Home Blog Page 5925

Perbankan Primadona Penyedia Modal Usaha

BAGUS SYAHPUTRA/Sumut Pos Kepala Kantor OJK Regional 5 Sumbagut, Lukdir Gultom.
BAGUS SYAHPUTRA/Sumut Pos
Kepala Kantor OJK Regional 5 Sumbagut, Lukdir Gultom.

MEDAN,SUMUTPOS.CO – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan sektor perbankan masih menjadi primadona masyarakat Sumut dalam rangka penyediaan modal usaha. Dengan itu, perbankan memiliki peran untuk mendorong untuk pertumbuhan pelaku usaha, baik UMKM dan UKM.

“Publikasi BPS Provinsi Sumut, ekonomi Sumatera Utara Semester I 2018 tumbuh 5,02%. Bila dibandingkan dengan posisi triwulan I 2018, ekonomi Sumatera Utara telah tumbuh 2,18%,” kata Kepala Kantor OJK Regional 5 Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), Lukdir Gultom di Kantor OJK di Medan, Rabu (19/9).

Lukdir menjelaskan untuk Semester I 2018, tiga pertumbuhan tertinggi berasal dari sektor Lapangan Usaha Jasa Pendidikan 8,94%, Informasi Komunikasi (8,29%), dan jasa perusahaan 8,01%. Dengan ini, Secara historis, ekonomi Sumut cenderung didominasi oleh Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 21,09%, Industri Pengolahan 20,28%, serta Perdagangan besar, eceran, reparasi sepeda motor 18,36%.

“Bila diamati dari berbagai sektor, kontribusi sektor Jasa Keuangan masih perlu diperbesar lagi karena hingga Semester I 2018 baru menempati urutan ke-8 dari 16 jenis lapangan usaha yang berkontribusi,” jelas Lukdir.

Dari sisi keuangan, Lukdir menjelaskan aset perbankan terus menunjukkan pertumbuhan positif dengan tren meningkat secara YoY. Aset perbankan di Sumut meningkat 7,17% (YoY) atau 4,15% (Ytd) sehingga secara keseluruhan share perbankan Sumut terhadap total aset perbankan nasional sebesar 3,04%.

“Tentunya, hasil ini merupakan sinergi positif komponen penyaluran dana Kredit/Pembiayaan sebesar ?Rp210.231 miliar (YoY tumbuh 9,26% atau 3,05% Ytd) dan kegiatan penghimpunan dana sebesar Rp224.741 miliar (YoY tumbuh 5,46% atau 3,11% Ytd),” sebut Lukdir.

Berdasarkan kondisi ini maka secara Ytd, pencapaian Sumut sebenarnya lebih tinggi dari capaian nasional untuk sementara ini. Sedangkan, untuk kegiatan penghimpunan dana mengingat nasional hanya mampu tumbuh 1,77%. Namun demikian, penyaluran Kredit/Pembiayaan masih menjadi Pekerjaan Rumah yang masih perlu ditingkatkan penetrasinya di tahun 2018.

“Meskipun secara YoY sudah melampaui target yang diharapkan (9%), tetapi posisinya masih di bawah rata-rata nasional (sementara) yang mampu melesat ke angka 11,59% (YoY) dan 5,27% (Ytd). Secara keseluruhan, kontribusi perkreditan perbankan di Sumut terhadap nasional per Juli 2018 baru sebesar 4,18%. Demikian pula halnya share realisasi penghimpunan dana yang baru sebesar 4,18%,” jelasnya.

Komponen kinerja intermediasi perbankan di Sumut juga masih relatif baik dengan LDR 93,87% konvensional dan 88,04% syariah. Ia menilai pelaksanaan peran ini diikuti dengan tatakelola perkreditan yang semakin baik sebagaimana tercermin dari NPL rata-rata masing-sebesar 2,85%.

“Secara keseluruhan, sasaran kredit/pembiayaan terbesar masih ditujukan pada sektor Pertanian, Industri Pengolahan, dan Perdagangan Besar/Eceran,” ungkap Lukdir.

Peran IKNB dalam penyediaan modal kerja di Sumut juga tidak kalah pentingnya, khususnya oleh Perusahaan Pembiayaan melalui penyediaan aset kenderaan bermotor. Hingga Juli 2018, total piutang pembiayaan yang berhasil disalurkan mencapai Rp16.406.934 juta atau tumbuh 8,70%.

“Dengan tatakelola pembiayaan relatif baik sebagaimana tercermin dari NPF: 2,62%.

Penyediaan peluang modal usaha melalui akses pasar modal juga sama baiknya. Sumut termasuk salah satu primadona pengembangan sektor pasar modal,” tutur Lukdir.

Ia menyebutkan hal ini tercermin dari beberapa data yang menunjukkan kinerja Sumut di atas rata-rata nasional, antara lain, ?SID saham sebanyak 32.008 atau secara YoY tumbuh 28%, atau masih lebih tinggi dari ratarata nasional 22% (saham).

Sementara itu, ?meskipun lebih rendah, pertumbuhan SID Reksadana Sumut (YoY: 57%) tidak terpaut jauh dibandingkan dengan nasional (YoY: 60%). Pertumbuhan kepemilikan saham di Sumut (YoY) mencapai 24% di saat nasional hanya tumbuh 18%. Hal ini juga berkorelasi dengan transaksi saham yang tumbuh 94% atau lebih tinggi dari rata-rata nasional 44%, meskipun demikian porsinya masih 2,75%. Secara keseluruhan Sumut memiliki 7 emiten, dimana sudah ada tambahan 4 emiten. (gus/ram)

Kajari Binjai Geledah Kantor Disdik

Teddy Akbari/Sumut Pos GELEDAH: Kajari Binjai Victor Antonius Saragih Sidabutar (dua dari kanan) memimpin langsung penggeledahan di Kantor Dinas Pendidikan Binjai. Penggeledahan disaksikan Plt Kadisdik Indriyani (kanan).
Teddy Akbari/Sumut Pos
GELEDAH: Kajari Binjai Victor Antonius Saragih Sidabutar (dua dari kanan) memimpin langsung penggeledahan di Kantor Dinas Pendidikan Binjai. Penggeledahan disaksikan Plt Kadisdik Indriyani (kanan).

BINJAI,SUMUTPOS.CO – Penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Kota Binjai menggeledah Kantor Dinas Pendidikan (Disdik) di Jalan Gunung Merapi, Kelurahan Binjai Estate, Binjai Selatan, Senin (24/9) pukul 17.00 WIB. Penggeledahan dilakukan untuk mendapatkan dokumen pengadaan alat peraga sekolah dasar (SD) tahun anggaran 2011. Sebab, kasus itu saat ini tengah dalam tahap penyidikan perkara dugaan korupsi.

“PENGGELEDAHAN ini dilakukan setelah mengantongi izin dari Pengadilan Tipikor Medan,” jelas Kajari Binjai, Victor Antonius Saragih Sidabutar didampingi Kasi Pidsus Asepte Gaulle Ginting, Senin (24/9).

Kajari turun langsung melakukan penggeledahan. Menurut dia, penyidik terkendala keinginannya mendapatkan dokumen dari ketiga tersangka. Akibatnya, penggeledahan tersebut dilakukan.

“Selama ini (dokumen) tidak dapat dihadirkan Dinas Pendidikan Kota Binjai. Makanya dilakukan penggeledahan. Sasaran (penggeledahan) ini untuk memperoleh dokumen yang berkaitan dengan pengadaan itu (alat peraga),” ujar mantan Kasubdit Tipikor Jampidsus Kejagung ini.

Dia sedikit menguraikan beberapa dokumen yang ingin diincar tim penyidik.

Masing-masing, dokumen pelelangan, dokumen peserta tender hingga segala sesuatu yang dibuat panitia pengadaan atau dokumen yang berkaitan dengan panitia pengadaan.

“Dinas Pendidikan tidak dapat memberikan dokumen yang dibutuhkan penyidik. Untuk itu diputuskan penggeledahan,” ujarnya.

Sebelum penggeledahan ini, sambung Kajari, penyidik sudah melakukan pengecekan terhadap 4 titik alamat perusahaan yang menjadi peserta pelelangan pengadaan alat peraga tersebut.

Keempat alamat itu masing-masing ada di Asahan, Padangsidempuan, kawasan Medan Kota dan Jalan Darussalam, Medan Petisah.

“Sebelum sini (Kantor Disdik Binjai), kami sudah cek beberapa alamat si calon peserta. Dari 4 lokasi, satu yang ada. Tiga lainnya tidak ada alamatnya. Kami sudah turunkan tim ke Asahan, tidak ada alamatnya. Sidempuan juga tidak ditemukan dan ketiga Medan Kota. Tidak ada alamat nama CV di Medan Kota berdasarkan keterangan dari kepling dan camat,” ujarnya sembari bilang, perusahaan pemenang tender yang asli itu beralamat di Jalan Darussalam, Medan Petisah.

Saat penggeledahan berlangsung, ada tiga ruangan yang digeledah penyidik. Ketiganya masing-masing, ruangan Sarana/Prasarana Disdik Binjai, mushola yang dijadikan gudang penyimpanan berkas dan salah satu ruang kelas di Sekolah Dasar Negeri 020584, Jalan Gunung Merapi, Kelurahan Binjai Estate, Binjai Selatan. Persisnya di belakang Kantor Disdik Binjai.

Di ruangan salah satu kelas SDN 020584 ini, penyidik sempat kewalahan. Sebab, ruang kelas yang dijadikan gudang ini dikunci. Alhasil, penyidik meminta pegawai Disdik membuka gembok itu dengan cara dihancurkan.

Usai berhasil membukanya, penyidik mengeledahnya dengan keadaan ruang gelap. Alhasil, lampu penerangan dari telepon genggam masing-masing penyidik digunakan untuk menerangi agar mendapati dokumen yang dibutuhkan.

Sebuah koper besar warna oranye diseret penyidik Pidsus Kejari Binjai untuk memboyong dokumen penting yang berkaitan dengan penyidikan. Kajari juga sempat bingung saat melakukan penggeledahan di ruang Sarana dan Prasarana Disdik Binjai.

“Dokumen lainnya yang ditemukan. Saya bingung, kenapa belum bisa ketemu. Tahun 2011 yang ditemukan dokumen berkaitan dengan fisik. Bukan (berkaitan dengan) pengadaan alat peraga,” ujar mantan Kajari Kualatungkal ini.

Apakah penggeledahan ini dapat memunculkan nama baru atau meningkatkan status terperiksa menjadi tersangka? Kajari belum mau menanggapinya.

“Itu nanti dulu. Tambah panjang deretannya. Yang pasti perkara ini diselesaikan tahun 2018 ini juga. Dua bulan kedepan, dilimpahkan (ke PN Tipikor Medan),” tukas Kajari.

Sementara, Plt Kadisdik Kota Binjai, Indriyani tampak mendampingi penggeledahan yang dilakukan penyidik Pidsus Kejari. Indriyani mengaku, tidak tahu sebelumnya jika ada kedatangan penyidik Pidsus Kejari Binjai untuk melakukan penggeledahan.

“Saya ditelpon anggota (baru tau). Saya mau ke Medan, karena sudah (jam) pulangkan,” ujarnya.

Menurut dia, Gedung Disdik Binjai dua kali dilakukan rehabilitasi. Akibatnya, sejumlah berkas-berkas tahun-tahun sebelumnya pun berpindah-pindah.

“Saya tidak tahu (soal pengadaan alat peraga). Belum saya disini,” ujar mantan Kabid Program Disdik Binjai.

Alasan berkas disimpan di mushola, kata Indriyani, karena Gedung Disdik Binjai yang sudah dua kali rehab itu belum memiliki gudang penyimpang.

Ketepatan juga, sambung Indriyani, mushola pada Gedung Disdik Binjai tidak banyak jemaatnya.

“Sudah lama (mushola dijadikan gudang penyimpanan berkas),” ujarnya.

Di SDN 020584, Indriyani terus mendampingi penyidik Pidsus Kejari Binjai. Menurut Indriyani, gedung SDN 020584 itu ada dua sekolah dipakai. Namun belakangan, tinggal satu sekolah saja yang dipakai.

“Jadi dipakai untuk aula Disdik dan satu lagi untuk gudang. Yang pegang kunci, enggak bisa ditelpon,” tandasnya.

Diketahui, penyidik Kejari Binjai menetapkan tiga tersangka dalam perkara dugaan korupsi pengadaan alat peraga sekolah dasar yang sumber anggarannya dari Dana Alokasi Khusus dengan pagu senilai Rp 1,2 miliar.

Pengadaan tersebut dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Binjai. Modus korupsi yang dilakukan tersangka dengan cara menggelembungkan harga atau mark-up hingga pengadaannya fiktif.

Ketiga tersangka masing-masing, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kota Binjai yang pernah menjabat Pelaksana Harian Kepala Dinas Pendidikan merangkap Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Binjai, Ismail Ginting.

Kemudian, Bagus Bangun selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan rekanan pelaksana pengadaan barang Direktur CV Aida Cahaya Lestari, Dodi Asmara.

Mereka ditetapkan tersangka oleh penyidik pada 28 Maret 2018. Dalam proses penyelidikannya, puluhan kepala sekolah juga sudah diperiksa sebagai saksi. Direktur CV Aida Cahaya Lestari yang DPO Kejari Binjai sudah ditangkap dan kini dititipkan ke Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Binjai.(ted/ala)

Lima Siswa SMPN 7 Binjai Nyaris Diculik

CCTV: Rekaman CCTV di BSM lima anak dibawah umur nyaris jadi korban penculikan.
CCTV: Rekaman CCTV di BSM lima anak dibawah umur nyaris jadi korban penculikan.

BINJAI,SUMUTPOS.CO – Lima siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 7 Binjai nyaris menjadi korban penculikan, Jumat (21/9) lalu. Atas kejadian tersebut, Puspa Sari Nur Harahap bersama anaknya Dio Revaldo yang menjadi korban percobaan penculikan melapor ke Mapolres Binjai, Senin (24/9) pukul 11.50 WIB. Laporan korban diterima dengan nomor 570/IX/2018/SPKT-A/Res Binjai.

“Awalnya berlima ini janjian mau ke mall (Binjai Supermall). Semuanya satu kampung, karena janjian memang mau ke BSM. Empat anak kelas 8 dan seorang lagi anak kelas 9,” jelas warga Jalan Gunung Rinjani, Lingkungan III, Kelurahan Binjai Estate, Binjai Selatan Puspa di Gedung Satreskrim Polres Binjai.

Sesampai di BSM, rombongan anak-anak di bawah umur ini menuju arena permainan. Saat ketiga kawan Dio main Trampolin, dua lainnya berada di luar arena.

“Dio dan Rizky di luar. Tak lama kemudian, Dio didatangi seorang pria bertubuh tidak begitu tinggi. Warna kulitnya putih, kayak orang Thailand gitu. Matanya merah, juling. Sepatunya orange,” ujar Puspa yang diamini Dio.

Pria tak dikenal itu langsung merangkul Dio dan Rizky. Menurut Puspa berdasarkan pengakuan Dio, orang tak dikenal (OTK) itu langsung menepuk bagian pundaknya sembari merangkul.

Terjadi komunikasi antara OTK dan Dio serta Rizky. OTK itu, kata Puspa, menawarkan Dio dan kawan-kawan untuk bermain futsal dengan bertanding ke Medan.

“Abang lagi cari tim. Abangnya abang mau jumpa kalian di Medan. Kita bisa latihan sekarang,” ucap Dio menirukan ucapan OTK tersebut.

Alhasil, Dio dan kawan-kawan serta OTK itu berangkat ke Medan melalui Stasiun Kereta Api Binjai. Menurut Puspa, Tito temannya Dio yang bayar ongkos kereta api untuk OTK itu ke Medan.

“Karena sampai di Medan, nanti diganti. Sampai di Medan, diajak salat kami,” timpal Dio.

Belum lagi usai melakukan wawancara, Ps Kanit PPA Polres Binjai, Aiptu Irene Tarigan melarang korban untuk memberikan keterangan.

“Woi.. Kalian darimana?, jangan dulu,” cetus Irene.

“Ngapain pula-pula kalian tanya-tanya dulu. Sini-sini bu (korban), kemari dulu. Masuk dulu,” ketus Irene mengajak korban masuk ke Ruang Unit PPA Polres Binjai sembari menutup pintu.

Informasi diperoleh, Wali Kota Binjai HM Idaham didampingi Plt Kadis Pendidikan Indriani dan Kepala SMPN 7 mendatangi BSM, Sabtu (22/9). Tujuan mereka ke BSM untuk melihat rekaman CCTV.

Di Medan, dua anak diajak OTK tersebut pergi ke Centre Point dengan janji untuk berbelanja. Karena ketiga pelajar menunggu di mesjid samping Mapolsek Medan Timur terlalu lama, mereka mendatangi Polsek tersebut.

Mendapat laporan itu, polisi bersama ketiga anak-anak itu langsung ke Centre Point untuk mencari teman mereka yang diajak berbelanja oleh OTK tersebut. Singkat cerita, anak-anak yang nyaris jadi korban penculikan anak itu sudah kembali ke orangtuanya masing-masing pada Minggu (23/9) pukul 22.00 WIB.

Sementara, Ps Kasubbag Humas Polres Binjai, Iptu Siswanto Ginting membenarkan adanya laporan tersebut. Bahkan, dia juga mengarahkan wartawan untuk ke Gedung Satreskrim Polres Binjai agar mendapat keterangan dari korban langsung.

Sayangnya, arahan dari Siswanto mendapat sikap ketus dari Irene.

“Tadi kudengar sekilas info, dua orang yang dibawa ke Center Point (setelah sholat di mesjid) tersadar. Kemudian mereka lari mengadu ke Polsek Binjai Timur. Yang kudengar orangnya (OTK) pakai masker. Salah satu hp milik korban dicuri. Saya enggak tahu namanya siapa (korban yang dicuri hp-nya),” tandas Siswanto. (ted/ala)

KPK Diminta Telusuri Transaksional Aset Negara

MEDAN,SUMUTPOS.CO – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Pusat Penelusuran Aliran Transaksi Keuangan (PPATK) diminta menelusuri aliran dana dari transaksi kasus penjualan lahan HGU PTPN II. Kuat dugaan, lahan yang terletak di Jalan Pancing Medan itu dijual oleh beberapa pemegang saham PT PSP.

“KPK bisa melakukan supervisi atas kasus yang sedang ditangani kejaksaan bila kasus ini menyangkut dugaan pencucian uang. Kasus hukum dari dugaan transaksional penjualan aset negara ini, tidak bisa berhenti begitu saja,” ujar Koordinator Masyarakat Anti Korupsi (Marak), Agus Yohanes, Senin (24/9).

“Meski orang bersangkutan seperti HH dan SH (pemegang saham nomine) di PT PSP, mengikuti program tax amnesty,” sambungnya.

Agus menegaskan, pengampunan pajak yang merupakan bagian dari program pemerintah tersebut, bukan serta merta bisa dimanfaatkan oleh pelaku pencucian uang dari kasus kejahatan yang sudah dilakukan.

Tax amnesty justru bukan untuk melegalkan kasus pencucian hukum agar tidak bisa dijerat pidana, apalagi penjualan aset negara.

“Bila ada orang yang beranggapan bahwa pelaku dalam penjualan lahan negara tidak bisa diproses hukum karena sudah mengikuti tax amnesty, itu merupakan kesalahan besar. Tidak ada alasan untuk menghentikan perkara tersebut. Namun, kita masih berkeyakinan bahwa kejaksaan masih profesional dan melakukan pendalaman dari kasus penjualan lahan negara yang sedang ditangani itu,” katanya.

“Sebagian dari masyarakat mungkin belum mengetahui, bahwa program tax amnesty itu bukan untuk menutupi kejahatan. Untuk kasus pencucian uang dari penjualan aset negara tersebut, ada baiknya ditangani langsung oleh lembaga antikorupsi. Sehingga, penanganan kasusnya tidak memakan waktu yang lama,” ungkapnya.

Informasi diperoleh, HH yang merupakan salah satu pemegang saham nomine di PT PSP, sudah menjalani pemeriksaan di gedung Kejaksaan Tinggi Sumut, Jumat (21/9) lalu.

Namun, SH yang juga merupakan pemegang saham nomine di perusahaan tersebut, belum memenuhi surat panggilan kedua oleh kejaksaan.

“Kejati Sumut bisa melakukan upaya paksa jika SH tidak memenuhi panggilan kedua. Upaya paksa ini bisa dilakukan kejaksaan bila orang bersangkutan tidak memberikan alasan tidak bisa hadir,” kata Agus.

Beredar kabar, SH sedang berada di Australia. Belum diketahui, SH pergi ke luar negeri setelah kasus ini muncul atau belum.

“Tidak hadir di panggilan kedua maka itikad baiknya dalam menghormati hukum sangat patut dipertanyakan,” tegas Agus.

Sebelumnya, Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati Sumut, Sumanggar Siagian mengaku, kejaksaan masih melakukan pengumpulan bahan dan keterangan (Pulbaket) dari kasus dugaan penjualan aset negara tersebut. Namun, Sumanggar mengaku belum memonitor perkembangan dari penanganan kasus itu.

Seperti yang diketahui, beberapa petinggi PT PSP diperiksa penyidik kejaksan tinggi. Kasus ini berawal dari jual-beli lahan seluas sekitar 3,3 hektare (Ha) di Desa Sampali. Tidak jauh dari Rumah Sakit Haji Medan.

Penjualan lahan dengan nilai Rp40 Miliar di tahun 2016 itu, mengandalkan surat tanah dari kecamatan. Lahan itu ternyata milik dari PTPN II yang masa hak guna usaha (HGU) berakhir di tahun 2023.(azw/ala)

Kecewa Sikap Aparat, Ratusan Mahasiswa Unjukrasa

DEMO: Ratusan mahasiswa menggelar aksi unjukrasa di depan gedung DPRD Sumut Jalan Imam Bonjol Medan, Senin (24/9). Massa menuntut agar DPRD mendesak Kapolda Sumut agar mengambil tindakan tegas terhadap anggota kepolisian yang bersikap refresif kepada mahasiswa yang menggelar aksi baru-baru ini.
DEMO: Ratusan mahasiswa menggelar aksi unjukrasa di depan gedung DPRD Sumut Jalan Imam Bonjol Medan, Senin (24/9). Massa menuntut agar DPRD mendesak Kapolda Sumut agar mengambil tindakan tegas terhadap anggota kepolisian yang bersikap refresif kepada mahasiswa yang menggelar aksi baru-baru ini.

MEDAN,SUMUTPOS.CO – Ratusan mahasiswa dari beberapa universitas menggelar unjukrasa di depan Gedung DPRD Sumut, Senin (24/9). Mereka mengungkapkan kekecewaan dan rasa prihatin atas sikap aparat keamanan dalam menegakkan hukum di lapangan.

Para mahasiswa menilai netralitas aparat sangat jauh dari memuaskan. Sebab banyak dugaan tindakan persekusi dilakukan kepada sejumlah oknum yang mendeklarasikan tagar #2019GantiPresiden, terhadap ulama yang berdakwah.

“Terbaru, adanya tindakan kekerasan yang dilakukan oknum yang mengatasnamakan kubu pendukung Joko Widodo terhadap demonstran yang meminta Joko Widodo mundur, di Gedung DPRD Sumatera Utara. Karenanya kita minta agar DPRD Sumut memanggil Kapolda Sumut,” kata Presiden Mahasiswa UINSU M. Azhari Marpaung, dalam pernyataan sikapnya.

Menurutnya, hal yang terjadi itu sangat miris dan terkesan bahwa demokrasi hanya dagangan jelang kontestasi politik. Sebab kebebasan berpendapat yang diatur Undang-undang seperti hanya menjadi naskah semata.”Salahkah bila mahasiswa turun aksi menanyakan kepemimpinan pak Joko Widodo sebagai Presiden Indonesia? Apakah sistem pemerintahan seperti yang kita inginkan?” tanyanya lagi.

Selain itu, katanya mewakili Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (DEMA UINSU) juga menilai Pemerintahan saat ini mematikan demokrasi dengan taktik Proxy War, yaitu dengan cara membenturkan pihak yang ingin mempertanyakan pengelolaan negara ini dengan mereka yang pro rezim.

Mereka juga menilai pemerintahan sekarang cenderung anti kritik dan tutup mata dengan persoalan yang terjadi di masyarakat.

“Lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, mahalnya bahan pakan dan semakin banyaknya hutang negara menandakan salahnya pengelolaan negara ini. Kegaduhan antar Para Pejabat Teras di Negara ini menandakan lemahnya jiwa kepemimpinan Joko Widodo sebagai Presiden,” ungkapnya.

Begitu juga kepada Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Polisi Tito Karnavian bertindak netral dalam penegakan hukum serta tidak terlibat dalam politik taktis dan praktis dalam melindungi kelompok tertentu. “Terutama saat anak bangsa mempertanyakan kepemimpinan bangsa ini, sebab, tindakan represif yang dilakukan terhadap demonstran sangat sangat kita kecewakan,” ungkapnya.

Menurutnya, UU Nomor 2 Tahun 2002 melarang Kepolisian terlibat politik taktis, begitu juga tindak represif yang dilakukan aparat Kepolisian terhadap demonstran. Kemudian mereka meminta agar Kapolri mengusut tuntas semua tindakan persekusi yang ada. “Kita minta DPRD Sumut memanggil Kapoldasu yang melakukan tindakan represif kepada mahasiswa yang melakukan unjukrasa,” tegasnya.

Aksi unjukrasa diterima oleh Ketua Komisi A DPRD Sumut HM. Nezar Djoeli dan Wakil Ketua Komisi A DPRD Sumut Muhri Fauzi. Mereka berjanji akan memanggil Kapolda Sumut dan lainnya terkait tindakan represif polisi saat mengamankan aksi demo mahasiswa di DPRD Sumut, beberapa waktu lalu. Mereka juga menyarankan mahasiswa menyampaikan aspirasi ke Pemprov Sumut, sebagai wakil pemerintah pusat di daerah. (bal/ila)

Hujan Guyur Kota Medan hingga November

Sutan Siregar/sumut pos HUJAN: Pengendara sepeda motor menerobos hujan deras yang mengguyur Kota Medan, kemarin.
Sutan Siregar/sumut pos
HUJAN: Pengendara sepeda motor menerobos hujan deras yang mengguyur Kota Medan, kemarin.

MEDAN,SUMUTPOS.CO – Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Wilayah I memprediksi hujan masih terus terjadi di sejumlah wilayah di Sumatera Utara, termasuk Kota Medan. Khususnya pada sore dan malam hari intensitas hujan diperkirakan sedang hingga lebat. Bahkan, hujan diprediksi hingga November mendatang.

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Data dan Informasi Balai Besar BMKG Wilayah I, Sahnan.”Memang kita sudah memasuki musim hujan. Namun suhunya masih normal, antara 23 sampai 33,” ungkap Sahnan, Senin (24/9).

Sahnan menyebut, puncak musim hujan diperkirakan terjadi hingga awal November 2018. Meski demikian, ada diselingi panas di siang hari, hujan dengan intesitas ringan akan terjadi saat memasuki sore. Kemudian, sore hingga malam, intensitas hujan sedang hingga lebat. “Kondisi itu terjadi di wilayah pantai timur, barat dan daerah pengunungan di Sumatera Utara. Curah hujannya kami ukur masih 102 milimeter, masih normallah,” urainya.

Sementara BPBD Kota Medan melalui pesan Whats App menyampaikan surat peringatan dini cuaca ekstrem dari Balai Besar BMKG Wilayah I Medan. Dalam surat itu disebutkan, masih berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai kilat, petir dan angin kencang pada pukul 19.55 WIB di Karo, Simalungun, Deliserdang, Madina, Palas dan Langkat.

Kondisi juga dapat meluas ke Sergei, Samosir, Humbahas, Tobasa, Taput, P Siantar, Dairi, Pakpak Barat, Paluta dan sekitarnya. Disebutkan kondisi itu akan masih berlangsung hingga Minggu (23/9) pukul 23.00 WIB. (ain/ila)

Percaya Diri Tinggi

PSMS
PSMS

SUMUTPOS.CO – PSMS kini menatap laga kontra Barito Putera sebagai ujian berikutnya pada laga 1 Oktober mendatang di Stadion 17 Mei, Banjarmasin. Para pemain semakin
percaya diri bisa mencuri poin dalam upaya menyelamatkan PSMS dari degradasi.

Salahsatunya bek asing PSMS, Alexandros Tanidis. Bek asal Yunani ini berharap timnya bisa memetiik poin dari lawatan ke markas tim besutan Jacksen FTiago ini. “Sekarang kami menang pertandingan (lawan Persela) dan menatap pertandingan berikutnya dengan hasil positif  enghadapi Barito yang merupakan ujian besar. Kami ingin meraih poin tentunya,” ujar Tanidis.

Tanidis saat ini terus dipercaya menjadi starter di lini belakang PSMS sejak memulai debut saat laga kontra Bhayangkara FC diJakarta. Perlahan Tanidis mulai nyete di lini belakang Ayam Kinantan.

Tanidis mengaku optimis di sisa 11 laga, PSMS akan bisa menyelamatkan diri dari degradasi. Apalagi menurutnya Peter Butler sebagai pelatih tahu apa yang harus dilakukan.

“ Kami selalu harus optimis jika ingin tetap di liga ini. Tidak hanya saya tapi juga tim, pelatih. Untuk kami sangat penting. Aku rasahanya dengan pelatih ini (Peter Butler) kami bisa meraih apa yang kami dapat,” tambahnya.

PSMS saat ini masih menghuni juru kunci klasemen. Namun kemenangan berpeluang mengangkat Ayam Kinantan dari posisiyang sudah dihuni sejak mendekati akhir putaran pertama itu.

Meski belum pernah berkompetisi di Indonesia sebelumnya,  Tanidis mengetahui jika Barito merupakan kekuatan yang harus

diperhitungkan. Laskar Antasari saat ini bertarung di papan atas Liga 1.

Tanidis juga sudah melihat menonton laga-laga Barito sebelumnya. Namun dia tidak ingin terlalu menganggapnya spesial.

“Saya lihat dua pertandingan Barito. Aku tidak mau mengatakan sesuatu yang berlebihan tapi kami percaya dan  yakin dengan kami dan pergi ke sana untuk meraih sesuatu,” bebernya.

Sebelumnya Tanidis juga senang bisa mencetak gol pertamanya untuk PSMS. Meski berposisi sebagai bek dia merangsek ke depan dan mencetak gol penyama kedudukan. Gol itu dirayakan Tanidis dengan emosional. Apalagi laga itu merupakan pertama kalinya Tanidis merasakan kemenangan bersama PSMS.

“Saya tidak hanya senang dengan gol itu karena aku cetak gol itu tapi juga sangat senang karena kami menang dengan cara ini. Pertarungan yang sangat sulit , pertandingan yang sangat keras. Sangat penting karenakami comeback dengan situasi itu, karena sangat penting dapat poinnya juga sangat penting untuk mentalitas dan semangat bagi PSMS,”kata Tanidis.

“Selebrasi itu bukan untuk pacar, aku tidak punya. Selebrasi gol tadi hanya untuk memberi semangat klub, mentalitas kami pemain, itu bukan untuk seseorang, tapi untuk kami semuanya,” bebernya. (don)

BPPRD Pasang Tapping Box, Upaya Tingkatkan PAD Kota Medan

Zulkarnain MSi
Zulkarnain
Kepala Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Kota Medan

MEDAN,SUMUTPOS.CO – Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Kota Medan tengah menyiapkan berbagai strategi dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Salah satu strategi yang akan diberlakukan, dengan memasang alat tapping box atau pemantau transaksi pajak.

Kepala Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Kota Medan Zulkarnain mengatakan, pemasangan tapping box sudah dikaji. Saat ini, sedang dalam proses pengadaan unitnya.

“Ada 100 unit dilakukan pengadaan alatnya yang dipasang pada objek pajak tertentu, misalnya yang memiliki potensi besar. Harapannya, segera terealisasi dalam waktu dekat,” kata Zulkarnain, akhir pekan lalu.

Menurut dia, dipasang alat tersebut bertujuan agar instrumen pengawasan perhitungan dengan wajib pajak semakin akurat. Selain itu, bisa mengetahui secara real time. “Aplikasi monitoring pajak daerah ini merupakan hasil studi banding dengan beberapa daerah seperti Bandung dan Bali. Mereka sudah menerapkannya dan terbilang cukup berhasil,” papar Zulkarnain.

Zulkarnain mengaku, memiliki komitmen kuat untuk meningkatkan PAD dari pajak daerah. Hal ini sudah diwujudkan sejak tahun 2017 dimana realisasi pajak daerah tumbuh 20 persen atau Rp247 miliar lebih dibanding tahun 2016. “Realisasi tahun 2017 mencapai 99 persen jauh meningkat dibanding tahun 2016 hanya 84 persen. Makanya, tahun ini kita ingin meningkatkan lagi dibanding tahun sebelumnya,” tuturnya.

Diutarakan Zulkarnain, upaya lain dalam meningkatkan PAD juga dilakukan seperti membangun kerja sama membuat unit-unit pelayanan kepada perbankan atau non keuangan. Tujuannya, untuk mendekatkan akses masyarakat dalam melakukan pembayaran pajak daerah.

“Kita terus mendorong Bank Sumut untuk melakukan kerja sama dengan perbankan lain.

Sebab, ada regulasi yang mengatur atau membatasi kerja sama terhadap perbankan lain. Hal ini supaya memudahkan masyarakat dalam membayar kewajibannya,” ujar dia sembari mengatakan, perlu diketahui pembayaran pajak juga sudah bisa melalui online.

Lebih lanjut Zulkarnain mengatakan, semua upaya yang dilakukan ini bila tanpa dukungan stakeholder pajak daerah maka tidak akan mulus. Oleh karenanya, harus terus bersama-sama mengkampanyekan gerakan sadar dan patuh pajak daerah yang sudah dimulai beberapa bulan yang lalu.

“Jumlah wajib pajak yang besar, tidak mungkin kita bekerja sendiri karena keterbatasan pegawai. Makanya, semua pemangku kepentingan harus ikut untuk sosialisasi dan mengingatkan. Apalagi, membangun kota ini membutuhkan pembiayaan salah satunya dari pajak daerah,” cetusnya.

Zulkarnain mengharapkan beban target Rp1,4 triliun untuk tahun 2018 bisa tercapai pada akhir tahun. “Wajib pajak memiliki tanggung jawab moral. Kepada wajib pajak yang belum mendaftarkan diri untuk segera melaporkan. Selain itu, wajib pajak jangan menyetorkan pajaknya ke petugas tetapi langsung ke bank yang melayani,” tukasnya.

Sebagaimana diketahui, realisasi pajak daerah Kota Medan sampai dengan 31 Agustus 2018 mencapai Rp912 miliar lebih. Realisasi ini sudah mencapai 64,75 persen dari target yang telah ditetapkan yakni sebesar Rp1.4807,7 miliar.

Secara presentase, realisasi pajak daerah ini relatif sama dengan realisasi tahun 2017 dalam periode Agustus. Namun, sedangkan secara nominal meningkat Rp23 miliar. (ris/ila)

Rp202 Miliar Tak Digunakan, Anggaran Dinas Perkim-PR Tahun 2017 Disorot

Ilustrasi
Ilustrasi

MEDAN,SUMUTPOS.CO – Panitia Khusus (Pansus) Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Tahun 2017 DPRD Kota Medan menyoroti realisasi anggaran Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Penataan Ruang (Perkim-PR). Bagaimana tidak, anggaran yang tidak digunakan tetapi sudah dianggarkan mencapai Rp202 miliar lebih.

Ketua Pansus LPJ Tahun 2017 DPRD Medan Roby Barus mengaku heran kenapa bisa tersisa anggaran ratusan miliar dan tidak dimanfaatkan dengan baik untuk pembangunan. “Kenapa sampai tidak dimanfaatkan tetapi sudah dianggarkan ini perlu menjadi catatan. Kalau seperti ini kondisinya, seharusnya penganggaran kegiatan dinas tersebut harus benar-benar matang,” kata Roby.

Roby diharapkan jangan sampai ada lagi tersisa anggaran dengan jumlah yang begitu banyak. Sebab, masih banyak dinas atau organisasi perangkat daerah (OPD) lain yang butuh anggaran. “Kalau begitu kondisinya jelas perencanaan penganggaran yang dilakukan tidak matang, makanya jangan sampai terulang lagi,” cetusnya.

Sementara, Kepala Dinas Perkim-PR Medan Samporno Pohan mengungkapkan, pagu anggaran belanja langsung tahun 2017 sebesar Rp415 miliar lebih. Jumlah itu terdiri dari serapan anggaran Rp213 miliar lebih, sedangkan Rp202 miliar lagi tersisa.

“Dari Rp202 miliar sisa anggaran, sebesar Rp20 miliar lebih merupakan total utang tahun 2016 yang belum dibayarkan. Kemudian, Rp31 miliar merupakan kegiatan tahun 2017 yang masih dalam proses pengerjaan dan belum dibayar,” katanya.

Selain itu, sambung Samporno, sisa anggaran lainnya adalah kegiatan yang sudah dan belum selesai pengerjaan tetapi belum dibayar mencapai Rp84 miliar. Dengan rincian, kegiatan yang sudah selesai Rp53 miliar.

Artinya, pembayarannya sesuai kesepakatan tahun 2018 menunggu benar-benar rampung. Sedangkan kegiatan yang belum selesai pengerjaan Rp31 miliar.

Selanjutnya, selisih pagu dengan kontrak ada Rp21 miliar. Artinya, setelah dilakukan defisit anggaran dan dibuat drafnya per kegiatan ternyata ada tersisa Rp21 miliar.

Berikutnya, anggaran yang tidak habis digunakan dari Rp27 miliar hanya terpakai Rp8 miliar. Artinya, tersisa Rp19 miliar lebih. Lalu, kegiatan yang tidak dikerjakan tetapi sudah dianggaran sebesar Rp57 miliar lebih.”Itulah uraian total sisa anggaran Rp202 miliar lebih yang tersisa dan begitu kondisinya,” papar Samporno.

Diutarakan Samporno, terkait kegiatan yang belum selesai pengerjaan dengan anggaran Rp31 miliar salah satunya merupakan revitalisasi Pasar Kampung Lalang sebesar Rp21 miliar lebih. Pembangunan gedung kantor Lurah Pusat Pasar Rp633 juta dan pembangunan kantor Kejari Belawan Rp9 miliar lebih.

“Sampai saat ini kami belum ada membayarkan proyek pembangunan tersebut, karena ada ketentuan pembayaran bisa dilakukan pada revisi anggaran tahun 2018. Artinya, setelah bangunan betul-betul rampung baru dibayarkan,” pungkas Samporno. (ris/ila)

Satpol PP Janji Bongkar Bangunan 90 Kios Ilegal di Belawan

Fachril/sumutpos Salah satu bangunan kios yang masih berdiri di lahan PT KAI Belawan
Fachril/sumutpos
Salah satu bangunan kios yang masih berdiri di lahan PT KAI Belawan

MEDAN,SUMUTPOS.CO – Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Medan berjanji akan segera membongkar pembangunan 90 kios di lahan PT KAI, Belawan.

Sekretaris Satpol PP Kota Medan Rahmadsyah Harahap, mengatakan, pihaknya sudah menerima surat perintah pembongkaran dari Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Penataan Ruang (PKP2R).

Untuk jadwal pembongkaran terhadap bangunan yang berdiri di lahan BUMN itu, pihaknya masih mengatur waktu untuk segera turun ke lapangan melakukan pembongkaran.

“Jadwal kita masih padat, karena banyak penertiban yang kita lakukan di wilayah lain. Yang jelas, dalam waktu ini akan segera kita bongkar,” jelas Rahmadsyah tanpa menjelaskan waktu yang tepat, Senin (24/9).

Disinggung kenapa pembongkaran lama dilakukan terkesan mengulur waktu, Rahmadsyah tetap membantah pembongkaran itu diabaikan dengan mengulur waktu. Hanya saja masih banyak program – progam penertiban lain yang sedang mereka laksanakan.

“Yang jelas, dalam waktu dekat ini pasti kita bongkar. Kita lagi susun waktu, tidak ada niat kita mengulur waktu. Tunggu aja, setelah jadwal sudah kita tentukan, langsung kita bongkar,” janji Rahmadsyah.

Sementara itu, Tokoh Masyarakat Belawan, H Irfan mendukung Pemko Medan untuk segera menertibkan 90 kios ilegal itu, karena dianggap telah merugikan masyarakat. Karena, keberadaan kios itu, akan menjadi saingan bagi pedagang Pasar Kapuas dan Pasar Jawa yang akan direvitalisasi Pemko Medan.

Selain itu posisi bangunan kios yang sangat dekat dengan jalan protokol, akan menjadi biang kemacetan terutama saat kapal penumpang bersandar di Terminal Bandar Deli.”Itu tidak ada izin, dampaknya sangat merugikan, kita minta untuk segera ditertibkan,” sebut H Irfan.

Irfan yang juga Ketua Kesatuan Aksi Ummat Muslim Indonesia (KAUMI) meminta komitmen Pemko Medan yang ingin menegakkan peraturan dan melindungi masyarakat terutama Medan Utara dari ketertinggalan ekonomi.”Kami berharap Pemko tegas dan jangan hanya bertindak jika ada kepentingan pribadi maupun politik, seperti yang sudah sudah,” tegasnya.

Harapan H Irfan, lahan PT KAI tersebut dijadikan untuk pembangunan sarana olah raga dan tempat bermain anak- anak yang sekarang ini sangat minim di Kecamatan Medan Belawan.

“Besar dugaan saya jika sarana oleh raga dan bermain anak- anak cukup maka akan berpengaruh terhadap berkurangnya angka kejahatan remaja terutama terhadap masalah narkoba. Sebab di dalam tubuh yang sehat akan tumbuh juga jiwa yang sehat,” katanya. (fac/ila)