JAKARTA – Serangan kelompok Houthi ke wilayah Arab Saudi kembali menyasar fasilitas energi. Terbaru, milisi asal Yaman tersebut mengklaim menyerang fasilitas perusahaan minyak Saudi Aramco di Riyadh menggunakan rudal balistik dan drone pada Sabtu (3/10).
Juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengatakan, serangan tersebut merupakan bagian dari operasi militer yang menggunakan rudal balistik dan drone. Houthi mengklaim serangan dilakukan sebagai respons atas serangan pasukan Arab Saudi dan sekutunya terhadap wilayah Yaman.
Klaim tersebut muncul setelah asap tebal dan api terlihat di sekitar salah satu fasilitas Aramco di selatan Riyadh. Namun, hingga laporan tersebut dibuat, pemerintah Arab Saudi maupun Aramco belum mengonfirmasi bahwa fasilitas perusahaan itu menjadi sasaran serangan Houthi. Belum ada pula laporan resmi mengenai korban jiwa maupun tingkat kerusakan akibat serangan tersebut.
Serangan ke Riyadh tersebut menambah panjang daftar serangan Houthi ke wilayah Saudi dalam sebulan terakhir. Salah satu serangan terbesar terjadi pada 8 September. Houthi melancarkan serangan menggunakan rudal dan drone ke sejumlah wilayah di selatan Saudi, antara lain Abha, Khamis Mushait, Jazan, dan Najran. Serangan tersebut menyasar sejumlah fasilitas sipil dan ekonomi, termasuk instalasi energi milik Aramco. Otoritas Saudi melaporkan sedikitnya 73 warga terluka, termasuk perempuan dan anak-anak. Kebakaran juga dilaporkan terjadi di sejumlah fasilitas energi dan utilitas. Operasional beberapa fasilitas sempat dihentikan sementara akibat serangan tersebut.
Pada 13 September, Houthi kembali mengklaim melancarkan serangan besar menggunakan puluhan rudal dan drone ke Pangkalan Udara Khamis Mushait. Kelompok tersebut menyebut hanggar pesawat, sistem radar, landasan pacu, dan gudang amunisi sebagai sasaran. Otoritas Saudi kemudian mengeluarkan peringatan bahaya udara di sejumlah wilayah selatan.
Empat hari kemudian, pada 17 September, pertahanan udara Saudi mencegat sebuah drone Houthi di wilayah Taif. Serpihan drone yang jatuh menewaskan seorang warga Yaman dan melukai dua orang lainnya. Kematian tersebut menjadi korban jiwa pertama yang dilaporkan Saudi akibat serangan Houthi dalam eskalasi terbaru.
Serangan kemudian merambah Riyadh. Pada 19 September, Houthi mengklaim menyerang sejumlah sasaran sensitif di ibu kota Saudi menggunakan rudal dan drone. Asap hitam dan kobaran api terlihat di sekitar kawasan Bandara Internasional King Khalid. Pemerintah Saudi menyatakan berhasil mencegat rudal yang mengarah ke Riyadh dan menggagalkan sejumlah serangan lainnya. Tidak ada kerusakan maupun korban yang dikonfirmasi dari serangan tersebut.
Pada 24 September, Saudi kembali melaporkan mencegat enam rudal balistik Houthi yang diarahkan ke wilayah Taif dan Yanbu. Pada hari yang sama, Houthi mengklaim menyerang sasaran sensitif di Riyadh serta fasilitas Aramco di Yanbu menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone. Namun, Saudi tidak mengonfirmasi kerusakan atau korban di fasilitas Aramco tersebut.
Dua hari kemudian, 26 September, pertahanan udara Saudi kembali mencegat dua drone yang mengarah ke wilayah Riyadh serta dua rudal balistik menuju Khamis Mushait. Tidak ada laporan korban ataupun kerusakan signifikan akibat serangan tersebut.
Serangan juga menyasar fasilitas kelistrikan. Pada 29 September, gardu distribusi listrik Taibah di Madinah dilaporkan terkena serangan drone. Koalisi pimpinan Saudi menyatakan hasil penyelidikan dan pemeriksaan puing drone memastikan keterlibatan Houthi. Satu transformator rusak dan tidak beroperasi, tetapi jaringan listrik secara keseluruhan tetap berjalan dan pasokan listrik ke Masjid Nabawi tidak terganggu. Houthi membantah bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Tekanan Balik pada Milisi Houthi
Eskalasi serangan lintas perbatasan tersebut berlangsung bersamaan dengan meningkatnya tekanan militer terhadap Houthi di dalam Yaman. Pada Jumat (2/10), militer pemerintah Yaman mengklaim melakukan 474 operasi terhadap posisi, pergerakan, bala bantuan, pusat komando, dan kemampuan militer Houthi dalam kurun 24 jam.
Juru bicara militer Yaman Majed Abdullah al-Nazili menyebut operasi tersebut melibatkan pesawat tempur, drone, artileri, rudal, dan peluncur roket. Operasi berlangsung di sejumlah front, mulai Haradh bagian selatan dan pesisir, Kitaf, Al-Jawf, Marib, Al-Bayda, Lahj, Sanaa, hingga Saada, dengan konsentrasi terbesar di Taiz.
Militer Yaman mengklaim operasi tersebut menyebabkan 1.540 anggota Houthi tewas atau terluka serta menghancurkan atau melumpuhkan 216 kendaraan dan aset militer. Namun, angka tersebut merupakan klaim militer pemerintah Yaman dan belum dapat diverifikasi secara independen.
Di sisi lain, Houthi terus meningkatkan serangan terhadap wilayah Saudi. Pola serangan juga semakin beragam, dari drone yang sebelumnya banyak digunakan untuk menyerang wilayah selatan, hingga rudal balistik yang kini mampu diarahkan ke wilayah yang lebih jauh seperti Riyadh dan kawasan pesisir Laut Merah.
Eskalasi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi Saudi, terutama karena Yanbu merupakan salah satu jalur penting ekspor minyak Saudi melalui Laut Merah. Serangan berulang juga meningkatkan risiko terhadap fasilitas energi, bandara, jaringan listrik, dan jalur pelayaran regional.
Arab Saudi sebelumnya telah menyatakan akan mengambil langkah tegas untuk menghadapi serangan Houthi. Sementara itu, meningkatnya frekuensi serangan mendorong Riyadh mencari dukungan pertahanan dari sejumlah negara serta memperkuat kerja sama keamanan dengan negara-negara mitra. (wan/oni/jpg)

