Cegah Stunting

Distanpang Kembangkan Kawasan Peternakan Sapi Potong di Simalungun

SIMALUNGUN-Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) terus mendorong pengembangan kawasan peternakan sebagai salah satu langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui pengembangan kawasan peternakan unggulan komoditas sapi potong di Nagori Karanganyar, Kecamatan Gunung Maligas, Kabupaten Simalungun.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distanpang) Provinsi Sumatera Utara, Fariz Haholongan Hutagalung, melakukan monitoring langsung ke kawasan Proyek Strategis Daerah (PSD) Pengembangan Kawasan Peternakan Unggulan Komoditas Sapi Potong tersebut, Kamis (1/10/2026).

Kunjungan itu dilakukan untuk melihat secara langsung perkembangan program yang dikelola Koperasi Produsen Anyar Lestari. Selain memantau perkembangan pembangunan kawasan, monitoring juga menjadi bagian dari evaluasi kesiapan kelembagaan dan pengelolaan kawasan peternakan agar dapat berjalan secara produktif dan berkelanjutan.

Fariz mengatakan, pengembangan kawasan peternakan merupakan bagian penting dari upaya pemerintah memperkuat basis produksi pangan di Sumatera Utara. Menurutnya, pembangunan kawasan tidak hanya berorientasi pada penambahan populasi ternak, tetapi juga harus diikuti dengan penguatan kelembagaan peternak.

“Pengembangan kawasan peternakan ini tidak hanya berbicara mengenai pembangunan kandang dan penambahan populasi sapi. Yang paling penting adalah bagaimana kawasan ini nantinya dapat dikelola secara profesional, produktif, dan memberikan manfaat ekonomi bagi para peternak,” ujar Fariz.

Kawasan peternakan yang berada di bawah pengelolaan Koperasi Produsen Anyar Lestari tersebut saat ini memiliki 74 anggota koperasi dengan populasi sekitar 60 ekor sapi potong.

Kawasan tersebut berdiri di atas lahan seluas sekitar 12.291 meter persegi. Ke depan, lokasi ini diproyeksikan menjadi kawasan peternakan terpadu yang dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, mulai dari kandang kelompok, gudang pakan, sarana penunjang peternakan hingga area hijauan pakan ternak.

Konsep kawasan terpadu tersebut diharapkan dapat menciptakan sistem peternakan yang lebih efisien. Ketersediaan pakan, fasilitas pemeliharaan dan pengelolaan ternak dalam satu kawasan juga diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya operasional peternak.

Dalam monitoring tersebut, diketahui bahwa program pengembangan kawasan telah memasuki tahap proses tender pekerjaan konstruksi. Sementara itu, perencanaan teknis pembangunan kawasan telah selesai disusun.

Fariz menegaskan, pembangunan fisik harus berjalan beriringan dengan kesiapan pengelolaan kawasan. Karena itu, pemerintah juga mendorong penguatan kelembagaan koperasi serta penyelesaian berbagai aspek legalitas usaha.

“Kita ingin kawasan ini tidak berhenti pada pembangunan fisik saja. Kelembagaan koperasi harus diperkuat, legalitas usahanya harus diselesaikan, sehingga ketika kawasan ini sudah beroperasi, pengelolaannya benar-benar siap dan bisa berkembang,” katanya.

Menurutnya, koperasi memiliki peran penting dalam memastikan keberlanjutan program. Dengan kelembagaan yang kuat, peternak diharapkan dapat memiliki sistem pengelolaan usaha yang lebih terorganisasi, mulai dari penyediaan sarana produksi, pemeliharaan ternak, pengelolaan pakan hingga pemasaran hasil peternakan.

Pengembangan kawasan sapi potong tersebut juga dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan populasi dan produktivitas ternak di Kabupaten Simalungun. Di sisi lain, keberadaan kawasan peternakan dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

Program ini diharapkan mampu membuka peluang usaha tidak hanya bagi peternak, tetapi juga masyarakat yang terlibat dalam rantai usaha peternakan, seperti penyediaan pakan, pengelolaan hijauan, jasa transportasi, hingga pemasaran ternak.

“Harapannya, kawasan ini nantinya menjadi sentra peternakan yang memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat. Bukan hanya populasi sapinya yang bertambah, tetapi pendapatan peternak juga meningkat dan kelembagaan ekonominya semakin kuat,” ungkap Fariz.

Ia menambahkan, pengembangan kawasan peternakan merupakan salah satu bagian dari strategi Pemprov Sumut dalam membangun sektor pertanian dan peternakan yang lebih modern dan terintegrasi.

Menurutnya, penguatan sektor peternakan menjadi semakin penting seiring dengan kebutuhan pangan masyarakat yang terus meningkat. Karena itu, pemerintah perlu memastikan kapasitas produksi pangan daerah terus diperkuat melalui pengembangan kawasan-kawasan produksi yang memiliki potensi.

“Sumatera Utara memiliki potensi besar di sektor peternakan. Karena itu, potensi tersebut harus kita kembangkan secara terencana dan berkelanjutan. Kita ingin peternakan menjadi salah satu sektor yang mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Fariz berharap pengembangan kawasan peternakan di Nagori Karang Anyar dapat menjadi salah satu contoh pengelolaan kawasan peternakan berbasis kelembagaan koperasi yang dapat dikembangkan di daerah lainnya.

Dengan dukungan pembangunan infrastruktur, penguatan kelembagaan, kepastian legalitas serta peningkatan kapasitas peternak, kawasan tersebut diharapkan mampu berkembang menjadi sentra produksi sapi potong yang produktif dan berdaya saing.

Pemprov Sumut, lanjutnya, akan terus melakukan pendampingan dan monitoring terhadap perkembangan program tersebut untuk memastikan setiap tahapan berjalan sesuai dengan perencanaan.

Pengembangan kawasan sapi potong di Simalungun pada akhirnya diharapkan tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan produksi peternakan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi masyarakat yang lebih kuat.

Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen Pemprov Sumut untuk mengembangkan sektor pertanian dan peternakan yang produktif, modern, terintegrasi dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan Sumatera Utara.(san/azw)

SIMALUNGUN-Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) terus mendorong pengembangan kawasan peternakan sebagai salah satu langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui pengembangan kawasan peternakan unggulan komoditas sapi potong di Nagori Karanganyar, Kecamatan Gunung Maligas, Kabupaten Simalungun.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distanpang) Provinsi Sumatera Utara, Fariz Haholongan Hutagalung, melakukan monitoring langsung ke kawasan Proyek Strategis Daerah (PSD) Pengembangan Kawasan Peternakan Unggulan Komoditas Sapi Potong tersebut, Kamis (1/10/2026).

Kunjungan itu dilakukan untuk melihat secara langsung perkembangan program yang dikelola Koperasi Produsen Anyar Lestari. Selain memantau perkembangan pembangunan kawasan, monitoring juga menjadi bagian dari evaluasi kesiapan kelembagaan dan pengelolaan kawasan peternakan agar dapat berjalan secara produktif dan berkelanjutan.

Fariz mengatakan, pengembangan kawasan peternakan merupakan bagian penting dari upaya pemerintah memperkuat basis produksi pangan di Sumatera Utara. Menurutnya, pembangunan kawasan tidak hanya berorientasi pada penambahan populasi ternak, tetapi juga harus diikuti dengan penguatan kelembagaan peternak.

“Pengembangan kawasan peternakan ini tidak hanya berbicara mengenai pembangunan kandang dan penambahan populasi sapi. Yang paling penting adalah bagaimana kawasan ini nantinya dapat dikelola secara profesional, produktif, dan memberikan manfaat ekonomi bagi para peternak,” ujar Fariz.

Kawasan peternakan yang berada di bawah pengelolaan Koperasi Produsen Anyar Lestari tersebut saat ini memiliki 74 anggota koperasi dengan populasi sekitar 60 ekor sapi potong.

Kawasan tersebut berdiri di atas lahan seluas sekitar 12.291 meter persegi. Ke depan, lokasi ini diproyeksikan menjadi kawasan peternakan terpadu yang dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, mulai dari kandang kelompok, gudang pakan, sarana penunjang peternakan hingga area hijauan pakan ternak.

Konsep kawasan terpadu tersebut diharapkan dapat menciptakan sistem peternakan yang lebih efisien. Ketersediaan pakan, fasilitas pemeliharaan dan pengelolaan ternak dalam satu kawasan juga diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya operasional peternak.

Dalam monitoring tersebut, diketahui bahwa program pengembangan kawasan telah memasuki tahap proses tender pekerjaan konstruksi. Sementara itu, perencanaan teknis pembangunan kawasan telah selesai disusun.

Fariz menegaskan, pembangunan fisik harus berjalan beriringan dengan kesiapan pengelolaan kawasan. Karena itu, pemerintah juga mendorong penguatan kelembagaan koperasi serta penyelesaian berbagai aspek legalitas usaha.

“Kita ingin kawasan ini tidak berhenti pada pembangunan fisik saja. Kelembagaan koperasi harus diperkuat, legalitas usahanya harus diselesaikan, sehingga ketika kawasan ini sudah beroperasi, pengelolaannya benar-benar siap dan bisa berkembang,” katanya.

Menurutnya, koperasi memiliki peran penting dalam memastikan keberlanjutan program. Dengan kelembagaan yang kuat, peternak diharapkan dapat memiliki sistem pengelolaan usaha yang lebih terorganisasi, mulai dari penyediaan sarana produksi, pemeliharaan ternak, pengelolaan pakan hingga pemasaran hasil peternakan.

Pengembangan kawasan sapi potong tersebut juga dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan populasi dan produktivitas ternak di Kabupaten Simalungun. Di sisi lain, keberadaan kawasan peternakan dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

Program ini diharapkan mampu membuka peluang usaha tidak hanya bagi peternak, tetapi juga masyarakat yang terlibat dalam rantai usaha peternakan, seperti penyediaan pakan, pengelolaan hijauan, jasa transportasi, hingga pemasaran ternak.

“Harapannya, kawasan ini nantinya menjadi sentra peternakan yang memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat. Bukan hanya populasi sapinya yang bertambah, tetapi pendapatan peternak juga meningkat dan kelembagaan ekonominya semakin kuat,” ungkap Fariz.

Ia menambahkan, pengembangan kawasan peternakan merupakan salah satu bagian dari strategi Pemprov Sumut dalam membangun sektor pertanian dan peternakan yang lebih modern dan terintegrasi.

Menurutnya, penguatan sektor peternakan menjadi semakin penting seiring dengan kebutuhan pangan masyarakat yang terus meningkat. Karena itu, pemerintah perlu memastikan kapasitas produksi pangan daerah terus diperkuat melalui pengembangan kawasan-kawasan produksi yang memiliki potensi.

“Sumatera Utara memiliki potensi besar di sektor peternakan. Karena itu, potensi tersebut harus kita kembangkan secara terencana dan berkelanjutan. Kita ingin peternakan menjadi salah satu sektor yang mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Fariz berharap pengembangan kawasan peternakan di Nagori Karang Anyar dapat menjadi salah satu contoh pengelolaan kawasan peternakan berbasis kelembagaan koperasi yang dapat dikembangkan di daerah lainnya.

Dengan dukungan pembangunan infrastruktur, penguatan kelembagaan, kepastian legalitas serta peningkatan kapasitas peternak, kawasan tersebut diharapkan mampu berkembang menjadi sentra produksi sapi potong yang produktif dan berdaya saing.

Pemprov Sumut, lanjutnya, akan terus melakukan pendampingan dan monitoring terhadap perkembangan program tersebut untuk memastikan setiap tahapan berjalan sesuai dengan perencanaan.

Pengembangan kawasan sapi potong di Simalungun pada akhirnya diharapkan tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan produksi peternakan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi masyarakat yang lebih kuat.

Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen Pemprov Sumut untuk mengembangkan sektor pertanian dan peternakan yang produktif, modern, terintegrasi dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan Sumatera Utara.(san/azw)

Artikel Terkait

Cegah Stunting

Terpopuler

Artikel Terbaru