Home Blog Page 5505

OJK Hentikan Operasional 168 Fintech Bodong

no picture
no picture

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali mengambil tindakan tegas dengan menghentikan operasional 168 entitas yang diduga melakukan kegiatan usaha peer to peer lending tanpa izin. Semua perusahaan yang dihentikan kegiatannya telah melakukan pemberian pinjaman, namun tidak terdaftar atau memiliki izin usaha dari OJK.

“Berdasarkan pemeriksaan pada website dan aplikasi pada Google Playstore, Satgas Waspada Investasi kembali menghentikan kegiatan 168 entitas yang melanggar ketentuan OJK Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Penyelenggara Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi (Fintech Peer-To-Peer Lending) yang berpotensi merugikan masyarakat,” kata Ketua Satgas Waspada Investasi, Tongam L. Tobing, Rabu (13/3).

Kegiatan 168 entitas ini diduga merupakan kejahatan finansial online yang melanggar peraturan perundang-undangan. Sampai saat ini, jumlah entitas yang diduga melakukan kegiatan finansial online sebanyak 803 entitas yaitu 404 entitas pada periode tahun 2018 dan 399 entitas pada bulan Januari hingga Maret 2019.

Satgas Waspada Investasi juga telah menghentikan kegiatan 47 entitas yang diduga merupakan investasi ilegal dan berpotensi merugikan masyarakat, dengan jenis kegiatan usaha sebagaimana terlampir.

Tongam kembali mengingatkan bahwa penawaran investasi ilegal semakin mengkhawatirkan dan berbahaya bagi ekonomi masyarakat. Para pelaku memanfaatkan kekurangpahaman sebagian anggota masyarakat terhadap investasi dengan menawarkan imbal hasil atau keuntungan yang tidak wajar. Kegiatan dan produk yang ditawarkan tidak berizin karena niat pelaku adalah untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dari masyarakat.

Satgas Waspada Investasi meminta kepada masyarakat selalu berhati-hati dalam menggunakan dananya. Jangan sampai tergiur dengan iming-iming keuntungan yang tinggi tanpa melihat risiko yang akan diterima.

Satgas Waspada Investasi secara berkesinambungan melakukan tindakan preventif berupa sosialisasi dan edukasi agar masyarakat terhindar dari kerugian investasi ilegal. Peran serta masyarakat sangat diperlukan, terutama untuk tidak menjadi peserta kegiatan entitas tersebut dan segera melaporkan apabila terdapat penawaran investasi yang tidak masuk akal. Penanganan yang dilakukan oleh Satgas Waspada Investasi ini tidak terlepas dari dukungan masyarakat yang telah menyampaikan laporan atau pengaduan.

Informasi mengenai daftar perusahaan yang tidak memiliki izin dari otoritas berwenang dapat diakses melalui Investor Alert Portal pada www.sikapiuangmu.ojk.go.id. (jpc/ram)

Stok di Pasaran Berkurang, Harga Bawang Merah Naik

file sumut pos CATAT: Pedagang di Pusat Pasar sedang mencatat pesanan pelanggan, beberapa waktu yang lalu.
file sumut pos
CATAT: Pedagang di Pusat Pasar sedang mencatat pesanan pelanggan, beberapa waktu yang lalu.

Harga bawang merah dan putih di pasar mulai naik. Hal ini dikarenakan stok yang ada sudah mulai menipis. Bahkan, untuk beberapa pedagang di Medan, stok bawang merah berasal dari Pulau Jawa.

Seorang pedagang di Pusat Pasar Medan, Erista mengatakan bawang merah sebelumnya, harganya Rp25.000 per kilogram. Kini, menjadi Rp30.000 perkilogram.

“Gak banyak stok bawang. Biasanya stok bawang banyak. Padahal mulai kemarau ya di Medan. Tapi gak tahu ya kalau di kampung apa hujan,” ucap Erista kepada wartawan, Rabu (13/2) pagi.

Untuk memenuhi kekurangan stok bawang merah, Erista menjual yang berasal dari Pulau Jawa. Padahal, biasanya bawang merah yang dijualnya berasal dari Kabupaten Karo dan sekitarnya.

Diakuinya, bawang merah dari Pulau Jawa ini kurang disukai masyarakat Medan karena teksturnya yang basah. Selain itu, untuk dicampur ke masakan juga kurang wangi. Tetapi, karena sudah tidak ada stok lagi, mau tidak mau dia harus menjual yang ada.

“Harga bawang putih yang biasanya Rp17.000- Rp18.000 per kilogram, kini dijual Rp24.000 sampai Rp25.000 ribu per kilogram. Hal ini biasanya mengikuti, kalau bawang merah naik, bawang putih juga,” tambahnya.

Hal yang sama disampaikan oleh Pedagang Sayur di Pasar Tradisional Petisah Medan, P Pasaribu mengatakan harga bawang merah yang biasanya Rp 26.000 per kilogram kini naik menjadi Rp32.000 per kilogram. Meski harga naik namun permintaan relatif stabil.

“Permintaan ada saja ya karena ini kan salah satu bumbu dapur, tetap dibeli. Tapi yang biasanya pembeli membeli sampai 2 kg dikurangi jadi 1 kg saja atau biasa ½ kg jadi ¼ kg saja,” jelas Pasaribu.

Untuk harga cabai merah mengalami penurunan dari Rp20 ribu per kg menjadi Rp15 ribu per kg. Hal ini karena stok dari Tanah Karo masih banyak, sehingga harga menjadi murah. (gus/ram)

Aniaya dan Ancam Bunuh Pengusaha Jagung, Mantan Bupati Toba Samosir Dipolisikan

DIVA/SUMUT POS LEMAS: Ferry Winner Nadeak lemas usai dianiaya Kasmin Simanjuntak di RS St Elisabet Medan, Rabu (13/3).
DIVA/SUMUT POS
LEMAS: Ferry Winner Nadeak lemas usai dianiaya Kasmin Simanjuntak di RS St Elisabet Medan, Rabu (13/3).

TOBASA, SUMUTPOS.CO – Mantan Bupati Toba Samosir (Tobasa), Kasmin Simanjuntak (68) dipolisikan. Pasalnya, warga Desa Ombur, Kecamatan Silaen, Kabupaten Tobasa itu menganiaya Ferry Winner Nadeak (31) hingga gendang telinganya pecah.

AKIBATNYA, warga Desa Parsoburan Tengah, Kecamatan Habinsaran, Kabupaten Tobasa itu terpaksa dilarikan ke RS Katolik Parsoburan. Agar mendapat perawatan lebih intensif, korban dirujuk ke RS Santa Elisabet Medan. Sebab, gendang telinga sebelah kiri korban diduga pecah dan ulu hatinya sakit.

“Menurut dokter yang menangani saya di RS Santa Elisabeth, marga Hasibuan, gendang telinga saya sebelah kiri pecah akibat benturan benda keras, sehingga saya harus diopname,” kata Ferry saat ditemui di ruang F8 Fransiskus RS St Elisabet Medan, Rabu (13/3) siang.

“Efek dari kerusakan gendang telinga itu, kepala saya sering pening dan terkadang penglihatan berkunang-kunang/gelap. Telinga saya ditinju dengan jarinya yang ada cincin berhiaskan batu besar,” sambung korban.

Menurut korban, peristiwa terjadi Rabu (6/3) sekira pukul 20.00 WIB. Saat itu, dirinya sedang membeli jagung hasil pertanian milik boru Siagian di Simpang Sei Randos, Desa Napitupulu, Kecamatan Silaen, Kabupaten Tobasa. Ketika memuat jagung ke mobil pick up yang diparkir di pinggir jalan, tiba-tiba mobil Kasmin Simanjuntak melintas.

“Tapi terhalang mobil saya. Saya langsung menggeser mobil saya agar mobil saya bisa melintas,” tutur korban. Namun setelah korban turun dari mobilnya, Kasmin Simanjuntak langsung mendatangi dirinya. Tanpa banyak tanya, Kasmin langsung menyikut ulu hati korban menggunakan tangan kanannya.

Tak hanya itu, Kasmin berusaha memukul wajah korban namun korban langsung memegang tangan Kasmin sembari minta maaf. Akan tetapi, tiba-tiba tangan kiri Kasmin memukul telinga kiri korban dengan keras.

“Setelah saya meminggirkan mobil, saya mendatangi Kasmin dengan menegur sapa. Karena dia tulang saya, apalagi mantan bupati saya yang waktu itu saya ikut memenangkan dia saat mencalonkan diri jadi bupati,” tutur korban.

“Demikian juga saya ikut memenangkan anaknya, Boby Simanjuntak menjadi anggota DPRD Tobasa. Jadi saya tidak sangka kalau Kasmin yang selama ini dikatakan orang galak dan garang, sampai hati memukul saya,” kata Ferry lagi.

Saat itu, korban bertanya kepada Kasmin kenapa tega memukulnya. Tapi, Kasmin tidak peduli dan semakin membabi buta.

“Tidak ada Nadeak Nadeak disini, kumatikan kau disini,” kata korban menirukan perkataan Kasmin kepada wartawan. Puas menganiaya Ferry, Kasmin kemudian mengancam akan membunuhnya.

“Jangan macam-macam, rumah ini pun nanti bisa kubakar,” sambil menunjuk rumah boru Siagian, pemilik jagung yang dibeli korban.

Tak terima, korban membuat pengaduan ke Mapolres Tobasa. Laporan korban diterima dengan Nomor LP/47/III/2019/SU/TBS Kamis 7 Maret 2019. Karena telinga terus berdengung dan pandangan berkunang-kunang, korban kemudian diopname di RS Katolik Parsoburan hingga Sabtu (8/3).

Tak kunjung ada perubahan, korban kemudian dirujuk ke RS Santa Elisabeth Medan.

“Saya merasa kecewa juga dengan kinerja anggota Polres Tobasa, karena sampai saat ini laporan pengaduan saya itu tidak ditindaklanjuti. Saksi-saksi saya juga tidak kunjung dimintai keterangannya,” beber korban kecewa.

“Ketika saya konfirmasi kepada Marko Purba, anggota Sat Reskrim Polres Tobasa, dia bilang yang menangani pengaduannya, marga Hutahaean sedang sakit karena jatuh dari sepedamotor. Kalau tidak ada perkembangan, kami akan melaporkan kasus ini langsung kepada Kapoldasu,” sambungnya. Sementara, Kasmin Simanjuntak membantah dirinya menganiaya Ferry.

“Saya tidak pernah memukul dia (Ferry). Saya lapor balik, bahwa itu fitnah besar,” katanya via pesan singkat, Rabu (13/3) sekira pukul 14.00 WIB. (dvs/ala)

Tujuh Orang Terjaring Operasi Satpol PP di Madina

Razia penyakit masyarakat
Razia penyakit masyarakat

MADINA, SUMUTPOS.CO – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Mandailing Natal (Madina) melakukan Operasi Pekat. Operasi menyasar sejumlah hotel dan tempat hiburan malam yang melanggar jam tayang di seputaran Kota Panyabungan, Rabu (13/3) dini hari. Sedikitnya 6 orang perempuan dan 1 orang pria terjaring razia.

“Operasi kita gelar berdasarkan laporan masyarakat yang mana penyakit masyarakat (Pekat) kembali marak,” jelas Kasat Pol PP Madina Lismulyadi menjawab wartawan, Rabu (13/3) siang. Kata Lismulyadi, razia dimulai sekira pukul 00.00 WIB. Sekira pukul 00.30 WIB anggota berhasil mengamankan 4 orang wanita di salah satu tempat karaoke di Lintas Timur.

“Dan pada pukul 03.30 WIB kita berhasil mengamankan 2 ditambah 1 orang dari salah satu hotel di Panyabungan. Mereka kemudian kita amankan ke Kantor Satpol PP Madina,” terangnya.

“Setelah didata, mereka akan kita serahkan Dinas Sosial Madina,” imbuhnya.

Ditegaskan Lismulyadi, Operasi Pekat akan terus dilakukan pihaknya. Agar Kabupaten Madina yang dikenal dengan Kota Santri terbebas dari penyakit masyarakat.

Terpisah, Kadis Sosial Madina Taufik Lubis mengatakan, mereka yang terjaring tersebut akan dilakukan pendataaan dan pembinaan.

“Serta mencek kesehatannya. Setelah nanti dilakukan pembinaan, mereka akan kita pulangkan ke keluarga masing-masing,” jelasnya. (mag-7/ala)

Menyoal SKPP Penipuan Tanah Timbun Rp3,5 Miliar, Kejatisu Seakan-akan Bermain dengan Kasus Mujianto

SUTAN SIREGAR/SUMUT POS DIABADIKAN: Mujianto alias Anam (tengah) diabadikan, beberapa waktu lalu bersama para kerabat.
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
DIABADIKAN: Mujianto alias Anam (tengah) diabadikan, beberapa waktu lalu bersama para kerabat.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Penghentian penuntutan kasus Mujianto alias Anam dan rekannya Rosihan Anwar oleh Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu), menuai berbagai kecaman praktisi hukum. Pasalnya, Kejatisu dinilai salah menganggap kasus penipuan Mujianto tidak layak untuk disidangkan.

“KALAU memang tak cukup bukti, kalau tak lengkap ngapain P21 bahkan sampai P22. Inikan jungkir balik logika hukum kita dibuatnya. Saya pikir dengan permasalahan ini, seakan-akan ada permainan. Jadi penanganan perkara tersebut menunjukkan bahwa kejaksaan tidak profesional,” ucap Julheri Sinaga yang ditemui Sumut Pos di Pengadilan Negeri Medan, Rabu (13/3).

Julheri menegaskan, keputusan Kejatisu yang menghentikan penuntutan kasus Mujianto merupakan kesalahan dan preseden buruk penegakan hukum.

“Salah. Kenapa dibuat P21, P22 tau-tau dihentikan juga inikan ‘banci’ namanya. Kalau saran saya kepada pengacara gugat praperadilan,” kata pengacara berambut kuncir ini.

Julheri juga mengomentari kasus pidana Mujianto yang berubah menjadi perdata. Menurutnya, Kejatisu telah melangkahi pengadilan dengan memutuskan sebuah kasus pidana berubah menjadi perdata tanpa proses persidangan.

“Biarkan keputusan pengadilan yang memutuskan itu. Kan bisa onslag (bukan suatu tindak pidana), jangan tak dihargai pengadilan. Macam dikangkakangi pengadilan dalam perkara ini, seakan-akan pengadilan itu tidak ada artinya. Bahkan mereka (Kejatisu) menjadi sebuah pengadilan jadinya,” katanya.

Dia menguraikan, kasus Mujianto ini telah berjalan lama yang melalui tahapan-tahapan sesuai prosedur yang berlaku. Dimulai dari penyelidikan kepolisian, penyidikan hingga rekam jejak tersangka yang sempat masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

“Yang jadi persoalan, apakah koordinasi antara kepolisian dan kejaksaan ini tidak ada? Inikan jadi kacau penegakan hukum kita. Kita minta Kejaksaan Agung mengevaluasi lah,” pungkas Julheri.

Sebelumnya, Arizal selaku kuasa hukum dari korban Armen Lubis sempat mengatakan akan menempuh jalur hukum dengan mempraperadilankan Kejatisu yang menghentikan penuntutan Mujianto.

“Tapi kalau itu benar terjadi, secara hukum kan korban mempunyai hak untuk menguji ke absahannya itu. Bisa saja kita melalui praperadilan dan bisa saja kita uji ke ranah PTUN. Tapipun itu nanti kita diskusikan kepada klien, karena kan kita hanya dapat memberikan aktis hukum,” katanya.

Sebagaimana diketahui, Kejatisu mengajukan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKPP) untuk kasus penipuan senilai Rp3,5 miliar yang melibatkan pengusaha properti Medan, Mujianto dan bawahannya Rosihan Anwar. Kejatisu menilai, perkara itu tidak layak masuk ke persidangan.

Hal itu disampaikan Kepala Kejatisu, Fahkruddin kepada wartawan, Rabu (6/3). Fakhruddin menyampaikan pengajuan SKPP atas kasus tersebut karena menilai kasus ini tidak layak disidangkan.

“Ya itu kan ada ketentuan di kita sebelum ke pengadilan kita teliti dulu layak apa nggak untuk diajukan (persidangan). Kami berpendapat belum layak. Maka kami mengajukan ke pusat untuk menunggu dari pusat persetujuan untuk di SKPP,” ucap Fakhruddin.

Kasus ini berawal dari laporan Armen Lubis ke Mapolda Sumut dengan nomor STTLP/509/IV/2017 SPKT “II” tertanggal 28 April 2017.

Dalam pengaduannya, Armen mengaku sudah ditipu oleh Mujianto dan Rosihan Anwar dalam persoalan tanah timbun.

Armen Lubis mengaku sudah merugi Rp3,5 miliar karena aksi Mujianto dan Rosihan Anwar. (man/ala)

Tak Tahan Disodomi Pimpinan, Puluhan Santri Ponpes Al-Ikhwan Kabur

bambang/SUMUT POS BAKAR: Ribuan massa sempat akan membakar rumah Didi Suwandi yang melakukan pelecehan seksual terhadap puluhan santrinya, Selasa (12/3) malam.
bambang/SUMUT POS
BAKAR: Ribuan massa sempat akan membakar rumah Didi Suwandi yang melakukan pelecehan seksual terhadap puluhan santrinya, Selasa (12/3) malam.

LANGKAT, SUMUTPOS.CO – Tidak tahan terus-terusan mendapatkan pelecehan seksual (diduga sodomi), puluhan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Ikhwan melarikan diri dari asramanya. Peristiwa terjadi di Selasa (12/3) sekira pukul 19.30 WIB.

PELAKUNYA diduga Didi Suwandi (40). Didi merupakan Pimpinan Ponpes Al-Ikhwan di Dusun ll, Desa Serapuh ABC, Kecamatan Padang Tualang, Kabupaten Langkat.

Puluhan santri tersebut ada yang melarikan diri ke rumah keluarga terdekat, ke rumah orang tuanya dan ke Kantor Desa Serapuh ABC.

Dari sana, para korban menghubungi orang tuanya melalui seluler dan meminta pertolongan serta melaporkan kelakuan bejat gurunya. Kepada orang tua, para korban mengaku sudah lama dilecehkan oleh sang guru.

Peristiwa itu kontan memancing kemarahan warga. Tak lama, kantor desa dipenuhi warga.

Kemudian, para korban didampingi orang tua walinya mendatangi ponpes untuk mencari sang guru. Kedatangan mereka didampingi personel Polsek Padangtualang.

Suasana ponpes mencekam malam itu. Pasalnya, ribuan orang memadati ponpes hingga tengah malam. Massa membeludak hingga ke jalan-jalan desa.

Massa yang marah sempat akan membakar ponpes yang memiliki tingkat Pendidikan SMP dan SMA itu. Massa kecewa dengan perlakuan Didi terhadap anak didiknya.

Beruntung aparat desa dan kepolisian bisa mengendalikan massa. Sehingga aksi pembakaran itu tidak terjadi.

“Sempat ada teriakan dari massa untuk membakar pondok (pesantren) ini bang. Tapi karena masih banyak santri yang berada didalam, tidak jadi bang. Kalau tidak salah pihak polisi juga meminta bantuan untuk ditambah jumlah personelnya, agar dapat mengantisipasi gejolak amuk warga,” sebut seorang warga yang berada di lokasi.

Kepada Sumut Pos, salah seorang santri yang jadi korban mengaku ada sekitar 23 santri laki-laki yang telah mengalami pelecehan seksual.

“Sudah banyak santri yang mendapat pelecehan seksual pak. Ada yang kemaluanya dipegang–pegang (dionani), mulutnya dikulum, bahkan ada juga teman saya yang duburnya telah dimasuki kemaluannya pak,” beber korban sembari meminta identitasnya tidak dicantum.

Menurut beberapa korban lainnya, pelaku melancarkan aksi dengan cara membawa santri korban ke kamarnya dan ke ruang kosong.

Ketika di kamar, santri yang hanya berdua dengannya lalu diajak berbincang–bincang soal seks. Bahkan sambil diperlihatkan video porno.

“Kemudian ditepuk-tepuk dan dielus-elus tubuh santrinya, sehingga menjadi terpancing dan terangsang,” ungkap santri lain.

Anehnya menurut santri itu, saat tubuhnya ditepuk-tepuk, mereka kehilangan ingatan sampai tidak sadar seperti dihipnotis.

“Saat itulah, pelaku membuka pakaian kami dan membuka pakaiannya sendiri sampai bugil. Lalu pelaku mematikan lapu kamar, selanjutnya melakukan aksi bejatnya (menyodomi) tanpa rasa bersalah,” beber korban.

Diakui korban, kelakuan bejat Didi sudah berlangsung kurang lebih selama tiga tahun.

“Ada juga (korban) yang pernah diajak ke rumah pribadinya di Stabat dan dilecehkan di sana,” tutur korban.

Santri berinisial FM yang tidak ikut jadi korban mengaku, pelarian itu sudah lama direncanakan.

“Kami sudah nggak tahan pak liat teman kami (para korban) diperlakukan seperti itu, makanya kami melakukan aksi ini. Karena sebelumnya kami sudah lebih dulu melapor ke guru lain, tapi tidak ada respon,” cetus FM terlihat geram.

Namun, rencana itu sempat diketahui oleh pelaku. Sehingga pelaku sempat mengupulkan semua santri Aliyah yang jumlah keseluruhanya lebih dari 50 santri.

“Dia (pelaku) mengetahui soal rencana itu, karena curiga dengan gerak gerik kami yang sebelumnya rapat sana rapat sini. Kecurigaan dia juga karena selama ini merasa, kami memandangnya dengan kehinaan,” tuturnya.

Saat mengumpulkan santri Aliyah, pelaku bertanya kenapa menuduhnya homo dan memandangnya hina.

Saat itu kata FM, seorang santri yang menjadi korban menimpal perkataan pelaku.

“Waktu saya kelas 1 Aliyah, ustad mengonani kemaluan saya dengan tangan ustad. Apakah itu bukan homo namanya? Perbuatan ustad ini akan kami bawa ke jalur hukum, kami tidak terima,” ujar FM menirukan keberatan korban saat itu.

Kemudian, pelaku mengakui kalau dirinya seorang homo seksual dan meminta maaf. Permohonan maaf pelaku diduga FM untuk meredam tensi santri, apalagi sampai membawanya ke pihak berwajib. “Benar (melakukan pelecehan seksual). Tapi apa tidak ada lagi rasa kasihan kalian kepada saya? Tidak ada lagi kalian pandang sifat baik saya?,” sebut FM menirukan perkataan pelaku.

Diketahui, 23 korban yang diduga mengalami pelecehan seksual itu berasal dari luar dan dalam daerah. Di antaranya, Deliserdang, Binjai dan beberapa Kecamatan lainnya yang berada di Langkat.

Kasat Reskrim Polres Langkat, AKP Juriadi melalui pesan WhatsApp, membenarkan pelecehan seksual yang dilakukan oleh Didi terhadap santrinya.

Setelah perbuatannya diketahui malam itu, pelaku langsung menyerahkan diri ke Mapolres Langkat sekira pukul 00.20 WIB. (bam/ala)

Kenaikan Gaji PNS Dirapel pada April 2019

Foto: Yoga Sukmana/kps Menteri Keuangan Sri Mulyani di Jakarta, Selasa (12/3/2019).
Foto: Yoga Sukmana/kps
Menteri Keuangan Sri Mulyani di Jakarta, Selasa (12/3/2019).

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Menteri Keuangan Sri Mulyani memastikan kenaikan gaji pegawai negeri sipil (PNS) pasti dilaksanakan pada tahun ini. Kenaikan gaji tetap dihitung sejak Januari 2019.

“Karena UU APBN untuk Januari-Desember jadi meksipun pencairan (kenaikan gaji) pada bulan April, (pembayarannya) menyangkut Januari-April,” ujar mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini di Jakarta, Rabu (13/3/2019).

“Tentu untuk bulan Mei dan selanjutnya akan dibayarkan berdasarkan waktu pembayaran gaji (per bulan),” sambung dia.

Sebelumnya, pemerintah memastikan kenaikan gaji untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) sudah masuk ke dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019. Menurut Sri Mulyani, Presiden Joko Widodo sudah menandatangi Peraturan Pemerintah (PP) terkait kenaikan gaji PNS tersebut.

“Menyangkut pertama keputusan kenaikan 5 persennya itu sendiri  sesuai dengan UU APBN 2019,” ujarnya, Jakarta Senin (11/3/2019).

Setelah ditandatangani Presiden, kata Sri Mulyani, PP kenaikan gaji PNS tersebut masih perlu dilengkapi terkait lampirannya. Ia mengatakan, PP tersebut akan tebal lantaran banyak lampiran. Hal ini karena setiap kementerian dan lembaga harus menyerahkan daftar pegawainya. Adapun rincian aturan akan termuat di dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK). (yoga/kps)

300 Kg Bahan Peledak Dicor di Rumah Ameng

Foto: Toga Sianturi/New Tapanuli Polisi berjaga di lokasi ledakan bom oleh terduga teroris, di Sibolga, Sumut.
Foto: Toga Sianturi/New Tapanuli
Polisi berjaga di lokasi ledakan bom oleh terduga teroris, di Sibolga, Sumut.

SIBOLGA, SUMUTPOS.CO – Kondisi terkini TKP, sepanjang jalan Cendrawasih, Kota Sibolga, Sumatera Utara, masih terus disterilkan. Tidak ada warga yang diperbolehkan lalu lalang. Begitu juga para awak media, dibatasi hanya sampai posko penjagaan yang didirikan pihak kepolisian sekitar 100 meter dari rumah terduga teroris.

Sekira pukul 12.30 WIB, walikota Sibolga Drs HM Syarfi Hutauruk didampingi wakilnya Edi Polo Sitanggang dan sejumlah SKPD, tiba untuk kedua kalinya di TKP. Sebelumnya, Rabu pagi walikota juga menyempatkan diri turun langsung ke TKP didampingi pihak kepolisian.

Dari informasi sumber yang tidak ingin disebutkan namanya, Tim Gegana berhasil menemukan, sekitar 300 kg bahan baku pembuat bom yang ditanam di lantai rumah Asmir Khoir alias Ameng, di jalan SM. Raja, Sibolga. “Ditanam, dicor di lantai dekat pipa pembuangan air di dalam rumah itu. Ada 300 kg katanya,” kata sumber.

Seluruh bahan peledak kemudian diangkut oleh tim gegana.

Kapolda Sumut Irjen Pol Agus dalam keterangan nya membenarkan adanya bahan peledak sebanyak 300 kg yang telah diamankan. “Dari hasil penggeledahan yang dilakukan, kalau barang bukti itu bisa dikumpulkan, kita-kira hasilnya bisa 300 kilogram bahan jadi. Jadi kalau mereka bisa merakit dan meramu bahan-bahan yang ada, sekitar 300 kilo,” kata Kapolda di TKP jalan Cendrawasih.

Kapolda Sumut Irjen Pol Agus membenarkan adanya bahan peledak sebanyak 300 kg yang telah diamankan. “Dari hasil penggeledahan yang dilakukan, kalau barang bukti itu bisa dikumpulkan. Kita-kira hasilnya bisa 300 kilogram bahan jadi. Jadi kalau mereka bisa merakit dan meramu bahan-bahan yang ada, sekitar 300 kilo,” kata Kapolda.

Dia juga mengatakan bahwa bom ada yang telah dirakit dan siap untuk diletakkan setiap saat oleh para terduga teroris.

“Dari hasil penyelidikan, di lokasi tersebut sudah dirakit bomnya. Sewaktu-waktu bisa langsung diledakkan oleh orang pemegang pemicunya,” terangnya.

Tak hanya itu, Kapolda memastikan sudah ada 3 terduga teroris yang diamankan. Meski demikian, pihaknya masih akan terus melakukan pengembangan untuk memastikan tidak ada lagi pelaku lainnya.

“Di luar yang di Lampung, ada 3 yang kita tangkap di Sibolga dan masih dilakukan penyelidikan oleh penyidik dari Densus 88 gabungan dengan Polda Sumatera utara. Mudah-mudahan kalau ada pengembangan segera kita bisa lakukan penindakan terhadap pelaku yang masih ada di wilayah Sumatera Utara. Namun untuk wilayah Sibolga sudah aman,” pungkasnya. (toga sianturi)

Jenazah Istri Abu Hamzah dan Anaknya Terpisah-pisah

Foto: Toga Sianturi/New Tapanuli Polisi berjaga di lokasi ledakan bom oleh terduga teroris, di Sibolga, Sumut.
Foto: Toga Sianturi/New Tapanuli
Polisi berjaga di lokasi ledakan bom oleh terduga teroris, di Sibolga, Sumut.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 menangkap tiga orang yang diduga terkait jaringan Jamaah Ansharut Dhaulah (JAD) dan berafiliasi dengan ISIS.

Pelaku peledakan Husen alias Abu Hamzah alias Uppang dikenal merupakan seorang petugas reparasi listrik. Tak banyak informasi yang didapat dari dia apalagi istri dan anaknya selama tinggal  Dia dan di Jalan Cendrawasih, Kelurahan Pancuran Bambu, Kecamatan Sibolga Sambas, Kota Sibolga.

Lurah Pancuran Bambu Wahyu Aulia Siregar yang dikonfirmasi juga tak menjelaskan detil. Dia tidak mengetahui detil warganya yang terpapar paham radikal.

“Pekerjaan sehari-hari Abu Hamzah ahli reparasu listrik. Saya menjadi lurah di sini mereka sudah menikah namun tidak pernah melapor,” ujarnya.

Ditanyai soal sang istri, Wahyu juga tak mengetahuinya. Sepertinya hanya ibu rumah tangga. Karena anak-anak terduga pelaku masih kecil.

Tak cuma Abu Hamzah, petugas juga mengamankan dua orang terduga teroris lainnya yang ikut dalam jaringan tersebut, diantaranya. Agus Khoir dan istrinya Halima. Mereka ditangkap di sebuah rumah tepatnya di Jalan Sisingamangaraja, Simpang Jalan Gambolo, Kelurahan Pancuran Kerambil, Kecamatan Sibolga Sambas tak jauh dari lokasi ditangkapnya tersangka Abu Hamzah.

Seluruh terduga pelaku sudah diamankan polisi. Sementara istri Abu Hamzah bersama anak-anaknya tewas dengan tubuh hancur terpisah-pisah akibat bom rakitan dari potasium, paku, mur dan baut yang dibungkus dalam pipa.

Diketahui ada juga bahan peledak lain yang diamankan petugas di Jalan Kutilang, Kelurahan Aek Habil, Kecamatan Sibolga Selatan. Belum diketahui pasti berapa banyak bahan peledak yang diamankan dari sana. (dvs)

Sumut Butuh Investor Perusahaan Tambang

Foto: Dame/Sumut Pos INVESTOR TAMBANG: Direktur Teknik Lingkungan Ditjen Minerba Kementerian ESDM, Mangantar S Marpaung, mengatakan mendukung investor masuk dunia pertambangan di Sumut, saat menjadi pembicara dalam orientasi lanjutan bagi media tentang pertambangan Indonesia dan dunia, yang digelar PT Agincourt Resources, di Parapat, Senin (11/3/2019).
Foto: Dame/Sumut Pos
INVESTOR TAMBANG: Direktur Teknik Lingkungan Ditjen Minerba Kementerian ESDM, Mangantar S Marpaung, mengatakan mendukung investor masuk dunia pertambangan di Sumut, saat menjadi pembicara dalam orientasi lanjutan bagi media tentang pertambangan Indonesia dan dunia, yang digelar PT Agincourt Resources, di Parapat, Senin (11/3/2019).

PARAPAT, SUMUTPOS.CO – Pengamat pertambangan yang juga mantan Direktur Teknik Lingkungan Ditjen Minerba Kementerian ESDM, Mangantar S Marpaung, menyebutkan investasi tambang perlu didukung penuh. Karena pertambangan adalah investasi langsung yang menggerakkan perekonomian secara ril, termasuk menciptakan lowongan kerja.

“Pemerintah-pemerintah daerah di Sumut perlu didorong agar mendukung iklim investasi di Sumatera Utara. Sudah terbukti, kehadiran perusahaan tambang menggerakkan ekonomi masyarakat. Buktikan saja di Tapsel. Dulu sebelum kehadiran tambang di sana, berapa bank di Padangsidimpuan, berapa hotel, berapa restoran, dan sebagainya. Sekarang hitung berapa penambahannya,” katanya saat menjadi pembicara dalam orientasi lanjutan bagi media tentang pertambangan Indonesia dan dunia, yang digelar PT Agincourt Resources selaku pengelola Tambang Emas Martabe, di Parapat, Senin (11/3/2019).

Ia menyebutkan, investor yang masuk ke dunia pertambangan adalah direct investment (investasi langsung), baik investasi asing maupun nasional. Artinya, bukan investasi yang masuk di Pasar Bursa, yang bisa hengkang sembarang waktu.

“Dana yang masuk langsung mampu menciptakan kegiatan ekonomi riil, dan menciptakan lapangan kerja. Pemerintah juga menerima pemasukan langsung dari kegiatan pertambangan, berupa penerimaan negara bukan pajak (PNBP) ata royalti, yang dipotong langsung dari pendapatan kotor, retribusi, sewa lahan, pajak-pajak (pajak badan, pajak pertambahan nilai, pajak pribadi, dan pajak efektif. Jika dihitung-hitung, negara mendapat 50-60 persen dari total pendapatan tambang,” kata Marpaung.

Belum lagi pendapatan tidak langsung, berupa pajak dari kegiatan bisnis dan industri penunjang yang tumbuh di sekitar tambang. Seperti dari perusahaan supplier, perusahaan jasa (penyewaan mobil, hotel, restoran, rumah kost, dsb). “Nilai ekonomi daerah yang meningkat, seperti harga tanah, harga komoditi pertanian dan perkebunan, pasir dan kerikil. Serta tumbuhnya lapangan kerja bagi putra daerah,” jelasnya.

Keuntungan kehadiran tambang, menurut mantan Pejabat di Ditjen Minerba Kementerian ESDM ini, antara lain terbentuknya kota baru, tersedia dan berkembangnya infrastruktur baru (seperti jalan, perkebunan, airport , IPAL, dsb), munculnya kawasan pertumbuhan ekonomi baru (munculnya pengusaha lokal), dan meningkatnya standar hidup dan kualitas hidup (peningkatan pengetahuan penduduk dan tenaga lokal, pemerintah, pengembangan teknologi dan metode baru, bantuan pendidikan, dsb).

“Karena itu,  investor pertambangan perlu dirayu agar datang ke Sumut. Jangan dipersulit. Misalnya PT Sorikmas Mining di Mandailing Natal, perlu didukung mengenai isu keamanan. Karena jika mereka beroperasi di sana, pasti akan memberi manfaat untuk negara dan pemerintah daerah serta masyarakat lokal. Begitu juga dengan PT Dairi Prima Mineral di Dairi. Kalau perlu, ada enam perusahaan tambang lagi yang beroperasi di Sumut. Misalnya di Tapteng, Taput, Humbahas, Karo, dan lainnya. Dampaknya, ekonomi Sumut pasti meningkat,” kata Presiden Direktor PT Kartika Sela Bumi Mining ini mengakhiri. (mea)