Home Blog Page 5788

Penahanan Tahan & Taufan Diperpanjang

istimewa DITAHAN: Mantan anggota DPRD Sumut periode 2009-2014 Tahan Manahan Panggabean duduk di mobil yang membawanya ke rumah tahanan, Senin (13/8) malam.
istimewa
DITAHAN: Mantan anggota DPRD Sumut periode 2009-2014 Tahan Manahan Panggabean duduk di mobil yang membawanya ke rumah tahanan, Senin (13/8) malam.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) memperpanjang masa penahanan terhadap dua tersangka dalam kasus dugaan suap kepada DPRD Sumatera Utara periode 2009-2014 dan 2014-2019. Kedua tersangka itu adalah anggota DPRD provinsi bernama Tahan Manahan Panggabean dan Taufan Agung Ginting.

“Hari ini dilakukan perpanjangan penahanan terhadap 2 orang tersangka. Terhadap tersangka TMP selama 30 hari dimulai tanggal 11 November sampai 10 Desember 2018,” ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah dalam keterangan tertulis, Selasa (6/11/2018).

Sementara itu, perpanjangan masa penahanan terhadap Taufik selama 40 hari mulai 8 Movember sampai 17 Desember 2018.

Sehari sebelumnya, KPK kembali melimpahkan empat tersangka kasus dugaan suap anggota DPRD Sumatera Utara (Sumut) ke tahap penuntutan. Keempat tersangka yang dilimpahkan berkasnya kemarin, yakni Mustofawiyah, Arifin Nainggolan, Sopar Siburian, dan Analisman Zalukhu.

Dengan begitu, KPK telah merampungkan proses penyidikan terhadap 12 anggota DPRD Sumut periode 2009-2014 dan 2014-2019. Dan dalam waktu dekat, berkas ke 12 anggota legislatif tersebut akan dilimpahkan ke PN Tipikor di Jakarta Pusat.

Ke-12 orang anggota DPRD Sumut tersebut yakni, Rijal Sirait, Fadly Nurzal, Rooslynda Marpaung, Rinawati Sianturi, Tiaisah Ritonga dan Muslim Simbolon. Kemudian Sonny Firdaus, Helmiati, Mustofawiyah, Arifin Nainggolan, Sopar Siburian dan Analisman Zalukhu.

Dari keempat tersangka, ada satu yang mengajukan diri sebagai justice collabolator (JC), yaitu Sopar Siburian. Sopar Siburian telah mengembalikan uang total Rp202,5 juta ke Penyidik KPK
Total pengembalian uang dalam penyidikan batch ke-3 di Sumut adalah Rp7.656.500.000, dari sejumlah anggota DPRD Prov. Sumut.

Uang yang dikembalikan tersebut disita dalam proses penyidikan dan akan masuk sebagai bagian dari proses pembuktian nanti di persidangan.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan 38 anggota dan mantan anggota DPRD Sumut sebagai tersangka. Mereka disangka menerima suap dari Gatot Pujo Nugroho berkisar antara Rp 300 juta sampai Rp 350 juta per orang.

Menurut KPK, suap untuk 38 anggota DPRD Sumut itu terkait persetujuan laporan pertanggungjawaban Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk Tahun Anggaran 2012-2014 oleh DPRD Sumut, Persetujuan Perubahan APBD Provinsi Sumut Tahun 2013-2014 oleh DPRD Sumut, pengesahan APBD Pemprov Sumut 2013 dan 2014, serta penolakan penggunaan hak interpelasi DPRD Sumut tahun 2015. (bbs/mea)

Pengangguran di Sumut 396 Ribu, Terbanyak Lulusan SMK, Disusul SMA

.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Per Agustus 2018, jumlah usia produktif untuk bekerja di Sumut saat ini ada 7.124.000 orang. Atau naik 381 ribu orang dibanding Agustus tahun lalu. Dari jumlah itu, baru 6.728.000 orang yang bekerja. Sisanya 396 ribu berstatus pengangguran. Terbanyak lulusan SMK.

“Dibanding tahun lalu, jumlah penduduk bekerja bertambah 362 ribu orang. Sedangkan pengangguran bertambah 19 ribu orang. Dengan demikian, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Sumut naik 2,94 poin dibanding tahun lalu,” kata Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Bismark SP Sitinjak, kepada wartawan di Medan, Selasa (6/11).

Sejalan dengan naiknya jumlah angkatan kerja, TPAK juga meningkat. TPAK pada Agustus 2018 tercatat sebesar 71,82 persen. Naik 2,94 persen poin dibanding setahun yang lalu.

Sementara pengurangan pengangguran sebesar 19 ribu orang sejalan, dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang turun menjadi 5,56 persen pada Agustus 2018. Penurunan TPAK memberikan indikasi adanya penurunan potensi ekonomi dari sisi pasokan (supply) tenaga kerja.

“Dilihat dari tingkat pendidikan, TPT untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih mendominasi yaitu sebesar 9,65 persen,” kata Bismark.

Bismark menjelaskan, berdasarkan jenis kelamin, terdapat perbedaan TPAK antara laki-laki dan perempuan. Pada Agustus 2018, TPAK laki-laki sebesar 83,98 persen sementara TPAK perempuan hanya 59,97 persen.

Namun demikian, dibanding kondisi setahun yang lalu TPAK laki-laki dan perempuan masing-masing mengalami kenaikan sebesar 1,42 poin dan 4,42 poin
“Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) adalah indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat penawaran tenaga kerja yang tidak digunakan atau tidak terserap oleh pasar kerja. TPT pada Agustus 2017 sebesar 5,60 persen turun menjadi 5,56 persen pada Agustus 2018,” kata Bismark.

Dilihat dari tempat tinggalnya, TPT di perkotaan cenderung lebih tinggi dibanding di perdesaan. Pada Agustus 2018, TPT di perkotaan sebesar 7,03 persen. Sedangkan TPT di perdesaan hanya 3,92 persen. Dibanding setahun yang lalu, TPT di perkotaan mengalami penurunan sebesar 0,34 poin. Sedangkan TPT perdesaan meningkat sebesar 0,25 persen poin.

“Dilihat dari tingkat pendidikan pada Agustus 2018, TPT untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) paling tinggi di antara tingkat pendidikan lain, yaitu sebesar 9,65 persen. TPT tertinggi berikutnya terdapat Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar 7,19 persen. Dengan kata lain, ada penawaran tenaga kerja yang berlebih terutama pada tingkat pendidikan SMK dan SMA,” tutur Bismark.

Mereka yang berpendidikan rendah cenderung mau menerima pekerjaan apa saja. Dapat dilihat dari TPT SD ke bawah paling kecil di antara semua tingkat pendidikan, yaitu sebesar 2,80 persen. Dibanding kondisi tahun lalu, peningkatan TPT terjadi pada tingkat SMK dan diploma I/II/III. Sedangkan tingkat pendidikan lainnya menurun.

“Dalam setahun terakhir, persentase penduduk bekerja berpendidikan SD ke bawah menurun dari 30,03 persen pada Agustus 2017, menjadi 28,43 persen pada Agustus 2018. Begitu juga dengan penduduk berpendidikan diploma I/II/III dari 11,79 persen menjadi 13,15 persen. Sementara persentase penduduk bekerja berpendidikan lainnya meningkat,” ungkapnya.

Untuk diketahui, Penduduk Bekerja Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, penyerapan tenaga kerja hingga Agustus 2018 masih didominasi oleh penduduk bekerja berpendidikan rendah. Yaitu SD ke bawah sebanyak 1.912 ribu orang (28,43 persen). SMA sebanyak 1.667 ribu orang (24,78 persen). SMP sebanyak 1.421 ribu orang (21,12 persen). Dan SMK sebanyak 884 ribu orang (13,15 persen).

Selanjutnya, penduduk bekerja berpendidikan tinggi (diploma ke atas) ada sebanyak 842 ribu orang (12,52 persen). Mencakup 200 ribu orang berpendidikan Diploma dan 642 ribu orang berpendidikan Universitas.

Untuk penduduk bekerja menurut Lapangan Pekerjaan Utama Kondisi ketenagakerjaan, baik menyangkut tingkat pengangguran dan penduduk yang bekerja, tidak terlepas dari kinerja sektor-sektor perekonomian yang ada.

Sebanyak 3.816 ribu orang (56,72 persen) bekerja pada kegiatan informal. Selama setahun terakhir, dari Agustus 2017 yang besarnya 58 persen, pekerja informal turun hingga 1,28 poin. “Dari 6,728 juta orang bekerja, sebagian besar penduduk bekerja pada Agustus 2018, yaitu sekitar 4,58 juta orang (68,07 persen) merupakan pekerja penuh (jam kerja minimal 35 jam per minggu). Sementara penduduk yang bekerja dengan jam kerja 1–7 jam memilik persentase yang paling kecil, yaitu sebesar 2,37 persen,” jelas Bismark.

“Jumlah penduduk yang bekerja pada tiap sektor menunjukkan kemampuan sektor tersebut dalam penyerapan tenaga kerja. Berdasarkan lapangan pekerjaan utama pada Agustus 2018, penduduk Sumatera Utara paling banyak bekerja pada Sektor Pertanian. Yaitu sebanyak 2.390 ribu orang (35,53 persen). Disusul oleh Sektor Perdagangan dan Industri Pengolahan masing-masing sebanyak 1.210 ribu orang (17,99 persen) dan 687 ribu orang (10,22 persen),” jelasnya.

Kemudian, dilihat berdasarkan tren lapangan pekerjaan selama Agustus 2017-Agustus 2018, lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan persentase penduduk bekerja terutama pada Industri Pengolahan (0,69 poin), Penyediaan Akomodasi (0,63 poin), dan Jasa Pendidikan (0,37 poin). Sedangkan yang mengalami penurunan utamanya pada Pertanian (1,99 poin), Jasa Perusahaan (0,40 poin) dan Konstruksi (0,12 poin). (gus)

Ujian SKD CASN PEMPROVSU, 8 Peserta Lulus Cumlaude

SUTAN SIREGAR/SUMUT POS REGISTRASI: Peserta CASN melakukan registrasi sebelum mengikuti ujian SKD di Kantor BKN Sumut, Jalan TB Simatupang Medan, Jumat (26/10)
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
REGISTRASI: Peserta CASN melakukan registrasi sebelum mengikuti ujian SKD di Kantor BKN Sumut, Jalan TB Simatupang Medan, Jumat (26/10)

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Selama tiga hari pelaksanaan ujian Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) formasi Pemprovsu 4-6 November 2018, hanya 9.042 dari 9.617 orang peserta terdaftar yang mengikuti ujian. Sebanyak 575 peserta di antaranya tidak hadir dan otomatis gugur mengikuti tahapan selanjutnya. Dari 9.042 yang ikut ujian, ada delapan orang yang memperoleh nilai hasil ujian tertinggi (cumlaude) SKD.

“Ada delapan orang yang tinggi. Tapi siapa orangnya, tidak bisa saya sebutkan,” kata Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Setdaprovsu, Kaiman Turnip, Selasa (6/11).

Terdapat sejumlah item melalui CAT yang digelar selama ujian SKD berlangsung. Antara lain seperti ujian Test Inteligensia Umum (TIU) dan Test Wawasan Kebangsaan (TWK) sebanyak 35 soal. Terdiri dari beberapa pertanyaan tentang Pancasila, UUD RI, dan NKRI. Berikutnya seputar analogi berfikir minimal nilai 35 dengan jumlah soal 30. Dan Tes Karakteristik Pribadi (TKP) sebanyak 35 soal.

Adapun passing grade yang ditetapkan BKN yakni Tes Intelegensia Umum (TIU) 85, Tes Karakteristik Pribadi (TKP) 143, dan Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) 75.

Data BKD Setdaprovsu, sekitar 4.528 orang tercatat mendaftarkan diri sebagai tenaga pengajar (guru), 2.518 peserta melamar pada instansi kesehatan, lalu 2571 pada bagian teknis.

Tentang formasi yang paling diminati, Kaiman belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut. “Untuk pendaftar paling sedikit untuk posisi dokter spesialis. Hanya empat orang saja yang terdata melakukan pendaftaran. Untuk yang lainnya belum bisa saya beritahukan,” kata Kaiman.

Ujian yang diselenggarakan di Markas Komando Daerah Militer (Makodam) I/BB, Jalan Gatot Subroto Medan itu, berlangsung lancar, aman dan tanpa kendala berarti. Sedangkan untuk tahapan selanjutnya, peserta tinggal menunggu hasil akhir yang akan diinformasikan melalui portal BKN (www.sscn.bkn.go.id).

Sementara itu, Badan Kepegawaian Negara (BKN) mengungkapkan rata-rata tingkat kelulusan nasional passing grade peserta ujian Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) calon aparatur sipil negara (CASN) 2018, hanya sekitar 9 persen.

Menurut Humas BKN, Muhammad Ridwan, persentase tersebut berdasarkan hasil ujian SKD seluruh peserta di masing-masing formasi baik instansi pusat maupun pemerintah daerah. “Iya, sama (antara daerah dan pusat). Rata-rata nasional tingkat kelulusan passing grade baru mencapai 9 persen,” ujarnya menjawab Sumut Pos, Selasa (6/11).

Sayang dirinya belum memegang data perihal peserta yang lulus untuk formasi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, paska ujian SKD rampung dilaksanakan. “Wah, saya belum pegang datanya. Informasi yang bisa disampaikan baru itu dulu,” katanya tanpa ingin mengurai apa kendala tingkat kelulusan passing grade yang rendah tersebut.

Terkait Kelangkaan BBM Premium, Pertamina Jangan Bohong…

Pertamina
Pertamina

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium di lapangan, dapat mengakibatkan efek samping yang besar bagi perekonomian masyarakat. Karenanya, kalangan dewan meminta Pertamina tidak berbohong dengan alasan rakyat semakin pintar memilih produk berkualitas seperti Pertalite atau Pertamax.

“Pertamina jangan memakai bahasa politis, dengan mengatakan masyarakat sudah pintar menggunakan BBM bermutu. Bukan itu yang jadi pertanyaan. Yang ditanya itu, kenapa Premium langka? Kalau katanya stok ada sampai 1,2 Kl per hari, kenapa di hampir semua SPBU ditempel pengumuman ‘Premium habis,” ujar Anggota DPRD Sumut Dapil Sumut I Yulizar Parlagutan Lubis, Selasa (6/11).

Menurut Yulizar, apa yang disampaikan pihak Pertamina soal stok dengan kondisi di lapangan, sangat berbanding terbalik. Karena itu, dirinya menuding perusahaan plat merah itu berbohong untuk menyembunyikan persoalan. Apalagi dengan kondisi ini, masyarakat terpaksa membeli BBM jenis Pertalite yang selisih harganya cukup tinggi. Khususnya, bagi kendaraan angkutan umum maupun becak bermotor.

“Jadi jangan berapologi (mengkambinghitamkan,Red) mengatakan rakyat semakin pintar. Memang kalau rakyat pintar itu bagus, tetapi masalahnya ini kebutuhan primer. Kan bisa berefek bagi mereka, begitu juga kepada biaya operasional yang arahnya bisa kepada harga barang kebutuhan,” tegas Yulizar.

Naiknya harga barang, lanjut Politisi PPP ini, karena distribusi dan lainnya menggunakan kendaraan bermotor. Sudah tentu biaya lebih besar menggunakan BBM nonsubsidi. Sehingga, persoalan ini tidak sesederhana seperti apa yang disampaikan Pertamina. “Jadi Pertamina itu harus bijak. Pertamina jangan melihat Premium saja, tetapi dampaknya kepada rakyat yang terpaksa menggunakan BBM nonsubsidi,” ujarnya.

Dikatakan Yulizar, dari beberapa SPBU, diketahuinya ramai antrean kendaraan umum seperti taksi dan angkot saat waktu tertentu seperti malam dan pagi hari. Keramaian itu, katanya, karena saat itu tersedia BBM Premium yang harganya Rp6.450, berbeda dengan Pertalite yang kini sudah mencapai Rp7.800 per liter.

“Jadi kalau soal rakyat pintar, itu gak nyambung. Biarkan kesadaran masyarakat itu tumbuh. Toh juga kendaraan mewah sekarang ini kan memang sudah pakai Pertalite paling rendah. Jadi untuk apa ada Premium? Atau sengaja disimpan, dan kita tidak tahu untuk siapa itu? Makanya kita minta itu (Premium) didistribusikan kembali, prioritasnya angkutan umum,” tegasnya.

Senada disampaikan Anggota DPRD Sumut dapil Sumut 9, Juliski Simorangkir. Menurutnya kebijakan saat ini mengarahkan penggunaan BBM kepada Pertalite atau nonsubsidi. Alasannya, yakni agar emisi gas yang keluar, lebih sedikit dan ramah lingkungan. Sehingga, penggunaan Premium seperti sengaja dikurangi.

“Yang pasti dampaknya ke masyarakat kecil. Karena rata-rata mereka, khususnya angkutan umum masih menggunakan Premium. Karena masyarakat tidak melihat itu, tetapi bagaimana mendapatkan BBM dengan harga murah,” kata Politisi PKPI itu.

Selain itu, kondisi perekonomian yang sulit saat ini menurutnya akan semakin membebani masyarakat dengan kelangkaan Premium di lapangan. Apalagi di banyak SPBU, barang subsidi itu sudah tidak ditemui lagi di papan nama mesin pompa minyak. Saat ini, penyediaan bahan bakar lebih didominasi Pertalite, Pertamax dan Pertamax Turbo, termasuk jenis Solar yakni Dexlit dan Pertamina Dex.

“Jadi Pertamina harus jujur soal stok Premium ini. Kalau memang ada pasokan, maka jangan ditutup-tutupi. Jangan sampai membuat masyarakat gerah. Pertamina jangan berbohong,” tegasnya.

Pengamat Ekonomi, Gunawan Benjamin menilai, harusnya Pertamina memberikan penjelasan dengan melakukan sosialisasi terhadap pembatasan tersebut. Karena, sebagai masyarakat masih membutuhkan premium sebagai BBM kendaraan bermotor.

Ia menilai pembatasan penggunaan Premium memberikan dampak positif dan negatif ditengah masyarakat.”Untuk akses itu, berkurang. Jadinya, juga terbatas. Dari sisi masyarakat terbatas dan disisi lainnya, bagus. Karena, mengurangi subsidi dilakukan pemerintah sendiri untuk BBM jenis Premium,” kata Gunawan.

Gunawan mengungkapkan, Premium sendiri memiliki kelas ditengah masyarakat. Namun, masyarakat menengah kebawah menggunakan Premium. Secara dampaknya bisa membantu masyarakat untuk memenuhi konsumsi BBM bersubsidi ini.

“Batas Premium itu sendiri, sudah berjalan lah. Kalau membantasi it’s oke lah. Tapi, baiknya dijelasi kepada masyarakat. Pembatasan ini, bisa menghemat anggaran contohnya,” tutur Gunawan.

Gunawan yang juga Dosen di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) meminta, Selain memberikan penjelasan atas pembatasan penggunaan Premium, Pertamina juga harus memberikan edukasi kepada masyarakat untuk penggunaan BBM berkualitas seperti Pertalite, Pertamax dan lainnya.(bal/gus/ila)

Blangko e-KTP Kosong, Ketersediaan Tergantung Kemendagri

SUTAN SIREGAR/SUMUT POS ANTRE: Warga mengantre di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Medan untuk mengurus perekaman e-KTP, beberapa waktu lalu. Saat ini blanko e-KTP kosong . penduduk elektronik (KTP-el) dalam penggunaan hak pilih pada Pemilu serentak 2019 mendatang

SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
ANTRE:
Warga mengantre di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Medan untuk mengurus perekaman
e-KTP, beberapa waktu lalu. Saat ini blanko e-KTP kosong .
penduduk elektronik (KTP-el) dalam penggunaan hak pilih pada Pemilu serentak 2019 mendatang

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Blanko Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Medan kembali kosong. Kekosongan stok blanko tersebut terjadi sejak beberapa hari belakangan. Bahkan, juga tidak memiliki tinta untuk mencetak e-KTP.

Kepala Disdukcapil Kota Medan OK Zulfi mengatakan, kekosongan blanko dan tinta sudah terjadi sejak Senin (5/11). “Seharusnya di P-APBD ada penambahan untuk membeli tintan
Namun, kenyataannya tidak ada,” ujarnya, kemarin.

Dengan kekosongan stok blanko tersebut, OK Zulfi meminta masyarakat Kota Medan bersabar. Sebab, stoknya berasal dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). “Sebenarnya beberapa hari lalu ada pegawai yang menjemput blanko, tetapi sebanyak 2.000 keping. Padahal, permintaan yang diajukan 30.000 keping,” tuturnya.

OK Zulfi menyatakan, 2.000 keping blanko hanya cukup untuk mencetak permohonan masyarakat yang sudah ada. Sedangkan, untuk yang baru mengajukan terpaksa harus menunggu ketersediaan dari Kemendagri.”Kami sudah melayangkan surat resmi untuk meminta kepada Kemendagri sebanyak 100.000 keping. Kita berharap permintaan itu bisa dipenuhi,” harapnya.

Kabid Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan Disdukcapil Medan, Arpian Saragih mengatakan hal senada. “Kita sudah umumkan blanko kosong di kantor. Meski kosong, masyarakat bisa tetap mengurus KTP elektronik. Artinya, pelayanan tidak terganggu,” aku Arpian.

Ia menambahkan, ketersediaan stok blanko belum bisa dipastikan kapan waktunya karena tergantung dari Kemendagri. “Kita berharap secepatnya dikirim dan petugas kita sudah diberangkatkan ke sana,” katanya.

Sementara, Sekretaris Ditjen Kependudukan dan Catatan Sipil Kemendagri, Gede Suratha membantah Kota Medan kehabisan stok blanko e-KTP. “Tidak benar kosong, masih ada stok 1.000 keping lebih,” ujar Gede Suratha ketika dihubungi wartawan.

Menurutnya, guna menyiasati ketersediaan blanko e-KTP, pihaknya melakukan kebijakan distribusi atau perpindahan dari daerah yang ada di sekitarnya. Atau, bisa juga dikirim pegawai untuk menutup kekurangan seperti yang dilakukan di Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimatan Barat, Yogyakarta, Bali, Lampung, dan NTT.

“Sebagai contoh, di DKI butuh 1,4 juta hingga 17 April 2019. Maka, kita suplai hampir setiap hari 5-10 ribu. Bukan 1,4 juta kita kasih langsung, karena daerah lain membutuhkan juga. Jadi, perlu pengaturan demi pelayanan,” ujarnya. (ris)

Hari ini DPRD-Pemprovsu Tandatangani KUA-PPAS APBD Sumut 2019

Aripay Tambunan Anggota Badan Anggar (Banggar) DPRD Sumut
Aripay Tambunan
Anggota Badan Anggar (Banggar) DPRD Sumut

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Hari ini, Rabu (7/11) dijadwalkan DPRD dan Pemprov Sumut akan menandatangani Nota Kesepahaman Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) R-APBD Sumut untuk tahun anggaran 2019.

“Hari ini TAPD dan Banggar lagi sinkronisasi program, mungkin sampai malam dilakukan, karena akan dilakukan penandatanganan nota kesepahaman dijadwalkan Rabu (6/11),” kata Anggota Badan Anggar (Banggar) DPRD Sumut Aripay Tambunan kepada wartawan, Selasa (6/11).

Sebelumnya, Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Sumut dan Badan Anggaran (Banggar) DPRD Sumut sudah membahas KUA-PPAS Rancangan-Anggaran Pendapatan, dan Belanja Daerah (R-APBD) 2019 di Gedung DPRD Sumut, sejak Senin (5/11).

Pembahasan yang dilakukan kemarin, dimulai dengan pengajuan pertanyaan dari Banggar kepada TAPD terkait KUA PPAS R-APBD 2019. “Kita menyerahkan pertanyaan kepada TAPD soal KUAPPAS R-APBD 2019. Pertanyaannya seputar masih relevankah KUA-PPAS yang disusun dan ditandatangani Pj Gubernur Eko Subowo dikaitkan dengan visi dan misi gubernur terpilih?,” kata Anggota Banggar lainnya Muhri Fauzi Hafiz.

Selanjutnya, pertanyaan juga diajukan ke TAPD karena banyak angka-angka (anggaran) yang tidak rasional, jika dibandingkan dengan kondisi terakhir keuangan Pemprovsu. Misalnya, muncul penerimaan pembiayaan sebesar Rp500 M yang bersumber dari sisa lebih anggaran tahun sebelumnya.

“Nah, faktanya dengan tidak adanya P-APBD 2018, selain munculnya utang bagi hasil ke kab/kota pada tahun 2018, maka APBD 2018 itu defisit. Ketika APBD itu defisit, bagaima pula ada uang lebih? Meskipun saya tahu nanti mereka akan jawab ini hasil efisiensi. Namun harus dulu dijelaskan kondisi yang ada saat ini,” tegasnya.

Muncul juga perdebatan seperti P-APBD 2018 kemarin, lanjutnya. Sebab sebagai anggota Banggar, Muhri mengaku trauma dengan kejadian saat membahas APBD perubahan pada waktu lalu baik itu di Jakarta, setelah berkunjung ke Kemendagri, maupun di Medan di DPRD Sumut. Di saat membutuhkan persetujuan Gubernur, ada yang dibatalkan. Padahal sudah sesuai dengan kesepakatan saat membahas P-APBD yang lalu antara Banggar dan TAPD.

“Inikan sudah diketahui publik, maka saya menginginkan TAPD itu menjelaskan ke gubernur, memberi pengetahuan yang baik dan benar. Kalau tidak mau membahas R APBD bersama DPRD, silahkan jangan diajukan ke DPRD, lakukan saja perubahan revisi pada APBD induk 2018 melalui Pergub yang ditandatangani sendiri,” tambahnya.

Sedangkan Anggota Banggar lainnya Zeira Salim Ritonga juga menyebutkan ada persoalan yang muncul dalam pembahasan R-APBD yang ingin dipertanyakan oleh Banggar ke TAPD. “Kita pertanyakan mengenai Rancangan KUA PPAS yang kita pertanyakan yang masih ditanda tangani Pj Gubernur Eko Subowo,” imbuhnya.

Satu yang dipertanyakan oleh TAPD adalah apakah memang masih ada revisi atau memang ada pergantian KUA-PPAS yang ditandatangani Gubernur yang baru dilantik Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah. (bal/ila)

Pembangunan Jembatan Titi Dua Sicanang Ditarget Rampung 2019

SUTAN SIREGAR/SUMUT POS JEMBATAN: Warga melintasi jembatan darurat di Jalan Sicanang Medan Labuhan, Rabu (31/10). Jembatan Titi II yang dibangun PT Jaya Suskes Prima, rubuh sebelum rampung.
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
JEMBATAN: Warga melintasi jembatan darurat di Jalan Sicanang Medan Labuhan, Rabu (31/10). Jembatan Titi II yang dibangun PT Jaya Suskes Prima, rubuh sebelum rampung.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pembangunan Jembatan Titi Dua Sicanang di Kecamatan Medan Belawan hingga kini masih terus dikerjakan. Pembangunan proyek yang sempat tiga kali amblas tersebut ditargetkan rampung pada 2019.

Wali Kota Medan Dzulmi Eldin mengaku, saat ini sudah dibangun jembatan sementara dan bisa dilalui kendaraan roda dua maupun empat. Dengan begitu, warga di sana bisa beraktivitas. “Pembangunan jembatan tersebut terus dikebut pengerjaannya. Ditargetkan rampung
pada 2019,” kata Eldin sesuai mengikuti paripurna di gedung DPRD Medan, Selasa (6/11).

Eldin mengaku, dalam pembangunan jembatan tersebut sempat mengalami kendala hingga berakibat amblas atau roboh. Kendala yang dihadapi karena faktor alam. “Kita tidak bisa langsung main ganti kontraktornya karena harus mengikuti proses tender. Makanya, kita minta kepada mereka harus tuntas tahun depan,” akunya.

Untuk diketahui, jembatan tersebut pertama kali dikerjakan pada Oktober 2017 oleh PT Jaya Star Utama dengan pimpinan proyek Susi dengan anggaran Rp8 miliar lebih. Namun, belum selesai dikerjakan ternyata pada 6 November 2017 jembatan tersebut roboh.

Setelah terhenti beberapa bulan, maka pembangunan dilanjutkan dengan tender ulang dan dikerjakan PT Pillaren. Akan tetapi, kontraktornya merupakan orang yang sama dengan perusahaan sebelumnya. Lantas, pada 29 Agustus 2018 jembatan amblas lagi yang dianggap human error bukan faktor alam.

Usai longsor berhasil diatasi, pengerjaan kembali diteruskan. Kontraktor yang mengerjakan dengan nama berbeda yakni PT Jaya Suskes Prima dengan anggaran Rp13.642.000.000. Namun, oknum kontraktor ternyata sama yaitu Susi. Pada 20 Oktober 2018 tanah di sekitar jembatan kembali amblas dengan diameter yang lebar. Akibatnya, 11.000 jiwa lebih warga Kelurahan Sicanang terisolir dan aktifitasnya menjadi terkendala. (ris)

Lions Club Medan Merdeka Distrik 307-A2 Gelar Bhakti Sosial

Idris/sumut pos BERBAGI SEMBAKO: Lions Club Medan Merdeka Distrik 307-A2 menggelar bakti sosial berbagi sembako di Vihara Loka Shanti, Jalan Pembangunan Medan.
Idris/sumut pos
BERBAGI SEMBAKO: Lions Club Medan Merdeka Distrik 307-A2 menggelar bakti sosial berbagi sembako di Vihara Loka Shanti, Jalan Pembangunan Medan.

Dalam rangka memperingati Hari Deepawali, Lions Club Medan Merdeka Distrik 307-A2 menggelar bhakti sosial berbagi sembako di Vihara Loka Shanti, Jalan Pembangunan Medan, Minggu (4/11).

President Lions Club Medan Merdeka, Suryani Susilo mengatakan Kegiatan bakti sosial ini sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan tanpa memandang suku, agama dan ras tertentu.

Dalam kegiatan ini juga didukung mantan Gubernur Sumatera Utara, Tengku Erry Nuradi. Ia pun berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat di acara sosial ini. “Kami mengucapkan terima kasih kepada Tengku Erry Nuradi yang sudah mendukung kegiatan ini dan juga kepada donatur lainnya. Diharapkan ini menjadi semangat kebersamaan untuk berbagi dengan sesama,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, mantan Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi mengatakan, kegiatan yang digelar Lions Club Medan Merdeka ini sebagai rangka kebersamaan untuk berbagi kasih dengan sesama sebagai warga negara Indonesia.

Koordinator Budhis Tamil Dharma Kelas, Baskara, mengaku juga berterima kasih kepada Lions Club dan Tengku Erry Nuradi berbagi kasih dalam rangka Hari Perayaan Deepawali tahun ini. Hal senada juga dikatakan Ketua Vihara Loka Shanti, Wimla Kirti. (ris/ila)

Kotak Suara Sudah Didistribusikan di 19 Kabupaten/Kota

SUMUTPOS.CO – Distribusi logistik berupa kotak suara untuk Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 sudah sampai di 19 kabupaten/kota di Sumatera Utara (Sumut). Total kotak suara yang sudah tiba itu berjumlah 63.451 buah.

Komisioner KPU Sumut Batara Manurung menyebutkan, adapun ke-19 kabupaten/kota yang sudah menerima kotak suara antara lain; Tapanuli Tengah (4.685 buah), Nias Utara (1.991), Sibolga (1.309), Nias (2.357), Gunung Sitoli (2.145), Nias Selatan (4.420), Nias Barat (1.472), Padanglawas (3.500), Padanglawas Utara (3.975), Langkat (14.375), Serdang Bedagai (11.108), Deliserdang (7.525), Pakpak Bharat (884), Padangsidimpuan (3.705) dan Humbanghasundutan (belum masuk gudang).

“Dari total kotak suara yang sudah tiba dan didistribusikan tersebut, untuk Kabupaten Tapteng terdapat kekurangan 5 buah kotak suara karena rusak, Nias Utara kekurangan 4 buah karena rusak dan Sibolga kelebihan 54 buah kotak suara. Selebihnya belum diperiksa,” katanya, Selasa (6/11).

Kata Batara, paling lama kotak suara akan didistribusikan ke seluruh kabupaten/kota di Sumut pada 19 November mendatang. Saat ini sudah mulai masuk distribusi tahap kedua yang meliputi Kabupaten Palas, Paluta, Deliserdang, Sergai dan Langkat.

“Kabupaten/kota yang sudah menerima kotak suara itu sejak 20 Oktober lalu. Itu yang tahap pertama. Selebihnya masih berjalan hingga saat ini,” katanya.

Mengenai total kotak suara yang didistribusikan ke 33 kabupaten/kota di Sumut, pihaknya masih akan menunggu laporan dari masing-masing KPU. Sebab kewenangan kotak suara dan logistik pemilu lainnya menjadi domain KPU RI.

“Apalagi kan baru sampai di daerah masing-masing, jadi lagi mereka hitung berapa jumlahnya. Kami belum menerima laporan terkait hal ini,” ungkap Koordinator Divisi Logistik KPU Sumut itu.

Di samping itu, sambung dia, kebutuhan kotak suara Pemilu 2019 di Sumut juga merupakan domain KPU pusat. Di mana nantinya akan disesuaikan dengan jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang ada di Sumut.

“Rinciannya itu yang tahu KPU RI, sebab mereka yang langsung berhubungan dengan pihak ketiga,” sebutnya. Begitupun soal pengadaan kotak suara di pemilu mendatang, semua memakai logistik baru yang ditangani langsung KPU RI.

“Bukan pakai yang lama semasa Pemilihan Gubernur Sumut lalu, langsung KPU RI dengan pihak ketiga. Kami hanya penerima barang saja,” kata Batara yang mengakui kalau untuk logistik surat suara sejauh ini belum ada arahan, sebab masih menunggu pembaharuan DPT. (prn/azw)

Pengawasan Netralitas ASN di Pemilu Diperketat

ist PEMBAHASAN: Raker Komite I DPD RI dengan Mendagri Tjahjo Kumolo bersama Dirjen Otda Kemendagri Soni Sumarsono (kanan).
ist
PEMBAHASAN: Raker Komite I DPD RI dengan Mendagri Tjahjo Kumolo bersama Dirjen Otda Kemendagri Soni Sumarsono (kanan).

SURABAYA, SUMUTPOS.CO – Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Dirjen Otda Kemendagri), Soni Sumarsono, mengatakan pengawasan netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN) akan lebih diperketat pada Pemilu 2019.

Hal tersebut diungkapkan Soni saat menghadiri Rapat Koordinasi Ketertiban dan Keamanan di Wilayah Provinsi Jatim Tahun 2018 di Grand City Convex Jalan Walikota Mustajab Surabaya, Selasa (6/11).

Soni mengatakan dalam tiga kali Pilkada serentak, sudah ada lebih dari 1500 ASN yang terkena sanksi, mulai dari teguran tertulis, penurunan pangkat, hingga diberhentikan.

“Dalam Pilkada ketiga (Pilkada Serentak 2018), ada 1527 ASN yang terkena sanksi. Itu belum yang Pilkada kedua (2017) dan pertama (2015),” kata Soni.

Soni menegaskan dalam Pemilu 2019 birokrasi harus tetap netral dan bisa mengayomi semua warga negara.

“ASN harus bisa memberikan pelayanan yang terbaik untuk seluruh warga apapun pilihannya, dan Bawaslu saya kira memiliki satu pedoman dari edaran menteri PAN RB dan sudah cukup jelas, mana yang dikatakan melanggar, mana yang tidak,” lanjut Soni.

Pengawasan ASN tersebut, kata Soni, akan langsung berada di bawah kewenangan Bawaslu.

“Nanti menyangkut ASN dilempar ke Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN), baru KASN merekomendasikan ke PTIK, tetapi sanksinya dibuat oleh pejabat pembina kepegawaian.

Bawaslu juga bisa menerima seperti itu, tapi dilempar ke KASN untuk dilakukan analasis tingkat pelanggaran dan besarnya hukuman apa. KASN yang menentukan, Bawaslu memang menampung semua pengawasan Pileg-Pilpres,” pungkasnya. (bbs/azw)