30 C
Medan
Wednesday, April 15, 2026

Wawako Binjai Duduk Bersama Pedagang Jalan Olahraga dan Bandung, Cari Solusi Pasca Penertiban

BINJAI — Puluhan pedagang yang terdampak penertiban di kawasan Jalan Olahraga dan Jalan Bandung akhirnya mendapat ruang dialog bersama Pemerintah Kota Binjai.

Wakil Wali Kota Binjai Hasanul Jihadi, memimpin langsung pertemuan yang digelar di Aula Kantor Kecamatan Binjai Timur, Jalan Bejomuna, Selasa (14/4/2026), sebagai upaya mencari solusi terbaik bagi seluruh pihak.

Pertemuan tersebut menjadi tindak lanjut dari polemik penggusuran pedagang yang sebelumnya dilakukan di dua titik tersebut. Dalam suasana dialog terbuka, para pedagang menyampaikan keluhan, harapan, sekaligus permintaan agar tetap diberikan ruang untuk berjualan.

Wakil Wali Kota Binjai yang akrab disapa Jiji itu menegaskan bahwa pemerintah kota tidak memiliki niat untuk merugikan masyarakat kecil. Ia menyebut, forum tersebut merupakan langkah awal untuk mencari jalan tengah yang adil dan manusiawi.

“Kami berharap apa yang dilakukan hari ini adalah niat yang baik. Mudah-mudahan dengan cara yang baik kita bisa menemukan solusi bersama,” ujar Hasanul Jihadi.

Dalam kesempatan itu, ia juga menawarkan solusi sementara bagi para pedagang terdampak, yakni dengan memanfaatkan momentum pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Kota Binjai yang akan digelar di Masjid Al-Fatih. Para pedagang akan difasilitasi tempat berjualan secara gratis dengan puluhan stan yang telah disiapkan pemerintah.

“Ada banyak event di Kota Binjai. Dalam waktu dekat kita akan menggelar MTQ. Pedagang bisa berjualan di sana secara gratis, silakan mendaftar ke dinas terkait,” jelasnya.

Selain itu, Hasanul Jihadi juga menyampaikan permohonan maaf atas dinamika yang terjadi selama proses penertiban. Ia menegaskan bahwa pemerintah kota terbuka terhadap kritik dan masukan dari masyarakat maupun DPRD.

“Atas nama Pemko Binjai dan pribadi, saya mohon maaf jika ada cara yang kurang tepat dalam penertiban ini. Kami tidak ingin berseberangan dengan masyarakat,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah tidak akan lepas tangan dan akan terus mencari solusi terbaik bersama para pedagang. “Kami tidak akan lari dari persoalan ini. Kita akan terus duduk bersama mencari solusi yang terbaik,” ujarnya.

Sementara itu, para pedagang menyampaikan aspirasi mereka secara langsung. Ikhwan, pedagang rujak yang telah berjualan selama delapan tahun di Jalan Olahraga, mengaku tetap mendukung kebijakan pemerintah, namun berharap tetap diberikan ruang untuk kembali berjualan.

“Kami mendukung kebijakan pemerintah selama itu pro rakyat. Kami mohon bisa kembali berjualan di Jalan Olahraga, kami siap ditata agar tidak macet dan tidak kumuh,” ujarnya.

Dia juga mengaku sedih, karena buat menambah jumlah pengangguran. Sebab, dua anggota kerjanya tidak lagi dapat berjualan karena penggusuran tersebut. “Saya sedih jadinya, karena saya juga mempekerjakan dua orang ibu-ibu, yang satu suaminya tukang becak yang satu lagi tukang bangunan. Saya gaji mereka Rp600 ribu, mereka sempat tanya sama saya, kapan bisa jualan lagi,” ujar Ikhwan.

Hal senada juga disampaikan Mahyadi, pedagang kopi di Jalan Bandung yang telah berjualan selama 23 tahun. Ia berharap pemerintah memberikan solusi agar para pedagang kecil tetap bisa mencari nafkah. “Kami hanya mencari makan, bukan merusak. Kami mohon bisa kembali berjualan dan siap diatur,” ungkapnya.

Pertemuan tersebut diharapkan menjadi titik awal penyelesaian yang lebih adil, antara penataan kota dan keberlangsungan ekonomi para pedagang kecil di Kota Binjai. (ted/ila)

BINJAI — Puluhan pedagang yang terdampak penertiban di kawasan Jalan Olahraga dan Jalan Bandung akhirnya mendapat ruang dialog bersama Pemerintah Kota Binjai.

Wakil Wali Kota Binjai Hasanul Jihadi, memimpin langsung pertemuan yang digelar di Aula Kantor Kecamatan Binjai Timur, Jalan Bejomuna, Selasa (14/4/2026), sebagai upaya mencari solusi terbaik bagi seluruh pihak.

Pertemuan tersebut menjadi tindak lanjut dari polemik penggusuran pedagang yang sebelumnya dilakukan di dua titik tersebut. Dalam suasana dialog terbuka, para pedagang menyampaikan keluhan, harapan, sekaligus permintaan agar tetap diberikan ruang untuk berjualan.

Wakil Wali Kota Binjai yang akrab disapa Jiji itu menegaskan bahwa pemerintah kota tidak memiliki niat untuk merugikan masyarakat kecil. Ia menyebut, forum tersebut merupakan langkah awal untuk mencari jalan tengah yang adil dan manusiawi.

“Kami berharap apa yang dilakukan hari ini adalah niat yang baik. Mudah-mudahan dengan cara yang baik kita bisa menemukan solusi bersama,” ujar Hasanul Jihadi.

Dalam kesempatan itu, ia juga menawarkan solusi sementara bagi para pedagang terdampak, yakni dengan memanfaatkan momentum pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Kota Binjai yang akan digelar di Masjid Al-Fatih. Para pedagang akan difasilitasi tempat berjualan secara gratis dengan puluhan stan yang telah disiapkan pemerintah.

“Ada banyak event di Kota Binjai. Dalam waktu dekat kita akan menggelar MTQ. Pedagang bisa berjualan di sana secara gratis, silakan mendaftar ke dinas terkait,” jelasnya.

Selain itu, Hasanul Jihadi juga menyampaikan permohonan maaf atas dinamika yang terjadi selama proses penertiban. Ia menegaskan bahwa pemerintah kota terbuka terhadap kritik dan masukan dari masyarakat maupun DPRD.

“Atas nama Pemko Binjai dan pribadi, saya mohon maaf jika ada cara yang kurang tepat dalam penertiban ini. Kami tidak ingin berseberangan dengan masyarakat,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah tidak akan lepas tangan dan akan terus mencari solusi terbaik bersama para pedagang. “Kami tidak akan lari dari persoalan ini. Kita akan terus duduk bersama mencari solusi yang terbaik,” ujarnya.

Sementara itu, para pedagang menyampaikan aspirasi mereka secara langsung. Ikhwan, pedagang rujak yang telah berjualan selama delapan tahun di Jalan Olahraga, mengaku tetap mendukung kebijakan pemerintah, namun berharap tetap diberikan ruang untuk kembali berjualan.

“Kami mendukung kebijakan pemerintah selama itu pro rakyat. Kami mohon bisa kembali berjualan di Jalan Olahraga, kami siap ditata agar tidak macet dan tidak kumuh,” ujarnya.

Dia juga mengaku sedih, karena buat menambah jumlah pengangguran. Sebab, dua anggota kerjanya tidak lagi dapat berjualan karena penggusuran tersebut. “Saya sedih jadinya, karena saya juga mempekerjakan dua orang ibu-ibu, yang satu suaminya tukang becak yang satu lagi tukang bangunan. Saya gaji mereka Rp600 ribu, mereka sempat tanya sama saya, kapan bisa jualan lagi,” ujar Ikhwan.

Hal senada juga disampaikan Mahyadi, pedagang kopi di Jalan Bandung yang telah berjualan selama 23 tahun. Ia berharap pemerintah memberikan solusi agar para pedagang kecil tetap bisa mencari nafkah. “Kami hanya mencari makan, bukan merusak. Kami mohon bisa kembali berjualan dan siap diatur,” ungkapnya.

Pertemuan tersebut diharapkan menjadi titik awal penyelesaian yang lebih adil, antara penataan kota dan keberlangsungan ekonomi para pedagang kecil di Kota Binjai. (ted/ila)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru