26 C
Medan
Saturday, April 18, 2026
Home Blog Page 5322

Petugas KPPS Meninggal Jadi 486 Orang

no picture
no picture

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Jumlah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia kembali bertambah. Sampai pagi tadi, 486 petugas KPPS dilaporkan meninggal dunia.

“Jumlah petugas KPPS yang wafat 486 orang,” ujar komisioner KPU Evi Novida Ginting di kantor KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Kamis (16/5).

Data tersebut dihimpun Kamis, per pukul 10.00 WIB tadi. Jumlah petugas KPPS yang sakit juga bertambah menjadi 4.849 orang, sehingga total petugas yang sakit dan meninggal sebanyak 5.335 orang.

Jumlah petugas KPPS yang meninggal ini bertambah 17 orang, sedangkan yang sakit bertambah 247 orang. Penambahan ini sejak pendataan pada Jumat (10/5).

Evi mengatakan pihaknya masih melakukan pemberian santunan secara berjenjang. Menurutnya, dana santunan ini diberikan melalui rekening kepada masing-masing keluarga.

“Kita menyerahkannya berjenjang tentu setelah memverifikasi teman-teman kabupaten, tinggal memberitahukan kepada kita dan mengirimkan nama-nama yang akan diberi santunan. Kemudian nanti kalau seluruh administrasi sudah beres, tentu kemudian akan ditransfer melalui rekening,” ujar Evi. (bbs/azw)

Saling Tuding Penyebab Jebloknya Hanura, Wiranto Menyesal Pilih OSO Jadi Ketum

Logo Hanura
Logo Hanura

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Perang urat syaraf terjadi antara Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang (OSO) dengan Wiranto selaku Ketua Dewan Pembinanya. Itu terjadi lantaran partainya tidak lolos masuk parlemen, karena gagal memenuhi parliamentary threshold sebesar 4 persen.

KETUA Dewan Pembina Partai Hanura Wiranto mengaku sedih karena sebagai pendiri partai, ia tak menyangka Hanura tidak lolos ambang batas parlemen.

“Ya kita sedih. 10 tahun mendirikan partai dan sudah dua kali lolos. Saya paling sedih kalau bicara siapa yang sedih,” ujar Wiranto di Hotel Paragon, Jakarta, Kamis (16/5).

Lebih lanjut, mantan Panglima ABRI ini menyebut dirinya telah membuat kesalahan menjadikan OSO sebagai Ketua Umum Hanura.

“Tapi kalau saya didedak terus seakan Pak Wiranto yang salah, ya ýkesalahan saya cuma satu, ya itu menunjuk Pak OSO menjadi ketua umum,” tegas Wiranto.

Wiranto berharap dengan tidak lolosnya Hanura ke parliamentary threshold bisa dijadikan pelajaran. Tidak perlu lagi saling menyalahkan.

“Ini sudah terjadi, tak perlu saling menyalahkan, cukup introspeksi ke depan, nanti bisa diperbaiki,” tuturnya. Terpisah, Ketua DPP Partai Hanura Inas Nasrullah Zubir kecewa dengan Wiranto karena menyesal menunjuk OSO sebagai Ketua Umum Hanura.ý Dia merasa aneh karena Wiranto adalah mantan Panglima TNI yang punya berbagai pertimbangan dalam menunjuk orang.

“Ya kalau dibilang menyesal enggak bisa seperti itu. Pak Wiranto kan mantan Panglima ABRI, jadi sudah punya pertimbangan yang benar. Kenapa bilang menyesal,” ujar Inas kepada JawaPos.com (Grup Sumut Pos).

Inas menambahkan, sebaiknya Wiranto berterima kasih kepada OSO karena telah banyak berkorban demi Hanura. Apalagi Inas membeberkan dahulu Wiranto yang mendesak OSO menjadi menjadi pucuk pimpinan di Hanura.

ý”Jangan pilihan sudah tepat, Wiranto mengatakan menyesal. Berkali-kali dia meminta Pak OSO, tapi Pak OSO menolak. Sampai akhirnya Pak OSO menerima ini seharunya Pak Wiranto berterima kasih,” ungkapnya.

Inas mengatakan, gagalnya Hanura tidak lolos parliamentary threshold ýbukan karena kesalahan OSO. Melainkan karena Wiranto yang tidak punya sikap tegas di Hanura. Dia membela Sarifuddin Suding mendukung pergantian pimpinan Hanura.

Namun akhirnya berubah sikap karena Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) mengesahkan SK Hanura di bawah kepemimpinan OSO.

“Karena Wiranto tidak tegas pada saat Sarifuddin Sudding membuat ulah ketika ada munaslub. Tapi setelah ke sini, Menkumham mengatakan yang sah Pak OSO dia balik badan ke kita,” paparnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Hanura OSOý menyatakan, kekalahan Partai Hanura di Pilpres ini sehingga tidak lolos parliamentary thresholdý di 2019 ini karena ulah Wiranto.

Namun OSO tidak menceritakan lebih rinci apa yang membuat Hanura kalah. Ucapannya ini pun langsung mengundang tawa para peserta yang hadir.

Biar Hanura kalah tapi presidennya menang, jadi ada yg bertanya kenapa Hanura kalah, ya tanya Wiranto bukan saya. Orang yang bikin kalah dia kok,” pungkasnya. (jpc/ala)

Telkomsel Optimis Layani Lonjakan Komunikasi Idul Fitri 2019

Telkomsel Optimis Layani Lonjakan Komunikasi Idul Fitri
Telkomsel Optimis Layani Lonjakan Komunikasi Idul Fitri

SUMATERA, SUMUTPOS.CO – Sebagai upaya memberikan kenyamanan komunikasi terbaik bagi pelanggan pada momen Ramadan dan Idul Fitri (RAFI) tahun ini, Telkomsel telah meningkatkan seluruh elemen jaringan di titik-titik jalur mudik dan pusat keramaian publik. Secara khusus, Telkomsel juga telah membangun 102 Base Transceiver Station (BTS) Multi-band LTE di seluruh Sumatera.

Telkomsel telah mengidentifikasi sebanyak 156 POI (Point of Interest) yang terdapat di Wilayah Sumatera meliputi Bandar Udara, Terminal Bus, Stasiun Kereta Api, Dermaga, Rumah Sakit, Mall, Pasar Tradisional, dan Area Padat Populasi. Untuk memaksimalkan kualitas jaringan pada lokasi-lokasi yang diprediksi akan mengalami lonjakan pada momen RAFI ini, Telkomsel menyiagakan sebanyak unit Compact Mobile Base Station (COMBAT) atau mobile BTS.

Executive Vice President Area Sumatera Telkomsel Paulus Djatmiko mengatakan, “Jutaan masyarakat menjalankan ibadah puasa dan ritual pulang ke kampung halaman pada momen RAFI. Kami berupaya maksimal untuk memberikan kenyamanan komunikasi terbaik bagi para pelanggan melalui berbagai persiapan, baik dari sisi infrastruktur, produk, dan layanan.”

Vice President ICT Network Management Area Sumatera Telkomsel Awal R. Chalik menyampaikan, “RAFI menjadi momen yang menguji kualitas jaringan Telkomsel. Kami perkirakan lonjakan layanan data (payload) terjadi sekitar 5449 terabyte atau naik 76 % dibandingkan RAFI tahun lalu. Kami juga memperkirakan trafik layanan suara lebih dari 415 juta menit dan trafik SMS sekitar 41 juta SMS per hari.

Di jalan utama dan jalan tol Trans Sumatra kekuatan sinyal Telkomsel mencapai 90,34% dengan success call mencapai 98,18%. Untuk memastikan kenyamanan berkomunikasi pelanggan, Telkomsel telah menggelar drive test rutin di berbagai titik dengan kepadatan trafik komunikasi tertinggi dengan total jarak tempuh lebih dari 12.000 kilometer. Ada pun parameter pengukuran yang digunakan adalah kekuatan daya pancar dan daya terima handset (Coverage), tingkat kesuksesan akses jaringan (Call Setup Success Rate/CSSR), tingkat kontinuitas panggilan (Call Completion Success Rate/CCSR), lamanya waktu pembangunan panggilan (Call Setup Time/CST), kualitas suara (Mean Opinion Score/MOS), dan kecepatan akses data (Data Throughput). Secara umum drive test yang dilakukan memberikan hasil yang baik, di mana angka rata-rata CSSR 98,80%, CST 6,58 detik, MOS≥3 95,21%, Data Throughput 7.773 kbps (average).

Vice President Sales and Marketing Area Sumatera Telkomsel Erwin Tanjung mengatakan, “Di samping mempersiapkan jaringan serta infrastruktur yang handal, kami juga menghadirkan posko mudik dan titik layanan di lokasi-lokasi POI yang telah teridentifikasi agar kebutuhan komunikasi pelanggan tetap terjaga. Selain itu, seluruhchannel pelayanan existing Telkomsel juga diharapkan dapat berfungsi maksimal selama RAFI 2019. Sebanyak 116 GraPARI189 Mobile GraPARI17 unit layanan digital self-service MyGraPARI, dan 262 Branch Office (Telkomsel Distribution Center) telah kami siagakan di Wilayah Sumatera. Mitra distributor Telkomsel jugasudah siaga menjaga ketersediaan produk selama momen tahunan ini berlangsung”.

Vice President Business Support Area Sumatera Telkomsel Andry Firdiansyah menambahkan, “Pada momen RAFI ini, kami juga menyebarkan kebahagiaan dengan masyarakat melalui pemberian takjil buka puasa sebanyak 6 ton kurma kepada 3 masjid di Sumatera. Selain itu, kami juga melakukan kegiatan berbagi bersama 5.000 anak yatim dan dhuafa, menggelar sembako murah, pemberian santunan kepada 50 yayasan, edukasi internet baik kepada anak-anak, dan bersih-bersih masjid.”

“Kami berharap Telkomsel dapat selalu memberikan produk, layanan, dan kualias jaringan terbaik kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya dan Sumatera khususnya. Selamat menjalankan ibadah puasa dan selamat menyambut Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriah”, tutup Paulus.

***

Sebarkan Kebahagiaan Ramadhan, Telkomsel dan Rekan Media Bagi 1000 Takjil Gratis

Bagi takjil gratis
Bagi takjil gratis

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Mengedepankan semangat “Sebarkan Kebahagiaan”, Telkomsel Area Sumatera memanfaatkan momentum Ramadhan untuk berbagi kebaikan dan keberkahan dengan menggelar pemberian total 1000 Takjil Gratis kepada masyarakat serentak di 3 kota di sumatera yaitu Medan, Pekanbaru dan Palembang. Pada kegiatan kali ini, Telkomsel pun turut mengajak para rekan media Telkomsel di seluruh sumatera untuk dapat terlibat dalam kegiatan bagi-bagi takjil ini.

General Manager Sales Region Sumbagut  , Ricky E Panggabean mengatakan “Bagi Telkomsel, berbagi dibulan Ramadhan ini merupakan ungkapan syukur atas kepercayaan pelanggan dan masyarakat kepada Telkomsel. Bukan hanya pemberian 1000 Takjil Gratis, Telkomsel juga merayakan bulan yang penuh berkah ini dengan mengadakan berbagai kegiatan keagamaan secara internal maupun eksternal. Kegiatan kali ini juga sedikit berbeda karena kita mengajak para rekan media Telkomsel untuk dapat terlibat, sehingga mereka pun turut merasakan kebahagiaan dan keindahan berbagai bersama”.

Lebih lanjut, Ricky mengatakan bahwa kegiatan pemberian Takjil Gratis oleh MTT dibulan Ramadhan ini melengkapi program CSR Telkomsel sebelumnya antara lain program bersih-bersih masjid se-sumatera, penyerahan bantuan 24 ton kurma ke 20 Mesjid di berbagai wilayah yang mewakili daerah dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia, buka puasa karyawan dengan anak Dhuafa secara serempak di 12 kota Area Sumatera, dan bantuan bagi yayasan/yatim piatu yang membutuhkan di Sumatera.

Telkomsel berharap agenda berbagi dibulan Ramadhan ini bisa menjadi sarana untuk bersilaturahmi sesama karyawan dan masyarakat umum. Harapannya, kita bisa menjalani puasa tahun ini dengan penuh keberkahan bersama Telkomsel. (*)

Keluarga Yustin Surbakti Mengadu ke Ombudsman RI, Abyadi Ingatkan Aparat Hukum Jangan Main-main

ISTIMEWA MENGADU: Keluarga korban didampingi kuasa hukumnya Daniel Simbolon SH dan rekan mengadu ke kantor Ombudsman RI Perwakilan Sumut, Rabu (15/5) lalu.
ISTIMEWA
MENGADU: Keluarga korban didampingi kuasa hukumnya Daniel Simbolon SH dan rekan mengadu ke kantor Ombudsman RI Perwakilan Sumut, Rabu (15/5) lalu.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kepala Ombudsman RI Sumatera Utara Abyadi Siregar meminta aparat penegak hukum tidak main-main dalam menjalankan proses hukum di tengah-tengah masarakat. Apalagi kepercayaan masyarakat terhadap kinerja aparat hukum sekarang ini sudah memudar, sehingga harus dipulihkan dengan kesungguhan aparat penegak hukum itu sendiri dalam menjalankan proses hukum.

DEMIKIAN dikatakan Abyadi Siregar saat menerima pengaduan keluarga Yustin Surbakti alias Pio, warga Jalan Djamin Ginting, Pancurbatu.

Pio merupakan korban pengeroyokan dan penganiayaan sekelompok orang menggunakan berbagai senjata tajam, panah dan lainnya beberapa waktu lalu.

Akibat peristiwa itu, korban mengalami luka bacok disekujur tubuhnya. Bukan itu saja, tangan korban hampir putus. Keluarga korban didampingi kuasa hukumnya, Daniel Simbolon SH, Bahota Silaban SH MH dan Erikson P Simangunsong SH.

Para kuasa hukum dari kantor hukum Daniel Simbolon SH dan Rekan. Mereka diterima langsung Abyadi Siregar di kantor Ombudsman RI perwakilan Sumut Jalan Sei Besitang, Medan, Rabu (15/5).

Dalam pengaduannya, keluarga Yustin Surbakti meminta Ombusdman RI Sumut membantu mereka dalam mencari keadilan terhadap peristiwa yang dialami Pio.

Pasalnya, keluarga merasa tidak mendapatkan keadilan dalam proses hukum, baik di kepolisian maupu dikejaksaan.

Selain para pelaku pengeroyokan dan penganiayaan yang sampai sekarang ini masih bebas berkeliaran, keluarga juga merasa dijadikan korban kepentingan hukum. Sebab, Pio saat ini malah dijadikan tersangka.

Menurut penjelasan kuasa hukum keluarga korban, Daniel Simbolon SH, ada sekitar 15 orang pelaku pengeroyokan yang terjadi pada November lalu.

Namun sampai saat ini, hanya 3 orang pelaku yang ditangkap dan menjalani proses hukum. Sedangkan lainnya, masih bebas berkeliaran.

Hal ini pernah ditanyakan kuasa hukum korban kepada juru periksa (juper) Polrestabes Medan, Brigadir Brata Yudha Sagala. Juper mengatakan, pelaku lainnya masih DPO.

Tapi sampai sekarang, lanjut Daniel, para pelaku lainnya terlihat bebas berkeliaran. Seolah-olah mereka kebal hukum.

Hal ini membuat keluarga korban semakin trauma dan ketakutan. Mereka khawatir, para pelaku yang ‘tidak tersentuh’ hukum itu kembali datang.

Dalam kesempatan sama, kuasa hukum korban, Daniel Simbolon, SH juga mengadukan sikap jaksa yang terkesan tidak memberikan rasa adil terhadap Pio selama proses persidangan.

Selain berupaya menyudutkan saksi-saksi dari pelapor dan saksi dari korban, jaksa juga tidak menghadirkan rekaman cctv yang merupakan bukti kuat peristiwa pengeroyokan dan penganiayaan itu. (adz)

Sihar Sitorus: Amanah Ini akan Saya Jaga!

Sihar Sitorus dalam acara buka bersama awak media cetak, elektronik, radio, televisi, dan online, di Medan, Kamis (16/5).
Sihar Sitorus dalam acara buka bersama awak media cetak, elektronik, radio, televisi, dan online, di Medan, Kamis (16/5).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Terpilih sebagai caleg DPR RI dari Dapil Sumut Dua dari PDIP, Sihar PH Sitorus, mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang mempercayainya sebagai wakil rakyat.

“Terima kasih banyak untuk masyarakat yang mempercayai saya. Amanah ini akan terus saya jaga. Diskusi-diskusi kita dalam pertemuan-pertemuan kita selama ini akan terus saya perjuangkan,” kata Sihar yang juga pengusaha asal Sumatera Utara, dalam acara buka bersama awak media cetak, elektronik, radio, televisi, dan online, di Medan, Kamis (16/5).

Sihar Sitorus melenggang lolos ke senayan dengan meraup suara tertinggi di Sumut (sesuai rekap KPU Sumut), dengan meraih 185.128 suara dari dapil 2 Sumut. Bahkan secara nasional, suara Sihar Sitorus menempati posisi ke-18 dan posisi ke-8 di internal calon legislatif dari PDI Perjuangan.

“Perolehan suara tersebut tak lain karena kerja keras seluruh struktur Tim Sukses pemenangan dari semua tingkatan. Juga berkat blusukan-blusukan yang saya lakukan di 19 Kabupaten/Kota di Sumut,” kata Sihar.

Ia mengatakan, dirinya melakukan blusukan selama tujuh bulan, dan menempuh hingga 20 ribu kilometer. Durasi kunjungannya pun ada yang berulang kali, seperti di daerah Tobasa, Tapanuli Utara, dan Labuhanbaturaya.

“Daerah-daerah yang saya kunjungi tidak hanya di perkotaan. Malah daerah yang saya kunjungi berulangkali adalah daerah pedesaan, yang harus ditempuh dengan angkutan Rakyat Banting Tulang (RBT). Tak jarang saya menginap di rumah penduduk karena sudah kemalaman,” cetusnya sembari tersenyum.

Sihar yang mengakui dulunya termasuk anak manja, mengakui pengalaman menempuh perjalanan hingga ribuan kilometer itu, justru jadi pelajaran dan melatih tubuhnya agar tidak kaget lagi jika nantinya blusukan ke masyarakat.

“Terimakasih untuk dukungan selama ini. Baik dari masyarakat maupun media. Saya harapkan dukungan untuk lima tahun ke depan. Agar aspirasi terkait peningkatan kesejahteraan masyarakat tegas terwakili. Ini menjadi momentum untuk ikut menentukan arah pembangunan,” cetusnya.

Sihar menegaskan, ketika dirinya sudah bertugas nanti di DPR RI, ia akan memperioritaskan pengembangan daerah-daerah tertinggal yang pernah dikunjunginya. “Saat blusukan kemarin, banyak masukan yang kita terima dari masyarakat. Masukan-masukan inilah nantinya yang akan diperjuangkan,” katanya.

Sementara itu, Ustadz Syahrul Effendi, caleg DPRD Sumut dari PDIP yang lolos ke kursi DPRD Sumut dari daerah Tabagsel, mengatakan PDIP mengucapkan terima kasih kepada Sihar Sitorus, yang telah menyumbangkan suara yang cukup signifikan untuk PDIP.

“PDIP selalu membawa nilai-nilai kebangsaan dalam kiprahnya, agar bangsa ini jangan tercabik-cabik,” kata caleg yang meraih 45 ribu suara dari Tabagsel ini.

Untuk itu, ia mengimbau seluruh pihak agar merekatkan kembali tali persatuan di antara masyarakat. (rel/mea)

Kasus Korupsi Pembanguan Tugu Mejuah-juah Karo, Saksi Ahli Akui Bangunan Bermasalah

AGUSMAN/SUMUT POS SAKSI AHLI: Indra Jaya Pandia, saksi ahli konstruksi memberikan penjelasan terkait korupsi pembangunan Tugu Mejuah-juah di persidangan, Kamis (16/5).
AGUSMAN/SUMUT POS
SAKSI AHLI: Indra Jaya Pandia, saksi ahli konstruksi memberikan penjelasan terkait korupsi pembangunan Tugu Mejuah-juah di persidangan, Kamis (16/5).

KARO, SUMUTPOS.CO – Bangunan Tugu Mejuah-juah di Kabupaten Karo bermasalah. Itu terungkap dari saksi ahli konstruksi bangunan yang dihadirkan dalam sidang lanjutan korupsi Tugu Mejuah-juah di ruang Cakra 3 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Kamis (16/5). Sidang menghadirkan terdakwa Roy Hefry Simorangkir.

Dalam keterangannya, Dosen Fakultas Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara (USU) Ir Indra Jaya Pandia, MT mengatakan, ditemukan kesalahan dalam pembangunan Tugu Mejuah-juah.

“Setelah kami teliti sebanyak dua kali, memang kami lihat bangunan Tugu (Mejuah-juah) tersebut bermasalah. Bangunan pondasi tidak sesuai kedalaman. Kemudian campuran semen tidak sesuai. Kualitas Beton SNI dibawah K100,” ungkap saksi di hadapan Majelis hakim yang diketuai Achmad Sayuti.

Seharusnya, kata saksi, untuk ukuran pembangunan seperti itu, dibutuhkan beton dengan kualitas minimum K225. Kemudian, bangunan yang tidak sesuai dengan kontrak tersebut mulai rubuh diterpa angin.

“Bangunan ada yang rubuh. Batu yang dipakai juga tidak sampai K175. Batunya sesuai aturan seharusnya 7 cm, tapi ini tidak sampai segitu,” jelasnya.

Selain itu, kata saksi lagi, angin menjadi faktor bangunan gampang roboh bila salah perhitungan. Apalagi katanya, kondisi cuaca di Kabupaten Karo cenderung ekstrim mengingat di atas permukaan laut.

“Kami kemarin minta sama dinas terkait, mana desain kontruksinya. Tapi mereka tidak bisa menunjukkan. Di dalam kontrak tidak ada gambar kekuatan angin. Akibat kondisi horizontal ini, bangunan berpengaruh terhadap angin,” pungkasnya.

Usai persidangan, Indra Jaya Pandia yang coba diwawancarai terkait keterangannya di persidangan, enggan berkomentar.

“Enggak…enggak…enggak mau aku,” ucapnya yang buru-buru meninggalkan wartawan.

Terkait penjelasan saksi ahli tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dapot Manurung mengatakan, bahwa terdapat kesalahan dalam pelaksanaan. Dimana mutu beton pondasi juga kedalaman yang tidak sesuai sfek (spesifikasi) dan tidak sesuai kontrak.

“Ahli juga menyayangkan tidak adanya prakiraan dari dinas terkait perencanaan dalam mengukur kekuatan angin yang seharusnya ada dibuat design ketika membuat bangunan di tempat ketinggian. Dengan kata lain bangunan Tugu Mejuah-juah rubuh akibat kesalahan teknis (konstruksi),” tandas Kasi Pidsus Kejari Karo ini.

Sebelumnya dalam surat dakwaan, terdakwa Roy Hefry Simorangkir, sebagai rekanan dalam proyek pembangunan Tugu Mejuah-juah, telah menayalahgunakan wewenangnya dengan melakukan perbuatan korupsi yang merugikan keuangan negara sebesar Rp605 juta lebih.

Kemudian, dana yang dianggarkan untuk pembangunan Tugu Mejuah-juah sebesar Rp700 juta sebagaimana yang sudah disahkan pada Mei 2016. Dalam pengerjaan proyek itu, terdapat kekurangan volume pengerjaan.

Roy Hefry Simorangkir didakwa melakukan tindak pidana dalam Pasal 2 ayat 1 Jo Pasal 18 ayat 1 huruf b Undang-undang RI No 31 Tahun 199 Tentang Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU RI No 20 Tahun 2001 tentang perubahan UU RI No 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHPidana. (man/ala)

Terdakwa Pembunuhan SPG Popok Bayi Dituntut 15 Tahun, Ibu Korban Minta Seumur Hidup

Sidang pembunuhan SPG popok bayi.
Sidang pembunuhan SPG popok bayi.

BINJAI, SUMUTPOS.CO – Sofyan Wahid (39), terdakwa pembunuhan Sales Promotion Girl (SPG) popok bayi, Indri Lestari (40) dituntut 15 tahun penjara. Tuntutan yang dibacakan Benny Surbakti ini mendapat protes dari keluarga korban yang sejak awal mengikuti jalannya persidangan.

“Memutuskan, menyatakan terdakwa Sofyan Wahid telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana menghilangkan nyawa orang lain sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 338 KUHPidana sebagaimana dalam dakwan subsidair penuntut umum,” jelas Benny dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Fauzul Hamdi di Ruang Cakra, Kamis (16/5).

“Menjatuhkan pidana penjara terhadap Terdakwa Sofyan Wahid selama 15 tahun penjara dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan. Dengan perintah terdakwa tetap ditahan,” sambungnya.

Pekan depan, Sofyan akan membacakan pembelaannya di hadapan majelis hakim dan JPU.

Sementara, Ibu Korban, Zuraida menyesalkan sekaligus kecewa terhadap tuntutan yang dijatuhkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nova. Bahkan mereka menunjukkan sikap kecewanya dengan memburu Sofyan menjadi sasaran empuk ketika terdakwa digiring kembali ke Lapas dari PN Binjai.

Mereka meluapkan emosinya karena kesal mendengar tuntutan dari JPU Nova hanya 15 tahun kurungan penjara.

“Seadil-adilnya dijatuhkan hukuman kepada Sofyan Wahid. Kalau kami dengar 15 tahun, kami merasa belum pantas hukumannya. Karena dia itu pembunuh yang kejam. Pembunuh yang sadis. Di binjai, Indonesia ini dia yang paling sadis. Biadap,” ujar Zuraida di PN Binjai.

Sang ibu merasa kehilangan buah hatinya yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga. Korban meninggalkan seorang anak.

“15 tahun tuntutannya kami enggak terima. Mungkin-mungkin anak cucu kami bisa dibunuhnya lagi. Mengulang lagi kalau terlalu ringan hukumannya. Kami minta seumur hidup, sesuai dengan perbuatannya. Jangan seenaknya menghilangkan nyawa orang. Wanita yang dihilangkan nyawanya, bukan imbangnya,” tandas Zuraida.

Diketahui, korban ditemukan tewas bersimbah darah dalam keadaan bugil di Perumahan Royal Wahidin Blok E, Jalan Danau Batur, Kelurahan Sumbermulyo Rejo, Binjai Timur, Minggu (21/10/2018).

Hasil autopsi, jenazah korban yang merupakan warga Jalan T Amir Hamzah, Kelurahan Pahlawan, Binjai Utara ini ditemukan luka tusukan di sekujur tubuhnya.(ted/ala)

Jiwa Terancam, Laporan Warga Tanjung Selamat Dicueki Polisi

bambang/SUMUT POS Gelbok Simbolon
bambang/SUMUT POS
Gelbok Simbolon

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Bagi Gelbok Simbolon (55), Polisi sudah bukan tempatnya mengadu. Pasalnya, warga Jalan Bunga Sakura, Gang Tugu, Nomor 12 Kelurahan Tanjung Selamat, Kecamatan Medan Tuntungan ini sudah berkali-kali diancam dan dianiaya. Namun, sekali pun pengaduannya ke Polsek Delitua tidak digubris alias dicueki.

DIAKUI korban, ia sudah enam kali mendapat ancaman dan penganiayaan dari kumpulan pemuda yang diduga pengguna narkoba. Kisah Gelbok ini pun akhirnya viral setelah dia kembali membuat laporan dengan kondisi wajah penuh darah dan lebam akibat penganiayaa yang dialaminya.

Informasi diperoleh, kisah aniaya yang dialami Gelbok telah berlangsung sejak empat bulan lalu. Selama itu, menurutnya, respon dari pihak kepolisian terkait laporan yang dilayangkannya tak digubris. Bahkan, pelaku yang memukulnya masih berkeliaran.

Diketahui, enam kali laporan aniaya yang dialami Gelbok sudah dilaporkan ke Polsek Delitua, Polrestabes Medan bahkan ke Polda Sumut.

Gelbok mengatakan, awal mula dirinya mendapat intimidasi saat petugas kepolisian, TNI dan BNN melakukan penggerebekan di depan rumahnya.

Di sana petugas berhasil menemukan alat hisap sabu. Namun tak berhasil menangkap para pelaku penyalahguna narkotika karena tidak terbukti menggunakan sabu.

Para pelaku langsung merasa peristiwa penggerebekan itu karena aduan Gelbok ke polisi.

“Kejadiannya kalau saya tidak salah, akhir tahun 2018 mereka itu pernah digrebek polisi. Mulai dari situ mereka mulai benci sama saya. Di kira kami kibus. Dugaan saya mereka nilai kami kibus. Memang rumah pelaku dan kami berhadapan,” ujarnya.

Diungkap Gelbok, ancaman dan kekerasan mulai terjadi silih berganti. Pada 4 Januari 2019, Gelbok diancam dengan parang.

Kemudian, esok harinya rumah Gelbok dilempari batu besar oleh tiga pelaku.

Polisi sempat mempertemukan Gelbok dan pelaku berinisial MY yang berhasil diringkus warga. Namun, polisi diduga melepaskan pelaku dengan alasan rumah tidak rusak parah.

Setelah itu, ancaman datang pada 21 Maret 2019. Pelaku berinisial RS mendatangkan gerombolan preman ke rumah Gelbok.

“Datanglah preman enam orang, baru dilempari rumah kami mengakibatkan terjadilah penganiayaan pinggang saya dan istri saya. Pakai batu dilempari. Padahal saya tidak ada melakukan apa-apa,” lirihnya.

Selanjutnya, 10 April 2019, Gelbok kembali mendapatkan ancaman dari pelaku berinisial AG dengan membawa celurit. Tak hanya itu, rumah Gelbok pun dilempari batu besar.

Kasus penganiayaan itu kemudian dilaporkan Gelbok ke Polsek Delitua. Sayang, saat itu tak ada penanganan yang tegas oleh petugas.

Lagi-lagi penganiayaan terhadap Gelbok terjadi. Peristiwa terjadi 10 Mei 2019. Sebanyak 15 pelaku melempari rumah korban dengan batu bata. Lemparan itu mengakibatkan dada, dan kaki Gelbok memar.

Gelbok pun membuat laporan ke Polda Sumut dengan nomor STPL/676/VI/Sumut/SPKTIII/10 Mei 2019. Teranyar, Selasa 14 Mei 2019, Gelbok mengalami pendarahan di bagian kepala dan luka memar di bagian badan.

Gelbok mendapatkan luka hantaman batang besi dan gagang cangkul. Padahal, saat itu Gelbok sedang membersihkan halaman di sebelah rumah. Dalam keadaan berlumuran darah, Gelbok melaporkan kejadian itu ke Polsek Delitua.

Namun, polisi tidak memberikan penanganan yang cepat. Laporan terakhir di Polsek Delitua dengan nomor STPL/621/V/2019/SPKT/Sekta Delta 14 Mei 2019.

Gelbok mengungkapkan, warga sudah resah dengan keberadaan kumpulan pemuda yang diduga mengkonsumsi narkoba. Warga juga sering menghubungi polisi saat kumpulan pemuda itu membuat keonaran.

“Kalau polisi bertindak tegas kan nggak garang mereka. Ini sudah enam kali saya lapor ke polisi tak ditindak juga, apa nggak semakin menjadi-jadi orang itu,” ungkapnya kecewa.

Kisah yang dialami Gelbok Simbolon ini pun diunggah oleh pemilik akun Lidoiwanto Simbolon. Tidak tanggung-tanggung, unggahan tersebut berhasil menarik perhatian warga net.

Hal tersebut dibuktikan dengan 7,2 ribu kali postingannya dibagikan dan mendapat komentar sebanyak 5,3 ribu serta mendapatkan 2,5 ribu like.

Sementara itu, Kapolsek Delitua Kompol Efianto yang dikonfirmasi terkait hal ini melalui nomor selulernya tidak memberikan respon. (dvs/ala)

13 Caleg Muda Isi Kursi DPRD Medan

Ayo memilih
Ayo memilih

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Dari hasil pemilu 17 April 2019 yang lalu, wajah-wajah calon legislatif (caleg) muda yang mewakili kaum milenial, akan banyak memenuhi kursi – kursi dewan terhormat sebagai wakil rakyat. Ada 13 caleg muda terpilih yang duduk di kursi DPRD Kota Medan.

Rata-rata para caleg muda terpilih itu menyebutkan visi dan misi khas anak muda untuk melakukan perubahan dan perencanaan dengan memberikan gebrakan-gebrakan besar. Semangat muda mereka pun diharapkan masyarakat luas sebagai harapan dan semangat baru dalam memberikan perubahan dikota Medan.

Salah satunya adalah caleg DPRD Medan dari PKS, yakni Syaiful Ramadhan. Syaiful menyebutkan bahwa dirinya berjanji akan dengan sepenuh hati mengurus kepentingan rakyat Kota Medan, khususnya masyarakat pinggiran sungai.

“Masyarakat sekitar sungai di Kota Medan itu jumlahnya sangat besar, saya termasuk di dalamnya. Saya sudah programkan itu saat berkampanye. Saya akan fokus dengan kesejahteraan masyarakat sekitar sungai. Saya juga akan programkan sungai menjadi lebih ramah lingkungan. Sungai di Medan akan kita kembalikan pada kelestariannya dan akan dijadikan sebagai objek wisata di Kota Medan,” terangnya.

Selain itu, sebagai tokoh muda yang baru memasuki usia kepala tiga, Syaiful menyebutkan bahwa dirinya telah memiliki beberapa program yang dinilainya sangat memajukan kaum milenial. Kabid Humas PKS Medan ini menuturkan akan mengajukan Digital Planner menjadi salah satu program di Pemko Medan.

“Sebagai praktisi internet, saya akan ajukan itu ke Pemko Medan. Saat ini dunia kita sudah dunia digital, anak-anak muda di Kota Medan harus difasilitasi oleh pengetahuan seperti itu untuk punya daya saing dan agar kaum milenial di Kota Medan bisa lebih maju dan berkembang,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, pengamat sosial politik dari Universitas Sumatera Utara, Dr. Warjio mengatakan, bahwa pilihan masyarakat yang jatuh kepada para kaum milenial bukanlah tanpa alasan. Pasalnya, masyarakat dinilai sudah cukup jenuh dengan kinerja para caleg Incumbent yang dirasa tidak maksimal dalam memberikan perubahan dan kemajuan bagi Kota Medan untuk bisa lebih berkembang.

“Ditinjau dari sisi dukungan, tentu ada orientasi perubahan dari anggota DPRD yang lama ke orang-orang baru yang berusia cukup muda. Artinya, masyarakat ingin adanya perubahan dan perubahan itu mereka harapkan dari para caleg-caleg baru yang relatif cukup muda yang diharapkan punya semangat tinggi dalam memperjuangkan aspirasi rakyat,” ucap Dr. Warjio kepada Sumut Pos, Kamis (16/5).

Namun, kata Warjio, bila dilihat dari sisi pengalaman, anggota DPRD baru yang berusia muda dinilai masih sangat minim pengalaman. Para Caleg muda terpilih harus banyak belajar untuk bisa memberikan kontribusi kepada pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Kota Medan.

“Mereka masih perlu belajar lebih banyak untuk bisa menjawab dan memberi respon terhadap keluhan, aspirasi dan harapan masyarakat. Masyarakat juga percaya bahwa para caleg muda ini punya semangat untuk bisa belajar dan menyesuaikan diri dengan mereka yang berpengalaman. Mau tidak mau, di balik minimnya pengalaman, mereka harus segera memberikan kontribusi kepada masyarakat yang telah memberikan amanah kepada mereka,” pungkasnya. (mag-1/ila)