25 C
Medan
Wednesday, June 19, 2024

Masjid Raya Nur Addin Tertua di Kota Tebingtinggi, Berusia 163 Tahun

Bubur Daging, Warisan Kerajaan Padang Setiap Ramadan

TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO – Meski sudah berusia 163 tahun, Masjid Raya Nur Addin masih terlihat kokoh. Masjid yang terletak di Jalan Suprapto Kota Tebingtinggi ini sudah mengalami beberapa kali pemugaran, namun tetap mempertahankan corak khas Melayu. Hal itu karena, keberadaan masjid ini tak lepas dari sejarah Kerajaan Padang Tebingtinggi Deli.

Berdasarkan data sejarah, Kerajaan Padang Tebingtinggi Deli berdiri pada awal abad XVII (1656) di bawah kepemimpinan Raja Umar Baginda Saleh. Namun, Masjid Nur Addin ini didirikan pada tahun 1861 di masa Kerajaan Padang dipimpin Raja Tengku Haji Muhammad Nurdin bergelar Raja Gara dan oleh Sultan Deli diberi gelar Al Sikubillah Kurnia Tuanku Sultan Deli Tengku Maha Raja. Namun di Negeri Padang, oleh rakyatnya dia lebih dikenal dengan sebutan Tengku Haji. Dia juga merupakan pendiri Kota Tebingtinggi.

Ketua Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Nur Addin, Khuzamri Amar menjelaskan, tujuan didirikannya masjid ini adalah untuk mempersatukan umat Islam yang pada saat itu masih di bawah Pemerintahan Kesultanan Deli (Istana Maimun). “Jadi warga muslim bisa menjalankan ibadahnya di pusat pemerintahan Kerajaan Negeri Padang saat itu yang membawahi kekuasaan untuk kerajaan lainya di Kerajaan Bandar Khalifah, Kerajaan Sipispis, Kerajaan Bedagai, dan Kerajaan Dolok Merawan yang tunduk dengan Kerajaan Negeri Padang yang berpusat pemerintahan di Tebingtinggi,” beber Khuzamri kepada Sumut Pos, Rabu (27/3) pekan lalu.

Namun menurutnya, ada sedikit terjadi pengklaiman tentang siapa pendiri nama Tebingtinggi yang sekarang menjadi Kota Tebingtinggi. Pihak Datuk Bandar Kajum mengklaim bahwa pendiri Kota Tebingtinggi adalah Datuk Bandar Kajum, namun setelah ditelaah sejarah lahirnya nama Tebingtinggi adalah karena dulu terjadi peperangan antara Raja Batak dengan Raja Deli, karena kalah Raja Deli memohon bantuan Kesultanan Deli dan secara resmi Tengku Muhammad Nurdin diangkat menjadi raja kedua kalinya oleh Kesultanan Deli sekitar tahun 1888 karena memenangkan pertempuran tersebut.

Menurutnya, Tengku Muhammad Nurdin mempunyai 4 orang istri. Yang pertama, Hajah Ramah wafat tahun 1920, kedua Cek Mas wafat tahun 1905. Ketiga Tengku Syarifah Jawiyah, wafat tahun 1940, dan keempat Cek Etek yang wafat tahun 1946.

Saksi hidup istri dari keturunan Raja Negeri Padang, Tengku Yunus keturunan kedua yang wafat tahun 1989, menurut cerita almarhum Tengku Samiah kepada cucunya bahwa sewaktu kecilnya beliau melihat bahwa masjid raya itu dulu dibangun dengan mengunakan kayu sejenis Siam. “Bangunan masjid itu dulu tempat masyarakat menunaikan ibadah sholat fardhu baik sholat Jumat, bahkan warga yang datang jauh-jauh dari Bandar Khalifah, Sipispis, Bedagai dan Dolok Merawan di bawah kekuasaan Raja Negeri Padang sang pendiri masjid raya,” bebernya.

Sayangnya, nilai sejarah masjid raya ini tidak nampak lagi setelah dipugar oleh Pemerintah Kota Tebingtinggi. Bangunan yang terbuat dari kayu siam, kini telah berubah menjadi beton. Peninggalan barang-barang di masjid sampai saat ini juga tak terlihat lagi, dan pergantian nama masjid itupun tidak ada pemberitahuan kepada pihak keturunan Raja Negeri Padang, Tengku Haji Muhammad Nurdin.

Menurut Khuzamri, mesjid ini sangat dikenal di Kota Tebingtinggi sebagai masjid pertama yang didirikan Kerajaan Padang dan sudah dua kali orang penting di negeri ini melaksanakan salat di masjid ini. Keduanya adalah Presiden RI pertama Ir Soekarno dan Presiden ke-6, Susilo Bambang Yudoyono (SBY).

Di masjid ini, ada tradisi yang masih dipertahankan selama ratusan tahun. Yakni, setiap datangnya Bulan Suci Ramadan, kenaziran Masjid Raya Nur Addin selalu menyediakan takjil bagi masyarakat ataupun musafir yang singgah di masjid tersebut untuk berbuka puasa.

“Setiap tahun di Bulan Suci Ramadan tetap menyajikan bubur daging. Ini merupakan salah satu kebiasaan atau tradisi sejak ratusan tahun silam, semasa berjayanya Kerajaan Padang sekitar tahun 1850,” kata Khuzamri Amar.

Dijelaskannya, bubur daging tersebut berbahan baku beras yang dicampur dengan rempah-rempah serta daging cincang. “Bubur ini dimasak mulai ba’da salat zuhur. Ketika bubur di masak, aromanya sudah tercium dan sangat menggoda selera,” ungkap Khuzamri.

Bubur ini mulai matang setelah memasuki wakti Salat Ashar, dan selanjutnya bubur daging sebanyak hampir 6 kilogram setiap harinya itu dibagi-bagikan kepada warga yang ingin berbuka puasa di Masjid Nur Addin. “Banyak juga warga datang membawa wadah seperti rantang atau mangkuk, mengambil bubur daging ini untuk berbuka di rumah,” jelasnya.

Menurut Khuzamri, tradisi ini sempat terhenti beberapa tahun lalu. Namun sejak dirinya kembali menjadi Ketua BKM, ia kembali menghidupkan tradisi bagi-bagi bubur daging ini untuk bisa mengingat kembali sejarah kejayaan Kerajaan Padang. “Alhamdulillah sekarang bubur daging ini diserbu warga untuk takjil berbuka puasa,” sebutnya.

Menurut Khuzamri, juru masak bubur daging di Masjid Raya Nur Addin memang harus orang yang benar-benar sudah menguasai cara membuat bubur daging untuk menjaga cita rasanya. Dikatakannya, semasa masih kanak-kanak, ia sering membantu memasak bubur daging tersebut di lingkungan Masjid Raya Nur Addin. Dan saat ini, generasi yang mengetahui resep bubur daging ini agar terasa nikmat tinggal dirinya.

Sebagai juru masak, ia sangat paham dengan ukuran bumbu dan daging untuk membuat bubur daging. Bahkan setiap hari, juru masak harus memasak bubur daging sebanyak 6 kilogram mulai dari awal Ramadan hingga akhir. Ditaksir, bubur yang sudah dimasak bisa mencapai 200 hingga 250 mangkuk dan setiap harinya habis.

Sedangkan untuk kandungan gizi pada bubur tersebut begitu banyak, seperti berkarbohidrat untuk pemulihan orang baru dari sakit, bahkan warga yang memakannya akan ketagihan. “Bagi warga yang menyantapnya tidak akan makan lagi setelah berbuka dan akan kembali makan ketika masuk waktu sahur,” beber Khuzamri Amar.

Diungkapkannya, untuk cara memasaknya membutuhkan kesabaran, karena beras yang dicampur santan, harus terus diaduk tanpa berhenti selama empat jam lamanya. “Apabila kita tinggalkan sejenak, bubur akan gosong dan aroma bau khas bubur daging akan menghilang,” bebernya.

“Jangan sampai gosong. Kalau gosong, rasa bubur daging berubah secara otomatis. Butuh keuletan dan kesabaran dalam memasak buburnya,” imbuhnya.

Ke depannya, Khuzamri Amar berharap agar tradisi bubur daging yang dibuat oleh Masjid Nur Addin agar tetap dilaksanakan tanpa merubah cita rasa yang ada dari rempah-rempah khas bubur daging. (ian/adz)

Bubur Daging, Warisan Kerajaan Padang Setiap Ramadan

TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO – Meski sudah berusia 163 tahun, Masjid Raya Nur Addin masih terlihat kokoh. Masjid yang terletak di Jalan Suprapto Kota Tebingtinggi ini sudah mengalami beberapa kali pemugaran, namun tetap mempertahankan corak khas Melayu. Hal itu karena, keberadaan masjid ini tak lepas dari sejarah Kerajaan Padang Tebingtinggi Deli.

Berdasarkan data sejarah, Kerajaan Padang Tebingtinggi Deli berdiri pada awal abad XVII (1656) di bawah kepemimpinan Raja Umar Baginda Saleh. Namun, Masjid Nur Addin ini didirikan pada tahun 1861 di masa Kerajaan Padang dipimpin Raja Tengku Haji Muhammad Nurdin bergelar Raja Gara dan oleh Sultan Deli diberi gelar Al Sikubillah Kurnia Tuanku Sultan Deli Tengku Maha Raja. Namun di Negeri Padang, oleh rakyatnya dia lebih dikenal dengan sebutan Tengku Haji. Dia juga merupakan pendiri Kota Tebingtinggi.

Ketua Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Nur Addin, Khuzamri Amar menjelaskan, tujuan didirikannya masjid ini adalah untuk mempersatukan umat Islam yang pada saat itu masih di bawah Pemerintahan Kesultanan Deli (Istana Maimun). “Jadi warga muslim bisa menjalankan ibadahnya di pusat pemerintahan Kerajaan Negeri Padang saat itu yang membawahi kekuasaan untuk kerajaan lainya di Kerajaan Bandar Khalifah, Kerajaan Sipispis, Kerajaan Bedagai, dan Kerajaan Dolok Merawan yang tunduk dengan Kerajaan Negeri Padang yang berpusat pemerintahan di Tebingtinggi,” beber Khuzamri kepada Sumut Pos, Rabu (27/3) pekan lalu.

Namun menurutnya, ada sedikit terjadi pengklaiman tentang siapa pendiri nama Tebingtinggi yang sekarang menjadi Kota Tebingtinggi. Pihak Datuk Bandar Kajum mengklaim bahwa pendiri Kota Tebingtinggi adalah Datuk Bandar Kajum, namun setelah ditelaah sejarah lahirnya nama Tebingtinggi adalah karena dulu terjadi peperangan antara Raja Batak dengan Raja Deli, karena kalah Raja Deli memohon bantuan Kesultanan Deli dan secara resmi Tengku Muhammad Nurdin diangkat menjadi raja kedua kalinya oleh Kesultanan Deli sekitar tahun 1888 karena memenangkan pertempuran tersebut.

Menurutnya, Tengku Muhammad Nurdin mempunyai 4 orang istri. Yang pertama, Hajah Ramah wafat tahun 1920, kedua Cek Mas wafat tahun 1905. Ketiga Tengku Syarifah Jawiyah, wafat tahun 1940, dan keempat Cek Etek yang wafat tahun 1946.

Saksi hidup istri dari keturunan Raja Negeri Padang, Tengku Yunus keturunan kedua yang wafat tahun 1989, menurut cerita almarhum Tengku Samiah kepada cucunya bahwa sewaktu kecilnya beliau melihat bahwa masjid raya itu dulu dibangun dengan mengunakan kayu sejenis Siam. “Bangunan masjid itu dulu tempat masyarakat menunaikan ibadah sholat fardhu baik sholat Jumat, bahkan warga yang datang jauh-jauh dari Bandar Khalifah, Sipispis, Bedagai dan Dolok Merawan di bawah kekuasaan Raja Negeri Padang sang pendiri masjid raya,” bebernya.

Sayangnya, nilai sejarah masjid raya ini tidak nampak lagi setelah dipugar oleh Pemerintah Kota Tebingtinggi. Bangunan yang terbuat dari kayu siam, kini telah berubah menjadi beton. Peninggalan barang-barang di masjid sampai saat ini juga tak terlihat lagi, dan pergantian nama masjid itupun tidak ada pemberitahuan kepada pihak keturunan Raja Negeri Padang, Tengku Haji Muhammad Nurdin.

Menurut Khuzamri, mesjid ini sangat dikenal di Kota Tebingtinggi sebagai masjid pertama yang didirikan Kerajaan Padang dan sudah dua kali orang penting di negeri ini melaksanakan salat di masjid ini. Keduanya adalah Presiden RI pertama Ir Soekarno dan Presiden ke-6, Susilo Bambang Yudoyono (SBY).

Di masjid ini, ada tradisi yang masih dipertahankan selama ratusan tahun. Yakni, setiap datangnya Bulan Suci Ramadan, kenaziran Masjid Raya Nur Addin selalu menyediakan takjil bagi masyarakat ataupun musafir yang singgah di masjid tersebut untuk berbuka puasa.

“Setiap tahun di Bulan Suci Ramadan tetap menyajikan bubur daging. Ini merupakan salah satu kebiasaan atau tradisi sejak ratusan tahun silam, semasa berjayanya Kerajaan Padang sekitar tahun 1850,” kata Khuzamri Amar.

Dijelaskannya, bubur daging tersebut berbahan baku beras yang dicampur dengan rempah-rempah serta daging cincang. “Bubur ini dimasak mulai ba’da salat zuhur. Ketika bubur di masak, aromanya sudah tercium dan sangat menggoda selera,” ungkap Khuzamri.

Bubur ini mulai matang setelah memasuki wakti Salat Ashar, dan selanjutnya bubur daging sebanyak hampir 6 kilogram setiap harinya itu dibagi-bagikan kepada warga yang ingin berbuka puasa di Masjid Nur Addin. “Banyak juga warga datang membawa wadah seperti rantang atau mangkuk, mengambil bubur daging ini untuk berbuka di rumah,” jelasnya.

Menurut Khuzamri, tradisi ini sempat terhenti beberapa tahun lalu. Namun sejak dirinya kembali menjadi Ketua BKM, ia kembali menghidupkan tradisi bagi-bagi bubur daging ini untuk bisa mengingat kembali sejarah kejayaan Kerajaan Padang. “Alhamdulillah sekarang bubur daging ini diserbu warga untuk takjil berbuka puasa,” sebutnya.

Menurut Khuzamri, juru masak bubur daging di Masjid Raya Nur Addin memang harus orang yang benar-benar sudah menguasai cara membuat bubur daging untuk menjaga cita rasanya. Dikatakannya, semasa masih kanak-kanak, ia sering membantu memasak bubur daging tersebut di lingkungan Masjid Raya Nur Addin. Dan saat ini, generasi yang mengetahui resep bubur daging ini agar terasa nikmat tinggal dirinya.

Sebagai juru masak, ia sangat paham dengan ukuran bumbu dan daging untuk membuat bubur daging. Bahkan setiap hari, juru masak harus memasak bubur daging sebanyak 6 kilogram mulai dari awal Ramadan hingga akhir. Ditaksir, bubur yang sudah dimasak bisa mencapai 200 hingga 250 mangkuk dan setiap harinya habis.

Sedangkan untuk kandungan gizi pada bubur tersebut begitu banyak, seperti berkarbohidrat untuk pemulihan orang baru dari sakit, bahkan warga yang memakannya akan ketagihan. “Bagi warga yang menyantapnya tidak akan makan lagi setelah berbuka dan akan kembali makan ketika masuk waktu sahur,” beber Khuzamri Amar.

Diungkapkannya, untuk cara memasaknya membutuhkan kesabaran, karena beras yang dicampur santan, harus terus diaduk tanpa berhenti selama empat jam lamanya. “Apabila kita tinggalkan sejenak, bubur akan gosong dan aroma bau khas bubur daging akan menghilang,” bebernya.

“Jangan sampai gosong. Kalau gosong, rasa bubur daging berubah secara otomatis. Butuh keuletan dan kesabaran dalam memasak buburnya,” imbuhnya.

Ke depannya, Khuzamri Amar berharap agar tradisi bubur daging yang dibuat oleh Masjid Nur Addin agar tetap dilaksanakan tanpa merubah cita rasa yang ada dari rempah-rempah khas bubur daging. (ian/adz)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/