24 C
Medan
Saturday, January 3, 2026
Home Blog Page 5360

Golput Dianggap Segmen Potensial, Parpol Turut Andil Sosialisasi Tata Cara Pencoblosan

Ayo memilih
Ayo memilih

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Potensi masyarakat untuk tidak memberikan hak suaranya pada Pemilu serentak 2019 nanti, diperkirakan masih besar. Kondisi ini diperkirakan karena masih minimnya sosialisasi yang diberikan kepada masyarakat. Karenanya, Partai Garuda, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Partai Berkarya akan menjadikan ini menjadi peluang untuk mendulang suara.

Dalam menekan jumlah masyarakat yang tidak memberikan suara pada Pemilu atau sering disebut dengan istilah Golput atau golongan putih, bukan hanya menjadi tanggung jawab Komisi Pemilihan Umum (KPU) semata. Partai politik dan calon legislatif sebagai peserta Pemilu 2019, juga harus ikut ambil bagian dalam menyosialisasikan tata cara pencoblosan surat suara. Karena, jika informasi cara mencoblos tidak sampai hingga tingkat terbawah, akan semakin melebarkan angka golput.

“Kalau disebut rugi, ya tentu kami rugi kalau masyarakat golput. Bukan cuma kami, semua partai juga akan rugi. Saat ini masyarakat cenderung memilih parpol yang mendukung calon presiden yang akan dia pilih. Sedangkan partai kami, Partai Garuda bukanlah partai yang mendukung salah satu calon presiden itu. Sedangkan untuk pemilu kali ini kontestasinya adalah Pilpres, jelas kami tidak diuntungkan karena hal itu di samping partai kami juga adalah partai baru yang tentu kurang dikenal,” kata Ketua DPD Partai Garuda Sumut, Irwansyah kepada Sumut Pos, Senin (1/4).

Namun, kata Irwansyah, partainya optimis dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemilu kali ini, agar tidak golput dan memberikan suaranya kepada partainya. “Cara meningkatkannya ya dengan terus bersosialisasi secara ‘door to door’, terus perkenalkan diri kita beserta visi dan misi yang pro rakyat. Selain itu, kita juga harus menyampaikan bahwa kalau mereka tidak mau menggunakan hak suaranya dengan memilih orang-orang baik, maka besar kemungkinan orang-orang yang tidak baiklah yang akan menjadi wakil mereka,” tuturnya.

Senada dengan Partai Garuda, PSI pun menilai, masyarakat golput menjadi segmen yang potensial bagi mereka. ketua DPD PSI, Fuad Ginting menilai, kalau banyak masyarakat yang golput, tentu itu tidak baik. Bangsa ini rugi, sudah keluar biaya banyak untuk menyelenggarakan Pemilu tapi tidak dipergunakan. “Tapi sekarang mari kita lihat dari sisi lain. Dengan masih adanya potensi masyarakat yang golput, itu artinya kita masih punya tugas untuk menjadikan mereka turut berpartisipasi dalam hal ini. Dan momen itu juga akan kita jadikan sebagai langkah baik untuk menjadikan mereka sebagai pemilih partai kita. Kami akan terus bersosialisasi untuk itu disaat pemilu yang sudah sangat dekat ini,” jelas Fuad Ginting kepada Sumut Pos.

Setali tiga uang, Partai Berkarya juga akan bekerja ekstra keras untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam Pemilu kali ini, sekaligus bisa meraih suara dari segmen ini. “Ada yang bilang Golput itu adalah pilihan. Itu jelas pandangan yang salah. Yang benar itu ya harus memilih,” kata Ketua DPW Partai Berkarya Sumut Rajamin Sirait.

Kalau satu masyarakat golput, lanjutnya, maka dia tidak turut dalam mengubah nasib bangsa dan secara tidak langsung dia sedang menggantungkan nasib bangsa ini dengan masyarakat lain yang memilih. Padahal dia sendiri punya hak untuk mengubah nasib bangsa. “Itulah yang akan kita sampaikan kepada masyarakat dengan sosialisasi secara ‘door to door’. Karena jujur saja, kalau bicara soal rugi, bukan hanya partai Berkarya, semua partai politik pasti akan merasakan kerugian yang sama kalau masyarakat memilih Golput,” tutupnya.

Wakil Ketua PDI Perjuangan Sumut, Djumiran Abdi juga mengatakan, partainya akan berusaha menekan angka golput. Hingga kini, pihaknya melalui seluruh caleg sedang gencar melakukan sosialisasi, terutama tentang tata cara pencoblosan surat suara. “Supaya masyarakat tahu memilih. Rata-rata caleg PDI Perjuangan membuat contoh surat suara. Lalu disosialisasikan kepada masyarakat supaya mereka paham,” ujarnya menjawab Sumut Pos, Senin (1/4).

PDI Perjuangan sependapat dengan asumsi banyak pihak, salah satu faktor terjadi golput lantaran rendahnya sosialisasi tentang cara pencoblosan. “Potensi golput akan besar jika kita tidak rajin untuk turun secara door to door. Jadi memang dalam waktu yang singkat ini, kami jalan terus melakukan sosialisasi tata cara pencoblosan, termasuk mengajak untuk datang ke tempat pemungutan suara (TPS) pada 17 April nanti,” katanya.

Tak hanya potensi golput, bilamana masyarakat menggunakan hak pilih namun karena minimnya pemahaman tata cara pencoblosan, bisa saja salah dalam menentukan pilihan. “Iya, jadinya bisa keliru dan berpotensi salah pilih. Makanya kami pun proaktif akan potensi ini,” ujarnya sembari mengakui bahwa kinerja penyelenggara pemilu tentang hal ini, sudah cukup maksimal. “KPU dan Bawaslu kami rasa sudah maksimal memberi sosialisasi mengenai ini. Namun tentu belum menjangkau sampai kalangan bawah, makanya perlu kita bantu kerja mereka menyampaikan ke masyarakat,” pungkasnya.

Wakil Ketua Partai Gerindra Sumut, Sugiat Santoso juga berpandangan serupa. Menurutnya, KPU sudah optimal hingga sekarang menyosialisasikan semua tahapan pemilu terutama tata cara pencoblosan surat suara. “Masalah ini sebenarnya menjadi tugas setiap aktivis demokrasi, baik formal ataupun informal. Inikan penting untuk kecerdasan politik rakyat hingga ketingkat akar rumput. Dan kami melihat, kinerja KPU di semua tingkatan sudah cukup baik dalam hal ini,” katanya.

Diakui dia, problem demokrasi di Indonesia angka golput semakin membesar. Itu menunjukkan seluruh stakeholder termasuk elemen masyarakat tidak melakukan peningkatan dari sisi kuantitatif jumlah pemilih. “Sekali lagi kita belum bicara kualitatif demokrasi, sebab aspek kualitatifnya saja masih bermasalah. Oleh karena itu pendidikan politik adalah keharusan bagi setiap pegiat demokrasi, baik formal ataupun informal,” ujarnya.

Gerindra sendiri, imbuh Sugiat, sudah ikut melalui seluruh caleg menyosialisasikan tata cara pencoblosan surat suara kepada masyarakat, bahkan kegiatan itu dilakukan secara door to door. “Sebagai parpol kami punya kepentingan agar pemilih datang ke TPS. Kami sudah solidkan infrastruktur sampai ketingkat anak ranting, door to door menyampaikan kepada warga dan pemilih untuk datang ke TPS pada 17 April nanti. Termasuk juga bagaimana cara pencoblosan selalu disosialisasikan semua caleg kami,” katanya.

Ia menambahkan, dalam hal sosialisasi tata cara pencoblosan ini, tidak semata menjadi tugas dan kewenangan penyelenggara pemilu saja. Melainkan parpol dan caleg sebagai peserta pemilu turut andil membantu pekerjaan KPU dan Bawaslu. “Termasuk juga media massa harus gencar menyosialisasikan hal ini, sehingga publik mendapat pemahaman dan dengan kesadarannya mau menggunakan hak pilih. Dan KPU menurut kami sudah bekerja maksimal sejauh ini,” katanya.

Ketua Partai Nasional Demokrat (NasDem) Sumut, Iskandar mengatakan pihaknya sudah sangat siap menghadapi Pemilu 2019 dimana salah satunya ikut berkontribusi dalam menyosialisasikan tahapan pemilihan kepada masyarakat. “Untuk cara pencoblosan surat suara misalnya, selain caleg, struktural pengurus DPW NasDem Sumut juga ikut menyosialisasikannya,” katanya.

Menurut dia, pihak penyelenggara pemilu pasti sudah bekerja ekstra menyosialisasikan tata cara pencoblosan surat suara. Untuk itu sebagai unsur dari Pemilu, pihaknya sudah ikut andil dalam hal menyampaikan tahapan dimaksud kepada masyarakat. “Apalagi yang kita tahu, dengan banyaknya surat suara yang akan dihitung pada hari pencoblosan nanti, tentu kerja dari perangkat KPU menjadi lebih ekstra. Salah satu hal untuk mendukung kerja mereka, kami pun sudah siapkan saksi di semua TPS,” katanya. (mag-1/prn)

Robi Anugrah Marpaung: Terpanggil Marsipature Hutanabe

Foto: Istimewa Caleg DPR-RI dari Partai Golkar Dapil Sumut I, Robi Anugrah Marpaung, SH, MH, yang terpanggil membangun Sumut.
Foto: Istimewa
Caleg DPR-RI dari Partai Golkar Dapil Sumut I, Robi Anugrah Marpaung, SH, MH (kanan) yang terpanggil membangun Sumut.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Putra asli Medan, Robi Anugrah Marpaung SH MH maju sebagai Calon Anggota Legislatif (Caleg) DPR-RI periode 2019-2024. Caleg nomor urut 4 dari Partai Golkar ini merasa terpanggil untuk membangun Sumatera Utara (Sumut) dengan mengusung motto, Marsipature Hutanabe (bersama membangun daerah).

Pria 39 tahun ini mewakili Dapil Sumut I (Kota Medan, Kabupaten Deliserdang, Kabupaten Serdangbedagai, dan kota Tebingtinggi), memiliki 4 program yang menjadi senjata pamungkasnya.

“Pertama, memberikan jaminan perlindungan hukum. Bagaimana caranya? Selain memberikan konsultasi hukum bagi masyarakat juga mendidik masyarakat untuk bisa tampil membela dirinya. Program ini sudah saya lakukan sejak saya mengabdi di LBH Medan tahun 2004, sampai sekarang saya mempunyai kantor sendiri, RAM Law Office,” ungkapnya saat ditemui Sumut Pos di Posko Pemenangannya Jalan Sakti Lubis, Medan, Jumat (29/3).

Kemudian lanjut Robi, memberikan jaminan kesehatan. Program unggulan keduanya ini, mendorong pemerintah (BPJS) untuk menyisihkan anggaran yang ada untuk kebutuhan rumah tangga.

“Karena kalau orang sudah sakit, apalagi kepala rumah tangga pasti pekerjaannya terganggu. Kehidupan rumah tangganya terganggu. Oleh karena itu, kalau saya terpilih dari anggaran yang ada di DPR, saya akan mengalokasikan anggaran itu untuk modal jaminan rumah tangga,” katanya.

Caleg DPR-RI, Robi Anugrah Marpaung SH, MH.

Ketiga, katanya, memberikan beasiswa bagi masyarakat. Dia menjelaskan program ini penting untuk membentuk karakter masyarakat di dunia pendidikan. “Bagaimana keluarga itu mengangkat derajatnya kalau dia tidak berpendidikan. Sementara ada yang mau melanjutkan ke perguruan tinggi tapi terhalang karna fasilitas pendidikan orang tua,” terang Robi.

“Bukan karena tidak mampu, saya ini anak seorang tukang jahit dan pedagang jajan-jananan, kalau dihitung secara matematika tidak mungkin dia menguliahkan anak-anaknya,” sambungnya.

Kemudian lanjut pria yang telah 14 tahun menetap di Jakarta ini, program keempatnya yakni memberikan modal kerja. “Sekarang masalah pemerintah kita adalah pengangguran. Bayangkan pengangguran terdidik sekarang bukan sedikit, tujuh juta. Oleh karna itu, kalau saya duduk menjadi anggota DPR, program saya meransang generasi-generasi penerus ini untuk membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya dengan keahlian, kemampuannya sehingga bisa merekrut orang banyak. Contohnya saya. Saya ini berkantor di Jakarta lebih 9 tahun, staf saya di sana ada 8 orang yang semuanya anak Medan,” jelasnya.

Artinya lanjutnya, usaha sekecil apapun bila dilandasi dengan niat yang tulus niscaya akan berhasil. “Usaha tidak akan mengkhianati hasil,” tegasnya.

Kembali Robi mengingatkan, keempat program ini akan terlaksana bila masyarakat pada Dapil Sumut I memilihnya untuk menjadi anggota DPR-RI. “Inilah 4 program kerja saya, yang insyaallah terpilih,” ucapnya.

Sementara, nomor 4 sendiri bagi Robi cukup unik. Pasalnya, selain partai yang mengusungnya nomor 4, namanya juga nomor urut 4, yang mempunyai 4 program unggulan.

“Ayo bersama-sama datang ke TPS masing-masing pada tanggal 17 April 2019, khusus kertas warna kuning untuk DPR RI. Lihat partai nomor 4 Partai Golkar, coblos dan menangkan nomor urut 4 atas nama Robi Anugrah Marpaung SH,MH,” pungkasnya. (man/azw)

Sepekan Birukan Sulawesi, Jokowi Menang dan NasDem Tiga Besar

Foto: Istimewa Partai NasDem Gelar Kampanye Akbar di Sulsel.
Foto: Istimewa
Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, saat kampanye akbar di Sulsel.

SULSEL, SUMUTPOS.CO – Memasuki masa kampanye terbuka, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh melakukan safari kampanye keliling Sulawesi. Selama sepekan sejak Sabtu (23/3) hingga Minggu (31/3), NasDem membirukan seluruh Celebes.

Safari kampanye dimulai sejak kedatangan Surya Paloh di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (23/3). Di Kota Anging Mamiri ini, Surya meresmikan 1.000 Lorong NasDem. Atribut Partai NasDem menyulap Kota Makassar sehingga warna biru NasDem menjadi dominan dan menenggelamkan warna-warni lain di kota itu hingga ke lorong-lorong sempit.

Lorong NasDem sebagai salah satu cara mengimplementasikan semangat NasDem untuk membawa perubahan lebih dekat ke tengah masyarakat.

Surya Paloh pun terus bergerak. Pada hari pertama kampanye terbuka, Minggu (24/3), Surya Paloh melakukannya di Lapangan Basulapa, Gorontalo. Di provinsi ini Surya mulai merasakan gegap gempita dan semarak semangat kehadiran Partai NasDem.

Surya Paloh dan rombongan DPP NasDem disambut konvoi puluhan becak motor (bentor) yang diinisiasi Caleg DPR RI Partai NasDem Daerah Pemilihan Gorontalo, Rachmad Gobel.

Alat peraga kampanye (APK) Partai NasDem ibarat sebuah pawai panjang tak berujung menyambut kedatangan orang nomor satu di Partai NasDem itu.

Foto: Istimewa Partai NasDem membirukan Sulsel. Di provinsi ini, Surya merasakan gegap gempita dan semarak semangat kehadiran Partai NasDem.

Di depan puluhan ribu kader NasDem dengan atribut kebesaran berwarna biru, Surya menegaskan bahwa Partai NasDem mendorong seluruh kader dan simpatisannya untuk menjaga semangat persatuan dan persaudaraan.

Di sini Surya menegaskan kembali komitmen NasDem untuk memenangkan Jokowi-Ma’ruf Amin. Bagi NasDem dan Gorontalo, visi dan misi NasDem sejalan dengan visi dan misi Jokowi. Karena itu tak ada pilihan lain kecuali Jokowi harus menang agar proses pembangunan nasional, termasuk di Gorontalo, terus berlanjut.

Keesokan harinya, Senin (25/3) Surya Paloh bergerak menuju Sulawesi Barat, tepatnya Mamuju. Surya menggelar kampanye di Lapangan Pantai Anjungan Manakarra. Sama seperti di Makassar dan Gorontalo, bendera-bendera NasDem dengan warna biru berkibar di mana-mana. Mamuju seakan menjadi Kota NasDem.

Di sini lagi-lagi Surya menegaskan tentang pentingnya Jokowi menang pada Pilpres 2019. Negeri ini memerlukan sosok yang berani dan optimistis.

“Saya datang untuk memastikan gunakanlah hak politik untuk memilih Jokowi dan NasDem,” tegas Surya Paloh di hadapan puluhan ribu masyarakat Mamuju yang hadir memadati area kampanye.

NasDem berharap pasangan Calon Presiden Nomor Urut 01 Jokowi-Ma’ruf Amin dapat meraih kemenangan penuh di Provinsi Sulawesi Barat. ‘’Negeri ini butuh Jokowi,” tegas Surya.

Memasuki hari ke tiga kampanye terbuka, Surya Paloh mengunjungi Sulawesi Tengah, tepatnya Banggai. Ketua Umum NasDem itu berkampanye di Lapangan Kilongan Luwuk, Banggai.

Didampingi Ketua Umum Garda Pemuda NasDem Prananda Surya Paloh, Bendahara Umum NasDem Ahmad Ali, Ketua DPP NasDem Willy Aditya, Surya Paloh disambut konvoi seribu sepeda motor. Lagi-lagi warna biru NasDem menghiasi Banggai.

Foto: Istimewa Surya Paloh didampingi Rachmat Gobel saat kampanye akbar di Lapangan Basulapa, Gorontalo.

Kepada puluhan ribu kader dan simpatisan NasDem, Surya Paloh mengimbau agar warga aktif datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk memaksimalkan hak pilih dalam Pemilu Serentak 17 April 2019.

“Kita harus datang ke TPS,” tegas Surya sambil menambahkan Pemilu 2019 harus disambut dengan semangat perkawanan, bukan dengan bertikai dan menghasut.

Dari Banggai, Surya Paloh bersama rombongan menuju Manado, Sulawesi Utara. Kampanye Rapat Umum Terbuka Nasional Partai NasDem di ibu kota provinsi paling utara itu digelar di Stadion Klabat, Manado, pada Rabu (27/3).

Puluhan ribu warga Kota Manado sambil memegang atribut NasDem, tak beranjak meninggalkan lokasi kampanye. Mereka setia mendengarkan orasi Surya Paloh. Mereka bersorak dan bertepuk tangan mengiringi orasi Ketua Umum Partai NasDem itu.

Dalam orasinya, Surya mengemukakan bahwa semangat gotong royong dalam hidup berbangsa harus terus dijaga meski ada perbedaan pandangan dalam Pemilu 2019.

“Kita tinggal di bumi Indonesia dengan satu komitmen yang diletakkan pendiri bangsa kita yakni hidup saling bergandengan tangan, gotong royong, dan toleransi. Itulah prinsip-prinsip dasar yang terdapat dalam Pancasila,” ujar Surya.

Surya menegaskan, hanya Pancasila yang bisa menyelamatkan bangsa ini dari ancaman perpecahan.

Dari Manado, safari Surya Paloh berlanjut ke Sulawesi Tenggara, tepatnya Kendari pada Jumat (29/3). Dalam kampanye terbatas yang digelar di sebuah hotel, Surya lagi-lagi menekankan pentingnya memenangkan Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Saya tekankan bahwa kemenangan Jokowi-Amin lebih penting dari kemenangan partai ini,’’ tegasnya.

Di depan puluhan ribu kader NasDem dengan atribut kebesaran berwarna biru, Surya menegaskan bahwa Partai NasDem mendorong seluruh kader dan simpatisannya untuk menjaga semangat persatuan dan persaudaraan.

Kampanye Akbar Calon Presiden Nomor Urut 01 Jokowi di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Minggu (31/3) sekaligus menutup rangkaian safari politik Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh di Pulau Sulawesi.

Hadirnya Surya Paloh di kampanye akbar Jokowi merupakan penegasan dukungan tanpa syarat NasDem kepada Jokowi. Seluruh materi kampanye Surya Paloh selama satu pekan di Sulawesi termakna dari kehadirannya di kampanye Jokowi.

Diperkirakan 100.000 kader dan simpatisan NasDem ikut dalam kampanye tersebut. Massa NasDem yang membawa atribut Partai NasDem memenuhi jalan-jalan di Kota Makassar dan di tempat kampanye Lapangan Karebosi.

Kehadiran ratusan ribu kader NasDem pada kampanye Jokowi di Makassar itu merupakan salah satu bentuk show off kekuatan NasDem di Makassar. Sikap Surya Paloh tidak beranjak dari semboyan partai itu dalam Pemilu Serentak 2019 yakni: Jokowi Presidenku, NasDem Partaiku.

Melihat antusiasme masyarakat selama melakukan kampanye keliling Sulawesi dari selatan ke utara lalu kembali lagi ke selatan, Surya Paloh optimistis Jokowi-Ma’ruf Amin akan menang dan Partai NasDem masuk tiga besar hasil Pemilu 2019. (gus)

The Kaldera Toba Nomadic Escape, Fasilitas Berkelas Dunia: Ada Helipad

istimewa BERKELAS: The Kaldera Toba Nomadic Escape di Desa Pardamean Sibisa, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa). Lokasi ini akan menjadi destinasi wisata baru yang menawarkan nuansa alam dengan fasilitas berkelas dunia.
istimewa
BERKELAS: The Kaldera Toba Nomadic Escape di Desa Pardamean Sibisa, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa). Lokasi ini akan menjadi destinasi wisata baru yang menawarkan nuansa alam dengan fasilitas berkelas dunia.

MEDAN, SUMUPOS.CO – Danau Toba akan semakin memesona dengan hadirnya The Kaldera Toba Nomadic Escape di Desa Pardamean Sibisa, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Sumatera Utara. Lokasi itu akan menjadi destinasi wisata baru yang menawarkan nuansa alam berkelas dunia.

Hingga kini pembangunan The Kaldera Nomadic Escape terus dikebut. Rencananya, destinasi berkonsep Nomadic Tourism itu dilaunching Menteri Pariwisata Arief Yahya pada Kamis (4/4) mendatang.

Pembangunan Toba Nomadic Escape di lahan zona otorita ini dilakukan Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) sejak awal 2019 lalu. Pembangunan ini dilaksanakan setelah proses penyerahan sertifikat hak pengelolaan (HPL) tahap I seluas 279 hektar dari 386,72 hektar, pada Desember 2018 lalu.

Direktur Utama (Dirut) BPODT, Arie Prasetyo mengungkapkan, pelaksanaan pembangunan dilakukan secara berkelanjutan. Saat ini, lahan baru digunakan sekitar 2 hektar. Nantinya, kawasan ini akan terintegrasi dengan Toba Caldera Reserve, Sibisa Airport dan Desa Wisata Sigapiton untuk pengembangan pariwisata berkelanjutan.

“Saat ini, kami bersama tim lapangan sedang proses finishing yang ditargetkan selesai akhir Maret. Kemudian dilanjutkan dengan test commissioning, penyiapan logistik untuk event launching, finalisasi lansekap, lighting ambience, serta artwork,” ucap Arie kepada wartawan di Medan, Minggu (31/3) siang.

Pembangunan The Kaldera Nomadic Escape ini, di bawah arahan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Kementerian Pariwisata, dengan mengawali pembangunan Sibisa Integrated Resort yang juga Kawasan Pariwisata Destinasi Danau Toba.

“Untuk launching, kita sudah menyiapkan 10 buah bell tents dan dua unit kabin untuk tamu yang akan menginap. Menteri Pariwisata Arief Yahya dijadwalkan akan membuka destinasi digital ini pada 4 April 2019. Destinasi ini dibangun di lahan perintisan lebih kurang 1,5 hektar dengan menghabiskan anggaran pembangunan fisik Rp5 miliar,” ungkap Arie.

Arie menjelaskan, Site Plan Nomadic Tourism ini didesain memiliki fasilitas area-area camping ground yang nantinya bisa dinikmati wisatawan seperti Nomadic Bubble Tent, Nomadic Cabin, Nomadic Caravan Park, dan Nomadic Bell Tent. Di lahan ini juga sudah memiliki fasilitas helipad yang bisa digunakan sebagai akses khusus tamu VIP.

“Destinasi ini akan menjawab kebutuhan kita akan destinasi berkualitas di Danau Toba. Konsep nomadic sangat tepat di terapkan di Danau Toba. Dan kita harus memaksimalkan potensi yang ada di sana,” tutur Arie.

Pada acara launching 4 April nanti, panitia sudah menyiapkan berbagai atraksi. Ada Toba Coffee Show yang menampilkan Lisa & Leo Organic Coffee, salah satu Q Processor tingkat dunia. Dalam 10 tahun belakangan Lisa & Leo Organic Coffee telah ekspor kopi berkualitas dari Simalungun ke coffee shop beken di Amerika, Eropa dan Australia, termasuk Blue Bottle Coffee. “Ada pula Toba Gastronomy Show yang menghadirkan fine dining ala hotel bintang lima dengan view spektakuler lembah Sigapiton dan Danau Toba,” pungkasnya.

Diketahui, lokasi The Kaldera Nomadic Escape ini tidak terlalu jauh. Posisinya hanya 20 menit dari Parapat, atau sekitar 1 jam 30 menit dari Balige. The Kaldera Nomadic Escape ini juga berjarak 2 jam dari Bandara Silangit di Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), dan hanya 10 menit dari Bandara Sibisa.

Sementara itu, Ketua Tim Percepatan Nomadic Kementerian Pariwisata, Waizly Darwin, mengungkapkan The Kaldera Nomadic Escape merupakan amenitas wisata kembara (nomadic tourism) yang dikembangkan oleh Badan Pelaksana Otorita Danau Toba. Darwin menjelaskan, nantinya The Kaldera Nomadic Escape ini akan menyediakan amenitas berupa 15 tenda belt, 2 cabin, 2 tenda bubble, 1 ecopod, dan area parkir untuk Camper Van.

“Destinasi ini sangat lengkap. Fasilitas lain yang ada di The Kaldera Nomadic Escape adalah Kaldera Ampiteathre, dengan kapasitas 250 orang, Kaldera Plaza, Kaldera Stage, Kaldera Hill, juga 2 toilet,” ungkap Darwin.

Segmen utama wisatawan adalah para nomad, milenial, dan family. Selain wisatawan nusantara, wisatawan mancanegara yang menjadi target adalah dari Malaysia, Singapura dan Eropa.

“The Kaldera memiliki view yang mempesona. Dari lokasi, kita bisa melihat indahnya Desa Wisata Sigapiton yang berlokasi di lembah di bawah The Kaldera, diapit bukit di kanan dan kiri dengan pemandangan Danau Toba dan Pulau Samosir di kejauhan. Diperkirakan The Kaldera dapat menampung 50 wisatawan yang menginap di fasilitas glampingnya,” tandas Waizly.

Harus Kompak untuk Danau Toba

Dari sisi ekonomi, Bank Indonesia (BI) ikut mendorong pertumbuhan perekonomian di daerah maupun nasional dalam membangun potensi pariwisata untuk menyumbang devisa bagi negara ini. “Kita sangat bangga, karena Sumatera Utara yakni Danau Toba menjadi salah satu destinasi wisata nasional, jadi kita dorong,” ungkap Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia, Rosmaya Hadi kepada wartawan, Minggu (31/3).

Rosmaya menjelaskan,di tahun 2019 ini BI fokus mendorong pembangunan prioritas empat destinasi ‘Bali Baru’ yakni Danau Toba, Borobudur, Labuhan Bajo dan Mandalika. Untuk itu, dia mengajak seluruh pihak terkait ikut terlibat dan berkontribusi. “Tapi, dalam rapat daerah dan nasional, daerah sudah bagus (pariwisatanya) kita dorong lagi. Dimana itu, di Jakarta, mengarah ke Kota Tua. Kemudian, kita dorong Banyuwangi, Bali dan beberapa wisata yang baik,” jelas Rosmaya.

Dari data yang ada, menurutnya, wisata kita tidak kalah baik dengan negara-negara lainnya. Akan tetapi, harus didorong dengan sejumlah program yang sudah dibuat untuk dilaksanakan. Dengan membangun akses, atraksi dan amenitas. Kemudian, promosi dan pelaku bisnis. “Kita sebut 3A dan 2P, yaitu akses, untuk tempat wisata yang bagus, aksesnya nggak ada seperti jalan rusak, penerbangan tidak ada. Tapi, untuk Danau Toba sudah bagus. A, kedua atraksi. Kalau sudah datang tempat indah. Tidak ada event-event, makanya data kita peroleh hunian hotel turis itu, 1,7 hari. Artinya, gak dua malam. Mari untuk Danau Toba kita ciptakan peluang,” ungkap Rosmaya.

Ia mengakui, Turki dan Thailand mengelola pariwisata dengan baik. Atas hal itu, kedua negara tersebut memiliki cadangan devisi berasal dari sektor pariwisata. Hal ini, menjadi acuan dalam pembangunan pariwisata dalam negeri. “ Turki dan Thailand kuat pariwisatanya. Untuk BI mendorong terus pengembangan pariwisata. A-nya satu lagi, Amenitas adalah kebersihan, keramahan. Dimana keramahan kita tidak merata seperti di Bali sudah siap,” tutur Rosmaya.

Rosmaya menambahkan, pariwisata sangat mendorong pertumbuhan perekonomian rakyat, daerah hingga nasional. Dipastikan, dengan potensi keindahan alam Indonesia menjadi nilai utama, yang tidak dimiliki negara mana pun di dunia ini.

“Kemudian 2P. P pertamanya promosi, jadi semua pihak terkait. Kita dorong Indonesia dari Promosi, dari mulut ke mulut. Kita harus kompak semua ini ya. Kemudian P keduanya, pelaku bisnis, bagaimana pembiayaan. Dimana, ada pariwisata didorong untuk memproduksi hasil-hasil karyanya dari UMKM disekitarnya,” pungkasnya. (gus)

Sosialisasi Minim, Banyak Warga Belum Paham Cara Mencoblos, Potensi Golput Masih Besar

SOSIALISASI Komisioner KPU Medan memberikan penjelasan tentang cara menyoblos kepada ibu-ibu penyandang disabilitas di HWDI Jalan Sampul Medan, belum lama ini.
SOSIALISASI
Komisioner KPU Medan memberikan penjelasan tentang cara menyoblos kepada ibu-ibu penyandang disabilitas di HWDI Jalan Sampul Medan, belum lama ini.

SUMUPOS.CO – Indonesia untuk pertama kalinya menggelar Pemilihan Umum (Pemilu) secara serentak. Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden digabung dengan pemilihan anggota legislatif. Sayangnya, sosialisasi cara mencoblos dari penyelenggara Pemilu dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) masih minim. Hal itu dikhawatirkan bakal memicu keengganan masyarakat untuk memilih alias ‘golput’.

MASYARAKAT di pesisir Belawan mengaku, sosialisasi tata cara dalam memberikan hak suara pada 17 April nanti dari KPU, masih minim. Seperti disampaikan tokoh nelayan, Nazaruddin kepada Sumut Pos, Minggu (31/3). Ia khawatir, dengan minimnya sosialisasi akan berdampak buruk pada pesta demokrasi pada 17 April mendatang.

Alasannya, masyarakat nelayan yang memiliki pendidikan rendah, sehingga perlu adanya penyampaian sosialisasi kepada mereka. “Sampai saat ini, banyak nelayan dan keluarganya masih belum tahu cara memilih. Kita khawatir, ini bisa menyebabkan masyarakat malas datang ke TPS,” ungkap Nazarudin.

Ketua Kolompok Karya Deli ini meminta kepada penyelenggara Pemilu untuk segera turun ke pesisir Belawan melakukan sosialisasi, untuk mengajak masyarakat nelayan untuk semangat mengikuti Pemilu 2019. “Jangan sempai ada pemikiran nelayan, dari pada nyoblos lebih baik melaut. Apalagi kalau di hari H banyak nelayan melaut, potensi ‘golput’ (tidak memilih)n

kemungkinan besar akan terjadi. Makanya, kita minta camat dan lurah untuk meminta kepada penyelenggara Pemilu untuk turun melakukan sosialisasi,” pinta Nazarudin lagi.

Begitu juga dikatakan Sekretaris Aliansi Masyarakat Nelayan Sumatera Utara (AMANSU), Alfian MY. Dia meminta agar penyelenggara Pemilu membuat sebuah kegiatan sosialisasi menarik simpati nelayan, agar masyarakat nelayan tidak mementingkan mencari makan melaut. Sehingga, potensi golput dapat diminimalisir pada 17 April mendatang. “Intinya, sosialisasi sangat penting. Kenapa sampai saat ini masih minim di kalangan nelayan? Ini yang buat nelayan lebih memilih melaut dari pada ikut Pemilu. Kalau sudah ada kegiatan untuk menarik minat nelayan, maka minat masyarakat nelayan akan tinggi,” cetus Alfian.

Ismail (68), warga Jalan Gunung Martimbang, Kelurahan Lalang, Kota Tebingtinggi saat diwawancarai Sumut Pos mengaku, dirinya belum mengetahui tata cara pencoblosan. Dia mengaku belum pernah mendapatkan sosialisasi, hanya mendengar cerita-cerita orang bahwa tanggal 17 April 2019 ada pemilihan Presiden dan Wakil Presiden serta DPRD. “Kata anak saya, nanti ada pemilihan Presiden dan Wakil Presiden begitu juga dengan pemilihan anggota DPRD,” katanya.

Saat ditanya terkait berapa kertas surat suara yang diterima untuk di coblos, Ismail mengaku tidak mengetahuinya. “Kalau tahun 2014 lalu ada empat kertas suara. Kalau sekarang, enggak tahulah,” sebutnya.

Setelah dijelaskan Sumut Pos, akhirnya Ismail mengetahui kalau nanti pemilih akan menerima lima kertas suara dari petugas KPPS untuk dicoblos. Tapi untuk tata cara pemilihan, dia mengaku masih bingung dan yang hanya dia ketahui pencoblosan Presiden dan Wakil Presiden, itupun karena ada gambarnya. Sedangkan untuk anggota DPR RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kota Tebingtinggi tidak ada gambar, hanya nama dan nomor urut. “Itu yang bikin bingung mencari namanya dengan begitu banyak nama calon,” tandasnya.

Menyikapi kondisi ini, pengamat politik Agus Suryadi memprediksi, persentase golput pada Pemilu 2019 di Sumut masih cukup besar. Dia memperkirakan, terget partisipasi pemilih hingga 80 persen di Sumut, sulit untuk tercapai. “Barkaca dari Pemilu 2014 dan beberapa Pilkada di Sumut, termasuk Pilgubsu lalu, persentase golput masih besar,” ujar Agus.

Pada Pemilu 2014, persentase pemilih mencapai 75 persen. Sedangkan pada Pilgubsu 2018 lalu, persentase pemilih hanya 65 persen. Bahkan pada Pilkada Kota Medan 2015, pertisipasi pemilih tidak sampai 26 persen.

Akademisi dari USU itu menilai, ada beberapa faktor penyebab golput. Diantaranya adalah sosialisasi tenteng Pemilu 2019 akan berpengaruh kepada golput. Tidak bisa dipungkiri, Pemilu kali ini lebih rumit dari sebelumnya, Banyaknya kertas yang akan dicoblos, membuat masyarakat bingung. “Sudah pasti bingung, karena kertas yang dicoblos cukup banyak. Apalagi kalau sosialisasi kurang. Tapi, ini tidak terlalu berpengaruh kepada golput, tapi suara tidak sah. Bakal lebih banyak suara tidak sah,” paparnya.

Namun Agus tidak menyalahkan KPU dalam minimnya sosialisasi tersebut. Dia menyebut, sosialisasi bukan hanya tugas KPU, tapi juga parpol, Bawaslu dan pemerintah. “Nah, sekarang tinggal bagaimana semua stakeholder bekerja dengan waktu sedikit. Semua pihak harus gencar melakukan sosialisasi. Selain itu, saat hari pelaksanaan, petugas di TPS jangan kaku. Berilah informasi kepada pemilih tentang tata cara pemilih,” tegasnya.

Selain itu, adalah politik identitas yang masih berpengaruh di Indonesia. “Politik yang mengangkat agama dan etnis membuat masyarakat enggan untuk memilih,” sebutnya.

Tensi politik yang tinggi juga akan berpengaruh kepada golput. “Kita tidak bisa pungkiri, sekarang telah terbentuk kelompok-kelompok di tengah masyarakat. Masyarakat yang tidak tergabung dalam kelompok-kelompok itu, seolah-olah tidak peduli dengan Pemilu 2019,” tandasnya.

Pengamat sosial politik dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Sohibul Ansor Siregar juga mengatakan, memang ada dua potensi kejadian yang menjadi risiko atas minimnya sosialisasi kepada masyarakat dalam tata cara pencoblosan ini. Disebutnya, potensi pertama adalah kemungkinan terjadinya kesalahan dalam memberikan suara. Karena, masyarakat masih banyak yang belum tahu warna-warna kertas suara. Misalnya, untuk DPR RI warna kuning, DPRD Provinsi warna Biru dan DPRD Kabupaten Kota warna Hijau.

“Misalnya si pemilih ingin mencoblos caleg A untuk tingkat kabupaten kota, tapi kertas suara yang dibukanya kertas untuk DPRD provinsi. Lalu dicarinya nama caleg pilihannya ternyata tidak ada. Akhirnya dia pilih caleg lain dengan partai dan nomor urut yang sama. Secara rasional, ini bisa saja terjadi,” beber Sohibul.

Potensi kedua, sebut Sohibul, terjadinya surat suara yang rusak atau batal akibat salah mencoblos. “Misalnya, masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui kalau mencoblos itu tidak boleh lebih dari satu coblosan di setiap surat suara. Tapi dia coblos dua orang caleg pada satu surat suara, hanya karena dia kenal kedua caleg ini. Tentu kan surat suaranya jadi batal. Dan masih banyak contoh lainnya. Ini makanya, kenapa sosialisasi secara langsung itu sangat penting,” ujarnya.

Maka dari itu, kata Sohibul, kiranya pihak penyelenggara Pemilu dapat lebih gencar dalam melakukan sosialisasi menjelang waktu pemilu yang tinggal menghitung hari. “Bangsa ini harus lebih peka terhadap persoalan, termasuk persoalan kondisi pemilihan umum yang jelas berbeda dengan periode-periode yang lalu. Walau sekarang waktunya tinggal menghitung hari, tapi tidak ada kata terlambat. Sekarang sosialisasikan lah secara langsung dengan lebih gencar, libatkan perangkat desa hingga ke RT agar lebih cepat terlaksana,” tutupnya.

Menyikapi masih minimnya sosialisasi kepada warga cara mencoblos, Komisioner KPU Sumut Benget Manahan Silitonga mengatakan, wewenang tersebut adanya di KPU kabupaten/kota. Karena secara teritorial, KPU Sumut tidak mempunyai wilayah. “Saya pikir itu tugas dan domain kawan-kawan (KPU) di kabupaten/kota ya. Kalau kami cuma sekadar sosialisasi ke masyarakat tentang tahapan pemilu saja,” katanya menjawab Sumut Pos, tadi malam.

Ia menambahkan, adapun tahapan sosialisasi pemilu sekaitan tata cara pencoblosan maupun pengumpulan dan penghitungan suara, hanya pihaknya sampaikan kepada peserta pemilu.

“Paling kami undang parpol buat sosialisasi. Kalau langsung ke masyarakat tentu tidak, sebab itu tugasnya kawan-kawan di kabupaten dan kota. Selain itu kami juga sampaikan berbagai tahapan pemilu, seperti cara pindah memilih, tata cara pencoblosan, dan lainnya melalui sosialisasi iklan media massa,” katanya. (fac/ian/mag-1/prn)

Tak Akomodir Hak Pilih, Penyelenggara Pemilu Langgar HAM

no picture
no picture

SUMUTPOS.CO – HAK memilih seorang warga negara dijamin konstitusi. Karenanya, penyelenggara Pemilu di semua tingkatan sangat rawan terkena pelanggaran hak asasi manusia (HAM), jika tidak mengakomodir hak pilih seorang warga negara.

Ketua Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM) Republik Indonesia, Ahmad Taufan Damanik mengatakan, sesuai pemetaan dan pengamatan langsung pihaknya di berbagai daerah, sampai kini masih banyak terdapat warga yang belum terdaftar melalui daftar pemilih tetap (DPT).

Bahkan yang lebih ironinya, ujar dia, masih banyak warga yang belum memiliki e-KTP ataupun belum melakukan perekaman. Padahal e-KTP merupakan syarat mutlak bagi setiap warga negara bila ingin menyalurkan hak suaranya.

“Ini terjadi di seluruh Indonesia, tidak hanya di Sumut. Kita sudah berulang-ulang ingatkan pada penyelenggara, agar tidak anggap remeh soal ini karena dapat melanggar HAM jika ada seorang warga negara tidak dijamin hak pilihnya sesuai konstitusi,” kata Taufan menjawab Sumut Pos di sela acara workshop Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bertajuk “Mengawal Pemilu Perspektif Keberagaman dan HAM,” di Hotel Radisson Medan, Sabtu (30/3).

Sejauh ini, kesimpulan pihaknya berdasarkan amatan di lapangan, penyelenggara Pemilu baik KPU dan Bawaslu tidak mendata dan meregistrasi warga sehingga tidak terakomodir dalam DPT.

“Penyelenggara terkesan tidak mau tahu soal ini. Padahal temuan kami ternyata warga mau memilih tapi tak bisa karena tidak teregistrasi. Tapi ada juga yang tak mau memilih, namun bukan itu masalahnya,” kata mantan Dewas PDAM Tirtanadi Sumut ini.

“Yang jelas negara harus memfasilitasi dan menjamin hak pilih setiap warga negara. Apakah setelah difasilitasi lalu dia tidak mau menggunakannya, itu persoalan lain,” sambungnya.

Taufan menambahkan, adapun mapping yang telah pihaknya lakukan atas kecenderungan warga yang tidak diakomodir dalam DPT, umumnya berasal dari kaum marjinal atau minoritas. Lalu orang yang migrasi dan mobile dari satu daerah ke daerah lain, serta warga yang tinggal di pulau terluar maupun pedalaman. “Akses mereka jauh dari transportasi dan ini sangat besar jumlahnya. Jangankan informasi lengkap tentang rekam jejak calon, didata untuk masuk DPT pun mereka tidak. Bahkan ada yang tidak memiliki kartu identitas,” ucapnya.

Persoalan ini menurut dia masuk kategori klasik. Sebab setiap kali momen pemilihan, masalah perekaman e-KTP selalu tak ada solusi konkrit dari pemerintah melalui pihak penyelenggara pemilu. Dan umumnya alasan klasik yang dibangun pihak penyelenggara seperti KPU dan Bawaslu, ialah ketidakcukupan anggaran serta susah menjangkau akses hingga wilayah pulau terluar bahkan pedalaman.

“Padahal mereka punya anggaran perjalanan dinas dan itu besar sekali alokasinya. Kenapa itu tidak bisa digeser saja untuk mendata warga pedalaman, sehingga persoalan ini menjadi tuntas. Saya pikir alasan mereka hanya sekadar selebrasi saja,” katanya.

Kesempatan itu ia ikut mengajak media massa dan jurnalis, untuk menyuarakan masalah klasik ini kepada publik. Dengan demikian, baik pihak penyelenggara maupun pemerintah punya regulasi khusus dalam menyikapi persoalan dimaksud. “Saya pikir media punya pengaruh dan andil besar dalam hal ini, membangun dan menggiring opini sebagai masukan untuk pemerintah memikirkan masalah tersebut.

Tidak percaya begitu saja dengan mindset penguasa yang sering mengatakan karena kecil jumlahnya nggak terlalu berpengaruh terhadap hasil akhir total pemilihan. Disitu kelirunya dan kita sudah kasih rekomendasi beberapa kali supaya tidak melihat dari aspek itu justru dari aspek bahwa setiap orang memiliki hak yang sama,” kata Taufan. (prn)

Kampanye Rapat Umum Pileg 2019 Minim, Di Medan Hanya Nasdem, Tebing & Asahan Kosong

ilustrasi kampanye
ilustrasi kampanye

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Tidak seperti pemilu pada periode-periode sebelumnya, kampanye akbar ataupun kampanye rapat umum pada pemilu kali ini tampaknya tidak lagi dianggap perlu oleh partai politik. Buktinya, dari 16 partai politik yang mengikuti Pileg tahun ini, di kota Medan baru satu partai politik yang menjadwalkan kampanye akbarnya ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) kota Medan. Selebihnya kosongn

“Pengajuan jadwal kampanye akbar atau kampanye rapat umum bukan ke pihak KPU, tetapi ke pihak Kepolisian dan Bawaslu. KPU hanya menerima surat tembusannya. Nanti setelah Parpol mendapatkan izin dari pihak kepolisian dan Bawaslu, barulah kampanye diselenggarakan. KPU ‘kan sifatnya sebagai penyelenggara, bukan pemberi izin. Kalau izinnya sudah oke, tentu KPU juga oke. Tetapi hingga saat ini, surat tembusan yang masuk ke KPU kota Medan baru dari satu partai politik, yakni NasDem,” ucap Komisioner KPU kota Medan, M. Rinaldi kepada Sumut Pos, Minggu (31/3).

Dalam suratnya, Partai Nasional Demokrat (Nasdem) menyebutkan akan melakukan kampanye rapat umumnya pada tanggal 4 (April), di lapangan Gajah Mada, Medan Timur.

Meski hingga H8 sejak jadwal kampanye dibuka baru Partai NasDem yang mendaftar, menurut Rinaldi, tidak tertutup kemungkinan jumlah partai politik yang mengajukan jadwal kampanyenya, bertambah.

“Batas jadwal pengajuan masih ada beberapa hari lagi. Jadi masih ada kemungkinan bertambah. Kalau surat izin ke kepolisian, setahu saya ‘SOP’-nya harus diajukan paling lambat satu minggu sebelum hari berkampanye. Lalu surat tembusannya harus sudah diterima oleh KPU satu hari sebelum kampanye. Nah, mengingat bahwa tanggal 13 April adalah hari terakhir partai politik berkampanye, maka surat tembusan ke KPU paling lambat diterima tanggal 12 April. Sedangkan ke kepolisian, paling lambat tanggal 6 April. Lewat dari situ, bisa dipastikan partai tersebut memang tidak menggelar kampanye rapat umum,” jelasnya kepada Sumut Pos.

Sesuai jadwal yang disusun KPU, tanggal 13 April mendatang adalah hari terakhir masa kampanye. Selanjutnya pada tanggal 14, 15 dan 16 April, disebut sebagai hari tenang sebelum memasuki hari pencoblosan serentak pada Rabu 17 April. Selama masa tenang, Badan Pengawasan Pemilihan Umum (BAWASLU) akan segera menertibkan seluruh atribut-atribut partai politik maupun peserta pemilu lainnya.

Hingga H8 kampanye, 15 parpol selain NasDem di Medan yang belum ada tanda-tanda akan menggelar kampanye rapat akbar yakni, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Golongan Karya (Golkar), Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda), Partai Berkarya, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Persatuan Indonesia (Perindo), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Demokrat, Partai Bulan Bintang (PBB) serta Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI).

Tebingtinggi & Asahan Kosong

Minimnya jumlah parpol yang menjadwalkan kampanye akbar Pemilu 2019, juga dialami Kota Tebingtinggi dan Kabupaten Asahan. Di dua daerah ini, hingga H8 masa kampanye, belum satupun parpol yang mengajukan permohonan tertulis untuk menggunakan tiga lapangan terbuka yang sudah ditetapkan KPU sebagai tempat lokasi kampanye.

“Parpol belum ada yang datang ke KPU untuk menyampaikan jadwal kampanye terbuka untuk Kota Tebingtinggi. Sebelumnya, KPU sudah menyampaikan lokasi kampanye yang disediakan, ke masing-masing parpol dan tim pemenanganya,” kata anggota KPU Kota Tebingtinggi Kordiv Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Parmas dan SDM, Emil Sofyan, Minggu (31/3).

Disampaikan Emil, memang ada beberapa parpol yang datang ke Kantor KPU untuk berkonsultasi tentang kampanye. Tetapi bukan untuk mengunakan fasilitas lapangan dalam kampanye terbuka.

“Kami ‘pun kurang paham mengapa parpol tidak memanfaatkan peluang kampanye. Apalagi hari pelaksanaan pencoblosan tanggal 17 April 2019 semakin dekat,” terangnya.

Emil menjelaskan, sepekan yang lalu melalui rapat koordinasi, KPU telah menetapkan dan mengumumkan bahwa lapangan terbuka yang dapat digunakan untuk kampanye terbuka adalah Lapangan Bola Ramlan Yatim di Kecamatan Rambutan, Lapangan Kota Bayu Kecamatan Padang Hulu, dan Lapangan TC Sosial Kecamatan Tebingtinggi Kota.

“Kami berharap peserta pemilu serentak untuk memberikan jadwal pelaksanaan tempat kampanye terbuka atau rapat umum, karena waktu sangat terbatas,” jelasnya.

Selain Tebingtinggi, 16 parpol di Kabupaten Asahan juga belum satupun mengajukan jadwal kampanye umum ke KPU.

Menurut Ketua KPU Asahan, Hidayat SP, melalui Divisi Sosialisasi Pemilihan dan Pendidikan Partisipasi Masyarakat KPU Asahan, Samiun Sembara Marpaung, jadwal kampanye terbatas atau kampanye tatap muka bersama masyarakat, ke-16 parpol telah mendaftarkan diri. Namun untuk jadwal kampanye umum, belum satupun yang mendaftar.

“Malah jadwal kampanye terbatas tatap muka parpol yang masuk ke KPU. Kampanye terbatas itu untuk para caleg dari parpol,” kata Samiun kepada Sumut Pos, Minggu (31/3).

Untuk jadwal kampanye umum, menurut Samiun, batas terakhir pemberitahuan ke adalah tanggal 12 April 2019. Itu setelah parpol mengantongi izin dari kepolisian dan Bawaslu.

Menanggapi alasan belum ada parpol yang menjadwalkan kampanye umum ke KPU Asahan, Ketua PKS Asahan, Muttakin, menyebutkan partainya memang belum ada membahas jadwal kampanye umum. “Namun, uuntuk kampanye terbatas ada di laporkan ke KPU Asahan,” katanya.

Wakil Ketua DPRD Asahan yang juga Ketua Fraksi Partai PDI Perjuangan, Rosmansyah, menyebutkan pihaknya juga belum memberikan jadwal kampanye umum ke KPU Asahan. “Belum kami bahas. Nanti kalau sudah dibahas, baru diserahkan ke KPU,” bilangnya. (mag-1/ian/omi)

Pascadebat Capres Edisi Keempat , Tim Sukses Klaim Raih 55 Persen di Sumut

istimewa BERSALAMAN: Capres nomor urut 01 Joko Widodo dan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto bersalaman usai debat Capres keempat, Sabtu (30/3) malam.
istimewa
BERSALAMAN: Capres nomor urut 01 Joko Widodo dan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto bersalaman usai debat Capres keempat, Sabtu (30/3) malam.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pascadebat calon presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto edisi keempat pada Sabtu (30/3) malam, masing-masing tim sukses kedua capres di Sumatera Utara, mengklaim jagoannya akan meraih suara 55 persen di Sumut.

“Kami optimis elektabilitas pascadebat kemarin, Prabowo-Sandi jauh meningkat terutama dalam menggaet pemilih pemula serta swing voter. Kami kira (Prabowo-Sandi) sekitar 55-58 persen menang di Sumut,” kata Sekretaris Gerindra Sumut sekaligus Wakil Ketua Badan Pemenangan Daerah Sumut Prabowo-Sandi, Robert Lumban Tobing, menjawab Sumut Pos, Minggu (31/3)n

Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Sumut, selaku parpol pengusung capres nomor urut 02, Prabowo Subianto, menilai capres mereka unggul ketimbang Jokowi saat debat. “Semua dibabat habis oleh Pak Prabowo. Dia (Jokowi) hanya terlihat duduk manis mendengar paparan Pak Prabowo,” ujar Robert.

Menurutnya, dari sejumlah materi debat yakni soal ideologi pancasila, pertahanan dan keamanan, pemerintahan, serta hubungan internasional, penguasaan materi berikut masalahnya, Prabowo sangat menguasai dan tampil percaya diri.

“Beliau dengan tegas mengatakan, dengan pengalamannya sebagai tentara, bahwa dari sisi pertahanan dan keamanan negara perlu proteksi lebih kuat agar ancaman dari luar mampu kita antisipasi. Bahwa kita perlu miliki armada keamanan yang kuat untuk itu. Sebab negara kita kaya akan hasil energi, kelautan sampai perkebunan dan pertanian,” katanya.

Begitupun dari aspek ideologi Pancasila dan pemerintahan, menurutnya pernyataan Prabowo sangat tegas dan lugas. Bahwa tidak ada pihak yang boleh mempertentangkan ideologi bangsa ini, yaitu berazaskan Pancasila dan UUD 1945.

“Pemaparannya lugas dan terang benderang. Dan Pak Jokowi juga mengakui kalau Pak Prabowo adalah orang baik, dan cocok memimpin pemerintahan ke depan,” katanya.

Dan dalam debat itu, Pak Prabowo sudah menegaskan bahwa tidak akan ada konsep khilafah jika dia memimpin nanti. “Artinya dia sudah menepis anggapan dan tuduhan yang dialamatkan kepadanya, dalam forum resmi yang ditonton jutaan rakyat Indonesia,” kata anggota DPRD Sumut itu.

Klaim serupa juga disampaikan Juru Bicara TKD Sumut Jokowi-Ma’ruf Amin, Sutrisno Pangaribuan. Menurut Sutrisno, melalui survei yang pihaknya lakukan, persentase suara untuk Jokowi-Ma’ruf di Sumut paling rendah mencapai 55 persen.

“Memang tim sukses harus bekerja ekstra keras agar Jokowi-Ma’ruf menang di Sumut dalam Pilpres, 17 April nanti. Meski demikian kami yakin meraih 55 persen suara,” cetusnya yakin.

Ia bercermin pada tahun 2014, di mana Jokowi menang di Sumut tanpa ada kepala daerah yang notabene kader PDI Perjuangan. “Tapi sekarang ini selain bupati Tobasa, khusus wilayah di kawasan Danau Toba, kita punya kader kepala daerah. Di satu sisi ini jadi keuntungan kita untuk menang lagi di Sumut, dan dari survei kita paling tinggi bisa kita raih hingga 60 persen,” katanya.

Soal debat capres, menurut Sutrisno, Jokowi memaparkan hasil kerja yang dilakukan selama memimpin 4,5 tahun ini. “Hari ini yang memerintah itu ‘kan masih Pak Jokowi. Artinya beliau yang melakoni soal pertahanan negara, TNI, dan aspek lainnya. Kemudian terlihat ada komitmen ke depan untuk memperbaiki dan menguatkan bidang hankam dan pemerintahan,” katanya.

Soal ideologi, menurutnya lantaran keterbatasan waktu dalam debat, materi ideologi tidak disampaikan Jokowi secara utuh. “Padahal poin penanaman ideologi Pancasila tidak sekadar dari PAUD hingga S3. Melainkan jauh lebih penting dimulai dari keluarga,” katanya.

Tidak Terlalu Mempengaruhi Elektabilitas

Pengamat Politik asal USU, Agus Suriadi, menilai hasil debat capres edisi keempat boleh jadi akan meningkatkan elektabilitas paslon nomor urut dua, namun persentasenya belum begitu signifikan.

“Prabowo nampak lebih percaya diri dan punya visi yang terukur dalam aspek-aspek materi debat. Tentunya ini dapat menambah elektabilitasnya walau belum signifikan,” katanya.

Meski begitu ia mengingatkan agar tim sukses Prabowo-Sandi tidak lantas berpuas diri. Sebab tujuan akhir dari sebuah kompetisi adalah kemenangan. Terlebih dalam kontestasi politik, kekuasaan memang harus dimenangkan dan direbut.

“Persentase sukses tidaknya sebuah kontestasi politik apabila kemenangan mampu diraih. Artinya itu adalah ukuran mutlak bahwa mandat rakyat terhadap pemimpinnya sudah diberikan. Dan muara dari semua perjuangan ini adalah hasil di TPS nantinya,” katanya. (prn)

NU Deliserdang Kawal Pemilu yang Kondusif

ISTIMEWA HARLAH; Konsolidasi PC NU Deliserdang ke Kader MWC Pancurbatu.
ISTIMEWA
HARLAH; Konsolidasi PC NU Deliserdang ke Kader MWC Pancurbatu.

DELISERDANG, SUMUTPOS.CO – HARLAH NU ke-93 Tahun 2019 menetapkan tema Kita Bangun Konsolidasi Organisasi dan Penguatan Paham Ahlussunnah wal Jamaah.

Menjelang satu abad NU, PC NU Deliserdang telah menggelar konsolidasi bersama kader MWC dan Ranting di 23 kecamatan se-Deliserdang.

Tim konsolidasi diketuai KH Amir Panatagama beserta unsur Syuriah dan Tanfidziyah gencar mendakwahkan paham Aswaja dan penguatan amaliyah nahdliyah serta tradisi ke-NU-an di kalangan nahdliyyin.

Hal ini bertujuan untuk meretas permasalahan umat. Khususnya di tahun politik 2019 yang diwarnai nuansa hoaks, degradasi moral dengan indikasi maraknya radikalisme sampai pada tataran krisis kepercayaan kepada ulama tokoh agama dan masyarakat.

Dalam konsolidasi, tim menyampaikan peranan NU dan sejarahnya dalam memperjuangkan terwujudnya NKRI dan menanamkan paham Aswaja sejak awal berdirinya hingga sekarang. Disampaikan juga perspektif NU masa depan.

”NU sebagai lembaga organisasi kemasyarakatan dan keagamaan harus senantiasa menyatukan diri dengan perjuangan bangsa sebagai bagian dari masyarakat,” kata Amir Panatagama di Medan, Minggu (31/3).

Ia juga meminta agar aktif dalam pembangunan bangsa. Berusaha memegang teguh prinsip persaudaraan (ukhuwwah), toleran (tasamuh), menjaga kebersamaan dan hidup berdampingan baik sesama warga negara yang mempunyai keyakinan/agama lain.

Amir Panatagama menyebutkan mengajak untuk bersama-sama mewujudkan cita-cita persatuan dan kesatuan bangsa yang kokoh dan dinamis. Hal ini selaras dengan visi Bupati Deliserdang H Ashari Tambunan yakni relegius bersatu dalam kebhinekaan.

Harapan dari tim konsolidasi ini selalu disampaikan pada setiap pertemuan. ”Warga nahdliyyin senantiasa tetap menjaga keutamaan persatuan dan kesatuan bangsa dengan mengawal pemilu yang kondusif,” harapnya. (dmp)

Polsek Gebang Gagalkan Peredaran 4 Bungkus Sabu, Mahasiswa Jadi Kurir Sabu Antarprovinsi

APIT: Kapolsek Gebang AKP Henry David Bintang Tobing (kanan) bersama seorang petugas (kiri) mengapit tersangka kurir sabu di Mapolsek Gebang, Sabtu (30/3).
APIT: Kapolsek Gebang AKP Henry David Bintang Tobing (kanan) bersama seorang petugas (kiri) mengapit tersangka kurir sabu
di Mapolsek Gebang, Sabtu (30/3).

LANGKAT, SUMUTPOS.CO – Polsek Gebang menggagalkan peredaran 4 bungkus narkotika jenis sabu, Sabtu (30/3). Sabu dengan total 1 kilogram itu rencananya akan dibawa dan dipasarkan di Jambi.

“Ya benar, ada kita amankan tersangka berinisial MA (34) yang berprofesi sebagai mahasiswa salah satu perguruan tinggi. Tersangka kita amankan dari bus penumpang umum,” ujar Kapolsek AKP Henry David Bintang Tobing, Sabtu (30/3).

Warga Kandang Samalanga, Kabupaten Biruen, Provinsi Aceh ditangkap saat petugas menggelar razia guna mengantisipasi peredaran narkoba.

Razia digelar di Jalan Diponegoro, Lingkungan IV, Kelurahan Pekan Gebang, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat. Persis depan Mapolsek Gebang.

“Penangkapan tersebut berdasarkan surat perintah Kapolres Langkat AKBP Doddy Hermawan, tentang pelaksanaan sweeping di polsek yang berada di Jalinsum,” ujar Tobing.

Dipimpin Kapolsek, sekira pukul 04.00 WIB tim melakukan sweeping. Sekira pukul 06.00 WIB, petugas menyetop bus Aceh BL 7525 AA.

“Kemudian, kita meminta izin kepada sopir agar seluruh penumpang serta barang bawaannya diperiksa. Berkat kejelian personel, ditemukan seorang pria mencurigakan yang duduk di bangku paling belakang dekat toilet membawa tas ransel,” urai Tobing.

Selanjutnya, petugas membuka tas bawaan pria tersebut. Alhasil, petugas menemukan 4 bungkus sabu dengan berat masing-masing 250 gram.

“Berdasarkan pengakuan tersangka, sabu tersebut dibawa dari Kandang Samalanga milik T dan rencananya akan di bawa ke Jambi,” tutur Tobing.

Jika barang tersebut sampai tujuan, kurir ini dijanjikan uang sebesar Rp10 juta. Seperti biasa, tersangka baru sekali melakukan aksinya.

“Untuk proses hukum lebih lanjut, tersangka bersama dengan barang bukti dilimpahkan ke Sat Narkoba Mapolres Langkat,” pungkasnya.(bam/ala)