26 C
Medan
Saturday, April 18, 2026
Home Blog Page 5552

Hakim Merry Purba: Kenapa Saya jadi Dikorbankan?

Hakim Merry Purba.
Hakim Merry Purba.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Terdakwa Merry Purba merasa dikorbankan oleh panitera di Pengadilan Negeri Medan. Merry yang sebelumnya merupakan hakim adhoc pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Medan merasa dirinya menjadi korban dalam kasus suap yang melibatkan pengusaha Tamin Sukardi.

Menurut Merry, yang berkomunikasi dengan Tamin adalah panitera pengganti di PN Medan, Oloan Sianturi. Sementara, dia tidak pernah berhubungan dengan Tamin yang menjadi terdakwa kasus korupsi.

Hal itu dikatakan Merry saat menanggapi keterangan Oloan Sianturi yang dihadirkan jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (21/2/2019).

“Saya tidak tahu, mereka semua ngomongin Tamin, tapi kenapa saya jadi korban? Mereka semua berhubungan dengan terdakwa, pihak yang sedang berperkara. Tapi kenapa saya yang dikorbankan?” Ujar Merry kepada majelis hakim.

Kepada hakim, Merry tetap berkeras bahwa dirinya tidak pernah menerima uang dari Tamin Sukardi.

Sebelumnya, dalam persidangan, Oloan mengakui sudah mengenal pengusaha Tamin Sukardi dan stafnya Sudarni sejak 2012. Oloan mengaku dihubungi pada Agustus 2018, saat Tamin menjadi terdakwa kasus korupsi di Pengadilan Tipikor Medan.

Awalnya, menurut Oloan, dia dihubungi oleh Sudarni dan Tamin. Keduanya meminta alamat tempat tinggal hakim Sontan Merauke Sinaga, salah satu yang menangani perkara Tamin. Kemudian, dalam rekaman pembicaraan yang diputar jaksa, terungkap bahwa Oloan sempat berbicara dengan Tamin beberapa jam sebelum sidang putusan pada 27 Agustus 2018. Oloan dan Tamin membicarakan mengenai rapat musyawarah hakim dan kemungkinan vonis yang akan dijatuhkan.

Kemudian, setelah Tamin divonis bersalah dan dihukum penjara, Sudarni kembali menghubungi Oloan. Saat itu, Oloan menggunakan bahasa Batak yang jika diterjemahkan berarti menyuruh agar Sudarni dan Tamin mengambil kembali uang yang sudah diserahkan kepada hakim. “Saya sama sekali tidak tahu hal itu,” kata Merry.

Dalam kasus ini, Merry Purba selaku hakim adhoc pada Pengadilan Tipikor Medan didakwa menerima suap 150.000 dollar Singapura. Uang tersebut diduga diberikan oleh pengusaha Tamin Sukardi. Menurut jaksa, uang tersebut diterima Merry melalui panitera pengganti pada Pengadilan Tipikor Medan, Helpandi. Menurut jaksa, Helpandi seluruhnya menerima 280.000 dollar Singapura.

Menurut jaksa, pemberian uang tersebut diduga untuk memengaruhi putusan hakim dalam perkara korupsi yang sedang ditangani Merry dan anggota majelis hakim lainnya. Perkara tersebut yakni dugaan korupsi terkait pengalihan tanah negara atau milik PTPN II Tanjung Morawa di Pasar IV Desa Helvetia, di Deli Serdang, Sumatera Utara.

Adapun, Tamin Sukardi menjadi terdakwa dalam perkara dugaan korupsi tersebut. Menurut jaksa, pemberian uang itu dengan maksud agar majelis hakim memutus Tamin Sukardi tidak terbukti bersalah. Tamin berharap dirinya dapat divonis bebas. (abba/kps)

1.756 WNA Menetap di Sumut, Pekerja Asing Terbanyak dari Malaysia

no picture
no picture

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Periode Februari 2019, terdapat 1.756 Warga Negara Asing (WNA) pengguna KITAS yang menetap di Sumatera Utara. Dari jumlah tersebut sebanyak 756 orang di antaranya tenaga kerja asing (TKA). Sementara 421 di antaranya berstatus mahasiswa.

“Sebanyak 756 TKA tersebar di sejumlah Kantor Imigrasi yang ada di Sumut. Di antaranya, Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Medan sebanyak 421 orang, Imigrasi Kelas I Polonia 8 orang, Imigrasi Kelas II Belawan 254 orang. Kantor Imigrasi Kelas II Pematangsiantar sebanyak 143 orang, Imigrasi Kelas II Tanjungbalai 3 orang, dan Imigrasi Kelas II Sibolga 27 orang,” kata Kepala Divisi Imigrasi Kanwil Kemenkumham Sumut, Icon Siregar, kepada Sumut Pos, Rabu (20/1).

Dari data Kantor Imigrasi Kanwil Kemenkumham Sumut, jumlah TKA terbesar yang bekerja di Sumut menurut asal negara, terbanyak dari Malaysia yakni 312 orang. Disusul China 181 orang, Filipina 112, Korea Selatan 98, India 34, Jepang 7, Singapura 3, Australia 4 orang. Kemudian, Thailand 2 orang, Amerika Serikat 1 orang, dan Sri Langka 2 orang.

Menurut Icon, dari 756 TKA tersebut, para pekerja asing tersebut berstatus profesional, yang tersebar di wilayah Sumut. “Mereka tersebar di berbagai perusahaan di Sumut. Ada yang di perusahaan pembangkit listrik, perkebunan, pertambangan, pendidikan, dan lain-lain,” sebutnya.

Sejauh ini, pihaknya telah mengimbau seluruh kantor imigrasi untuk terus mengawasi para pekerja asing di Sumut itu. “Kalau kita lihat mereka profesional dan untuk pengawasannya kita sudah ingatkan Kantor Imigrasi untuk mengawasi mereka. Jadi kita pantau siapa tenaga asing yang tidak pada tempatnya,” sambungnya.

Selain itu, Imigrasi juga mencatat 593 Tenaga Kerja Asing (TKA) meninggalkan Indonesia lantaran masa kerjanya di Sumut sudah habis (Exit Permit Only).

Sementara itu, sebanyak 421 orang orang asing berstatus mahasiswa di Sumut, tercatat kuliah di empat Universitas. “Di antaranya, di USU, UISU, UINSU dan Unimed. Sedangkan sebanyak 579 statusnya mengikuti keluarga,” ungkapnya.

Kunjungan Terbanyak dari Malaysia

Selain itu, Kanwil Kemenkumham Sumut mencatat ribuan jumlah orang asing yang melintasi di Sumut. Icon mengatakan, sepanjang tahun 2018, Malaysia adalah negara terbanyak mengunjungi Sumut. Disusul Singapura dan China di tempat ketiga.

Imigrasi Kanwil Kemenkumham Sumut mencatat, ada 102.651 kunjungan yang dilakukan penduduk yang dipimpin Mahatir Mohammad itu.

Selain Malaysia, Imigrasi Kanwil Kemenkumham Sumut juga mencatat sembilan besar negara yang warganya mendominasi kunjungan ke Sumut sepanjang tahun 2018.

Berturut-turut, Imigrasi mencatat kunjungan WN Singapura sebanyak 21.124, WN China (8.249), WN Australia (4.292), WN Jerman (3.933), WN Thailand (3.914), WN Amerika Serikat (2.993), WN India (2.967), WN Kerajaan Inggris (2.881) dan terakhir, WN Taiwan (2.714).

Adapun pintu masuk perlintasan warga negara asing ke Sumut terbesar diterima oleh Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Bandara Kualanamu, Deliserdang. TPI Kuala Namu catatkan 1.692.219 perlintasan WNA dari berbagai negara di dunia. Sementara, TPI Teluk Nibung mencatat ada 4.182 kunjungan.

Jika ditotal, maka jumlah kunjungan WNA ke Sumut sepanjang tahun 2018 yang dicatat oleh Kanwil Kemenkumham Sumut dari seluruh TPI adalah 1.710.213 kunjungan.

91 Imigran Bangladesh Dideportasi

Sementara itu, Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Belawan mencatat, sebanyak 197 Imigran Bangladesh saat ini menanti untuk dideportasi. Dari total 288 jumlah imigran yang diamankan awal Februari lalu, hingga kini sebanyak 91 imigran Bangladesh telah dideportasi melalui Bandara Kualanamu.

“Ini sudah tahap keenam kita lakukan deportasi. Selasa kemarin, sebanyak 34 imigran (Bangladesh) kita deportasi. Jadi total 91 imigran sudah dideportasi,” ungkap Kepala Rudenim Belawan, Victor Manurung kepada Sumut Pos, Rabu (20/2).

Pendeportasian dilakukan secara bertahap, mengingat para imigran telah memegang tiket kepulangan. “Mereka punya tiket sendiri. Tiketnya dari keluarganya. Kalau kita mana bisa mendahulukan. Paling berkoordinasi dengan kedutaan mereka,” katanya.

Selama di Rudenim, disebutnya, tidak ada para imigran yang menderita sakit. Selain itu, pihak Imigrasi memberikan makan yang cukup kepada para imigran. “Makannya biasa, tiga kali sehari selama di penitipan. Sesuai standar kitalah,” kata Victor.

Namun, pihaknya saat ini belum mengetahui siapa pemilik rumah toko (ruko) atau agen dari 288 imigran Bangladesh, yang bakal dijadikan tersangka. Pihak Imigrasi Medan, masih berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk menetapkan tersangka.

“Kami masih berkoordinasi dengan polisi, untuk menentukan pasal yang pas menjerat tersangka. Untuk saat ini, kami fokus pada pemulangan para imigran dulu,” pungkasnya.

Sebelumnya, Polrestabes Medan mengamankan 288 Imigran Bangladesh dari berbagai lokasi di Medan, dan diserahkan ke pihak Imigrasi.

Komisi A: Timpora Tak Serius

Terpisah, Komisi A DPRD Medan menyoroti kinerja Tim Pengawasan Orang Asing (Timpora) yang dinilai tak maksimal membongkar jaringan penyelundupan ratusan warga negara (WN) Bangladesh dari salah satu ruko di Jalan Pantai Barat, Kelurahan Cinta Damai, Medan Helvetia, Selasa (5/2) lalu.

Wakil Ketua Komisi A DPRD Medan, Roby Barus menilai, jajaran Inteldakim Kantor Imigrasi (Kanim) Kelas I Khusus Medan tidak serius dalam membongkar jaringan penyelundupan WNA tersebut. Padahal, penjaga ruko yang menjadi tempat penampungan mereka dapat menjadi pintu masuk mengungkap jaringan ini.

“Sepertinya tidak serius mengungkap. Bisa dilihat dari kaburnya dua penjaga ruko yang sebelumnya sempat diamankan. Penjaga ruko itu harusnya dapat menjadi pintu masuk Imigrasi untuk mengungkap jaringan penyelundupan imigran,” kata Roby dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang dipimpin Ketua Komisi A DPRD Medan, Sabar Syamsurya Sitepu, Rabu (20/2).

Senada, Sekretaris Komisi A DPRD Medan, M Nasir, mengatakan harusnya Imigrasi dapat mengungkap dan membongkar jaringan atau agen yang membawa WN Bangladesh tersebut masuk ke Indonesia. “Siapa agen mereka harusnya dapat terungkap. Silahkan lakukan operasi Timpora bersama. Bila perlu, razia tempat-tempat yang terindikasi ada orang asing yang masuk secara illegal,” tegas Nasir.

Ia membandingkan dengan negara Arab, di mana pemerintahnya tahu WNA berada di daerah mana. “Kalau kita terbang antar pulau, kita disuruh melapor. Harusnya Imigrasi juga seperti itu, sehingga bisa melakukan pengawasan,” terangnya.

Ketua Komisi A DPRD Medan, Sabar Sitepu berharap, pengawasan yang dilakukan Timpora tidak hanya sebatas rapat semata. Melainkan harus memaksimalkan razia ke lapangan. “Kalau perlu, libatkan kami. Itu yang di Capital Building, informasinya sering ada orang asing. Makanya, ayo sama-sama kita razia,” ketus Sabar.

Kepala Seksi Intelijen Kanim Kelas I Khusus Medan, Caven Jonathan, menyebutkan, sebelumnya mereka sudah mengetahui adanya pergerakan WNA Bangladesh di Kota Medan. Hanya saja, mereka tidak mendapatkan lokasi pasti para WNA tersebut.

Ia mengatakan, pihaknya kesulitan mengungkap agen ratusan imigran Bangladesh yang ditemukan dari kawasan Kampung Lalang beberapa waktu lalu. “Dua WNI yang diamankan mengaku bertugas mengurusi makanan dan transportasi para WNA tersebut. Hanya saja, keduanya sudah melarikan diri,” aku Caven.

Caven mengaku pihaknya sudah meminta keterangan dari kedua penjaga tersebut. Namun saat diperiksa, keduanya memohon diizinkan pulang karena sedang sakit. “Setelah kita pulangkan, besoknya mereka tidak datang lagi. Padahal sudah kita ingatkan. Kita memulangkan mereka karena alasan kemanusiaan dan belum bisa menjerat keduanya,” kilah Caven seraya menyebutkan sudah meminta aparat terkait untuk mencari keduanya.

Kepala Kanim Kelas II Belawan, Samuel Toba mengaku, pihaknya aktif melakukan pengawasan ke wilayah kerjanya yang meliputi sebagian wilayah Medan dan Deli Serdang. Pengawasan juga dilakukan bersama unsur terkait dalam Timpora seperti kepolisian, TNI, dan Pemda. “Kita lakukan operasi bila informasi sudah pasti,” akunya. (man/ris)

Ganti Rugi Tol Medan-Binjai Dibayar Akhir Maret

no picture
no picture

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Proyek pembangunan jalan Tol Medan-Binjai Seksi 1 (Helvetia-Tanjungmulia) sempat berbulan-bulan terhambat masalah pembebasan lahan. Jalan tol dengan panjang sekitar 6 kilometer ini terhambat progres pembangunan karena sengketa lahan.

Pemerintah pusat dan daerah pun berupaya untuk menyelesaikan hambatan ini. Rencana penyelesaian dibahas dalam rapat koordinasi yang digelar di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution.

Dirjen Pengadaan Tanah Kementerian ATR/BPN Arie Yuriwin yang ikut dalam rakor tersebut mengatakan, pemerintah telah sepakat untuk melakukan pembayaran ganti rugi lahan masyarakat pada Maret depan.

“Lahan Binjai sudah disepakati bahwa akhir bulan Maret ini untuk pembayaran ganti rugi, sebagaimana keputusan Pak Menteri ATR (Sofyan Djalil) akan dilaksanakan,” katanya usai rakor, Rabu (20/2)).

Arie sendiri belum bisa merinci berapa ganti rugi pembebasan lahan yang akan diberikan kepada masyarakat. Ia hanya mengatakan luas lahan yang akan dibebaskan ialah 8 hektare (ha). “Ya belum tau kan masih price sale. (Luas lahan) 8 ha. Pembebasan lahan ditarget selesai Maret,” katanya.

Sementara itu Menteri BUMN Rini Soemarno yang juga ikut dalam rapat mengatakan, memang ada sebagian masyarakat yang masih belum merelakan lahannya untuk dibebaskan. “Jadi masuk ke Kota Medan, ini kan sebagian dari Binjai sudah selesai. Cuma ada sebagian yang masyarakat, yang 6 km ini pembebasannya sedikit tersendat,” jelas Rini.

Di sisi lain, Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi mengatakan, pemerintah memutuskan masyarakat yang menggarap lahan akan memperoleh 70% dan pemilik sertifikat tanah akan mendapat 30% dari ganti rugi yang akan dibayarkan.

“70% yang menggarap (masyarakat), 30% yang punya sertifikat. Ini nanti tinggal proses penyelesaian terhadap rakyat,” kata Edy.

Edy juga mengatakan pembayaran ganti rugi pembebasan lahan tersebut akan secepatnya dilakukan. Sehingga, pembangunan konstruksi tol akan bisa dikerjakan pada April mendatang. Namun, ia tak bisa merinci berapa jumlah ganti rugi yang akan dibayarkan.

“Dalam waktu sesingkat-singkatnya di bulan, tanggal 1 April sudah harus kerja kembali, dan dalam waktu dekat tol itu sudah harus bisa digunakan. Anggarannya masih dihitung,” katanya. (jpc)

55 Kilogram Sabu Dibungkus Teh Cina, Dari Malaysia Coba Diselundupkan ke Medan

SUTAN SIREGAR/SUMUT POS PAPARAN_Kapolda Sumut Brigjen Pol Agus Andrianto (Tengah) didampingi jajaran memberi keterangan kepada wartawan pada gelar kasus narkoba, di Mapolda Sumut, Medan, Rabu (20/2). Polda Sumut berhasil menggagalkan peredaran 55 Kg narkotika jaringan internasional dari seorang tersangka yang menumpang bus Simpati Star.
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
PAPARAN_Kapolda Sumut Brigjen Pol Agus Andrianto (Tengah) didampingi jajaran memberi keterangan kepada wartawan pada gelar kasus narkoba, di Mapolda Sumut, Medan, Rabu (20/2). Polda Sumut berhasil menggagalkan peredaran 55 Kg narkotika jaringan internasional dari seorang tersangka yang menumpang bus Simpati Star.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumatera Utara menggagalkan penyelundupan 55 kg sabu dan 10 ribu butir ekstasi jenis baru yang mengandung PMMA, termasuk dalam golongan satu narkotika dari jaringan Internasional asal Malaysia.

Dalam pengungkapan itu, seorang kurir berinisial HY bersama barang bukti berhasil diamankan. Pengendalinya adalah warga Indonesia yang menetap di Malaysia.

Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto menyampaikan, dalam penangkapan itu, pihaknya terpaksa menembak kaki pelaku karena melawan petugas saat diamankan. “Kepada tersangka diberikan tindakan tegas akan dikembangkan ke jaringan lainnya. Karena ia hanya sebagai kurir,” ungkap Kapoldasu kepada wartawan, di halaman Ditres Narkoba Polda Sumut, Rabu (20/2).

Jenderal bintang dua tersebut memaparkan, penangkapan terhadap HY dilakukan di Jalan Lintas Medan – Banda Aceh Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, pada Selasa (19/2) pukul 00.30 WIB. Saat itu, pelaku ditangkap dari Bus Simpati Star, ketika sedang membawa narkoba tersebut dari Aceh menuju Medan.

Saat ditangkap, kata Agus, dari 3 buah tas jinjing yang dibawa pelaku, petugas menemukan 40 kg sabu yang dibungkus kemasan teh Cina, dan 10.000 butir pil ekstasi berlogo ikan warna orange. Kemudian dari sebuah koper yang dibawa HY, juga ditemukan 10 kg sabu dibungkus kemasan teh Cina. Dari dalam ranselnya ditemukan 5 kg sabu yang juga dibungkus teh Cina berlabel Guan Yin Wang.

“Narkoba ini masuk dari negara tetangga melalui Aceh untuk dibawa ke Kota Medan, guna selanjutnya didistribusikan ke daerah-daerah lain,” jelasnya.

Agus memaparkan, 10.000 butir pil ekstasi merupakan pil ekstasi jenis baru. Pil ini tidak bisa terdeteksi mengandung PMMA (p-Metoksi Metafetamina) bila hanya mengandalkan uji labfor. “Jadi harus menggunakan alat pendeteksi, baru diketahui ekstasi itu mengandung PMMA,” jelasnya.

Efek dari ekstasi jenis baru ini, lanjut Agus, membuat penggunanya berhalusinasi dan adiktif. Pil ekstasi ini memang sama dengan jenis pil ekstasi yang sudah beredar pada umumnya. Hanya saja, bagi penggunanya jika dilakukan tes urine, hasil yang didapatkan akan negatif.

“Jadi ini jenis baru yang telah beredar di wilayah Indonesia. Inovasi (ekstasi) ini dilakukan, untuk mengecoh masyarakat,” pungkasnya.

Direktur Reserse Narkoba Polda Sumut Kombes Pol Hendri Marpaung menambahkan, untuk melakukan penangkapan ini, dibutuhkan waktu yang cukup lama. Sebab, pihaknya harus melakukan pemantauan terlebih dahulu.

“Secara teknis tidak bisa diberitahukan karena masih dikembangkan. Namun, pengendalinya orang Indonesia yang dilakukan dari Malaysia,” bebernya.

Sementara itu, HY mengaku jika ia telah tiga kali melakukan penyelundupan narkoba dari Aceh. Dari jasanya yang pertama, ia mendapat upah Rp1,5 juta dan jasa kedua Rp3 juta.”Yang ketiga ini baru dikasih ongkos Rp500 ribu,” akunya sembari menolak menyebutkan nama sosok yang menyuruhnya. (dvs)

Medan Zoo Barter Koleksi dengan Ragunan, Harimau Dibarter Orangutan, Kapibara, dan Pelikan

SUTAN SIREGAR/SUMUT POS EVAKUASI_Petugas memindahkan Orang Utan dari kandang nya di Medan Zoo Jalan Simalingkar Medan, Rabu (20/2) Koleksi Satwa di Medan Zoo bertambah setelah mereka menukar satwa nya Harimau Sumatera dengan Orang Utan.
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
EVAKUASI_Petugas memindahkan Orang Utan dari kandang nya di Medan Zoo Jalan Simalingkar Medan, Rabu (20/2) Koleksi Satwa di Medan Zoo bertambah setelah mereka menukar satwa nya Harimau Sumatera dengan Orang Utan.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kebun Binatang Medan atau Medan Zoo mendapat koleksi baru dari Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan. Yakni sepasang orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), tiga ekor pelikan timor (Pelacanus conspicillatus), dan seekor Kapibara (Hydrochoeeus hydrochaeris). Ketiganya dibarter dengan harimau Sumatera.

“Penambahan koleksi satwa Medan Zoo tersebut merupakan hasil barter atau pertukaran dengan dua ekor harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dewasa jantan. Jadi harimau ditukar dengan tiga jenis satwa,” ungkap Direktur Utama PD Pembangunan yang membawahi Medan Zoo. Putrama Alkhairi saat diwawancarai di Medan Zoo, Rabu (20/2).

Harimau Sumatera dikirim ke Kebun Binatang Ragunan beberapa hari lalu. Sedangkan koleksi satwa dari Ragunan dibawa ke Medan menggunakan jalur darat, menempuh perjalanan selama empat hari lima malam itu. Orangutan betina bernama Hamidah. Usianya 15 tahun. Sedangkan yang jantan bernama Diimbah, usianya 23 tahun.

Koleksi lainnya yakni kapibara dan burung pelikan Timor. Kapibara merupakan jenis hewan pengerat terbesar yang masih ada di dunia. Hewan ini asli dari daerah tropis dan lembap di Amerika Selatan

Putrama menyebutkan, pemeliharaan ketiga jenis satwa baru ini didampingi oleh dokter hewan dari Ragunan. Dokter itu mengedukasi dokter hewan Medan Zoo tentang cara pemeliharaan dan perawatan ketiga koleksi baru tersebut. Meski sebenarnya, tim dokter hewan di Medan Zoo telah berpengalaman memelihara orangutan.

Meski sudah ada tambahan koleksi baru dari Kebun Binatang Ragunan, koleksi Medan Zoo masih jauh dari lengkap. Saat ini mereka baru mempunyai 157 spesies, yang didominasi jenis unggas.

“Kita belum ada singa, onta, dan burung onta. Nanti kita akan terus melakukan pertukaran dengan kebun binatang atau taman margasatwa lain yang ada di Indonesia,” tutur Putrama.

Tak hanya satwa-satwa itu, Medan Zoo juga sedang memproses kedatangan lumba-lumba. Mereka tengah menyiapkan infrastrukturnya dan pembiayaannya.

“Sedang kita cari pembiayaan bisa melalui B to B atau CSR atau skema lain. Atraksi lumba-lumba nggak boleh dibawa keliling, tapi kalau di kebun binatang dia boleh. Kedatangan lumba-lumba itu ada alternatif kerjasama dengan Ancol,” kata Putrama.

Ia berharap, penambahan koleksi satwa baru ini menjadi daya tarik Medan Zoo bagi masyarakat untuk berkunjung.

“Medan Zoo akan terus membangun kerjasama dengan kebun binatang lainnya di Indonesia, untuk saling melengkapi koleksi hewan-hewan yang belum ada. Sebab, kebun binatang saling membutuhkan bantuan satu sama lain,” katanya.

Ia menyebutkan, binatang yang ada tidak boleh kawin sedarah. Sebab daya tahan tubuh keturunannya bakal lemah. “Hewan ini seperti manusia juga. Apabila kawin sedarah, maka anaknya mudah sakit atau cacat, sehingga dikhawatirkan punah. Jadi, kalaupun ada hewan yang jantan dan betina sedarah, maka harus ditukarkan,” jelasnya.

Sejak 2012, Medan Zoo tidak pernah lagi menerima penyertaan modal dari APBD Kota Medan. Karena itu ia berharap ada penyertaan modal untuk pembangunan infrastruktur jalan dan drainase.

“Kalau kandang hewan, kita bisa mengajukan proposal kepada BUMN yang memiliki dana CSR. Sedangkan wahana permainan, kita tengah mencari pihak ketiga atau swasta yang ingin berinvestasi lewat kerjasama,” tandasnya.

Barter Karena Surplus

Perwakilan Kebun Binatang Ragunan, Syafri Edwar, mengatakan dipilihnya orangutan untuk dibarter dengan harimau Sumatera, karena kebetulan surplus jumlahnya di Ragunan sekitar 35 ekor. Sedangkan Medan Zoo masih membutuhkan koleksi orangutan.

“Surplusnya jumlah orangutan ini tidak terlepas dari perawatan dan perkawinan yang dilakukan. Kita harapkan Medan Zoo dapat seperti itu juga,” tuturnya.

Menurut Syafri, tukar-menukar satwa ini merupakan bagian dari kerjasama antara kebun binatang atau lembaga konservasi di dalam negeri. Tujuannya, agar satwa dapat berkembang biak atau lestari. Selain itu, juga saling melengkapi koleksi satwa yang ada di kebun binatang.

“Harimau Sumatera di Kebun Binatang Ragunan sebenarnya sudah berhasil dikembang-biakkan. Cuma kita membutuhkan pejantan baru, agar satwa yang ada sekarang tidak berkembang biak sedarah,” sebut Syafri.

Sebelum dibarter dengan orangutan, pihaknya sudah melakukan kroscek ke Medan Zoo untuk kesiapan kandang. Sebab harus didesain seperti habitat aslinya. “Harus ada permainan satwa, kandang peragaan, dan kandang tidurnya. Selain itu, bagaimana makanannya. Jadi, setelah kita kroscek dan dinilai sudah layak sehingga dilakukan barter,” pungkasnya. (ris)

Penilaian Geoparak Kaldera Toba, Pertanian Pengaruhhi Status UGG

PRAN HASIBUAN /SUMUT POS JUMPA PERS: Kepala Unit Budaya UNESCO Jakarta, Moe Chiba (dua dari kiri) didampingi Director and Country Head of Corporate Affairs Citi Indonesia, Elvera N Makki saat jumpa pers di Samosir Cottages, Jl. Lingkar Luar Tuktuk, Samosir, Selasa (19/2).
PRAN HASIBUAN /SUMUT POS
JUMPA PERS: Kepala Unit Budaya UNESCO Jakarta, Moe Chiba (dua dari kiri) didampingi Director and Country Head of Corporate Affairs Citi Indonesia, Elvera N Makki saat jumpa pers di Samosir Cottages, Jl. Lingkar Luar Tuktuk, Samosir, Selasa (19/2).

SAMOSIR, SUMUTPOS.CO – April mendatang, UNESCO rencananya akan mengumumkan apakah Geopark Kaldera Toba (GKT) akan mendapat titel UNESCO Global Geopark (UGG) atau tidak. Hingga kini belum ada kabar positif. UNESO sendiri mengaku, tidak puas dengan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di kawasan Danau Toba. Dinas Pariwisata Sumut mengakui kekurangan itu. Menurut Kadispar, aktivitas pertanian masyarakat ikut mempengaruhi penilaian UNESCO.

KEPALA Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut, Hidayati, mengatakan Geopark Kaldera Toba sejatinya adalah proyeksi dari masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam hasil letusan gunung api. Dan salah satu yang dinilai United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), adalah aktivitas masyarakat dalam pertanian dan perkebunan dengan memanfaatkan alam di kawasan taman bumi .

“Dispar belum mengetahui detil kisi-kisi penilaian UNESCO. Namun paling terpenting, masyarakat di kawasan Danau Toba memiliki semangat melakukan aktivitas bertani dan memiliki budaya tinggi. Kalau mungkin, dikemas dalam geotourism. Mudah-mudahan dengan semangat cinta pendidikan, kita dapat mencapai yang kita inginkan bersama,” katanya menjawab Sumut Pos, Rabu (20/2)n

Ia sendiri tidak terlalu cemas dengan isu kegagalan Danau Toba meraih UGG untuk ketigalainya. “Kita tunggu saja pengumuman dari UNESCO. Saya merasa, apapun nanti hasilnya, yang penting kita semua punya semangat membangun Sumatera Utara,” katanya.

Ia menambahkan, jika nantinya label UGG melekat pada Geopark Kaldera Toba, itu artinya ada pengakuan masyarakat dunia terhadap nilai pemberdayaan masyarakat di sekitar Danau Toba, dan mengapresiasi budaya serta bangga terhadap sukunya.

Geopark atau Taman Bumi adalah wilayah terpadu yang terdepan dalam perlindungan dan penggunaan warisan geologi dengan cara yang berkelanjutan, dan mempromosikan kesejahteraan ekonomi masyarakat yang tinggal di sana.

Dispar Sumut sendiri, sambungnya, terus mendorong seluruh kepala daerah se kawasan Danau Toba untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, melalui keajaiban Danau Toba sebagai sebuah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa.

“Di samping itu, Pemprovsu selalu mendukung penuh dan mendorong agar Danau Toba segera mendapat pengakuan UNESCO, dengan mengalokasikan anggaran setiap tahun. Anggaran itu untuk peningkatan SDM, infrastruktur, ekonomi maupun sektor lainnya. Prinsipnya, sinergitas pemprov dan pemkab sangat mendukung terlaksananya program Geopark Kaldera Toba,” pungkasnya.

Anggota Komisi E DPRD Sumut Zulfikar mengatakan, peran pemda se kawasan Danau Toba sangat vital dalam mewujudkan GKT tersebut. Salah satunya pemda harus punya program yang jelas guna meningkatkan SDM seluruh elemen masyarakat.

“Begitupun dengan Pemprovsu yang bisa ikut membantu melalui dinas-dinas terkait seperti pendidikan, tenaga kerja dan lainnya. Saya pikir komitmen yang riil dari kepala daerahnya harus tertuang dalam APBD dan pelaksanaan di lapangan,” katanya.

Program dan kegiatan yang sudah tertuang di APBD tadi, harus terukur dari sisi penyerapan serta tepat sasaran kepada masyarakat sebagai objek dari kegiatan dimaksud.

“Misalnya bisa saja dimulai dari sekolah-sekolah, ditanamkan semacam kesadaran akan pentingnya Danau Toba untuk kehidupan. Sehingga ketika generasi muda itu tumbuh dewasa, mereka akan punya pola pikir lebih baik tentang manfaat dari keberadaan Danau Toba. Dan kalau bisa hal ini dilakukan secara berjenjang,” paparnya.

Dispar Samosir: Ajarkan Ilmu Geopark

Tak hanya Dispar Sumut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir juga mengakui Sumber Daya Manusia (SDM) di kawasan Danau Toba perlu mendapat peningkatan, lewat pembinaan dan pelatihan secara terstruktur dan masiv.

“Benar SDM di kawasan Danau Toba perlu ditingkatkan kapasitasnya. Baik dari ketrampilan, rasa kepemilikan, dan mensyukuri Geopark ini. SDM belum mengetahui sejauh mana melakukan sesuatu,” ucap Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Kabupaten Samosir, Ombang Siboro, saat dikonfirmasi Sumut Pos, Rabu (20/2).

Ombang sendiri menilai, UNESCO sepatutnya ikut melakukan upaya peningkatan kualitas SDM di kawasan danau terbesar di Asia ini. “Pemahaman Geopark itu harus diberitahukan. Bukan hanya ke kalangan tertentu saja, tapi kepada semua masyarakat. Jadi semua orang benar-benar mengerti,” sebut Ombang.

Pemkab Samosir sendiri, menurut Ombang, terus melakukan upaya peningkatan kualitas SDM melalui pelatihan dan pembinaan langsung kepada masyarakat. Terutama kesadaran kawasan wisata, sadar kebersihan, dan ramah-tamah. Hal itu dilakukan berskala dan berkelanjutan.

“Kita melakukan sejak dini dari sekolah. Tapi itu perlu proses ya. Kita meningkatkan kualitas SDM di Samosir dengan melibatkan tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat,” ungkap Ombang.

Ia menilai edukasi seperti harus terus dilakukan semua pihak terkait. Namun sebaiknya jangan hanya dilakukan sebuah kabupaten atau kecamatan saja. Tapi di seluruh daerah yang berada di kawasan Danau Toba.

“Untuk memahami Geopark, masyarakat harus diajari. Karena Geopark ada ilmunya. Jika perlu, sekolah dikunjungi secara terstruktur dan masif,” pungkasnya.

Sebelumnya, UNESCO menyebut pengakuan Danau Toba bukan hanya sekadar titel, melainkan upaya untuk menjaga kelestarian lingkungannya.

Head of Culture Unit UNESCO Jakarta, Moe Chiba mengatakan, banyak daerah hanya memikirkan gelarnya saja. Padahal, setelah mendapatkannya diperlukan kerja keras untuk menjaganya. Tak sedikit situs yang diakui sebagai taman global Unesco atau Unesco Global Geopark (UGG) namun berakhir gagal menjaga lingkungan.

Selain pembangunan fisik, menurutnya, pembangunan sumber daya manusia (SDM) sangat penting. Pembangunan kawasan tak akan ada artinya tanpa SDM yang berkualitas. “UNESCO masih kurang puas dengan kualitas SDM-nya. Bila kami tidak investasi di SDM, tidak akan ada pembangunan,” katanya.

“Ke depan hal yang perlu dibangun dan ditingkatkan ialah, kreativitas SDM terutama generasi muda dalam hal memanfaatkan warisan budaya yang dimiliki, menjadi sumber potensi keberlangsungan perekonomian maupun pembangunan,” katanya.

UNESCO, kata dia, tidak pada konteks membangun jalan dan gedung-gedung besar. Melainkan fokus membangun kreativitas manusianya. Pihaknya juga meminta agar pemda dan stakeholder terkait terus melanjutkan program yang sudah dicanangkan dan terlaksana.

Pansus Pencemaran Danau Toba Diharap Tak Mandek

Terpisah, DPRD Sumut yang berencana membentuk Panitia Khusus (Pansus) terkait dugaan pencemaran air Danau Toba yang disangkakan dilakukan oleh PT Aquafarm Nusantara, mendapat respon dari Yayasan Pecinta Danau Toba (YPDT). YPDT menilai, pembentukan Pansus tersebut harus memiliki tujuan yang jelas. Seperti memberikan tekanan terhadap pemerintah daerah (Pemda) maupun pemerintah pusat, untuk menindak PT Aquafarm.

“DPRD pernah membentuk pansus tahun 2015 lalu terkait pencemaran air Danau Toba. Tapi saya rasa gagal dalam mengakomodir protes masyarakat dan memberikan dampak penindakan terhadap perusahaan yang mencemari di sana, termasuk PT Aquafarm Nusantara. Lalu sekarang akan dibentuk Pansus juga,” kata Sekretaris Eksekutif Yayasan Pecinta Danau Toba (YPDT), Joe Marbun, Rabu (20/2).

Merujuk pada Pansus yang sebelumnya mandek, ia mempertanyakan apakah tujuan Pansus yang baru ini. “Apakah hanya sekadar meredam suara-suara masyarakat, tetapi tidak ada keberpihakan terhadap kelestarian Danau Toba? Itu dulu pertanyannya,” ungkapnya.

Selanjutnya, bagaimana nantinya Pansus itu berjalan. Karena menurut Joe, DPRD berfungsi melakukan pengawasan bukan penindakan. “Seperti kita ketahui, Pansus tidak punya kewenangan menyelesaikan masalah. Karena fungsi penegakan aturan itu di pemerintahan dan aparat hukun, bukan keputusan politik. DPRD harus melakukan fungsi pengawasan soal penegakan aturan oleh pemerintah daerah dan pemerintah pusat,” ungkapnya.

Menurut Joe, Pansus seharusnya mendorong pemerintah melakukan penindakan melalui aparaturnya. Di mana pemerintah memiliki PPNS, dan mereka sudah melakukan investigasi. “Hasilnya apa? Harus konkret. Kemudian apa pertanggungjawaban PT Aquafarm atas dugaan pencemaran air Danau Toba itu? Apa yang sudah mereka lakukan untuk memperbaiki kerusakan ekosistem Danau Toba,” sebutnya.

Soal tim independen yang dibentuk PT Aquafarm, menurut Joe, merupakan bentuk penyesatan pemahaman. “Ini pembohongan publik. Bagaimana mereka membentuk tim independen, padahal mereka yang bermasalah? Ini kan ibarat orang sakit berusaha menjadi dokter bagi dirinya sendiri,” terangnya.

Menurut Joe, yang harus membentuk tim independen harusnya pemerintah. “Saya setuju tim idependen dibentuk pemerintah. Ini yang harus didesak DPRD,” pungkasnya. (prn/gus/dvs)

Membantu Membentuk Karakter Siswa, PMR 007 SMA Negeri 5 Dilantik

istimewa PENGURUS: Para pengurus PMR 007 SMA Negeri 5 Medan yang baru dilantik, kemarin.
istimewa
PENGURUS: Para pengurus PMR 007 SMA Negeri 5 Medan yang baru dilantik, kemarin.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pengurus Palang Merah Remaja (PMR) 007 SMA Negeri 5 Medan masa bakti 2019-2020 resmi dilantik belum lama ini. Pelantikan tersebut dikukuhkan oleh Perwakilan Kepala Sekolah Drs Edy Satianto MSi berlangsung sederhana di Gedung Pertemuan Permata Griya Jalan Pelajar, Medan.

Dalam pelantikan itu, turut dihadiri Pengurus PMI Provinsi Sumut M Fitri Ramadhana, perwakilan PMI Kota Medan Esti Febrianto dan perwakilan pengurus PMR dari berbagai sekolah se-Kota Medan.

“Saya ucapkan selamat buat pengurus Yang baru di lantik, semoga para pengurus dapat melaksanakan tugas dengan baik dan dapat bermanfaat bagi lingkungan sekolah dan masyarakat,” ujar Edy Satianto dalam sambutannya.

Dia berpesan kepada pengurus baru, agar menggerakkan relawan dan remaja tingkat sekolah dalam berbagai kegiatan kemanusiaan. Selama ini menurutnya, kegiatan PMR kurang dikenal masyarakat.

Sementara, M Fitri Ramadhana mengatakan, PMR merupakan organisasi yang bergerak di ranah sosial. Agar tetap eksis, kebersamaan terus dijaga baik dari aspek internal maupun eksternal (kemitraan).

Menurutnya, dua komponen kerja sama tersebut, disinergikan agar menghasilkan daya lebih besar dan mempunyai network yang menjangkau sampai ke pelosok-pelosok. Karena dengan membangun kemitraan, bisa mengembangkan kegiatan remaja untuk mengatasi persoalan sosial di masyarakat.

“Kegiatan seperti ini juga merupakan satu proses pendidikan yang terwujud dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis, dan di alam terbuka,” kata Fitri.

Ketua PMR Terpilih, Yoseva C Silalahi mengatakan, PMR merupakan suatu proses pendidikan di luar lingkungan sekolah, dan keluarga. Dengan menggunakan Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, palang merah mempererat tali persaudaraan antar sesama anggota dengan organisasi lainnya dalam lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.

Selain itu katanya, kegiatan ini bertujuan sebagai tempat membentuk watak generasi muda dan proses pembentukan karakter suatu bangsa yang dilakukan sejak usia dini.

“Tujuan PMR berguna untuk membangun dan meningkatkan Kreativitas para pelajar dan mendidik remaja lebih mandiri,” tandas Yoseva.

Dia berharap, pengurus baru PMR 007 SMA Negeri 5 Medan, dapat menemukan solusi komprehensif dari berbagai masalah kegiatan kepengurusan lama dan kepengurusan baru di lingkungan sekolah. (man/azw)

13 Siswa Arungi Sungai Demi Ikut Simulasi Ujian

istimewa ARUNG SUNGAI: Inmas Aceh Siswa MAS Merdeka Tampor Paloh melintasi Sungai Tamiang menggunakan perahu kayu, Sabtu (16/2).
istimewa
ARUNG SUNGAI: Inmas Aceh Siswa MAS Merdeka Tampor Paloh melintasi Sungai Tamiang menggunakan perahu kayu, Sabtu (16/2).

ACEH, SUMUTPOS.CO – Ke-13 remaja tampak bersiap di tepi dermaga gampong Tampor Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur. Mereka adalah siswa-siswa Madrasah Aliyah Swasta Merdeka, satu-satunya sekolah tingkat menengah atas yang ada di Gampong Tampor Paloh.

Didampingi Kepala Madrasah dan guru pembimbing, satu per satu mereka mulai menaiki kapal kayu yang tertambat di dermaga. Karena luas kapal tak terlampau besar, mereka pun harus duduk berdesakan dengan kaki tertekuk.

Bukan hal yang menyenangkan tentunya. Apalagi mereka akan menempuh perjalanan selama 4 jam melintasi Sungai Tamiang menuju Kota Kuala Simpang dengan kapal kayu tanpa pengaman ini.

Ini satu-satunya transportasi yang dapat mereka gunakan, demi mengikuti Simulasi Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional Berbasis Komputer (UAMBN – BK) di kecamatan seberang, Kecamatan Peureulak Timur.

“Simulasi UAMBN BK baru akan dilaksanakan pada 18 – 20 Februari 2019, tapi mereka harus sudah berangkat sejak dua hari sebelumnya karena perjalanan yang harus mereka tempuh cukup panjang,” ujar Kasie Madrasah Kankemenag Aceh Timur, Mulkan Damanik dikutip dari laman resmi Kemenag (18/2).

Menurut Mulkan, setibanya di Kota Kuala Simpang, 13 siswa MAS Merdeka masih harus menempuh perjalanan sekitar 45 menit menuju Langsa. Mereka kemudian menginap di rumah Ketua Yayasan Merdeka di Langsa.

“Baru hari Senin ini mengikuti simulasi UAMBN BK, bergabung dengan MAS Al-Widyan Alue Lhok Kec. Peureulak Timur, Kabupaten Aceh Timur. Perjalanan dari Langsa ke lokasi ujian sekitar satu jam,” jelas Mulkan yang mendapat tugas dari Kepala Kankemenag Kabupaten Aceh Timur untuk terus memantau perjalanan siswa MAS Merdeka.

Perjalanan panjang melintasi Sungai Tamiang disertai perjalanan darat ini terpaksa mereka lakukan karena hingga saat ini MAS Merdeka Tampor Paloh belum memiliki fasilitas guna melaksanakan ujian berbasis komputer.

“Jangankan laboratorium komputer dan server, jaringan internet pun belum ada di madrasah ini.  Padahal ini satu-satunya sekolah tingkat atas di gampong itu, dan selain UAMBN mereka juga harus mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK),” kata Mulkan.

Meski demikian, siswa-siswi MAS Merdeka tampak bersemangat mengikuti proses simulasi UAMBN BK.  Belum lagi, resiko yang harus mereka tempuh selama perjalanan,” kisah Mulkan.

Bila arus Sungai Tamiang tenang, perjalanan Tampor Paloh – Kuala Simpang dapat ditempuh dalam waktu empat jam. “Tapi untuk kembalinya nanti,  dari Kuala Simpang-Tampor Paloh, dengan kapal kayu kecil itu mereka harus menempuh perjalanan enam sampai delapan jam,” ujar Mulkan. (bbs/azw)

Menurut Mulkan, hal ini perlu menjadi perhatian bersama. Tak hanya Kementerian Agama, tapi juga pemerintah daerah. Jika dapat diusahakan jaringan internet masuk ke Gampong Tampor Paloh, maka mereka tak perlu melakukan perjalanan penuh resiko tersebut.

“Mereka melakukan seperti ini tidak hanya sekali ini saja, akan tetapi masih tersisa tiga kali lagi. Yaitu, gladi bersih simulasi UNBK, Pelaksanaan UNBK dan UAMBN BK, sehingga akan membuat mereka lelah ekonomi dan juga jasmani,”lanjut Mulkan.

Sebelumnya menurut Mulkan, MAS Merdeka yang memiliki 40 siswa ini telah mendapatkan batuan pembangunan satu ruang kelas dari Kanwil Kemenag Aceh. “Saat ini selain ruang kelas, MAS ini juga memiliki tiga balai hasil swadaya masyarakat dan IKAPDA Aceh, satu ruang perpustakaan yang berasal dari bantuan Pertamina, serta dua MCK,” tutur Mulkan.

Mulkan berharap segenap pihak dapat memberikan perhatian kepada siswa-siswa MAS Merdeka ini. “Bagaimana pun, mereka juga anak negeri yang tetap hormat pada sang saka merah putih. Mereka adalah mutiara Aceh,” ujarnya. (bbs/azw)

Siapkan Diri Hadapi Revolusi Industri 4.0, Wisuda Unimed Diikuti 1.480 Lulusan

BAGUS SYAHPUTRA/Sumut Pos WISUDA: Sejumlah mahasiswa Unimed foto bersama menjelang prosesi wisuda di Kampus Unimed, Rabu (20/2).
BAGUS SYAHPUTRA/Sumut Pos
WISUDA: Sejumlah mahasiswa Unimed foto bersama menjelang prosesi wisuda di Kampus Unimed, Rabu (20/2).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Mahasiswa harus siap menghadapi era revolusi Industri 4.0. Dengan itu, Pemerintah Indonesia merespon dengan mempersiapkan dan merancang road map bertema, Making Indonesia 4.0. Karena itu sebagai strategi memasuki era digital saat ini.

Hal itu diungkap oleh Rektor Universitas Negeri Medan (Unimed) Prof Syawal Gultom saat memberikan kata sambutan dalam acara wisuda di Gedung Serbaguna di Kampus Unimed, Rabu (20/2) pagi.

Ia menjelaskan bahwa mahasiswa juga harus ikut mempersiapkan diri sebagai sumber daya manusia (SDM). “Perubahan tersebut adalah Pendidikan 4.0, yang memanfaatkan teknologi digital dalam proses pembelajaran atau dikenal dengan cyber system,” sebut Syawal.

Syawal menyebutkan, revolusi Industri 4.0 menuntut terjadinya perubahan sistem pendidikan. Di mana, Making Indonesia 4.0 menetapkan arah yang jelas bagi masa depan pembangunan nasional dan memperkuat struktur pembangunan khususnya perindustrian Indonesia, termasuk SDM yang handal serta memiliki keterampilan untuk penguasaan teknologi terkini.

“Untuk pengadaan SDM 4.0 diperlukan perombakan kurikulum pendidikan dengan lebih menekankan pada STEAM (Science, Technology, Engineering, The Art and Mathematics),” kata Syawal.

Selain itu, Syawal meminta adanya penyelarasan kurikulum pendidikan nasional dengan kebutuhan dunia industri dan dunia usaha (DUDI) di masa mendatang. Diperlukan kerja sama dengan pelaku DUDI luar dan dalam negeri untuk meningkatkan kualitas sekolah. “Sekaligus memperbaiki program mobilitas tenaga kerja global untuk memanfaatkan ketersediaan SDM dalam mempercepat transfer kemampuan,” jelasnya.

Syawal mengatakan bagi dunia pendidikan, utamanya berkaitan dengan akses terhadap beragam informasi dan kemudahan untuk membagikan beragam informasi secara cepat, di manapun dan kapanpun. Untuk meraih peluang pasar di era Industri 4.0, Rektor berpesan, agar civitas Unimed peru memperkuat skil.

“Skil yang dibutuhkan saat ini adalah Complex Problem Solving, Critical Thingking, Creativity, People Management, Coordinating with Others, Emotional Intelligence, Judgement and Decision Making, Service Orientation, Negotiation, Cognitive Flexibility,” ujarnya.

Sementara bidang yang diperlukan berdasarkan kebutuhan SDM saat ini adalah Teknologi Informasi, Kepemimpinan dan Social Skills, Learning Skills, dan Kemampuan Berkomunikasi melalui banyak chanel.

“Dengan sentuhan teknologi informasi dan komunikasi berbagai peluang kerja dapat tercipta, sehingga kita tidak hanya sekedar menjadi pencari kerja,” jelas Syawal.

Untuk diketahui, Unimed telah mewisuda 1.480 wisudawan, yang terdiri dari 169 Program Pascasarjana 223 Fakultas Ilmu Pendidikan 252 Fakultas Bahasa dan Seni 150 Fakultas Ilmu Sosial 300 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam 120 Fakultas Teknik 118 Fakultas Ilmu Keolahragaan 148 Fakultas Ekonomi. (gus/azw)

Hadirkan Tumpeng Setinggi 7 Meter di Hari Jadi ke-7 Hotel Santika Medan

BERSAMA: Karyawan Hotel Santika Medan terlihat ceria saat foto bersama usai perayaan HUT ke-7 di Medan, belum lama ini.
BERSAMA: Karyawan Hotel Santika Medan terlihat ceria saat foto bersama usai perayaan HUT ke-7 di Medan, belum lama ini.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Hotel Santika Premiere Dyandra & Convention Medan merayakan hari jadi yang ke-7 pada 15 Februari yang lalu. Sebagai bentuk rasa syukur, manajemen hotel ini mengadakan berbagai kegiatan mulai dari Lunch Box Visit ke loyal clients dan media, aksi sosial ke sekolah khusus anak penyandang disabilitas, aksi donor darah sampai puncak perayaan hari ulang tahun yang khusus dimeriahkan bagi seluruh karyawan sebagai penutup serangkaian kegiatan.

Dalam tema “#StunningSevenTogetherness” atau bermakna sebagai bentuk rasa syukur atas hubungan yang baik, kebersamaan serta dukungan yang sudah terjalin dari seluruh pihak sepanjang tujuh tahun Hotel Santika hadir di kota Medan.

Rasa terima kasih inipun diawali dari berbagai kegiatan mulai dari Lunch Box Visit pada tanggal 11 Februari – 14 Februari 2019 ke beberapa loyal clients serta media yang sering menjadikan Hotel Santika sebagai pilihan dalam memenuhi kebutuhan MICE mereka, lalu dilanjukan dengan aksi sosial ke sekolah khusus anak penyandang disabilitas yakni Sekolah Luar Biasa Taman Pendidikan Islam pada tanggal 12 Februari 2019 dan aksi donor darah pada tanggal 14 Februari 2019.

Director of Sales, Juliaty Hidajat sekaligus ketua panitia dalam acara syukuran ini juga mengatakan bahwa tahun ini merupakan tahun yang sangat istimewa karena tujuh tahun merupakan angka baik yang sering dimaknai sebagai symbol kemakmuran atau sering dikenal dengan istilah lucky seven.

“Tidak hanya harapan untuk peruntungan bisnis tapi kami juga memaknai angka 7 dengan menghadirkan tumpeng setinggi 7 meter pada saat acara syukuran “. tuturnya.

Menariknya lagi kegiatan sosial seperti donor darah berhasil mengumpulkan lebih dari 60 kantong darah yang dimulai sejak pukul 08.00 pagi sampai pukul 13.00. Kegiatan sosial ke sekolah luar biasa yang berlokasi di Jalan Sisingamangaraja ini juga disambut antusias oleh anak-anak penyandang disbilitas karena diisi dengan berbagai kegiatan mulai dari belajar dan bermain bersama yang dibawakan langsung oleh karyawan yang hadir serta pemberian papan bunga, mainan edukasi dan alat tulis untuk menunjang kegiatan belajar di sekolah tersebut.

Ditutup dengan kegiatan puncak yakni syukuran bersama dengan seluruh karyawan, kegiatan tersebut juga diisi dengan berbagai hiburan mulai dari stand up comedy, akustik band, parodi sampai lucky draw untuk menghibur seluruh karyawan, selain itu juga menghadirkan nasi tumpeng setinggi 7 meter. “Harapan di tahun yang baru semoga Hotel Santika tetap menjadi pilihan MICE terbaik di kota Medan” ucap Juliaty dalam kata sambutannya di momen syukuran tersebut. (rel/ram)