Home Blog Page 6326

Nababan Dikeroyok Di Gedung Dewan

Insiden pengeroyokan Hitler Nababan (kiri). Hitler Nababan usai dikeroyok (kanan)

SUMUTPOS.CO –  Tindakan Hitler Nababan mengirim video meme Habib Rizieq Shihab dan politikus senior Amien Rais, kepada rekan sesama anggota dewan berujung pengeroyokan.

Kader Partai Demokrat tersebut dirame-ramekan (dihajar) sejumlah orang di gedung DPRD Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Kapolres Karawang AKBP Slamet Waloya membenarkan kejadian ini. Menurut dia, pengeroyokan terjadi pada Selasa (22/5/2018) siang di gedung DPRD Karawang.

Bahkan, aksi pengeroyokan ini terekam dalam sebuah video dan tersebar di kalangan masyarakat. “Benar, ada beberapa yang kami amankan dalam insiden itu,” kata Slamet, Rabu (23/5/2018).

Adapun bentuk penghinaan yang dilakukan kader Partai Demokrat itu yakni mengirim meme Habib Rizieq Shihab dan Amien Rais di grup WhatsApp DPRD Karawang. Namun, meme itu malah tersebar luas di kalangan masyarakat.

Hal itu memancing amarah simpatisan Habib Rizieq dan Amien Rais hingga berujung pada pengeroyokan. “Sekarang kami masih lakukan pendalaman,” tandas dia. (mg1/jpnn)

Gawat! Personel PM Diamuk 12 Pria Bercelana Loreng

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Demi memuluskan penarikan paksa kendaraan penunggak kredit, tak jarang leasing dikabarkan menggunakan jasa oknum TNI. Benarkah itu? Semoga tidak!

Namun, Rabu (23/5/2018) kemarin ada kejadian seolah menyiratkan kebenaranya. Dimana, sekelompok pria bercelana loreng bertindak arogan dengan mengenjar dan menganiaya seorang pria paruh baya.

Belakang diketahui, korban bernama Serka Hendrik Siallagan (51). Pria yang menetap di Jalan Krakatau, Pasar III, Medan Timur ini tugas di Bag Lid Pam Pomdam 1/BB.

Mulanya, Siallagan melihat 4 orang pria berjaket hitam dipadu celana loreng menghajar warga sipil di seputaran Cemara Asri. Sebagai anggota TNI, dirinya tergerak untuk menolong warga tersebut. Terlebih, dia melihat pelaku bercelana loreng.

“Saya dari bandara KNIA mengantar tamu. Saat di lokasi, saya melihat ada masyarakat dihajar di pinggir jalan oleh 4 orang memakai celana TNI, makanya saya berhenti,” ucap Siallagan.

Setelah menghampiri pelaku, dia menanyakan perihal penyebab korban dihajar. Bukannya mendapat penjelasan, Siallagan malah dibentak dan kerah bajunya ditarik hingga koyak.

“Dia bilang ini bukan urusan saya. Bahkan setelah saya bilang kalau saya Polisi Militer (PM), mereka tidak takut. Karena saya masih banyak urusan, setelah itu saya pergi,” terang anggota Bag Lid Pam Pomdam 1/BB ini.

Lanjutnya, meski sudah meninggalkan lokasi, dirinya malah dikejar para pria tersebut yang ditaksir berjumlah 12 orang dengan menumpangi Yamaha Vixion hingga ke Jalan Keadilan, Desa Sampali, Percut Sei Tua, Deli Serdang.

“Karena terjebak macet, saya berhasil dikejar. Disitu mobil saya dipukul pakai batu. Karena saya sudah merasa sangat terancam, saya keluar dari mobil dan menembakkan senjata saya ke udara. Selanjutnya semua pria itu kabur,” terang Siallagan.

Masih Hendrik, dikatakannya jika dirinya mengalami luka berdarah pada pergelangan kakinya. “Saya sudah buat laporan ke Pomdam 1/BB dan petugas juga sudah turun ke lokasi,” tandas Hendrik.

Kapendam I/BB, Kolonel Edy Hartono membenarkan perihal laporan tersebut. “Iya saya sudah terima laporannya. Untuk saat ini kita masih menyelidiki apakah pria yang melakukan pengeroyokan tersebut oknum TNI atau tidak,” jelas Edy.

Ditegaskannya, jika pihaknya sudah menyiapkan sanksi administrasi jika nantinya para pelaku pengeroyokan tersebut terbukti oknum TNI.

“Kalau memang benar TNI, yang pasti menjadi debt collector sudah salah. Oleh sebab itu kita masih melakukan penyelidikan dan memeriksa saksi-saksi dilokasi,” terang Edy.

Masih Edy, pihaknya mengharapkan bantuan masyarakat jika menemukan adanya oknum TNI terlibat dalam aksi debt collector. “Jika melihat Prajurit TNI ikut, silahkan tulis nama dan Kesatuannya lalu lapor ke kita, pasti akan kita tindak lanjuti. Dan kita juga mendukung penuh sikap Polri untuk memberantas debt collector,” tandas perwira dengan tiga melati dipundaknya ini. (cr-8/ras)

Penjual Organ Binatang Divonis Dua Tahun Penjara

M Ilyas alias Ilyas.
M Ilyas alias Ilyas.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – M Ilyas alias Ilyas, terdakwa pelaku penjualan organ harimau dan beruang melalui facebook dihukum dua tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan yang diketuai Riana Pohan.

Dia juga dibebankan untuk membayar denda sebanyak Rp50 juta subsidair dua bulan kurungan.

“Terdakwa dinilai bersalah melanggar Pasal 40 ayat (2)  UU. RI No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yo Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa,” kata majelis hakim dihadapan terdakwa dan jaksa di Ruang Cakra II PN Medan, Rabu (23/5/2018).

Usai mendengarkan putusan, terdakwa Ilyas langsung menerima atas vonis yang diberikan majelis hakim kepada dirinya. Demikian juga dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Kristina Lumbanraja menerima putusan tersebut.

Sebelumnya, JPU menuntut Ilyas yang merupakan terdakwa penjual  bagian-bagian tubuh harimau dan beruang melalui media sosial dituntut tiga tahun penjara. Selain itu, terdakwa juga dituntut untuk membayar denda sebesar Rp100 juta subsidair 6 bulan kurungan.

Dalam dakwaan terdakwa ditangkap di rumahnya di Jalan Veteran Pasar IV Dusun 7 Desa Helvetia, Gang Jasmine, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deliserdang, pada 29 Januari 2018.

Penangkapan berawal dari adanya informasi dari masyarakat terkait perdagangan bagian-bagian satwa yang dilindungi UU berupa kulit harimau dan kuku beruang.

Petugas Polisi Kehutanan dari Kantor Balai Pengaman dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sumatera, lantas melakukan pengintaian dan penyamaran sebagai pembeli melalui facebook.

Kemudian, tanggal 29 Januari 2018, petugas melaksanakan kegiatan operasi peredaran tumbuhan dan satwa liar di Kota Medan dan Kabupaten Deliserdang. Dalam operasi itu, tim menangkap terdakwa.

Petugas menyita barang bukti berupa kulit dan kuku harimau, beruang dan macan, di antaranya lima buah taring beruang terdiri dari empat buah dilengkapi ring ornamen dan satu buah taring tanpa dilengkapi ring ornamen dari tangan terdakwa.

Selanjutnya satu buah kalung yang terbuat dari kuku harimau, tiga buah kuku beruang dilengkapi dengan ring ornament, empat buah kuku macan, dua buah dompet kulit harimau, dua buah kulit harimau bagian kaki berbentuk tapak dan masih berkuku tidak utuh.

Kemudian, dua buah tali pinggang kulit harimau masing-masing berwarna coklat dan hitam, satu buah tas selempang kulit macan, satu lembar kulit harimau dengan ukuran panjang 95 cm dan lebar 35 cm dan satu buah kalung yang terbuat dari kuku beruang. (fir/pjs/ras)

Boru Manurung Bunuh Putri Kandung

Aulia Patin balita asal Asahan yang tewas dianiaya ibu kandungnya semasa hidup saat dipangku ibunya.
Aulia Patin balita asal Asahan yang tewas dianiaya ibu kandungnya semasa hidup saat dipangku ibunya.

ASAHAN, SUMUTPOS.CO – Ditinggalkan begitu saja saat hamil 5 bulan, membuat Datna br Manurung dendam terhadap suaminya (ayah korban). Namun karena dendam tak kunjung terbalas, dia melampiaskannya terhadap putri kandungnya, Aulia Patin.

Tanpa belas kasihan, dia menganiaya darah dagingnya yang masih berusia 3 tahun itu hingga tewas. Kejamnya lagi, korban dibiarkan tergeletak di dapur rumah.

Kapolsek Sei Kepayang, AKP Sunarto melalui Kanit Reskrim Ipda Zahar Siagian mengatakan, pihaknya mengamankan Datna beberapa saat usai menerima laporan warga.

“Malam itu juga kami periksa ibu korban dan langsung kami tetapkan sebagai tersangka karena saat diinterogasi dia mengakui telah menganiaya putri kandungnya,” kata Kanit.

Kepada polisi, Datna mengaku kesal terhadap korban lantaran sering berbuat nakal. Selain itu, tersangka menyimpan dendam terhadap mantan suaminya yang merupakan ayah dari Aulia karena meninggalkan tersangka saat ia hamil lima bulan. Selama ini mereka tinggal di Dusun IV Desa Asahan Mati, Kec. Tanjungbalai.

“Menurut pengakuan tersangka, penganiayaan itu muncul karena anaknya nakal. Juga karena masih menyimpan dendam terhadap ayah korban yang meninggalkannya begitu saja saat hamil berusia lima bulan. Dendam itulah yang dilampiaskan kepada anaknya,” kata Kapolres Asahan, AKBP Yemi Mandagi didampingi Kasat Reskrim, AKP M Arif Batubara.

“Atas perbuatan tersangka ini dia terancam hukuman kurungan 20 tahun penjara, karena dugaan penganiayaan hingga menyebabkan kematian anak kandung sendiri,” kata Yemi saat menggelar rilis pengungkapan kasus tersebut, Rabu (23/5/2018).

Dijelaskan Kapolres, perbuatan tersangka diatur Pasal 80 ayat 3 juncto Pasal 76C Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, atau Pasal 44 ayat (3) Juncto Pasal (5)a UU 23 Tahun 2004 Tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Diberitakan sebelumnya, mayat Aulia ditemukan tewas di rumahnya di Dusun IV, Desa Asahan Mati, Bagan Asahan, Kecamatan Tanjungbalai, Asahan, Senin (21/5/2018) sekira pukul 09.30 wib dengan kondisi sekujur tubuh penuh memar dan membiru.

Jenazah Aulia tiba di ruang instalasi jenazah RSUD dr Djasamen Saragih pada Senin (21/5/2018) sekira pukul 16.00 wib. Dengan didampingi kakek dan pihak kepolisian, jenazah korban dibawa dari Kabupaten Asahan dengan menggunakan mobil ambulans.

Di dalam ruang autopsi, tubuh korban dibuka mulai dari perut hingga otak. Tubuh bocah malang itu akhirnya selesai dibedah setelah 2 jam berada di ruang autopsi. (rik/ras)

Pengusaha Kota Galuh ‘Digas’ Oknum Dishub Di Hotel Bidadari

Hotel Bidadari.
Hotel Bidadari.

LUBUKPAKAM, SUMUTPOS.CO – Hotel Bidadari di Desa Sukamandi, Kec. Pagar Merbau, Deliserdang, dijadikan tempat mesum. Ini diungkap seorang perempuan yang pernah menggunakan fasilitas kamar hotel tersebut.

Perempuan dimaksud berinisial SPR warga Kota Galuh, Kec. Perbaungan, Sergai. Diungkapnya, dia melakukan hubungan intim dengan pria berinisial AS, oknum pegawai Dinas Perhubungan Kabupaten Batubara.

Meski tidak ada ikatan suami istri, mereka masuk dan memesan kamar dengan mudah disana. Ini tentu mengejutkan, mengingat Hotel Bidadari disebut-sebut milik anggota DPRD Deliserdang.

Dikisahkan SPR, dia dan AS berkenalan pada 2 Maret 2018 lalu. Walau baru kenal, perempuan ini mau diajak jalan karena diiming-imingi akan diberi bantuan modal usaha.

Malam itu, awalnya dia dibawa keliling dan makan nasi goreng di seputaran kota Lubukpakam. Berikutnya, AS membawanya ke hotel Bidadari. Mereka tiba sekira pukul 04.00 wib.

“AS menemui saya bersama temannya. Namun setelah kami pesan kamar, temannya itu tidur di mobil. Hanya kami berdua tidur di kamar hotel itu,” sebut SPR.

Lanjutnya, karena kelelahan ‘bertempur’ dirinya tertidur dan terbangun sekira pukul 06.00 wib. Tak lama, AS menyuruhnya mandi. Namun setelah selesai mandi, dia melihat AS sudah tidak ada.

Parahnya lagi, ketika dicek, ternyata AS pergi dengan membawa kabur barang-barang dan uang milik SPR. Tak terima, dia lantas bergegas keluar. “Diluar, kulihat mobilnya juga sudah tidak ada,” bebernya dalam laporannya di Polres Deliserdang beberapa waktu lalu.

Sayang, ketika POSMETRO MEDAN (grup  SUMUTPOS.CO)  berupaya melakukan konfirmasi ke pihak hotel, karyawan disana menyebut jika pengelola sedang pergi ke luar kota.

Disinggung perihal syarat agar pasangan bisa menginap disana, karyawan tersebut menyebut, cukup menunjukkan KTP (kartu tanda penduduk) salah satu (perwakilan) pengunjung yang akan menginap.

“Jika tamunya berlainan jenis, kita hanya minta KTP dari salah satunya,” jelas pria berusia 26 tahun itu. (war/ras)

 

Terduga Teroris Dilepas

Budi
Budi

TANJUNGBALAI, SUMUTPOS.CO – Sempat diamankan Densus 88 karena diduga terlibat jaringan teroris, Budi (34) dan keluarga akhirnya bisa bernafas lega dan hidup normal lagi.

Sempat ditahan dan menjalani pemeriksaan intensif selama 7 hari, pria ini dipastikan tidak terlibat jaringan teroris. Dan dia pun dibebaskan pada Senin (21/5/2018) malam kemarin.

Namun, dua orang lainnya yang dibekuk pada hari yang sama yaitu Jul (adik dari Budi) dan Syah (tewas ditembak dalam penggerebekan) ditetapkan jadi tersangka.

Mereka dibekuk beberapa saat terjadinya teror bom di Gereja dan Polsek di Surabaya dan Pekanbaru.

Kepada sejumlah wartawan Budi mengatakan, dia yakin tidak bersalah dan sempat heran saat ditangkap dan disebut sebagai anggota teroris. Namun sejak penangkapannya, selama 7 x 24 jam (7 hari) pemeriksaan, dia tidak terbukti terlibat jaringan teroris dan dibebaskan.

“Polisi dari Medan (Poldasu) yang membawa saya pulang ke Tanjungbalai. Saya langsung diantar sampai ke rumah di Kapias Teluk Nibung,” kata Budi seperti dilansir dari Metro Asahan (Jawa Pos Group).

Menurut Budi, penetapan tersangka terhadap adiknya Jul dan Syah karena keduanya diduga memiliki cairan kimia tanpa ijin yang diduga akan dipergunakan untuk merakit bom.

Saat diperiksa, kepada polisi, Jul mengakui jika cairan asam asetat dan sulfat yang diamankan tim densus 88 adalah miliknya (Jul, red) dan rencananya akan digunakan untuk merakit bom.

Saat ini adiknya Jul ditahan di markas Densus 88 di Medan. “Adik saya dijadikan tersangka karena dia mengakui memiliki dua zat kimia yakni asam asetat dan sulfat yang akan digunakan untuk merakit bom,” kata Budi.

Menurut Budi, ia sama sekali tidak tahu jika adiknya Jul dan Syah berniat merakit bom. “Saya tidak tahu kalau adik saya dan temanya si Syah itu mau merakit bom. Bahkan cairan zat kimia yang akan mereka gunakan untuk merakit bom saya juga nggak tahu disimpan dimana. Yang kasihan abang saya si Beni. Dia juga nggak tahu menahu soal jaringan teroris dan aktivitas adik saya si Jul. Tapi abang saya ditembak di betisnya,” tambah Budi.

Saat ditanya soal Luma, warga lainnya yang dikabarkan ikut ditangkap Densus 88, Budi mengaku tidak tahu dan tidak ada ketemu mereka. “Selama tujuh hari ditahan, saya tidak pernah ketemu mereka. Apakah mereka ditahan atau tidak, saya tidak tahu,” ucap Budi.

Menurut Budi, kalau soal abangnya Ben, memang benar ditangkap dan kakinya ditembak. Padahal Beni tidak terlibat jaringan teroris. “Saat ini abang saya Ben sedang dalam masa pemulihan akibat tembakan di betisnya. Rencananya akan dipasang pen di betisnya yang tertembak itu,” pungkasnya. (syaf/tn/ma/JPG)

Solo: A Star Wars Story, Dinilai B, Alias Biasa Saja

SUMUTPOS.CO – Solo: A Star Wars Story tayang di Tanah Air mulai Rabu (23/5). Moviegoers Indonesia bisa menyaksikan lebih dulu kisah Han Solo muda yang menjadi perjudian besar Disney dan Lucasfilm tersebut.

Sempat mendapat review positif setelah pemutaran world premiere di Los Angeles 2 pekan lalu, rating film besutan Ron Howard itu malah turun menjelang pemutarannya di AS. Film yang dibintangi Alden Ehrenreich dan Emilia Clarke tersebut, dinilai B alias biasa saja.

Di Rotten Tomatoes, film itu mendapat skor 71 persen. Di IMDb, nilainya malah merosot. Pekan lalu, skornya masih di kisaran angka 7. Kini tinggal 6,2. Bandingkan proyek spin-off pendahulunya, Rogue One: A Star Wars Story, yang punya skor 85 persen di Rotten Tomatoes dan 7,8 dari IMDb.

Penilaian media dari luar Amerika Utara tidak kalah pedas. Ulasan News.com.au Selasa (22/5), menjelaskan, cerita Solo: A Star Wars Story kurang kuat sebagai sebuah spin-off.

“Yang patut ditunggu justru proyek film standalone Lando (diperankan Donald Glover). Karakternya kuat dan mencuri perhatian,” tulis Wenlei Ma, kritikus untuk situs berita Australia. Ia memberikan rating 2,5 bintang buat Solo.

The Guardian yang berbasis di Inggris merilis ulasan serupa. “Prekuel Han Solo adalah satu film yang tidak dibutuhkan dari jagat Star Wars. Jangan heran kalau penonton tidak terlalu menantikannya,” tulis Tom Beasley, kritikus The Guardian.

Penulis naskah Lawrence Kasdan sadar, proyek Solo akan menuai kritik dari para fans. “Aku paham, tapi aku tidak akan ambil pusing. Tiap film ini beda dengan rilisan era Empire (Strikes Back, episode kelima Star Wars yang rilis pada 1980),” urainya.

Sementara sutradara Ron Howard menyatakan, Solo: A Star Wars Story memang diciptakan kontroversial. Dalam wawancara di acara media Inggris, Howard menyatakan, ia dan tim produksi ambil risiko dengan mengambil tema cerita yang enggak Star Wars banget. Tidak ada The Force, tidak ada Death Star. “Film ini memang hanya fokus pada satu karakter. Jadi, seluruh alur memang didedikasikan untuk Han Solo,” jelasnya.

Meski memicu kontroversi, Howard yakin, fans akan menikmati film tersebut. Sama seperti George Lucas yang sudah menyaksikan Solo saat world premiere. “Ia percaya, aku dan tim bisa membawa sisi menghibur dari karakter dan dunia Star Wars ini,” pungkasnya. (variety/theguardian/bbc/fam/c25/na/jpnn/saz)

Nikita Willy Kerap Dikunjungi Kekasih

SUMUTPOS.CO – Bulan Ramadan tahun ini, aktris cantik Nikita Willy tetap disibukkan dengan pekerjaan keartisannya. Meski sibuk, bukan berarti Nikita tak bertemu sang kekasih, Indra Priawan. Bahkan, sang kekasih kerap menyambangi Nikita di lokasi syuting.

“Kadang-kadang ia bawa makanan kalau aku lagi syuting di Jakarta,” ungkap Nikita, saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Pemain film Alas Pati ini, bersyukur memilki kekasih yang selalu mendukung karirnya. “Ia tahu aku wanita kuat. Jadi dia yang kayak ‘lakukan apa pun itu’,” tukasnya.

Seperti diketahui, Nikita dan Indra menjalin hubungan asmara sejak 2017. Kerap berlibur bersama, keduanya dikabarkan segera naik ke pelaminan. (mg7/jpnn/saz)

Prilly dan Maxime Marahan?

SUMUTPOS.CO – Pasangan artis Prilly Latuconsina dan Maxime Bouttier, sepakat mengurangi intensitas bertemu selama Bulan Suci Ramadan.

“Malah ia (Maxime, red) yang enggak mau ketemuan saat puasa,” kata Prilly di kawasan Monas, Jakarta Pusat, belum lama ini.

Alasannya, Maxime tak ingin pertemuan mereka sampai mengganggu ibadah selama Ramadan. “Karena puasa itu sesuatu buatnya. Benar-benar enggak mau ketemuan dulu, karena kalau ketemuan takutnya malam harinya enggak Salat Tarawih,” jelas Prilly.

Meski begitu, Prilly mengakui, hal itu bukan berarti ia dan Maxime memutuskan untuk sama sekali tidak bertemu di Ramadan ini. Maxime bahkan sudah pernah berbuka puasa bersama dengan keluarga Prilly. “Bukber udah kemarin, tapi enggak sengaja. Jadi ia bukbernya enggak di rumah, tapi telat, jadi bukber sama papa mama,” ungkapnya. (igm/vsms/pojoksatu/jpnn/saz)

Sabrina jadi Sekdaprovsu Tunggu Keppres

Hj Sabrina

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi menyatakan belum menerima surat keputusan presiden (keppres) tentang penunjukan Sekretaris Daerah Provinsi Sumut yang baru. Bahkan, kabar tentang Hj Sabrina telah ditunjuk presiden sebagai Sekdaprovsu menggantikan Hasban Ritonga, menurut Gubsu, didapatkannya dari media.

“Saya juga dapat informasi seperti itu (Sabrina jadi Sekdaprovsu, Red). Tapi saya belum pegang Keppresnya, jadi saya belum tahu keabsahannya. Nanti kalau saya sudah pegang Keppresnya, saya  umumkan pada kawan-kawan media,” tutur Erry kepada wartawan, di Aula Raja Inal Siregar,  Rabu (23/5).

Anggota Panitia Seleksi Lelang Jabatan Sekdaprovsu, Muhyan Tambuse juga mengatakan, belum mengetahui ihwal kabar Hj Sabrina jadi Sekda. “Coba dipastikan ke BKD saja,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, Presiden Jokowi diinformasikan sudah menunjuk Hj Sabrina sebagai Sekdaprovsu yang baru, menyisihkan dua nama pesaingnya yakni Arsyad Lubis dan Sarmadan Hasibuan.

“Kabar tersebut benar adanya. Tinggal tunggu keppresnya turun saja,” kata seorang pejabat struktural Pemprovsu yang minta namanya ditulis. “Kepala BKD pasti tahu info itu. Coba tanya kepada beliau (Kaiman Turnip) saja,” bebernya.

Kaiman Turnip yang dikonfirmasi, menjawab belum menerima tembusan Keppres berkenaan nama Sekdaprovsu yang baru. “Biasanya tinggal ambil SK aja. Tapi saya belum pegang SK-nya. Jadi nggak berani katakan itu benar,” ujarnya singkat.

Sebelumnya, Arsyad Lubis, Hj Sabrina dan Sarmadan Hasibuan bersaing ketat memperebutkan kursi Sekdaprovsu. Ketiganya menjadi ranking tertinggi berdasarkan hasil Tim Pansel. Arsyad mendapat nilai total penilaian pansel dengan skor 92,94. Hj Sabrina 91,44, dan Sarmadan Hasibuan 86,35. (prn)