Home Blog Page 5529

416 SMP/MTs di Deliserdang Ikuti UNBK 2019

SUTAN SIREGAR/SUMUT POS UNBK_TINJAU UNBK: Pelajar SMP melaksanakan UNBK di SMPN 1 Medan, Senin (23/4). Pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Kota Medan sudah cukup baik, kedepannya kelengkapan komputer pada tahun depan akan ditambah dalam memenuhi kuota siswa yg melaksanakan ujian.
File/SUMUT POS
Ilustrasi UNBK.

LUBUKPAKAM, SUMUTPOS.CO – Kepala Dinas Pendidikan Deliserdang, Timur Tumanggor SSos melalui Kabid SMP, Drs Antonius Surbakti MPd mengungkapkan, 100 persen siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kabupaten Deliserdang akan mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) akhir April 2019.

“Sebanyak 416 jumlah SMP/MTs dengan total 32.915 siswa kelas IX se-Deliserdang akan mengikuti UNBK 100 persen yang direncanakan akan dilaksanakan pada 22-25 April 2019 dan rencana untuk UNBK susulan pada 29-30 April 2019,” kata Antonius saat ditemui di ruang kerjanya di Lubukpakam.

Disebutkan Antonius, untuk tingkat SMP negeri tahun lalu UNBK di Deliserdang 100 persen dan tahun ini merupakan tahun kedua. Namun secara nasional UNBK di Deliserdang pada tahun lalu 75 persen, karena masih ada MTs yang belum 100 persen.

“Untuk tahun lalu UNBK kita walau pelaksanaannya 75 persen, namun sudah di atas rata-rata nasional yang ditetapkan minimal 70 persen per daerah. Jadi tahun ini secara nasional kita udah 100 persen karena MTs sudah 100 persen dan tidak ada lagi Ujian Nasional Berbasis Kertas Pensil (UNKP) tahun ini,” terang Antonius.

Dijelaskannya, SMP Negeri di Deliserdang berjumlah 63 sekolah dengan 11.399 siswa kelas IX. Yang sudah mandiri UNBK berjumlah 56 sekolah, sementara 7 sekolah lagi akan menumpang ke SMA Negeri/Swasta yang terdekat.

Untuk SMP terbuka 3 sekolah dengan peserta 113 siswa, namun yang mandiri berjumlah 1 sekolah dan 2 sekolah lagi akan menumpang ke SMA Negeri/Swasta terdekat. Lalu SMP Swasta jumlah 221 sekolah dengan 12.883 peserta, untuk mandiri UNBK nya 178 sekolah dan 45 sekolah menumpang ke yang terdekat.

Sementara MTs Negeri 3 sekolah dengan 715 peserta, mandiri 2 sekolah dan menumpang 1 sekolah. MTs Swasta 125 sekolah dengan 7.790 peserta, mandiri 93 sekolah dan 32 sekolah menumpang. Lalu 1 Sekolah Menengah Tingakt Kejuruan (SMTK) Swasta dengan 15 peserta dan sifatnya akan menumpang. (btr/han)

Sumut Pengekspor Sarang Burung Walet Terbesar se-Indonesia

Biro Hu1mas & Keprotokolan Setdaprovsu / Fahmi Aulia PECAHKAN KENDI:Wakil Gubernur Sumatera Utara Musa Rajekshah didampingi Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indonesia Ali Jamil Harahap, dan OPD terkait dan para eksportir asal Sumatera Utara memecahkan kendi pertanda pelepasan Ekspor Komoditi Pertanian Sumatera Utara di Terminal Kargo Angkasapura II Bandara Kualanamu Deliserdang Sumatera Utara, Jumat (01/03).
Biro Hu1mas & Keprotokolan Setdaprovsu / Fahmi Aulia
PECAHKAN KENDI:Wakil Gubernur Sumatera Utara Musa Rajekshah didampingi Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indonesia Ali Jamil Harahap, dan OPD terkait dan para eksportir asal Sumatera Utara memecahkan kendi pertanda pelepasan Ekspor Komoditi Pertanian Sumatera Utara di Terminal Kargo Angkasapura II Bandara Kualanamu Deliserdang Sumatera Utara, Jumat (01/03).

DELISERDANG, SUMUTPOS.CO – Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagub Sumut) Musa Rajekshah melepas 1 ton Sarang Burung Walet (SBW) senilai Rp41,4 miliar untuk diekspor ke Tiongkok, Jumat (1/3).

Khusus ekspor SBW yang langsung ke Tiongkok, saat ini Provinsi Sumatera Utara menduduki peringkat pertama dari 6 pintu pengeluaran. Catatan Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian (Barantan) di tahun 2018, volume ekspor SBW yang langsung ke Tiongkok melalui Bandara Kualanamu Medan mencapai 20,86 ton, Soekarno Hatta sebanyak 15,96 ton, Surabaya sebanyak 14,87 ton, Semarang sebanyak 14,79 ton dan Bandara Pontianak sebanyak 18 Kg.

“Dahulu Sumut terkenal dengan ekspor Crude Palm Oil (CPO) terbesar di Indonesia, hari ini kita pun berbangga karena satu per satu komoditi pertanian mulai diakui kualitasnya, ini luar biasa dan harus kita dukung bersama,” ujar Wagub Musa Rajekshah.

Menurut Wagub, komoditi apapun yang diekspor nantinya akan berdampak kepada masyarakat kita pelaku pertanian dan peternakan. Semakin banyak yang dihasilkan, maka akan semakin banyak juga yang di ekspor dan harga pun akan berpengaruh hingga tingkat bawah.

Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian Ali Jamil menjelaskan, bahwa Sumut memasok 31 persen ekspor SBW nasional, terdapat dua perusahaan dengan volume pengiriman tahun 2017 sebanyak 13,7 ton dan meningkat pada tahun 2018 menjadi 20,86 ton. Pada tahun 2019 ini diharapkan ekspor SBW ke Tiongkok dari Medan semakin meningkat dengan penambahan 1 pabrik pengolahan SBW yang telah teregistrasi ke Tiongkok.

“Kami menargetkan di tahun 2019 dapat meningkat hingga 100 persen dengan penambahan satu rumah walet dan rumah produksi yang telah di registrasi oleh Tiongkok,” ujar Ali.

Tidak hanya SBW, Kepala Balai Karantina Medan, Hafni Zahara menyampaikan data komoditas pertanian lain yang dilepas kali ini yaitu sarang bubuk daun mengkudu 3 ton senilai Rp 420 Juta, lilium 5.156 Kg senilai Rp 7,7 M dan bunga potong Dracena 393.000 batang senilai Rp 1,3 M.

Hafni menambahkan, bahwa komoditas unggulan ekspor Karantina Medan untuk karantina hewan adalah sarang burung walet, pada tahun 2018 ekspor SBW melalui Bandara Kualanamu mencapai 265,231 ton senilai tidak kurang dari Rp 4,183 triliun. Sementara untuk Karantina Tumbuhan adalah bibit lilium sebanyak 13.895 kg dengan nilai Rp 215 miliar.

Dalam acara pelepasan ekspor SBW tersebut, turut hadir Muchrid Nasution (Anggota DPRD Sumut), Bintang Hidayat (Kepala Otoritas Bandara International Kualanamu Deliserdang), Azhar Harahap (Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut) dan Dahler Lubis (Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumut). (prn/han)

Investor Qatar Jajaki Danau Toba, Investasi Awal 500 Juta Dolar AS

NAIK BOAT: Wisatawan menggunakan boat menyeberangi Danau Toba, belum lama ini. Investor Qatar berencana menanamkan modalnya di kawasan objek wisata yang diproyeksikan menjadi Bali baru ini.
NAIK BOAT: Wisatawan menggunakan boat menyeberangi Danau Toba, belum lama ini. Investor Qatar berencana menanamkan modalnya di kawasan objek wisata yang diproyeksikan menjadi Bali baru ini.

SAMOSIR, SUMUTPOS.CO – Salah satu negara Timur Tengah, Qatar dipastikan tidak hanya berinvestasi di Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB), tetapi juga merambah sejumlah wilayah lain di Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, Qatar tengah menyasar wilayah lain, seperti Danau Toba, Sumatera Utara dan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

INVESTOR Qatar akan mengucurkan dana 500 juta Dolar AS atau sekitar Rp7 triliun untuk pengembangan wisata halal di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pembangunan proyek tersebut akan dimulai tahun ini. Menurut Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, investasi tersebut merupakan investasi awal dan akan terus bertambah dalam beberapa tahun ke depan.

“Mereka ternyata tidak hanya mau di Mandalika, tetapi juga di Labuan Bajo dan Danau Toba. Nilai investasi awal 500 juta dolar AS,” ucap Luhut dalam siaran pers, di Jakarta, Kamis (28/2).

Luhut menyatakan, saat ini rencana investasi yang sedang berjalan adalah di wilayah Mandalika, NTB. Pemerintah, kata Luhut, tengah mengejar perkembangan terbaru dari rencana itu. Selain itu, Luhut juga mengatakan, Qatar masih akan menambah nilai investasinya dari angka 500 juta dolar AS. Ia pun memastikan pemerintah akan memberi kebebasan bagi Qatar untuk memilih investasi yang diinginkan.

Sebab sebelumnya, tambah dia, pemerintah meminta agar investasin

yang dilakukan berkaitan dengan hal-hal yang halal. Namun Qatar, kata Luhut, ternyata juga tertarik untuk berinvestasi di luar hal-hal yang halal.

“Kami bebaskan dia, tapi memang kami bilang investasi halal. Tapi mereka malah bilang, boleh gak kami (investasi di hal yang) nggak halal. Kami jadi garuk-garuk kepala,” ucap Luhut.

Ketika ditanya mengenai target realisasinya, Luhut hanya menjawab pendek. Ia memastikan dalam waktu dekat akan segera terwujud. “Rencananya tahun ini sudah harus terwujud,” pungkas dia.

Jangan Cuma Fokus Danau Toba

Pengamat Ekonomi Sumut, Wahyu Ario Pratomo mengapresiasi keseriusan pemerintah pusat dalam menggenjot potensi wisata di Danau Toba menjadi Bali baru. Namun dia berharap, pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah pusat jangan cuma terfokus ke kawasan Danau Toba. Karena diakuinya, Sumatera Utara masih memiliki banyak potensi pariwisata yang tak kalah dengan Danau Toba dan membutuh perhatian pemerintah juga.

Wahyu mencontohkan, seperti objek wisata Bukit Lawang dan Tangkahan di Kabupaten Langkat. Begitu juga dengan panorama alam di Pulau Nias. Menurutnya, kedua daerah ini memiliki objek wisata yang mampu menarik perhatian wisatawan mancangera (wisman) dan wisatawan nusantara (wisnus). “Wisman saat ini lebih tertarik untuk pergi ke Langkat seperti Bukit Lawang dan Tangkahan karena ada wisata alam dengan hewan langka di sana, dan itu menjadi keunikan tersendiri. Termasuk ke Nias juga,” sebut Wahyu kepada Sumut Pos, Kamis (28/2) siang.

Namun begitu, Wahyu tetap mendukung pembangunan kawasan Danau Toba, menjadi objek wisata kelas dunia. Apalagi, pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata sudah meluncurkan Calender of Even Danau Toba 2019 bertajuk ‘Celebrating Nature in Art’ sebagai bentuk dukungan terhadap aktivitas pariwisata di sana.

Wahyu juga mengungkapkan, unsur 3A penting dalam pariwisata yakni unsur Atraksi, Amenitas, dan Aksesibilitas. Menurutnya, Aksesibilitas sejauh ini terus dibenahi oleh pemerintah. Terutama jalan menuju daerah Danau Toba baik jalur darat maupun udara. Namun menurutnya, unsure Atraksi juga menjadi hal yang tak kalah penting dalam menarik minat wisman dan wisnus.

“Karena kalau pariwisata hanya menjual keindahan alam, paling dua hari sudah bosan karena melihat pemandangan yang sama. Apalagi kalau yang sudah pernah ke sana, pasti kurang tertarik untuk datang kembali. Untuk itu, atraksi berperan penting dalam mendorong minat wisatawan,” ungkapnya.

Ia juga sepakat dengan Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya, pemerintah daerah jangan pelit untuk promosi. Karena, atraksi atau even yang akan digelar untuk menarik minat wisatawan perlu disebarluaskan informasinya. “Informasi kalender even harusnya ada di setiap pintu kedatangan penerbangan, hotel, restauran, mall. Kemudian, promosikan juga lewat media cetak maupun elektronik, tentu akan menarik perhatian masyarakat. Apalagi tahun lalu wisman yang datang ke Sumut menurun dibandingkan tahun 2017,” kata Dosen Fakultas Ekonomi USU itu.

Bukan itu saja, kunjungan wisatawan domestik juga sempat anjlok akibat adanya peristiwa kapal tenggelam dan longsor. “Makanya butuh promosi untuk menarik wisatawan ke even-even yang akan digelar di Danau Toba. Apalagi tahun ini Sumut ditargetkan untuk kunjungan wismannya mencapai 1 juta orang. Rasanya target ini memang sangat besar,” sebut Wahyu.

Selain even-even yang telah diagendakan dalam Calender of Even Danau Toba 2019, sebut Wahyu, kawasan Danau Toba harusnya juga digunakan untuk menyelenggarakan MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition) maupun kegiatan olah raga bertaraf nasional maupun internasional. “Untuk itu, harus ada kerja sama antara pemerintah, swasta dan masyarakat untuk mengusung kegiatan-kegiatan tersebut,” jelasnya.

Selama ini, sebutnya, hanya Bali dan kota-kota di Pulau Jawa saja yang menjadi tempat kegiatan MICE dan olah raga skala internasional dan nasional. “Bila target 1 juta kunjungan wisman tercapai, pasti dapat mendorong perekonomian masyarakat di daerah sekitar. Namun selama ini hanya berkisar 250 ribu hingga 300 ribu wisman saja,” sebutnya.

Wahyu juga menilai, peran Bandara Silangit yang telah menjadi bandara internasional selama dua tahun, belum begitu efektif. Apalagi, penerbangan dari luar negeri juga buka-tutup rute atau operasionalnya. “Begitu juga dengan pPembangunan infrastruktur, seperti jalan lingkar di Pulau Samosir. Memang sudah memberikan manfaat bagi pertumbuhan ekonomi Samosir yang cukup tinggi sekitar 5,5 persen. Namun, kemiskinan di sana masih cukup tinggi, karena pembangunan infrastruktur kurang melibatkan masyarakat setempat,” tandas Wahyu.

Sinergitas Pemerintah dan Swasta

Kepala Bappeda Sumut, H Irman mengatakan, Gubsu Edy Rahmayadi selalu menekankan pentingnya dukungan kepala daerah se-kawasan Danau Toba, pihak swasta dan juga masyarakat dalam menyukseskan seluruh kalender even pariwisata pada tahun ini.

“Pada waktu pengesahan RPJMD Sumut 2018-2023 di DPRD Sumut kemarin, Pak Gubernur sudah menyinggung pentingnya KSPN Danau Toba segera terwujud agar peningkatan ekonomi masyarakat kita ikut terdongkrak. Salah satu pesannya tentu supaya semua bupati saling sinergi mendukung program pemerintah pusat dan provinsi, atas kemajuan pariwisata Danau Toba. Tak lepas pula peran seluruh pihak swasta dan masyarakat Sumut,” ujar Irman kepada Sumut Pos, Kamis (28/2).

Apalagi, kata dia, sebagai upaya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 500 ribu pengunjung tahun ini, dilakukan melalui upaya pembangunan dan pengembangan sarana prasarana pendukung pariwisata dengan mendorong partisipasi swasta. Antara lain dalam pembangunan convention centre, perhotelan, restoran, sport area dan lain sebagainya seperti agro techno park di kawasan Mebidangro, wisata olahraga di kawasan Danau Toba dan arung jeram Asahan, wisata budaya dan wisata bahari di Kepulauan Nias dan Tapanuli Tengah, Sibolga serta ekowisata di Danau Siasi Tapanuli Selatan, Bahorok dan Tangkahan, Langkat.

“Lalu wisata mangrove di Langkat, Sergai, Batubara dan pengembangan pusat wisata religi sejarah antara lain Islamic Centre di Deliserdang, titik nol masuknya Islam di Barus, Tapteng, Situs Putri Hijau Deliserdang dan Taman Wisata Iman di Dairi serta daerah lainnya. Selain itu juga pelaksanaan even wisata seperti festival kopi, festival buah dan bunga serta karnaval kebudayaan,” katanya.

Berdasarkan RPJMD yang telah disusun tersebut, sambung Irman, pembangunan Sumut lima tahun kedepan bukan infrastruktur semata tetapi juga dengan peningkatan sarana prasarana di bidang pendidikan dan kesehatan sebagai upaya mewujudkan SDM yang berdaya saing dan berkualitas untuk dapat memenuhi pasar kerja.

“Jadi dorongan agar seluruh kepala daerah se Sumut komit untuk mewujudkan Sumut yang aman, maju dan bermartabat melalui butir-butir yang tertuang di RPJMD secara bersama-sama harus kita wujudkan. Tidak akan mungkin ada program yang terealisasi jika hanya Pemprovsu saja yang bekerja. Termasuk dalam mewujudkan KSPN Danau Toba yang kita banggakan bersama,” katanya. (bbs/prn/gus)

Jalan Tol Bukan Satu-satunya Solusi Macet Medan-Berastagi, Kereta Api Dinilai Lebih Efektif dan Efesien

SUTAN SIREGAR/SUMUT POS KERETA API: Seorang pegawai PT KAI berdiri di lokomotif kereta api yang akan berangkat dari Stasiun Kereta Api Besar Medan.
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
KERETA API: Seorang pegawai PT KAI berdiri di lokomotif kereta api yang akan berangkat dari Stasiun Kereta Api Besar Medan.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Wacana pembangunan jalan tol maupun jalan layang Medan-Berastagi hingga kini masih menuai pro dan kontra. Pengamat tata kota, Rafriandi Nasution malah menilai, pembangunan jalan tol bukan satu-satunya solusi yang paling efektif dan efisien mengurangi kemacetan dari Medan ke Berastagi. Dia pun mengusulkan, sebaiknya pemerintah membangun jalur perlintasan kereta api.

Menurut Rafriandi, jalan tol Medan-Berastagi kurang efektif dan efisien karena masyarakat harus mengeluarkan cost atau biaya untuk tarif tol yang ditetapkan nantinya, kemungkinan tidak murah. “Seharusnya bukan jalan tol, tapi dibangun (akses) kereta apin

Kalau dibangun jalan tol ke kawasan pariwisata, itu terlalu mahal, dan kita belum tahu berapa besar biaya yang dihabiskan untuk membangun jalan tol. Selain itu, hanya dinikmati masyarakat menengah ke atas, karena harus memiliki kendaraan pribadi (mobil). Sedangkan masyarakat bawah bagaimana?” kata Rafriandi kepada Sumut Pos, Kamis (28/2).

Menurut Rafriandi, dengan kereta api bisa menampung kapasitas yang lebih banyak dan biaya yang dikeluarkan lebih hemat tentunya. Apalagi, tujuannya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. “Jadi, yang penting kalau untuk daerah pariwisata itu bisa dinikmati semua orang, sehingga jumlah pengunjung meningkat. Makanya, lebih tepat dibangun kereta api karena dapat mengangkut dalam jumlah banyak dan biaya lebih murah. Terlebih, bisa dinikmati masyarakat menengah ke bawah. Beda dengan jalan tol, tidak dinikmati oleh semua kalangan,” papar alumni Manajemen Pembangunan Kota Pascasarjana USU ini.

Ia menyebutkan, dengan moda kereta api nilai ekonominya bisa lebih. Pasalnya, bukan hanya dapat mengangkut orang saja, tetapi barang-barang ekonomi juga bisa seperti sayur, buah dan sebagainya. “Berpikirnya harus lebih modern lagi, kalau hanya jalan tol semua bisa sampaikan ide itu. Jadi, harus lebih berkembang ke arah ekonomi produktif. Saya yakin kalau dibangun akses kereta api jumlah wisatawan yang berkunjung ke Berastagi meningkat, karena masyarakat menengah ke bawah bisa menikmatinya dibanding jalan tol,” sebutnya.

Rafriandi menuturkan, Gubernur Sumut Edy Rahmayadi diharapkan dapat melakukan kajian terkait wacana jalan tol Medan-Berastagi. Kajian yang akan dilakukan menyangkut berbagai aspek dan dampak multiplier-nya. “Gubernur harus punya studi tentang peningkatan moda transportasi itu, karena tol bukan satu-satunya alternatif yang paling efektif dan efisien. Apalagi, kita kan masih terkendala dengan stok sayur atau buah akibat akses transportasi yang terbatas akibat cuaca buruk. Tapi, kalau dengan kereta api kemungkinan kendala itu bisa teratasi karena ada gerbong yang dapat menampung dengan kapasitas besar,” imbuhnya.

Sementara, Wakil Ketua Komisi D DPRD Medan, Salman Alfarisi menyambut positif rencana dibangun jalan tol Medan-Berastagi ataupun akses kereta api. Namun, ia menilai, jika dilihat dari sisi kemanfaatannya memang kereta api lebih baik. “Kalau memang bisa kedua-duanya kenapa tidak? Ada jalan tol dan kereta api, sehingga semakin meningkatkan pertumbuhan perekonomian. Namun, kalau kereta api memang dapat dinikmati masyarakat menengah ke bawah karena biaya lebih murah,” ujar dia.

Sebelumnya, Direktur Jembatan Direktorat Jenderal (Dirjen) Bina Marga Irwan Zarkasih mengakui, pemerintah berkeinginan membangun ruas tol Medan-Berastagi itu, akan tetapi masih untuk program jangka panjang. Alasannya, selain membutuhkan dana yang besar yakni mencapai Rp7 triliun, geometriknya juga sangat sulit. “Membangun ruas tol Medan-Berastagi harus diawali dengan kerjasama antara pemerintah dan badan usaha supaya itu terwujud dengan mencari investor,” kata Iwan Zarkasih di sela-sela Seminar Nasional Teknik Jalan (SNTJ) 2018 yang digelar DPD Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI) Sumut, di Library Digital Universitas Negeri Medan (Unimed), beberapa waktu lalu.

Iwan Zarkasih yang juga Ketua DPD HPJI DKI Jakarta itu mengakui, sulit mengatasi kemacetan ruas jalan Medan-Berastagi dengan membangun tol karena daerah itu hutan suaka alam yang tidak serta merta dipakai untuk jalan. Hutan suaka alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistem yang juga berfungsi sebagai wilayah penyangga sistem kehidupan.

Agar pembangunan ruas tol Medan-Berastagi bisa terwujud dengan hadirnya investor, Iwan mengharapkan kepada Ikatan Cendikiawan Karo bisa mengumpulkan dan melengkapi data-data soal lahan di wilayah tersebut. “Sehingga kalau ada investor sudah lengkap data-data daerah itu,” katanya.

Iwan juga berharap kemacetan ruas jalan Medan-Berastagi segera teratasi apalagi Kabupaten Karo terkenal penghasil sayur dan buah-buahan, bahkan sejak lama sudah diekspor ke Singapura dan Malayasia. Untuk mengatasi kemacetan dan kesemrawutan lalulintas di ruas jalan itu diusulkan program jangka pendek yakni dengan membuat kantong parkir. Program jangka pendek lainnya pada jam sibuk atau akhir pekan Dinas Perhubungan melarang truk melintas.

Khusus untuk masyarakat Sumut diimbau agar meningkatkan kepatuhan berlalulintas, saling menghargai dengan tidak melakukan serobot menyerobot. “Masyarakat Sumatera Utara kepatuhan lalu lintasnya rendah sekali, akibat menyerobot jalan sering ruas jalan Medan-Berastagi macet,” tandasnya.(ris)

Dugaan Persekongkolan Tender Proyek di BWSS II, KPK Diminta Turun Tangan

no picture
no picture

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Dugaan persekongkolan pelaksanaan tender proyek di Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) II Tahun Anggaran 2019, mendapat sorotan tajam dari Lembaga Bantuan Hukum Warga Indonesia (LBHWI). Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diminta turun tangan mencari tahu informasi yang sudah tersiar di media massa tersebutn

Direktur LBHWI Adamsyah Koto mengungkapkan, menurut catatan pihaknya praktik-praktik tak terpuji di BWSS II sudah lazim terjadi terutama dalam pelaksanaan tender proyek. Menurutnya, aparat penegak hukum (APH) harus mulai menyelidiki kongkalikong yang kerap terjadi di instansi vertikal Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tersebut.

“Kalau saya boleh jujur, sebenarnya permainan seperti itu di BWSS II sudah sering sekali terjadi, bukan pada tahun ini saja. Untuk itu saya mendukung penuh supaya penyidik KPK turun untuk mengendus praktik-praktik kotor tersebut,” katanya menjawab Sumut Pos, Kamis (28/2).

Tak hanya di BWSS II, kata dia, di instansi vertikal lain praktik seperti itu sudah lazim terjadi dan sayangnya APH maupun KPK belum turun untuk menindaklanjuti. Karenanya dirinya meminta, supaya APH baik dari Polda Sumut atau Kejaksaan proaktif menindaklanjuti setiap informasi yang tersiar melalui media, ataupun dari pengaduan-pengaduan masyarakat. “Pertanyaannya adalah, apakah APH kita seperti Polda Sumut mau dan serius untuk mengusutnya. Atau paling tidak mulai melakukan investigasi atas kebenaran sebuah informasi yang telah berkembang,” katanya.

Ia menambahkan, tidak tertutup kemungkinan bila KPK turun tangan menyelidiki dugaan kongkalikong di BWSS II, kepala balai baik yang masih atau pernah bertugas menjadi ikut terlibat dalam praktik kotor tersebut. “Maka dari itu sekali lagi kami dari LBHWI mendorong agar KPK yang notabene punya informan di Sumut ini, mulai bekerja mencari bukti otentik atas informasi permainan tender di BWSS II. Begitupun kepada Poldasu untuk saling sinergi melakukan pengusutan dengan APH kejaksaan soal dugaan tersebut, apalagi kabarnya ada dibekingi ‘orang kuat’ didalamnya dan ini yang perlu diungkap,” katanya.

Pada bagian lain, pihaknya juga mendorong supaya Gubernur Sumut Edy Rahmayadi proaktif terlibat untuk mewujudkan good government di wilayahnya. Sinergitas dan koordinasi yang mulai terbangun di level FKPD Sumut, dinilainya menjadi faktor kunci menjadikan Sumut bermartabat dari aspek clean and clear government.

“Sebagai leading sector dan perpanjangan tangan pusat, tak bisa dipungkiri bahwa gubernur menjadi pilar penting dalam konteks mewujudkan pemerintahan di Sumut yang bersih dan bebas dari praktik KKN. Untuk itu, Gubsu mestinya ikut mendorong Kapolda dan Kejatisu untuk bekerja menindaklanjuti dugaan persekongkolan instansi pemerintahan di Sumut,” pungkasnya.

Sayang, Kepala BWSS II Roy Pardede belum mau memberikan jawaban perihal dugaan persekongkolan di instansi yang dipimpinnya. Saat dikonfirmasi via seluler berulang kali kemarin, ia enggan untuk menjawab. Begitu juga saat hendak ditemui di kantornya, Rabu (27/2), ia tidak berada di sana. Oleh petugas keamanan, diketahui kalau Roy Pardede sedang berada di luar kota.

Namun, Pokja Tender BWSS II dalam surat jawaban atas sanggahan PT KBM pada 18 Februari 2019, membantah tegas adanya praktik persekongkolan dalam tender paket pekerjaan rehabilitasi jaringan irigasi daerah irigasi perkotaan Kabupaten Batubara itu.

Dalam surat jawaban atas sanggahan PT KBM itu, Ketua Pokja Tender Rahmad Danny menegaskan, kekalahan PT KBM adalah karena PT KBM tidak memenuhi syarat pada evaluasi teknis penawaran, yakni pada RKK yang tidak mencantumkan penjelasan manajemen risiko dan rencana tindakan.

Ia mengatakan Pokja telah melakukan evaluasi sesuai dokumen pemilihan. Pokja tidak melakukan rekayasa yang mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat. (prn)

50,2 Ton Kubis Berastagi Diekspor ke Malaysia, Kualitas Diakui Dunia, Ini Berkah bagi Petani Karo

bagus/SUMUT POS TINJAU STOK KUBIS: Gubsu Edy Rahmayadi tinjau stok kubis di gudang PT Juma Berlian Exim, di Tigapanah, Kamis (28/2).
bagus/SUMUT POS
TINJAU STOK KUBIS: Gubsu Edy Rahmayadi tinjau stok kubis di gudang PT Juma Berlian Exim, di Tigapanah, Kamis (28/2).

KARO, SUMUTPOS.CO – Hasil pertanian komiditas sayuran kubis (kol) berhasil menjadi pasar ekspor dengan kualitas terbaik berasal dari Kabupaten Karo. Ekspor 50,2 ton sayuran Kubis asal Berastagi ini ke Malaysia, dilepas secara resmi oleh Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi di Desa Lambar, Kecamatan Tigapanah, Kabupaten Karo, Kamis (28/2). Ekspor ini dilakukan melalui Pelabuhan Belawan oleh perusahaan eksportir PT Juma Berlian Exim.

Acara pelepasan ditandai dengan pemecahan kendi dan pengguntingan pita oleh Gubernur Edy Rahmayadi, yang disaksikan Bupati Karo Terkelin Brahmana, Kepala Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian Ali Jamil Harahap, Ketua GPEI Sumut Hendrik Halomoan Sitompul, Kepala Balai Besar Karantina Belawan Bambang Haryanto, dan anggota DPRD Sumut Muchrid Nasution.

Pada kesempatan itu, Gubernur mengajak masyarakat Kabupaten Karo untuk terus meningkatkan kualitas produk pertanian dari Tanah Karo. Karena Karo merupakan daerah penghasil produk pertanian cukup banyak varietasnya, seperti kubis, wortel, kentang dan lain sebagainya. “Kita harus bersyukur Kabupaten Karo ini diberikan tanah yang subur serta daerahnya yang sejuk. Kita manfaatkan ini untuk memajukan pertanian agar rakyat tetap sejahtera,” ujar Edy.

Gubernur juga meminta kepada Bupati Karo Terkelin Brahmana untuk meningkatkan kualitas pertanian seperti membuat kebijakan yang berpihak pada petani. “Paling tidak membuat koperasi agar petani tidak diakali oleh tengkulak yang memainkan harga,” sebutnya.

Jika produk-produik pertanian ini bisa ditingkatkan kualitasnya, kata Edy, nilai ekspor Sumut akan lebih meningkat di tahun-tahun yang akan datang. Sehigga ke depan, dari Tanah Karo tidak hanya kubis yang di ekspor, tetapi juga komoditas lainnya seperti wortel, kentang dan lainnya. “Hari ini, kita ekspor lima puluh ton lebih Kubis. Ke depan lebih ditingkatkan lagi jumlah yang akan di ekspor dan bukan hanya kubis yang di ekspor, masih ada wortel, kentang, cabe dan lain sebaginya,” sebut Edy.

Saat ini Pemprov Sumut, lanjut Gubernur Edy, juga sedang mengkaji pembangunan cold storage untuk menyimpan hasil panen. Supaya kualitas komoditas bisa bertahan lama. “Yang penting petani jujur. Jangan diakal-akali. Tuhan sudah memberikan yang terbaik untuk Karo. Ke depan rakyat kita makan kubis yang besar-besar,” ujarnya.

Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil mengatakan, puluhan ton kubis tersebut, dikirim melalui eksportir PT Juma Berlian Exim yang dikemas dalam kotainer dan diberangkatkan dari Pelabuhan Belawan. “Jumlah permintaannya semakin banyak. Kualitas kubis kita diakui dunia. Ini berkah bagi petani kita di Karo,” sebut Ali.

Ali mengungkapkan, dengan kualitas terbaik yang dimiliki petani Kubis di Kabupaten Karo, permintaan terus meningkat. Sehingga menjadi produk primadona dan banyak pasar harus dipenuhi di Asia Tenggara dan Asia. Kemudian, produksi Kubis terus ditingkatkan dengan tetap menjaga kualitasnya. “Pada tahun pertama di 2012, ekspor kubis sebanyak 11.747 ton. Pada 2013 jumlahalnya meningkat di angka 13.133 ton. Hingga 2018 ekspor kubis berada di angka 15.228 ton,” jelas Ali.

Ali juga mengakui, persaingan di negara tujuan ekspor cukup ketat. Baik secara kualitas atau pun harga. Namun, Kubis asal Karo banyak diminati para pengusaha di luar negeri. “Jepang, Korea Selatan dan Singapura yang memiliki standar syarat keamanan pangan yang cukup tinggi,” kata Ali.

Tahun ini, Kementerian Pertanian melakukan pendampingan kepada para eksportir guna memenuhi persyaratan pengeluaran. Di Berastagi, petani kubis diajari untuk bagaimana memitigasi Organisme Penggangu Tumbuhan (OPT) melalui inline inspection. Pendampingan mulai dari pertanaman kemudian penanganan pascapanen sampai ke pengangkutan agar sesuai dengan persyaratan negara tujuan ekspor. “Penerapan inline inspection insyaAllah dapat menjadi solusi untuk kembali meningkatkan volume ekspor kubis asal Sumatera Utara,” pungkas Ali.

Bupati Karo Terkelin Brahmana mengatakan, dengan terbukanya peluang ekspor ini, tentu akan memberikan gairah positif bagi petani di Kabupaten Karo dalam mengembangkan tanaman sayuran karena adanya jaminan harga pasar yang lebih stabil. Terkelin juga menambahkan, produksi sayuran Karo untuk mengisi pasar ekspor masih terbuka luas, tinggal bagaimana meningkatkan lagi kualitas produksi dan penanganan pascapanennya, mengingat tuntutan konsumen makin menghendaki sayuran yang fresh dan menyehatkan. “Selain itu juga, dengan dibukanya ekspor ini, membuktikan bahwa produk pertanian tanah karo dapat menembus pasar internasional dan diterima oleh masyarakat,”ungkap Bupati Karo.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Sumut, Drs Hendrik Halomoan Sitompul MM menyambut positif ekspor sayuran kubis (Brassica sp) tersebut. Menurut Hendrik, ekspor dan keberlanjutan produksi komoditi pertanian untuk mengisi pasar ekspor akan terjamin jika semua pemangku kebijakan bersatu, samakan visi untuk satu tujuan kesejahteraan rakyat. “Hari ini kita bersyukur, kita telah melepas ekspor sayuran kubis dari Kabupaten Karo langsung ke Malaysia. Jadi tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak terus meningkatkan ekspor. Ke depan kita harus bersaing dengan negara-negara penghasil yang sama,” ucap Hendrik yang juga Caleg DPR RI Dapil Sumut 1 itu. (prn/gus/deo)

Buntut Kericuhan Harlah NU di Tebingtinggi, 11 Anggota FPI Tersangka

sopian/SUMUT POS JELASKAN: Kasubbag Humas Polres Tebingtinggi Iptu J Nainggolan memberikan keterangan kepada sejumah awak media, Kamis (28/2).
sopian/SUMUT POS
JELASKAN: Kasubbag Humas Polres Tebingtinggi Iptu J Nainggolan memberikan keterangan kepada sejumah awak media, Kamis (28/2).

TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO – Sebanyak 11 anggota Front Pembela Islam (FPI) Kota Tebingtinggi resmi ditetapkan sebagai tersangka. Meraka diduga menjadi penyebab kerusuhan pada acara Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) ke-93 di Lapangan Merdeka Jalan Sutomo, Kota Tebingtinggi, Rabu (27/2) lalu.

Sebelumnya, Polres Tebingtinggi hanya merilis 8 orang pelaku. Tetapi setelah dilakukan pemeriksaan lebih itensif, akhirnya sore hingga malam penyidik Sat Reskrim Polres TebingtinggI mengamankan 3 orang tersangka lagi.

Ketiganya masing-masing, Abdul Rahman, Rahmad Fuji dan Ilham alias IM. Kesebelas tersangka kini masih ditahan di Mapolres Tebingtinggi. “Penangkapan kedua orang tersangka RF dan IM ada hubungan dengan kerusuhan dan melakukan penghasutan kepada masyarakat,” jelas Kasubbag Humas Polres Tebingtinggi Iptu J Nainggolan kepada sejumlah awak media di halaman Mapolres Tebingtinggi, Kamis (28/2).Menurut Nainggolan kronologis penangkapan terhadap dua pelaku yaitu saat dilakukan razia justice didepan Mako Polres Tebingtinggi, didapati dua orang yang mencurigakan terus memantau kondisi polres dari luar, setelah ada kecurigaan.

Kemudian pihak Sat Reskrim Polres langsung melakukan pemeriksaan dan dari mereka berdua tidak didapatkan identitas diri dan setelah dilakukan rangkaian penyidikan mereka termasuk bagian dari 9 orang yang melakukan kerusuhan dan ingin membubarkan Harlah NU ke 93 di Lapangan Merdeka Kota Tebingtinggi.

Terkait akan adanya tersangka lain, Kasubbag Humas Iptu J Nainggolan menyatakan, pihak kepolisian masih melakukan penyidikan lebih lanjut kepada siapa aksi provokator penggerak perusahaan tersebut. “Saat ini belum ada tersangka baru, kita masih melakukan penyidikan,”jelasnya.

Sedangkan terkait oknum pelaku kerusuhan kemarin, di dalam kegiatan Harlah NU tersebut para pelaku tidak ada memakai spanduk dan baju FPI, tetapi mereka sempat mengganti baju bertuliskan #ganti presiden, tetapi menurut Iptu J Nainggolan baju tersebut saat ini belum dijadikan barang bukti oleh pihak kepolisian Polres Tebingtinggi. “Aksi tersebut tidak ada perencanaan, diduga mereka spontan naik ke atas panggung dan mengatakan kalau kegiatan ini harus dibubarkan,” jelasnya.

Kasubbag Humas Polres Tebingtinggi Iptu J Nainggolan menghimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak terpancing dengan berita atau isu hoax, Diharapkan kepada masyarakat untuk bisa benar benar menyaring isu yang sengaja disebarkan orang tidak bertanggung jawab agar Tebingtinggi tidak kondusif jelang Pemilihan Umum serentak. “Masyarakat harus menyaring isu tersebut dan jangan muda terpancing,” ungkapnya.

Sedangkan kepada 11 orang tersangka pelaku perusuhan pada saat Harlah NU ke 93 kemarin diancam dengan pasal 160 subs 175 yo 55, 56 KUHP dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara. Adapun dari delapan orang anggota FPI Kota Tebingtinggi yang diamkan di Mapolres Tebingtinggi dan sudah ditetapkan menjadi tersangka adalah Syahrul Amri Sirait (45), Muhammad Fauzi Saragih (53), Muhammad Husni Habibi Nasution (26), Muhammad Anzas (35), Arif Darmadi (29), Amiruddin Sitompul (43), Suhairi alias Gogon (46), Ini Kital (23).

Menyikapi penangkapan kepada 11 orang anggota FPI Kota Tebingtinggi, Sekjen FPI Muslim Istiqomah sangat menyayangkan adanya kejadian kemarin saat ada kegiatan Harlah NU di Lapangan Merdeka Jalan Sutomo Kota Tebingtinggi. Muslim menyatakan, aksi tindakan tersebut tidak ada perintah dari FPI. “Kami selaku pimpinan FPI sudah mencoba untuk melerai dan menghentikan tindakan kawan-kawan, tetapi kemungkinan mereka terpancing dengan isi ceramah ustadz tersebut sehingga spontan bereaksi.

“Kejadian kemarin tidak ada perintah dari FPI, kami berharap semua bisa kondusif dan berjalan dengan aman dan damai,”pinta Muslim Istiqomah melalui via telepon selularnya. (Ian)

Mengatasi Siswa yang Masih Kurang Lancar Membaca, Warsiah Gunakan Lima Metode Mengajar

istimewa  BIMBINGAN: Kepala SDN 013 Desa Bulu Perindu, Kecamatan Tanjung Selor, Kalimantan Utara memberikan bimbingan membaca kepada siswa dengan metode kartu baca.

SUMUTPOS.CO – Warsiah merupakan Kepala SDN 013 Desa Bulu Perindu, Kecamatan Tanjung Selor, Kalimantan Utara. Ia dan para guru menerima laporan ada siswa dari tamatan sekolahnya tidak lancar membaca saat duduk di bangku SMP.

istimewa
 BIMBINGAN: Kepala SDN 013 Desa Bulu Perindu, Kecamatan Tanjung Selor, Kalimantan Utara memberikan bimbingan membaca kepada siswa dengan metode kartu baca.

Setelah diidentifikasi, ternyata memang ada beberapa siswa di kelas empat, lima, dan enam sekolahnya tidak bisa membaca dengan lancar.

Mengatasi masalah tersebut, sang kepala sekolah, yang juga fasilitator program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) di Kabupaten Bulungan, kemudian mengembangkan layanan atau bimbingan khusus dengan mulai melakukan indentifikasi siswa yang tidak bisa membaca di tingkat SD kelas tinggi tersebut.

1. Observasi lewat buku cerita 

“Biasanya saya masuk ke kelas lalu mengantikan guru pada waktu tertentu. Lalu saya lakukan tes kepada tiap siswa untuk membaca satu per satu. Caranya, saya meminta mereka untuk membaca buku. Dulu, saya menggunakan buku teks pembelajaran untuk menguji kemampuan membaca mereka. Sekarang, saya menggunakan buku cerita,” Warsiah mengisahkan melalui rilis yang diterima wartawan , Selasa (26/2).

Tes ini dilakukan berkali-kali sampai ia yakin anak tersebut memang mengalami hambatan belajar karena tidak lancar membaca. Biasanya, Warsiah membutuhkan waktu sampai dua minggu untuk melakukan observasi.

Menurut Warsiah, anak-anak tidak lancar membaca biasanya menunjukkan tanda-tanda khusus. Misalnya, jika diminta membaca sebuah kalimat, anak akan lama sekali mengeja satu kata atau menyebut huruf secara tidak teratur.

Mereka bahkan tidak mengetahui konteks bacaan dan tidak mampu menunjukkan kata dieja atau tak jarang mengeja kata yang tidak diminta untuk dibaca. “Hal-hal tersebut disebabkan anak menghafal kata, sehingga ketika diminta membaca kata yang lainnya, mereka tidak mampu,” jelasnya.

2. Pengelompokan masalah membaca

“Setelah proses observasi, maka anak tersebut akan saya pisahkan dari kelompoknya. Saya minta kepada guru agar anak tersebut tidak dilibatkan dalam proses pembelajaran untuk sementara waktu,” lanjut Warsiah.

Menurutnya, jika tidak bisa membaca maka anak tidak mampu menangkap materi diajarkan. Selain itu, anak tidak lancar membaca jika dipaksa ikut pembelajaran maka tidak akan bermanfaat.

Sebaliknya, anak malah semakin tertekan. “Anak-anak ini diberikan layanan atau bimbingan khusus agar mereka cepat bisa membaca. Dengan cara ini mereka masih bisa mengejar ketertinggalan dari teman-temannya,” kata Warsiah.

Anak-anak tidak bisa membaca kemudian akan dikelompokkan. Sedangkan anak tidak bisa mengeja, dengan anak tidak lancar membaca juga akan dipisahkan. Mereka akan ditangani dengan cara berbeda karena akan tidak efektif jika mereka berada dalam satu kelompok.

3. Dari kartu baca ke buku besar

Di sini anak tidak bisa mengeja diberikan layanan atau bimbingan khusus dengan mulai memperkenalkan huruf, yaitu dengan menggunakan kartu huruf dan kartu kata. Biasanya, setelah satu minggu anak dibimbing secara khusus, mereka sudah bisa mengenali huruf.

Sesudah anak bisa mengenal huruf, kegiatan selanjutnya adalah mengajari anak mengenal bunyi huruf sekaligus membunyikannya. Menurut Warsiah, secara keseluruhan butuh dua minggu agar anak bisa mengenal bunyi huruf.

“Jika anak telah mampu mengenal huruf dan bunyi, materi saya lanjutkan dengan memperkenalkan kata. Saya memulainya dengan memperkenalkan gabungan dua suku kata yang memiliki arti. Misalnya ‘bo’ dan ‘la’, jika digabung menjadi bola. Atau ‘ka’ dan ‘ki’, yang digabung menjadi kaki. Proses ini butuh waktu 1,5 bulan,” jelasnya.

Ketika mereka sudah lancar mengenal dua suku kata, baru dilanjutkan menggunakan buku bacaan dan mengajak mereka membaca buku cerita bergambar. Penggunaan gambar membantu anak mengetahui makna cerita.

Warsiah juga memakai media pembelajaran Big Book atau Buku Besar. Ketika membaca buku, ia tidak hanya meminta anak mengucapkan kata dengan benar tetapi juga menunjuk kata yang dibaca.

4. Belajar dengan menyenangkan

Setelah mereka selesai membaca, anak-anak akan diminta menceritakan ulang cerita yang dibaca, dan menjelaskan dengan kata-kata mereka sendiri. Tujuannya adalah untuk memastikan anak memahami makna bacaan.

Layanan atau bimbingan khusus ini dilakukan oleh Warsiah dari pagi sampai selesai jam pembelajaran.

Untuk mengantisipasi rasa bosan pada anak yang tidak betah berlama- lama duduk di kelas, Warsiah dan para guru berusaha membuat kegiatan membaca menjadi lebih menyenangkan.

“Memang tidak mudah sebab anak tidak tahan berlama- lama duduk di kelas. Mereka mudah merasa bosan karena tidak belajar bersama rekan-rekan sebayanya. Kegiatan membaca harus dibuat menyenangkan,” ujar Warsiah.

Ia juga memperhatikan suasana hati anak. Jika mereka ingin bermain-main, Warsiah membiarkan bermain dulu. “Jika suasana hatinya gembira maka saya lanjutkan kembali kegiatan membaca. Saya pun tidak pernah memaksa kalau mereka minta pulang,” kata Warsiah.

5. Bimbingan sesuai gaya belajar anak

Faktor kehadiran anak juga menjadi tantangan lain. Anak tidak selalu datang ke sekolah. Alasannya banyak, padahal itu lantaran mereka tidak bisa membaca sehingga menjadi tidak tahu apa yang harus dipelajari.

Walau begitu Warsiah tidak menyerah. Tak jarang ia akan datang langsung menjemput mereka ke rumah. Bekerja sama dengan orangtua, ia pun mengajak anak untuk kembali belajar.

Warsiah menyadari betul tanggung jawabnya sebagai guru dan kepala sekolah. Meski tidak mudah, ia tidak berhenti begitu saja.

Ia mengaku ada perasaan bersalah dan sia-sia jika anak-anak didiknya gagal dalam pendidikan hanya karena tidak bisa membaca. Baginya, semua anak itu pintar asal dilayani dan dibimbing sesuai dengan gaya belajar masing-masing anak. (bbs/azw)

Pascasarjana UPMI Gelar Studi Banding ke Tiga Negara

istimewa BERSAMA: Rektor UPMI, Dr H Ali Mukti SH MM (tengah) foto bersama dengan Mahasiswa Magister Hukum sebelum berangkat, kemarin

istimewa
BERSAMA: Rektor UPMI, Dr H Ali Mukti SH MM (tengah) foto bersama dengan Mahasiswa Magister Hukum sebelum berangkat, kemarin

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Puluhan mahasiswa Magister hukum Universitas Pembinaan Masyarakat Indonesia (UPMI) Medan menggelar studi banding sekaligus tour ke tiga negara, yaitu Malaysia, Singapura dan Thailand. Kegiatan tersebut diikuti oleh para mahasiswa angkatan ke-5 dan 6 pascasarjana Magister Ilmu Hukum dan Magister Ilmu Administrasi, yang dilaksanakan di tanggal 4 sampai 9 Maret 2019 mendatang.

Rektor UPMI Dr H Ali Mukti SH MM mengatakan, pelaksanaan studi banding ini merupakan salah satu program di perkuliahan program pascasarjana sebelum menyelesaikan tesis. “Nantinya, mereka akan ke universitas yang ada di tiga negara. Hal ini tentu bagi kami sangat lah perlu karena di tingkat pascasarjana ini pengalaman dan pemahaman itu nantinya harus bertaraf internasional,” kata rektor, Kamis (28/2).

Rektor melanjutkan, dengan dasar taraf internasional maka mahasiswa program magister harus dibawa dan paling tidak bisa memahami perbedaan bagaimana kira-kira ilmu yang kita peroleh di negara Indonesia dengan di negara tetangga. “Jadikan suatu motivasi kepada mahasiswa itu supaya lebih bisa membandingkan lagi dengan negara kita,” ujarnya.

Ia menyebutkan, kunjungan kampus hanya ke Universitas Putra Malaysia. Bagi mahasiswa magister ilmu hukum, akan coba dipertemukan dalam bidang pengacara. “Kita ingin membuktikan bagaimana perbedaaan hukum Indonesia dengan Malaysia bagaimana. Sementara yang kita ketahui hukum kita ini kan masih berasal hukum Belanda, tapi apakah Malaysia juga sama? Tentu disini lah tanya jawab dan diskusi-diskusi yang kita harapkan kepada mahasiswa kita untuk menindaklanjutinya nanti,” jelasnya.

Dilanjutkan rektor, untuk ke Thailand dan Singapura masih dalam penjajakan. Akan tetapi, paling tidak bisa memahami budaya dan tradisi kehidupan disana. “Khusus Singapura yang sudah kita ketahui bersama, negaranya sangat kecil tapi kenapa bisa maju? Jadi ini perlu kita pertanyakan kenapa, apakah karena faktor kedisiplinannya, atau karena negaranya kecil makanya mereka bisa kuat dan maju. Sementara kita yang begitu luas mengapa tak bisa seperti mereka,” jabarnya.

Dalam kegiatan ini pula akan di ikuti sekitar 70 mahasiswa, di antaranya 18 Magister Ilmu Hukum dan 52 Magister ilmu Administrasi, dengan pase keberangkatan masuk via Medan – Pineng dan pulang via Malaysia – Medan dengan metode keberangkatan dua gelombang, dan untuk mewakili rombongan kampusnya Study Tour DR H Ali Mukti SH MM selaku Rektor UPMI. (ris/azw)

Berantas Buta Huruf Lewat PAUD

istimewa Mendikbud, Muhadjir Effendy

istimewa
Mendikbud, Muhadjir Effendy

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menyebut pemerintah konsentrasi dalam mengembangkan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Program ini bertujuan untuk mengurai bobroknya pendidikan tempo dulu.

Hal itu diungkapkan Muhadjir, saat menghadiri Rakor Pelaksanaan Kebijakan dan Program Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat di Palembang, Rabu (27/2) malam.

Menurut dia, sistem dan tujuan pendidikan masa lalu semata-mata bertujuan untuk pemberantasan buta huruf. Sebab, 80 persen penduduk Indonesia pascaproklamasi tidak bisa membaca, menulis dan berhitung.

“Itu tujuan awal pendidikan kita masa itu, bobroknya hanya untuk pemberantasan buta huruf saja, tidak dari bawah,” ungkap Muhadjir.

Padahal, model pendidikan yang dibangun mesti sistematis dan terencana dengan baik. Pendidikan idealnya memiliki pondasi yang kuat agar tujuannya dapat tercapai optimal.

“Ibarat bangunan, tanahnya harus diratakan dulu, dibagusi pekarangannya, lalu baru bangun pondasinya dan bangunannya. Kalau dulu langsung bangun pondasi, wajar kalau tidak kuat,” ujarnya.

Oleh karena itu, kata dia, pemerintah mulai konsentrasi dalam membentuk sistem pendidikan yang tertata dengan konsep sebenarnya. Salah satunya adalah pengembangan PAUD sebagai tempat pembentukan sikap dan penanaman nilai keyakinan dan kebenaran kepada anak-anak usia di bawah tujuh tahun.

“Kita mulai mengurai masalah-masalah kusut dulu dan menanam pondasi untuk masa yang akan datang. Memang hasilnya tidak bisa cepat, bisa saja 30 tahun yang akan datang, jangan harap panennya sekarang,” kata dia.

“Ibaratnya pendidikan kita sekarang, halaman rumah itu ya PAUD, pondasinya SD, bangunannya SMP sampai perguruan tinggi,” sambungnya.

Hanya saja, Muhadjir menyadari program PAUD masih banyak kekurangan. Hal ini menjadi perhatian pemerintah baik dalam infrastruktur maupun tenaga pendidik.

“Ini masih awal, masih compang camping, dimaklumi saja. Pemerintah tengah konsen mengembangkan PAUD ini sampai ke seluruh pelosok desa,” pungkasnya. (bbs/azw)