Home Blog Page 6259

Perketat Standar Pengawasan Angkutan Penyeberangan!

KM Sinar Bangun yang mengalami musibah dalam pelayaran dari Simanindo ke Tigaras, Senin (18/6).
KM Sinar Bangun yang mengalami musibah dalam pelayaran dari Simanindo ke Tigaras, Senin (18/6).

TIGARAS. SUMUTPOS.CO – Sejak lama, kapal-kapal pengangkut penumpang dan barang menyeberangi Danau Toba, jarang memiliki manifest, baik untuk warga setempat maupun wisatawan. Dan itu dibiarkan hingga bertahun-tahun, meski sudah beberapa kali terjadi kecelakaan kapal di danau.

Sejumlah warga pendatang di kawasan Danau Toba, tepatnya Pulau Samosir mengeluhkan kurangnya fasilitas penyelamatan kapal, berupa pelampung atau jaket penyelamat, serta sekoci. Menurut mereka, pengelola kapal sering tidak peduli jika kapal kelebihan muatan.

“Jaket pelampung yang disediakan sering tidak cukup untuk seluruh penumpang. Alat bantu penyelamatan di air juga tidak disediakan. Bagaimana mau menyelamatkan, jika pelampung hanya lima sampai tujuh unit?” tanya R Pasaribu, warga yang berkunjung ke kawasan Danau Toba Pasaribu, kemarin.

Faktor lainnya adalah kelebihan muatan, yang seringkali membuat penumpang khawatir. “Memang, bukan hanya pemilik kapal saja yang tak membatasi jumlah penumpang. Calon penumpang pun banyak yang memaksa ikut, walaupun mungkin muatan kapal sudah penuh. Tapi seharusnya jangan dibiarkan,” sebutnya.

Senada, pengamat transportasi asal Sumut, Medis Sejahtera, juga menyoroti lemahnya pengawasan prosedur keselamatan tranportasi danau di kawasan destinasi wisata yang dijuluki Monaco of Asia ini.“Ini teguran keras buat pemerintah. Ketika Danau Toba hendak dibangun, malah tak aman dan nyaman,” ungkapnya.

Menurutnya, bencana karamnya KM Sinar Bangun harus dijadikan evaluasi oleh semua pemangku kebijakan. Setiap kapal motor yang hendak berlayar harus benar-benar siap layar. “Kelaikan kapal diperiksa, sarana keselamatannya diperiksa. Seharusnya disiapkan petugas untuk memantau,” ujarnya.

Ia mengatakan, fenomena kapal kelebihan muatan, sebenarnya sudah lumrah terjadi di kawasan Danau Toba. Hanya kebetulan nahas jatuh kepada KM Sinar Bangun. “Membludaknya penumpang kapal wisata di masa libur, sebelum-sebelumnya dianggap biasa. Ada pembiaran dari pemerintah, dalam hal ini pemerintah kabupaten.

Sesuai aturan dan prosedur keselamatannya, penumpang idealnya disiapkan pelampung, sesuai kapasitas kapal. “Tapi kalau kita lihat dari video penyelamatan kemarin, tidak satupun penumpang yang menggunakan pelampung. Apalagi kapal tradisional, seharusnya seluruh penumpang begitu naik kapal langsung pakai pelampung,” ungkapnya.

Sesuai peraturan, pengelolaan pengawasan kapal motor wisata di Danau Toba merupakan tanggungjawab pihak kabupaten. Jadi pemkab setempat wajib menyiapkan dan menata segala sarana dan prasarana pendukung keberadaan kapal motor wisata yang digunakan untuk penyeberangan. “Kita tidak menyalahkan satu pihak saja. Baiknya, semua pihak kembali lebih perhatian dengan menata moda transportasi laut di Danau Toba,” katanya.

Medis memprediksi, pemerintah akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kapal motor tradisional yang berlayar di Danau Toba. Dia berharap, pemerintah memberikan solusi bersama yang baik pula.

Inalum Berharap Karyawannya Selamat

Foto: Sopian/Sumut Pos Kleuarga korban KM Sinar Bangun harapkan jasad ditemukan.
Foto: Sopian/Sumut Pos
Kleuarga korban KM Sinar Bangun harapkan jasad ditemukan.

SUMUTPOS.CO – PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) sedang mengerahkan berbagai upaya untuk memastikan keberadaan dan keselamatan dua orang karyawannya, Heriawan Sumarno (23) dan Restu Afriangga (23).

Keduanya diduga penumpang KM Sinar Bangun yang tenggelam pada Senin (18/6) sekitar pukul 17.30 di perairan Danau Toba. KM Sinar bangun karam ketika sedang berlayar dari Simanindo di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara menuju Pelabuhan Tiga Ras di Kabupatan Simalungun.

Inalum telah mengirimkan dokter, tenaga kesehatan, beserta ambulans dan obat-obatan untuk membantu seluruh korban penumpang KM Sinar Bangun. Inalum juga mengantisipasi penangangan penemuan korban yang diselamatkan oleh tim SAR yang hingga kini masih menyisir perairan Danau Toba.

Direktur Utama Inalum Budi G. Sadikin mengatakan seluruh manajemen dan karyawan Inalum berdoa dan berharap semoga Allah SWT memberikan keselamatan bagi Heriawan, Restu dan puluhan penumpang KM Sinar Bangun lainnya yang hingga saat ini masih belum ditemukan.  “Semoga keluarga para korban diberi kekuatan dan ketabahan,” kata Budi G Sadikin.

Kepada keluarga korban meninggal dunia, Budi mengucapkan bela sungkawa yang mendalam.  “Semoga amal ibadahnya diterima di sisiNya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan yang mendalam.”

Menurut Rendi A. Witular, Kepala Komunikasi Korporat & Hubungan Antar Lembaga Inalum, Heriawan dan Restu bergabung bersama Inalum pada tahun 2014 dan 2015.  Saat ini keduanya bekerja sebagai operator di smelter Inalum di Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. (smg/ian/don/adz)

Selamat atau Meninggal, Asal Ditemukan

Triadi Wibowo/Sumut Pos Petugas Basarnas usai pencarian korban kapal sinar bangun yang tenggelam di perairan danau Toba di Dermaga Tiga Ras, Kamis (21/6)
Triadi Wibowo/Sumut Pos
Petugas Basarnas usai pencarian korban kapal sinar bangun yang tenggelam di perairan danau Toba di Dermaga Tiga Ras, Kamis (21/6)

SUMUTPOS.CO – KESEDIHAN dan kegundahan terus menyelimuti keluarga korban tenggelamnya Kapal Motor (KM) Sinar Bangun di Danau Toba, Senin (18/6) petang lalu. Mereka masih berharap, para korban dapat ditemukan dalam keadaan selamat.

Keluarga Besar Ledixon Nainggolan masih harap-harap cemas menanti kabar para korban. Diketahui, ada 12 anggota keluarga Nainggolan ikut menjadi korban kapal tenggelam tersebut.

Sesuai informasi, Ledixon Nainggolan dilaporkan hilang bersama isterinya Lilis Betty (49), dan tiga anaknya Bungaran Nainggolan (22), Nicholas Nainggolan (18), dan Astrid Nainggolan (17), di Danau Toba. Keluarga ini diketahui tinggal Jalan H Achyar RT 006/05 No.48B Duren Sawit, Jakarta Timur.

Berdasarkan pantauan JawaPos.com (grup Sumut Pos), lingkungan rumah Ledixon nampak sepi dan rumahnya dititipkan oleh salah satu keluarganya. Rumah korban yang cukup sederhana, masih terlihat rapi dengan jejeran foto keluarga di ruang tamunya.

Adik dari Ledixon, Wonni Fredi Nainggolan menyampaikan, awalnya keluarganya telah merencanakan pergi ke Siongang untuk melakukan peresmian tugu keluarga Ompung Lambbas Nainggolan (Hutatangga).

“Mereka berangkat dari Samosir setelah ada acara itu, lalu mereka pulang ke Siantar, berangkat sekitar pukul 17.00. Jam segitu itu kan kapal terakhir, mungkin karena kapal terakhir menurut informasi kapasitasnya overload,” kata Wonni, Kamis (21/6).

Sesuai dengan informasi dari keluarga besarnya, Ledixon pergi tidak hanya bersama keluarga intinya. Melainkan bersama 4 keluarga lainnya yang juga memiliki marga yang sama. “Keluarga kita itu semuanya ada 12 orang yang ada di kapal tersebut jadi 4 KK. Nah yang lima keluarga inti Ledixon ini yang tinggal di Jakarta, Duren Sawit,” terangnya.

Kedalaman Danau Toba jadi Kendala

Triadi Wibowo/Sumut Pos Petugas Basarnas usai pencarian korban kapal Sinar Bangun yang tenggelam di perairan danau Toba di Dermaga Tiga Ras, Kamis (21/6)
Triadi Wibowo/Sumut Pos
Petugas Basarnas usai pencarian korban kapal Sinar Bangun yang tenggelam di perairan danau Toba di Dermaga Tiga Ras, Kamis (21/6)

SUMUTPOS.CO – Hingga hari keempat proses pencarian, Tim SAR Gabungan belum berhasil menemukan tambahan korban hilang KM Sinar Bangun. “Sampai hari ini, masih 21 orang yang ditemukan. Yakni 18 selamat dan 3 meninggal dunia,” kata Kabid Humas Polda Sumut, AKBP Tatan Dirsan Atmaja.

Pengamat Geologi di Sumut, Gagarin Sembiring mengungkapkan, jalur pelayaran dari Pelabuhan Simanindo menuju Pelabuhan Tigaras, termasuk bagian terdalam Danau Toba. Kedalamannya 300-500 meter. Setiap benda tenggelam seperti masuk spon raksasa, yang mustahil timbul ke permukaan.

“Ya, titik dimaksud memang bersentuhan dengan wilayah sekitar Silalahi dan Tongging-Harangaol. Ada konektivitasnya ke situ,” katanya.

Dari aspek kedalaman hingga 500 meter, menurutnya, untuk sesuatu yang jatuh ke dalam air akan sulit timbul lagi ke permukaan. “Tapi itu pun kita belum bisa perkirakan persis, karena tidak punya peta permukaan dasarnya langsung. Termasuk kondisi lumpur dan laut di dasar Danau Toba. Untuk kedalaman, sudah pernah ada pakar geologis yang melakukannya. Detil informasi kedalaman bisa ditanyakan ke BMK (Bagian Meteorologi dan Klimatologi),” sebutnya.

Faktor kedalaman lokasi tenggelamnya kapal, menurutnya menjadi kekhawatiran bagi tim terpadu. “Dari kita yang sudah dibantu yakni data simetri , yang sudah dipublikasi sebelumnya. Semoga itu bisa menjadi petunjuk bagi tim terpadu,” pungkas Sembiring. (adi/esa/mag-01/prn/ain/mea)

 

Nahkoda Telah Ditangkap

Triadi Wibowo/Sumut Pos Aktifitas di di Dermaga Tiga Ras, Kamis (21/6)
Triadi Wibowo/Sumut Pos
Aktifitas di di Dermaga Tiga Ras, Kamis (21/6)

SUMUTPOS.CO – Terkait pernyataan Kapolri soal kelalaian nahkoda Kapal Motor (KM) Sinar Bangun, didukung Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, Surya Dinata. Surya menilai, nahkoda dapat dijerat pasal berlapis, terlebih bila terbukti terjadi over kapasitas sehingga membuat kapal tenggelam.

“Pasal yang dapat menjerat nahkoda kapal itu di antaranya Pasal 359 jo Pasal 360 KUHP. Selain itu, dapat juga dijerat dengan Pasal 361 KUHP, yang menyebutkan jika kejahatan yang diterangkan dalam Pasal 359, sedang menjalankan suatu jabatan atau pencarian, maka pidana ditambah 1/3 dan bagi yang bersalah dapat dicabut haknya dalam menjalankan pencarian. Pasal tersebut saling berhubungan,” katanya kepada Sumut Pos, kemarin. Dalam pasal itu, ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.

Surya menyebut, dalam kasus ini, pemilik kapal juga berpotensi dijerat dalam Undang-Undang Pelayaran. Dalam UU Pelayaran Pasal 40 ayat (1), disebutkan kerugian atas barang harus ada ganti rugi dan juga harus ada kompensasi atas luka dan kematian. Dengan begitu, selain dipidana, yang bersalah juga harus mengganti rugi. Apabila tidak mengganti, akan memberatkan pihak yang bersalah.

Surya berharap, aparat penegak hukum tidak main-main dalam menangani kasus itu. Tidak kalah penting, ia meminta pengawasan diperketat agar kejadian serupa tidak terulang lagi.

Sementara itu, Nakhoda KM Sinar Bangun berinisial TS, ternyata telah ditangkap pihak kepolisian di rumahnya, sehari pascakapal tenggelam, Selasa (19/6). Saat ini, yang bersangkutan telah ditahan di Polres Samosir untuk menjalani pemeriksaan.

Kabid Humas Polda Sumut, AKBP Tatan Dirsan Atmaja membenarkan perihal penangkapan tersebut. Dia mengatakan, TS dijemput dari rumahnya tanggal 19 Juni. Namun TS belum bisa diperiksa karena masih trauma.

Kapolres Samosir, AKBP Agus Darojat yang dihubungi Sumut Pos, mengatakan, TS menahkodai kapal saat kejadian. “Tapi dia berhasil menyelamatkan diri dengan cara berenang dan kembali ke rumahnya,” ungkapnya. (adi/esa/mag-01/prn/ain/mea)

Nahkoda Dijerat Pasal Kelalaian

Foto: Istimewa Plh. Gubsu Hj R Sabrina menyambut kedatangan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto bersama Kapolri Jenderal Tito Karnavian, meninjau langsung proses evakuasi tenggelamnya Kapal Motor Sinar Bangun di Perairan Danau Toba, Kabupaten Samosir, di Pelabuhan Tigaras Kabupaten Simalungun, Kamis (21/06/2018).
Foto: Istimewa
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kepala Basarnas Muhammad Syaugi bersama Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Plh. Gubsu Hj R Sabrina, memberikan keterangan usai meninjau langsung proses evakuasi tenggelamnya Kapal Motor Sinar Bangun di Perairan Danau Toba, Kabupaten Samosir, di Pelabuhan Tigaras Kabupaten Simalungun, Kamis (21/06/2018).

SUMUTPOS.CO – Nahkoda KM Sinar Bangun menjadi calon tersangka pertama dalam peristiwa tenggelamnya kapal penumpang tersebut di perairan Danau Toba, Senin (18/6) sore lalu. Nahkoda yang diketahui sekaligus juga pemilik kapal naas itu, terancam dijerat dengan pasal 359 KUHP tentang kelalaian yang menyebabkan kematian. Hasil penyelidikan polisi, membawa penumpang melebihi kapasitas kapal bukan kali pertama dilakukan sang nahkoda.

“Penyelidikan awal, kita melihat adanya kelalaian. Pasal 359 KUHP: Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun. Kalau dilakukan dengan sengaja, pasal 338 KUHP bisa juga. Tapi dalam peristiwa ini, kita lihat lebih banyak karena lalai, karena ada faktor cuaca yang menentukan saat itu,” kata Kapolri Jendral Tito Karnavian, kepada para awak media, usai menggelar rapat koordinasi di Posko SAR Gabungan Tigaras, Simalungun, Kamis (21/6).

Kapolri bersama Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, dan KASAL Laksamana Siswi Sukma Adjie beserta rombongan, menumpang pesawat Hercules milik TNI AU ke Bandara Silangit, Kamis (21/6) pagi. Rombongan disambut Kapolda Sumut, Irjen Pol Paulus Waterpauw. Sekira pukul 12.20 WIB, rombongan tiba di Pelabuhan Ferry Tiga Ras, Simalungun, untuk melihat secara langsung proses pencarian korban KM Sinar Bangun, di Perairan Danau Toba.

Hadir dalam kunjungan tersebut, Pangdam I/Bukit Barisan, Kapolda Sumatera Utara, dan Danlantamal I/Belawan. Romboongan disambut Bupati Simalungun, Kapolres Simalungun, Danrem 022/Pantai Timur, Dandim 0207/Simalungun, dan Kepala Basarnas Medan, serta seluruh personel yang terlibat dalam upaya pencarian korban.

Tiba di Posko SAR Gabungan Tigaras, rombongan Panglima TNI dan Kapolri langsung menggelar rapat koordinasi. Dalam rakor, rombongan mendapatkan paparan dan penjelasan terkait kejadian dan upaya pencarian yang sudah dilakukan Tim SAR Gabungan, serta cara penggunaan alat Ecosouner untuk mencari korban.

Usai rapat, rombongan meninjau sebuah kapal wisata mirip dengan KM Sinar Bangun, yang dihadirkan di Dermaga Tigaras.

Sejumlah Penyeberangan Dikelola Pemda Kurang Aman    

Foto: Istimewa Tim SAR yang mencari korban KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba melibatkan 350 personil, menggunakan speedboat dan kapal-kapal penumpang, Selasa (19/6).
Foto: Istimewa
Kapal penyeberangan dilibatkan mencari korban KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba. Sejumlah kapal yang dikelola Pemda dinilai kurang aman.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menyatakan bahwa tragedi KM Sinar Bangun merupakan gunung es dari tidak amannya sektor penyeberangan. Dia menilai, tidak berfungsinya syahbandar sebagai penguasa pelabuhan menjadi pemicu kecelakaan tersebut.

Syahbandar mengizinkan kapal dengan kapasitas muat 40 orang tetapi bisa diisi 200-an orang. ”Pemerintah wajib mengevaluasi total keberadaan syahbandar, yang sangat mungkin ada patgulipat dengan pemilik kapal dan atau nakhoda. Syahbandar harus dimintai pertanggungjawaban secara pidana,” kata Tulus kemarin (21/9).

Menurut Tulus, patut diduga selama ini praktik manifes penumpang tidak dijalankan sama sekali. Kalau pun ada, hanyalah manifes abal-abal. Padahal, manifes kapal menjadi prasyarat untuk standar operasional sebuah kapal.

Wakil Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno mengatakan bahwa Kemenhub tidak boleh lalai dalam pembinaan terhadap pemda-pemda yang mengelola angkutan penyeberangan. ”Pemda belum serius menata transportasi di daerahnya, sehingga ada pengabaian urusan keselamatan dan pelayanan,” katanya.

Menurut Djoko selama ini pemda lebih urus dan peduli dengan target Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari usaha angkutan perairan. Padahal, standar Keselamatan Transportasi Sungai, Danau dan Penyeberangan telah diatur dalam PM 25 tahun 2015. Di situ sudah diatur segala hal menyangkut pengaturan SDM, sarana dan lingkungan. ”SDM yang dimaksud untuk pengelola pelabuhan, awak angkutan dan pengawas alur,” jelasnya.

Menurut Djoko, jika memang kemampuan APBD dan SDM Pemda belum memadai, Kemenhub perlu mengintervensi. Tidak hanya itu, Kemenhub harus segera melakukan pemetaan dan penjadwalan aksi. ”Peningkatan kualitas SDM sangat penting untuk menambah wawasan tentang kelola transportasi perairan yang lebih profesional,” jelasnya.

Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi mengakui bahwa angkutan penyeberangan yang dikelola pemda banyak yang belum maju. Hal tersebut karena Pemda terkadang hanya berorientasi pada PAD.

Evakuasi Korban Metode Jaring Tunggu Alat dari Jakarta

Foto: Triadi Wibowo/Sumut Pos Petugas Basarnas usai pencarian korban kapal Sinar Bangun yang tenggelam di perairan Danau Toba, di Dermaga Tigaras, Simalungun Kamis (21/6).
Foto: Triadi Wibowo/Sumut Pos
Petugas Basarnas usai pencarian korban kapal Sinar Bangun yang tenggelam di perairan Danau Toba, di Dermaga Tigaras, Simalungun Kamis (21/6).

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Tidak banyak kemajuan dalam pencarian korban tenggelamnya KM Sinar Bangun pada Senin lalu (18/6). Pada pencarian hari keempat, Kamis (21/6), tidak ditemukan satu pun korban.

Puluhan orang yang kehilangan anggota keluarganya kemarin berkumpul di Pelabuhan Simanindo, Kabupaten Samosir, dan Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun. Itu adalah jurusan kapal nahas tersebut. Mereka menunggu hasil pencarian tim gabungan.

Untuk memberikan dukungan moral, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, KSAL Laksamana Siwi Sukma Adji, dan sejumlah pejabat tinggi lain kemarin datang ke Pelabuhan Tigaras. Mereka berjanji akan melakukan pencarian sampai tuntas.  Total, 189 orang korban masih belum ditemukan.

”Basarnas dan kepolisian akan melakukan pencarian sesuai dengan SOP,” kata Hadi.

Tidak hanya korban yang sulit dicari, bangkai KM Sinar Bangun pun sampai kemarin belum berhasil ditemukan. Untuk membantu proses pencarian, TNI mengerahkan alat khusus yang dimiliki TNI AL. ”Alat tersebut akan didatangkan dari Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL di Jakarta,” ucap Hadi.

Tidak hanya itu, hari ini bakal didatangkan satu pesawat dan helikopter dari Basarnas. Diharapkan pencarian korban bisa lebih maksimal. ”Untuk menyisir setiap sudut atau pantai di Danau Toba ini,” tandasnya.

Peralatan dari Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL dikerahkan agar jangkauan pencarian di dalam air bisa lebih dalam. Sejauh ini, penyelam yang dikerahkan oleh Tim SAR hanya bisa menyelam sampai ke dalaman 50 meter. Padahal, kedalaman Danau Toba mencapai ratusan meter.

Lebih lanjut, Hadi menyampaikan bahwa upaya evakuasi korban hilang bisa dilakukan dengan metode jaring apabila posisi target sudah diketahui. Itu sangat mungkin dilakukan apabila alat dari Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL sudah dikerahkan.

Berdasar keterangan korban selamat yang ditemui panglima di rumah sakit, KM Sinar Bangun tenggelam dalam waktu singkat. ”Kapal oleng ke kanan dan begitu cepat kapal itu langsung tenggelam,” ujarnya. (syn/tau/ang)

Inalum Berharap Dua Karyawannya Selamat

Foto: Triadi Wibowo/Sumut Pos Petugas Basarnas usai pencarian korban kapal Sinar Bangun yang tenggelam di perairan Danau Toba, di Dermaga Tigaras, Simalungun Kamis (21/6).
Foto: Triadi Wibowo/Sumut Pos
Petugas Basarnas usai pencarian korban kapal Sinar Bangun yang tenggelam di perairan Danau Toba, di Dermaga Tigaras, Simalungun Kamis (21/6).

KUALATANJUNG, SUMUTPOS.CO – PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) sedang mengerahkan berbagai upaya untuk memastikan keberadaan dan keselamatan dua orang karyawannya, Heriawan Sumarno (23) dan Restu Afriangga (23).

Keduanya diduga adalah penumpang KM Sinar Bangun yang tenggelam pada Senin (18/6) sekitar pukul 17:30 di perairan Danau Toba. KM Sinar Bangun karam ketika sedang berlayar dari Simanindo di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara menuju Pelabuhan Tigaras di Kabupatan Simalungun.

Inalum telah mengirimkan dokter, tenaga kesehatan, beserta ambulans dan obat-obatan untuk membantu seluruh korban penumpang KM Sinar Bangun.

Inalum juga mengantisipasi penangangan penemuan korban yang diselamatkan oleh tim SAR yang hingga kini masih menyisir perairan Danau Toba.

Direktur Utama Inalum Budi G. Sadikin mengatakan seluruh manajemen dan karyawan Inalum berdoa dan berharap semoga Allah SWT memberikan keselamatan bagi Heriawan, Restu dan puluhan penumpang KM Sinar Bangun lainnya yang hingga saat ini masih belum ditemukan. “Semoga keluarga para korban diberi kekuatan dan ketabahan,” kata Budi G Sadikin.

Kepada keluarga korban meninggal dunia, Budi mengucapkan bela sungkawa yang mendalam. “Semoga amal ibadahnya diterima di sisiNya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan yang mendalam.”

Menurut Rendi A. Witular, Kepala Komunikasi Korporat & Hubungan Antar Lembaga Inalum,
Heriawan dan Restu bergabung bersama Inalum pada tahun 2014 dan 2015. Saat ini keduanya bekerja sebagai operator di smelter Inalum di Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. (don)

RS Adam Malik Turunkan Tim Emergency ke Tigaras

Foto: Fb Dhev Bakkara Tim SAR yang mencari korban KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba melibatkan 350 personil, menggunakan speedboat dan kapal-kapal penumpang, Selasa (19/6).
Foto: Fb Dhev Bakkara
Tim SAR yang mencari korban KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba melibatkan 350 personil, menggunakan speedboat dan kapal-kapal penumpang, Selasa (19/6).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H Adam Malik turunkan tim emergency guna membantu korban terbaliknya Kapal Motor Sinar Bangun di Danau Toba.

Kasubag Humas RSUP H Adam Malik, Masahadat Ginting SE mengatakan tim emergency berangkat tanggal 18 Juni pukul 21.30 WIB yang terdiri dari dua dokter spesialis anastesi, satu dokter spesialis bedah dan dua perawat.

Tim ini dikomandoi dr Sujat Harto SpAn bertolak ke Pelabuhan Tiga Ras, Kabupaten Simalungun guna membantu korban terbaliknya KM Sinar Bangun di Danau Toba guna membantu sejumlah korban selamat.

“Mereka berangkat dengan menggunakan mobil ambulance yang diperlengkapi dengan perlengkapan gawat darurat seperti tabung oksigen, P3K, peralatan anestesi dan perlengkapan live saving,” ungkap Masahadat, Kamis (21/6).

Keberangkatan tim dokter RS Adam Malik berdasarkan keinginan sendiri.  “Tim berangkat dengan insiatif sendiri dengan tujuan kemanuasiaan. Harapan kita agar korban selamat bisa mendapatkan perawatan pascabencana kapal tenggelam,” tutur Masahadat.

Untuk diketahui, Kapal Motor Sinar Bangun di Perairan Danau Toba, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, tenggelam pada Senin petang, 18 Juni 2018. Tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian terhadap korban KM Sinar Bangun yang masih belum ditemukan.

Jumlah penumpang belum bisa dipastikan karena tak memiliki manifes sehingga sulit didata. Untuk sementara, diduga hampir 200 penumpang berada di kapal karam tersebut. Setidaknya ada 21 orang selamat, tiga meninggal dunia sementara diperkirakan 190 penumpang lainnya masih hilang. (dvs)