Pascasarjana Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah terus memperkuat kontribusinya dalam peningkatan kualitas pendidikan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Kegiatan dilaksanakan di SMP Negeri 1 Kisaran, Senin (21/9) dengan tema: Transformasi Guru di Era 5.0: Menguasai Keterampilan Pedagogi Digital dan Integrasi Etis Teknologi dalam Pembelajaran.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 40 guru dan menjadi ruang penguatan kompetensi sekaligus refleksi bagi pendidik dalam menghadapi perubahan dunia pendidikan yang semakin erat dengan perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Hadir dalam kegiatan tersebut Dr. Cut Latifah Zahari, M.Pd (wakil direktur Pascasarjana UMN Al-Washliyah), Dr. Asnawi, M.Hum (ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Inggris UMN Al-Washliyah) dan Rahmat Kartolo, M.Pd, Ph.D (ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia UMN Al Washliyah).
Kegiatan ini menempatkan guru sebagai aktor utama dalam transformasi pendidikan. Teknologi dipandang bukan sebagai pengganti peran pendidik, melainkan sebagai sarana yang membantu guru merancang pembelajaran menjadi lebih efektif, kreatif, relevan dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Materi seminar menyoroti bahwa perkembangan AI dapat membantu guru menghasilkan ide aktivitas pembelajaran, variasi soal, rubrik, bahan ajar awal, ringkasan hingga diferensiasi teks. Namun, keputusan tentang tujuan pembelajaran, tingkat kesulitan, validitas materi dan asesmen serta tindak lanjut terhadap peserta didik tetap menjadi tanggung jawab profesional guru. Karena itu, pemanfaatan AI ditekankan pada prinsip verify before use. Yakni setiap keluaran teknologi perlu diperiksa dan dipastikan kesesuaiannya sebelum digunakan dalam pembelajaran.
Seminar juga menegaskan bahwa revolusi industri 5.0 mengarah pada pemanfaatan teknologi yang berpusat pada manusia atau human-centric. Dalam pendidikan, teknologi semestinya memperkuat kapasitas manusia. Bukan menggantikan empati, keteladanan, martabat dan pengambilan keputusan pendidik.
Guru, peserta didik, teknologi, orangtua dan komunitas perlu ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem belajar yang saling terhubung dan kolaboratif. Perubahan karakteristik peserta didik turut menghadirkan tantangan baru bagi guru. Atensi siswa yang semakin dinamis menuntut pembelajaran lebih aktif, kontekstual dan variatif.
Melimpahnya informasi juga membuat tantangan guru tidak lagi sekadar menemukan informasi, tetapi menilai kualitas dan kebenarannya. Masuknya AI ke ruang belajar menuntut literasi AI, pemahaman etika serta kemampuan merancang tugas dan asesmen yang lebih autentik.
Karena itu, peningkatan kompetensi guru di era 5.0 tidak cukup hanya dengan penguasaan aplikasi digital. Guru perlu terus mengembangkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian, literasi digital dan AI, kemampuan riset dan publikasi serta kepemimpinan pembelajaran.
Penguasaan teknologi harus berjalan seiring dengan kemampuan memahami cara peserta didik belajar dan kemampuan mengambil keputusan pedagogis secara bertanggung jawab.
Salah satu bagian penting kegiatan adalah mendorong guru melihat persoalan yang muncul di ruang kelas sebagai sumber inovasi. Persoalan seperti rendahnya partisipasi siswa, lemahnya literasi, kesulitan memahami konsep, asesmen yang belum bermakna hingga ketergantungan terhadap AI dapat dipetakan melalui tahapan masalah, data, analisis, solusi, dan evaluasi.
Dengan pendekatan tersebut, pengalaman guru di kelas tidak berhenti sebagai rutinitas, tetapi dapat berkembang menjadi praktik baik, penelitian, maupun inovasi pembelajaran. Kegiatan ini mengusung tema transformasi guru di era 5.0 dengan penguatan keterampilan pedagogi digital dan integrasi teknologi secara etis dalam pembelajaran.
Penguatan budaya belajar sepanjang hayat juga menjadi perhatian dalam kegiatan ini. Para guru didorong untuk terus meningkatkan kapasitas melalui refleksi pembelajaran, komunitas belajar, pelatihan dan workshop, riset dan publikasi serta studi lanjut.
Studi lanjut dipandang bukan sekadar penambahan gelar akademik. Tetapi sarana untuk mengubah pengalaman menjadi pengetahuan, persoalan kelas menjadi penelitian, inovasi menjadi bukti ilmiah dan jejaring profesional menjadi kolaborasi yang lebih luas.
Sebagai bagian dari pengabdian yang berorientasi pada dampak, peserta diperkenalkan dengan rencana aksi 30, 90, dan 365 hari. Dalam 30 hari, guru didorong memilih satu persoalan pembelajaran dan mencoba satu strategi baru yang terukur.
Dalam 90 hari, praktik tersebut diharapkan telah didokumentasikan, direfleksikan dan dibagikan kepada rekan sejawat. Sementara dalam 365 hari, guru diarahkan melakukan lompatan profesional melalui riset, publikasi, sertifikasi, penguatan komunitas profesi maupun studi lanjut.
Kegiatan di SMP Negeri 1 Kisaran ini tidak dirancang berhenti pada satu kali pertemuan. Pascasarjana UMN Al-Washliyah berkomitmen melaksanakan kegiatan PkM secara rutin dan berkelanjutan. Khususnya dalam mendampingi guru meningkatkan kompetensi pedagogik, literasi digital, penggunaan AI secara etis, penelitian, publikasi dan pengembangan inovasi pembelajaran.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat budaya belajar dan inovasi di kalangan guru sekaligus menghadirkan dampak nyata bagi peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah. Di era 5.0, guru yang dibutuhkan bukan yang paling banyak tahu, tetapi yang paling siap terus belajar, beradaptasi dan memberi makna. (dmp)

