JAKARTA– Sekitar seribu mahasiswa Universitas Trisakti menggelar aksi unjuk rasa di Jakarta, kemarin (29/10). Mereka menyampaikan evaluasi terhadap kebijakan pemerintah melalui tiga tuntutan utama. Mulai pemulihan ekonomi, ekologi, pendidikan, dan kesehatan hingga pencopotan Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni.
Mahasiswa bergerak menuju Istana Negara sekitar pukul 14.00 WIB menggunakan angkot dan motor. Namun, perjalanan mereka beberapa kali terhambat karena polisi melakukan pencegatan di sejumlah ruas jalan.
Salah satunya di Jalan Jati Baru Raya, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Polisi melarang massa melintas ke Jalan Abdul Muis yang mengarah ke Istana Negara. Mahasiswa yang keberatan turun dari kendaraan dan melakukan protes. Aksi saling dorong dengan polisi pun tak terhindarkan.
Massa akhirnya diizinkan menuju Jalan Medan Merdeka Selatan. Namun, mereka tetap tidak diperbolehkan mendekati Istana Negara. Mahasiswa kemudian menyampaikan tuntutan di depan BSI Tower, Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.
Ada tiga tuntutan yang mereka suarakan dalam Tritura. Pertama, memulihkan ekonomi, ekologi, pendidikan, dan kesehatan nasional. Kedua, memberantas inkompetensi serta rangkap jabatan pejabat publik. Ketiga, menegakkan supremasi sipil.
Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Trisakti Dhenni Ribowo mengatakan, pemenuhan hak dasar masyarakat masih jauh dari harapan. Biaya pendidikan tetap mahal, sementara kondisi ekonomi masyarakat kian tertekan oleh kenaikan harga kebutuhan. “Karena secara general itulah akar permasalahannya,” tegasnya.
Mahasiswa juga mendesak pejabat yang dinilai gagal menjalankan tugas agar bertanggung jawab. Dhenni secara khusus meminta Menhut Raja Juli Antoni dan Wamenhut Rohmat Marzuki dicopot.
“Kami minta secara konkret menteri dan atau wamen harus dicopot. Karena korporasi-korporasi yang terkena pelanggaran ini tidak lepas dari kontribusi Kementerian Kehutanan yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik,” tegasnya.
Mahasiswa juga mengkritik laporan para pejabat kepada presiden. Menurut Dhenni, laporan dalam rapat terbatas kerap menggambarkan kondisi yang baik-baik saja, padahal situasi di lapangan menunjukkan persoalan yang berbeda. Dia menilai, masalah yang dihadapi masyarakat belum mendapat perhatian memadai.
Deklarasi di Bundaran HI
Sementara itu, Polda Metro Jaya menggelar Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) kemarin (29/10). Kegiatan tersebut melibatkan sekitar 100 mahasiswa dan sejumlah figur publik.
Ada juga sejumlah pejabat TNI-Polri, perwakilan organisasi kepemudaan, serta Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Raffi Ahmad. Raffi mengatakan, tantangan perjuangan pemuda saat ini berbeda dengan generasi terdahulu.”Kalau di zaman dulu mungkin kita melawan dengan bambu runcing, untuk sekarang kita melawan hoaks dari media sosial, melawan ujaran kebencian, melawan provokasi,” kata Raffi.
Konsolidasi Akbar Pemuda dan Santri
Sekitar 5.000 mahasiswa, pemuda, dan santri dari berbagai daerah di Jawa Timur menghadiri Konsolidasi Akbar Mahasiswa, Pemuda, dan Santri Jawa Timur di Lapangan Mapolda Jatim, Rabu (28/10) sore.
Mereka mengikuti deklarasi yang menyerukan persatuan, penolakan terhadap perpecahan, serta pencegahan penyalahgunaan narkoba.
Kapolda Jatim Irjen Pol Dekananto Eko Purwono mengatakan, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat peran pemuda dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Generasi muda juga diharapkan berkontribusi dalam pembangunan Jawa Timur. (mia/idr/leh/oni)

