Rp500 kan bisa. Kalau pakai alat ini jangan harap, kan tercatat secara elektronik. Sehingga dinas terkait bisa melihat kalau ada yang aneh akan ada signalnya merah. Dan itu harus ada penindakan dari satpol PP, dan kalau ada yang memutus alat itu dari pihak restoran, hotel, maupun hiburan dan parkir pasti akan ketahuan,” katanya.

Ia berharap Pemko Medan dapat segera membuat Perwal agar pendapatan daerah dapat meningkatkan signifikan. Selain itu, melalui alat ini kinerja beberapa dinas akan diringankan serta menutup cela-cela korupsi di Medan.

“Kita harapkan juga dari Pemko agar segera membuat Perwal. Sebenarnya yang membayar pajak hotel dan hiburan itu adalah masyarakat yang berkunjung. Dan selama ini terbukti banyak yang tidak disetorkan. Kalau saat ini yang sudah terpasang online di Sumut ada 50 alat, namun tetap kita tekan. Sekarang sudah ada kontrak antar Bank Sumut dengan pihak pengadaannya. membuat 1400 alat,” tuturnya.

Ia mengatakan saat ini KPK sudah mendorong Pemko untuk segera membuat Perwal agar para pengusaha tidak punya alasan lagi menolak pengadaan tapping box di unit usaha mereka.

“Udah kita dorong Pemko agar membuat perwalnya, cuma belum diterapkan. Tapi untuk wajib pajak itu kita datang, saya datang ke Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) mengumpulkan semua wajib pajak hotel dan restoran. Kita tegaskan, ini bukan uang anda, ini uang konsumen yang dititipkan untuk disetor ke pajak untuk pembangunan kota Medan,” paparnya.

Ia berharap para pelaku usaha di kota Medan dapat menjalin kerja sama yang baik agar mau memasang tapping box di unit usahanya. Pengusaha tidak perlu takut dengan alat ini. Sebab fungsinya bernilai positif yakni meniadakan korupsi pajak.

“Kalau PAD maksimal maka pelayanan publik juga akan semakin banyak pembenahan. Kalau pajak parkir akan kita masuki juga tapping box itu, kalau tapping box kan otomatis kesempatan untuk mengambil uang pajak itu minim,” pungkasnya. (trb/ila)