Home Blog Page 5906

Permohonan Banding PT Inalum Ditolak

Foto: Istimewa Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Provinsi Sumut Sarmadan Hasibuan, didampingi Sekretaris BPPRD Sumut Ahmad Fadli, para Kepala Bidang, Riswan, Rita Mestika dan Victor Lumbanraja, serta Kepala Biro Hukum Sulaiman, usai mengikuti sidang di Pengadilan Pajak Jakarta, Selasa (2/10).
Foto: Istimewa
Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Provinsi Sumut Sarmadan Hasibuan, didampingi Sekretaris BPPRD Sumut Ahmad Fadli, para Kepala Bidang, Riswan, Rita Mestika dan Victor Lumbanraja, serta Kepala Biro Hukum Sulaiman, usai mengikuti sidang di Pengadilan Pajak Jakarta, Selasa (2/10).

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) akhirnya memenangkan sengketa pajak PT Inalum, setelah sebelumnya Majelis Hakim II.A Pengadilan Pajak Jakarta, Selasa (2/10) menolak permohonan banding PT Inalum dengan  amar putusan Tidak Dapat Diterima.

Amar putusan Majelis Hakim Pengadilan Pajak yang dibacakan secara bergantian oleh Ketua Majelis Hakim Drs Bambang Basuki MA MPA, Hakim Anggota Ali Hakim SE Ak MSi CA, dan Hakim Anggota Yohanes Silverius Winoto SE MSi, menyatakan menolak gugatan perhitungan yang digunakan PT Inalum, berdasarkan perhitungan Pajak Air Permukaan (PAP) harus menggunakan tarif khusus untuk BUMN.

Ditemui di Jakarta usai mengikuti sidang, Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Provinsi Sumatera Utara Sarmadan Hasibuan, didampingi Sekretaris BPPRDSU Ahmad Fadli, para Kepala Bidang, Riswan, Rita Mestika dan Victor Lumbanraja serta Kepala Biro Hukum Sulaiman menyatakan Pajak Air Permukaan merupakan jenis Pajak Provinsi yang dikenakan atas penggambilan/pemanfaatan air permukaan, ketentuan tentang Pajak Air Permukaan ini diatur dalam UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, kemudian di Provinsi Sumatera Utara diatur dalam Perda Nomor 1 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah.

“Permohonan Banding yang diajukan oleh PT Inalum dan telah diputus oleh Majelis Hakim adalah untuk masa pajak bulan April 2016 sampai April 2017 atau terhadap tiga belas masa pajak, putusan Majelis Hakim dengan amar putusan Tidak Dapat Diterima ini sudah diduga sebelumnya, karena PT  Inalum dalam mengajukan Banding tidak memenuhi syarat formal pengajuan Banding, yaitu membayar 50% dari pajak terutang yang ditetapkan dalam Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD), sebagaimana diatur dalam UU No. 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak, dengan tidak dipenuhinya syarat formal tersebut sehingga tidak dilakukan pemeriksaan terhadap pokok sengketa,” ucap Sarmadan.

Dijelaskan Sarmadan, ada perbedaan  dengan permohonan banding untuk masa pajak November 2013 sampai Maret 2016 atau dua puluh sembilan masa pajak, untuk masa pajak ini PT Inalum melakukan pembayaran 50% dari jumlah Pajak Terutang, sehingga sejak bulan Mei 2016 secara berkala dua minggu sekali telah dilakukan sidang pemeriksaan terhadap pokok sengketa dan pada sidang pemeriksaan terakhir bulan Februari 2018 lalu.

“Pemeriksaan pokok sengketa telah dinyatakan cukup oleh Majelis Hakim, namun sangat disayangkan sampai saat ini belum ada putusan dari Majelis Hakim, padahal sidang pemeriksaannya di Pengadilan Pajak sudah lebih dahulu dilaksanakan dibandingkan masa pajak yang diputus hari ini,” katanya.

Usai putusan banding ini Pemerintah Provinsi Sumatera Utara segara akan melaporkannya pada Gubernur Sumatera Utara. “PT Inalum sendiri ada dua opsi yang dapat dilakukan yaitu menerima putusan Majelis Hakim atau mengajukan Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung, sementara itu untuk sikap Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tentu pada kesempatan pertama kami akan melaporkan hasil putusan Majelis Hakim Pengadilan Pajak ini kepada Gubernur Sumatera Utara dan selanjutnya kami akan merumuskan langkah-langkah yang diperlukan sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku,” katanya.

Pun begitu, menurut Sarmadan   dengan telah diambilnya putusan oleh Majelis Hakim dengan amar putusan Tidak Dapat Diterima, maka PT Inalum wajib melakukan pembayaran pajak terutang untuk masa pajak April 2016 sampai April 2017 sebesar Rp553 miliar.

“Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 89 ayat (2) UU No. 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak, bahwa permohonan PK tidak menangguhkan atau menghentikan pelaksanaan putusan Pengadilan Pajak,” jelas Sarmadan.

Diketahui, sengketa Banding antara PT Inalum dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara ini telah dimulai sejak bulan November 2013, yaitu pasca berakhirnya Master Agreement Pengelolaan PT Inalum oleh Konsorsium Perusahaan Jepang dengan status PMA. Sejak saat itu PT Inalum menjadi Wajib Pajak Daerah di Provinsi Sumatera Utara.

Persoalan Pajak Air Permukaan PT Inalum ini telah menjadi perhatian besar bagi rakyat Sumatera Utara, PT Inalum akhir-akhir ini juga telah menjadi perbincangan bukan saja secara nasional tapi bahkan internasional setelah mampu membeli saham PT Freeport Indonesia menjadi 51,23%.

Sengketa banding Pajak Air Permukaan ini berawal dari terdapatnya perbedaan pola perhitungan antara yang dilakukan  Pemerintah Provinsi Sumatea Utara dengan yang dilakukan oleh PT Inalum, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menghitung Pajak Air Permukaan PT Inalum dengan menggunakan tarif Wajib Pajak Golongan Industri.

Sedangkan menurut PT Inalum perhitungan Pajak Air Permukaannya harus menggunakan tarif khusus untuk BUMN. Padahal sebagaimana diatur dalam Peraturan Gubernur Sumatera Utara No. 24 Tahun 2011 tentang Tata Cara Perhitungan Nilai Perolehan, Harga Air Baku dan Harga Dasar Air untuk Penetapan Pajak Air Permukaan di Provinsi Sumatera Utara yang merujuk kepada Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 12 Tahun 2002 tentang Nilai Perolehan Air Yang Digunakan BUMN, BUMD Yang Memberikan Pelayanan Publik, Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Alam, bahwa yang dapat digolongkan kepada tarif khusus adalah BUMD/BUMN yaitu PDAM, PT. Pertamina dan PT. PLN yang peruntukan atas pengambilan/pemanfaatan air permukaannya untuk kepentingan publik.

Sedangkan PT. Inalum melakukan pengambilan/pemanfaatan air permukaan adalah untuk kepentingan sendiri yaitu untuk industri peleburan aluminium. (rel)

Falsafah Kaizen: Mencari yang Terbaik di Antara yang Baik

Foto: Dame Ambarita/Sumut Pos Bona Pakpahan (kanan), foto bersama penanggungjawab budidaya talas Satoimo, Muara Sirait, di depan mesin pakan apung untuk ikan, di rumahnya di Pematangsiantar, Sumut, Sabtu (29/9).
Foto: Dame Ambarita/Sumut Pos
Bona Pakpahan (kanan), foto bersama penanggungjawab budidaya talas Satoimo, Muara Sirait, di depan mesin pakan apung untuk ikan, di rumahnya di Pematangsiantar, Sumut, Sabtu (29/9).

Sukses praktek tanam padi dan cabai sistem organik tahun 2014, tahun berikutnya ia bertemu seorang peternak babi skala rumahan di daerah Simalungun. Si peternak curhat tentang ternak babinya yang menguarkan aroma tidak sedap. Ia terancam didemo warga sekitar.

—————————————————

Dame Ambarita, Pematangsiantar

—————————————————

“Apa yang bisa saya lakukan? Apakah saya tidak boleh beternak?” keluh si peternak.

Bona Pakpahan, si Manajer Pabrik Karet ini, kembali terpanggil menganalisa masalah si peternak. Ia menyimpulkan, aroma tak sedap muncul akibat jenis pakan yang dimakan ternaknya. Selama ini, si peternak memberi ampas ubi dari pabrik tepung singkong, kepada ternaknya. Habis uang beli pakan, ternak tidak mendapat makanan bergizi, eh masih diprotes warga soal aroma.

Apa solusi? Bona kembali membaca sejumlah literatur. Searching di Google. Hasilnya, ada sejumlah motode yang sudah sukses diterapkan para peternak di sejumlah negara. Yakni, memproses kotoran ternak dengan proses anaerop, yaitu proses fermentasi bahan bahan  organik oleh bakteri-bakteri anaerob. Bakteri ini hanya hidup dalam kondisi kedap udara.

Tekniknya, kotoran ternak babi ditampung dalam tangki kedap udara. Lantas diproses menjadi biogas yang bisa digunakan memasak makanan ternak. Agar proses menciptakan biogas lebih cepat, Bona memesan karbon ke Bandung.

Metode ini dipraktekkan ke si peternak. Sukses. Bau kotoran teratasi. Dan si peternak mendapat bahan bakar biogas.

Untuk menghemat biaya pakan, Bona juga mengajari si peternak membuat pakan sendiri. Campuran gedebok pisang, kulit kopi, tongkol jagung yang dicacah sebagai pengganti ampas ubi, belatung atau cacing (bisa diganti dengan tepung ikan), dedak, bekatul. Masukkan daun kelor sebagai dedaunan hijau.

“Saya ajari dia melakukan sistem penjamuran pakan selama tiga hari. Selesai… kasih pakannya ke ternak,” terang Bona simpel.

Dengan membuat pakan sendiri, si peternak menghemat biaya pakan hingga 27 persen dari biaya yang biasa dikeluarkannya. Hasilnya, pembesaran ternak babi lumayan pesat. Padahal tidak menggunakan konsentrat seperti teknik lama. Ternaknya lebih sehat dan jarang cacingan. Bau tak sedap menghilang lewat proses anaerop. Dan kotoran ternak sisa proses anaerop bisa dimanfaatkan untuk tanaman. Sangat efisien.

“Ini meniru metode dari peternak Vietnam,” kata Bona.

Sambil membina si peternak selama 8 bulan, Bona juga bereksperimen membuat sendiri karbon untuk mempercepat proses biogas. “Sekarang, sudah bisa produksi sendiri. Kualitasnya sama. Jadi tidak perlu beli karbon lagi,” katanya kalem.

Bona datang mengecek kondisi ternak setiap Sabtu Minggu, di sela-sela kesibukannya di pabrik karet. Seluruh ilmu yang dipraktekknnya ke si peternak, membuat Bona puas. Meski berkorban dari segi waktu, biaya transport, serta tenaga.

Tapi lagi-lagi… keuntungan peternak tidak sehebat yang diharapkan. Harga daging babi tetap saja ditentukan oleh toke. Kasus ini menjadi catatan sendiri baginya.

Sambil bekerja di Bridgestone, di Bona melanjutkan sejumlah eksperimen rumahnya. Mulai dari budidaya sejumlah tanaman, peternakan, hama bakteri, sumber energi biogas. Juga memperdalam nutrisi, baik untuk hewan maupun manusia.

Pada April 2016, dirinya mantap mengajukan surat pengunduran diri ke manajemen perusahaan. Ia merasa dunia kerja tidak lagi memuaskan hatinya. “Hati saya sudah terasa cocok dengan inovasi-inovasi pertanian dan peternakan yang saya praktekkan,” katanya.

Padahal saat itu, gajinya sudah sekitar Rp24 jutaan per bulan. Kalau ia bertahan sedikit lebih lama, ia mungkin sudah menjadi General Manager sekarang.

Meski memilih mundur, ia berterimakasih ke manajemen Bridgestone. Diakuinya, banyak ilmu yang diperolehnya selama bekerja di bawah manajemen Jepang.  Mulai dari ilmu manajemen, audited sistem, teknologi, cara meningkatkan SDM, cara menganalisa masalah, dan sebagainya. “Waktu perusahaan di bawah manajemen Amerika, ilmu yang saya peroleh tidak sebanyak itu,” ungkapnya.

Uang pesangon yang diperolehnya lumayan besar. Tapi sebagian besar habis membiayai eksperimen yang dilakukannya. “Total biaya yang saya habiskan? Hmmm… kira-kira seharga dua buah rumah plus satu mobil Fortunerlah,” cetusnya, tanpa nada menyesal.

Istri tidak keberatan?

“Kebetulan tidak. Saya percaya, modal suami saya ada di sini,” nimbrung sang istri, Boru Siahaan, yang kebetulan datang membawa kue-kue menemani wawancara, sembari meletakkan jari telunjuk ke kening.

Selama uji coba yang membutuhkan banyak biaya itu, Bona menghidupkan ekonomi keluarga lewat usaha sampingannya di bidang sewa menyewa sound system. Sewa menyewa sound system untuk konser, pesta-pesta, atau studio band, telah dilakoninya sejak tahun 2009. Bisnis Itu tetap berjalan selama ia bekerja, setelah ia keluar dari pekerjaan, dan hingga sekarang.

Resmi ‘menganggur’, ia semakin fokus bereksperimen. Termasuk bidang obat-obatan herbal. Produk pupuk cair organik serta pestisida organik racikannya, terbukti manjur meningkatkan hasil pertanian. Telah dibuktikan oleh petani padi, salak, jahe, salak, nilam, dll.

Sementara itu, kesuksesan eksperimen ilmu pakan ternak dan proses anaerob kotoran ternak untuk biogas kepada peternak babi di Simalungun, membuat Bona berniat mempraktekkan peternakan organik miliknya sendiri.

Akhir 2016, ia membuka peternakan sapi kecil-kecilan di Bukit Maradja Simalungun. Tahap awal, ia membeli 20 ekor anak lembu untuk dipelihara selama 1,5 tahun.

Idenya: selama ini peternak mengangonkan sapi ke lahan-lahan perkebunan. Tak tahu apa yang dimakan. Apakah rumput yang ditelannya baru disemprot pestisida atau gimana.

Bagaimana jika sapi dipelihara di kandang?

Pemikirannya: untuk menutupi biaya pakan, dapatkan sejumlah manfaat dari limbah sapi. Air seni sapi misalnya. Tiap hari sapi memproduksi 10 liter per ekor. Selama ini, Bona menciptakan pupuk cair organik dengan membeli air seni sapi dari peternak. Harganya Rp250 per liter. Jika ia memanfaatkan air seni sapi dari peternakan sendiri, tentu hasilnya bisa menutupi biaya pakan.

Ia pun praktek. Membuat pakan sapi organik. Terbuat dari kulit kopi, tunggul jagung, belatung yang dibudidayakan, dedak, rumput, dan daun kelor. Plus enzim dan asam amino yang dibuatnya sendiri, belajar dari literatur.

Tentang pembuatan enzim ini, ia melakukan sendiri berbagai test sejak Desember 2016. “Saya test hingga 6 produk enzim. Hingga akhirnya bisa bikin enzim sendiri. Dengan enzim, ternak akan lebih gemuk,” katanya.

Kotoran sapi ditampung. Dibuat biogas. Sisanya dijadikan pupuk.

Semua ilmu itu berhasil dipraktekkan. Sehingga keuntungan tidak hanya dari hasil penjualan daging sapi. Tapi juga pemanfaatan air seni menjadi pupuk cair. Limbah jadi biogas dan kompos. Hasilnya, tercipta sebuah efisiensi.

Hanya saja, Bona mengaku kurang sabar. Cashflow dari penjualan pupuk cair ramuannya, plus penjualan daging sapi yang harus menunggu hingga 1,5 tahun, menurutnya terlalu lambat untuk dirinya. “Saya kira… saya kurang cocok menjadi petani atau peternak. Kurang sabar menunggu proses. Jadi bukan jatah saya. Kalau soal bertani… Pak Muara ini juaranya,” kekehnya, sambil menunjuk Muara Sirait.

Selama usaha peternakan sapi, Bona tetap sibuk bereksperimen. Selain tetap membuat pupuk cair organik berbahan dasar air seni sapi, ia juga belajar membuat pupuk dari sampah rumah tangga. Juga belajar pengembangan nutrisi pangan. Obat-obatan herbal. Ilmunya dicari dari sejumlah literatur. “Pokoknya harus rajin membaca,” katanya tanpa bermaksud pamer.

Ia terinpirasi falsafah Kaizen Improvement, yang dipelajarinya saat dikirim pelatihan ke Jepang. ‘Mencari yang terbaik di antara yang baik.’ Karena itu, ia tak pernah berhenti berinovasi.

Produk andalannya adalah obat herbal daun kelor campur tepung cacing tiger (Tiger Lumbricus) Daun kelor, sudah dikenal sebagai sayur yang menyimpan banyak khasiat. Dicampur dengan tepung cacing Tiger, ampuh mengobati banyak penyakit. Seperti diabetes, asam urat, maag, dll.

Ilmu diperoleh dari hasil membaca berbagai literatur. Tentang daun kelor yang menyimpan banyak khasiat. Dan protein serta zat anti penggumpalan darah dari tepung cacing.

“Daun kelor awalnya saya pesan dari teman di Malang. Sekarang sudah tanam sendiri. Cacing Tiger kering dulu juga pesan dari Jawa. Sekarang sudah ada pemasok yang saya bina di Siantar ini. Cacingnya dibudidayakan di campuran bekatul dan tahu. Saya beli Rp250 ribu per kg. Jadi ini bisnis saling ketergantungan. Saling menghidupkan,” senyumnya.

Sambil terus bereskperimen, Bona mempublish inovasi-inovasinya di akun Facebook. Baik yang berhasil, maupun yang gagal.

Rupanya, ada teman dunia maya  yang memperhatikan postingan-postingannya di Facebook. Akun Bona di-add. Mereka berteman, berkomunikasi, dan saling belajar.

Dinilai sebagai sosok inovator, tahun 2017, Bona dimasukkan si teman tadi ke grup WhatsApp IdeaCreator. Anggotanya para inovator dari 16 negara.

“Dari Indonesia baru 4 orang. Dari Malang, Bogor, dan Sulawesi. Saya sendiri dari Pulau Sumatera,” cetus Bona.

Lewat komunitas IdeaCreator itu, Bona makin banyak mendapat ilmu. Karena para anggota saling share berbagai temuan.

Dengan basic ilmnya sebagai analis kimia, dimatangkan ilmu manajemen dan enginering selama bekerja di perusahaan Jepang, ia cukup mudah mengadopsi inovasi-inovasi yang dibagikan anggota komunitas.

Keaktifannya di Facebook dan Instagram juga membuat jaringan teman-temannya semakin luas. Mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua, hingga ke luar negeri.  Makin banyak ilmu mengenai pertanian dan peternakan, bahkan hingga manfaat sampah, yang diserapnya. Terutama dari teman-temannya di Surabaya, Bandung, dan Malang. (dame/bersambung)

Palu

Palu-disway
Gempa di Palu.

Oleh: Dahlan Iskan

Akhirnya saya dapat sambungan telepon ke Palu. Ke pemilik hotel Roa Roa. Yang hancur akibat gempa. Pak Denny Lim.

Pukul 11.50 kemarin pak Denny sibuk. Cari alat berat. Tapi masih bisa melayani telepon saya. Ada info baru. Beberapa menit sebelum menerima telepon dari saya itu: ditemukan ada penghuni hotel yang hidup. Tapi masih di bawah reruntuhan hotel. Tahunya dari SMS. Yang dikirim penghuni hotel itu. Mengaku dari kamar 317. Bersama istrinya. Pejabat PLN dari Makassar.

Berarti 2,5 hari orang itu berada di bawah reruntuhan. Entah mengapa baru kirim SMS pukul 10 an pagi hari Senin kemarin. Kepada anaknya. Lalu anaknya info ke Kompas TV. Pingsan? Baru sadar? HP-nya masih belum lowbatt?

Itu tidak penting. Yang penting segeralah bertindak. Tapi alat berat amat sedikit di Palu. Mobilisasinya juga tidak mudah. Banyak jalan hancur akibat gempa.

Hotel Roa Roa tergolong baru. Sekitar tiga tahun. Salah satu yang terbaik di Palu. Bintang tiga. Delapan lantai.

Roa Roa adalah bahasa Kaili. Artinya: teman-teman.

Dari hotel ini terlihat jembatan Palu yang baru. Yang jaraknya hanya sekitar lima kilometer. Jembatan terpanjang di sana. Baru tujuh tahunan umurnya. Jadi icon kota Palu. Banyak yang berfoto dengan background jembatan itu.

”Saya lihat dari jauh jembatan itu hancur,” ujar Adi, fotografer Fajar Makassar. Yang saat saya hubungi lagi di atas reruntuhan hotel Roa Roa. Adi baru tiba di Palu Minggu siang. Naik Hercules tentara.

Sebagai pemilik hotel, fokus Danny mengerahkan alat berat. Ia sendiri sedang di Surabaya saat gempa terjadi. Meski lahir di Palu, Danny sudah tinggal di Surabaya. Sesekali saja ke Palu mengecek bisnisnya. Kemarin ia mendadak ke Palu untuk ikut mengatasi akibat gempa ini.

Saat membangun hotel itu Danny sadar sepenuhnya: ini daerah gempa. Kontraktornya sudah membangun sesuai dengan daerah gempa.

Tapi gempa Jumat petang lalu itu memang luar biasa: 7,7 Scala Richter.

”Masih sekitar 40 orang yang tertimbun di bawah reruntuhan hotel,” katanya.

Kebetulan, sambungnya, lagi banyak tamu. Lagi ada kejuaraan paralayang. Beberapa atlet nasional bermalam di situ. Ada juga atlet dari Korea. Yang akan bertanding keesokan harinya.

Di dekat hotel itu, di water front city, juga lagi ada gladi resik. Untuk acara pembukaan festifal Nomoni. Festival budaya. Untuk ulang tahun kota. Nomoni artinya bunyi. Atau nada. Atau tetabuhan.

Akan ada juga marathon. Dan banyak lagi.

Gempa itu terjadi tepat di senjakala. Bertepatan dengan surupnya matahari senja. Hampir menginjak waktu maghrib.

Banyak warga sudah sadar gempa. Berkat rentetan bencana serupa di Lombok belum lama. Warga desa Marowola misalnya. Warga Perumnas itu segera berlarian ke lapangan terbuka. Mereka berkumpul di situ. Tidak jauh dari jembatan icon. Dengan penuh ketakutan.

Setelah warga berkumpul, tanah di situ ternyata membelah. Lenyap masuk bumi. Di lapangan Perumnas itu salah satu korban terbanyak.

Danny menceritakan semua itu. Dengan sedihnya.

Saya sendiri tidak menyangka. Gempa Palu separah itu. Informasi awal begitu lambat. Tentang keadaan pasca gempa.

Saya sendiri mengalami kesulitan. Untuk cepat menulis. Bahan yang tersedia sangat terbatas. Bagi saya tidak ada artinya. Kalau hanya menulis sama dengan yang sudah ada.

Saya coba hubungi teman-teman wartawan di sana. Di hari pertama. Tidak bisa. Saya coba lagi di hari kedua. Tidak bisa juga. Saya ulangi di hari Senin pagi. Hari ketiga. Juga belum bisa. Semua saluran telepon masih terputus.

Saya hubungi jaringan saya di barongsai. Juga tidak bisa. Saya hubungi seorang doktor universitas di sana. Yang saya ikut mengujinya saat meraih gelar doktor. Sama saja.

Saya coba lewat jaringan keluarga. Adik menantu saya kawin dengan orang Palu. Ia sendiri tidak berhasil menghubungi sang istri. Dan anaknya. Padahal ia lagi kerja di Banjarmasin.

Hatinya terus gundah. Ia putuskan ke Palu. Lewat Makassar. Kini masih dalam perjalanan darat. Bisa 12 jam.

Ketika pertama disebut: tsunami terjadi di Donggala. Saya tidak khawatir. Donggala itu dataran tinggi. Paling hanya bagian-bagian kecil pantai yang terkena.

Tapi begitu disebut Palu saya ingat: wilayah padat penduduknya berupa dataran rendah. Dekat pantai. Terutama di sekitar muara sungai Mutiara.

Tapi saya juga belum terlalu khawatir. Kawasan muara sungai itu jauh dari laut lepas. Pantainya berada di ujung paling jauh sebuah teluk. Teluk Palu. Teluk yang sangat panjang. Bagian padat penduduk itu benar-benar jauh dari laut terbuka. Terlindung gunung Donggala.

Teluk ini begitu panjangnya. Sering jadi petunjuk arah pendaratan pesawat. Landasan bandara Palu memang searah dengan teluk Palu.

Saya tidak menyangka yang meninggal begitu banyaknya: lebih seribu orang. Data Senin pagi mencapai 1.100 orang. Innalillahi wainnailaihi rajiun.

Mungkinkah itu karena tsunami terjadi di senja hari? Ketika pantai di teluk itu lagi ramai?

Teluk itu memang kian cantik belakangan ini. Dipercantik. Dengan jalan baru di sepanjang pantai. Taman Ria. Water front city.

Kian banyak juga hotel. Di pantai sini. Maupun di seberang sana. Ada Mercure. Ada Swissbel. Diperkirakan juga masih banyak korban di bawah reruntuhannya. Seperti di Roa Roa.

Saya pernah di satu hotel bersama istri. Hotel baru. Yang kamarnya sangat menarik. Menyentuh air laut. Saya ingin tahu nasib hotel itu. Pasca gempa ini.

Kawasan teluk ini kian populer sejak ada jembatan. Di muara sungai. Jembatan terpanjang di Palu. Orang sana menyebutnya Golden Gate-nya Palu. Begitu banyak orang berfoto dengan background jembatan ini.

Saya sedih lihat di media sosial: jembatan ini roboh. Bangkainya masih berada di tempat asalnya. Tapi sudah dalam keadaan membujur seperti mayat.

Lalu saya perhatikan. Titik gempa itu di daratan. Searah dengan bentuk teluk. Berarti tsunami itu datang dari teluk. Bukan dari arah laut lepas.

Sampai tulisan ini saya edit jam 18.00 kemarin belum ada kabar baru. Tentang penghuni 317 itu. Berarti sudah tiga hari tiga malam suami-istri ini berada di bawah reruntuhan.

Dua alat berat lagi bekerja di situ. Tapi terlalu sedikit untuk mengejar waktu.

Korban-korban lainnya berarti juga punya nasib serupa. Puluhan. Ratusan.

Akhirnya saya bisa menghubungi putri kamar 317 itu. Namanya Erika. Alumni elektro Univeritas Hasanuddin.

”Bukan saya menerima SMS bapak saya,” ujar Erika. ”Tapi menerima SMS dari kakak saya,” kata Erika lagi.

Kakaknya itu juga lagi ke Palu. Bersama bapak dan ibunya. Akan menghadiri kawinan sepupunya. Sehari setelah gempa. Rencananya.

Ayah-ibunya di kamar 317. Sang kakak di kamar sebelahnya. Selamat. Berhasil keluar dari reruntuhan. Lalu kirim SMS ke Erika. Adiknya. Yang kini bekerja di PLN itu.

Erika ingin nekat ke Palu. Mencari bapak-ibunya. Tapi semua keluarga melarangnya.

Dan pernikahan itu sendiri diurungkan.

Melihat kacaunya keadaan di Palu, ada baiknya disediakan kapal Pelni yang besar. Di pelabuhan. Kalau masih bisa disandari. Kapal itu bisa jadi tempat pengungsian yang aman. Untuk 3 ribu orang. Perkapal.

Air bisa cukup di kapal itu. Kalau perlu dilayarkan ke Balikpapan. Hanya perlu waktu satu malam.

Saya sedih mendengar penjarahan di mana-mana. Pun rebutan mau naik Hercules. Rebutan ingin selamat. Akibat gempa susulan. Yang terus terjadi.

Juga akibat fenomena baru: rumah berjalan, jalan bergeser, tanah tiba-tiba membelah…

Kita tidak tahu jenis apa tanah di bawah Palu. Yang ketika diguncang gempa di bagian bawahnya, terkibas bagian atasnya. Seperti tikar yang mengambang di atas tanah bergoyang. Yang bisa pindah-pindah posisi.(dahlan iskan)

Ada yang Salah dengan Sistem yang Diikuti Petani

Foto: Dame Ambarita/Sumut Pos Bona Pakpahan (kiri), bersama Manager Koperasi Elshira Nauli Rata, Richard Munthe (tengah), dan penanggungjawab budidaya talas Satoimo, Muara Sirait (kanan), di depan bengkel organik di rumahnya di Pematangsiantar, Sumut, Sabtu (29/9).
Foto: Dame Ambarita/Sumut Pos
Bona Pakpahan (kiri), bersama Manager Koperasi Elshira Nauli Rata, Richard Munthe (tengah), dan penanggungjawab budidaya talas Satoimo, Muara Sirait, di depan bengkel organik di rumahnya di Pematangsiantar, Sumut, Sabtu (29/9).

Awalnya, ia kerap mendengar curhat petani di Siantar-Simalungun, Sumatera Utara. Kata mereka: kerja sekeras apapun pun, hasilnya kok ya begitu-begitu saja. Prihatin, ia melakukan berbagai analis. Kesimpulannya: There is something wrong about the system. Tak mau dituduh hanya pintar analisis, ia pun bereksperimen untuk mengubah sistem.

———————————————–

Dame Ambarita, Pematangsiantar

———————————————–

Status-status di akun Facebooknya-nya kerap menarik perhatian. Seputar inovasi produk pertanian, obat-obatan herbal, makanan sehat, koperasi, mesin serba guna, dan banyak lagi.

Kesan pertama: inovatif benar? Belajar dari mana?

Di profil akun Fb-nya tertulis: pengembangan Talas Satoimo dan produk turunan (J-Imo) sebagai Makanan Anti Diabetes, Jantung, dll. Tinggal di Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia. Teman di akun Facebooknya hampir 5.000 akun.

Pesan minta ketemu yang dikirim di status Facebooknya, direspon. Bona Pakpahan –nama akun Fb yang juga nama aslinya–, bersedia diwawancarai di rumahnya di Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia.

Sabtu (29/9) siang, Sumut Pos bertamu ke rumah pribadinya di Jalan Kasuari, Pematangsiantar. Rumahnya memiliki lahan yang cukup luas. Sisi kiri ada ruangan berpetak-petak, difungsikan beragam macam. Ada ruang semacam bengkel peralatan, lahan ujicoba tanaman, bengkel ujicoba tong sampah hidup, dll. Sisi kanan rumah utama.

Bona menyambut hangat. Ia bahkan mengundang teman-temannya, Manager Koperasi Elsira Nauli Rata, Richard Munthe, dan Penanggungjawab Budidaya Talas Satoimo, Muara Sirait, untuk ikut ngobrol. “Biar dengar langsung dari orangnya,” sambutnya, seraya menyalam Sumut Pos.

Begitu duduk di sofa ruang kerjanya yang dipenuhi beragam barang, dengan bersemangat ia menunjukkan berbagai produk-produk hasil inovasinya.

“Ini pupuk cair hasil racikan saya. Ada juga pestisida/insektisida cair. Semuanya produk organik ya. Trus… ini sabun kecantikan berbahan talas Satoimo. Ini beras nongula racikan saya, yang diproduksi Koperasi Elsira Nauli Rata,” katanya.

Tak hanya itu, ada juga tepung talas Satoimo, kedelai Edamame. Kemudian ada produk daur ulang pakan ternak campuran sampah perut ikan dengan kulit kopi. Ada tong sampah hidup, mesin pelet ikan apung, tangki biogas portabel, kompor bahan bakar. Dan produk-produk eksperimen untuk masker dan handbody, namun belum jadi.

Belum lama ngobrol, pembantu di rumahnya menyajikan segelas kopi hitam.  “Cobalah… ini kopi fermentasi hasil olahan saya. Enak di perut. Tidak bikin asam lambung,” kata pria kelahiran 20 Juli 1969 lalu ini percaya diri.

Hak produksi dua jenis produk hasil inovasinya, sudah diserahkan ke Koperasi Elsira. Yakni beras pratanak nongula dan kopi fermentasi. Bona berperan sebagai pembina koperasi.

Anak pertama dari 6 bersaudara ini kemudian mengungkapkan awal kisah dirinya dari karyawan di sebuah perusahaan PMA menjadi wirausaha dan pembina koperasi. “Sebelumnya tidak pernah terpikir,” akunya.

Maklum, begitu lulus dari jurusan Teknik Kimia dari Universitas Sumatera Utara (USU) tahun 1994 lalu, ia langsung diterima bekerja di sebuah perusahaan pengeboran minyak lepas pantai, di Bontang Kalimantan. Gajinya lumayan saat itu. Tapi ia hanya tahan 7 bulan. “Stres lihat laut melulu,” kekehnya.

Ia memilih pergi ke Jakarta. Ambil kursus sound engineer selama 3 bulan. “Niatnya mau jadi ahli di bidang sound system,” katanya.

Lulus kursus, ia membaca lowongan pekerjaan di sebuah perusahaan karet. Dikiranya pabrik berlokasi di Bogor. Ia melamar. “Diterima. Tapi rupanya untuk penempatan di Goodyear Sumatera Plantation Dolok Merangir, Sumut,” kenangnya.

Usianya 26 tahun saat itu. Mengawali kerja sebagai Asisten Training di pabrik. Karirnya cepat melesat. Naik jabatan menjadi asisten pabrik yang mengawasi proses pengolahan karet. Kemudian menjadi Asisten Senior Quality Control, lalu naik menjadi Quality Control dan Raw Material Shipping.

Tahun 2005, Goodyear berubah menjadi Bridgestone, dari manajemen Amerika menjadi manajemen Jepang. Karirnya terus melesat hingga menjadi Engineering Quality Control. Tugasnya menganalisa safety dan produksi bahan baku. Gaji tahun itu sudah belasan juta.

“Enaknya di perusahaan Jepang, banyak ilmu yang saya peroleh. Mulai dari latihan disiplin diri, hingga berbagai ilmu manajemen, seperti accident risk managemen, kaizen improvement, individual plan, cara mencapai target, efisiensi kerja, manajemen bisnis, dll. Saya jadi terbiasa dengan disiplin ala Jepang. Tertempa dengan cara bekerja ala Jepang,” katanya.

Tahun 2010., ia diangkat menjadi quality manager and quality assurance  dengan gaji hampir Rp20 juta per bulan. Pernah juga menjadi Manajer Transport yang mengatur seluruh transportasi pabrik dan produksi. Saat itu, ia memunculkan ide membuat alat yang bisa membuka ban jondere traktor yang aman dan bisa dikerjakan oleh dua orang.

“Sebelumnya, harus dikerjakan beberapa orang. Dengan alat itu, pekerjaan lebih efisien. Alatnya kami kerjakan di bengkel Bridgestone. Metodenya sih meniru yang sudah ada di literatur, tapi dengan model yang berbeda,” cetusnya. Sejak itu, ia semakin akrab dengan dunia mesin.

Karir puncaknya adalah sebagai Senior Manajer Factory di Dolok Merangir, yang mengepalai proses 3 pabrik dengan kapasitas 200 ton karet per hari. Itu tahun 2014. Gajinya puluhan juta. Tiap tahun bisa bawa keluarga jalan-jalan ke luar negeri. Fasilitas lengkap.

Tapi ayah dua anak ini merasa ada yang kurang. Jiwanya kurang puas. Entah mengapa, pelariannya adalah pergi berjalan-jalan ke persawahan. Melihat sawah nan hijau. Bertemu dengan petani dan ngobrol ngalor-ngidul.

Momen-momen itulah ia menerima curhatan para petani di Siantar-Simalungun. Tentang hidup yang begitu-begitu saja. Kisah serupa juga dicurahkan petani di Taput, Batubara, dan Kisaran yang ditemuinya.

“Mereka mengeluh, seberapa besar pun usaha mereka kerja, hasilnya ya begitu-begitu saja. Tidak berubah dari tahun ke tahun. Tak ada yang jadi kaya karena hasil bertani. Tak ada yang merasa puas dengan hasil pekerjaannya. Buntutnya… mereka bertani ya apa adanya saja,” ungkapnya.

Temuan masalah ini menjadi objek yang sering direnungkannya di rumah. Di sela-sela libur kerja, ia semakin rajin ke lokasi-lokasi pertanian. Meneliti soal budidaya padi, hama, sistem irigasi, hasil produksi, dan berapa keuntungan hasil pertanian.

Kenapa petani tidak puas?

Kesimpulan pribadinya: “There is something wrong about the system.”

Bona menemukan, dalam bertani padi, petani hanya diajarkan petugas penyuluh lapangan untuk melakukan tanam serentak. Menjelaskan pupuk A fungsinya begini, B begono, dan seterusnya. Tapi penyuluh tidak memberitahu standar penanaman bibit padi yang cocok untuk sebuah daerah. Atau standar pemupukan, pengairan, standar pestisida, dll.

“Petani dibiarkan menerapkan standar masing-masing. Ini tentu mempengaruhi hasil. Karena sembarangan, semakin lama petani semakin ketergantungan dengan pupuk dan pestisida kimia. Kualitas tanah semakin rusak, menyebabkan biaya pupuk makin besar, dengan hasil yang ‘begitu-begitu saja’,” jelasnya..

Selain itu, petani terjebak dengan harga. Harga hasil panen tergantung pasar. Petani tidak berdaya menolak. Terpaksa ikut harga pasar, karena tidak mampu membuat produk lanjutan untuk mendapat untung lebih.

Saat ia memberi saran perbaikan, petani manggut-manggut saja. Tapi tidak langsung berubah.

Tak mau dianggap cakap bullshit alias cakap kosong oleh petani, suami Boru Siahaan ini lantas melakukan sejumlah eksperimen. “Sulit mengubah masyarakat jika kita sendiri tidak berbuat,” cetusnya.

Morogoh kantong sendiri, ia mencoba menciptakan pupuk organik cair. Ia membaca banyak literatur soal pupuk organik. Khususnya metode yang digunakan para petani di Thailand dan Vietnam. Pencampuran bahan-bahan bukan hal baru bagi Sarjana Teknik Kimia dari USU ini.

Sebagai bahan praktek, ia menyewa sepetak sawah di Tigadolok, Simalungun. Luasnya tiga rante. Ia menanam padi tanpa lebih dulu seleksi bibit. Ia menyiramkan pupuk organik racikannya. Juga pestisida dan insektisida  organik buatan sendiri. Pengairan dikontrol baik. Tanaman padi ditutupnya pakai jaring.

Hasil panennya lumayan. “Jumlah tepatnya saya lupa. Tapi kata pemilik tanah, lumayan besar dibanding hasil panen mereka. Padahal bibit padinya sembarang saja. Karena berhasil, saya berpikir, jika sistem yang sama diterapkan kepada seluruh petani, hasilnya pasti bagus,” kisahnya.

Masih di tahun 2014, ia juga mencoba menanam cabai. Menggunakan pupuk cair buatannya. Hasilnya oke banget. “Pedasnya bahkan dua kali lipat cabai biasa,” katanya bangga.

Sayang, saat panen, harga gabah dan cabai sedang turun. Gabah kering dari biasanya laku Rp5.000 per kg, turun menjadi 4.700 per kg. Cabai juga begitu. “Jadi meski hasil panen bagus, keuntungannya tidak banyak. Kesimpulannya, selain sistem pertanian yang kurang tepat, harga juga menjadi masalah petani. Tidak ada jaminan harga,” katanya. (dame/bersambung)

BKD: Perangkat SSCN Tak Maksimal

Ilustrasi
Ilustrasi

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Setdaprovsu mengakui, hingga kini portal Sistem Seleksi CPNS Nasional (SSCN) Badan Kepegawaian Negara (BKN) melalui sscn.bkn.go.id, tidak maksimal diakses calon pelamar. BKD telah berkoordinasi dengan BKN mengenai kondisi perangkat yang akan digunakan masyarakat untuk mendaftar CASN tahun ini.

“Kami sudah informasikan kendala ini ke mereka (BKN). Dan memang saat ini mereka sedang memperbaiki perangkat tersebut, sekaligus membuat pengumuman akan hal ini,” ujar Kepala Bagian Formasi BKD Setdaprovsu, Menan menjawab Sumut Pos, Senin (1/10).

Kata Menan, saat melakukan upaya koordinasi tersebut, pihak BKN mengaku sedang memperbaiki jaringan portal tersebut. Akan tetapi, pihaknya menilai upaya perbaikan yang dilakukan BKN tersebut sejauh ini belum maksimal. “Seperti tadi malam saya mendapat informasi dari tetangga saya yang sudah mencoba akses, namun belum bisa-bisa. Menurut kami (portal SSCN) memang belum maksimal. Mudah-mudahan mereka cepat memperbaiki kondisi yang ada tersebut,” katanya.

Pihaknya mengakui, proses verifikasi atas kualifikasi formasi CASN Pemprovsu sudah rampung dilakukan. Namun, lantaran perangkat portal untuk membuat akun dan melakukan pendaftaran belum maksimal diakses, menjadi kendala utama yang sekarang dihadapi calon pelamar. “Pelamar yang mendaftar dan melamar ke situs itu kan jumlahnya banyak. Sementara perangkatnya sendiri belum maksimal sampai sekarang sehingga situs sulit diakses,” tambahnya.

Secara pribadi dia juga mengakui, terkhusus pembuatan akun bagi pelamar CASN belum bisa terpenuhi sampai hari ini mengingat kemampuan server yang belum maksimal. “Nah melihat situasi begini, bagi yang kuat jaringan internetnya, maka pelamar baru bisa membuat akun dan melamar. Sementara jika sinyalnya tak kuat, situs akan tidak bisa dibuka apalagi membuat akun,” katanya.

Diketahui, hingga Minggu (30/9) kemarin portal SSCN masih sulit untuk diakses. Terutama bagi CASN yang ingin melihat informasi seputar lowongan atau formasi. Amatan Sumut Pos saat mencoba portal tersebut, ketika sudah mengklik pencarian lowongan, kondisi portal atau halaman tidak berfungsi dengan tampilan yang terlihat dalam gambar hanya layar putih. Berbeda saat mengklik kolom lain seperti registrasi dan alur petunjuk, yang dengan mudah untuk diakses.

Kepala BKN Regional VI Medan, English Nainggolan sebelumnya mengamini bahwa pihaknya sudah selesai melakukan verifikasi atas kualifikasi formasi CASN untuk Provinsi Sumut. “Ya, sudah selesai,” ujarnya. Kata dia, saat ini masyarakat sudah bisa mengajukan lamaran sesuai dengan kualifikasi pendidikannya. “Dan setahu saya banyak juga yang sudah melamar,” ungkap English.

Pihaknya pun mengakui bahwa untuk aksebilitas portal tersebut yang masih dalam kondisi down, menjadi domain dari BKN Pusat. Dia hanya bisa menyarankan kepada calon pelamar untuk tidak berhenti mencoba mengakses portal dimaksud. “Dicoba saja terus,” katanya.

Diketahui, adapun kuota formasi CASN Provinsi Sumut sebanyak 1.242. Dimana terdiri dari guru 892 orang; tenaga kesehatan 250 orang dan tenaga teknis sebanyak 100 orang.

ementara itu secara keseluruhan, pada tahun ini pemerintah akan membuka 238.015 Iowongan CASN yang terdiri dari 51.271 formasi instansi pusat di 76 kementerian/Iembaga dan 186.744 di 525 instansi daerah sejak Rabu, 19 September lalu. (prn)

Terkait Pemecatan ASN Koruptor di Sumut, BKN Surati Para Kepala Daerah

Ilustrasi
Ilustrasi

MEDAN,SUMUTPOS.CO – Badan Kepegawaian Negara (BKN) Regional VI Medan sudah berkirim surat ke wali kota, bupati dan gubernur terkait 298 Aparatur Sipil Negara (ASN) di Provinsi Sumatera Utara yang terlibat korupsi.

Diharapkan, para kepala daerah tersebut segera memroses surat BKN berdasarkan ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku “Semua bupati, wali kota dan juga gubernur sudah kami surati dan sampaikan nama-nama (ASN) yang terlibat korupsi sesuai data BKN Pusat,” ujar Kepala BKN Regional VI Medan, English Nainggolan menjawab Sumut Pos, Senin (1/10).

Sayangnya, dia tetap menolak membeberkan nama-nama ASN yang terlibat pusaran korupsi tersebut. Menurut English, data tersebut merupakan domain dari kepala daerah bersangkutan selaku pucuk pimpinan ASN di wilayah kerjanya. “Karena (data) ini menyangkut etika. Akan tetapi untuk (ASN) yang terlibat kasus korupsi dapat segera diproses dan dilakukan pemberhentian dengan tidak terhormat (PDTH) sesuai peraturan yang berlaku,” katanya.

Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Setdaprovsu, Kaiman Turnip mengungkapkan, pihaknya belum ada menerima surat edaran perihal daftar nama ASN terlibat korupsi dari BKN Regional VI Medan. “Sejauh ini belum ada kami terima,” katanya saat dikonfirmasi.

Meski demikian, Kaiman sebelumnya menyebut bahwa 33 PNS atau ASN di lingkungan Pemprovsu yang pernah terjerat kasus hukum, masih menerima haknya dari negara. Namun pemberian gaji pokok kepada mereka hanya dibayarkan 50 persen dari total gaji yang biasa diterima. “Ya, masih tetap diberikan. Hanya saja dibayarkan 50 persen dari total gaji mereka. Termasuk bagi yang masih menjalani hukuman,” ujar dia.

Pemberian gaji tersebut seperti biasa tetap ditransfer ke rekening yang bersangkutan setiap bulannya. Namun sayang, mengenai nama ke-33 ASN tersebut Kaiman mengaku belum mengetahuinya sebab belum ada dikirimkan dari Badan Kepegawaian Negara. “Sesuai surat kesepakatan bersama tiga kementerian, bahwa tindak lanjut atas nama-nama ASN tersebut akan dilakukan sampai akhir Desember ini. Kita pun masih menunggu tembusan nama-namanya itu. Kalau memang sudah ada putusan hukum tetap (inkrah), kita akan melakukan pemecatan secara tidak hormat dan segala haknya akan dicabut,” terangnya.

Di samping itu, dirinya mengungkapkan, nantinya setelah diketahui nama-nama ASN tersebut, bilamana ada ASN yang masih menjalani proses hukum, belum dapat dilakukan pemecatan. Dan keputusan verifikasi dimaksud juga tergantung tiga kementerian tersebut. “Saya pun tak tahu persis siapa saja orangnya. Yang saya ingat itu ada kepala UPT Dinas Kesehatan Sumut yang pernah terlibat masalah hukum dan sudah inkrah,” katanya.

Diakui Kaiman, SKB tiga kementerian ini juga sebelumnya diperkuat atas keluarnya surat edaran dari Menteri Dalam Negeri pada 10 September 2018. Dimana pada poin ketiga yang berbunyi membatalkan surat edaran pertama pada 2012 silam, tentang pengangkatan kembali PNS dalam jabatan struktural meski sebelumnya terlibat masalah hukum alias tindak pidana korupsi. “Dengan keluarnya surat edaran yang terbaru itu, maka surat yang pertama menjadi gugur. Jadi memang semakin dipertegas bahwa untuk PNS yang terlibat korupsi apabila sudah ada putusan hukum tetap akan dipecat tidak hormat,” katanya.

Data ini terungkap, sambung dia, karena BKN melakukan upaya jemput bola ke Kejaksaan untuk meminta daftar ASN yang pernah terlibat masalah hukum atau tindak pidana korupsi se Indonesia. “Atas dasar itu pula dikeluarkan SKB tiga menteri untuk ditindaklanjuti oleh seluruh pemda. Namun begitu kita masih menunggu hasil verifikasi atas nama-nama tersebut dari pusat,” pungkasnya.

Diketahui sebelumnya, Kemendagri, Kemenpan RB dan BKN telah bersepakat mengenakan sanksi PDTH alias pemecatan bagi ASN koruptor yang sudah mempunyai putusan hukum tetap. Berdasarkan data BKN Pusat, sebanyak 33 ASN di lingkungan Pemprovsu terlibat kasus tindak pidana korupsi. Khusus di Provinsi Sumut yang terdiri dari 33 kabupaten/kota, bertotal 298 ASN koruptor. Sementara dari se Indonesia, DKI Jakarta menjadi ranking pertama mengoleksi ASN koruptor dengan jumlah 55 orang. (prn)

Sumut Wilayah Gempa Aktif

KUBUR MASSAL: Personel kepolisian dan relawan mengangkat jenazah korban untuk dikuburkan secara massal di TPU Poboya, Palu, Senin (1/10).
KUBUR MASSAL:
Personel kepolisian dan relawan mengangkat jenazah korban untuk dikuburkan secara massal di TPU Poboya, Palu, Senin (1/10).

SUMUTPOS.CO – Balai Besar Badan Meteorologi, Klimatologi Geofisika (BMKG) Wilayah I Medan mengakui kalau Sumatera Utara termasuk daerah gempa aktif. Aktivitas sesar lokal yang memiliki karakteristik kedalaman sumber yang dangkal yang menjadi alasannya. Karenanya, masyarakat Sumatera Utara diminta waspada.

HAL ITU disampaikan Kepala Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah I Medan, Syahnan, Senin (1/10). “Sesar-sesar ini sangat aktif yang dapat menyebabkan terjadinya gempa bersifat lokal yang sering kita rasakan,” ungkap Syahnan.

Lebih lanjut, dikatakan Syahnan untuk sumber gempa akibat subduksi lempeng di Pulau Sumatera mempunyai kisaran kedalaman hingga ratusan kilometer. Dengan begitu, dapat memicu gempa kuat dan luas di Pulau Sumatera.

Namun, untuk Sumatera Utara, dikatakan Syahnan umumnya gempa di Sumatera Utara adalah gempa yang berpusat di darat dengan kedalaman dangkal, 10-33 km. “ Meskipun skala kekuatan gempa kecil, tetapi dapat menimbulkan kerusakan pada bangunan dan infrastruktur juga. Begitu juga dengan korban jiwa. Hal ini dapat dilihat dari beberapa kali kejadian gempa di Sumut, seperti di Tarutung, di Deliserdang dan di Karo,” sambungnya.

Untuk itu, Syahnan mengimbau bagi masyarakat yang tinggal di wilayah jalur gempa bumi, untuk selalu waspada. Hal itu dikatakannya karena untuk prediksi gempa sampai saat ini belum dapat dilakukan. Namun, pemerintah dalam hal ini BMKG, disebutnya terus memonitor aktifitas gempa di wilayah berpotensi terjadi gempa bumi.

“ Kita juga akan memberikan informasi pada masyarakat melalui BPBD. Apabila terjadi gempa yang signifikan dirasakan. Bangunan hendaknya memenuhi syarat dan standar tahan gempa juga, “ lanjut Syahnan.

Sebelum mengakhiri, dikatakan Syahnan Indonesia scara umum diapit oleh tiga lempeng besar dunia. Sebelah barat Sumatera disebutnya dilintasi daerah pertemuan lempeng Hindia-Australia, menyusup ke arah bawah lempeng Eurasua. Pergerakan lempeng didaerah pertemuan ini (subduksi) dikatakannya sekitar 6 sampai dengan 7 Cm/Tahun.

“ Untuk tsunami berpotensi terjadi di pantai barat, termasuk di Kepulauan Nias. Apabila terjadi gempa bumi yang berpotensi tsunami, ada simulasi yang bisa diprediksi tinggi gelombang dan jangkauan tsunami berdasar data-data,” tandas Syahnan.

Bantuan Dunia Mengalir untuk Sulteng

istimewa RUSAK: Atap sebuah pusat perbelanjaan di Kota Palu, Sulteng, rusak berat usai diguncang gempa yang terjadi pada Jumat (28/9) lalu.
istimewa
RUSAK: Atap sebuah pusat perbelanjaan di Kota Palu, Sulteng, rusak berat usai diguncang gempa yang terjadi pada Jumat (28/9) lalu.

SUMUTPOS.CO – PARA pemimpin dunia menyatakan belasungkawa dan kesiapan untuk membantu Indonesia dalam menangani korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Hal ini diungkapkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan hingga Presiden Tiongkok Xi Jinping melalui akun twitter.

“Turki siap untuk melakukan segala daya untuk membantu Indonesia menyembuhkan luka-lukanya,” kata Erdogan di Twitter, Minggu (30/9) Ia juga turut berdoa untuk saudara-saudara di Indonesia yang menjadi korban tewas karena tsunami dan gempa. Sehari sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Turki menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dalam bencana alam, mengatakan Turki siap untuk memberikan bantuan yang diperlukan.

Dilansir dari Xinhua, Yayasan Bantuan Kemanusiaan Turki telah mengirim lima orang tim bantuan darurat ke daerah-daerah yang terkena bencana di Indonesia. Selain itu, Xi Jinping juga mengaku terkejut dengan adanya gempa dan tsunami di wilayah Sulawesi Tengah itu. Pemerintah Cina melalui Palang Merah mereka juga sudah memberikan bantuan sebesar USD 200 ribu ke Palang Merah Indonesia.

Gempa Donggala Bikin Kaget Ilmuan

Gempa Donggala.
Gempa Donggala.

DAHSYATNYA gempa dan tsunami yang melanda Donggala, Palu dan sekitarnya, membuat kaget ilmuan dunia. Mereka tak menduga gempa yang mengguncang Donggala akhirnya memicu gelombang tsunami menghancurkan Kota Palu.

“Kami memperkirakan gempa itu mungkin memicu tsunami, tapi tidak sebesar itu,” sebut Jason Patton, pakar geofisika yang bekerja untuk perusahaan konsultan Temblor dan mengajar pada Humboldt State University di California, Amerika Serikat (AS), seperti dilansir New York Times, Senin (1/10).

“Ketika peristiwa seperti ini terjadi, kita biasanya mendapati hal-hal yang belum pernah kita amati sebelumnya,” imbuh Dr Patton.

Pada Jumat (28/9) sore, tsunami itu dipicu gempa bumi dengan magnitudo 7,4 yang berpusat di titik 80 kilometer sebelah utara Palu. Sesaat kemudian gelombang air laut hingga setinggi menerjang Palu. Akibat peristiwa itu bangunan-bangunan hancur, kendaraan tersapu hanyut, dan menyebabkan ratusan bahkan diperkirakan ribuan orang tewas.

Diketahui, tsunami menghancurkan seringkali disebabkan oleh gempa megathrust ketika sesar bumi yang berukuran besar melakukan penyesuaian dengan bergerak secara vertikal di sepanjang patahan bumi. Dalam peristiwa ini biasanya sejumlah besar air laut akan terdorong, memicu gelombang yang bisa bergerak dalam kecepatan tinggi dan memicu kehancuran di lokasi yang berjarak ribuan kilometer dari pusat gempa.

Tsunami yang terjadi di Palu berbeda dengan tsunami dahsyat di Samudera Hindia pada 2004 lalu yang terjadi di Aceh. Tsunami Aceh dipicu gempa megathrust berkekuatan 9,1 magnitudo hingga terjadinya tsunami hingga setinggi 30 meter dan menewaskan nyaris seperempat juta orang mulai dari Indonesia hingga Afrika Selatan.

Sementara tsunami Palu dipicu patahan yang pecah yang disebut patahan strike-slip. Pergerakan patahan Bumi kebanyakan horisontal dan pergerakan semacam itu biasanya tidak memicu tsunami. Namun dalam situasi tertentu, sebut Dr Patton, tsunami bisa terjadi.

Patahan strike-slip bisa memicu sejumlah pergerakan vertikal yang bisa memindahkan sejumlah besar air laut. Atau zona pecahnya patahan Bumi, dalam kasus ini yang diperkirakan mencapai panjang 112 kilometer, melewati area di mana dasar laut bergerak naik atau turun, jadi ketika patahan bergerak saat gempa melanda, itu memindahkan sejumlah besar air laut ke depannya.

Kemungkinan lain, tsunami terbentuk secara tidak langsung. Guncangan keras saat gempa mungkin telah menyebabkan tanah longsor di bawah laut yang akan memindahkan air laut dan memicu gelombang besar. Peristiwa semacam ini bukannya tidak biasa, karena pernah terjadi saat gempa 9,2 magnitudo mengguncang Alaska tahun 1964 silam.

Tsunami juga disebabkan lokasi Kota Palu yang ada di ujung teluk dangkal. Garis pantai dan bentuk dasar teluk bisa saja memfokuskan energi gelombang laut dan mengarahkannya ke teluk, dengan ketinggian semakin meningkat saat semakin mendekati pantai. Efek semacam itu pernah terjadi sebelumnya di Crescent City, California, AS yang pernah diterjang lebih dari 30 tsunami.

Dr Patton menyebut, kombinasi berbagai faktor mungkin bisa berkontribusi pada sebuah tsunami. Kajian terhadap dasar lautan menjadi krusial dalam upaya memahami terjadinya sebuah tsunami. “Kita tidak akan tahu apa yang menyebabkannya hingga peristiwa itu selesai,” ucapnya.

90 Sekolah Adu Cerdas di Olimpiade Sosiologi di USU

BAGUS SYAHPUTRA/Sumut Pos OLIMPIADE: Pelaksanaan Olimpiade Sosiologi di USU, kemarin.
BAGUS SYAHPUTRA/Sumut Pos
OLIMPIADE: Pelaksanaan Olimpiade Sosiologi di USU, kemarin.

MEDAN,SUMUTPOS.CO – Universitas Sumatera Utara (USU) kembali menggelar Olimpiade Sosiologi. Kompetisi ini dilaksanakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) USU. Olimpiade Sosiologi tersebut diikuti oleh peserta tingkat SMA dari berbagai daerah di Sumut.

Kompetisi adu cerdas ilmu murni itu sudah kali kelima digelar sejak 2001. Ketua Program Studi (Prodi) Sosiologi Harmona Daulay mengungkapkan Setiap perhelatannya, olimpiade sosiologi terus mengalami perkembangan.

Untuk olimpiade ini bukan hanya diikuti para pelajar SMA di Kota Medan setiap tahunnya, juga diikuti peserta selain di kota Medan, yakni Kota Binjai dan Kabupaten Deliserdang.

“Dan sampai tingkatan Sumatera Utara. Kali ini kita iuga mengundang peserta dari Aceh,” sebut Harmona Daulay kepada wartawan di USU, Sabtu (29/9) kemarin.

Harmona mengatakan, olimpiade ini bertujuan untuk terus digelar agar minat para pelajar untuk melanjutkan kuliah di departemen Sosiologi semakin tinggi. Karena selama ini memang belum banyak yang mengenal sosilogi di FISIP. “Kita terus berupaya meningkatkan daya saing Sosiologi dengan departemen lainnya di FISIP,” ujar Harmona.

Selama perjalanannya, Sosiologi memang terus melakukan inovasi. Tak ayal sosiologi mendapat predikat akreditasi A beberapa waktu lalu. Peminatnya juga semakin banyak.”Setiap tahunnya ada peningkatan peminat di Sosiologi,” kata Harmona.

Sementara itu, Ketua Panitia Olimpiade Sosiologi Yobel mengatakan, kali ini jumlah peserta yang ikut berasal dari 335 tim dari 90 sekolah. Termasuk 13 tim yang berasal dari Aceh.

“Ini sebuah apresiasi. Olimpiade ke depan harus kita naikkan lagi gradenya. Kalau bisa kita naikkan ke kelas nasional,” ujarnya.

Olimpiade mempertandingkan ujian tertulis dan cerdas cermat soal sosiologi. Selain para pelajar, guru pendamping juga mengikuti sejumlah kegiatan. Mulai dari seminar hingga lomba essay. “Para guru pendamping juga dibekali pemahaman tentang pendidikan sosiologi,” ujarnya.

Yobel juga mendorong para pelajar untuk memilih sosiologi sebagai pilihan pertama ketika ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Khususnya di USU yang berakreditas A. “Sosiologi itu ilmu yang asyik. Ilmu sosial murni selain Antropologi,” tandasnya. (gus/azw)