Gelombang cuaca ekstrem yang ditandai oleh hujan berintensitas tinggi sejak Rabu (28/10) hingga Kamis (29/10) telah memicu bencana hidrometeorologis masif di berbagai wilayah Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan data resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara per Kamis pagi pukul 09.00 WIB, dampak buruk bencana ini tersebar di tujuh kabupaten dan kota, yang meliputi Kabupaten Deliserdang, Kota Binjai, Kabupaten Mandailing Natal, Kota Medan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Langkat, dan Kabupaten Padang Lawas Utara.
Dari total wilayah terdampak tersebut, lima daerah mengalami bencana banjir parah, sementara dua wilayah lainnya dilanda tanah longsor akibat pergerakan tanah di kawasan perbukitan. Dampak paling signifikan dirasakan di Kabupaten Deliserdang, di mana luapan air sungai yang diperparah oleh banjir kiriman dari kawasan pegunungan serta jebolnya sejumlah tanggul menyebabkan 5.403 unit rumah warga terendam air.
Kepala Pelaksana BPBD Deliserdang, Mukti Ali menjelaskan, banjir merata di 16 desa yang mencakup delapan kecamatan, yakni Tanjung Morawa, Hamparan Perak, Bangun Purba, Deli Tua, Sunggal, Batang Kuis, Patumbak, dan Galang. Wilayah yang mengalami kerusakan terparah di antaranya Desa Tumpatan Nibung di Batang Kuis, serta Desa Dalu X A dan Desa Dalu X B di Tanjung Morawa akibat meluapnya Sungai Blumai. Meskipun genangan air di sejumlah titik sempat berangsur surut pada Kamis siang, warga tetap dihantui rasa cemas mengingat kondisi cuaca yang masih mendung.
Bahkan, situasi yang jauh lebih memprihatinkan terjadi di Dusun II Desa Bandar Kuala, Kecamatan Galang. Kepala Desa Bandar Kuala, Ngasimin melaporkan, hantaman air sungai yang mendadak meluap akibat derasnya hujan di hulu pegunungan menghanyutkan dan merusak total 11 unit rumah warga yang berdiri di bantaran sungai.
Kendati tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, sebanyak 9 kepala keluarga dengan total 35 jiwa, yang mencakup ibu hamil, balita, serta lansia, harus dievakuasi ke tempat pengungsian sementara di Aula Posyandu Mawar. Pihak BPBD bersama pemerintah kecamatan dan Dinas Sosial setempat langsung bergerak cepat mendirikan tenda darurat serta menyiapkan dapur umum untuk menyuplai kebutuhan logistik para pengungsi. Sebelas kepala keluarga yang rumahnya mengalami kerusakan berat dan hanyut tersebut masing-masing adalah Ponimin, Adlan, Juari, Nurasia, Suyant, Rahmat S, Umar Said, Anita Nst, Herdianto, Somen P, dan Parni.
Sementara itu, di Kota Medan, hujan deras yang mengguyur sepanjang malam hingga Kamis dini hari menyebabkan meluapnya tiga sungai besar, yakni Sungai Deli, Sungai Babura, dan Sungai Belawan. Kepala BPBD Kota Medan, Yunita Sari mengungkapkan, banjir merendam delapan kelurahan di empat kecamatan, yaitu Medan Selayang, Medan Maimun, Medan Johor, dan Medan Helvetia. Ketinggian air di beberapa lokasi padat penduduk, seperti Kelurahan Sei Mati dan Kelurahan Aur di Kecamatan Medan Maimun, bahkan mencapai angka 1,5 meter, sementara di Kelurahan Kwala Bekala mencapai 1 meter.
Akibat kondisi yang membahayakan ini, sebanyak 603 warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Tim BPBD Kota Medan berhasil mengevakuasi 22 warga secara darurat dari tengah genangan air, sementara ratusan warga lainnya memilih mengungsi secara mandiri ke masjid-masjid terdekat seperti Masjid Abidin, Musala Al Amin, Masjid Muttaqin, Masjid Al Hasanah, Masjid Ubudiyah, serta kantor kelurahan.
Di kawasan perbatasan lainnya, Kota Binjai turut diselimuti kepanikan setelah Sungai Mencirim dan Sungai Bingai dilaporkan meluap secara beruntun pada Kamis dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Kepala Pelaksana BPBD Binjai Rudi Iskandar Baros memaparkan, luapan kedua sungai tersebut berdampak pada 706 kepala keluarga atau sekitar 2.500 jiwa yang bermukim di tiga kelurahan, yakni Kelurahan Rambung Timur dan Rambung Dalam di Binjai Selatan, serta Kelurahan Setia di Binjai Kota. Berkat kesiapsiagaan BPBD yang telah memasang tenda siaga di Jalan Imam Bonjol dan mengerahkan perahu karet sebelum air meluap ke permukiman, proses evakuasi warga dapat berjalan lancar tanpa adanya laporan korban jiwa.
Bencana serupa juga melanda Kabupaten Langkat, di mana luapan air akibat intensitas hujan tinggi merendam wilayah Kecamatan Serapit dan Besitang, mencakup Desa Gunung Tinggi, Suka Pulung, Tanjung, serta Sekoci. Data sementara mencatat sebanyak 694 jiwa terdampak dan sebagian besar telah ditampung di tiga posko pengungsian resmi yang didirikan di Desa Sekoci.
Di Kabupaten Mandailing Natal, banjir merendam sekitar 30 rumah beserta satu fasilitas sekolah di Desa Binanga, Kecamatan Huta Bargot, serta dua rumah dan satu rumah ibadah di Desa Rumbio, Kecamatan Panyabungan Utara, dengan ketinggian genangan mencapai 60 sentimeter.
Selain bencana banjir, kondisi geografis Sumut yang berbukit turut memicu bencana tanah longsor di Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kabupaten Padang Lawas Utara. Longsor yang terjadi di Desa Luat Lombang, Kecamatan Sipirok, sempat menutup akses vital di Jalan Lintas Sipirok–Tarutung, sementara longsor di Desa Sipaho Simpang Barumun, Kecamatan Halongonan, merusak badan jalan penghubung antar-desa dan menghambat mobilitas kendaraan warga.
Menyikapi eskalasi bencana yang merata di berbagai daerah ini, Kepala BPBD Sumut, Tuahta Ramajaya Saragih menegaskan, pihaknya terus mengintensifkan koordinasi lintas sektoral bersama seluruh BPBD kabupaten dan kota untuk memastikan percepatan evakuasi, penyaluran bantuan logistik, serta pendataan menyeluruh terhadap kerugian material. Pihaknya mengimbau masyarakat luas, khususnya yang tinggal di bantaran sungai dan daerah perbukitan yang rawan longsor, untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan ekstra menghadapi potensi cuaca buruk susulan. Keselamatan jiwa warga ditekankan harus menjadi prioritas utama, sehingga masyarakat diminta segera mengungsi ke lokasi yang lebih aman apabila air kembali menunjukkan tanda-tanda kenaikan debit secara drastis. (btr/map/ted/san/adz)

