USU Edukasi Siswa MIS Amal Shaleh Hadapi Banjir Lewat Simulasi Virtual Reality

MEDAN, sumutpos.co— Pernah mengalami banjir setinggi lebih dari dua meter yang merendam lantai satu sekolah pada akhir November 2025, siswa Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Amal Shaleh Medan kini diajak belajar menghadapi situasi serupa melalui simulasi Virtual Reality (VR) yang dikembangkan Universitas Sumatera Utara (USU).

Edukasi yang dilaksanakan di MIS Amal Shaleh, Kelurahan Mangga pada Hari Rabu (26/8/2026) tersebut, sebagai bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat USU Skema Mono Tahun Reguler dengan tema Mitigasi Bencana. Kegiatan dirancang agar siswa tidak sekadar mengetahui prosedur menghadapi banjir, tetapi memperoleh pengalaman simulasi yang membantu mereka memahami tindakan yang perlu dilakukan ketika berada dalam situasi darurat.

Program ini melibatkan kolaborasi dosen dari berbagai program studi di USU. Kegiatan diketuai Rossy Nurhasanah, S.Kom., M.Kom., bersama Ulfi Andayani, M.Kom., dan Annisa Fadhillah Pulungan, M.Kom., dari Program Studi Teknologi Informasi, Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi USU. Tim tersebut berkolaborasi dengan Dina Nazriani, S.Psi., M.A. dari Fakultas Psikologi USU serta Adrian Hilman, S.T.P., M.Sc., Ph.D. dari Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan USU.

Ketua tim pelaksana, Rossy Nurhasanah, mengatakan, simulasi dikembangkan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan yang dekat dengan kehidupan siswa. “Kami ingin anak-anak tidak hanya menghafal apa yang harus dilakukan saat banjir, tetapi belajar mengenali situasi dan mengambil keputusan ketika menghadapi keadaan darurat,” ujar Rossy.

Melalui perangkat VR, siswa dibawa ke lingkungan virtual yang menggambarkan situasi banjir. Lingkungan tersebut dikembangkan berdasarkan hasil observasi terhadap kondisi MIS Amal Shaleh sehingga ruang dan suasana dalam simulasi memiliki kedekatan dengan lingkungan yang mereka kenal.

Salah satu bagian utama simulasi menggunakan pendekatan decision point. Dalam skenario tertentu, siswa diminta menentukan tindakan yang menurut mereka paling tepat. Pilihan tersebut kemudian memengaruhi alur simulasi sehingga siswa dapat melihat konsekuensi dari keputusan yang diambil.

Pendekatan ini membuat edukasi mitigasi bencana berlangsung secara interaktif. Siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi diajak berpikir dan mempertimbangkan tindakan yang lebih aman ketika menghadapi kondisi banjir.

Sebelum menggunakan headset VR, siswa terlebih dahulu mengikuti rangkaian persiapan berupa pengarahan, ice breaking, latihan grounding, pretest, serta pengecekan kesiapan sebelum simulasi dimulai.

Aspek psikologis menjadi perhatian khusus karena sebagian siswa memiliki pengalaman langsung dengan banjir. Dina Nazriani dari Fakultas Psikologi USU turut memberikan masukan dalam penyusunan skenario dengan pendekatan Trauma-Informed Care dan Psychological First Aid.

Skenario dan storyboard simulasi ditinjau terlebih dahulu agar pengalaman virtual yang diberikan kepada siswa tetap aman, nyaman, dan sesuai dengan karakteristik anak.

Setelah mendapatkan pengarahan, siswa mencoba simulasi secara bergantian dengan pendampingan tim. Antusiasme terlihat ketika siswa pertama kali mengenakan headset dan memasuki lingkungan virtual yang menampilkan situasi banjir.

Kepala MIS Amal Shaleh, Hj. Rosnani, M.Pd., mengatakan siswa terlihat senang mengikuti kegiatan tersebut. “Anak-anak sangat senang dan antusias mengikuti kegiatan ini. Mereka bisa belajar tentang kesiapsiagaan banjir dengan cara yang menarik,” ujar Rosnani.

Menurut Rossy, penggunaan teknologi dalam edukasi bencana diharapkan dapat membantu siswa memahami bahwa kesiapsiagaan bukan hanya tentang mengetahui prosedur, tetapi juga tentang mampu tetap tenang, mengenali kondisi, dan menentukan tindakan yang tepat ketika menghadapi situasi yang tidak terduga.

Melalui simulasi tersebut, USU berharap edukasi kesiapsiagaan bencana dapat menjadi pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kehidupan siswa, terutama bagi anak-anak yang berada di wilayah yang memiliki risiko banjir. (adz)

MEDAN, sumutpos.co— Pernah mengalami banjir setinggi lebih dari dua meter yang merendam lantai satu sekolah pada akhir November 2025, siswa Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Amal Shaleh Medan kini diajak belajar menghadapi situasi serupa melalui simulasi Virtual Reality (VR) yang dikembangkan Universitas Sumatera Utara (USU).

Edukasi yang dilaksanakan di MIS Amal Shaleh, Kelurahan Mangga pada Hari Rabu (26/8/2026) tersebut, sebagai bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat USU Skema Mono Tahun Reguler dengan tema Mitigasi Bencana. Kegiatan dirancang agar siswa tidak sekadar mengetahui prosedur menghadapi banjir, tetapi memperoleh pengalaman simulasi yang membantu mereka memahami tindakan yang perlu dilakukan ketika berada dalam situasi darurat.

Program ini melibatkan kolaborasi dosen dari berbagai program studi di USU. Kegiatan diketuai Rossy Nurhasanah, S.Kom., M.Kom., bersama Ulfi Andayani, M.Kom., dan Annisa Fadhillah Pulungan, M.Kom., dari Program Studi Teknologi Informasi, Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi USU. Tim tersebut berkolaborasi dengan Dina Nazriani, S.Psi., M.A. dari Fakultas Psikologi USU serta Adrian Hilman, S.T.P., M.Sc., Ph.D. dari Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan USU.

Ketua tim pelaksana, Rossy Nurhasanah, mengatakan, simulasi dikembangkan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan yang dekat dengan kehidupan siswa. “Kami ingin anak-anak tidak hanya menghafal apa yang harus dilakukan saat banjir, tetapi belajar mengenali situasi dan mengambil keputusan ketika menghadapi keadaan darurat,” ujar Rossy.

Melalui perangkat VR, siswa dibawa ke lingkungan virtual yang menggambarkan situasi banjir. Lingkungan tersebut dikembangkan berdasarkan hasil observasi terhadap kondisi MIS Amal Shaleh sehingga ruang dan suasana dalam simulasi memiliki kedekatan dengan lingkungan yang mereka kenal.

Salah satu bagian utama simulasi menggunakan pendekatan decision point. Dalam skenario tertentu, siswa diminta menentukan tindakan yang menurut mereka paling tepat. Pilihan tersebut kemudian memengaruhi alur simulasi sehingga siswa dapat melihat konsekuensi dari keputusan yang diambil.

Pendekatan ini membuat edukasi mitigasi bencana berlangsung secara interaktif. Siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi diajak berpikir dan mempertimbangkan tindakan yang lebih aman ketika menghadapi kondisi banjir.

Sebelum menggunakan headset VR, siswa terlebih dahulu mengikuti rangkaian persiapan berupa pengarahan, ice breaking, latihan grounding, pretest, serta pengecekan kesiapan sebelum simulasi dimulai.

Aspek psikologis menjadi perhatian khusus karena sebagian siswa memiliki pengalaman langsung dengan banjir. Dina Nazriani dari Fakultas Psikologi USU turut memberikan masukan dalam penyusunan skenario dengan pendekatan Trauma-Informed Care dan Psychological First Aid.

Skenario dan storyboard simulasi ditinjau terlebih dahulu agar pengalaman virtual yang diberikan kepada siswa tetap aman, nyaman, dan sesuai dengan karakteristik anak.

Setelah mendapatkan pengarahan, siswa mencoba simulasi secara bergantian dengan pendampingan tim. Antusiasme terlihat ketika siswa pertama kali mengenakan headset dan memasuki lingkungan virtual yang menampilkan situasi banjir.

Kepala MIS Amal Shaleh, Hj. Rosnani, M.Pd., mengatakan siswa terlihat senang mengikuti kegiatan tersebut. “Anak-anak sangat senang dan antusias mengikuti kegiatan ini. Mereka bisa belajar tentang kesiapsiagaan banjir dengan cara yang menarik,” ujar Rosnani.

Menurut Rossy, penggunaan teknologi dalam edukasi bencana diharapkan dapat membantu siswa memahami bahwa kesiapsiagaan bukan hanya tentang mengetahui prosedur, tetapi juga tentang mampu tetap tenang, mengenali kondisi, dan menentukan tindakan yang tepat ketika menghadapi situasi yang tidak terduga.

Melalui simulasi tersebut, USU berharap edukasi kesiapsiagaan bencana dapat menjadi pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kehidupan siswa, terutama bagi anak-anak yang berada di wilayah yang memiliki risiko banjir. (adz)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru