Teddy Akbari/sumut pos
Bersama: Wali Kota Binjai HM Idaham foto bersama peserta jambore forum anak daerah di Taman Edukasi, Binjai Selatan.
Teddy Akbari/sumut pos Bersama: Wali Kota Binjai HM Idaham foto bersama peserta jambore forum anak daerah di Taman Edukasi, Binjai Selatan.
BINJAI, SUMUTPOS.CO – Sebagai generasi penerus dan pewaris bangsa, keberadaan anak sangat penting serta harus mendapatkan perhatian yang serius. Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh dan berkembang serta berpartisipasi sesuai dengan harkat hingga martabat manusia.
“Kita ketahui bahwasanya masa anak-anak adalah bahagian persiapan menuju masa remaja. Anak membutuhkan pengalaman dan pengetahuan, sehingga dapat terbentuk akhlak, pengetahuan dan keterampilan pada seorang anak,” ujar Wali Kota Binjai, HM Idaham saat menghadiri Jambore Forum Anak Daerah di Taman Edukasi, Gang Cempaka, Kelurahan Tanah Seribu, Binjai Selatan, Sabtu (13/10) sore.
Generasi muda adalah bahagian penerus bangsa dan negara. Satu negara yang tidak mampu mendidik dengan baik generasi mudanya, maka bangsa itu akan punah. Satu negara akan tertinggal jika pemerintahnya kurang memberikan edukasi kepada generasi muda.
“Hari ini Pemko Binjai menggelar kegiatan jambore forum anak dengan tujuan memberikan satu pengalaman kepada anak untuk dapat belajar, saling bertukar informasi, dan lebih mencintai alam. Pemko Binjai akan mempersiapkan generasi mudanya dengan baik,” tegasnya.
Seluruh peserta jambore forum anak nantinya akan belajar berinteraksi dengan kelompok, membangun jejaring dan mendapatkan pemahaman bahwa alam merupakan bahagian dari kita.
“Saya berpesan kepada anak-anak peserta jambore, manfaatkanlah pengalaman ini dengan sebaik-baiknya. Kegiatan ini merupakan satu pembelajaran di luar dari sekolah,” seru Wali Kota.
Jambore forum anak diikuti sebanyak 120 siswa-siswi yang berasal dari siswa SMP se-Kota Binjai. (ted/han)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Ketua DPD F.SPTI-K.SPSI Sumut, Sabam Manalu resmikan Kantor Sekretariat DPC F.SPTI-K.SPSI Deliserdang di Jalan Lembaga Pemasyarakatan, Tanjung Gusta, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deliserdang, Minggu (14/10). Peresmian itu dihadiri Sekjen Ir Timbul Limbong, dan 57 pengurus PUK se-Kabupaten Deliserdang dan ratusan anggota.
Selain peresmian kantor, agenda itu juga dibalut syukuran dan temu ramah yang serta perkenalan pasca diberikannya mandat dan amanah kepada Samuel Manurung untuk menjabat Ketua DPC Caretaker F.SPTI Deliserdang, Sartoto Barus sebagai Sekjen, serta Pardomuan Simbolon sebagai Bendahara.
Samuel Manurung alias Ucil dalam sambutan mengaku sangat bangga dengan SPSI. “Kami sebagai caretaker sangat siap membesarkan SPSI. Terima kasih kepada pihak kepolisian karena turut mengamankan sehingga acara ini bisa berlangsung dengan aman. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada Kadus dan Kades setempat,” ujarnya.
Sabam Manalu dalam arahannya mengaku bangga dengan pengurus DPC F.SPTI-K.SPSI Deliserdang. Buat Samuel Manurung alias Ucil, Sabam Manalu mempersilahkan kalau mau mengangkat seseorang untuk jadi pengurus di PUK. Pengurus DPD F.SPTI-K.SPSI Sumut tidak akan intervensi asal dianggap bisa memimpin dan menggawangi untuk membesarkan organisasi.
“Soal caretaker, saya pun risih dengan itu. Apakah harus muscab? Saya silahkan. Mau pelantikan? Silahkan. Ini serikat pekerja, saya nggak mau membebani pekerja. Mana yang kalian anggap untuk membesarkan organisasi, silahkan. Lakukan penataan. Ini hari dikasih, hari ini juga saya buat SK-nya,” jelas pria berbadan tambun ini.
Acara tersebut juga turut dilakukan perkenalan terhadap kepengurusan LBH DPC F.SPTI-K.SPSI Deliserdang yang dipimpin Daniel Simbolon SH sebagai Direktur, serta rekan-rekan pengacara lainnya, di antaranya Bahota Silaban SH MH, Sutan PH Siregar SH, Muliadi Tarigan SH, Erikson Pernando Simangunsong SH. (dek)
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
FASILITAS PUBLIK:
Pengunjung bermain menggunakan fasiitas bermain yang berada di Taman Lapangan Merdeka Medan, Minggu (14/10) Fasilitas tersebut sangat bermanfaat bagi masyarakat yang berakhir pekan di taman.
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS FASILITAS PUBLIK: Pengunjung bermain menggunakan fasiitas bermain yang berada di Taman Lapangan Merdeka Medan, Minggu (14/10) Fasilitas tersebut sangat bermanfaat bagi masyarakat yang berakhir pekan di taman.
Presiden Direktur PT Agincourt Resource, Tim Duffy, di sela-sela kegiatan Operasi Katarak Gratis yang digelar Tambang Emas Martabe bekerja sama dengan Kodam I BB dan ANV, di RS TNi Losung Batu Padangsidimpuan, Minggu (14/10/2018).
Presiden Direktur PT Agincourt Resource, Tim Duffy, menyapa peserta Operasi Katarak Gratis yang digelar Tambang Emas Martabe bekerja sama dengan Kodam I BB dan ANV, di RS TNi Losung Batu Padangsidimpuan, Minggu (14/10/2018).
PADANGSIDIMPUAN, SUMUTPOS.CO – PT Agincourt Resources selaku pengelola Tambang Emas Martabe menggelontorkan dana 130 ribu USD atau lebih dari Rp2 miliar, untuk penyelenggaraan rangkaian operasi katarak gratis 2018. Jumlah itu belum termasuk biaya promosi dan berbagai pernak-pernik lainnya.
“Dana yang kita siapkan naik setiap tahun. Selama dua tahun terakhir, nilainya 130 ribu USD per tahun,” kata Presiden Direktur PT Agincourt Resource, Tim Duffy, di sela-sela kegiatan Operasi Katarak Gratis yang digelar Tambang Emas Martabe bekerja sama dengan Kodam I BB dan ANV, di RS TNI Losung Batu Padangsidimpuan, Minggu (14/10/2018).
Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan pemeriksaan mata dan operasi katarak gratis telah digelar tiap tahun sejak tahun 2011. Tahun ini, berlangsung sejak 10-15 Oktober 2018. Hingga Minggu (14/10) pagi, total mata yang telah dioperasi lebih dari 500 mata.
“Operasi katarak gratis ini ditargetkan 1.200 mata. Sebelumnya operasi katarak gratis juga dilaksanakan di Rumah Sakit TNI Putri Hijau, Medan,” jelasnya.
Selama penyelenggaraan, Tambang Emas Martabe telah menyaksikan betapa pemulihan penglihatan pascaoperasi katarak gratis, sangat berpengaruh terhadap produktivitas dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
“Oleh karena itu, Tambang Emas Martabe komit tetap melanjutkan kegiatan ini, agar masyarakat dapat menerima manfaat sebanyak mungkin,” terangnya.
Presiden Direktur PT Agincourt Resource, Tim Duffy, foto bersama Danrem 023/KS dan peserta operasi katarak gratis, di RS TNI Losung Batu Padangsidimpuan, Minggu (14/10/2018).
Untuk membantu kelancaran dan kesuksesan rangkaian kegiatan, Tambang Emas Martabe melibatkan lebih dari 200 relawan yang berasal dari karyawan dan mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Padangsidimpuan dan Medan.
Para relawan akan membantu pasien mulai dari proses pemeriksaan mata, operasi, hingga pasca operasi katarak.
“Hanya pasien penderita katarak yang akan dioperasi gratis. Jika penyakitnya bukan katarak, pasien tidak akan dioperasi tapi tetap diberikan konseling non katarak,” tuturnya.
Tim juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berbagi sumber daya untuk penyelenggaraan operasi katarak gratis tersebut. Khususnya TNI dan ANV.
Pangdam I Bukit Barisan, Mayjen Sabrar Fadhilah, dalam sambutannya yang dibacakan Danrem 023/KS, Kol Inf M Fadjar, mengatakan katarak merupakan penyakit mata yang bisa menimpa semua umur. Dapat mengakibatkan seseorang mengalami kebutaan secara permanen.
“Selama ini, masyarakat kurang akses terhadap pelayanan kesehatan yang baik, lokasi yang jauh, dan terkendala pembiayaan. Karena itu, Kodam bekerjasama dengan PT Agincourt Resources dan A New Vision, menggelar baksos operasi katarak gratis,” katanya.
Ia berharap, para penderita katarak dari berbagai daerah kabupaten, dapat terbebas dari kebutaan akibat katarak.
“Penderita diharapkan sembuh, percaya diri, dan aktif kembali seperti sedia kala. Ini tugas yang tidak ringan, tetapi mengandung kehomatan. Bersama pemerintah, TNI membangun masyarakat yang maju, sejahtera, dan berkeadilan sosial,” katanya. (mea)
Audensi kepada Pangdam I/BB: Dari kiri ke kanan Tomi Wistan, dr. Indra Wahidin,
Anwar Susanto, Pangdam I/BB, Juswan Tjoe, Ardjan Leo dan Solihin Chandra
Audensi kepada Pangdam I/BB: Dari kiri ke kanan Tomi Wistan, dr. Indra Wahidin, Anwar Susanto, Pangdam I/BB, Juswan Tjoe, Ardjan Leo dan Solihin Chandra.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Panitia bersama yang mewakili sebagian dari komunitas, yayasan,
perhimpunan, perkumpulan maupun organisasi Tionghoa Sumatera Utara, berkumpul dan sepakat membentuk Komunitas Masyarakat Tionghoa yang peduli akan Palu dan Donggala.
“Kami dari MITSU (Masyarakat Indonesia Tionghoa Sumatera Utara), Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Sumatera Utara, PSMTI Sumatera Utara, Yayasan Sosial Angsapura, Kompak, Sad Putra Persada,
Perkumpulan Hakka, Perhimpunan Teochew, Kuangzhau, Hubei, Hainan, Yayasan Marga seperti Wang, Tan, Lim, Ong, Goh, Zhuang & Yan serta organisasi Tionghoa lainnya yang bergabung, menyatu, saling melengkapi, bergandengan tangan untuk meringankan beban dan menyatakan turut prihatin atas bencana alam yang menimpa saudara-saudara kita di Palu, Donggala, Mamaju dan Sigi Sulawesi Tengah. Panitia Bersama Masyarakat Tionghoa Sumatera Utara Peduli Palu bertekad untuk
senantiasa transparan menyangkut arus bantuan sosial kemanusiaan yang diberikan
oleh Masyarakat Tionghoa Sumatera Utara sebagai bentuk empati terhadap korban
bencana gempa dan tsunami yang menimpa saudara-saudara kita di Palu, Donggala,
Mamaju dan Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, ” ujar Juswan dari Perhimpunan MITSU selaku Ketua Panitia Pelaksana yang didampingi Anwar Susanto dari INTI Sumut selaku Bendahara Panitia Pelaksana, Iwan Hartono Alam dari Kompak, Tomi Wistan dari INTI Sumut, Ardjan Leo dari Perhimpunan MITSU/Yasora dan Solihin Chandra dari PSMTI Sumut/Walubi Sumut pada saat melakukan audiensi kepada Kapoldasu (10/10), Gubernur Sumatera Utara dan Pangdam-I/BB (11/10) yang juga dihadiri oleh dr. Indra Wahidin dari Walubi
Sumut .
Dikatakan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada seluruh masyarakat Tionghoa Sumatera Utara selaku para memberi bantuan sosial kemanusiaan, maka bantuan tersebut tersebut benar benar akan dikelola secara terbuka dan akuntabel.
Menurutnya, transparansi bantuan dana sosial kemanusiaan masyarakat Tionghoa Sumatera Utara tersebut akan dilakukan bukan hanya dalam bentuk pemberitahuan harian melalui media massa, tetapi juga akan disalurkan kepada saudara-saudara korban gempa dan tsunami di Sulteng melalui Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FORKOPIMDA) Sumatera Utara. Dalam hal ini Kapoldasu, Pangdam- I/BB dan Gubernur Sumatera Utara sebagaimana arahan dan petunjuk yang diberikan FORKOPIMDA Sumatera Utara di saat audiensi.
Menurut Juswan, sikap terbuka dan dukungan FORKOPIMDA Sumatera Utara tersebut dirasakan perlu, karena menyangkut bantuan dana sosial kemanusiaan dari seluruh Masyakarat Tionghoa Sumatera Utara yang menjadi hak milik dari saudara-saudara kita korban gempa dan tsunami di Sulteng yang saat ini tertimpa musibah dan sedang larut dalam kesedihan, dan kesedihan tersebut juga turut dirasakan oleh seluruh Masyarakat Tionghoa Sumatera Utara pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
“Terima kasih kami sampaikan kepada seluruh masyarakat Tionghoa Sumatera Utara
atas bantuannya dan kepada Kapoldasu, Pangdam-I/BB dan Gubernur Sumatera
Utara atas dukungannya”, akhir Juswan. (rel)
Foto: Dame/Sumut Pos
PASIEN KATARAK: Marcia Lumbanbatu (kiri) didampingi ibunya, Boru Tobing, menunggu giliran dioperasi katarak gratis, di Rumah Sakit TNI Putri Hijau Medan, Sabtu (13/10/2018).
Foto: Dame/Sumut Pos PASIEN KATARAK: Marcia Lumbanbatu (kiri) didampingi ibunya, Boru Tobing, menunggu giliran dioperasi katarak gratis, di Rumah Sakit TNI Putri Hijau Medan, Sabtu (13/10/2018).
Tak bisa melihat dengan jelas, gadis cilik ini sering jatuh sendiri saat berjalan atau berlari. Mamanya jadi takut. Di usianya yang masih begitu belia, anak kecil itu dikurung di rumah dan dilarang bermain di luar.
———————————— Dame Ambarita, Medan ————————————
Sejak lahir 7,5 tahun yang lalu, Marcia Lumbanbatu diduga sudah menderita katarak. Hanya saja, baru ketahuan saat usianya masuk 5 tahun.
“Guru TK-nya yang pertama mengetahui. Suatu hari gurunya bilang ke saya, ‘Bu, kayaknya Caca (panggilan Marcia), penglihatannya terganggu. Soalnya, dia selalu menyipitkan mata saat melihat papan tulis’,” ungkap sang ibu, Boru Tobing, saat mendampingi Marcia mengikuti tahapan Operasi Katarak Gratis, di RS TNI Losung Batu, Padangsidimpuan, Sumatera Utara, Sabtu (13/10).
Marcia yang kedua belah matanya tampak menyipit itu tampak malu-malu mendengar sang ibu bercerita tentang dirinya. Ia menyandar manja ke leher ibunya.
Menurut boru Tobing yang berprofesi sebagai guru SD HKBP di Pearaja Tarutung, Tapanuli Utara, saat ini Caca duduk di kelas 2 SD di sekolah yang sama.
“Saat mengandung Caca, di usia kehamilan 7 bulan, saya sakit keras. Mengalami blooding hingga saya harus berbaring di rumah sakit. Tensi saya naik tinggi. Mungkin karena itu anak saya lahir dalam kondisi katarak,” tuturnya, sambil membantu Caca minum dari botol minuman menggunakan sedotan.
Sejak bayi, mata anaknya sudah cenderung menyipit. Kurang selera makan sehingga pertumbuhan tubuhnya agak lambat. Tapi ia sama sekali tidak curiga.
Setelah suaminya diberitahu mengenai laporan guru TK tentang kondisi anak bungsu dari 3 anaknya, Caca langsung dibawa ke dokter di RSU Balige. Ayahnya saat itu berpikir, putri kecilnya mungkin hanya menderita mata minus biasa.
“Ternyata dokternya bilang Caca kena katarak dan dianjurkan operasi,” kata boru Tobing.
Ayah Caca yang bekerja sebagai wiraswasta, dengan lugu bertanya apakah katarak anaknya bisa diatasi dengan memakai kacamata.
“Dokter bilang, percuma. Jalan satu-satunya adalah operasi. Masalahnya, operasi tak bisa dilakukan di RS Balige atau di Tarutung. Katanya harus ke Medan. Sementara kami terkendala persoalan biaya,” aku boru Tobing jujur.
Dokter akhirnya hanya memberi Caca obat tetes mata, sekedar melembabkan mata Caca yang kering.
Menyadari anaknya positif katarak, boru Tobing lebih memperhatikan kondisi Caca. Jika dulu dikiranya Caca kerap jatuh saat berjalan karena masih kecil, kini ia sadar penyebab sesungguhnya.
Karenanya, ia cenderung mengurung Caca di rumah, di luar jam-jam sekolah. “Iya… tak lagi saya bolehkan bermain di luar. Kalaupun mau bermain, harus kami awasi,” tuturnya.
Agar Caca tidak bosan, secara berkala ia mengundang teman-teman Caca untuk bermain ke rumah.
“Tapi mata Caca tampaknya bersih. Nggak ada lapisan kataraknya yang terlihat,” tanya Sumut Pos.
“Iya, memang. Kata dokter, harus ditetes obat tertentu dulu, baru kelihatan,” jawab sang ibu.
Untuk mengatasi kesulitan membaca pelajaran di papan tulis, Caca didudukkan gurunya di meja paling depan di kelasnya.
Boru Tobing pernah juga mencoba meneteskan getah daun katarak di mata anaknya. Tapi sekali saja. Soalnya Caca meraung saking pedihnya. “Efeknya juga nggak ada,” sebutnya.
Hingga akhir September kemarin, ia membaca sebuah spanduk di wilayah tempat tinggalnya di Desa Toruan 5, Pearaja Tarutung. Tentang sebuah operasi katarak gratis yang digelar di RS TNI di Padangsidimpuan. Di spanduk tertera informasi agar menghubungi Koramil terdekat.
Saat ia membaca-baca spanduk, seorang babinsa melihat dan mengarankannya ke Kodim. Ia pun segera mendaftarkan Caca ke Koramil. “Katanya, operasi katarak gratis ini disponsori sebuah perusahaan Tambang Emas Martabe di Padangsidimpuan,” kata guru kelas 6 SD ini.
Dari Tarutung, ada 8 orang yang ikut operasi, termasuk Caca.
Caca sendiri tak takut saat diberitahu akan operasi. Anak yang suka main sepeda itu santai saja menunggu giliran menuju ruang operasi.
Hanya saja saat sudah masuk ruang operasi, ternyata dia tak bisa berhenti bergerak. Alhasil, dokter yang hendak mengoperasi tidak berani melanjutkan karena rentan salah sayat.
Pihak penyelenggara pun memutuskan operasi Caca ditunda. Tapi bukan berarti Caca ditolak
Rencananya, ia akan dikirim ke Surabaya bersama tiga anak lainnya yang juga menderita katarak. Bulan Oktober ini juga. Di sana, mereka akan dibius total sebelum dioperasi katarak.
Selain Caca, ketiga anak lainnya itu yaķni Cempaka (7) asal Madina, Misbah (5), dan seorang anak lainnya. Semua atas biaya dari PT Agincourt Resources, pengelola Tambang Emas Martabe di Batangtoru Tapsel.
Semoga, hasil operasi katarak mereka kelak, berjalan lancar dan berhasil memulihkan penglihatan mereka. (Mea)
Foto: Dame/Sumut Pos
PASIEN KATARAK: Fatimah Hasibuan, salah satu dari ratusan pasien yang menjalani operasi katarak gratis di Rumah Sakit TNI Losung Batu Padangsidimpuan, Sabtu (13/10/2018).
Foto: Dame/Sumut Pos PASIEN KATARAK: Fatimah Hasibuan, salah satu dari ratusan pasien yang menjalani operasi katarak gratis di Rumah Sakit TNI Losung Batu Padangsidimpuan, Sabtu (13/10/2018).
Ia menggantungkan mata pencahariannya dari berkebun sawit. Meski hanya kecil-kecilan, ia merawat sawitnya dengan sepenuh hati. Menyemprot secara berkala. Apa daya… penyakit katarak yang dideritanya sejak Ramadan baru lalu, kerap membuatnya serasa menginjak tanah menurun.
———————————— Dame Ambarita, Medan ————————————
“Nama saya Fatimah Hasibuan. Saya petani sawit. Tinggal di Desa Terapung Raya Kecamatan Muara Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan,” kata perempuan berumur 57 tahun ini mengenalkan diri, saat diajak berbincang di ruang pemulihan peserta Operasi Katarak Gratis, di RS TNI Losung Batu, Padangsidimpuan, Sumatera Utara, Sabtu (13/10).
Fatimah merupakan satu dari tiga pasien yang pertama tiba di ruang pemulihan, pada hari pertama operasi katarak gratis yang digelar PT Agincourt Resources, pengelola Tambang Emas Martabe, di Padangsidimpuan.
Ibu empat anak ini menuturkan, penyakit katarak dideritanya sejak bulan Ramadan Mei baru lalu. “Awalnya, mata kanan saya terasa ada yang mengganjal.
Lama-lama, nggak jelas lagi kelihatan apapun,” ungkapnya, sembari tetap menengadahkan wajah ke atas, agar obat tetes di mata kanannya yang baru selesai operasi, tidak mengalir turun.
Merasa terganggu, ia berinisiatif menemui ‘orang pintar’ di desanya. Kata si ‘orang pintar’, Fatimah kena ‘tegur’ makluk halus yang kebetulan lewat saat ia buang sampah di belakang rumahnya.
“Saya disembur dengan sejumlah ramuan-ramuan. Tapi ternyata tak sembuh,” tuturnya.
Selama menderita katarak, ia sangat terganggu melanjutkan pekerjaannya sebagai petani. Kepalanya sering sakit karena banyak mengerahkan energi agar bisa melihat jelas. Jalanan terlihat bergelombang. Membuatnya sering merasa akan menginjak tanah menurun. Padahal faktanya tidak. “Rasanya melelahkan,” akunya.
Pekerjaannya menyemprot sawit dengan pupuk dan pestisida, juga terganggu. Dari biasanya ia bisa menghabiskan 10 tangki dalam sehari, setelah katarak menurun jadi lima. “Pekerjaan pun jadi dua kali lebih lama,” tuturnya.
Tak tahan lagi, Fatimah akhirnya memilih pengobatan modern. Pergi ke Puskesmas. Vonis dokter: kena katarak. Harus operasi.
Tapi karena berat dengan biaya, perempuan yang sudah menjanda selama 16 tahun itu hanya meminta diberi obat saja.
Si dokter setuju memberinya sekedar obat tetes mata, yang terbukti tidak banyak gunanya.
Tapi si dokter cukup pengertian. Ia memberitahu jika sebuah perusahaan Tambang Emas yang berlokasi di Batangtoru Tapsel (Tambang Emas Martabe, Red) rutin menggelar operasi katarak gratis di Padangsidimpuan. “Dengan senang hati, saya tentu saja memilih menunggu operasi gratis,” ungkapnya polos.
Syukurlah, kabar baik itu datang akhir September baru lalu. Personil Koramil di kampungnya datang ke rumah. Memberitahu jadwal operasi dimaksud.
Meski rada takut bakal sungguhan dioperasi, ia tak hendak mundur. “Saya ingin sembuh dan bisa melihat lagi,” lirihnya.
Sabtu kemarin ia menjalani proses operasi. Mulai dari pemeriksaan mata untuk menentukan mata mana yang perlu dioperasi, pengukuran gula dan tekanan darah, pencukuran bulu mata, hingga menjalani teknik pengirisan lapisan katarak dengan metode cepat dan aman milik dr. Sanduk Ruit dari Tilganga Institute of Ophthalmology di Nepal dan mengganti lensa mata dengan lensa intraokuler buatan.
Selama menunggu giliran operasi, Fatimah mengaku ‘Ngucap’ terus.
“Tolong ya Allah… Kek manalah aku nanti. Kek mana rasanya mata dikikis. Kek mana hasilnya nanti,” kekhawatirannya bertubi-tubi.
Tapi ternyata, proses operasi nggak terasa sakit. Begitu disuntik bius lokal, ia tak lagi merasakan apa-apa saat penyayatan dimulai. Waktunya pun hanya 10 menit.
“Yang menegangkan justru perintah agar jangan bergerak selama operasi. Menggerakkan tangan pun saya takut. Jadi 10 menit itu terasa lama karena badan kaku,” kekehnya.
Begitu dibilang dokter operasi selesai, ia kontan lega karena boleh bergerak.
Lebih lega lagi, karena biaya operasi Rp4 juta per mata, seperti dibayar tetangganya di RS umum, bisa diselamatkan.
“Senang kalau nanti penglihatan udah normal kembali. Bagi pihak yang membiayai operasi ini, saya ucapkan terimakasih. Semoga rezeki mereka dimudahkan, demikian juga rezeki kami,” ucapnya tulus.
Lalu ia membaringkan diri di atas tikar yang dibawanya dari rumah, di ruang pemulihan. Ditemani putri dan menantunya. (mea)
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
PUKUL BEDUG: Wakil Presiden Jusuf Kalla memukul bedug tanda ditutupnya perhelatan MTQ Nasional XXVII Tahun 2018 di Sumatera Utara, Jumat (12/10) malam.
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS PUKUL BEDUG: Wakil Presiden Jusuf Kalla memukul bedug tanda ditutupnya perhelatan MTQ Nasional XXVII Tahun 2018 di Sumatera Utara, Jumat (12/10) malam.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kafilah Provinsi Sumatera Utara menunjukkan peningkatan prestasi di ajang Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN) XXVII Tahun 2018 yang digelar di Kota Medan mulai 4 hingga 13 Oktober 2018. Sebagai tuan rumah, kafilah Sumatera Utara sukses menempati juara ke-3. Sedangkan juara umum diraih DKI Jakarta, dan Banten sebagai runner up.
PADA malam penutupan acara yang ditutup secara resmi Wakil Presiden Republik Indonesia, M Jusuf Kalla itu, Ketua Dewan Hakim, Rom Rowi mengumumkan, kafilah Provinsi DKI Jakarta menjadi juara umum dengan mengumpulkan poin sebanyak 64.
Disusul Provinsi Banten dengan poin 51. Sementara tuan rumah, Sumatera Utara, seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, menempati urutan ketiga dengan poin 37, disusul Kepulauan Riau dan Jawa Timur. Posisi keenam hingga sepuluh yakni Riau, Jawa Barat, Aceh, Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Selatan.
Dalam penilaian yang dibacakan Ketua Dewan Hakim itu, Provinsi DKI mengumpulkan 10 emas, 3 perak dan 5 perunggu. Sedangkan Sumut meraih 15 juara dengan rincian 4 emas, 3 perak, dan 8 perunggu.
Adapun empat peserta Sumut yang meraih emas itu dari cabang; Hifdzil 10 Juz dan Tilawah putra, Fahmil Quran putri, Syarhil Quran putra dan Hifdzil 1 Juz dan Tilawah putri. Tiga peserta yang meraih peringkat kedua ada pada Cabang Hifdzil Quran Putri Golongan 5 Juz dan Tilawah, Cabang Makalah putra dan Cabang Kaligrafi Putri Golongan Kontemporer.
Sedangkan untuk delapan peserta peringkat ketiga diraih pada golongan Cabang Fahmil Quran putra, Cabang Hifdzil Quran Putri 30 Juz, Cabang Kaligrafi Golongan Kontemporer Putra, Cabang Makalah Putri, Cabang Tafsir Putri Golongan Bahasa Arab, Cabang Tilawah Putri Golongan Anak-Anak, Cabang Tilawah Putri Golongan Qiraat Sab’ah Murattal Dewasa, dan terakhir Cabang Tilawah Putri Golongan Remaja.
BPODT FOR SUMUT POS
KERJASAMA: Tujuh perwakilan investor dan BPODT menunjukkan berkas kerjasama pengembangan pariwisata Danau Toba, Jumat (12/10).
BPODT FOR SUMUT POS KERJASAMA: Tujuh perwakilan investor dan BPODT menunjukkan berkas kerjasama pengembangan pariwisata Danau Toba, Jumat (12/10).
BALI, SUMUTPOS.CO – Kementerian Pariwisata, Badan Pelaksana Otoritas Danau Toba menandatangani perjanjian kerja sama dengan tujuh investor. Kerja sama investasi itu diteken sebagai upaya pengembangan kawasan Destinasi Pariwisata Danau Toba.
Tidak tanggung-tanggung, nilai investasi tersebut mencapai USD400 juta atau sekitar Rp6,1 triliun.
Dana itu akan digunakan untuk pengembangan lahan 77,5 hektare Penandatanganan kerja sama itu masuk dalam rangkaian acara IMF – World Bank Group Annual Meeting di Nusa Dua, Bali. Presiden Joko Widodo menyaksikan penandatanganan kerja sama tersebut.
Kesepakatan itu diteken Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) Arie Prasetyo, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pengarah BPODT Luhut Binsar Pandjaitan; Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution. Sedangkan ketujuh investor itu diwakili Bachtiar Karim (PT Gaia Toba Mas), Berlinton Siahaan (PT Agung Concern); David Makes (PT Alas Rimbawan Lestari); Erwin Hutabrat (PT Gamaland Toba Properti); Suhendro Santosa (PT Crystal Land Development); Surya Darmadi (PT Asset Pacific); dan Wiraseno (PT Arcs House – Jambuluwuk).
Sebagai pengelola kawasan, BPODT memastikan para investor untuk melakukan pengembangan dengan pendekatan eco-tourism. Yakni pengembangan pariwisata yang tetap menjaga kelestarian lingkungan, melibatkan pemberdayaan sosial-ekonomi masyarakat di sekitar Danau Toba. Selain itu juga ikut menjaga kearifan lokal dan tradisi warisan budaya setempat.
“BPODT menyambut sangat baik para investor yang berkomitmen tinggi untuk mengembangkan Danau Toba sebagai kawasan eco-tourism. Kerja sama yang terjalin ini tidak hanya mengenai solusi investasi saja. Kami bersama-sama dengan para investor akan memastikan bahwa proses pengembangan berjalan sesuai dengan pendekatan eco-tourism yang menjaga keharmonisan alam, manusia dan aspek spiritual.” jelas Direktur Utama BPODT Arie Prasetyo melalui pernyataan resminya yang diterima Sumut Pos, Jumat (12/10).
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Dinas Sumber Daya Air Cipta Karya dan Tata Ruang (SDACKTR) Provinsi Sumatera Utara sudah menyelesaikan kajian terkait pengendalian banjir di Kota Medan dan sekitarnya. Hasil tersebut akan segera disampaikan kepada Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi untuk meminta instruksi lebih lanjut.
“Datanya, kata (bagian) informasi kita, sudah di tangan pak kadis. Pak kadis, menurut informasi mau lapor ke gubernur hari ini (kemarin, Red). Itu informasi yang saya peroleh,” ungkap Kepala Bidang Dinas SDACKTR Provsu, Nazaruddin Nasution saat dikonfirmasi Sumut Pos, Jumat (12/10).
Dalam ekspos di kantor mereka pada Rabu (10/10) kemarin, diakui dia, Kepala Badan Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) II, Roy Panagom Pardede hadir langsung menyampaikan hasil kajian sekaligus pemetaan tentang masalah banjir yang terjadi di Medan, Binjai dan juga Deliserdang. “Saya nggak ikut (dalam pertemuan) karena kurang sehat. Tapi kabarnya kepala BWSS II hadir,” pungkasnya.
Kabid Pengembangan Jaringan Sumber Air (PJSA) Dinas SDACKTR Provsu, Alfi Syahriza juga mengamini bahwa dalam ekspos hasil kajian pengendalian banjir dilakukan langsung kepala BWSS II. “Ekspos kemarin (Rabu, Red) sudah oleh BWSS II. Tapi sejauh mana hasilnya, saya tidak tahu karena bukan bidang saya dan saya tidak dilibatkan,” katanya.
Namun sayang, Kepala BWSS II, Roy Panagom Pardede masih enggan saat ditanya ihwal hasil kajian pihaknya atas pengendalian banjir di Kota Medan dan sekitarnya. Berulang kali coba dihubungi ke nomor selulernya, ia tidak mengangkat. Begitupun saat dilayangkan konfirmasi via pesan singkat dan layanan WhatsApp, ia tidak menjawab.