MEDAN, SUMUTPOS.CO – Jembatan penyeberangan atau Sky Bridge dari sisi timur Lapangan Merdeka ke Stasiun Besar Kereta Api sudah lama mangkrak dan tidak beroperasi. Namun rencananya, Sky Bridge akan beroperasi tahun ini.
Berdasarkan hasil rapat yang digelar di ruang
rapat 2 Pemko Medan yang dihadiri pihak terkait seperti PT Kereta Api Indonesia
(KAI), Dinas Perhubungan, dan Bappeda, dinyatakan bahwa jembatan penyebrangan
itu ditargetkan akan dioperasikan pada tahun ini.
“Target
kita tahun ini sudah beroperasi,” kata Kepala Bidang (Kabid) Lalu Lintas
dan Angkutan Dishub Medan, Suriono kepada Sumut Pos, Selasa (16/7) usai
menghadiri rapat tersebut.
Dikatakannya, proyek senilai Rp35 miliar yang
dulunya ditargetkan rampung tahun 2014 itu, akan segera dioperasikan. Tetapi
setelah terlebih dahulu dilakukan kesepakatan bersama antara PT KAI dan Pemko
Medan terkait hak dan kewajiban masing masing dalam pengoperasian itu.
“Hasil kesepakatan antara pemerintah Kota
Medan dengan PT KAI, kami sepakat bahwa Sky Bridge itu akan dioperasikan. Selama
ini mangkrak karena adanya kesepahaman yang belum deal dari PT KAI. Tetapi di
dalam rapat yang berlangsung tadi, sudah tidak ada masalah lagi. Sehingga,
tinggal faktor teknis saja, mana-mana yang perlu ditingkatkan,” jelasnya.
Terkait yang belum rampung, Suriono mengatakan
akan dilakukan survey terlebih dahulu oleh Dinas Perumahan Kawasan Permukiman
dan Penata Ruang (PKPPR) Kota Medan untuk meninjau mana yang perlu diperbaiki
sehingga Sky Bridge itu layak untuk difungsikan.
Sedangkan terkait anggaran, lanjut Suriono,
akan dilakukan pembicaraan khusus. Sebab untuk pembangunan itu, pemko Medan
hanya menyambung bangunan dari pilar kereta api. Namun, dari pilar ke pintu
masuk stasiun yang menyambungkan adalah PT KAI yang panjangnya diperkirakan
mencapai 10 meter.
Pantauan Koran ini, jembatan yang berfungsi
untuk memberikan keselamatan dan kenyamanan masyarakat Medan yang akan
menggunakan transportasi kereta api itu, saat ini kondisinya sangat
memprihatikan. Selain berkarat juga terdapat sejumlah bangunan yang rusak.
Sekadar diketahui, Pemerintah Kota (Pemko) Medan sejak 2012 membangun jembatan penyeberangan atau Sky Bridge yang menghubungkan sisi timur Lapangan Merdeka dengan Stasiun Besar Kereta Api Medan. Akhir 2014, proyek senilai Rp35 miliar tersebut rampung dikerjakan. Namun, setelah berjalan 6 tahun lebih, Sky Bridge tidak kunjung difungsikan atau dipergunakan. (map/ila)
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
BANJIR: Pengendara melintasi genangan air di Jalan Sisingamangaraja Medan, Selasa (16/7). Genangan air akibat pipa air PDAM Tirtanadi bocor.
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS BANJIR: Pengendara melintasi genangan air di Jalan Sisingamangaraja Medan, Selasa (16/7). Genangan air akibat pipa air PDAM Tirtanadi bocor.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Tak ada hujan, Jalan Sisingamangaraja, tepatnya di depan Dinas Kehutanan Provinsi Sumatra Utara tiba-tiba banjir. Ternyata, air yang menggenani jalan tersebut berasal dari pipa transmisi milik PDAM Tirtanadi yang pecah.
Manurut pantuan wartawan, genangan air mulai
terjadi sekitar pukul 15.00 WIB. Air berasal dari pipa milik PDAM Tirtanadi di
depan Dinas Kehutanan Sumut.
Tak berapa lama, petugas dari PDAM Tirtanadi
turun ke lapangan untuk memperbaiki pipa yang pecah. Kepala Cabang Medan Amplas
PDAM Tirtanadi, Sahnan Harahap mengatakan, pipa transmisi yang pecah berukuran
400 inci. Pihaknya mengetahui penyebab pecahnya pipa tersebut.
“Kita belum tahu apa penyebabnya. Untuk
sementara, berdasar hasil pengamatan tim karena faktor alam. Karena posisi mati
lampu, jadi air yang dalam pipa tekanan angin yang membuat pipa pecah,”
ujarnya.
Dijelaskan, pipa yang pecah tersebut merupakan
pipa pengantar dari Delitua ke Garu Satu. Akibatnya pasokan air ke pelanggan
bakal terganggu. “Kami minta maaf,
karena pasokan air ke rumah warga bakal terganggu untuk sementara waktu,”
ungkapnya.
Pecahnya pipa tersebut juga dibenarkan oleh
Kadis PU kota Medan, Isa Anshari. Dia menyebut, pipa yang pecah membuat air
langsung menggenani badan jalan Sisingamangaraja.
“Ya, banjir itu akibat pipa Tirtanadi yang pecah. Kabarnya petugas dari PDAM Tirtanadi sudah turun ke lokasi untuk melakukan perbaikan,” ujarnya singkat. (map/ila)
RATAS
Gubsu Edy Rahmayadi, menghadiri Rapat Kabinet Terbatas tentang pengembangan destinasi pariwisata prioritas yang dipimpin Presiden RI Joko Widodo di Istana Kepresidenan Republik Indonesia, Jakarta, Senin (15/7).
RATAS
Gubsu Edy Rahmayadi, menghadiri Rapat Kabinet Terbatas tentang pengembangan destinasi pariwisata prioritas yang dipimpin Presiden RI Joko Widodo di Istana Kepresidenan Republik Indonesia, Jakarta, Senin (15/7).
JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Menurunnya kualitas lingkungan ditengarai menjadi salahsatu faktor belum optimalnya kunjungan wisatawan ke Danau Toba di Sumatera Utara (Sumut). Padahal Danau Toba menjadi salah satu dari 5 destinasi pariwisata superprioritas nasional, yakni Mandalika, Manado, Danau Toba, Labuan Bajo di NTT, dan Borobudur.
“Menurunnya kualitas lingkungan Danau Toba akibat limbah industri, domestik, dan Keramba Jaring Apung (KJA). Belum meratanya kualitas infrastruktur jalan, serta kurangnya aksesibilitas/jalan alternatif menuju kawasan Danau Toba,” papar Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi, dalam Rapat Kabinet Terbatas tentang Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas yang dipimpin Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), di Kantor Kepresidenan RI, Jalan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (15/7).
Untuk itu, kata Gubernur, diperlukan strategi pengembangan parisiwasata Danau Toba, yaitu optimalisasi penataan infrastruktur, fasilitas sosial dan fasilitas umum, penguatan budaya pendukung pariwisata, penyelamatn ekologi Danau Toba, peningkatan kualitas lingkungan, pengendalian penduduk, serta prioritas APBD dan peran serta APBN.
Peningkatan infrastruktur, jelas Edy, akan diimplementasikan melalui pembangunan Tol Medan – Tebingtinggi – Siantar – Parapat. Kemudian, oembangunan outer ringroad Samosir, pengembangan Bandara Kualanamu dan Silangit-Sibisa, pengembangan pelabuhan, dan memperlancar rute jalan ke Danau Toba.
“Untuk fasilitas umum dan sosial, akan dibangun fasilitas ibadah (musholla), restoran/kuliner halal, tourism information centre (Tic) 2 buah per kabupaten sekitar Danau Toba, toilet bersih 1 buah tiap jarak 5 km, parking area di setiap objek wisata, hotel bintang 5, serta kios souvenir atau centra UKM,” paparnya.
Pelestarian budaya pendukung pariwisata akan dilakukan melalui peningkatan pendidikan formal dan non formal kepariwisataan, pelestarian cagar budaya, penguatan hospitality/pelayanan kepada wisatawan, dan pendidikan guide/pemandu wisata.
“Untuk pelestarian lingkungan (ekologi), akan diimplementasikan melalui peningkatan kualitas air danau dengan pengurangan keramba jaring apung, pengendalian limbah domestik (pemukiman), pengendalian limbah industri, pengendalian sampah, dan pengendalian kerusakan hutan,” lanjutnya.
Terkait ketersediaan lapangan kerja akan diutamakan penduduk lokal. Juga akan dilakukan pemberdayaan peningkatan organisasi kemasyarakatan, bimbingan teknis dan fasilitasi di bidang pariwisata, serta pemberdayaan masyarakat terhadap sadar wisata.
“Pemprov Sumut juga menjadikan strategi pengembangan kawasan Danau Toba dalam pembangunan Sumut, melalui priortas APBD, penanan APBN, CSR dan investor,” jelas Edy.
Sebelumnya, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dalam Rapat Kabinet Terbatas tentang Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas tersebut, mengatakan dalam rancangan pembangunan 5 destinasi pariwisata superprioritas, masih ada beberapa masalah yang harus dituntaskan di beberapa lokasi wisata.
Pertama, terkait masalah pengaturan dan pengendalian tata ruang yang masih perlu dibenahi dan ditata lagi. Ia mencontohkan Manado, Labuan Bajo, dan Danau Toba yang menjadi permasalahan karena wilayah perairan yang luas.
Kedua, soal akses dan konektivitas menuju kawasan Destinasi Pariwisata Prioritas. Menurut Presiden, masih banyak yang perlu dibenahi, seperti airport, runway yang masih kurang panjang, konektivitas jalan ke tujuan wisata dan dermaga/pelabuhan. “Semuanya perlu dibenahi secepatnya,” tegas Presiden.
Presiden juga memerintahkan para menteri agar tahun ini digarap dan tahun depan selesai, karena ada peluang yang besar untuk menarik wisatawan mancanegara yang dapat menghasilkan devisa sebanyak-banyaknya.
Ketiga, menurut Presiden, fasilitas yang tersedia di lokasi wisata perlu dicek secara baik. Presiden meminta pemerintah provinsi, kabupaten/kota untuk turun ke bawah, sama-sama membenahi. Misalnya penataan pedagang kaki lima, penataan resto kecil, dan penyediaan toilet.
Keempat, peningkatan kualitas sumber daya manusia. Jokowi meminta pemerintah daerah untuk memfasilitasi para pedagang serta karyawan di sektor pariwisata, misalnya pegawai hotel dan pemilik kapal. Terlebih lagi, masyarakat yang bukan lulusan pariwisata.
“Semua dapat pelatihan sehingga betul-betul mampu melayani wisatawan dengan baik dengan ramah-tamah, melayani dengan senyuman. Ini akan memberikan dampak yang baik, baik berubah di budaya kerja, budaya melayani, budaya kebersihan,” kata dia.
Kelima, masih kurangnya pameran kebudayaan serta pasar seni. Jokowi mengatakan, pameran kebudayaan serta pasar seni harus dapat tempat yang lebih banyak, sehingga ada wadah untuk menunjukkan tradisi budaya yang ada di destinasi wisata. Misalkan tarian tradisi yang ada. Presiden memerintahkan Bekraf untuk bisa menyuntikkan dana. Ditambah, kolaborasi bersama para desainer untuk meningkatkan nilai tambah.
Terakhir, Presiden mengarahkan agar promosi pariwisata yang dilakukan secara besar-besaran dan secara terintegrasi. Sehingga mendapatkan multiplier effect yang besar, juga memberikan pertumbuhan pada ekonomi daerah dan nasional.
Jokowi pun meminta para menteri bertanggung jawab untuk segera menyelesaikan masalah tersebut. Sebab, menurut dia, kedatangan wisatawan mancanegara punya peluang mendatangkan devisa yang cukup besar bagi negara.
“Kalau penataan baik, dan saya sampaikan jangan tanggung penanganannya, sekaligus integrasi pembangunan yang sudah kita kerjakan, Insya Allah tahun depan bisa kita selesaikan semua,” ujar Jokowi.
Rapat terbatas yang dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan sejumlah menteri tersebut, juga dihadiri Gubernur Sumut Edy Rahmayadi, Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Laiskodat, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Zulkieflimansyah, Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey, dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. (prn)
TANJUNGBALAI, SUMUTPOS.CO – Dikabarkan tiga hari menghilang dari rumah, Syawal Bani (75) ditemukan sudah tidak bernyawa dan mengambang di Sungai Kapias (Titi Gantung), Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai, Selasa (16/7/19).
Informasi dihimpun, mayat pria itu ditemukan warga dalam keadaan mengambang dengan posisi telungkup.
Menurut M Syaiful Arifin, anak Syawal Bani, ayahnya diketahui meninggalkan rumah pada Minggu (14/7) malam untuk bertakziah ke rumah tetangganya di sekitar pasar TPO.
Namun, ditunggu ayahnya tidak pulang ke rumah sehingga keluarga melakukan upaya pencarian dan sempat mengunggahnya ke akun media sosial facebook.
Pada Selasa (17/7) sekitar pukul 11.00 WIB, M Syaiful Arifin membuat laporan orang hilang ke Polres Tanjungbalai. Kemudian, sekitar pukul 12.15 WIB, Syaiful menerima telepon dari masyarakat bahwa ada mayat laki-laki mengambang di Sungai Kapias.
“Mendapat info, saya langsung ke lokasi penemuan. Setelah melihatnya, saya pastikan jenazah itu adalah orang tua saya yang meninggalkan rumah pada Minggu malam Senin,” ujar Syaiful saat ditemui di kamar jenazah RSDU dr Tengku Mansyur Tanjungbalai.
Menurut Syaiful, ia mengenali jenazah dari ciri-ciri dan baju yang dikenakan ayahnya ketika pergi dari rumah untuk bertakziah.
Ditambahkan, semasa hidup orang tuanya tersebut tidak mengalami sakit yang serius, namun ingatannya sudah melemah karena faktor usia.
Pantauan di lapangan, evakuasi mayat dari lokasi penemuan dilakukan oleh masyarakat, BPBD dan Tim Gerak Cepat Himpunan Pemuda Islam Peduli Sosial (TGC-HIMPIPSOS) Kota Tanjungbalai. (ck04/rah/msg)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Dua orang jamaah calon haji (Calhaj) asal Kabupaten Asahan yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 3 Embarkasi Medan, terpaksa dilarikan ke rumah sakit di Madinah dan Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), Selasa (16/7) pagi sekira pukul 06.35 waktu Arab Saudi. Kedua calhaj tersebut didiagnosa mengalami anemia berat dan dehidrasin
Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) Kabupaten Asahan, Mahmudin Lubis melalui Kepala Subbag Informasi dan Humas Kanwil Kemenag Sumut Abdul Azhim menyebutkan, calhaj yang diopname di Rumah Sakit King Fadh Arab Saudi adalah Muhammad Usnan Silalahi Bin Abdul Rahman Silalahi dengan manifes 337 warga Pulau Rakyat Tua Dusun 1. Dia diagnosa dokter menderita anemia berat.
Sedangkan calhaj yang dirawat di KKHI Madinah yakni Ernawati Binti Ahmad Mukhtar dengan manifest 238 warga Jalan Kemuning, Dusun IX, Simpang Empat. Dia didiagnosa dokter setempat menderita dehidrasi.
“Sampai sejauh ini, kedua jamaah masih dalam kondisi perawatan dan masih ditunggui oleh TKHI Kabupaten Asahan, dr Hidayat juga para medisnya Siti Mardiah dan Ranji,” ujar Abdul Azhim.
Sementara itu, lanjutnya, 384 calhaj asal Kabupaten Asahan lainnya masih dalam kondisi kesehatan yang prima. “Namun demikian, kami lebih suka memakai masker penutup wajah jika keluar dari hotel dikarenakan banyak jamaah calon haji yang sudah tiba di Madinah, datang dari berbagai negara dan tentunya mulai banyak debu juga walaupun cuaca di Madinah saat ini masih dengan suhu normal 32 derajat celcius,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan, 386 calhaj kloter 3/MES asal Kabupaten Asahan ditempatkan di dua hotel yang berbeda. Karom 1 sampai 5 berada di Hotel Al Eiman Taibah Madinah dengan jarak 700 meter ke Masjid Nabawi atau kira-kira 10 menit perjalanan dari hotel ke masjid tersebut. Sedangkan Karom 6 sampai 9 berada di Hotel Al Eiman Royal Madinah dengan jarak 500 meter ke Masjid Nabawi atau kira-kira 5 menit perjalanan dari hotel menuju masjid.
Terima Living Cost
Wakil Kepala Bidang Penerimaan dan Pemberangkatan Jamaah Calon Haji Embarkasi Medan, Torang Rambe menyampaikan, setelah tadi malam dilakukan pemeriksaan kesehatan, menerima gelang berkode batang (barcode). Maka, kepada para jamaah Kloter 5 asal Kabupaten Mandailing Natal hari ini para jamaah akan menerima pasport dan living cost (uang saku) dan biometrik, di Aula Madinatul Hujjaj.
Sementara, Kasi Penyelenggara Haji dan Umroh Ikhwan Siddiqi, menyampaikan kepada Humas Kemenag Mandailing Natal Armen Rahmad Hasibuan para calon jamaah haji akan menerima paspor dan living cost sebesar 1.500 riyal.
Living cost ini dipergunakan oleh para jamaah untuk biaya hidup selama di Tanah Suci, seperti biaya bayar dam, tambahan biaya makan selama berada di Tanah Suci, qurban dan sebagainya, dan jangan dipergunakan seluruhnya atau sebagian untuk belanja hal-hal yang tidak mendukung dari pelaksanaan ibadah haji.
Ikhwan Siddiqi juga menekankan kepada para jamaah untuk dapat menjaga dan menyimpan living cost ini jangan sampai tercecer atau hilang, apalagi mengingat 40,82 persen jamaah Mandailing Natal berusia lanjut dan risti. “Apalagi mengingat para jamaah ini baru pertama kali melihat dan memegang uang riyal, dan bepergian ke luar negeri utamanya Arab Saudi,” ungkapnya.
Kepala Subbag Informasi dan Humas Kanwil Kemenag Sumut Abdul Azhim menambahkan, kloter 5 akan berangkat dari aula Madinatul Hujjah Selasa (16/7) malam. Pasalnya sesuai jadwal, kloter 5 berangkat dari Bandara Kuala Namu Rabu (17/7) pukul 00.40 WIB dinihari.
Jual Tanah
Muhammad Rum Batubara, seorang jemaah calon haji (calhaj) kloter 5 asal Mandailing Natal (Madina), sangat beruntung bisa berangkat menunaikan rukun kelima ke Tanah Suci, Makkah. Soalnya, pria yang berusia 64 tahun ini bukanlah dari keluarga mapan. Dirinya hanya seorang petani, yang setiap harinya mengutip getah karet untuk dijual kepada pengepul di Desa Lumbangolok, Kecamatan Siabu, Kabupaten Madina.
Demi bisa berangkat ke Tanah Suci, menunaikan rukun Islam ke lima bersama istrinya tercinta, Bahria Nasution, dia rela menjual tanah seluas satu hektare. Uang hasil jual tanah itulah digunakannya untuk mendaftar haji pada 2011 lalu. Menunggu 8 tahun, akhirnya kakek dari 9 orang cucu ini berangkat ke Tanah Suci tahun ini. “Saya jual tanah satu hektare biar bisa berangkat haji. Terus tahun 2011, saya sama nenekmu (Bahria) mendaftar haji,” ungkapnya saat ditemui Sumut Pos, Selasa (16/7).
Dengan Bahasa Indonesia yang masih terbata-bata, sebelum mendaftar, ayah dari 6 orang anak ini mengatakan, dirinya merupakan petani kampung, yang setiap harinya hanya mengutip getah karet untuk dijual kepada pengepul karet di Desa Lumban Golok, Kecamatan Siabu, Kabupaten Madina.
“Hanya petani karet, saya. Memang saya punya lahan sendiri, lalu hasilnya saya jual ke pengepul karet,” katanya, sambil menyantap hidangan makanannya.
Pria yang karib disapa Oppung Rum Batubara ini mengaku tak menyesal telah menjual tanahnya untuk menunaikan ibadah haji. Menurutnya, bisa menunaikan rukun Islam kelima merupakan suatu kebahagiaan dan kewajiban bagi yang mampu. “Adalah tanah saya sekarang sedikit-sedikit lagi, cukuplah untuk hidup berdua sama nenekmu di kampung,” katanya.
Seperti katanya, kakek dan nenek pasangan suami istri ini, hanya tinggal berdua saja di kampung halamannya. Jelas saja, tidak ada perasaan sedih baginya meninggalkan orang-orang yang disayanginya.
“Anak saya 6 sudah merantau semua, kalau cucu saya 9. Jadi kami cuma tinggal berdua saja,” imbuhnya.
Oppung inipun telah siap mengambil risiko, bila selama menjalankan ibadah di Tanah Suci terjadi sesuatu hal kepadanya dan istrinya. “Memang saya punya penyakit gula, tapi saya sudah ikhlas dan khusuk menjalankan ibadah di sana,” urainya.
Saat ini katanya lagi, dirinya hanya ingin melihat Baitullah, seperti kerinduan umat muslim pada umumnya. “Saya cuma berdoa, kesehatan dan keselamatan kembali ke Tanah Air,” pungkasnya. (man)
Manajemen PT Allegrindo Nusantara mengikuti rapat dengan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Provinsi Sumut, Binsar Situmorang terkait limbah ternak babi, di Kantor Dinas LH Sumut, Jalan Teuku Daud, Medan, Selasa (16/7). Pada rapat itu, pihak Allegrindo yang merupakan perusahaan ternak babi itu, menegaskan kesiapan mereka angkat kaki atau pindah dari lokasi perusahaan saat ini di pinggir Danau Toba, Kabupaten Simalungun.
“KAMI siap pindah dari pinggir Danau Toba asalkan pemerintah menyediakan lahan baru,” ujar General Manajer PT Allegrindo Nusantara, Budi Simbolon didampingi Abu Kasim, pada rapat yang dipimpin Kadis LH Sumut Binsar Situmorang itu.
Namun begitu, Budi Simbolon menampik alasan mau pindah karena telah mencemari perairan Danau Toba. Menurutnya, perusahaan yang menempati lahan seluas 46,38 ha di Desa Urung Pane, Kecamatan Purba, Simalungun itu, jauh dari pinggir Danau Toba.
Kata Simbolon, pihaknya mau pindah semata-mata untuk upaya bersama menjaga kualitas dan mutu perairan Danau Toba. “Kami meminta dukungan penuh kepada pemerintah untuk memperhatikan PT Allegrindo Nusantara yang kerap dituding membuang limbah ternak babi ke Danau Toba, walaupun sebenarnya usaha kami ini masih jauh dari pinggiran Danau Toba,” sebutnya.
Sebenarnya lagi, kata Simbolon, PT Allegrindo Nusantara berada dalam kondisi terpuruk dan menjadi sorotan pemerintah karena kondisi sebagian lahan ternaknya diketahui berada di lokasi hutan register 44.
Disebutkannya, Allegrindo Nusantara mempunyai kapasitas produksi ternak 50.000 ekor per tahun. Produksi itu diklaim telah memenuhi standar tentang tata pengelolaan sesuai peraturan pemerintah, termasuk pengelolaan limbah cair mempunyai izin lengkap dengan Nomor 188.45/1355/Sekrt-2016.
tanggal 30 Desember 2016. Bahkan atas izin limbah B3, pihaknya memegang izin dengan Nomor 188.45/1289/Sekrt-2016 tanggal 15 Desember 2016.
Dari semua persyaratan yang ditujukan ke Allegrindo, termasuk membangun IPAL dan Amdal sudah memenuhi standar, termasuk penggunaan air minum ternak sebanyak 200 m3 yang tentunya meliputi pembersihan ternak (mandi), kandang dan peralatan utilitas sebanyak 300 m3.
Dengan mengantongi semua perizinan tersebut, kata dia, Allegrindo yang sebelum di-take over tahun 1995, sepenuhnya adalah milik Pemkab Simalungun pada tahun 1982 oleh Dinas Pertanian dan Peternakan.
“Terkait persoalan limbah dan bau yang disebarkan dari aroma limbah ternak babi, kami sudah melakukan penanaman 150 batang pohon, seperti serai, kayu putih dan mahoni di sekitar Desa Urung Pane untuk menghilangkan bau tak sedap,” paparnya.
Sebelumnya, kata dia, tahun 2001-2002, Pemkab Dairi pernah menawarkan kepada Allegrindo agar pindah ke daerahnya. Tapi relokasi ini tak kunjung juga final, makanya Allegrindo tetap bertahan di Simalungun.
Menyinggung keberadaan sebagian lahan Allegrindo berada di kawasan hutan register 44, Budi mengatakan, pihaknya sudah mendatangi dan berkonsultasi kepada Kementerian Kehutanan, Dinas Kehutanan Sumut dan Kabupaten Simalungun. Bahkan proses konsultasi ini sudah berlangsung empat tahun dan belum ada kata kesepakatan, seperti untuk membebaskan lahan register 44 di lokasi peternakan Allegrindo.
“Memang SK Menhut No 44 tahun 2004 tentang perencanaan hutan itu baru diketahui lima tahun terakhir ini. Kalau konsultasi ini tak membuahkan hasil, maka izin PT Allegrindo yang akan berakhir 2024 itu, tentu akan menimbulkan 1.000 pengangguran baru di Simalungun ,” ujarnya, seraya meminta dukungan kepada pemerintah untuk bisa jembatani persoalan ini dengan Kemeterian Kehutanan.
Menanggapi PT Allerindo, Kadis LH Sumut, Binsar Situmorang, mengatakan seyogianya pihak PT Allegrindo Nusantara mematuhi aturan yang sudah ditetapkan pemerintah pusat dan Pemprov Sumut. Termasuk persoalan limbah yang selama ini menjadi dilema di Simalungun dan kawasan Danau Toba sekitarnya.
“Kami sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah pusat, seharusnya PT Allegrindo mematuhi aturan main yang sudah ditetapkan pemerintah. Hal ini dilakukan untuk mendukung agar Danau Toba yang diprogramkan menjadi salah satu distinasi dunia itu bisa berjalan dengan baik,” kata Binsar.
Dia juga menguatkan, bahwa program pemerintah sekarang ini akan membangun jalan lingkar di kawasan Danau Toba. Artinya dengan kawasan bebas sampah dan lingkungan yang bersih, maka PT Allegrindo bisa mencari atau merolaksi lahan di mana tak menimbulkan bau dari usaha mereka.
Jika selama ini pihak PT Allegrindo sudah melakukan studi banding ke luar negeri, kata Binsar, maka mungkin ada kiat-kiat untuk menghilangkan aroma atau limbah B3 yang dihasilkan oleh peternakan.
“Pada prinsipnya kita mendukung PT Allegrindo untuk mengembangkan usahanya, akan tetapi aturan pemerintah juga harus dipenuhi. Bahkan persoalan register 44, kita bisa konsultasi kepada pihak kementerian kehutanan dan tentunya hal ini akan disampaikan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut nanti,” ujar Binsar. (mbc)
Tersangka pengedar sabu yang merupakan revidivis bersama barang bukti diamankan di Mapolres Asahan.
ASAHAN, SUMUTTPOS.CO – Mendekam di balik jeruji penjara selama 6 tahun ternyata tak membuat Erwin (34) kapok. Residivis kambuhan itu terpaksa kembali mendekam di penjara karena terlibat kasus yang sama, yakni narkoba.
Adalah Erwin, warga Jalan Jend Sudirman KM 6, Kelurahan Sijambi, Kecamatan Datuk Bandar, Kota Tanjung Balai diringkus oleh Tim Opsnal Satres Narkoba Polres Tanjungbalai karena terlibat dalam peredaran Narkoba.
Mantan residivis yang baru keluar dari Lembaga Pemasyarakatan sejak 3 bulan lalu ini di ringkus di pinggir jalan di dekat rumahnya di duga sedang menunggu pembeli, Senin (15/7/19) sekira pukul 15.30 wib
Kapolres Tanjungbalai AKBP Irfan Rifai membenarkan kejadian tersebut. “Penangkapan berawal dari informasi yang disampaikan warga yang resah atas peredaran narkoba di daerah tersebut,” jelas AKBP Irfan Rifai, Selasa (16/7).
Tersangka tidak berkutik saat dihampiri petugas. Hanya bisa pasrah saat dilakukan penggeledahan badan dan dari kantong celana sebelah kanan ditemukan 1 buah kotak kecil yang di dalamnya berisi 3 bungkus plastik berisi sabu. Sementara dari kantong sebelah kiri kembali ditemukan 1 bungkusan plastik ukuran sedang yang berisi sabu.
“Total sabu yang disita adalah seberat 16,20 gram,” terang Kapolres.
Selain itu petugas juga menyita 2 unit Handphone, 1 buah sendok pipet plastik warna putih dan uang tunai Rp 500ribu.
Pengakuan tersangka bahwa sabu tersebut diperolehnya dari seorang lelaki berinisial RZ warga Tanjung Morawa, Deli Serdang.
Ceritanya, tersangka sendiri yang mengambil barang tersebut ke Tanjung Morawa dengan terlebih dahulu memesannya melalui telepon dan nantinya mereka akan berjumpa di suatu tempat yang mereka setujui. Tersangka mengenali sang bandar saat mereka sama-sama sebagai warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan.
Tim Opsnal belum berhasil meringkus sang bandar berinisial RZ ini dikarenakan nomor handphone yang sering digunakan untuk berkomunikasi tidak bisa dihubungi atau sudah aktif, namun petugas akan terus menyelidiki kasus ini. (ck04/rah/msg)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Gencarnya Tim VII DPRD Sumut memperjuangkan pembentukan Provinsi Sumatera Tengah (Sumteng), sekaligus mengajak penggagas Provinsi Tapanuli (Protap) dan Provinsi Nias ikut berjuang, mengundang pro kontra dari sejumlah akademi, pengamat anggaran, mantan birokrat, dan sebagainya. Teranyar, pengamat ekonomi Sumut ikut menyatakan: pemekaran tidak menjamin kesejahteraan rakyat meningkat.
“Begini… pemekaran itu seharusnya untuk pemerataan kesejahteraan dan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah yang dimekarkan. Bukan semata-mata untuk kepentingan kekuasaan. Tetapi selama ini fakta berbicara, pemekaran ternyata tidak otomatis menjamin peningkatan kesejahteraan rakyatnya,” tutur Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Gunawan Benjamin kepada Sumut Pos, Selasa (16/7).
Fakta ini, jelas Gunawan, seharusnya jadi landasan berfikir bagi penggagas pemekaran, agar lebih serius menyelesaikan masalah ekonomi masyarakat. “Pemekaran ‘kan nantinya membuat anggaran daerah menjadi terfokus ke suatu wilayah tertentu. Katakanlah, kalau wilayah (Provinsi) Sumteng, Tapanuli, dan Nias sebelumnya mendapatkan dana alokasi pembangunan dari Pemprov Sumut, maka setelah pemekaran wilayah tersebut akan mandiri dalam mengelola keuangannya,” jelas Gunawan.
Artinya, kepentingan ekonomi daerah tersebut lebih terwakilkan dibandingkan harus menunggu pembagian alokasi dana dari Pemprov Sumut yang selama ini harus dibagi ke 33 kota/kabupaten.
“Tetapi masalah tepat atau tidak penggunaan alokasi anggaran itu, sangat tergantung dari eksekutornya. Artinya Gubernur, Bupati, dan semua jajaran staf yang menjadi eksekutor anggaran memegang peranan penting. Jadi bukan karena ada pemekaran, maka masyarakatnya otomatis jadi sejahtera. Sekalipun daerahnya sangat kaya,” ungkap Gunawan.
Gunawan mengakui, kesejahteraan masyarakat di wilayah Sumteng, Tapanuli, dan Nias selama ini memang tertinggal dibandingkan masyarakat di wilayah timur di Sumut yang berdekatan dengan kota Medan.
Salahsatu manfaat pemekaran adalah masyarakat menjadi lebih dekat dengan wilayah administratif pemerintah. Masyarakat akan dipermudah urusan birokrasinya.
“Tetapi pada dasarnya, konektifitas antarwilayah dibangun dengan jaringan infrastruktur. Ini seharusnya menjadi pertimbangan. Karena sekalipun pemekaran, industri secara otomatis tumbuh signifikan di daerah pemekaran baru. Jadi kalau alasan pemekaran hanya pertimbangan jarak, saya sarankan agar ditinjau dengan seksama. Jangan sampai pemekaran hanya menjadi alat bagi tokoh-tokoh tertentu untuk menjadi penguasa,” pungkasnya.
Wacana Provinsi Nias Masih Adem
Berbeda dengan penggagas pemekaran Provinsi Sumteng yang gencar berjuang ke mana-mana, wacana pembentukan Provinsi Nias dan Provinsi Tapanuli (Protap) terkesan masih adem-ayem. Anggota DPRD Sumatera Utara Daerah Pemilihan Sumut 8 yang meliputi kabupaten/kota se Kepulauan Nias, belum bergerakan memperjuangkan pemekaran Provinsi Nias, meski usulan ke pusat atas daerah otonomi baru (DOB) sudah disampaikan Pemprovsu.
Anggota DPRD Sumut Dapil Sumut 8, Fatonowa Waruwu, mengungkapkan mereka baru berencana membicarakan kelanjutan usulan pemekaran Provinsi Nias, dalam rapat internal antar anggota dewan Dapil Nias, pada pekan mendatang.
“Mungkin khusus Nias ini agak berbeda seperti usulan DOB lain yang dilakukan kawan-kawan kami. Apalagi kawan-kawan se-dapil masih sibuk dengan agenda kunker dan lainnya. Jadi belum sempat membicarakan usulan Provinsi Nias. Minggu depan, antara Senin atau Selasa kami sudah sepakat untuk membahas ini secara internal,” katanya menjawab Sumut Pos, Selasa (16/7).
Menurutnya, pembentukan DOB ini tidaklah mudah. Ada persyaratan yang harus dilengkapi sebelum menindaklanjutinya lebih serius. Apalagi Nias sudah masuk kategori pulau terluar.
“Pembentukan DOB dilihat dari jumlah penduduk, luas wilayah, dan lainnya. Ini mesti kita cermati. Karena menurut saya jumlah penduduk Nias sekarang belum memenuhi ketentuan yang diminta itu,” ujar politisi Partai Hanura tersebut.
Ia mengatakan, ada perubahan regulasi menyangkut DOB di Indonesia sebelum ide pemekaran Provinsi Nias diusulkan. Karena itulah, dewan dari Nias memilih membahasnya dulu di tingkat internal.
“Kita khawatir ketika nantinya berkonsultasi dengan Kemendagri ataupun DPR RI, ternyata ada regulasi atas persyaratan pemekaran yang membuat usaha kita mentah,” kata Fatonowa.
Meski demikian, ia mendukung tujuan mulia dari pemekaran Provinsi Nias sebagai pemerataan pembangunan dan tercapainya kesejahteraan masyarakat Nias, terlebih dari aspek perekonomian.
“Jika nanti hasil diskusi kami berenam menyimpulkan bahwa syarat pemekaran Nias yang diusulkan tempo hari tidak berubah, ya mungkin wacana pemekaran akan ditindaklanjuti. Sebab konteksnya beda waktu perjuangan (pemekaran Provinsi Nias) dahulu dengan sekarang. Saya pun baru baca sepintas aturan perundangannya, yang salah satunya ada menyoal luas wilayah dan jumlah penduduk. Jangan pula karena hal yang mendasar itu tidak terpenuhi, lantas usulan kita menjadi sia-sia,” katanya.
Sebelumnya, penggagas Provinsi Tapanuli, RE Nainggolan, mengingatkan, harus ada kajian yang jelas terkait pemekaran. Jangan hanya mementingkan keinginan sekelompok saja.
Mengaku semangat pembentukan Provinsi Tapanuli yang digagas sejak 30 tahun lalu itu masih ada, RE Nainggolan mengatakan, sementara ini wacana itu masih ditahan. “Karena masih banyak kabupaten lainnya yang belum sepakat. Berubah-ubah niatannya,” katanya belum lama ini.
Menurut Nainggolan, Provinsi Tapanuli sangat layak untuk dibentuk. “Faktanya memang begitu. Tujuan pemekaran provinsi itu memang harus untuk mendekatkan pelayanan pemerintah terhadap warganya. Dan memang yang kita lihat, warga Tapanuli masih jauh dari sentuhan pelayanan pemerintah,” ucap RE.
Selain itu, lanjut RE, pembangunan serta peningkatan ekonomi di daerah tidak bertumbuh dengan baik atau berjalan lambat. “Tidak seperti kabupaten/kota yang di seputar Kota Medan yang laju pertumbuhan ekonomi dan pembangunannya jelas lebih pesat,” ujarnya.
Untuk itu, kata RE, sebagai tokoh Tapanuli, dirinya menilai Tapanuli sudah sangat layak untuk menjadi sebuah provinsi. “Ini bukan masalah setuju atau tidak setuju Tapanuli dijadikan sebuah provinsi, tapi lebih kepada layak atau tidak layak. Menurut saya, Tapanuli itu memang sudah sangat layak untuk dijadikan sebuah provinsi. Hal itu nantinya jelas akan memberikan dampak pertumbuhan yang jauh lebih cepat dan lebih baik bagi masyarakat Tapanuli,” katanya.
Terkait belum adanya kemandirian sebuah provinsi dari pemerintah pusat untuk tumbuh dan berkembang dari, RE menilai hal itu merupakan hal yang wajar. Menurutnya, Sumatera Utara dan provinsi lainnya juga tidak ada yang mandiri dalam melakukan pembangunan dan pertumbuhan di daerahnya.
“Memang di mana ada provinsi di Indonesai yang bisa mandiri tanpa bantuan dari pemerintah pusat? Hanya DKI Jakarta saja. Sisanya tidak ada karena penerimaan pajak juga nantinya mayoritas akan diberikan kepada pemerintah pusat, jadi wajar saja kalau provinsi masih bergantung pada pemerintah pusat. Sekarang yang penting adalah bagaimana provinsi itu bisa mengembangkan pelayanannya dan pembangunan daerahnya agar bisa dinikmati langsung oleh masyarakat di daerah itu karena pertumbuhan itu harus merata dan bisa dirasakan oleh semua orang hingga ke pelosok negeri,” tutupnya. (gus/prn)
istimewa
MESIN SAMPAH: Mahasiswa Unimed bersama mesin pembersih sampah yang mereka ciptakan untuk membersihkan Danau Toba.
istimewa MESIN SAMPAH: Mahasiswa Unimed bersama mesin pembersih sampah yang mereka ciptakan untuk membersihkan Danau Toba.
SAMOSIR, SUMUTPOS.CO – Danau Toba merupakan danau terbesar di Indonesia bahkan Asia. Penduduk di sana pun banyak menggantungkan hidupnya di danau itu. Sayang, kini airnya sudah sangat tercemar. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM- KC) Tahun 2019, tiga mahasiswa Universitas Negeri Medan (Unimed) menciptakan Toba Lake Trash Cleaners, mesin pengangkut sampah untuk membersihkan danau vulkanik terbesar di dunia itu.
DIDASARI rasa peduli dan prihatin melihat kondisi air Danau Toba yang kian tercemar, Zufran Silaban (Pendidikan Teknik Mesin), Romualdus Justin Harianja (Pendidikan Teknik Mesin), dan Yoseva Sari Tondang (Pendidikan Biologi) di bawah bimbingan Ir Batumahadi Siregar MT, bertekad menciptakan mesin pembersih sampah yang mengapung di permukaan air Danau Toba. Mereka berharap, mesin yang mereka ciptakan benar-benar dapat bermanfaat membersihkan danau kebanggaan masyarakat Sumatera Utara ini dari sampah.
Zulfran selaku ketua menjelaskan, sudah banyak upaya untuk meningkatkan kebersihan perairan Danau Toba. Mulai dari sosialisasi kepada masyarakat, sampai tindakan langsung melakukan kegiatan gotong royong membersihkan sampah. Tetapi upaya tersebut masih kurang maksimal dalam mengatasi masalah yang ada.
Melihat permasalahan tersebut, mereka pun berniat menciptakan alat pengangkut sampah yang mengapung di perairan Danau Toba melalui Program Kreativitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM- KC) Tahun 2019 dan didanai oleh Kemenristekdikti dengan judul Prototipe Toba Lake Trash Cleaners menggunakan Teknologi Trash Skimmers.
Dijelaskannya, Toba Lake Trash Cleaners ini merupakan pengangkut sampah di perairan yang sangat ramah lingkungan, karena alat ini menggunakan teknologi kendaraan listrik. “Alat ini dilengkapi dengan penggerak motor listrik (BLDC) dan energi yang digunakan untuk menggerakkan BLDC ini adalah listrik yang berasal dari baterai Lithium-Ion. Penggunaan BLDC merupakan upaya alternatif yang ramah lingkungan sehingga tidak mengeluarkan polusi berupa asap dan residu minyak,” jelasnya kepada wartawan, Selasa (16/7).
Zulfran memaparkan, prinsip kerja dari teknologi ini cukup sederhana. Sampah-sampah yang mengapung di sungai atau danau akan dikumpulkan, lalu diambil menggunakan conveyor belt dan disimpan di bak penampung. Daya jangkauan untuk membersihkan sampah yang mengapung cukup luas. Berbeda dengan metode pembersihan menggunakan alat berat maupun menggunakan perahu biasa sehingga dengan menggunakan teknologi ini lebih efisien dan efektif.
“Alat ini diharapkan mampu menjadikan lingkungan perairan Danau Toba menjadi lebih bersih, sehingga baik penduduk di sekitar danau, turis asing, maupun ekosistem danau akan merasa lebih nyaman dan dapat hidup lebih sehat,” harapnya.
Zulfran berkeyakinan, keberadaan mesin ciptaan mereka itu nantinya akan sangat berguna dalam menjaga kebersihan Danau Toba dari pencemaran. “Apalagi Danau Toba saat ini dicanangkan pemerintah sebagai salahsatu destinasi wisata kelas dunia. Saya berharap dan yakin nantinya mesin pembersih sampah ini bisa berguna maksimal ke depannya,” pungkas Zulfran. (dvs)
istimewa
Kerbau SILANGIT: Rumpun baru kerbau perah yang dikembangkan BPTU HPT Siborongborong
diberi nama Kerbau Perah Silangit.
istimewa Kerbau SILANGIT: Rumpun baru kerbau perah yang dikembangkan BPTU HPT Siborongborong diberi nama Kerbau Perah Silangit.
JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Kementerian Pertanian melalui salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) di Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) yaitu Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU HPT) Siborongborong bersiap melepas rumpun baru kerbau perah, yang diberi nama Kerbau Perah Silangit.
Kerbau perah yang dikembangkan di UPT tersebut merupakan hasil seleksi alam dari tiga karakteristik rumpun kerbau yaitu Nili-Ravi, Surti, dan Murrah.
Menurut Kepala BPTU HPT Siborongborong Wisnu Adi Saputra, usulan nama kerbau perah Silangit sengaja dipilih untuk mempopulerkan daerah Silangit yang juga wilayah sebaran asli geografis kerbau perah di Sumatera Utara.
Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Sugiono mengatakan, karakteristik kerbau perah Silangit berbeda dengan kerbau perah yang ada di daerah lain karena memiliki gelambir dada, tanduk spiral, dahi seperti memiliki sorban, ujung ekor putih, dan warna tubuh dominan hitam.
“Karakteristik itu merupakan gabungan dari karakter tiga rumpun kerbau yang menjadi keunikan kerbau perah Silangit dan perlu dicatat lebih mendalam oleh tim pengumpul data kualitatif dan kuantitatif,” kata Sugiono, Selasa (18/7).
Sugiono mengatakan, proposal pelepasan kerbau perah ini disusun oleh Silangit Fuad Hasan. Proposal dibuat dengan mengacu pada Permentan Nomor 117 tahun 2014, dan dukungan data dari BPTU HPT Siborongborong.
“Kerbau Perah Silangit ini akan menjadi salah satu rumpun kerbau perah di Indonesia yang menjadi kebanggaan BPTU HPT Siborongborong,” imbuhnya.
Sugiono menyatakan bahwa program pengembangan kerbau perah Silangit perlu disampaikan dalam proposal agar bisa diketahui secara pasti bahwa program pemuliaan ini tidak berhenti setelah mendapatkan SK Menteri Pertanian.
“Rumpun Kerbau perah ini akan menambah daftar ternak lokal yang dilepaskan oleh Kementerian Pertanian. Saat ini Kementan telah melepaskan 12 rumpun baru dan melepas 63 rumpun ternak Lokal,” tandas Sugiono. (cuy/jpnn)