Home Blog Page 5919

Israel Sekarat Dibacok Tarsis

CEK KORBAN: Dua personel Polsek Simpang Empat mengecek korban di rumah sakit.(Foto : Ist/Sumut pos)
CEK KORBAN: Dua personel Polsek Simpang Empat mengecek korban di rumah sakit.(Foto : Ist/Sumut pos)

SUMUTPOS.CO – Hanya karena senggolan saat joget, dua peminum tuak (parmitu) saling bacok. Satu diantaranya nyaris tewas. Tragedi berdarah ini terjadi di lapo tuak Mitut, Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Senin (24/9) malam.

KERIBUTAN ini bermula saat Israel Sitepu (36), warga Desa Surbakti, Kecamatan Simpang Empat yang dalam kondisi mabuk tengah asik berjoget. Tak jauh dari lokasinya bergoyang, pelaku Tarsis Jun Niwe Ginting (40) warga Desa Ndokum Siroga, Kec Simpang Empat juga tengah asik sendiri.

Diduga karena bersenggolan, keduanya mendadak berselisih paham. Saat itu, juga korban yang kemana-mana membawa pisau itu, langsung menusuk pelaku.

Meski dalam keadaan mabuk, pelaku berhasil mengelak. Selanjutnya, situasi di kedai tuak Mitut menjadi tidak terkontrol.

Tak lama berselang, pelaku pulang ke rumahnya. Dalam keadaan setengah sadar, pelaku masih menyimpan dendam.

Alhasil, malam itu juga setelah mengambil parang dari rumah, pelaku kembali ke lokasi. Namun pelaku tak mendapati korban di lokasi.

Penasaran, pelaku mencari dan berhasil menemukan korban di kedai kopi Okta Tarigan yang tak jauh dari lapo tuak tersebut. Pelaku langsung menyerang korban secara membabi buta.

Korban menderita luka di kepala dan bahu kanannya. Warga yang melihat kejadian tersebut, langsung melerai keduanya. Korban pun langsung diboyong menuju RSU Kabanjahe.

Kapolsek Simpang Empat, AKP Nazrides membenarkan peristiwa tersebut.

“Pelaku berikut barang bukti sudah kita amankan. Pelaku kita kenakan Pasal 351 ayat 2 Kuhpidana, dengan ancaman 5 tahun penjara,” katanya, Rabu (26/9).

Sementara, korban hingga kini masih mendapat perawatan medis, dengan luka bacok sekitar 30 centimeter.(deo/ala)

Menpoa Minta Krlub Bina Suporternya

PERAN: Menpora minta klub berperan.(Foto : Jawa Pos)
PERAN: Menpora minta klub berperan.(Foto : Jawa Pos)

SUMUTPOS.CO – Kemenpora menilai bahwa kasus tewasnya suporter sepak bola tidak bisa ditimpakan tanggung jawabnya kepada suporter. Tapu merupakan tanggung jawab klub dan pihak-pihak terkait.

Dalam kasus meninggalnya Haringga Sirla, seharusnya suporter tidak dibiarkan bebas begitu saja. Karena bagaimanapun juga mereka bagian dari klub, bukan berdiri secara independent.

“Apakah kalau ada masalah-masalah hanya suporter yang disalahkan? Bukannya asas profesional itu juga terjadi jika suporter bagian dari klub?” ucap Menpora Imam Nahrawi di Gedung Kemenpora, Jakarta, Selasa (25/9).

Seharusnya klub dapat membina dan menjaga hubungan dengan suporternya. Jangan langsung terkesan seperti membuang suporter jika mereka melakukan kesalahan.

“Hubungan baik antara suporter dan klub harus benar-benar dilakukan secara komprehensif, profesional, dan bermartabat,” ucapnya.

Bahkan federasi, dalam hal ini PSSI, juga dapat turut berbaur. Sehingga akan tercipta simbiosis mutualisme antara suporter, klub, dan PSSI.

“Pemerintah masih menggarisbawahi tagline PSSI, profesional dan bermartabat. Jika semua dilakukan sesuai dengan tagline itu, saya kira kita akan punya harapan untuk sepak bola tanah air,” tutupnya.

Di sisi lain Imam menyatakan pemerintah hanya berusaha membantu mengatasi masalah pelik ini dan tidak ikut mengintervensi keputusan PSSI. “Ini bukan intervensi. Tetapi undang-undang memberikan mandat kepada saya terhadap sistem olahraga nasional,” ucap Menpora di Jakarta.

Lebih lanjut, Imam menilai kasus tewasnya suporter tidak lagi dapat dibiarkan begitu saja. Sebab hal tersebut sudah masuk ke ranah kemanusiaan.

“Kasus ini sudah jadi tragedi nasional. Saya sebagai penanggung jawab olahraga tidak akan diam begitu saja,” tegas Imam dengan suara lantang. (mat/jpc/don)

Eldin: Persiapan Belawan Jadi Water Front City

DIABADIKAN: Wali Kota Medan HT Dzulmi Eldin diabadikan bersama para 25 pimpinan kota pelabuhan terbesar di dunia pada Forum Global Harbor Cities di Kota Kaohsiung, Taiwan, pada 25-27 September 2018.(Foto : Ist/Sumut Pos)
DIABADIKAN: Wali Kota Medan HT Dzulmi Eldin diabadikan bersama para 25 pimpinan kota pelabuhan terbesar di dunia pada Forum Global Harbor Cities di Kota Kaohsiung,
Taiwan, pada 25-27 September 2018.(Foto : Ist/Sumut Pos)

SUMUTPOS.CO – KAOHSIUNG-Wali Kota Medan HT Dzulmi Eldin, kembali menghadiri undangan untuk mengikuti Forum Global Harbor Cities di Kota Kaohsiung, Taiwan, yang berlangsung pada 25-27 September 2018. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari  forum yang telah digelar pertama kali pada 2016.

Dalam forum yang kedua ini, para peserta yang berasal dari 25 kota pelabuhan terbesar di dunia, termasuk Kota Medan, membahas pentingnya menjalin kerja sama, sekaligus upaya mengendalikan pembangunan industri baru, keberlanjutan, dan ekonomi samudra. Di samping itu, juga sebagai sarana bertukar informasi tentang peluang dan tantangan yang muncul dengan adanya perkembangan teknologi dan restrukturisasi perekonomian dunia.

Menurut Eldin, dipilihnya Kota Kaoshiung sebagai tuan rumah penyelenggaraan forum ini untuk kedua kalinya, karena daerah yang merupakan hasil penggabungan Kota dan Kabupaten Kaohsiung sejak 25 Desember 2010 lalu itu, dianggap berhasil dalam merevitalisasi kawasan industri lama yang identik sebagai kawasan bersejarah, menjadi kawasan industri baru.

“Forum ini sangat penting digelar, guna membicarakan tentang bagaimana pentingnya sebuah kota pelabuhan dalam menghadapai landscape global yang selalu berubah. Kemudian, bagaimana mengatasi tantangan serta upaya membangun kerja sama antar anggota forum untuk berkembang bersama,” tutur Eldin.

Dalam forum yang dihadiri perwakilan kepala daerah dengan wilayah pelabuhan terbesar, seperti Hong Kong, Singapura, Rotterdam (Belanda), dan Selandia Baru, lanjut Eldin, ada 4 agenda yang menjadi topik pembahasan. Pertama, terkait manfaat pengembangan pelabuhan bagi sebuah kota.

Eldin mengungkapkan, manfaat pelabuhan bagi sebuah kota tidak hanya sebatas tentang aliran barang, tapi bagaimana sebuah pelabuhan dapat menciptakan keunikan tertentu bagi sebuah kota. “Kota pelabuhan merupakan pintu gerbang sebuah negara yang dapat berkomunikasi langsung dengan pihak asing,” jelasnya.

Sedangkan yang kedua, sambung Eldin, mengenai perencanaan kawasan pelabuhan. Sebab, masing-masing peserta menyadari, perencanaan kota konvensional cenderung memisahkan perencanaan pelabuhan dan rencana kota itu sendiri. “Padahal permintaan kawasan waterfront yang livable cenderung meningkat,” katanya.

Selanjutnya, agenda ketiga, terkait peningkatan efisiensi kota pelabuhan melalui teknologi dan inovasi. Karena itu, dalam forum tersebut, dituntut komitmen kepala daerah yang hadir untuk meningkatkan efisiensi melalui pemanfaatan teknologi dan mendorong terciptanya inovasi.

Sementara yang keempat, menyangkut sinergitas antara kota-kota pelabuhan di dunia. Sebab, kota pelabuhan akan berperan penting pada masa mendatang, khususnya pada sektor perekonomian. Atas dasar itulah, lanjut Eldin, kota pelabuhan harus menjalin kerja sama dengan stakeholder lainnya. “Dalam konteks pengalaman pembangunan yang sama, kota-kota pelabuhan dunia harus bisa saling berbagi pengalaman menghadapi tantangan di masa yang akan datang,” pesan Eldin.

Itu sebabnya, Eldin menilai, forum ini sesuai dengan rencana pembangunan Pemko Medan. Sebab, Kota Medan sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), berkomitmen mengembangkan kawasan utara, khususnya pada daerah sekitar kawasan Pelabuhan Belawan. “Diharapakan hasil dari forum ini bisa membuka wawasan tentang pengembangan kawasan pelabuhan secara berkelanjutan, terutama pengembangan Belawan menjadi water front city,” harapnya.

Usai acara pembukaan Forum Global Harbor Cities, Eldin bersama perwakilan dari 25 kota pelabuhan terbesar, bersilaturahim guna mempererat persahabatan antar kota, dilanjutkan dengan foto bersama. Di sela-sela silaturahim, Eldin bertukaran cenderamata dengan Wali Kota Kaohsiung, Hsu Li Ming. (prn/saz)

Klub Tambah Pengeluaran

TAMBAH: Rachmat Hidayat membawa bola saat bersua dengan PSIS Semarang di Stadion Teladan. Penundaan kompetisi menambah beban pengeluaran PSMS(Foto : Sutan Siregar/Sumut Pos)
TAMBAH: Rachmat Hidayat membawa bola saat bersua dengan PSIS Semarang di Stadion Teladan. Penundaan kompetisi menambah beban pengeluaran PSMS(Foto : Sutan Siregar/Sumut Pos)

SUMUTPOS.CO – Keputusan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dan PSSI yang resmi menghentikan sementara Liga 1 sangat memberatkan klub yang masih menghidupi pemain dan ofisialnya. Pasalnya mereka harus menambah lagi pengeluaran untuk memberikan gaji pemain.

Seperti diketahui, Menpora Imam Nahrawi pada jumpa pers di Kantor Kemenpora, Jakarta Selatan, mengumumkan penghentian sementara seluruh laga Liga Indonesia selama dua pekan. Tak lama kemudian PSSI juga menyatakan kompetisi berhenti dengan waktu yang tidak ditentukan. Menyusul kematian Haringga Sirla sebelum laga Persib Bandung versus Persija Jakarta, Minggu (23/9).

Manajemen PSMS pasrah menerimanya. Sekretaris klub Julius Raja berharap agar tragedi tersebut bisa menjadi pelajaran bagi semua pihak.

“Tentu ada plus dan minusnya. Sisi positifnya, waktu istirahat akan lebih panjang. Di lain sisi, keputusan itu membuat tim yang sudah membeli tiket akan mengalami kerugian. Pembayaran gaji pemain akan lebih panjang,” ucap Julius.

“Kejadian ini bisa menjadi instropeksi diri bagi suporter, terutama yang membuat kekerasan. Sekarang bagaimana kita menciptakan suasana kompetisi yang damai tanpa ada kekerasan.”

Senada, tim yang juga tengah berjuang menghindari degradasi, PSIS juga menyesalkan hal tersebut. “Liga diundur dua minggu sangat memberatkan klub. Karena sebulan biaya yang dikeluarkan klub rata-rata satu miliar rupiah. Itu kerugian sangat besar bagi klub-klub,” ujar CEO PSIS Semarang, Yoyok Sukawi, Selasa (25/9).

Dengan situasi tanpa pemasukan selama masa jeda, menurutnya, pihaknya masih tetap menggaji para pemain dan ofisial tim.

Kekecewaan Yoyok makin bertambah, lantaran performa Mahesa Jenar saat ini sedang berada di tren positif. Terakhir, PSIS bisa melibas Perseru Serui pada laga lanjutan Liga 1 2018 dengan skor 4-2, Minggu (23/9) kemarin. “Sebenarnya jengkel (kompetisi) diundur, karena PSIS ini lagi bagus-bagusnya,” imbuh dia.

Namun, adanya keputusan penghentian sementara tersebut, tak lantas membuat manajeman PSIS meliburkan para pemain. Justru berencana terus melangsungkan latihan sebagai persiapan laga yang tertunda. “Tidak libur. Tetap akan ada latihan bagi para pemain dan akan kita carikan lawan untuk laga uji coba,” cetusnya.

Sementara, terkait kembali terjadinya kasus kematian suporter, dia berharap ke depan tak akan ada lagi peristiwa serupa. Menurut Yoyok, sanksi tegas kepada pihak-pihak bersangkutan harus ada sebagai efek jera. (gul/jpc/don)

Gowes Keliling Kota Medan

KELILING: Kesenangan Baharuddian Siagian adalah keliling dengan menggunakan sepeda.(Foto : Ist/Sumut Pos)
KELILING: Kesenangan Baharuddian Siagian adalah keliling
dengan menggunakan sepeda.(Foto : Ist/Sumut Pos)

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Bekerja sebagai Aparatur Sipil Negera (ASN), tentu membutuhkan tubuh fit. Apalagi menjabat sebagai kepala dinas, sudah pasti banyak pekerjaan yang harus diselesaikan setiap hari.

Hal itu juga dialami Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sumatera Utara H Baharuddin Siagian. Mengurusi olahraga dan pemuda bukanlah pekerjaan yang gampang dan memakan waktu yang tidak sedikit. Bahkan, dia kerap harus bekerja hingga malam hari.

“Sebagai kepala dinas, kita harus mengatur semuanya berjalan baik. Mulai dari pembinaan atlet hingga pemuda. Untuk atlet, kita tentu harus mencari cara agar lahir atlet-atlet berprestasi. Seperti semboyan Dispora Sumut, ‘Pemuda Maju, Olahraga Jaya, Sumut Bermartabat’,” ujar Baharuddin kepada Sumut Pos, Rabu (26/9).

Meski sibuk bekerja, Baharuddin selalu menyempatkan diri untuk berolahraga. Pria yang akrab dipanggil Bahar ini kerap bersepeda keliling Kota Medan. “Saya sering bersepeda keliling kota Medan, minimal sekali seminggu. Kalau ada waktu, bisa dua kali seminggu, khususnya hari Jumat dan Sabtu,” ungkapnya.

Tidak tanggung-tanggung, suami dari Henny Heridawati Pohan ini hampir menempuh jarak 30 kilometer setiap bersepeda. Bahkan dia sudah beberapa kali naik sepeda berangkat ke kantor. “Saya juga beberapa kali pergi ke kantor naik sepeda. Pergi dari rumah di Medan Johor menuju kantor di Jalan Pancing,” tambahnya.

Ayah dari Firsti Siagian, Lutfah Siagian dan Moan Siagian mengakui olahraga sepeda ini sudah lama ditekuni. Mulai saat masih bekerja di Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Sumut. “Kalau dihitung-hitung sudah 15 tahun saya rutin naik sepeda minimal sekali seminggu,” tambahnya.

Bahar memilih sepeda karena olahraga ini bermanfaat untuk menguatkan persendian kaki dan meningkatkan daya tahan tubuh, dada serta tangan. “Banyak manfaat naik sepeda. Karena itu, saya selalu mengajak orang-orang untuk naik sepeda,” paparnya.

Bukan hanya sepeda, Bahar juga kerap melakoni olahraga lainnya, yakni jalan kaki dan renang. Jalan kali dilakukan dengan menempuh jarak minimal 3 kilometer. Sedangkan renang dilakukan jika ada waktu. “Menurut penelitian, jalan kaki dan renang merupakan olahraga paling disarankan. Untuk itu, saya juga melakoni kedua olahraga ini,” tandasnya.

Bahar mengungkapkan, ketiga olahraga ini masih dilakoni hingga kini. “Olahraga itu masih saya lakoni hingga sekarang. Pokoknya setiap ada waktu, saya sempatkan untuk olahraga,” pungkasnya. (prn/ram)

SHARP Tawarkan Solusi Energi Terbarukan di Tiga Negara

ATAS: Penampakkan Mega Solar PLant di Jakabaring Sports City di Indonesia dari atas. Selain di Indonesia, Panel Surya ini juga sudah beroperasi di Mongolia. Dan dalam waktu, panel surya ini juga akan dibangun di negara Vietnam.(Foto : Ist/Sumut Pos)
ATAS: Penampakkan Mega Solar PLant di Jakabaring Sports City di Indonesia dari atas. Selain di Indonesia, Panel Surya ini juga sudah beroperasi di Mongolia. Dan dalam waktu, panel surya ini juga akan dibangun di negara Vietnam.(Foto : Ist/Sumut Pos)

MONGOLIA, SUMUTPOS.CO – Penipisan lapisan ozon hingga pemanasan global dirasakan semakin besar dampaknya bagi kelangsungan hidup makhluk hidup. Selain kesadaran masing-masing individu, diperlukan tindak nyata yang mampu meminimalisir hal ini secara signifikan. Sebagai manufaktur elektronik, SHARP Corporation sadar akan pentingnya menghasilnya produk inovatif yang dapat membawa solusi bagi masalah ini, yakni melalui pembuatan panel surya.

Kemunculan panel surya milik SHARP kini semakin banyak digunakan dan diadaptasi oleh berbagai perusahaan. Lewat SHARP Energy Solutions Corportaion (SESJ)[1]  ekspansi terus dilaksanakan di berbagai wilayah di seluruh dunia. Sepanjang bulan Juni hingga Agustus 2018, sekiranya ada tiga wilayah yang dapat menikmati sumber energi listrik melalui panel surya. Di bulan Juni misalnya, SESJ baru saja mengumumkan selesainya pembangunan pabrik panel surya nan megah di Zamyn Uud, Provinsi Dornogovi, Mongolia. Proyek ini merupakan hasil kolaborasi antara SHARP dengan Shigemitsu Shoji Co., Ltd.[2] dan Mongolian energy company Solar Tech LLC[3].

Pabrik baru milik SHARP ini mampu menghasilkan sekitar 16.5 MW-dc, dengan kapasitas kekuatan tahunan yang diestimasi mencapai 31,162 MWh/tahun. Emisi dari fasilitas ini diharapkan mampu mencegah emisi karbon dioksida dari Efek Rumah Kaca sebesar 24,836 t-CO2  per tahun.

Pemerintah Mongolia turut menargetkan sekiranya 25% energi dari pembangkit tenaga listrik akan berasal dari sumber daya terbarukan. Sebelumnya pada Desember 2016, SHARP berkolaborasi dengan Shigemitsu Shoji dan lainnya, untuk menyelesaikan pabrik panel surya sebesar 10 MW-dc. Pembangunan ini turut menandakan hadirnya fasilitas solar panel pertama yang ada di Mongolia.

Dari Mongolia, tepatnya pada akhir Agustus 2018, SHARP Energy Solutions Corportaion (SESJ)  juga menerima permintaan untuk pembagunan panel surya di Vietnam, tepatnya di Provinsi Binh Thuan dan Long An. Masing-masing panel surya berkapasitas sekitar 49 MW-dc dan untuk kapasitas gabungan sebesar 98 MW-dc. Permintaan ini datang dari Gia Lai Hydropower Joint Stock Company[4] dan TTC-Duc Hue Long An Power Joint Stock Company[5] yang beroperasi di bawah payung Thanh Thanh Cong Group (TTC Group) .

Jumlah listrik yang dihasilkan setiap tahunnya diperkirakan mencapai 149,740 MWh/tahun untuk gabungan kedua panel surya. Jumlah ini setara dengan jumlah listrik yang dikonsumsi oleh rata-rata 79.353 rumah tangga[6] di Vietnam setiap tahun. Pengeluaran dari fasilitas ini termasuk untuk menghindarkan terjadinya emisi dari Efek Gas Rumah Kaca yang mencapai hingga 40,863 t-CO2 per tahun.

Pemerintah Vietnam juga berencana[7] untuk meningkatkan pembangkit listrik tenaga surya hingga 850 MW pada tahun 2020 dan 12.000 MW pada tahun 2030 mendatang. Di bulan Juni 2017, pemerintah telah memperkenalkan FIT (Feed-in Tariff)[8], sebuah sistem untuk mendorong penggunaan energi terbarukan dalam skala yang lebih luas. Energi listrik yang dihasilkan dari kedua pembangkit listrik akan termasuk dalam sistem ini.

Di Indonesia sendiri, pembangunan panel surya telah dilakukan lebih dulu pada Juli 2018 bertempat di Jakabaring Sports City, Palembang. SSEJ bermitra dengan Perusahaan Daerah Pertambangan dan Energi untuk menyediakan panel surya yang telah beroperasi sejak 10 April 2018 dan diresmikan pada 30 Juni 2018. Peresmian ini dilakukan oleh Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin bersama perwakilan dari Menteri Energi dan Sumber Daya Alam, perwakilan Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, dan lainnya.

Pabrik panel surya dibangun setelah memenuhi persyaratan dari Joint Credit Mechanism (JCM) Subsidy Program[9]  yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Jepang. Panel surya ini mampu menghasilkan sekitar 1.6 MW-dc dengan kekuatan hingga 1.922 MWh/tahun, yang mana mampu mencegah emisi gas dari Efek Rumah Kaca sebanyak 917 t-CO2 per tahun.

SESJ akan terus berkomitmen dalam memberikan solusi energi yang mampu memenuhi kebutuhan negara-negara di sekitar Asia serta berkontribusi lebih lanjut dalam meluncurkan energi terbarukan. Visi yang sama juga akan dilakukan oleh SHARP Indonesia sebagai anak perusahaan, dengan membangun lebih banyak lagi panel surya sebagai pembangkit tenaga listrik. (rel/ram)

 

Masalah Terbesar Sawit di Kualitas SDM

PLAKAT: Wakil Rektor 1 Unimed Prof. Abdul Hamid (kiri) dan Wakil Dekan 1 FE Unimed Eko Wahyu Nugrahadi menyaksikan Dekan FE Unimed Prof. Indra Maipita (dua kiri) menyerahkan plakat kepada Direktur Esekutif PASPI Tungkot Sipayung, Rabu (26/9).(Foto : Istimewa/Sumut Pos)
PLAKAT: Wakil Rektor 1 Unimed Prof. Abdul Hamid (kiri) dan Wakil Dekan 1 FE Unimed Eko Wahyu Nugrahadi menyaksikan Dekan FE Unimed Prof. Indra Maipita (dua kiri) menyerahkan plakat kepada Direktur Esekutif PASPI Tungkot Sipayung, Rabu (26/9).(Foto : Istimewa/Sumut Pos)

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Direktur Eksekutif PASPI  (Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute) Tungkot Sipayung mengungkapkan, produksi sawit Indonesia saat ini sebagai penyumbang devisa terbesar menghadapi tantangan berat terutama pada kualitas sumber daya manusia.

Hal itu dikatakannya dalam kuliah umum yang digelar Fakultas Ekononi Universitas Negeri Medan (FE Unimed) bekerja sama dengan PASPI di Digital Library Unimed, Rabu (27/9) dengan tema Perkembangan Mutakhir Industri Minyak Sawit Indonesia dan Pentingnya Dukungan Pendidikan Sumber Daya Manusia dan Masyarakat.

Acara yang dibuka Wakil Rektor I Unimed Prof Abdul Hamid itu dimoderatori Dekan FE Unimed Prof Indra Maipita. Hadir juga di situ Wakil Rektor III Unimed Prof Sahat Siagian, Wakil Rektor IV Prof Manihar Situmorang, Wakil Dekan I FE Unimed Eko Wahyu Nugrahadi, Wakil Dekan II La Ane dan Wakil Dekan III Johnson serta para fungsionaris fakultas.

Tungkot Sipayung mengatakan dulu sebenarnya Indonesia sukses mengelola beberapa komoditi utama seperti gula tebu, karet serta tembakau. “Namun sekarang semua hilang. Sekarang kita punya satu komoditas utama yang merajai dunia. Yaitu minyak sawit karena sejak 2006 kita sudah leading. Dan 2017 sawit kita menyumbang 58 persen pada pasar dunia,” ujarnya.

Apalagi pada 2017 komoditas ini menyumbang devisa sampai 23 miliar dolar. “Tapi kita khawatir lama-lama industri ini hilang juga. Atau dikuasai asing. Kenapa? Karena SDM perkebunan sawit sangat rendah,” imbuh Sipayung.

Menurutnya, dari 17 juta tenaga kerja yang ada di sektor kelapa sawit ternyata 90 persen pendidikannya sarjana ke bawah. “Kita sedang berupaya mengejar produksi dari 2 ton per hektar ke 4 ton per hektare menjadi 6 ton dan kemudian 8 ton per hektare. Bagaimana bisa kalau kualitas SDM rendah,” urainya.

Kemudian dia menjelaskan, produksi sawit ini bukan untuk minyak goreng tapi sudah dikemas dalam oleo food, oleo kimia dan biofuel (bahan bakar). “Di sektor energi, kandungan solar yang dijual di SPBU sudah mengandung minyak sawit 20 persen,” jelasnya.

Tungkot Sipayung mengatakan Indonesia berpeluang menguasai industri ini tapi dibutuhkan SDM yang memadai. “Kita butuh orang yang mampu dalam leadership, bekerja dalam team work, punya karakter dan etos kerja. Industri sawit sekarang membutuhkannya. Kalau punya itu, saya yakin dunia pun kita kuasai,” jelasnya.

Sebab selama ini para pelaku industri sawit hanya fokus pada pengembangan skala teknis, lahan, produksi, serta menggenjot nilai ekonomisnya. “Pelatihan kita di mana-mana pun 90 persen muatannya soal teknis. Padahal untuk menguatkan pasar ke luar negeri kita butuh orang berkarakter, punya leadership mampu bekerja sama dalam tim,” tuturnya.

Tanpa itu, Sipayung tidak yakin sawit yang terus dikampanyekan negatif di Eropa dan Amerika akan bertahan. “Sebab Amerika sebagai penghasil minyak kedelai sudah kita kalahkan. Mereka tak akan tenang jika sawit menguasai dunia. Akan ada saja isu termasuk soal lingkungan yang terus dibesarkan. Termasuklah katanya sawit boros air dan tidak ramah lingkungan. Padahal dari penelitian, tanaman yang boros air itu padi,” ungkapnya.

Sementara itu Prof Abdul Hamid, mewakili Rektor Prof Syawal Gultom, menyambut baik kehadiran PASPI. “Saya kira FE Unimed ini sudah sangat tepat menggelar tema kuliah umum tersebut. Karena sekali lagi jadi bukti, kita semakin mendekatkan diri dengan industri. Kita ingin belajar langsung ke pelakunya,” kata dia.

Apalagi, menurut Prof Abdul Hamid, Sumut merupakan salah satu penghasil sawit terbesar setelah Riau. “Unimed ingin mengetahui dan belajar bagaimana agar sawit ini dimaksimalkan untuk pembangunan. Tentu saja juga terbuka peluang kerjasama melakukan riset dan penelitian,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Dekan FE Unimed Prof Indra Maipita. “Kita akan turut berpartisipasi meningkatkan kualitas SDM industri sawit. Sebab sebagai character building university, tentu saja kampus ini menyediakan lulusan berkarakter dan setidaknya menyokong kebutuhan industri kepala sawit,” ujarnya.

Indra Maipita menambahkan dukungan terhadap kualitas SDM dalam industri sawit dan industri lain akan datang dari perguruan tinggi. “Apalagi kuliah umum ini rutin kita lakukan setiap semester dengan mengundang pelaku usaha. Tujuannya untuk menjembatani dan mensinkronkan kebutuhan industri dengan lulusan perguruan tinggi,” katanya.

Di ujung sesi acara, Indra Maipita dan Tungkot Sipayung menyerahkan buku berjudul Mitos VS Fakta Industri Minyak Sawit Indonesia kepada Digital Library Unimed, dosen, dan mahasiswa. (rel)/ila/azw

 

 

 

Generasi Milenial Harus Cinta Bahasa Indonesia

SERIUS: Kepala Balai Bahasa Sumut Dr Fairul Zabadi (kiri) serius memperhatikan peserta lomba debat bahasa Indonesia, dalam kegiatan Pekan Bahasa dan Sastra 2018, Rabu (26/9).(Foto : Bagus Syahputra/Sumut Pos)
SERIUS: Kepala Balai Bahasa Sumut Dr Fairul Zabadi (kiri) serius memperhatikan peserta lomba debat bahasa Indonesia, dalam kegiatan Pekan Bahasa dan Sastra 2018, Rabu (26/9).(Foto : Bagus Syahputra/Sumut Pos)

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Balai Bahasa Sumatera Utara (Sumut) kembali menggelar Pekan Bahasa dan Sastra 2018. Ajang kegiatan yang menyambut Bulan Bahasa dan Sastra ini, diadakan berbagai perlombaan kreativitas para pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum, yang digelar 26-27 September 2018.

Kepala Balai Bahasa Sumut Dr Fairul Zabadi mengungkapkan, adapun perlombaan yang diadakan antara lain, berdendang tradisi lisan untuk umum, berbalas pantun untuk siswa SMA/SMK sederajat, cerdas cermat bahasa Indonesia untuk SMP sederajat, debat bahasa Indonesia untuk mahasiswa, mendongeng bagi guru PAUD/TK/RA dan reportase untuk masyarakat umum.

“Peserta yang mendaftar ada dari 15 kabupaten/kota di Sumut, jumlahnya diperkirakan mencapai seribu orang lebih,” kata Fairul di sela-sela kegiatan, Rabu (26/9).

Ia mengaku, animo peserta yang mendaftar pada tahun ini sangat tinggi. Sebab, dari kuota yang disediakan hanya 30-40 ternyata pendaftar mencapai 50 calon peserta. “Panitia terpaksa melakukan seleksi kepada para calon peserta yang mendaftarkan karena kuota yang tersedia tidak mencukupi. Calon peserta yang terbaik tentu lolos menjadi peserta,” tuturnya.

Menurut Fairul, dengan adanya kegiatan ini diharapkan akan muncul generasi muda yang menjaga nilai keutuhan bahasa dan sastra di Sumatera Utara. Hal ini sesuai dengan slogan yang telah dibuat yaitu, utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah dan kuasai bahasa asing.

“Siapapun dan tidak pandang bulu harus mengutamakan Bahasa Indonesia. Kemudian, melestarikan bahasa daerah sebagai ciri budaya yang harus dipertahankan dan mau tidak mau harus kita jaga bersama. Kuasai bahasa asing menjadi keharusan agar tidak tertinggal dengan dunia luar,” imbuhnya.

Sementara, Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Kemendikbud Prof Ghufran Ali Ibrahim mengatakan, Pekan Bahasa dan Satra yang digelar Balai Bahasa Sumut ini menjadi bagian penting bagi program pihaknya. Tujuannya, tak lain untuk memartabatkan bahasa Indonesia melalui pengembangan atau kreativitas karya-karya sastra.

“Kegiatan ini menjadi bagian untuk memastikan selapis generasi milenial agar lebih mencintai bahasa Indonesia, sebagai bahasa nasional yang merekatkan kebhinekaan. Selain itu, menanamkan keluhuran budi pekerti lewat karya dan apresiasi sastra,” kata Ghufran yang ikut hadir.

Ia menambahkan, melalui kegiatan ini juga sebagai upaya mendorong pendidikan karakter anak bangsa. Dengan begitu, akan tumbuh generasi penerus yang diharapkan memiliki nilai-nilai kebaikan.(gus/azw)

 

 

TCASH Tawarkan Kemudahan Transaksi Non-tunai di Bioskop CGV

Salah satu pelanggan sedang menikmati kemudahan transaksi Non – Tunai menggunakan TCASH di CGV. Selain memberikan kemudahan, ia juga mendapatkan gratis 1 Tiket setiap pembelian menggunakan TCASH dari Telkomsel.
Salah satu pelanggan sedang menikmati kemudahan transaksi Non – Tunai menggunakan TCASH di CGV. Selain memberikan kemudahan, ia juga mendapatkan gratis 1 Tiket setiap pembelian menggunakan TCASH dari Telkomsel.

MEDAN,SUMUTPOS.CO – 26 September 2018 – Setelah sukses menghadirkan beragam layanan pembayaran ritel; serta pembayaran taksi Blue Bird, TCASH kembali memperluas layanannya di area rekreasi dan hiburan, melalui kerja sama dengan CGV Cinemas Indonesia. Sejak Mei lalu, seluruh pelanggan TCASH di Medan dapat menggunakan TCASH untuk membeli tiket film di CGV Focal Point.

Selain lebih aman, nyaman, dan cepat, TCASH pun memberikan tambahan keuntungan bagi pelanggan di Medan yang gemar menonton film di bioskop CGV, melalui promo Buy 1 Get 1 Free, untuk pembelian tiket regular film apapun menggunakan metode TCASH Tap di seluruh CGV di Indonesia, hingga 30 September 2018.

General Manager Sales Regional Sumbagut, Agus Sumirat mengatakan, “Kehadiran TCASH sebagai salah satu alat transaksi non-tunai di jaringan bioskop CGV Cinemas Indonesia menegaskan komitmen kami untuk secara konsisten membangun ekosistem digital yang menyeluruh bagi masyarakat, guna menanamkan gaya hidup non-tunai. Melihat tingginya minat masyarakat di Medan untuk menonton film di bioskop, kami optimis program yang kami hadirkan ini dapat menambah kenyamanan bagi masyarakat dalam mendapatkan hiburan yang berkualitas.”

Untuk membeli tiket bioskop secara non-tunai menggunakan TCASH, masyarakat di Medan cukup memanfaatkan fitur TCASH Tap, baik melalui stiker near-field communication (NFC) yang dilekatkan pada belakang ponsel, maupun fitur phone NFC yang tersedia pada beberapa tipe ponsel Android. Kemudian dapat melakukan “Tap” pada mesin EDC yang tersedia di konter pembelian tiket film di CGV.

Selain pembayaran merchant, beragam layanan utama TCASH lainnya pun telah dimanfaatkan pelanggan di Medan dalam kehidupan sehari-hari, seperti untuk pembayaran tagihan (listrik, air, BPJS, internet); pembelian pulsa/data; pengiriman dana; pembelanjaan online (seperti: voucher game, toko online); serta transportasi. Informasi lainnya mengenai TCASH dapat diakses melalui website www.tcash.id.

***

Hari Ini, Kloter Terakhir Tiba

Info haji
Info haji

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Jamaah Kelompok Terbang (Kloter) 22/MES yang merupakan kloter terakhir, dijadwalkan tiba di bandara Kualanamu hari ini, Rabu (26/9) pukul 11.15 WIB. Kloter yang berjumlah 211 jamaah plus 5 petugas tersebut, bertolak dari bandara Madina, Arab Saudi, pada Selasa (25/9) sekira pukul 21.10 WAS.

“Besok (hari ini), Kloter 22 yang merupakan kloter terakhir tiba di Tanah Air,” ujar Koordinator Humas, PPIH Debarkasi Medan, Imam Mukhair kepada Sumut Pos, Selasa (25/9).

Menurut Imam, tidak ada penyambutan khusus yang diberikan kepada jamaah kloter terakhir ini. “Tidak ada penyambutan khusus, semua penyambutan seperti biasa yang dilakukan pada kloter-kloter sebelumnya,” katanya.

Imam menyebutkan, jamaah dari Padanglawas merupakan jamaah terbanyak dari kloter ini. Hampir keseluruhan didomiasi oleh jamaah asal Palas dan daerah lainnya. “Paling banyak dari Palas, kalau daerah lain tidak terlalu banyak,” katanya.

Namun, kata Imam, karena awalnya kloter 22 ini tergabung dengan jamaah asal Aceh, saat kepulangan jamaah ini kembali tergabung dengan jamaah Aceh. “Kloter 22 gabung dengan jamaah asal Aceh. Nanti begitu transit di Bandara Kualanamu, pesawat langsung mengantar jamaah ke Aceh,” urainya.

Selain itu, katanya, usai berakhirnya musim haji ini, tugas PPIH Debarkasi Medan, selesai sudah. “Untuk musim haji 2018 dengan kembalinya kloter terakhir, maka berakhir juga tugas dari PPIH,” pungkas Imam. (man)