RSU Muhammadiyah Medan Rinci Kronologis Penanganan Pasien Miom, Tegaskan Prosedur Sesuai Standar

Pihak RSU Muhammadiyah Medan memaparkan secara rinci kronologis penanganan medis terhadap pasien Mimi Maisyarah (48), mulai dari tahap diagnosis hingga pelaksanaan operasi pengangkatan rahim. Klarifikasi ini disampaikan guna menjawab berbagai sorotan publik terkait dugaan malpraktik dalam kasus tersebut.

Kepala Bagian Umum dan SDM RSU Muhammadiyah Medan Ibrahim Nainggolan, menjelaskan bahwa pasien pertama kali datang pada Januari 2026 dengan keluhan yang mengarah pada Miom. Menurutnya, sejak awal pasien juga telah menyampaikan dugaan penyakit yang dialaminya sebelum dilakukan pemeriksaan oleh dokter.

Tim medis kemudian melakukan serangkaian pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan kondisi pasien. Hasilnya menunjukkan adanya miom dengan tingkat tertentu yang secara medis memerlukan tindakan operasi, termasuk kemungkinan pengangkatan rahim apabila kondisi telah memengaruhi jaringan sekitarnya.

“Dokter sudah menjelaskan secara detail kondisi pasien, termasuk risiko dan opsi penanganan. Namun pada kunjungan pertama, pasien dan keluarga memilih untuk menunda operasi dan pulang untuk berdiskusi lebih lanjut,” ujar Ibrahim, Rabu (22/4).

Sekitar satu bulan berselang, pasien kembali ke rumah sakit dengan kondisi yang dilaporkan semakin memburuk. Keluhan yang meningkat membuat tim medis kembali melakukan pemeriksaan ulang dan memberikan penjelasan lanjutan terkait urgensi tindakan operasi.

Setelah melalui proses komunikasi dan pertimbangan, pihak keluarga akhirnya memberikan persetujuan tindakan medis. Persetujuan tersebut dituangkan secara tertulis sebagai bagian dari prosedur standar sebelum operasi dilakukan.

“Persetujuan tindakan medis ditandatangani keluarga setelah mendapatkan penjelasan yang cukup. Operasi kemudian dijadwalkan dan dipersiapkan pada Februari 2026,” jelasnya.

Ibrahim menegaskan bahwa keputusan untuk melakukan operasi tidak diambil secara mendadak, melainkan melalui tahapan yang cukup panjang. Hal ini dilakukan agar pasien dan keluarga benar-benar memahami kondisi medis yang dihadapi serta risiko dari setiap tindakan.

“Tindakan ini bukan keputusan sepihak. Dari awal sudah dijelaskan, sempat ditolak, lalu satu bulan kemudian disetujui. Jadi prosesnya transparan dan bertahap,” tegasnya.

Menanggapi tudingan kurangnya edukasi kepada pasien, pihak rumah sakit dengan tegas membantah. Ibrahim menyebut bahwa informasi mengenai kondisi miom, termasuk potensi dampaknya terhadap rahim, telah disampaikan sejak awal pemeriksaan.

Ia juga menjelaskan bahwa secara medis, miom memiliki variasi kondisi, mulai dari yang masih terbatas hingga yang telah memengaruhi dinding rahim. Dalam kasus tertentu, kondisi tersebut memang mengharuskan tindakan pengangkatan rahim demi keselamatan pasien.

Dalam perjalanan penanganan, pihak rumah sakit juga mengungkap adanya dinamika yang terjadi di lapangan. Salah satunya ketika pasien sempat dibawa kembali ke rumah sakit dalam kondisi yang disebut membutuhkan penanganan segera di Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Namun, tindakan medis yang telah dipersiapkan saat itu tidak dapat dilakukan karena adanya penolakan dari pihak keluarga pasien.“Kami sudah siapkan penanganan di IGD, tetapi keluarga menolak dilakukan tindakan medis, sehingga pasien akhirnya dibawa pulang,” ungkapnya.

Pihak RSU Muhammadiyah Medan menegaskan terus membuka ruang komunikasi dengan keluarga pasien. Beberapa pertemuan telah dilakukan, bahkan melibatkan kuasa hukum serta aparat kepolisian guna menjaga situasi tetap kondusif dan menghindari kesalahpahaman.

Terkait somasi yang dilayangkan oleh pihak keluarga pasien, manajemen rumah sakit menyatakan masih mempelajari isi dokumen tersebut secara menyeluruh sebelum memberikan tanggapan resmi.

“Yang utama bagi kami adalah memastikan kondisi pasien. Untuk somasi, tentu kami perlu waktu untuk memahami substansinya secara utuh,” kata Ibrahim.

Dalam hal rujukan, pihak rumah sakit menyebut telah memberikan sejumlah rekomendasi fasilitas kesehatan lanjutan, seperti RS Murni Teguh dan RSUP H. Adam Malik. Namun, keluarga pasien memilih untuk dirujuk ke RSU Haji Medan dengan pertimbangan jarak yang lebih dekat dari tempat tinggal.

Manajemen RSU Muhammadiyah Medan menegaskan komitmennya untuk tetap mengedepankan profesionalisme serta standar pelayanan medis dalam setiap penanganan pasien.

“Kami menghormati proses yang berjalan dan siap memberikan klarifikasi secara terbuka. Yang terpenting adalah memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan sesuai prosedur dan keselamatan pasien menjadi prioritas utama,” pungkas Ibrahim.

Sementara itu, penanganan kasus ini turut mendapat perhatian dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara bersama Ikatan Dokter Indonesia dan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia. Ketiga pihak tersebut telah menurunkan tim untuk melakukan monitoring dan evaluasi terkait dugaan malpraktik yang mencuat.

Hingga kini, proses penelusuran masih terus berlangsung. Pihak rumah sakit menyatakan akan kooperatif dalam memberikan data dan informasi yang dibutuhkan guna memastikan kejelasan kasus. (ila)

Pihak RSU Muhammadiyah Medan memaparkan secara rinci kronologis penanganan medis terhadap pasien Mimi Maisyarah (48), mulai dari tahap diagnosis hingga pelaksanaan operasi pengangkatan rahim. Klarifikasi ini disampaikan guna menjawab berbagai sorotan publik terkait dugaan malpraktik dalam kasus tersebut.

Kepala Bagian Umum dan SDM RSU Muhammadiyah Medan Ibrahim Nainggolan, menjelaskan bahwa pasien pertama kali datang pada Januari 2026 dengan keluhan yang mengarah pada Miom. Menurutnya, sejak awal pasien juga telah menyampaikan dugaan penyakit yang dialaminya sebelum dilakukan pemeriksaan oleh dokter.

Tim medis kemudian melakukan serangkaian pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan kondisi pasien. Hasilnya menunjukkan adanya miom dengan tingkat tertentu yang secara medis memerlukan tindakan operasi, termasuk kemungkinan pengangkatan rahim apabila kondisi telah memengaruhi jaringan sekitarnya.

“Dokter sudah menjelaskan secara detail kondisi pasien, termasuk risiko dan opsi penanganan. Namun pada kunjungan pertama, pasien dan keluarga memilih untuk menunda operasi dan pulang untuk berdiskusi lebih lanjut,” ujar Ibrahim, Rabu (22/4).

Sekitar satu bulan berselang, pasien kembali ke rumah sakit dengan kondisi yang dilaporkan semakin memburuk. Keluhan yang meningkat membuat tim medis kembali melakukan pemeriksaan ulang dan memberikan penjelasan lanjutan terkait urgensi tindakan operasi.

Setelah melalui proses komunikasi dan pertimbangan, pihak keluarga akhirnya memberikan persetujuan tindakan medis. Persetujuan tersebut dituangkan secara tertulis sebagai bagian dari prosedur standar sebelum operasi dilakukan.

“Persetujuan tindakan medis ditandatangani keluarga setelah mendapatkan penjelasan yang cukup. Operasi kemudian dijadwalkan dan dipersiapkan pada Februari 2026,” jelasnya.

Ibrahim menegaskan bahwa keputusan untuk melakukan operasi tidak diambil secara mendadak, melainkan melalui tahapan yang cukup panjang. Hal ini dilakukan agar pasien dan keluarga benar-benar memahami kondisi medis yang dihadapi serta risiko dari setiap tindakan.

“Tindakan ini bukan keputusan sepihak. Dari awal sudah dijelaskan, sempat ditolak, lalu satu bulan kemudian disetujui. Jadi prosesnya transparan dan bertahap,” tegasnya.

Menanggapi tudingan kurangnya edukasi kepada pasien, pihak rumah sakit dengan tegas membantah. Ibrahim menyebut bahwa informasi mengenai kondisi miom, termasuk potensi dampaknya terhadap rahim, telah disampaikan sejak awal pemeriksaan.

Ia juga menjelaskan bahwa secara medis, miom memiliki variasi kondisi, mulai dari yang masih terbatas hingga yang telah memengaruhi dinding rahim. Dalam kasus tertentu, kondisi tersebut memang mengharuskan tindakan pengangkatan rahim demi keselamatan pasien.

Dalam perjalanan penanganan, pihak rumah sakit juga mengungkap adanya dinamika yang terjadi di lapangan. Salah satunya ketika pasien sempat dibawa kembali ke rumah sakit dalam kondisi yang disebut membutuhkan penanganan segera di Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Namun, tindakan medis yang telah dipersiapkan saat itu tidak dapat dilakukan karena adanya penolakan dari pihak keluarga pasien.“Kami sudah siapkan penanganan di IGD, tetapi keluarga menolak dilakukan tindakan medis, sehingga pasien akhirnya dibawa pulang,” ungkapnya.

Pihak RSU Muhammadiyah Medan menegaskan terus membuka ruang komunikasi dengan keluarga pasien. Beberapa pertemuan telah dilakukan, bahkan melibatkan kuasa hukum serta aparat kepolisian guna menjaga situasi tetap kondusif dan menghindari kesalahpahaman.

Terkait somasi yang dilayangkan oleh pihak keluarga pasien, manajemen rumah sakit menyatakan masih mempelajari isi dokumen tersebut secara menyeluruh sebelum memberikan tanggapan resmi.

“Yang utama bagi kami adalah memastikan kondisi pasien. Untuk somasi, tentu kami perlu waktu untuk memahami substansinya secara utuh,” kata Ibrahim.

Dalam hal rujukan, pihak rumah sakit menyebut telah memberikan sejumlah rekomendasi fasilitas kesehatan lanjutan, seperti RS Murni Teguh dan RSUP H. Adam Malik. Namun, keluarga pasien memilih untuk dirujuk ke RSU Haji Medan dengan pertimbangan jarak yang lebih dekat dari tempat tinggal.

Manajemen RSU Muhammadiyah Medan menegaskan komitmennya untuk tetap mengedepankan profesionalisme serta standar pelayanan medis dalam setiap penanganan pasien.

“Kami menghormati proses yang berjalan dan siap memberikan klarifikasi secara terbuka. Yang terpenting adalah memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan sesuai prosedur dan keselamatan pasien menjadi prioritas utama,” pungkas Ibrahim.

Sementara itu, penanganan kasus ini turut mendapat perhatian dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara bersama Ikatan Dokter Indonesia dan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia. Ketiga pihak tersebut telah menurunkan tim untuk melakukan monitoring dan evaluasi terkait dugaan malpraktik yang mencuat.

Hingga kini, proses penelusuran masih terus berlangsung. Pihak rumah sakit menyatakan akan kooperatif dalam memberikan data dan informasi yang dibutuhkan guna memastikan kejelasan kasus. (ila)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru