adi laoli/sumut pos
DIABADIKAN: Koordinator Yayasan ITCC Surabaya Andre Ho, Kadisdik Nias Selatan Nurhayati Telaumbanua, para guru SMAN 1 Telukdiiabadikan bersama para Siswa-Siswi.
adi laoli/sumut pos DIABADIKAN: Koordinator Yayasan ITCC Surabaya Andre Ho, Kadisdik Nias Selatan Nurhayati Telaumbanua, para guru SMAN 1 Telukdiiabadikan bersama para Siswa-Siswi.
NIAS SELATAN,SUMUTPOS.CO – Yayasan Indonesia Tionghoa Culture Centre (ITCC) Surabaya mengunjungi Nias Selatan dalam rangka mensosialisasikan beasiswa kuliah ke Tiongkok, ke siswa SMA/SMK sederajat di daerah tersebut.
Didampingi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nias Selatan, rombongan Yayasan ITCC berkesempatan bertatapmuka dengan siswa SMA Bintang Laut, dan SMA Negeri 1 Teluk Dalam, pada Selasa (2/10).
Koordinator ITCC, Andre Ho mengungkapkan bahwa Yayasan yang didirikan Dahlan Iskan pada tahun 2001 itu, sedang membuka program intensive persiapan study ke Cina dan Taiwan bagi para pelajar Indonesia. Para calon mahasiswa akan dibekali dengan bahasa mandarin dan Inggris selama 10 bulan, sehingga memudahkan mereka masuk perguruan tinggi terbaik di negeri tirai bambu itu.
Dijelaskan Andre, selama pemondokan di Surabaya, para calon mahasiswa hanya mengeluarkan biaya sebesar Rp 11 juta (termasuk biaya hidup dan pemondokan) atau berkisar 17 juta, jika biaya keberangkatan awal ditotalkan.
Bagi yang dinyatakan lulus, akan berkesempatan memperoleh beasiswa ke Universitas Kedokteran Hubei di Huangshi yang telah memperoleh pengakuan WTO (Organisasi Kesehatan Dunia) dan IMED (Direktori Pendidikan Kedokteran Internasional).
Sementara, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nias Selatan Nurhayati Telaumbanua, menyambut baik kedatangan Yayasan tersebut di daerahnya, karena akan membuka ruang bagi putra-putri Nias Selatan untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik.
“Pada prinsipnya, kita menyambut baik, program ini sangat membantu Ini kesempatan bagi para siswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yang sudah diakui dunia”, Ucap Nurhayati.
Soal biaya yang agak memberatkan masyarakat kurang mampu, Nurhayati meyakinkan bahwa hal ini akan menjadi atensi Pemerintah Kabupaten Nias Selatan.
“Saya kira jika mereka kuliah di perguruan tinggi yang lain, jelaa biayanya lebih mahal, namun hal ini akan menjadi catatan buat kita.
King maker-nya kan Pak Bupati, saya tidak dapat berpendapat lebih banyak. Yang pasti, hal ini akan saya sampaikan kepada beliau. Mudah-mudahan ada kebijakan untuk membantu generasi muda kita di Kabupaten Nias Selatan ini”, Imbuhnya mengakhiri. (mag-5/han)
Teddy Akbari/sumut pos
unjukrasa: Mahasiswa mendengarkan jawaban Ketua DPRD Binjai, Zainuddin Purba saat berunjukrasa.
Teddy Akbari/sumut pos unjukrasa: Mahasiswa mendengarkan jawaban Ketua DPRD Binjai, Zainuddin Purba saat berunjukrasa.
BINJAI,SUMUTPOS.CO – Seratusan mahasiswa di Binjai menggeruduk gedung DPRD Binjai, di Jalan Tengku Amir Hamzah, Kelurahan Nangka, Binjai Utara, Selasa (2/10).
Pada wakil rakyat Binjai tersebut, ada lima point yang mereka suarakan, yakni mengecam sikap represif oknum polisi terhadap mahasiswa yang terjadi di Bengkulu dan di Medan, mendesak agar oknum tersebut dipecat atau dinonaktifkan dari kedinasan Polri.
Lalu, massa mendesak keseriusan pemerintah yang dipimpin Joko Widodo dalam meningkatkan daya tukar rupiah terhadap dolar. Massa menilai, pemerintah tidak bijak terkait persoalan ekonomi Indonesia.
Selanjutnya, mahasiswa juga menyoroti Peraturan Presiden terkait tenaga kerja asing. “Kami menilai selama ini pemerintah belum mengoptimalkan tenaga kerja lokal. Malah membuka peluang bagi tenaga kerja asing. Selain itu, poin keempat, mahasiswa mendesak agar DPR mengkaji Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 Tentang Keuangan Negara serta ambang batas hutang negara. Terakhir, stop kegiatan impor bahan pokok dan berdayakan petani lokal,” ujar Ade, orator aksi.
Menjawab aspirasi mahasiswa tersebut, Ketua DPRD Binjai, Zainuddin Purba didampingi sejumlah anggota DPRD lainnya, seperti Jonita Agina Bangun dan Irfan Ahmadi menyambut hangat kedatangan mahasiswa. Kemudian, mahasiswa dan kalangan legislatif duduk bersama tanpa alas di halaman DPRD untuk saling tukar pendapat.
Zainuddin menyampaikan, aksi mahasiswa menyuarakan isu-isu nasional di akhir periode pemerintahan Jokowi, tidak tepat momentumnya.
Dikhawatirkan, jika aksi tersebut berpotensi ditunggangi oknum tidak bertanggungjawab lantaran sekarang tahun politik.
“Aksi teman-teman ini saya rasa kenapa di akhir periodesasi pemerintahan. Saya rasa momentumnya tidak tepat. Teman-teman harus belajar jadi agent of changes. Apalagi ini tahun politik, saya khawatir bisa saja ditunggangi orang-orang tidak bertanggungjawab,” ujar politisi Partai Golkar ini.
Aksi berjalan damai. Sejumlah aparat kepolisian dan Satpol PP turut mengawal jalannya massa aksi.
Pada kesempatan itu, mahasiswa juga mengajak para dewan untuk menyisihkan rezekinya membantu korban gempa dan tsunami di Palu serta Donggala, Sulawesi Tengah yang akhirnya ditutup dengan doa bersama. (ted/han)
SUMUTPOS.CO – Terhitung sejak 26 September 2018, pemerintah membuka lowongan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) serentak di seluruh Indonesia. Total kuota yang tersedia, dan akan diperebutkan calon abdi negara itu berjumlah 238.015 formasi.
Dalam sepekan pertama, pelamar yang memilih formasi pada instansi melalui portal Sistem Seleksi CPNS Nasional (SSCN) tercatat hampir menyentuh 100.000 akun. Mereka juga terlebih dulu melakukan registrasi di website sscn.bkn.go.id.
“Pelamar pilih instansi 91.917 orang. Pelamar telah diverifikasi oleh instansi 25.296 orang,” ungkap Kepala Biro Humas Badan Kepegawaian Negara (BKN) Mohammad Ridwan, kepada JawaPos.com (Grup Sumut Pos), Selasa (2/10).
Ridwan juga menyampaikan, instansi pusat yang paling banyak diminati calon pencari kerja, yakni Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM). Selain itu, ada juga 4 kementerian/lembaga lainnya yang menjadi favorit.
Melihat animo pelamar yang sangat tinggi tersebut, BKN selaku instansi pelaksana, meminta calon pelamar CPNS untuk tidak terburu-buru dalam melakukan pendaftaran. Pasalnya, tahap itu masih akan dibuka selama 2 pekan ke depan.
“Pendaftaran online melalui portal SSCN akan dibuka hingga 10 Oktober 2018 mendatang,” beber Ridwan.
Pencari kerja juga diimbau untuk mengisi formulir pendaftaran dengan data yang benar, sesuai dengan persyaratan. Sebab, data tersebut nantinya tak bisa lagi diubah.
“Pelamar diimbau untuk tidak buru-buru melakukan pen daftaran, karena data yang sudah di-input pelamar di portal SSCN tidak dapat diubah,” pungkas Ridwan. (yes/jpc/saz)
istimewa/sumut pos
SAKSIKAN: Lima Komisioner KIP Sumut, Abdul Jalil, SH, MSP, Drs Robinson Simbolon, Meyssalina MI Aruan SSos, Ramdeswati Pohan, M.SP, Drs. Eddy Syahputra, AS, M.Si, saat menyaksikan persentase keterbukaan informasi publik daerah yang terdiri dari PPID Serdang Bedagai, Kota Medan, Paluta, Pakpak Bharat dan Dairi di Gedung KIP Sumatera Utara, Jl. Bilal, Medan, Selasa (2/10).
istimewa/sumut pos SAKSIKAN: Lima Komisioner KIP Sumut, Abdul Jalil, SH, MSP, Drs Robinson Simbolon, Meyssalina MI Aruan SSos, Ramdeswati Pohan, M.SP, Drs. Eddy Syahputra, AS, M.Si, saat menyaksikan persentase keterbukaan informasi publik daerah yang terdiri dari PPID Serdang Bedagai, Kota Medan, Paluta, Pakpak Bharat dan Dairi di Gedung KIP Sumatera Utara, Jl. Bilal, Medan, Selasa (2/10).
PAKPAK BHARAT,SUMUTPOS.CO – Komisioner Komisi Informasi Publik (KIP) Provinsi Sumatera Utara, yang diketuai Abdul Jalil, SH MSP mengapresiasi capaian PPID Kabupaten Pakpak Bharat dalam rangka membangun keterbukaan informasi publik di daerah. Abdul mengapresiasi beberapa media teknologi yang digunakan Pemkab Pakpak Bharat dalam menyiarkan informasi.
“Seperti sama-sama kita ketahui bahwa Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat telah banyak memanfaatkan teknologi seperti media sosial, website, aplikasi dan radio dalam mempublikasi berbagai informasi kepada masyarakat. Ragam kegiatan juga dipublikasi melalui website dan media sosial secara rutin, dan dapat dikomentari oleh masyarakat atau pengguna internet langsung.” tutur Abdul pada acara Persentasi Self Assestment Questionnaire (SAQ) PPID Kabupaten Pakpak Bharat di Gedung KIP Sumatera Utara, Jalan Bilal, Medan, Selasa (2/10).
Sementara, pemaparan dari PPID Utama Kabupaten Pakpak Bharat yang dipaparkan oleh Plt Kepala Dinas Kominfo, Aryanto Tinambunan, SP MSi mengatakan, sesuai visi misi Bupati Pakpak Bharat, Dr Remigo Yolando Berutu, MBA MFin, Pemkab Pakpak Bharat terus berupaya meningkatkan pembangunan infrastruktur internet dan terus berkomitmen dalam membangun keterbukaan informasi publik di Kabupaten Pakpak Bharat.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh sejumlah PPID Kab/Kota Se-Sumatera Utara yang terdiri dari PPID Serdang Bedagai, Kota Medan, Paluta, Pakpak Bharat dan Dairi yang mempresentasikan keterbukaan informasi publik di daerah masing-masing di hadapan 5 (lima) Komisioner KIP Sumut seperti, Abdul Jalil, SH MSP, Drs Robinson Simbolon, Meyssalina MI Aruan, SSos, Ramdeswati Pohan, MSP, Drs Eddy Syahputra, AS MSi.(tam/han)
MEDAN,SUMUTPOS.CO – Masih bebasnya kapan nelayan dengan alat tangkap pukat tarik dua atau grandong melaut, menimbulkan keresahan bagi nelayan tradisional di Belawan. Tidak tegasnya penegak hukum untuk menindak alat tangkap ilegal, ribuan nelayan dengan menggunakan ratusan sampan akan melakukan demo serta mensweeping di tengah laut.
Ketua Kelompok Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kota Medan, Isa Al Basir, menegaskan, keresahan nelayan skala kecil terhadap alat tangkap grandong semakin dirasakan, karena, alat tangkap terlarang itu tetap beroperasi secara berbondong – bondong di wilayah Pantai Belawan Artinya, penegak hukum yang berkompeten di perairan, tidak tegas menegakkan aturan Permen KP Nomor 71 Tahun 2016 tentang larangan alat tangkap. Sehingga, nelayan tradisional di Sumatera Utara khususnya Belawan sangat dirugikan.
“Kita tahu, pejabat di institusi penagak hukum di Belawan sudah tegas. Tapi, masih ada oknum bawahannya sengaja melakukan pembiaran terhadap alat tangkap grandong. Belakangan ini, alat tangkap ilegal itu bebas melaut secara terang – terangan,” tegas Isa, Selasa (2/10).
Dengan adanya pembiaran itu, kata aktivis nelayan ini, membuat keresahan nelayan tradisional, membuktikan penegak hukum tidak mampu menindak seluruh pukat ilegal, sehingga memancing nelayan tradisional untuk bertindak sesuai dengan hukum nelayan.
“Ini membuktikan, kalau hukum tidak bisa mengatasi ini. Makanya, kami coba kembali melakukan demo besar – besaran, sekaligus akan bertindak sesuai dengan hukum nelayan untuk mensweeping pukat ilegal di tengah laut,” sebut Isa.
Selama ini, Tokoh Pemuda Pemerhati Belawan sangat menyesalkan, banyaknya asalan dari nelayan pukat grandong, mereka melaut karena alasan lapar, seharusnya, alat tangkap pengganti untuk segera dilaksanakan oleh pemerintah, sehingga tidak merugikan sepihak bagi nelayan skala kecil.
“Kita minta pemerintah mencari solusi bagi alat tangkap pengganti untuk segera direalisasikan, agar kami nelayan kecil tidak menjadi korban. Bayangkan saja, berapa banyak habitat yang berkembang biak punah akibat alat tangkap grandong,” ungkap Isa.
Apabila masalah alat tangkap grandong, lanjut Isa, tidak dilakukan tindakan tegas, maka akan menimbulkan perselisihan antara nelayan, sehingga terjadinya hukum nelayan dengan main hakim sendiri.
“Intinya, kami mau semua alat tangkap ilegal agar ditindak, kalau tidak. Pada Jumat (4/10) ini kami melakukan orasi besar – besaran. Paginya kami demo dan selesai Salat Jumat kami akan sweeping alat tangkap ilegal di laut,” tegas Isa lagi.
Sementara itu, Ketua Aliansi Nelayan Selat Malaka Sumatera Utara, Abdul Ramhan mengungkapkan, masalah yang terjadi antara nelayan, karena tidak tegasnya pemerintah dalam menerapkan Permen KP No 71 Tahum 2016 tentang alat tangkap dilarang, dengan melaksankan pengganti alat tangkap.
“Kita tahu, banyak nelayan yang bakal dirugikam dari dua sisi kelompok nelayan. Seharusnya, pemerintah harus bisa mencari solusi dengan memandang kearifan lokal nelayan di Belawan,” ungkap pria akrab sapa Atan.
Menanggapi itu, Kasubdit Gakkum Ditpolair Polda Sumut, AKBP Nagari Siahaan mengatakan, pihaknya selama ini sudah meneggakkan aturan terhadap nelayan ilegal, bahkan, sudah ada beberapa nelayan ditangkap dan diproses ke pengadilan.
Mengenai adanya pembiaran yang diutarakan, tidak benar. Pihaknya terus melakukan patroli untuk menindak alat tangkap ilegal.”Kalau memang ada lagi yang melaut, silahkan laporkan ke saya. Kalau memang nelayan tradisional tidak puas dan akan demo, kita persilahkan, nanti akan kita jelaskan tindakan yang sudah kita lakukan,” pungkas Nagari. (fac/ila)
File/SUMUT POS - Petugas Puskesmas Glugur Darat memberikan vaksin imunisasi polio kepada seorang balita, di Jalan Pendidikan, Kec Medan Timur, Jumat (11/3) lalu. PIN Polio bagi balita ini, dilakukan serentak di seluruh Indonesia dari 8-15 Maret 2016 mendatang.
File/SUMUT POS – Petugas Puskesmas Glugur Darat memberikan vaksin imunisasi polio kepada seorang balita, di Jalan Pendidikan, Kec Medan Timur, Jumat (11/3) lalu. PIN Polio bagi balita ini, dilakukan serentak di seluruh Indonesia dari 8-15 Maret 2016 mendatang.
LUBUKPAKAM,SUMUTPOS.CO – Berdasarkan surat edaran Menteri Kesehatan RI, Kabupaten Deliserdang melalui Plt Kepala Dinas Kesehatan memperpanjang pelayanan imunisasi Measles Rubella (MR) hingga 31 Oktober 2018 mendatang.
“Total pelaksanaan MR dari 34 Puskesmas di Deliserdang masih 50,8 persen atau yang sudah divaksin sebanyak 308.334 anak dari target 645.423 anak. Untuk itu kita sepakat dengan surat edaran nomor SR.02.06/Menkes/573/2018 perihal waktu pelaksanaan kampanye imunisasi MR fase dua dilanjutkan,” kata dr Ade Budi Krista, Selasa (2/10) di Lubukpakam.
Menurutnya, sejauh ini Dinkes Deliserdang telah berupaya semaksimal menembus target capaian di atas 90 persen imunisasi MR. Disebut dari 34 Puskesmas sudah bekerja maksimal, tertinggi di Puskesmas Bandarbaru capaian 102,9 persen dan terendah Puskesmas Tanjungmorawa dengan capaian 30,6 persen.
“Kita optimis capai 90 persen ke atas. Untuk kendala di lapangan, biasanya masih seputar penolakan dari orangtua. Padahal fatwa MUI pusat sudah menegaskan, bahwa imunisasi MR diperbolehkan bagi umat Muslim. Untuk itu saya minta kepada semua pihak agar bersama-sama mengkampanyekan pentingnya imunisasi MR bagi anak,” terang dr Ade.
Perlu diketahui, kata dr Ade, imunisasi vaksin MR diberikan kepada semua anak-anak yang berusia 9 bulan hingga 15 tahun. Measles (Campak) dan Rubella (Campak Jerman), kedua penyakit itu merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan penularannya sangat mudah dari orang sakit ke orang sehat melalui udara.
Dijelaskan, penyakit Measles dapat menyebabkan komplikasi yang serius seperti diare, radang paru-paru (pneumonia), radang otak (ensefalitis), kebutaan bahkan kematian. Sementara Rubella merupakan penyakit ringan pada anak, akan tetapi bila menulari ibu hamil pada Trimester Pertama atau diawal kehamilan dapat menyebabkan keguguran atau kecacatan pada bayi yang dilahirkannya. “Penyakit Campak dan Rubella ini tidak ada obatnya tetapi dapat dicegah dengan imunisasi. Pencegahan yang terbaik dapat dilakukan dengan memberikan imunisasi vaksin MR (satu vaksin MR dapat mencegah sekaligus dua penyakit),” tegas dr Ade. (btr/han)
KRI Makassar bersandar di Pelabuhan Pantoloan di Kota Palu, Sulawesi Tengah, dan langsung membongkar bantuan kemanusiaan untuk korban gempa dan tsunami di provinsi tersebut.
KRI Makassar bersandar di Pelabuhan Pantoloan di Kota Palu, Sulawesi Tengah, dan langsung membongkar bantuan kemanusiaan untuk korban gempa dan tsunami di provinsi tersebut.
MAKASSAR, SUMUTPOS.CO – Sebanyak 5.800 orang korban bencana gempa dan tsunami telah meninggalkan Sulawesi Tengah (Sulteng) dengan dievakuasi menggunakan pesawat Hercules dan CN 235 milik TNI AU hingga Selasa (2/10/2018). Evakuasi 5.800 orang korban bencana Sulteng ini dilakukan selama empat hari dengan menggunakan 6 pesawat Hercules dan sebuah pesawat CN 235.
Selama empat hari itu, dua pesawat tersebut bolak-balik membawa bantuan dan mengevakuasi korban bencana Sulteng dari Kota Palu ke Kota Makassar.
Panglima Komando Operasi TNI Angkatan Udara II, Marsda TNI Fadjar Prasetyo kepada wartawan mengatakan, selama empat hari personelnya bekerja siang dan malam melaksanakan misi kemanusiaan. Personel TNI AU yang terlibat dalam misi kemanusiaan itu terdiri dari penerbang, teknisi, Polisi Militer, Paskhas dan dari kesatuan lainnya.
“Pesawat ini digerakkan untuk membantu korban bencana Sulteng dengan skala prioritas yaitu tim recovery, di antaranya tim medis, Airnav, PLN, Telkom, relawan, serta dukungan logistik dari Makassar ke Palu. Sedangkan dari Palu ke Makassar mengangkut korban bencana Sulteng dengan skala prioritas, yaitu korban yang sakit atau luka-luka yang segera membutuhkan perawatan, ibu-ibu hamil, anak-anak serta korban lainnya yang harus mendapatkan penanganan khusus,” katanya.
Fadjar menuturkan, selain personel TNI AU yang dikerahkan, dirinya pun terlibat langsung mengatur korban bencana Sulteng yang akan menaiki Pesawat Hercules di Bandara Udara Palu.
“Saya tekankan kepada seluruh personel TNI AU agar senantiasa melayani korban dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Kami juga berusaha memberikan pengertian kepada para korban bencana Sulteng termasuk keluarganya untuk tetap tenang dan sabar karena terbatasnya pesawat Hercules yang dimiliki oleh TNI AU,” tuturnya.
Fadjar juga mengimbau seluruh prajurit TNI AU dan keluarga agar menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk disumbangkan kepada masyarakat yang terkena bencana di Sulteng. “Istri-isri Prajurit TNI AU yang diprakarsai oleh Ketua PIA Ardhya Garini Daerah II Koopsau II Ibu Inong Fadjar Prasetyo telah mengumpulkan dana dari anggota PIA Ardhya Garini kemudian disumbangkan kepada korban gempa,” tambahnya. (kps)
Foto: Dame Ambarita/Sumut Pos
Bona Pakpahan (kanan), bersama penanggungjawab budidaya talas Satoimo, Muara Sirait, menunjukkan talas Satoimo yang mereka budidayakan, di Pematangsiantar, Sumut, Sabtu (29/9).
Foto: Dame Ambarita/Sumut Pos Bona Pakpahan (kanan), bersama penanggungjawab budidaya talas Satoimo, Muara Sirait, menunjukkan talas Satoimo yang mereka budidayakan, di Pematangsiantar, Sumut, Sabtu (29/9).
Belajar, belajar, dan belajar tanpa henti. Sebagai anggota komunitas IdeaCreator, Bona Pakpahan terus menerus menerima ilmu baru dari anggota komunitas. Ia pun malu jika tidak punya ilmu untuk dibagi. Karena itulah, ia terus praktek ilmu dan membaginya.Termasuk membuat modifikasi mesin-mesin sederhana serba guna.
———————————————–
Dame Ambarita, Pematangsiantar
———————————————–
Ruang kerja Bona Pakpahan penuh berbagai produk jadi maupun bahan ujicoba. Dindingnya ditempeli brosur-brosur berisi berbagai inovasi produk. Baik produk obat-obatan herbal, pangan, pupuk, maupun teknologi sederhana.
Sebagian sudah menjadi produk. Seperti pupuk, beras pratanak, sabun kecantikan, tepung talas, mesin pakan, tabung biogas, dan sebagainya. Sebagian lagi, seperti kompor pembuat pakan sampah, dan genset tanpa bbm, masih sebatas konsep. “Saya bisa buat. Ilmu sudah punya. Hanya saja pembuatannya butuh modal,” katanya.
Di halaman rumahnya, dipajang mesin pembuat pakan ikan apung. Mesin itu hasil modifikasinya, dari mesin bantuan pemerintah yang salah sasaran.
Berbagai inovasi itu tak melulu idenya atau hasil membaca. Sebagian besar berasal dari sharing ilmu anggota komunitas Idea Creator. “Semua ilmu itu saya pelajari, saya masukkan ke komputer. Tinggal buka kalau lagi butuh,” ungkapnya.
Ia mengakui, basic ilmu eksperimennya diperoleh semasa kuliah di US. Dipadu kursus sound engineering di Jakarta. Dan pekerjaan selama 26 tahun di perusahaan karet milik Amerika dan Jepang. Ditambah lagi hobbynya belajar dan membaca berbagai literatur untuk menambah ilmu.
“Pembuatan pupuk cair misalnya, sudah saya ujicoba sejak saya masih bekerja di Bridgestone,” katanya.
Ia sukses membuat obat-obatan herbal dari tepung daun kelor dan tepung cacing Tiger. Kini ia juga berhasil menciptakan sabun kecantikan berbahan dasar talas Satoimo. Sabun ini terbukti ampuh melembabkan kulit wajah, mengurangi keriput dan flek-flek hitam.
Sekarang ia mencoba membuat masker wajah dan handbody berbahan tepung talas Satoimo, campur teh hijau, susu kambing ottawa, dan lidah budaya.
“Masker dan handbody masih ujicoba. Belum jadi 100 persen meski sudah dimulai sejak awal 2018. Perlu beberapa tambahan bahan untuk whitening, tanpa zat kimia,” katanya.
Yang sudah dijualnya saat ini adalah sabun kecantikan merek J-Imo, kopi fermentasi, tepung talas. Dan yang paling laris adalah tepung daun kelor probiotik plus tepung cacing Tiger. Obat herbal ini paling laku dibeli masyarakat. Para pasien yang bersaksi telah sembuh, sudah ratusan orang dari berbagai daerah di Indonesia. Promosinya dari mulut ke mulut plus status di akun Facebooknya. “Ini tambang emas saya,” katanya.
Serbuk herbal itu dijual sepasang dengan harga Rp55 ribu. Habis dikonsumsi 3 hari. Berkhasiat sebagai obat asam lambung, gagal ginjal, asam urat, diabetes, stroke, jantung, typus, maag, dll. “Kebanyakan pembeli adalah pasien yang sudah buntu dari dokter,” katanya tanpa nada menyombong.
Produk lain, pupuk cair hasil racikannya dari air seni sapi. “Kebanyakan dipasok ke anggota koptan,” katanya. Peternak hidup, petani juga. Ia sebagai peracik dapat keuntungan 10 persen dari penjualan.
Sebagai penggagas dan pencipta berbagai inovasi produk yang disalurkan ke koperasi, Bona Pakpahan tetap memegang hak paten. “Bisa saja yang lain meniru. Silakan. Toh saya sendiri terus menerus melakukan inovasi. Lagipula, ada beberapa kunci inovasi yang tidak saya beritahu,” katanya.
Foto: Istimewa Petani sedang membudidayakan talas Satoimo, di Pematangsiantar.
Dari mana semua ide-ide itu muncul?
“Dari lapangan,” senyumnya.
Misalnya, ide genset tanpa bbm itu muncul dari temuan masalah pada petani di Pulau Samosir. Di mana, petani di sana ingin membuat pertanian yang bagus. Tapi kesulitan ketersediaan air meski pulau dikelilingi berlimpah air Danau Toba. “Keluhan petani, air danau bisa ditarik menggunakan mesin dompeng. Tapi biaya minyaknya nggak nahan.”
Ia pun mencoba membuat genset hemat bbm. Ide dilempar ke komunitas. Anggota yang sudah punya pengalaman berbagi ilmu. Genset tanpa BBM alat Bandung dan charging system ala Surabaya.
Masing-masing ada kelebihan dan kekurangan. Genset bekerja tapi bisa mati jika ada kelebihan beban. “Perlu waktu penyempurnaan,” kata Bona.
Kemudian ide Tong Sampah Hidup, muncul melihat Pajak Horas Pematangsiantar yang butuh pengelolaan sampah yang tidak berbau. Sekaligus bisa menghasilkan pupuk cair.
Ide soal kompor berbahan bakar pellet sampah, muncul dari masalah orang Siantar yang banyak membuang sampah organik begitu saja. Padahal sampah organik bisa diolah menjadi bahan bakar kompor. “Saving energi. Pellet bahan bakar banyak dibuat. Sistem pembuatannya sudah saya pelajari. Tinggal modal. Artinya, kapan saja dibutuhkan, saya bisa membuat,” katanya.
Berbagai produk yang dihasilkan sekarang, menurutnya sudah cukup menghasilkan keuntungan. “Belum mencapai gaji saat di Bridgestone sih. Tapi ada tanda-tanda bakal melebihi. Doakan saja,” katanya mantap.
Saat ini, ia sedang belajar ekstrak bromolain dari nenas. Menurut berbagai literatur, ekstrak nenas berkhasiat untuk mencegah penyakit jantung dan pengentalan darah. Juga ampuh membuang lemak arteri dan membersihkan ginjal. “Manfaat bisa diperoleh dari memakan nenas mentah. Tapi lebih efektif lagi setelah diproses jadi ekstrak,” sebutnya.
Banyak lagi inovasi-inovasi seorang Bona Pakpahan. Menurut mantan bosnya, orang Jepang di perusahaan Bridgestone, Bona berbakat menciptakan orang-orang jadi pengusaha.
“Mantan bos saya itu pernah menelepon. Kata dia, ‘dari awal pun sudah saya lihat kamu banyak membuat ide-ide yang bisa dijalankan. Saya tau kami bisa maju dengan yang seide dengan kamu. Biar waktu yang menentukan’,” kata si mantan bos, saat itu.
Tak mau besar kepala dengan pujian, Bona tetap berpijak di bumi. Ia fokus di industri rumahan, sambil tetap membina koperasi untuk menjalankan bisnis. “Misalnya untuk produk herbal, anggota koperasi yang akan menanam seluruh tanaman herbal. Saya yang meracik. Koperasi yang akan memproduksi turunannya dan menjualnya,” katanya.
Konsepnya saling ketergantungan dalam kebersamaan. Inovasi disinergikan antara budi daya demgan proses, sehingga produksi tidak putus di tengah jalan. Pengurus Koperasi diajari visi bisnis dan manajemen. Bona jadi konsulltan. Ia mendapat kontinuitas fee dari hasil produk yang dijual koperasi.
“Sejahtera bersama, maju bersama, berbuat nyata,” katanya sungguh-sungguh.
Kepada pemerintah, ia berharap agar membentuk kelompok-kelompok tani sesuai kemampuan, dan memberi bantuan yang benar-benar tepat sesuai kemampuan. “Jangan tinggalkan masyarakat setelah bantuan sampai. Dampingi terus sampai masyarakat itu mampu menciptakan sesuatu yang baru,” pesannya.
Pemerintah juga diharapkan jangan menunggu pemilik ide meminta bantuan. Tetapi berinisiatif mendatangi pemilik ide, agar ide itu dapat hidup dan berkembang untuk kepentingan bersama.
Apa pesan kepada generasi muda?
“Jangan takut mencoba. Dan jangan takut jika percobaan itu gagal. Jangan jadi orang konsumtif jika ada bantuan dana. Jadilah mandiri,” katanya. (habis)
Foto: Istimewa
Petani sedang membudidayakan talas Satoimo, di Pematangsiantar.
Foto: Istimewa Petani sedang membudidayakan talas Satoimo, di Pematangsiantar.
Sukses mengubah pola pikir petani, peternak, dan anggota koperasi di Siantar-Simalungun agar keluar dari pola lama, Bona Pakpahan tak hendak berpuas diri. Ia tetap berinovasi. Selain karena bawaan diri, ia mengaku malu kepada Komunitas IdeaCreator jika tak muncul dengan ide-ide. Ide bisnis terbarunya adalah budidaya talas Satoimo, asal Jepang.
———————————————-
Dame Ambarita, Pematangsiantar
———————————————-
Awal perkenalan Bona Pakpahan dengan talas Satoimo (colocasia esculenta var antiquorum) atau yang dikenal sebagai Taro Potato, terjadi pada pertengahan 2016. Saat itu, ayahnya menderita sakit diabetes yang sudah kronis.
“Saya mulai mencari-cari informasi tentang penyebab sakit diabetes, dan apa makanan pengganti yang paling cocok,” kisahnya.
Lewat jelajah internet, ia menemukan literatur mengenai talas Satoimo. Talas ini konon makanan dewa di Jepang. Khasiatnya berjibun. Talas ini salahsatu rahasia sehat dan awet muda orang Jepang. Penelitian menunjukkan, talas Satoimo sangat kaya akan Hyaluronic Acid (HA), substansi yang diproduksi secara alami oleh tubuh manusia, yang jumlahnya berlimpah ketika manusia masih muda.
Sayangnya hyaluronic acid ini berkurang seiring dengan bertambahnya usia, sehingga kulit menjadi keriput, bergaris, kering dll. Efek serupa pun ditunjukkan oleh organ-organ bagian dalam tubuh kita. “HA sangat diperlukan oleh tubuh, agar tubuh tetap dalam kondisi baik dan berfungsi dengan baik,”kata Bona.
Selain itu, HA sangat berperan dalam kesehatan sendi, penglihatan, jaringan penghubung, mempercepat proses penyembuhan luka, dan pembentukan kolagen. Kolagen adalah zat yang membantu meremajakan kulit & mencegah penuaan kulit. Membantu mengatasi masalah tulang dan dapat mempercepat proses penyembuhan. Juga memperkuat pembuluh darah & meningkatkan sirkulasi sehingga dapat membantu mengurangi resiko penyakit jantung.
Talas lokal Indonesia konon tidak mengandung HA. Meski kadar gulanya sama-sama rendah. “Kadar kolagen talas Satoimo lebih tingggi dari rumput laut dan sarang burung walet,” kata Bona.
Ia pun mencoba mengontak alamat di Jepang yang tertera di sebuah situs, bertanya di mana ia bisa a mendapatkan talas Satoimo. Ia diarahkan ke Pak Andi di Malang.
Ia mengontak Pak Andi. Pak Andi bersedia mengirim talas dari Malang, berikut ilmu seputar budidaya dan produk turunan talas Satoimo.
Benar… sang ayah merasa lebih sehat usai mengonsumsi talas. Bahkan bisa kembali bergerak seperti sebelum sakit diabetes.
Tertarik dengan talas Satoimo, Bona termotivasi untuk membudidayakannya. Ia pun semakin intens berkomunikasi dengan Pak Andi. Pak Andi bahkan mengenalkannya ke Komunitas Satoimo Indonesia.
Ia pesan bibit. Dan praktek menanam talas di lahan sendiri seluas satu rante. Memanfaatkan pupuk cair organik hasil racikannya sendiri. Berhasil.
Saat itulah ia bertemu dengan Muara Sirait. Ia seorang guru STM di Siantar. Sebenarnya sudah pensiun di usia 60 tahun. Tapi yayasan minta ia tetap dikaryakan, melihat semangat dan dedikasinya yang tinggi.
Meski guru STM, Muara juga hobby pertanian. Segala macam sayur dan tanaman ditanamnya. “Ia sabar bertani. Saya tidak,” puji Bona Pakpahan sembari tertawa ke arah Pak Muara.
Pak Muara hanya senyum simpul. Ia mengaku tertarik dengan budidaya tanaman sejak masih muda.
Awal komuniasi keduanya terjadi jelang akhir tahun 2017 lalu. Pak Muara yang duluan berinisiatif. Seorang teman bilang padanya: Pak Muara hobby bertani ya? Coba jumpai Bona Papahan. Pasti nyambung,” kata si teman.
Muara yang penasaran, datang sendiri menemui Bona ke rumahnya. “Dan benar. Klop. Seharian itu kami ngobrol segala hal. Mulai pertanian, peternakan, dan banyak inovasi lainnya,” kenang Muara Sirait.
Talas Jepang Satoimo.
Dari pertemuan itu, mengerucut pembicaraan mengenai rencana bisnis mengembangkan tanaman talas Satoimo. Muara yang tertarik mengenai manfaat talas, setuju menanamnya. “Saya mulai di tanah saya sendiri seluas 4 rante,” katanya. Menggunakan pupuk cair racikan Bona Pakpahan.
Berhasil. Talas yang ditanamnya menghasilkan 4 kg per pokok. Bona membeli dengan harga Rp1.500 per kg. Bona sendiri mengolah talas itu menjadi berbagai produk turunan. Seperti tepung talas Satoimo, sabun kecantikan, jus, dan sebagainya.
Hasil panen talas di lahannya mengundang penasaran masyarakat sekitar. “Banyak yang datang bertanya-tanya seputar talas Satoimo. Setelah dijelaskan, mereka menyatakan berminat bergabung dalam kelompok tani talas Satoimo,” kata Muara.
Kerja sama saling menguntungkan sudah di depan mata. Pak Muara pun diberi tanggung jawab melakukan survey lapangan. Mencari lokasi yang cocok untuk penanaman talas Satoimo di Siantar-Simalungun. Syaratnya, lahan maksimal 800 meter dpl. Tersedia air untuk penyiraman di musim kemarau. Karena talas ini memerlukan banyak air.
Lokasi pertama, Pak Muara menemukan lahan di Beringin dan Karangsari di Pematangsiantar. Petani di sana diajari tentang talas Satoimo.
Bona Pakpahan dan Muara Sirait bergandeng tangan menyosialisaikan sistem penanaman talas di kalangan petani. “Kita mencari petani yang mau mengikut sistem. Bukan sekedar ikut-ikutan. Jadi harus ikut sistem penanaman yang ditetapkan. Pakai pupuk cair yang ditetapkan. Dan ikut sistem penyaluran panen yang ditetapkan. Harga dijamin stabil,” katanya.
Syarat penanaman, tidak dibenarkan sedikitpun menggunakan sentuhan bahan kimia.
Saat ini, sudah ada tiga petani yang menanam talas Satoimo di Siantar-Simalungun. Yakni Muara Sirait, satu petani di Beringin, dan satu petani di Pagar Jawa. “Yang lainnya menyatakan berminat ikut. Tapi masih ragu apakah tanaman talas ini bisa menjanjikan kehidupan masa depan atau tidak,” kata Muara.
Muara pun ditunjuk Bona menjadi Penanggungjawab Budidaya Talas Satoimo.
Tahap awal, Bona menyuplai bibit talas dan pupuk cair secara gratis kepada petani. Petani berkontribusi lahan, tenaga, dan perawatan. Dalam lima bulan, talas bisa dipanen. Bona siap membeli hasil panen talas dengan harga Rp1.500 sampai Rp2.000 per kg.
Saat ini, di satu rante lahan bisa ditanam 700 pokok. Dalam lima bulan, satu pokok menghasilkan 4 kg talas. Jika dijual dengan harga Rp1.500 per kg, petani mendapat Rp4,2 juta per rante.
Bona sendiri sedang menanam talas di atas lahan seluas 10 rante. “Panen awal diperkirakan Oktober ini,” katanya. Jika dikalikan harga Rp1.500, ia akan memperoleh hasil penjualan Rp42 juta. Hanya saja di sini, ia sendiri yang membeli.
Hasil panen rencananya akan disortir. Dipisah mana kategori bibit bibit, mana kategori yang akan diolah menjadi tepung dan sabun, dan mana kategori ekspor.
Targetnya, talas Satoimo memang untuk diekspor ke Jepang, jika sudah mencapai tonase dan ukuran sesuai permintaan Jepang. Yang diekspor adalah talas dingin, yang sudah melalui proses pencucian, pengapuran, pemasakan, pendinginan, dan vacuum packing.
Di Jepang, talas Satoimo disebut sebagai makanan dewa. Umumnya dikukus dengan bungkus timah. Tingkat pemasakan diukur, supaya kadar kolagen dan HA-nya tetap utuh. Biasa dimakan hangat-hangat.
“Jika kapasitas produksi talas sudah besar, teman saya dari PT Agrilow Satoimo Indonesia bersedia menampung talas ukuran tertentu untuk diekspor,” jelas Bona.
Tepung talas Satoimo, diberi merek J-Imo oleh Bona Pakpahan.
Di Indonesia, petani yang membudidayakan talas Satoimo baru ada di beberapa daerah, yakni Sulawesi, Malang, Aceh, dan di Pematangsiantar.
Untuk mencapai target ekspor, Bona dan Muara berencana membentuk kelompok tani pembudidaya talas Satoimo. “Tanaman ini sudah diujicoba. Hasilnya bagus. Sekarang tahap budidaya. Kami harapkan, petani juga mau menanamnya,” kata Bona.
Sementara ini, Bona menampung talas untuk dijadikan tepung, sabun, dll. Nanti jika ekspor sudah dilakukan lewat koperasi, talas ukuran kecil akan dilempar ke pasar domestik. Sebagian diolah menjadi tepung, sabun kecantikan, dan produk turunan lainnya.
Bona menjamin pasar talas dari petani. Harga stabil. Ia komitmen tidak membuat petani kecewa. “Petani butuh jaminan harga. Tapi agar hasil panennya layak ekspor, petani harus ikut sistem penanaman dan pemupukan. Karena size talas harus sama. Meski demikian, yang kecil pun tetap dibeli,” katanya.
Target ekspor talas diproyeksikan bisa dicapai dalam 2-3 tahun ke depan.
Jika asosiasi petani talas Siantar-Simalungun sudah terbentuk dan mapan, bibit dan pupuk kemungkinan akan dijual. Atau tetap gratis. Tergantung situasi. Bona sendiri mentreatment bibit talas agar hasil maksimal. “Ada treatment untuk menghasilkan bibit unggul,” katanya.
Ke depan, Muara Sirait yang bertanggung jawab membentuk koptan petani talas. Jika semakin berkembang, bisa berlanjut menjadi koperasi.
Sembari membudidayakan talas Satoimo, Bona dan Muara juga mulai membudidayakan kedelai Edamame asal Jepang, yang kualitasnya lebih unggul dibanding kedelai lokal. “Ukurannya lebih besar dan kualitasnya lebih baik,” katanya. Juga menanam singkong Malang, yang produksinya mencapai 8 kg per pokok.
Tugas Muara Sirait pun bertambah. Menjadi Penanggungjawab Budidaya Talas Satoimo, Edamame, dan Singkong Malang.
“Tanggal 13 Oktober ini, rencananya akan ada tamu dari Australia dan guru besar dari Malang ke sini. Katanya, Australia mau membantu petani, asal ada asosiasi,” kata Bona.
Konsep pertanian yang dipercayainya adalah: pola tanam organik, hasil panen banyak dan bermutu. Diolah menjadi berbagai produk turunan. Dan bangun jaringan lewat Koperasi.
Tentang singkong Malang, Bona Pakpahan mengandalkan penggunaan pupuk cair racikannya. Produksi pasti lebih banyak. Hasil dijual ke ke pabrik tepung PT Bumisari di Siantar.
Saat ini mereka menanam singkong di atas lahan 2 hektare. Proyeksinya, bisa menghasilkan 20 kg per batang. Per hektare bisa ditanam 400 batang . Dengan harga Rp1.500 per kg, akan menghasilkan Rp12 juta per hektare. Masa panen 8 bulan.
Konsep budidaya kedelai Edamame juga mirip. Dengan masa panen 70 hari, Bona percaya hasil panen akan memuaskan dengan sistem tanam dan pupuk yang ditetapkannya.
Dengan seluruh inovasi ini, Bona tetap memilih bekerja sama dengan koperasi. Menurutnya, koperasi membentuk petani dan petermak menjadi lebih mandiri. Bona sendiri mendapat keuntungan dari keuntungan yang didapat bersama. “Jadi lebih fair dan lebih adil,” tegasnya.
Karena itulah, ia memiliki visi membentuk koptan-koptan yang akan berkembang menjadi koperasi produktif, di Siantar-Simalungun, bahkan hingga ke kabuaten lain. (dame/bersambung)
Foto: Dame Ambarita/Sumut Pos
Bona Pakpahan (kanan), bersama Manager Koperasi Elshira Nauli Rata, Richard Munthe (tengah), dan penanggungjawab budidaya talas Satoimo, Muara Sirait (kiri), memamerkan beras Pratanak Nuhra, produksi Koperasi Elshira.
Foto: Dame Ambarita/Sumut Pos Bona Pakpahan (kanan), bersama Manager Koperasi Elshira Nauli Rata, Richard Munthe (tengah), dan penanggungjawab budidaya talas Satoimo, Muara Sirait (kiri), memamerkan beras Pratanak Nuhra, produksi Koperasi Elshira.
Berbasis temuan-temuan masalah yang dihadapi petani dan peternak di lapangan, dipadu ilmu-ilmu yang diperoleh dari komunitas IdeCreator, Bona Pakpahan mulai merancang sebuah sistem. “Yang sebenarnya sudah ada di daerah lain. Tapi baru kami terapkan di sini, di Siantar-Simalungun,” katanya.
———————————————
Dame Ambarita, Pematangsiantar
———————————————
Bona ingin membentuk komunitas petani dan peternak yang langsung berhubungan satu sama lain. Yang mampu membuat produk unggulan, dan menjualnya ke masyarakat. Bahkan hingga ke pasar luar negeri.
“Saya tidak berminat membentuk perusahaan sendiri atau membuat yayasan. Tapi koperasi,” sebutnya.
Gayung bersambut. Tahun 2017, Pengmas HKBP mendengar tentang inovasi dan gagasan-gagasannya. Ia diundang sebagai pembicara dan motivator kepada anggota CU Elsira Nauli Rata binaan HKBP. Yang anggotanya ratusan orang. CU ini berkiprah sebagai wadah simpan pinjam bagi anggota.
Namun sejak berdiri tahun 2008 lalu, anggota yang tersebar di lima kabupaten di Sumut (Siantar, Simalungun, Samosir, Langkat, dan Humbahas) merasa pertumbuhan CU sangat lambat. Begitu-begtu saja sejak dulu sampai sekarang. Mereka sepakat, CU takkan bisa berkembang lebih besar jika hanya bergerak di simpan pinjam.
Bona diharapkan memberi ide-ide baru bagi anggota CU. Usai Bona berbicara di acara lokakarya, para anggota CU mengajukan usul mengubah CU menjadi Koperasi. Sepakat. Tahun itu juga, CU berubah menjadi badan hukum Koperasi Elsira Nauli Rata. Tetap berbentuk Koperasi Simpan Pinjam.
Saat itu, aset Koperasi Rp900 juta. Anggota boleh meminjam maksimal Rp40 juta. Simpanan pokok R300 ribu, simpanan wajib Rp20 ribu per bulan, dan simpanan sukarela minimal Rp5.000 per bulan, maksimal Rp5 juta.
“Sejumlah anggota berharap CU yang sudah berubah menjadi koperasi, dapat memberi bantuan pupuk, benih, dan alat-alatprofuksi. Permintaan yang tidak bisa dipenuhi, jika koperasi masih bergerak di simpan-pinjam,” kata Richard Munthe, Manajer Koperasi, yang diundang Bona Pakpahan ke rumahnya untuk mendampingi wawancara.
Tertarik dengan ide-ide yang dipaparkan Bona Pakpahan saat jadi pembicara di lokakarya, beberapa pengurus Koperasi melanjutkan komunikasi dengan Bona. Salahsatunya Richard Munthe. Hasil komunikasi, Koperasi sepakat menerapkan ide-ide Bona. Dan berubah dari Koperasi Simpan Pinjam menjadi Koperasi Produktif. Di bawah binaan Bona Pakpahan sebagai konsultan.
Bona sendiri mengaku senang bekerja sama dengan koperasi. Alasannya, Koperasi punya anggota. Sehingga ke depan, pasokan bahan baku produksi lebih terjamin. Jaringan pemasaran juga jelas. “Lebih gampang membuat sistem yang benar lewat koperasi. Pada akhirnya semua akan meraih keuntungan,” katanya.
Tahap pertama, Bona mengusulkan agar Koperasi Elsira memproduksi beras pratanak (proboiling) + Probiotik, beras nongula yang telah diujicobanya di ‘lab manual’ di rumahnya.
Mengapa beras nongula?
“Karena orang Indonesia banyak sakit diabetes, jantung, gula. Mengapa? Karena pola makan kita kebanyakan makan nasi tapi kurang gerak. Sementara 80 persen kandungan beras itu karbo. Solusinya, saya kira ya beras rendah karbo,” katanya.
Menurutnya, Koperasi harus membuat produk yang belum banyak dibuat orang. Di Indonesia banyak macam beras dan kopi. “Produk yang memiliki nilai jual, tentunya produk yang dibutuhkan masyarakat. Tak hanya penderita diabetes, orang sehat juga butuh beras nongula,” katanya mantap.
Di Sumatera, menurut survey Bona, belum ada produksi beras pratanak. Baru petani Jawa yang memproduksi.
Awalnya, Bona memproduksi beras pratanak berdasarkan literatur yang dibacanya, plus berbagai masukan dari komunitas IdeaCreator. “Karena belum punya alat, saya membuat beras pratanak secara manual. Beras saya cuci, kukus, tiriskan, fermentasikan, keringkan, semua secara manual,” jelasnya.
Testnya pun dilakukan manual. Bona memasak beras pratanak nongula buatannya. Sebelum makan, ia mengecek kadar gula darahnya ke dokter. Kemudian ia pulang ke rumah, makan nasi pratanak plus ikan dan sayur.
Dua jam kemudian usai makan, ia kembali ke dokter mengecek gula darah. Hasilnya, sebelum makan nasi pratanak, kadar gula darahnya 130. Sesudah makan hanya naik jadi 140. “Jadi naiknya hanya 10 saja. Padahal biasanya pasti melonjak ke angka 180 usai makan nasi dari beras non pratanak,” cetusnya.
Untuk memproduksi beras pratanak skala Koperasi, Bona menciptakan peralatan di bengkel rumahnya. Tukang las didatangkan untuk membuat mesin sesuai disain yang digambarnya. “Satu set mesin mulai mesin pencuci, pengukus, pemasak, fermentasi, dan pengering, dibuat dengan biaya semurah-murahnya. Koperasi membeli mesin dari saya dengan harga di bawah Rp100 juta set lengkap. Kapasitasnya 400-500 kg beras per hari,” ungkap Bona.
Manajer Koperasi Elsira, Richard Munthe, mengatakan, koperasi bereformasi menjadi Koperasi Produktif mengarah ke industri, persisnya pada 1 Juni 2018. Produk unggulan pertama adalah beras pratanak dan kopi fermented. Maklum, anggota didominasi petani padi dan kopi.
Produksi beras dimulai pertengahan September 2018. Beras pratanak nongula itu diberi merek Beras Nuhra. Adapun beras yang bisa dijadikan beras pratanak adalah: semua jenis beras.
“Launching perdana dilakukan di komunitas lansia Pematangsiantar tanggal 24 September. Responnya bagus. Terjual 25 kg. Para lansia yang diwawancarai pascapenjualan, mengaku merasa lebih enak usai mengonsumsi beras Nuhra,” kata Richard.
Beras pratanak kemasan 1 kg dijual seharga Rp25 ribu. Komposisi beras sudah didaftarkan ke Disperindag Siantar. Koperasi berharap segera mendapat izin dan legalitas. “Hingga saat ini, penjualan dilakukan secara online atau pembeli datang langsung ke Koperasi. Permintaan yang kami terima sudah melebihi kapasitas produksi,” katanya.
Karena baru tahap ujicoba, koperasi baru mampu memproduksi 190 kg per hari. Pemesan datang dari Jakarta, Lampung, dan Batam. “Sebenarnya, di Jakarta ada beras pratanak dijual. Tapi harganya lebih mahal,” cetusnya.
Koperasi mengambil keuntungan sekitar Rp3.000 per kemasan 1 kg.
Banyak untung dong?
“Oh… sebenarnya tidak terlalu banyak. Biaya yang dikeluarkan juga lumayan. Mulai modal beli beras Rp10 ribu per kg, ditambah biaya produksi meliputi biaya air, listrik, probiotok lacto, dan packing,” sebutnya.
Saat ini, anggota Koperasi mecapai 1.000-an orang. “Semua anggota bersemangat. Ada gairah pascaperubahan CU menjadi koperasi simpan pinjam, dan berubah lagi menjadi koperasi produktif. Dari sebelumnya pertumbuhan dinilai begitu lambat, kini ada prospek cerah dengan pendampingan dari Bona Pakpahan,” kata lulusan Teknik Mesin USU ini.
Bagaimana persisnya bentuk kerjasama Bona Pakpahan dengan Koperasi?
“Saya pegang profit paten untuk produk Beras Nuhra dan Kopi Fermented Nuhra. Saya ambil fee 10 persen dari penjualan. Prinsipnya sama-sama untung. Saya untung dengan menguntungkan masyarakat. Saya rasa itu lebih fair,” jelasnya.
Saat ini, seluruh anggota Koperasi Elsira berlomba menanam saham untuk proses produksi beras dan kopi Nuhra. Di akhir tahun, seluruh anggota akan menerima pembagian deviden sesuai jumlah sahamnya.
“Rencananya, setelah pegang legalitas sebagai koperasi produktif, kami akan ekspansi mencari pasar yang lebih luas. Bahkan sampai ke supermarket. Kami ingin menjadi koperasi produktif berskala besar dan bersifat industri,” kata Richard dengan wajah berbinar.
Jika ada koperasi lain yang berminat memproduksi beras pratanak atau kopi fermented, Bona Pakpahan bersikap terbuka. Syaratnya, koperasi itu harus bekerja sama dengan Koperasi Elsira. Baik dalam hal pemasaran maupun proses produksi.
“Kami bisa kirim mesin produksi. Kami ajari mereka proses produksi. Tapi mereknya tetap Beras Nuhra dengan label Koperasi Elsira. Saya sendiri mendapat fee sebagai konsultan,” kata Bona.
Jika ada pihak yang mengcopy paste sistemnya, Bona mempersilakan. “Sah saja kalau mau ditiru. Yang pasti, merek Nuhra sudah kami pegang,” ucapnya.
Tak hanya memproduksi beras dan kopi Nuhra, menurut Bona, Koperasi Elsira juga akan mengatur distribusi pupuk cair produksinya, agar penjualan lebih lancar. Bona sendiri akan mengajari anggota koperasi cara menggunakan pupuk cair, berbagi ilmu pertanian dan ilmu bisnis.
“Lewat koperasi, lebih mudah menciptakan sistem manajemen pertanian. Dan secara bertahap mengubahnya ke arah yang benar dan tersistem,” sebutnya. (dame/bersambung)