Ronny Pasla, dari Tenis Jadi Kiper Legendaris PSMS dan Timnas, Berkat Tukang Es Balok

444
Ronny Pasla Kiper Legendaris PSMS

Bagi pencinta PSMS Medan, nama Ronny Pasla tentu tidak asing lagi. Apalagi bagi pecinta sepak bola di Indonesia tempo doeloe.

Berikut kisah Ronny Pasla yang ditulis Pemerhati PSMS, Indra Efendi Rangkuti.

Pada era 60-an hingga 70-an, Ronny Pasla adalah sosok penting dalam sejarah prestasi PSMS juga Tim Nasional Indonesia.

Ronny Pasla merupakan pesepakbola berdarah Sulawesi Utara yang lahir di Medan pada 15 April 1946. Dia berkiprah sebagai kiper Timnas Indonesia antara era akhir 60-an hingga akhir era 70-an.

Menariknya, putra dari Felix Pasla ini awalnya menekuni olahraga tenis. Pada PON 1965, Ronny Pasla bahkan terdaftar untuk memperkuat tim Tenis Sumut. Namun PON ini urung dilaksanakan karena peristiwa G-30 S/PKI.

Gagal tampil di PON, dia sempat meraih juara pada Kejuaraan Tenis Nasional Tingkat Junior di Malang, 1967. Namun sang ayah, Felix Pasla, menyarankannya untuk beralih ke sepak bola karena melihat postur Ronny yang bertinggi 184 cm dan berat 79 kg sangat cocok untuk menjadi kiper.

Bakat Ronny juga dilirik oleh Zulkarnaen Nasution, pelatih klub anggota PSMS, Dinamo. Penampilannya yang gemilang di bawah mistar kemudian dilihat oleh pelatih PSMS Jr Ramli Yatim dan kemudian mempersiapkannya untuk ikut Suratin Cup 1967. Singkat cerita, Ronny pun tampil mengawal gawang PSMS Jr di Suratin Cup 1967.

Ternyata pilihan Ramli Yatim tidak salah. Ronny tampil prima hingga akhirnya sukses membawa PSMS Jr juara Suratin Cup 1967.

PSMS Jr di Suratin Cup 1967 ini kelak dikemudian hari sukses melahirkan bintang-bintang legendaris PSMS, antara lain Ronny Pasla, Sarman Panggabean, Tumsila, Wibisono, Nobon, dan lainnya.

Penampilan gemilang PSMS Jr di Suratin Cup 1967 membuat beberapa pemainnya seperti Ronny Pasla, Tumsila, Sarman Panggabean dan Wibisono ditarik memperkuat PSMS yang akan berlaga di putaran final Kejurnas PSSI 1967.

Kebetulan, di tim ini legenda PSMS Yusuf Siregar menjadi pelatih didampingi oleh Ramli Yatim. Perpaduan bintang-bintang muda tersebut dengan para pemain senior seperti Yuswardi, Sukiman, Muslim, Sunarto, Ipong Silalahi, Zulkarnaen Pasaribu, Zulham Yahya, Azis Siregar, Syamsuddin dan lainnya membuat PSMS menjadi lebih solid.

Dan ternyata Ronny Pasla tidak canggung ketika dipercaya untuk menjadi kiper utama PSMS di putaran final.

Bahkan, dia ikut sukses membawa PSMS Juara Kejurnas PSSI untuk pertama kalinya pada 1967. Di final, PSMS mengalahkan Persib 2-0 lewat gol yang dicetak A Rahim dan Zulkarnaen Pasaribu.

Yang unik pada final ini Ronny Pasla
berhadapan dengan kiper Persib yang dikaguminya, Jus Etek. Dan ternyata Ronny Pasla berhasil membuktikan dirinya tidak kalah dari sang idola.

Keberhasilan menjuarai Kejurnas PSSI 1967 ini membuat PSMS mewakili Indonesia di Aga Khan Gold Cup 1967 di Bangladesh. Dan lagi-lagi Ronny Pasla sukses menabalkan dirinya sebagai salah satu kiper terbaik Indonesia dan Asia setelah membawa PSMS juara Aga Khan Gold Cup 1967. Di final PSMS yang dijuluki “The Killer” ini mengalahkan tuan rumah Mohammaden 2-0.

Usai turnamen ini Ronny Pasla pindah ke klub anggota PSMS lainnya, Bintang Utara. Di klub inilah kemampuan Ronny makin mumpuni mengawal gawang, hingga akhirnya ia dipanggil memperkuat Timnas Indonesia dan bersaing sehat dengan Judo Hadianto.

Selama berkiprah di PSMS, Ronny Pasla dan rekan-rekannya meraih prestasi sebagai juara Piala Suratin (1967), Kejurnas PSSI (1967, 1969, dan 1971), Aga Khan Gold Cup (1967), Soeharto Cup 1972, Marah Halim Cup 1972 dan 1973, dan Semifinalis AFC Champions Cup 1970.

Ronny Pasla juga turut membawa Tim Sumut merebut Medali Emas PON 1969 di Surabaya setelah di final mengalahkan DKI Jakarta.

Saat berkiprah sebagai penjaga gawang andalan Tim Nasional Indonesia, Ronny juga meraih prestasi sebagai juara King’s Cup di Thailand (1968), Merdeka Games (1969), Pesta Sukan Singapura (1972), Djakarta Anniversary Cup 1972.

Ronny Pasla bahkan nyaris membawa Timnas Indonesia lolos ke Olimpiade 1976. Sayang di partai akhir PPD 1976 Indonesia kalah dari Korea Utara dalam drama adu penalti.

Atas prestasinya yang gemilang sebagai kiper PSMS, Ronny yang dijuluki ‘Macan Tutul’ mendapat penghargaan sebagai Warga Utama Kota Medan (1967) yang diberikan oleh Wali Kota Sjoerkani.

Kiprahnya di sepak bola nasional sebagai kiper andal sejak 1967 hingga pensiun pada 1985 dalam usia 38 tahun dianugerahi Piagam dan Medali Emas dari PSSI tahu 1968, Atlet Terbaik Nasional 1972, dan Penjaga Gawang Terbaik Nasional 1974.

Selama berkarier sebagai kiper, banyak pengalaman yang sangat berkesan bagi Ronny. Di antaranya, tatkala tim asal Brasil, Santos, yang diperkuat pesepak bola legendaris seperti Pele, tur ke Asia termasuk Indonesia pada 21 Juni 1972.

Dalam laga Timnas Indonesia dan Santos itu Ronny sempat menahan eksekusi penalti Pele walau kemudian bola cepat disambar Pele dan menjadi gol. Kendati Indonesia akhirnya kalah 2-3 namun penampilan Ronny Pasla mendapat pujian karena sukses menahan gempuran-gempuran dari Pele, Edu dan lainnya.

Demikian juga ketika mengawal gawang PSMS ketika melawan PSV Eindhoeven pada 1971 di Medan. Walau PSMS kalah 0-4 tetapi penampilan Ronny mengundang decak kagum pelatih PSV termasuk bintang PSV kala itu seperti Guus Hiddink.

Penampilan Ronny yang gemilang lainnya adalah ketika mengawal gawang Timnas dalam laga ujicoba dengan Benfica yang diperkuat Eusebio pada 1972. Walau kalah, tapi penampilannya mendapat pujian dari Eusebio.

Demikian juga saat membawa Timnas Indonesia mengalahkan Timnas Uruguay yang dipersiapkan untuk Piala Dunia 1974 dengan skor 2-1. Penampilan gemilangnya membuat para bintang Uruguay saat itu seperti Pedro Rocha, dan Fernando Morena mati kutu.

Salah satu kepiawaiannya yang diingat oleh para pecinta sepakbola adalah kemampuannya menjaga gawang dengan aksi- aksi akrobatik. Selain itu Ronny Pasla yang berpostur tinggi tegap ini tangkas dalam mengantisipasi bola- bola atas dan piawai dalam menghalau bola-bola bawah.

Mencari Tukang Es Balok

Sederet pengalaman dan kiprah Ronny di persepakbolaan tanah air ternyata tidak membuatnya lupa terhadap seseorang yang hingga saat ini disebutnya Tukang Es Balok.

Seorang tukang es balok di Stadion Teladan Medan saat Ronny masih muda ikut berjasa di balik kisah suksesnya sebagai pemain sepak bola.

Kisah itu terjadi pada awal 60-an ketika Ronny Pasla yang waktu itu masih pelajar sangat ingin menonton PSMS di Stadion Teladan. Tapi saat itu ayahnya tidak bisa menemani dan uang sakunya tidak cukup untuk membeli tiket. Akhirnya dengan naik sepeda dari rumahnya di Kampung Dadap, Ronny Pasla datang ke Stadion Teladan dengan harapan bisa bertemu dengan para pemain PSMS yang turun dari bus dan ikut membawa barang perlengkapan ke stadion.Tapi apa daya begitu sampai di Stadion Teladan para pemain sudah turun dari bus dan sudah memasuki stadion.

Untunglah, nasib baik menyertai dirinya ketika itu. Seorang tukang es balok meminta dirinya untuk ikut membantu mengangkat es balok (untuk kebutuhan pemain) ke dalam stadion dengan imbalan bisa menonton di dalam stadion. Beserta seorang pemuda, Ronny pun ikut membantu hingga bisa menonton tim idolanya di dalam stadion.

Menonton di Stadion Teladan ini jugalah yang membuat Ronny semakin termotivasi untuk bisa menjadi seorang pemain sepak bola. Usai pertandingan Ronny mencari tukang es balok tersebut, namun tidak terlihat lagi.

Dan hingga menjadi kiper utama PSMS, Ronny terus berusaha mencarinya namun tak kunjung ketemu. Niat Ronny Pasla adalah untuk mengucapkan terima kasih. Dan hingga kini Ronny Pasla terus berdoa untuk tukang es balok tersebut. Jika masih hidup semoga diberi keberkahan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dan jika sudah wafat semoga ditempatkan Tuhan di sisi-Nya.

Ronny Pasla kemudian pindah ke Persija usai memperkuat Sumut di PON 1973 akibat mutasi tugas dari tempatnya bekerja. Dan pada era kompetisi Galatama Ronny Pasla memperkuat Indonesia Muda.

Keberhasilan Ronny Pasla inilah sepertinya yang kelak menjadi awal kisah kesuksesan kiper-kiper asal Medan dan PSMS menjadi kiper sukses di Timnas. Sebut saja Taufik Lubis, Ponirin Meka, Eddy Harto, Benny Van Breukelen, Donny Latuperissa, Sahari Gultom, hingga Markus Horison.

Kini Ronny Pasla lebih banyak mengisi hari-harinya dengan memberi pelatihan secara privat kepada para kiper-kiper muda di Jakarta dan berkumpul dalam forum sepak bola bersama rekan-rekannnya sesama mantan pemain Tim Nasional Indonesia.

Hingga kini rasa cintanya kepada PSMS tidak pernah luntur dan berharap PSMS bisa kembali ke kasta tertinggi persepakbolaan Indonesia. (*)