USD Makin Diburu untuk Investasi, Rupiah Sentuh Rp17.900 per Dolar AS

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan. Pada perdagangan kemarin (3/6), mata uang Garuda sempat menembus level Rp 17.900 per dolar Amerika Serikat (USD). Hal itu mencerminkan tingginya tekanan eksternal dan meningkatnya kebutuhan USD di dalam negeri.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan dolar AS dipicu meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, terutama terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan titik terang dalam perundingan mengenai program nuklir Teheran.

Menurutnya, ketegangan yang melibatkan Iran, Israel, dan Lebanon turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Kondisi tersebut mendorong investor global memburu aset aman, termasuk dolar AS.

Lonjakan harga minyak dinilai memperbesar tekanan inflasi di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat. Biaya transportasi dan logistik yang meningkat membuat pasar kembali memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang masih bernada hawkish turut memperkuat sentimen tersebut. Ditambah lagi, data ketenagakerjaan AS yang tetap solid membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi semakin terbatas. ”Kondisi ini membuat dolar AS semakin kuat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” katanya.

Dari dalam negeri, pelemahan rupiah juga dipicu meningkatnya kebutuhan valuta asing untuk berbagai keperluan. Mulai dari impor minyak dan gas, pembayaran dividen perusahaan kepada investor asing, hingga pelunasan kewajiban utang luar negeri yang jatuh tempo. “Sebagian dana masyarakat juga mulai beralih ke instrumen investasi berbasis valuta asing sebagai bentuk antisipasi terhadap gejolak pasar. Kondisi tersebut semakin mempersempit ruang penguatan rupiah dalam jangka pendek,” tuturnya

Respons Bank Indonesia

Merespons pelemahan rupiah tersebut, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso mengatakan bahwa bank sentral terus memantau perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta akan tetap hadir di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah dan ketahanan sektor eksternal.

”Bank Indonesia terus mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna mendukung stabilitas pasar keuangan,” katanya.

Sebagai bagian dari penguatan kebijakan stabilisasi, BI mulai memberlakukan ketentuan baru pembelian valuta asing terhadap rupiah tanpa underlying sejak 2 Juni 2026. Dalam aturan tersebut, batas pembelian tunai valas tanpa underlying ditetapkan sebesar USD 25.000 per pelaku per bulan.

Selain itu, BI terus memperluas implementasi local currency transaction (LCT) untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan dan investasi internasional. Saat ini kerja sama LCT Indonesia telah berjalan dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. (mim/dio/jpg)

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan. Pada perdagangan kemarin (3/6), mata uang Garuda sempat menembus level Rp 17.900 per dolar Amerika Serikat (USD). Hal itu mencerminkan tingginya tekanan eksternal dan meningkatnya kebutuhan USD di dalam negeri.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan dolar AS dipicu meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, terutama terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan titik terang dalam perundingan mengenai program nuklir Teheran.

Menurutnya, ketegangan yang melibatkan Iran, Israel, dan Lebanon turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Kondisi tersebut mendorong investor global memburu aset aman, termasuk dolar AS.

Lonjakan harga minyak dinilai memperbesar tekanan inflasi di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat. Biaya transportasi dan logistik yang meningkat membuat pasar kembali memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang masih bernada hawkish turut memperkuat sentimen tersebut. Ditambah lagi, data ketenagakerjaan AS yang tetap solid membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi semakin terbatas. ”Kondisi ini membuat dolar AS semakin kuat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” katanya.

Dari dalam negeri, pelemahan rupiah juga dipicu meningkatnya kebutuhan valuta asing untuk berbagai keperluan. Mulai dari impor minyak dan gas, pembayaran dividen perusahaan kepada investor asing, hingga pelunasan kewajiban utang luar negeri yang jatuh tempo. “Sebagian dana masyarakat juga mulai beralih ke instrumen investasi berbasis valuta asing sebagai bentuk antisipasi terhadap gejolak pasar. Kondisi tersebut semakin mempersempit ruang penguatan rupiah dalam jangka pendek,” tuturnya

Respons Bank Indonesia

Merespons pelemahan rupiah tersebut, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso mengatakan bahwa bank sentral terus memantau perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta akan tetap hadir di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah dan ketahanan sektor eksternal.

”Bank Indonesia terus mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna mendukung stabilitas pasar keuangan,” katanya.

Sebagai bagian dari penguatan kebijakan stabilisasi, BI mulai memberlakukan ketentuan baru pembelian valuta asing terhadap rupiah tanpa underlying sejak 2 Juni 2026. Dalam aturan tersebut, batas pembelian tunai valas tanpa underlying ditetapkan sebesar USD 25.000 per pelaku per bulan.

Selain itu, BI terus memperluas implementasi local currency transaction (LCT) untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan dan investasi internasional. Saat ini kerja sama LCT Indonesia telah berjalan dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. (mim/dio/jpg)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru